A/N: Anou… sudah berapa lama Shinku menghilang? (gomeeen! ojigi 100x)
Semoga masih ada yang menunggu chapter terakhir, epilog dari cerita ini.
The last from 'Caro Mio Ben', Enjoy!
Disclaimer: Sunrise
Epilog
Eien Ni Tomo Ni
Orang-orang selalu berkata kalau saat seperti ini adalah saat yang membuatmu mengeluarkan keringat dingin, tidak bisa berpikir dengan jelas, panik, dan bahkan bisa membuatmu kabur ketakutan.
Dilihat oleh orang-orang sebanyak ini, dan hanya ditemani oleh sahabat dekatku; memang berbeda dengan apa yang biasanya kami lakukan, hampir tiap minggu kami dilihat banyak orang, sambil menyanyikan lagu. Tetapi saat ini amat berbeda.
Saat yang tidak akan datang lagi untuk kedua kalinya.
Dan aku merasa sangat tenang, tidak pernah aku merasa setenang ini sebelumnya. Aku tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi, dan aku sudah menantikannya sejak pertama kali ia berbicara denganku, meskipun waktu itu aku tidak benar-benar memikirkannya.
Suara lonceng bergema di atap gereja dan membuatku sedikit terkejut, namun rasa senangku kembali mencuat. Tidak akan lama lagi…
Suara mars Wagner yang sangat familiar yang dimainkan dengan kwartet gesek mulai terdengar. Nicol menyikutku pelan. Kulihat wajahnya yang tersenyum ke arahku dan menganggukkan kepalanya ke arah pintu masuk.
Aku melihat Lacus dengan gaun berwarna merah muda yang manis, membawa buket bunga peoni berwarna lembut. Ia menatapku dengan pandangan yang memancarkan bermacam-macam perasaan, ada bahagia, berterima kasih, dan sedikit sedih. Aku tidak begitu mengerti yang terakhir, mungkin karena aku akan segera mengambil sahabatnya darinya. Aku tersenyum pada diriku sendiri dalam hati, aku sama sekali tidak berniat untuk mengurung Cagalli selamanya dari teman-teman maupun keluarganya, meskipun itu merupakan hal yang ingin kulakukan.
Lacus berdiri di tempatnya, beberapa langkah di sebelah kananku. Dan begitu ia sudah di sana dan memalingkan wajahnya ke arah pintu, aku mengikuti arah pandangannya dan melihat gadis yang sudah kutunggu sejak kemarin—karena teman-temanku di Ambrosia berkeras mengadakan pesta bujangan untukku.
Bersama ayahnya yang memegangi tangan kanannya, Cagalli melangkah perlahan melewati jalan di antara para tamu undangan, dengan gaun putih yang membalut tubuhnya dengan sangat sempurna, dan dengan senyum yang aku tahu tersungging di bibirnya meskipun cadar menghalangi wajahnya, membawa rangkaian bunga mawar dan peoni putih yang menjuntai menutupi tangan yang memegangnya.
Kurasakan tangan Nicol menepuk bahuku sekali, tapi aku tidak mau berpaling dari calon isteriku yang sedang melewati gereja ini untuk mengikat janji denganku hari ini.
Dan sementara aku menunggunya di ujung altar, semua yang sudah kulalui selama satu setengah tahun terakhir kembali terlintas di kepalaku. Hari ketika aku melemparkan CD terakhir kami padanya yang sepertinya menjadi awal dari hari ini, acara jalan-jalan kami, konser-konser yang kudatangi dan ia datangi, ayahnya yang tidak setuju dengan aku yang kelasnya jauh di bawahnya, Yuuna yang tidak ingin kami bersama yang sekarang masih di balik jeruji, saat di mana ayah Cagalli mengizinkan kami bersama, saat aku memperoleh izinnya untuk menikahi puterinya, dan saat aku mengatakan aku ingin hidup bersama dengan Cagalli sambil memberikan cincin bermata merah untuknya.
Dan karirku bersama teman-temanku berjalan dengan sangat baik. Meskipun semakin sibuk karena orang-orang dengan sukses menerima musik Ambrosia, Cagalli tidak begitu peduli dan tetap mendukungku meskipun aku jadi jarang bertemu dengannya. Dia tidak begitu mempermasalahkan kepergianku untuk tur di beberapa tempat, hanya mengingatkanku agar tidak main mata di belakangnya. Aku selalu tertawa tiap kali ia mengatakannya, karena itu tidak mungkin. Untuk apa main mata kalau aku sudah punya dia?
Dan sekarang Cagalli ada di depanku, berdiri memandangku sementara ayahnya meletakkan tangan puterinya di telapak tanganku, mempercayakannya pada diriku. Ia tidak mengatakan apapun, tapi tatapan matanya mengatakan semuanya, ia sudah merelakan Cagalli padaku, dan ia juga tidak akan ragu untuk membunuhku jika aku berbuat macam-macam. Aku bertanya-tanya, seperti apa rasanya jika suatu hari nanti anak perempuanku dalam keadaan sama seperti ini.
Dan di saat yang sama, ketika melihat ayah Cagalli memandang ke arah puterinya sebelum melepaskan tangannya dan beranjak, aku berharap ayahku ada di sini.
Bukan hanya ayah, tapi juga ibuku. Namun aku ingin melihat kedua orang tuaku yang bahagia melihatku sudah berdiri sendiri, bukan ayah yang menentang jalan yang kupilih atau ibu yang tidak berbuat apa-apa saat aku diusir dari rumahku. Aku sama sekali tidak menyesali pilihanku dan semua yang terjadi hingga berakhir di hari ini. Aku hanya berharap mereka mau mengerti dan mau menerimaku yang seperti ini, dan juga bangga terhadapku dengan hidup yang sudah kubuat untuk diriku.
Sudah berkali-kali aku terpikir untuk mencari rumah kedua orangtuaku. Pertama kali aku memutuskan untuk menemui mereka, rumah itu sudah berganti rupa dan ditinggali oleh keluarga yang baru. Aku tidak tahu harus memulai dari mana untuk mencarinya, dan aku tidak tahu apa mereka masih mengingat diriku ataukah aku sudah tidak ada bagi mereka. Berkali-kali pula aku ingin benar-benar menemukan orangtuaku, meskipun harus mengacak-acak seisi bumi ini. Namun hampir selalu, kata-kata terakhir ayahku membuatku mengurungkan niatku, membuatku berpikir ayah tidak akan memaafkanku. Aku pernah mengatakannya pada Cagalli beberapa minggu sebelum hari ini tiba. Dia hanya meraihku dengan tangannya dan mengatakan padaku bahwa ayahku pasti bangga melihatku, seperti yang kuharapkan. Tapi aku tidak bisa yakin sampai aku bertemu dengannya, dan tidak yakin apakah aku akan bertemu dengannya.
Kurasakan sesuatu yang seperti satin halus di pipiku, dan melihat tangan Cagalli yang berbalut sarung tangan putih mengusapku, wajahnya terlihat khawatir. Aku pasti membuatnya berpikir aku menyesali pilihanku. Kuraih jemarinya dan mencium punggung tangannya, memberinya senyum yang kuharap bisa meyakinkannya kalau aku tidak berpikiran tentang apapun yang tidak-tidak tentang kami berdua dan menariknya untuk menghadap ke arah pendeta.
Aku tidak begitu memperhatikan apa yang dikatakan pendeta pada semua yang hadir dan seterusnya. Aku melirikkan mataku ke arah calon isteriku, dan melihatnya melakukan hal yang sama, aku menolehkan seluruh wajahku, tidak mengacuhkan apa yang dikatakan oleh orang yang ada di depan kami. Tapi aku tersadar ketika pendeta mengucapkan nama Cagalli untuk meminta sumpahnya pada Tuhan untuk setia padaku.
"Saya bersedia," jawabnya pelan, dan aku melihat air mata mengalir di pipinya, matanya masih menatapku dan senyumnya semakin mengembang.
"Saya bersedia," ujarku sambil tersenyum ke arahnya.
Aku menunggu pendeta menyatakan kami sebagai suami-isteri, dan menunggunya mengizinkanku untuk mencium isteriku untuk pertama kalinya. Tidak ada teman-temanku, ayahnya, semua tamu di ruangan ini dalam pikiranku, hanya ada Cagalli.
Dengan rasa bahagia dan bangga, diiringi mars dari Mendelssohn, aku membawa isteriku menemui para tamu yang bersorak menyuarakan kebahagiaan kami, satu per satu menyambut kami ke dalam pelukan mereka, menyelamati dan turut bersuka cita dengan upacara pernikahan kami.
Guuzen to iu na no unmei sonna deai dakara koso
Nanigenai shunkan o kyou kara wa kakegae no nai shunkan ni
"Lagu yang benar-benar pas ya?" Cagalli berkata padaku.
"Benar," jawabku sambil membawanya berputar-putar di lantai dansa. Ayah Cagalli—ayahku sekarang—memainkan piano sementara Lacus menyanyikan lagi ini untuk kami. Seperti tadi, aku mulai memikirkan saat-saat bersama dulu, pertemuan yang—mungkin— kebetulan, saat-saat merasakan, memilih, menangis, berdua, bimbang, berharap...
Tomo ni aruki tomo ni sagashi tomo ni warai tomo ni chikai
Tomo ni kanji tomo ni erabi tomo ni naki tomo ni seoi
Tomo ni idaki tomo ni mayoi tomo ni kizuki tomo ni negai
Sasayaka na shiawase ga komorebi no you ni
Yawaraka ni furi sosogu sonna hibi o egaki nagara
Itsu no hi mo donna toki mo
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Cagalli sambil menggenggam tanganku lebih erat begitu dansa ini selesai.
"Semua hari yang sudah kulalui bersamamu..."
Tiba-tiba aku merasa ada seseorang menarik lenganku dengan kuat. Kulihat Lacus menarikku bersama Cagalli ke atas panggung dan memberikan mikrofon pada kami berdua, berbicara pada para tamu bahwa kedua pasangan ini harus menyanyikan sesuatu di hari pernikahan mereka. Aku menatap Cagalli bingung, apa yang harus kunyanyikan? Dan berdua dengan Cagalli?
Cagalli menarikku mendekat, membisikkan sesuatu di telingaku. Aku tersenyum dan mengangguk. Itu cukup mudah.
"Terima kasih pada semua yang sudah datang hari ini," ujar Cagalli, "dan terima kasih, Lacus, sudah menyuruhku menyanyi padahal itu spesialisasimu, bukan aku." Kulihat Lacus hanya mengangkat bahunya, tidak terlalu ambil pusing dengan komentar Cagalli. "Seperti yang anda semua ketahui, saya seorang violinis, bukan penyanyi multi-talenta seperti suami saya," ujarnya sambil memalingkan wajahnya padaku. Aku tersenyum mendengar panggilan barunya, dan melingkarkan tanganku di pinggangnya. "Tapi… saya yakin anda semua tahu lagu ini."
Cagalli menyanyikan nada dengan bibir terkatup, dan ayahnya langsung memainkan pianonya begitu mengenali lagunya. Sambil menatapku, Cagalli menyanyikan bait pertamanya tanpa memedulikan para tamu yang mulai bertepuk tangan.
Love, soft as an easy chair
Love, fresh as the morning air
One love that is shared by two
I have found with you
Aku teringat ketika menyanyi untuk ulang tahunnya. Lagu ini sedikit berbeda dengan waktu itu, dan jelas berbeda dengan yang biasa kunyanyikan.
Comme une Rose
Sous une neige d'avril
Cagalli tersenyum mendengarku menyanyikan versi lain dari lagu aslinya. Tapi aku yakin dia tahu lagu ini dengan baik.
Mon Coeur reste toujours aussie fragile
L'amore diviso en due
No, non muore mai
Aku memegang tangannya dan mengajaknya berputar-putar di panggung, meskipun tidak seperti di lantai dansa, dan melanjutkan lagu itu bersamanya.
Cada noche un milagro sera
Naceremos de nuevo
Quand ton Coeur bat si vite avec le mien
On ne fait plus qu'un
Cause we have the brightest love
Two lights that shines as one
Morning glory and midnight sun
Time we've learned to sail above
Time won't change the meaning of one love
Ageless and ever
Evergreen
Suara piano berhenti berdenting, dan sementara para tamu bertepuk tangan lagi, aku membungkuk dan mencium kedua pipi isteriku, dan merasakan lampu blitz yang silau, mengambil gambar kami. Cagalli membalasku dengan mengulangi hal yang sama padaku, sementara Lacus kembali ke atas panggung, menyingkirkan kami berdua. Aku tidak tahu dia MC acara ini. Tapi biarlah.
Lacus kembali menghibur para tamu dengan suaranya yang indah. Beberapa orang tidak melihatnya dan sibuk dengan makanan mereka, sementara yang lainnya melihat penampilan Lacus dengan penuh kagum. Tiba-tiba Cagalli menarikku menjauh dari tempat pesta, meskipun tidak begitu jauh sehingga beberapa orang masih bisa melihat kami.
"Ada apa?" tanyaku pada Cagalli. Dia sepertinya ingin membicarakan sesuatu.
"Tadi wajahmu agak aneh, waktu di gereja," ujar Cagalli sambil memandangi taman bunga yang dulu dirawat ibunya. "Kau membuatku panik, tahu. Aku kira kau sedang memikirkan kalau semua ini salah dan…"
Aku menariknya ke dalam pelukanku, berhati-hati dengan cadar dan gaunnya—aku tidak mau merusak penampilannya. Sudah pasti dia berpikir begitu tadi, aku menggelengkan kepalaku. "Aku melihat ayahmu… dan berharap ayahku ada di sini juga… mengatakan kalau dia ikut bahagia denganku…"
Aku larut dalam pikiranku sendiri, membayangkan lagi waktu beberapa tahun lalu ketika aku meninggalkan rumahku, berkeliling kota sendirian mencari tempat tinggal, sambil memikirkan lagi kata-kata ayahku.
Kurasakan Cagalli menarik-narik lengan bajuku, menyadarkanku dari lamunan tentang masa laluku. "Apa kau masih marah pada orang tuamu?"
Aku menarik nafas sebelum menjawab. "Aku tidak pernah marah… Mungkin aku marah selama beberapa saat sesudah ayahku menyuruhku pergi, tapi setelah itu aku tidak pernah merasa marah pada ayahku karena mengusirku, ataupun ibuku karena tidak lagi mempedulikanku setelah ayah marah padanya. Aku hanya ingin mereka di sini, bahagia bersamaku, atau setidaknya memaafkanku…"
"Mengapa? Kau tidak melakukan kesalahan," Cagalli bertanya lagi. Aku ingat tidak pernah menceritakan tentang ini sebelumnya.
"Aku merasa aku juga bersalah pada ayah, meskipun aku tidak tahu mengapa. Aku hanya merasa begitu tiap kali aku mengingat ayah, dan terkadang aku berpikir rasa itu muncul karena aku tidak bisa menjadi yang seperti diinginkan orang tuaku."
"Mereka memaafkanmu, Athrun. Dan mereka bahagia dengan dirimu yang sekarang..." ujar Cagalli menjawab pertanyaan tersuratku. Jawabannya begitu yakin, seolah dia tahu memang begitulah keadaannya.
"Bagaimana—"
"Athrun!"
Kami berdua menoleh; aku merasa heran mendengar suara yang tidak kukenal namun terasa dekat itu. Sementara dari sudut mataku kulihat Cagalli menunjukkan wajah senang bercampur antisipasi dan keraguan, kemudian ia melihat ke arahku. Aku memandang lurus ke arah orang yang baru saja memanggil namaku, dan terpaku begitu ia cukup dekat sehingga aku bisa melihat wajahnya dengan jelas, wajah yang tidak pernah kulupakan meskipun sudah hampir empat tahun aku tidak melihatnya.
Aku mengerjapkan mataku dan menyadari aku menangis bersama wanita yang tengah memelukku erat-erat, membisikkan namaku berulang-ulang sambil menangis tersedu-sedu. Aku sadar Cagalli sudah melepaskan tanganku, yang sekarang melingkar erat di punggung ibuku. Setelah beberapa menit yang terasa begitu lama, ibu melepaskan pelukkannya tanpa benar-benar melepaskanku, dan akupun memandang wajah ibuku kembali setelah sekian tahun. Jemarinya yang terasa hangat menepuk-nepuk pipiku, ibu jarinya mengusap air mataku.
"Ibu…" panggilku pelan.
"Maafkan ibu, Athrun. Maaf karena ibu berhenti memperhatikanmu waktu itu. Kau tidak tahu ibu menangis dan berdoa setiap malam, memohon supaya ibu bisa bertemu sekali lagi untuk minta maaf. Maafkan ibu, anakku."
Ketika ibu kembali memelukku, aku menundukkan kepalaku di pundaknya, membahasi gaunnya dengan air mataku yang sekarang mengalir dengan bebas. Aku bisa merasakan satu tangan lagi di punggungku; aku tahu itu Cagalli.
"Tolong maafkan kami, Athrun. Kami bersalah sudah mengusirmu..." kudengar tangis ibu kembali mengeras begitu ia mengucapkan kata yang terakhir, aku yakin ibu mengingat hari yang suram itu.
Kemudian aku berdiri tegak.
"Ayah ada di sini?"
Ibu melepaskanku dan berdiri di sisi kiriku, sementara Cagalli mengapitku dengan berdiri di sebelah kananku. Kuikuti arah pandang mereka, dan melihat sosok itu, yang sudah mengusirku dari rumah tiga setengah tahun lalu, yang sekarang berjalan perlahan ke arahku.
"Ayah..."
"Athrun... Putraku..." Ayah meraihku ke dalam rengkuhannya yang kuat. Hari ketika ayah mengusirku terulang untuk yang kesekian kalinya hari ini. Namun, dengan ayah berada di sini, memelukku setelah sekian lama, aku sudah kehilangan rasa bersalah setelah terpisah bertahun-tahun, dan rasa rindu kini menyeruak kuat. Aku memeluk ayahku, "Maafkan aku, ayah... maafkan aku..."
"Tidak... maafkan ayah, Athrun... Ayah salah… ayah minta maaf…"
Aku mencium wangi ibuku yang sangat kurindukan sebelum aku merasakan sepasang tangan lain yang memelukku.
"Kami menyayangimu, Athrun… Selalu, setiap harinya…"
"Kau tidak apa-apa, Athrun?"
"Aku merasa senang—bukan, aku merasa sangat, sangat bahagia hari ini. Menikah dengan orang yang kucintai, dan di saat yang sama aku mendapatkan kembali keluargaku. Kenapa kau bertanya?"
"Kau baru saja bertemu orang tuamu tadi siang. Aku pikir kau ingin bersama mereka untuk beberapa hari lagi..."
"Mereka tidak mau merusak acara bulan madu kita, lagi pula semuanya sudah diatur, sulit nantinya kalau semuanya harus diubah lagi," aku meraih tangan Cagalli dan menariknya mendekat padaku, "Lagipula kita sudah di sini. Ibu bilang dia ingin kita menikmati waktu bersama kita selama beberapa minggu ini dan supaya aku sering mengunjunginya setelah kita pulang nanti."
"Aku senang kau bisa bersama dengan keluargamu lagi," Cagalli merebahkan kepalanya di dadaku, dan aku memeluknya lebih erat sambil memperhatikan langit malam kota Vienna dari jendela hotel tempat kami menginap.
"Apa kau sudah merencanakan semuanya, kan? Kau sudah tahu orang tuaku akan datang. Kau yang mengundangnya?" Aku ingat Cagalli tidak begitu terkejut dengan kedatangan orang tuaku. Ibuku dan Cagalli bahkan berbincang cukup akrab sebelum kami pergi ke bandara, seperti ia sudah mengenal mereka sebelum ini.
"Kau ingat tidak, waktu aku menanyaimu tentang seseorang yang kadang-kadang melihat-lihat rumahmu dan kau menganggap dia hanya penggemar biasa?" Cagalli bertanya padaku sambil tersenyum.
"Itu Ibuku? Dia tahu di mana aku tinggal?" aku terlonjak. Jadi selama ini ibu begitu dekat denganku sementara aku sama sekali tidak tahu?
"Wajahmu sering menghisai berita selebritis dan klip video di beberapa stasiun televisi, ibumu sudah pasti pernah melihatmu. Mungkin dia mencari tahu dan menemukan tempat tinggalmu. Tapi dia terlalu takut kau tidak akan mau bicara lagi dengannya. Sudah berkali-kali dia datang ke tempatmu, tapi tidak pernah berani langsung menemuimu.
"Aku pernah melihatnya memperhatikan mobilku di taman; mungkin dia tahu aku sering menemuimu dan ingin minta bantuanku, meskipun ibumu lari setelah melihatku. Aku merasa dia mirip seseorang... Kemudian aku sadar kalau dia sangat mirip dengamu. Ketika bertemu lagi dengannya, aku berusaha mengajaknya bicara, dan tahu di mana mereka tinggal. Mereka benar-benar percaya kau tidak mau bertemu dengan mereka lagi... Waktu itu kita sudah bertunangan, jadi kupikir akan tepat kalau kuundang mereka ke pesta kita. Maaf sudah menyembunyikannya darimu selama itu."
"Sebenarnya aku merasa agak kesal... Seandainya saja aku tahu lebih cepat kalau orang itu adalah ibuku..."
"Maaf..."
"Tidak apa-apa. Aku sudah bertemu mereka dan aku tahu kalau hubungan kami akan kembali seperti dulu lagi. Mereka cukup bahagia setelah pindah dari rumah kami yang dulu, dan aku berharap sekarang setelah kami kembali lengkap, mereka bisa benar-benar bahagia." Aku menarik Cagalli yang sedang berdiri di tepi jendela bersamaku ke tempat tidur, tubuhnya terbaring di atasku. "Aku ingat kau ingin sekali bisa bermain di Vienna, sebagai violonis. Tapi sekarang kau malah datang ke sini untuk bulan madu..."
"Tidak apa-apa. Aku masih bisa bermain nanti. Lagi pula kalau begitu aku bisa sibuk. Jadi, karena sekarang aku masih punya waktu, aku ingin menghabiskannya bersama suamiku." Cagalli tersenyum padaku, "Kita bisa pergi ke museum seni, berjalan-jalan di kota melihat-lihat monumen komposer yang diabadikan di sini, melihat konser orkestra Vienna Philharmonic bersama, menonton opera di Theatre an der Wien..."
"Kau tentunya ingin bermain di sana kan? Bukan hanya menonton," aku merasa dengan menikah denganku aku akan membatasi waktunya dan Cagalli tidak akan bisa menjadi violinis handal di Vienna. Aku tidak mau ia menyia-nyiakan bakatnya dan semua yang ia lakukan sejak bisa memainkan biola. Jika ia bisa menjadi violinis terkenal seperti harapannya dan juga ayahnya—dan harapanku juga—aku ingin ia berusaha tanpa mempedulikan aku.
"Kalau bisa aku ingin mendapatkan kesempatan itu, tapi aku tidak begitu menginginkannya seperti dulu. Aku punya sesuatu yang lebih kuinginkan sekarang."
"Apa itu?"
Cagalli hanya tersenyum dan membungkuk ke arahku, wajahnya tepat di depanku, "Aku tahu kau tahu jawabannya," bisiknya pelan sebelum menautkan bibirnya di bibirku, dan semua yang kupikirkan sebelum ini hilang entah ke mana.
Begitu Cagalli melepaskan pagutannya, aku tidak melepaskannya, bibirku turun ke lehernya sementara tanganku mendekapnya lebih erat.
Hampir empat tahun lalu, ketika tidak ada yang menanggapi mimpiku dengan serius, ketika mendapatkan penolakkan dari orang tuaku bahwa aku tidak akan bisa menjadi apa yang kuinginkan, aku bahkan selalu berpikir bahwa setelah aku meninggalkan rumahku aku akan benar-benar berakhir di jalanan, tidur bawah langit tanpa atap kayu dan bertemu dengan kematian di tempat yang sama, tanpa ada seorangpun yang peduli apakah aku masih ada di dunia ini. Kemudian aku bertemu teman-teman yang mengerti aku, memberi jalan padaku untuk meneruskan mimpiku, memulai dari awal dengan perjuangan bersama, yang membawaku bertemu dengan Cagalli. Aku tidak pernah membayangkan semuanya akan berakhir seperti ini, sebuah akhir yang bahagia yang hanya pernah kudengar dalam syair para penulis yang dinyanyikan atau lagu yang kubuat. Tapi sekarang aku di sini, bersama seseorang yang mulai hari ini dan seterusnya kusebut sebagai isteriku, sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikiranku sebelum aku bertemu dengannya.
Aku meraih kesuksesan bersama Cagalli, yang selalu menemaniku bahkan ketika orang menentang kebersamaan kami. Aku tahu meskipun aku mendapatkan apa yang kuinginkan sejak dulu—menyanyikan lagu yang dikenal dan disukai banyak orang—aku tidak akan merasa puas sampai aku menemukannya. Dan sekarang setelah aku mendapatkannya, memilikinya untuk diriku sendiri, aku tidak mau kehilangannya.
Kulepaskan bibirku dari lehernya dan memeluknya erat-erat, hanya itu, untuk memastikan ia ada di sini bersamaku. Perasaanku padanya saat ini terasa sangat besar dibandingkan sebelumnya, memicu rasa takut aku akan kehilangan Cagalli, takut semua ini Cuma khayalanku dan tiba-tiba aku akan terbangun di rumahku, tanpa ada Cagalli yang sebenarnya. Aku bisa merasakan jantungku berdegup keras, dan tahu Cagalli pasti bisa merasakannya.
Aku merasakan tangan Cagalli merayap naik, berhenti di rahangku dan membelaiku, "Aku di sini... aku tidak akan pergi ke manapun." Entah Cagalli merasakan hal yang sama, atau dia bisa membaca pikiranku, atau rasa takutku sangat jelas terpancar sehingga Cagalli bisa mengetahuinya, tapi aku senang mendangarnya menenangkanku, memberiku apa yang kubutuhkan, selalu seperti itu.
"Aku mencintaimu, Cagalli... Rasanya sakit memikirkan kau tidak ada…" Aku berbisik, suaraku bahkan terdengar jauh untukku sendiri. Tapi Cagalli mendengarnya.
"Aku ada di sini, kau sedang memelukku, aku sangat nyata. Dan aku mencintaimu..." tangan Cagalli berpindah ke bahuku, tidak menghentikan gerakannya untuk menenangkanku. Bibirnya mencari-cari kulitku yang terbuka yang bisa ditemukannya.
Kemudian dia mengatakan kata-kata yang membungkam semua rasa khawatirku dan memberikan apa yang ingin kuberikan padanya.
"Jadikan aku milikmu malam ini."
Aku memejamkan mataku sesaat, semua akan baik-baik saja.
Cagalli milikku, malam ini dan selamanya.
(Efek dari nonton trailer 'Breaking Dawn' berulang-ulang)
Lagu: Eien ni tomo ni-Kobukuro (Hatsune Miku Append); Evergreen-Barbra Streisand ft Il Divo (lagi males nerjemahin, kalau mau tahu di-google aja yah)
Yeah, satu lagi cerita Shinku selesai! Agak sedih sih, tapi seneng juga begitu bisa mengakhiri cerita ini. Semoga berkenan dengan teman-temin yang tidak puas dengan chapter sebelumnya, semoga yang ini memuaskan.
Terima kasih kepada teman-temin semua yang sudah mendukung cerita ini dari awal sampai berakhir sekarang, untuk yang baca dari awal dan me-review, yang baca dan tidak me-review, yang baru baca dan tidak mereview, yang tidak baca dan tidak me-review, da juga yang tidak baca tapi me-review (ada ya?)
Terima kasih, kepada mendiang Pavarotti, kepada Andrea Bocelli, Il Divo dan Wikipedia.
Dan banyak, banyak, banyak banyak terima kasih kepada:
ofiai17 , kamille murasame, Yuki Hiruma, Bellpoid01, Lenalee Felixia, mrs. zala, Mizu, Kaka-Kiri-Nya, Mokochange, Aihsire Atha, Merai Alixya Kudo, eL-ch4n, alice zalathha, ai zala, ren, Yuuki Minatsuki, Tata utagu, Brendha, Haza ShiRaifu, asranZARA, henisuzuya24, ndha yula chan, , FushionAC
Sankyuu!
Oh yah, kalau sekuel, kayanya Shinku ngga sanggup deh... Kalo ada yang mau nerusin, bilang aja yah. Dipersilakan...
Sampai bertemu di cerita selanjutnya! Love you all, guys!
PS: Yang udah baca cerita Shinku yang di blogspot (cerita yang paliiing bawah), adakah yang mau baca lanjutannya? Kalo ada mau Shinku terusin di sini (semoga bisa)
