Kakashi melangkah pelan diiringi Shikamaru. Mengevaluasi rencana mereka dalam bisu. Baginya, meski semuanya berjalan lancar masih ada satu hal mengganjal, membuat Kakashi berpikir ulang benarkah semua sudah berlalu. Penangkapan tetua terasa ambigu. Dalam benak ia ragu. Mereka licik dengan banyak tipu. Tidak mungkin semudah itu menyerahkan diri dan mengaku.

Pria paruh baya itu masih larut dalam lamunan, ketika seorang lain menginterupsinya. Sosok lelaki berkuncir dengan garis lintang di hidung menghalang perjalanan. Raut wajah khawatir serta merta diperlihatkan. Pasalnya dia tahu bahwa malam ini rencana Kakashi dilakukan. Apalagi melibatkan Sasuke dan Menma sebagai umpan. Iruka dengan tergesa, menghujam Kakashi lewat tatapan. Meminta kejelasan bahwa permasalahan ini sudah terselesaikan.

"Bagaimana?", tanyanya. Jemari ditautkan di depan dada. Ia sangat berharap bahwa hasilnya memuaskan.

Biner Kakashi mengerjap ragu, tapi ia paksa wajahnya merekahkan senyum. Meski dibalik maskernya tiada orang tahu. "Aahh, kau bisa lihat ke sana sendiri."

Dan Iruka berlari. Hanya untuk satu tujuan di mana permata hati berdiam kini.

.

.

.

Yang bisa dilihatnya adalah pemandangan mengharukan. Di mana Menma terlelap dalam dekapan ayahnya. Iruka sampai berkaca-kaca. Terharu dengan akhir bahagia bagi keduanya. Ah, siapapun pasti berpikir demikian. Jikalau melihat bagaimana Sasuke dan Naruto saling mengumbar senyuman.

"Sasuke.", serunya. Langsung ia songsong wajah ayu pria Uchiha. Membingkainya dalam telapak tangan. Membolak-balik rupa itu memastikan tiada luka. Iruka menghelah nafas, dan berpaling pada entitas lainnya.

"Menma tidur setelah menangis. Mungkin efek syok juga memengaruhi.", Naruto bicara tanpa diminta. Lagipula memang itulah yang akan Iruka tanya.

Kemudian mereka melangkah. Iruka berjalan paling depan, diikuti Naruto yang menggendong Menma di punggungnya. Namun baru saja ambang pintu dicapai, keduanya berbalik hanya untuk melihat Sasuka terpaku diam. Matanya gelisah. "Maaf, tapi bukankah Menma harus tetap di sini? Maksudku, kalian mau membawa Menma ke mana?"

Iruka mengalihkan pandang. Bersitatap dengan mata sebiru samudra. Keduanya spontan tertawa. Memaklumi mengapa tiba-tiba seorang Sasuke berpikiran lamban. "Kautidak berpikir membiarkan Menma tidur di tempat sekacau ini kan?"

Ah. Baru sadar dia. Tempat ini penuh bekas pertarungan. Entah bagaimana reaksi Sakura jika melihat rumah sakit Konoha begini jadinya. Oh dia juga baru ingat kalau selain Menma masih banyak pasien lainnya. Mengapa tidak terpikirkan? Apa yang lain baik-baik saja? Atau ada yang terkena imbasnya?

"Kalau kau berpikir bagaimana keadaan pasien lainnya, tenang saja. Mereka sudah dipindahkan. Guru Kakashi menyiapkan rencana ini bukan tanpa perhitungan."

"Jadi kausudah tahu?"

"Tidak juga. Guru Kakashi memberitahuku setelah memastikan kaumasuk ke area rumah sakit. Guru Iruka juga tahu. Benar kan, guru?", lelaki pirang mengalihkan tanya pada satu-satunya pria paruh baya. Dijawab anggukan meyakinkan, Iruka tersenyum melihat reaksi Sasuke sedemikian rupa.

"Jadi kausengaja dobe!"

"Sudah kubilang ini rencana guru Kakashi, teme! Mana aku tahu!"

"Tapi akhirnya kautahu, dan membiarkanku dan Menma jadi umpan hidup, kan? Bukankah kaubaru saja bilang ingin menjagaku dan Menma!"

"Ini dan itu berbeda, teme... kalau demi kebaikan apa salahnya. Yang penting kan aku datang di saat yang tepat. Kau dan Menma juga tidak terluka."

"Tetap saja itu bahaya dobe!

Iruka tersenyum. Sekelebat memori memaksa memasuki relung. Betapa ia merindukan segala perdebatan tak bermutu dua lelaki itu. "Ssstttt...", instruksinya saat melihat bagaimana mulut mereka masih beradu.

Dengan lirikan kecil, ia pandu dua pasang mata berbeda itu untuk melihat malaikat kecilnya. Menma menggeliat di punggung Naruto, mendengar kegaduhan yang dibuat dua orang tuanya. Meski kelopak mata itu tak terbuka, tetap saja percekcokan teme dobe itu bisa membuat Menma bangun kapan saja.

"Malam ini menginaplah di rumahku.", kata si lelaki paruh baya. Ditatapnya netra sehitam arang Sasuke dalam. Titahnya tak mengindahkan penolakan. Katanya, saat bibir pastel itu hendak mengeluarkan protesan, "Sayang aku tidak terima penolakan. Lagipula, untuk sekarang rumahku lebih aman. Kita tidak tahu apa yang dipikirkan tetua."

Sasuke berpikir sejenak. Sebenarnya ia ragu untuk menerima ajakan mantan guru akademinya. Namun mengingat bagaimana penyerangan beberapa menit silam, ia pikir kalau satu malam saja tidak apa-apa. Ini lebih baik daripada harus menginap di hotel atau losmen murahan –maklum sejak sampai di sini, dirinya selalu tidur di kamar inap putranya.

Pria berambut arang itu mengangguk pasrah. Dihadiahi senyum merekah milik si kuncir kuda. Mereka kembali melangkah dalam diam. Baik Naruto dan Sasuke tidak mengungkit lagi masalah umpan hidup tadi, lantaran takut Menma terbangun kemudian. Dan lagi bukankah semua sudah berakhir? Setelah tertangkapnya tetua, tidak akan ada lagi penyerangan sepert tadi. Tidak akan ada lagi yang ingin menyakiti buah hati. Kan?

Bulan di awang-awang, sesekali tertutup arakan awan. Siapa yang tahu nasib orang, bahkan untuk satu menit ke depan.

.

.

.

"Hoaammm...". Ino menguap panjang. Tubuhnya lelah karena ia baru saja pulang. Misi berbahaya baru saja dilakukan. Memberi kawalan untuk para petinggi aliansi negara shinobi setelah mengawasi ujian ninja. "Kenapa pagi-pagi sekali ribut, ada apa?", tanyanya pada salah satu rekan. Wanita bersurai pirang itu bingung lantaran kantornya penuh dengan gunjingan.

"Hatake Kakashi menangkap tetua.", rekannya menjawab datar. Raut mukanya menampilkan kebingungan. Memang benar, penangkapan ini adalah sesuatu yang luar biasa. Apalagi targetnya adalah para tetua. Sangat mustahil karena bagaimana pun juga, mereka punya andil dalam pemerintahan juga militer Konoha. "Investigasi sudah dilakukan beberapa jam lalu, tapi sepertinya tak membuahkan hasil."

"Tetua? Apa yang mereka lakukan dan mengapa guru Kakashi sampai menangkap mereka?"

"Entahlah. Bahkan pasukan elit ANBU di bawah perintah langsung Hokage juga turun tangan."

Heran. Selama ia tidak di Konoha, banyak hal terlewatkan. Ino menghampiri ruang investigasi yang ditunjuk rekannya. Di sana, ia jumpai Sai dan beberapa anggota elit ANBU serta guru Kakashi. Dan benar, memang dua tetua tengah duduk di kursi panas pegakuan.

"Ketua Yamanaka, anda sudah datang?"

Semua orang di sana turut memperhatikan sosok Ino yang baru saja tiba. Begitu pula Kakashi yang langsung menghampirinya. "Kausudah kembali?", tanya rokudaime Hokage pada wanita pemilik nama bunga.

"Aku langsung datang kemari begitu dapat pesan dari Sai. Kupikir ada apa, di depan orang-orang bilang kalau guru baru saja menangkap para tetua?"

Kakashi menggiring Ino mendekati kursi terdakwa. Sembari menjawab, "Mereka melakukan hal buruk. Semalam kami berhasil menggagalkan rencana mereka."

"Rencana... apa?"

"Itulah kenapa aku memintamu cepat pulang. Sejak semalam mereka bungkam. Aku ingin kau mengorek informasi lewat pikiran mereka."

"Harus aku?", Ino menyerukan protes. Demi apa, dia masih lelah dan butuh tidur sekarang. "Bukankah masih banyak yang bisa melakukannya?".

"Ada hal yang juga harus kautahu dari mereka. Lagipula, itu adalah sesuatu yang tidak boleh sembarang orang tahu.", Kakashi menatap Ino lama. Lelaki paruh baya itu meminta dengan sangat agar Ino mau turun tangan. Benar kan, belum banyak yang tahu kalau keturunan Uchiha terakhir kembali ke Konoha. Ini juga demi meminimalisir kericuhan di kalangan warga desa.

Ino mengalah. Sepertinya memang ada hal yang harus ia tahu hanya dengan mengorek informasi dari pikiran para tetua. Katanya, "Aku tidak jamin ini akan cepat. Karena kondisiku sekarang. Tapi akan kuusahakan."

"Aku mengandalkanmu."

Kakashi meninggalkan ruang interogasi bersamaan dengan Sai. Lelaki muda itu menuruti Kakashi tanpa banyak bicara. Semalam pun dirinya hanya diam. Meski begitu, sepertinya si pucat merasa kalau masih ada kejanggalan. Namun apa yang dirasa tak ia ungkapkan secara gamblang. Pasalnya, selama ini intuisinya sering salah kaprah.

Selepas kepergian Kakashi dan Sai, Ino memosisikan diri di hadapan Hamura. Pria tua berkacamata itu menatap tajam padanya. Ino takgentar. Ini adalah tugas. Siapapun pelaku yang dengan sengaja mengancam keamanan desa dan warganya, akan Ino usut tuntas.

"Baiklah. Aku tidak mengerti mengapa sampai guru Kakashi menangkap kalian. Tapi sepertinya itu sesuatu yang sangat berbahaya."

"Taklebih berbahaya daripada melindungi klan kutukan."

"Hm?". Yamanaka muda takpaham. Maksud dari perkataan Hamura merujuk pada apa dan siapa. Klan terkutuk mana yang membuat Hamura, selaku orang yang disegani di Konoha berbuat kriminal. Ia akan tahu sebentar lagi. "Aku tidak mengerti. Tapi aku akan mengerti sebentar lagi."

Tangan kanannya menyentuh kepala Hamura, sedangkan yang kiri memegangi kepala sendiri. Kelopak mata tertutup rapat, tanda kalau proses interogasi lewat pikiran sedang dilakukan.

.

.

.

Beberapa jam sebelum penyerangan...

Seribu satu cara sudah tersusun sempurna. Tinggal bagaimana keadaan mendukung, semuanya bisa dipraktikan. Hamura menunggu waktu pas untuk melenyapkan keturunan Uchiha. Ketika antek-anteknya lengah, akan ia buat Sasuke dan Menma mengucap selamat tinggal pada dunia. Koharu sendiri sudah percaya sepenuhnya pada sang rekan. Ia mendukung semua keputusan pria berkacamata. Selama berjalan sukses, cara apapun takmasalah.

Keduanya duduk tenang menunggu laporan. Salah satu ANBU Ne suruhan sedang menjalankan tugas. Mengawasi tiap gerak-gerik korban. Sudah sejak penyerangan terakhir, hal itu dilakukan. Supaya mereka tahu kapan dua keturunan Uchiha itu lepas dari penjagaan Hokage Konoha.

Dalam kedipan mata, sosok pria bertopeng muncul di hadapan. Ia lah yang ditugaskan sebagai mata-mata. Sepertinya, sudah ada hal penting sebagai laporan. "Hari ini Sasuke dan Menma meninggalkan rumah sakit untuk mengunjungi festival. Pagi tadi Umino Iruka datang menjemput mereka. Ditemani Hatake kakashi, empat orang itu pergi ke kantor Hokage. Sepertinya berencana mengajak Nanadaime ikut serta.

Aku sudah meminta rekanku untuk terus mengawasi gerak-gerik mereka. Sampai saat ini tidak ada yang mencurigakan. Hanya ada beberapa ANBU yang berjaga di sana. Sepertinya mereka menganggap dengan adanya Hokage kami tidak bisa mendekat.". Lelaki itu menyudahi laporannya.

Hamura berpikir sejenak. Dari laporan tadi, sepertinya memang benar ada celah untuk melakukan penyergapan dan menjalankan rencana pembunuhan. Tapi dalam hatinya ada satu ganjalan. Tidak mungkin orang setipe Kakashi tidak sengaja membuat celah. Melonggarkan pengawasan pada rumah sakit tempat di mana Menma di rawat. Tentunya, dengan kendurnya pengawasan Hamura bisa saja mulai persiapan. Jadi, ada yang salah.

Intuisinya mengatakan, bahwa Hatake Kakashi pasti sudah menyiapkan rencana lain untuk memancing mereka keluar. Sengaja membawa Sasuke dan Menma mengunjungi festival dan mengendurkan pengamanan.

"Tidak ada lagi yang perlu dilaporkan?", tanyanya.

"Tidak ada tuan. Hanya itu saja."

"Kauyakin kalau pengaman di rumah sakit mengendur? Bagaimana dengan Haruno Sakura."

"Murid nona Tsunade itu sedang melakukan penelitian obat di laboratorium. Sepertinya dia akan sibuk seharian di sana."

Satu sunggingan senyum licik Hamura perlihatkan. Sepertinya benar dugaannya. Takmasalah. Bukankah di awal sudah dijelaskan bahwa ada seribu satu rencana?

"Aku mengerti.". Hamura berdiri dari posisinya. "Kita lakukan rencana kita malam ini. Persiapkan pasukanmu malam ini di sekitar area rumah sakit. Penyerangan kita di mulai di sana."

"Bagaimana dengan pasien lainnya?". Koharu bertanya lantang. Bagaimanapun, pasien lain tetap lah warga Konoha. Kalau bisa jangan sampai membuat keributan. Apalagi mempertaruhkan keselamatan warga desa.

"Tidak perlu khawatir. Hatake Kakashi pasti sudah mempersiapkan semuanya."

"Apa maksudmu Hamura?"

"Kita tidak akan melukai siapapun. Percayalah. Di lokasi hanya akan ada kita dan mereka. Tidak adanya Haruno Sakura pun sepertinya sudah direncanakan."

"Jadi, Kakashi juga punya rencana? Begitu maksudmu?"

"Ya. Kita hanya perlu masuk dalam rencananya. Dan semua akan terkendali.". Lewat ekor mata, lelaki tua itu meyakinkan. Koharu seketika terdiam. Asal Sasuke dan Menma lenyap saja, rencana apapun tidak masalah, kan? "Ingat apa kataku. Persiapkan pasukanmu untuk membunuh Uchiha itu... setelah kami tertangkap."

.

.

.

LUKA

(NARUSASU) MENMA

Masashi Kishimoto

Satu lagi cerita bertajuk Naruto dan Sasuke (Menma) hadir diantara intimidasi deadline tugas yang menggunung. Jika suka silakan baca. Judul dan isi tidak saling berkaitan. Penulisan apa adanya. Kesalahan bertebaran dimana-mana. Penggambaran karakter sangat jauh dari aslinya.

Lagi, karena alasan satu dan lain hal saya jadi males edit. Maafkan bila banyak typo mengganggu hehe... dan ini lebih pendek dari kemarin, semoga suka dan selamat membaca.

Satu lagi maaf kalau makin aneh... :D

-af-

.

.

.

"Kita mau ke mana, bu?", Menma bertanya. lelaki kecil itu heran mengapa pagi sekali ibunya sudah menariknya pergi ke suatu tempat. Ke mana? Si kecil bertanya-tanya. Pasalnya ibu tercinta hanya bilang meraka akan tahu ketika sampai tujuan.

Di sekelilingnya mulai nampak pepohonan. Ada juga jalan setapak membentang sampai di kejauhan. Tempat ini jauh ada di sudut Konoha. Terpisah dari pemukiman warga. Seperti tempat terisolir, karena dari Menma berdiri, tempat itu terlihat tidak terawat. Di gerbang masuknya, terdapat pula pembatas. Pada bagian atas, tulisan besar-besar terangkai kata 'KLAN UCHIHA'. Taklupa lambang kipas merah.

Baru sampai pada ambang, Sasuke menghentikan langkah. Sayup-sayup suara orang-orang dalam ingatannya berkumandang. Orang-orang yang dulu berbagi tawa bersamanya. Setiap hari menyapanya ketika ia pergi dan pulang sekolah. Mereka, keluarganya. Korban pembantaian dari kisruh masalah kudeta. Membuat kakaknya, Itachi, harus rela jadi kambing hitam. Hanya untuk mati di tangannya. Menyisakan penyesalan mendalam. Awal dari dendam yang mengurungnya dalam kegelapan.

Ah. Masa lalu itu, sampai saat ini pun masih membayang.

"Sudah sampai?"

Pria yang lebih tua menyejajaran dirinya pada yang lebih muda. Berkata lah ia, "Hn. Kita akan menyapa keluarga ibu di sini. Menma mau kan?"

Berkedip. Walau tak sepenuhnya mengerti, sang putra tetap saja mengangguk menyetujui. Entah menyapa yang bagaimana, Menma tidak peduli. Terpenting adalah ibunya tengah tersenyum sumringah saat ini. Hal yang belum Menma lihat sejak dia menginjakkan kaki di desa ini.

Keduanya masuk lebih dalam. Keadaannya pun takjauh berbeda dengan apa yang terlihat di luar. Tempat itu sangat tidak terawat. Bangunan runtuh di mana-mana. Entah pihak Konoha memang sengaja, atau tempat ini benar sudah dilupakan.

Tempat ini, jauh dari gerbang depan. Tempat peristirahatan terakhir para Uchiha. Baik itu yang mati karena misi, ataupun pembantaian Itachi. Semua di makamkan di sini. Ayahnya, ibunya, kak Shisui, dan semua Uchiha, kecuali Itachi. Satu-satunya yang takpernah kembali.

Menma melihat bagaimana kelopak mata itu menyendu. Menjadikan semesta pada sepasang bola malam itu berselimutkan kabut. Mendung. Dan perlahan turun. Menma pernah lihat, seperti apa ekspresi sedih sang ibu. Namun taksampai membuahkan pilu.

"Bu...?"

Yang terpanggil, tersentak. Sampai lupa pada eksistensi sang anak. Sasuke segera memalingkan muka. Menghapus jejak air mata. Mengondisikan wajahnya ke keadaan semula. "Ya?"

"Ibu tidak apa-apa?"

"Hn". Sayup dapat terdengan gesekan angin. Mereka terlindung dalam hening yang menggetarkan sepi. Satu menunggu penjelasan. Satu lagi mengumpulkan tekad untuk mulai bicara. "Menma tidak bertanya kita ada di mana?"

"Ada banyak nisan di sini. Tidak perlu bertanya pun aku tahu kalau ini pekuburan. Lagipula...", ada jeda dalam kalimatnya. Si kecil kini beralih muka. Taksampai hati bertatap dengan wajah ayu ibunya. "Aku tidak tahu cara bertanya tanpa melukai perasaan ibu.", katanya.

.

.

.

Entah bagaimana semua ini bermula. Dirinya hanya ingat bahwa semalam ia tidak bisa memejamkan mata. Sayup suara Pakkun terus-menerus meracuni pikiran. Membuatnya mau tidak mau berpikir ulang tentang perasaan cintanya. Sungguh, Kotarou sama sekali tidak meragukan bahwa ia pun memiliki cinta teramat besar untuk Sasuke-san. Tapi apakah itu nantinya akan membawa bahagia? Seperti kata Pakkun semalam.

"Semua hal yang melibatkan cinta selalu berakhir derita. Selama ini itu yang kulihat."

Benarkah demikian? Apakah dirinya pun akan berakhir dengan luka. Seperti apa yang terjadi pada Sasuke-san. Memang ia tidak tahu hubungan antara Hokage dengan orang yang dia cinta. Ia hanya beranggapan bahwa semua penderitaan Sasuke-san bermula dari sana.

"...maaf aku tidak mencintaimu. Bukan karena kau orang jahat. Tapi lebih pada perasaanku yang sampai sekarang masih terisi satu orang. Kautahu pasti siapa dia."

Dia ingat. Dengan sangat jelas bahwa Sasuke-san masih menaruh cinta pada lelaki pirang. Kotarou hanya tidak mengerti mengapa bisa perasaan itu bertahan padahal jelas luka yang Sasuke-san rasakan. Dipendam begitu lama sampai akhirnya muncul ke permukaan.

Haruskah dirinya mundur untuk mencari kebahagian lain yang lebih menjajikan? Jawaban itu, akan segera ia temukan. Untuk itulah, alasan mengapa di sini ia berada.

"Jadi, aku tidak tahu ada alasan apa Anda berkunjung kemari.", Uzumaki Naruto bertanya dengan nada heran yang tidak ditutup-tutupi. Tiba-tiba Shiba muda yang baru saja menjalin kerja sama berdiri dengan wajah gelisah pagi ini, membuatnya mengerenyit tidak mengerti. Gerangan apa yang membuat Kotarou bertandang ke mari.

Menghirup oksigen sejenak, sebelum dia mulai bicara. Memantapkan segenap hati dan jiwa. Karena apapun yang nanti terjadi, semua ini akan menentukan pilihannya. Katanya, "Langsung saja. semalam Pakkun bilang kalau dulu Sasuke-san lah yang meninggalkan Anda? Kenapa? Apakah ada alasan mengapa dia bertindak demikian? Benarkah ini murni keinginannya? Dari yang kulihat, Sasuke-san juga tidak menaruh benci padamu. Kalian hanya bersikap seolah teman lama yang baru saja bertemu. Semua rasa canggung, tak sedikit pun menutupi pandangan cinta itu."

Naruto menyaring tiap kata yang Kotarou ucapkan. Sebentar ia mengerjap, tidak menyangka kalimat terakhir itu bisa keluar dari mulut sang Shiba. Seorang rival yang diyakininya punya cinta sama besar untuk pria Uchiha.

"Boleh aku tahu alasan Anda bertanya demikian?"

"Takperlu se-formal itu. Ini hanya pembicaraan antarlelaki biasa. Dan alasannya... aku hanya tidak ingin salah menentukan pilihan."

"Hhhh... baiklah. Mungkin ini akan jadi cerita yang cukup panjang."

"Kalau begitu persingkat."

Untuk itu, Naruto menatap tepat pada manik kelabu. Melihat kesungguhan di sana, membuatnya tidak punya pilihan lain kecuali bercerita tentang semua yang terjadi di masa lalu. "Aku dan Sasuke adalah yatim piatu. Kami merasakan kesendirian. Kekosongan. Mencari-cari apa kiranya yang dapat menutupi lubang dalam dada karena terlalu lama terasing dari orang sekitar. Sayangnya, cara kami dalam menemukannya sangat berbeda. Aku dengan mencari banyak teman, sedangan Sasuke menjerumuskan diri dalam dendam.

"Singkat cerita, Sasuke pergi. Dan aku mati-matian untuk membawanya kembali. Berusaha menariknya dari rasa sepi. Awalnya kupikir perasaan ini hanya sekedar empati. Aku tidak sadar, sampai hari di mana Sasuke dijatuhi hukuman mati.

"Dengan kalap aku mendatangi para tetua, menolak semua keputusan mereka untuk membawa Sasuke ke tiang gantungan. Menerima syarat gila pun aku lakukan. Meminang Sasuke dalam ikatan pernikahan. Padahal jelas saat itu aku tengah memadu kasih dengan gadis Hyuuga.

"Semua itu membuatku tanpa sadar menyalahkannya. Inikah yang kudapat setelah mati-matian mempertahakan eksistensinya. Aku tidak berpikir bahwa dia juga terluka. Apalagi dengan semua perlakuanku padanya setelah kami mengucap janji setia. Sasuke mungkin berpikir bahwa semua ini kesalahannya. Berakhirnya hubunganku dengan Hinata. Dan ia memilih pergi untuk kali kedua."

Naruto menjeda cerita. Melihat bagaimana reaksi Shiba muda setelah mengetahui kebenarannya. Tidak ada perubahan dalam binar matanya. Kotarou masih seperti menunggu kelanjutan kisah masa lalunya. Pria berusia tiga puluhan itu menghirup nafas panjang. "Begitulah. Aku baru sadar bahwa Sasuke punya tempat tersendiri di hatiku setelah ia meninggalkan Konoha. tempat di mana tidak seorang pun bisa menggantikannya bahkan jika itu adalah Hinata.

"Percaya tidak percaya, aku bahkan menyebar semua kloning yang bisa kubuat untuk mencarinya. Berharap sedikit saja menemukan jejaknya. Tapi semua itu sia-sia. Sepuluh tahun, pencarianku tak menghasilkan apa-apa. Sampai akhirnya aku dipertemukan dengan Menma. Putra kami berdua."

Kotarou tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Manik biru yang menjajikan dalamnya samudra itu, tak sedikit pun mengatakan kebohongan. Pun pada kalimat terakhir, tidak ada keraguan. Seperti apa yang Pakkun katakan semalam, "...mereka selayaknya cerita yang tidak bisa dikisahkan secara terpisah."

Shiba muda memejamkan mata. Keputusannya sudah bulat. Ia akan melepaskan, bukan karena kalah tapi karena dia tidak ingin terlibat dalam kisah yang tidak akan berakhir kecuali dua orang itu bersama. "Kupikir kautidak mengatakan kebohongan. Jadi, yang harus kulakukan sekarang hanya mundur dari pertarungan, begitu?"

"Yah. Kurasa memang harus.", Naruto tersenyum jenaka. Satu rival cintanya mundur dengan suka rela. Ia tidak menganggap bahwa perasaan Koatrou dangkal. Bukan. Pemuda itu hanya terlalu mencintai Sasuke, sampai dalam tahap keikhlasan. "Lagipula, aku cukup keras kepala untuk membawanya pulang, benar?"

"Kh. Anda sama sekali tidak membantu. Entah mengapa aku sedikit kasihan pada Sasuke-san.". Perasaanya sudah lega. Benar, cerita mereka tidak bisa dipisahkan. "Baiklah. Kupikir aku harus segera kembali. Mengabarkan hasil perjanjian pada anggota klan secepatnya."

Ia balikan badannya ke arah pintu keluar. Hendak hengkang dari kantor pemimpin Konoha. Namun baru satu langkah, "Oh iya, sampaikan maafku pada Sasuke-san."

"Hmmm... kenapa? Kau tidak mau bertemu dengannya dulu?"

"Setelah apa yang kulakukan, aku tidak punya keberanian memperlihatkan wajahku padanya. Tapi mengingat sifatnya, sepertinya dia akan mudah memaafkan. Kalau begitu, sampai jumpa, tuan Hokage."

BLAM.

Pintu ditutup. Meninggalkan Naruto dengan rasa penasaran menggunung. "Memang apa yang dia lakukan padanya?"

.

.

.

"Lagipula... Aku tidak tahu cara bertanya tanpa melukai perasaan ibu."

Sasuke mengulas senyum samar. Ditatapnya wajah putra semata wayang. Entah berapa banyak sifat Naruto menurun padanya. Pria kecilnya perlahan tumbuh makin dewasa.

Kali ini, si surai arang kembali menatap dua nisan berdampingan di hadapannya. Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto. Orang tuanya. Mengatupkan tangan, memanjatkan do'a pada yang kuasa. Serta meminta maaf karena selama ini baru datang menyapa. Dalam hatinya, Sasuke bilang kalau kehidupannya sudah baik-baik saja. Dan mereka tidak perlu khawatir lagi tentang kebahagiannya.

Melihat bagaimana ibunya khusyuk berdo'a, Menma takmau ketinggalan. Meski ia tidak tahu makam siapa di hadapannya. Si kecil hanya meminta agar siapapun itu, tenang di alam sana.

Cukup lama keduanya memanjatkan do'a. Gemerisik angin kesekian, baru lah mereka membuka mata.

"Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto. Mereka kakek dan nenekmu.", kata yang lebih tua. "Dua orang hebat pemimpin klan Uchiha."

Menma menyimak dengan tenang. Tak sedikit pun berniat menginterupsi cerita ibunya. Ini adalah saat di mana sang ibu memperlihatkan sisi lain darinya. Bertingkah melankolis dengan menguak masa lalu yang seharusnya sudah terkubur dalam ingatan.

Sayup suara angin sesekali mengusik mereka. Menerbangkan surai hitam arang secara acak. Sasuke melanjutkan cerita tanpa satu kali pun mengalihkan pandang dari dua nisan bertuliskan nama mendiang ayah ibunya. Menyalurkan rindu serta permintaan maaf karena takpernah lagi berkunjung atau sekedar menyapa.

"Kakek, Nenek, Menma akan selalu menjaga ibu sekuat tenaga. Dengan sepenuh jiwa, memastikan bahwa selamanya, selama sisa hidupnya, ibu akan selalu bahagia. Itu janjiku."

Menma berucap tegas. Setelah Sasuke selesai bicara panjang lebar. Menyerukan sumpah di depan makam orang tuanya. Membuatnya terhenyak. Serta merasa haru luar biasa. Lelaki kecilnya. Yang paling ia sayangi di dunia. Telah menjelma jadi pria tangguh yang menggenggam erat tangannya. Menjanjikan bahagia untuknya. Menjadi tempat pulang dalam pengembaraannya.

"Ehehehe..."

.

.

.

Keringat dingin mengalir deras. Kuyup sudah tiap serat kain yang menempel pada tubuh ketua Yamanaka. Setelah berjam-jam memakan waktu hanya demi mengorek informasi dari Hamura. Inikah yang ia dapat?

PLAK!

Satu tamparan keras melayang. Membuakan kernyit heran dari sesama rekan yang ada di sana. Tentunya juga dengan wanita sepersekongkolan si lelaki tua, Koharu. Yang senantiasa menjeritkan kekagetan.

"Keparat!", Ino berujar marah. Dalam tiap silabis katanya, diisi penekanan. Intonasi naik di akhir kalimat. Ditambah pelototan mata hijau pucat yang menjanjikan siksaan sampai akhir hayat. "Kau! Jadi inikah rencanamu sebenarnya! Hah!"

"Cih!", Hamura meludahkan darah. Rahang kanannya, bekas tamparan shinobi wanita itu meninggalkan sakit teramat sangat. Takheran, karena ia juga seorang jounin elit Konoha. "Haha! Hahahaha!"

"Brengsek!"

"Hahahahaha! Sebentar lagi, sebentar lagi Uchiha keparat itu akan mati! Hahahahaha!"

Kerah diremat. Ino sudah tidak tahu lagi hendak berkata apa. Pikiran buyar. Hanya satu nama terlintas dalam benak. Dan pikirannya berteriak, bahwa orang itu dalam bahaya.

Langkah diambil kilat. Satu-satunya yang ia prediksi tempat orang itu berada adalah kantor Hokage. Merasa jika intuisinya tepat, Ino mempercepat langkah. Berlari, melompat, yang enting cepat sampai tujuan. Terlambat sedikit saja, semuanya bisa gawat.

.

.

.

Tempat itu berubah mencekam. Apa yang terjadi semalam kembali terulang.

TAP. SET.

Sekitar dua puluh orang berpakaian serba hitam dengan topeng hewan menghadang Sasuke dan Menma. Ketika mereka berencana pulang setelah melayat makam orang tua. Tanpa basa-basi, satu kunai melesat tepat menggores lengan kanan atas Sasuke. Disusul kemudian, serangan tangan kosong yang hampir melukai Menma. Untung gerak refleknya masih ada, mereka berhasil menghindar. Walau akibat yang ditimbulkan terlalu berlebihan. Tanah retak, dan kondisi Sasuke terluka, setelah menerima serangan telak.

"Hah hah hah...!". Tubuhnya melindungi sang putra. Dengan mata memicing tajam khas Uchiha, Sasuke bertanya pada orang-orang yang menyerangnya. "Siapa kalian!". Namun tidak satu pun dari mereka berniat memberi jawaban. Hanya kembali lemparan kunai dan serangan lanjutan yang Sasuke terima.

"Elemen api. Jurus bola api!"

Semburan api keluar dari salah satu penyerang. Kembali Sasuke menghindar dengan kecepatan di atas rata-rata manusia normal masih dengan memunggungi putra kecilnya.

Menma sudah gemetaran. Seluruh tubuhnya bergetar takut dengan apa yang terjadi barusan. Matanya memejam tiap kali serangan datang. Dalam hati berdo'a agar siapapun sadar bahwa ia dan ibunya dalam bahaya.

Keadaan makin menyulitkan. Sasuke sudah lebam sana-sini karena berusaha menghindar dan melindungi Menma. Jumlah lawan yang tidak segan-segan, membuatnya tak memiliki kesempatan menyerang. Apalagi menyadari kondisi Menma, makin ia kewalahan. Satu-satunya cara adalah memancing mereka agar perhatiaanya tertuju padanya.

"Dengar Menma,", bisiknya. "Larilah!"

Mendengar itu mata Menma membola. Demi apa ibunya berkata demikian. Mengapa ia harus lari sedangkan sang bunda berjuang mati-matian. Sial, kenapa dirinya sama sekali tidak berguna?

"Bagaimana dengan ibu? Hiks."

"Larilah. Ibu akan pancing mereka. Saat itu Menma lari dan minta bantuan. Cari Naruto.". Sigh. Dalam keadaan begini pun ia sempat berpikir tentang lelaki itu. Kh.

Air mata itu sudah mengalir deras. Dirinya tidak bisa. Meninggalkan ibunya dalam keadaan gawat. Tidak. Ia tidak bisa.

SET.

BRAK.

BUAGH.

DUAGH.

Sebuah bangunan runtuh sudah. Tanah retak di mana-mana. Tidak ada waktu menjelaskan bahwa keadaan ini benar-benar bahaya. Prioritas Sasuke adalah Menma. Sekarang bukan waktunya memikirkan alasan mengapa ia teringat pada si pirang. Terpenting adalah nyawa Menma selamat tanpa luka.

"Bagaimana dengan ibu!"

SRAK.

Satu tumbang. Namun Sasuke sudah menderita parah. Dahinya berlumuran darah. Nafas terengah. Baju yang ia kenakan pun tidak kalah merah.

"Saat ibu bilang tiga, lari. Mengerti?"

Dibelakangnya air mata Menma makin tidak tertahankan. Anggukan diterima. Sasuke mengambil posisi untuk melayangkan balasan.

DUAGH!

"TIGA!"

Menma lari sekuat tenaga. Diiringi senyum lebar Sasuke, sebelum kembali ia melakukan perlawanan.

"Kejar dia!"

SRET. Sasuke memberikan tendangan memutar pada pria yang hendak menyusul putranya. "Maaf saja, tapi lawan kalian adalah aku."

.

.

.

Baru beberapa menit lalu kantor Naruto ditinggalkan pemimpin klan Shiba. Sudah ada kunjungan baru dari tiga orang kepercayaan. Hatake Kakashi, Sai dan Shikamaru Nara. Entah ada urusan apa sampai ketiganya datang bersamaan. Namun melihat raut wajah itu, Naruto bisa menyimpulkan, apa yang hendak dibicarakan pasti tak jauh dari sosok Uchiha.

Pada detik pertama kedatangan mereka, hanya diisi senyap. Taksatu pun bicara, kecuali suara terhenti goresan pena. Sang pemimpin bertanya lewat tatapan mata. namun hanya dihadiahi dengus lelah salah satu dari mereka.

"Hhhh...", Shikamaru ancang-ancang angkat bicara. "Entah ini hanya perasaan, tapi kuharap iya. Aku sudah mendiskusikan ini dengan guru Kakashi dan Sai. Sepertinya apa yang terjadi semalam bukanlah akhir dari semuanya."

Alis Naruto terangkat satu. Membuat mimik mukanya tambah lucu. Jujur ia tidak mengerti dengan ucapan Shikamaru. Ini si Nara yang lupa, atau memang kedobean Naruto yang tidak hilang padahal sudah jadi orang nomor satu. "Maksudmu?"

Serempak tiga penghuni lain ruangan itu, menepuk jidat. Ingat kalau kinerja otak Naruto berjalan lambat. Kecuali sesuatu yang berhubungan dengan Sasuke, pria pirang itu pasti bergerak cepat. Tidak peduli nyawa bisa melayang, semuanya langsung Naruto sikat.

"Jadi begini, kami ragu jika para tetua itu bersedia digiring ke penjara tanpa melakukan perlawanan. Aku takut jika ada rencana lain dibalik penangkapan semalam.", kata Sai, memulai penjelasan.

"Mereka hanya pura-pura menyerah begitu?"

"Iya. Ini hanya firasat. Tapi semalam seuanya berjalan terlalu lancar. Meski seandainya memang para tetua juga sudah lelah main kucing-kucingan. Kita hanya perlu waspada."

"Lalu? Kalian ingin aku berbuat apa?"

"Semalam, hanya ada kau, Iruka, Sasuke, dan Menma. Keberadaan mereka hanya kalian berdua yang tahu.", kali ini Kakashi bertaya. "Aku ingin memastikan mereka selamat dan mengirim anak buah Sai agar berjaga."

"Bukankah sudah ada Kiba dan Shino? Setahuku mereka selalu ada di sekitar Sasuke dan Menma."

"Aku memerintahkan mereka lepas pengawasan sejak kita pergi ke festival, untuk kelancaran rencana. Semalam pun bukankah dua orang itu tidak datang saat penyergapan. Aku hanya ingin berjaga-jaga. Kita tidak bisa lepas begitu saja. Nyawa Sasuke dan putramu bisa terancam."

Naruto menimbang apakah saran guru Kakashi patut diterima. Memang benar, semalam semuanya terasa lancar tanpa kendala. Tapi jika pun para tetua itu masih menyimpan rencana, bukankah mereka sudah ditangkap? Semalam juga, pasukan elit ANBU sudah membekuk siapa-siapa saja yang terlibat dalam rencana pembunuhan orang-orang tercintanya. Jadi tidak mungkin kalau mereka sempat menyusun rencana balasan.

"Semalam, mereka menginap di rumah guru Iru – "

TAP.

"Di mana Sasuke!?"

Belum sempat Naruto selesai bicara, suara dari arah pintu membahana. Pelakunya, Ino Yamanaka. Dengan nafas terengah dan keringat membanjir di seluruh badan. Wanita pirang itu seperti telah berlari seratus putaran.

"Di mana Sasuke!?"

"Ada apa?", Sai bertanya cepat. Langsung tanggap dengan kondisi Ino yang tidak biasa. Jantungnya berdegup tak berirama. Seperti akan mendapat kabar buruk saja.

"Gawat! Sasuke dalam bahaya!"

.

.

.

Menma berlari sekuat tenaga. Dengan kaki kecilnya, sebisa mungkin menyingkir dari sana. Seperti kata ibunya, ia harus segera cari pertolongan. Siapa saja. siapa saja asal ia bisa menyelamatkan ibunya dengan segera.

Air mata takhentinya seiring Menma melangkah. Sembari terisak, tangan terkepal, Menma merapal. Menyebut seseorang bagai kesetanan. Berharap ia segera datang.

"Ayah... ayah... tolong... tolong..."

Walau dirinya tahu, suaranya tak kan pernah sampai padanya.

Satu sosok melesat cepat. Menghadang si kecil sampai ia terjerembab. Menma menggigil ketakutan. Pria bertopeng mengacungkan senjata padanya. Sekali tarik, tubuh itu sudah ada dalam endongan. Dicekal sekuat tenaga, membuat Menma tidak bisa bergerak.

"Kita lihat apa yang bisa kaulakukan bocah.", katanya.

Manik hitamnya membulat. Diangkatnya Menma menuju tempat di mana ibuunya kini sekarat. Berlumuran darah walau masih berdiri tegak. Namun dari kejauhan, sudah sangat jelas bahwa Sasuke kepayahan. Melawan puluhan orang tanpa senjata, dari jumlah saja, itu sangat keterlaluan. Apalagi sesekali, para pria bertopeng itu menggunakan jurus ninja.

Menma meronta. Menggigit tangan yang membekap mulutnya. Menghasilkan jerit sakit dari orang yang kini mengunci pergerakannya.

"Akh!"

"Bu!"

.

.

.

Lima orang tumbang. Masih tersisa puluhan orang dan Sasuke sudah sangat lelah. 'Ahh... apa ini akhirnya? Apa Menma sudah aman? Sial!', batinnya berteriak.

Sebelah matanya terburam darah. Tubuh Sasuke hampir goyah. Semampunya ia tahan segala sakit demi mengalihkan perhatian mereka. Sampai tidak sadar salah satu dari penyerangnya mengejar buah hatinya.

"Bu!"

Sasuke tersentak. Itu suara putra kecilnya. Reflek tubuh Sasuke memutar seketika. Ia makin terhenyak karena seseorang berjarak lima meter darinya tengah menyandera Menma. Pria mungilnya hanya bisa meronta. Tangan kecilnya terjulur, sebisa mungkin menggapai sosoknya.

"Bu!"

"Menma!"

"Lihat ke mana kau!"

Satu hujaman kunai berchakra menembus perut Sasuke dari belakang. Pria bertopeng itu menyerangnya saat ia teralihkan dengan kondisi Menma. "Ghookkk". Si pelaku menarik senjata. Sasuke memuntahkan darah dari mulutnya. Selain itu, makin merah sudah pakaian yang ia kenakan. Bekas tusukan itu menganga lebar. Tangannya terjulur hendak meraih putra yang kini membeliakkan mata. "Men... ma...", sebelum ia ambruk dengan kesadaran menghilang.

.

.

.

"Apa maksudmu Sasuke dalam bahaya!". Naruto menggebrak meja. Tubuhnya seketika bangkit mendengar Ino menyampaikan maksud kedatangannya. Ketiga pasang mata lain di sana, juga mengisyaratkan agar Ino segera menjelaskan sejelas-jelasnya.

Nafas ditarik pelan. Wanita Yamanaka itu berucap dengan sangat tegas. "Tetua itu masih menyimpan rencana. Mereka bermaksud menyerang Sasuke saat ia tengah sendirian."

Dalam kedipan mata, setelah Ino menyelesaikan ucapannya. Sosok Naruto menghilang. Tiada yang tahu pria pirang itu pergi ke mana. Hanya saja, pasti jelas mencari keberadaan sang Uchiha. Yang kalau tidak salah, tadi pemilik mata samudra itu bilang, saat ini tengah menginap di rumah guru Iruka.

"Ino bersiap lah dengan apapun yang terjadi nanti. Kami akan menyusul Naruto. Aku tidak ingin menyimpulkan ini, tapi carilah Sakura. Dan minta dia bersiap juga."

Semuanya seketika bergerak. Kaki mereka kompak melangkah. Tiga lelaki menyusul Uzumaki, sedangkan Ino menuju rumah sakit. Dirinya tidak mau ini terjadi. Tapi kemungkinan buruk pun juga harus segera diatasi.

Di depan gerbang kantor Hokage, keempat orang itu berpisah. Tiga lainnya segera menyebar ke tiap penjuru desa. Kakashi melihat Naruto melesat taktentu arah. Melewati tiap-tiap atap rumah hendak menyusulnya. Sebelum itu ia menyempatkan diri memberi perintah pada dua orang lainnya.

"Shikamaru, beritahu ini pada guru Iruka. Sai, bekuk semua aktivitas ANBU Ne di bawah kepemimpinan Koharu dan Hamura. Biar aku menyusul Naruto. Dia tidak akan bisa ditangani jika melihat Sasuke terluka."

"Baik."

Kakashi mengikuti mantan muridnya secepat yang ia bisa. Menyerukan nama pria itu, berharap Naruto bisa sejenak menenangkan pikiran. Bukannya ia tidak panik, tapi dalam keadaan ini, kepala dingin lah yang paling diperlukan. Bukan bergerak membabi buta, dan menarik perhatian warga. Itu hanya akan menimbulkan keresahan.

"Naruto! Naruto!"

Si pirang mengacuhkan seruan. Otaknya sudah terset dengan keselamatan kekasih dan malaikat kecilnya. Ia tidak bisa berdiam diri apalagi bersikap tenang. Sampai guru Kakashi menepuk bahunya, dan melayangkan satu tinjuan. TAP. DUAGH.

"Tenanglah bodoh!"

"Kh.", Naruto meludahkan darah. "Bagaimana aku bisa tenang kalau Sasuke dan Menma dalam bahaya!"

"Tenangkan dirimu. Bukankah saat ini ia ada di rumah guru Iruka?"

"Tempat itu kosong!"

"Kalau begitu, kau harus tenang dan pikirkan di mana kemungkinan Sasuke berada. Bukannya malah panik sep – "

BLARRR.

Belum selesai Kakashi bicara. Satu ledakan yang disinyalir dari pelosok desa terdengar. Dua pasang mata seketika melihat ke arah di mana suara itu berasal. Kompleks perumahan Uchiha. Dan Naruto seketika menghilang.

"Sial!"

.

.

.

Manik Menma hampir menggelinding tak percaya. Di depan sana tubuh ibunya tergeletak tak berdaya. Bersimbah darah di mana-mana. Sampai mengubur warna tanah dengan merah. Bungkam sudah segala racauan dan teriakan. Tubuh Menma berhenti berontak. Merasa syok lantaran melihat pemandangan mengerikan.

"Kini giliranmu. Mati kaubocah!", kata si penyandera. Mengacungkan senjata hendak melakukan hal yang sama pada bocah yang masih terdiam.

Sampai tiba-tiba. Ketika acungan kunai itu hampir mengenai tubuhnya. Menma mengeluarkan aura pekat yang mencekam. Seluruh tubuh itu terbungkus chakra merah hitam. Menguar membakar kulit dari orang yang hendak mencelakainya.

Sadar tidak sadar sebagian dari kulitnya, tertutup tanda. Hitam seperti tanda kutukan yang dulu Sasuke punya. Manik biru itu berputar, berganti merah dengan tiga tanda titik hitam. Lalu makin cepat, dan berubah lagi menjadi bentuk spiral. Sharingan.

Pria bertopeng yang merasa terancam melepaskan tubuh Menma. Menjauh dalam jarak aman. Meneliti apakah perubahan Menma bisa diatasinya. Ia berpikir jika ini bukan chakra biasa, bukan seperti chakra Mangekyo para Uchiha. Chakra merah hitam pekat yang berbahaya. Sisa penyerang di sana makin terhenyak. Sembilan bola hitam muncul dan berputar di belakang tubuh Menma.

Bocah itu melangkah perlahan hendak mendekati ibunya. Air mata kian deras. Kian cepat pula putaran spiral di matanya. Seirama dengan bola hitam yang mengelilinginya.

"Bu..."

Tangan itu masih berusaha menggapai sosok yang kini diam tak berdaya. Menma makin dekat. Makin goyah pula langkahnya. Tepat di jarak kurang dari setengah meter itu, Menma bersimpuh di hadapan tubuh ibunya. Menangis sesenggukan. Matanya kian kosong melihat orang yang dicinta celaka.

"Bunuh bocah itu!"

"AARGHHHHHH!"

BLARRRR.

Selaras dengan kondisi mental Menma, sembilan bola hitam itu berubah. Menyerang siapa saja yang telah mencelakai ibunya. Menma tidak terkendali begitu pun dengan chakra yang makin berkobar. Puluhan orang mati seketika. Masing-masing mereka tertembus perut dan jantungnya. Tanah Uchiha berubah jadi lautan darah.

"AARGHHHHHH!"

Suara kembali menggelegar. Sebelum pingsan lantara tengkuknya di pukul seseorang.

.

.

.

"Hiraishin."

Sekuat tenaga, secepat ia bisa. Naruto melompati tiap atap rumah warga. Tujuannya hanya satu, pemukiman Uchiha. Perasaannya berkata kalau sesuatu terjadi di sana. Itu berhubungan dengan orang-orang tercinta. Begitu sampai apa yang terlihat membuat Naruto tidak percaya. Tak begitu jauh dari tempatnya berdiri, tengah terjadi pembantaian masal. Aura pekat yang disinyalir chakra itu membungkus tubuh putranya. Ada juga bola-bola hitam yang sama persis miliknya ketika melawan Kaguya, membantai orang-orang berbaju hitam.

Kemudian teriakan Menma. dan... tubuh orang tercinta tergeletak tak berdaya.

Dengan jurus yang ia warisi dari mendiang ayahnya, seketika ia sdah berada di belakang putranya. Bermaksud menghentikan ketidaksatbilan Menma. Memuukul tengkuk itu dengan chakra. Kesadaran Menma menghilang perlahan, bersamaan dengan aura yang perlahan mengilang.

Naruto membuat bunshin untuk menopang tubuh putranya. Sedang ia mendekat pada lelaki tercinta. Ia dekap tubuh itu dengan sayang. Menyatukan kening mereka dan merapalkan kata... "Maaf..."

.

.

.

Bersambung...

Hai hai hai... saya kembali dengan fic LUKA yang makin entahlah. nyoba pengin bikin action, jadinya malah amburadul. Entah ini menegangkan atau tidak, saya minta kritikannya. Aish langsung saja, saya mau bilang makasih :

sHe NSL, Ai aQira, Guest, Aicinta Hatsuki, peachtea, nanaJulietta, kiyo, sweet dark onyx, Oranyellow-chan, Ririn, Sunsuke Uzuchiha, D, Rinhyun Uchiha II, Jia731, und, bagi NS, Andri476, uzuWp, Jekejek, syivhaa, Park RinHyun Uchiha, humusemeuke, dika, Ai Haruka, SparkyuELF137, luwiners, chochoima, Lisa Chou, bee,

sekian dari saya, jangan lupa pesan dan kesannya, sampai jumpa di chapter depan, doakan saja chap terakhir dan nggak up terlalu lama #bungkukbungkuk.