Everyday AkaFuri

.

.

Hanya sebuah kumpulan ficlet maupun drabble mengenai keseharian AkaFuri dalam berbagai setting cerita

.

.

Disclaimer: Kuroko no Basuke milik Tadatoshi Fujimaki sensei. Saya hanyalah seorang shipper yang meminjam chara buatannya.

.

.

Warning: OOC!Furi, Typo, many describe

Chapter 10: You did a Good Job

.

.

Furihata Kouki tidak mengerti lagi dengan semua yang terjadi. Sepertinya dunia sedang berkonspirasi membuatnya dalam ambang batas kewarasannya. Tidak cukupkah ia ditinggal sendirian oleh keluarganya untuk menjenguk neneknya yang sedang sakit padahal ia sedang di minggu yang sibuk? Tidak cukupkah latihan dari Riko-senpai yang semakin kejam setiap harinya karena mereka akan bersiap untuk interhigh? Masih kurangkah kedua hal itu membebani fisik seorang Furihata Kouki sehingga harus ditambah beban mental seperti ujian perbaikan, dan juga kekasihnya yang sudah 3 minggu sulit dihubungi?

Kamera mana kamera? Jika ini diibaratkan dengan uji nyali yang ada di salah satu program televisi, Furihata ingin melambaikan tangannya ke kamera untuk kabur sebentar dari kenyataan yang ada.

Ujian perbaikan yang harus ia ikuti bukan sepenuhnya kesalahan Furihata. Ia mengalami demam tinggi saat ujian itu berlangsung dan tidak ada yang mengurus dirinya saat sedang demam parah seperti itu karena kedua orang tuanya sedang keluar kota dan kakaknya tidak bisa merawatnya akibat tugas kuliah yang tidak bisa ditinggal. Maklum, anak arsitektur, tugasnya yang membuat maket membuatnya tidak bisa menolong sang adik tercinta yang sedang sakit. Furihata sendiri tau diri tidak mau menyusahkan yang lain karena semuanya sedang sibuk belajar agar tidak perlu mengikuti ujian perbaikan dan mendapat amukan dari kantoku.

Setelah dimarahi oleh Riko, dan untungnya tidak berlangsung lama karena pembelaan dari Kuroko, Furihata memutuskan agar latihan hari ini dipegang secara penuh oleh Riko-senpai. Ia yang seharusnya memimpin latihan kali ini – sebagai kapten – harus izin tidak bisa mengikuti karena diharuskan mengikuti kelas tambahan bagi siswa yang melakukan ujian perbaikan.

Kalau diibaratkan dengan game, mungkin life point dari Furihata sudah merah. Setelah kelas tambahan selesai, Furihata memutuskan untuk langsung pulang ke rumah, tidak mampir dulu ke gym karena ia merasa sangat lelah. Furihata butuh me time menghilang sampai besok sore bukan hal yang buruk. Toh tidak ada latihan atau apapun yang mengharuskan Furihata keluar dari rumah. Tugas kelompok pun sudah ia kumpulkan sore tadi sehingga ia memiliki waktu luang.

.

.

Setelah membeli makan malam, berkantung-kantung cemilan dari yang asin, manis, sampai camilan terbaru, Furihata siap untuk menghilang sebentar dari dunia. Ia segera pulang, mengunci rapat pintu rumah, dan memakan makan malam yang sudah ia beli. Setelah makan, Furihata memutuskan untuk mandi, berendam di air hangat sepertinya salah satu cara untuk membuat Furihata rileks.

Sambil berendam, Furihata memikirkan semua hal yang terjadi akhir-akhir ini. Demam,ujian perbaikan, latihan yang semakin berat, amukan kantoku akibat ia harus melakukan ujian perbaikan, ayah ibu yang semakin jarang di rumah, dan yang terakhir kekasihnya yang sulit dihubungin tiga minggu ini. Furihata mengingat kembali apa saja kesalahan yang dia lakukan, seingatnya ia sudah melakukan yang terbaik, kenapa ia masih harus mengalami hal ini?

Tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya, Furihata memutuskan untuk menyelesaikan berendamnya. Sudah semakin malam dan ia tidak ingin kembali jatuh sakit.

Saat memakai bajunya, Furihata melihat lampu di handphone flipnya menyala, menandakan ada pesan masuk. Terlalu lelah Furihata memutuskan untuk membiarkannya, dan malah mencabut baterai dari handphonenya. Sampai besok sore, ia tidak ingin diganggu oleh siapapun.

.

.

Minggu siang, dan keadaan Furihata terlihat sangat no life. Masih mengenakan piyama, rambut acak-acakan, laptop di meja kopi ruang tamu, cemilan yang berserakan dimana-mana, bungkus bekas mie instan, dan Furihata Kouki yang sedang mengulum lollipop sambil memainkan salah satu game RNG kapal-kapalan yang berbentuk perempuan cantik, manis, dan moe. Furihata sedang serius melihat pertarungan antar kapal yang dibawanya dengan fleet lawan. WO class merupakan musuh terbesar bagi fleet Furihata yang masih belum terlalu kuat.

Saat asyik bermain, tiba-tiba suara bel pintu mengganggu konsentrasi Furihata. Furihata bersumpah, apapun yang terjadi ia tidak akan membukakan pintu, lagipula kondisi rumahnya sudah ia buat sesempurna mungkin sehingga terlihat tidak ada satu pun penghuni di dalamnya.

Bel berbunyi dua kali, namun Furihata tetap tidak bergeming, map 2-4 harus ia selesaikan siang ini. Ia yakin jika orang itu akan menyerah, lagipula siapa yang mau mengunjungi keluarga Furihata? Yang Furihata ingat, keluarga mereka jarang menerima tamu. Paling hanya keluarga dekat, teman kakaknya saat kakaknya masih tinggal bersama mereka, dan juga Akashi Seijuuro, kekasih dari Furihata. Mengingat nama itu membuat Furihata kesal. Diabaikan selama 3 minggu itu bukan waktu yang sebentar dan membuat Furihata kesal. Bisa-bisanya kekasihnya itu malah tidak ada ketika ia sedang butuh sandaran disaat krisis seperti ini. Bahkan ia tidak menghubungi Furihata ketika ia sedang sakit.

Akhirnya bel berhenti sesuai perkiraan Furihata. Sekarang ia bisa melanjutkan bermain dengan tenang. Map 2-4 sudah ia selesaikan, waktunya untuk grinding DD. Namun impian tinggal impian, saat Furihata pikir ia bisa bermain dengan tenang. Telepon rumahnya berdering.

Furihata terlalu malas untuk mengangkat telepon tersebut. Ia sedang tidak mau diganggu oleh yang lain sehingga ia membiarkan telepon itu terus berdering. Sekali, akhirnya telepon berhenti berdering. Tidak bertahan lama, telepon kembali berdering. Furihata tetap diam di tempatnya hingga akhirnya telepon tersebut tidak berdering. Hingga akhirnya telepon kembali berdering dan Furihata memutuskan untuk mencabut sambungan kabel telepon rumahnya.

Furihata mulai kesal, kenapa ada yang mencoba mengganggu hari tenang untuk dirinya? Tidak bisakah ia istirahat sebentar saja? Sekarang furihata yakin tidak aka nada lagi yang mengganggunya, karena kabel telepon sudah ia cabut.

Furihata kembali ke ruang tamu, membuka cemilan dan melanjutkan gamenya hingga suara bel rumah kembali berbunyi.

"AAAAAAAAAAAAAAAARRRRRGGGGGGHHHHH…. TIDAK BISA KAH AKU TENANG UNTUK SEBENTAR SAJA?" Furihata berteriak frustasi sambil menjambak rambutnya. Ia kesal karena rencananya diganggu oleh entah siapa itu.

Furihata menghentakan kakinya sambil membuka pintu. Ia bersumpah akan meneriaki siapapun yang berani mengganggunya.

"TIDAK BISA KAH KAU MEMBIARKAN AKU MENDAPATKAN HARI TENANG?!" Furihata berteriak sambil membuka pintu rumahnya. Ia sudah diambang batas, dan sepertinya berteriak adalah salah satu cara yang efektif meluapkan kekesalannya.

"Ho, jadi kau butuh hari tenang?" Suara tersebut mengagetkan Furihata. Ia kenal dengan suara itu, sangat kenal. Ketika membuka mata ia melihat sesosok Akashi Seijuuro berdiri dengan wajah kesal dan segera masuk ke rumahnya. Membiarkan Furihata termangu di tempat.

Akashi berjalan ke ruang tamu, mendapati kekacauan yang dibuat oleh Furihata. Kekacauan di ruang tamu rumah Furihata mungkin bisa disamakan dengan keadaan kapal pecah jika Akashi mau hiperbola.

"Kenapa kau kemari?" suara Furihata terdengar jengkel. Oh, tolong jangan lupakan jika sudah 3 minggu Furihata sulit menghubungi Akashi.

"kau tidak senang kekasihmu datang? Aku rindu kau dan khawatir."

"Padahal, siapa duluan yang tidak bisa dihubungi selama 3 minggu." Entah hilang kemana ketakutan yang biasa muncul pada diri Chihuahua itu. Mungkin stress membuatnya berani melawan sang Emperor.

Akashi tidak menyangka jika kekasihnya akan merespon dengan cara seperti itu. "Maaf, aku tau aku salah tugas yang menumpuk, dan juga hp yang error membuat sulit menghubungimu."

Furihata hanya menatap malas Akashi. Ia memilih untuk kembali bermain dibandingkan harus berdebat dengan Akashi.

"Kenapa tidak bisa dihubungi dari semalam? Telepon tidak diangkat, dan email tidak ada satupun yang kau jawab."

"Tadi diawal sudah aku bilang, kan? Aku butuh waktu menenangkan diri." Furihata menjawab dengan ketus. Akashi menahan dirinya, tidak pernah ada yang berani berkata dengannada seperti itu ke seorang Akashi Seijuuro. Namun karena ia sadar salah satu penyebab kekasihnya menjadi seperti ini karena dirinya, ia hanya diam, dan memutuskan duduk disamping chihuahuanya.

"Jadi, apa saja yang terjadi saat kau tidak bisa menghubungiku?" Akashi memeluk Furihata dari belakang. Biasanya Furihata akan luluh dan lebih rileks jika Akashi sudah seperti ini dan akan menceritakan semuanya.

"AAAAAAAAAAAAAARRRRRGGGGGGHHHHH AKU LELAH SEI!" sebuah teriakan dari Furihata membuat Akashi terkejut. Akashi tidak menyangka jika kekasihnya akan berteriak seperti itu.

"APA-APAAN, KENAPA YANG AKU LAKUKAN SEPERTI TIDAK ADA YANG BENAR SIH? HARUS UJIAN PERBAIKAN, KENA MARAH KANTOKU, TIDAK BISA MEMIMPIN YANG LAIN LATIHAN, PADAHAL INTERHIGH SEBENTAR LAGI.. KENAPA?" Furihata berteriak frustasi, meluapkan segala pikirannya.

Sebuah pelukan dan tepukan pelan di kepala Furihata membuatnya lebih tenang. Akashi terus melakukannya hingga Furihata tidak sehisteris tadi.

"You did a good job. Kau sudah melakukan yang terbaik, Kouki. Tapi mungkin ada rencana lain sehingga semua tidak berjalan sesuai rencanamu." Akashi mencoba menenangkan Furihata yang masih dalam keadaan tidak stabil. Sepertinya berbagai tekanan membuat chihuahuanya sudah mencapai limitnya seperti ini.

"Apapun yang terjadi sekarang, kau sudah melakukan yang terbaik. Kau sudah mengurus klub basket Seirin dengan baik, dan kau juga sudah berusaha yang terbaik untuk nilaimu, kan? Kau sudah melakukan yang terbaik, Kouki… kau sudah lakukan yang terbaik untuk saat ini…" Akashi mencoba memberikan semangat. Ia paling tidak suka jika Furihata sudah berada di kondisi seperti ini.

Berkat perkataan Akashi, Furihata menjadi lebih tenang dan lebih lega. Mereka terus diam dalam posisi yang sama. Akashi yang memeluk Furihata dari belakang dan menepuk kepalanya pelan, kadang Akashi akan mencium tangan Furihata ataupun hanya menaruh kepalanya di pundak sang kekasih.

Entah mengapa, Furihata menjadi lebih tenang dan lebih lega. Akashi sudah membuatnya lebih baik, sekarang. Yang Furihata lebih butuhkan sepertinya perhatian dari kekasihnya, dibandingkan waktu menyendiri.

.

.

Owari

.

.


Omake

.

.

"Oh iya Sei…. Terima kasih sudah membuatku lebih tenang." Furihata menatap Akashi dengan tatapan lembut. "Namun bukan berarti aku sudah tidak marah. Aku masih kesal kau abaikan selama 3 minggu ini."

Perkataan Furihata sukses mengagetkan Akashi. Well, sepertinya Akashi harus mencari cara agar chihuahuanya itu memaafkan dirinya.

Siapa yang tidak akan marah, jika pacarmu sendiri mengabaikanmu selama 3 minggu?

.

.

Really owari.

.


BUAHAHAHAHAHHA RU KEMBALIIII /terjun ke tumpukan kertas dan materi kuliah/ kembali dengan keadaan begini _("3 Ru stress…. Menceritakan Furihata yang sudah berada pada limitnya. Abis kayaknya jarang ya yang certain Furihata ngungkapin perasaannya kayak gini .w. padahal dia itukan scorpio .w. dan yang Ru tau, orang scorpio itu emang jarang nunjukin gimana emosinya, kecuali kalo udah bener-bener diambang batas makhluk scorpio /slapped/. Dan diakhirnya Ru sengaja bikin Furi masih belom maafin Akashi padahal udah di comfort begitu :3 siapa yang gak sakit hati coba kalo dianggurinpacar 3 minggu begitu? Kamu dianggap pacar atau tidak? Kok dianggurin? Jemuran aja diperhatiin masa furi nggak? #stahpRu. Dan Ru seneng bisa lanjutin ini fic, padahal ada 2 presentasi buat besok _(:" /nangis/ makin deket UTS, makin hilang kewarasan. Dan makin deket AkaFuri day /o/ yeaaay! Berniat buat bikin fic yang hurt/comfort semoga feels Ru dapet biar ficnya berasa xD dan semoga bisa sempet bikin /natap tugas tanpa henti/ oh well, makhluk semester 4 itu emang jarang yang waras sih—yasudahlah, semoga tidak mempengaruhi Ru dalam bikin Ficnya… gak mau ficnya jadi fic depresi semua astaga—dan entah ada yang sadar atau gak, game yang Furi mainin itu kancolle /o/ Ru lagi ketagihan main itu terus-terusan jadi sekalian masukin aja xD. oh well, sudah, sekian terima kasih /o/ mind to review?

Sign,

.

.

arumru. kuroi-ru