Chapter 10

"Dan eksistensi itu hadir merengkuh secuil asa yang berpendar, dalam sunyi dia bilang bahwa dunia tak kejam."

"Wonwoo harusnya kau dirumah saja."

"Aku tak ingin ketinggalan pelajaran."

"Lehermu sudah tidak apa-apa?"

"Soonyoung-ah aku benar-benar baik-baik saja." Wonwoo menjawab jengkel dengan penekanan dibagian 'benar-benar'. Soonyoung tak berhenti mengkhawatirkan Wonwoo semenjak temannya itu datang ke kelas.

Pemuda hamster itu kemudian berhenti bertanya dan memilih menepuk-nepuk punggung sang teman. Wonwoo hanya bergeleng kepala lalu kembali melakukan pemanasan.

Kelas mereka sedang melaksanakan pelajaran olahraga, sekarang Wonwoo sedang bersiap-siap untuk melakukan lompat jauh. Wonwoo percaya diri, dia sangat ahli dalam bidang ini.

"Jeon Wonwoo."

Begitu namanya dipanggil, ia langsung berlari kecil menuju garis start. Dengan aba-aba peluit, Wonwoo melakukan tahap demi tahap dengan benar. Pemuda itu berlari kencang begitu peluit terakhir ditiup, kakinya yang kurus dan panjang melaju dengan cepat, ia mengambil patokan dengan kaki kanan, melakukan tolakan dengan kuat lalu tubuhnya mengapung dan bertolak ke depan cukup jauh. Wonwoo mendarat sempurna. Dia tersenyum puas dan beradu pandang dengan Mingyu yang memperhatikan melalui jendela kelasnya.

Lalu senyuman itu perlahan hilang, bola matanya bergerak cepat menghindari iris hitam Mingyu yang terasa menusuk sendu dari kejauhan.

"Aku yakin nilaimu paling tinggi Wonwoo." Soonyoung berdecak kagum sambil merangkul pundak lebar temannya itu. Wonwoo tak menjawab, ia membiarkan kakinya melangkah mengikuti kemana Soonyoung merangkulnya. Pikirannya tak fokus.

"Mingyu, semalam kau pergi kemana?" begitu membuka mata, sebuah pertanyaan dilontarkan Wonwoo kepada sang pelayan yang masih berbaring sambil memeluknya.

"Aku pergi ke kantor polisi." Mingyu melepaskan dekapannya, tubuhnya terangkat hendak bangun namun ditahan oleh Wonwoo.

"Siapa yang menyuruhmu bangun. Tetap peluk aku." Mingyu tertegun sekejap, dia berbaring lagi mengikuti perintah tuannya. Matanya dapat melihat bagaimana telinga sang tuan berwarna merah jambu. Wonwoo berdehem pelan, mulutnya terbuka lagi berbicara "Apa yang kau lakukan disana? Bicara dengan Sekretaris Lee?"

"Aku bertanya padanya mengapa ia bisa berkata bahwa tuan lah yang membunuh eomma."

"Lalu apa yang dikatakannya?" kening Wonwoo mengkerut penasaran dan khawatir.

"Tuan Han." Tegas Mingyu sambil menatap mata Wonwoo. Mata rubah terbelalak.

"Orang licik itu. Malam itu padahal dia benar-benar tahu kalau aku tak berbuat apapun pada ibumu, dialah yang saat itu memergokiku." Tangan Wonwoo terkepal geram "lalu apakah dia juga yang membunuh ibumu?" Tanyanya hati-hati. Wonwoo tak tahu apapun dan tak ingin mencari tahu. Setelah malam itu, saat dirinya tak jadi membunuh Kim Minjung dan dipergoki oleh Tuan Han, Wonwoo tak pernah pergi ke rumah sakit, tak mengetahui kapan tepatnya ibu Mingyu meninggal dan tak pernah membahas tentang Kim Minjung lagi. Ingin mengubur dalam-dalam tentang kejamnya masa lalu, walaupun tak sepenuhnya karena mereka selalu datang melalui mimpi.

Mingyu menggeleng sambil tersenyum pilu "Eomma, menerima hukuman sendiri dari tuhan, sudah tak ada harapan lagi untuknya hidup, setiap saat aku selalu disampingnya namun tak ada tanda-tanda sama sekali kalau eomma akan membuka mata, saat napasnya akan diambil aku melihat sakit yang teramat pada raut wajahnya, aku tak sanggup melihatnya." Suara Mingyu pecah dibagian akhir, Wonwoo tahu dia menahan tangisnya. Sekarang Wonwoo merasa bersalah tidak berada disamping Mingyu saat itu. Padahal adik tirinya selalu ada disaat Wonwoo sedih.

"Tuhan membuat saat-saat terakhir eomma sangat menyakitkan karena dia pantas menerimanya," suara Mingyu semakin parau "Walaupun aku berpikiran seperti itu tapi ada bagian dari diriku yang marah pada takdir, dia tetaplah seorang ibu yang telah melahirkanku dan merawatku, aku benar-benar…" air mata Mingyu menetes, Wonwoo menangkup pipinya dan menyingkirkan air asin itu dengan ibu jari.

Mereka bertatapan. Wonwoo merasa dadanya sesak melihat mata Mingyu yang begitu sendu. Apa yang telah dia lakukan pada anak malang ini.

Tangannya bergerak melingkari leher Mingyu lalu mengusap rambutnya lembut.

Wonwoo tak tahu harus mengatakan apa, ia tak pandai menghibur seseorang dengan kata-kata, jadi yang ia lakukan hanya terus mengusap rambut Mingyu berharap memberikan ketenangan.

"Wonwoo, Wonwoo-ya, yah!" Soonyoung menepuk bahunya keras, Wonwoo terlonjak kaget.

"Kau itu kenapa?" Wonwoo mengerjapkan matanya, ia baru sadar kalau sekarang mereka sedang berada diruang ganti.

"Siapa yang menggantikan bajuku?" ia memperhatikan tubuhnya yang sekarang sudah memakai seragam sekolah. Soonyoung bergeleng-geleng, ia menutup pintu lokernya lalu menatap Wonwoo serius.

"Kau sendiri, kau tadi berganti baju dengan ekspresi wajah yang datar dan mata yang entah kemana, kau sangat kaku tadi. Benar-benar menyeramkan." Dia bergidik.

Wonwoo mendelik lalu berdecak pada Soonyoung.

"Kenapa, ada masalah dengan Mingyu?"

Pintu loker ditutup keras, Wonwoo tertegun dan Soonyoung terlonjak kaget karena suara debaman pintu tersebut.

"Kenapa kau tahu aku sedang memikirkan anak itu?"

"Eyy kaget sekali aku, tutup pintunya biasa saja dong." Pemuda itu menghela napas "Kemarin kalian tidak pulang bersama dan suasana kalian sangat tidak enak, jadi aku asumsikan saja begitu."

Wonwoo mengangguk mengerti. Dia termenung lagi. Ada yang mengganjal dihatinya sejak kemarin.

"Soonyoung-ah," Wonwoo menggigit bibir bawahnya "Aku…" jeda lagi. Sang lawan bicara menautkan alis heran. Wonwoo sepertinya ragu untuk melanjutkan perkataannya.

"Ada apa? Katakan saja kawan." Ucapnya sambil tersenyum.

Wonwoo menarik napas panjang.

"Aku menyayangi Mingyu."

Soonyoung kaget. Namun dia senang. Akhirnya seorang kakak yang dingin yang membuat adiknya menjadi pelayannya sendiri ini luluh juga. Es dihati Wonwoo akhirnya mencair.

"Katakan padanya, jangan hanya padaku. Mingyu berhak mendengarnya sendiri."

"Tapi aku malu. Aku merasa bersalah. Bagaimana aku tega selama ini memperlakukannya dengan buruk. Bodohnya aku yang baru menyadari bagaimana pilu nya sorot mata Mingyu, dan rasa kesepian yang tersembunyi dibaliknya. Mingyu tak punya salah apapun, dia dan aku sama-sama menderita, kami sama. Namun aku malah menjadikan dia sebagai objek balas dendam dan kepuasan hatiku. Aku benar-benar menjijikan." Wonwoo menunduk. "Aku tak punya keberanian lagi untuk menatap matanya."

Soonyoung mendekati sang teman kemudian menepuk bahu yang sekarang terlihat rapuh itu. Dia mengusap lembut.

"Kau sebenarnya orang yang hangat, aku yakin Mingyu bisa mengerti semuanya. Mingyu sangat menyayangimu juga." Dia tersenyum, lalu melanjutkan lagi dengan semangat "Mana Jeon Wonwoo yang berani, yang tak takut apapun? Katakanlah pada Mingyu secepatnya, kalian tak bisa terus seperti ini."

Lalu sepasang teman itu saling berpandangan, senyuman lembut terukir pada wajah mereka.

Mobil silver terparkir di garasi besar rumah keluarga Jeon, Mingyu langsung keluar dari pintu pengemudi dan berjalan cepat untuk membukakan pintu tuannya. Namun Wonwoo sudah keluar sendiri. Sang pelayan menatap heran.

"A-aku bisa membuka pintu sendiri, kau tak usah membukakannya lagi untukku." Dia berdehem lalu bergegas masuk ke dalam rumah.

Sudut bibir Mingyu tertarik ke atas. Tuannya yang salah tingkah itu menurutnya sangat lucu. Dia juga senang karena banyak perubahan yang baik terjadi pada Wonwoo.

"Kau ingin makan apa tuan?" Wonwoo menghentikan sejenak aktivitasnya dikomputer, posisi yang ditinggalkan oleh Sekretaris Lee masih kosong, sehingga banyak yang harus ia urus.

"Ayo makan diluar." Ucap Wonwoo cepat, sangat cepat.

Mingyu mengangguk lalu tersenyum lebar. Sungguh dia sangat senang. Ini pertamakalinya Wonwoo mengajaknya makan diluar.

Mereka duduk berhadapan disebuah restoran kecil, diatas meja sudah tersedia dua piring salmon panggang dan dua gelas lemon segar. Keduanya merasa senang namun suasananya begitu canggung. Tangan Wonwoo bahkan bergetar saat berusaha memotong daging. Mingyu yang melihatnya segera meraih pisau dan garpu ditangan Wonwoo namun sang tuan segera menarik tangannya.

"Diam, aku bisa sendiri."

Mingyu tersenyum, dia kembali bersandar pada kursinya dan memperhatikan Wonwoo.

"Kenapa makanannya tidak disentuh, tak suka?" Tanya Wonwoo sedikit kecewa.

"Tidak tuan, bukan begitu. Aku hanya ingin melihatmu makan terlebih dahulu."

Wonwoo meletakkan kembali pisau dan garpunya, dengan raut wajah serius lalu dia berkata "Kalau kau tidak makan duluan, aku tidak akan makan."

Mingyu menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu tersenyum samar, "Baiklah."

Setelah melihat satu suapan masuk ke dalam mulut Mingyu, Wonwoo pun kembali memotong salmonnya, sekarang dia lebih rileks, suasana pun mulai mencair. Mereka berdua makan dengan tenang.

Bulan naik menggantikan matahari, mereka berdua masuk ke dalam mobil setelah selesai makan. Lagi-lagi Wonwoo memprotes saat Mingyu hendak membukakan pintu untuknya.

Mobil silver itu melaju pelan dijalanan ramai kota Seoul, musik yang lembut diputar menghangatkan suasana mereka. Samar-samar, sudut bibir Mingyu tertarik ke samping, sesekali ia melihat Wonwoo dari ujung matanya.

"Tuan." Ucapnya.

"Hmm?"

"Terimakasih ya." Dan ia menunjukkan senyumannya dengan jelas, matanya yang berbinar menyipit bahagia.

Wonwoo pun ikut tersenyum, menampilkan deretan giginya yang rapi. Jantungnya berdegup kencang. Hatinya bergumam haru.

Aku yang lebih berterimakasih padamu, Mingyu.

Mereka berdua sampai dirumah, Mingyu mengantarkan tuannya sampai ke kamar. Begitu sampai ia kembali melakukan tugasnya, mengambil baju tidur Wonwoo lalu menghampiri sang tuan yang tengah terduduk dikasur melihat handphonenya. Mingyu duduk disampingnya, baju tidur berwarna navy itu ditaruh disebelahnya sementara tangannya bergerak menuju kemeja coklat yang Wonwoo pakai.

Wonwoo menaruh telepon genggamnya, tubuhnya menghadap Mingyu. Kancing atas bajunya telah terbuka, dia menarik napas dalam. Kemudian tangannya menghentikan gerakan tangan Mingyu. Wonwoo menggenggam tangan yang ukurannya lebih besar darinya tersebut.

"Mingyu-ya" Telapak tangan kirinya ia taruh dipipi Mingyu.

Tiba-tiba jantung Mingyu dipacu kencang, tatapan kakaknya begitu lembut namun tajam menerobos maniknya yang kebingungan.

"Hentikan, jangan melakukannya lagi, jangan melayani aku, kau bukanlah pelayanku lagi sekarang." Ucap Wonwoo tenang. Hati Mingyu mencelos, apa sang tuan akan mengusirnya.

"Kau bukan pelayanku,"

Pipi hangat Mingyu diusap.

"Kau adalah adikku."

Dan Wonwoo tersenyum, matanya berair.

Mingyu tak dapat menahan bendungan air matanya, dia menangis, haru dan bahagia. Sang kakak telah kembali.

"Aku menyayangimu Mingyu." Kalimat itu terlontar begitu manis. Tulus. Wonwoo menunjukkan senyum terhangatnya pada sang adik sekarang. Mingyu tak tahu harus berkata apa, air matanya mengalir tanpa henti, dadanya terasa begitu sakit, dia bahagia, terlalu bahagia.

Wonwoo langsung membawa Mingyu ke pelukannya. Air matanya pun menetes mendengar isakan Mingyu yang begitu pedih, seolah ia mengeluarkan sesak yang selama ini ia tahan.

"Maafkan aku Mingyu-ya." Wonwoo mengeratkan pelukannya, mengusap-usap punggung adiknya yang bergetar. Mingyu menggelengkan kepalanya dalam dekapan Wonwoo, ingin mengatakan bahwa tak ada yang harus dimaafkan dari kakaknya, namun ia tak sanggup bicara, yang keluar hanya isakan yang semakin keras.

Kakak dan adik yang kini saling mengakui tersebut terus menumpahkan rasa bahagianya melalui tangis yang dibagi bersama. Dekapan yang semakin erat, kedua bahu yang semakin basah. Berharap semua kenangan yang menyakitkan terhapus oleh air mata mereka yang menyatu dan mereka dapat terus tersenyum tanpa luka.

Handphone Wonwoo yang bergetar karena panggilan masuk terabaikan. Lalu saat panggilan tersebut berhenti, layar benda persegi panjang itu menampilkan sebuah pesan yang sudah dibaca.

Dari : Soonyoung

"Katakanlah padanya. Kalian berdua berhak untuk bahagia."

TBC

Kayaknya yang ini mess sekali deh, aku buru-buru banget ngetiknya soalnya. :")

Thanks for reading~

-Raa