EXO

Sulay; Chanbaek; Kaisoo; Hunhan; Chenmin

With,

NCT

Jaeyong; Yuten; Ilyoung; Markhyuck; Winkun

Disc : Author hanya meminjam nama para cast.

NCT as EXO brother.

Warning! : Typo(s), BxB, OOC...

.

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

.

Ten dan Yuta berjalan sambil bergandengan tangan dipinggir jalan. Sesekali Ten terkikik karena candaan Yuta. Ten juga memukul lengan Yuta pelan kalau Yuta bercandanya sudah keterlaluan. Benar benar membuat iri para jomblo yang tak sengaja melihat interaksi manis mereka.

"Pfftthaha Yuta! Tidak baik menyebarkan aib orang! Pfftt-"

Yuta sedikit merengut.

"Ck, lalu kenapa kau tertawa? Lagipula Sehun hyung kan mengenalmu, jadi tidak apa apa." Balas Yuta, Ten kembali terkikik geli.

"Tapi, serius, Sehunie hyung seperti anak kecil saja. Minum susu terus." Tukas Ten.

"Yahh itu sih tidak masalah, Tenie. Sehun hyung tinggi juga karena rajin minum susu."

PLAK

Yuta mengaduh kesakitan, tangan kirinya mengalus lengannya yang dipukul dengan kuat oleh Ten. Ten mengerucut bibir, menatap Yuta sebal.

"Kau mau mengejekku pendek karena jarang minum susu?!" Ten berjalan mendahului Yuta sambil sedikit menghentakan kakinya.

Alis Yuta terangkat sebelah. Heran karena Ten sangat sensitif hari ini. Yuta pun menyusul Ten, dan menggapai tangan Ten. Ten kembali melayangkan tatapan sebal pada Yuta.

"Aku tidak bermaksud, Tenie. Kau saja yang terlalu sensitif."

Emosi Ten tersulut lagi.

"Kau menyamakanku dengan wanita?!"

Yuta menepuk dahinya.

"Bukan begitu, astaga. Maafkan aku."

Ten berdecak. Mereka kembali berjalan beriringan, hening melanda mereka berdua. Alasannya, Ten masih kesal, sedangkan Yuta takut salah bicara. Rumah Ten dan Baekhyun tinggal satu blok dari tempat mereka berjalan. Ten berhenti lalu menghadap Yuta.

"Yuta, sampai disini saja. Tinggal satu blok kok."

Terlihat raut tidak setuju diwajah Yuta. Ten tersenyum manis. Berjinjit dan mengecup kilat bibir Yuta. Setelah itu Ten sedikit berlari, meninggalkan Yuta. Yuta pun berjalan pulang setelah punggung Ten menghilang.

Ten berjalan sambil bersenandung kecil. Sesekali menggerakan badannya. Ten berjalan mundur dengan gerakan kaki yang sedikit dilekukkan. Ten berbalik sambil tersenyum kecil.

Ten mengerjap saat melihat ada mobil yang baru saja masuk digerbang rumahnya. Mobil itu terasa familiar baginya. Ten pun berdiri terdiam, mencoba mengingat ingat.

Ten memiringkan kepalanya, lalu menggaruk kepalanya. Setelah itu matanya melotot.

"Appa?! Eomma?!"

-Ten memanggil orang tua Baekhyun dengan Appa dan Eomma-

Ten berjalan cepat memasuki rumahnya. Dan sesuai perkiraannya, Tuan Byun dan Nyonya Byun sudah duduk santai diruang tamu. Ten melepas sepatunya, lalu berjalan mendekat kearah Tuan Byun dan Nyonya Byun Baekhyun dengan pelan.

"A-appa, eomma.."

Tuan Byun dan Nyonya Byun menoleh, lalu tersenyum hangat. Nyonya Byun berdiri menghampiri Ten, dan memberi Ten pelukan hangat. Ten dan Nyonya Byun duduk. Tiga bulan tidak bertemu membuat Ten canggung sekaligus rindu. Canggung karena Baekhyun tidak ada, dan rindu setelah tidak bertemu sekian lama.

"Bagaimana kabarmu, nak?" Tanya Nyonya Byun lembut.

Ten mencoba tersenyum manis.

"Kabarku baik, eomma. Baekkie hyung juga baik." Jawab Ten, sebelum merutuki jawabannya karena mengungkit Baekhyun.

Bisa dipastikan kedua parubaya didepannya akan bertanya soal Baekhyun.

"Baekhyun mana, Ten? Apa dia masih disekolah?" Tanya Tuan Byun.

Ten menelan ludahnya paksa. Otaknya mulai mencari berbagai alasan agar Baekhyun selamat. Tak lama Ten tersenyum.

"Eeerr, Baekkie hyung sedang menginap dirumah Jaehyun dan Suho hyung, appa. Mungkin Baekkie hyung kembali kerumah beberapa hari lagi." Jelas Ten.

Tuan Byun mangut mangut. Ten kemudian menatap kedua parubaya didepannya dengan binar penasaran. Menerka nerka apa yang membuat mereka pulang di kesibukan mengurus perusahaan.

"Tapi, appa dan eomma bukannya sibuk? Apa kalian mengambil cuti?" Tanya Ten.

Nyonya Byun terkekeh. "Tidak, Ten. Kami hanya ingin menyampaikan sesuatu." Nyonya Byun menatap Ten lembut. "Besok kami akan berangkat ke Thailand. Sekaligus membantu kerja perusahaan ayahmu disana."

Ten mengangkat alisnya tinggi tinggi. Kalau saja dia tidak ingat sekolah, pasti dia sudah merengek minta ikut. Bagaimana pun juga dia merindukan adiknya, Tern. Tapi, bagaimana dengan perusahaan yang ada disini? Pikir Ten.

"Ayah Sehun dan Kyungsoo akan membantu mengurus perusahaan disini. Jadi, kami bisa pergi membantu perusahaan yang ada di Thailand." Jelas Tuan Byun seolah mendengar suara pikiran Ten.

Ten mengangguk paham. Nyonya Byun beranjak dari tempatnya, menatap Ten dan Tuan Byun bergantian.

"Ganti bajumu Ten. Setelah itu istirahat, nanti eomma bangunkan saat makan malam."

Ten mengangguk, lalu berlari kecil menuju lantai atas, dimana kamarnya berada.

.h

.h

.h

Winwin membuka rumahnya yang tidak memiliki cahaya karena lampu belum dinyalakan. Winwin melepas sepatunya, lalu menyalakan lampu rumah. Bibirnya melengkung kebawah.

"Lay ge, ck! Aku sendirian lagi." Gunam Winwin.

Winwin berjalan menuju dapur, lalu membuka kulkas. Ada banyak bahan bahan didalam kulkas itu, sayangnya Winwin tidak tahu cara memasak. Chef dirumahnya juga sudah pulang.

Winwin merengut. Winwin menutup kulkas lalu membuka lemari kecil yang berada diatas. Ada ramen disana. Winwin menghela nafas, terpaksa dia hanya makan ramen, karena ramen gampang dibuat.

Beberapa menit kemudian, ramennya sudah siap disantap. Winwin dengan sedikit tidak berselerah memakan ramen didepannya.

DRRTT DRRTT

Taeyong Hyung Calling

Dengan sumpit yang masih terjepit diantara kedua bibirnya. Winwin mengangkat panggilan Taeyong.

"Halo Taeyong hyung?"

"Winwinie, kau sudah dirumah?"

"Iya, hyung."

"Ahh, apa kau sudah makan? Nanti hyung buatkan sesuatu."

Winwin meminum airnya. Tersenyum senang.

"Aku sedang makan ramen, hyung."

"Apa?! Tunggu 15 menit, dan cepat buang ramenmu. Itu tidak sehat."

Winwin meletakan ponselnya dimeja. Winwin lalu menatap masam pada ramen didepan. Padahal Winwin memakannya belum sampai setengah. Winwin berdecak, lalu membuang ramennya.

Winwin berjalan keruang tamu dan duduk disofa. Winwin menyalakan tv dan mulai mencari channel yang menurutnya bagus. Winwin mendengus, lalu menidurkan dirinya disofa dengan kaki ditekuk. Bibirnya melengkung kebawah.

Tak lama kemudian Winwin mendengar suara pintu rumahnya dibuka dan ditutup. Winwin menoleh keatas, dan terlihat Taeyong sedang berdiri dibelakang sofa yang ditidurinya. Winwin bangun.

"Apa aku terlalu lama?"

Winwin menggeleng, "Tidak, hyung. Aku hanya bosan."

Winwin mengikuti Taeyong ke dapur, Taeyong mulai mengeluarkan bahan bahan sederhana dikulkas. Setelah itu Taeyong mulai sibuk dengan dunianya. Mulut Winwin terbuka setengah, kagum dengan cara memasak Taeyong.

"Lain kali hubungi aku jika kau lapar, Winwinie." Ucap Taeyong.

"Tapi kan Taeyong hyung sibuk mengurus rumah hyung." Balas Winwin sambil sedikit cemberut.

"Kita sama sama tinggal sendiri karena Lay hyung dan Chanyeol hyung sedang menginap dirumah Jaehyun. Jadi, aku tidak apa apa jika harus mengurusmu." Jelas Taeyong.

"Lalu Haechan?"

"Ada Taeil hyung."

Winwin mangut mangut. Taeyong tersenyum kecil. Taeyong menyuruh Winwin duduk. Setelah itu Taeyong mulai menyiapkan makanan dan piring. Winwin tersenyum lebar saat melihat makanan buatan Taeyong didepannya.

"Selamat makan!"

.h

.h

.h

.h

"Aku mau kau culik salah satu dari mereka."

"Maksudmu 'kau' itu siapa?" Tanya Yuta sedikit jengkel.

Taeyong berdecak. Mulut Yuta perlu diberi lem. 'Cerewet.' Batin Taeyong. Taeyong melirik Taeil dan Doyoung yang asik bermesraan. Taeyong menghela nafas.

"Taeil hyung, aku-"

"Hm. Aku sudah mendengarnya." Potong Taeil dengan datar.

"Ayo, Doyoung."

Setelah Taeil dan Doyoung menghilang, Taeyong menatap mereka berdua tidak percaya. Sedangkan Yuta menahan tawa.

"Pfft."

"Taeil hyung.. ck! Bahkan dia lebih dingin dariku." Gunam Taeyong, tapi masih bisa didengar Yuta.

"Jangan tertawa!" Bentak Taeyong, tawa Yuta meledak.

"Hahaha memang enak! Haha!"

Taeyong mendelik. Berjalan keluar sambil menghentakan kakinya, kesal karena ditertawakan. Tawa Yuta meredah karena Taeyong tidak ada lagi didepannya.

'Setidaknya bukan hanya aku yang mendapat perlakuan dingin dari Taeil hyung, kekeke.' Batin Yuta.

Disisi lain, Doyoung menggandeng tangan Taeil sambil tersenyum senang. Sudah lama dia tidak seperti ini dengan Taeil. Salahnya juga sih, sibuk dengan ramuan ramuannya.

"Kau kenapa?"

"Hm, hanya senang saja!"

Taeil berdecak. Tangannya yang satunya digunakan untuk mengacak rambut Doyoung. Mereka kembali berjalan dengan tenang. Jaehyun yang baru keluar dari ruangannya menatap bingung pada Taeil dan Doyoung.

"Hyung! Mau kemana?"

"Hm, bersenang senang diluar. Mau ikut, Jae?"

Jaehyun mengangguk cepat. Lalu berjalan disamping Doyoung.

Sampai diluar, Doyoung membentuk sebuah benda transparan dibawa kakinya, dan mengendalikan benda itu dengan pikirannya. Jaehyun menutup matanya sambil menyerit beberapa detik. Dan muncul sebuah sayap warna putih dipunggungnya.

Doyoung duduk sambil melipat kakinya, menoleh ke samping dimana Jaehyun sedang terbang.

"Jaehyun-ah!"

"Ya?"

"Bantu aku menangkap salah satu dari mereka!"

Jaehyun menoleh sebentar, setelah itu kembali menatap kedepan dan mengangguk.

Seekor monster tiba tiba terbang cukup cepat kearah mereka. Bulu bulu sayap Jaehyun berterbangan dan berubah menjadi besi besi berbentuk segitiga yang ujungnya tajam. Jaehyun melempar besi besi itu, sehingga membuat monster itu kehilangan keseimbangan dan jatuh.

Jaehyun mendengus jijik setelahnya.

"Aku rasa kau terlalu berlebihan, hyung. Bahkan sampai ada monster menjijikan disini." Ucap Jaehyun datar.

Doyoung merengut.

"Setidaknya itu lebih baik daripada kita tidak merubah mereka, Jaehyun-ah." Balas Taeil.

Jaehyun mengangguk singkat.

Mereka mendapat diatap rumah. Sayap Jaehyun sudah hilang, dan benda yang membawa Doyoung dan Taeil juga hilang. Mereka menatap dingin pada sebuah rumah yang memiliki pelindung es yang sedikit transparan.

"Heol.." gunam Jaehyun.

"Hoohh, aku penasaran apa benar ada kakakku didalam sana." Tukas Doyoung.

Sedangkan didalam sana, terlihat Lay sedang sibuk bermain dengan tumbuhan disana. Lay juga menghidupkan rumput yang mati.

"Kenapa aku bisa punya dua kekuatan seperti ini? Aneh, penyembuh dan kehidupan ya? Ck."

Lay mengelus permukaan rumput dengan jarinya. Lay menghela nafas, lalu menatap kedepan dengan kosong.

"Apa Winwin baik baik saja?"

Bibir Lay melengkung kebawa, lalu menunduk. Tiba tiba ada yang menepuk pelan kepalanya. Membuatnya mendongak. Suho, pelaku tersebut terkekeh. Suho berjongkok disebelah Lay.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Suho.

"Hm.. aku hanya bermain main dengan rumput ini, ge. Dan.. aku khawatir dengan Winwin. Atau mungkin semuanya.."

Suho memandang Lay, lalu tersenyum kecil. Tangan Suho terangkat, lalu menyentuh telinga Lay. Reflek Lay mengangkat bahu kirinya dan menjauhkan tangan Suho. Telinganya terlihat memerah karena disentuh Suho.

"Suho! Ck!"

Lay berdecak, mengerucut bibirnya. Suho terkekeh, lalu mencubit bibir Lay.

"Kau aneh. Kadang kadang kau memanggilku gege. Setelah itu hanya namaku."

Lay mendengus. "Tergantung moodku." Balas Lay sedikit ketus.

Suho melirik rumput yang terlihat segar karena Lay. Suho bangun lalu menepuk kepala Lay, lalu berjalan kembali masuk kedalam. Lay berkedip lalu mengusap rambutnya.

BUM

"Huh?"

Lay segera berdiri, menatap tajam kedepan. Lay tidak bisa melihat dengan jelas karena abu yang berterbangan.

BUK

Pandangan Lay tiba tiba terasa kabur, sebelum akhirnya menjadi gelap. Jaehyun, pelaku tersebut menggendong Lay bak karung beras, lalu terbang dengan cepat keluar dari sana.

Taeil dan Doyoung yang menunggu diluar langsung bergerak mengikuti Jaehyun. Setelah itu mereka menghilang dibalik awan gelap.

Suho berlari dengan cepat menuju halaman belakang. Matanya terbelalak saat melihat sebuah lubang lumayan besar di pelindung es itu. Mata Suho terpedar mencari keberadaan Lay. Sayangnya, Suho tidak menemukan tanda tanda Lay disana.

Suho jatuh terduduk. Tatapan matanya kosong. Terlihat dibelakangnya, yang lain menatap shock pada dinding pelindung yang sudah berlubang. Baekhyun maju dengan langkah kaku.

"Lay hyung.. Lay hyung mana?" Lirih Baekhyun.

Suho menunduk, lalu menggeleng lemah. Mata Baekhyun berkaca kaca, ikut jatuh terduduk. Tangan Suho mengepal, dan matanya berubah menjadi warna biru laut.

Terlihat ada beberapa zombie yang mulai masuk kesana. Suho mengeram marah. Suho berdiri, berjalan dengan langkah lebar lebar kearah zombie zombie itu. Suho menggerakan jemarinya, dan muncul air air dibelakangnya. Airnya itu menerjang para zombie itu dengan ganas. Tangan Suho terkepal, dan air itu langsung beku, dan hancur seketika.

Xiumin memungut sebuah bulu putih yang berada ditanah dekat Baekhyun. Xiumin mencengkram bulu itu erat. Xiumin menatap tajam pada dinding yang berlubang. Dinding itu kembali seperti semula. Bersamaan dengan bulu yang berada ditangannya beku dan hancur.

Luhan dan Kai saling pandang. Mata Luhan berkaca kaca, dia sudah menduga ini akan terjadi. Para adik mereka, akan mencari mereka semua dan membunuh mereka. Luhan membaca sedikit pikiran Mark dan Kun saat bertarung dengan mereka waktu itu.

Sehun yang berusaha tegar, menggenggam tangan Luhan erat. Berpikir mungkin Luhan sedih karena Lay hilang.

Chen menutup mata lalu menghela nafas panjang. Jarinya mengeluarkan petir petir kecil. Chen menjentikan jarinya, dan pelindung es itu mengeluarkan petir petir kecil.

Chanyeol mengeram marah. Sangat tidak mungkin Lay diculik oleh monster monster disini. Monster itu tidak bisa menembus pelindung yang dibuat Xiumin. Berarti, ada kemungkinan yang menculik Lay itu adalah...

Para kembaran adik mereka.

Chanyeol menatap Kai sedikit tajam. Kai langsung membuang muka. Bukannya dia tidak peduli, saat ini dia hanya sedang berharap kalau itu bukan para adik mereka.

Sayangnya begitu..

Suho menjatuhkan lututnya. Tangannya menutup matanya, nafasnya terengah engah. Dyo segera menepuk bahu Suho, tangan kirinya mengelus lengan Suho dengan lembut.

"Lay hyung akan baik baik saja, hyungie.." lirih Dyo. Dia sendiri tidak yakin dengan ucapannya.

Suho menurunkan tangannya, lalu menatap Dyo lirih.

"Benarkah?"

Dyo mengangguk meyakinkan. Sementara tangannya mengepal kuat.

.h

.h

.h

.h

"Yongie hyung! Aku membawa seseorang!" Teriak Jaehyun dengan raut wajah semangat.

Taeyong mengalihkan perhatiannya pada Jaehyun. Taeyong langsung tersenyum lebar, lalu mendekat pada Jaehyun.

"Kau hebat, Jaehyunie. Ayo kita bawah dia ke kamar."

Taeyong berjalan mendahului Jaehyun. Jaehyun membuka mulutnya, tapi menutup mulutnya lagi. Jaehyun melirik pada Lay yang masih berada digendongannya.

"Ck.."

'Zhang Yixing eh?'

.h

.h

.h

.h

Luhan menatap kosong rumput yang sedikit layu karena diinjak. Diatas telapak tangannya, ada batu berukuran kecil yang melayang sambil berputar putar pelan. Luhan menghela nafas lelah.

Jika saja dia membaca semua yang dipikirkan Mark dan Kun waktu itu, pasti dia bisa mengetahui alasan kenapa Mark dan Kun mengejar mereka. Bahkan Luhan sangat kaget saat ternyata adik mereka juga ada disini. Anehnya, para adik mereka terlihat membenci kehadiran mereka disini, bahkan sampai menculik Lay.

PUK

KRAK

Batu kecil yang melayang diatas telapak tangannya terlempar ke dinding pelindung dengan kuat, menimbulkan retakan kecil.

"Hannie hyung, kau baik baik saja?"

Luhan menengok kebelakang, lalu tersenyum kecil melihat Sehun tengah menatapnya khawatir. Sehun berjalan dengan langkah lebar, lalu mendudukan dirinya disebelah Luhan. Sehun kemudian memeluk pinggang Luhan. Luhan pun menyandarkan kepalanya di bahu Sehun.

"Aku baik baik saja, Hunnie.." gunam Luhan.

Tangan Sehun naik ke kepala Luhan, dan mengelusnya dengan lembut. Jujur saja, Sehun tidak tahu harus melakukan apa setelah Lay menghilang.

Suho terlihat kosong, dan tak jarang membuat pelindung air supaya tidak ada yang mendekatinya. Untunglah mereka semua mengerti, dan membiarkan Suho sendiri.

Tak dipungkiri kalau Sehun ingin pergi mencari Lay diluar sana. Yang lain mungkin juga berpikir begitu, Sehun tahu itu.

"Kau penasaran dengan kejadian waktu itu kan?"

Sehun mengerjap, menatap Luhan bingung. Luhan menjauhkan kepalanya dari bahu Sehun, lalu tersenyum kecut.

"Aku dan Kai sudah berjalan sekitar 20 menit." Luhan memulai ceritanya.

Luhan menghadap kedepan, matanya sedikit berkaca kaca, tapi hanya terlihat samar karena hari sudah menggelap.

"Kami berhenti sebentar karena Kai bilang dia lelah. Tiba tiba ada ada tanah yang muncul dengan ujung tajam, menuju kearah kami."

Bahu Luhan bergetar pelan.

"Kau tahu, Sehun-ah? Terkadang, suatu hal yang terjadi bisa saja berbeda dari dugaan kita."

Sehun menatap Luhan bingung.

"Apa maksudmu, hyung?"

Luhan menggeleng cepat, lalu terkekeh.

"Aku mengira yang akan menyerang kami adalah monster kuat. Tapi,"

Luhan menghela nafas, lalu menunduk. Sehun semakin bingung, tangannya mengusap lembut punggung Luhan.

"Ternyata.. benar benar tidak sesuai dengan dugaanku." Lirih Luhan.

Luhan munutup matanya, lalu bersandar lagi dibahu Sehun. Sehun tetap diam, menunggu kelanjutan cerita Luhan.

"Kun.. Mark.. dan Haechan.."

Luhan tersenyum lirih.

"Mereka bertiga tiba tiba datang dan menyerang kami. Dengan ambel ambel, memilih dibawa hidup hidup atau sekarat."

Sehun melotot. Sehun menjauhkan kepala Luhan dari bahunya, menakup wajah Luhan dan menatap Luhan sedikit tajam.

"Jangan bercanda." Desis Sehun.

Luhan menggeleng pelan. "Aku tidak bercanda, Sehun-ah. Luka waktu itu,"

Luhan menjauhkan tangan Sehun, lalu tangan kirinya memegang lengan kanannya. Tepat di luka yang dibuat Kun.

"Semua luka yang aku dapat, Kun dan Mark yang melakukannya. Dan Kai, Haechan membuatnya sekarat."

Sehun terdiam. Sehun mengusap wajahnya, matanya memicing. Tidak percaya dengan cerita Luhan.

Sehun ingin percaya, sebenarnya. Setelah mendengar berita mengejutkan dari Xiumin kalau Yuta dan Taeil juga ada disini. Sehun kembali dikejutkan dengan berita kalau yang menyerang Luhan dan Kai adalah adik adik mereka sendiri.

Sehun berharap ini hanya mimpi. Mimpi buruk yang tak sengaja mampir pada dunia mimpinya.

Luhan menggosok kedua telapak tangannya dipermukaan pahanya. Luhan lalu berdiri, menatap Sehun yang terlihat melamun.

"Ayo masuk, Sehunie. Disini dingin."

Sehun tersentak, lalu mengangguk kaku.

.h

.h

.h

.h

Chen menatap ujung jari jarinya sedikit kosong. Di ujung keempat jarinya ada petir petir kecil yang menyatu.

Chen menutup matanya, lalu menghela nafas pelan. Sepertinya, dampak dari hilangnya Lay sedikit buruk. Chen berpikir, untuk apa mereka menculik Lay?

Bertemu atau menyerang saja tidak pernah. Semenjak mereka memakai rumah itu untuk sementara, mereka tidak pernah keluar dari sana. Apalagi semenjak penyerangan yang terjadi pada Kai dan Luhan. Menyebabkan mereka enggan keluar meskipun hanya untuk sekedar menghirup udara luar.

Yang mereka lakukan selama ini hanya berlatih. Mereka semua terlalu malas untuk keluar, dan menyerang beberapa monster disana. Terlalu melelahkan.

Mungkin ini ada hubungannya dengan penyerangan pada Kai dan Luhan.

Chen mendengus. Memikirkan ini semua membuat kepalanya pening.

Chen berjalan menjauh dari jendela. Kemudian matanya menangkap sebuah lampu yang masih bergantung diatas dengan keadaan tidak menyala. Chen pun iseng menyentuh lampu itu, yang untungnya tidak terlalu tinggi. Chen sedikit memberikan kekuatannya pada lampu itu.

Kekuatannya petir kan? Dan petir itu sama seperti listrik.

Tak lama kemudian lampu itu menyala terang. Chen tersenyum lebar melihat hasil kerjanya.

"Seharusnya kau melakukan itu dari waktu pertama kita menetap disini."

Chen tersentak kaget. Chen menganga melihat Suho berdiri disebelahnya sambil menatap lampu yang kini mengeluarkan cahaya.

"Hm, waktu itu aku masih belum tahu apa apa, hyung." Balas Chen.

"Jadi sekarang kau sudah tahu apa apa?"

Chen berdecak, tidak berniat membalas ucapan Suho. 'Lagipula aku ini bukan pekerja bidang listrik.' Batin Chen kesal.

Suho menunduk, kemudian melihat keadaan sekitar. Dan dia baru menyadari kalau ternyata didalam sana sangat kotor.

"Ruangan ini kotor sekali."

Chen menatap Suho malas. "Kemana saja kau selama ini, hyung?"

Suho melambaikan tangannya tidak peduli. Suho berpikir mungkin dia harus membersihkan tempat ini.

"Kita bersihkan rumah ini, Chen-ah. Aku tidak tahan."

"Hyung dapat pencerahan ya? Padahal kamar hyung juga 11 12 dengan tempat ini."

BYUR

Tubuh Chen basah seketika. Chen menatap tidak percaya pada bajunya yang kini basah kuyup. Chen mendelik.

"Hyung!"

"Diam dan bantu aku."

Chen mendecih. Lalu membantu Suho.

Selang beberapa menit atau bisa dikatakan jam, Suho dan Chen menyelesaikan pekerjaan mendadak mereka. Tempat itu menjadi tidak berdebu dan bersih. Tidak ada lagi dedaunan kering dilantai.

Suho dan Chen sangat puas. Tapi, Chen tentu tidak melupakan ulah Suho yang membuat bajunya basah kuyup. Chen tidak mungkin menyerang Suho dengan kekuatannya. Bisa bisa dia langsung hangus ditempat. Kenapa? Karena petir menjadi lebih kuat dan mematikan apabila digabungkan dengan air. Dan Chen dalam keadaan basah saat ini.

Chen mendengus kuat kuat.

"Hyung, aku bisa masuk angin karena kau, tahu! Cepat hisap air ini!"

Suho menyerit beberapa detik. Berkacak pinggang, menatap Chen angkuh.

"Huh! Kau pikir aku mau menghisap air yang sudah memiliki bekas tubuhmu? Hoho, sorry." Ujar Suho, menatap Chen sinis.

Chen mendelik. Kalau begitu dia harus mencari Chanyeol. Memintanya untuk mengeringkan bajunya. Lagipula, kekuatan api bisa mengeringkan baju kan? Karna api itu panas. Itu pun kalau Chanyeol dengan sengaja membakar bajunya.

"Hey, sudah satu jam yang lalu aku menyirammu dan kau belum kering juga? Ckckck.."

Suho menggeleng kepala. Suho duduk disalah satu kursi, memangku kaki kanannya diatas kaki kirinya. Duduk layaknya bos. Padahal kursi yang didudukinya tidak pantas diduduki seorang bos. Hell ya, kursi itu sudah banyak berlubang, dan sepertinya hanya dibuat asal oleh sang pemilik. Bahkan pakunya tidak tertancap dengan baik.

Chen berharap Suho tidak tertusuk paku.

"Mungkin airmu tahan lama?" Balas Chen asal.

"Hyung, dikursi itu ada paku, tidak takut tertusuk?" Ucap Chen.

Suho mengangkat alisnya. "Hm, tidak apa apa. Lagipula ada Lay yang-"

Chen tersentak, sedangkan Suho terdiam. Suho mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu mendengus keras keras. Chen menghela nafas panjang.

"Hyung, kau baik baik saja?"

Suho tidak menjawab. Suho menurunkan sedikit tangannya, membuat matanya terlihat. Menatap kosong kedepan.

"Hn,"

Chen duduk dilantai depan Suho. Masih ada kursi lain, tapi Chen tidak mau mengambil resiko dengan menambah satu luka ditubuhnya karena tertusuk paku.

"Kita akan menemukan Lay ge. Tenang saja, hyung." Hibur Chen.

Suho menutup matanya, setelah itu membuka matanya kembali setelah beberapa detik. Chen benar, mereka akan menemukan Lay. Tapi, tidak sekarang. Diingat dari cara mereka menculik Lay, dan dinding pelindung yang hancur, pasti mereka termasuk kuat.

"Hyung, entah kenapa aku malah berpikir kalau yang menculik Lay ge itu..."

Chen menggantung ucapannya.

"Mungkin kembaran adik kita disini.." gunam Chen.

Suho mendencih, "Ck, aku tidak percaya."

Chen memutar bola matanya malas. "Hyung pikir hanya kau saja? Aku juga tidak percaya. Tapi, yang memberitahu kita tentang adik kita disini adalah Xiumin hyung. Dan Xiumin hyung tidak mungkin membohongi kita."

Suho terdiam. Memikirkan ucapan Chen yang benar adanya. Xiumin tidak mungkin membohongi mereka.

Hening. Chen mulai tidak memperdulikan bajunya yang basah. Yang lebih penting adalah memikirkan cara mencari Lay dan keluar dari dunia aneh ini.

"Pft! Kau habis mandi ya?"

Chen mendelik. Chanyeol menutup mulutnya, mencoba menahan tawanya yang bisa keluar kapan saja. Suho memutar bola matanya.

"Aku menyiramnya. Kenapa?" Tukas Suho dengan ketus.

Bahu Chanyeol bergetar hebat. Chanyeol menjauhkan tangannya dari mulutnya, lalu menggeleng cepat. Entah kenapa itu terasa lucu, padahal tidak ada yang lucu sama sekali.

"Nah, karena kau orang baik, tampan, manly, senyum secerah matahari, ditambah kakaknya Taeyong,"

Chanyeol langsung tersenyum bangga mendengar pujian yang Chen berikan padanya. Sedangkan Suho mendencih pelan.

"Keringkan bajuku dong!"

Senyum Chanyeol langsung hilang, tergantikan dengan raut datar yang terlihat dipaksakan. Oh ayolah, dia itu kerjanya tersenyum tersu, tentu saja memasang raut wajah datar terasa sangat tidak nyaman baginya.

"Karena aku baik, sini aku keringkan."

Chen tersenyum lebar. Ia menatap Suho sinis, Suho membuang muka.

"Lain kali akan kubuat kau beku, dasar bebek." Lirih Suho, lalu seringai licik muncul diwajahnya.

"Aku mendengarnya loh, hyung."

"Hm."

.h

.h

.h

"Parapa parapa pap!"

Yuta menggunamkan lagu game Mario Bros sambil memotong tomat. Yuta ingin membuat sup tomat. Hey, Yuta orang Jepang, dan orang Jepang suka dengan tomat. Beruntung sekali Yuta memiliki sepupu seperti Dyo yang pintar memasak.

Yuta tersenyum bangga.

"Haha! Aku memang seme idaman! Haha!"

Pft. Yuta seperti orang gila sekarang.

Omong omong, Dyo dan Sehun..

Yuta menggelengkan kepalanya cepat. Lagipula, Yuta tahu kalau kedua kakaknya itu baik baik saja. Mereka juga sudah dewasa. Apa yang perlu di khawatirkan? Dyo sudah punya Kai yang siap melindungi Dyo kapan pun. Sedangkan Sehun bisa menjaga diri sendiri.

Lalu.. mereka juga menginap di rumah Suho. Jadi Yuta merasa dia tidak perlu khawatir dengan kedua kakaknya itu.

Drrt Drrt

Yuta menghentikan kegiatannya, mengambil handphone yang diatas meja lalu mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat langsung siapa yang menghubunginya.

"Moshi moshi?" Ucap Yuta dengan nada sing a song.

Yuta mengerjap karena tidak yang menjawab.

"Moshi-"

"Berhenti menggunakan bahasa negaramu, Yuta."

Dan suara yang sengaja di dinginkan terdengar.

"O-Oh.. ada apa?"

Ternyata Dyo.

Apa? Dyo?

"Sedang apa kau?"

Yuta meringis karena intonasi yang sangat datar terdengar olehnya. Padahal Dyo tidak pernah tega berbicara dingin padanya. Ada yang tidak beres disini..

"Aku sedang memasak, hyung."

"Hyung? Apa kau masih mau menginap?"

"..Apa aku pernah bilang padamu kalau aku akan menginap?"

'Hiks, Dyo hyung..'

Yuta menangis dalam hati karena Dyo semakin dingin saja.

"S-Soalnya Dyo hyung tidak pulang kerumah.."

"Hn."

Yuta mengacak rambutnya frustasi. Lama lama dia bisa gila kalau Dyo terus seperti ini padanya.

"Hyu-"

"Bilang pada yang lain, jangan mengganggu kami."

Yuta melotot.

"Tapi-"

"Jangan ganggu kami, Nakamoto Yuta."

Tutt Tutt-

Mulut Yuta terngangah kecil. Kalau Dyo sudah menyebut nama dengan marganya, berarti Dyo sudah sangat serius dan tidak ingin dibantah. Dengan tangan bergetar, Yuta mengirim pesan pada semua sahabatnya untuk datang kerumanya sekarang. Yuta tidak peduli ini sudah malam, yang lebih penting sekarang adalah kejadian yang baru saja dialaminya.

Dan Yuta mengurung niatnya untuk membuat sup tomat. Yuta jadi tidak berminat. Lebih tepatnya, tidak berselerah makan lagi.

Badan Yuta sudah berisi, ia tidak khawatir dengan tubuhnya yang turun satu kilo. Tomat yang dipotonganya tadi terabaikan begitu saja.

Yuta mengambil minuman dingin dikulkas dan berjalan keruang tengah. Yuta meletakan gelasnya dimeja kaca, lalu termenung.

Tak lama terdengar suara bell, Yuta berdiri dan berjalan kepintu. Membuka pintu, dan mendapati Haechan dan Taeil. Haechan langsung menerobos masuk. Yuta menyingkir sedikit, memberikan ruang untuk Taeil. Taeil masuk dengan santai.

Mereka bertiga duduk diruang tengah. Menunggu yang lain datang. Yuta mengusap wajahnya dengan gusar. Dia jadi ragu ingin memberitahu itu pada Taeil. Karena Taeil terlihat sangat ingin membawa Chen pulang setelah beberapa hari menginap.

"Yuta ni-chan~ kenapa kau memanggil kami kesini? Kau takut sendiri?"

Awalan imut yang diakhiri dengan intonasi sinis dari sang maknae. Yuta mendelik, Haechan tersenyum polos.

"Kau pikir aku itu dirimu yang menangis karena Kai hyung tidak pulang?"

Haechan melotot, merasa terhina.

"Yuta hyung!"

Yuta tertawa lebar, senang karena berhasil membalas bocah setan macam Haechan. Taeil menghela nafas malas.

"Taeil hyung, Yuta hyung mengejekku~" rengek Haechan dengan wajah cemberut, sebelum mendelik pada Yuta.

"Lalu?" Taeil membalas cuek.

Yuta tersenyum menang pada Haechan yang tengah merengut.

TING TONG

"Biar aku saja!" Kata Haechan.

Yuta mengangkat bahunya. Haechan berlari kearah pintu. Yuta melirik Taeil yang diam menatap sekeliling rumahnya.

"Hyung, kenapa tidak bersama Doyoung?" Tanya Yuta.

"Haechan merengek padaku minta dijemput." Jawab Taeil.

Yuta berdecak. "Dasar manja.." gunam Yuta.

Tak lama Haechan kembali, dengan Ten, Taeyong dan Winwin dibelakangnya. Yuta mengangah. Berasa dia dan Taeil tengah menyewa para pria manis ini karena hanya ia dan Taeil yang seme.

"Wahh! Hyung, kita dikelilingi uke!" Kata Yuta sedikit histeris.

Taeyong langsung melempar bantal sofa pada Yuta, dan telak pada wajah tampan Yuta. Haechan dan Ten terkikik geli. Sedangkan Winwin malah berjalan kedapur, ingin mengambil minum, sekalian cemilan.

"Dasar seme kurang belaian." Ucap Taeyong, menatap Yuta sengit.

Yuta cengengesan.

"Wahh Jaehyun beruntung dong, kau belai terus. Buahahaha-"

BUGH

"Diam."

Yuta pun diam. Wajahnya dilempari bantal dua kali oleh dua orang. Taeil dan Taeyong. Setelahnya, Yuta merengut, lalu menatap masam pada Ten dan Haechan yang tertawa tidak jelas.

"Yuta hyung! Untuk apa tomat tomat ini?!" Seru Winwin dari dapur.

Yuta mengerjap.

"Tomat?" Ten menatap Yuta bingung.

"Ahh, aku mau membuat sup tomat. Tapi jadi tidak berselerah." Jelas Yuta.

Tiba tiba Taeyong menatap Yuta tajam. "Hoh, dan kau membiarkan tomat tomatmu itu dan tidak membersihkan dapurmu? Bagus, bakamoto. Setelah Dyo hyung pulang, akan kuadukan kau."

"Buahahaha! Aku mendukungmu, hyung! Hahahaha!" Ucap Haechan, dengan tawa lebar.

"Kurang ajar." Gunam Yuta, menatap Taeyong dan Haechan bergantian dengan sebal.

Yuta beralih pada Ten yang kini sibuk dengan psp miliknya.

"Tennie, kau tidak berniat membelaku?" Rajuk Yuta.

Ten memutar bola matanya malas. Mendorong Yuta menjauh darinya.

"Ck! Untuk apa membela yang salah?"

Ucapan Ten membuat Yuta menganga. Pacar sendiri juga.

"Makan tuh." Ucap Haechan.

"Punya dendam apa kau padaku, Donghyuk?!" Ketus Yuta, Haechan hanya terkikik.

Tak lama Winwin datang keruang tengah dengan apel ditangan. Winwin lalu duduk disebelah Taeyong.

"Kau habis membongkar dapurku ya?" Kata Yuta, menatap Winwin sambil memicing.

"Hm, aku hanya mengambil apel, dan minum air." Balas Winwin.

Yuta berdecak.

TING TONG

Yuta berdiri dan berjalan kepintu. Lalu membuka pintu, tersenyum tipis saat melihat Mark dan Kun.

"Doyoung dan Jaehyun mana?" Tanya Yuta, sambil menyingkir sedikit dari pintu.

Kun menunjuk kebelakang dengan jempolnya, setelah itu masuk dengan santainya diikuti Mark.

.h

.h

.h

To Be Continuea/n: Gue minta maaf buat chap kemarin. Gue terlalu semangat sama kebawa suasana pas nulis, sampe gak sadar kalo ukenya jadi cengeng gitu. Maaf. Soal NCT, momen mereka itu maksa setelah gue baca ulang. Nct didunia nyata ceritanya cuma khawatir sama EXO trus pengen EXO pulang. Trus momen couplenya juga minim banget, maaf lagi.Xoxo, XYdexonn