Naruto © Masashi Kishimoto
.
Do I Hate You or I Love You © Chiharu Kazawa
.
Pairing: Naruto and Hinata
.
Genre: Romance and Friendship
.
Rate : T(een)
.
Warning: OOC, AU, Typo(s), Hinata RTN, dkk
.
Don't Like, Don't Read!
.
Happy Reading and Enjoy It!
.
.
.
"A-aku mencintaimu, Naruto-kun,"
Pemuda surai pirang itu duduk diam di ranjangnya. Tubuhnya telah terbaluti seragam sekolah musim panasnya. Kedua tangannya saling berpagut erat diatas lututnya. Kata-kata itu, sungguh dahsyat dampaknya pada pemuda itu. Setelah gadis indigo yang sangat ia kenali itu mengucapkannya, ia sama sekali tidak bisa berkutik.
Ia bingung, ia tidak tahu harus berbuat apa. Tidak tahu harus berkata apa karena malam itu adalah pertama kalinya seorang gadis menyatakan cinta kepadanya. Ia sama sekali tidak punya pengalaman cinta, bahkan ia akui ia tidak peka dalam hal cinta. Ia tidak tahu, kalau malam itu, Hinata sudah mencintainya. Sontak membuat ia sangat terkejut.
Setelah Hinata berkata, "Aku tidak menuntut jawabanmu," Hinata langsung pergi, memisahkan dirinya dengan gadis itu. Semenjak itu, ia dan Hinata tidak berbicara, bisa dibilang, Naruto menghindari tatapan dari Hinata dan bila didekati oleh Hinata, ia beralasan pergi.
Bahkan, Naruto meminta Neji untuk menjemput Hinata setelah pesta selesai. Meski Hiashi mempercayai Naruto untuk mengantar Hinata pulang dengan selamat sampai ke rumah.
Naruto tahu, perilakunya mungkin telah menyakiti Hinata. Tapi, itu karena ia tidak tahu harus bersikap seperti apa dan berkata apa. Seakan ia takut, bila ia bicara sedikit saja pada Hinata, hati gadis itu akan bertambah sakit.
Dia Hinata, gadis yang mencintainya bukan gadis yang membencinya seperti dulu lagi. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan pada Hinata. Ia ingin melindungi gadis itu, dan membuat gadis itu bahagia. Apakah itu bisa disebut cinta?
"Naruto! Ayo turun! Kita sarapan bersama!" teriak sang ibu dari lantai bawah. Naruto segera berdiri dari duduknya, terlepas dari lamunannya.
"Iya, bu, aku datang!" pemuda pewaris tunggal keluarga Uzumaki itu berlari kecil keluar dari kamar dan berjalan pelan setiba di tangga.
"Perhatikan langkahmu, Naruto. Jangan berlari-lari," perintah Kushina, sang ibu yang sangat Naruto sayangi. Naruto hanya tersenyum lebar khasnya.
"Itu karena aku menyayangimu, ibu. Apapun yang ibu katakan padaku, aku kan mendengarnya dan segera melakukan apapun yang ibu minta," Naruto mencium pipi kanan ibunya seraya bergumam, "Selamat pagi,"
Sebelum Naruto memisahkan dirinya dengan ibunya, Kushina mengelus pipi anak kesayangannya. "Selamat pagi, Naruto,"
Naruto segera menghampiri ayahnya yang telah duduk di kursi seraya membaca koran langganan ayahnya.
"Selamat pagi ayah," Naruto menempelkan pipinya dengan pipi Minato membuat Minato tidak bisa menahan senyum hangatnya. Ah, keluarga kecil yang harmonis.
"Selamat pagi juga, Naruto. Duduklah, ada yang ingin ayah tanyakan," Minato menilap korannya lalu menyimpannya di samping cangkir kopinya.
Tanpa di suruh dua kali, Naruto duduk di samping kiri ayahnya dan di samping kanan ibunya. "Apa yang ingin ayah tanyakan?"
"Bagaimana dengan kemarin malam? Apa baik-baik saja?" tanya Minato to the point. Mata yang berwarna serupa dengan Naruto, menatap lurus pada anak tunggalnya itu.
Naruto terkesiap. "Mengapa ayah bertanya tentang itu? Kemarin malam baik-baik saja, kok," pertanyaan ayahnya secara tidak langsung membuat ia kembali mengingat pernyataan Hinata. Padahal, ia sudah sedikit melupakan kejadian itu beberapa detik yang lalu.
"Baguslah, masalahnya, kau bersama dengan Hinata, ayah takut ka-"
"Apa ayah tidak percaya padaku?" potong Naruto cepat. "Aku bisa melindunginya dengan usahaku sendiri, jadi ayah tidak perlu khawatir. Semuanya... baik-baik saja," dustanya, meski tidak sepenuhnya ia berbohong. Karena sebelum pernyataan cinta Hinata, semuanya tidak terjadi apa-apa. Damai sekali.
"Ya, semuanya baik-baik saja," ucap Naruto untuk menghibur dirinya sendiri. Kushina adalah ibunya, jelas ia melihat gelagat aneh anak satu-satunya ini.
Pasti ada sesuatu yang terjadi kemarin malam, mata Naruto yang menatap roti selai nanas di depannya dengan kosong telah memberitahui Kushina. Namun, ia hanya bisa terdiam. Biarkanlah Naruto menenangkan pikirannya, sebaiknya jangan di ganggu dulu, pikirnya.
"Sudah, Minato," sela Kushina saat melihat suaminya hendak membuka suara. "Kita sarapan dulu," lalu ia mengoles roti untuk suaminya dengan selai nanas. Minato hanya menuruti apa kata istrinya.
Kushina menepuk pundak Naruto, membuat Naruto tersadar dari lamunannya. "Kau juga harus makan, ayo, kau akan pergi sekolah, kan? Nanti kau bisa terlambat," Naruto mengangguk pelan lalu mengambil segigit roti selai nanas kesukaannya.
.
.
.
Sekarang disinilah, Hinata terduduk di kursinya dengan menyembunyikan sebagian wajahnya di tumpuan kedua tangannya yang ia letakkan di atas meja. Kepalanya mengingat-ingat kejadian malam kemarin.
Begitu banyak yang terjadi. Sehingga membuat kepala Hinata pening. Tetapi bukan rasa peninglah yang membuat Hinata tidak bersemangat di pagi ini. Hatinya yang terlukalah penyebabnya. Yang membuat hatinya sangat tertohok. Sikap Naruto yang Hinata rasa, pemuda itu menghindarinya setelah pernyataan cintanya untuk pertama kalinya dalam seumur hidup.
Pemuda itu selalu membuang muka saat mata mereka bertemu, selalu pergi disaat di dekati olehnya. Naruto juga meminta Neji untuk mengantarnya pulang, Hinata kira Naruto akan mengantarnya pulang.
Hinata menarik suatu kesimpulan.
Naruto tidak menyukainya.. kah?
Gadis itu makin menenggelamkan wajahnya di tumpuan lengannya sambil membuang nafas frustrasi. Hinata takut kalau itu benar. Mengapa ia sangat bodoh? Sudah terlambat ia mengingat seseorang yang begitu penting di masa kecilnya sekarang. Cintanya datang terlambat.
Dari jauh, Ten Ten terus memperhatikan Hinata. Ia beralih menatap gadis musim semi dan anak gadis pemilik toko bunga di hadapannya.
"Tampaknya Hinata sedang mengalami masalah yang berat. Tolong bantu aku, ya. Buat Hinata berkata jujur apa yang dia alami sekarang, aku sangat mengkhawatirkannya. Karena, dia tidak mau berkata apapun padaku sedari tadi," Ten Ten memohon.
"Kalau denganmu yang sebagai sahabatnya saja tidak mau berkata apa-apa, bagaimana bisa kita membuatnya berbicara, kami tidak mau melakukan pemaksaan, maaf," tolak Sakura dengan tegas dan disambut anggukan mantap Ino.
"Tolonglah, kalian pandai membujukkan? Aku tidak pandai melakukannya. Ini demi Hinata,"
Sakura dan Ino saling berpandangan. Lalu melirik Hinata yang terlihat dari jauh, gadis itu akan menangis. Kasihan juga.
"Baiklah," Sakura dan Ino mengangguk bebarengan kepada Ten Ten. Gadis cepol dua itu tersenyum lebar.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju meja Hinata. Sebelum mereka berbicara, Hinata sudah tahu siapa yang mendekatinya. Wangi parfum yang Sakura dan Ino pakai, sangat mudah di kenali.
"Pergilah!" usir Hinata kasar tanpa menatap mereka.
Sakura duduk di depan Hinata disusuli Ino dan Ten Ten duduk disampingnya setelah mereka mengambil dua kursi. "Kumohon, Hinata. Jangan memaksakan dirimu seperti ini. Kalau kau punya masalah, katakan pada kami. Sebisa mungkin kita akan membantumu, ya?" bujuk Sakura dan disetujui Ino dan Ten Ten.
"Iya, Hinata. Kami temanmu, lho. Kau tahu, kita berempat ini, kau, Sakura, Ten Ten dan aku bagaikan satu kesatuan tubuh. Bila salah satu anggota badan merasa sakit, maka anggota badan lainnya juga merasa sakit." Ino berujar dengan senyum cerahnya. Ia berhasil menemukan hipotesis yang pas dengan keadaan mereka sekarang.
"Hinata, katakan pada kami. Jangan membuat kami semakin sedih melihatmu seperti ini," Ten Ten mengangkat suaranya.
Hinata mendongakkan kepalanya sedikit seraya memicingkan matanya tajam menatap ketiga temannya secara bergantian. "Kalian tidak perlu tahu apa masalahku. Cukup hanya aku saja yang menangani masalah ini, jangan ikut campur," sahut Hinata ketus.
Sakura menggelengkan kepalanya. "Tidak! Kami harus membantumu-"
"Ohayou!" mereka bertiga sontak menoleh kepalanya menuju asal suara. Hinata mengangkat kepalanya, matanya terbelalak.
Di daun pintu, Naruto berdiri memperhatikan keadaan kelasnya lalu tatapannya berhenti begitu menatap Hinata, tatapannya kosong dan datar, tidak mencerminkan ekspresi apapun. Naruto memutuskan kontak mata mereka.
Ia berjalan sedikit gontai menuju mejanya. Tidak memperdulikan teman-teman dikelasnya mulai mendekatinya. Itu bagus, ditemani orang-orang terdekat disaat hatinya gamang, mungkin bisa mengobati hatinya.
"Ya ampun, tadi ratu dansa yang mengalami bad mood, sekarang raja dansanya," keluh Ino mengetahui suasana hati Naruto melalui wajah dan gestur tubuh. Ino tidak bisa di bohongi. Ino beralih menatap Hinata yang masih menelungkupkan wajahnya.
"Hinata, apa kau punya masalah dengan Naruto?" tebak Ino asal jeplak. Hinata terperangah, bagaimana bisa Ino tahu?
"Saat kemarin malam setelah kau keluar dari kolam ikan, tampaknya keadaan kau dan Naruto agak berubah. Apa yang-"
"Ino!" gertak Sakura memotong ucapan Ino yang kelewatan batas keinginan tahunya. Ino mendelik di tatap tajam Sakura lalu berbalik berjalan menuju mejanya dengan kesal. Bad mood Naruto dan Hinata telah menular kepada gadis Yamanaka itu.
Sakura membuang nafas sebal melihat sikap Ino. "Gadis itu selalu ikut campur urusan orang lain. Rasa penasarannya tinggi. Hinata, mungkin apa yang dikatakan Ino benar, kalau kau punya masalah dengan Naruto sekarang atau kau punya masalah hal lainnya, apapun itu, selesaikanlah dengan caramu sendiri. Jika kau butuh bantuanku, katakanlah. Ino juga akan membantumu. Jangan pikirkan sikap Ino tadi, dia hanya sedikit kesal, dia akan kembali seperti semula,"
Hinata mengangguk mendengarkan penuturan Sakura yang panjang lebar itu. Dia menghela nafas. Jadi merasa bersalah karena telah membuat Ino kesal. Niat gadis itu baik, hanya untuk membantunya menangani beban masalah. Tapi, masalah ini berbeda, biarlah dia sendiri yang menanganinya.
"Tidak apa-apa Sakura-chan, aku minta maaf, ini semua salahku," Hinata mengulas senyum tipis. Sakura ikut tersenyum melihatnya, tangannya menggenggam pundak Hinata dan meremasnya lembut seolah sedang memberikan saluran kekuatan dan dukungan darinya.
"Um! Ini juga salahku, karena aku tidak bisa menghentikan Ino tadi.." Hinata menggenggam tangan Sakura di pundaknya, ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar, Hinata ingin memberitahukan kepada Sakura, bahwa dia baik-baik saja sekarang.
Sakura mengerti. Ia mengangguk dan berjalan menuju mejanya, bersiap menghadapi pelajaran di jam pertama kelasnya. Begitu juga dengan Ten Ten dan Hinata.
Sesekali, Hinata melirik Naruto. Pemuda itu belum ingin berbicara dengannya. Padahal, setiap pagi di kelas, mereka selalu meributkan hal yang tidak penting.
'... Apa yang harus ku lakukan...?'
.
.
.
Matahari mulai menaik seperempat di langit. Anko-sensei mulai berjalan keluar ke kelas. Naruto yang melihatnya, menjulurkan lidahnya mengejek ke punggung gurunya itu. Namun secepat kilat, Anko-sensei berbalik mendelik Naruto dengan mata ularnya. Naruto cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil bersiul-siul, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Hinata terkekeh ringan melihatnya dengan wajahnya yang merona.
Setelah Anko-sensei keluar dari kelas, laki-laki dengan tatto segitiga terbalik menghampiri Naruto. Dia menepuk pundak Naruto keras hingga kepalanya maju kedepan sedikit dan disusuli geraman rubah Naruto.
Hinata terus memperhatikan Naruto, melihat senyumnya melebar, lirikan matanya, sorotan matanya yang kadang menunjukkan kegelisahan kadang kemarahan kadang kehangatan. Hal yang Naruto lakukan walau kecil, tak pernah luput dari matanya.
Mungkin ada pepatah, cinta datang dari mata turun ke hati. Tapi Hinata sudah jatuh cinta pada pemuda itu, dan sekarang dia makin tergila-gila pada Naruto.
Ten Ten yang melihat tatapan Hinata yang tidak pernah lepas dari Naruto, mengundang segudang pertanyaan. Ten Ten tidak tahu tentang pernyataan cinta Hinata kepada Naruto. Gadis Hyuuga itu belum menceritakannya.
Ia menarik sudut bibirnya tinggi menyerupai seringai. "Ohh~ada yang jatuh cinta~" celetuk Ten Ten, sengaja membuat Hinata merona, kalau memang benar.
Tapi, Hinata seolah tidak mendengarkan celetukannya. Mata dan telinganya terkunci kuat pada pesona Naruto. Hatinya juga telah terukir nama pemuda itu dengan darahnya sendiri, tidak bisa sembarang di hapus. Hah, jatuh cinta.
Ten Ten hanya menggelengkan kepalanya lalu beralih menatap ponsel, ia sedang mengirim pesan kepada Neji. Yang isinya, adik sepupumu telah jatuh hati pada mawar kuning. Entahlah, Neji mengerti atau tidak isi pesannya yang menyiratkan sesuatu. Pesannya terlalu ambigu.
"Oy! Naruto! Sepulang sekolah, kau mau latihan basket di ruang Gym?" tanya pemuda dengan tatto segitiga terbaliknya. Naruto terdiam sebentar.
Latihan? Sekarang? Oh iya juga.. Kenapa aku bisa kelupaan?, batinnya. Lihat Hinata, dampak pernyataan cintamu sangat besar pada Naruto.
"Tapi..." ucap Naruto menggantung, tangannya ia lipat di depan dada.
"Kenapa? Kau ada urusan lain?" selidik Shikamaru dengan sebelah alisnya menaik.
Kedua temannya tidak tahu apa yang Naruto rencanakan sepulang sekolah ini. Setelah berpikir keras, ia ingin mengajak Hinata pergi ke taman berdua. Ia ingin mengatakan apa yang ia rasa dan mengembalikan hubungannya dengan Hinata seperti dulu lagi. Naruto sudah memikirkannya matang-matang dan menerima resikonya. Dijauhi Hinata. Ia tidak mau tersiksa batin seperti ini dan dia juga tidak mau menyiksa hati gadis itu karena cintanya di luntang-lantungkan oleh Naruto ke udara. Tanpa kepastian yang jelas.
"Naruto, jangan bilang kalau kau tidak ingin ikut latihan, ya! Peraturan eskul basket sekarang sudah berubah. Bagi anggota yang tidak ikut latihan akan dikenakan denda berupa berlari dilapangan 100 putaran," ujar Shikamaru setelah Naruto tidak kunjung mengangkat suaranya.
"Apa?!" Naruto shock.
"Siapa yang membuat peraturan itu?! Guru alis tebal?!" pekik Naruto.
Shikamaru mengangguk mantap. Naruto menepuk dahinya sebal bercampur gusar. Oke, secara mendadak ia harus batalkan rencana untuk berkencan-ralat-berjalan berdua dengan Hinata ke taman sekarang.
Ia lebih baik denda uang daripada denda berlari di lapangan yang luasnya bak stadion bola internasional di negara kelahirannya.
Hah, maafkan aku Hinata, batinnya penuh sesal.
"Aku akan latihan," lirihnya, kedengaran sekali kalau ia terpaksa ikut latihan sepulang sekolah nanti.
Naruto melirik Hinata dari sudut matanya. Terkejut, mendapati Hinata menatapnya lurus. Atau Hinata menatap Kiba dan Shikamaru? Tapi... tunggu, Naruto kembali menelisik arah pandangan Hinata. Jelas sekali kalau Hinata menatapnya tidak berkedip.
Naruto cepat menangkup kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya, sikutnya ia tumpukan di atas meja. Menutupi wajahnya yang bersemu merah.
Ia jadi tidak enak melihat Hinata. Mata lavender pucat itu, tersirat rasa penantiannya. Naruto menghela nafas.
.
.
.
Bel pulang sudah berbunyi 15 menit yang lalu. Hinata mengemas alat-alat tulisnya ke dalam tas ungu gendongnya tidak bertenaga. Sungguh, ia tidak kuat menghadapi rombongan siswa-siswi di sekolahnya dan mengerubunginya dengan segala macam pertanyaan di kantin beberapa jam yang lalu.
"Kyaa! Hinata-senpai! Kemarin malam kau sangat cantik!"
"Apa kau dan Naruto berpacaran?"
"Mengapa hubungan kalian tiba-tiba cepat berubah? Apa kalian melakukan sesuatu sebelumnya?" pertanyaan yang ini membuat Hinata pusing. Sesuatu apa maksudnya?
"Kalian pasangan dansa yang serasi! Kalian benar-benar pacaran, kan?"
Yang dilakukan Hinata hanya menggeleng-geleng saja. Naruto juga bernasib sama sepertinya. Tapi Hinata tidak tahu, apakah Naruto ditanyai sama sepertinya atau tidak. Ia tidak bisa mendengarnya dengan banyak suara di telinganya tadi.
Hinata meneguk salivanya, pahit. Mereka tidak tahu kalau hatinya serasa di remas kuat mendengar pertanyaan itu. Pasangan serasi? Berpacaran? Hinata menggeleng. Tidak. Sampai saat ini pun, pemuda itu tidak memberinya jawaban apapun. Pemuda itu masih seperti kemarin malam, menjauhinya. Meski ia bilang tidak menuntut jawabannya, tapi apa salahnya sedikit... berharap.
Naruto menggendong tasnya, sesekali ia melirik Hinata. Kakinya ingin sekali melangkah mendekati gadis itu dan mengajaknya ke taman berdua. Naruto berniat ingin izin, tapi tahu sendiri, guru Guy sangat tidak menerima penolakan latihan berupa izin kecuali sakit. Dasar, umpat Naruto dalam hati.
"Halo, murid-murid XI-C." Naruto mengalihkan tatapannya ke sumber suara, Hinata pun begitu.
Pemuda surai perak ikal yang memiliki mata biru pucat, berdiri di depan pintu. Ia mengedarkan matanya ke segala penjuru arah. Saat matanya menangkap yang ia cari, ia mengulas senyum tipis.
"Toneri." suara dingin dan datar, mengalihkan tatapannya.
Naruto berjalan menuju pria yang bernama Toneri itu dengan dahi yang berkerut, Sasuke, Kiba dan Shikamaru turut berjalan di sampingnya.
"Uzumaki-san, kau belum pulang?" tanya Toneri berbasa-basi.
"Ada urusan apa kau kesini?" Naruto mengabaikan pertanyaan Toneri. Ia kesal melihat wajah sok innocent Toneri itu.
Flashback On
Outsutsuki Toneri, Naruto tidak akan melupakan nama itu dan wajahnya. Toneri dikenal sebagai ketua Taekwondo di sekolahnya. Dulu, Naruto dan Toneri adalah anggota Taekwondo, mereka sering bertanding bela diri untuk meningkatkan kemampuan bela diri mereka saja. Tidak ada kekalahan atau kemenangan.
Tapi suatu hari, setelah Toneri dilantik sebagai ketua Taekwondo, Toneri meminta Naruto bertanding dengannya di ruang Gym. Ruangan itu telah dipenuhi banyak murid-murid di tribun. Naruto menyetujuinya tanpa merasa curiga atau apapun.
Mereka bergulat dan saling menunjukkan kemampuan mereka masing-masing. Dan akhirnya, Naruto kalah di atas kepalan tangan Toneri. Dengan seringai yang melebar, Toneri berdiri. Kedua tangannya ia rentangkan disertai dadanya dibusungkan kehadapan para penonton. Semua orang bertepuk tangan dan bersorak ria.
"Inilah, Uzumaki Naruto yang dikenal sebagai pembuat onar, yang katanya ditakuti 100 orang pria besar. Tapi kemana kemampuannya sekarang? Dia bahkan terbujur kaku dengan tanganku sendiri! Dia lemah! Tidak ada apa-apanya."
Naruto terkejut bukan kepalang. Tega-teganya Toneri menghancurkan harga dirinya di depan semua murid di sekolahnya. Bukankah ajang pertandingan ini hanya pertandingan biasa yang dilakukan oleh mereka, tidak ada kekalahan juga tidak ada kemenangan. Ternyata ini hanya akalan buluk Toneri. Naruto tidak tahu, mengapa Toneri merencanakan ini?
Naruto kesal, ia benci pada Toneri. Dan mulai saat itu, Naruto mengajukan diri untuk keluar dari eskul yang ia cintai sedari kecil, Taekwondo. Daripada harga dirinya sebagai pria di injak-injak oleh Toneri.
Naruto masuk ke eskul basket, dan menempuh jalan kehidupannya yang baru. Meski ia sekarang sebagai atlet basket yang di gila-gilai oleh para siswi di sekolahnya, tapi Taekwondo tetaplah olahraga yang dia cintai.
Flashback OFF
"Apa urusanku disini, katamu?" Toneri melempar pertanyaan Naruto kembali. Lalu ia mendengus. Bibirnya berusaha tersenyum manis.
"Aku disini untuk bertemu Hinata," bisiknya pelan. Naruto mengangkat sebelah alisnya bingung juga penasaran.
"Untuk apa kau ingin bertemu Hinata?" tanya Naruto, ia tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Toneri menyeringai, ia berjalan semakin dekat dengan Naruto. Tepat setelah bibirnya berada dekat dengan telinga kanan Naruto, ia berbisik, "Aku tahu.. kemarin malam di acara pesta ultah Uchiha, Hinata.. menyatakan cinta padamu, kan?"
Naruto terbelalak. Kiba dan Shikamaru juga ikut terbelalak, berbeda dengan Sasuke yang tidak menunjukkan sedikitpun keterkejutan. Mereka bertiga ternyata dapat mendengar bisikan halus Toneri.
Naruto mendorong bahu Toneri menjauh. Toneri segera menyeimbangkan tubuhnya, seringainya belum memudar. Mengapa si brengsek ini bisa tahu? Kukira, di kolam ikan kemarin tidak ada siapapun, hanya ada aku dan Hinata, pikirnya bertanya-tanya.
"Iya. Lalu kenapa?" desis Naruto.
"Jadi itu benar, Naruto? Kenapa kau tidak bilang kepada kami sebelumnya?" protes Kiba.
"Maafkan aku, Kiba. Ak.." lidahnya hampir saja mengatakan permasalahan batin yang ia rasakan. Ia bisa saja dengan senang hati menceritakannya pada Kiba, dan yang lainnya. Tapi jangan di hadapan Toneri.
Naruto melirik ke belakang, Hinata dan Ten Ten belum beranjak meninggalkan kelas dan malah melihat perang dingin antar Naruto dan Toneri. Apa yang mereka lakukan disini?, batin Naruto.
Toneri mengikuti arah lirikan Naruto. Ia melambaikan tangannya kepada gadis indigo, "Hai, Hyuuga-san,"
Hinata sedikit tersentak disapa Toneri, ia menunduk dalam karena ditatap Toneri lekat-lekat. Naruto langsung beralih menatap Toneri geram dan mencengkram kerah baju Toneri.
"Keluarlah kau dari sini dan pulang!" teriak Naruto tepat di depan wajah Toneri.
"Wow, wow, tenang Uzumaki-san. Kau ingin membunuhku?" desis Toneri seraya berusaha melepaskan genggaman Naruto.
Sekali sentakan kasar, Naruto melepaskan genggamannya. Tangannya terkepal kuat.
"Hyuuga-san sangat cantik di pesta kemarin. Aku langsung jatuh hati padanya," ungkap Toneri dengan santai. Naruto mendelik tidak suka.
"Kau pasti bingung mendapatkan pernyataan yang tiba-tiba dari Hyuuga-san, aku pun sama." Naruto terdiam mendengarkan, karena itu benar.
"Aku benar, kan? Heh, itu benar, karena kalian saling membenci. Aku tidak menduga kalau Hyuuga-san malah jatuh cinta pada orang yang dibencinya." ujar Toneri pelan.
"Kalau kau tidak menyukai Hyuuga-san. Bagaimana..." Toneri menggantungkan perkataannya, memancing rasa penasaran Naruto.
"Kalau aku jadikan dia permaisuriku, hm?" Naruto terperangah. Kedua tangannya terkepal dengan gemetar.
Naruto tidak kunjung memberikan respon. Toneri mengambil kesempatan dan cepat mendatangi Hinata sembari mengulas senyum terbaiknya, berusaha manis di depan gebetannya.
Dengan gerakan patah-patah, ia menengok ke belakang. Hinata terlihat malu-malu di depan Toneri. Rasa kesal dan muak langsung mengerubungi hatinya. Ia ingin melarang Toneri mendekati Hinata dan membawa Hinata pergi kemana saja asal jauh dari pria berambut perak itu.
Tapi ia juga sadar. Ia hanyalah teman Hinata, ia tidak berhak melarang... ia juga tidak berhak cemburu. Cemburu? Naruto mendengus. Aku tidak cemburu, batin Naruto menyangkal.
Rasa sesak sangat mendesak di dada mendengar Hinata mengiyakan ajakan Toneri untuk pulang bersama. Naruto langsung melenggang pergi, ia sangat marah. Kiba, Shikamaru dan Sasuke langsung pergi mengikuti Naruto.
Oy! Naruto!" panggil Kiba dan Shikamaru.
Hinata menatap kepergian Naruto sendu. Gadis itu menghela nafas sedih. Di tatapnya Toneri yang masih setia mengulurkam tangan kanannya kepada Hinata, masih menunggu sambutan uluran Hinata. Mata lavendernya ia tolehkan ke samping, Ten Ten menggelengkan kepalanya pelan agar tidak tertangkap penglihatan Toneri.
"Tidak apa-apa, Ten Ten. Aku sangat mengenali Outsutsuki-san," Toneri melebarkan senyumannya. Ten Ten menghela nafas tidak peduli.
Hinata mengulurkan tangan kanannya di jari jemari Toneri ragu. Toneri langsung memagutnya erat dan menggiringnya keluar kelas, diikuti Ten Ten di belakangnya.
Tangannya yang di genggam Toneri berasa dingin dan hampa. Tidak sebanding dengan genggaman tangan Naruto yang hangat dan menenangkan.
"Naruto! Berhenti!" pemuda surai raven mencuat kebelakang menarik pundak sahabat pirangnya kasar sehingga pemuda itu berbalik menghadapnya.
"Kau ini kenapa? Kenapa kau marah tiba-tiba seperti ini?" tanya Sasuke sedatar mungkin untuk menutupi rasa kekhawatirannya meski sebenarnya ia sedikit khawatir.
Naruto enggan menatap sepasang onyx di depannya. "Aku tidak tahu, Teme... aku hanya kesal, aku... Ah!" Naruto menapik lengan Sasuke di pundaknya dan berbalik kembali berjalan menuju Gym.
"Kau tidak pandai berbohong, heh, Naruto? Sudah jelas sekali kalau kau ini menyukai Hinata," ucap Kiba setelah pemuda itu berhasil menyamai langkah panjang Naruto yang tergesa-gesa.
"Saat ini, aku tidak ingin mendengarkan siapapun. Biarkan aku sendiri." balas Naruto dingin. Kiba berdecak sebal.
Kiba menghadang jalan Naruto dengan berdiri di hadapannya. "Kali ini saja, dengarkan aku. Toneri sudah jatuh cinta pada Hinata semenjak gadis itu keluar dari salah satu kamar kemarin malam. Aku mengetahuinya dari caranya menatap Hinata. Apa kau mau kalah lagi dari Toneri?"
Naruto melebarkan mata safirnya.
.
"Tidak, Ten Ten. Aku... sudah menyerah dengan Naruto. Aku ingin membuka hatiku pada Outsutsuki-san." ujar Hinata lemas. Saat ini, ia dan Ten Ten menunggu Toneri keluar dari kelas XI-A, pemuda itu hendak mengambil ponselnya yang ketinggalan.
Hinata sudah menceritakan pada Ten Ten semuanya tentang pernyataan cintanya dan keluh kesahnya terhadap sikap Naruto yang acuh tak acuh padanya.
"Hinata, aku kagum padamu karena kau berani berada di medan perang, tapi bukan berarti cuman hanya badai salju bisa menyurutkan langkahmu dan keberanianmu untuk melawan musuh!" jelas Ten Ten.
Hinata mengernyitkan keningnya di dalam ketundukan kepalanya. "Apa maksudmu?"
"Kau pasti tahu maksudku, bodoh. Lawan kehendak hatimu yang hampir menyerah itu, oh tuhan. Jangan biarkan hatimu berkabut asap keputusasaan," Ten Ten memegang kedua pundak Hinata, memaksa Hinata menatapnya.
.
"Kiba. Kau lihat apa yang katakan Hinata pada Toneri di kelas tadi? Ia bahkan tidak segan-segan menerima ajakan Toneri untuk pulang bersama. Kalau aku benar-benar berada di hatinya, dia tidak mungkin menerima ajakan si brengsek itu!" emosi Naruto meluap-luap ketika mengingat kembali kejadian beberapa waktu lalu di kelasnya.
Kiba menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali dan mendesah. "Itu hanya acara pulang bersama saja,"
"Acara pulang bersama yang bergantikan acara kencan! Aku..."
"Kau takut?" potong Sasuke cepat. Naruto terdiam, berusaha keras ia meneguk ludahnya yang terasa pahit.
"Pergilah, dan tarik Hinata bersamamu, sebelum semuanya terlambat. Dia pasti tidak akan menolakmu, Dobe." sambung Sasuke tenang.
Naruto memejamkan matanya. Membiarkan rintik-rintik hujan membasahi surai pirangnya dan menembus ke ulu hatinya.
.
"Yah.. hujan," cicit Toneri berpura-pura ngambek. Hinata hanya menundukkan kepalanya seolah tidak mendengarkan. Ia menatap kosong rumput-rumput di bawahnya yang mulai di basahi air dari langit yang semakin lama, semakin deras.
Ten Ten sudah pergi, karena arah jalan pulangnya dengan Hinata berbeda arah. Entah apakah ini keberuntungan atau kesialan untuk Hinata, rumah Toneri satu arah dengannya.
"Hyuuga-san, aku akan ke ruang loker ya, aku ingin mengambil payung dulu, kau tunggu disini. Jangan kemana-mana." perintah Toneri yang disambut anggukan patuh Hinata.
Ia mengangkat kepalanya, menatap langit dengan sendu. Mendung. Persis seperti suasana hatinya. Rasanya perih. Kepalanya terngiang-ngiang ucapan Ten Ten sebelum gadis itu pergi.
"Hinata, terkadang perempuan harus agresif untuk mendapatkan cintanya,"
"Jangan menyerah. Aku yakin sekali, kalau Naruto juga merasakan hal yang sama padamu. Aku bisa melihatnya sewaktu dia keluar dari kelas tadi,"
"Tolak ajakan Toneri itu. Pergi dan datanglah pada Naruto."
Hinata menghela nafas panjang. "Apa aku bisa...?"
Hinata sibuk dengan pemikirannya, tidak disadari Toneri sudah berada di sampingnya. Suara kibasan khas payung di buka membuyarkan lamunan Hinata.
"Ayo Hyuuga-san," ujar Toneri sembari hendak menggenggam tangan kiri Hinata lembut.
Plak!
Hinata menangkis tangan kanan Toneri kasar. Membuat Toneri berkerut heran, "Hyuuga-san?"
"Maaf, Outsutsuki-san. Tapi, aku sudah mencintai orang lain. Dan aku tidak ingin meninggalkannya." setelah mengucapkan itu, Hinata berlari menerobos hujan.
Tidak peduli rembesan air hujan yang dinginnya menusuk tulang. Tidak peduli teriakan Toneri yang juga mengejarnya. Hanya satu tujuannya sekarang, menemui Naruto.
.
Mulutnya megap-megap, ia berlari melawan angin dan hujan yang semakin liar menyerangnya. Naruto tidak peduli sudah beberapa kali ia berlari dan terus tersandung batu di bawahnya. Mata safirnya berkabut, bukan karena rinai-rinai hujan yang mengaburi pandangannya. Gadis indigo yang ingin sekali ia temui sukses membuat mendung di pelupuk mata safir indah itu.
Aku sudah berbuat kesalahan yang besar. Tidak akan, tidak akan aku ulangi lagi, batinnya berusaha tenang walau emosinya tidak menentu sekarang.
Terlihat dari jauh, sebuah titik hitam mendekat dengan cepat, lama kelamaan membentuk siluet yang sangat ia kenali. Matanya terbelalak, ia memelankan tempo larinya hingga menyerupai berjalan.
Gadis indigo disana juga memperlambat laju larinya. Nafasnya terengah-engah. Rambut indigonya lepek karena terkena hujan. Blazer yang ia kenakan mengerut hingga memperlihatkan tonjolan tubuhnya tertentu.
Keadaan Hinata sama seperti Naruto, namun pemuda itu lebih berantakan. Air mata dan air hujan bercampur di pipi tannya yang dihiasi tiga buah kumis tipisnya. Air mata itu tidak terlalu kentara di pandangan Hinata karena disamari air hujan.
Kini mereka saling berhadapan di bawah langit yang tidak bersahabat. Tidak ada satupun dari mereka yang memulai bicara. Mereka sibuk mengatur nafas mereka. Dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya yang entah kenapa terasa berat di hirup.
"Naruto..." panggil Hinata lembut. Naruto memejamkan matanya, menikmati suara gadis di depannya di antara suara rembesan air hujan yang menghantam ke bumi. Sangat membuai.
"Hinata..." balas panggil Naruto setelah membuka matanya. Memperlihatkan matanya yang kosong. Entah pikirannya pergi kemana.
Hinata tidak tega melihat Naruto seperti itu. Ia segera mendekati Naruto dan mendekapnya erat. Naruto sedikit limbung karena pelukan Hinata yang mendadak namun segera menyeimbangkan berat badannya dan Hinata.
Hinata meremas kuat kemeja putih basah yang Naruro kenakan. Ia menangis sejadi-jadinya disana. Perlahan sebelah tangan kekar Naruto angkat dan menarik punggung Hinata untuk semakin dekat dengannya sehingga tidak ada jarak sama sekali dengan Hinata, sedangkan sebelah tangannya, dia elus rambut Hinata dengan hati-hati.
Naruto menyelungsupkan kepalanya di antara lekuk leher dan pundak Hinata. Menghirup aroma lavender sepuasnya. Dan mengklaimnya, hanya Naruto yang dapat menghirup aroma khas Hinata sedekat ini.
"Aku... tidak peduli," Hinata membuka suaranya di sela-sela isakkannya, Hinata masih di posisi memeluk Naruto.
"A-aku tidak pe-peduli kalau kau me-mengacuhkanku... ta-tapi kumohon... jangan menjauhiku seperti ini... aku tersiksa..." ungkap Hinata lirih, menahan sesak.
Naruto melonggarkan pelukannya, di tatapnya Hinata dalam-dalam. Menelisik, seolah sedang menelanjangi isi sepasang mata bulan di depannya. Naruto menghapus air mata Hinata lembut hingga meninggalkan jejak di bawah matanya.
Hinata terpejam, merasakan sentuhan dingin dan lembut tangan Naruto di wajahnya. Sayangnya, sentuhan itu dingin. Hinata menangkap tangan Naruto yang lebih besar dari tangannya di wajahnya itu. Dia tangkupkan tangan itu dengan kedua tangannya, berusaha dapat mengalirkan kehangatan tubuhnya yang masih tersisa walau sedikit. Meski kenyataannya, Hinata menggigil kedinginan.
"Bagaimana bisa aku mengacuhkanmu? Sedangkan hatiku tidak ingin kehilanganmu. Selalu ingin di dekatmu." bisik Naruto pelan.
Tangis Hinata meledak kembali. "Ta-tapi sikapmu..."
"Hinata... aku yang terbodoh." potong Naruto tanpa memberikan Hinata kesempatan berbicara. Kali ini, biarlah ia mengeluarkan unek-uneknya.
"Aku yang terbodoh karena meninggalkanmu, mengacuhkanmu. Aku tidak bisa membuka hatiku dan menyelami hatiku sendiri hingga aku mendapatkan balasannya. Air matamu..." Naruto mengusap kedua pipi Hinata saat air mata itu kembali mengalir.
"...itu balasannya. Dan, melihatmu bersama Toneri... itu juga balasan atas kebodohanku. Aku merasa sakit melihatnya. Aku tidak akan memaafkanku sendiri, Hinata," Naruto makin menatap Hinata intens.
"Aku ingin terus melindungimu selamanya, aku ingin kau hanya milikku seorang. Karena aku mencintaimu." senyum cerah khas Naruto terulas di bibir pemuda itu.
Hinata menganga, matanya terbelalak kemudian. Tidak disangka, cintanya disambut hangat. Senyum manis itu muncul.
"Naruto..." entah siapa yang memulai duluan, mereka saling menipiskan jarak mereka. Hidung mereka saling bersentuhan. Nafas mereka bersatu padu dan melahirkan uap panas di udara.
Cup!
Di bawah air hujan yang mulai mereda. Kedua pasangan itu memadu kasih, tidak ada seorang dari mereka yang ingin melepaskan ciuman mereka. Hinata mengepal gemetar di sisi roknya saat lidah Naruto menjilat bibir bawahnya singkat, sebagai tanda usai ciuman mereka.
Perlahan, mata lavender pucat itu keluar dari persembunyiannya. Semburat merah muncul di kedua pipi tembem Hinata. Naruto tersenyum lebar dengan kedua pipinya yang merona tipis.
Satu hal yang mereka rasakan sekarang. Kebahagiaan hati dan batin. Pelangi masih malu-malu keluar dari balik awan yang mulai mendapatkan warna putih cerahnya kembali, pelangi itu seolah tersenyum cerah kepada mereka.
Tangan mereka saling berpagut erat. Dan saling berjanji, tidak akan melepaskan ikatan di antara mereka.
.
.
.
To Be Continued
Author Note:
Oke, langsung balasan review chap 9 aja ya^^ cekidot!
Balasan Review:
Balasan review bagi yang gak log in, yang log in, cek kotak PM kalian ya~^^
Guest : Nie udah di sambung^^ heheh.. makasih udah nge-review :)
naruto boruto : gak lah, iya, saya juga ngerasa kasian ama Hinata^^ makasih udah nge-review :)
Guest 2 : makasih udah bilang keren #tersipu.. ini udah update^^ makasih udah nge-review :)
kiara-kei : makasih udah bilang keren #tersipu.. chap selanjutnya bakal end^^ heheh... makasih udah nge-review :)
n : ini udah di lanjut^^ makasih udah nge-review :)
PiisuKe : akhhh, masa berbulan-bulan tsihh? °o° hehe iya, gak apa-apa dirimu tidak log in^^.. makasih udah nge-review :)
YuyuYu : heheh iya^^ .. ini udah di update^^.. makasih udah nge-review :)
Abi : ini udah di update^^ .. makasih udah nge-review :)
Yuka : masa? wahh... diam-diam dirimu suka men-stalker aku ya~ hehe #peace ^^ .. aduhh.. maaf kalau chap 9 lama di update, ya T_T gomen~ .. ini udah di update^^ makasih udah nge-review :)
shutimboel : hehe jadi malu dibilang fanfic abal saya ini keren^^ .. o ya akan saya buat fanfic BoruHima dkk, tapi saya gak janji bakal cepet^^ wahh, saya belum liat filmnya, di youtube ada gak ya? nanti bakal saya cek di youtube, ahh.. oke, ini udah di lanjut^^ makasih udah nge-review :)
LoveNaruHinaNaru : iya, ini udah di lanjut, heheh^^ .. aminnn, makasih udah nge-doa'in saya :* .. dan, makasih udah nge-review :)
.
Ohya, makasih buat semua para reader yang udah nyempatin diri buat Review, Fave dan Follow^^ :*
.
Oke, saya rasa sudah cukup balas-balasannya. Saya undur diri dulu^^ .. Jaa \^^/
.
27.12.15
.
Mind to Review?
