Mister Naruto
By : 12 senpai 12
Disclaimer : Saya tidak memiliki apapun dari fict ini
Summary : Dia sudah lelah akan keberadaannya, segala cara telah dia lakukan untuk mendapatkan rasa damai itu. Tapi semuanya gagal, sekarang dia datang membawanya ke dunia baru dan bertemu mereka. Saat itu dia sadar bahwa akhir dari dunia itu adalah akhir darinya, tapi bagaimana dengan mereka?
Warning : AU, OOC, Typo, dan lain – lain, chara death (perhatian tokoh dalam fic ini dapat berubah wataknya seiring dengan kejadian yang dialami tokoh)
Pairing : issei x harem, Naruto x ?
….
Seorang pemuda tengah berjalan masuk ke sebuah karokean sambil bersenandung kecil. Mata pemuda itu melirik kearah para gadis yang tengah tertawa di sudut ruangan. Pemuda itu bersiul saat para gadis itu terkikik dan mengedipkan matanya kearahnya. Pria itu mengenakan jaket berwarna hijau kusam berkerah putih berbulu dan mengenakan kaos putih sebagai dalaman. Pemuda itu merenteng sekotak bir ditangan kanannya. Kemudian memasuki box yang bernomor 079 itu.
Di dalam box itu terdapat dua buah sofa yang dapat menampung dua atau tiga orang dengan meja kecil yang terdapat beberapa kaset dan sebuah microfone diatasnya. Pemuda itu menyalakan lampu di box itu dan memperlihatkan seseorang bertudung tengah menunggunya di sofa samping tv.
"Apa kau sudah lama menunggu spiral – san?" Tanya pemuda itu setelah menaruh birnya di atas meja. Pemuda berambut hijau itu mengambil remote yang ada di atas meja dan mulai memilih lagu. Sosok bertudung itu mengangkat wajahnya dan memperlihatkan sebuah topeng berwarna hitam dengan spiral putih menutupi wajah sampai hidungnya. Jadi pemuda itu masih bisa melihat ekspresi sosok itu melalui bibirnya.
"Apa perlu ditanya lagi?" Pemuda itu terkekeh sambil menggaruk kepalanya. Spiral menghela nafas kemudian menata pemuda itu dengan serius. "…Bagaimana DvD yang kupinjam itu?" Tanya dengan mengangkat alisnya dua kali. Pemuda itu terdiam, kepalanya tertunduk, bahunya bergetar.
"Luar biasa! Aku tidak tau kalau ada perempuan bisa menekuk tubuhnya seperti itu. Jalan ceritanya juga sangat menganggumkan dengan romance yang tidak bisa ditebak!" Ucap pemuda itu menatap spiral dengan pandangan membara. Di keluarkannya sebuah kaset DvD, kaset itu bergambar seorang wanita cantik berambut hitam berkacamata memakai pakaian yang biasa di pakai wanita karir tengah memandang bingung dua buah celana dalam yang ada di tangannya. Dan jangan lupakan gambar angka tujuh belas kecil yang ada di bagian kanan bawah kaset itu. Ya, secara keseluruham kaset itu merupakan video porno. Spiral tertawa kecil.
"Sudah kuduga kau pasti menyukainya. Aku sendiri masih ingat reaksi pertamaku saat menonton episode duanya." Dari lubang topengnya pemuda itu dapat melihat mata spiral mengkilat." Dan tentu saja aku memiliki episode tiganya." Pemuda itu berhenti, memandang tidak percaya sosok di depannya. Pemuda itu menggebrak meja dan memajukan wajahnya ke depan agar dapat menatap topeng spiral itu, memastikan kalau sosok di depannya ini tidak berbohong.
"Kau benar – benar memilikinya?!" Tanya pemuda itu sekali lagi. Sosok Spiral itu mengangguk kemudian mengeluarkan sebuah kaset DvD dari jubahnya dan menaruhnya di atas meja.
"Tentu saja Lubbock. Kapan aku berbohong pada mu?" Lubbock nama pemuda itu meneguk ludah saat melihat kaset itu di taruh di atas mejanya hanya beberapa langkah darinya. Tangan itu bergerak perlahan ingin mengambil kaset itu. Namun sosok yang di panggil spiral itu mengambil kembali kaset itu dan menaruhnya di dalam jubah yang dikenakannya. Lubbock sempat ternganga melihat hal itu. Namun berdehem saat tau apa yang di inginkan Sosok itu. Lubbock kemudian mengambil bir yang dibawanya lalu meminumnya. Spiral menggeleng saat dirinya ditawarkan bir itu. Lubbock kemudian merebahkan punggungnya di sofa sambil menghela nafas. Spiral itu kemudian mengambil remote dan mengganti lagu yang menurutnya tidak terlalu enak di dengar.
"Kelompok yang kau cari itu bernama Amphisbaena. Sebuah sindikat penjualan manusia."Ucap Lubbock menatap lurus ke topeng spiral itu. Sedangkan sosok itu mendengar dengan seksama."Dulu memang begitu. Namun yang terakhir kudengar dia sudah memerluas koneksinya dan mengganti nama menjadi Heaven Slave's atau Hs. Sekarang mereka bahkan ikut dalam perjudian dan peredaran obat – obatan terlarang." Sosok itu terdiam mencoba mengingat nama itu untuk kedepannya nanti. Sedangkan Lubbock mengamati kliennya saat ini. Dari postur tubuh dan cara dia menyimak informasi tadi. Lubbock dapat menduga kalau masalah yang dimilikinya bersifat pribadi. Dirinya hanya mengangkat bahu, semua itu bukanlah dendamnya. Namun tidak dipungkiri dirinya penasaran apa yang menyebabkan sosok itu sampai melakukan semua ini hanya untuk melacak sindikat itu. Kalau boleh jujur dirinya juga tidak ingin terlibat dengan sindikat itu. Namun karena ini temannya sendiri yang meminta, maka ia lakukan.
"Lanjutkan." Ucap Spiral. Lubbock menghisap birnya lagi kemudian melanjutkan.
"Yang aku tau mereka semua terhubung dengan sebuah ponsel dengan bosnya. Jadi agak sulit untuk melacaknya. Namun aku mendapat bocoran informasi kalau mereka akan mengadakan perjudian selanjutnya di Kyoto." Lubbock berhenti kemudian mengeluarkan sebuah koin plastic biasa digunakan untuk pengganti uang di kasino – kasino. Spiral mengangkat koin itu untuk memeriksanya."Aku pun kesana untuk memastikannya, tapi yang kutemukan hanyalah acara pernikahan. Jika dilihat mereka tidak melakukan judi dengan taruhan besar bila dilihat dari koin itu. Namun setelah rekanku meneliti lebih lanjut, ternyata koin itu merupakan perekam kemenangan dan kekalahan para anggotanya." Jelas Lubbock kemudian mengesap birnya lagu. Spiral bergumam mendengar itu. Ditaruhnya koin itu kemudian mengambil kaset tadi dari bajunya lalu di lempar kearah Lubbock. Pemuda itu dengan senang hati menangkapnya.
"Apa kau tau anggota – anggotanya?" Lubbock menyimpan DvD itu kemudian menjawab pertanyaan Spiral.
"Ya, di leher mereka biasanya terdapat stiker yang bertulisan Hs. Namun karena itu stiker, jadi mudah untuk menghilangkan bukti kalau mereka anggota Hs. Oh iya, Nama pemimpin sindikat itu adalah Kumoi. Hanya itu yang kudapat sebelum koneksiku dengan salah satu rekanku lenyap."Jawab Lubbock kemudian membuka botol bir yang lain.
"Dengan kata lain, mereka menyadari kalau mereka tengah diintai?" Lubbock mengangguk sebagai jawaban. Akan membutuhkan waktu untuk melacak pemimpin ini. Mungkin akan lebih cepat jika mereka mempunyai orang dalam. Namun dirinya tidak ingin mengorbakan orang lain demi dendam yang dimilikinya ini. Ia menghela nafas lalu menyandarkan punggungnya ke sofa itu sambil memandangi langit – langit. Lubbock bersenandung kecil mengikuti irama lagu yang di putar saat itu. Matanya tidak lepas masih memperhatikan sosok Spiral. Dia dapat bertemu dengan orang itu melalui sebuah aplikasi chat yang bernama Nimbuzz, pertama mereka hanya saling bertukar pendapat mengenai gadis – gadis atau fetish terbaru saat itu. Namun sejak adanya rumor itu, mereka saling bertukar informasi lebih, seperti kejadian di gereja Kuoh waktu lalu sebagai contoh. Mereka tersadar dari pikirannya saat telepon di samping Lubbock berdering dan menandakan kalau waktu sewa box itu sudah hampir habis.
"Kenapa terburu – buru?" Tanya Lubbock saat melihat spiral berdiri dan menuju pintu keluar. Spiral berhenti lalu mengeluarkan sebuah kertas dari saku jubahnya. Mata Lubbock menyipit, dia tidak menyangka sosok di depannya dapat menyimpulkan secepat itu dengan informasi yang minim. "Aku mengerti." Gumamnya kemudian mengangguk kearah spiral.
Lubbock masih menatap pintu box yang dia sewa itu dengan pandangan tajam. Tak lama kemudian dia menghela nafas lalu mengambil kembali kaset DvD dan membukanya. Di balik kaset itu terdapat sebuah kertas dengan tulisan aksara aneh melingkar di tengahnya. Ini adalah cara mereka bertransaksi. Jika dilihat sekilas mereka hanya akan dicap sebagai pemuda mesum yang saling meminjamkan koleksi mereka. Itu semua hanyalah kedok. Lubbock kemudian menggigit jempolnya sampai berdarah lalu mengoleskannya ke kertas itu. Dalam kepulan asap dapat terlihat setumpuk uang jika dihitung dapat mencapai lima ratus ribu lebih. Ia kemudian terkekeh kecil sambil mengambil uang itu.
"Senang berbisnis denganmu Spiral-san."
.
.
.
.
.
Akeno Himejima seorang Ratu sekaligus sahabat dari Rias Gremory sekali lagi menghela nafas. Iris matanya memandang Rias yang tengah berkutat di meja kerjanya. Dia sudah seperti itu selama dua jam terakhir. Selain ini berhubungan dengan Dia ini juga berhubungan dengan Isse. Ratu dari Gremory itu sudah tau rencana apa yang akan digunakan Rajanya untuk bisa lepas dari pertunangan itu. Namun jika melihat kembali sifat Isse saat menyelamatkan Asia… Itulah yang membuat sahabatnya itu khawatir. Memang benar Isse menyerbu gereja itu tidak sendiri dan yang melawan para Malaikat Jatuh itu adalan Uzumaki-sensei, namun tidak dapat dipungkiri kalau Isse lah yang menghabisi para pendeta liar yang menjadi bawahan Malaikat jatuh itu. Akeno kembali menghela nafas sekali lagi. Sekarang dia sedang menyiapkan peralatan untuk kelas tambahan yang diadakan Uzumaki-sensei. Kelas tambahan itu di bagi menjadi tiga, untuk kelas satu hari senin dan rabu, kelas dua selasa dan kamis, sedangkan kelas tiga, Uzumaki-sensei memberikan kami kebebasan untuk memilih hari apa. Dan Sona memilih hari ini.
"Kau harus lebih mengenalnya." Ucap Akeno setelah lelah melihat Rias yang masih berkutat di mejanya. Hal itu membuat Rias menghentikan kegiatannya. Melirik Rias dari ekor matanya Akeno melanjutkan. "Isse-kun memberikan dirinya untukmu Rias. Dia juga memiliki dinding yang membatasinya dengan orang lain sama seperti kami dulu." Rias terdiam, ia akhirnya tersadar kalau semua perragenya selama ini selalu diberikan kepadanya. Dan hanya Isse lah yang dia dapatkan dengan usahanya sendiri. Akeno kemudian membawa tasnya lalu berjalan menuju pintu penelitian ilmu ghaib. Dia berhenti di tengah ruangan kemudian berbalik dan memberikan sebuah senyuman kearah Rias.
"Dan sebagai sahabatmu, Aku percaya kau bisa menembusnya."
.
.
.
.
.
.
Sona merupakan seseorang yang sangat suka memuaskan rasa penasarannya. Jadi jangan heran kalau kau melihatnya berjam – jam dikelilingi buku. Setelah mengetahui kalau Naruto merupakan iblis dirinya segera pulang ke kastil Sitri untuk mencari informasi. Perpustakaan Sitri memang dikenal dengan kelengkapannya oleh seluruh Mekai. Bayangkan betapa terkejutnya dia saat tidak menemukan sama sekali sosok Naruto Uzumaki. Tidak legenda, mitos, atau apapun. Sampai dia menggunakan pilihan terakhir, menemui kakaknya.
Kakaknya bisa sangat kekanakan, terkadang dia lelah dengan sikapnya itu. Namun tidak dapat dipungkiri kalau kakaknya itu sangat menyanginya. Jadi saat itu dia beranikan dirinya lalu masuk ke ruang kerja kakaknya. Meskipun mendapatkan halangan berupa teriakan dan pelukan dari kakaknya, namun pada akhirnya Sona dapat membuat kakaknya itu mendengarkannya.
Tak ingin bertele – tele karena tau masih banyak tugas yang harus dilakukan kakaknya. Sona menanyakan langsung siapa itu Naruto Uzumaki. Jika tadi dia terkejut karena perpustakaannya tidak menyangkup informasi tentang Naruto Uzumaki, mungkin sekarang dia bisa dikatakan syok. Kakaknya itu tidak langsung menjawab, dia terdiam dan matanya memandang jauh. Dan Sona dapat bersumpah kalau dirinya melihat wajah kakaknya itu menggelap. Dan tiba – tiba saja kakaknya itu mengubah pembicaraan. Sona menghela nafas.
"Baiklah Minna-san. Perang dunia kedua merupakan perang yang dimulai oleh Jerman…."
Sona memutar polpen yang dipegangnya. Semua ini hanya menambah teka – teki sensei itu. Sekarang Naruto tengah menerangkan sejarah perang dunia kedua di ruang Osis. Dirinya, Akeno, dan Tsubaki beserta yang lainnya tengah menyimak semua penjelasan itu. Meskipun pikirannya saat ini memikirkan siapa sebenarnya Naruto Uzumaki itu.
"… Nah, Sitri-kun. Kapan perang dunia kedua berakhir?"
"2 september 1945." Sona menjawab otomatis atas pertanyaan itu. Namun alis matanya berkedut saat mendengar suffiks apa yang digunakan Naruto untuk memanggilnya. "Dan satu lagi Sensei… Bisa tidak anda memanggil saya dengan suffiks yang benar? Saya ini perempuan sensei." Ucap Sona dengan kesal. Dia akui ada beberapa bagian yang belum tumbuh sepenuhnya, namun tetap saja dirinya tidak suka dipanggil seperti itu. Naruto mengerjapkan matanya mendengar keluhan itu. Mata Akeno berkilat licik.
"Itu benar Sensei. Masa anda yang seorang Sensei ini memberikan contoh buruk kepada murid – muridnya." Mulai Akeno dengan seringaian kecil di wajahnya. Tangannya menutupi mulutnya seperti orang syok. Kata – kata itu menghasilkan gumaman – gumaman setuju dari anggota Osis lainnya.
"Itu benar sensei…!" Seru siswi berambut coklay pigtail di samping Saji. Naruto berhenti menerangkan dan menatap mereka semua dengan terkejut.
"Aku juga penasaran sensei…" Gumam siswi berambut putih itu dibarengi anggukan seluruh anggota Osis.
"Hmm…" Naruto menghela nafas kemudian menatap pandangan penasaran seluruh muridnya dengan senyuman. "Bagus sekali!" Mereka terlonjak mendengar Naruto tiba – tiba berteriak sambil tersenyum kearah mereka. Mereka berkedip lalu memiringkan kepalanya memandang sensei mereka dengan bingung.
"Selamat! Kalian sudah lulus tes yang sensei berikan! Meskipun tau kalau aku ini sensei kalian. Namun kalian tetap menyuarakan kalau yang sensei lakukan itu salah." Naruto menutup mata lalu tersenyum kearah mereka. "Tidak hanya keberanian yang di perlukan untuk berdiri menegakan kebenaran. Namun masih banyak lagi hal lainnya yang perlu dipertimbangkan!"
Mereka terdiam, tidak tau harus bereaksi seperti apa setelah mengetahui hal itu. Mereka tidak menyangka kalau mereka di tes hanya dengan hal sekecil itu. Namun Akeno dan Sona menyadari sesuatu. Kenapa petunjuk tes itu hanya ada di Sona dan Rias? Apa ada maksud lain dari tes itu? Dengan Rias dan Sona merupakan Raja mereka hal itu membuat semua ini semakin tidak wajar. Meskipun tau kalau Naruto adalah sensei mereka, tapi belum ada kepastian kalau mantan Chef itu kawan atau musuh.
Katakan Sona paranoid, tapi jangan lupakan kalau Isse dilatih oleh cowok di depan mereka saat ini. Sona menatap wajah Akeno lalu menggelang sembari menghela nafas. Akeno mendesah kemudian mengikuti Sona mendengarkan penjelasan Naruto.
"Benar apa yang di katakan Sitri-san. Perang dunia dua berakhir pada 2 september 1945…."
.
.
.
.
.
"Buchou kami sudah berkumpul."
Rias mengangguk pada Isse kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mengamati reaksi mereka. Dapat dilihat Isse tidak memberikan reaksi apa – apa selain rasa penasaran pada wanita berambut putih yang memakai pakaian Maid di belakangnya. Penerus Gremory itu menghela nafas sambil memijit keningnya. Saat dikabarkan kalau Grayfia akan datang kesini perihal tunangan itu, ia tidak menyangka kalau kakak iparnya itu akan datang hari ini juga. Rias mengedipkan matanya, entah mengapa ia merasa melupakan sesuatu. Rias berdehem untuk mendapatkan perhatian mereka.
"Baiklah sebelum itu…" Isse menatap penuh penasaran pada wanita berambut putih yang kini tengah berdiri di samping Rias. "Ini adalah Grayfia Lucifuge kepala Maid keluarga Gremory." Rias menyembunyikan senyumannya saat melihat Isse tengah gugup dipandang tajam oleh Grayfia. Ah sekarang dia ingat, Naruto berpesan kepada Akeno kalau dia agak terlambat karena suatu urusan.
Rias membatalkan membuka suara saat muncul lingkaran sihir berwarna merah dengan lambang seekor burung memunculkan seseorang dari kobaran api. Lelaki itu merupakan pria tinggi tegap berambut pirang berwajah tampan mengenakan semacam jas formal. Rias mendecih sebelum membuang muka untuk menyembunyikan ketidaksukaannya pada pria itu. Meskipun begitu Grayfia dapat melihat dengan jelas ekspresi tidak suka Rias, tidak hanya Rias melainkan seluruh pelayannya kecuali pemuda berambut coklat yang tengah memandang penasaran pria itu. Pria itu berbalik dan memberikan senyuman menawan yang menurutnya memuakan kearahnya.
"Ah~ Sudah lama sekali sejak aku ke dunia manusia. Ne, apa kau merindukanku Rias-hime?" Isse menatap Rajanya dengan terkejut, karena Rias mengeluarkan hawa pembunuh yang kuat dan di arahkan pada pria itu. Rias mendesis mulutnya mengeja setiap huruf nama pria itu bagaikan sebuah racun.
"… Raiser."
.
"Teh buatan Ratu Rias selalu nikmat."
"Ara. Terimakasih."
Akeno berucap dengan senyuman andalannya. Dirinya tidak tahan berlama – lama di dekat pria itu, namun demi sahabatnya ia akan berusaha bertahan selama mungkin. Ratu itu dapat melihat sahabatnya merasa risih dengan Raiser yang mencoba menyentuhnya.
"Kiba siapa pria itu?" Tanya Isse penasaran kepada Kiba. Akeno dan Kiba berkedip, mereka melupakan Isse.
"Dia adalah Raiser Phenex. Penerus dari klan Phenex sekaligus tunangan dari Rias Gremory." Grayfia lah yang menjawab pertanyaan Isse. Isse membeku saat mendengar penjelasan Grayfia.
"Tu-tunangan?!" Isse berseru dengan syok, ia memandang Rias untuk memastikan. Rias hanya menutup matanya sembari mengesap teh buatan Akeno dengan elegan.
"Aku tidak akan menikahimu Raiser." RIas membuka matanya menatap dingin penerus klan yang dikatakan Abadi itu. Raiser tertawa.
"Kau tau tidak bisa seperti itu Rias." Ucap Raiser yang kini memegang dagu Rias dan mulai mendekatkan wajahnya.
"Sebaiknya kau lepaskan tangan busukmu itu dari Buchou." Raiser menoleh ke asal ancaman itu berasal. Raiser melepas Rias kemudian memandang angkuh wajah marah Isse.
"Hmm…. Memangnya siapa kau? Melarangku seperti itu… Ah! Aku tau kau budak terbarunya Rias bukan?" Raiser berdiri dan menatap rendah Isse. " Memangnya apa yang bisa kau lakukan iblis rendahan?"
"Tentu saja aku akan menghajarmu!" Isse berkata dengan mantap. Wajah Raiser memerah menahan kekesalan pada iblis rendahan di depannya. Namun sedikit tekanan kekuatan dari Grayfia membuatnya mundur.
"Karena masalah sudah seperti ini. Saya diperintahkan Sirzech-sama untuk memecahkan masalah ini dengan Rating game." Grayfia berhenti kemudian memandang dua pihak yang berselisih tersebut. Raiser mendengus dan menjentikan jarinya. Lingkaran sihir yang lebih besar muncul dan menampakkan belasan gadis dengan berbagai rupa muncul.
"Apa kau yakin dengan hal ini Rias? Kau ingin melawanku yang memiliki satu set lengkap dengan budakmu ini?" Raiser tertawa angkuh. Rias kembali mengesap tehnya untuk menjaga posturnya. Keangkuhan pria di depannya ini membuatnya muak. Bahkan Grayfia yang selalu berwajah datar itu pun juga merasakan hal yang sama.
"Tidaaak! Kenapa harus orang brengsek yang memiliki semua kesenangan!" Isse berteriak putus asa. Kiba terkekeh cangung sambil menepuk - nepuk punggung Isse yang tengah tertunduk memukul lantai dengan air mata yang tak kunjung berhenti keluar dari matanya.
"Oi, Rias! Budakmu yang satu itu kenapa?" Tanya Raiser setelah beberapa saat. Rias menghela nafas kemudian memijit keningnya.
"Ya. Dia bermimpi menjadi Raja harem." Raiser yang mendengar hal itu menyeringai licik. Dia menyuruh Yubelluna, Ratunya untuk mendekatinya sekaligus mengambil perhatian Isse. Dengan ganas dan nafsu Raiser mencumbu wanita itu sambil memeras dadanya. Semua anggota klub beserta Grayfia terang – terangan menunjukan rasa jijiknya terhadap penerus klan Phenex itu.
"Kau…. Memang tidak pantas untuk Buchou…" Raiser melirik Isse yang perlahan berdiri. "…. Bedebah!" Teriak Isse memandang Raiser penuh kebencian. Isse segera merangsek maju kearah Raiser.
"Cukup Isse!" Isse tidak mengidahkan perintah Rias. Dia hanya focus untuk menghaja penerus Phenex tersebut. Seorang gadis yang membawa tongkat juga merangsek maju untuk melawan Isse. Melihat itu Isse mendecih kemudian mengeluarkan Sacred Gearnya. Namun tiba – tiba pergerakan Isse berhenti. Gadis itu tidak menyianyiakan kesempatan itu dan melompat untuk menyerang Isse. Tapi ada seseorang yang menghentikannya dengan memegang pundaknya. Gadis itu mengikuti arah pandangan Isse dan melihat seorang pemuda berambut perak jabrik tengah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Maaf sebagai seorang sensei aku tidak bisa membiarkan segala macam tindak kekerasan di ruangan klub ini." Mereka semua terkejut tidak menyadari kapan pemuda itu masuk dan menghentikan pergerakan rekan mereka. Naruto melirik sekilas kearah Grayfia kemudian memandang gadis disampingnya dengan senyuman kecil. "Apa kau tidak apa – apa Ojou-chan?" Dirinya tidak tau kenapa dia mengangguk atas pertanyaan dari pemuda di depannya. Mungkin karena dirinya masih terkejut akan kemunculan tiba – tiba pemuda itu. Naruto kemudian mengalihkan wajahnya kearah Isse.
"Hah…. Kan sudah kubilang kalau jangan pernah melawan seorang gadis." Naruto mengatakan itu dengan wajah kecewa pada Isse yang tengah menunduk. Naruto terus menasehati Isse tidak menghiraukan keberadaan Raiser beserta Peeragenya. Merasa terhina karena di abaikan oleh manusia rendahan, Raiser membuat bola api dan menenbakkanya kearah Isse dan Naruto.
"Naruto..!" Kiba berteriak memeperingati senseinya. Dengan cepat Kiba berdiri untuk menghalau bola api itu tapi.
Blaar!
Kepulan asap membumbung di tempat kakak beradik itu berdiri. Kiba sudah membuat dua buah pedang dan bersiap menerjang kearah Raiser namun sebuah suara mengejutkannya berserta seleruh iblis yang ada di sana.
"Setelah menghina keluargaku. Jangan harap aku akan tinggal diam melihat kau menyakitinya."
Saat asap menipis terlihat Rias berdiri di depan Naruto dan Isse tengah menepis bola api dari Raiser. Rias menatap Raiser tanpa ekspresi yang membuatnya mengambil satu langkah mundur.
"Buchou…" Gumam Isse melihat Rias melindunginya seperti itu. Sedangkan Naruto memandang tertarik kabut hitam yang menyelimuti tangan Rias. Kemudian ia tersentak dan melirik Grayfia melalui ekor matanya.
'Apa yang sebenarnya kau rencanakan Naruto?' Tanya batin Grayfia setelah melihat lirikan Naruto. Ia menggertakkan giginya, saat sadar apa tujuan dari mahkluk itu. Rasa takut sempat terlintas di hati Raiser, namun ia menutupinya dengan dengusan dan senyuman arogan.
"Jadi sudah diputuskan ya…" Pria itu kemudian berkumpul dengan para Peeragenya di bawah lingkaran sihir raksasa berwarna merah yang diciptakan Yubelluna. "Sepuluh hari. Kuberikan waktu sepuluh hari untuk kau bersiap Rias." Kobaran api melahap Raiser dan seluruh gadis itu sesaat setelahnya.
Setelah beberapa saat Rias berbalik dan menatap Isse denga khawatir. "Isse kau tidak apa – apa?"
"Ah.. aku tidak apa – apa. Terima kasih sudah melindungiku Buchou." Jawab Isse sambil menunduk. Rias tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak Isse. Sudah seharusnya keluarga saling melindungi." Isse mendongak, seketika rona merah menghiasi wajahnya saat melihat wajah Rias yang tengah tersenyum kearahnya. Akeno, Kiba, dan Koneko tersenyum melihat interaksi Rias dan Isse.
Naruto sambil nyengir mendekati Grayfia. Mereka saling menatap satu sama lain seakan – akan ada pembicaraan batin antara mereka. Maid Gremory itu dapat melihat mata Naruto mulai mengkilat misterius. Tapi tak berapa lama karena Naruto menutup matanya lalu mengangkat tangannya untuk menyapa.
"Yo. Naruto Uzumaki sensei pembimbing klub Rias." Grayfia membungkuk mencoba mengikuti sandiwara mahkluk di depannya.
"Grayfia Lucifuge. Kakak ipar Rias Gremory." Naruto manggut – manggut mendengar hal itu kemudian berbalik saat lima pasang mata menatap punggungya. Melihat itu Grayfia menghela nafas, untung saja pemuda itu tidak menganggap keberadaannya mengancam. Jadi dia tidak melakukan tindakan lebih jauh. Bagaimanapun juga situasi ini harus sampai pada Sirzech-sama.
"Ada apa Rias?" Tanya Naruto memiringkan kepalanya. Rias melirik Isse yang mengangguk lalu mengambil nafas untuk menenangkan sarafnya.
"Ku mohon Latih kami sepuluh hari mendatang untuk menghadapi Raiser." Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian kembali mengarahkan pandangannya kearah Grayfia.
"Apa itu tidak apa – apa Lucifuge-san?" Tanya Naruto membuat semua pasang mata disana memandang Maid itu. Grayfia mengangguk, jika sudah begini tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Naruto kembali menatap mereka dengan nyegir lebar.
"Kalau begitu, tentu saja bisa!"
.
.
.
.
.
.
Naruto tengah berjalan – jalan di taman kota Kuoh selepas kejadian di ruang klub ilmu gaib tadi. Naruto mengambil secarik kertas dari kantongnya. Dahi mantan Chef itu mengkerut saat membaca isi kertas tersebut. Yah, dia rasa tidak ada salahnya memeberikan mereka beberapa waktu kosong. Toh mereka juga sudah bekerja sangat baik akhir – akhir ini. Naruto kemudian mengambil ponsel yang baru saja dibelinya kemarin. Mau bagainama lagi ponsel lamanya sudah rusak. Naruto bergumam membaca isi pesan masuk di ponselnya.
Syuut!
Naruto langsung menunduk untuk menghindari tebasan pedang yang dapat memenggal kepalanya kemudian memutar tubuhnya untuk menghindari tendangan kapak dari atas yang menghancurkan aspal tempatnya berpijak tadi lalu meloncat jauh kedepan untuk menghindari sabetan selanjutnya. Mantan Chef itu terkekeh dari posisi jongkoknya. Ia kemudian berdiri sembari membersihkan seragam gurunya kemudian menatap sosok yang menyerangnya dengan sebuah seringai.
"Kau masih membisikan kematian ya?..." Naruto dapat melihat perban yang sama, rompi yang sama, rambut hitam yang masih sama, serta wajah tanpa alis yang masih dikenalnya. Oh, dan jangan lupakan Zanbatto raksasa di pundaknya."… Zabuza." Sosok yang dipanggil Zabuza itu berdehen kemudian membenarkan posisi Zanbattonya.
"Sudah sekian lama, tapi kemampuanmu tidak berkurang sama sekali. Semakin meningkat malahan." Puji Zabuza membuat Naruto membusungkan dadanya sambil mendengus arogan.
"Tentu saja! Kau memang sudah menggapai impianmu, tapi itu bukan berarti kau harus menghentikan langkahmu." Mengangguk atas perkataannya sendiri Naruto memandang Zabuza dengan satu alis terangkat. "Jangan bilang kau mengambil tawaran mahkluk itu. Zabuza aku tahu reputasimu itu, tapi sungguh…" Naruto menggelengkan kepalanya kecewa terhadap salah satu pendekar berpedang dari Kirigakure itu.
"Kau terlalu memandang rendah padaku Naruto. Aku kesini ingin menyampaikan sesuatu." Zabuza menaruh Zanbato di punggungnya kemudian dengan cepat membentuk segel tangan. Naruto yang melihat itu meloncat menjauh sembari membuka sebuah gulungan dari kantungnya. "Sebelum itu, Water Style: Water Dragon Bullet!"
Naga air raksasa dengan warna merah terbentuk dan melesat kearah naga air yang lebih besar yang bermaksud menyerang Naruto. Dengan segera Naruto melepas segel gulungan itu. Puluhan kunai berkertas peledak melesat kearah naga air yang saling mencoba mendominasi satu sama lain itu.
Blaar! Blaar! Blaar!
Kunai – kunai yang dilempar Naruto meledak dan sukses menghancurkan kedua naga air itu. Naruto melirik kearah Zabuza yang mendarat tak jauh darinya. Menutup matanya Naruto terkekeh kecil.
"Keluarlah kalian. Aku sudah mengetahui keberadaan kalian."
Untuk sesaat hanya kesunyian yang menjawab Naruto lalu tiba – tiba muncul kabut yang tebal menyelimuti taman itu. Zabuza menyiapkan Zanbattonya, sementara Naruto mendesah kemudian menyentuh bahu Zabuza. Zabuza yang melihat itu hanya mengangguk sebagai tanda terimakasih.
"Yah, jika mereka masih mau bermain…. Tak apalah. Mumpung aku masih punya waktu senggang." Sesudah mengatakan itu Naruto memiringkan kepalanya menghindari sebuah pedang yang memiliki bentuk menyerupai jarum. Zabuza menangkis pedang itu sekaligus melemparnya jauh. Mereka meloncat menghindari beberapa jarum berwarna coklat yang menancap di tempat mereka berpijak. Naruto memiringkan badannya menghindari tebasan kapak dari atas lalu menunduk membiarkan Zabuza menyerang balik pemilik kapak tersebut. Suara benda keras saling berbenturan terdengar di sampingnya. Naruto segera melesat kebelakang Zabuza kemudian menendang sosok besar yang membawa pedang berperban itu. Tangannya dengan lincah mengambil kunai dan melemparnya ke samping kepala Zabuza untuk menangkis pedang yang berbentuk jarum itu agar tidak melubangi kepala dari Iblis lindungan kabut itu. Mereka berdua meloncat menjauh saat terdengar seperti kertas terbakar di sekeliling mereka.
Blaar! Blaar! Blaar!
Hampir lima belas menit mereka melakukan itu. Menghindar, menepis, dan menangkis setiap serangan yang dilancarkan. Naruto kembali mengeluarkan kunai untuk menangkis sebuah pedang kembar yang ingin menebasnya. Namun aksinya itu menghadiahkan seringaian dari sang penyerang. Melihat hal itu Naruto hanya tersenyum simpul. Mata pengguna pedang itu melebar saat merasakan angin di sampingnya terbelah. Denga cepat sosok itu mengganti posisi pedangnya menjadi menyilang untuk menahan anyunan Zanbatto Zabuza. Namun sosok itu meremehkan momentum yang digunakan Zabuza untuk menganyukan Zanbattonya. Sehingga sosok itu terlempar cukup keras dan menghantam penyerang mereka yang lain dari suara rintihan yang berasal dari arah sosok itu terlempar. Naruto dengan kedua kunainya membelakangi Zabuza dengan Zanbattonya. Melirik kearah sosok yang dikenal dengan Iblis dari lindungan kabut itu membuatnya terkekeh.
"Merasa lelah?" Tanya Naruto sedikit bercanda yang hanya dibalas deheman oleh sang iblis. Mereka berdua meloncat saat tanah ditempat mereka retak dan hancur. Naruto kembali menangkis serangan dari seorang wanita berpedang kembar itu. Naruto mengangkat kunainya keatas untuk menangkis tebasan vertical kebawah itu. Namun tak lama kemudian kunai Naruto patah karena petir yang dihasilkan pedang itu mengelas kunainya. Wanita itu kembali menyeringai saat melihat wajah terkejut Naruto dan siap menikam mantan Chef itu dengan kedua pedangnya. Dengan segera Naruto melempar kunai yang satunya kearah Zabuza yang masih berduel dengan pengguna pedang yang memiliki bentuk seperti jarum itu. Pengguna pedang itu berbadan kurus memakai topeng Anbu khas Kirigakure dengan rambut gondrong dan mengenakan pakaian berwarna hitam. Zabuza menggunakan sisi zanbattonya untuk menangkis seluruh tusukan yang dilancarkan pria itu. Zabuza mendecih, dengan posisinya di udara yang bisa dilakukannya hanyalah bertahan dari serangan pengguna Nuibari itu. Naruto yang hampir ditusuk wanita itu menghilang dan muncul diatas Zabuza, bertukar tempat dengan kunai yang dilemparnya. Wanita dan Pria itu terkejut akan hal itu, sedangkan Zabuza mengangkat zanbattonya untuk menciptakan sebuah pijakan untuk Naruto. Tanpa melirik kearah Zabuza, Naruto berjalan diatas Zanbato itu kemudian memukul kepala pria itu tadi.
Pria itu yang sudah sadar dari keterkejutannya segera memiringkan kepalanya untuk menghindari pukulan Naruto. Pukulannya meleset, Naruto tetap menerjang kearah pria itu lalu memukul perutnya. Pria itu meringis, namun menahan Naruto agar tidak menjauh dari jangkauannya. Pria itu kemudian melilit Naruto menggunakan benang yang terhubung di Nuibari untuk menghentikan pergerakannya.
Tap! Bugh!
Zabuza yang melihat Naruto ditangkap kemudian segera menjauh dari situ. Sedangkan Naruto mendongak lalu memberikan seringaian kearah pria itu yang sudah mengangkat Nuibarinya, bersiap menusuk Naruto.
Jleb! Poof!
Naruto yang ditusuknya berubah menjadi potongan kayu. Namun bukan itu yang membuatnya terkejut melainkan bau gosong dari kertas peledak yang menempel di tubuhnya.
Boom!
'Satu tumbang, sisa empat lagi..' Batin Zabuza setelah mendengar ledakan itu. Pria yang dijuluki iblis dari Desa kabut itu memandang sekeliling. Kirigakure no jutsu, salah satu jutsu andalannya. Dia sangat mengetahui luar dalam jutus andalannya yang satu ini. Jadi dia dapat mengetahui berapa lama lagi kabut yang menyelimuti mereka ini akan lenyap. Jika dihitung dengan kosentrasi dan jumlah cakra untuk menjaga kabut ini tetap tebal. Seharusnya kabut ini akan bertahan selama sepuluh sampai lima belas menit, tapi dengan terbunuhnya salah satu pengguna jutsu ini membuatnya dapat bertahan sampai lima atau tujuh menit lagi. Zabuza mulai mengatur nafas dengan memperlabat tempo bernapasnya. Satu hal yang sering dilupakan para pengguna Silent Killing adalah mereka melupakan suara pernapasan mereka. Itulah salah satu sebab mengapa ia menggunakan perban untuk menutup wajahnya. Perban itu digunakan untuk menutupi suaranya saat mengambil nafas. Itu juga yang menyebabkan Zabuza dapat menghindari setiap serangan dari lawannya meskipun ditutupi kabut tebal.
Dengan jelas ia dapat mendengar suara langkah kaki di samping kanannya. Dengan langkah senyap, Zabuza mendekati dimana langkah itu berasal. Dengan cepat dan senyap Zabuza menebaskan Zanbattonya untuk membelah sosok banyangan yang ada di depannya. Sosok itu menampilkan seorang pria berjanggut dan berambut kuncir kuda berwarna hitam pengguna kapak dan palu terbelah di bagian pinggangnya. Zabuza tidak mengidahkan wajah syok pria itu, ia lebih memilih melesat kearah pria berbadan besar berambut coklat oranye yang membawa pedang besar dibalut perban.
Naruto meloncat ke sisi kanan menghindari sebuah gulungan yang berisi segel peledak di dalamnya. Pengguna pedang gulungan peledak itu mendecih karena jarak Naruto sudah terlalu jauh dari pedangnya ataupun jarak ledakan segelnya. Naruto mengalihkan pandangannya ke depan dan melihat wanita itu menembakan kilatan petir dari pedangnya kearahnya. Naruto mengangkat tangannya lalu menyambut kilatan petir itu dengan jarinya. Naruto kemudian melipat tangannya di depan dada sembari mengambil nafas. Lalu ia arahkan tangan kirinya pada Zabuza yang tengah bertarung melawan pemegang Samehada. Zabuza yang mengetahui hal itu segera meloncat keatas mengejutkan lawan bertarungnya. Pria besar itu segera mengarahkan Samehada ke depan, bermaksud menghisap kilatan petir yang Naruto tembakan kearahnya.
Naruto kembali menahan tebasan diagonal pria berbando perban itu menggunakan kunainya. Sedangkan Zabuza merangsek maju kearah wanita yang dikenalnya sebagai Ameyuri Ringo. Zabuza menggunakan beban Zanbattonya untuk memojokan Ringo. Setelah menangkis tebasan diagonal atas Ringo menyilangkan pedangnnya saat Zabuza menganyunkan Zanbattonya bagaikan sebuah kunai dari bawah secara vertical. Saat serangannya ditangkis Zabuza melepas Zanbattonya membiarkannya, melayang di udara. Menggunakan keterkejutan Ringo atas aksinya Zabuza menambil sebuah kunai dan dilemparkannya kearah Zanbattonya lalu merangsek maju kearah pengguna pedang peledak lawan Naruto meninggalkan Ringo. Ringo yang ingin mengejar Zabuza menahan niatnya saat kunai yang dilempar Zabuza berganti menjadi Naruto, dengan sigap pemuda berambut jabirk itu mengambil Zanbatto Zabuza dan menganyunkannya ke bawah. Namun melihat Ringo yang sudah siap dengan menyilangkan kedua pedangnya di atas kepala. Naruto mengalirkan cakranya ke Zanbatto itu sehingga menghasilkan pendar tipis kehijauan.
Traank! Zraash!
Ayunan Naruto tidak hanya sukses membelah pedang kembar Ringo tapi juga Ringo itu sendiri. Kabut pun mulai menipis karena sisa pengguna Kirigakure no jutsu itu merasa tidak ada gunanya lagi mempertahankannya. Naruto menatap pengguna Samehada itu dengan senyuman simpul. Zanbattonya ia pegang vertical di samping kepalanya. Memiringkan zanbattonya Naruto melesat maju dan membuka serangan dengan tebasan diagonal bawah lalu dilanjutkan dengan tebasan diagonal atas kanan, dan disambung dengan tebasan horizontal dari kiri, begitu seterusnya. Pengguna Samehada itu menggertakan giginya, selama karirnya sebagai pendekar pedang dari Kiri dia tidak pernah berpikir kalau Kubikiri dapat digunakan seperti itu mengangkat Samehada untuk menangkis tebasan berputar dari Naruto yang membuatnya terseret kebelakang. Naruto mengangkat Zanbattonya di samping wajahnya, sekali hentakan Naruto menerjang ke depan dan melancarkan serangan tusukan kearah Pria itu. Pria besar itu tersentak lalu dengan cepat mengangkat Samehada untuk menepis tusukan Naruto. Pria itu memiringkan kepalanya saat tidak sepenuhnya tusukan itu di tangkis. Dengan cepat Pria besar itu mengangkat pedangnya keatas sehingga mementalkan Kubikiri Naruto. Naruto yang tidak menyangka akan hal itu kehilangan keseimbangan dan hampir terjungkal ke belakang. Pria itu tidak menyianyiakan kesempatan ini, dengan segera dia menganyunkan Samehada bermaksud mencabik Naruto. Namun sekali lagi Naruto memberikan seringaian pada lawannya. Tiba – tiba sosok Naruto menghilang, berganti dengan Zabuza yang tengah menunduk. Dengan cepat Zabuza memberikan tendangan sapuan yang menjatuhkan pria yang tengah terkejut itu. Zabuza melempar kunai yang dibawanya dan tepat menancap di tangan kanan pria itu, tangan yang menggemgam Samehada. Zabuza melompat saat rambut pria itu menembakan jarum – jarum tajam kearahnya. Menggunakan Kubikiri Zabuza menangkis serangan rambut pria itu di udara lalu menungkik menusuk pria itu dengan Kubikiri. Zabuza meringis saat ada beberapa jarum pria itu mengenai bahunya.
Zabuza mencabut Zanbattonya dari pengguna Samehada yang sudah menjadi mayat itu dan menoleh untuk melihat Naruto tengah memojokan pengguna pedang peledak menggunakan pistolnya. Tahu kalau pemuda itu dapat menjaga diri, Zabuza mengobati luka yang ada ditubuhnya lalu mengumpulkan pedang – pedang yang dipakai penyerang mereka. Zabuza mendongak melihat langit malam lalu mendesah.
Naruto hanya tersenyum penuh arti saat penyerang terakhir mereka lari ke pepohonan untuk bersembunyi. Masih dengan pistolnya Naruto mengejar pria itu melompat dari dahan ke dahan. Menangkis tembakannya pria itu berbalik lalu menganyunkan pedangnya, gulungan yang ada di pedang itu terbuka dan menyebar. Naruto menunduk kemudian turun dari pohon. Tapi Naruto harus dibuat menghindar saat ledakan itu menumbanggkan beberapa pohon kearahnya. Naruto lalu berhenti dan mengisi kembali pistolnya memastikan kalau penyerang terakhir mereka benar – benar melihat aksinya. Naruto melompat jauh saat gulungan itu datang dari belakang, menembak beberapa kali kearah gulungan itu berasal. Naruto cepat berbalik menangkis tendangan pria itu yang muncul tiba – tiba disampingnya. Menggunakan tubuh musuhnya sebagai pijakan Naruto melompat mundur kemudian menodongkan pistolnya kearah pria itu.
Boom! Boom! Boom!
Tap
Tap
Mereka mendarat di atas lapang agak luas karena ledakan tadi meratakan sebagian besar pohon di sekitar mereka. Pria itu dengan was – was mengangkat pedangnya untuk menangkis peluru yang ditembakkan Naruto. Kakinya menegang bersiap beraksi.
Klik! Klik Klik!
Naruto memandang binggung pistolnya yang tidak mau ditembakan. Sedangkan pria itu yang menyadari kalau saat ini adalah saat Naruto mengisi peluru segera melesat dengan ledakan cakra di kakinya. Sedangkan Naruto yang melihat musuhnya mendekat dengan cepat segera melemparkan pistol itu kearah musuhnya. Naruto tersenyum tipis saat pistolnya di tepis begitu saja oleh pria itu yang tidak memperhatikan sebuah kertas yang terbakar disisi pistolnya.
Boof!
Pria itu mendecih kemudian menahan nafasnya karena asap berwarna biru yang keluar dari pistol Naruto. Alarm bahaya di kepalanya berbunyi nyaring membuatnya berbalik dan mengayunkan pedangnya menebas sosok Naruto. Mata pria itu melebar saat pedangnnya hanya menembus Naruto seperti hantu. Sedangkan dibelakangnya Naruto tengah menyeringai sambil menodongkan pistolnya.
Dor! Dor Dor!
Naruto menembak kepala pria itu kemudian lehernya. Naruto tidak menurunkan pistolnya saat pria itu jatuh melainkan menembak kepala pria itu sekali lagi memastikan penyerang mereka telah mati. Beberapa saat Naruto menatap mayat pria itu lalu berjongkok mengambil pedang peledak yang terjatuh di tanah sambil menyimpan pistolnya. Naruto mendesah sembari menutup matanya. Mulutnya lalu membentuk seringaian kecil.
"Yah, meskipun tidak secara langsung… Aku bisa meniru teknik yang digunakan Akame dulu.." Naruto berdiri kemudian berjalan kearah Zabuza yang tengah membuka gulungan khusus, berbagai macam pedang mengelilingnya. Zabuza menoleh kemudian menangkap pedang yang dilempar Naruto. Melihat Zabuza yang dengan hati – hati memasukan ke-enam pedang lagendaris itu membuat alis Naruto terangkat. "Jangan bilang karena inilah kau kembali Zabuza…."
Gelengan kepala yang ditunjukan Zabuza membuat Naruto bingung. Entah kenapa ia dapat melihat sebuah senyuman tipis nan licik di balik perban yang menyembunyikan wajah Iblis lindungan kabut itu. "Tidak. Aku kesini ingin membayar hutangku, dan sekarang aku sudah melunasinya."
Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali, belum yakin apa yang dibicarakan Zabuza. Kemudian ia tersadar. Menepuk dahinya, Naruto terkekeh kecil. Menarik bahaya mendekatinya kemudian menyelamatkannya. Naruto menggelengkan kepalanya. "Oh Zabuza kau benar – benar licik." Zabuza berhenti dari kegiatannya menyegel pedang lagendaris kemudian memandang polos pemuda berambut jabrik itu.
"Apa maksudmu? Lagi pula ini semua aku pelajari darimu." Zabuza tertawa saat Naruto menepuk dahinya lebih keras sambil menghela nafas berat. "Tapi. Memang ada yang ingin kubicarakan denganmu." Naruto segera memutar kepalanya cepat kearah Iblis dari lindungan kabut itu saat mendengar nada serius terdapat dalam kata – katanya.
Sekarang mereka tengah duduk disamping air mancur setelah menyegel semua pedang lagendaris dari Kirigakure. Meskipun dirinya dibuat bingung kenapa Zabuza juga menyegel Kubikiri. Sedangkan Zabuza masih memikirkan kekuatan pemuda disampingnya. Memang benar kekuatannya waktu di dunia Shinobi dulu sudah sangat mustahil. Namun melihat kegunaannya yang hampir tidak terbatas tidak berhenti membuatnya kagum. Mengembalikan kondisi taman ini yang sudah menjadi arena peperangan mini menjadi sedia kala hanya beberapa menit. Zabuza menggelengkan kepalanya, kemampuan yang dimiliki pemuda disampingnya ini sudah diluar akal sehat.
"Jadi apa yang kau ingin bicarakan?" Tanya Naruto sedikit penasaran. Pasalnya Naruto tahu betul bagaimana sifat dari Iblis lindungan Kabut tersebut. Dan untuk melihatnya bangkit dari kubur hanya untuk menemuimu. Itu sudah mengatakan sesuatu.
"Aku akan langsung saja…" Zabuza menggantungkan kalimatnya untuk memandang bintang yang bertebaran di langit malam itu. Kemudian Zabuza melanjutkan sambil menatap Naruto dengan serius. "Ada Shinobi yang ingin membangkitkan kembali lagendamu."
…
…
…
…
…
…
"… Hah? Jangan bercanda Zabuza. Lolucon ini tidak lucu kau tau!" Zabuza tidak mengubah ekspresi wajahnya. Mendecih, Naruto menghempaskan punggungnya ke kursi taman sambil memandang langit malam. "Cih. Kau benar – benar serius ya?"
Zabuza memandang pemuda itu lebih lama. Jika Shinobi itu sampai salah membangkitkan. Zabuza meringis. Dirinya masih ingat bagaimana insiden dengan keturunan Ootsutsuki waktu lalu. Pemuda itu membuka mulutnya tapi malah menggigit bibir bawahnya."Jadi apa yang akan kau lakukan?" Naruto melirik Pria yang dijuluki Iblis dari lindungan kabut itu kemudian membuang muka.
"Tidak…. Tidak ada." Zabuza tidak terkejut akan hal itu. Bagaimanapun juga penyebab pemuda itu ada disini adalah pilihan mereka. Jadi sudah wajar jika dia kurang peduli dengan dunia mereka. Zabuza akhirnya menghela nafas kemudian menyiapkan diri dengan apa yang terjadi selanjutnya. "Begitukah? Meskipun mereka membangkitkan dia?" Zabuza mengatakan itu dengan wajah lurus ke depan.
"Hati – hati dengan apa yang kau katakan Zabuza." Tidak ada emosi apapun di dalam kata itu. Tapi Zabuza tahu lebih baik, kata – kata itu menyimpan berbagai macam emosi dan emosi yang paling besar adalah penyesalan. Naruto menggertakkan giginya, dalam pikirannya ia sudah tahu apa yang terjadi jika apa yang dikatakan Zabuza benar terjadi. Naruto menarik nafas untuk menenangkan dirinya. Pemuda berambut jabrik itu menyeringai keji. "Mereka boleh mencobanya. Jika mereka berhasil aku sendiri yang akan menyambutnya dan memberikan mereka hadiah. Itupun jika mereka berhasil." Tantang Naruto kepada Zabuza. Mendengar hal itu membuat Zabuza berdiri lalu membersihkan pakaiannya.
"Yah, jika kau memang sudah memutuskannya aku tidak bisa berbuat banyak." Zabuza berjalan meninggalkan Naruto, tubuhnya mulai terurai menjadi debu. Naruto yang melihat itu terkejut dan ingin berdiri dibuat menangkap sebuah gulungan yang dilemparkan Zabuza. "Aku sudah cukup mengenalmu, sampai tahu apa yang akan kau lakukan untuk membuat rencanamu berjalan lancar. Dan untuk gulungan itu, pedang – pedang itu didapatkan dengan tiga cara yaitu dengan direbut, ditemukan, dan diwariskan." Pemuda itu terdiam, memandang heran gulungan ditangannya. Dirinya bingung kenapa Zabuza sampai memberikan pedang – pedang itu. Bukan berarti dirinya tidak menghargai hadiah itu tapi selama ada pedang yang digunakan untuk melindungi pasti ada pedang yang digunakan untuk menyakiti.
"Tunggu sebentar Zabuza…" Zabuza berhenti saat dirinya dipanggil. Nada suara yang digunakan Naruto juga berbeda. Lebih cenderung lembut dan memohon sangat lain dengan Naruto yang dikenalnya. "Apa…. Bagaimana dengan bibit yang kutitipkan padamu?" Tangan Naruto terkepal saat menanyakan hal itu. Zabuza terdiam lalu menoleh.
"Kau tenang saja. Selayaknya bunga, sekarang mereka sudah mekar dengan indah." Zabuza memberikan senyuman lembut kearah pemuda berambut jabrik itu. Sementara Naruto menghela nafas mensyukuri kenyataan itu. Naruto kemudian mengangguk sebagai tanda terimakasih kearah Zabuza yang tengah terurai menjadi debu. Ia mengucek matanya menyingkiran air mata yang sempat keluar. Disimpannya gulungan itu lalu berjalan meninggalkan taman itu. Sebelum mereka benar – benar membangkitkannya kesembilan orang itu pasti bergerak mencegah mereka. Sekarang yang dia harus lakukan adalah focus untuk esok hari. Yah, tentu saja. Sebagai Sensei dia tidak bisa membiarkan muridnya terikat pada pertunangan tanpa cinta yang dapat membuatnya tidak focus pada pelajaran.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Fiuh~ Akhirnya selesai juga chap 10.
Pertama saya ingin meminta maaf atas keterlambatan update fic ini. Kemudian saya sangat berterima kasih kepada semua yang sudah fav atau follow imajinasi saya ini.
Dan untuk yang selanjutnya. Wah, tak kusangka dari semua rev menanyakan tentang suffiks yang kupakai pada Rias dan Sona ya. Tenang saja saya menulis begitu memang ada alasannya. Dan semoga alasan yang dikatakan Naruto diatas dapat memuaskan kalian.
Seperti yang dikatakan Naruto aku ingin dia mengetes anak didiknya dengan hal yang kecil terlebih dahulu untuk melihat bagaimana reaksi mereka. Namun jika masih mengganggu akan saya perbaiki suffiks itu.
Seperti yang telah kalian lihat. Di chap ini terdapat sosok misterius baru yang memiliki semacam urusan terhadap sebuah organisasi, lalu ada interaksi Naruto dengan Grayfia, dan diakhiri dengan pertarungan Zabuza dan Naruto melawan pendekar pedang dari lindungan Kabut. Semoga pertarungannya menghibur.
Aku rasa sudah semua. Dan itu berarti saatnya Review!
The KiddSNo Oppai: Kalau soal itu merupakan misteri yang akan dipecahkan oleh Sona dan Rias. Dengan kata lain akan terungkap seiring berjalannya cerita. Dan ini dah lanjut!
Draknamikaze ss: ini dah lanjut!
Uzumaki-irat: saya tahu kalau mereka berdua itu cewek dan semoga penjelasan diatas menjelaskannya. Makasih udah Review!
Asd: ini udah lanjut!
Mr udin: Semoga saja penjelasan diatas dapat memuaskanmu tentang suffiks itu. Untuk sarannya saya ucapkan terima kasih. Dan siapa yang tidak mengenal kedua author sebelum saya menjadi Author, saya sangat suka dengan karya – karya mereka. Dan soal belajar, bisakah kau buat lebih spesifik? Mungkin alurnya, atau cara pembawaannya, ataukah yang lain. Makasasih dah datang dan meluangkan waktu untuk review.
Aku gila: Aku tahu mereka itu seorang cewek. Dan soal suffiks itu semoga anda puas dengan penjelasan diatas. Makasih dah Rev!
Ahmad. S. syafii.9: Umm….? Makasih dah rev ya...
Ryoko: Mau mutilasi ya? *ngambil buah aneh milik buggy kemudian menelannya. Muahahaha silahkan mutilasi! Dengan kekuatan bara – bara no mi aku tantang kau muahahaha. Yah, fakta itu memang datang begitu saja setelah chap tiga dan setelah memikirkan kalau fakta itu dapat cocok dengan alur cerita. Jadi aku masukan saja. Aku….. tak mau tau apa maksud dari yang 'penting-penting aja' menurut mu. Umm…. Aku tidak mengerti apa yang kau maksud dengan penyerbuan hantu itu. Dan makasih dah revnya!
Baiklah itu semua adalah balasan rev dari saya. Dan jangan lupa sampaikan saran atau kritik kalian melalui review. Karena itu semua dapat meningkatkan kualitas ficku!
Jadi,
Sampai jumpa chap depan!
