Naruto by Masashi Kishimoto

Our Marriage by Kyra De Riddick

Warning!

OOC, FemNaru, Typo(s), Author Newbe, No Shou-ai, dll….

Pairing:

Gaara x Naruto


Chapter 9

Torture and Dilemma


Butiran air beku tak kunjung berhenti menghujani kota Suna yang sepi bak kota mati. Para penduduk yang biasanya sering menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan hingga malam hari di kota kecil tersebut kini lebih memilih menghangatkan diri bersama keluarga di dalam rumah yang menawarkan kenyamanan lebih.

Begitu juga dengan sebuah rumah yang terletak di sebuah bukit yang tak jauh dari pusat kota itu. Penghuni rumah yang berada di dalamnya juga lebih memilih berada di dekat perapian untuk menghindari rasa dingin yang menggigit.

Namun kenyamanan itu tiba-tiba saja terusik dengan suara bel yang ditekan pelan. Awalnya, tak satu pun penghuni rumah tersebut yang berniat membuka pintu dan mengambil resiko diterpa angin dingin yang sama sekali tak nyaman untuk dirasakan, namun bunyi bel yang terus menyenandungkan lagunya membuat mereka pun terusik.

"Kankuro, cepat buka pintunya." Wanita berambut pirang pucat yang sedang membaca majalah sembari berbaring di atas sofa berkata dengan nada memerintah.

"Kenapa bukan nee-san saja? Mungkin itu Shika-nii yang lupa membawa kunci," seorang pemuda berambut coklat mencoba membantah perintah kakaknya tanpa mengalihkan perhatiannya dari kayu yang ia ukir untuk keperluan tugas musim dinginnya.

"Dasar bodoh, dia akan langsung ke Otto setelah pekerjaannya di Ame selesai. Sana cepat buka pintu!"

"Tapi nee-san-"

"Cepat!"

"Ah, iya iya." Pemuda bernama lengkap Sabaku No Kankuro itu akhirnya menyerah. Dan berdiri dari singgasananya. Namun baru dua langkah ia berjalan, ia segera berbalik dan lari menuju kamar mandi. "Maaf nee-san, aku ke kamar mandi dulu!"

Wanita berambut pirang itu melemparkan pelototan tajam yang tak dapat dilihat oleh adiknya itu, lalu bangkit dari posisi berbaringnya dan dengan malas melangkah menuju pintu untuk menyambut siapapun tamu yang sama sekali tak ia harapkan kehadirannya di malam yang dingin ini.

"Tadaima, Temari-nee."

Mata hijau Temari membulat melihat tamu yang sebelumnya ia anggap mengganggu tersebut. Belum lagi penampilan fisikal tamu di hadapannya sangat jauh dari kata 'baik'.

"Naruto..."

Air mata yang terjatuh dari gadis itu membungkam semua pertanyaan yang ingin diutarakannya. Dan ia hanya diam sembari memeluk gadis berusia 15 tahun di hadapannya dengan bingung.

-oOOOo-

Kyra De Riddick is YumeYume-Chan

-oOOOo-

Kejadian itu sudah berlangsung empat hari yang lalu. Namun hingga pagi tadi, baik Temari maupun Kankuro tak pernah mendapat jawaban dari kepulangan Naruto yang tiba-tiba tanpa Gaara bersamanya.

Saat ditanya ia hanya mengatakan bahwa ia sedang ingin menenangkan diri dan meminta mereka untuk tidak memberi tahu siapapun tentang keberadaannya.

Selebihnya gadis itu bersikap biasa saja, dan melakukan semua kegiatan yang biasa ia lakukan saat ia masih di Suna. Ia terbangun di pagi hari saat waktu menunjukkan pukul lima pagi. Menyiapkan sarapan, membereskan rumah, menyambut Temari dan Kankuro dengan senyum riang yang biasa ia tunjukkan. Atau senyum lembut yang menenangkan saat Temari dan Kankuro menatap cemas padanya.

Mungkin ia berharap bisa membuat Temari kehilangan rasa penasaran dan khawatirnya saat ia bersikap biasa saja. Namun sebaliknya, kecemasan Temari pun bertambah seiring sikapnya yang seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Seolah-olah ia tak pernah meninggalkan rumah itu selama hampir enam bulan.

Untuk menjawab rasa penasarannya itulah Temari dan Kankuro memutuskan untuk segera menemui Gaara di Konoha setelah mereka berjanji untuk merahasiakan keberadaan gadis tersebut dari Gaara. Plus tambahan bagi Kankuro, untuk melindungi Gaara jika sekiranya Temari akan mengamuk nantinya.

Sabaku No Temari yang telah berganti nama menjadi Naara Temari setelah menikah dengan Naara Shikamaru, pemuda jenius yang lebih tua dua tahun darinya itu, mungkin terlihat galak, tegas dan sedikit kasar.

Namun dibalik sikap galaknya itu, ia tetaplah seorang wanita dengan hati yang mudah tersentuh oleh hal-hal yang mengharukan atau romantis, meskipun ia sering kali menutupinya dengan sikap tegas dan sinisnya.

Matanya akan terlihat berkaca-kaca saat menonton drama korea atau membaca novel yang bergenre hurt/comfort/angsty. Dan saat paling membahagiakan dalam hidupnya yang mampu menghadirkan rona merah di wajahnya adalah ketika Shikamaru melamarnya. Pemuda yang telah lama menyukai Temari sejak SMU. Bahkan ia rela mengorbankan masa SMAnya dengan mengikuti ujian akselerasi agar ia bisa sekelas dengan Temari dan lulus bersama gadis itu.

Bila ada hal yang mampu membuat Temari menangis, itu hanya ada beberapa. Dan salah satu di antaranya adalah seorang gadis yang telah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Naruto.

Gadis yang telah bersama mereka sejak ia berusia sebelas tahun itu merupakan salah satu dari sekian hal yang mampu membuat Temari menitikkan air mata, bukan karena disakiti hatinya. Melainkan merasa trenyuh dengan segala peristiwa yang mendera gadis yang menurutnya harusnya masih bisa tertawa dengan riang bersama teman-temannya itu. Bersama dengan ketegaran yang dimiliki gadis rapuh itu, air mata Temari takkan pernah mampu bertahan untuk tidak terjatuh saat menjadi saksi hidup dalam kisah gadis bernama Naruto itu.

Dan kini, ia lagi-lagi harus menjadi saksi akan ketegaran gadis yang telah dihancurkan luar dalam oleh adik kesayangannya sendiri.

Betapa senyum Naruto serasa mencekiknya bersama rasa bersalah yang menghantam dadanya yang tak kuasa mempertahankan kebebasan gadis itu.

-oOOOo-

Kyra De Riddick is YumeYume-Chan

-oOOOo-

"Selamat datang Temari-nee, Kankuro-nii."

Ucapan selamat datang dengan senyum lembut itu mungkin akan terdengar biasa bagi Temari dan Kankuro andai mereka tak mengetahui kenyataan kejam yang telah dialami oleh gadis yang mengucapkannya.

"Air panas sudah aku siapkan untuk kalian berdua. Mandilah dulu, lalu kita makan bersama," gadis itu berujar lagi. Masih dengan intonasi yang biasa saja. Tak menyadari tatapan kedua kakaknya pada dirinya.

"Kenapa tidak bilang padaku?" Temari bertanya dengan suara tercekat. Sedangkan Naruto yang masih sibuk menata piring dan sendok di meja makan menghentikan kegiatannya. Ia menatap meja dengan mata menerawang. Lalu berujar pelan dengan senyum miris yang menghiasi wajahnya, "bukankah itu adalah hal yang wajar untuk dilakukan oleh sepasang suami-isteri? Aku hanya belum siap saat itu, makanya saat ini aku butuh waktu untuk menenangkan diri."

Jelas yang dikatakannya adalah suatu kebohongan. Baik Temari maupun Kankuro tahu hal itu. Dan itu membuat kedua kakaknya itu merasakan sakit yang semakin menyayat mendera di dada mereka. Meski bagitu, Kankuro masih bisa menahan diri dengan bersikap tenang. Namun hal itu tidak berlaku bagi Temari.

Dengan langkah cepat Temari berjalan ke arah Naruto, dan lagi-lagi memeluk gadis yang lebih mungil darinya itu. Air matanya tak kuasa ia bendung di pelupuk mata dan tertumpah ruah begitu cepat. Ia menangis terisak dengan Naruto dalam dekapannya.

"Sampai kapan? Sampai kapan kau akan terus melindunginya?" ia berbisik di telinga Naruto.

Naruto hanya tersenyum lirih tanpa membalas dekapan Temari. Lalu berujar pelan, "sampai ia memaafkanku yang telah membunuh tousan."

Tangisan Temari bertambah kencang mendengar jawaban yang diucapkan dengan nada tenang itu. Ia mempererat pelukannya pada tubuh mungil Naruto. Mencoba menyangkal pernyataan yang dikeluarkan adiknya melalui bahasa tubuhnya itu. Sebab ia sama sekali tak kuasa untuk melisankan segala bantahan yang ingin ia ungkapkan.

Lidahnya kelu.

"Aku tidak apa-apa, Temari-nee."

Lagi, kalimat yang diucapkan dengan nada tenang itu kembali menyayat hatinya yang dipenuhi rasa bersalah. Tak terkatakan bagaimana ia membenci dirinya kini yang tak mampu mengatakan sepatah kata pun untuk menjelaskan bahwa kepergian ayah mereka bukanlah kesalahan gadis di hadapannya. Bahwa kecaman yang diberikan oleh Gaara padanya adalah suatu kesalahan besar. Bahwa ia tak memiliki kesalahan apapun terhadap Gaara.

Dan bahwa ia sama sekali tak berhak untuk disakiti sampai seperti itu hanya untuk menebus kesalahan yang tak pernah dibuatnya.

"Nee-san, sebaiknya kau menenangkan diri dulu. Kau membuat Naruto takut dengan sikapmu tahu," ucapan bodoh Kankuro itu mungkin akan dibalas dengan makian kejam dari Temari bila ia dalam kondisi biasa. Namun untuk kali ini, ia merasa Kankuro ada benarnya.

Dan dengan berat hati ia pun melepaskan pelukannya pada Naruto dan berjalan pelan menuju kamarnya.

Sedangkan Naruto lagi-lagi tersenyum lembut pada Kankuro, seraya berkata, "terima kasih, Kankuro-nii."

Kankuro hanya tersenyum kecil sembari mengedikkan bahu dan mengabil tempat di kursi yang biasa ia tempati untuk makan.


"Dia tampak sedikit kacau saat kami mengunjunginya," Kankuro membuka pembicaraan sementara Naruto sibuk dengan wortel di tangannya.

"Apa dia makan dengan baik? Jangan sampai maagnya kambuh," Naruto berkomentar sambil berusaha mempertahankan posisi pisau di tangannya yang hampir tak kuasa menggenggam alat dapur tersebut saat sang kakak membahas masalah orang yang tak ingin ia kenang.

Sebenarnya ia tidak benar-benar sibuk dengan wortel di tangannya. Sebab semua masakan sudah tersaji dengan rapi di meja makan. Ia hanya mencoba untuk menipu Kankuro yang ia khawatirkan akan membaca hatinya yang hancur dan membuatnya harus kehilangan ketegaran yang ia punya.

Dan Kankuro tahu akan hal itu.

"Maafkan dia ya? Dia masih labil," ujar Kankuro kembali.

Sedangkan tangan Naruto berhenti menggerakkan pisau yang ia gunakan untuk memotong wortel saat mendengar ucapan Kankuro.

Memaafkannya?

Apa sebegitu mudahkah Kankuro pikir untuk memaafkan perbuatan Gaara padanya? Tak pernahkah pemuda berambut coklat itu memikirkan bagaimana sakit dan hancurnya ia saat Gaara melakukan hal itu padanya? Menyakitinya dengan sikap dinginnya demi Sakura, dan membuatnya merasa bak benda mati yang berada di bawah hak kepemilikan Gaara dan menghancurkan dirinya yang tak dipedulikan perasaannya.

Apa Kankuro pikir sebegitu mudahnya ia akan memaafkan Gaara hanya karena dia berkata bila adiknya itu masih labil?

Tidak….

Tidak akan bisa semudah itu dia memaafkannya.

Bahkan jika Gaara datang dan berlutut meminta maaf padanya (suatu hal yang tak mungkin dilakukan Gaara), ia belum tentu bisa memaafkan pemuda yang berstatus sebagai suaminya tersebut.

"Aku mengerti, tak apa." Getaran dalam intonasi yang tadinya tenang itu ditangkap oleh indera Kankuro dengan baik.

"Terkadang bersikap tegar tak menyelesaikan masalah apapun. Kenapa kau tidak jujur saja, Naruto?"

"Aku tidak mengerti maksud Kankuro-nii," ujar Naruto masih dengan nada suara yang bergetar.

"Kau ini perempuan, seorang gadis berusia 15 tahun malah. Kalau sakit, menangislah. Kalau marah, katakan saja. Jangan selalunya berkata 'tidak apa-apa', 'aku baik-baik saja', dan semua hal yang membuatmu terlihat kuat. Jangan tersenyum saat hatimu terluka, jangan tertawa saat kau ingin menangis. Kau tidak salah bila mengatakan Gaara bersalah," ucap Kankuro hati-hati pada Naruto yang telah menghentikan pekerjaannya itu.

Namun Naruto hanya diam saja. Mungkin sedang berusaha mencerna kata-kata yang diucapkannya.

"Kau tidak salah bila kau marah, bahkan benci padanya. Kau memiliki hak atas itu. Jangan terpaku pada kecaman masa lalu. Karena semua itu tidak lah benar, apa kau mengerti sekarang?"

"…."

"…."

"…."

Diam….

Itulah hal yang dilakukan oleh dua insan tersebut. Masing-masing mencoba memahami keadaan yang tengah terjadi saat ini. Mencoba mendalami dan mencari jalan yang terbaik untuk mengobati luka yang dirasakan oleh keluarga kecil mereka. Hingga suara isak tangis tertahan dan suara pisau yang membentur lantai menyadarkan Kankuro.

Dilihatnya Naruto tengah berlutut dengan lengan kanannya menutupi mata yang kini basah dengan suara isakan tertahan. Dan isakan tertahannya secara perlahan menjadi isakan lepas yang benar-benar menyayat hati Kankuro yang mendengarnya.

Tangisan gadis itu bak sebuah melodi paling menyedihkan yang pernah ia dengar. Melodi yang menceritakan kerasnya hidup yang harus dialami gadis yang tak pernah mengenal orang tuanya itu. Gadis yang harus melepaskan masa remajanya, kebebasannya, juga cita-citanya untuk mengabulkan permintaan sosok ibu yang begitu ia sayangi, namun pada akhirnya pengorbanannya tak berbuah manis. Justru kepahitan mendalam yang telah menjadi racun akan hidupnya yang menyambut dirinya dalam penjara kehidupan itu.

Tak jua ia peroleh setetes saja air kebahagiaan dari surga melalui pengorbanan besarnya itu, melainkan kobaran api neraka berwujud kekejaman suami yang ia peroleh.

Sakit…

Hati gadis itu begitu sakit. Betapa derita yang dialaminya telah menghancurkan tubuh dan jiwanya. Meninggalkannya dalam wujud seonggok sampah yang membusuk. Itulah yang dirasakan gadis itu saat ini. Itulah yang dibahasakan gadis itu melalui tangisannya.

Dan itulah melodi yang diciptakan gadis itu melalui isakan-isakannya yang sangat menyayat hati.

Ingin Kankuro mendekap gadis yang menjadi adiknya itu, namun ia tahu hal itu takkan menjadi obat untuk si gadis kecil yang tengah terluka. Yang ia bisa, hanyalah mendekat pada tubuh adiknya yang bergetar, berlutut di sampingnya, dan mengelus kepalanya dengan lembut. Seperti yang biasa almarhum ayah mereka lakukan untuk menenangkan gadis itu bila ia sedang ketakutan atau bersedih dulu.

Sementara itu, di balik dinding yang memisahkan dapur dengan ruangan lain, seorang wanita dengan rambut pirang lainnya tengah menggenggam dadanya yang terasa sesak saat mendengar tangisan gadis itu pecah dalam keterdiaman mereka.

Salju yang turun dengan deras, telah menjadi saksi akan dilema mendalam yang tengah memeluk erat sebuah rumah yang dulunya selalu dihiasi akan canda tawa hingga sembilan tahun yang lalu.

Kini rumah itu hanya dihiasi oleh air mata yang mengalir dalam keterdiaman mereka. Membahasakan hati yang terluka akan penyesalan dan rasa bersalah.


Sasuke lagi-lagi terbangun dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Napasnya terengah-engah seolah-olah ia baru saja berlari. Diacaknya rambut hitamnya dengan kesal, lalu bangkit dari tempat tidurnya dan terus melangkah hingga ia mencapai pintu kamarnya yang menjadi penghubung dirinya dengan ruangan lain di rumah besarnya itu.

Tanpa mempedulikan rasa dingin yang menyapa kulit tubuhnya yang hanya ditutupi dengan sehelai boxernya itu, ia terus melangkah menuju dapur. Di ambilnya sebuah gelas kosong yang selalu tersedia di atas meja makan dan mengisinya dengan segelas air hangat. Setelah gelas itu penuh ia pun meninggalkan dapur dan menuju ke kamarnya lagi.

Setibanya di dalam kamarnya ia tak langsung menuju ke tempat tidurnya yang nyaman untuk kembali berlayar di alam mimpi, melainkan memakai celana panjang dan sebuah kaos berlengan panjang yang cukup tebal, lalu beranjak menuju balkonnya yang hampir tertutupi salju.. Sebab ia tahu pasti, ia takkan bisa mencapai alam mimpi itu lagi setelah ia terbangun.

Sama seperti malam-malam yang ia lewati sebelumnya.

Malam-malam yang ia lalui dengan memimpikan seorang gadis yang telah meninggalkannya tanpa pesan sedikit pun. Gadis yang tengah bersembunyi dari dirinya entah di mana. Dalam mimpinya itu, ia terus melihat gadis itu menangis dengan segala luka yang tak mampu ia hilangkan keberadaannya.

Pemuda berambut raven itu segera meneguk air hangat yang setia di genggaman tangannya. Menghabiskan segelas penuh air hangat itu dalam sekali teguk dengan harapan denyut kesakitan di dadanya akan menghilang.

Suatu pengharapan yang sia-sia. Sebab ia sendiri pun tahu pasti, denyut yang menyiksanya itu takkan pernah bisa hilang hingga ia bertemu dengannya.

Bertemu dengan pemilik iris safir yang selalu menunjukkan binar ceria di matanya meski ia sedang terluka. Bertemu dengan pemilik senyum riang yang selalu tersungging meski hatinya sedang menangis. Bertemu dengannnya. Dengan gadis bernama Naruto yang selalu saja menunjukkan ketegarannya di balik tubuhnya yang begitu rapuh akan luka.

Sasuke mencengkram dadanya yang lagi-lagi berdenyut sakit. Betapa hatinya merasa tersiksa saat melihat gadis itu menangis meski hanya di dalam mimpinya. Sebab ia yakin, air mata yang terjatuh dari sepasang safir gadis itu bukan hanya sekedar bunga tidur yang menyiksanya. Sebab ia yakin isakan pedih yang ia dengar dari gadis itu bukan hanya sekedar fatamorgana dalam pikirannya yang haus akan kabar tentang dirinya. Tangis gadis itu bukanlah sekedar ilusi yang menyerang pikirannya yang selalu saja mengkhawatirkan gadis itu. Melainkan suatu kenyataan pahit yang sangat ia sadari.

Gadis itu tengah menangis di suatu tempat di dunia ini. Menangisi nasibnya yang begitu malang. Menangisi kisahnya yang begitu tragis, dan menangisi realita kejam yang menciptakan distopia dalam kepahitan hidupnya.

Dan bayangan yang lebih menyakitkan Sasuke adalah,

Mungkin saja gadis itu sedang menangis sendiri saat ini. Dalam dinginnya hujan salju yang menghujani luka hatinya.

"Dimana?" ia bertanya lirih pada salju yang terus turun dari langit malam. "Dimana kau sekarang?"

"Apa kau baik-baik saja?"

"Apa kau tengah bersedih di sana?"

"Apa kau terluka?"

"Adakah yang mampu menghiburmu?"

"Adakah yang mampu menghapus air mata dari wajahmu?"

"Adakah seseorang yang mampu menghadirkan senyum di wajahmu?"

Semua pertanyaan yang terlisan dengan suara lirih dan bergetar itu dihempaskan oleh desau angin kencang yang berhembus bersama salju yang menambah serangan dingin yang mampu membekukan tulang. Namun semua itu tak memiliki pengaruh dan daya apapun terhadap tubuh pemuda bernama Sasuke itu. Seolah tubuhnya telah mati rasa.

Ia masih tetap setia berdiri di balkon kamarnya dengan mata yang memandang ke kejauhan. Seolah dalam pandangannya itu ia bisa menembus segala penghalang yang membatasi dirinya dengan sosok gadis berambut pirang yang tak ia ketahui keberadaannya.

"Aku merindukanmu, Naruto…."

Bersamaan dengan kalimat yang ia ucapkan dengan mata tertutup itu, terjatuhlah pula tetesan air hangat yang membasahi pipinya.

Air hangat yang menjadi simbol akan ketulusan perasaannya pada gadis yang ia sebut namanya itu.

Air hangat yang selalu tejatuh selama beberapa malam di waktu yang sama. Di saat malam tengah menjelang pagi. Di saat ia tengah memikirkan gadis itu. Di saat ia… tak kuasa menahan rasa rindunya pada Naruto.

Rasa rindu yang hanya ia rasakan untuk Naruto.

Hanya untuk Naruto saja….


Sementara itu di sudut lain kota Konoha, tepatnya di sebuah bar yang memutar musik-musik keras dan memamerkan para manusia yang sibuk menari dengan gaya yang beragam, seorang pemuda berambut merah tampak menyesap segelas minuman alkohol yang dihabiskannya dalam sekali minum.

Setelah minuman dalam gelasnya habis, ia pun menyodorkan kembali gelasnya yang kosong pada bartender yang bertugas di dekatnya. "Satu lagi," pintanya.

Sang bartender pun kembali meracik minuman yang dipesan Gaara. Menyusul bergelas-gelas minuman sejenis yang telah masuk ke dalam tubuh pemuda berambut merah itu. Setelah pesanan Gaara selesai, ia pun menyodorkan gelas yang telah penuh itu pada pelanggannya tersebut.

Sedangkan Gaara yang menerimanya memandang gelas tersebut dengan pandangan sayu. Ia lalu menoleh pada bartender berambut biru pucat itu. Ia mengamati si bartender dengan cermat lalu berkata dengan senyum mengejek yang ia tujukan untuk dirinya sendiri, "kau tahu Sabiru-san, aku adalah manusia paling kejam dan paling jahat yang ada di dunia. Aku juga orang paling tolol yang pernah ada. Paling brengsek, dan semua keburukan yang ada di dunia ini adalah milikku."

Si bartender yang namanya diketahui Gaara melalui nametag yang ada di baju kerjanya hanya diam dan mendengarkan curhatan Gaara tanpa menghentikan pekerjaannya. Ia sudah sering mendapati pelanggan yang mabuk karena depresi. Jadi ia hanya diam dan mencoba untuk menjadi pendengar yang baik.

"Dan karena semua ketololan dan kebrengsekanku, aku telah kehilangan orang yang paling berharga untukku," Gaara kembali melanjutkan ucapannya. "Kau tahu? Dia sangat baik padaku. Dia selalu memaafkanku. Dia selalu ada untukku. Dan dia- heh mataku panas. Kau lihat? Aku menangis. Hehehe, aku menangis karena kehilangan malaikatku. Malaikat yang selalu saja memaklumi sikap dinginku."

Gaara mengucek-ngucek matanya yang dipenuhi air mata lalu kembali menenggak minuman beraura panas itu dan kembali meminta pesanan yang sama pada si bartender bernama Sabiru itu.

"Aku…. aku selalu menyakitinya. Menyalahkannya karena kepergian ayah kami dalam kebakaran sembilan tahun yang lalu. Menganggapnya pembunuh ayahku, padahal dia… hehe dia hiks tidak bersalah…"

"Gadis polos yang lugu itu tidak bersalah. Aku yang salah," lagi, Gaara menghapus air matanya yang hampir terjatuh. "Aku tidak hanya menyakiti hatinya, tapi juga menghancurkan tubuhnya. Aku merusaknya. Hehehehe, so stupid right? Now she has gone. Dia pergi… meninggalkanku. Meninggalkan iblis keparat bernama Sabaku No Gaara ini."

Glek!

Satu gelas martini lagi-lagi dia tenggak dalam satu kali minum. Lalu ia kembali bercerita, "apa? Apa yang harus ku lakukan Sabiru-san? Apa yang harus dilakukan si brengsek ini untuk menemukan istrinya yang bak malaikat yang sudah dinodainya itu? Apa yang harus dilakukan si bodoh ini untuk meminta maaf padanya?"

Usai mengucapkan pertanyaan itu ia langsung jatuh terkulai di meja bar tersebut. Namun hanya dalam beberapa menit kemudian, Sabiru bisa mendengar isak kecil yang tertumpah dari pelanggan berambut merahnya itu.

Di dengarnya pemuda itu menangis dan terus menyebut nama seorang gadis yang tak dikenali olehnya.

"Tuan, saya rasa anda sudah mabuk berat. Mau saya teleponkan keluarga anda?" bartender itu bertanya sopan padanya. Sedangkan Gaara yang mendengar kata 'keluarga' disebut langsung bangun. Wajahnya sangat merah, begitu pula dengan matanya. Bau alkohol yang pekat menguar dari tubuhnya.

"Keluarga? Semuanya ada di Suna. Istriku, Narutoku, tak ada karena aku. Sasuke juga marah padaku. Kau lihat sekarang? Hehehe, aku dibenci semua orang. Karena aku brengsek!"

Duk!

Dan lagi-lagi Gaara terjatuh tertelungkup di atas meja. Mau tidak mau bartender berambut biru muda ini mengambil handphone Gaara yang ada di kantong jaket yang ia kenakan, dilihatnya foto seorang gadis bermata biru dengan rambut berwarna pirang cerah yang tengah tersenyum ceria menjadi wallpaper handphone tersebut. Ia pun menduga bila gadis itulah yang dimaksud Gaara. Namun ia kembali fokus pada phone book handphone itu, lalu mencari-cari sebuah nama yang disebut oleh Gaara sebelumnya.

"Halo? Tuan bisakah anda datang ke Vivre bar? Tuan pemilik handphone ini sedang mabuk berat. Baik. Ya, sama-sama."


Sasuke menghempaskan tubuh Gaara ke atas tempat tidurnya. Dilihatnya pemuda itu sudah mabuk berat dengan igauan-igauan seputar permintaan maafnya pada sang istri. Tangan Sasuke terkepal erat mendengarnya, namun ia lebih memilih untuk melampiaskan emosinya pada cermin yang ada di dekat tempat tidur tersebut. Menyisakan serpihan-serpihan cermin yang hancur dan dihiasi oleh tetesan darah dari kepalan tangannya.

Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa ia mau saja menjemput Gaara di bar tersebut saat dini hari hanya karena mendapat informasi dari pelayan bar tersebut. Padahal ia sangat marah pada pemuda yang ia anggap sebagai penyebab Naruto menghilang.

"Hontou ni gomenasai ne, Naruto…"

"Gomenasai. Maaf. Maafkan aku, Naruto…"

Sasuke langsung mencengkram kerah baju Gaara yang masih belum sadar akibat hang overnya itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya telah terkepal erat tepat beberapa senti meter di atas wajahnya.

Hanya tinggal menunggu waktu hingga tangan itu mendapatkan perintah dari otak Sasuke untuk menghantam wajah sahabatnya itu. Namun hingga beberapa menit berikutnya, tangan yang terkepal itu masih setia menggantung di atas wajah Gaara.

"Brengsek kau!" Sasuke mendesis kesal dan kembali menghempaskan tubuh mabuk itu ke atas tempat tidur. Dan ia pun meninggalkannya sendiri.


TBC

still haven't reply your reviews. But, i love you all...

MMUach

Regards,

Kyra