Title : To Be With You
Main Cast : Byun Baekhyun ㅡ Park Chanyeol
Other Cast : EXO's Members and other
Main Pair : ChanBaek
Genre : School Life, Romance, Family, Brothership, YAOI (BOY X BOY!)
Rating : T
Length & Type : Chapter
.
.
.
WARNING! BOY X BOY! YAOI! TYPO!
.
.
.
DON'T BASH
DON'T PLAGIAT
.
.
.
Summary
Menjadi satu-satunya lelaki paling cantik dan 'tidak manly' diantara saudara-saudaranya adalah malapetaka bagi Baekhyun. Karena apa? Karena meski dirinya selalu menyebut "aku manly!" tetap saja ia selalu diperlakukan seakan ia yang paling bungsu, bahkan oleh adik bungsunya sendiri yang preman nya minta ampun. Lalu apa kabar dengan si pemimpin preman sekolah yang selalu bersikap aneh padanya? Siapa namanya? Park.. Park apa? ah sudahlah, Baekhyun tidak mau mengingatnya.
.
.
.
CHAPTER 7
.
.
.
Saat ini, Chanyeol tengah duduk di ruang tamu rumah Baekhyun dengan Baekhyun yang berada di sebelahnya serta ketiga kakaknya yang berada si hadapannya. Ia merasa sekarang tengah di interogasi. Atau mungkin memang begitu?
"Nama?" tanya Changmin tajam. Kedua kakinya saling menumpang dengan tangan kanan yang berada di atas tumitnya yang menumpang membuatnya terkesan angkuh.
"Park Chanyeol, tujuh belas"
"Alamat?"
Chanyeol sedikit bingung namun ia tetap menjawab pertanyaan Donghae barusan. "684-17, Hannam-dong Yongsan-gu, Seoul. Park Seung Hyun"
"Saudara?"
"Satu, perempuan. Park Yoora"
"Peliharaan?"
"Anjing puddle, Zoan. Milik Yoora noona"
"Hobi?"
"Bermusik, basket, berenangㅡ"
"Dan berkelahi. Jangan lupakan itu" Minho memotong dengan jari telunjuk mengarah pada Chanyeol.
"Kakak! Ugh! Kenapa jadi bertanya seakan Chanyeol sedang interview!" Protes Baekhyun dengan wajah memerah padam. Entah malu entah kesal.
"Ah jinjja. Kita harus tahu apakah dia layak untukmu atau tidak, Baekhyunee" Donghae menyangkal, tak mau kalah.
Baekhyun mendengus dan rasanya aneh saat ia melakukannya di hadapan kakak-kakaknya. Untung saja bunyi dering ponsel Baekhyun dapat menghalau kemarahannya. Kalau tidak mungkin ia sudah ngambek pada ketiga kakaknya yang menyebalkan itu.
"Ya, Jongin?" Sapa Baekhyun dengan malas pada ponselnya membuat keempat pria lain disana langsung terdiam.
"Baek kau dimana?"
"Dirumah tentu saja, aku bukan kau yang suka kelayapan"
"Kkk~ bisakah kau datang ke rumah sakit? Hari ini gips ku dibuka dan aku harus terapi berjalan"
"Ah jinjja? Kalau begitu aku akan kesana. 30 menit dari sekarang"
"Oh! Arasseo. Jangan lupa bawa makanan kesukaanku! Bye Baekhyun babo!" Jongin terkekeh di seberang sana sebelum pria itu memutus sambungannya sepihak.
"YA! Adik sialan!" Maki Baekhyun dengan ekspresi ditekuk sedemikian rupa. Tak menyadari tatapan tajam ketiga kakaknya akibat ucapan kasarnya barusan.
"EHM! Baek..."
Baekhyun mendongak ke arah ketiganya lalu sesaat kemudian ia langsung memamerkan cengiran polosnya setelah menyadari dimana letak kesalahannya.
"Aku akan naik dan ganti baju lalu ke rumah sakit dengan Chanyeol untuk menemani Jongin. Aku pergi!" Baekhyun melesat secepat kilat bagai rudal yang di tembakkan lalu beberapa saat kemudian terdengar bunyi hentakan langkah kaki Baekhyun yang menaiki tangga.
.
.
.
Baekhyun tak tahu apa yang terjadi antara Chanyeol ㅡ Changmin ㅡ Donghaeㅡ Minho, karena pada saat ia kembali keempat pria tampan itu terlihat jauh lebih akrab dari sebelumnya. Bahkan Donghae tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Chanyeol seolah mereka adalah sahabat sejak jauh jauh hari.
"Apa yang terjadi?" Bisik Baekhyun saat langkahnya membawa ia dan Chanyeol keluar dari rumahnya.
"Bukan apa-apa. Hanya sebuah obrolan kecil" Chanyeol mengusak tatanan rambut Baekhyun yang sudah rapi hingga menjadi acak-acakan membuat empunya merengut seperti anak SD.
Bukannya meminta maaf, Chanyeol justru malah tersenyum sangat lebar hingga menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi lalu mendorong lembut punggung si mungil kedalam mobilnya.
"Kita ke rumahmu dulu?"
"Untuk apa?" Chanyeol menyalakan mesin mobilnya lalu menekankan kakinya ke pedal gas dengan perlahan untuk kemudian membawa mobil kesayangannya itu keluar dari halaman rumah Baekhyun.
"Mengganti bajumu, tentu saja"
"Tidak perlu. Itu hanya akan membuang waktu"
Baekhyun hanya mengangguk kecil. Ya, Chanyeol benar, itu hanya akan membuang waktu karena jarak Gangnam-gu ke Yongsan-gu tentu saja 'lumayan'.
"Aku masih penasaran. Apa yang kau bicarakan dengan mereka, huh?" Mata Baekhyun memicing sedemikian rupa pada Chanyeol namun pria tampan itu hanya terkekeh atas pertanyaan Baekhyun yang rasanya tidak mengandung unsur humor. "Jangan tertawa, aish!" Karena kesal, ia pun mencubit gemas pinggang Chanyeol hingga pria itu mengaduh kesakitan.
"Tidak ada apa-apa, sayang. Hanya sebuah obrolan sesama pria"
"Kau pikir aku wanita?"
"Setidaknya kau cantik lebih dari mereka yang disebut wanita"
Biasanya Baekhyun selalu marah ketika ada orang yang menyebutnya cantik karena tentu saja ia tampan. Tapi entah kenapa jantungnya justru bergetar tak karuan saat Chanyeol yang memanggilnya cantik.
"Penipu" gumam Baekhyun dengan wajah merah padam.
Keadaan hening setelah terakhir kali Baekhyun bergumam. Tidak ada satupun dari mereka yang ingin membuka sebuah obrolan baru hingga sampai mereka berada di rumah sakit tempat Jongin dirawat.
"Oh ya, kau harus tahu sesuatu" Chanyeol berujar dengan kaki yang terus melangkah di samping Baekhyun, berjalan di lorong rumah sakit. Ia berusaha menyesuaikan ukuran langkah Baekhyun supaya Baekhyun tak kewalahan mengikuti langkah lebarnya.
"Apa?"
"Oh Sehun itu sepupuku. Aku hanya tidak ingin kau shock atau menuduhku macam-macam jika kau tahu dari orang lain lebih dulu"
Dan benar saja, Baekhyun shock. Rahangnya jatuh dengan tatapan tak percaya yang tertuju pada Chanyeol. Ingin berteriak saking terkejutnya tapi tidak bisa. Sebenarnya berapa banyak rahasia tentang Oh Sehun? Dimulai dari anak itu yang adalah mantan kekasih Jongin, lalu sekarang ternyata bocah menyebalkan itu adalah sepupu dari Chanyeol. Apa dunia sedang mempermainkannya?
"Jangan terlalu kaget, okay?" Tangan Chanyeol beralih merangkul bahu mungil di sebelahnya untuk lebih mendekat ke tubuhnya bersamaan dengan mereka yang memasuki lift.
"Apa lagi yang tidak aku tahu darimu?" Tanya Baekhyun dengan tatapan kosong. Entah kenapa ia merasa gagal menjadi kekasih yang baik untuk Chanyeol.
"Entah. Kau bisa menanyakan apapun padaku"
Dan pintu lift terbuka. Mereka berjalan bersamaan menuju kamar rawat Jongin. Saat membuka pintu, Baekhyun hampir saja pingsan saat melihat Jongin tengah melalukan perang bibir bersama seorang pria yang ia yakini adalah Oh Sehun dari bagaimana kurusnya tubuh itu.
Kedua pasangan itu langsung menghentikan acara mereka saat mendengar pintu terbuka dan Sehun langsung menatap kedua orang yang berdiri di ambang pintu dengan canggung, apalagi saat melihat Baekhyun ada disana. Lain lagi dengan Jongin yang kelihatan santai-santai saja seolah apa yang baru saja ia lakukan dengan Sehun adalah sebuah 'tontonan' biasa.
"Dasar pasangan mesum" desis Chanyeol. Ia masuk kedalam dan menarik tangan Baekhyun yang masih terpaku untuk mengikutinya.
"Kalian... pacaran lagi?" Tanya Baekhyun setelah kesadarannya kembali.
Tak ada yang menjawab. Jongin jadi pura-pura tuli dan Sehun sibuk melarikan bola matanya dari tatapan tajam Baekhyun. "Oh astaga! Oh Sehun, aku masih ingat saat kau mengatai Jongin hitam dan jelek asal kau tahu, bocah"
Sehun memejamkan matanya seraya mengambil nafas dalam-dalam. Mengorek sisa kesabarannya. Ia malu bukan main. Duh, kenapa calon kakak iparnya itu bermulut besar sekali sih? Jongin pasti marah mendengarnya. Dan benar saja, saat mata Sehun bertemu dengan mata Jongin, ia dapat melihat kilatan kesal dari sana membuat Sehun bingung sendiri harus bagaimana.
"Kau terlalu jujur, Baekhyunee" bisik Chanyeol di telinga Baekhyun menuai getaran aneh di sekitar sana dan itu sukses membuat Baekhyun bergidik karena sensasi geli akibat getaran itu.
"Kai, bukankah kau akan menjalani terapi berjalan?" Baekhyun mengalihkan perhatian semuanya. Jarang-jarang juga dia memanggil adik bandel nya itu dengan nama panggilan 'Kai' yang entah Jongin dapat dari mana.
"Eoh, tentu saja. Aku ingin melakukannya di taman"
"Hah?"
.
.
.
Chanyeol dan Baekhyun menghabiskan waktu mereka di taman rumah sakit untuk menemani Jongin latihan berjalan pasca cidera nya. Pada kenyatannya, mereka hanyalah jadi penonton akan relationship yang terjadi antara Jongin dan Sehun. Sehun lah yang membantu Jongin berjalan selama beberapa waktu terakhir semenjak mereka sampai disini dan Baekhyun merasa ia sudah tak perlu turun tangan lagi karena ada Sehun disana.
Jika boleh jujur ia juga merasa belum percaya sama sekali akan hubungan Sehun dan Jongin yang kelihatan jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia hanya tak menyangka jika Sehun yang kelihatan sangat membenci mantan kekasihnya itu pada akhirnya berbaikan atau bahkan mungkin berbalikan? Ah entahlah, itu urusan keduanya.
"Apa kita pergi saja dari sini? Mereka kelihatan sibuk sendiri" Baekhyun mendengus menatap pasangan aneh itu. Punggungnya menempel sempurna pada sandaran kursi besi yang ada ditaman, dan disebelahnya tepat ada Chanyeol yang merangkulnya tanpa tahu malu dan tanpa tahu tempat.
"Coffe shop?" Tawar Chanyeol.
"Ide yang bagus. Ayo kita pergi kesana"
Setelah mencapai kesepakatan bersama, keduanya pun mengatakan pada Jongin dan Sehun bahwa mereka pulang duluan dan nyatanya kedua pria dengan persamaan tinggi badan itu mengiyakan tanpa banyak kata.
Mereka pergi ke salah satu coffee shop di daerah Apgujeong-dong dengan alasan dekat dengan Cheondam-dong, tempat tinggal Baekhyun.
"Apakah nilai bahasa Jerman mu membaik?" Tanya Baekhyun memecah keheningan. Ia hanya tiba-tiba teringat saja dengan hal itu.
"Begitulah. Bagaimana tidak membaik saat seorang siswa kesayangan guru Cho menyerahkan resume peningkatan belajarku pada guru Cho untuk mendapat perbaikan nilai"
Ya, Baekhyun melakukan itu. Pelajaran terakhir Chanyeol dengannya adalah ketika pria itu berada di perpustakaan waktu itu, dengan Dasom yang menghancurkan acara belajar mereka. Tapi Baekhyun tentu saja tidak sejahat itu, ia membuat sedikit kebohongan pada guru Cho dan menyerahkan resume tentang Chanyeol. Untung saja guru Cho tidak menaruh curiga padanya. Secara kan Baekhyun itu adalah murid kesayangan guru Cho yang bahkan sempat di tawari bersekolah ke Jerman. Mengesankan.
"Aku masih penasaran, bagaimana kau bisa putus dengan Dasom?" Baekhyun sebenarnya ragu, tapi ia sungguh ingin tahu. Memang menyakitkan saat membahas tentang mantan kekasih Chanyeol. Apalagi jika mengingat bahwa ia pernah memergoki Chanyeol bercumbu dengan Dasom di toilet sekolah.
"Begitu saja."
"Bagaimana bisa?" Baekhyun terus bertanya karena ia sangat tidak puas dengan jawaban simple Chanyeol barusan.
"Aku bilang hubungan kita berakhir. Itu saja"
"Aku yakin dia tak menerima begitu saja, 'kan?"
"Berhenti menyakiti dirimu sendiri" Chanyeol menarik tangan Baekhyun yang berada di atas meja lalu membawanya dalam sebuah genggaman yang hangat dan posesif, "aku tak pernah mencintainya, Baek. Saat itu aku hanya terlalu pengecut untuk berani melindungimu. Maka aku pikir dengan mengalihkan perasaanku dengan cara berpacaran dengan orang lain mungkin aku bisa melupakanmu."
Baekhyun sontak merengut tidak suka mendengar ucapan Chanyeol, "jadi kau berniat melupakanku?"
"Itu dulu. Dan tentu saja kau tahu aku gagal melakukannya. Daya tarikmu terlalu kuat seperti gaya gravitasi bumi. Seberapa kuatpun aku berusaha menjauh, maka kau akan lebih kuat menarikku untuk jatuh dan semakin jatuh lagi" ujar Chanyeol dengan suara low bass nya yang entah bagaimana bisa terdengar begitu lembut di telinga Baekhyun.
"Kau berbual" desis Baekhyun dengan wajah merah sempurna.
"Aku tidak. Kau saja yang selalu merona" goda Chanyeol yang sukses membuat Baekhyun menenggelamkan wajahnya di meja saking malunya. Sedangkan Chanyeol terkekeh penuh kemenangan. Melihat wajah cantik Baekhyun yang merona karenanya adalah sebuah anugerah bagi Chanyeol. Dan ia bodoh jika ia meninggalkan makhluk Tuhan yang sangat indah ini.
Setelah menghabiskan coffee nya dalam suasana yang awkard karena percakapan tadi, Chanyeol segera mengantar Baekhyun ke kediamannya. Dan tentu saja lagi-lagi Chanyeol ditahan oleh ketiga kakak Baekhyun agar tak langsung pulang. Untung apa mereka menahannya? Chanyeol juga tidak tahu.
"Baek, masuklah ke kamarmu. Jangan lupa cuci kaki - gosok gigi sebelum tidur" ceramah Changmin yang hanya di angguki oleh Baekhyun. Sebenarnya ia tak tega meninggalkan Chanyeol bersama ketiga kakaknya yang jahil itu tapi mau bagaimana lagi, toh mereka tetap akan melakukan segala hal sesuka mereka. Ia hanya berdoa semoga saja Chanyeol tahan dengan sikap ketiga kakaknya itu. Ia hanya takut jika tiba-tiba Chanyeol datang padanya dan minta putus gara-gara tidak kuat dengan segala kelakuan kakaknya. Uh! Itu tidak boleh terjadi! Jika itu terjadi, mungkin saja ia akan mati gantung diri.
Sepeninggalan Baekhyun, Chanyeol dan ketiga kakak Baekhyun langsung menuju ke tempat gym yang ada di rumah itu.
"Kau suka berolahraga kan? Tubuhmu yang kelihatan berotot ini menjawab segalanya" Minho datang dari arah belakang Chanyeol begitu mereka sampai di ruang gym. Lalu tanpa aba-aba Minho langsung memukul perut Chanyeol dengan sebenar-benarnya membuat Chanyeol agak terdorong ke belakang dengan badan membungkuk seraya memegangi perutnya. Rasanya sangat mual seolah ia ingin memuntahkan coffee yang ia minum bersama Baekhyun tadi. Sedangkan Minho bukannya merasa bersalah atau meminta maaf malah tertawa seolah yang barusan ia lakukan hanyalah sebuah gurauan teman. Pukulannya barusan bukan main sakitnya. Minho melakukannya dengan sungguhan, bukan sekedar main-main. Sialan! Kalau bukan kakaknya Baekhyun, sudah ia hajar sampai masuk rumah sakit Choi Minho itu. Bahkan sampai masuk liang lahat juga bisa.
Changmin dan Donghae pun kelihatan acuh tak acuh saja seakan mereka sudah tahu hal itu akan terjadi. Keduanya malah berdiri di sebelah treadmill dan memanggil Chanyeol untuk mendekat. Maka dengan perutnya yang masih terasa nyut-nyutan ia berjalan menghampiri Changmin dan Donghae.
"Naik ke atas treadmill" titah Donghae.
"Ye?" Chanyeol tercengang, bingung dan sebagainya. Namun pada akhirnya ia tetap naik ke atas treadmill.
"Bersiaplah" ujar Changmin yang mulai menyalakan treadmill dimulai dari yang terendah hingga Chanyeol harus menggerakan kaki-kakinya untuk menyesuaikan dengan treadmill. Lalu tanpa diduga Changmin terus menaikkan kecepatan pada treadmill hingga Chanyeol rasanya sedang lari dikejar anjing gila saat ini. Ditengah rasa lelah Chanyeol yang terus berlari cepat di treadmill, Changmin, Donghae maupun Minho justru malah tertawa seolah apa yang tengah mereka saksikan adalah sebuah hiburan yang mengesankan.
'Sialan! Mereka mengerjaiku' batin Chanyeol yang sudah sangat lelah setelah 10 menit berlalu dan ia masih berlari seperti orang gila di atas treadmill. Namun dalam hatinya ia selalu meyakinkan bahwa apa yang ia lakukan saat ini adalah demi mendapatkan Baekhyun. Demi mendapat restu yang sebenarnya dari ketiga kakak Baekhyun yang selalu mengujinya dengan berbagai cara.
Untung saja Changmin masih punya rasa kasihan sehingga dia mulai memelankan kecepatan treadmill dan lama-lama treadmill itu pun berhenti bergerak hingga Chanyeol bisa bernafas sejenak. Namun tak sampai disitu mereka mengerjainya, Donghae tiba-tiba memanggil Chanyeol ke sisi lain ruangan gym tersebut hingga Chanyeol di hadapkan pada barbel dimulai dari yang kecil hingga yang besar.
"Jika tiba-tiba Baekhyun pingsan atau kakinya sakit atau dia merasa lelah, pastinya kau harus menggendongnya kan?" Tanya Donghae dengan nada menyebalkan membuat Chanyeol mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini. Astaga! Apa dia sanggup? Dia kan bukan atlet angkat besi, heol~!
"Baekhyun itu memiliki berat 58 kg. Jadi setidaknya kau harus bisa mengangkat besi dengan berat 60 kg"
Chanyeol meneguk ludahnya sendiri. Keringat sehabis berlari kesetanan di treadmill bahkan belum hilang, dan sekarang apa? Ia harus mengangkat besi 60 kg? Yang benar saja! Bahkan jika ia berolahraga di gym pun paling rutinitasnya mengangkat besi 5kg berulang kali untung melatih otot lengannya. Apa ketiga kakak Baekhyun ini berniat membunuhnya? Sialan! Kenapa juga mereka harus berpura-pura baik padanya didepan Baekhyun? Bermuka dua sekali.
"Bagaimana? Apa kau sanggup?" Tanya Changmin dengan sebelah alis yang terangkat.
"Atau kau mau menyerah saja?" Sambung Minho yang membuat Chanyeol langsung menggeleng kuat. Jika ia menyerah, itu artinya ia juga menyerah untuk melindungi Baekhyun. Dan itu tak akan terjadi! Apapun yang ketiga kakak Baekhyun lakukan padanya, ia tak boleh menyerah. Baekhyun adalah segalanya. Bahkan jika ia harus menyerahkan jantungnya, maka akan ia lakukan tanpa perlu pikir panjang.
"Aku sanggup" jawab Chanyeol mantap seraya menarik nafas dalam menuai senyuman puas dari ketiga pria yang lebih tua.
Kedua tangan Chanyeol terulur kebawah untuk mengambil batang barbel 60 kg di hadapannya. Ia memegang barbel itu dengan kuat lalu perlahan-lahan mulai mengangkatnya dengan sekuat tenaga. Setelah sepertiga ia berhasil mengangkatnya, ia kembali menjatuhkannya ke lantai dengan wajah merah.
"Sampai situ saja kekuatanmu, huh?"
"Tck, sungguh lemah"
"Bagaimana bisa kau menggendong Baekhyun disaat dia membutuhkan jika kau selemah ini"
Telinga Chanyeol terbakar mendengar ucapan mereka. Lantas dengan keteguhan hatinya Chanyeol mengambil kembali barbel itu dan ia lagi-lagi berhasil mengangkatnya sampai betis.
'Byun Baekhyun'
Sampai lutut.
'Hanya kau'
Sampai paha.
'Aku akan lakukan apapun'
Sampai perut.
'Untuk mempertahankanmu'
Sampai dada.
'Tak ada yang tak akan aku lakukan'
Dan akhirnya sampai di atas.
'Untuk bersamamu!' Teriak Chanyeol dalam hatinya seolah ia tengah berteriak bahwa Korea Selatan merdeka.
Dengan sekali hentak, Chanyeol menjatuhkan barbel seberat 60 kg itu ke lantai dengan nafas memburu. Ia sudah berhasil mengalahkan dirinya sendiri demi bersama Baekhyun ㅡkekasih hatinya, cintanya, belahan jiwanya, segalanya baginya.
"Wow. Kekuatan cinta" ujar Minho asal. Ia bertepuk tangan sendiri namun ekspresi wajahnya datar.
"Cukup mengesankan" komentar Donghae dengan kepala yang mengangguk-angguk.
"Kalau begitu kau boleh pulang" Changmin berujar santai.
"Ye?" Chanyeol bertanya dengan wajah penuh keringat, dengan penuh ketidakpercayaan juga.
"Kau tidak dengar? Kau boleh pulang" ulang Changmin dengan nada sedikit kesal.
"Ah.. ya, terimakasih hyung" Chanyeol mengangguk lalu membungkuk singkat pada ketiganya sebelum ia berlalu untuk pergi.
"Sialan. Mereka benar-benar menjajahku" dumel Chanyeol setelah ia berada di dalam mobil, menghidupkan mesinnya lalu mengemudikannya menuju ke rumahnya.
Hari yang melelahkan.
.
.
.
LINE~
Fokus mata Baekhyun yang berawal dari soal Fisika yang sedang di garapnya kini teralih pada ponsel yang sedari tadi ia abaikan di atas nakas. Akhirnya dengan sedikit malas ia mengambil ponselnya dan membuka chat di Line dari akun bernama cyp_parkcy.
cyp_parkcy : Baek?
bekyonbyun : ya?
cyp_parkcy : video call ya?
bekyonbyun : terserah kau saja
Baekhyun tersenyum sambil mengetik pesan tersebut. Chanyeol benar-benar bukan seperti Park preman yang selalu berkelahi di sekolah. Rasanya dia berbeda.
Tak lama kemudian Chanyeol benar-benar melakukan video call padanya dan tanpa harus dipikir dua kali Baekhyun segera menerima panggilan video tersebut.
"Hai pacar" sapa Chanyeol begitu layar ponsel Baekhyun menampilkan wajah Chanyeol yang penuh senyum. Dia terlihat tampan, sangat tampan. Tapi, rasanya ada yang aneh dengan penampilan Chanyeol.
"Sejak kapan rambutmu berwarna dark grey?" Tanya Baekhyun setelah menemukan dimana letak keanehan Chanyeol. Tetap tampan sih, hanya saja dia tak biasa melihat warna rambut Chanyeol yang biasanya hitam legam menjadi warna seperti itu.
"Sejak aku pulang dari rumahmu" jawab Chanyeol (sok polos).
"Apa yang tadi kakakku lakukan padamu?" Tanya Baekhyun dengan raut wajah khawatir. Ia hanya takut jika ketiga kakaknya mengerjai Chanyeol atau menahan-nahannya disini tadi. Karena ia tahu dibalik senyuman ketiganya mereka itu menyembunyikan misteri.
"Tidak apa-apa. Hanya mengobrol biasa" Chanyeol begitu pandai menyembunyikan kebohongannya. Sampai-sampai Baekhyun pun tak dapat melihat kebohongan itu di mata kekasihnya. "Apa aku mengganggu?"
Baekhyun tersenyum lalu disusul gelengan kepalanya yang terlihat sangat kyeopta, "tidak. Kau tidak mengganggu"
"Kau mau kapan memulai berlatih berenang denganku?"
Memasang pose berpikir adalah yang pertama dilakukan oleh Baekhyun saat Chanyeol bertanya mengenai itu. Ia sedang menghitung waktunya dalam kepala sebelum hari praktek itu tiba.
"Secepatnya. Besok kau bisa?"
"Kapanpun kau mau, baby."
Baekhyun malah sibuk ber-blushing ria saat mendengar panggilan Chanyeol untuknya yang lagi-lagi terdengar sangat manis.
KLEK
Tiba-tiba saja Changmin masuk kedalam kamar Baekhyun membuat perhatian lelaki manis itu teralih pada sang kakak tertua. Ia menatap Changmin dengan mata berkedip-kedip polos, masih memegang ponselnya didepan wajah.
"Baek? Kenapa?" Tanya Chanyeol di seberang sana namun Baekhyun tak mendengarnya dan hanya terfokus pada Changmin yang semakin berjalan mendekat.
"Sedang apa, Bee?" Tanya Changmin yang ikut mengintip layar ponsel Baekhyun dan ia langsung mendumel dalam hatinya kala melihat wajah Chanyeol yang terpampang dilayar ponsel Baekhyun.
'Si kunyuk ini'
Dengan seenaknya Changmin pun merebut ponsel Baekhyun, menjadikannya kini berhadapan dengan Chanyeol lewat layar ponsel Baekhyun.
"Kakak!" Pekik Baekhyun tak terima dan berusaha merebut kembali ponselnya namun Changmin tidak mau kalah dan mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi.
"YA! Tuan Park, Baekhyun dan kau juga harus belajar untuk nilai sekolah kalian. Jadi jangan mengganggu Baekhyun, arachi? Dan kau sebaiknya pergi belajar tuan Park" ujar Changmin dengan mata melotot horor pada Chanyeol.
Chanyeol juga dapat mendengar teriakan-teriakan Baekhyun di sebelah Changmin seperti,
"Kakak kembalikan ponselku!"
"Kak Changmin! Chanyeol tidak mengganggu! Kami sedang membicarakan sesuatu!"
"Kakak! Aku ada perlu pada Chanyeol."
"Aku tutup tuan Park. Selamat malam~" ujar Changmin dengan senyum manis yang terlihat seperti boneka hantu dimata Chanyeol dan sambungan video call pun terputus.
"KAKAK!" teriakan Baekhyun menggelegar di seluruh penjuru rumah. Bahkan lantai yang mereka pijak pun terasa bergetar karena gelombang suara ultrasonik yang dikeluarkan Baekhyun.
Baiklah, mungkin itu terlalu berlebihan.
"Baek, kau harus belajar. Sebentar lagi kau ujian, mengerti? Hal-hal seperti tadi itu hanya mengganggu, Bee sayang" ceramahan Changmin tak Baekhyun hiraukan. Ia justru malah merengut dan bersedekap dada di hadapan kakak tertuanya itu. Tampan sih, tapi menyebalkan!
"Tapi kak, aku sedang membicarakan masalah sekolah dengan Chanyeol" Baekhyun mendesah kesal. Suaranya terdengar menggeram dan ada sedikit kemarahan didalamnya.
"Heol~ kakak bahkan tahu bahwa kalian tidak berada dalam satu tingkat yang sama"
"Itu tidak membatasi masalah sekolah kak! Ih kakak menyebalkan sekali"
"Jadilah anak baik dan matikan ponselmu" Changmin kemudian menonaktifkan ponsel Baekhyun tanpa persetujuan pemiliknya lalu mencopot baterai ponsel Baekhyun membuat empunya ponsel menganga tak percaya.
"Kakak!" Protesnya.
"Kau bisa mengambilnya saat sarapan besok. Dan ah! Kau berangkat bersama kakak besok, arasseo?"
Baekhyun menghela nafas, merasa kalah. "Arasseo" gumamnya tak semangat dan mendapat tepukan lembut di pucuk kepalanya dari Changmin.
"Anak baik. Selamat belajar" Changmin tersenyum manis, beranjak keluar dari kamar Baekhyun dan melambai sejenak sebelum menutup pintu kamar bercat putih itu.
"AH! Kak Changmin menyebalkan!" Dumel Baekhyun sambil mengaruk pipinya kesal.
.
.
.
Chanyeol mengedip-ngedipkan matanya yang menatap pada layar ponselnya yang sudah kembali ke menu utama. Ia sedang mencerna kejadian barusan dan akhirnya ia sadar bahwa calon kakak iparnya ㅡread : Changminㅡ baru saja memutuskan sambungan video call nya dengan Baekhyun tanpa persetujuannya. Heol, memangnya Changmin mau mendengar persetujuannya?
"Sialan" lagi-lagi ia hanya bisa mengumpat sendirian dengan wajah kesal, melempar ponselnya ke sofa tanpa menghiraukan benturan yang terjadi pada ponselnya.
Tok Tok Tok
"Masuk!" Teriak Chanyeol malas dengan posisi masih terlentang di atas ranjang king size nya.
Klek
"Tuan muda, ada teman-teman anda dibawah" ujar seorang pria beruban dengan sopan dan sedikit membungkukkan badannya pada Chanyeol.
Dengan ogah-ogahan ia pun bangkit dari ranjangnya lalu berjalan keluar kamar dengan malas, menuruni tangga dan akhirnya mendapati sekumpulan lelaki yang tengah tertawa lepas di ruang tamu tanpa tahu malu.
"Ya! Sialan" panggil Chanyeol dengan wajah super datar menarik perhatian sekumpulan makhluk tampan itu padanya. Mood nya hancur saat ini dan tak dapat dikembalikan. Meskipun dengan kehadiran teman-temannya.
"Yo! Bung! Ayo pergi keluar" Kyungsoo mengangkat alisnya dengan senyum tipis.
"Aku malas" Chanyeol berjalan mendekat dan menjatuhkan dirinya begitu saja di sebelah Jonghun dengan badan merosot serta kepala yang bersandar pada sofa.
"Hei, malam ini ada balapan bos" Zico menepuk paha Chanyeol untuk mengembalikan adrenalin Chanyeol yang meredup namun pria yang bersangkutan tetap pada mood awal ; buruk.
"Malas" Chanyeol bergumam dengan suara parau.
"Hyung. Kelompok Kevin Wu yang menantang" Zitao berbisik misterius, terlihat sangat serius dan begitu ingin Chanyeol menanggapi. Dan ternyata benar saja, Chanyeol langsung menanggapinya.
"Kevin Wu?"
"Hn. Dia ingin balapan dengan salah satu diantara kita"
"Apa tujuannya?"
"Kurang tahu, sepertinya dia ingin menunjukkan taringnya" desis Zitao dengan nada tidak suka yang begitu kentara.
"Kita pergi sekarang"
Chanyeol beranjak cepat, naik kembali ke kamarnya, mengganti baju, dan kembali ke hadapan teman-temannya dengan penampilan bar-barnya lengkap membawa kunci motor sport kesayangannya.
"Tck. Kunyuk ini. Mau kemana lagi kau, hah?"
Chanyeol otomatis memutar bola matanya ketika berpapasan dengan sang kakak di beranda depan.
"Ada urusan" Chanyeol melewati kakaknya begitu saja membuat Yoora geram dan lantas berteriak nyaring.
"AWAS JIKA KAU PULANG DENGAN MUKA LEBAM! AKAN KUBUNUH KAU!"
Chanyeol melambaikan tangannya, tak peduli. Lalu mengendarai motornya dengan kecepatan penuh menuju tempat ia biasa mengikuti balapan liar.
.
.
.
Ini sudah nada tunggu ke-6 jika Baekhyun tidak salah hitung. Ia mencoba menelpon Chanyeol dengan telepon rumahnya namun Chanyeol tak menjawabnya membuat Baekhyun resah dan rasanya ingin menangis.
"Yeol, angkat" gumam Baekhyun sambil menggigit bibir bawahnya gemas. Kakinya ia hentak-hentakkan ke lantai dengan gelisah.
"Chanyeol pasti marah padaku" mata Baekhyun berkaca-kaca. Ia menaruh kembali gagang telepon rumah setelah nada tunggu yang ke-7 dan Chanyeol kembali mengabaikannya.
"Doryeonim? Anda butuh sesuatu?" Baekhyun buru-buru menghapus air matanya sebelum ia berbalik menghadap bibi Jung, juru masak di rumah ini.
"Tidak, bi. Aku hanya cari udara segar" Baekhyun berusaha tersenyum lebar seperti biasanya namun orang tua paruh baya itu tahu bahwa Baekhyun menyembunyikan sesuatu. Matanya yang merah serta berkilauan pun mengatakannya dengan gamblang. Namun ia tak ingin ikut campur urusan tuan mudanya dan lebih memilih undur diri.
.
.
.
"Biar aku saja hyung" Gongchan menepuk pundak ketua nya dengan wajah serius lalu berjalan kedepan dan menaiki motor sport nya, memakai helm dan menghidupkan mesin motornya sambil sesekali sengaja menarik gas nya kencang hingga menimbulkan suara bising yang sangat khas di arena balapan.
Gongchan dan seseorang dari tim Kevin Wu bersiap-siap di belakang garis start dan begitu bendera balapan di kibarkan keduanya langsung melesat seperti angin di jalanan kosong itu meninggalkan sorakan ramai dari orang-orang yang menonton balapan malam ini.
Chanyeol terdiam, duduk bersandar di motor kesayangannya dengan kedua tangan yang masuk kedalam saku celana jeans yang ia kenakan.
"Siapa pria itu?" Tanya Chanyeol entah pada siapa, matanya tertuju pada sesosok lelaki berwajah asing dengan rambut pirangnya yang kelihatan mencolok. Yang lain ikut menoleh pada arah yang Chanyeol perhatikan.
"Dia Kris Wu. Kerabat Kevin Wu. Dia baru saja datang dari Kanada" Zitao mengambil alih.
"Kau sepertinya tahu banyak" tukas Chanyeol dengan nada yang entah kenapa terdengar seperti menyindir.
"Tidak juga. Hanya ada angin lewat yang mengatakannya" Zitao terkekeh garing akan ucapannya sendiri.
"Yeol, boleh pinjam ponselmu?" Pinta Kyungsoo dengan mata bulat yang menatap datar Chanyeol. Seperti tidak niat, namun harus. Bagaimana ya.
Chanyeol merogoh saku jaket dan saku celana jeans yang ia kenakan namun tak menemukan apa yang ia cari disana, ia lalu menggedikan bahunya santai, "aku lupa tidak membawanya"
"Dasar bodoh" umpat Kyungsoo sambil memukul kepala Chanyeol dengan sadis membuat si ketua menatap tajam Kyungsoo namun Kyungsoo tak takut sedikitpun dalam malah mendengus geli.
Pikiran Chanyeol seketika mengelana jauh. Ia memikirkan Baekhyun, tentu saja. Ia hanya sedang berpikir, akankah ia dan Baekhyun berakhir bahagia? Jangankan berpikir kesana, memikirkan cara untuk menggenggam Baekhyun pun sangat sulit. Baekhyun memang tak masalah dengannya. Anak itu bahkan kelihatan sangat manis seperti puppy saat bersamanya, namun bagaimana dengan ketiga kakak Baekhyun yang overprotective nya luar biasa itu? Ia nyaris saja menyerah, namun ia ingat bahwa disetiap keinginan pastilah butuh sebuah pengorbanan.
Balapan malam itu dimenangkan oleh kubu Chanyeol. Semuanya berjalan lancar meski tadi antek-anteknya Kevin Wu sempat memancing emosi si ketua kingka itu namun tak sampai terjadi perkelahian. Setelah semuanya selesai, Chanyeol pulang ke rumahnya pukul 11 malam.
Chanyeol menyempatkan diri mengecek ponselnya dan ada tujuh panggilan tak terjawab dari sebuah nomor telepon rumah. Kira-kira siapa yang meneleponnya? Apakah itu ayahnya yang menelepon dengan nomor kantor? Tapi rasanya tidak mungkin, ia juga menyimpan nomor kantor ayahnya. Atau itu nomor kantor yang lain? Ah, entahlah.
Tak mau ambil pusing, ia pun memutuskan untuk memprioritaskan Baekhyun saat ini. Ia mencoba menghubungi nomor Baekhyun namun hasilnya nihil, nomor kekasih mungilnya yang manis itu tidak aktif.
"Baek, kemana kau pergi? Apa kau sudah tidur?" Gumam Chanyeol resah. Ia sadar bahwa tangan besarnya meremas ponsel dalam genggamannya begitu keras namun ia tak peduli. Bahkan jika ponsel itu remuk sekalipun ia tak peduli. Yang ia pikirkan saat ini adalah, akankah hubungannya dengan Baekhyun berjalan lancar? Atau justru akan kandas ditengah jalan? Padahal ini belum genap 2 minggu sama sekali.
'Begitu sulit untuk mendapatkanmu, Baek. Dan lebih sulit lagi untuk mempertahankanmu'
.
.
.
Pagi ini Baekhyun bangun lebih pagi. Jika biasanya ia bangun sekitar setengah 6, maka pagi ini dia bangun pukul 5. Setelah mandi, berganti baju dan membereskan bukunya, ia segera turun ke bawah untuk sarapan padahal di meja makan masih sepi. Changmin, Donghae maupun Minho tak ada disana, mereka pasti masih bersiap-siap. Changmin bersiap ke kantor papa mereka, Donghae ke SNU, dan Minho kuliah.
"Tumben pagi sekali sudah disini, tuan muda. Biasanya anda yang paling terakhir" bibi Jung terkekeh sambil menuangkan susu segar pada gelas Baekhyun.
"Aku sedang bersemangat, bi" Baekhyun tersenyum lebar. Tentu saja ia bersemangat. Semangat untuk mendapatkan baterai ponselnya kembali.
Lalu tiba-tiba ia teringat akan telepon rumahnya kembali. Tanpa membuang waktu ㅡmumpung ketiga kakaknya belum datangㅡ maka Baekhyun pun mencoba kembali menelepon Chanyeol lewat telepon rumah yang berada di dekat ruang makan, telepon rumah yang sama seperti yang kemarin ia gunakan. Namun lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan setelah tiga kali mencoba dan Chanyeol tak kunjung menjawabnya.
"Yeolie pasti marah" gumam Baekhyun. Ia lalu kembali lagi duduk di ruang makan dengan lesu. Kedua tangannya ia lipat di atas meja makan dan kepalanya ia tenggelamkan disana.
Tak berselang lama setelahnya, Baekhyun mendengar ketukan langkah kaki teratur di belakangnya, itu pasti Changmin. Lalu disusul suara langkah kaki yang bertempo sedikit cepat, yang itu pasti Donghae. Dan terakhir ada suara langkah kaki ribut, itu pastilah Minho.
"Pagi sayangku" Changmin mengusakkan hidungnya pada helaian rambut Baekhyun sambil mengecupnya ringan.
"Selamat pagi, Bee" disusul Donghae yang mengecup daun telinganya yang masih nampak diatas lipatan tangannya.
"Good morning everybody! Good morning my brothers!"
Sok inggris, pikir Baekhyun yang mulai mengangkat kepalanya dari lipatan tangannya dan langsung mendapat kecupan manis di pipinya dari Minho serta jawilan di hidung dari orang yang sama.
"Kakak! Mana baterai ponselku?" Baekhyun mengulurkan tangannya yang terbuka dengan wajah sok sinis. Changmin sendiri justru malah memasang muka menjengkelkan yang membuat Baekhyun mengelus dada untuk tak mencekik kakaknya yang tampan itu. Lihatlah bahkan sekarang Changmin seperti orang yang pura-pura mencari.
"Duh! Kakak lupa menyimpannya dimana, Baek" ujarnya sambil meraba-raba saku jas yang ia kenakan.
"Kakak! Ini tidak lucu!" Baekhyun melipat keningnya kesal, kedua alisnya menukik tajam dengan bibir yang sedikit mengerucut, menggemaskan.
Changmin pun lantas tertawa melihat wajah kesal Baekhyun. Adiknya memang selalu menggemaskan, sampai kapanpun akan terus begitu. Dan ia rasanya sedikit tidak rela saat dihadapkan dengan kenyataan bahwa Baekhyun sudah memiliki kekasih yang bisa menjaganya yang itu artinya Baekhyun-nya sudah tumbuh menjadi remaja lelaki beranjak dewasa. Rasanya baru kemarin ia masih menuntun tangan mungil adiknya itu saat pulang sekolah. Rasanya baru kemarin saat ia masih suka berkelahi dengan siapa saja yang mengganggu Baekhyun. Tapi sekarang mereka sudah sama-sama dewasa. Kadang ia merindukan masa-masa kecil mereka yang dipenuhi tawa. Dimana semuanya selalu memperlakukan Baekhyun dengan penuh perhatian, termasuk Jongin. Ia merindukan sosok Jongin yang dulu. Ia tak ingin menjadi dewasa, dewasa ternyata tidak enak. Ia ingin terus hidup bersama saudara-saudaranya. Sampai kapanpun, tapi ia tahu ia tak akan bisa.
"Kak? Aish, jangan melamun! Kasihkan baterai ponselku. Kakak sudah berjanji kemarin" Baekhyun mulai merengek jengkel saat melihat kakak sulungnya yang malah melamun tidak jelas itu.
"Arasseo, arasseo. Kau bawel sekali sih" Changmin masih saja sempat-sempatnya menjawil hidung mancung Baekhyun sebelum ia mengeluarkan baterai ponsel Baekhyun dari saku jas nya membuahkan sebuah senyum lebar yang secerah matahari pagi ini di wajah Baekhyun.
"Senang sekali" cibir Minho dengan sumpit di tangannya yang membawa sebuah cumi kedalam mulutnya. Cumi seafood ya, bukan CUma MIssed call.
"Nomor Chanyeol"
"Hah?" Baekhyun melongok seperti orang bodoh saat Changmin berkata demikian.
"Berapa nomor ponsel Chanyeol"
"Buat apa, kak?"
"Sebutkan saja, sayangku yang bawel"
"Tapi kakak tidak akan macam-macam kan?" Baekhyun memicing curiga dan Changmin menghela nafas lelah. Serba salah jadi dirinya.
"Baek..."
"Arasseo" Baekhyun menyerah dan menyebutkan satu persatu deretan angka yang merupakan nomor Chanyeol dengan lancar pada Changmin tanpa perlawanan lagi.
Yang tak Baekhyun duga adalah saat Changmin justru menelepon kekasih jangkungnya itu dan mengatakan untuk menjemput Baekhyun pagi ini yang pasti tak akan Chanyeol tolak. Punya nyawa berapa memangnya si ketua preman Jungshin itu sampai berani menolak titah sang calon kakak ipar? Mungkin bagi Chanyeol melawan lusinan kutu busuk ㅡread : musuh-musuhnyaㅡ masih jauh lebih baik daripada harus menghadapi ketiga kakak Baekhyun yang menguji kesabarannya luar biasa.
"Kenapa menyuruh Chanyeol menjemputku? Kakak bilang kan kakak yang mengantarku hari ini" protes Baekhyun.
"Kakak tiba-tiba harus ada di kantor pukul 7, sayang. Tidak bisa jika harus memutar arah dulu untuk mengantarmu"
Dan sebagai adik yang baik dan penurut, Baekhyun pun hanya mengangguk dengan sebuah senyuman manis yang terpampang di wajahnya. Tentu saja ia senang, ia akan berangkat ㅡlagiㅡ bersama Chanyeol. Siapa juga yang tidak senang? Seolah mendapat pemandangan indah di pagi hari gitu loh.
Jam menunjukkan pukul 06.43 KST saat Chanyeol sampai di kediaman Baekhyun. Dia dan ketiga kakaknya yang tampan luar biasa sudah berdiri di beranda depan. Bahkan ketiga pria tampan itu berdiri bak model majalah yang sedang melakukan pemotretan rutin. Baekhyun sendiri hanya berdiri di anak tangga terakhir dengan sebuah senyum sumringah.
Lalu saat Chanyeol keluar dari mobilnya langsung saja Baekhyun berhambur ke pelukan yang lebih tinggi sekaligus yang lebih muda. Chanyeol yang awalnya kaget pun dibuat tambah kaget saat merasakan tubuh Baekhyun bergetar. Lantas ia pun balas memeluk tubuh minimalis Baekhyun tanpa mengindahkan tatapan membunuh dari kakak-kakak Baekhyun.
"Baek, kau kenapa sayang?" Suara Chanyeol berbisik lembut di telinga Baekhyun mau tak mau membuat pria mungil berusia delapan belas itu sedikit merasa tenang. Setidaknya ia tahu Chanyeol tidak benar-benar marah padanya saat ini. Ia merasa buruk atas kejadian semalam ditambah lagi Chanyeol yang mengabaikan panggilan teleponnya meski ia akui bahwa mungkin Chanyeol mengabaikannya karena itu nomor telepon rumah yang asing. Tapi seharusnya Chanyeol tahu bahwa itu penting mengingat ia menelpon lebih dari tiga kali dalam kurun waktu yang berbeda. Dadanya sedikit sesak juga saat justru Chanyeol mengangkat telepon dari Changmin tadi padahal kan nomor Changmin juga masuk kategori tidak dikenal.
"Yeolie.. mian" bisik Baekhyun lirih dengan suara yang teramat pelan. Namun dengan jarak sedekat ini Chanyeol masih dapat mendengar bisikan itu.
"Kenapa minta maaf?" Suara Chanyeol masih terdengar lembut dan... merdu?
"Maaf. Maaf. Maaf. Maaf." Baekhyun berulang kali mengucapkan kata maaf pada Chanyeol dengan suara parau dan itu membuat Chanyeol khawatir. Ia tahu kekasih mungilnya ini menangis. Apa masalahnya? Mereka bahkan tak bertengkar tadi malam. Yahh hanya saja keadaan mereka tadi malam kurang baik akibat ke-protektifan kakak Baekhyun.
"Baek, akuㅡ"
"Baekhyun! Lepaskan! YA! Kau jangan cari-cari kesempatan ya"
Perusak suasana.
Itulah yang Chanyeol pikirkan saat Donghae datang dan berusaha memisahkan mereka. Dia mencoba menarik Baekhyun-nya dari pelukan Chanyeol namun Baekhyun seperti anak koala yang memeluk induknya begitu erat hingga Donghae tak dapat melepaskan pelukan itu.
"Baek, sayang. Lepaskan, hm?" Bujuk Chanyeol namun Baekhyun menggeleng keras sambil berujar lantang, "TIDAK MAU!"
"Baby, kita bisa kesiangan. Kau bisa memelukku sepuasnya tapi tidak didepan kakakmu, oke?" Chanyeol berbisik seduktif dan itu berhasil membuat Baekhyun setidaknya luluh sekaligus merona. Maka kesempatan itu digunakan Donghae untuk menarik Baekhyun dari Chanyeol meski ia tidak tahu apa yang baru saja Chanyeol bisikkan pada Baekhyun hingga membuat anak itu menurut.
"Kau mulai nakal ya" Minho menyentil kening Baekhyun gemas dan Baekhyun meringis diikuti oleh death glare nya pada Minho.
"Baekhyun berangkat denganku. Kau boleh pergi duluan"
Tahu rasanya saat wali kelas menyebutkan nama si ranking satu dengan nama mu tapi ternyata dia hanya salah baca? Kira-kira seperti itulah yang Chanyeol rasakan saat ini. Percampuran antara marah, kecewa dan malu.
Marah karena merasa di permainkan. Kecewa karena tak bisa satu mobil dengan Baekhyun. Dan malu? Entahlah, entah karena apa dia malu. Yang jelas ia merasa malu saja.
Baekhyun pun keadaannya tak jauh dengan Chanyeol. Ia menatap kakaknya tajam. Ia kesal, sebal, jengkel dan lain-lainnya. Apa-apaan kak Changmin ini? Ingin mempermainkan Chanyeol maksudnya? Bagus!
"Kakak!ㅡ"
"Masuk ke mobil kakak"
"Tapi kakㅡ"
"Baekhyun" tegur Changmin dengan tatapan mengintimidasi membuat Baekhyun menciut. Sedekat apapun ia dengan Changmin, semanja apapun ia pada Changmin, tetap saja ia akan merasa kecil dan takut saat kakaknya itu marah dan menatapnya tajam. Maka tanpa ada bantahan lebih ekstrem, Baekhyun pun berjalan lesu kedalam mobil Changmin yang sudah terparkir didepan mobil Chanyeol. Ia membuka pintu mobil bagian depan, sebelum masuk ia sempat melirik ke arah Chanyeol yang berdiri menyamping darinya. Kekasih jangkung nan tampannya itu tak melihat ke arahnya. Namun Baekhyun dapat melihat bahwa Chanyeol emosi untuk saat ini. Baekhyun rasanya ingin menangis, namun ia tak bisa. Dan yang bisa Baekhyun lakukan adalah membanting pintu mobil keras-keras saat ia sudah masuk kedalamnya. Ia pun sama marahnya dengan Chanyeol. Ia marah karena kakaknya sudah mempermainkan Chanyeol dengan mengatasnamakan dirinya. Ia marah Chanyeol-nya diperlakukan seperti ini oleh kakaknya. Sudah ia duga bahwa senyuman mereka saat itu pada Chanyeol menyembunyikan banyak makna, tak mungkin kakak-kakaknya luluh begitu saja. Dan Baekhyun kecewa, kecewa karena Chanyeol juga menyembunyikan kenyataannya.
.
.
.
TeBeCe
.
.
.
Maaf kalo makin sini fanfic ini makin mengecewakan kalian T_T
Author juga gatau kenapa mood author belakangan ini bener-bener buruk dan gak ada niatan buat nulis. Huweee semuanya makin buruk pas author kegoda ngerombak ff yang author bilang baru publish beberapa chapter di akun ffn author yang laen juga author malah punya ide buat bikin fanfic baru. Maafkan atas kekhilafan author ini yaaa T_T
Author kurang asupan vitamin dari kalian sih..
ITU TUH KODE! KALIAN PEKA DIKIT NAPA SIH HIKSS T_T
Duh, kok baper sih ya..
Ya pokoknya intinya kalo pengen fanficnya di lanjut kasih review yang banyak atuuhh yaa
Papayy.. berdoa aja semoga author ada ide buat lanjut /ngancem, wkwkwk/ evil laugh/ abaikan.
