THE CURSED DEMON
Summary
Naruto adalah seorang pangeran iblis dari neraka, dia dikutuk menjadi manusia karena nekat melawan Malaikat.
DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO
WARNING:
IF YOU DON'T LIKE WITH THE PAIRING IN THIS STORY PLEASE DON'T FLAME
OOC, AU,
Author note: Sep, ketemu lagi. Okay beberapa jawaban review sebelumnya
Jibakutai : Papa bangga sama kamu, Selalu review di setiap chapter, terus lanjutkan XD
Zetfuu : Hmmmm, Shingeki agak susah kayaknya buat dijadiin Fanfic, soalnya udh terlalu keren XD
Fox : ah masaaa? Jadi Ge eR wkwkwk , Baca juga fanfic-ku yang lain, terutama yang Another World (SAO sih)
Ahmad Azman : maaf telat balesnya yaaa, soalnya pas Chapter 9 buru-buru
Hp Nokia : (Sama balesannya ama diatas)
DemonShoujo : Maaf baru Update! (dan bales)
YellowPink Konoha : Yaa udh baca chapter 9 kan? Hehehehe
Danna : ya, mungkin sampe tamat (Jangan tambahkan kata mungkin!)
Guest : Keren ya? Memang authornya keren (Bukan Elooee Thoorr!)
Ahmad Azman : Makasih
Red Devils : nggak ada jawaban nih, mungkin 'silahkan review lagi'
-(-)—
Bagian 10 : Awal Yang Baru
Beberapa hari kemudian . . .
"Oi Bocah! Angkat yang cepat!" teriak seorang pemuda berotot
"I-iya!" jawab pemuda berambut jabrik hitam sambil membawa beberapa tumpuk kardus sekaligus
"Hati-hati! Bila kau membawanya seperti itu . . ."
Belum selesai si manajer melanjutkan kata-katanya, si pemuda itu tersandung sesuatu dan menjatuhkan semua kardus besar yang dia bawa
"Cih, dasar pemula!" ucap sang manajer kesal.
"Ma-Maaf!" balas si pemuda lagi
"Kalau kau tidak becus seperti ini terus, kau akan kami pecat!" ucap sang Manajer kasar.
Manajer tersebut lalu berbalik meninggalkan si pemuda yang tanpa dia sadari sedang menatap tajam ke arahnya. Si pemuda lalu berdiri dan menepuk pundak sang manajer
"Apa Lagi!" semprot manajer, marah karena terganggu
"KALAU GAK SUKA PECAT AJA BRENGSEK!" ucap si pemuda keras-keras di depan muka sang manajer sambil menarik kerah bajunya dengan kasar.
Manajer tersebut terdiam, shock dengan hal yang baru saja dia alami. Si pemuda lalu melepaskan tangannya dari si manajer dan berbalik meninggalkan sang Manajer yang masih kebingungan. Dia terus meninggalkan supermarket tempatnya bekerja sambil mengumpat-ngumpat kesal. Dia kemudian masuk ke jalanan perumahan dan saat akan berbelok di sebuah pertigaan, tiba-tiba . . .
"NARUTOOO! KAU BEGOO!" teriak seorang gadis berambut pink sambil menonjok dengan indah muka pemuda bernama Naruto tersebut.
Naruto terbang beberapa meter, menabrak tembok (yang langsung sedikit retak), dan tersungkur jatuh. Critical Hit
"Ups, kayaknya kali in terlalu berlebihan . . ." si gadis melihat Naruto yang tersungkur jatuh
Si gadis bermata hijau emerald itu pun mendekati Naruto yang masih terdiam, matanya menatap dengan khawatir.
"Kau baik-baik saja Naruto?"
Naruto tak menjawab, tetap diam.
"Naruto!? Hei kau baik-baik saja kan!?" si gadis panik dan menghampiri Naruto yang masih terdiam hening.
Si gadis pun melihat mata Naruto tertutup rapat, diapun panik dan langsung mengguncang-guncang tubuh Naruto.
"Hei Naruto! Naruto!" ucap si gadis panik
"BERCANDA! Weee. . ." Kata si pemuda sambil membuka matanya sebelah dan menjulurkan lidah.
BLETAK!
Sebuah Jitakan keras menghantam kepala sang pemuda yang langsung menghantam tanah (yang langsung hancur) dan membuat sang pemuda pingsan seketika. Si Gadis hanya terdiam melihat kejadian tersebut.
"Uuhh kali ini kayaknya beneran pingsan, lagian salah sendiri siih . . ." ucap si gadis melihat si pemuda yang pingsan.
Gadis itu melihat ke sekitar perumahan, sepertinya sepi. Dia lalu kembali menatap pemuda malang tersebut.
"Kalau begini terpaksa dah kugendong, uuuhh kau selalu saja menyusahkan bahkan saat pingsan seperti ini . . ."Ucap si gadis dengan nada malas.
Si gadis lalu mendekati tubuh pemuda tersebut, mengangkatnya, dan menggendongnya di punggung sambil terus berjalan ke suatu tempat dengan diiringi keluhan-keluhan kecil yang terus muncul.
))))-((((
Mata Naruto mulai terbuka sedikit, samar-samar cahaya matahari bisa memasuki celah kecil mata ber-iris hitamnya tersebut. Kepalanya terasa pusing seperti habis terbentur sesuatu, sesuatu yang sangat berat seperti lemari atau kulkas. Dia memegang kepalanya sedikit dan merasakan ada sesuatu yang lain di kepalanya. Indra perasa ditangannya pun mendeteksi rangsangan sebuah kain bertekstur agak kasar.
"Uuuh, Sakit" ucapnya kecil sambil memegang kepalanya.
Naruto berusaha duduk di kasurnya, mengelus-elus kepalanya tersebut. Matanya menerawang dan mendapati seorang laki-laki yang kelihatan sudah berumur setengah abad sedang menatapnya khawatir di sampingnya.
"Naruto, kau sudah sadar?" tanya orang tersebut.
Naruto menatap orang tersebut dengan tatapan tidak percaya lalu menjawab dengan cepat.
"NGGAK! Masih pingsan!" jawab Naruto ketus
"Ooh gitu, ya udah, maaf telah ngomong sama orang pingsan" jawab si laki-laki dengan santai
"KALAU AKU PINGSAN BAGAIMANA BISA NGOMONG KAYAK GINI!" teriak Naruto kesal.
"Hahahaha" si laki-laki tertawa santai.
Kedua laki-laki itu pun terdiam sejenak, lalu si laki-laki berambut putih itu pun memecah keheningan.
"Itu benar-benar sakit kan?" tanya si laki-laki berambut putih sambil melihat ke arah perban yang membalut kepala Naruto.
"Iya, ini sakit" jawab Naruto singkat.
"Berarti kita sudah harus mulai berhati-hati, kekuatannya mulai bangkit, bahkan pangeran iblis sepertimu bisa dibuat jadi seperti ini" ucap si laki-laki
"Tenang saja Jiraiya, aku baik-baik saja, luka seperti ini hanya seperti luka akibat gigitan nyamuk bagiku" ucap Naruto santai sambil memukul-mukul perban di kepalanya
CROT! Darah segar keluar sedikit dari perban.
"AAAAHHH BERDAAARAAAHH! GAWAAT! AKU AKAN MATI!" Naruto panik
Si laki-laki berambut putih yang bernama Jiraiya itu pun hanya bisa terdiam melihat ke-idiotan seorang pangeran iblis yang ada di hadapannya itu.
'Sebenarnya dia ini pangeran iblis yang asli atau bukan' ucap Jiraiya dari lubuk hatinya yang paling dalam.
))))-((((
Beberapa hari sebelumnya . . .
"Latihan?" tanya Naruto pada Jiraiya tepat setelah mereka mengalahkan Gaara.
"Iya, Latihan. Kalau kau begini terus kau tak akan bisa melindungi siapapun" jawab Jiraiya singkat.
"Hee, latihan yaa . . ." komen Naruto singkat
Mereka terus berjalan meninggalkan gedung tua belakang sekolah yang kini sudah hancur lebur akibat pertarungan melawan Gaara, tepat disamping Naruto berjalan Sakura yang masih terdiam tanpa suara.
"Oi Sakura, bicaralah sedikit!" ucap Naruto sambil melirik ke Sakura.
Sakura hanya diam, tak ada jawaban satupun keluar darinya.
"Sudah biarkan saja, wajar dia akan shock mengetahui jati dirinya yang sebenarnya" jawab Jiraiya yang berjalan di kanan Naruto
"Lagian kenapa kau beritahu dia? Jadi runyam gini masalahnya kan!" ucap Naruto protes.
"Seorang Orang Tua juga harus bertanggung jawab atas keadaan anaknya kau tahu? Bila aku tidak memberitahunya terus dia akan selalu dalam bahaya" jawab Jiraiya lagi
"Tapi membuatnya frustasi seperti itu . . ." Naruto kembali protes
"Aku tidak membuatnya frustasi, hanya memberitahu keadaan yang sebenarnya" balas Jiraiya tak mau kalah
"Sudah-sudah, diam kalian berdua, berisik amat!" jawab seorang pemuda berambut merah yang berjalan dibelakang mereka bertiga.
Naruto, Jiraiya, dan Sakura menoleh ke arah sumber suara. Pemuda berambut merah tersebut bingung dengan ekspresi ketiganya yang terlihat kesal.
"Ada apa? Ada yang salah?" tanya pemuda berambut merah itu.
"Hmm, sebenarnya sih tidak ada, tapi ada yang sadar tidak kejadian seperti ini gara-gara siapa?" kata Naruto pelan
"Menurutku ini kejadian gara-gara ada orang aneh mesum yang menculikku tiba-tiba" Sakura menambahkan
"Dan kejadian ini juga gara-gara ada orang bodoh yang mau-maunya di manipulasi oleh seseorang yang jelas-jelas seorang penjahat besar" Tambah Jiraiya.
"Siapa tuh?" tanya si pemuda rambut merah acuh tak acuh.
"KAAAAUUUU BEGOOO!" teriak Jiraiya, Naruto, dan Sakura bersamaan sambil berbalik ke arah si pemuda, menyanyikan Concerto untuk si pemuda tersebut.
Si pemuda rambut merah memasang ekspresi datar lalu menjawab dengan malas
"OK OK, aku minta maaf, lagipula ini bukan salahku sepenuhnya kan?" jawab si pemuda dengan nada paling mengesalkan yang pernah ada
JIraiya, Sakura, dan Naruto kembali berbalik kedepan, berusaha fokus ke jalan. Naruto melihat ke arah tangan Sakura, bergetar keras, tanda-tanda dia akan memberikan pukulan paling sakit dari yang paling menyakitkan yang pernah diciptakannya. Naruto bergerak kecil ke arah Jiraiya, berusaha untuk berbisik.
"Hei, Boleh pinjem shotgun-mu itu tidak?" tanya Naruto pelan agar tidak di dengar sang pemuda berambut merah
"Ini bukan shotgun, ini namanya Infernus, Memangnya kenapa?" tanya Jiraiya balik
"Pokoknya pinjam saja Infernus-mu itu . . ." kata Naruto sekali lagi.
"Buat apa?" tanya Jiraiya sekali lagi.
"Buat nembak Gaara biar tidak bicara lagi . . ." jawab Naruto datar.
Jiraiya memasang ekspresi tidak percaya, dia lalu menjawab pelan.
"Sebenarnya dari tadi aku sudah akan menembaknya Memakai Infernus-ku ini, tapi nanti kita tinggal dimana? Gaara menawarkan rumahnya karena rumah kita hancur?" jawab Jiraiya singkat
"Uuuh sial, aku juga baru sadar" jawab Naruto
Sementara itu si pemuda berambut merah yang bernama Gaara tersebut hanya bisa takut-takut sambil menjaga jarak karena melihat aura kehitaman dari tiga sosok yang ada di depannya. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai disebuah rumah besar, tidak itu bukan rumah, melainkan sebuah mansion raksasa. Gaara mendekati gerbang, mengarahkan matanya pada sistem keamanan rumah tersebut. Lalu Pagar raksasa rumah bergetar hebat, bergeser sedikit demi sedikit. Jiraiya, Naruto, dan Sakura hanya bisa terdiam melihat pekarangan rumah tersebut. Tumbuh-tumbuhan yang tidak semestinya ada seperti kurma tumbuh subur disana, ditambah pohon-pohon mahal lainnya berjejeran, menghias halaman depan rumah tersebut.
"Mulai sekarang ini rumah kalian, aku sudah menonaktifkan sistem pengaman rumah ini" kata Gaara singkat.
"Eehh jadi ini bukan rumahmu?" tanya Sakura heran.
"Ini rumah pembantuku, tapi karena dia sudah berhenti, jadi kosong. Rumahku tepat ada dibelakang rumah ini" jawab Gaara sambil meninggalkan mereka bertiga.
"EEEHHH!" Jiraiya, Sakura, dan Naruto berbarengan.
Gaara lalu berjalan melewati jalan setapak yang ada disamping rumah besar tersebut. Jiraiya, Naruto, dan Sakura mengikuti diam-diam dari belakang.
"Rumah pembantunya sebesar ini? Bagaiman rumahnya?" ucap Naruto penasaran.
"Sssstt Naruto, kau terlalu keras" balas Sakura sambil menyikut Naruto.
"Sudah kalian berdua, cukup diam dan ikuti saja!" suruh Jiraiya yang langsung dipatuhi Naruto dan Sakura.
Mereka bertiga terus mengikuti jalan setapak, mengikuti Gaara yang terus berjalan. Tanaman-tanaman mulai hilang, terlihat pekarangan belakang rumah yang berwarna kehitaman. Naruto mulai kebingungan, ekspresi yang sama juga terlihat dari Jiraiya dan Sakura. Gaara akhirnya berhenti di sebuah mansion besar berwarna kehitaman, bisa terlihat mansion tersebut dulunya megah, namun kini yang terlihat hanyalah puing-puing bangunan tua yang telah terbakar. Gaara berbalik, sepertinya dia sudah mengetahui ada tiga orang yang mengikutinya.
"Inilah rumahku, tak pernah berubah dari sepuluh tahun yang lalu, tak pernah di renovasi. Aku tinggal dan hidup disini" ucap Gaara pada mereka bertiga.
Naruto terdiam, sepertinya dia paham dengan maksud Gaara mengatakan hal tersebut.
"Aku tidur disini, makan disini, mandi disini, dan tak pernah sekalipun menyentuh rumah yang dibuatkan pelayan setiaku untukku. Hanya untuk satu hal . . ." kata Gaara menghentikan kata-katanya sebentar.
"Agar kau selalu teringat dengan pelaku pembakaran yang telah membunuh kedua orang tuamu kan?" ucap Naruto
Gaara hanya terdiam, lalu mengangguk pelan, dari matanya tersirat kesedihan yang luar biasa.
"Ya, untuk itu, tapi setelah aku mencarinya, mencari pelaku tersebut, ternyata aku salah . . ." ucapan terhenti, dia seperti terlihat menahan rasa sakit tak terlihat.
"Setelah berlatih, bersusah payah menguasai kemampuanku seperti sekarang ini ternyata orang yang telah mlakukannya adalah . . ." terdengar sedikit isak tangis dari suaranya yang bergetar
"Orang yang telah menolong hidupku dalam kebakaran ini, Ironis bukan?" ucapnya pelan.
Naruto mendekati Gaara yang terlihat menahan kesedihannya sendiri, menepuk pundaknya pelan, dan berkata dengan suara yang tegas.
"AKU AKAN MEMBUNUHNYA, SI OROCHIMARU BRENGSEK ITU!"
Tak terdengar suara balasan dari Gaara, hanya suara isakan tangis yang mungkin sudah dia tahan selama bertahun-tahun, tangis yang bahkan belum sempat ia keluarkan saat dia tahu orang tuanya tewas terbakar tanpa sisa
))))-((((
"Jadi, apa yang pertama aku harus lakukan dalam sesi latihan ini?" tanya Naruto pada Jiraiya di depan pekarangan rumahnya.
"Cukup simpel, lakukan kebaikan sebanyak-banyaknya!" jawab Jiraiya singkat
"Eh?"Naruto bengong
"Segel di tubuhmu hanya akan terbuka bila kau melakukan kebaikan bukan? Kalau begitu kau tinggal melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya!" jawab Jiraiya menjelaskan.
"Tapi, bagaimana caranya aku melakukan kebaikan?" tanya Naruto sekali lagi.
"MENOLONG ORANG LAH BEGOO!" Sakura tiba-tiba datang dari samping dan menendang muka Naruto.
Naruto terpental dan terseret beberapa meter, bangun sedikit sambil memegang pipinya yang bengkak
"APA MASALAHMU SIH!" Naruto marah
"KAU ITU TERLALU BODOH! MEMBUATKU KESAL!" balas Sakura
"KALAU AKU BODOH MEMANGNYA KENAPA, NGGAK SUKA!?" Naruto tidak mau kalah
"NGGAK! AKU NGGAK SUKA!" balas Sakura lagi
"Mulai lagi, perkelahian antar suami-is. . ." Jiraiya mengeluh
"KAMI BUKAN SUAMI ISTRI!" teriak Naruto dan Sakura bersamaan sebelum Jiraiya menyelesaikan kata-katanya.
"Ok Ok, terserah kalian, intinya Naruto, kau hari ini harus melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya paham? Sakura, kau urus dia, ayah mau mandi dulu" ucap Jiraiya seraya bergerak masuk kedalam rumah.
"Siap ayah!"
Jiraiya bergerak masuk ke dalam rumah, namun tepat saat akan memasuki rumah, langkahnya terhenti.
"Oh ya, ini kan sudah jam sembilan pagi, kalian dari tadi malam belum tidur, bukankah kalian hari ini harus sekolah?" tanya Jiraiya pelan.
"AAAHHH GAWAAAT!"
))))-((((
Kembali ke waktu sekarang . . .
"Ngomong-ngomong Naruto, berapa jumlah kebaikan yang kau lakukan beberapa hari ini?" tanya Jiraiya pada Naruto yang masih duduk lemas di ranjangnya.
"Ummm banyak . . ."jawab Naruto pelan sambil mengingat-ingat.
"Berapa banyak?" tanya Jiraiya lagi.
"Satu" jawab Naruto singkat
"ITU SEDIKIT NAMANYA!" Jiraiya stress dengan keidiotan pangeran Iblis yang ada di depannya itu.
"Tapi anehnya kekuatanku juga belum ada yang kembali" ucap Naruto lagi.
"Hmm. . ." Jiraiya menggumam berpikir
"Ngomong-ngomong, kebaikan apa yang kau lakukan?" tanya Jiraiya curiga
"Tadi aku kerja, lalu aku dimarahi manajernya, jadi Kumarahi balik manajernya sampe aku dipecat, nah bukankah Pembelaan diri adalah suatu kebaikan?" jawab Naruto dengan muka Innocence
GUBRAK!
Naruto hanya bisa terdiam melihat Jiraiya menghantamkan kepalanya sendiri ke meja kecil di samping kasurnya.
"Maaf Naruto, sepertinya aku perlu istirahat sebentar" Ucap Jiraiya pelan sambil meninggalkan kamar Naruto, bisa terlihat di wajahnya ekspresi Orang yang telah banyak mengalami beban Pahit dalam hidup,
"OK, Istirahat yaaa . . ." jawab Naruto santai
Dan pertama kali dalam hidupnya Naruto melihat salah satu dari sepuluh malaikat terkuat lari sangat cepat menjauhinya.
(((()))))
Sore hari, Langit senja berwarna kemerahan merekah di ufuk barat. Suasana tenang akibat mulai turunnya aktifitas kehidupan di jam tersebut memang sangat indah. Namun keindahan itu di rusak dengan suara teriakan tak bertanggung jawab yang berasal dari sebuah mansion di kota tersebut.
"Eeeh, Serangan!?" Naruto terkejut mendengar kata-kata Gaara
Jiraiya, Naruto, Sakura, dan Gaara duduk di sebuah meja makan putih yang panjang. Setelah menghela napas sedikit, Gaara melanjutkan kata-katanya
"Iya, serangan, maaf baru memberi tahumu sekarang. Aku juga baru ingat. Orochimaru berencana menyerang kota ini sebagai rencana cadangan andaikan dia gagal memanfaatkanku untuk menculikmu" Gaara melihat ke arah Sakura.
"Jadi, kapan serangan ini terjadi?" Jiraiya bertanya dengan ekspresi serius
"Aku tidak tahu, yang aku tahu penyerangan ini akan membawa monster-monster dari Neraka. Seperti Ghoul, Troll, dan sejenisnya, melihat dari skala serangannya, kota ini bisa hancur walaupun kita berhasil menyelamatkan Sakura" jawab Gaara
"Lalu bagaimana?" Sakura bertanya dengan Khawatir
"Mudah, Orochimaru akan datang melalui portal khusus, pil yang kumakan kau tahu?"
Naruto, Jiraiya dan Sakura menggeleng, Gaara hanya bisa memasang ekspresi pasrah.
"Pokoknya intinya, pil itu untuk membuka portal. Dan agar bisa berhasil, seseorang harus memasang segel khusus tempat munculnya sebuah portal, bila kita menghapus seluruh segel di kota ini, serangan tidak akan terjadi"
"Masalahnya, dimana segelnya?" tanya Naruto
"Tenang saja, aku tau dimana, karena aku sendiri yang memasangnya, yah kecuali satu segel, yaitu segel ketika Orochimaru datang kesini pertama kali untuk menemuiku saat aku masih kecil"
"Ooh, berarti kita harus dengan cepat menghapus segel yang kau buat sebelum serangan terjadi" Kata Naruto
"Ya, bila berhasil, maka serangan bisa diminimalisir hanya satu gerbang" jawab Gaara
Tiba-tiba terdengar suara keributan diluar rumah, Naruto, Gaara, Sakura dan Jiraiya dengan cepat berlari keluar rumah melihat apa yang terjadi.
"Oh Sial!" ucap Naruto pelan melihat pemandangan di depannya
"Tidak mungkin . . ." Sakura berucap pelan
"Aaah" Jiraiya menghela napas lelah
Di depan mereka terlihat banyak makhluk yang berbentuk mirip manusia, hanya saja mereka merangkak dengan cakar besar ditangan mereka. Kulit mereka berwarna kehitaman penuh dengan luka-luka menjijikkan yang mengeluarkan cairan kemerahan. Makhluk-makhluk itu pun terlihat sedang mengejar beberapa orang yang panik ketakutan.
"Ghoul . . ." Gaara berucap pelan.
Naruto menepuk pundak Gaara, dengan Senyuman semangat, dia berkata pelan.
"OK sekarang Gaara, Dimana Segel Gerbangnya?"
To Be Continued
Author Note :
WAHHH ngareett lagiii! Authornya ngilang lagi, Maaf untuk pembaca cerita saya, sekali lagi maaf. Niatnyaa mau bikin 2 minggu per chapter, tapi . . .,yah intinya udah ada yang baru kan? Heheheehe. OK Terima kasih telah kembali mau membaca fanfic saya yang membuat perut sakit-sakit, dan gejala senyum-senyum di muka kompi, bila ada kesalahan, Koreksi, Atau bahakan Uneg-uneg lain pada chapter ini silahkan Review yaaaaaaaa
