Wow, aku terkesan dengan review dari Minna-san *lompat-lompat kegirangan* dan sesuai dengan janjiku aku akan update chap ini dua hari setelah chap 8, nah inilah chap 9!
Btw GOMENASAI kerena aku sudah membuat Minna-san penasaran, tapi mau bagaimana lagi, memang itu tujuanku *ho ho ho ho – dilempar bakiak rame2*
.
.
Disclaimer : I want to shout that I own Bleach, but I know Tite Kubo Sensei will lock my damn mouth before I do that *wink-give a blank face*
.
.
.
Tittle : THE IRIS
By : Nakki Desinta
.
.
Chapter 9
.
.
Hari yang dijanjikan oleh Jendral Ichimaru pun tiba. Aku bersyukur karena dua hal, yang pertama kasus Rukia akhirnya terpecahkan, dan Rukia belum mengetahui bahwa amplop dari lacinya telah lenyap, sepertinya dia belum memeriksan kembali laci mejanya. Hingga aku tidak perlu memulai pembicaraan berat yang aku sendiri ragu untuk memulainya.
Jendral Ichimaru mengundang kami agar datang ke kantor polisi untuk melihat langsung orang yang telah memutus kabel rem mobil Rukia. Aku dan Rukia tidak menyia-nyiakan waktu lagi, kami langsung datang tepat setelah Jendral Ichimaru memberi kabar telah menangkap pelakunya.
Jadilah sekarang kami sedang berhadapan dengan pelaku yang memiliki wajah sadis yang tidak aku mengerti dari mana aura kejahatan yang sangat kental itu. Orang yang telah dinyatakan sebagai pelaku percobaan pembunuhan Rukia adalah seorang dengan tubuh gemuk besar,seperti raksasa yang luar biasa berisi. Senyum yang serupa dengan seringai terus terplester di wajahnya yang terdapat bekas jahitan sepanjang lima senti.
Dia terlihat sadis dan bengis dalam satu waktu, Rukia duduk santai dengan tangan terlipat di dada, seperti tengah meneliti wajah pelaku yang mencoba membunuhnya.
"Boleh aku tanyakan sesuatu padanya?" tanya Rukia pada Jendral Ichimaru.
"Silahkan," jawab orang berambut silver itu.
Jika aku perhatikan cara Rukia bicara pada Jendral Ichimaru, aku mendapati sedikit perbedaan dengan caranya menatap orang yang sering menyeringai itu dengan saat mereka bicara di ruang kerja Rukia dua hari lalu. Rukia cenderung menjauhi dan menolak berhadapan lebih dari tiga detik dengan Jendral Ichimaru, dan sering kali aku melihatnya mengepalkan tangan saat melirik Jendral Ichimaru.
"Apa yang membuatmu ingin membunuhku?" tanya Rukia langsung pada tersangka yang tak hentinya memberikan tatapan kebencian pada Rukia.
Tersangka bernama Yammy itu langsung mendengus, mencemoohpertanyaan Rukia.
"Apa kau pikir dirimu begitu berharga hingga tidak berhak untuk mati?" jawab Yammy tanpa memindahkan sorot matanya.
Jawabannya tidak menjawab pertanyaan Rukia, aku jadi ragu bahwa orang ini yang telah berusaha membunuh Rukia. Karena dari apa yang pernah aku dengar dari saksi yang pernah memberi keterangan, dia bilang pernah melihat orang berjacket hitam dengan postur tinggi besar, tapi orang bernama Yammy ini bukan tinggi besar lagi, tapi sudah menyerupai setengah ukuran raksasa.
"Kalau begitu kenapa kau anggap aku berhak untuk mati?" sambut Rukia menantang, aku mendelik mendengarnya mengajukan pertanyaan seperti ini.
"Kau seorang pengkhianat, seharusnya kau jatuh dalam lubang yang sama seperti kami, bukan malah masuk dalam keluarga bangsawan dan berpikir dirimu adalah seorang yang terhormat, dosa yang kau tanggung sama saja dengan kami!" jawab Yammy santai.
"Kau-"
Rukia semakin menekan tangannya hingga mengepal terlalu kuat, lekuk tulang jemarinya tergambar jelas hingga berwarna pucat, aku meraih bahunya dan berbisik agar ia bisa sedikit lebih tenang, tapi yang aku dapati malah wajah kukuh Rukia yang penuh dengan kemarahan. Kemarahan yang menyala dalam matanya.
"Siapa yang menyuruhmu?" ucap Rukia lagi.
"Jika ku sebut namanya kau pasti tidak akan percaya," ucap Yammy dengan mata berputar malas.
"Kau takut untuk menyebut namanya?" tantang Rukia, matanya memicing tajam, sangat mengintimidasi. Sisi inilah yang sering membuatku bergidik setiap kali melihat Rukia, karena dia bisa tampak sangat menakutkan jika dia memang ingin.
"Grimmjow dan Aizen adalah perpaduan dua dendam yang cocok untukmu, Rukia."
"Grimmjow?" kataku dengan tubuh terhempas hingga condong di atas meja yang membatasi kami dengan Yammy.
"Jadi orang itu benar ingin membunuh Rukia?" kataku berusaha menegaskan kembali ucapannya.
"Aku sudah bilang, kau tidak akan percaya jika aku menyebut namanya, tapi disuruh atau tidak aku tidak keberatan jika harus membuatmu mati dalam kecelakaan mobil, seperti yang terjadi pada Aizen," tutur Yammy lagi.
"Kapan kau bergabung dengan AS?" seloroh Rukia dengan gigi rapat bergemeletuk, ketakutan dan kemarahan bercampur dalam sorot matanya yang semakin kelam.
Yammy tertawa sangat keras, kami semua berdiam diri mendengar suara tawanya yang menggelegar hingga memekakkan telinga. Aku sendiri terperangah karena Rukia tidak terganggu dengan suara tawa yang terlalu keras itu, dia masih menatap Yammy dengan sorot mata mengancam yang sama.
Yammy berhenti tertawa dan mengendikkan bahu dengan santainya, seperti dia adalah seorang benar yang tidak seharusnya mengenakan baju tahanan dengan borgol melilit tangannya.
"Kau pikir AS sudah hilang?" kata Yammy yang kemudian condong untuk menegaskan wajah Rukia, "Sekalipun dia tidak ada, kami tetap hidup dan akan mengejarmu, Rukia. Kau adalah legenda yang selalu aku dengar sejak aku berada di sana, beberapa kali saja cukup bagiku untuk mendengar semua omong kosong tentang mu," lanjut Yammy yang kembali berdiri tegak.
Apa yang tengah Rukia dan Yammy bicarakan? Aku tidak mengerti dan semua seperti alur cerita yang mereka berdua sama-sama telah mengetahuinya, hingga kami hanya seperti orang luar yang mendengar dongeng dan dengung mereka berdua.
Jendral Ichimaru dan aku adalah dua orang yang sama berada dalam ruangan, sementara aku bertanya-tanya dan berusaha menyibak kebenaran, dia malah tetap menyeringai lebar sekalipun Yammy sedang mengancam Rukia dengan kalimatnya.
"Bahkan kepolisianpun tidak dapat menghentikan kami," tambah Yammy seraya melirik Jendral Ichimaru, aku tidak mendapati reaksi apapun dari Jendral berambut silver itu, dia hanya terus diam menghadap ruang kosong di hadapannya, karena dia tengah berdiri dengan punggung bersandar di dinding ruangan, tangannya tersimpan rapi dalam saku celananya plus seringai lebar tanpa beban.
"Sepertinya sudah cukup bualanmu, kau dinyatakan bersalah, dan tinggal menunggu keputusan hakim untuk menghukummu," kata Jendral Ichimaru yang mengisyaratkan pada dua orang penjaga yang berdiri di depan pintu untuk masuk dan membawa Yammy keluar dari ruangan.
Yammy tertawa lagi saat dua orang polisi menarik tangannya yang luar biasa besar untuk mengikuti mereka keluar ruangan.
"Rukia, kau tidak akan bisa lolos!" Yammy pun hilang dari pandangan kami, saat ia berbelok ke arah sel yang menguncinya rapat-rapat.
Aku tertegun, menekuri kursi yang baru saja diduduki oleh Yammy, merasakan aura kejahatannya masih tersisa dari sana, lalu aku mengalihkan pandangan pada Rukia, dan yang aku dapati wajah pucat yang sulit sekali aku baca, antara marah, takut, namun juga pedih, karena air mata Rukia sudah mengembang di pelupuk matanya, menyiratkan tekanan sudah tidak mampu ia tahan lagi.
"Rukia?" aku menepuk bahu Rukia, berusaha menyadarkan Rukia dari lamunannya.
Rukia berdiri tegak dan menoleh pada Jendral Ichimaru, ekor matanya mengunci sosok Jendral yang tersenyum penuh pura-pura itu, penuh dengan kebingungan yang tak aku mengerti.
"Apa yang sebenarnya belum aku ingat?" bisik Rukia tanpa memindahkan pandangannya dari wajah Jendral Ichimaru, seolah dengan melihat wajah Jendral Ichimaru bisa membuatnya mengingat apa yang ia lupakan.
Kenapa ia justru menanyakan hal itu pada Jendral Ichimaru? Apakah ada sesuatu yang tidak ia mengerti sementara Jendral Ichimaru mengerti tentang sesuatu itu?
Jendral Ichimaru memantulkan punggungnya hingga ia berdiri tegak di atas kakinya, dia menghapus senyum di wajahnya, dan berjalan melewati kami berdua.
"Yang paling mengerti hal itu hanya Anda," jawabnya sambil lalu.
"Tunggu!" seruku menahan langkahnya. "Ada apa diantara kalian?" tanyaku saat Jendral Ichimaru kembali berputar untuk menoleh padaku.
"Kami hanya sekedar klien dan rekan pengawal, benar kan, Nyonya Kurosaki?" jawabnya.
"Rukia?" aku mencoba mengkonformasi jawaban Jendral Ichimaru pada Rukia, tapi Rukia hanya beranjak dari kursinya dan melangkah melewati kami.
Rukia melangkah menuju parkir dan tidak sedikitpun menoleh padaku yang berjalan mengimbangi langkahnya. Aku membukakan pintu mobil untuknya, dan ia menghempaskan diri di jok mobil, dengan pandangan lurus ke depan, melihat jalan yang menuju pintu gerbang.
Mendung di wajahnya berganti dengan kemarahan yang tidak aku mengerti.
"Kaien meninggal karena aku, aku bisa selamat, tapi apakah aku harus kembali melihat seseorang diambil dari sisiku hanya untuk menyelamatkan diriku sendiri?" bisiknya seraya menyembunyikan wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Rukia…" aku menarik turun tangan Rukia, membawanya dalam genggaman tanganku.
"Bukankah aku selalu memintamu untuk membagi semua bebanmu? Aku disini untuk melindungimu, Rukia," bisikku.
Rukia menggeleng lemah, membuat air matanya jatuh membasahi pipinya yang putih bersih.
"Aku- aku tidak ingin kau terlibat, Ichigo. Aku tidak ingin kehilangan lagi," katanya dengan suara purau, "ku kira mereka telah berhenti memburuku setelah Aizen meninggal tapi ternyata tidak."
Rukia kembali menekuri pangkuannya yang kosong, membiarkan air matanya kembali menetes dan membasahi roknya yang berbahan sutra paling halus.
"Apakah kau akan terus seperti ini?" seruku diluar kendali. Aku sudah tidak tahan lagi, aku terlalu benci berada dalam ketidaktahuan yang membebat hebat seperti ini. Aku orang luar yang selamanya tidak akan tau apa yang sebenarnya sedang berlangsung dalam dunia orang yang paling aku sayangi. Aku hanya setitik tempat yang tidak pernah Rukia anggap berharga untuk dia jadikan tempat untuk bernaung.
Aku meraih bahu Rukia dan mengguncangnya keras, dia tetap memberikanku raut wajah yang sama.
"Siapa Aizen, apa yang telah terjadi padamu dan dirinya? Apa AS? Kenapa kau menyimpan kliping tentang Syazel Apporo dan Ggio Vega? Kenapa? Aku tidak bisa berdiam diri selamanya, Rukia!"
Rukia membelalak mendengarkan ucapanku, tapi dia kembali tenang dan cenderung dingin saat aku tetap memberikan tatapan tajam padanya, dia sangat bisa membentengi dirinya dengan wajah tanpa ekspresi seperti itu. Tapi aku tidak menyerah dan terus menatapnya langsung, menegaskan bahwa aku pun memiliki tekad kuat untuk melindunginya serta mencari kebenaran.
"Jujurlah demi anak kita, Rukia…" desisku akhirnya, aku melembut karena aku tidak bisa melawan kekerasan hati Rukia dengan kekerasan yang sama.
Bahu Rukia merosot saat aku mengucapkan kata anak, dia langsung mengusap perutnya.
"Apakah Tuhan benar-benar percaya aku mampu menjaganya, jika aku sendiri tidak yakin bisa melindungi diriku sendiri?" bisik Rukia lirih.
Sikap diam Rukia seperti mengisi hatiku dengan virus yang akan menelanku hidup-hidup. Rukia sengaja mengulur waktu dan membiarkanku menunggunya mengucapkan apa yang selama ini aku tunggu, kejujurannya! Yang mengisi kesunyian kami hanyalah suara dengung mesin mobil, aku memerhatikan Rukia lewat kaca spion dalam, dan sesekali meliriknya yang terus merenggut kain roknya, menahan emosi yang aku yakin tengah mengoyak hatinya. Dia pasti ragu dan luar biasa ragu untuk jujur padaku, dia seperti sedang bertarung dengan dirinya sendiri.
"Bunga yang dua hari lalu dikirim ke kantorku adalah peringatan," ucap Rukia akhirnya, memecah garis bungkam yang ia sendiri ciptakan.
"Bunga?" ulangku berusaha mengingat kembali bunga yang Rukia maksud, dan seketika ingatanku mengirimku pada momen Rukia menolak tiga kuntum bunga yang ia berikan pada Hinamori. Karangan bunga yang berisi tiga warna mawar, yaitu putih, orange dan pink.
"Isyarat yang selalu AS berikan. Dia mengancam untuk memilih siapa yang akan dibiarkan selamat, putih untuk keluarga, orange untuk sahabat dan pink untuk kekasih. Karena itu aku yakin mereka sedang mengincarmu, termasuk orang yang menabrak mobilmu, pasti orang AS. Tapi logikaku tidak bisa menerima bahwa dendam itu hidup kembali dan mengincarku setelah lima belas tahun," lirih Rukia yang kembali murung.
Kepalanya tertunduk dalam dan menyembunyikan wajah cantiknya dibalik rambut yang berjatuhan menutupi wajahnya.
"Bisakah kau beritahu aku siapa mereka?" tanyaku lagi.
Rukia mendongak dan membuka mulutnya untuk bicara, aku sudah mengembangkan harapan dalam hatiku, namun ia berhenti tepat saat suara dering ponselnya menggema diantara kami. Aku mendesis kesal karena dia langsung meraih ponselnya, dan menerima panggilan tanpa sungkan lagi. Rasanya ingin aku rebut dan melempar ponsel itu jauh-jauh, karena sudah menginterupsi saat-saat pentingku memperoleh keterangan dari Rukia.
"Baiklah, aku akan kesana sekarang," kata Rukia mengakhiri pembicaraan.
"Ichigo, bisa antarkan aku ke lokasi proyek? Ulquiorra harus memeriksa beberapa struktur bangunan," kata Rukia yang sudah kembali ke sifat Rukia yang biasanya, si bangsawan Kuchiki yang tegas dan kaku, serta gila kerja.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Rukia," tandasku dengan tangan tetap mengunci jari-jarinya.
"Aku akan mengatakannya jika waktunya sudah tepat, Ichigo. Karena…" tatapan Rukia menerawang melihat langit biru bersih di atas sana, lalu dia menghela napas berat dan kembali tertunduk lesu, membuatku bertanya-tanya dalam diam, "-karena aku sendiri belum mengingat semuanya dengan jelas, semua masih potongan ingatan yang satu demi satu harus bisa aku rangkai," lanjutnya tidak yakin.
Aku mengunci mulutku rapat, ku pikir sekarang bukanlah waktunya, berkali-kali aku berpikir bukan waktunya, bukan waktunya, lalu kapan waktu itu akan tiba? Jika Rukia sendiri belum bisa mengingat dengan jelas apa yang tengah mengincarnya, bagaimana kami bisa memecahkan permasalahan ini dengan lebih cepat? Semua masih teka teki, dan akan tetap menjadi teka teki hingga Rukia benar-benar bisa mengingat semuanya dengan utuh.
Mungkinkah ini ada hubungannya dengan apa yang pernah disampaikan oleh dokter Unohana tepat setelah kami semua mendapati Rukia yang mengalami amnesia selektif?
"Amnesia selektif terjadi pada pasien dengan kondisi emosi yang labil, dan karena terjadi gangguan syaraf seperti ini, bisa jadi pasien melupakan satu hal dan mengingat hal lain dari masa lalu yang telah terlupa, untuk mengisi kekosongan ruang otaknya."
Aku mengingat kembali dan menyimpulkan sendiri apa yang tengah terjadi pada Rukia saat ini, Rukia memiliki emosi yang labil, dia bisa melupakan apa yang ingin ia lupakan dan dia tidak luput bahwa ia bisa mengingat kembali apa yang telah ia lupakan dari masa lalunya, dan saat ini ia sedang dikejar masa lalunya setelah ia kembali mengingatnya.
Trauma apa yang pernah kau alami, Rukia? Trauma yang membuatnya bisa berhubungan dengan Aizen seorang pengusaha besar dan sukses, namun juga berhubungan dengan Syazel Apporo serta Ggio Vega, pembunuh berdarah dingin serta sesuatu tentang AS.
.
.
Kami sampai di pusat perbelanjaan Schiffer Center, proyek yang baru saja Rukia selesaikan dengan sukses, aku tertegun melihat design bangunan yang benar-benar unik dan tertata rapi. Pusat perbelanjaan sangat ramai, padahal hari ini adalah hari libur, tapi Ulquiorra masih saja meminta Rukia datang untuk bekerja, betapa orang itu sangat tidak bisa membiarkan seseorang duduk tenang mengurusi urusan pribadinya.
Langkah Rukia sangat anggun melewati beberapa wanita yang baru saja keluar dari butik ternama, dua orang wanita itu menjatuhkan tatapan mereka pada Rukia yang terus melangkah menuju lift, sementara aku berjalan berdampingan di sebelahnya. Rukia berjalan tanpa sepatu hak tinggi, hingga tinggi badannya yang pas-pasan terlihat jelas, tapi sekalipun begitu dia masih terlihat anggun dengan caranya sendiri, dan cantik mempesona tanpa cela.
Hingga kami berdiri di depan lift, menuggu lift terbuka, dua orang wanita itu masih memerhatikan kami saat aku iseng melihat jajaran pertokoan.
"Mereka mencoba menarik perhatianmu," celetuk Rukia tiba-tiba, membuatku tersedak napasku sendiri.
"A-apa maksudmu?" tanyaku tidak mengerti, karena menurut nalar ku justru kedua wanita itu tengah mengagumi Rukia, bukan aku.
"Lihat bagaimana mereka melihatmu, siapa yang tidak akan terpesona dengan pengusaha sukses sekelas Mr. Kurosaki," tambah Rukia yang langsung melangkah masuk saat lift terbuka dan tanpa penghuni.
"Kau yakin mereka sedang melihatku?" kataku meledeknya.
"Kau pikir mereka lesbi?" jawab Rukia sengit.
Aku tersenyum mendengar jawaban Rukia, wanita ini selalu berkibar marah setiap kali menyikapi pandangan wanita lain yang jatuh padaku, jelas sekali dia sedang mengalami api cemburu, sama seperti sikapnya pada Senna beberapa waktu lalu.
"Kau jangan cemburu seperti itu, kau tau kan aku hanya mampu menatapmu?" kataku seraya meraih dagunya dengan jemariku, mengarahkannya untuk menatap mataku.
"Aku tidak cemburu!" Lagi-lagi Rukia mengelak, aku jadi gemas melihatnya yang seperti ini.
"Benarkah?" aku menunduk hingga wajah kami sangat dekat, hanya berjarak beberapa senti, kami mampu merasakan hembusan napas satu sama lain. Aku tertarik hingga tenggelam dalam kolam berwarna ungu gelap di matanya, mata yang menyimpan banyak sekali rahasia yang ingin aku ungkap keseluruhan.
"Kau mau kita berciuman?" celetuk Rukia saat aku merasakan hampir menyentuh bibirnya yang lembut itu, dia langsung mendorong wajahku menjauh darinya, membuatku kecewa karena tidak bisa merasakan bibirnya.
"Hah, sulit sekali rasanya menaklukan hatimu, Rukia," keluhku yang menyandarkan punggungku di dinding lift yang terlapis keramik bermotif mozaic, tapi yang aku dapati malah tatapan tidak suka Rukia dari balik bahunya, aku mengendikkan bahu tanda aku pasrah pada apapun reaksinya.
Pintu lift terbuka, aku menyusul Rukia yang sudah lebih cepat beberapa langkah di depanku.
Kami langsung menuju sebuah restoran, tanpa aku tanyakan lagi, disanalah tempat pertemuan Rukia dengan Ulquiorra, karena Ulquiorra berdiri tegak bak patung di sebelah pintu masuk. Aku bingung, apakah tidak tersedia lagi kursi untuknya duduk di dalam sana?
"Kau lama menunggu?" tanya Rukia yang mempercepat langkahnya menghampiri Ulquiorra.
"Tidak juga, aku baru sampai," jawab Ulquiorra yang lalu menganggukkan kepala padaku sekali.
"Aku ingin mendiskusikan ruang di lantai tujuh, bisa kita langsung ke sana?" tanya Ulquiorra.
"Aku akan menunggu disini," jawabku saat Rukia menoleh padaku.
"Aku tidak akan lama," kata Rukia meyakinkan, aku tersenyum menenangkannya, dan dia membalasnya dengan sorot mata lembut.
Mereka pun beranjak sementara aku duduk di salah satu kursi restoran yang langsung menghadapkanku pada view bangunan secara keseluruhan. Bangunan pusat perbelanjaan ini memiliki design unik dengan bentuk dasar melingkar, tengah-tengah pusat perbelanjaan kosong untuk ruang melihat ke lantai lain, dan melihat hingga puncak bangunan yang berhias beberapa pita yang masih menjulur indah.
Aku memesan segelas kopi, sambil melihat-lihat promosi serta banner yang di pasang di tiap toko. Ada salon kecantikan di lantai tepat di atasku. Sementara eskalator memutar ada di sebelah salon kecantikan, beberapa wanita tertawa sambil melihatku, benarkah aku sebegitu mencoloknya di mata para wanita? Aku jadi merasa bangga sendiri begini.
Beberapa petugas keamanan gedung berkeliling dengan alat komunikasi di tangan mereka, tapi mereka terlihat sangat ramah pada pengunjung, hingga kesan tegas mereka samar sama sekali, Ulquiorra benar-benar pebisnis yang tidak bisa dianggap remeh, untuk bangunan sekelas pusat perbelanjaan saja dia sangat memerhatikan tiap detail, dari keamanan, penyusunan toko yang diplot per lantai, lalu dia juga memasang kamera hampir di sudut-sudut yang tidak mencolok, namun cukup untuk aku sadari keberadaannya.
Aku menyesap kopiku perlahan, merasakan zat kafein itu menyapa tenggorokanku, memberikan sedikit ketenangan pada kepalaku yang sedari tadi tegang dan cemas.
Bangunan sudah sehebat dan semegah ini pun masih memiliki kekurangan, hingga Ulquiorra tidak ada hentinya meminta Rukia datang memeriksa dan mendiskusikannya.
Perhatianku tertuju pada sebuh toko yang menjual perlengkapan bayi dan ibu hamil, berada tepat di sebelah salon kecantikan, beberapa ibu hamil keluar dari toko itu, perut mereka sudah berbentuk dan menyembul dari dress yang mereka kenakan, aku membayangkan Rukia yang mengenakan dress saat kehamilan sudah memasuki usia beberapa bulan, dia akan terlihat sangat manis dengan dress yang membentuk perutnya.
Aku pun beranjak langsung menuju toko yang menarik perhatianku itu, aku menaiki eskalator, dan langsung menuju toko dengan label 'Mom & Baby's' foto bayi yang sedang tertawa lepas dipasang di bagian atas pintu masuk toko yang lumayan luas itu.
"Selamat datang!" sapa seorang pelayan toko, aku tersenyum dan langsung melangkah ke bagian kanan toko yang memajang pakaian khusus ibu hamil, ada berbagai macam model dan motif, aku merasa semua perhatian tertumbuk padaku saat aku meraih sebuah dress yang sangat mungil, entah mengapa aku merasa baju ini sangat cocok dengan Rukia, panjangnya tanggung, sepertinya jika Rukia pakai mungkin hanya akan mencapai lututnya, model lengannya pun hanya sampai bahu, apalagi warnanya, lavender, pastinya sangat cocok dengan warna mata Rukia.
"Apakah Anda suka dengan model ini?" tanya pelayan yang tadi menyapaku.
"Mungkin aku akan mengambil yang ini," jawabku seraya memberikannya pada pelayan itu.
"Istri Anda sangat cantik, pasti akan tambah cantik jika mengenakan dress ini."
Aku mengangkat alis tinggi mendengar ucapan pelayan itu, jadi dia juga tau aku dan Rukia, sungguh sepertinya dimanapun aku menjejakkan kaki, mereka akan dengan mudah mengenali kami.
Pelayan itu langsung menuju meja kasir, dan disana ia mengemas dress pilihanku, memasukkannya ke dalam sebuah kotak berwarna hijau cerah, lengkap dengan pitanya. Seperti hadiah untuk orang yang sedang berulang tahun saja.
"Terima kasih," ucapku setelah melakukan pembayaran, tapi aku tidak langsung pergi, aku beralih pada bagian kiri toko, bagian yang memajang perlengkapan bayi. Aku senyum-senyum sendiri melihat sepatu yang ukurannya sangat kecil, sepertinya jika aku kenakan hanya jempolku yang masuk. Bermacam warna dari pink, biru dan ada juga yang ungu, aku membayangkan bagaimana mungilnya anak kami nanti, apakah akan mirip Rukia tau mirip aku?
Ingin aku membeli sepatu dan perlengkapan lainnya untuk calon bayi kami, tapi aku tidak boleh terlalu buru-buru, nanti saja jika memang sudah dekat waktu kelahirannya.
Aku berlenggang keluar dari toko, membawa kantong kertas yang berisi kotak dress untuk Rukia. Aku kembali melihat kanan kiri, mencari toko lain yang mungkin menjual hal serupa, entah mengapa aku jadi sangat senang dan tertarik untuk melihat semua benda yang berhubungan dengan bayi, bahkan saat seorang ibu sedang menggendong bayinya melintas di depanku, rasanya ingin aku menggendong bayi itu, membayangkan diriku sendiri tengah menggendong anakku sendiri.
Ah, iya. Aku belum latihan menggendong, karena mungkin tanganku akan kaku jika menggandongnya nanti.
Pandanganku tertuju pada sebuah toko olahraga yang memasang iklan, menyediakan latihan dan senam untuk ibu hamil, dengan fasilitas lengkap. Ternyata ada juga senam untuk ibu hamil? Aku jadi sedikit demi sedikit mengenal dunia ibu hamil yang tidak pernah aku jamah. Aku melangkah mendekati toko itu, namun langkahku tertahan saat melihat seseorang dengan rok sutra selutut tengah mondar mandir di depan restoran yang tadi aku kunjungi.
Aku tertegun dan berjalan kearah palang besi yang melingkar di sepanjang pembatas. Aku memerhatikan sosok Rukia yang berjalan panik mencari sesuatu, apa yang sedang ia cari?
Rukia terus bolak balik, masuk ke restoran lalu keluar lagi, dia bahkan berjalan lagi hingga mencapai lift, berkali-kali memanjangkan leher untuk melihat isi toko yang ada di kana dan kirinya. Apa yang membuatnya panik seperti itu? Mungkinkah dia sedang mencariku? Secemas itukah dia mencariku?
Rukia meraih ponselnya, tapi kembali terlihat kesal setelah melihat ponselnya dan kembali mengantonginya. Aku heran, apakah Ulquiorra tidak bersamanya?
Wajah Rukia seperti orang yang hampir menangis, dia kembali lagi ke restoran dan bicara pada pelayan yang tadi memberikanku kopi. Aku pun yakin, dia sedang mencariku. Seketika aku merasa sangat bahagia, Rukia menyadari ketidakhadiranku di sisinya, dan dia mencariku dengan segenap hatinya, kebahagiaan itu mengembang hingga memenuhi seluruh hatiku.
"Apa yang kau rasakan saat aku tidak ada, Rukia?" bisikku yang mengikutinya berjalan dengan cepat kearah eskalator, namun berhenti untuk melihat ke lantai bawah.
"Mungkinkah yang kau rasakan sama dengan cemas yang aku rasakan saat melihatmu terbaring di rumah sakit?"
"Apakah boleh aku menganggap diriku sangat berharga dimatamu, Rukia? Sekalipun tidak setinggi posisimu di hatiku, aku sudah cukup senang."
"Ichigo!" Rukia berteriak panik, kontan aku tersentak dari lamunanku sendiri, karena sepertinya ini bukan waktunya membuat Rukia cemas, tidak baik untuk kandungannya.
Aku pun berlari menuju eskalator dan menuruni benda bergerak itu dengan cepat, memperpendek waktu yang aku tempuh untuk mencapai lantai di bawahku. Aku mengatur napasku seraya melangkah kalem mendekati Rukia yang masih celingukan melihat sekeliling pertokoan.
"Rukia," panggilku dengan suara santai, dan aku kaget saat Rukia berbalik secepat kilat hingga ku takut ia akan jatuh seketika, tapi ia malah berhambur padaku, memelukku erat hingga aku hampir jatuh mengimbanginya.
"Jangan pergi," rintih Rukia dengan wajah tersembunyi di dadaku, aku mampu merasakan sekujur tubuhnya gemetar, aku takut mendapatinya yang cemas hingga gemetar seperti ini.
"Aku sudah membayangkan hal yang tidak-tidak. Jangan pernah membuatku ketakutan seperti ini, Ichigo. Jangan pergi," bisiknya purau.
"Aku baik-baik saja, aku hanya mencari sesuatu untuk Nyonya Kurosaki," jawabku saat Rukia melepas pelukannya, dan sepertinya dia tidak peduli saat melihat orang-orang memerhatikan kami dengan mata bermacam ekspresi, ada yang iri, ada yang tersipu malu, bahkan ada yang marah.
"Apa itu?" tanya Rukia pada kantong kertas yang aku pegang di tangan kananku.
"Untuk ibu hamil yang paling cerewet, dan keras kepala," kataku sambiil menyodorkan kantong di tanganku padanya. Rukia menerima pemberianku, tapi tidak mengucapkan terima kasih, malah kembali memelukku, dan aku bersyukur karena kali ini dia sudah tidak gemetaran lagi.
"Kau kenapa, Rukia?" tanyaku karena pelukannya sangat erat.
"Pegang kepalaku!" perintahnya memaksa, aku sempat bingung mendengar permintaannya. Mungkin Rukia sedang dalam saat labil, jadi dia ingin aku berbaik-baik padanya, aku juga mengerti dia mungkin sudah sangat cemas karena aku membiarkannya mencariku tadi. Aku pun menyentuh puncak kepalanya, tapi aku tau bukan asal memegang puncak kepala yang ia inginkan, jadilah aku membelai rambutnya, dengan satu tangan membalas pelukannya.
Memeluk Rukia sungguh aneh, karena tubuhnya yang kecil, namun entah mengapa terasa sangat pas setiap kali merasakan kehadirannya dalam lengkungan tanganku, meresapi kehangatan yang bersumber dari tubuhnya dan mengingat bahwa ia tetap di sampingku.
Ini sungguh aneh, kan? Aku jatuh cinta hingga seperti ini pada seorang wanita yang isi hatinya saja sulit untuk aku baca, tapi aku bersyukur telah jatuh cinta pada Rukia, karena dengan jatuh cinta padanya aku mampu mengerti bagaimana seharusnya hidup yang aku jalani, dari saling percaya, saling mengerti dan saling melengkapi, itulah yang aku dapati sejak aku menjatuhkan pilihan hatiku pada Rukia.
.
.
Satu hal yang paling tidak aku mengerti adalah permintaan yang terlontar dari mulut Rukia, selalu saja, apa pun yang terucap dari mulutnya selalu saja mengejutkanku. Apakah masuk akal jika Rukia meminta kembali ke rumah keluarga Kuchiki?
Bagiku itu sangat tidak masuk akal, tapi itulah yang terjadi!
Rukia mengatakan padaku bahwa ia merasa lebih aman jika tinggal di rumah keluarga Kuchiki, dia memintanya tepat setelah kami pulang dari Schiffer Center, betapa aku seperti disambar petir berkali-kali -sayang saja aku tidak sampai gosong- karena ketegasan di wajah Rukia menggambarkan keteguhan hatinya, dia tidak sedang bercanda atau mengetes kesabaranku.
Aku sempat menolak dan menuding Byakuya sebagai dalang semua ide gila ini, tapi rupanya Byakuya justru pihak yang tidak tau apa-apa. Aku tidak mampu menolak lagi saat Rukia mengancam tetap pergi ke rumah keluarga Kuchiki sekalipun aku tidak ikut bersamanya, tentu saja aku tidak bisa mengambil resiko. Jangan sampai aku tidak bisa mengikuti perkembangan Rukia hanya karena egoku yang tidak bisa tinggal satu atap dengan Byakuya.
Aku membujuknya untuk tinggal di rumahku saja, bersama Yuzu dan Karin, karena sebenarnya wanita akan lebih membutuhkan bantuan dari perempuan lain, kan? Dari pada kembali ke rumah yang dingin dan tanpa satupun orang yang bisa ia jadikan tempat bersandar? Tapi Rukia ya Rukia, jika dia sudah bilang A, ya mau tidak mau harus A.
Jadilah kami pindah ke rumah keluarga Kuchiki, awalnya Byakuya menatapku dengan sorot tajam yang biasa, karena jujur saja berada sedekat ini dengannya memang bukan keinginanku. Karena aku dan Byakuya bagai api dan es. Kalau orang lain melihat mungkin seharusnya kami bisa saling melengkapi, tapi ternyata tidak, aku dan Byakuya tidak akan bisa akur jika kami sama-sama bertahan dengan kekerasan hati masing –masing, dan percaya hanya Rukia yang mampu membuat Byakuya luluh dan mengalah dengan harga dirinya yang terlalu tinggi itu.
Awalnya tidaklah nyaman berada di rumah besar dan luas dengan puluhan pelayan itu, karena kebanyakan pelayan akan memberikan tatapan tajam pada Rukia, tapi Rukia tidak pernah memprotes sikap mereka, dia seperti menganggap semua pelayan itu hanya angin bercampur debu yang pasti akan lewat dengan sendirinya.
Kami berdua menempati kamar Rukia, sudah diatur sedemikian rupa hingga pantas untuk kami berdua tinggali. Rukia pun tidak komentar saat malam pertama kami tidur satu ranjang lagi, senang karena akhirnya kami bisa tidur satu ranjang lagi, tapi juga tidak nyaman karena berada dalam rumah yang bukan rumah sendiri, ditambah lagi dinding ruangan yang hanya berupa kayu dengan lapisan tipis, yang bisa dengan mudah membuat siapapun yang melintas di depan ruangan kami mendengar pembicaraan kami.
Aku membatasi diriku untuk tidak terlalu berumbar gombal dan kemesraan saat malam belum benar-benar jatuh ke bumi, aku hanya akan berlaku sebagai menantu yang baik di mata tetua keluarga Kuchiki. Karena Rukia akan marah besar setiap kali mulai tidak tahan ingin menyentuhnya saat tidur, padahal aku hanya ingin ia sedikit lebih dekat saat tertidur.
Dua bulan tinggal di rumah keluarga Kuchiki adalah saat kritis bagi Rukia, dua bulan ini aku sangat repot dengan perubahan emosinya yang sangat tidak terduga, terkadang dia bisa menangis seketika, meminta ini dan itu, dan kebanyakan permintaanya tidak masuk akal. Aku akan berusaha untuk memenuhinya, dan untungnya Byakuya sangat pengertian hingga bersedia membantuku. Dua bulan Rukia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah keluarga Kuchiki, Byakuya sampai mengkhususkan waktunya untuk menjaga Rukia saat aku terpaksa harus keluar rumah untuk bertemu klien.
Byakuya seperti suami cadangan saja. Sepertinya salah aku berpikir seperti itu!
Habisnya dia memberikan perhatian yang sama dengan apa yang aku berikan pada Rukia, tapi ku pikir itu yang terbaik saat ini, bagiku dan Rukia. Rukia yang berkeras tidak ingin pindah ke rumah keluargaku, ataupun membiarkan Yuzu datang untuk membantunya, hingga aku serba salah.
Rukia suka sekali makan biskuit dan crackers. Aku stock berkardus-kardus biskuit beragam rasa untuknya, karena menurut nasehat dokter Unohana, ibu hamil di masa kehamilan tiga bulan pertama harus memiliki asupan gizi yang cukup untuk perkembangan bayinya, makan sedikit-sedikit tidak apa, yang penting teratur, karena itu Rukia membawa kantong kemanapun dia melangkah, isinya biskuit dan crackers.
Ulquiorra yang sepertinya merasa sangat kehilangan dengan ketidak-hadiran Rukia di kantor, dia sering mengunjungi Rukia dan membawakan cemilan segala macam, membuat Rukia selalu tersenyum untuk berterima kasih padanya.
Tapi ucapan Rukia terbukti, karena setelah dua bulan kami tinggal di rumah itu, semua tentram, tidak ada lagi teror yang aku pikir mungkin akan membuat hidup kami jauh lebih tidak tenang. Tidak ada lagi telepon gelap dari ponsel Rukia, dan Yammy sudah dihukum sesuai dengan vonis hakim, sekarang tugas Jendral Ichimaru tinggal mengejar pelaku yang mencoba menghabisiku.
Satu hal yang masih mengganjal pikiranku setiap harinya, Rukia belum juga bicara tentang masa lalunya, mungkinkah dia belum bisa mengingat semuanya seperti yang pernah ia katakan?
Tapi aku sadar, kami lebih aman berada di rumah keluarga Kuchiki, dan karena itu singkirkan dulu masalah keingin-tahuanku, aku harus lebih memerhatikan Rukia. Jangan memberikan dia beban pikiran yang terlalu berat, agar bayi dalam kandungannya mampu tumbuh sempurna, karena tekanan yang dialami ibu hamil pun akan berakibat pada bayi dalam kandungannya.
Rukia rutin memeriksakan kandungannya yang sudah memasuki akhir bulan ketiga, perutnya sudah agak berbentuk, sedikit buncit seperti orang baru saja selesai makan banyak, tidak terlalu gembung, tapi sedikit ada tanda-tanda pertumbuhan yang baik. Aku senang karena dokter Unohana menyatakan kandungan Rukia sangat sehat, jadi tidak perlu banyak khawatir.
Berat badan Rukia bertambah, tapi tidak banyak, dia kurus dan aku khawatir karena dia justru terlihat seperti orang terkena busung lapar. Dia akan menjitak kepalaku jika mendengar sebutan ini lagi keluar dari mulutku. Habisnya badan Rukia kurus, hanya perutnya yang membesar, aku yang selalu memerhatikan perkembangannya tentu saja akan berpikir seperti itu.
Celana dan rok yang biasa Rukia gunakan sekarang mulai ketat, dan dokter menyarankan untuk tidak lagi menggunakan pakaian itu, sekalipun masih masuk, tapi akan menekan perut terlalu kuat, dan itu tidak baik. Untuk pertama kalinya aku melihat Rukia mengenakan dress yang aku belikan saat kami bertandang ke Schiffer Center, sangat cocok seperti dugaanku, feeling ku tentang ukuran badan Rukia memang tidak pernah meleset.
Jendral Ichimaru mengabarkan padaku bahwa pelaku yang mencoba menabrakku telah kabur ke luar negeri, aku tidak ambil pusing dengan masalah itu, karena ku tidak menganggap itu masalah berat, karena aku baik-baik saja, dan biar saja jika orang itu benar buron ke luar negeri, toh aku tidak ingin memperpanjang masalah ini, dia kabur, dan aku tinggal menunggu kesungguhan pihak kepolisian untuk menyelesaikan kasus ini.
Sesuai rencana hari ini aku dan Rukia kembali mengunjungi dokter Unohana, kunjungan rutin untuk memeriksa kandungan Rukia. Awalnya aku sedikit ragu, karena dokter Unohana bukan seorang dokter spesialis kandungan, apakah akan baik-baik saja menangani Rukia, tapi aku salah besar, dokter Unohana sangat bisa diandalkan, dan sekarang aku mempercayakan semua yang berhubungan dengan kehamilan Rukia padanya.
Rukia mengenakan dress lain yang aku belikan saat pulang dari kantor, kali ini warna pink pastel, aku suka sekali melihatnya karena warnanya sangat masuk dengan warna kulit Rukia yang bersih, dia terlihat jauh lebih cantik. Mungkin karena Rukia selalu tampak cantik dimataku, aku tersenyum sendiri saat mencoba menjawab pertanyaan ini.
Aku melirik Rukia yang sesekali melirik ke spion dalam, matanya terlihat menekuri tanpa mau berkedip.
"Apa yang kau lihat?" tanyaku ikut melihat apa yang tengah ia lihat, tapi yang aku dapati hanya jalan barisan beberapa mobil yang mengantri untuk keluar dari lampu merah.
"Tidak ada," jawabnya singkat dan kembali menyamankan dirinya duduk di jok mobil.
Jujur aku belum terlalu biasa dengan mobil ini, aku agak kesal setiap kali mengingat mobil kesayanganku rusak karena tabrakan tanpa penyelesaian itu.
Dokter Unohana sudah menuggu kami, aku seperti tengah menunggu hadiah yang akan diberikan padaku saat kami masuk dalam ruang USG, aku akan melihat bagaiman bayi kami hari ini. Dokter Unohana tersenyum saat Rukia rebahan diatas ranjang, dan mulai memeriksa bayi dalam kandungan Rukia. Entah aku harus menyebutnya apa, bayi, janin, embrio, atau yang lain, aku tidak tau yang mana aku harus gunakan, tapi aku suka menyebutnya dengan sebutan apapun, karena dia anak kami.
Aku melihat makhluk kecil kami bergerak teratur dalam kandungan Rukia, hanya seperti gumpalan berbentuk hitam, namun menurut dokter Unohana embrio berumur 3 bulan sudah bisa menendang dan bisa mengalami cegukan hingga 90 kali dalam satu jam, dan ini berguna untuk memperkuat otot-otot pada bagian organ pernafasan, aku tidak bisa membayangkan jika diriku sendiri yang harus cegukan sebanyak itu, mungkin aku tidak akan bisa bicara.
"Sudah ada gerakan tapi belum terasa jelas," jelas dokter Unohana sambil merapikan alatnya, dan dia berjanji akan memberikan satu foto kami, satu lagi sebagai bukti pertumbuhan bayi kami.
"Masih mual?" tanya dokter Unohana saat Rukia kembali duduk di ranjang.
"Sudah tidak separah sebulan lalu," jawab Rukia dengan dengus napas penuh syukur.
Jelaslah, karena aku yang paling tidak tega melihat Rukia menghabiskan sebagian waktunya berdiri di dekat wastafel, hanya untuk jaga-jaga takut memuntahkan isi perutnya di lantai. Tapi aku juga sangat kerepotan setiap kali Rukia meminta hal-hal aneh, dan yang paling aku tidak habis pikir adalah kebiasaannya yang selalu merenggut rambutku, entah gemas atau sebal, bagiku sama saja, karena keduanya sakit sekali.
"Tenang saja, sebentar lagi juga akan hilang," kata dokter Unohana lagi, menyapukan tangannya yang terawat diatas tangan Rukia.
Tidak ada resep apapun yang diberikan oleh dokter Unohana, karena itu kami langsung pulang.
Dalam perjalanan pulang, aku kembali mendapati Rukia melihat kaca spion dalam, memperhatikan barisan mobil di belakang kami dengan sekelebat gerakannya yang sangat samar.
"Kita mampir dulu ke supermarket, bukankah susu untukku sudah tinggal sedikit?" kata Rukia seraya menarik ponselnya dan melirik sesuatu di layarnya, dan kembali memasukkannya ke tas.
"Apa kau sedang menunggu telepon?" tanyaku seraya memutar setir untuk berbelok kearah supermarket yang berada tepat di kanan kami.
"Tidak." Jawabannya singkat, namun aku sadar ada yang tidak beres dengan sikapnya yang sangat waspada memerhatikan sekitar. Tidakkah dia berpikir sekarang kami sudah bisa sedikit merenggangkan pengawasan karena teror itu sepertinya sudah akan berakhir?
Aku parkir di bagian depan pertokoan, dan langsung masuk ke supermarket. Langkah Rukia terbilang cepat untuk ukuran ibu hamil yang harusnya menjaga tiap langkahnya, dan matanya tidak bosan-bosan melihat kanan dan kiri, yang menurutku dia tidak sedang mencari stand susu, tapi mencari sesuatu yang mencurigakan. Aku ikut memerhatikan sekitar, dan memang tidak ada orang yang mencurigakan, mereka semua hanya customer dan para sales yang berusaha menjajakan product mereka, tidak ada satupun yang terlihat aneh.
"Rukia…" aku meraih pergelangan tangan Rukia dan memperlambat langkahnya, dia berhenti dan menoleh padaku yang berdiri di belakangnya dan perlahan mensejajarkan diri.
"Kau terlihat tegang, ada apa?" sengaja aku membelai wajahnya dengan tanganku yang bebas, tapi dia tidak sedikitpun terlihat lebih santai, dia malah menatapku dalam lewat matanya yang berwarna ungu gelap, membuatku tertelan sepenuhnya dalam sorot mata kelam itu.
"Bagaimana jika aku hilang dari pandanganmu, Ichigo?" gumamnya tiba-tiba, membuatku terbujur kaku di tempat, mencoba membaca apa yang tengah ia pikirkan hingga mampu memberikan kalimat tanya yang aku sendiri tidak dapat menjawab, bahkan membayangkannya.
"Aku-" aku tidak mampu menyelesaikan kalimat ku.
"Aku hanya bercanda! Ayo, aku mulai pegal lama-lama berdiri," katanya yang langsung merangkul tanganku, mengajakku melangkah menuju stand susu.
Sikap Rukia santai, namun sarat dengan pura-pura, dia sedang akting agar aku tidak cemas padanya. Bukan hanya dia yang berpikir semuanya terlihat tidak aman, tapi aku juga bisa membaca ketidak-beresan dalam dirinya. Tapi menurutku dalam kondisi seperti ini tidak patut merasa khawatir, karena kami sudah dalam keadaan tentram beberapa bulan belakangan ini, bukankah ini bisa menjadi indikasi perbaikan kondisi.
Tidak banyak yang kami beli, karena ini kami hanya menghabiskan sepuluh menit berada di supermarket, aku dan Rukia sudah berada dalam mobil lagi, sekarang langsung pulang karena tidak ada keperluan lain lagi yang harus kami lakukan di luar rumah, berhubung hari ini adalah Minggu dan kami bisa menghabiskan sisa waktu di rumah.
Aku memutar lagu klasik, menurut saran dokter Unohana bagus untuk kecerdasan bayi dalam kandungan.
Rukia kembali melirik kaca spion dalam, tapi belum sempat aku menanyakannya apa yang sedang mengganggu pikirannya, ponselnya berdering nyaring. Agak panik dia meraih ponselnya, sejenak Rukia tampak kaget, dan melirikku.
"Dari siapa?" tanyaku saat ia menggerakkan ponselnya ke dekat telinga.
Rukia tidak menjawab dan terdiam seperti tengah berkonsentrasi mendengarkan si penelepon.
Mata Rukia terbelalak lebar, melihat jalan yang kami tempuh, dengan tangan mencengkram tasnya erat-erat. Aku ngeri melihat perubahan sikapnya yang mendadak ini, kontan aku menepikan mobil dan menarik tangannya yang mencengkram tas untuk melepaskan tas dari tangannya, dan dia melirikku tanpa sedikitpun merubah sikap, tangannya malah menegang di bawah sentuhanku.
Detik demi detik berlalu dan aku yakin Rukia tidak akan bicara hingga dia selesai menelepon.
"Aku mengerti," ucap Rukia seraya menurunkan ponsel dari telinganya.
Tangannya terkulai tanpa tenaga diatas pangkuannya, membiarkan ponselnya lolos dari genggaman. Aku takut Rukia terkena serangan jantung, atau merasakan sesuatu dari dalam perutnya, karena dia diam bak patung tanpa mengalihkan pandangannya dari aspal.
"Rukia?" aku kembali memanggilnya, berusaha mengembalikannya ke dunia nyata. Rukia sedang menerawang dan rohnya tidak berada di sini, dia tidak juga menjawabku ataupun berkedip, ada apa dengannya?
Aku meraih ponselnya dan melihat siapa yang telah meneleponnya, dan aku melihat barisan nomor ponsel Rukia yang telah hilang berada disana, dalam daftar panggilan masuk paling atas. Aku terkesiap dan meraih bahu Rukia, mengguncangnya agar ia melihatku dan berhenti berdiam diri seperti ini, aku takut dia akan kehilangan napasnya sendiri. Apa yang telah dikatakan si brengsek itu pada Rukia?
"Apa yang ia katakan?" tanyaku yang kembali mengguncang bahu Rukia lebih keras dari sebelumnya, namun yang aku dapatkan hanya bungkam Rukia, "Jawab aku, Rukia! Katakan, apa mereka mengancammu? Rukia!"
Diluar dugaan aku malah berteriak pada Rukia, membiarkan suaraku menggema di gendang telingaku sendiri, namun aku berhasil membuat Rukia menoleh padaku dan mengedipkan matanya untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu.
"Apakah pengawal itu masih bersama kita?"
Rukia menoleh ke belakang dan matanya mengunci pada sebuah mobil sedan warna putih tepat di belakang kami. Aku mengangguk dengan yakin, dan memang kedua pengawal itu masih terus mengikuti kami, karena aku belum mencabut permohonanku pada Jendral Ichimaru, kedua pengawal itu sedang berdiri tepat di dekat kami, mereka sedang melihat mobil kami dengan seksama.
"Dengarkan aku, Ichigo."
Aku mendengar nada mengancam dari suara Rukia, dan seketika aku memasang semua insting waspada dalam diriku.
"Mobil putih itu, mereka mengikuti kita sejak kita keluar dari rumah. Siapapun yang berada dalam mobil itu berniat untuk menangkap kita, aku, kau, ataupun kita berdua tidak ada bedanya bagi mereka," ucap Rukia yang kembali menoleh padaku.
"Dia mengatakan bahwa tidak ada bedanya aku tinggal di rumah keluarga Kuchiki atau tidak," lanjut Rukia dengan napas tertahan, aku bergidik mendengar nada suaranya yang luar biasa dingin, hingga rasanya menusuk ke bagian terdalam hatiku, membuatku tertekan ketakutan hingga sulit bernapas.
"Jika mereka tetap mengikuti kita, ingat untuk menginjak gas dan secepatnya sampai di rumah," katanya lagi seraya mengencangkan sabuk pengaman.
Aku menelan ludahku banyak-banyak, mengeratkan pegangan di kemudi saat aku mendorong tuas gigi, dan tanpa banyak pikir lagi aku menginjak gas sekuat mungkin, dan jadilah kami melintas jalan seperti seorang buron, aku berusaha menyalip semua mobil di hadapanku, sesekali aku melirik spion dalam, melihat mobil sedan putih itu berusaha terus mengejar kami.
Kenapa aku tidak menyadari kehadiran mobil itu sejak tadi? Malah Rukia yang menyadarinya, pantas saja dari tadi sikapnya sangat aneh.
Tapi tiba-tiba aku mengingat satu hal yang sangat janggal.
"Dari mana orang itu tau nomor ponselmu?" tanyaku dengan mata bergerak liar melihat sekitar, mencari celah agar aku bisa menghalangi mobil sedan putih itu terus mengikuti, membuat jarak kami sejauh mungkin dari mereka.
Beberapa mobil yang hampir aku senggol mengklakson berkali-kali, aku tidak ambil pusing dan terus melaju, sementara Rukia berpegang erat pada dasbor, melihat wajah tegangnya aku ingin menghentikan mobil karena terlalu khawatir dengan kandungannya.
"Terus jalan, Ichigo!" serunya dengan wajah kukuh, membuatku kehilangan niat untuk mengurangi kecepatan.
"Bukankah yang tau nomor ponselmu yang sekarang hanya aku, Byakuya, dan Ulquiorra?" tanyaku seraya membanting setir hingga hampir seluruhnya saat kami melewati belokan menuju jalan yang lebih sempit, aku kembali menoleh ke spion, mobil sedan sudah agak jauh dari kami, namun aku tidak lantas mengurangi kecepatan.
"Aku tidak tau, entah dari mana ia mendapatkan nomor ponselku," jawab Rukia yang ikut melihat ke belakang.
Jantungku memacu cepat, membuatku hampir menahan napas saat kami kembali berbelok tajam dan melaju menuju jalan yang mengantar kami menuju jalan yang sedikit lagi mencapai kawasan dimana rumah keluarga Kuchiki berada.
Tanganku terasa kebas memegang kemudi, aku memacu mobil melampaui batas maksimal kecepatan…
.
.
To Be Continue…
.
.
A/N
Aku menahan napas saat menulis chapter ini, rasanya tegang sekali, semoga Ichigo dan Rukia selamat ya readers, do'a-kan mereka selalu *hiks hiks*
Terima kasih sekali atas review Minna-san, aku girang abis saat membaca review dari Anda semua, dan tidak lupa kali ini aku juga berharap Minna-san tidak sungkan untuk meninggalkan review, setidaknya biarkan aku tau pendapat kalian mengenai fiction ini, bagus, jelek, atau datar saja, apapun itu biarkan aku tau ya.
Chapter depan akan menjadi chapter klimaks *kalau aku ndak salah-?-plakk*
Sampai jumpa di chap depan Minna-san
Keep The Spirit On ^_^
