CLAIMED
By
Ellden-K
Prev : "Jungkook..." Taehyung mulai menangis ketika Jungkook nampak terisak dalam tidurnya.
Takut semakin parah, Taehyung pun berlari keluar sambil berteriak.
"YUGYEOM!"
Bab 09 – A Memories
Taehyung hampir saja berlari untuk turun ke lantai bawah dan mencari Yugyeom saat erangan Jungkook terdengar memanggilnya.
Bocah kecil itu berhenti lalu menoleh, ia menatap Jungkook yang sudah terduduk dengan kedua bola mata terbuka nyalang. Tubuh penuh keringat nampak bergetar dikeremangan, dan Taehyung melesat kembali kedalam kamar lalu memeluk Jungkook dalam rengkuhan kecilnya. Terisak karena kesedihan mendadak yang menyerang hati, Taehyung tidak pernah melihat seseorang bisa sekacau ini sebelumnya.
Dekapan semakin erat ketika tubuh Jungkook sama sekali tidak berhenti gemetaran. Pria berotot itu membuang nafasnya yang bagaikan baru saja berlari maraton sejauh ratusan mil, terengah sambil beberapa kali meringis akibat sisa emosi yang menguasainya.
Jungkook sungguh berantakan dan sial nya dia telah mengacaukan malam bersama Taehyung. Sejauh ini ia tak pernah lupa untuk meminum obatnya, atau bangun dan tidur dikamar lain, sial dengan apa yang terjadi setelah ia berjuang untuk mengganti kenangannya dengan segala sesuatu yang baik dan sial untuk sakitnya juga.
Ini adalah kutukannya, Jungkook tidak pernah bisa tidur nyenyak bersama siapapun disampingnya. Mimpi itu akan terus datang, atau bahkan semakin memburuk, dan sialan lagi karena Taehyung telah melihatnya dalam keadaan yang amat sangat kacau.
Jungkook menggeleng dan menjauhkan Taehyung dari tubuh telanjangnya yang tertutupi selimut begitu Yugyeom memasuki kamar dengan terburu-buru.
Pria pertengahan tiga puluh itu segera membuka laci nakas setelah melihat keadaan Jungkook, ia meraih botol obat dan menuang air kedalam gelas yang sudah tersedia didalam kamar, memberinya beberapa butir pil berwarna putih dan kuning. Satu kesimpulan yang bisa ditangkap, jika pria itu sudah tahu apa yang terjadi setelah mendengar teriakan Taehyung.
"Minumlah perlahan tuan." Kata Yugyeom.
Bocah cantik itu menyaksikan Jungkook meminum obatnya dengan tergesa-gesa, hal tersebut lebih nampak seperti ia tengah melihat seseorang yang mengalami gangguan panik berlebihan. Dan matanya mulai berair.
"Tuan- kau tidak apa-apa?" Taehyung hampir menangis lagi sebenarnya, namun dia takut Jungkook berpikir bahwa ia ketakutan karena peristiwa mimpi buruk Jungkook barusan. Taehyung tidak ketakutan untuk itu, ia hanya sangat khawatir dengan Jungkook.
"Sebaiknya aku tidur dikamar lain." Pria itu bergumam setelah nafasnya tenang, ia menunduk untuk memijat kepalanya yang terasa sakit, tak jauh berbeda seperti ditusuk ribuan jarum meski Jungkook tak pernah merasakan itu.
"Tapi, kenapa? Tetaplah disini, aku membutuhkanmu." Taehyung mulai merengek sembari memegang lengan Jungkook, ia hanya tak ingin Jungkook bergerak dari tempat tidur karena temperatur tubuhnya bahkan belum turun.
"Kau tidak," kata Jungkook. "Lanjutkan tidurmu, aku perlu melakukan sesuatu."
Ia tampak pucat dan Yugyeom memberikan jubah tidur sutra kepada Jungkook untuk ia pakai sebelum pergi. Pria itu tahu jika Jungkook sedang sakit dan tidak untuk pergi bekerja maupun mengerjakan sesuatu, ia mesti tetap tinggal di kasur jika tidak ingin terjadi apa-apa. Kendati demikian, Yugyeom jauh lebih mengerti dengan alasan ia ingin meninggalkan Taehyung untuk tidur sendirian.
Taehyung nampak termangu ketika Jungkook menyingkap selimut dan bangkit bersama dengan Yugyeom mengantisipasi dibelakang. Jubah tidurnya tak tertutup dengan rapi, namun masih dapat menyembunyikan area yang tak perlu dilihat oleh Yugyeom.
"Tuan.." Suaranya bergetar dan Jungkook berhenti sesaat ketika mendengarnya, lalu kembali berjalan dan meninggalkan kamar.
•
•
•
Beberapa langkah setelah pintu tertutup, Jungkook hampir terhuyung kedepan jika Yugyeom tidak menangkapnya. Ia mengisyaratkan agar pria itu tidak mengeluarkan suara ketika dia bertanya tentang keadaannya. Jungkook hampir tak bisa berjalan, tentu saja. Pening dan nyeri dikepalanya sama sekali tak hilang, bahkan kini perutnya terasa mual akibat mimpi buruk yang baru saja ia alami.
Jungkook mungkin sudah muntah, jika saja Yugyeom tidak memberikan obat-obatan tadi kepadanya.
Setiap kali, memang selalu begini. Ketika Jungkook tidak mampu mengatasi emosinya ia akan merasa mual dan memuntahkan segalanya. Meskipun didalam perutnya hanya berisi cairan asam.
Yugyeom membawa Jungkook kekamar tamu dilantai satu, karena kamar utama miliknya tengah ditempati oleh Taehyung.
Meskipun demikian, kamar tamu juga tak kalah megah dengan kamar miliknya, semua yang ada disitu nampak elegan dan pas. Sesuai dengan rumah besar ini.
"Saya akan meninggalkan obatnya disini tuan." Yugyeom menaruh beberapa botol obat itu diatas meja disamping ranjang setelah Jungkook berbaring. "Anda tahu saya dimana jika anda membutuhkan saya."
Jungkook hanya mengangguk untuk menjawab pernyataan Yugyeom dan pria itu kembali menimpali.
"Dokter akan datang besok pagi, anda beristirahatlah."
"Ya, terima kasih Yugyeom."
"Sudah kewajiban saya tuan."
•
•
•
Taehyung keluar dari kamar dengan tergopoh-gopoh, bukan lagi rutinitas seperti sarapan pagi yang menjadi motivasinya untuk pergi ke lantai satu jam segini. Tetapi suara Yugyeom yang berbincang dengan seseorang membuat ia buru-buru melesat keluar, Taehyung belum pernah mendengar ada orang lain yang datang kerumah ini selain para pelayan dan pegawai Jungkook kemarin.
Kali ini, pembicaraan itu menyinggung tentang keadaan Jungkook.
"Kau harus lebih mengawasinya Yugyeom, dia tidak boleh terlalu mementingkan pekerjaannya. Jungkook sangat kelelahan dan dia sedikit stress, ingatkan dia untuk minum obat secara teratur." Seorang pria cantik bersetelan rapi tengah berbincang bersama Yugyeom didepan pintu kamar tamu, sedangkan Taehyung mulai mengurangi kecepatan langkah kakinya sembari mendengarkan percakapan mereka.
Dari wasana kata yang ia dengar, orang tersebut pasti dokter yang menangani Jungkook. Terus menuruni tangga, Taehyung melihat Yugyeom mengangguk patuh sambil mempersilahkan pria itu untuk pergi ketika ia mulai berpamitan.
Yugyeom mengantarnya keluar, lalu deru mobil terdengar dimenit kemudian. Sedangkan Taehyung masih termangu di anak tangga terakhir saat Yugyeom telah kembali dan nampak menaikkan alisnya.
"Oh, selamat pagi tuan.. Saya akan menyiapkan sarapannya terlebih dahulu. Tunggulah diruang makan." Kata Yugyeom.
Tetapi Taehyung malah menggeleng, ia ingin bertemu daddy nya, bukan sarapan.
"Apa tuan baik-baik saja? Aku ingin melihatnya..."
"Beliau baru saja kembali beristirahat tuan, mungkin nanti saja ya."
"Aku berjanji tidak akan membangunkannya, kumohon..." Taehyung mulai menggosok-gosokkan kedua tangannya didepan dada, dengan wajah memelas khas bayi kucing ia berusaha untuk mendapatkan izin dari pria itu.
"Tapi tuan mungkin akan marah." Jawab Yugyeom dengan nada lembut.
"Aku mohon..."
Kedip. Kedip. Gosok tangan. Bibir mengerucut. Mata berkaca-kaca.
Kemudian helaan nafas pun terdengar.
"Baiklah." Akhirnya! "Tapi aku memegang janji mu, ok? Tidak boleh membangunkan tuan."
"Terima kasih! Aku berjanji demi robot gundamku!"
•
•
•
Jungkook sedang tertidur ketika Taehyung mulai memasuki kamar, lampu sengaja dimatikan dan gorden juga tidak dibuka. Nampaknya Jungkook memang membutuhkan ketenangan untuk istirahatnya.
Kasihan sekali, Taehyung jadi penasaran dengan apa yang dimimpikan Jungkook tadi malam. Bahkan wajah tampan itu terlihat pasi dan bibir yang biasanya nampak merah segar kini memutih. Bagaikan ia baru saja menjadi kudapan vampire penghisap darah seperti di film yang akhir-akhir ini Taehyung tonton.
Konyol, tentu saja itu tak mungkin terjadi.
Jungkook menggeliat kecil saat nyeri dikepalanya hampir saja membuat ia terbangun dari tidur nyenyak. Melihat itu Taehyung berinisiatif untuk memijat sisi sebelah kiri kepala Jungkook, tepat diatas pelipisnya. Jemari mungil itu berputar-putar dan memijat dengan lembut, beberapa detik kemudian Jungkook kembali tenang ditempatnya. Bernafas dengan hidung yang sedikit berair, ia pasti flu.
Selain itu, dari pengalaman yang pernah Taehyung rasakan, flu tidak akan cepat sembuh. Apalagi Jungkook telah bekerja terlalu keras, dan tetap aktif diatas ranjang.
Juga, beban yang sama sekali tidak Taehyung ketahui, amatlah berat.
Baru beberapa menit ia memijat pelipis Jungkook, Taehyung malah dikejutkan oleh genggaman hangat dipergelangannya. Ia terkesiap, namun tak memekikkan suara keras.
Jungkook sudah terbangun, tapi sama sekali tidak membuka matanya. Ia memindahkan tangan Taehyung untuk memijat keningnya, tepat pada area pertemuan antara kedua alis. Taehyung mengulum senyuman, lalu ibu jarinya mulai memijat tempat yang baru saja Jungkook tunjukan.
Ia menggantinya dengan tangan yang lain ketika Jungkook meraih tangan Taehyung untuk ia genggam, menaruhnya diperpotongan leher yang masih terasa panas.
"Tuan, sebaiknya kau kembali tidur." Bisik Taehyung ketika Jungkook sama sekali tidak ingin melepas tangannya, bukan mendengarkan penuturan Taehyung ia malah meraih yang satunya lagi. Membuat kedua tangan Taehyung terpenjara dalam genggamannya.
"Aku baru saja bangun, kenapa kau menyuruhku tidur lagi? Siapa kau anak kecil? Berani memerintahku?" Jungkook masih tidak membuka matanya, meskipun kalimat itu ia gumamkan dengan suara lembut dan nada lelucon yang kentara. Taehyung tetap gugup karena nya.
"Aku sudah berjanji untuk tidak membangunkanmu kepada Yugyeom." Katanya sambil berbisik, takut jika pria tiga puluhan itu akan mendengar pernyataannya dari luar.
"Dan kau telah melanggarnya."
"Robot gundam ku dalam bahaya jika dia tahu.."
"Oh, itu kelemahanmu ya?"
"Tuan..."
"Kau melupakan panggilan untukku, satu hukuman telah dicatat." Ia melihat manik segelap malam itu tetap menutup diri dengan sunggingan bibir penuh humor, Taehyung bahkan sampai terdiam melihatnya. Wajah lain yang ia lihat dari beberapa bagian hidup Jungkook, jauh dengan sifat otoriter dan tukang perintah serta tak terbantahkan yang Taehyung akui cukup menjengkelkan. Tapi, inilah Jungkook yang Taehyung lihat, dan mungkin masih banyak lagi hal lain menyangkut Jungkook yang akan ia saksikan. Tapi kemudian, perasaan hangat itu kembali muncul didadanya. Berharap ia dapat menelusup dicelah terdalam dimanapun dalam sekitar sudut kecil hati Jungkook. Hingga tanpa sadar Taehyung malah mengernyit akibat perasaan tak lazim menyimbolkan pengharapan lain untuk Jungkook.
"Big daddy.. Jangan sakit kumohon.." Taehyung bergumam sambil mengeratkan tangannya yang masih dalam genggaman Jungkook. Mendengar permintaan lugu itu Jungkook pun membuka matanya pelan-pelan, nampak sedikit kemerahan, namun Taehyung tidak ingin menyinggung hal tersebut.
"Oh, baby.. Kemarilah.." Jungkook menarik Taehyung untuk berbaring disampingnya, dan setelah tubuh kecil itu meringkuk diatas seperempat permukaan tubuh Jungkook, ia pun mengusap punggung Taehyung keatas dan kebawah. "Daddy tidak sakit.."
"Aku baru tahu flu bukanlah sebuah penyakit.." Katanya asal bicara. Hal itu hampir membuat Jungkook tergelak, namun ia menyimpannya.
"Ya, hanya sakit kecil, bukan hal buruk."
Taehyung sedikit mengangkat tubuhnya, menatap Jungkook yang kini juga membalas sorotan matanya. Ia tidak menimpali kalimat Jungkook, bocah kecil itu hanya semakin mendekatkan bibirnya untuk mengecup.
Namun sasarannya langsung menghindar.
"Tak ada ciuman." Tukas Jungkook sambil meremas pantat Taehyung dengan sebelah tangannya.
"Tapi kenapa? Aku menginginkannya daddy.."
"Kau akan terkena flu juga, apalagi kau masih anak-anak."
"Daddy baru saja bilang itu hanya sakit kecil dan bukan hal buruk, lagipula aku bukan anak-anak lagi."
Ow yeah, Taehyung mulai pintar berkilah dan sepertinya Jungkook harus lebih bijak menggunakan kata-katanya. Bukan berarti wajah imut itu akan sepenuhnya polos dan tidak tahu apa-apa, lagipula bagaimana mungkin Ia tak mengetahui apapun jika Jungkook hampir setiap malam mencekokinya dengan adegan-adegan dewasa yang mereka lakukan.
"Ya, aku salah bicara."
"Aku pernah demam dan flu, jadi aku bisa mengatasinya dengan baik.." Taehyung mulai mengusap-usap pipi Jungkook dengan ujung jari mungilnya. "Karena setelah minum obat semuanya akan jadi lebih baik. Makanya, daddy tidak boleh melupakan obatnya."
Kali ini Jungkook berhasil tergelak namun tak sekeras biasanya, ia hanya terkekeh dengan tubuh sedikit berguncang karenanya. Anak ini semakin pintar setiap harinya, atau memang Jungkook yang belum terlalu mengenalnya?
Mereka bersama hanya saat bercinta saja omong-omong. Hal tersebut membuat Jungkook menghilangkan tawa nya tiba-tiba.
"Tentu daddy akan meminum obatnya baby boy." Mendengar itu, Taehyung tersenyum sangat lebar kemudian ia meraup bibir Jungkook untuk mendapatkan kecupan dalam.
"Aku mencintaimu daddy!"
Jungkook tak menimpali, ia hanya terdiam sambil terus mengusap punggung Taehyung yang bersandar kepadanya. Berbagi kehangatan dari tubuh masing-masing, ia juga berharap jika Taehyung tidak tertular sakitnya saja.
•
•
•
Satu minggu nun berat tanpa seks yang baru kali ini Jungkook hadapi, flu nya semakin parah setelah tiga hari ia jatuh sakit dan pada hari keenam Jungkook dapat sedikit bersyukur karena kepalanya sudah mulai berhenti berdenyut. Selama itu pula ia sama sekali tidak menemui Taehyung.
Terkadang memaksakan diri untuk pergi bekerja padahal tubuhnya masih selalu limbung ketika mulai melangkah, dan hari ini ia pergi ke kantor tanpa para sopir sekaligus pengawal nya. Membuat beberapa karyawan yang bekerja dibawah naungan perusahaannya mengernyit akibat kondisi wajah rupawan yang selalu dielu-elukan hampir seluruh populasi manusia itu kelihatan pucat dan menyedihkan. Satu lagi yang sempat terlupakan, Jungkook mengalami radang tenggorokan juga dan itu sungguh menjengkelkan.
"Oh tunggu, kudengar kau sedang sakit? Ada apa man?" Itu Jung Hoseok, dan ia memiliki peran yang cukup penting diperusahaan. Selain dari pada sifat ingin tahu nya yang besar, ia cenderung mengorek setiap informasi apapun disekitarnya. Entah menguntungkan entah tak memiliki arti sepadan dengan suatu yang mempengaruhi kedudukannya.
"Aku sibuk, tak mungkin aku menghabiskan waktu berhargaku dengan hibernasi dan membuat sarang dikamarku sendiri."
"Kau tentu tak perlu. Tapi serahkan saja semua berkas sialan itu kepadaku, lagipula kita bekerja sama untuk membangun semua ini. Jangan berpikir aku akan merebutnya darimu dan bertingkah semena-mena, oh- atau terjadi sesuatu kepadamu dude?"
"Bisakah kau tutup mulutmu sekali ini saja?" Jungkook mengurut keningnya sambil mendudukan diri dibelakang meja kerja. Mendengar ocehan itu saja ia jadi tidak dapat memikirkan apapun, bahkan setiap katanya lewat begitu saja.
"Kau sudah memintaku dengan pertanyaan yang sama beberapa waktu lalu, pikirmu itu masih berlaku sekarang?"
Oh, keputusan buruk untuk pergi kerja hari ini.
"Diam dan pergi."
"Apa itu?" Hoseok memangku tangannya sembari berdiri didepan meja Jungkook dengan kaki mengetuk-ketuk permukaan lantai, dilihat dari sini pantofel mahal itu nampak mengkilap elegan. "Seseorang mengguncang duniamu?" Tanya nya usil.
"Enyahlah.. Jung -dick head- Hoseok.." Akhirnya Jungkook mendongkak dengan sorot mata tajam yang mampu membelah kepala tampan Hoseok menjadi dua.
"Santai boy, nampaknya kau perlu bercinta."
Jungkook tidak menimpali, ia hanya mengusap wajahnya yang semakin lelah. Hoseok tidak akan menyerah tanpa membuat Jungkook gusar dan meneriakinya, namun begitulah resiko yang harus ia tanggung jika satu gedung dengan si Jung sialan itu.
"Baiklah jika kau ingin tetap bekerja, satu jam kedepan ada pertemuan dengan DM, kau sudah siapkan semua berkasnya kan? Jika tidak aku akan memberitahu Jeonghan untuk memindahkan jadwal."
Jungkook tercenung untuk sesaat, kemudian mengangguk tanpa menunggu lama. DM Communication adalah perusahaan media raksasa bernilai ratusan juta dolar. Tidak mungkin Jungkook men-tidak-kannya.
"Ya, lagipula itulah alasan aku masuk kerja."
"Kalau begitu selamat bertemu diruang rapat, dan omong-omong.." Hoseok nampak menundukkan kepalanya untuk menatap Jungkook yang kini tengah memeriksa beberapa berkas. "Anak kecil yang dirumahmu itu sangat manis, lain kali biarkan kita bermain sama-sama.."
"Pintu keluarnya disana, atau kau ingin aku menendang bokong bodohmu dulu agar kau segera angkat kaki dari sini?" Jungkook mendelik sambil menunjuk pintu kayu dengan anggukan kepala, membuat Hoseok semakin terkekeh ditempatnya.
"Sialan man, kau benar-benar butuh bercinta."
Ia berjalan dan mengikuti perintah Jungkook untuk pergi, namun sebelum pintu tertutup sempurna Hoseok kembali berkicau.
"Dandanannya sangat seksi, kenalkan aku padanya!"
'BLUK'
Sebelum Jungkook membalas, pintu sudah terbanting dan hal itu tentu saja menyelamatkan Hoseok dari lemparan furniture balok kayu diwajahnya.
Beberapa saat kemudian ketika ia masih melangkah menuju kantornya sendiri, getaran ponsel disaku celana mengalihkan kegiatannya mengedipi para karyawan cantik yang tersipu disana.
Jeon Bunny
[Sending a pictute]
"Kau tahu ini apa? Ini untukmu."
Jungkook mengirim foto tangannya yang sedang mengacungkan jari tengah, tampak otot-otot kelelakiannya menonjol pada pergelangan dan jari tangan.
Hoseok hampir tergelak, namun caption yang tertera membuat ia harus menelan ludah. Jungkook memang selalu menyeramkan, bahkan disaat ia hendak diajak bercanda.
Banyak wanita dan lelaki cantik yang memuja Jungkook karena semua yang ia miliki, tapi sifat nya yang satu ini benar-benar kekurangan nyata darinya.
•
•
•
Luka dijari akibat goresan cutter tajam yang biasa pak tua Song gunakan untuk memotong batang bunga dan tanaman membuat Taehyung meringis sakit sembari membungkus kelingkingnya.
Salahkan ia yang memang selalu ceroboh dalam tindakannya, bahkan saat pak tua Song tidak ada ditempat dan Taehyung yang berinisiatif untuk membantu mengerjakan kegiatan pak Song menyetek tanaman malah membuat ia melukai diri sendiri.
Taehyung tidak menemukan Yugyeom dimanapun ketika ia telah berkeliling memasuki ruang tengah maupun dapur, sedikit merasa kesal karena semenjak ia tinggal disini Taehyung telah menjadi orang yang super manja, jika boleh dibilang.
Karena demi Tuhan, ia sama sekali belum terlalu mengenal area rumah ini. Ia memang tahu dimana letak kamar mandi, dapur, ruang tengah, atau bungalo dihalaman belakang yang terpisah dari kolam renang oleh sekat pagar kayu yang dirambati tumbuhan menempel hingga ujung teratas. Awalnya Taehyung berpikir itu adalah tembok penghalang area luar dan dalam.
Namun setelah beberapa hari menyibukkan diri dengan tanaman dan bunga-bunga ditaman kecil halaman belakang, ia sempat ternganga takjup melihat tempat lain yang baru Taehyung ketahui.
Tapi untuk saat ini.. Dia butuh antiseptik! Dimana kotak putih berlogo plus itu!
Taehyung mengibaskan ujung lengan kemeja yang terkena darah, oh ya, salah satu hobi baru Taehyung ialah mengenakan kemeja santai milik Jungkook yang beberapa hari lalu teronggok dikamarnya, yang satu itu nampak baru dicuci karena aromanya sangat menyenangkan dan dia malah mengotorinya sekarang!
Ia merasa darah dikepalanya membeku ketika tetesan cairan merah yang ia tahan-tahan kini malah berceceran dilantai pualam milik Jungkook juga. Mungkin Yugyeom akan lebih marah jika ia ketahuan mengotori lantai -lagi. Tapi masa bodoh, ia merasa debaran dijantungnya semakin berdentum keras.
Sebelumnya Taehyung tidak pernah terluka seperti ini, maka dari itu ia tidak pernah tahu jika ia phobia darah. Namun Taehyung yakin, ini tidak akan separah itu jika bukan dia yang terluka. Rasa berdenyut dan nyeri juga punya pengaruh besar dari pandangannya yang mulai mengabur, selain darah yang terus terbuang tentunya.
"Oh, astaga.. Biar kulihat." Taehyung tidak bisa lebih bersyukur ketika matanya mendeteksi keberadaan dokter cantik yang beberapa waktu lalu sering berkunjung untuk mengontrol kesehatan Jungkook.
Ia memiliki wajah cantik dengan versi lebih dewasa, dan Taehyung memiliki wajah cantik dengan versi yang jauh lebih muda.
Orang itu meraih tangan Taehyung untuk ia periksa separah apakah luka tersebut, kemudian membawa Taehyung yang nampaknya mulai limbung untuk terduduk dikursi bar.
Ia memberikan sapu tangan abu-abu yang ia keluarkan dari saku celana nya kepada Taehyung.
"Tekan terus lukanya, aku akan segera kembali." Kata dokter itu sambil meletakkan tas kerja nya disamping Taehyung. Setelah melihat Taehyung yang telah menuruti intruksinya, ia pun pergi untuk mengambil kotak P3K yang sebelumnya telah Taehyung cari.
Pria cantik itu kembali dengan senyum kecil diwajahnya dan kotak pertolongan pertama ditangan. Sedikit terheran-heran bagaimana mungkin ia bisa menemukan letak benda yang Taehyung saja tidak tahu keberadaannya, membuat tanda tanya melayang-layang diatas kepala cantik Taehyung.
"Aku tidak membawa semua peralatanku karena aku tahu Yugyeom selalu mementingkan keselamatan, contohnya dengan kotak penyelamat ini." Celotehnya tanpa Taehyung mengerti sedikitpun, ia hanya meringis sambil menahan perih yang terus mengigiti tangannya. Bahkan jemarinya yang meremang kedinginan akibat terlalu banyak mengeluarkan darah, kini terasa kebas dan sulit digerakkan.
Bagus sekali, bahkan mati rasa seharusnya lebih baik dari ini.
"Ini luka yang cukup dalam dan akan sedikit perih, tahan sedikit dan kau tidak akan infeksi." Suara lembut itu mengalun sambil dengan telaten ia membersihkan jari Taehyung dari darah yang terus keluar. Membasuhnya dengan cairan antiseptik yang rasanya sangat menyakitkan, Taehyung tidak tahan untuk tak menangis. Tapi tidak, ia adalah orang yang kuat. Ini bukan apa-apa.
Aaa- sakit!
"Kau pasti orang yang diceritakan Yugyeom waktu itu.." Katanya mengagetkan Taehyung dari konsentrasinya menghilangkan air yang menumpuk dikantung mata.
Sebenarnya selama seminggu ini dia sering datang kemari untuk mengontrol keadaan Jungkook, mungkin hanya dua kali pertemuan dan sepertinya ini adalah kali ketiga namun tanpa Jungkook yang berada didalam kamar. Karena nyatanya pria itu dengan memaksakan kehendak, kabur dari rumahnya sendiri dan membuat Yugyeom kelabakan karena tak menemukan Jungkook dimanapun padahal ia belum sembuh total.
Dasar pria sok kuat.
Taehyung tidak ingin perduli lagi pada orang yang terus mengacuhkannya. Tapi kenapa sulit sekali, bahkan setelah tangannya terluka ia tetap memikirkan Jungkook.
Omong-omong, mereka memang tidak pernah bertegur sapa. Karena Taehyung yang tidak pernah mendekatinya, ya semua orang tahu apa yang terjadi ketika dengan tidak sengaja Taehyung menemui Jungkook serta kawan bisnisnya diruang kerja beberapa waktu lalu. Ia tidak ingin hal itu terjadi kembali, meskipun orang ini hanyalah dokter pribadinya.
"Namaku Byun Baekhyun." Senyumnya sambil membaluti kelingking Taehyung dengan kapas berbetadine. Tanpa menatap bocah itu, Baekhyun mampu menangkap refleks terkesiap dari Taehyung.
"Oh ya, aku Kim Taehyung, dokter." Jawab Taehyung setelah diyakini tak ada getaran dalam suaranya.
"Keponakannya Yugyeom, kan?"
Taehyung kembali terkesiap, namun ia segera mengatasi ketidakpastiannya.
"Bagaimana dokter tahu?" Tanyanya pelan. Pasalnya Yugyeom bukan tipe orang yang akan langsung membocorkan informasi meskipun itu adalah hal yang lumrah, jika tidak ada yang bertanya sebelumnya.
"Aku melihatmu saat Yugyeom memanggilku untuk datang dan memeriksa Jungkook pada pertemuan pertama. Tapi kau malah terdiam ditangga dan tak berbuat apa-apa.."
Ow, itu mengejutkan.
Ia kira Baekhyun sama sekali tidak melihatnya, karena pria cantik itu membelakangi Taehyung.
Baekhyun melirik sekilas pada penampilan Taehyung.
"Menurutmu Jungkook itu seperti apa?"
"Huh?"
"Aku datang kemari untuk memeriksanya, tapi dia malah pergi entah kemana. Bukankah menurutmu dia pria yang pedendam?"
"Aku tidak mengerti." Gumam Taehyung jujur, ia masih terdiam dengan tangan lentik Baekhyun meliliti jarinya menggunakan kasa.
"Sejak awal dia adalah pria berhati dingin, tak percaya cinta, tapi oportunis sejati dan hidupnya sangat monoton." Ia bercerita seperti telah mengenal Jungkook sejak bertahun-tahun lamanya saja, benak Taehyung. "Ya, terkecuali tentang kehidupan one night stand nya yang akhir-akhir ini nampak meredup."
Taehyung tidak mengerti, sungguh. Apa one night stand itu?
Bocah kecil cantik didepannya memiringkan wajah sambil berpikir, dan Baekhyun meledak dalam tawa.
"Astaga, aku mungkin akan dihukum jika kedapatan telah mencekokimu dengan cerita tentang hal tak senonoh yang dilakukan Jungkook." Kata Baekhyun sambil merekatkan balutan luka dengan plester yang ia gunting. "Well, selain para wanita dan pria cantik yang memujanya. Ia tak benar-benar monoton sih.. Beruntung ia memiliki wajah yang oke, dan itu adalah nilai plus untuknya."
Taehyung masih diam, setelah semua kegiatan membenahi kekacauan yang dibuat. Kini jarinya terasa lebih baik, meski denyutan tak nyaman itu masih menggerogoti tepat disekitar sayatan.
"Terima kasih dokter."
"Sama-sama Taehyung," senyum Baekhyun sambil membereskan peralatan. "Aku tidak menyangka kau adalah orang paling lugu yang pernah kukenal."
"Ah, aku tidak selugu itu dokter.." Taehyung berkilah sambil tersenyum hingga segaris lurus menghilangkan dua mata hazelnya. Hell, umurnya sudah lima belas, lugu apanya? Ia tahu banyak hal kok!
Uh, kecuali one night stand itu, Taehyung sering mendengar istilah ini diclub malam tempat ia bekerja, namun tak pernah tahu artinya karena pemilik club tidak akan membiarkannya. Taehyung hanya bekerja, tidak untuk digunakan, itu ketika ia masih berada diclub pertama.
Berbeda dengan yang kedua, ketidakberuntungannya berakhir dengan ia terdampar didalam kondo mewah milik Jungkook ini.
Tapi ia akan segera menanyakannya kepada Yugyeom atau mungkin Jungkook. Oh, lupakan opsi terakhir.
"Aku cukup yakin untuk itu." Timpal Baekhyun sambil sekilas menyapu pandangannya disekitar tubuh Taehyung, terlebih ketika nol koma tiga sekon ia sempat memperhatikan leher dan bahu Taehyung tak mampu disembunyikan oleh kemeja kebesaran yang Baekhyun tahu itu adalah milik Jungkook.
Namun sepertinya Taehyung tidak terlalu menyadari itu karena ia sibuk mengelusi lukanya yang sudah terselamatkan.
"Kadang aku iri pada gadis maupun laki-laki yang dekat dengannya," kata Baekhyun memberi pencerahan, hingga akhirnya surai lembut Taehyung mendongak tertarik. "Ini hanya rahasia antara kita ya, beberapa waktu yang lalu aku hanya sedikit kesal karena Jungkook selalu dapat menolak orang yang mengajaknya kencan sesuka hati. Tapi aku malah tak bisa menolak perasaanku sendiri."
Apa ini? Akan kemana topik pembicaraan ini berakhir? Taehyung hanya mampu menerka, apakah dokter cantik yang memiliki tatapan lembut bernama Baekhyun itu adalah pihak yang patut Taehyung waspadai atau bukan. Karena dari semua yang Taehyung tangkap dalam pembicaraan mereka, antara Baekhyun dan Jungkook nampaknya memiliki masa lalu dimana mereka ada didalamnya, dan bersama-sama -atau tidak sama sekali?
"Uh, dokter..."
"Jadi, bagaimana dia menurutmu Taehyung?" Kata Baekhyun, mengulang pertanyaan yang sempat tertunda tadi.
"Da- ah, -Tuan.. Adalah orang yang baik." Sialan dengan lidahnya yang sudah mulai terbiasa memanggil Jungkook dengan sebutan daddy.
Hanya itu yang mampu Taehyung ucapkan, karena satu kata salah keluar bisa saja mengakibatkan hal paling buruk untuk keberlangsungan hidupnya disini.
"Aku setuju." Kata Baekhyun sambil tersenyum dengan begitu manis. "Kadang dia terlalu baik hingga banyak orang yang salah paham."
Taehyung mengangguk mengiyakan, kemudian Baekhyun pun segera menambahkan kalimatnya. "Dan aku adalah salah satunya." Ungkapnya sambil terkekeh ringan.
Taehyung tidak tahu apa yang lebih buruk dari dampak ketampanan dan karisma seorang Jeon Jungkook, bahkan ia tidak yakin apakah itu adalah anugerah ataupun kutukan.
Sebab banyak yang telah jatuh hati karenanya dan merasa sakit pula setelahnya.
•
•
•
Taehyung tidak tumbuh seperti dikeluarga normal lainnya, yang mengharuskan anak seusianya bersekolah dan belajar. Sejak umurnya sepuluh tahun ia sudah bekerja pada seorang pemilik club sekaligus tempat prostitusi (yang tak terlalu besar) untuk melunasi segala hutang ayahnya. Hal itu terjadi setelah sang ibu meninggal akibat overdosis zat adiktif mematikan bernama heroin, ia adalah seorang narkotiker berat hingga mengakibatkan Taehyung dan ayahnya harus menanggung hutang yang bukan main nilainya. Empat bulan kematian sang ibu, tiba-tiba ayahnya di vonis mengidap penyakit parah. Setelah dua tahun berjuang demi kesembuhan, ayahnya pun meninggal dengan hutang yang masih menumpuk.
Taehyung mengerti, namun ia hanyalah bocah polos yang dipekerjakan tanpa digaji selama bertahun-tahun. Mengantarkan minuman untuk para pria hidung belang di karaoke, membersihkan tempat tidur bekas dipakai penyewa kurang ajar yang selalu mengotori sprei dengan aroma menjengkelkan yang sama sekali tidak sedap. Tetapi Taehyung cukup bersyukur, Kim Namjoon, pemilik club malam itu sudah menganggapnya sebagai anak sendiri, maka dari itu Taehyung tidak pernah ditunjuk untuk menemani para tamu mereka meski hanya sekedar berkaraoke bersama.
Namun keadaan seakan menjungkir balikan dunianya ketika Namjoon membuat kesalahan hingga seorang lintah darat memerasnya sampai hampir mati. Ia sungguh akan bangkrut jika tidak melunasi hutang-hutang yang ternyata telah digelapkan oleh salah seorang pegawai kepercayaannya. Namjoon ditipu, tentu saja itu juga termasuk pengkhianatan. Uang yang seharusnya melunasi segala biaya dan keperluan club tidak pernah sampai ke tangan para lintah darat itu.
Jadi, Taehyung berhutang kepada orang yang memiliki hutang juga. Pertama, ia akhirnya menjadi objek untuk Namjoon tukar dengan semua hutang-hutangnya sendiri. Meski ia telah amat menyesal sudah melakukan hal bodoh seperti itu kepada Taehyung. Ia berjanji ia akan menebusnya kembali dan membawa Taehyung untuk tinggal bersamanya, membantu Namjoon yang memang sudah kesepian sejak dulu. Umurnya hampir lima puluh satu tahun, tapi wajahnya menunjukan jangka usia yang terlihat jauh lebih muda. Ia masih bugar, dan pernah memiliki satu istri tanpa kehadiran seorang bayi pun didalam rumah tangga nya. Maka setelah sang istri meninggal lima tahun yang lalu, ia menemukan Taehyung yang begitu murni dan polos. Hingga sebuah empati kembali meluruskan akalnya.
Mungkin karena skenario tuhan sedang ingin bermain-main sebentar dengannya, ia tetap dipekerjakan, namun pada sebuah club yang jauh lebih besar dan dengan pekerjaan yang jauh lebih berat untuk anak seusianya.
Saat itu Taehyung baru saja melewatkan hari ulang tahunnya, dengan hanya ditemani roti lapis buatan sendiri dan lilin putih disampingnya, Taehyung tetap memaksakan senyum terindah sambil merapalkan harapan agar orang tuanya bahagia disurga sana. Merasa bersyukur meski hanya roti lapis yang ia dapatkan saat makan malam menjelang.
Taehyung tersentak ketika bayangan Yugyeom membuyarkan semua angan yang membawanya melayang ke masa lalu. Ia mendongakkan kepala ketika pria pertengahan tiga puluh itu malah pergi melewatinya sambil bercakap riuh ditelepon.
Sejak tiga puluh menit yang lalu Baekhyun sudah tidak menampakan eksistensinya lagi dirumah Jungkook, karena ia berkata ada beberapa urusan yang perlu ditanganinya. Samar-samar ia mendengar Yugyeom menggumamkan nama Jungkook dengan intonasi yang kentara akan rasa khawatir dan was-was.
"Baiklah, tahan dia disana. Aku akan segera datang." Kata Yugyeom entah pada siapa.
"Tunggu, apa itu Yugyeom?" Taehyung menghentikan gerakan gelisah Yugyeom yang nampak hendak menelpon orang berbeda.
Pria itu terdiam untuk beberapa sekon hingga akhirnya Taehyung mesti mengerang untuk mendapat jawaban.
"Terjadi sesuatu dengan tuan Jeon. Kami harus segera menjemputnya dikantor."
Baiklah, jantungnya yang salah atau Taehyung memiliki firasat buruk dari kesan Yugyeom saat menggumamkan kalimat itu?
.
.
.
TBC
Aloha~ Ell bakal up sedikit ngaret karena hp yang masih belum bener dan larangan membeli laptop baru masih berlaku u,u i'm sorry dear~
Ada beberapa hal yang sedikit complex disini, tapi Ell akan menyelesaikannya satu persatu dan disini sekarang sudah pada tahu kan umur etet dan masa lalunya seperti apa :'v
Ayo, Temennya Jung Hoseok dan Jeon Jungkook yang satu lagi siapa coba? Yang pasti bukan Namjoon ya XD
Jangan lupa feedback ya, karena ell nulisnya juga enggak Cuma tinggal ketik doang XD
Btw, gak pada percaya ell 01 ya? Apa karena rating ff ini diatas yang seharusnya ell buat? :O
Maaf ya kalau pikiranku sudah dewasa sebelum waktunya u,u XD
Big love and thanks for : Qoini || Sweetysour || aitaetae13 || yunitailfa || Noppn || namjinie || mjjujuw || autumnChoi || Kyunie || anomin || Park RinHyun-Uchiha || taekookseeker || Uozumi Han || Jeon97Kim || exohye || nochutae97 || VAlienKim95 || Y BigProb || mutianafsulm || arayasa || Viyomi || julianajeon97 || Vkook Trash || YoonSooJi || KimWeye || JiJiByugi || noonim || kkukikkuki || dazzlingR || KaiNieris || CrazyWooJinyoung || Ellegisnt || jeri || cumicumichuu || Greenlatte || alwendrf ||
RNR JSY~
