"Entah kau mau percaya atau tidak, kau telah merubahku, Sakura..." Pemuda itu menatap serius gadis yang sekarang sedang berdiri di depannya.
"..." Gadis itu hanya diam dan menunduk, tak kuat jika menatap pemuda yang baru saja berucap tadi.
Tak kunjung mendapat jawaban dari gadis itu sedari tadi, pemuda raven itu hanya menundukkan kepala. Semua sudah ia usahakan dan kerahkan hanya untuk kesempatan ini, meskipun hasilnya tak seperti harapannya. Meski tak sesuai dengan harapan, namun setidaknya ia dapat meluruskan permasalahan antara dirinya dan gadis itu. Ia hanya ingin menyampaikan semua kebenaran dan rahasia kelam tentang dirinya pada Sakura. Ia tak mau terus membohongi gadis musim semi itu. Membohongi atas dirinya dan juga atas perasaannya.
Sementara di keheningan antara dua makhluk beda jenis itu, Sakura hanya menatap sendu tempatnya berpijak sekarang. Tangannya yang bergetar sedari tadi hanya meremas pelan rok biru lautnya, tak tau harus berucap apa untuk membalas pemuda raven itu. Ingin ia meluapkan semua apa yang ada dibenaknya mengenai sosok pemuda itu. Berbagai pertanyaan seperti kenapa baru sekarang pria itu mengaku, bagaimana bisa secepat itu pria itu berubah haluan, bagaimana pula pria itu bisa berubah karena dirinya, dan masih pertanyaan lain yang ingin ia tujukan untuk putra bungsu Uchiha tersebut. Emeraldnya semakin meredup sesaat ia teringat oleh memori tentang kejadian hampir dua bulan yang lalu di club. Mendadak hatinya menjadi sesak dan terasa sangat sakit. Matanya mulai memanas dan sedikit demi sedikit bulir air mata telah terkumpul di pelupuk matanya. Isakan kecil sedikit keluar dari bibir ranumnya.
"Sakura...?" Sasuke, pemuda di depannya sedikit khawatir saat mendengar isakan kecil keluar dari gadis tersebut.
"Hiks... S-Sasuke-kun..." Bibir gadis itu bergetar saat menyebut nama si pemuda. "B-Bisakah... k-kau pergi..?" Tambahnya lirih.
Mengerti akan keinginan sang gadis, onyx Sasuke semakin meredup. Perlahan tubuh tegapnya sedikit mundur ke belakang. Saat ini ia menyadari jika gadis itu mengusirnya secara halus. Ia pahami itu dan ia tak ingin memaksa Sakura untuk menuruti keinginannya. Ia memalingkan muka dan tubuhnya perlahan berbalik. Sebelum ia melangkah pergi, sekali lagi onyxnya memandang Sakura yang masih menunduk. Hatinya terasa sesak karena gadis itu tak menatapnya sama sekali. Dan akhirnya ia pun kembali menatap depan mulai mengambil langkah untuk menjauh dari gadis itu, meninggalkannya demi kebaikan gadis itu.
Sepeninggal Sasuke, Sakura hanya masih berdiri di tempat. Isakannya yang awalnya kecil kini semakin terdengar parau. Tangannya yang bergetar sedikit terangkat untuk menyeka semua air matanya yang keluar. Hidungnya sudah merah karena terus-menerus terisak. Setelah merasa iasakannya berhenti, barula ia mengangkat wajahnya. Sorot emerald yang terlihat sedih itu hanya menatap kosong tempat dimana tadi Sasuke pergi meninggalkannya. Ulu hatinya kembali terasa sakit saat mendapati bayangan lelaki tadi sudah pergi. Ia sedikit meremas kemejanya.
"S-Sasuke-kun..." Ia bergumam lirih, "Haruskah aku percaya padamu...?"
.
.
.
.
.
.
Maafkan Aku
.
Chapter 10
.
By : Neko Nichibana
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
Rate : M
Genre : Hurt/Comfort, Drama, Romance
WARNING : TYPO, OOC, AU, Lemon (not in this chapter), Alur tak jelas, Konfik sana-sini, NaruHina, SasuSaku Slight, Sasuke's OOC, New Chara, dll...
DON'T LIKE, DON'T READ
.
.
.
.
.
.
KELAS DESAIN
"Haah~..."
Wanita bersurai indigo itu mendesah pelan setelah kelas desain beberapa menit yang lalu usai. Manik amethystnya menatap satu per satu teman-temannya mulai berjalan keluar kelas. Bukannya menyusul teman-temannya, wanita itu malah menenggelamkan kepalanya di atas meja. Kedua tangannya ia jadikan bantalan dagunya. Sorot matanya yang awalnya memandangi teman-temannya kini beralih pada sebuah buku sketsa yang ada di depannya. Dalam buku sketsa tersebut, tergambar dengan jelas sosok pria yang berparas tampan dengan surai yang mencuat tak rapi seperti buah durian. Ekspresi sosok itu kini tengah tersenyum lembut dengan sedikit memiringkan kepalanya. Dalam benak wanita itu, sosok tersebut mengingatkannya pada salah satu tokoh utama dalam serial anime yang dulu sering ia lihat bahkan seri manganya sampai lengkap. Menurut pikirannya, pose sosok pria itu sangat mirip sekali dengan tokoh anak SMA yang selalu mengejar ketua OSISnya. Hinata, wanita itu, sedikit tersenyum kecil saat mengingat betapa lucunya tokoh yang ia idolakan itu.
Semakin lama ia melihat sketsanya, semakin ia teringat kejadian lusa yang lalu di apartemen tempatnya tinggal. Dengan jelas ia mengingat bagaimana suaminya yang secara tiba-tiba memeluknya lembut dan menciumnya. Dia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana suaminya itu menciumnya lembut dan sedikit mencumbunya. Ia juga masih bisa merasakan bagaimana aroma pria Namikaze itu ketika pria itu sedikit merendahkan tubuhnya untuk menciumi dan mengecup lehernya. Hinata tersentak dengan pikirannya itu. Buru-buru ia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran-pikiran tersebut. Wajahnya kini sudah merah seperti tomat saat membayangkan hal itu.
"Astaga... Aku masih kepikiran kejadian itu..." Ia menepuk pelan pipinya yang memanas.
"Hinata-chan?!" Sebuah suara memanggilnya.
Bukannya menoleh untuk menatap si pemilik suara, Hinata malah tersentak kaget. Jantungnya hampir copot saat suara tersebut mengagetkannya. Dengan jantung yang masih dag-dig-dug, Hinata mengangkat wajahnya. Dapat ia lihat sosok yang telah menjadi suaminya selama dua bulan terakhir ini sedang berdiri menatapnya heran. Hinata sedikit menghela nafas pelan.
"N-Naruto-san, kau mengagetkanku..." Hinata kemudian sibuk memasukkan buku-buku dan alat tulisnya.
"Eh? Aa, gomen..." Naruto sedikit merasa bersalah, "Aku tak bermaksud mengagetkanmu..."
"Hmm, tidak apa-apa..."
Disela-sela Hinata memasukkan buku-bukunya, tanpa sengaja pandangan Naruto menangkap sketsa yang ada di depan meja Hinata. Penasaran dengan sketsa itu, tangan kekar itu terulur untuk mengambilnya. Naruto sedikit mengernyitkan alisnya saat mengetahui sketsa itu merupakan gambaran atas dirinya. Di dalam sketsa itu, dia tengah berdiri dengan menyandar tembok dan tersenyum lembut sambil memiringkan sedikit kepalanya. Ia kemudian tersenyum tipis dan melirik ke tempat Hinata yang masih memasukkan beberapa buku. Ia pun menaruh kembali buku sketsa itu di atas meja.
"Ne, Hinata-chan, buku sketsa ini milikmu?" Tanya Naruto sambil menunggu Hinata selesai.
"Hmm, iya. Itu buku sketsa pemberian Ino-chan–" Hinata langsung menghentikan kegiatannya dan langsung menoleh ke arah Naruto. "Kau melihat isinya?!" Hinata membulatkan matanya.
"Yah, sedikit..." Naruto tersenyum lembut.
DEG!
"K-Kenapa k-kau melihat buku o-orang s-seenaknya?!" Hinata langsung menyambar buku sketsa itu dan memasukkannya ke dalam tas.
"Buku itu saja yang ada di atas meja. Karena aku penasaran jadi aku melihat isinya, hehehe..." Naruto menyengir polos.
"T-Tapi t-tetap saja itu t-tidak boleh!" Hinata mulai salah tingkah.
"Kenapa tidak boleh? Buku itu terbuka dan aku tak sengaja melihat isinya. Apa itu salah?" Naruto memangku dagu sambil sedikit mengerling penuh arti pada Hinata.
"I-Itu..." Hinata memutar bola matanya ke samping, sibuk mencari alasan.
Melihat istrinya tampak kebingungan dan salah tingkah, Naruto hanya terkekeh geli. Menurutnya, menggoda Hinata adalah salah satu bentuk kesenangan sendiri baginya. Hinata yang mendengar lelaki itu terkikik geli, hanya menggembungkan pipinya. Merasa kesal karena pria itu telah berhasil menggodanya. Dengan cepat Hinata mengambil tasnya dan berjalan melewati Naruto. Setelah puas dengan menggoda Hinata, Naruto cukup heran ketika tiba-tiba saja istrinya itu berjalan melewatinya.
"H-Hei, tunggu dulu, Hinata-chan!" Buru-buru ia menyusul Hinata.
Hinata berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, tepat di depan Naruto. "Naruto-kun no baka!" Ucap Hinata keceplosan. Dengan cepat perempuan itu langsung membekap mulutnya. 'Oh tidak! Aku keceplosan memanggilnya 'Naruto-kun'!'
"Eh? Em, k-kau tadi memanggilku apa?!" Naruto memajukan badannya dan sedikit membungkuk untuk menatap ke dalam amethyst Hinata.
"A-Ano, etoo..." Hinata semakin salah tingkah. Wajahnya sudah merah padam. Dan akhirnya ia pun jadi terdiam dan menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
"Ne, kau tadi memanggilku 'Naruto-kun', iya kan?!" Naruto sedikit menyeringai.
"T-Tidak! T-Tidak kok! N-Naruto-san salah dengar. A-Aku memanggilmu seperti b-biasanya!" Hinata membuang muka dengan disertai sedikit keringat dingin.
"Heee~... Benarkah?" Naruto semakin mencondongkan tubuhnya. Berniat untuk kembali menggoda Hinata.
"T-Tentu saja!" Masih dengan keras kepala, Hinata berusaha menyangkal kenyataan bahwa ia tadi memang memanggil suaminya 'Naruto-kun'.
Naruto lantas kembali menegakkan badan. Ia sedikit menghela nafas berat. Tampak mimik wajahnya berubah menjadi kecewa. Hinata yang menangkap ekspresi Naruto itu hanya mengernyitkan alis.
"Haaah~..." Naruto memejamkan matanya sejenak, "kukira kau tadi memanggilku 'Naruto-kun', ternyata tidak ya..." Ia pun membuka matanya, "Padahal aku pasti akan sangat senang kalau Hinata-chan mau memanggil nama kecilku dengan sufiks '–kun'..."
"Eh?!" Hinata sedikit kaget. "J-Jangan b-berharap..."
"Hm? Kenapa tidak? Aku suamimu dan kau istriku. Aku memanggilmu 'Hinata-chan' lalu kenapa kau tidak mau memanggilku 'Naruto-kun'? Apakah sebegitu buruknya kah aku jika namaku diakhiri dengan sufiks –kun?" Naruto memasang wajah polos.
"B-Bukan begitu! H-Hanya saja..." Hinata langsung menunduk. 'Tidak mungkin aku berani memanggilmu begitu ketika kau berada di hadapanku, Naruto-kun...'
Melihat Hinata yang menggantung kalimatnya, Naruto pun akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan acara menggoda istrinya itu. Ia pun tersenyum kecil. Tangannya yang sedari tadi diam kini telah menarik tangan Hinata dan menggenggamnya. Hinata yang kaget langsung menatap Naruto penuh tanda tanya. Namun pria itu hanya diam dan senyuman masih tercetak jelas di wajahnya.
"Kurasa, aku tidak perlu memaksamu untuk memanggilku begitu. Meskipun terkesan formal dengan cara kau memanggilku yang seperti biasanya, yang penting bagiku kau ada di sini dan selalu bersamaku. Masalah nama mungkin tak masalah." Naruto mengeratkan genggamannya, "Nah, ayo pulang!" Dan perlahan ia pun mulai melangkah dan Hinata juga turut mengikuti.
"Hmm..." Wanita itu bergumam kecil dan sayangnya tidak terdengar oleh Naruto.
.
.
.
.
.
.
KONOHA MARKET
"Aku tinggal ke kamar mandi dulu, ya. Tidak apa-apa kan?!" Naruto menaruh tas keranjang belanja di samping kakinya dan menatap Hinata yang masih sibuk memilih sayur.
"Em, iya. Jangan lama-lama ya..." Hinata yang berucap tak sadar karena sibuk memilih sayur.
"Hee~... Tenang saja, Hime-chan. Aku tidak akan kemana-mana kok!" Naruto berucap kecil dan tiba-tiba saja mencuri cium di pipi kanan Hinata.
"Eh?!" Karena kaget, Hinata pun menjatuhkan sayuran yang sedang ia pegang.
"Hihihi.." Naruto terkikik geli. "Aku pergi dulu, Hime..." Seketika Naruto langsung kabur untuk menghindari semprotan amarah Hinata yang sebentar lagi keluar.
"Mou! Naruto no baka!" Hinata berucap dengan kesal sampai-sampai ia menutup matanya. Dan Naruto yang berjalan semakin menjauh itu hanya menjulurkan lidah dan terkikik geli.
Setelah sosok Naruto telah benar-benar lenyap, Hinata langsung berbalik dan melihat sayuran yang jatuh tersebut. Ia menghela nafas sejenak dan membungkuk untuk mengambil sayur tersebut. Ia pun meraih keranjang yang tergeletak dan berjalan meninggalkan area sayuran. Kini ia berhenti di sebuah pantry berisikan makanan kaleng. Tangannya terulur untuk mengambil salah satu sosis kaleng. Saat tangannya sudah hampir menyentuh kaleng, tak sengaja tangannya bersenggolan dengan tangan orang lain yang kebetulan juga akan mengambil kaleng yang sama. Hinata lalu menghentikan gerakannya dan menoleh untuk menatap pemilik tangan tersebut. Jade bertemu ametyst. Hinata sontak terkejut.
"Gaara-senpai?!" Hinata memekik kecil.
"Hinata?!" Laki-laki yang dipanggil Gaara tersebut juga nampak kaget.
"Apa kabarmu, Senpai?!" Hinata langsung memasang senyum ketika bertemu dengan kakak kelasnya tersebut.
"Yah, seperti yang kau lihat, Hinata. Aku baik-baik saja. Kau sendiri?" Pria itu juga tersenyum lembut pada Hinata.
"Ah, aku juga baik-baik saja.." Hinata lantas mengambil sosis kaleng yang lain.
"Oh, ya, bagaimana kabar Paman Hiashi?" Gaara juga mengambil beberapa kaleng.
Gerakan tangan Hinata terhenti. Gaara yang melihat Hinata yang mendadak diam itu kini beralih untuk melihat wanita itu. Manik jade milik Gaara terlihat heran ketika menangkap ekspresi Hinata yang mungkin terlihat murung. Dapat dia lihat jika wanita itu sempat menghela nafas sesaat.
"Otou-sama... baik-baik saja, kurasa..." Pegangan tangannya di keranjang belanja menjadi lebih erat.
"Hmm, kurasa? Apa kau jarang pulang ke Suna?!" Lelaki itu kembali bertanya.
"E-Em, ya. A-Aku sedikit sibuk di Konoha. Sebentar lagi aku akan persiapan untuk skripsi..." Hinata sedikit tak nyaman ketika Gaara mulai membahas keluarganya.
"Hm, Paman Hiashi pasti sangat merindukanmu, Hinata. Tetapi aku bisa memaklumi jika kau mulai sibuk dengan kuliahmu. Skripsi adalah bagian tersulitnya, hahaha..." Gaara tertawa sekilas mengingat bagaimana dia dulu melewati masa kuliah dimana dia sedang mengerjakan skripsi.
"Gaara-senpai, apa yang kau lakukan di Konoha?!" Hinata berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku?" Gaara menunjuk dirinya sendiri. "Bulan ini aku mulai buka praktik di Konoha. Lebih tepatnya di rumah sakit Konoha.."
"Kau sudah selesai dengan studi dokermu?! Hebat sekali!" Hinata kali ini dibuat kaget oleh lelaki yang lebih tua dua tahun darinya itu.
"Ya, aku baru lulus spesialis bulan kemarin dan mendapatkan promosi dari kenalan profesorku yang kebetulan menjadi kepala rumah sakit di Konoha." Lelaki itu sedikit tersipu saat Hinata memujinya.
"Berarti kau lulus sebagai dokter muda?! Waah... Kau memang keren, Senpai!" Hinata mengacungkan salah satu jempolnya di depan Gaara.
"Ah, ya, bisa dibilang begitu. Ah, biasa saja. Banyak dokter muda lainnya yang justru lebih muda dariku, hahaha..." Gaara tertawa canggung sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Hinata-chan?!" Terdengar suara yang familiar di balik tubuh Gaara.
Baik Hinata maupun Gaara menoleh untuk melihat orang tersebut. Hinata sedikit kaget saat melihat Naruto menatapnya dengan pandangan heran dan curiga saat manik safir Naruto menatap Gaara. Dapat dilihat dengan jelas pandangan tak suka terpancar dari safir Naruto saat menatap lelaki berambut merah itu berada di samping Hinata. Gaara yang menangkap aura tak mengenakan tersebut hanya tersenyum sekilas. Jujur saja, lelaki yang baru saja menjadi dokter muda itu juga sedikit tak suka dengan kehadiran pemuda bersurai kuning menyala itu.
"Siapa laki-laki ini, Hinata-chan?!" Naruto langsung menatap Hinata.
"O-Oh, ini Gaara-senpai, kakak kelas SMPku ketika di Suna. Naruto-san, perkenalkan ini Sabaku Gaara. Senpai, dia Namikaze Naruto." Hinata memperkenalkan Gaara pada Naruto dan juga sebaliknya.
"Sabaku Gaara." Lelaki bersurai merah itu menjulurkan tangannya untuk berjabat.
"Namikaze Naruto, suami Hinata-chan." Naruto yang masih memasang tampang tak suka hanya menjabat tangan kekar Gaara sesaat.
Tampak ekspresi kaget terlihat dari wajah Gaara saat mendengar kata-kata pemuda bernama Naruto tersebut. Dengan masih memasang ekspresi kaget ia memandang Hinata yang ada di sampingnya. Mimik mukanya menunjukkan sebuah tanda tanya besar pada Hinata. Wanita bersurai indigo itu hanya tersenyum canggung sembari mengangguk pelan.
"Wow, Hinata! Aku tak menyangka kau telah menikah..." Gaara menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. "Dia pacarmu? Apa tidak terlalu terburu-buru jika menikah di usia semuda ini?" Tanya Gaara sambil menunjuk Naruto. Sedangkan yang ditunjuk hanya mengernyitkan alis, semakin tak suka dengan kehadiran Gaara tersebut.
"Kami–"
"Ya, aku adalah pacar Hinata-chan! Kami saling mencintai dan umur kami juga sudah layak untuk membina rumah tangga! Apa itu salah?!" Naruto buru-buru memotong ucapan Hinata yang belum sempat selesai untuk menjawab pertanyaan Gaara, tentunya dengan nada sewot. Dan Hinata hanya merona merah saat mendengar kata-kata 'pacar' dari suaminya itu.
"O-Oh..." Gaara sedikit cengo saat tiba-tiba saja Naruto menjawab pertanyaannya. "T-Tidak apa-apa... kurasa..."
"Ne, Hinata-chan, apa semua bahan untuk masak hari ini sudah semua?" Tanya Naruto tiba-tiba pada Hinata. "Bisakah kita pulang sekarang? Proyek kemarin harus segera kuselesaikan!" Seolah tak peduli dengan keberadaan Gaara, Naruto mengajak istrinya untuk pulang.
"E-Eh? S-Sudah kok..." Hinata gelagapan saat Naruto tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Nah, kalau begitu ayo kita pulang!" Naruto segera menarik sebelah tangan Hinata yang kosong. Sebelum mereka berdua benar-benar pergi, Naruto sempat melirik Gaara yang ada di samping Hinata. "Maaf, Gaara-san, kurasa kami harus pulang duluan. Permisi!" Dan setelahnya, Naruto dan Hinata mulai berjalan untuk menjauhi sosok Gaara.
"Anoo, Gaara-senpai, aku permisi dulu. Sampai ketemu lagi..." Sebelum benar-benar jauh, Hinata menyempatkan diri untuk berpamitan pada pemuda bermanik jade tersebut.
"Ah, ya, sampai jumpa, Hinata.." Gaara hanya melambaikan tangannya.
Sepeninggal Naruto dan Hinata, Gaara langsung terdiam dan memasang muka dingin. Kenyataan mengenai juniornya yang selama ini ia suka diam-diam tersebut memberikan perasaan sakit di dadanya. Kaleng sosis yang ada digenggamnya hanya ia pegang semakin erat. Rasa sesak di dadanya semakin terasa saat ia mengingat Hinata yang tidak menyangkal bahwa ia telah menikah meskipun Gaara tahu Hinata terlihat tidak menyukai pemuda kuning tadi.
"Hinata..." Ia bergumam lirih.
.
.
.
.
.
.
AREA PERTOKOAN KONOHA
"Aduh.. duh.. N-Naruto-san, bisakah kita pelan-pelan saja?! Kau lupa aku sedang hamil, heh?!" Hinata nampak sangat kesal ketika tangannya masih digenggam erat dan ditarik oleh Naruto.
"Hari sudah sore Hinata-chan. Aku hanya ingin cepat-cepat kita sampai rumah sebelum gelap. Dan aku juga tidak ingin kau tersesat kalau tidak kugandeng!" Naruto menjawab asal. Baginya cepat pulang dan tidak bertemu laki-laki tadi adalah alasan utamanya.
"T-Tapi ini masih pukul lima dan aku mana mungkin akan tersesat. Aku sudah hafal betul apartemenmu..!" Hinata menggembungkan pipinya.
"Apartemen kita, Hinata-chan. Apartemen kita..." Naruto menoleh sekilas untuk membenarkan ucapan Hinata yang masih menyinggung tentang apartemen milik Naruto.
"Ya, ya, ya, apartemen kita. Jadi, bisakah kita berjalan biasa saja?!" Hinata sedikit menghempaskan tangannya agar menarik perhatian Naruto karena ia mulai kelelahan.
Naruto tiba-tiba berhenti dan itu sukses membuat Hinata ikut terhenti pula. Ditatapnya Naruto dengan pandangan heran. Lelaki itu lantas berbalik untuk menghadap istrinya masih dengan menggenggam erat tangan mungilnya. Sedikit Naruto menghembuskan nafas pelan. Safir itu menatap dalam amethyst Hinata.
"Hinata-chan, maafkan aku jika aku terlalu cepat berjalannya sehingga membuatmu lelah. Tapi sungguh aku tidak menyukai keberadaan pemuda merah tadi.." Naruto sedikit memasang wajah kesal saat mengingat Gaara.
"Memangnya kenapa dengan Gaara-senpai?!" Hinata malah bertanya heran.
"P-Pokoknya aku tidak suka!" Naruto memalingkan muka, "Aku tidak ingin ia dekat-dekat denganmu..." Cicitnya kemudian.
"Hm? Apa? Aku tidak mendengarmu..!" Hinata sedikit memiringkan kepalanya dan mendekatkan telinganya.
Melihat Hinata yang keheranan sambil menyodorkan telinganya, membuat Naruto ingin berbuat usil pada istri mungilnya itu. Perlahan kepala durian itu bergerak terlihat seperti akan membisikkan sesuatu. Tetapi pada kenyataannya Naruto hanya mencuri cium dari pipi Hinata. Wanita yang berharap akan mendengar pengulangan kalimat dari suaminya itu hanya tersentak kaget. Dan Naruto hanya terkikik geli melihat Hinata yang kaget seperti itu.
"A-Apa y-yang kau l-lakukan?!" Hinata langsung menjauhkan wajahnya dan rona merah sudah memenuhi wajahnya.
"Mencium pipimu.." Naruto hanya tersenyum penuh arti.
"D-Dasar t-tukang modus!" Hinata yang sudah kesal bercampur malu itu lantas berjalan duluan meninggalkan Naruto.
"Hinata-chaan...~" Naruto memanggil Hinata dengan nada yang, em, cukup manja untuk seorang laki-laki.
"A-Aku tidak peduli!" Hinata masih terus memacu langkahnya dengan semburat merah yang menutupi seluruh wajahnya. Tak peduli pula dengan jantungnya yang kini ikut berpacu cepat sama seperti langkahnya.
"Aku bukan tukang modus, ttebayooo...~~" Naruto masih bersikap manja, tak peduli dengan beberapa orang yang melihatnya tertawa geli melihat pasangan satu itu.
"T-Terserah!"
"Hinata-chaaan...~~"
"B-Berhenti memanggil seperti itu!" Hinata yang sudah malu tingkat akut itu akhirnya menutup kedua telinganya dan semakin mempercepat langkahnya untuk meninggalkan Naruto.
.
.
.
.
.
.
APARTEMEN KONOHA
"Hoaahmm..."
Lelaki bersurai kuning itu menguap lebar setelah selesai dengan desainan yang ia buat. Pandangannya pun teralih ke ruang tengah untuk melihat Hinata yang masih melihat acara komedi di salah satu stasiun televisi. Melihat Hinata yang masih terjaga, ia pun mengalihkan pandangannya pada jam dinding yang ada di depannya. Waktu saat itu menunjukkan pukul sebelas malam. Naruto akhirnya mulai bangkit dari kursi meja belajarnya dan berjalan menghampiri tempat Hinata. Sesampainya, ia lihat Hinata mulai menguap pelan masih dengan sedikit kesadaran untuk tertawa di sela-sela acara komedi itu berlangsung. Naruto pun menggeleng-gelengkan kepala kecil. Lantas ia pun mengambil posisi duduk di samping Hinata.
Hinata yang mengetahui Naruto baru saja duduk di sampingnya langsung mengambil beberapa jarak untuk duduk menjauhi laki-laki itu. Ia masih merasa kesal dengan laki-laki tersebut karena hari ini ia digoda habis-habisan olehnya. Naruto yang menangkap gerakan kecil Hinata tersebut lantas menoleh ke arah Hinata. Dengan pandangan yang bisa diartikan seperti 'kau kenapa' laki-laki itu mengambil remote televisi untuk sekedar ganti channel.
"Kau kenapa, Hinata-chan?" Akhirnya Naruto mulai bertanya.
"Jangan duduk dekat-dekat denganku!" Hinata kembali sewot.
"Hah?" Naruto masih bingung dengan sikap Hinata tersebut. Tak berapa lama ia pun menyadari apa yang membuat Hinata bersikap seperti itu. "Kau masih marah ya?"
"T-Tentu saja!" Jawab Hinata sedikit angkuh. "Hari ini kau menggodaku dan mencuri ciuman seenaknya!"
"Hm, memangnya kenapa kalau aku mencium istriku sendiri?"
"I-Itu... itu..." Hinata kebingungan. "P-Pokoknya kau tidak boleh seperti itu lagi!" Hinata langsung memalingkan muka.
Naruto yang mendengar ucapan Hinata barusan hanya dapat menahan tawa. Baginya saat ini melihat Hinata yang kesusahan untuk mencari alasan sekali pun dapat menjadi hiburan tersendiri baginya. Jika ada kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan Hinata yang sekarang, mungkin kata yang sesuai adalah lucu. Yap, benar sekali. Lucu saat melihat seseorang ketika kau goda dan kau jahili hanya dengan kata-kata singkat namun dapat memberi efek bagi orang itu seperti tak bisa berkutik lagi ataupun hanya sekedar berkata-kata. 'Kau ini manis sekali, Hinata-chan...'
Hinata tiba-tiba berdiri dari duduknya. Masih dengan ekspresi kesal ia memutuskan untuk tidur dan meninggalkan Naruto, toh dia juga sudah mulai merasa kantuknya telah datang. Saat akan melangkah, terasa lampu ruangan sedikit meredup. Baik Hinata maupun Naruto saling pandang. TV yang awalnya mempertontonkan acara berita kini hanya menampilkan guratan-guratan seperti sekumpulan semut.
"A-Ada apa ini?!" Hinata menoleh menatap Naruto yang masih memandangi ruangan sekitar.
"Hmm, entahlah..." Naruto meletakkan tangannya di dagu, tampak seperti berpikir. "Sebelumnya tidak pernah terjadi hal seperti ini..."
"L-Lalu –"
.
TAP!
.
.
1 detik...
.
2 detik...
.
3 detik...
.
"KYAAAA...!"
.
"HINATA-CHAN?!"
Hinata menjerit kencang ketika tiba-tiba saja lampu ruangan tempat dia dan Naruto berada padam. Dengan cepat Hinata menutup kedua matanya dan langsung jatuh terduduk. Inilah salah satu yang tidak disukai oleh Hinata. Phobia akan kegelapan. Sesuatu seperti rasa takut karena kegelapan yang tiba-tiba. Dan Hinata sangat membenci itu.
Naruto yang awalnya duduk, kini langsung bergerak perlahan untuk mencari dimana keberadaan Hinata. Sayang sekali kegelapan yang pekat tersebut tak dapat membuatnya merasakan sedikit saja posisi Hinata.
"Hinata-chan?! Kau dimana?!" Naruto masih tetap menjelajahi area sekitarnya.
"Hiks... hiks..." Terdengar isakan kecil yang Naruto rasa dari arah depannya.
"H-Hinata-chan?!" Naruto berusaha meraba area depannya.
"N-Naruto-kun.. hiks... hiks..." Hinata berusaha meraba-raba untuk menemukan keberadaan Naruto.
.
GREB!
.
"Hinata-chan?! Kau tidak apa-apa?!" Tanya Naruto setelah berhasil menemukan Hinata dan mendekapnya dalam pelukan.
"Hiks.. a-aku t-takut..." Hinata semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan kepalanya di dada bidang Naruto.
"Tenanglah Hinata-chan.." Naruto membelai pelan setiap helai rambut Hinata untuk menenangkan wanita tesebut. "Aku ada di sini. Aku ada di sini. Kau tidak perlu takut lagi..." Bisiknya pelan.
"Hiks... hiks... J-Jangan pergi..." Cicit Hinata pelan.
"Iya, aku tidak akan pergi. Aku akan di sini jadi kau tidak perlu takut, oke?" Naruto berusaha agar Hinata kembali tenang.
"J-Janji..?" Terdengar keraguan dalam pertanyaan Hinata.
"Iya, aku janji..." Naruto semakin mengeratkan pelukannya.
Seiring berjalannya waktu terjadi keheningan di antara Naruto dan Hinata. Isakan yang sebelumnya terdengar dari bibir Hinata kini mulai tidak terdengar lagi. Naruto yang menganggap Hinata sudah lebih tenang berusaha untuk sedikit demi sedikit merenggangkan pelukannya. Namun ia salah, Hinata masih mendekapnya erat tak ingin laki-laki itu melepas barang sebentar saja. Naruto hanya sedikit tersenyum maklum mendapati Hinata yang tidak mau melepaskan pelukannya tersebut.
"Ne, Hinata-chan.." Naruto sedikit berbisik.
"Y-Ya..?" Hinata menyahut pelan.
"Kenapa kau takut gelap?"
"I-Itu... karena dulu aku pernah terkunci di gudang yang sangat gelap dan pengap waktu SD. Tidak ada yang menolongku.." Hinata bercerita pelan.
"Lalu?" Naruto masih penasaran.
"Esok harinya, ruangan itu baru dibuka oleh penjaga sekolah. Dan k-katanya aku sudah pingsan..." Jemari mungil Hinata sedikit mencengkeram kaos Naruto.
"Hmm..." Naruto bergumam pelan. "Jadi karena itu kau pobhia terhadap gelap ya? Kurasa masuk akal pula.."
"H-Hn..." Hinata mengiyakan apa yang baru saja Naruto katakan.
"Tetapi tenang saja, Hinata-chan. Rumah ini bukan gudang yang pengap kok, jadi tidak perlu takut. Lagipula..." Naruto sedikit menunduk. "Ini juga sudah malam. Apa kau tidak mengantuk?"
"A-Aku..."
"Aku akan mengantarmu ke kamar dan tidurlah! Tidak baik juga kalau kau tidur terlalu malam..." Naruto kembali mengelus puncak kepala Hinata.
"I-Iya..." Hinata hanya bisa mengiyakan apa yang Naruto ucapkan.
.
.
.
.
"Nah, sekarang kau bisa tidur kan?" Naruto bertanya lembut sambil membaringkan Hinata di tempat tidur. "Tenang saja! Lampu darurat ini akan aku periksa setiap jamnya untuk memastikan tidak mati." Naruto lantas menyelimuti Hinata dengan selimut tebal.
"Hmm..." Hinata bergumam lirih masih dengan sedikit ketakutan.
"Baiklah! Aku keluar dulu kalau begitu. Oyasumi, Hinata-chan..."
GREB!
Sebelum Naruto benar-benar beranjak dari tepi ranjang tempat Hinata tidur, ia melihat Hinata tengah menahan lengannya. Ia pun menatap heran Hinata. Mata Hinata mulai sedikit demi sedikit berkaca-kaca. Naruto yang melihatnya lantas kembali mendekat, berusaha untuk menenangkan kembali istrinya.
"J-Jangan tinggalkan aku..." Hinata memohon lirih.
"Tidak apa-apa Hinata-chan..." Naruto kembali membelai surai indigonya. "Aku hanya tidur di sofa. Aku tidak pergi kemana-mana..."
"T-Tapi..."
"Tenang saja..."
GREB!
Naruto perlahan mulai bangkit dan hendak berbalik namun terhenti gerakannya karena tiba-tiba Hinata tengah memeluknya dari belakang. Dapat ia rasakan tubuh mungil Hinata memeluknya erat. Ia pun sedikit menoleh ke belakang untuk melihat Hinata. Dari sudut matanya dapat ia lihat Hinata tengah membenamkan kepalanya dalam-dalam ke punggung lebarnya. Ia pun meraih tangan Hinata yang ada di perutnya. Perlahan ia menoleh dan meraih dagu Hinata. Ditatapnya manik bulan Hinata.
"J-Jangan pergi..." Hinata memelas penuh mohon pada Naruto.
"Kalau aku di sini, aku tidur dimana, Hinata-chan?" Naruto bertanya pelan.
Hinata terdiam sesaat. Ia pun melirik ke samping menghidari tatapan Naruto. Hinata kini sedang bingung bukan main. Pasalnya ia tidak mau jika ia ditinggal sendirian meskipun itu dalam ruangan gelap yang hanya diterangi lampu emergensi yang redup-redup. Ketakutannya pada gelap telah mengalahkannya dan membuatnya bersikap egois untuk tidak ditinggal sendiri. Namun di sudut pikirannya, ia sedikit malu jika meminta Naruto untuk menemaninya. Tetapi pemikiran sekilas itu lagi-lagi kalah dengan ketakutannya. Ia pun menggigit bibir bawahnya pelan.
"N-Naruto-san b-bisa t-tidur di sini..." Hinata berucap pelan sekali sambil menunjuk ranjang.
Naruto sedikit tersentak kaget karena ucapan Hinata. Ini adalah baru pertama kalinya sejak mereka menikah Naruto akan bisa merasakan rasanya tidur di ranjangnya sendiri. Ia tentu merasa senang apalagi Hinata yang memberikan ijin itu. Tapi dia masih menyadari jika Hinata hanya memintanya untuk menemaninya, tak lebih. Hanya saja, ia jadi bimbang untuk menerima permohonan Hinata tersebut. Ia hanya takut jika semisalnya ia kembali kelewatan seperti lusa yang lalu. Ia takut ia akan tiba-tiba saja menyerang Hinata ketika wanita itu sedang tertidur. Tetapi melihat Hinata yang penuh ketakutan seperti itu juga membuatnya tak tega untuk meninggalkan wanita itu sendirian, meskipun sudah ada lampu darurat di samping ranjangnya.
"K-Kau yakin? Maksudku, apa benar tidak apa-apa?" Naruto mencoba meyakinkan Hinata. "Aku.. hanya tidak ingin kejadian seperti tempo hari kembali terjadi. Aku... takut jika nanti tiba-tiba menyerangmu seperti kemarin..." Sorot mata Naruto berubah menjadi sendu.
Hening terjadi. Naruto masih dengan pandangan sendunya dan Hinata masih dengan tatapan memohonnya. Dalam hati Hinata, ia membenarkan apa yang diucapkan oleh Naruto. Bagaimana jika nanti tiba-tiba saja Naruto menyerangnya seperti kemarin? Tetapi, siapa lagi yang bisa Hinata mintai tolong selain suaminya itu sekarang. Hinata menutup matanya sekilas untuk menetapkan pilihan. Baiklah, meskipun beresiko jika tidur satu ranjang dengan Naruto, tetapi Hinata tidak mau mengambil resiko lebih besar lagi, yaitu tenggelam dalam rasa takut. Dan ia pun telah memantapkan jawaban.
Meskipun dalam keadaan remang-remang, tetapi safir Naruto dapat menangkap pergerakan kepala Hinata yang mengangguk kecil tanda mengiyakan. Ia pun menarik nafas sekilas dan menghembuskannya pelan.
"Em, B-Baiklah kalau begitu..." Naruto lantas kembali menuntun Hinata untuk kembali menaiki ranjang. Ia pun berputar untuk menaiki ranjang dari sisi seberang.
Suara ranjang sedikit berdecit ketika pasangan itu sudah menaiki ranjang tidur mereka. Baik Naruto maupun Hinata kini merasa gugup ketika mereka menyadari mereka sekarang telah berada dalam satu ranjang yang sama. Seperti memiliki ikatan yang kuat, wajah mereka juga sudah dipenuhi dengan rona merah. Naruto yang masih dalam keadaan deg-degan itu lantas menepis pikirannya tersebut. Ia mencoba mengalihkannya dengan menutup kedua matanya berharap kegugupannya akan menghilang terbawa oleh kantuk. Tak peduli ia merasa sedikit menggigil karena udara dingin memasuki kamar itu. Sedangkan Hinata yang canggung lantas menggerakkan tangan mungilnya untuk mengambil selimut yang ia pakai. Ia menoleh ke samping untuk melihat Naruto. Dapat ia lihat Naruto sedikit menggigil dalam tidurnya. Ia pun kembali melirik selimut yang ia pakai. Merasa tak tega dengan melihat keadaan Naruto, akhirnya Hinata juga menyelimutkan sebagian selimutnya ke tubuh Naruto.
Naruto yang belum sepenuhnya tidur itu lantas membuka kelopak matanya saat merasakan sentuhan lembut dari tangan Hinata yang tak sengaja menyentuhnya. Darah Naruto sedikit berdesir ketika mendapat sentuhan tersebut. Namun ia yang masih sadar dengan pikirannya lantas menatap Hinata yang bergerak untuk menyelimutinya. Naruto seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Hinata membagi selimut dengannya. Apakah mungkin Hinata menyadari jika Naruto tadi sedikit menggigil karena hembusan pelan angin malam? Atau ia hanya merasa kasihan? Atau mungkin...
"Hinata-chan?" Naruto memanggil pelan.
"Eh?!" Hinata tersentak kaget karena tiba-tiba saja Naruto memanggilnya. 'Jadi, Naruto-kun belum tidur tadi?!'.
"Kau belum tidur?" Naruto memiringkan badannya untuk menatap Hinata.
"B-Belum..." Hinata lantas menarik tangannya dan memasukkannya ke dalam selimut. "N-Na-Naruto-san j-juga belum t-tidur?" Hinata memberanikan diri untuk menatap wajah Naruto.
"Belum..." Naruto bergumam lirih sambil memejamkan matanya, hendak tidur. "Terima kasih... untuk selimutnya..." Tambahnya.
"Emm..." Hinata hanya mengiyakan dengan bergumam kecil.
Terjadi keheningan. Naruto yang tak mendengar kata-kata dari Hinata lagi kini dapat merasakan kantuk yang perlahan mulai datang. Kelopak matanya terasa semakin berat sekarang. Hah, dalam hatinya ia merasa lega jika kantuknya telah datang. Ia benar-benar merasa bersyukur karena dengan begitu pikirannya akan teralihkan dari bayangan dan sosok Hinata. Jika memikirkan wanita itu, darahnya serasa berdesir kecil dan sesuatu dalam dirinya akan terasa mulai menyala. Dan Naruto tahu jika ia sampai termakan oleh hasratnya tersebut, maka ia menjamin ia pasti akan langsung menyerang Hinata.
Hinata yang tak mendengar sepatah kata pun dan merasa keheningan menjadi pemeran utama, hanya mengalihkan pandangannya untuk menatap Naruto. Dari amethystnya, terlihat jelas Naruto yang tengah tertidur, meskipun ia tak tahu apa benar laki-laki itu sudah tidur apa belum. Hinata menggeliat pelan. Jujur saja ia merasa tak nyaman dengan keheningan ini. Ingin ia membangunkan laki-laki itu hanya untuk menemaninya mengobrol. Tapi hal itu tidak mungkin ia lakukan. Pria itu sedari tadi telah bekerja dan sekarang ia pasti merasa lelah. Dan jika Hinata tetap membangunkan Naruto, ia yakin pasti Naruto akan memarahinya.
"Naruto-kun..." Ia begumam lirih sekali agar tidak membangunkan sang suami.
"Hm?" Tanpa diduga ternyata Naruto belum tidur. Hinata terkesiap.
"N-Nandemonai..."
"Benarkah...?" Naruto membuka matanya yang berat.
Tidak benar. Itulah yang ingin Hinata ucapkan namun ia tak berani. Ia hanya ingin berbicang-bincang dengan Naruto agar ketakutannya menghilang. Sekelebat pikiran melintas di kepalanya. Ia ingat Naruto tadi yang berharap Hinata untuk memanggilnya dengan sufiks –kun. Ia tersenyum kecil mengingatnya. Baiklah sebenarnya dalam benak Hinata, ia ingin juga memanggil Naruto dengan embel-embel seperti itu. Namun ia kalah dengan ego dan harga dirinya. Ia akan terdengar mengkhianati dirinya sendiri jika ia sampai memanggil Naruto begitu.
"Ne, N-Naruto-san..."
"Hm...?" Naruto bergumam pelan lalu kembali menutup matanya.
"B-Bolehkah a-aku... m-memanggilmu N-Naruto-kun?" Hinata sudah memalingkan wajahnya karena rona merah sudah menjalari seluruh wajah ayu tersebut.
"..."
Karena tak mendapat jawaban dari Naruto, Hinata pun kembali memberanikan menatap Naruto. Hinata hanya bisa terdiam saat ia mendengar dengkuran kecil keluar dari mulut Naruto. Wanita itu lalu tersenyum dan sedikit menghela nafas lega. Ternyata suaminya telah tidur. Jemari lentik Hinata tergerak untuk menyentuh pelan pipi Naruto. Ia sedikit memajukan wajahnya untuk menatap suaminya lebih dekat.
"Oyasuminasai... Naruto-kun..." Bisik Hinata kemudian.
.
.
.
.
.
.
RUMAH SAKIT KONOHA
"Kaa-san, aku sudah menunggumu daritadi! Kau kemana saja?!... Hmm... Iya, aku bawakan... Nenek?... Sudah. Nenek juga kubawakan... Apa? Jam tiga sore? Tapi aku ada janji untuk konsul dengan dosen... Hah? Baik-baik... Iya... Iya... Jaa..." Gadis pinky yang duduk di salah satu kursi untuk tamu itu mendesah kecil setelah menutup telepon.
Haruno Sakura menatap dua kotak bekal yang ia bawa. Dengan tersenyum sedikit ia lalu beranjak dari duduknya dan menaruh salah satu kotak berwarna biru di meja kerja kepala perawat di Rumah Sakit tersebut. Ia pun mulai berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Saat sedang berjalan di koridor rumah sakit, tak sengaja manik emeraldnya menangkap salah satu objek yang sekarang tengah dikepung oleh beberapa pasien anak-anak. Merasa penasaran, Sakura pun melangkahkan kakinya untuk mendekat.
"Ah, iya saya baru membuka praktek di sini..."
Terlihat seorang lelaki berperawakan tinggi dengan surai berwarna merah serta manik jade tengah tersenyum canggung sambil sesekali menggaruk kepalanya. Sakura yang merasa asing dengan orang itu akhirnya berjalan semakin mendekat. Dapat ia lihat jas yang terpasang di badan laki-laki itu. 'Eh, dokter baru ya...'
"Cotto..." Suara Sakura menginterupsi kegiatan dokter yang tengah di serbu beberapa pasien itu. Sontak semua pasang mata menatap Sakura yang berdiri tak jauh dari tempat mereka.
"Sakura-chan?" Sahut salah satu perawat yang berada di situ.
"Sakura-nee..." Beberapa pasien anak-anak pun berhamburan untuk memeluk Sakura.
"Konnichiwa minna-san..." Sakura tersenyum canggung.
"Ya ampun Sakura-chan, sudah lama aku tidak bertemu denganmu..." Perawat yang sebentar lagi akan pensiun itu juga mendekat ke arah Sakura.
"Halo, Chiyo-baa-san..." Sakura membungkuk hormat. "Ano, ada apa ini? Kenapa kalian semua keluar dari kamar kalian?" Sakura menatap satu persatu pasien anak-anak rumah sakit yang di dekatnya.
"Kami ingin bermain dengan Dokter Gaara, Sakura-nee..." Ucap gadis kecil yang membawa boneka kelinci. "Ne, lihat! Lihat! Ini dari Dokter Gaara..." Ia lantas menunjukkan bonek kelincinya.
"Aku juga! Lihat ini, Sakura-nee!" Anak laki-laki berambut hitam juga menunjukkan sebuah mainan robot-robotan.
"Waah... Kalian mendapat hadiah ya?" Sakura sedikit berjongkok. "Ne, kalian sudah mengucapkan terima kasih pada Dokter Gaara?" Sakura bertanya lembut. Dan anak-anak itu hanya menggeleng pelan.
"Hee~... Jika kalian menerima hadiah dari orang lain harusnya kalian berterima kasih kepada orang itu. Nah, ayo sekarang kalian ucapkan terima kasih kepada Dokter.." Sakura berucap lembut.
Anak-anak itu pun menurut dengan ucapan Sakura. Mereka berbalik untuk mengucapkan terima kasih pada lelaki bermani jade tadi. Sakura lantas kembali berdiri dan tersenyum. Beberapa menit kemudian anak-anak itu sudah kembali ke kamar mereka diantar oleh Suster Chiyo. Dan kini tinggal Sakura dan Gaara yang masih berada di koridor rumah sakit tersebut.
"Arigatou..." Gaara tiba-tiba berucap pelan sambil melirik Sakura.
"Eh?" Sakura sedikit heran ketika dokter muda tersebut tiba-tiba saja berucap begitu. "Ah, sama-sama Dokter... Anu..." Sakura sedikit kebingungan karena ia tak mengetahui nama dokter itu.
"Sabaku Gaara..." Dokter itu menjulurkan tangannya.
"Oh, Haruno Sakura. Salam kenal, Dokter..." Sakura membalas jabat tangan Gaara dan tersenyum lembut.
"Haruno? Kau putri kepala rumah sakit, Haruno Kizashi?" Gaara sedikit terkejut.
"Em, iya..." Sakura sedikit menggaruk pipinya yang sama sekali tak gatal.
"Wah, ternyata memang seperti rumor yang dikabarkan para Senpai..." Gaara tampak takjub. "Kata para Senpai, kau sangat cantik. Dan aku menyetujuinya, hahaha..." Gaara tertawa ringan.
"E-Eh? B-Benarkah? Dokter Gaara ini bisa saja, hehehe..." Sakura sedikit tersipu malu saat dokter itu memujinya.
"Iya, aku tidak bohong..." Gaara memasukkan tangannya ke dalam saku jas.
"Terima kasih untuk pujiannya kalau begitu." Sakura tersenyum sekilas. "Ano, apa Dokter Gaara baru bekerja di sini?" Tanya Sakura.
"Iya. Mulai minggu kemarin aku membuka praktek di sini. Atas rekomendasi dari Haruno-san tentunya..." Gaara lantas melepas kacamatanya. "Dan Sakura-san sendiri? Apa kau juga bekerja di sini?" Tanya Gaara.
"Dokter ini bercanda ya!" Sakura sedikit memanyunkan bibirnya, "Aku masih kuliah, Dokter! Lebih tepatnya baru akan lulus tahun ini, jika lancar..." Sakura sedikit mengendikkan bahu.
"Eh, gomen, gomen, aku tidak tahu. Kukira kau juga menjadi salah satu staf di sini..." Gaara merasa bersalah. "Ngomong-ngomong, apa yang Sakura-san lakukan di sini?" Tanya Gaara. Sekarang mereka berdua mulai berjalan bersama di koridor.
"Aku kemari untuk menemui Kaa-san dan Tsunade-baa-san..." Sakura tersenyum sekilas. "Mengantarkan bento mereka yang tertinggal, hehehe..."
"Hmm, begitu ya. Dan sekarang kau mau menemui Dokter Tsunade?" Tanya Gaara.
"Iya. Aku mau ke ruangan Tsunade-baa-san. Kalau begitu, aku permisi dulu, Dokter Gaara..." Sakura membungkuk sekilas untuk berpamitan dengan dokter muda itu.
"Ah, iya. Silahkan..." Gaara balas membungkuk.
.
.
.
.
Sakura kini berjalan menuju keluar lobi rumah sakit. Ia melirik sekilas jam tangan yang melingkar di tangannya. Melihat sekarang sudah menunjukkan pukul dua siang, gadis itu mendesah pelan. Ia teringat janjinya untuk bertemu dengan dosen pembimbingnya. Tak ingin membuang-buang waktu, ia pun segera melangkahkan kakinya dengan cepat. Karena ia tak membawa kendaraan, terpaksa hari ini ia harus ke kampus dengan menaiki taksi. Gadis itu menoleh kesana-kemari untuk mencari taksi. Tak lama sebuah taksi kosong menghampirinya. Ia pun segera memasuki taksi tersebut.
"Tolong antarkan aku ke Universitas Konoha Fakultas Seni..." Sakura berucap lembut.
"Hai." Sang supir hanya menyahut sekilas.
Dan taksi tersebut mulai memacu gasnya dan melaju pelan menuju jalanan. Sakura yang berada di kursi penumpang belakang perlahan menyandarkan punggungnya. Tangannya merogoh ke dalam tas untuk mengambil beberapa file penting terkait dengan skripsinya. Saat mengambil lembaran file tersebut, tak sengaja sebuah kotak kecil berbalutkan kain beludru menggelinding keluar dari tas. Sakura yang melihat kotak kecil tersebut lantas mengambilnya. Sakura yang awalnya terfokus pada filenya kini hanya memandang kotak yang sedang ia pegang itu dengan sendu. Perlahan ia buka kotak tersebut dan terlihatlah sebuah cincin bermahkotakan sebuah kristal berwarna serupa matanya.
Sakura memandang sedih cincin itu. Ia tahu harusnya ia tak menyimpan benda itu karena setiap ia melihatnya pasti perasaan sedih selalu muncul. Bayang-bayang laki-laki bersurai raven selalu hinggap di pikirannya. Sakura mendesah kecil saat ia kembali teringat dengan Sasuke. Masih teringat jelas di pikirannya tentang laki-laki itu yang menemuinya beberapa waktu lalu untuk menjelaskan semuanya. Sakura masih ingat jika dia telah mengusir pelan laki-laki itu yang berusaha untuk menjelaskan semuanya. Kini Sakura sedikit merasa menyesal karena sempat mengusirnya tanpa memberikan tanggapan pada Sasuke saat itu. Padahal Sakura dengan jelas melihat kesedihan dan kekecewaan terpancar dari mata Sasuke.
"Sasuke-kun..." Ia bergumam lirih.
Tak lama taksi yang ia tumpangi sudah sampai di tempat. Sakura lantas segera merapikan barang-barangnya dan langsung keluar dari taksi setelah membayar uang taksi. Ia pun lalu melangkah untuk memasuki gedung fakultas seni dan segera menuju kantor departemen desain. Saat ia melewati koridor lantai satu, tak sengaja ia berpapasan dengan Sasuke. Sakura sempat terhenti langkahnya saat melihat Sasuke yang berjalan dengan santai. Tenggorokan gadis itu serasa tercekat. Perasaan seperti ingin mendapatkan perhatian dari pria tersebut muncul. Namun Sakura buru-buru menggelengkan kepala. Ia sudah bukan siapa-siapa Sasuke, jadi untuk apa ia harus melakukan hal itu?
WUSSH...
Bagaikan angin yang berhembus, Sasuke yang lewat seolah seperti tak mengenalnya dan berjalan lurus tanpa memperhatikan jika Sakura tengah berdiri di depannya. Sakura langsung menoleh ke belakang untuk menatap Sasuke. Namun laki-laki itu tetap tak bergeming dan tetap melanjutkan langkahnya. Sakura yang masih diam di tempat merasakan dadanya sedikit sesak dan sakit saat Sasuke melewatinya begitu saja. ia pun menunduk dan berbalik. Wajahnya kembali lesu dan sendu. Perasaan seperti tersayat-sayat terus ia rasakan di hatinya. Sekarang hatinya benar-benar merasa sakit. Kenapa ia harus merasakan sakit itu? Bukankah ia harusnya senang karena laki-laki tak normal itu kini sudah berhenti mengganggunya? Tapi... Entahlah, ia hanya merasa sakit dalam dadanya. Sakit sekali.
.
.
.
.
Sementara di luar gedung fakultas seni, laki-laki bersurai raven sedang menyandar di dinding bangunan dengan tampang yang sendu. Tangannya terangkat untuk menyentuh dadanya. Ia merasakan dadanya terasa sangat sesak bahkan untuk sekedar bernapas. Jantungnya terasa nyeri dan berkedut-kedut sehingga menambah rasa sesak di hatinya. Karena hal tersebut ia bernapas dengan sedikit terengah-engah. Onyx hitam miliknya semakin meredup dan memandang lantai dengan pandangan sedikit kabur. Ia yang awalnya berdiri tegap itu kini sedikit merosot ke bawah. Tak peduli dengan pandangan aneh dari orang-orang yang berlalu lalang, laki-laki itu kini berusaha untuk bangkit.
"Sakura... Mungkin dengan menjauhimu, itu akan lebih baik..." Laki-laki itu bergumam lirih sebelum meninggalkan tempat tersebut.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
Moshi moshi...
Kembali lagi dengan neko. Em, langsung saja ya, neko mau jawab review dari reviewer yg tidak login...
Guest 1: hai, hai, hati hina udah mulai luluh dan naru juga udah mulai straight, hahaha... yosh, ini neko udah update.. :D
Fira Uchiha: wkwkwk... gimana yaa.. ditunggu saja ya Fira-san.. :D
Yuan: hmm, neko sebenarnya cukup bingung soalnya kan udah rate m, nanti klo ganti takutnya diprotes orang banyak. makanya neko cari amannya aja, lagian hampir chap ada adegan, em, yah lumayan dewasa.. wkwkwk.. #evillaugh
Rechi: nah, skrg rechi-san udah seneng kan? sama neko juga.. ahahahaha... iya, ceritanya hina itu masih em, ya sedikit trauma gtu, maklum dy kan -itulah pokoknya 3 bln yg lalu.. (sepertinya begitu)
Phoenix: hai, neko sudah lanjut.. em, gimana yaa neko pikir2 dulu deh.. :D
Soputan : Arigatou.. :D
Miko: haii, miko-san.. daijoubu desu nee.. tak apa, yg penting fic neko bisa hibur miko-san, neko udah seneng kok.. :D oke ini neko udah lanjut...
Chiha: hai, ini udah update.. hahaha.. hai, hai, neko usahain dehh.. :D
Alvin: Hmm, neko kira chap 9 kemarin udah banyak lho naruhina nya.. ternyata masih kurang ya.. :D
Akira-chan : ini yg guest abis reviewnya akira-chan apa akira-chan juga? hahaha.. neko sempet berpikir keras lho buat chap 9 kmrin.. oke ini neko udah lanjut.. :D
Zaoldyeck13: wah, zaoldyeck-san sampe review dua kali.. maklum naru kan agak, em, ero2 gitu #dirasengannaru.. hinata agak sedikit trauma.. hmm kapan ya, semoga lebih cepat, lebih baik.. #loh?
Ade Hyuuga : hai, hai, ade-san sampe terharu gitu.. oke ini neko udah lanjut chap 10.. :D
Nah, buat yg login silahkan periksa pm masing2...
Neko ucapkan terima kasih buat readers sekalian baik yg sudah mereview atau pun hanya menjadi silent readers. Yg jelas semoga fic neko bisa menghibur minaa-san sekalian..
Anyways...
Mind to review this chap please..?
