Yukeh: Saya suka chapter ini! Realy, I love it best! Entah mengapa. Disini mudah-mudahan suasana angst-nya lebih kerasa, oke? ^^b saya bela-belain nunda belajar kimia buat UNAS besok buat update nih fic *ngeles, padahal dari awal juga gak mood belajar*. Met baca!! ^^

Warning: Chapter ini lebih dialognya lebih sedikit. Oke? ^^v

Last story:

Ia hanya ingin agar hidup lebih lama lagi.

Ia hanya ingin tak kalah oleh penyakit dan derita ini.

Ia ingin ia memenangkan semua.

Karena apa?

Karena ia ingin terus mendekapnya.

Karena ia ingin terus menjaganya.

Terus. Dan tak akan bosan.

Harapan yang telah tumbuh kuat dalam dada. Harapan baru yang membuatnya bisa semangat lagi menghadapi semua.

Terdengar utopis memang.

Tapi, jika sudah merasakan apa yang tengah Sasuke rasakan, siapapun pasti akan mengerti akannya

- oOo-

Naruto © Masashi Kishimoto

Alpha Centauri © Uchiha Yuki-chan

Rated: T

Warning: AU, more description, less dialogue, no yaoi scene contained. Don't like? Just don't read.

-oOo-

Sudah menjadi suatu pemandangan yang wajar jika melihat seorang gadis berambut indigo terduduk sendiri di bawah pohon Sakura yang kini sudah benar-benar kehilangan seluruh keindahan daunnya yang berwarna merah muda itu. Sudah menjadi suatu hal yang biasa pula jika Sasuke berniat untuk melangkah dan menghampiri gadis itu. Terduduk di sampingnya. Mengajaknya berbincang-bincang sekedar untuk menemani gadis itu menunggu jemputan dari keluarganya.

Meski tak lama, tapi lama kelamaan hal itu sudah menjadi kebiasaan. Meski hanya beberapa menit bersama, namun bisa merubah beberapa aspek dari kehidupan masing-masing. Nyaris tak ada hari tanpa bertemu satu sama lain. Nyaris tak ada hari tanpa sekedar bersapa. Nyaris tak ada hari tanpa berbicara dan tertawa.

Semua terjadi begitu saja. Dan keduanya sama-sama menikmatinya.

"Ahahaha," Sasuke tertawa lirih saat ia mendengar cerita dari Hinata, "Aku malah punya satu cerita yang lebih memalukan dari itu."

Hinata mengangkat kedua alisnya, pertanda bahwa ia mulai tertarik akan ucapan Sasuke. Dan tentu saja, ekspresi yang ditunjukkan gadis itu membuat Sasuke senang.

"A-apa?" ujar Hinata.

Sasuke menggeser tubuhnya untuk lebih dekat ke Hinata. Perlahan, ia sandarkan kepalanya ke pundak kiri gadis itu.

Meski sangat kaget, namun lama kelamaan Hinata membiarkannya. Perasaan nyaman dan tenang, selalu merasuk ke relung jiwanya tiap kali pemuda di sampingnya ini berada di dekatnya. Hangat. Namun juga menyejukkan. Mirip angin yang berhembus di musim semi.

"Aku tidak akan menceritakannya," ujar Sasuke sembari tersenyum kecil. Membuat Hinata mau tak mau sedikit menekuk wajah sebal.

"Kau curang!"

Sasuke tertawa lirih. Tertawa di saat tiba-tiba hatinya merasa sakit. Tertawa di saat pikirannya sontak memikirkan yang lain.

Perlahan muncul keinginan kuat di hati ini. Muncul keinginan yang tanpa ia sadari keberadaannya. Keinginan yang saat itu menyentuh otaknya.

Ya, Keinginan untuk menjaganya. Keinginan untuk mendekapnya. Tak Sasuke relakan jika dia pergi. Tak akan Sasuke biarkan melihatnya rapuh. Tak akan didiamkannya bintangnya itu memudar. Akan ia genggam. Akan ia simpan. Hanya miliknya.

Dalam hati, Sasuke menahan pilu. Di balik tawa lirihnya, dia meredam perih.

Tuhan, adakah waktu baginya? Adakah harapan itu akan terkabul kali ini? Sekali saja!

"Sekali saja!" batin Sasuke, "Sekali saja, jangan biarkan harapan terlepas dari genggamanku. Sekali saja."

-oOo-

Hinata menatap ke depan dengan pandangan kosong. Ia kini tengah berdiri di teras Bimbel, menunggu jemputan. Ingin sekali dia menunggu jemputan di bawah naungan pohon Sakura. Namun tak ada yang bisa ia mintai tolong. Lagi-lagi ia harus keluar lebih lambat karena beberapa muridnya meminta waktu tambahan padanya untuk menjelaskan pelajaran lebih jauh lagi.

Namun keheningan itu terpecah oleh pekikan kecil Hinata saat ia merasakan dua pasang tangan kini tengah melingkari perutnya.

Seulas senyum kecil tersungging di bibir Hinata. Tentu saja ia tahu, siapa manusia yang berani memeluknya secara diam-diam begini. Siapa orang di bumi ini yang ia biarkan untuk merengkuhnya, untuk selalu mengagetkannya dengan pelukan curian yang kerap ia lakukan.

"Sasuke, kun?" ujar Hinata sembari memegang kedua telapak tangan Sasuke yang merengkuhnya dari belakang.

"Kau akhir-akhir ini pulang telat, Hinata," ujar Sasuke sembari meletakkan dagu di atas pundak gadis itu.

Ketika angin semilir berhembus, Hinata merasakan tangan Sasuke semakin erat menekan ke perutnya. Semakin hangat mendekapnya. Semakin nyaman pula Hinata merasakannya.

Namun bukan angin itu yang menyebabkan Sasuke mengeratkan pelukannya. Bukan karena angin itu pula Sasuke semakin dalam menyandarkan kepalanya di pundak gadis itu.

Perasaan nyaman. Perasaan tak ingin merubah keadaan. Biar tetap seperti ini. Biar selamanya menjadi begini.

Ingin ia pegang tangan mungil itu selamanya. Ingin ia rapat-rapat mendekap kepala kecil itu di depan dadanya. Ingin ia mengungkapkan semua. Semua! Betapa Sasuke tengah merasa sebagai orang yang bodoh dan linglung. Betapa Sasuke tengah merasa tersiksa tetapi bahagia oleh perasaan asing ini.

Sejenak, kedua mata hitam onyx itu memejam pelan saat otaknya memikirkan sesuatu yang lain. Saat hatinya merasakan rasa yang lain.

Rasa lain mulai yang merambat memasuki hati Sasuke. Mulai erat menempel di seluk-seluk jiwanya yang paling dalam. Bukan perasaan bahagia. Bukan perasaan gembira. Takut. Enggan.

Perasaan takut akan perpisahan. Perasaan enggan untuk kehilangan.

Perasaan tak ingin menerima kenyataan. Perasaan yang takut akan perputaran waktu. Rasa ragu akan keyakinan. Dan rasa tak percaya akan kemampuan diri.

Ya, sampai kapan ia mampu begini? Sampai kapan dirinya mampu melakukan semua ini?

Salahkah? Salahkah bila kini Sasuke mulai dengan sungguh mengharapkan keajaiban yang tak pernah ia percayai itu? Salahkah bila ia kini mulai tengah meratap, memohon, mengiba akan belas kasih Tuhan yang selama ini ia lupakan?

Karena ada yang ingin ia lindungi. Karena ada yang ingin ia jaga dan kasihi.

Untuk itu, ia tak rela jika raga ini mati. Ia tak rela jika jiwa ini pergi. Tak akan. Tak akan pernah mau untuk beranjak. Jika bisa, sudah dari dulu akan ia putar waktu. Mengembalikannya pada masa di mana semua terasa begitu indah. Menyingkir jauh-jauh dari masa depan yang demikian terasa menyakitkan.

Keajaiban.

Salahkah bila Sasuke kini mengharapkannya?

-oOo-

"Terima kasih, Sasuke-kun," ujar Hinata saat ia telah sampai di depan gerbang rumahnya.

Sasuke hanya tersenyum sekalipun ia tahu, Hinata tak akan pernah mampu melihatnya.

Ah, mungkin seharusnya Sasuke bersyukur dengan keadaan Hinata ini. Setidaknya Hinata tak perlu melihat bagaimana mata Sasuke seluruh bersorot getir saat melihatnya. Betapa kedua matanya selalu bersorot takut. Betapa senyumnya sama sekali tak menunjukkan kebahagiaan.

Rasa kecewa yang kerap Sasuke rasakan pada diri sendiri. Betapa kecewanya saat ia menyadari bahwa ia kemungkinan besar ia memang harus melupakan semua. Bahwa kemungkinan besar, suatu waktu nanti ia benar-benar harus pergi. Bahwa ia tak mampu meraihnya. Bahwa ia benar-benar harus melepaskan satu-satunya harapan yang masih tergenggam di tangannya, saat semua harapan yang pernah ia miliki sudah hilang bagai pasir yang tertiup angin.

"Ya," jawab Sasuke lirih, "Aku…ugh!"

Ucapan Sasuke terhenti saat ia terbatuk hebat. Sebelah tangannya menutup mulutnya, dan tangan yang lain merogoh sakunya, mencari saputangan yang tersimpan di dalam sana.

Jangan di depan dia, pinta Sasuke pada dirinya sendiri, Jangan biarkan dia tahu.

Namun gagal, Hinata mungkin memang buta. Hinata mungkin memang tak bisa melihat bagaimana pucatnya wajah Sasuke sekarang. Mungkin ia juga tak tahu, betapa saputangan berwarna putih itu telah tertoreh dengan warna merah pekat darah yang keluar dari mulut pemuda itu. Betapa Sasuke merasa payah saat ia terbatuk dengan sebelah tangan yang memegangi erat dada kirinya dengan tubuh terbungkuk.

Namun Hinata masih bisa mendengar. Telinganya langsung menangkap sesuatu yang tak biasa dan terasa aneh di dalam sini. Betapa suara batuk Sasuke terdengar begitu tak biasa. Dan entah mengapa, Hinata merasakan ada rasa sakit juga yang ia rasakan. Sakit yang langsung ia rasakan tiap kali suara Sasuke yang terbatuk terdengar olehnya.

"Sa…Sasuke, kun?" ujar Hinata dengan lelehan air mata yang langsung membasahi kedua pipinya. Ia tak tahu, untuk apa ia menangis. Ia tak mengerti, untuk apa nada bicaranya terdengar begitu tersendat dan serak.

Yang Hinata tahu, ia merasakan perasaan takut. Yang ia tahu, ia merasakan perasaan getir. Seolah ia akan mengetahui sesuatu yang di luar dugaannya. Seolah ia akan mendapatkan sesuatu yang begitu menyakitkan batinnya.

Sasuke menyimpan saputangannya di saku celananya. Digenggamnya kedua tangan Hinata dengan lembut. Sangat lembut. Seolah ia menyiratkan bahwa Hinata tak sepantasnya menangis untuknya. Tak ada yang perlu ditangisi. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Bahwa semua baik-baik saja. Bahwa semua masih tetap berjalan seindah dan selancar khayalannya.

"Aku tak apa," jawab Sasuke pelan, "Aku tadi hanya…"

Perkataan Sasuke terhenti saat kedua tangan Hinata menyentuh kedua pipinya.

Ia membiarkan saja kedua tangan gadis itu bergerak menjelajahi wajahnya. Ia biarkan saat kedua tangan mungil itu bergerak perlahan di tiap lekuk di wajah Sasuke. Seolah-olah dengan tangan itulah Hinata bisa melihat. Dengan kedua tangan itulah Hinata bisa membayangkan, bagaimana ekspresi Sasuke saat itu.

"Kau pasti tampan," ujar Hinata saat satu tetes air mata menjatuhi pipinya, "Aku ingin kaulah yang pertama kali kulihat saat kedua mataku kembali pulih."

Permintaan yang tulus. Permintaan yang terdengar sederhana. Tak muluk-muluk. Tak berlebihan. Itu bagi orang lain. Tidak bagi Sasuke.

Permintaan yang tulus itu terasa menyebabkan keraguan yang demikian besar di hati Sasuke. Permintaan murni itu terasa begitu berat untuk Sasuke penuhi.

Kapan? Kapan Hinata bisa melihat? Bagaimana jika kedua mata lavender itu bersinar kembali saat Sasuke tak mampu melihatnya lebih lama lagi? Bagaimana jika dunia bisa terlihat oleh Hinata saat Sasuke telah menyingkir dari dalamnya? Saat semua sudah terlambat. Saat semua sudah menjadi suatu yang tersesali.

"Ya," hanya satu kata yang sarat akan kekecewaan dan kegetiran itu yang Sasuke ucapkan sebelum ia merengkuh lembut Hinata dalam pelukannya.

Biar. Biar ia pendam semua. Tak akan ia biarkan gadis ini tahu. Tak akan ia biarkan gadis ini menangis untuknya.

Jika Sasuke memang harus pergi, ia akan pergi tanpa ada satu tetespun air mata Hinata yang mengiringinya.

Bagi Sasuke, melihat tangisan Hinata, jauh lebih menyakitkan daripada sekedar membayangkan kematian.

-oOo-

Betapa terkejutnya Sasuke saat ia mendapati kamar berukuran minimalis itu kosong melompong tanpa ada satu manusiapun yang berada di dalamnya.

"Itachi?" ucap Sasuke sembari melangkah masuk dan berdiri di depan pintu kamar mandi. Saat ia rasakan bahwa tak ada satu suara pun yang merespon ucapannya, ia tahu bahwa kakak kandungnya tersebut tak ada lagi di ruangan ini.

Dan itu membuat Sasuke seketika tersulut api amarahnya. Membuat Sasuke seketika melangkah lebar-lebar keluar kamar sembari mengepalkan kedua tangannya.

Dua orang sialan itu pasti tahu apa di balik semua ini! Sasuke tahu benar Itachi. Laki-laki itu tak akan mau beranjak ke luar kamar tanpa ada Sasuke yang menemaninya. Tak akan mau pergi dari kamar tanpa Sasuke yang mengajaknya. Dan tak akan pergi kemanapun jika tak ada yang memaksanya.

"Di mana Itachi?!" Sasuke langsung menuju ke pokok masalah dengan intonasi yang keras saat ia melihat Fugaku baru keluar dari ruang kerjanya.

Tak ada lagi kesopanan. Tak ada lagi tata krama yang mampu Sasuke tunjukkan pada orang yang membuatnya ada di dunia itu. Karena semua sudah terpendam dalam-dalam di masa lalu. Karena semua sudah tergantikan dengan amarah, kekerasan, dan kekecewaan.

"Kau apakan Itachi, hah?!" Sasuke menggeram kesal saat dilihatnya Fugaku hanya mematung dan memandangnya dengan demikian tenang.

Dan Sasuke benci sekali pada sorot mata tenang itu. Sasuke muak sekali pada cara Fugaku memandang dirinya dengan tatapan khas seorang penguasa. Tatapan yang tegas. Tatapan yang tak merasa terganggu sama sekali.

Bukankah tatapan itu adalah tatapan yang sama seperti yang Sasuke lihat saat Ibu meninggal? Bukankah tatapan itu pula adalah tatapan yang Fugaku berikan saat Itachi baru mengalami gangguan mental dulu? Dan tatapan itu juga yang ia berikan sesaat setelah Sasuke meregang nyawa akibat perbuatannya malam itu!!!

"Itachi Ayah bawa keluar kota, Sasuke," jawab Fugaku sembari berjalan ke depan, menuju ke arah Sasuke.

Ayah? Sasuke mencibir pahit. Masih ada muka dia mengatakan bahwa dia Ayah Sasuke!?

"Apa yang kaurencanakan padanya?!" tanya Sasuke masih dengan sorot mata yang setajam nada ucapannya.

Fugaku berhenti melangkah saat jaraknya dengan Sasuke hanya tinggal satu langkah saja.

"Kenalan Ayah menyarankan agar Itachi dibawa ke luar kota, Sasuke. Itachi butuh semacam penyegaran. Menjauhkan dia dari kehidupan kota adalah cara terbaik. Menempatkannya pada suasana alam yang tenang dan menyegarkan jiwa dan pikirannya adalah jalan yang patut ditempuh," jawab Fugaku, "Termasuk menjauhkannya dari kehidupan yang selama ini dibencinya."

Sejenak Sasuke tertegun mendengar penjelasan Ayahnya. Namun, rasa benci dan dendam yang terlalu dalam pada orang tua itu, menyebabkan rasa percaya yang sempat ada, menjadi langsung hilang saat itu juga.

"Kau bohong! Katakan di mana Itachi!" bentak Sasuke. Persetan sekalipun Fugaku akan membunuhnya saat itu juga. Membayangkan kematian tiap kali berhadapan dengan Fugaku, bukanlah hal yang tak biasa bagi Sasuke.

"Harus apa lagi yang bisa kukatakan?" jawab Fugaku setelah menghela nafas lelah.

"Katakan di mana Itachi!"

"Di luar kota! Aku sudah bilang, dia di luar kota. Apa kau berpikir aku mampu menjualnya atau membunuhnya?"

"Ya, karena kau sudah berulang kali mencoba membuat kami terbunuh."

"Kalian anak-anakku. Apakah di matamu aku demikian kejam, Sasuke?"

"Pertanyaan bodoh! Seorang ayah yang membuat anaknya babak belur dan sekarat mana bisa disebut baik!"

"Aku menyayangi kalian! Itu adalah caraku menunjukkan rasa sayangku pada kalian!"

"Dengan memukuli kami? Dengan membuat Itachi menangis?"

"Karena aku tak suka dibantah! Karena kau yang selalu memberontak dan menentangku, Sasuke!"

Mulut Sasuke yang sudah siap melontarkan kata balasan, langsung membeku saat itu juga kala Fugaku meraihnya. Lidah yang siap meluapkan segala amarah melalui kata-kata, langsung kelu begitu Fugaku mendekapnya dengan dua tangan kokohnya.

Bukan itu yang membuat Sasuke terhenyak. Bukan itu yang membuat Sasuke seketika lupa akan amarahnya. Bukan itu pula yang membuat Sasuke entah mengapa, merasa tiba-tiba ada sedikit penyesalan kecil yang menyelimuti hatinya.

Isak kecil Fugaku yang terdengar oleh telinganya lah yang membuat Sasuke rasanya kehilangan niat untuk berkata-kata kasar lebih jauh. Tubuh Fugaku yang bergetar kala memeluknya lah yang membuat tubuh Sasuke merasa kaku saat itu juga. Air mata Fugaku yang menetes di atas bahunya lah yang membuat Sasuke merasa lupa akan seluruh kebenciannya. Akan seluruh kepahitannya.

Ayahnya menangis. Mata yang selalu bersorot tenang itu kini bersimbah air mata. Mulut yang sering terkatup tegas itu kini bergetar oleh tangis. Ayahnya menangis! Ayahnya menangis! Dan ayahnya menangis!

Hanya itu yang ada di pikiran Sasuke saat ini. Tak pernah terbayang akan keluar air mata dari kedua mata dingin itu. Tak pernah terduga bahwa lelaki keras ini suatu saat nanti akan terlihat demikian rapuh.

Membuat sejenak api kemarahan di dalam hati Sasuke terpadamkan oleh tetesan air mata Fugaku yang terjatuh di atas pundaknya. Membuat seluruh kekesalan Sasuke tersapu oleh getaran tubuh Fugaku yang merengkuhnya.

"Maafkan Ayah, Sasuke," ujar Fugaku lirih di sela isak tangisnya, "Ayah begitu kejam padamu. Jika bukan Anko yang memberitahu Ayah, maka Ayah akan selamanya buta untuk melihat keadaanmu, Nak."

Kata-kata tulus itu terdengar begitu lembut di telinga Sasuke. Kata-kata itu terdengar begitu menenangkan di telinga Sasuke. Kata-kata yang mengguyur hati Sasuke dengan kehangatan di tiap nadanya. Kata-kata yang ingin Sasuke dengar sejak dulu.

Kata-kata seorang Ayah. Kata-kata yang sebelumnya tak mampu didapatkan oleh Sasuke.

Kata-kata yang membuat membuat mata Sasuke untuk pertama kalinya sejak dua tahun yang lalu, kini meneteskan bulir-bulir bening. Kata-kata yang membuat mata yang selalu bersorot terluka itu kini menampakkan kepahitan yang tersimpan bersama dengan butir-butir kristal bening itu.

Betapa selama ini Sasuke tersiksa. Betapa selama ini Sasuke selalu takut akan bayang-bayang kematian. Betapa selama ini Sasuke merasa lelah untuk menanggung semua. Betapa Sasuke sangat berharap ada satu keluarga yang akan merengkuhnya seperti ini!

Yang akan menangis untuk keadaannya! Yang akan meratap akan semua penderitaannya!!

Betapa selama ini Sasuke merindukan hal itu!!

Hanya rengkuhan yang dapat menjelaskan perasaan mereka. Hanya air mata yang mampu mengungkapkan semua.

Kepahitan. Kekecewaan. Keputusasaan. Semua larut begitu saja begitu air mata itu tertumpah sudah.

-oOo-

Yukeh: Tuh! You got it? Fugaku gak sekejam pikiran kita ternyata. Dia ayah yang baik kok. Cuma salah ngasih cara buat ngedidik anaknya. Dan, yeah, inilah pertama kalinya Sasuke menangis selama Alpha Centauri lahir *seingat saya begitu –ditendang karena lupa pada fic sendiri-*

Next Chapter

"Nanti, aku akan menjelaskan sesuatu padamu. Aku akan jujur padamu," ujar Naruto dengan semburat rona merah di kedua pipinya.

.

Sasuke terkekeh pelan, terdengar sangat menyakitkan, "Kau pikir aku tertarik pada gadis buta sepertimu, hm?"

.

"Semua sudah berakhir!!" ujar Sasuke menepis tangan Hinata dari wajahnya, "Kau terlalu banyak berharap, Hinata! Dengar, apa aku pernah bilang bahwa aku mencintaimu? Apa aku pernah bilang bahwa aku mengasihimu?!"

.

Makasih banyak untuk semuanya ^^

Critism and comment are whole-heartedly appreciated.

March, a day before national exam ends XD

~yukeh~