"Do you know what it feels like to know that everything is nothing but a lie?
That your whole life, your whole existence,
Your pain, your smile, your tears, your memories;
is nothing but a mere fabrication?"
- Shim Changmin ex. Cho Changmin -

.

.

.


Adalah keberanian untuk hari ini yang Kyuhyun inginkan.

(Keberanian untuk menyambut hari baru ketika Jungsoo tidak lagi bersamanya.)

Bukanlah keberanian yang sederhana. Bukan juga yang lebih kompleks. Dalam dunia yang kini ia habiskan tanpa sosok itu, harapannya hanya satu. Untuk menemukan kekuatan agar ia mampu keluar dari masa lalu yang selalu membelenggunya.

Kyuhyun tidak bisa mengingat begitu jelas bagaimana ia berhasil melewati hari-hari tanpa Jungsoo di sampingnya. Bagaimana ia berhasil bertahan dengan kenyataan bahwa ia sudah membunuh orang yang begitu berharga dalam hidupnya. Kyuhyun bahkan tidak yakin, apakah masa itu sudah berakhir. Apakah ia masih terjebak dalam penyesalan yang sama?

Satu hal yang pasti, ketika ia akhirnya memilih untuk bergerak maju, Kyuhyun bukan lagi dirinya yang dulu.

(Bukan lagi dirinya yang rapuh. Bukan lagi dirinya yang lemah.)

Sejak detik ini, Cho Kyuhyun sudah mati dan digantikan dengan sosok baru yang jauh lebih tangguh; jauh lebih kuat.

Hyung, lihat aku. Aku pasti akan mewujudkan impianmu.

"Kyuhyun-ah!" pemuda itu dikejutkan dengan sosok Donghae yang sedang berlari ke arahnya. Penampilannya acak-acakan lengkap dengan cemas tertulis di setiap gerak tubuh. "Darimana saja kau?! Apa kau tahu betapa khawatirnya aku?!"

Kyuhyun mengedip; satu, dua, tiga—sebelum sebuah senyum simpul menghias sisi-sisi bibirnya yang mulai membiru. Salju memang sudah berhenti sejak dua jam lalu, tapi tubuh pemuda itu tertutupi salju dari kepala hingga ujung kaki. "Mian, hyung. Aku hanya lupa waktu karena salju di luar begitu indah."

"Huh? Apa yang…?" dahi Donghae lantas mengerut, pegangannya pada bahu Kyuhyun mengendur saat kalimat itu berhasil dicernanya. "Sejak kapan kau—"

"Sejak hari ini." potong Kyuhyun cepat, masih dengan senyum yang sama. Ia menarik lengan Donghae, menggiringnya masuk ke dalam lobby rumah sakit yang hangat. "Hyung, bisakah aku meminta sesuatu padamu?"

"Ya, ada apa ini? Kau terlihat aneh." katanya sambil menaikkan alis. "Tidak biasanya kau begini. Apa sesuatu terjadi?"

Kyuhyun terdiam, pandangannya berubah sendu. Namun detik kemudian, pemuda itu tersenyum.

"…Kyuhyun-ah?"

"Ani." senyum Kyuhyun melebar. "Tidak ada yang terjadi."


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Rasa sakit membuatmu lebih kuat.
Rasa takut membuatmu lebih berani.
Sesak di dada membuatmu belajar,
kalau jantung tidak bisa berdetak sendiri.
Dan penyesalan; penyesalan membuatmu menghargai,
tiap jengkal waktu yang kau punya.
.

.

.

Begitu pula tiap nafas yang terhembus,
darimana kau pikir mereka berasal?

.

.


i-r-i-d-e-s-c-e-n-t
chapter nine
for whom it may concern


.

.

.

.

.

Kyuhyun berdiri berhadapan dengan cermin, menatap bayangan yang terpantul di sana dalam.

Hal yang selanjutnya datang cukup mengejutkan. Tangannya terangkat ke udara dengan sebuah hentakan, dan tiba-tiba saja Kyuhyun menampar dirinya keras di sisi kiri wajahnya. Entah untuk apa ia melakukan ini. Mungkin untuk membangunkan dirinya?

(Tapi bayangan di depannya masih orang yang sama. Kyuhyun masih melihat dirinya sendiri.)

Seolah-olah itu tidak cukup, ia kembali menampar wajahnya; kali ini dua kali lebih kuat. Yang ini mungkin untuk menemukan dirinya. Menemukan dirinya yang baru.

Lee Hyunsoo, di mana kau?

Di cermin, Kyuhyun mencari-cari sosok yang akan ia kenakan mulai hari ini. Ia sudah bersusah payah selama tiga bulan terakhir. Lelah dan pedih tercetak jelas sepanjang garis mata dan bibirnya, namun kali ini ada yang berbeda. Pemuda itu menatap cermin lama, dan lima detik kemudian sebuah senyum miris menghias wajahnya. Kyuhyun berbalik, punggungnya menghadap cermin, tidak sekalipun lengkungan senyum pudar dari bibirnya.

"….apa kau benar-benar yakin ingin melakukan ini?"

Kyuhyun tidak menjawab. Jika bisa, ingin ia tidak menjawab tapi yang berbicara padanya adalah Donghae. Pemuda itu berhak untuk mempertanyakan pilihan Kyuhyun puluhan – bahkan ratusan – kali, walalupun akhirnya hanya jawaban yang sama dia terima.

"Tentu saja hyung." Pemuda itu pura-pura mengerlingkan mata bosan. "Apa kau lupa kalau aku belajar di bawah pengawasanmu? Apa nilai-nilaiku masih kurang memuaskan untuk memenuhi standar seorang dokter handal sepertimu?"

"Kyuhyun-ah…"

Mendengar namanya disebut begitu lirih membuat Kyuhyun tersenyum pahit. "Berhenti menatapku seperti itu, hyung. Aku benar-benar ingin melakukannya, jadi tolong jangan hentikan aku."

"Sesuatu pasti terjadi kan?" tanya Donghae. "Sesuatu yang tidak kau beritahu padaku. Apa kau benar-benar tidak menganggapku, Kyuhyun-ah?"

"Hyung."

"Kau tiba-tiba saja menghilang dan saat kau kembali, hal pertama yang kau lakukan adalah memintaku untuk mengubah akta kelahiranmu." kata Donghae. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau tidak mau mengatakan apapun padaku?"

"Hyung."

"Aku berusaha untuk memaklumi. Aku berusaha untuk menutup telinga dan hatiku tapi ini sudah keterlaluan!" lanjutnya tanpa memedulikan panggilan memohon dari Kyuhyun. "Apa keberadaanku tidak ada artinya bagimu? Apa kau bahkan menggangapku sebagai—"

BRAK

Mata Donghae melebar ketika Kyuhyun tiba-tiba bangkit dari posisinya dengan hentakan keras. Bahu pemuda itu sedikit bergetar, namun Donghae tidak dapat menangkap wajah apa yang sedang dikenankannya karena posisi Kyuhyun yang membelakanginya.

"Saat aku kehilangan seseorang yang begitu berharga, semuanya menjadi jelas." ia memulai dengan suara serak. "Hal-hal yang tidak aku katakan. Hal-hal yang tidak aku lakukan. Kesempatan yang seharusnya aku ambil. Kebahagiaan yang seharusnya aku rasakan. Semuanya seperti memukulku kuat."

"Kyuhyun…"

"Aku selalu berpikir kita memiliki seluruh waktu yang ada di dunia, tapi nyatanya tidak." Ia menggeleng, tangan mengepal dalam sebuah tinju. "Aku selalu berpikir kita mempunyai [selamanya], tapi ternyata itupun terlalu singkat. Dan sekarang—sekarang sudah terlambat."

Ia berbalik menatap Donghae.

"Aku tidak ingin hal yang sama terjadi dua kali, hyung."

(Senyum sedih.)

"Aku tidak ingin kehilangan apapun lagi."

tidak ingin kehilangan siapapun lagi.


.

.

.

.

.

Lima menit dan dipastikan ia akan terlambat.

"Sialan!"

Changmin mengancingkan seragamnya dengan tergesa. Ia melirik sejenak ke arah jarum jam yang kini menunjukkan pukul delapan. Sebuah umpatan meluncur dari bibir, dan gerakannya makin bertambah cepat; makin tidak beraturan.

Ia mengutuk ketika tangannya tidak sengaja menyenggol meja nakas. Sebuah kotak persegi berlapis beludru bergeser hingga ke tepi, sebelum akhirnya jatuh. Dari dalam keluar beberapa lembar foto yang sudah sedikit menguning dimakan waktu. Ada kalimat tertulis di balik tiap lembaran, yang kini tintanya sudah memudar menjadi abu-abu.

Changmin membeku saat matanya tidak sengaja bertemu pandang dengan selembar foto usang yang tergeletak di lantai. Ada tiga senyum di sana; dari seorang pria dan wanita dengan anak kecil di pangkuannya. Wajah-wajah yang cukup familiar meskipun sudah belasan tahun tidak ia lihat secara langsung.

Matanya bertumpu pada sosok wanita yang menopang sebuah senyum lembut pada bibir. Changmin sangat merindukan senyum milik wanita yang kini menatapnya bisu. Tapi ia tahu bahwa tak akan didapatkannya lagi, senyum itu. Pandangannya beralih pada sang pria yang memeluk pinggang wanita lembut. Jujur saja sampai sekarang pun, ia tidak tahu harus memanggil pria itu apa.

(Keluarga adalah keluarga Changmin-ah, pria itu selalu berkata padanya. Keluarga tidak ditentukan oleh sertifikat perkawinan, surat cerai, ataupun dokumen adopsi. Keluarga selalu dibuat dan bermuara di hati. Karena itu jangan pernah berkata kalau kita bukan lagi keluarga, karena—)

Matanya terasa panas; dadanya sesak.

Appa… pantaskah aku memanggilmu begitu?

Kembali pada masa di mana ia masih bisa tertawa lebar dengan baris gusi dan gula-gula erat dalam genggaman, rasanya begitu menyenangkan dan tanpa beban. Ingin ia tekan tombol replay – jika memang ada – dan membiarkan masa itu mengalir dalam benak. Berharap kalau dirinya yang sekarang bisa menghidupkan kembali rasa hangat pada kulit saat dua pasang tangan melingkar di tubuh mungilnya. Ingin ia hidup kembali dalam setiap potongan memori dan membekukan tiap adegan dalam aliran darah, walaupun itu berarti ia harus menyerahkan sisa hidupnya pada lekang waktu.

Hentikan, Shim Changmin. Tidak ada gunanya memkikirkan orang itu.

Changmin mengehela nafas. Bertemu dengan Kyuhyun memang pilihan yang buruk, karena pemuda itu membuatnya mengingat hal yang telah ia kubur sejak lama. Sudah cukup ia berangan-angan seperti orang sinting tiga bulan belakangan ini. Upacara kelulusannya hanya menghitung bulan. Ini adalah tahun terakhir sebelum ia tenggelam dalam rumitnya dunia universitas. Setidaknya Changmin harus melakukannya dengan sunguh-sungguh. Jika bukan untuk dirinya, untuk orang itu.

"Lihatlah aku, eomma." kata pemuda itu sambil membereskan kekacauan yang ia buat tadi. Diangkatnya kotak beludru itu dengan pelan, lalu diletakkannya dalam laci nakas. Changmin terdiam di sana cukup lama, sebelum baris bibirnya membuka;

"Aku pasti akan membuatmu bangga. Tetap awasi aku dari surga, arra? Aku pergi!"

Pintu menutup dan sosok Changmin menghilang ditelan kejauhan.


.

.

.

.

.

Lima menit dan bel masuk akan berbunyi.

Kyuhyun menggerakkan kakinya gelisah. Ini adalah langkah kedua dari bucketlistnya. Pemuda itu sudah mempersiapkan diri selama tiga bulan penuh untuk mengejar materi yang ia abaikan selama ini. Jujur saja ia sangat bersyukur karena dikaruniai otak yang cerdas, dan ditambah lagi mata pemberian Jungsoo benar-benar mempermudah dirinya untuk menelan materi lebih cepat. Tapi apakah itu cukup? Apakah itu cukup untuk menjamin kehidupannya di tempat asing ini?

(Bagimana jika mereka tidak menerimanya? Bagaimana jika mereka membencinya? Bagaimana jika ia tidak bisa berbaur di antara mereka? Bagaimana jika—)

Memang benar Kyuhyun sudah memikirkan hal ini hingga ratusan – bahkan ribuan – kali, tapi tetap saja rasa cemas menghantui benaknya. Membuatnya ingin melarikan diri.

"Ani!" Kyuhuyun menggeleng cepat. "Berhenti memikirkan hal bodoh!"

Pemuda itu lantas memilih untuk berkutat dengan dasi biru dengan garis-garis putih yang melingkar di kerah bajunya. Setelah itu ia beralih pada seragam yang ia kenakan, sibuk meluruskan kusut yang sebenarnya tidak ada di sana.

"Lee Hyunsoo-ssi?"

Kyuhyun terlonjak ketika sebuah tangan menepuk pundaknya pelan. "N-Ne?"

"Pengurusan surat-surat sudah selesai, kau bisa masuk sekarang!" kata pria dengan kacamata kotak itu riang. "Mari saya antar."

Ia mengganguk, mencoba menyembunyikan keterkejutan dengan sebaris senyum. "N-Ne seonsaeng-nim."

Tuhan tolong lindungi aku.


.

.

.

.

.

Ketika pintu terbuka, hal yang pertama kali Kyuhyun lihat adalah sekumpulan orang-orang asing yang sedang menatapnya penasaran.

Ada sekitar tigapuluh kursi di sana, empat tidak berpenghuni, masing-masing lengkap dengan pijakan kaki dan gantungan tas sendiri. Di belakang, ia bisa melihat loker-loker berjejer di sepanjang dinding dengan nomor yang tersemat pada tiap ujungnya. Nuansa ruangan terkesan lembut dengan cat coklat muda dan aksen lantai granit serta pernak-pernik tumbuhan di beberapa titik. Kyuhyun sudah mengira-ngira dari gambar yang ia dapatkan dari internet, tapi tetap saja pengalaman melihat secara langsung akan berbeda dari sekedar melihat pada layar handphone.

"Hari ini kalian mendapatkan teman baru." ucap Yesung riang sambil menepuk punggung Kyuhyun, memberinya kode untuk menghadap kelas. "Bisa kau perkenalkan dirimu?"

Kyuhyun meneguk ludah, jarinya bertautan dalam gugup. "N-Ne. Annyeong, L-Lee Hyun—"

BLAM

Pintu kayu disampingnya tiba-tiba terbanting keras hingga mengeluarkan bunyi melengking. Dari luar muncul seorang pemuda dengan seragam acak-acakan. Ia melangkah masuk dengan terengah-engah seperti habis lari marathon. "Maaf aku terlam—!"

Pemuda itu berhenti di tengah-tengah kalimat, dan Kyuhyun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika mata mereka bertemu pandang.

Tidak... ini tidak mungkin! Bagaimana bisa orang itu ada di sini?!

"K-Kau?!" mata pemuda itu membeladak lebar. "Bagaimana kau bisa ada di sini?!"

"….Shim Changmin." bisiknya dengan suara bergetar. "Kau…"

"Ah? Kalian sudah saling mengenal rupanya." Yesung yang semula memandang mereka heran berbalik menampilkan senyum 100 wattnya. "Kabar baik! Sepertinya Changmin bisa menemanimu berkeliling, Hyunsoo-ssi!"

"M-MWO?!" protes melayang dari masing-masing bibir pemuda. "Seonsaeng-nim!"

"Huh?" Yesung memiringkan kepala, "Apa ada yang salah?"

"Saya tidak sudi ditemani dengan orang sepertinya!" jawab Kyuhyun ketus. "Dia terlalu berisik!"

"YA! Siapa juga yang mau menemanimu!" balas Changmin tidak terima. "Lebih baik aku berbicara dengan dinding daripada denganmu! Dan sejak kapan namamu beru—mpffftknmh!"

"Tutup mulutmu, Shim Changmin." desis Kyuhyun sambil mengeratkan bekapanya. Changmin balas menatapnya tajam, mulutnya tidak berhenti bergerak. Bekapannya makin erat, dan saat itulah Changmin menyerah dan mengangguk; mengiyakan ancaman Kyuhyun.

"Gah!" pemuda itu menghirup nafas dalam-dalam sedetik setelah tangan Kyuhyun lepas dari mulutnya. "Dasar alien gila!"

"Ah, ternyata kalian sudah akrab." Yesung bertepuk tangan, matanya berbinar-binar senang. Pria yang masih berstatus sebagai guru pengganti itu sama sekali tidak memedulikan tatapan horror yang diarahkan padanya. "Baguslah kalau begitu!"

"Siapa yang akrab dengannya?!"

"Aku sama sekali tidak mengenal alien itu!"

"Ya! Siapa yang kau panggil alien?!"

"Kau! Ada masalah?!"

"Ya dasar bocah—"

Dan hari mereka berlangsung begini; saling beteriak dan mengatai satu sama lain hingga suara habis sementara si guru polos menggangap mereka tak lebih dari dua sahabat karib yang sedang bertengkar.


.

.

.

.

.

"Aku akan menuntutmu suatu hari nanti." gerutu Changmin sambil menekan-nekan pel di tangannya kuat. Berharap noda di bawah kakinya bisa segera menghilang seperti sihir. "Ini adalah pertama kalinya aku dihukum semenjak aku bersekolah di sini!"

"Coba saja, Shim." kata Kyuhyun angkuh, sebuah senyum mengejek tertera pada bibir pucatnya. Walaupun senyumnya tampak mengerikan, dengan kain pel dan handuk putih di leher, Kyuhyun terlihat menggelikan sama seperti Changmin. "Kau terlalu cepat seratus tahun untuk mengancamku."

"Kau terlalu cepat seratus tahun untuk mengancamku." ulang Changmin dengan suara yang dibuat semirip mungkin dengan Kyuhyun. Pemuda itu kembali menekan kain pelnya kuat ke lantai sambil menggerutu. "Dasar alien."

"Diam bocah!" bentak Kyuhyun gerah. "Kupingku gatal mendengar suaramu yang seperti ulat bulu itu!"

"Ya! Suaraku ini bagus! Aku ini ace-nya klub musik, asal kau tahu!"

"Mereka pasti kekurangan orang makanya memilihmu!"

"YA! Berhenti menghinaku!"

"Kau juga berhenti memanggilku alien!"

Hening tercipta. Mereka terdiam selama beberapa detik dengan nafas putus-putus sambil bertukar pandangan membunuh.

"Ya, siapa guru menyeramkan tadi?" tanya Kyuhyun ketus. Itupun tidak berhasil menututpi rasa penasaran pemuda itu atas sosok yang telah menghukum mereka untuk mengepel koridor sekolah yang ukurannya luar biasa ini.

"Itu Jung seonsaeng-nim." jawab Changmin serak. Sepertinya semua teriakan dan umpatan sudah memacung pita suaranya. "Guru mata pelajaran matematika, benar-benar menyeramkan. Aku benar-benar lupa kalau jadwalnya masuk tepat sehabis Kim seonsaeng-nim!"

Kyuhyun bergidik ketika melihat mata Changmin yang biasanya menantang kini redup akan ketakutan yang mendalam. "Aku suka matematika, tapi sepertinya aku tidak menyukai orang itu."

"Hmph. Memang tampangnya saja yang bagus."

Mereka terdiam lagi, saling memandang dalam sunyi. Changmin menghentikan usaha sia-sianya dan memilih untuk menatap Kyuhyun dari kepala hingga mata kaki cukup lama.

"Kau… tampak lebih baik dari terakhir kali kita bertemu." gumam Changmin tiba-tiba. "Apa kau sudah baik-baik saja sekarang?"

Kyuhyun terdiam sejenak. Dengan apa ia harus menjawab pertanyaan itu?

Ia bisa saja menyapu semua kosa kata yang ada di benak dan menumpuk mereka dalam suatu kalimat. Bait seperti [aku baik-baik saja] dan [tidak perlu khawathir] sudah terlalu sering ia ucapkan sampai-sampai terasa memuakkan. Dan kata-kata seperti [ini sakit sekali] juga tidak jauh berbeda. Luka di hati tidak akan pernah tunduk pada Bahasa kecuali terhadap mereka yang sudah merasakan hal yang serupa. Karena itu ia memilih untuk melemparkan senyum padanya, mencoba untuk tidak terlihat lebih menyedihkan dari dirinya sekarang.

"Tentu saja aku baik." kata Kyuhyun. Senyumnya melebar; nampak tulus di luar namun palsu di dalam. "Pertanyaan yang aneh, sama sepertimu."

Tidak ada jawaban, Changmin menatap Kyuhyun lekat seakan-akan dia bisa melihat isi hati Kyuhyun.

"Senyum itu," mulainya pelan, sinar matanya kembali meredup. Pemuda itu menggigit bibir bawahnya kuat. "Jangan pernah tunjukkan senyum palsu itu lagi di hadapanku. Aku sangat membencinya."

Kyuhyun mengedip. Senyumnya mulai terasa menyakitkan tapi ia harus tetap mengenakannya agar pedih di hatinya tidak terlihat. "H-Huh?"

"Senyum milikmu mengingatkanku pada seseorang." katanya dengan suara tercekat. "Orang yang sudah lama tidak kutemui."

"…keluargamu?"

Jeda membentang lagi, kali ini diikuti dengan atmosfir yang berat seakan-akan mereka sedang memikul dunia dengan seluruh keburukannya. Namun saat Changmin tersenyum padanya – senyum yang tenang, tanpa makna, dan hampir terasa jauh – Kyuhyun refleks memalingkan muka.

"Keluarga, huh?" lirih Changmin. "Mungkin bisa dikatakan seperti itu."

Sesuatu dalam dada Kyuhyun berdenyut sakit saat ia kembali menangkap senyum pahit yang tergores di wajah pemuda itu. Kenapa kau berwajah seperti itu?

"O-Oi," Kyuhyun meneguk ludahnya kasar. "Sebenarnya apa maksudmu?"

"Entahlah." Changmin mendengus kecil, senyumnya kini pudar dari wajah. "Aku juga tidak tahu harus memanggilnya apa."


.

.

.

.

.

Pria itu merapat ke dinding kaca sambil menyesap segelas vodka dingin. Titik-titik air mengembun pada permukaan gelas, meluncur jatuh hingga memercik di lantai. Dari bilik ruang kerjanya yang luas, ia bisa memantau pemandangan kota New York yang kini sarat dengan jingga; mungkin bias dari matahari yang kini mulai tenggelam di ufuk barat. Mobil-mobil berderet di jalan. Jutaan pejalan kaki membaur antara satu dan yang lain. Suasana yang cukup familiar, mengingat sudah lebih dari sepuluh tahun ia habiskan di kota big apple itu setelah sebelumnya menetap di Korea.

Ketukan di pintu membuyarkan benak pria itu.

"Sir, may I come in?" sebuah suara menggema dari luar.

Pria itu membenahi pakaiannya sebelum ia menyahut, "Yes you may."

Seorang pemuda dengan setelan jas rapi masuk dengan langakah ringan. Setelah hanya berjarak beberapa meter, ia membungkuk sopan. "Sir, I have obtained the information you asked." katanya sambil menyodorkan sebuah amplop coklat.

Bukannya menggambil amplop tersebut, pria baya itu hanya tersenyum. "Is he well?"

"Yes sir."

"Eating well?"

"Yes sir."

"…is he happy?"

"I…." pemuda itu mengedip, raut wajahnya yang semula dingin berubah keruh. Namun ia langsung memantapkan pandangannya lagi, suaranya keluar dengan lantang. "I don't think he is, sir."

"Is that so?" senyum di wajah pria itu sedikit memudar. Sekelebat emosi melintas dalam matanya sebelum ia menggeleng. "Ah, even though I expected it, I can't help but a tad disappointed."

"I'm sorry, sir." Pemuda itu membungkuk makin dalam. "I'll make sure to—"

"Oh please, stop with the formalities, Kibum-ah." pria itu mengibaskan tangannya. "You know how much I hate it. Do speak casually with me, will you?"

Kibum mendengus. "I don't think I can do that, sir." katanya datar. "Unfortunately we're still in the office so it would be in my best interest to speak formally to my boss, sir."

"Yah, Kibum-ah! Sejak kapan kau jadi menyebalkan seperti ini?!" Pria itu lantas memakai taktik lain sambil menggelengkan kepala tidak habis pikir. "Benar-benar…"

Kibum lantas mendongak, katupan bibirnya membuka tipis. "Saya hanya menjalankan kewajiban, sajangnim." katanya masih dengan ekspresi datar yang sama.

"Aish, kewajiban apa!" Pria itu melotot. "Kau itu sudah kuanggap seperti anakku sendiri, Kibum-ah. Tidak perlu bersikap formal denganku, arra?"

"Baiklah, presdir Yoo." Kibum menghela nafas. "Apa ada hal yang yang kau inginkan? Jika tidak segera katakan. Aku sibuk."

"Ya. Kibum-ah." Heeyeol mendelik. "Saat aku berkata tidak perlu bersikap sopan bukan ini yang kumaksud."

"Kau harus mengatakannya dengan jelas, presdir Yoo." kata Kibum. Bibirnya terangkat membentuk seringai. "Jadi? Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?"

"Tetap lakukan tugasmu seperti yang sudah kuperintahkan." balasnya ringan, raut wajahnya berubah seketika. "Besok kau akan berangkat ke Korea, benar?"

"Pada pernerbangan pertama." angguk Kibum. "Kau tidak perlu khawathir. Aku sudah memastikan semuanya berjalan lancar."

"Baguslah, Kibum-ah." katanya sambil tersenyum. "Terimakasih atas kerja kerasmu."


.

.

.

.

.

"D-Dasar aneh." Kyuhyun pura-pura mendengus. Dirampasnya botol minum di tangan Changmin lalu meneguk isinya tanpa izin. Tidak ia pedulikan tatapan membunuh yang ditunjukkan padanya sama sekali. Hatinya terlalu kacau untuk menganggapi rutukan kemarahan dari bibir pemuda itu. "Bagaimana bisa begitu. Kalau kerluarga, katakan keluarga! Jangan memakai kalimat ambigu dan membuat orang salah paham."

"Itu kenyataan." balas Changmin ketus. "Ya! Jangan kau habiskan!"

"Terserahku." Kyuhyun mencebik. "Aku haus!"

"Kau tidak akan mengerti sebelum kau merasakannya!" kata Changmin menggurui sebelum mulutnya membuka dalam protes. "Sekarang kembalikan! Aku juga masih haus!"

"Merasakan apa?" Kyuhyun memiringkan kepala.

Changmin menghentikan percobaan merampasnya, matanya yang semula bersinar kini redup. Ada yang membayang di sana; emosi yang familiar dan asing pada waktu yang sama. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Kyuhyun tidak bisa memikirkan satu kata pun untuk menggambarkan jenis kesepian yang ada di mata Changmin. Rasanya begitu berbeda dari kesepian yang ia miliki.

(Ini adalah jenis kesepian yang memerlukan bahasa yang sama sekali berbeda. Kyuhyun tidak tahu harus memanggilnya dengan apa.)

"Rasa hangat saat dipeluk orang yang dekat denganmu tapi tidak di saat yang sama?" Changmin mengatakan hal itu seperti angan-angan. Pemuda itu terdiam beberapa detik, lalu menyeritkan dahi lucu. "Walaupun dia ada di sampingmu, dia terasa jauh sekali. Seperti berada di balik layar yang berbeda dari duniamu. Apa kau tahu perasaan itu?"

Kyuhyun terpekur, tegukannya pada air putih yang kini tinggal sepertiga tiba-tiba berhenti. Jika dipikir-pikir, Kyuhyun juga punya seseorang seperti itu dulu. Seseorang yang sudah dianggapnya keluarga, namun tidak demikian. Ia tahu kalau orang itu hanya suruhan keluarganya. Tapi entah mengapa rasa hangat yang dulu ia rasakan terlalu nyata untuk dikatakan palsu.

Suster Lee… bagaimana kabarmu sekarang?

"Aku juga punya orang seperti itu." ujarnya pelan. Kyuhyun tidak tahu mengapa ia membeberkan masa lalunya dengan mudah pada seseorang yang baru ditemui. Tapi saat dihadapkan dengan Changmin mulut Kyuhyun refleks membuka begitu saja. "Tidak tahu harus memanggil apa. Tapi rasanya begitu dekat."

"Begitukah?" Changmin memandangnya dengan sesuatu yang tidak bisa ia baca. Sesuatu yang kabur; tidak memiliki arti yang jelas. "Kenapa tidak kau tanyakan saja langsung?"

Kyuhyun mengatupkan mulutnya rapat. Ia bukanlah tipe yang mudah mengekspresikan diri dan cenderung menyimpan perasaannya dalam sudut hati. Memang ada saat-saat di mana perasaan itu sudah terkumpul terlalu banyak hingga meluap keluar. Tapi sekarang, saat kata-kata terus mengumpul di balik bibirnya, menunggu untuk dikeluarkan, Kyuhyun masih tidak bisa menemukan cara yang tepat.

"Ya! Berhenti melamun!"

Kyuhyun memelototinya tajam. "Kau hampir membuat jantungku copot!"

"Terserahku." ejek Changmin sambil meniru gaya bicara Kyuhyun, lagi. "Kenapa tidak kau tanyakan langsung? Itu jauh lebih mudah daripada harus mengira-ngira seperti ini."

Kyuhyun terdiam.

Menanyakannya langsung?

"Aku rasa mustahil." jawabnya dengan sebuah gelengan. "Sudah tujuh tahun kami tidak pernah bertemu. Aku yakin dia sudah melupakanku sekarang."


.

.

.

.

.

Heeyeol menyesap greentea yang masih mengepul hangat, jari runcingnya meringkuk anggun di sekitar telinga cangkir. Kibum menyaksikan pria baya itu menghabiskan tehnya tanpa menyentuh miliknya sendiri; segelas penuh earl grey, ia tebak. Heeyeol tidak pernah menyukai rasa earl grey. Pria baya itu pernah mencoba untuk meminumnya sekali, mungkin sudah bertahun-tahun lalu, tetapi sekarang untuk menyentuhnya saja ia tidak sudi. Rasa teh yang semula manis kini hambar; hanya tersisa jejak pahit pada lidahnya yang selalu membuatnya mual.

"Apa kau benar-benar tidak akan mengunjungi makam Park Jungsoo, presdir Yoo?" tanya Kibum sambil memutar-mutar sendok tehnya. "Ini sudah hampir dua minggu sejak pemakamanya."

Heeyeol meletakkan gelasnya kembali pada tatakan di meja. "Aku ingin, Kibum-ah. Tentu saja aku ingin." ucapnya setelah beberapa lama terdiam. "Tapi kau tahu kalau aku sudah berjanji padanya untuk tidak menginjakkan kaki di Korea seumur hidupku."

"Tapi dia sudah meninggal." kata Kibum datar. Genggamannya terlepas; sendok teh miliknya tenggelam hingga menyentuh dasar cangkir. "Tidak ada alasan bagimu untuk memegang janji sepihak itu. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau sekarang."

"Hush. Berhenti berkata begitu." tegur Heeyeol. Pria itu menatap Kibum seperti dia sudah melakukan kesalahan besar. "Kau terdengar mengerikan, Kibum-ah."

"Aku hanya mengatakan fakta." Mendengar kalimat peringatan itu hanya membuat Kibum mengedikkan bahu. "Lagipula, perjanjian itu sudah tidak valid semenjak ia menolak untuk membagi informasi tentang Kyuhyun."

Heeyeol mendadak terdiam, pandangannya berubah sendu. Bau greentea yang kini tinggal setegah kembali mengusik indra penciumannya. Entah mengapa rasa manis di lidahnya kini berubah menjadi pahit. "Itu sepenuhnya salahku, Kibum-ah."

"Sajangnim?"

"Sepenuhnya salahku."


.

.

.

.

.

10 tahun lalu
Seoul, Musim Dingin

xxx

"Ini akan jadi permintaan pertama dan terakhir dariku." Jungsoo menatap nanar ke depan. "Tolong gantikan aku menjaga Kyuhyun."

"A-Apa maksudmu Jungsoo-ah?" tanyanya dengan terbata. "Kenapa kau—"

"Jangan salah paham." katanya singkat. "Perjanjian kita masih berlaku. Jangan pernah sekali-kali berani menampakkan diri di hadapan Kyuhyun. Jika bisa jangan pernah menapakkan kaki di Korea seumur hidupmu. Carikan orang lain. Aku percaya seorang presdir sepertimu bisa dengan mudah mendapatkan seseorang untuk menjaga Kyuhyun."

"Jungsoo-ah…"

"Pastikan dia orang yang benar-benar baik." Jungsoo menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa ia baca. Namun Heeyeol bisa melihat permohonan terselip di antara iris matanya. "Lembut, pengertian, pintar—carikan seseorang yang bisa membuatnya nyaman. Seseorang yang bisa berbagi keluh kesah dengannya. Pastikan Kyuhyun bahagia. Jika dia terluka sedikitpun, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu."

Jeda membentang. Mereka berdua terus berpandangan sampai Jungsoo akhirnya memutuskan untuk memecah keheningan.

"Mulai besok aku tidak akan berada di Korea lagi." kata pemuda itu setengah berbisik. Sesuatu melintas dalam matanya; sesuatu yang seakan menjerit [tolong hentikan aku] tapi entah mengapa Heeyeol tidak bisa menggerakkan tubuhnya barang sedikitpun. "Mungkin untuk lima tahun kedepan, aku tidak bisa mengecek keadaan Kyuhyun."

"Kenapa?" ia memaksa berbicara, walau suaranya hampir tidak terdengar. "Kenapa tiba-tiba begini?"

Emosi yang ia lihat tadi makin jelas; makin membuat Heeyeol ingin menghentikannya; membuatnya tinggal. Namun sepersekian detik kemudian, emosi itu menghilang. Digantikan dengan tatapan dingin yang biasa ia terima selama beberapa tahun terakhir.

"Aku hanya ingin menepati janjiku padanya." jawab Jungsoo setelah terdiam beberapa detik. "Aku akan kembali secepatnya. Kyuhyun pasti bisa menungguku."

"Menepati janji? Apa sebenarnya maksudmu Park Jungsoo?" Heeyeol menatapnya lekat; mencoba menerka isi hati pemuda itu. "Apa yang kau katakan adalah sebuah kebenaran?"

Jungsoo berjengit. "Kau tidak punya hak untuk mempertanyakan tujuanku! Ingat kalau ini semua adalah akibat perbuatanmu, Cho Heeyeol. Jika bukan karena kau, keluargaku tidak akan jadi begini. Jika bukan kau, Kyuhyun tidak akan tersiksa sampai seperti ini!"

Atas tuduhan telak itu, Heeyeol bungkam. Memang betul semua ini adalah salahnya; rantai kepedihan ini dimulai dari perbuatan bodohnya di masa lalu. Tapi walaupun begitu, hatinya tetap saja terasa sakit saat diingatkan atas kesalahan yang seharusnya tidak ia lakukan. Terlebih oleh orang yang masih memiliki hubungan darah dengannya.

Apa aku bukan lagi keluargamu, Jungsoo-ah?

"Kau pikir dengan membayar biaya perawatan Kyuhyun semua kesalahanmu akan terhapuskan? Kau pikir dengan membiayai hidup kami bisa membuatku memaafkanmu?" dengus Jungsoo kasar, bibirnya membentuk sebaris senyum mengejek. "Maaf saja, presdir Cho. Urat kesabaranku tidak cukup untuk itu."

Sakit di dalam dadanya kian menjadi. "Jungsoo-ah… kau tahu aku tidak pernah bermaksud—"

"Tidak perlu mengatakannya lagi." potongnya buru-buru. "Yah, setidaknya kau mengambil tanggung jawab atas Kyuhyun. Aku rasa hal itu patut disyukuri."

"Jungsoo—"

"Baiklah kalau begitu, sajangnim." Jungsoo membungkuk hormat. "Aku rasa hanya ini. Aku permisi."


.

.

.

.

.

5 tahun lalu
Seoul, Musim Gugur

xxx

"Kau sudah berjanji padaku!" teriak Jungsoo berang. Tangannya mengepal erat dalam tinju; giginya yang bergemertak mengelurkan bunyi berisik. "Apa yang sebenarnya kau pikirkan hah? Kenapa semuanya jadi begini?!"

"Jungsoo tolong dengarkan penjelasan—"

"Penjelasan apa?!" potongnya penuh amarah. Pemuda itu lantas membanting tangannya ke meja kayu di hadapannya. Kuat sekali hingga menimbulkan retak. "Kau sudah berjanji untuk menjaganya saat aku tidak bisa! Tapi kenapa jadi begini?!"

Heeyeol meringis. "Jungsoo-ah jebal—"

"Apa kau buta? Apa kau tidak melihat bagaimana Kyuhyun sekarang?!" kata Jungsoo lirih, genggamannya sedikit melemah. "Aku bahkan tidak bisa mengenalinya lagi! Di mana dongsaengku yang selalu tersenyum? Di mana dongsaengku yang kuat?"

"Jungsoo-ah tolong mengeritlah…"

"Apa kau bilang? Mengertilah?" Jungsoo menahan umpatan yang memaksa keluar hingga nafasnya terdengar putus-putus. "Kenapa kau tidak memanggilku kembali?! Jika tahu begini aku—"

"Aku sudah mencoba!" kini giliran Heeyeol yang membentak Jungsoo kasar. "Tapi apa yang kau lakukan? Kau bahkan tidak menghiraukan satupun panggilanku! Di mana kau selama ini saat Kyuhyun menderita? Di mana kau saat ia sedang terpuruk?!"

"A-Aku—" Jungsoo memucat. "A-Aku tidak—"

"Kaulah yang membuatnya begini!" bentak Heeyeol keras. "Apa kau tahu betapa terlukanya dia saat kau pergi tanpa kabar? Apa kau tahu betapa susahnya membuka kunci hatinya setelah satu-satunya orang yang ia percaya pergi meninggalkanya? Apa kau tahu perasaanku melihatnya menangis tanpa bisa melakukan apapun? Apa kau tahu perasaanku Park Jungsoo?!"

Pemuda itu menggeleng, air mata mulai menggenangi kelopak matanya. "S-Samchon…"

"Aku sakit, Jungsoo!" katanya serak. "Aku sakit melihatnya begitu. Tapi apa yang bisa aku lakukan selain mengawasinya dari jauh? Apa yang bisa aku lakukan?!"


.

.

.

.

.

Ia membuka matanya lagi, berharap kalau potret dunia nyata bisa segera menghapus wajah bersalah Jungsoo dari benaknya. Tapi sepertinya wajah itu sudah dibekukan dalam darah; sudah dijahit dalam tiap jengkal otaknya; sangat sulit untuk dilupakan begitu saja.

"Aku sudah melanggar janjiku padanya." lirih Heeyeol lemah. "Walaupun kematian Suster Lee adalah sebuah kecelakaan, tetap saja aku sudah membuat Kyuhyun terluka. Setelah dibuang oleh keluarganya, setelah ditinggalkan Jungsoo, anak itu bahkan harus kehilangan sosok ibu dalam hidupnya. Aku sudah membuatnya menderita."

Heeyeol tersenyum miris. Sekarang ia paham arti pesan dari mendiang ayahnya dulu. Pada satu titik atau yang lain, semua orangtua akhirnya akan merusak anak-anak mereka. Ini adalah hal yang tidak dapat dibantah. Anak-anak ibarat kaca murni yang selalu mengikuti cetakan penangannya. Beberapa orangtua menorehkan noda, beberapa membuat retak kecil sana-sini, dan beberapa bahkan sanggup menghancurkannya tanpa ragu. Menggilasnya hingga menjadi potongan-potongan kecil yang mustahil untuk diperbaiki lagi.

(Lucunya, apa yang ia lakukan jauh lebih menyeramkan daripada itu.)

"Karena perkataanku, Jungsoo bahkan tidak sanggup untuk melihat wajah dongsaengnya tepat di mata dan akhirnya mereka harus menghabiskan sepuluh tahun terpisah dari satu sama lain." Heeyeol berkata seperti tercekik. "Karena kebodohanku, Hanna harus mendekam di rumah sakit dan Heechul—anak itu harus menderita tiap kali ibu yang telah melahirkannya tidak mengenalinya lagi. Dan Changmin—" ia menggeleng lemah. "—karena kesalahanku di masa lalu, Changmin harus menerima kenyataan kalau appa yang selama ini ia banggakan tak lebih dari seorang pecundang."

Heeyeol tertawa kecil; sebuah tawa yang kosong dan tidak bermakna.

"Dan karena harga diriku," lirihnya dengan suara parau. "—karena diriku yang egois ini, kakak yang aku hormati terluka begitu dalam hingga merubahnya menjadi monster."

(Kibum tidak bersuara.)

"Karena itu jangan salahkan Jungsoo." katanya sambil tersenyum pedih. "Jika ada yang harus disalahkan, itu adalah aku. Padahal aku adalah pamannya, tapi lihatlah. Yang bisa kulakukan hanya menatap mereka dari balik layar. Menyaksikan bagaimana mereka melukai diri mereka dan tenggelam dalam penderitaan masing-masing."

(Masih tidak bersuara.)

"Dan sekarang—sekarang keponakanku sudah mendekam enam kaki di bawah tanah sementara maaf darinya pun tidak aku punya." Heeyeol kembali tertawa miris. "Ah, aku benar-benar terlihat menyedihkan."

(Hening, lalu—)

"Kau sama sekali tidak terlihat menyedihkan, ahjussi." kata Kibum. "Bagiku kau terlihat keren. Selalu."

Heeyeol menatap Kibum sejenak, pandangannya melembut. "Gomawo, Kibum-ah. Aku rasa aku membutuhkan itu."

Mereka terdiam, menikmati sunyi yang berkepanjangan. Tidak lama setelah itu, Kibum membungkukkan tubuh dalam, memberikan penghormatan kepada orang yang sangat berjasa di hidupnya itu. "Mulai besok saya tidak akan ada di sini, sajangnim." katanya dengan pelan, namun ada sedikit getaran di antara kalimatnya yang kaku dan datar itu. "Saya harap Anda ingat pesan saya."

Heeyeol menaikkan alisnya pada perubahan yang tiba-tiba ini, namun akhirnya ia tertawa juga. "Ne, aku percaya kau bisa melakukannya dengan baik." katanya lembut. "Jaga mereka untukku, Kibum-ah. Aku bergantung padamu."


.

.

.

.

.

"Oi."

"Hm."

"Oiii~"

"Hm."

"Oi, alien."

Perempatan terbentuk di dahi Kyuhyun.

"YA BERISIK!" geramnya marah. "Berhenti memanggilku alien!"

"Aku sebenarnya ingin menanyakan ini sejak awal, tapi selalu lupa. Aku menyalahkanmu dan tingkah alienmu yang membuatku jadi tidak fokus." tutur Changmin sambil menepuk bahu Kyuhyun ringan. Pemuda itu sama sekali tidak menghiraukan tatapan tidak bersahabat yang diarahkan padanya. "Jadi, kenapa kau tiba-tiba bersekolah di sini? Bahkan sampai berganti identitas? Kau pikir kau itu apa? Agen rahasia?"

"Ya! Mana aku tahu!" bentak Kyuhyun. "Donghae-hyung yang membuatku terdampar di sini! Jika aku tahu kalau aku akan bertemu dan sialnya lagi sekelas denganmu, apa kau pikir aku akan bersekolah di sini?!"

"Donghae-hyung?" Changmin memiringkan kepala. "Apa itu namja cantik yang tadi aku lihat di kantor kepala sekolah?"

Kyuhyun mengedip. "Donghae-hyung? Cantik? Apa kau tidak salah lihat? Walaupun ia kurang zat besi dan sedikit bodoh, ikan itu tampan!"

"Tapi orang itu benar-benar cantik! Jika aku tidak mendengar suaranya, aku pasti tidak tahu kalau dia namja." ucap Changmin sambil bergidik ngeri. "Lagipula hanya kau satu-satunya anak pindahan hari ini, jadi siapa lagi dia kalau bukan walimu?"

"Sudah kukatakan hyungku tidak cantik!" kata Kyuhyun ketus. "Kau pasti salah orang."

"Benarkah?" Changmin memiringkan kepalanya. "Tapi kenapa dia sekarang menuju kemari?"

Bibir Kyuhyun terkatup rapat. Entah mengapa rasanya tubuhnya tidak digerakkan. Perasaannya benar-benar tidak enak. "M-Menuju kemari, kau bilang?"

"Hm, dia sedang berjalan ke sini. Mungkin beberapa langkah lagi sampai." Changmin mengerutkan alis saat matanya menangkap peluh yang mulai mengumpul di pelipis Kyuhyun. "Ya! Kenapa wajahmu jadi pucat begini?!"

"A-Ani." Kyuhyun menggeleng. "A-Aku melupakan sesuatu, a-aku pergi!"

Namun sebelum ia dapat beranjak dari tempatnya berdiri sebuah suara menghentikannya telak.

"Cho Kyuhyun, tetap ditempatmu."

Kyuhyun membeku.

Heechul-hyung….


.

.

.

.

.

Dan di sinilah mereka berdiri; di ketinggian yang begitu menyesakkan.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke bawah, pada bentang aspal dan baris sepeda yang disusun rapi memanjang. Lalu lebih jauh; pada jalanan kota Seoul yang penuh dengan pejalan kaki dan kendaraan bermotor. Pemuda itu berjalan mendekat, namun tetap menjaga jarak di antara mereka. Kotoran dan kerikil beringsut di bawah sepatunya saat ia melangkah. Ada suara bising dari lalu lintas di sebrang yang sedikit teredam oleh ketinggian dan jarak, lalu beberapa detik kemudian suara bel yang menandakan waktu istirahat telah berakhir menggema di seluruh penjuru gedung.

"Hyung." Kyuhyun memulai dengan tercekat. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Heechul tidak menjawab dan memilih untuk menatap pemuda itu lama, cengkramannya pada sebuah amplop coklat mengerat hingga buku tangannya memutih. Jujur saja Kyuhyun tidak tahu harus memakai ekspresi seperti apa saat menghadapi sosok yang sedang menatapnya dingin. Ia tidak tahu harus tersenyum atau menangis saat melihat kebencian yang tertera pada kedua manik sewarna musim gugur itu. Manik mata yang selalu mengingatkannya pada sosok yang kini sudah tidak lagi bersamanya.

"Heechul-hyung," panggil Kyuhyun lagi, kali ini lebih lemah dari sebelumnya. "Jawab aku."

Suara dengusan memenuhi relung telinga Kyuhyun. Ia mendongak untuk mendapati Heechul tersenyum sinis padanya. "Kau berani bertanya untuk apa aku datang kemari, bocah? Tidakkah kau punya rasa malu?"

Kyuhyun meringis. Perkataan Heechul langsung menusuk dalam. Ia membiarkan kata demi kata terkubur dalam tiap jengkal dari tubuhnya sebelum memalingkan muka. Jarinya menancap begitu dalam ke dalam kulit telapaknya yang mulai memerah.

"Aku sudah mengatakannya berulang kali, tapi kau dan sifat keras kepalamu itu tetap saja menolak untuk menerima kenyataan." katanya merendahkan. "Dengarkan aku baik-baik, Cho Kyuhyun. Kita bukanlah keluarga—dan selamanya tidak akan jadi keluarga. Jadi jangan pernah berusaha untuk berhubungan denganku lagi."

Hentikan.

"Entah dengan apa lagi aku harus menyakinkanmu." ucap Heechul sambil tertawa kecil. "Uang? Apa kau membutuhkan uang? Aku akan memberikanmu sebanyak yang kau inginkan jika memang itu tujuanmu, tapi jangan pernah ganggu hidupku lagi!"

Hentikan. Hentikan. Henti—

"Aku tidak habis pikir bagaimana bisa kau membuatku menjadi wali sahmu, tapi ini sudah keterlaluan!" teriaknya marah. Dibantingnya amplop coklat itu ke tanah hingga isinya berhamburan keluar diterbangkan angin. "Kau lihat ini? Aku tidak pernah setuju untuk menjadi walimu! Aku tidak pernah menandatangani apapun! Jadi kenapa aku terdaftar sebagai walimu huh?"

kan.

"Ya! Cho Kyuhyun jawab aku!"

"KARENA JUNGSOO-HYUNG SUDAH MENINGGAL!"

Tes

Butir pertama hujan jatuh begitu saja dari langit. Kyuhyun bahkan tidak menyadari mendung yang bersembunyi dari balik awan sedari tadi. Bunyi berisik mulai terdengar dari bawah di mana orang-orang sibuk menemukan tempat berlindung. Beberapa bahkan rela merapat ke bawah pohon untuk terhindar dari hujan tetapi kebanyakan hanya tidak peduli. Terus berjalan menyusuri lalu lintas kita Seoul yang padat. Tangan terkatup rapat. Tubuh meringkuk. Namun pandangan mantap ke depan; tanpa ragu sedikitpun.

Tes

Tawa putus asa merangkak naik dari dasar perutnya. Kyuhyun tidak habis pikir mengapa hujan selalu turun pada waktu yang tidak tepat dan membuatnya semakin tertekan.

Tes

Kenapa selalu hujan?

"Kau bertanya kenapa? Menggelikan…." kata Kyuhyun sambil tertawa kecil. "Karena Jungsoo-hyung sudah tidak ada lagi di dunia ini… karena kau adalah satu-satunya keluarga yang aku punya sekarang… karena kau adalah hyungku! Apa kau masih membutuhkan alasan lain? Huh?"

"Harus berapa kali aku katakan, aku bukanlah hyungmu!" raung Heechul naik pitam. "Aku bukan lagi bagian darimu ataupun Jungsoo, jadi jangan pernah menganggu hidupku lagi!"

Mereka terdiam cukup lama, tak satupun dari mereka merasa sanggup untuk memecah keheningan. Kyuhyun memeluk tubuhnya yang bergetar—getaran yang mungkin tidak disebabkan oleh hujan. Mungkin dari perasaannya yang kini tidak menentu. Mungkin juga dari perih yang mendera seluruh tubuhnya. Kyuhyun tidak tahu pasti. Tapi—

Kenapa rasanya sakit sekali?

"Kenapa…?" bisiknya lemah, berharap suaranya terdengar di antara rintik hujan yang kian memburu. "Kenapa kau begitu membenciku?"

Angin bertiup semilir, menghembus hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Kyuhyun mulai menggigil, bahunya bergetar hebat. Namun hal itu tidak lantas membuat pemuda itu beranjak dari tempatnya berdiri.

"Apa karena aku terlahir cacat? Karena aku bukan adik yang sempurna untukmu? Karena aku tidak bisa kau ajak bermain baseball saat musim panas ataupun berlarian di padang rumput dengan bebas? A-Atau karena kau malu memiliki adik yang buta sepertiku?" tanyanya bertubi-tubi. "Apa kau p-pikir aku minta dilahirkan seperti ini?! A-Apa kau pikir aku minta dilahirkan dalam keluarga sempurna kalian?! Huh? Jawab aku hyung!"

Ia menarik nafas dalam-dalam, menelan kembali isakan yang berusaha menembus deret giginya. Pemuda itu mengedip saat panas mulai membakar kelopak matanya. Perasaan yang ada di dalam dadanya; sesak yang sedang menderanya ini terasa begitu berbeda dari tahun-tahun lalu. Bahkan berbeda dari hari berhujan di mana Jungsoo pergi untuk selamanya.

"Kau tahu, h-hyung? Lebih dari s-sepuluh tahun aku tidak punya sosok yang bisa aku panggil keluarga. W-Walaupun kalian masih ada di dunia—walaupun kau masih ada di dunia, aku bahkan tidak bisa memanggilmu dengan bebas... Kata seperti a-appa dan eomma, kata seperti h-hyung—" suaranya tiba-tiba tercekat. "—sudah sangat lama sekali keluar dari mulutku."

Kyuhyun mengangkat kepalanya ke atas, matanya otomatis memejam saat rintik hujan jatuh dan mengecup kulitnya yang pucat. Setelah beberapa lama, katup matanya terbuka. Bahkan langit, pikirnya, tampak berbeda. Tidak ada goresan biru pada kanvas putih lagi. Sudah hilang; mengabur di balik nuansa kelabu yang sungguh ia benci.

"Bagiku, kata-kata itu seperti tersendat di tenggorokan, tidak bisa kukeluarkan dengan bebas." Kyuhyun tertawa parau. "K-Kadang aku iri pada mereka di luar sana yang bisa memanggil keluarga mereka lebih dari sepuluh kali dalam sehari, dan aku? Apa yang bisa kulakukan…?"

"Cho Kyuhyun…" wajah Heechul mengeruh. Namun ia sama sekali tidak menghentikan laju ucapan Kyuhyun yang terus datang seperti deret kereta api. Pemuda itu menunggu sampai napas Kyuhyun mulai stabil dan getaran pada tubuhnya berhenti. "Sebenarnya apa tujuanmu? Kenapa kau bersikeras melakukan ini semua?"

"Kau tidak perlu tahu." Ia memaksakan sebuah tawa miris. "Tapi tolong beritahu aku ini; apa yang harus aku lakukan untuk menerima maaf darimu? Apa yang harus aku lakukan agar kau sudi menggangapku sebagai adikmu?"

"Kau—"

"Apa dengan melemparkan tubuhku dari gedung ini akan membuatmu senang?" tanya Kyuhyun sambil membentangkan tanganya ke bawah, ke arah aspal yang berkilau tertimpa guyuran hujan. Pemuda itu tidak bisa menahan senyum pahit saat memikirkan bagaimana rasanya jika ia berakhir di sana dengan tubuh remuk dan darah yang menggenang. Tapi saat ini rasanya sakit sekali; lelah sekali. "Apa dengan menghilangnya aku dari dunia ini bisa membuatmu memaafkanku?"

"Y-Ya! Apa yang sebenarnya—" Heechul bergerak perlahan, namun Kyuhyun yang menyadari hal itu balas menatapnya tajam. Bulatan coklat kembar itu seolah-olah mengancam agar Heechul tidak bergerak mendekatinya.

"Jika memang itu yang kau inginkan, maka aku akan melakukannya." bisiknya lemah. "Aku akan melakukannya jika itu berarti kau akan mengakuiku sebagai adikmu. Walaupun hanya untuk yang pertama dan terakhir." di pemakamanku. Kyuhyun tidak tahu apa yang sudah merasukinya. Mengapa hati dan benaknya begitu kacau hingga ia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Tapi saat ini; detik ini; pemuda itu tidak bisa melawan gerakan kakinya yang terus membawanya mendekati pagar pembatas.

(Lebih dari itu, Kyuhyun tidak sanggup.)

"YA! HENTIKAN!" teriak Heechul saat setengah tubuh Kyuhyun sudah berada di luar pagar pembatas. Pemuda itu sama sekali tidak menghiraukan hantaman hujan yang kian deras lalu mulai berlari kencang. "Cho Kyuhyun jangan—!"

Namun ia terlambat, karena dua detik sebelum Heechul mencapai tangan kurus itu, kaki Kyuhyun sudah kehilangan pijakkannya. Hal yang terakhir Heechul lihat adalah bulatan karamel Kyuhyun yang memandangnya penuh ketakutan. Lalu—

"CHO KYUHYUN!"

—hening.

(Kau tahu? Bahkan di tengah-tengah itu semua, hujan masih tetap turun.)


.

.

.

Author's notes:

Eyy, I'm back~ Mianhae lama… (T^T). Aku ada sedikit masalah dengan fanfiction dan ujian mid yg menyita waktu… selain itu, kabar buruk… Aku masuk rumah sakit lagi hehehe jadi mian kalau lamaa~ Oh well, sesuai dengan keputusan dari reviews kemarin, ff ini akan diupdate sebulan sekali dengan words 7-10k+ kecuali kalau aku lagi punya waktu lebih dan selesainya lebih cepet (kayak gini, berhubung dapet surat izin dokter) hehe~ Gimana? Chapter ini lebih cerah kan dari chapter kemarin? Habis gelap terbitlah terang~ #peace. Yep, bucketlist Kyuhyun = permohonan Jungsoo. Udah ketebak pasti kan~

Karena udah biasa liat Kyu sama Changmin bff, di ff ini mereka musuhan dulu ya :) Gak pantes dibilang musuhan sih. Aku ingin membuat hubungan mereka serealistis mungkin. Untuk yg kangen sama Heekyu dan Kihyun, antisipasi chapter depan ya~

Dan karakter baru, ada Yesung, Kibum, dan Yoo Heeyeol! Well, karakter Yesung itu hasil eksekusi detik" terakhir tapi karakter Heeyeol dan Kibum udah ada di masterboard sejak chapter awal fufufu~ Bagi kalian yang kangen sama Kibum, nih udah dimunculin snow whitenya~ Aku memang simpen dia lama, tapi sekarang udah dikeluarin nih. Kalau untuk karakter Heeyeol, gak banyak ngomong, aku suka banget interaksinya sama Kyu. Maniss :D Aku harap karakternya di sini gak OOC hehe~ Dengan chapter ini, aku udah nebus setengah hutangku :) Bentar lagi semuanya terkuat kok, jadi tunggu aja~

Btw, aku selalu pengen nanya ini dari awal. Apa ada yg susah ngikutin ff ini? :v Aku nyadar pake banget kalau baca ff ini butuh tenaga ekstra buat mikir akibat bahasaku yang kadang acakadul/ambigu/tersirat/dsb. Belum lagi kalimat yg panjangnya minta ampun dan paragraf" yg… ah, gitu deh. Mohon pengertian dari kalian semua karena itu adalah style aku dari awal nulis di ffn. Aku termasuk tipe orang yg suka nulis adegan dengan sedetail mungkin, supaya pembaca juga bisa ngerasain apa yg terjadi di dalam cerita karena itu butuh waktu yg lama untuk bikin chapter yg 'matang'. Gak bisa dijelasin pake kata" sih, kalau udah terbiasa nulis gini yah mau diapain lagi (T^T). Semoga gak ada yg terbebani ya :)

Sedikit konfirmasi:
1. Marga asli Heeyeol (di ff ini tentunya) adalah Cho, dan dia adalah paman dari Jungsoo, yang berarti masih kakak adik dengan Younghwan. Sekarang menetap di New York City. Seorang pengusaha ternama.
2. Suster Lee adalah perawat Kyuhyun a.k.a 'orang suruhan keluargaku' yang disebut" di chapter 1 hehe. Aku juga singgung lagi tentang dia di chapter 1, dan udah kasih hints (abal") tentang identitasnya di chapter 3, cuman gak tau ada yg nyadar atau nggak hehe~ Setidaknya udah paham kan sekarang kenapa Kyuhyun menutup diri sampai segitunya? :D
Intinya, semua karakter di sini saling berhubungan antara satu sama lain. Jadi pinter" memahami hints yg udah aku tebar dimana" :)

Gomawo untuk readers yang sudah mereview! Aku benar-benar senang saat membaca pesan-pesan dari kalian semua! Selamat datang juga bagi para readers baru :) Semoga chapter ini memuaskan yaa~ Ini balasan untuk reviews chapter 9! Enjoy~


.

.

.

PeltingRain: Hahaha, ini tisu chingu~ Nah lo, kenapa kata meninggalnya pake kutip segala XD. Waaaa, aku terharuuu! Gomawo udah mikirin kesehatan aku unnie (bener kan?!) aku jadinya baper nih #hiks #Nangis. Semoga chapter ini bisa membayar rasa penasarannya yaa! Thanks for reading hehe ^^

HarinKyuKyu: Ahhh, mau gimana lagi plotnya udah gini dari awal… (TTATT). Jangan dong diidupin lagi, nanti dia jadi zombie hehe #abaikan #garing #hiks. Hahaha, udah kayak penyakit aja ff ini bisa bikin gejala" gitu~ Ini udah dilaksanakan yaa! Semoga sukaa~ Gomawo udah baca :)

Jihyerim: Hehe, emang aneh yaa? Aku suka sih sama plot twist kayak gini~ Masalah game yang bakal mereka mainin, tunggu chapter depan yaa~ Gomawo yaa udah baca ^^

Michhazz: Ahhh, gomawooo :) Sayangnya aku memang mudah banget sakit, jadi gini deh hiks (T^T). Hehe, soal permainan kayaknya udah jelas kan? Masalah Kyunie ganti nama juga rasanya udah aku bongkar di atas. Hohoho, masalah itu rahasia yaa~ Aku juga buat ff ini sambil dengerin lagu" Kyu kok~ Sumpah cocok pake banget! Waaahh, gomawooo udah ngertiin aku :) Thanks for reading yaa!

Illena Davis: Huwaaa, mianhaee~ :( Hahaha, emang kalau lagi hujan feelsnya bikin mau nangis mulu (TwT). Kayaknya banyak deh yg gak rela dia mati :) Waaa…. Gomawo yaa! Aku pasti jaga kesehatan kok~ Gomawo udah baca! ^^

Lee Hyera: Hehehe, mianhae eonni~ Aku memang tabitatnya selalu di genre angst sih :) Eh, serius eonnie? Masak baru pertama kali? Memang sih kematian salah satu pemeran utama itu jarang banget, tapi pasti ada kok, salah satunya ff ini hehehe. Ah, masalah Jungsoo, apa eonni masih mikir gitu habis baca chapter ini? Aku udah tekankan di awal sih, masalah hidup Jungsoo itu sad end atau bad end tergantung pada presepsi masing". Sebagai manusia, aku rasa wajar buat dia bertingkah gitu… tapi memang bener harusnya dia lebih berani untuk menghadapi rasa takutnya daripada harus sembunyi kayak pengecut… Waaa! Iya nih… sebulan ini tugas beneran numpuk sama mid jadi otomatis drop deh :( Gomawo yaa udah ngertiin! Thanks for reading~

Chaerin: Hehehe, kenapa yaaa? Aku juga gak tau #PLAKK. Gomawo udah baca! ^^

Angel sparkyu: Ahh, beneran gak nyangka? Syukur deh berarti ceritaku gak ketebak :) Banyak berdoa aja yaa supaya evil kecil bisa menang dari evil besar~ Thanks for reading!

Kotonoha no Mari-chan: MARIIIIII~~ Hehehe, mianhae. Tapi mau gimana lagi akunya memang suka angst :(:( Hahaha, apa setelah baca chapter ini masih penasaran? Aku harap udah terjawab ya sebagian dari pertanyaanmu. Aww, thank you so much! Hehe I will so don't worry! It's just really busy here and you know how university works… please wish me luck! :) Iyyaa, aku juga mikirnya kalau dicepetin jadi gak jelas. Untung banyak yg setuju dengan pendapatku~ Gomawo yaa uda baca! ^^

MinahELFin: Memang selalu ada kata tbc eonnie~ Kalau gak ada mau sepanjang apaa ff ini jadinya? Wkwkwkwk~ Ini chapter sembilan eonnie~ Dan kenapa Jungsoo matinya tragis aku juga gak tau hehe :) Iyaa eonnie, biasa deh tugas numpuk terus jadinya aku drop. Waaa, gomawoooo! Semoga chapter ini memenuhi ekspetasi yaa~ Thanks for reading ^^

Kyuchocho13: Uwaa, apa aku harus seneng liat kalian nangis atau malah baper? #abaikan #gakjelas. Hehehe, masalah Jungsoo, banyak yaa yg terungkap di chapter ini. Aku udah usahain jelasin kronologi dari kejadian 10 tahun lalu, semoga sosok Jungsoo semakin dan mudah di pahami yaa~ Hehehe, aku usahain yaa! Gomawo udah bacaa :D

: Hahaha, enggak kok~ Aku gak bakal setega itu deh soalnya aku udah bikin dia buta (dulu), penyakitan, hampir sekarat, dsb. Masak mau dibuat gila jugaa :) Hehehe, kayaknya dilemma semua nih. Semoga chapter ini bisa memenuhi standar yaa! Thanks for reading~~

Cuttiekyu94: Hehehe iyaa~ Gomawo yaa udah baca :)

Uixalmnt: Yepp, aku emang rencananya mau bikin sekitar di nomor itu~ Hehehe, kalau masalah hiatus sebisa mungkin gak bakal aku lakuin kecuali emang ada masalah yg gak bisa ditunda :) Ahh, kalau kapan ff ini end, tergantung sih. Soalnya kan udah deket liburan nih, kali aja bisa cepet updatenya *Ahem* #akutariklagi #awasphp. Hahaha, iyaa Jungsoo memang udah 'meninggal' di sini tapi critanya belum selesai kok :) Yah, kalau sih Kyu mah, antara dia mau menata hidup atau tambah bikin berantakan juga masih dipertanyakan (?) Stay tuned aja deh pokoknya :) Waaaa, gomawoooo! Thanks yaa udah baca! ^^

Mmzzaa: Hehehe, pasti karena Jungsoo 'meninggal' nih #PLAKK. Waaa, kamu juga nonton? Sumpah dua episode terakhir bikin aku banjir air mata huhuhu… (TTATT). Ini udah dilanjut~ Moment Heekyu antisipasi chapter depan ya! Thanks for reading~~ ^^

Apriliaa765: Wah, pasti karena efek 'kematian' Jungsoo hehehe~ #ditabok. Kalau masalah Heechul sm Kyu sih… antisipasi chapter depan ya! Kayaknya bakalan seru deh fufufu~ Ahh, ini udah panjang kok :) Semoga puas ya bacanya! Gomawo udah bacaa!

Nanakyu: Ahh, cheonmanaeyo~~ Waaaaa, gomawo buat pujiannyaaa! #tersipu #baper #nangis. Aku seneng deh kalau ff-ku bisa bikin readers-nya ikut merasakan tiap scene yg ada di cerita :) Hehehe, masalah itu, antisipasi chapter depan yaa! Hae disimpen dulu, sekarang waktu Changmin untuk bersinar :) Thanks for reading yaa ^^

Desviana407: Iyaa, Jungsoonya aku 'tamatin' di chapter Sembilan hehe~ Hiks kita samaa, aku udah tugas numpuk ditambah mid lagi~ (TvT) Gomawo udah baca! Fighting! ^^

Younghee: Hehe, gomawo yaa karena udah rela nunggu ff ini :) Ahh, aku usahain gak lama" banget kok, kecuali ada urusan mendadak. Thanks for reading yaa!

Tyas1013: Yepp, nggak ketebak ya? Hehe, mianhaee~ Mau gimana lagi akunya beneran suka angst :) Waaaaa.. gomawo yaa udah ngertiin! Kalau bisa emang ff ini gak usah di-end tapi nanti bosen kaliannya~ Ini udah dilanjut yaa, semoga puas bacanya! Sekali lagi gomawoo~ ^^

Miharu Aina: Ehhh? Jadi aku harus panggil apa? (T^T). Yep, siapa yg tahu kalau bukan dirinya sendiri dan Tuhan? Karena itu komunikasi diperlukan :) Hehehe, malaikat juga gak pure" amat, bisa ngelakuin salah juga, bisa khilaf juga, tapi tentunya pingin yg terbaik buat kita #sokbijak #abaikan #hiks. Masalah appa Cho dan Changmin, coba bikin koneksi aja yaa~ Nanti semuanya bakal jatuh ke satu titik loh. Masalah menyesal atau enggak… hmm, tunggu aja deh hehe~ Antisipasi chapter depan yaa buat Heekyu moments! Gak ppa kok panjang aku malah suka bacanya :D Wahhh, gomawoo! Jaa mata nee~~

Cho sabil: Kenapa yaa? #PLAKK. Hehehe, gomawooo~ Thanks yaa udah baca :)

Readlight: Hehehe, kayaknya aku kemarin lagi semangat"nya nulis~~ (?) Semoga mengejutkan dalam arti baik yaa :) Gomawoo udah baca! ^^

Yuliyuzumaky: Hahaha, mianhae udah nunggu lama :) Masalah angst, no comment deh :) Aku emang sukanya angst~ Dilanjut pasti dong~ Thanks for reading! ^^

Awaelfkyu13: Samaaa, aku juga campur aduk pas nulis chapter kemarin huhuhu… #baper. Hehe, masalah game masih kabur kayaknya, semakin lama makin jelas kok mau Kyuhyun apa :) Antisipasi chapter depan yaa buat Heekyu moments :) Gomawo udah baca~

Kodok: Hehehe, thanks for reading yaa~ ^^

Anonim-san: Hehehe, hal baik dong gak ketebak :) Ahh, bisa dilihat gitu juga yaa :) Sayagnya masih banyak yg harus Kyu selesain, dan masak hidupnya gitu aja sih… kan kasian hehe. Waaaa, gomawo udah ngertiin~ Antisipasi chap depan yaa buat Kyuchul moments~ Gomawo udah baca!

Jihyunelf: Hmmm, apa yaa? #PLAKK. Ditunggu aja yaa, thanks for reading~ ^^

Nurani506: Hhaha, ini syok dalam arti baik atau buruk? :) Gomawo yaa udah baca!

Eka Elf: Kalau udah mutusin sesuatu, yakin deh bakal dia lakuin. Keras kepala banget sihh Kyu itu :) Maksudnya…. Apa ya? #ditabok. Spekulasi aja duluu, tebak" berhadiah. Waaa… aku jadi malu :) Thanks for reading yaa ^^ (Log in atau nggak gak masalah kok :) Semangat!)

Ailedachangkyu: Aku juga baperrrrrr….. kenapa oh kenapa? #PLAK #gakjelas #abaikan. Siapa sebenarnya sosok Chwang… tebak" aja dulu yaa :) Snow whitenya udah di munculin tuh. Mianhae aku nyimpennya lama, soalnya aku ini pemilih sama penempatan karakter d Kibumnya cocok banget sama yg satu ini~ Gomawo udah bacaa ^^

Choding: …aku jga sedih (T^T). Hehehe, yg suka Heekyu kayaknya harus bersabar diri deh :) Waa, gomawoo! Thanks for reading yaa~~

Atik1125: Hehe, sebenernya makin menderita juga nggak, mungkin bisa dibilang ini titik balik dari hidup Kyu? Masalah Changmin, udah banyak kan clue-nya?Coba deh spekulasi siapa tau tebakanmu bener :) Waaa…. Aku seneng deh kalau ff ini berhasil bikin kamu 'masuk' dalam ceritanya #baper #nangis. Ahh, masalah update mianhae :( Banyak yg milih chapter panjang dengan waktu lama (kira" sebulan). Semoga tetep minat baca ff ini yaa! Gomawo udah bacaa ^^

Kuroi Ilna: Hehe, iyaa banyak yg setuju sama plot awal :) 'Cara istimewa' banget dong~ Tapi karakter Jungsoo masih lanjut kok, masih ada yg belum diungkapin tentang dia jadi stay tuned aja~ Waaaaa… gomawo buat pujiannyaa~ #blush #baper #hiks. Thanks for reading yaa!

MissBabyKyu: Hehehe, bagus dehh kalau gitu~ Iyaa akunya juga jadi rindu sama Jungsoo :( Tapi tenang aja dia tetep bakal muncul kok walaupun selip sana-sini karena masih ada yg belum terungkap tentang masa lalu mereka. Ahh, masalah Heekyu sama Changkyu, pelan" yaa, nanti semuanya bakal terungkap kok :) Huwaaaa…. Gomawo unnie :):) Hehe, kalau moment Heekyu antisipasi chapter depan yaa~ Gomawo udah bacaa~ ^^

Cinya: Yah, kayaknya Kyu terusan dibenci deh sama keluarganya apapun yg dia lakuin :( Hehehe, game apa yaa? Tebak" deh kali aja dapet piring cantic! #PLAKK #gak jelas #abaikan. Changmin tentunya korban dong~ Sama seperti (future) bestfriendnya. Thanks for reading :)

Reader: Masalah Jungsoo sih tergantung presepsi kita masing" :) Dan alasan kenapa dia gak berani, pasti udah paham kan abis baca chapter ini (TvT). Kyu nantangin Heechul buat apa yaa…? #PLAKK. Ahh, tunggu aja chapter selanjutnya! Nanti juga kebongkar~ Gomawo udah bacaa ^^

Devina20: Hii jugaa hehe~ :) Huwaaa… gomawo buat pujiannya! #blush #baper #nangis. Hehehe, abis baca chap ini, apa julukannya masih sama? :D Cieee, biarkan semua mengalir… super sekali *ahem*sensor*ahem*. Aminnn, pasti dilanjut sampai end kok, jadi tenang aja ya! Hehehe, aku pasti bales semua review, jangan sungkan, ok? Thanks for reading~ ^^

Dewi leitte: ? Bikin kamu apa? Kayaknya kepotong dehh… wkwkwkwk. Yah, mau gimana lagi Kyu ujung"nya pasti jadi kambing hitam :( Masalah Changmin… sedikit kejawab kah? Semoga iya yaa :) Mianhae lama updatenyaa (TvT). Gomawo udah baca!

Simahiro: Iyaa, dia dirawat dua belas tahun lalu jadi umurnya kira" 5/6 tahun waktu itu bertepatan dengan keluarnya Jungsoo dari rumah :) Hehe, udah kejawab kayaknya pertanyaannya~ Mianhae lama (T^T). Ahh, nggak papa kok! Tenang aja~~ Aku pasti jawab semua pertanyaan yg masih buat kalian bingung. Kalau masalah clue memang udah aku tebar sana sini, tapi seperti biasa kalimat dan paragrafku beneran membingungkan jadi butuh kerja ekstra buat paham hehe~ Nggak heran deh kalau masih banyak yg bingung dan salah presepsi :) Thanks for reading yaa!

Sparkyubum: Kenapa yaaa? Aku juga bingung… #PLAKK #gakjelas #abaikan. Hehehe, kayaknya harus banyak berdoa deh biar jadi kenyataan! Gomawo udah bacaa :)

Phn19: Semoga dalam artian baik yaa :) Masalah Heekyu sih, antisipasi chapter depan ok? Thanks for reading!^^

Aesongie: Apa yaa? Hehehe, gomawo udah baca~ ^^

Hyunhua: Huwaaa, gomawoo :) Hehe, masalah Kyu malang atau enggak, tergantung presepsi deh. Bisa dibilang miris, tapi bisa dibilang bagus juga karena akhirnya dia bisa 'bergerak maju' dari tempatnya sekarang. Aku awalnya mau buat mimpi, tapi akhirnya gak jadi karena itu terlalu klise… di dunia nyata sih semuanya gak bisa di filter (T^T), karena itu aku mau buat serealistis mungkin~ Pertanyaannya udah kejawab kan di chapter ini? Thanks for reading yaa!

Episitimaryam11: Ahh, nggak papa kok santai ajaa :) Iya dongg, masak Kyuhyun yg ketabrak ckckckck~ Hehe, gimana yaa~ Tunggu aja yaa chapter selanjutnyaa #ditabok. Iya nih harus banyak berdoa biar Heekyu bisa rukun kayak di chapter 7-8 hehe~ Gomawo udah bacaaa! ^^

Rangeralone: Hehehe, gomawoo~ Ini udah dilanjut :) Thanks for reading yaa :D

Yolyol: Hahaha, kita sama kok chingu :) Aku penggemar angst sejati dan selalu suka sama cerita" tragis bin nyesek #gakjelas #abaikan. Ahh, masalah itu sih, tergantung presepsi masing" dan cara menghadapinya :) Hehehe, Heechul sama Jungsoo kan hanya manusia. Begitu juga sama appa dan umma Cho, jadi wajar mereka melakukan kesalahan. Jangan benci mereka dong (T^T). Gomawo udah baca!

Oke sekian dariku! Jika masih ada yang bingung atau apa, tanyakan aja lagi :) Maaf jika ada kesalahan tulisan dan typos yang menjamur. Saran dan kritik kalian selalu welcome. RnR? ^^