Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto.
Warning : Semi-canon, OOC, heavy themes, typos, etc.
Danzo memandang pemuda di depannya dengan tatapan puas, dan mungkin bangga. Usaha kerasnya selama ini telah membuahkan hasil. Kini Pohon Agung Konoha akan semakin kokoh dengan adanya akar kuat yang menopang batang besarnya. Akar ini akan membuat Pohon Agung tidak akan mudah goyah ketika terkena tiupan angin puting beliung, terjangan tsunami, gempa bumi, ataupun badai petir.
Meskipun dulu Danzo sempat menyayangkan sikap Hiruzen pada bocah pirang itu yang dianggapnya terlalu memanjakan, tapi pada akhirnya ia mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan.
Senjata terkuat untuk Konoha.
Tanpa emosi, sangat loyal, dan tentu saja, mematikan.
Sejak anak itu terlahir, Danzo tahu bahwa dia akan menjadi calon akar yang kokoh. Darah Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina mengalir dalam nadinya. Apalagi ditambah dengan bijuu terkuat yang bersemayam dalam tubuhnya. Andai saja waktu itu ia langsung memperkenalkan anak itu pada Ne, ia tidak perlu repot-repot memainkan skenario ini.
Semua bermula ketika Danzo melihat seorang anak kecil berpakaian lusuh yang sedang menggigil kedinginan di tengah udara bulan Desember yang bersalju. Tubuh kecilnya ditekuk rapat untuk menghalau udara dingin yang menusuk, meskipun sepertinya tidak terlalu berhasil. Awan embun tercipta setiap kali ia mengeluarkan karbon dioksida dari paru-parunya. Walaupun jalanan Konoha saat itu terlihat ramai, tapi tak satu pun individu yang mempedulikan anak kecil yang tengah meringkuk di depan sebuah toko tak terpakai itu. Bagi yang cukup tergugah hatinya melemparkan beberapa keping receh, namun sebagian besar hanya melirik dan bersikap seolah tidak melihat apa-apa.
Danzo sendiri tidak peduli dengan kemalangan yang sedang dialami si bocah. Tapi ia tertarik dengan dua bola safir yang sedikit tertutup suari pirangnya. Sungguh, baru pertama kalinya ia melihat anak sekecil itu memiliki mata yang biasanya terpasang di wajah-wajah shinobi veteran yang baru saja pulang dari perang.
Kosong.
Mati.
Indah.
Saat itu juga Danzo menyadari bahwa ia baru saja menemukan apa yang selama ini ia cari. Benih kecil yang akan menguatkan kerajaan hijau zamrud Konoha. Tentara yang akan mengibarkan bendera perang berlambang daun di puncak. Dan ia, Shimura Danzo adalah orang yang akan membawa Konoha ke era keemasan itu. Era dimana akhirnya tidak ada lagi perang, dengan menjadikan seluruh kekuatan shinobi menjadi satu dibawah komandonya. Ya, dengan menjadikan dirinya sebagai pemimpin lima desa besar, maka tidak perlu lagi ada perang dan penderitaan. Rantai kebencian dan keputusasaan akan terputus. Bunga kedamaian akan mekar.
Itulah mimpi yang selama ini didambakan Danzo. Dan dengan pion baru ini, cita-citanya akan segera terwujud.
Mulai hari itu, Danzo mengerahkan beberapa anggota Ne untuk mengawasi dan mengobservasi bocah pirang itu. Terkadang dia juga ikut mengamatinya dengan mata kepalanya sendiri.
Apa yang Danzo temukan mengenai anak yang dikenal dengan nama Naruto benar-benar membuatnya puas. Hidup di jalanan selama beberapa minggu karena 'kabur' dari panti yatim-piatu, membuat anak itu memiliki pola pikir yang berbeda jika dibandingkan dengan anak seusianya. Lebih skeptis dan cenderung 'abu-abu'.
Harus Danzo akui, untuk ukuran anak seusia itu untuk bisa hidup mandiri tanpa mendapat perlindungan siapapun, meskipun hanya dalam hitungan minggu, adalah sesuatu yang mencengangkan. Apalagi bagi anak yang notabene menjadi pariah Konoha, yang keberadaannya cenderung mendapat penolakan dari para penduduk.
Mencuri, menipu, bersaing dengan tikus jalanan lain, dan bermain petak umpet dengan warga yang marah karena sifat tangan panjangnya sudah menjadi kesehariannya ketika hidup di jalan. Mau tidak mau, ia harus mengaburkan batas antara 'perbuatan baik' dan 'perbuatan buruk' yang diajarkan para pengasuh di panti. Dia harus mengubah pandangan hidupnya, memutar otak, melakukan apa saja untuk membuatnya bertahan hidup. Dia sudah terlanjur hidup dalam kubangan lumpur, menjatuhkan diri ke dalam tumpukan sampah tidak akan menjadi masalah besar baginya.
Ketika Hiruzen menemukan anak itu dalam keadaan kotor, kumal dan bau, sang Profesor itu langsung memberikan sebuah apartemen dan uang bulanan untuk biaya keperluan hidupnya. Danzo tahu persis kenapa Hiruzen membiarkan anak itu hidup sendiri, bukannya mengembalikannya ke panti asuhan. Membiarkan anak itu terlalu lama berada di tempat yang tidak menginginkan keberadaannya -tatapan dingin dan perlakuan tidak adil pengasuh panti, ejekan dan bully anak-anak lain, bahkan menjadi kambing hitam kesalahan orang lain- pasti akan membuat sisi putih anak itu tergeserkan oleh bayangan hitam yang perlahan-lahan menyergap. Bisa-bisa Naruto akan menumbuhkan bibit-bibit kebencian pada Konoha.
Mencoba menjauhkan Naruto dari semua itu memang sepertinya akan menjadi ide bagus. Tapi sepertinya prediksi sang Profesor meleset. Bukannya mengeluarkan anak itu dari kandang singa, dia malah melemparkannya ke kolam penuh buaya. Mulai saat itu, yang berperan sebagai 'penjahat' bukan lagi orang-orang di panti asuhan, tapi hampir seluruh Konoha.
Entah karena Naruto memang pandai menyembunyikan emosinya atau Hiruzen yang seolah menutup mata pada kondisi, lebih tepatnya keadaan batin, anak itu. Sang Sandaime memang selalu disuguhi senyuman lebar dan tawa keras dari si jinchuriki setiap kali mereka bertemu. Tapi sepertinya mata terlatih si Master Kera sudah terlalu rabun untuk tidak menyadari bahwa cengiran Naruto terlalu lebar -dipaksakan, kelopak matanya tertutup terlalu rapat -untuk menyembunyikan cermin biru yang memantulkan jiwanya yang mendung, dan tawanya terlalu membahana -untuk menghalau bisik-bisik yang setiap saat terdengar oleh telinga sensitifnya.
Danzo melihat semuanya. Dan dia tahu bagaimana ia akan 'mengolah' dan 'membentuk' bahan yang masih mentah ini. Dengan semakin menambah warna hitam di hati anak itu untuk menghapus setitik warna putih yang masih bertahan. Menjadikannya semakin gelap dan pekat.
Danzo kemudian menyiapkan panggung dan memilih para pemeran. Tokoh utamanya adalah bocah jinchuriki, Uzumaki Naruto, yang telah terjerat jaring laba-laba bernama 'keputusasaan'.
Danzo, dengan dibantu beberapa anggota Ne bermarga Yamanaka dan para spesialis ilusi, menggunakan genjutsu pada hampir setengah penduduk Konoha. Menanamkan benih-benih kebencian yang berlebihan kepada sang Jinchuriki. Kombinasi antara teknik klan Yamanaka dan genjutsu memang memberikan efek ilusi yang lebih 'nyata' dan tahan lama. Emosi negatif yang dirasakan korbannya merupakan perasaan yang nyata, bukan manipulasi indera atau semacamnya.
Jika sebelumnya para penduduk hanya sebatas menatap tajam dan bergunjing dibelakangnya, kini mereka yang terkena genjutsu akan terang-terangan menunjukkan sisi negatifnya. Memberikan harga khusus yang bisa tiga hingga lima kali lipat lebih besar dari harga normal pada anak itu, menolaknya masuk ke berbagai toko dan tempat makan, dan bahkan melakukan aksi vandalisme di kediaman Naruto.
Pelan tapi pasti, hati yang sudah rapuh itu pun hancur. Kematian Hiruzen dan pengkhianatan Uchiha menjadi bonus tersendiri bagi Danzo. Dan selanjutnya, dia hanya menunggu momen yang tepat untuk menyiapkan panggung untuk skenario selanjutnya.
Tiga tahun lalu
"Gaah! Siaaal! Semuanya sudah sesuai dengan apa yang dikatakan pertapa mesum itu, tapi kenapa ini tidak berhasil jugaaa! Menyebalkan!"
Danzo melihat anak berbaju serba orange itu kembali bangkit dari posisinya semula -terlentang di tanah akibat gaya dorong dari efek jutsunya yang gagal. Anak itu kemudian mengangkat kedua tangannya, dengan telapak tangan kanan terangkat ke atas dan tangan kiri dihadapkan ke depan. Beberapa saat kemudian, muncul kelereng biru terang yang terbuat dari kumpulan chakra yang bergerak ke segala arah. Semakin lama bola chakra padat itu semakin besar.
Sangat terlihat anak itu begitu berkonsentrasi dengan apa yang dilakukannya. Keringat kembali mengalir di wajahnya yang sudah terhias debu. Alisnya bertaut dan suara geraman mulai terdengar dari dalam tenggorokannya. Namun tak berapa lama kemudian, putaran chakra di dalam bola itu mulai tidak bisa dikendalikan, terlihat dari bentuknya yang sudah tidak menyerupai bola lagi. Mati-matian anak itu berusaha mempertahankan bentuk asli jutsu itu.
Suara geraman terdengar semakin keras dari sebelumnya. Tapi bukannya berhasil, pusaran chakra murni itu malah semakin tidak stabil, dan membuat Naruto mengulang kejadian yang sama seperti sebelum-sebelumnya: terlempar ke belakang karena ledakan chakranya sendiri.
"Ugh..." Sambil memegangi kepalanya, anak itu mencoba bangkit. Saat itulah, Danzo memutuskan untuk menampakkan dirinya. Dia kemudian menonaktifkan Meisaigakure no Jutsu (Chameleon Technique) yang selama ini ia gunakan untuk menyembunyikan keberadaannya. Ninjutsu ini adalah teknik kelas A yang mampu menyembunyikan bau, suara, dan bayangan penggunanya. Bahkan di tangan orang seperti dirinya, teknik ini bahkan bisa menyembunyikan jejak chakra miliknya.
Benar saja, Naruto yang baru saja bangkit dari posisinya dikejutkan dengan kemunculan Danzo yang tiba-tiba. "Siapa kau?" tanya anak itu waspada. Dalam sekejap kunai langsung tergenggam di kedua tangannya.
"Refleks yang bagus," kata Danzo tenang sambil berjalan menghampiri Naruto.
Tanpa sadar, kaki Naruto bergerak mundur seiring dengan Danzo yang semakin mendekat. Memang, bagi siapapun yang peka, pasti akan langsung tahu bahwa aura yang dikeluarkan Danzo terasa janggal. Hampir tidak ada yang bisa dirasakan dari eksistensinya. Tak ada istilah, warna, ataupun bentuk yang bisa menggambarkan dirinya. Null. Tapi justru itulah yang membuat dirinya berbahaya. Siapapun pasti akan kesulitan jika menghadapi sesuatu yang tidak benar-benar 'ada'.
"Apa maumu?"
Danzo mengabaikan pertanyaan yang diajukan padanya, memilih untuk bertanya balik. "Kenapa kau berusaha sekeras itu? Apa yang akan kau dapat setelah kau berhasil menguasai teknik itu? Apa hanya dengan itu kau bisa membawa pulang Sasuke? Apa dengan itu kau bisa menjadi Hokage? Membuat penduduk Konoha mengakui keberaaanmu? Men-"
"DIAM! APA MAUMU?!" Danzo melihat wajah anak itu menegang dan nafasnya mulai tidak teratur. Kunai di kedua tangannya bergetar hebat seiring dengan emosinya yang semakin meluap. Ia juga bisa merasakan chakra anak itu meledak dan tak terkendali.
"Aku sudah melihat semuanya," kata Danzo lambat-lambat. "Wajahmu yang sesungguhnya." Kedua mata Naruto melebar.
"Dan aku juga bisa membaca masa depanmu. Aku juga yakin kau pun juga sudah tahu masa depan yang sudah terukir di batu takdirmu." Danzo mengambil kembali langkah ke depan. "Tidak ada 'Menjadi Hokage'. Tidak ada 'Membawa pulang Sasuke'. Tidak ada 'Akhir bahagia selamanya'. Jalan yang terentang di depanmu adalah jalan penuh rintangan dan duri tanpa ujung. Satu-satunya yang bisa membebaskanmu dari penderitaan adalah kematian. Aku sendiri kagum sekaligus heran padamu. Katakan padaku, Bouya, apa yang membuatmu begitu keras kepala?"
"A-aku memiliki banyak orang-orang yang mendukungku. Aku tidak peduli sesulit apapun takdirku nantinya, selama ada mereka, aku pasti bisa melewatinya. Itu pasti!" Danzo bisa mendengar nada ketidakpastian dalam suara anak itu. Awal yang bagus. Dengan sedikit dorongan lagi, ia bisa mendapatkan si jinchuriki.
"Siapa? Uchiha? Dia lebih memilih balas dendamnya daripada persahabatan kalian. Dia juga hampir membunuhmu, kau ingat? Gadis berambut merah jambu itu? Bukankah selama ini dia membencimu? Sudah berapa kali kau dibuat kecewa dengan penolakannya? Kakashi? Dia lebih memilih Uchiha daripada dirimu. Bahkan ia juga mengajarkan pada Uchiha itu teknik yang dulu hampir membunuhmu. Tsunade? Kau terlalu banyak mengingatkannya pada orang-orang tersayangnya yang sudah meninggal. Melihatmu hanya akan membangkitkan kesedihannya. Jiraiya? Dia bilang dia akan melatihmu dan melindungimu dari Akatsuki. Tapi pada kenyataannya dia tidak pernah melatihmu dengan serius dan selalu saja bersenang-senang sendiri, seperti sekarang ini. Iruka? Dia membencimu. Orang tuanya meninggal karena rubah yang ada di dalam dirimu. Dan teman-temanmu . . . mereka juga pasti akan berbalik membencimu setelah mereka tahu rahasiamu."
"I-itu tidak benar . . . Itu, itu bohong . . . Mereka semua . . . A-aku menyayangi mereka semua-"
"Kau memang menyayangi mereka," kata Danzo pelan, namun terdengar jelas di malam hening itu. "Tapi apa mereka juga menyayangimu?"
Naruto terpaku ditempatnya. Tatapannya kosong. Bibirnya bergerak-gerak mencoba mengatakan sesuatu, tapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar. "Kau lihat, tidak ada seorang pun yang menginginkanmu. Sudah begitu banyak pengorbanan yang kau lakukan untuk mereka, untuk Konoha. Tapi hingga saat ini pun, mereka masih saja memberikan racun padamu. Kau penasaran kenapa mereka masih belum juga membunuhmu meskipun mereka sangat membencimu?" Kini jarak mereka hanya satu langkah. "Agar mereka bisa terus meluapkan perasaan negatif mereka padamu. Membuatmu menderita selamanya."
Malam itu, Danzo menyaksikan pemandangan yang begitu indah didepannya. Seperti lukisan-lukisan berseni tinggi yang terpajang rapi di rumahnya. Pemandangan seorang anak laki-laki yang telah kehilangan semuanya. Mata biru-kelabunya tak lagi bersinar seperti biasanya. Hanya memantulkan kembali cahaya keperakan dari sang bulan. Kunai yang sedari tadi dipegangnya jatuh terabaikan di tanah.
Tapi Danzo tidak berhenti sampai disitu.
"Ayahmu, Yondaime Hokage, tega menyegel Kyuubi di tubuh anaknya sendiri. Karena dirinya, kau harus menanggung beban berat itu." Angin bersesir di antara mereka berdua. "Bahkan orangtuamu juga membencimu." Air mata mulai mengalir dari kedua bola safir buram itu, membentuk sungai kecil di kedua pipi Naruto.
Danzo menyeringai puas melihat hasil kerjanya. Ia kemudian membuka perban yang menutupi mata kirinya, menampilan mata Mangekyou Sharingan milik Uchiha Shishui.
Dalam keadaan biasa, Danzo tidak akan mungkin mampu melakukan ini, yaitu memasuki alam bawah sadar seseorang dengan menggunakan mangekyou sharingan. Dia harus benar-benar 'menghancurkan' korbannya agar teknik tersebut dapat bekerja. Sekarang setelah Naruto tidak memiliki apa-apa lagi untuk mempertahankan mentalnya, ia bisa dengan mudah masuk ke pikirannya.
Hal yang pertama kali Danzo lihat adalah ratusan lukisan berbingkai emas yang terpajang rapi di sepanjang lorong. Andai saja situasinya berbeda, tentu ia akan menyisihkan waktu untuk melihat dan mengagumi gambar-gambar yang di dominasi warna-warna gelap dan suram itu. Lukisan-lukisan di sana memberikan kesan sendu dan membuat orang yang melihatnya dapat menitikkan air mata karena aura kesedihannya yang begitu terasa.
Tanpa buang waktu Danzo langsung menuju ke tempat Kyuubi disegel. Dengan berbekal sharingan, dia bisa mengendalikan rubah itu apabila situasi tidak berjalan sesuai rencananya.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Danzo menemukan sebuah ruangan besar yang menyerupai saluran air bawah tanah. Air berwarna coklat kotor menggenangi seluruh permukaan lantai. Di ujung ruangan itu, terlihat puluhan tiang besi kokoh berukuran raksasa yang membentuk sebuah penjara. Tak ada yang bisa dilihat di balik kerangkeng raksasa itu, hanya kegelapan tanpa ujung.
Danzo berjalan ke tengah ruangan, tempat dimana seorang anak berambut pirang tengah berdiri diam layaknya patung. Wajah anak itu membelakanginya, jadi dia tidak tahu ekspresi apa yang sedang di pasang di wajahnya.
Anak itu tetap tidak bereaksi meskipun Danzo sudah berdiri di sampingnya. Dari sudut matanya, ia melihat warna merah di pipi Naruto. Membujur membentuk garis. Mirip seperti pola air mata, namun berwarna merah, bukan bening seperti biasa.
Air mata darah.
"Kau bukan Uchiha." Terdengar suara dalam dan menggelegar di ruangan itu. Tanpa diberitahu pun, Danzo tahu milik siapa suara itu.
"Kyuubi," sapa Danzo tenang. Kyuubi membalasnya dengan geraman.
Bukannya takut, Danzo malah maju mendekati jeruji besi yang menghalanginya untuk berkontak langsung dengan Kyuubi.
"Apa yang sudah kau lakukan pada anak itu?"
". . . Aku hanya menjadikannya akar yang kokoh."
BRAKKK!
Danzo sama sekali tidak bereaksi ketika Kyuubi menghantamkan cakar besarnya pada jeruji penjaranya. "Kau marah? Apa kau peduli dengan anak itu?"
"Grrrr . . . Kau berniat membuat anak bodoh itu menjadi bonekamu. Itu sama saja kau juga menjadikan aku sebagai alatmu." Chakra merah mulai merembes keluar dari tiang-tiang besi. Berputar dan mengorbit di sekitar Danzo yang masih memasang wajah stoic. "Aku paling benci itu, Manusia."
Chakra merah di sekitar Danzo mulai mengganas. Tubuh renta Danzo mulai menunjukkan efek dari chakra korosif Kyuubi. Meskipun bukan tubuh asli, tapi rasa sakit yang ditimbulkan terasa seperti nyata. Danzo menggertakan gigi ketika tubuhnya mulai memprotes.
"Aku pastikan kau akan menurutiku, Kyuubi." Mata kiri Danzo menatap lurus mata Kyuubi. Memerangkapnya dalam kendali sharingan.
"GRAAAAH!" Danzo berusaha mengabaikan geraman dan amukan Kyuubi di depannya. Berkali-kali cakar besarnya menghantam dan memukuli jeruji besi, membuat ruangan besar itu bergetar.
"AKU MENOLAKNYA! AKU MENOLAK MENJADI ALAT MANUSIA RENDAHAN SEPERTIMU!"
Setelah hampir sepuluh menit, perlawanan dari Kyuubi akhirnya mulai berkurang. Hanya terdengar suara nafas yang tersengal dari rubah raksasa itu. Mata merah menyala miliknya sekarang hampir sepenuhnya berubah mejadi sharingan.
"Manusia . . . keparat. Aku akan . . . mencari cara untuk . . . hah . . . bebas dari kendalimu. Bagaimanapun caranya. Ingat itu . . . Manusia. . ."
Danzo menghela nafas lega ketika Kyuubi akhirnya bisa dikendalikan. Tugas selanjutnya adalah menyegel ingatan anak itu. Dengan begitu, Naruto akan sepenuhnya terlepas dari masa lalunya. Dari identitasnya yang dulu. Dan kemudian, dia akan terlahir kembali.
Sebagai akar terkuat untuk Pohon Agung.
Danzo berbalik, menghadap anak lelaki yang sedari tadi tidak bergerak sedikitpun. Alisnya terangkat ketika melihat mata anak itu yang terlihat . . . tidak biasa.
Batu safir di sana telah digantikan oleh ruby. Pupil yang tadinya bundar telah berubah seperti pupil hewan karnivora. Dan bagian putih mata itu telah tertutup warna hitam. Air mata berwarna merah terus mengalir tanpa henti dari matanya yang tidak pernah berkedip. Ekspresinya kosong, seperti tak bernyawa.
Tanpa buang waktu lagi, Danzo langsung mengangkat kedua tangannya dan mulai membentuk segel tangan.
Sebelumnya, Danzo telah menggambar sebuah fuuin di kedua telapak tangannya dengan tinta yang telah dicampur dengan darah Naruto dan darah miliknya. Karena fuuin tersebut terbuat dari salah satu bagian dari Naruto, maka fuuin tersebut masih akan muncul meskipun ia sudah berada di alam bawah sadar anak itu. Dengan menggunakan media darah, yang merupakan inti dari kehidupan, ia juga bisa terhubung dengan jiwa dan pikiran Naruto. Menjadikan anak itu benar-benar berada di bawah kendalinya.
"Tamashii Kioku no Maisou (Soul Remembrance Burial)."
Danzo menempelkan kedua tanganya di dada Naruto. Seketika itu, ratusan tentakel aksara fuuin yang muncul dari kedua telapak tangannya langsung merayapi tubuh anak itu. Sebagian aksara tersebut melesat ke arah lorong-lorong penuh lukisan yang tadi dilewatinya. Menghinggapi setiap pigura yang ada dan menyerap cat lukisan tersebut bagaikan spons, meninggalkan kanvas kosong tak bernoda. Sementara itu, sebagian aksara fuuin yang tertinggal melilit tubuh Naruto, bergerak bagaikan ular piton yang tengah menjerat mangsanya.
Merasa tugasnya telah selesai, Danzo langsung kembali ke dunia nyata. Di depannya, tubuh Naruto kini tergeletak tak berdaya. Di kejauhan, ia bisa merasakan chakra Jiraiya semakin mendekat. Cepat-cepat ia menggunakan Meisaigakure no Jutsu dan menjauh dari tempat itu.
Meskipun teknik yang dipakai Danzo cukup sederhana, namun keahliannya dalam menggunakan teknik ini benar-benar luar biasa. Hampir menyamai Nidaime Tsuchikage, Muu, dalam keahliannya menggunakan Mujin Meisai (Dustless Bewildering Cover). Benar-benar tidak ada satu pun jejak yang akan tertinggal, chakra sekalipun. Jiraiya juga tidak akan mampu melacaknya dengan mode sennin, apalagi si mesum itu tidak bisa menggunakan teknik tingkat tinggi itu dengan sempurna.
Konoha tidak akan mencurigainya sedikit pun.
"Kau menjalankan tugasmu dengan sangat baik, Kitsune. Aku bangga padamu."
Ia bersyukur Master puas dengan hasil kerjanya. Kondisi tubuhnya saat ini tidak bisa dipaksakan untuk berlatih 48 jam nonstop -hal yang biasa dilakukan Master setiap kali tidak puas apa yang dilakukannya.
Memang, untuk misi terakhirnya, yaitu menyusup ke tempat persembunyian Orochimaru dan membuat ninja Konoha menemukannya, telah cukup menguras energinya. Sebelumnya dia harus berpuasa entah berapa lama agar bisa meyakinkan Hokage dan para medis lainnya bahwa ia benar-benar 'diculik' oleh Orochimaru. Untungnya ia dibantu oleh Sumi Bunshin (Ink Clone) milik Sai, yang membantunya menyusup ke tempat Orochimaru. Tubuhnya yang terlalu lemah tidak memungkinkannya untuk melakukan tugas itu sendirian.
"Terima kasih, Danzo-sama."
"Untuk selanjutnya, kau akan menjadi mata-mataku untuk Tsunade dan Jiraiya. Dekati mereka berdua dan ambil informasi dari mereka sebanyak-banyaknya. Jika waktunya tiba, kau harus bisa membunuh mereka." Seperti biasa, tak ada emosi dalam suara Master.
"Saya mengerti." Tak ada tempat baginya untuk membantah. Baginya, kata-kata Master merupakan suatu perintah yang mutlak. Absolut. Ada semacam kekuatan yang membuatnya tidak bisa menolak apapun yang dikatakan Master.
"Setelah ini, Jiraiya pasti akan mendatangimu. Yakinkan orang itu untuk mengajarimu teknik Sage. Kau harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk badai nanti."
"Baik, Danzo-sama."
"Kau juga harus bisa menarik simpati dari anak-anak penerus klan. Dekati mereka dan jadikan mereka sekutumu, terutama gadis penerus klan Hyuuga.
"Mulai saat ini, kau berada di bawah komando Konoha. Turuti semua apa yang mereka katakan, kecuali jika ada pengecualian dariku. Jangan pernah menyinggung namaku ataupun Ne pada pihak Konoha, atau kau akan menanggung akibatnya.
"Dan yang terakhir, selama dalam misi ini harus tetap memberikan laporan langsung padaku setiap harinya. Jika situasi tidak memungkinkan, kirimkan kabar ke Sai."
"Baik."
Dari sudut matanya, ia melihat Master berbalik. Bunyi ketukan dari tongkat kayunya kembali terdengar. "Jangan kecewakan aku, Kitsune," kata Master sebelum menghilang dari balik pintu.
Ia mendesah pelan ketika chakra Master telah menghilang dari radarnya. Perhatiannya kembali beralih ke pemandangan muram yang ditampilkan lukisan berbingkai jendela di kamarnya. Tak ada satupun bayangan yang bergerak dari tempatnya. Wajar saja, jika mereka semua bukan anggota Ne, Hokage dan pasukannya pasti sudah menghampiri ruangannya bahkan sebelum Master sampai ke tempatnya.
Ia tidak begitu ingat bagaimana ia bertemu dengan Master, ataupun semua tentang masa lalunya. Semuanya terasa buram dan kabur dalam memorinya. Ia tahu ia masih memiliki beberapa potongan ingatan masa lalu di suatu tempat, tapi hampir semuanya telah terkubur oleh tumpukan doktrin dan pelajaran yang diberikan Master.
Terkadang ia bermimpi tentang senyum ramah dari seorang pria yang memiliki bekas luka di atas hidungnya, tentang mata hijau yang menatapnya sendu, dan tentang senyuman tak terlihat dari pria berrambut perak. Di mimpi itu ia merasa hangat. Sebuah perasaan yang membuatnya tidak ingin terbangun.
Ketika ia terjaga, semua perasaan itu pun lenyap. Dingin-lah yang menyambutnya. Ia ingin merasa marah, sedih, dan kecewa, tapi Master telah mendidiknya untuk tidak merasakan sesuatu se-mewah itu.
Dia adalah senjata Konoha. Sebuah alat. Benda mati. Sudah sepantasnya jika dia tidak boleh memiliki sesuatu yang disebut 'emosi'. Sesuatu yang bisa membuatnya lemah.
Ia sudah dilatih secara khusus oleh Master untuk menjadi shinobi yang sempurna. Setiap hari ia dijejali puluhan buku dan gulungan untuk direkam di dalam otaknya. Mulai dari informasi umum dan sepele yang biasa di ajarkan di akademi hingga informasi rahasia dari hampir semua desa dan kota di Negeri Elemental.
Tak hanya otak yang diasah, kemampuan fisiknya pun terus ditempa tanpa henti oleh tangan dingin Master. Tai, Nin, Gen, Ken, Buki, Fuuin, Kin, bahkan Hijutsu (Hidden Technique) juga di ajarkan padanya.
Berlatih, berlatih, berlatih dan terus berlatih. Sebuah siklus panjang yang membosankan dan juga melelahkan.
Dia hanya diizinkan istirahat dua atau tiga jam dalam sehari. Bekal yang dibawanya sebelum terjatuh ke alam mimpi adalah luka dan memar di sekujur tubuh dan kelelahan fisik yang luar biasa. Pernah, ia menderita efek samping dari kehabisan chakra, yang membuat ia tak sadarkan diri selama tiga hari. Waktu yang sangat panjang untuk dihabiskan hanya untuk tidur, menurutnya.
Namun herannya, hanya dengan istirahat dalam waktu sesingkat itu, tubuhnya bisa sembuh dan kembali pulih seperti sedia kala. Ia tidak tahu apakah itu merupakan hal yang patut disyukuri atau bukan. Memang, dengan gabungan antara darah Uzumaki, chakra Kyuubi, dan gen Senju Hashirama yang dicangkokkan ke tubuhnya membuat sistem regenerasi jauh melebihi manusia normal.
Gen Hashirama, gen langka ini memang sengaja dimasukkan ke dalam tubuhnya sebagai 'penangkal alami' jika Kyuubi mulai lepas kendali. Chakra Hashirama akan langsung bereaksi dengan liontin kristal miliknya apabila chakra Kyuubi mulai keluar dari segel yang dibuat Yondaime. Ia tidak terlalu mengerti bagaimana cara kerjanya, karena itu hanya sebatas teori, mengingat ia tidak pernah sekalipun kehilangan kontrol akan Kyuubi.
Dan sebagai efek sampingnya, selain mempercepat sistem regenerasinya, ia juga bisa menggunakan teknik andalan Shodaime Hokage, yaitu Mokuton. Meskipun tidak seefektif Shodaime, tapi ia bisa mereplika beberapa tekniknya dalam skala yang jauh lebih kecil dan sederhana.
Ia menegakkan badannya ketika merasakan chakra seseorang mendekat. Benar saja, tak lama kemudian, sebuah siluet muncul dari pusaran tinta hitam di depan jendela ruangannya.
"Kitsune," sapa pendatang baru itu pelan. Mata hitam orang didepannya sama kosongnya seperti mata kelabu milkinya.
"Mulai sekarang panggil aku Naruto. Uzumaki Naruto." Ia kemudian mengambil tempat di salah satu kursi plastik yang ada di samping ranjang. "Ada apa, Sai?"
"Hanya berkunjung." Mata hitam Sai menyusuri setiap inchi ruangan yang tengah ditempatinya. Pandangannya tertahan beberapa kali di tempat para bayangan Ne yang lain tengah bersembunyi, seakan memberi salam tanpa suara pada rekan-rekannya.
"Hanya itu?"
"Ini." Sai melemparkan sebuah botol kecil padanya. "Beritahu aku jika kau kehabisan stok."
"Terima kasih." Ia kemudian menyimpan botol itu di dalam laci meja di samping tempat tidurnya.
"Aku juga ingin bertanya beberapa hal padamu," kata Sai.
Ia menatap datar wajah pucat di depannya selama beberapa saat, sebelum akhirnya menanggapi. "Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Danzo-sama menyuruhku untuk bekerjasama dengan Si Jelek dan Si Mata Satu, tapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku sudah membaca beberapa buku referensi dan mempraktekan semua yang tertulis di sana. Tapi entah kenapa sepertinya semua usahaku selalu gagal. Aku selalu saja mendapat bogem dari Si Jelek."
"Lalu, apa hubungannya denganku?"
"Bukankah kau dulu pernah mengenal mereka? Ketika kau masih tinggal dengan chunin itu, Umino Iruka?"
Hatinya berdesir ketika mendengar nama itu. Entah kenapa, jantungnya selalu berdetak menyakitkan setiap kali ia mendengar nama Iruka.
Mungkinkah rasa bersalah karena membunuhnya yang menjadi penyebab kenapa ia selalu merasa tidak nyaman setiap kali mendengar nama Umino Iruka? Tapi kenapa hanya Iruka? Sedangkan ia sendiri sudah membunuh ratusan bahkan ribuan orang selama melakukan tugasnya di Ne.
Sebenarnya apa yang sudah dilakukan Iruka padanya?
Potongan-potongan ingatan mulai datang menyerbunya. Sama seperti sebelum-sebelumnya, buram dan samar.
-Pintu terbanting. "-PEMBAWA SIAL-"
Mata hitam keji, sinar bulan terpantul di permukaan kunai. "-mati!"
Tubuh bergetar. Dada sesak, panas. Sakit.
Hentikan.
Wajah dengan bekas luka di atas hidung memasang seringai jahat. Sepasang tangan besar menyergap lehernya. Tidak bisa bernafas.
Hentikan.
"Enyah kau-"
Kunai menembus kulit. Bau karat. Lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi.
Air asin keluar dari pelupuk mata. Sungai penderitaan.
Hentikan.
Tangan kecil meraba-raba. Mencari apapun yang bisa menyudahi derita. Benda tajam. Kunai.
Hentikan!-
Ia menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir memori tak diundang yang datang kepadanya.
"Kau lupa Sai? Kita tidak diizinkan untuk memiliki masa lalu. Aku sudah mengubur semua ingatan tentang mereka."
Sai menatap lurus-lurus matanya. "Tidak semuanya."
Ia merapatkan bibirnya. "Kau benar," katanya beberapa saat kemudian. "Tapi hanya kenangan menyakitkan yang bisa kuingat, terutama setiap kali mendengar nama Iruka."
Ia menempelkan telapak tangannya ke dadanya, tepat di jantung. "Di sini juga selalu terasa sakit."
Sai memiringkan kepalanya. "Itu karena dia berusaha membunuhmu."
"Itu aku juga tahu. Lagipula, bukan dia saja yang pernah mencoba membunuhku. Yang selalu membuatku heran, kenapa Iruka?"
"Mungkin karena dia sudah mengkhianatimu?" Sai mencoba menjawab. "Aku pernah membaca bahwa pengkhianatan adalah salah satu penyebab kesedihan yang paling besar. Dan rasa sakit yang kau alami itu karena kau sedih."
"Darimana kau tahu? Apa kau pernah merasakannya juga?"
Sai terdiam cukup lama. "Pernah."
"Shin?"
"Aa."
Keheningan menyelimuti ruangan. Tidak ada yang berinisiatif untuk membuka suara. Baik ia maupun Sai sibuk menyelami pikiran masing-masing.
"Jadi," kata Sai setelah hampir setengah jam kemudian. "Kau tidak bisa membantuku untuk mendekati Si Jelek dan Si Mata Satu?"
"Aku tidak begitu ingat mereka. Semua latihan dan misi yang diberikan Master sudah menggeser ingatanku tentang mereka."
Sai menghela nafas pelan. "Kalau kau pasti akan langsung diterima oleh mereka. Dari awal kau sudah menjadi bagian dari mereka. Tapi aku berbeda. Aku harus belajar berteman untuk melancarkan misiku."
"Kau yakin sudah melakukan semua yang ditulis di buku?"
"Tentu saja." Alis Sai berkerut, seakan tersinggung. "Selalu memberikan senyum pada siapaun yang berbicara denganku, memberikan julukan agar lebih akrab, dan selalu berkata jujur, karena manusia tidak suka jika dibohongi. Semuanya sudah kulakukan, tapi tidak ada yang berhasil."
Ia mengernyit bingung. "Aneh sekali."
"Kurasa membunuh Tsuchikage bahkan lebih mudah dari ini. Semuanya begitu aneh. Membingungkan," keluh Sai. Ia memilih untuk menanggapi Sai dengan gumaman. Masing-masing dari mereka kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri-sendiri.
"Hei, Naruto," kata Sai beberapa menit kemudian.
"Hm?"
"Menurutmu, apa nanti kita akan seperti ini terus? Maksudku, kita sekarang menjadi bagian dari Konoha. Yang akan menyambut kita nantinya adalah sinar matahari dan emosi manusia. Kita tidak lagi bersembunyi di kegelapan dan menutupi wajah dan perasaan kita dengan topeng." Suara Sai tampak bimbang. Mata hitamnya menampilkan beberapa emosi yang tidak bisa dibaca oleh mata terlatihnya. "Menurutmu, setelah ini, apa kita akan tetap berada di bayang-bayang, atau keluar ikut menikmati matahari?"
"Aku . . . ragu kita bisa keluar. Kita adalah para akar. Tugas kita ada di dalam tanah, tak terlihat. Dan ini adalah satu-satunya jalan yang tersisa untuk kita. Tidak ada yang bisa kita pilih. Rantai takdir sudah memasung kita, mengasingkan kita dari kebebasan. Kita tidak bisa melukiskan masa depan ataupun memainkan drama masa lalu. Kita hanya bisa menyanyikan lagu masa ini. Bukan sebagai penyanyi utama, tapi hanya penyanyi pengiring yang berdiri di belakang panggung. Kita akan membuat pertunjukan lebih meriah, tapi tak ada satupun penonton yang akan mengingat kita."
In the end we're left with memories kept
Locked away as they spiral down and fade away from thee
As for me I'll sing the song of now
For that's all that I can do
Though my memories escape me
They're apart of my heart, just as I have thought of you
-Spinning Song by Lizz, yang merupakan english cover dari Tsumugi no Uta by Kagamine Rin dan Kagamine Len-
AN:
Jawaban riview untuk para Guest:
Guest 1 : Sepertinya deskripsi memang sudah jadi ciri khas saya... jadi sepertinya susah untuk diubah sekeras apapun saya berusaha. Lagipula, saya cenderung lebih membaca cerita yang mengandalkan teori, plot twist dan mind games ketimbang adegan fight. Scene battle tentu akan saya masukan, tapi nanti mungkin akan saya pilah-pilah dulu tergantung dengan kesesuaian plot.
Guest 2 : Nenek Chiyo tidak kenal dengan Naruto. Dia hanya mengenal Naruto dari cerita Sakura. Awalnya saya mencoba membuat peran Naruto sebagai 'inspirator' diganti oleh Sakura di ark Kazekage Rescue Mission. Tapi karena saya langsung lompat ke ark Tenchi Bridge, malah kerasa jadi plot hole. Lagipula saya merasa di canon Naruto tidak terlalu berperan di misi penyelamatan Gaara. Campur tangannya hanya ketika memberikan pidato ke Nenek Chiyo saja.
Atau mungkin ada yang mau menambahkan?
Yadi : Pair... belum ada atau memang tidak ada pair untuk Naruto. Masih fokus ke dua genre utama, yaitu angst dan adventure.
Nami : Hmm.. mungkin untuk lebih ringkasnya saya tampilkan stat kekuatan Naruto saat ini.
Ninjutsu : 4
Taijutsu : 4
Genjutsu : 3
Intellegence : 3,5
Strength : 4
Speed : 3,5
Stamina : 5
Handseals : 3,5
Total : 30,5
Untuk elemen ninjutsu, yang paling dominan adalah angin, disusul air dan api. Tanah dan petir untuk saat ini masih belum sempurna penguasaannya. Kekkai genkai yang dimiliki adalah Mokuton. Saya berusaha untuk tidak membuat Naruto over power dengan mengandalkan kekuatan raw (mentah), tapi saya akan lebih mengandalkan strategi dan taktik.
Saya berterima kasih bagi semua yang sudah me-review, mem-fav, dan meng-alert cerita ini. Saya juga berterima kasih bagi yang sudah mampir membaca.
I hope ya all enjoy this chapter!
X
Jika ada saran, kritik, atau pertanyaan, silahkan review!
