"Kau membiarkanku menulis jadwalmu mulai saat ini?" Sungmin bertanya, agak terkejut.
"Dengan satu syarat," kata Kyuhyun, bertemu langsung dengan mata penasaran Sungmin dan mengambil jeda sebelum bicara lagi. "Aku ingin kau melupakan mantanmu."
"Ketika kau sedang bersamaku," Kyuhyun melanjutkan dengan suara tegas, yang menyiratkan tidak siapapun boleh membantah apa yang dia ucapkan. "Aku adalah satu-satunya orang yang harus kau perhatikan."
.
.
.
Title: Masquerade
Disclaimer: FF ini, Masquerade, secara penuh adalah milik topsyhobby. Plot dan segala yang terjadi di dalamnya murni milik topsyhobby yang ditulis dalam Bahasa Inggris. Chisana Yuri hanya menyadurnya ke dalam Bahasa Indonesia atas izin author tersebut.
Rating: M
Character: Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Kim Youngwoon, Kim Heechul, and other
Warning: MalexMale, Typo(s), OOC
Type: Chaptered
Don't Like, Don't Read.
.
.
.
-Chapter 10-
Saat itu kira-kira pukul tiga sore.
"Aku punya kabar buruk untukmu, partner."
Heechul berjalan cepat memasuki ruangan Kyuhyun, tanpa permisi seperti biasa, dan mengambil jarak cukup dekat dengan meja kerja Kyuhyun.
Kyuhyun hanya melirik tanpa menyahut.
"Barusan aku di kafe lantai bawah menguping obrolan beberapa wanita yang bekerja sebagai sekretaris ayahmu." Heechul memulai dengan membuang napas, alisnya berkerut. "Tadi mereka ngobrol masalah pernikahanmu, makanya langsung kutanya apa yang mereka bicarakan, dan mereka... Well, memberitahuku tentang ide Presiden untuk memajukan tanggal pernikahannya."
"Apa?" Kyuhyun bersungut, memekik pelan.
"Papamu meminta sekretarisnya membatalkan tanggal pernikahan yang sudah ditentukan, yang seharusnya masih bulan depan, dan memajukannya ke beberapa hari sebelumnya." Heechul merinci jawabannya.
"Seberapa maju?" tanya Kyuhyun dengan nada rendah, sebisa mungkin mencoba menekan frustrasinya yang mulai membuncah.
"Seminggu lagi," jawab Heechul.
Kyuhyun menjatuhkan pulpennya ke meja dan memegangi keningnya dengan satu tangan.
Rasa sakit langsung menghantam kepalanya keras-keras, sampai-sampai ia merasa tengkoraknya nyaris terbelah.
"Kau serius? Kau sama sekali tidak bercanda?" cecarnya gusar.
"Aku berani bersumpah, aku benar-benar serius kali ini." Heechul mengangguk, memberikan tatapan penuh simpati pada Kyuhyun.
"Ya Tuhan." Kyuhyun bergumam lirih, menutup rapat matanya.
"Aku tidak tahu harus bilang apa, man." Heechul menyahut dengan menyesal, disertai helaan berat napasnya, menyandarkan tubuhnya pada meja Kyuhyun.
"Apa mereka memberi tahu kenapa dimajukan secepat itu?" tanya Kyuhyun, meskipun jauh dalam dirinya, ia sudah yakin 99% alasan apa yang ada dibalik pengambilan keputusan itu.
"Tebakanku, mereka akhirnya tahu kalau kau masih pergi ke tempat dr. Lee untuk terapi, padahal sudah jelas-jelas mereka memerintahkanmu untuk berhenti kesana." Heechul memberikan pendapatnya. "Sepertinya mereka benar-benar marah sekarang. Maksudku, kau ingat, kan, seperti apa kesalnya mereka saat mereka beranggapan psikiater itu pacarmu? Menurutku, saat ini mereka sampai pada titik dimana mereka tidak mau melepaskan kemungkinan itu, kecuali kalau kau benar-benar menikah dalam waktu dekat."
"Seminggu..." Kyuhyun bergumam pada dirinya sendiri, mempertemukan gigi-giginya.
"Dari apa yang mereka katakan," Heechul melanjutkan, menyilangkan tangannya di depan dada. "Jessica juga sudah mendengar berita ini, jadi dia akan kembali dari perjalanan dinasnya hari ini, atau paling lambat besok."
"Ya ampun, yang benar saja." Kyuhyun berdiri dari kursinya dan berjalan maju mundur dengan gelisah, tak kuasa menahan kejengkelan yang menumpuk di dadanya. "Tidak mungkin. Mereka tidak mungkin bisa meyelesaikan semua persiapan pernikahan ini dalam waktu satu minggu."
"Hei, kita bicara tentang orangtuamu," kata Heechul mengingatkan dengan nada mengejek. "Melihat bagaimana mereka mendidikmu sampai sebesar ini, rasanya tidak ada yang tidak bisa mereka lakukan."
Kyuhyun berdecih. "Kau tidak mendukungku sama sekali," geramnya dengan suara rendah.
"Baiklah… Kau minta dukunganku sekarang?" Heechul merespon, berubah menjadi penggerutu seperti biasanya. "Coba kutanyakan hal ini dulu padamu. Dari awal, kenapa kau setuju dengan semua ini?"
"Apa maksudmu?" Kyuhyun mengerutkan dahinya.
"Bilang kalau kau tidak mau menikahi orang yang kau benci. Bilang kalau kau tidak mau orang lain merencanakan harus seperti apa hidupmu. Bilang kau tidak mau dilibatkan dengan semua ini lagi. Kenapa kau tidak bisa melakukan itu?"
"Kau pikir itu mudah?" Kyuhyun membentak.
"Apanya yang sulit?" Heechul menjawab dengan pedas, mengundang adu argumen yang lebih panas. "Maksudku, kau bahkan mau repot-repot membuang kesempatan hidupmu tiga kali, kenapa mengatakan itu semua bisa lebih sulit daripada memotong urat nadimu?"
"Jangan pernah berani-beraninya mengungkit masalah itu di depanku!" Kyuhyun menyembur dengan marah ketika kengerian ingatan percobaan bunuh dirinya menamparnya sekali lagi.
"Hei, jangan tiba-tiba jadi agresif denganku." Heechul menaikkan suaranya. "Aku hanya bersikap realistis, dan siapa yang tahu? Aku mungkin satu-satunya orang di muka bumi ini yang bisa mengatakan hal itu padamu."
Sungguh waktu yang sangat tepat ketika interkom Kyuhyun berdering beberapa kali.
Mengumpat pelan, Kyuhyun dengan marah menekan tombol untuk menjawab.
"Ada apa," katanya.
[Tuan Cho, ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda. Dia bilang dia psikiater Anda, Lee Sungmin.]
Kyuhyun merasa jantungnya copot ketika nama itu disebut.
Apa itu benar-benar Sungmin?
Kalau benar, apa yang dia lakukan disini? Kenapa dia ada disini?
Ini sudah kedua kalinya Sungmin datang ke kantornya tanpa mengabari sebelumnya.
Tahu kalau mustahil menyembunyikan raut keterkejutan di wajahnya, Kyuhyun bertukar pandang dengan Heechul, yang kelihatan sama herannya dengannya karena kemunculan tamu tak diundang itu.
"Suruh naik." Kyuhyun memerintah, melepas tombolnya.
"Kau memang sengaja menelepon dia untuk datang kemari atau bagaimana?" Heechul bertanya segera setelah hubungan interkomnya putus.
"Tidak," jawab Kyuhyun. "Aku seharusnya baru bertemu dia besok."
"Kalau begitu kenapa dia bisa ada disni?"
"Entah." Kyuhyun menggeleng, meski jantungnya sudah berdebar kesetanan hanya dengan memikirkan Sungmin kesini untuk bertemu dengannya. Lagi.
"Kalau kau tanya padaku, aku akan bilang kalau bocah ini benar-benar nekat menampakkan wajahnya disini." Heechul berkata. "Kau pasti sama tahunya denganku, kalau orangtuamu sampai melihat dia, nafsu mereka untuk mencabik-cabik psikiatermu pasti langsung keluar."
"Aku tahu." Kyuhyun menggertakkan giginya.
Tidak butuh waktu lama bagi Sungmin untuk keluar dari elevator dan melangkah ke ruangan Kyuhyun.
Sungmin tersenyum dengan senyumnya yang biasa, tidak menunjukkan sinyal bahaya sedikitpun disana. Dia kelihatan tenang dan santai, kontras dengan isi kepala Kyuhyun yang awut-awutan.
"Halo," sapanya pada Heechul dan Kyuhyun sambil dengan santai maju ke arah meja Kyuhyun.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kyuhyun.
"Mau bertemu orangtuamu," jawab Sungmin tanpa ragu.
"Apa?!" Kyuhyun dan Heechul berseru bersamaan, tidak percaya.
"Sebelum itu, kupikir ada baiknya kalau aku mampir kesini, memberi salam padamu." Sungmin melanjutkan dengan manis.
Karena Kyuhyun tidak bisa berkata-kata, Heechul menggantikan perannya.
"Begini, dokter. Dengan segala hormat," Heechul memulai sesopan yang ia bisa. "Apa kau sudah tidak punya otak?"
Sungmin tertawa mendengar pertanyaan itu, lalu merespon. "Aku tahu mereka tidak akan senang melihatku."
"'Tidak akan senang melihatmu?'" Heechul mengulang. "Mereka akan mencoba memakanmu hidup hidup, asal kau tahu."
"Mungkin." Sungmin setuju, mengangguk perlahan. "Tapi meski begitu, beberapa hal tetap harus dibereskan."
"Hal apa?" Kali ini, giliran Kyuhyun yang bertanya.
"Kau benar." Sungmin menatap Kyuhyun, menyelami mata pemuda itu, tapi tidak langsung menjawab pertanyaannya. "Ibumu meneleponku lagi. Beliau sekali lagi memintaku untuk berhenti, sekali lagi mengatakan padaku kalau kau tidak membutuhkanku. Dan, sekali lagi memintaku untuk menolakmu ketika kau ingin berkonsultasi denganku."
Dia diam selama beberapa saat, sebelum membuka mulutnya lagi.
"Lalu kubilang padanya, tidak."
Kyuhyun menatap mata Sungmin yang selalu mencerminkan kebenaran di dalamnya.
Mata yang membuat Kyuhyun terkesan, bahkan sejak awal.
Mata yang bersinar dengan polos, namun pasti dan tidak tergoyahkan.
"Jadi ibumu bilang, kalau aku terus keras kepala, dia akan memaksamu untuk berhenti membayarku." Sungmin melanjutkan. "Dan kubilang padanya kalau aku tidak peduli."
Kyuhyun meloloskan tawa tak percaya yang membuat senyum di wajah Sungmin makin merekah.
Yang, sebaliknya justru, memancing jantung Kyuhyun berpacu ke tingkatan yang nyaris mustahil.
"Dan ini dia bagian menariknya." Sungmin melanjutkan, berjalan mendekati Kyuhyun. "Ibumu sepertinya berpikir kalau apa yang kumaksud dengan mengatakan tidak peduli jika kau tidak membayarku, adalah karena aku jatuh cinta padamu. Dia bilang tidak ada gunanya jatuh cinta padamu karena kau akan segera menikah. Kukatakan padanya kalau dia salah paham dengan situasinya, kemudian dia bilang dia tidak bodoh, dan memintaku untuk tidak menghinanya. Dan… itu saja, dia lalu menutup teleponnya."
Jeda lain di ruangan itu.
Sungmin kemudian, akhirnya, menjawab pertanyaan Kyuhyun.
"Itulah kenapa aku ada disini. Untuk meluruskan duduk perkaranya pada mereka, membenarkan kesalahpahaman, dan mencegah bencana yang lebih besar," katanya. "Kalau aku bisa."
"Meragukan." Kyuhyun menjawab.
"Yah, tapi patut dicoba." Sungmin tersenyum lagi. "Perang semacam ini lebih baik dihadapi dengan tatap muka langsung."
"Apa yang akan kau katakan pada mereka?"
"Pertama-tama," Sungmin memulai dengan percaya diri. "Aku akan mengatakan pada mereka kalau sikap yang mereka ambil dengan memaksamu menjauh dariku adalah sebuah kesalahan. Karena, gampangnya, kau membutuhkanku, bukan psikiater lain."
"Taruhan yang lumayan berisiko," komentar Kyuhyun. "Bagaimana caramu meyakinkan mereka kalau memang tidak ada apa-apa diantara kita setelah kau bilang pada ibuku kalau aku membutuhkanmu?"
"Akan kupikirkan nanti." Sungmin mengangkat bahunya. "Maksudku, toh aku juga berhasil meyakinkanmu, iya kan?"
Kyuhyun sadar kalau saat ini Sungmin merujuk pada malam dimana psikiater itu melompat dan menerjang sebuah truk hanya untuk membuktikan kalau dirinya adalah satu-satunya yang Kyuhyun butuhkan. Juga, pada malam dimana Sungmin memberitahukan semua rahasianya.
Sungmin tidak hanya berhasil meyakinkan Kyuhyun kalau pemuda itu membutuhkan kehadirannya.
Sungmin juga meyakinkannya bahwa menghancurkan kotak yang selama ini mengurungnya, membiarkan dunia mendengar suaranya, bukanlah sesuatu yang salah.
Dia juga meyakinkannya kalau jatuh cinta pada orang yang tidak seharusnya, bukanlah sebuah masalah besar.
"Aku tahu bukan hal mudah memengaruhi mereka," kata Sungmin. "Tapi mereka tidak punya hak untuk memaksaku menjauh. Karena sekarang sudah sangat terlambat."
"Apa… yang sudah sangat terlambat?" Kyuhyun bertanya, melembutkan suaranya.
"Sangat terlambat untuk mundur," jawab Sungmin, sama sekali tidak khawatir mengutarakan kejujurannya. "Kau tahu kalau aku sudah menjadi orang yang sangat penting bagimu, sehingga kau tidak mungkin membiarkanku mundur. Dan kau juga tahu kalau kau sudah menjadi orang yang sangat penting bagiku, sehingga aku tidak akan melepaskanmu."
Maksud dari kata-kata itu berbeda dengan apa yang Kyuhyun inginkan. Kata-kata itu tidak memiliki maksud spesial, karena Sungmin akan mengatakan kata-kata yang persis seperti itu pada setiap pasiennya.
Kyuhyun tahu. Walaupun begitu, kata-kata itu tetap beterbangan di kepalanya, memaksa jantungnya bergetar tak karuan.
Bukan persoalan penting kalau Sungmin akan mengatakan itu pada semua pasiennya.
Bukan persoalan penting kalau pada kenyataannya Sungmin akan melihat semua pasiennya dengan matanya yang menawan.
Yang menjadi persoalan penting adalah, saat ini, hanya pada Kyuhyunlah kata-kata itu diucapkan, dan hanya Kyuhyunlah yang ditawan oleh mata Sungmin.
Jadi, apakah Kyuhyun tahu kalau Sungmin penting baginya?
"Aku tahu." Kyuhyun menjawab dengan pelan, suaranya membaur bersama udara di sekitar mereka.
Sungmin tersenyum, dan sayangnya, senyum lembut itu entah kenapa membuahkan rasa sakit samar di dada Kyuhyun.
Karena senyum itu akhirnya memperjelas kenyataan bahwa interpretasi Kyuhyun akan kata-kata 'penting bagi satu sama lain' benar-benar berbeda dengan interpretasi Sungmin.
Tidak seperti orang lain, dokter itu tahu dan mengerti semua hal tentang Kyuhyun.
Tapi, ironisnya, Kyuhyun tidak tahu apa-apa tentang dokternya.
Dan meski begitu, Sungmin tetap benar.
Sekarang, sudah sangat terlambat untuk mundur.
Sungmin dan Kyuhyun sesaat sibuk dengan dunia mereka masing-masing, komunikasi tak kasat mata hampir terjalin dengan natural di antara keduanya, sebelum kemudian Heechul mengusik.
"Um, permisi, Tuan-tuan," kata Heechul, melambaikan tangannnya pada mereka berdua. "Kalian berdua sadar kalau aku masih disini, mendengar, dan menyaksikan semuanya, iya kan?"
Sungmin tertawa kecil karena interupsi Heechul.
"Kau tahu betul kapan harus memotong," katanya, memalingkan cengiran malaikatnya pada Heechul.
"Tidak baik main mata disini." Heechul memperingatkan. "Sana lakukan di tempat lain yang tidak ada 'orangtua' yang harus dikhawatirkan."
"Pertama, tadi itu bukan main mata." Sungmin mengoreksi. "Kedua, kalau memang tadi kami main mata, sembunyi dari orangtua sama sekali bukanlah pilihan. Bagaimana kau bisa menjadi apa yang kau inginkan kalau kau sembunyi?"
"Wow." Heechul mengangguk ke arah Kyuhyun dan berbisik. "Kau benar, dia hebat."
"Kupikir aku akan ke tempat Presiden Cho dulu." kata Sungmin. "Maksudku, Nyonya Cho mungkin masih emosi sekarang, jadi aku akan menunggu sampai dia tenang."
"Kapan kau rencananya akan bicara pada mereka?" Bukan Kyuhyun, tapi Heechul yang bertanya.
"Sekarang juga." Jawaban Sungmin benar-benar sederhana.
Kemudian, tatapannya kembali terkunci pada Kyuhyun.
Dengan cengiran menawan di wajahnya, Sungmin membuat saran nekat.
"Kenapa kau tidak ikut denganku saja?"
"Kau serius?" tanya Kyuhyun, kebingungan.
"Tentu saja. Akan jauh lebih efektif kalau kau ada di sampingku."
"Kenapa?"
"Karena kau anak mereka. Suaraku akan lebih kuat kalau kau ikut denganku. Tapi, aku tidak mau kau mengatakan apapun karena mereka mungkin hanya akan menganggapnya sebagai alasan dan pembenaran."
Kyuhyun mempertimbangkan ajakannya selama beberapa detik.
Bertemu dengan orangtuanya di situasi seperti ini bukanlah hal yang menyenangkan, tentu saja.
Tapi, kalau dipikir lagi, apa ada yang harus ia takuti? Apalagi ketika ia bersama dengan pemberontakannya?
"Baiklah." Kyuhyun akhirnya memantapkan hatinya. "Tapi ingat, mereka tidak akan membuat segalanya jadi lebih mudah untukmu."
Dengan itu, Sungmin hanya menaikkan bahunya, tidak peduli.
"Ayo."
.
oo-0-oo
.
Seperti perkiraan mereka, Presiden tidak begitu senang melihat Sungmin.
Meski begitu, pria paruh baya itu tetap mempertahankan martabatnya sebagai presiden dan tidak langsung tersulut emosi. Dia berbaik hati mengajak Sungmin duduk, dan meminta sekretarisnya membawakan kopi untuk mereka.
"Sekarang..." ujar Presiden memulai saat akhirnya duduk, berhadap-hadapan dengan Sungmin dan Kyuhyun. "Dr. Lee, benar?"
"Ya." Sungmin menawarkan senyum terang.
"Kuasumsikan kau pasti punya hal yang sangat penting untuk dibicarakan denganku. Karena kalau tidak begitu, kau tidak mungkin memilih opsi sembrono dengan menyelonong masuk ke ruanganku tanpa membuat janji sebelumnya," tutur Presiden Cho dengan sedikit sarkasme dan kebencian yang kentara di kata-katanya.
"Ada hal penting yang harus saya utarakan pada Anda." Sungmin memulai. "Berkaitan dengan sesi terapi putra Anda dengan saya."
"Istriku dan aku sudah setuju untuk menyelesaikan masalah ini dengan mencarikan psikiater baru." Presiden bicara dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Seperti yang mungkin sudah kau dengar dari istriku, kami tidak membutuhkan jasamu lagi. Jadi, apa lagi yang harus dibicarakan?"
"Anda pasti tidak mau saya buang-buang waktu dengan omong kosong, jadi saya akan langsung ke akar masalahnya." Sungmin berkata, masih tersenyum lebar. "Saya akan mengatakan bahwa Anda sedang membuat kesalahan saat ini."
"Kesalahan, ya," Presiden membuat seringai di wajahnya. "Atas dasar apa kau bilang begitu?"
"Anda tidak akan bisa menemukan psikiater lain yang lebih baik dari saya." Sungmin berkata dengan kepercayaan diri yang tinggi, persis seperti yang sudah pernah Kyuhyun saksikan sebelum ini.
"Kau mencoba mengatakan bahwa kau adalah dokter terbaik yang bisa kami temukan?" Presiden mengulang kembali apa yang Sungmin katakan. "Bahwa kau memiliki kredensial terbaik untuk mencapai ekspektasi kami?"
"Saya mungkin bukan dokter paling berkualitas yang pernah ada." Sungmin menjelaskan. "Tapi, saya bisa jamin kalau saya adalah yang paling mampu menangani putra Anda."
Presiden mendengus.
Dia melempar lirikan tajam ke arah putranya, yang menolak mengatakan sepatah katapun, dan kembali menatap mata Sungmin.
"Itulah alasan kami mencurigaimu, dokter," katanya. "Kami tidak mau ada yang menangani putra kami dengan cara yang kau lakukan. Kami menginginkan orang cakap yang mampu mengeluarkan putra kami dari masalah yang sedang ia alami saat ini."
"Dan bagaimana Anda bisa mengharapkan ada dokter yang bisa melakukannya tanpa terlebih dahulu mempelajari bagaimana cara menangani putra Anda dengan tepat?"
"Jadi kau mengatakan bahwa menggoda anakku adalah cara terbaik dalam menangani masalahnya?" Presiden memelototi Sungmin yang bahkan tidak menggerakkan alisnya.
Kyuhyun, di sisi lain, menggertakkan giginya ketika mendengar pernyataan ayahnya.
"Saya khawatir 'menggoda' bukanlah kata yang tepat untuk digunakan dalam situasi seperti ini, Presiden Cho." Sungmin berkata, menyadari ketidaknyamanan Kyuhyun dan meraih tangannya dari bawah meja. "Mengingat bahwa putra Anda sudah berusia 26 tahun, Anda seharusnya tahu bahwa Kyuhyun bukanlah tipe yang mudah digoda."
"Kau bicara seakan kau tahu tentang anakku lebih baik daripada aku." Tuan Presiden mencemooh. "Tapi, mungkin kau belum sadar, Kyuhyun sudah menunjukkan beberapa tanda bahwa dirinya mulai menyimpang, dan beberapa kali menolak mendengarkan apa yang kukatakan, yang mana semua hal itu terjadi setelah dia memulai sesi pengobatannya denganmu. Aku sendiri tidak tahu dengan cara apa kau menggoda putraku, tapi biar kukatakan dengan jelas sekarang. Apapun itu, caramu bukanlah yang kami harapakan."
"Kenapa apa yang Anda harapkan menjadi begitu relevan disini?" Sungmin menantang, menguatkan genggamannya pada tangan Kyuhyun di bawah meja, tak terlihat oleh Presiden.
"Maaf?" Presiden melengkungkan alisnya, terkejut dengan kata-kata Sungmin yang blak-blakan.
"Saya hanya peduli dengan bagaimana Kyuhyun akan melepaskan diri dari kesulitan yang ia alami," kata Sungmin. "Jujur saya katakan, saya tidak peduli dengan apa yang Anda dan Nyonya Cho 'harapkan' untuk terjadi pada anak Anda."
Presiden meloloskan tawa canggung.
Setelah tiga detik menatap Sungmin dengan tatapan tidak percaya, dia membuka mulutnya.
"Aku tidak sadar kalau kau bisa sekasar ini, dokter."
"Maaf kalau saya kasar." Sungmin tersenyum sekali lagi. "Tapi, sebagai psikiater profesional, adalah hal yang benar bahwa satu-satunya hal yang harus saya pedulikan adalah pasien saya."
"'Peduli dengan pasienmu' ya." Presiden menyerang. "Apakah begitu caramu merayu putraku? Kau menggunakan kata-katamu dengan begitu pintar sampai dia akan bergantung padamu dalam keputusasan dan rela melakukan apapun yang kau katakan?"
"Anda terus menggunakan kata 'menggoda' dan 'merayu', tapi Anda mungkin salah paham tentang hal ini, Presiden Cho."
"Yang benar saja…" Presiden menyeringai. "Kalau begitu bagaimana kau menjelaskan malam ketika kau menginap di rumah anakku beberapa minggu lalu, ketika istriku menemukanmu di tempat anakku?"
Sungmin berhenti untuk melirik Kyuhyun, yang tidak menunjukkan respon apa-apa, seperti janjinya.
Dia memutuskan kalau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi adalah pilihan yang paling aman.
"Kami terlibat kecelakaan malam itu, dan saya tidak bisa berjalan." Sungmin menjawab. "Jadi Kyuhyun berbaik hati menawarkan diri untuk mengobati luka saya di rumahnya. Itu saja."
"Dan kau pikir aku akan percaya dengan jawaban itu?" Presiden tertawa kecil.
"Ya, itulah yang terjadi." Sungmin tidak gentar.
"Kecelakaan apa?"
"Saya nyaris tertabrak truk, dan anak Anda melompat untuk menyelamatkan saya."
"Dan kalian berdua sedang bersama-sama sebelum kecelakaan karena?"
"Saya dapat telepon yang mengatakan kalau Kyuhyun butuh bantuan saya, jadi saya pergi untuk menemuinya."
"Jadi, kau yakin hanya itu yang terjadi?"
Jawabannya adalah tidak.
Baik Sungmin maupun Kyuhyun bisa mengingat jelas hal lain yang terjadi malam itu.
Ciuman mereka.
Kontak dua bibir yang sangat tidak rasional, di luar kendali, dan penuh dengan kerahasiaan, ketika mereka sama-sama haus akan kehadiran satu sama lain. Tapi, tidak mungkin Sungmin mengatakan itu pada Presiden Cho.
"Ya."
Dengan jawaban itu, Presiden Cho melihat langsung ke mata Sungmin, yang kelihatan sedikit goyah karena berbohong. Presiden mengangkat sudut bibirnya, tersenyum jahat ke arah Sungmin.
"Kau tahu, dokter Lee, sekali lihat pun aku bisa tahu kalau kau memang dokter profesional yang berpengalaman," katanya. "Tapi kau tidak terlalu hebat dalam berbohong."
Jantung Sungmin mencelos.
Dia disini untuk memengaruhi orangtua Kyuhyun, tapi sekarang sayangnya ia lebih condong berdiri di sisi kegagalan.
"Putraku adalah orang yang cakap, yang memiliki masa depan cerah di hadapannya, dan aku tidak mau siapapun, atau apapun, menodai namanya. Jadi aku akan meminta satu hal padamu, dokter Lee." Presiden berkata. "Menjauh, dari hidup putraku."
Menodai namanya.
Sungmin memaksakan senyum di wajahnya ketika mendengar kata-kata itu.
Dan tepat pada saat itu, Sungmin merasakan Kyuhyun meremas tangannya, dengan sedikit lebih keras, seakan mengatakan padanya untuk tidak melepaskannya.
Menangkap sinyal itu, Sungmin menggeleng.
"Saya minta maaf, saya tidak bisa melakukan itu," ucapnya dengan berani.
"Aku bisa melihat kalau kau sangat berdedikasi pada pekerjaanmu," komentar Presiden. "Tapi, kau berharap aku percaya kalau tidak apa-apa antara kau dan anakku."
"Memang tidak ada apa-apa antara kami berdua, tapi aku tidak akan menjauh dari hidup Kyuhyun." Sungmin menyatakannya sekali lagi.
"Kalau uang yang kauincar, aku bisa mengurusnya untukmu." Presiden menawarkan. "Sebutkan nominalnya, akan kukirimkan ceknya langsung."
Itu adalah penghinaan.
Sungmin bukanlah orang yang mendedikasikan segalanya untuk uang.
Dia bisa mendengar Kyuhyun mengeluarkan sumpah serapah pelan dengan frustasi.
Sungmin menggeleng lagi, mulai kesulitan menjaga senyum tetap di wajahnya.
"Saya tidak melakukan ini demi uang," katanya dengan tegas supaya suaranya tidak goyah.
"Baik kalau begitu. Aku tidak melihat ada alasan lain yang mengharuskan kau ada di dekat anakku," balas Presiden dingin. "Kau seharusnya tahu aku punya otoritas yang jauh lebih kuat darimu, dan aku bahkan bisa memaksamu hancur, kalau kau tidak mau melakukannya dengan sukarela."
"Apakah itu ancaman, Presiden Cho?" Sungmin bertanya dengan nada tidak percaya.
"Nah, dokter, 'ancaman' adalah kata yang kuat. Katakan saja… aku sedang membuat 'saran' agar kita semua sama-sama senang."
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Sungmin berkata, setelah menggigit bibirnya.
"Kau dokter yang cukup keras kepala, ya." Presiden berkata dengan gelap. "Jika kau tetap menolak, aku akan memaksamu melakukan apa yang kukatakan. Dan aku bisa memulainya sekarang dengan memanggil pihak keamanan untuk mengusirmu dari kantorku."
"Itu gila, Anda tidak bisa—"
"Sudah kuperingatkan."
Tanpa keragu-raguan dalam sorot matanya, Presiden menekan tombol di interkomnya.
"Keamanan." Dia memanggil lewat telepon. "Ada tamu tak diundang yang harus diusir."
Saat itu, Kyuhyun menggertakkan giginya, dan bangun dari tempat duduknya, tidak tahan lagi.
Dia menarik Sungmin yang membatu di tempat duduknya, dan berbalik meninggalkan ruangan Presiden tanpa bicara sedikitpun. Tapi, Presiden tidak membuatnya semudah itu.
"Kyuhyun, kita harus bicara," katanya tajam. "Jadi lepaskan dr. Lee, bagian keamanan akan mengurusnya dan langsung mengantarkannya ke luar gedung."
Kyuhyun menggertakkan giginya dengan keras dan menghentikan langkahnya, masih memunggungi ayahnya. Petugas keamanan sudah tiba di ruangan Presiden Cho.
Presiden memerintahkan para petugas untuk membawa Sungmin keluar dari ruangannya, dan mereka menurutinya dengan memegang lengan Sungmin untuk menyeretnya keluar.
Sungmin benar-benar kehabisan kata-kata karena masih terlalu shock dengan apa yang sedang terjadi.
"Kuharap ini kali terakhir aku melihatmu di kehidupan keluargaku, dr. Lee." Presiden Cho melemparkan kata-kata terakhirnya dengan penuh hinaan.
Ketika itulah akal sehat Kyuhyun akhirnya tersentak.
Dia sudah sangat sabar ketika menerima semua ocehan ayahnya pada menit-menit terakhir, mengadu giginya keras-keras sampai menimbulkan sakit kepala dan menahan kebenciannya, tapi dia benar-benar sudah tidak tahan lagi.
Kyuhyun melangkah maju ke arah para petugas sebelum siapapun bisa menghentikannya.
"Singkirkan tangan kalian." Dia membentak di antara gemertakan giginya, menarik Sungmin dari pegangan mereka dengan sekali tarik.
"Kyuhyun." Ayahnya memanggil dengan nada memperingatkan.
Tapi, dia benar-benar mengabaikannya. Menuntun Sungmin dengan menarik tangannya dan buru-buru keluar dari ruangan ayahnya bahkan tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
"Kyuhyun! Beraninya kau—" Presiden berteriak di belakangnya, tapi Kyuhyun mengabaikannya lagi.
Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam kepalanya. Terutama, di akal sehatnya.
Yang ia tahu, ia harus keluar dari sana sekarang juga.
"Kyuhyun, tunggu." Sungmin terengah saat dia mencoba menyamakan langkah mereka, dan Kyuhyun hanya menghiraukannya.
Dia bergegas ke elevator, dan ketika pintu terbuka, langsung menjejalkan Sungmin ke dalam elevator. Kemudian ia menekan tombol 'close' sebelum Sungmin sempat mengatakan apa-apa.
Pemuda manis itu melihat ke arahnya dengan mata yang terbelalak kaget.
"Aku tidak percaya kau melakukan ini." Sungmin bicara dengan terengah ketika pintu elevator tertutup
"Aku juga." Kyuhyun membalas, dengan putus asa mencoba mendinginkan kepalanya. "Well, ada masalah dengan itu?"
Ia bicara seolah ia sama sekali tidak peduli.
Padahal kenyataannya, ia perlahan mulai menyadari apa yang baru saja ia lakukan pada momen penuh kegilaan yang bodoh tadi, ia tidak bisa menghentikan tangannya yang gemetar hebat.
'Sial.' Kyuhyun menutup matanya dan memegangi dahinya dengan tangan yang gemetar.
Itu adalah pertama kalinya ia berani memunggungi ayahnya seperti itu. Pertama kalinya ia tidak peduli sama sekali pada sekitarnya. Pertama kalinya ia menjadi dirinya sendiri.
Jantungnya berdebar kesetanan, hampir meledak, dan tidak bisa berpikir jernih.
Pada saat itu, dia benar-benar hampir terkena serangan jantung saat Sungmin mendekat dan mengalungkan tangannya di lehernya.
"Tentu saja tidak ada masalah dengan itu." Sungmin berbisik di telinga Kyuhyun, mencoba menenangkan gemetarnya. "Semuanya pasti baik-baik saja."
Kehangatan pelukannya, sensasi sentuhannya, dan suaranya yang begitu manis.
Semuanya campur aduk dengan sangat cepat dan memukul mundur lapisan terakhir kewarasan Kyuhyun.
"Sialan." Mengumpat, Kyuhyun menghempas Sungmin ke dinding elevator, mengunci Sungmin di antara lengan kokohnya dan menyerang bibirnya. Menelan semua keterkejutan Sungmin.
Seisi kepala Kyuhyun berteriak bahwa ia salah, tapi hatinya dengan keras melawan dan mengatakan ia benar karena itu adalah satu-satunya hal yang tepat dilakukan saat ini.
Jadi, dia nekat melakukannya lebih jauh, menjilat dan menghisap semua yang ada pada Sungmin.
Sungmin langsung kehabisan napas karena ciuman Kyuhyun yang begitu kasar. Dia mencoba menyisakan paling tidak sedikit celah di antara mulut mereka, tapi Kyuhyun tidak membiarkannya.
Ciuman Kyuhyun tidak pernah gagal membuat Sungmin melenguh. Lututnya perlahan melemas, membuatnya harus berpegangan lebih kuat pada Kyuhyun.
Setelah menit-menit panas itu berlalu, mereka memisahkan diri, napas berat saling menyahut dan begitu panas di sekitar telinga masing-masing.
Temperatur di dalam elevator yang sempit itu naik dengan drastis.
Mereka saling tatap—seakan mencari pantulan satu sama lain di mata yang ada di depannya—hingga napas mereka mulai sedikit stabil.
"Kau tidak menodai namaku." Kyuhyun berkata tiba-tiba, masih berusaha keras mengumpulkan keping-keping akal sehatnya.
Sungmin mengeluarkan tawa pendek, masih berpegangan pada lengan Kyuhyun.
"Ini mungkin tidak ada hubungannya sama sekali denganmu, tapi—" Kyuhyun nyaris tidak sadar saat dia menarik Sungmin mendekat padanya.
Kemudian dia berbisik tepat di depan bibir Sungmin.
"Kau adalah ciuman pertama yang tidak kusesali."
.
oo-0-oo
.
Malam itu adalah malam yang, anehnya, begitu damai.
Apalagi kalau mengingat kembali semua kekacauan yang terjadi di kantor Presiden Cho hari ini.
Kyuhyun, yang memutuskan kalau tidak ada gunanya kembali bekerja, sekarang ada di ruang tamu apartemen Sungmin lagi. Dengan Sungmin di sisinya, tentu saja.
[Kau pasti mati.] Heechul berkata lewat telepon, Sungmin juga bisa mendengarnya.
[Kau pasti benar-benar mati. Dan aku bangga padamu, man. Aku pribadi berpikir itu adalah hal terhebat yang pernah kau lakukan sepanjang hidupmu. Dan aku punya satu kata untukmu.]
"Apa." Kyuhyun berkata dengan suara rendah.
[Selamat, bitch.]
Tawa Heechul kemudian meledak.
[Oh, tunggu, itu tadi dua, bukan satu.]
"Sulit dipercaya, aku akhirnya benar-benar mendengarkanmu." Kyuhyun mengusapkan jari-jarinya ke kening.
[Yeah, aku juga sudah lelah denganmu. Berikan ponselnya ke Sungmin.]
Kyuhyun bersungut, tapi tetap menyerahkan ponselnya pada Sungmin.
"Halo?" sapa Sungmin.
[Hai, sayangku manisku cintaku.]
Dengan suara menggoda Heechul yang khas, kerutan di kening Kyuhyun makin menjadi-jadi.
Tapi Sungmin hanya tertawa.
[Harus kukatakan, sweetheart, kau juga bitch.]
"Memang." Sungmin tersenyum dengan sangat menggemaskan, sama sekali tidak akan cocok dengan konotasi kata yang disebut-sebut Heechul.
[Kau punya wajah sememelas anak anjing, seolah... kau akan menggoyangkan ekormu atau semacamnya, tapi kemudian ketika kau berbalik, tada! Kau bisa serigala disana.]
"Itu pujian kan?" Sungmin tertawa kecil.
[Tentu saja itu pujian. Kau tahu, sekarang aku sedang mencoba membuatmu menyukaiku.]
Sebelum Sungmin bisa menjawab, dia mendengar Kyuhyun menggumamkan 'tolol', ditujukan pada Heechul.
"Aku sudah menyukaimu," Sungmin berkata, tersenyum lebar ke arah Kyuhyun ketika pemuda itu memberinya tatapan memperingati. "Tapi 'seseorang' kelihatannya tidak terima kalau aku bilang begitu."
[Apakah 'seseorang' itu lagi-lagi mengeluhkan tentangku?]
"Kelihatannya begitu."
[Katakan padanya kalau dia tidak punya kesempatan sedikitpun untuk bersaing denganku. Maksudku, kau tahu lah, aku yang paling sexy di kota ini. Jadi, bagaimana menurutmu?]
"Harus kuakui kau memang menarik." Sungmin berkomentar dengan santai, dan Kyuhyun menggelengkan kepalanya tidak percaya.
[Kulihat kau tahu bagaimana cara memainkan permainan ini, kucing manis.]
Kyuhyun menyatukan alisnya dan berusaha meraih ponsel di tangan Sungmin untuk mengakhiri kekonyolan mereka berdua, tapi Sungmin tertawa dan menghindar.
"'Kan kau yang mengajariku." Sungmin membalas dengan genit, tampak menikmatinya. Kyuhyun, yang jelas-jelas tidak terima, menunjuk ponselnya, "Kemarikan."
Dan Sungmin dengan bercanda menggeleng ke kanan dan kiri, memainkan bibirnya dengan membentuk kata 'tidak'.
[Bagus, bagus, kau hampir bisa, kau sudah setengah jalan. Kemari, datanglah ke sisi gelap, angel. Kami punya boneka Barbie disini.]
"Senang mendengarnya, tapi 'seseorang' disini terus mencoba mencuri ponselnya dariku."
[Dia bukan orang yang mudah menyerah, ya? Well, dia boleh menangis di pojokan ketika kutandai kau sebagai milikku.]
Kyuhyun akhirnya berhasil merampas ponselnya dari Sungmin, yang tertawa dengan senang.
"Hentikan omong kosongmu, tolol." Kyuhyun membentak Heechul, sedikit terganggu.
[Hei! Berikan ponselnya ke Sungmin, aku sudah berhasil 97%] Heechul melolong.
"Sana main dengan pacarmu. Kututup," kata Kyuhyun, kemudian mematikan ponselnya.
Dia melempar ponselnya jauh jauh ke sisi sofa yang lain, dan kemudian bersandar.
"Dia benar-benar seru diajak bicara, ya?" Sungmin bertanya.
"Jangan dekat-dekat dengannya." Kyuhyun memperingatkan, meskipun hanya bercanda. "Dia akan melakukan hal-hal yang tidak bisa kaubayangkan."
Sungmin cuma tertawa.
Saat kegelapan malam mulai merayap di lantai, Sungmin menghidupkan lampu, mengisi ruang tamunya dengan cahaya lembut berwarna keemasan.
Melihat kalau asal cahaya itu adalah lampu pink yang dia berikan pada Sungmin, Kyuhyun tersenyum samar.
"Bagaimana kalau kita minum wine?" Sungmin menyarankan, menoleh ke arah Kyuhyun. "Pencahayaannya sangat pas untuk wine. Disamping itu, kita sudah melalui hari yang berat hari ini."
"Kau bahkan tidak bisa minum banyak," kata Kyuhyun.
"Tidak masalah kalau satu gelas." Sungmin berdiri dan menuju ke dapur untuk mengambil botol Molina dan dua gelas wine.
Dia menuangkan wine merah untuk mereka berdua, dan memberikan salah satunya pada Kyuhyun.
Aroma lembut namun memikat dari wine bercampur dengan harmoni menyenangkan dalam balutan cahaya keemasan. Gelas mereka berdenting di tengah udara, begitu merdu.
"Apa yang akan kau lakukan mulai sekarang?" Sungmin bertanya, memperhatikan Kyuhyun menyesap winenya.
"Apa maksudmu?" Kyuhyun balik bertanya, sambil menyulut rokoknya.
"Tentang orangtuamu," jawab Sungmin. "Melihat apa yang terjadi hari ini, kupikir kau mungkin akan butuh semacam perisai sebelum kembali besok."
"Aku akan memikirkannya nanti." Pemuda yang lebih muda itu membuang asap rokoknya. "Saat ini, aku tidak mau memikirkan masalah itu."
"Aneh sekali, kalau kau yang bilang begitu." Sungmin berucap setelah meminum seteguk wine. "Kau benar-benar berubah."
"Ke arah yang bisa kau terima?"
"Ke arah yang kukagumi."
Kyuhyun terseyum lembut sebagai balasan, dan Sungmin menyesap winenya lagi.
"Kuharap kau sadar kalau perubahan yang terjadi padamu ini benar-benar signifikan." Sungmin kembali membuka percakapan, memberikan cengiran manis.
"Sejauh ini, aku tidak bisa melihat ke arah mana semua pemberontakan ini akan menuntunku." Kyuhyun menghisap rokoknya lama.
"Mungkin kelihatan sedikit berantakan sekarang, dan bahkan kau mungkin berpikir perubahan ini tidak akan menuntunmu kemanapun kecuali kepada kehancuran." Sungmin menjelaskan. "Tapi itulah yang tiap manusia harus lewati. Berantakan jauh lebih natural dan sederhana daripada keteraturan, dan kau harus belajar cara menghancurkan dirimu yang lama supaya kau bisa membangun sesuatu yang lebih baik nantinya."
"Jadi ini adalah proses dimana diriku sedang membangun sesuatu yang lebih baik?" tanya Kyuhyun.
Sungmin mengistirahatkan lengannya di sofa, menindih lengannya dengan kepala.
Caranya menatap Kyuhyun dari posisi ini bisa dikatakan mengundang. Mengundang bukanlah kata sifat yang biasanya akan Kyuhyun gunakan untuk menggambarkan Sungmin, tapi dengan wine merah keunguan dan cahaya lampu yang redup, semuanya menjadi sangat pas.
"Hmm," kata Sungmin. "Bagaimana menurutmu?"
"Yang kutahu… aku sudah melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya dalam hidupku." Kyuhyun meminum cairan merah itu untuk menenangkan debaran di jantungnya.
"Aku menyebutnya 'memecahkan cangkang'." Sungmin juga membiarkan alkohol mengalir menuruni tenggorokannya. "Kau memecahkan apa yang orang-orang bentuk padamu, menjadi kau yang sesungguhnya."
Kyuhyun menatap Sungmin yang secara teknis berada di bawahnya, dengan rokok masih menggantung di ujung bibirnya.
"Maksudmu, aku yang sesungguhnya adalah seorang pemberontak?" Dia bertanya, sedikit mengerutkan alisnya.
"Tidak, maksudku kau menjadi dirimu sendiri dengan berani mengekpresikan suaramu kepada dunia." Sungmin mengoreksi dengan senyum cantik. "Dan seperti yang sudah kukatakan padamu sebelum ini, aku jatuh cinta pada suaramu."
Kyuhyun menyaksikan Sungmin menelan satu lagi tegukan wine setelah kalimat terakhirnya.
Bagaimana Sungmin bisa menggunakan kata 'cinta' sesantai itu?
Tidakkah dia tahu betapa bahayanya ketika dia menyebut kata 'cinta'?
Kyuhyun tanpa sadar menggeleng.
"Aku tahu memang tidak mudah melepaskan semuanya sekaligus." Sungmin berkata, menghiraukan apa yang Kyuhyun pikirkan. "Tapi kau membuat permulaan yang bagus."
Kyuhyun tidak merespon.
Dia sibuk menatap Sungmin dan menunggu kalimat Sungmin selanjutnya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Sungmin. "Kesal? Atau lega?"
Apa yang terjadi hari ini, mau tidak mau, membuat Kyuhyun merasa kalau dia bisa melakukan apapun yang dia sukai, seakan dia bisa menjalani hidup dengan caranya.
Tapi, sekaligus membuatnya gelisah dan tidak nyaman.
Mungkin karena semuanya terlalu baru, atau karena ia tidak bisa memprediksi apa yang akan menghampirinya setelah ini.
Kyuhyun membuang napas lagi dan menjawab. "Dua-duanya."
"Itu normal." Sungmin tersenyum lebar, memberi dukungan. "Perubahan awalnya pasti sedikit membingungkan dan membuat gugup. Tapi begitu kau sudah terbiasa, kau akan benar-benar bisa mengontrolnya."
"Apakah aku sudah pernah mengatakan padamu kalau aku tidak suka kata 'kontrol'?" Kyuhyun menghubungkan alisnya.
"Oh, kau tidak suka?" Sungmin bertanya. "Kenapa tidak suka?"
"Konotasinya terlalu memaksa," jawab Kyuhyun dengan sedikit kebencian.
"Well, tergantung bagaimana kau menginterpretasikannya." Sungmin mengangkat bahunya. "Bagiku, kata itu memberikan otoritas. Bukan otoritas angkuh yang diinginkan banyak orang, tapi otoritas sejati atas hidupmu."
"Aku tidak begitu mengerti." Kyuhyun membuat ekspresi bingung di wajahnya.
"Ada dua cara menjalani hidup." Sungmin mulai menjelaskan. "Menjalani kehidupan yang menuntunmu, dan menjalani kehidupan yang kau tuntun. Jawaban yang terbaik adalah menjalani hidup yang bisa kau kontrol sendiri. Kehidupan semacam itu akan membawamu lebih jauh, dan tanpa batas, karena semuanya terserah padamu, bukan orang lain."
Dan Sungmin mengatakan pada Kyuhyun kalau ia sudah membuat permulaan yang bagus.
Selama ini, semua hal yang mengelilingi dan membuat Kyuhyun sesak pasti memaksakan harapan, peraturan, atau depresi padanya.
Dan depresi memaksakan adanya limit, batasan, dan rantai padanya.
Tapi sekarang Kyuhyun membuat permulaan yang bagus dengan menghancurkan lapisan yang selama ini menutupi jati dirinya yang sebenarnya, sebagai bentuk pemberontakan untuk memotong rantai yang selama ini membelenggunya.
Dengan bantuan Sungmin.
"Benar-benar tidak masalah kalau kau membuat sedikit kekacauan, karena dari situlah kau akan belajar. Kalau kau tidak pernah gagal dalam hidupmu, maka kehidupanmu adalah kegagalan itu sendiri, karena kau tidak pernah belajar." Sungmin melanjutkan dengan tulus. "Tapi, aku tidak mengatakan kalau kegagalan sama sekali tidak akan mengganggumu, karena tentu saja, itu akan menganggu. Kadang-kadang kau hanya harus hidup berdampingan dengan kegagalan itu."
Sungmin kemudian dengan hati-hati menggenggam tangan Kyuhyun dan dengan lembut mengusap luka di pergelangan tangannya.
"Jangan takut," bisik Sungmin.
Pada saat ini, Kyuhyun akhirnya sadar dengan maksud Sungmin yang ketika sesi pengobatannya kala itu mengatakan 'Jangan takut' padanya.
Kyuhyun selama ini takut menjadi dirinya sendiri. Karena dia selalu menjadi apa yang orang-orang inginkan, dan dia tidak yakin jika menjadi dirinya sendiri adalah pilihan yang cukup aman. Dia tidak yakin kalau menjadi dirinya sendiri adalah cara yang 'sempurna'.
Dan Sungmin—yang tidak takut menjadi manusia yang tidak sempurna serta memiliki keberanian untuk menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya pada Kyuhyun—mengatakan pada dirinya kalau hal itu cukup aman.
Dia adalah orang pertama, satu-satunya orang, yang menerima sisi tidak sempurna Kyuhyun.
Dan itulah yang penting.
Pada akhirnya, hanya 'pengakuan' lah yang Kyuhyun inginkan dalam hidupnya.
"Kuakui aku masih khawatir dengan semua ini." Kyuhyun berkata dengan suara pelan, membiarkan jantungnya terpacu. "Tapi, aku tidak merasa ingin melarikan diri. Tidak lagi."
"Karena kau sudah melarikan diri." Sungmin tersenyum berseri-seri padanya. "Itu sudah sebuah kemajuan."
"Jadi kita akan kemana setelah ini?" Kyuhyun bertanya, bertemu dengan mata Sungmin.
"Kau ingin kemana setelah ini?" Sungmin balik bertanya.
'Kemanapun tidak masalah,' pikir Kyuhyun, tersenyum pada dirinya sendiri. 'Asal ada kau disana.'
Itu adalah sebuah pengakuan.
Kalau Kyuhyun membutuhkan Sungmin.
Sama seperti Sungmin yang membutuhkan Kyuhyun.
"Kita bersama-sama dalam hal ini, ingat?" tanya Kyuhyun. "Jadi aku juga ingin dengar pendapatmu."
"Well." Sungmin tertawa pelan. "Aku memikirkan satu hal yang bisa kita lakukan berdua."
"Apa itu?"
"Ingat ketika kukatakan padamu untuk menemukan seseorang yang akan sangat membutuhkanmu, supaya kau bisa merasa berharga dalam hidup?"
"Dan aku sudah mengatakan padamu kalau aku sudah menemukannya." Kyuhyun menjawab, menatap Sungmin.
"Bukankah hal itu membantu membuatmu merasa lebih baik?" tanya Sungmin, tersenyum lebar ketika sadar Kyuhyun bicara tentang dirinya. "Tidakkah kau ingin menemukan yang lain?"
Kyuhyun memikirkannya.
Jujur 100%, Sungmin saja sudah cukup baginya.
Tapi, kalau ada yang lain, juga akan bagus.
"Tidak ada salahnya memang." Kyuhyun menjawab, perlahan menggoyangkan gelas winenya.
"Aku juga berpikir begitu, jadi bagaimana kalau kita berdua menemukan yang lain?" Sungmin menyarankan. "Aku tahu benar dimana mencarinya."
"Dimana?"
"Aku selalu ingin menjadi sukarelawan di panti asuhan selama satu atau dua bulan," kata Sungmin, melebarkan senyum di wajahnya. "Salah satu temanku adalah sukarelawan di sebuah panti asuhan yang merupakan rumah bagi anak yatim piatu yang cacat fisik. Mereka pasti membutuhkan bantuan kita. Jadi, apa ada tempat lain yang lebih bagus?"
Tawaran itu datang dengan begitu tiba-tiba, nyaris tanpa alasan sama sekali dibaliknya.
Kyuhyun tetap mempertimbangkannya meski begitu.
Dia tidak bisa mengatakan kalau dia suka anak-anak. Itu karena dia tidak pernah punya kesempatan untuk benar-benar bertemu dengan mereka.
Dia membuka mulutnya untuk menjawab.
"Kedengarannya bukan ide yang buruk."
"Ayo mulai secepatnya. Kita bisa berkontribusi beberapa jam dalam sehari." Sungmin berseru dengan berkilauan. "Dan aku akan mengurus janjinya dengan temanku, bagaimana?"
"Bagus." Kyuhyun merespon dengan sederhana.
Sungmin benar-benar bahagia karena Kyuhyun dengan begitu mudah menyetujui gagasannnya. Dia benar-benar sudah membuat perubahan ke arah positif bagi Kyuhyun yang depresi.
Sungmin menyelesaikan gelas wine pertamanya, kemudian menuangkan satu lagi.
"Jadi bagaimana kalau kita bersulang untuk kerja sama kita dalam membuat harapan bagi anak-anak itu?" Dia berkata dengan riang, mengangkat gelasnya ke arah Kyuhyun.
"Kau yakin masih mau segelas lagi?" Kyuhyun menaikkan alisnya.
"Kenapa tidak?" Sungmin mengangkat bahunya senang.
"Terakhir kali kita melakukan ini, kau sudah mabuk setelah satu gelas." Kyuhyun mengingatkan dengan senyum tipis.
"Well, memang apa salahnya kalau mabuk sedikit? Aku tidak ada masalah dengan itu." Sungmin berkata dengan wajah polosnya.
Kyuhyun menyeringai ketika dia membiarkan Sungmin menuangkan wine kedua untuknya.
"Aku mempermasalahkannya," katanya, membenturkan gelasnya ke gelas Sungmin. "Bersulang." Sungmin tersenyum lebar meskipun begitu.
Setelah menyesapnya, Kyuhyun merendahkan tubuhnya ke arah Sungmin.
"Hati-hati," bisiknya dengan jahil. "Kau tidak pernah tahu apa yang akan kulakukan padamu ketika aku kehilangan kontrol."
Sungmin tertawa, memukul pundak Kyuhyun dengan bercanda.
"Kau bercanda," kata Sungmin, mengangkat gelasnya untuk minum.
Tapi Kyuhyun menghalanginya dengan mengambil gelas itu dari Sungmin, dan melengkungkan sebuah senyum jahat.
"Kalau begitu, ini peringatan pertamanya." kata Kyuhyun.
Dia perlahan mengangkat gelas winenya sendiri, dan, masih dengan alkohol di mulutnya, mencium bibir merah Sungmin.
Sungmin yang kaget mencoba untuk mendorong Kyuhyun dengan lemah, tapi Kyuhyun menangkap dan menggenggam tangannya, menyatukan jari-jarinya dengan jari Sungmin.
Cairan merah itu mengalir, dari mulut Kyuhyun ke mulut Sungmin yang sedikit terbuka, dengan indah menyentuh ujung lidah Sungmin. Kyuhyun dengan halus menyusup masuk, berpadu anggun dengan wine. Sungmin menelan winenya, dan dalam diam mengizinkan Kyuhyun. Pikiran rasionalnya menyerah dan instingnya mengambil alih kontak yang mendebarkan itu.
Berkebalikan dengan ciuman mereka di elevatator tadi siang, kali ini semuanya berlangsung lembut dan perlahan, namun dalam dan bernafsu di saat yang sama.
Kyuhyun menggoda Sungmin dengan gigitan kecil di bibirnya, bergelung dengan lidah Sungmin. Sungmin tersentak saat Kyuhyun menjilat langit-langitnya, pelan tapi pasti ia mulai jatuh ke jurang penuh gairah. Dia tanpa sadar mulai membalas ciuman itu, merespon dengan desah gemetar setiap kali Kyuhyun bergerak di mulutnya.
Baru ketika Sungmin memutuskan untuk ikut ambil bagian, Kyuhyun mundur, menggoda dengan kekehan sexy, kemudian maju lagi, memimpin. Kejadian ini berlangsung beberapa kali, membuat ciuman mereka berlangsung lebih lama.
Kyuhyun membantu Sungmin dengan melingkarkan lengannya di pinggang Sungmin, dan Sungmin mengangkat kepalanya untuk memperdalam ciuman mereka ketika dia mengelus pergelangan tangan Kyuhyun dengan jarinya.
Sungmin mengelus lukanya lagi, tapi hal itu tidak serta merta mengingatkan Kyuhyun akan percobaan bunuh dirinya yang menyeramkan.
Malah, debaran jantungnya terlukis dengan sangat jelas di kepalanya.
Bahwa dia hidup.
Bahwa dia jatuh cinta.
Ciuman itu berlangsung selama beberapa menit lamanya dan mereka tidak buru-buru memisahkan diri. Mereka menutupnya dengan kecupan kecil saat tautan keduanya terlepas.
Kyuhyun sama tidak mengertinya dengan Sungmin, tidak mampu memberikan alasan atas kejadian yang belum pernah terjadi dan tiba-tiba ini.
Sungmin terengah-engah. Wajahnya memerah, sangat manis, membuat Kyuhyun tersenyum. Ketika Sungmin sadar apa yang sudah ia lakukan tanpa pikir panjang, ia dengan cepat menghindari tatapan Kyuhyun dengan menunduk. Tapi, Kyuhyun menangkup dagu Sungmin untuk melihat mata berbintang itu lagi.
"Persiapkan dirimu dan tetap buka matamu lebar-lebar." Kyuhyun memperingatkan, kemudian mengulang kata-kata yang dia gunakan untuk memperingati Sungmin tentang Heechul sebelum ini. "Jangan dekat-dekat."
Kyuhyun memberikan kecupan manis yang berbahaya di bibir Sungmin.
"Aku mungkin tidak sebaik yang kau pikirkan."
.
oo-0-oo
.
Salju menumpuk nyaris di seluruh penjuru dunia, membekukan jalanan dan kaca-kaca jendela, mencerahkan segalanya dengan warna putih tulusnya.
Sungmin tengah bersiap-siap, melilitkan syal wol tebal di lehernya hingga hampir menutupi separuh wajahnya, kemudian mengangkat tasnya dari kursi.
Dia keluar dari ruangannya dan berjalan ke meja resepsionis, tempat dimana Yoona bertugas.
"Ini dia yang kau minta." Yoona menyerahkan sekotak stroberi cheese cake dan sekotak cokelat mousse cake kepada Sungmin. "Untuk anak-anak kan?"
"Yap." Sungmin dengan riang menjawab ketika dia menerima kotak-kotak itu dari sang resepsionis. "Ini pertama kalinya aku mengunjungi panti asuhan, jadi aku tidak begitu tahu apa yang harus kubawa untuk mereka. Semoga mereka menyukainya."
"Aku yakin mereka akan suka." Yoona tersenyum lebar. "Apalagi ini adalah hadiah dari dua laki-laki yang tampannya bukan main."
Sungmin tertawa dan melongok ke luar jendela, dari tempatnya berdiri ia bisa melihat Kyuhyun bersandar di mobilnya dengan tangan dimasukkan ke saku, menunggu dirinya.
Dokter itu mau tidak mau sependapat, laki-laki yang saat ini berdiri di tengah salju itu memang tampan bukan main.
"Hei." Yoona menjentikkan jarinya di depan wajah Sungmin untuk membawa Sungmin kembali ke alam sadarnya. "Kuperhatikan kau jadi sering jalan dengannya beberapa hari belakangan ini."
"Ini bagian dari pengobatan." Sungmin menarik dua ujung bibirnya. "Aku hanya membantu mengganti jadwal dan gaya hidupnya."
"Oh, tentu saja." Yoona menyindir, melipat kedua tangannya. "Kau yakin hanya itu?"
"Aku yakin." Sungmin mengiyakan, terkekeh karena sadar apa maksud pertanyaan resepsionisnya.
"Well, kalau menurutku, pasti ada sesuatu yang lain." Yoona memicing ketika dia juga mengarahkan pandangannya ke Kyuhyun. "Maksudku, dia pintar, dia hot, dia sexy, dia-oh-benar-benar-sempurna."
"Kuakui dia memang laki-laki yang atraktif." Sungmin mengangguk dengan senyum. "Tapi, kau sendiri tahu, aku tidak seharusnya memiliki sesuatu yang lain dengan pasienku di samping hubungan profesional."
"Oke, lalu, bagaimana kau menjelaskan padaku tentang malam-malam ketika kau menghabiskan waktu dengannya?" Yoona menantang.
"Itu," Sungmin menjawab ketika itu juga. "Juga bagian dari pengobatan."
"Oh, ayolah," ucap Yoona, menyiku pinggang Sungmin. "Kau tahu kau tidak bisa membodohiku. Kau menikmati saat-saat menghabiskan waktu dengannya, kan?"
Sungmin tertawa gugup.
"Well," dia mulai dengan hati-hati. "Aku memang menyukainya. Dia masih sedikit gelap, tapi tidak lagi sedingin dan sebatu pertama kali. Aku suka perubahan yang sedang ia buat."
Apa yang Sungmin katakan memang benar, tapi ia berhati-hati agar tidak membeberkan yang lainnya.
Terutama, ciuman-ciumannya dengan Kyuhyun.
Rasa wine dan aroma Kyuhyun yang berbahaya masih terus menerus tertinggal di bibirnya, menggelitik hati tiap kali Sungmin mengingatnya kembali.
Bagaimana pun, untuk semua kontak intim itu, Sungmin kesulitan mencernanya.
Dia sadar dengan adanya fakta kalau Kyuhyun mungkin ada rasa dengannya, tapi sudah menjadi tugasnya untuk tidak membiarkan perasaan Kyuhyun meluap.
Di satu sisi, Sungmin tahu dia seharusnya melakukan tugasnya.
Di sisi lain, tetap saja dia akan merasa gugup ketika memikirkan ciuman itu.
Itu masalahnya.
Sungmin menghela napas pendek.
Terdengar suara klakson mobil dari luar, memerintahkan Sungmin untuk bergegas.
Sungmin tersentak dari lamunannya, ia buru-buru membawa kotak-kotak kue itu dan tersenyum sekilas pada Yoona.
"Oke, bye. Aku mungkin akan kembali sekitar pukul 6," pamitnya.
"Bersenang-senanglah~"
.
Sungmin menjejakkan kakinya pada salju yang menutupi jalannya dan melangkah ke arah Kyuhyun. Pemuda tinggi itu tanpa suara mendekatinya untuk mengambil kotak kue dari tangannya dan menempatkannya di bangku belakang mobilnya. Kemudian keduanya masuk ke mobil yang sudah dilengkapi dengan penghangat.
"Panti asuhannya tidak terlalu jauh dari sini, paling hanya butuh sepuluh sampai lima belas menit." Sungmin menjelaskan ketika dia menutup pintu mobil dan meniup-niup tangannya yang membeku.
Melirik Sungmin yang mengusap-usap tangannya untuk mencari kehangatan, Kyuhyun meraih dan membuka laci dasbor kursi penumpang. Dia mengeluarkan sepasang sarung tangan dan menyodorkannya pada Sungmin.
"Terima kasih." Sungmin memberikan senyuman sebagai tanda ia menghargai apa yang Kyuhyun berikan, lalu mengambil sarung tangannya. "Bagaimana denganmu?"
"Aku tidak butuh." Kyuhyun menjawab sambil melepaskan kacamata hitamnya dan menghidupkan mesin.
Dia kemudian berkendara dengan lembut di jalanan yang licin.
Tanpa alasan, Sungmin menatap sisi wajah Kyuhyun sebentar.
Tapi, ketika Sungmin sadar apa yang tanpa sadar tengah ia lakukan, ia dengan cepat mengalihkan pandangannya ke depan. Mendekatkan tangannya ke pemanas untuk melelehkan rasa dingin, ia memilih bertanya untuk menutupi kegugupannya.
"Ada berita baru?"
Kyuhyun menghentikan mobilnya di lampu merah pertama.
"Hmm," gumamnya. "Sudah bukan berita baru lagi kalau terkait dengan orangtuaku yang melakukan kekerasan setelah apa yang kulakukan."
"Apa yang terjadi?" Sungmin bertanya dengan nada khawatir.
"Tidak banyak." Kyuhyun menjawab acuh tak acuh.
"Jangan bilang mereka melemparimu dengan batu bata atau semacamnya."
"Tidak persis seperti itu, tapi, itu tadi hampir benar. Jawabannya adalah asbak."
"Ya Tuhan...kau tidak terluka? Kau baik-baik saja?" Sungmin tercekat, kaget karena mendengar kata asbak.
Kyuhyun tertawa pelan karena reaksi Sungmin. "Aku baik-baik saja."
"Aku sudah mengatakannya hal ini beberapa kali sebelumnya, tapi aku tidak percaya betapa keras mereka padamu." Sungmin menggeleng. "Apa yang mereka lakukan itu melewati level disiplin."
"Well, kalau kau ingin menjalani kehidupanku, sebaiknya kau terbiasa dengan itu." Kyuhyun berkata seakan hal itu bukan masalah sama sekali.
"Apa mereka biasanya sekasar itu padamu?"
"Biasanya mereka tidak kasar sama sekali." Kyuhyun menjawab dengan cuek. "Mereka ingin tampil sebagai kaum elit di depan orang-orang, jadi mereka mencoba untuk tidak membiarkan amarah menguasai mereka karena itu akan membuat citra mereka buruk."
"Lantas untuk alasan apa biasanya mereka akan sangat marah padamu?"
"Mereka hanya akan melakukannya kalau mereka benar-benar merasa kecewa. Aku tidak bisa mengingat alasan yang lain. Kali terakhir mereka memutuskan untuk melempar asbak ke arahku adalah ketika aku remaja."
"Apa yang kaulakukan waktu itu?" Sungmin bertanya hati-hati.
"Kau sudah tahu," kata Kyuhyun, menginjak pedal gas ketika lampunya berubah hijau.
Memang, Sungmin sudah tahu.
Itu mungkin ketika keluarga Kyuhyun pertama kali tahu tentang orientasi seksualnya yang menyimpang.
Saat itu, Kyuhyun baru berusia 16.
Sepuluh tahun setelahnya, dia menyimpang lagi. Kali ini dia tahu dia tidak melakukan kesalahan apapun. Semua itu karena ada Sungmin sekarang yang mengingatkan dirinya kalau tidak ada yang salah dengan yang ia lakukan. Bahwa, faktanya, dia tidak 'menyimpang' sama sekali
"Apa mereka tahu kau pergi denganku?" Sungmin bertanya.
"Ya," kata Kyuhyun, memutar stir mobil dengan satu tangan untuk berbelok di persimpangan.
"Benarkah? Aku terkejut mereka memberimu izin." Sungmin mengangkat alisnya.
"Mereka tidak tahu aku sedang melakukan sesuatu bersamamu." Kyuhyun menjawab. "Mereka pikir aku kesini untuk menyelesaikan semua hal yang ada antara kau dan aku, entah apapun itu. Well, itu adalah salah satu syaratnya."
"Syarat?"
"Mereka akan membiarkanku tetap bekerja di perusahaan dengan syarat aku memberhentikanmu dan aku mau menikah minggu depan."
"Minggu depan?" Sungmin memekik.
Kyuhyun menyeringai. "Maka dari itu, sekarang lihat dan perhatikan aku baik-baik, karena aku akan segera pergi."
"Apa—jadi kau benar-benar akan memberhentikanku?" Sungmin bertanya, tidak percaya.
"Siapa yang bilang begitu?" Kyuhyun tertawa pelan. "Maksudku, perhatikan aku baik-baik sebagai seorang pria lajang sekarang, karena aku sudah tidak akan lajang lagi minggu depan."
"Kenapa kau setuju dengan ini?" Sungmin berkata dengan ekspresi yang menunjukkan kalau dia tidak memahami Kyuhyun, meskipun dia sadar betul kenapa Kyuhyun mau setuju dengan ini. "Kau bahkan tidak mencintai tunanganmu."
Pada saat itu, Kyuhyun menoleh ke psikiater di sampingnya.
Kemudian, seakan untuk mengetes lawan bicaranya, dia membuka mulutnya untuk bertanya.
"Bagaimana kau bisa sangat yakin kalau aku tidak mencintai tunanganku?"
Sungmin terperangah.
"Kau mencintainya?" tanyanya.
"Aku bertanya duluan padamu."
"Well-"
Sungmin tidak bisa menyelesaikannya.
Apa yang bisa ia katakan?
Sungmin jelas-jelas tidak bisa mengatakan 'karena kau cinta padaku,' walaupun faktanya memang kata-kata itu yang pertama kali muncul di benaknya sebagai jawaban atas pertanyaan Kyuhyun.
Sungmin tidak mungkin membenarkan kata-kata itu dan memberikan harapan pada Kyuhyun. Memperjelas hal yang jelas-jelas seharusnya dihindari Sungmin.
Sungguh sebuah ironi karena, Sungmin, sebagai psikiater profesional, diharapkan untuk sangat terlibat dalam kasus pasien-pasiennya dan memberi harapan pada mereka, tapi disaat yang sama, dia juga diharapkan untuk tidak melakukan hal yang sama terkait hubungan personal yang intim dengan pasiennya.
Ada garis tipis di antara keduanya, dan merupakan sebuah pekerjaan sulit untuk mempertahankan garis itu.
Dia harus, dengan cara apapun, menjaga garis itu agar tetap pada tempatnya, serentan apapun garis itu.
Dia tidak boleh membuat kesalahan lain seperti yang ia buat dengan Kangin.
Dia tidak boleh.
"Aku…tidak yakin." Sungmin akhirnya bersuara. "Kau bilang kau lelah dengan semuanya, dan kuasumsikan kalau pertunanganmu juga sesuatu yang membuatmu lelah. Tapi, tidak, kau benar, itu hanya asumsi dan aku seharusnya tidak bisa seyakin itu kalau kau tidak cinta pada tunanganmu."
"Aku tidak bilang kalau ada jawaban yang benar atau salah." Kyuhyun membalas.
Jeda sekian menit diantara mereka berdua.
Dari jendela mobil, Sungmin menatap apapun yang mereka lewati.
Ada halaman rumput yang disiangi dengan sempurna, jalan beraspal yang sempurna, pohon-pohon yang dihias dengan sempurna. Hampir semuanya terlihat serupa dengan persegi siku siku yang kesempurnaannya menggangu, sebuah kebebasan yang dijepit dengan tegas oleh rantai bertaring empat.
Semuanya segaris dan berurutan, kelihatan sangat bersih dan mengilap, hingga nyaris sampai pada titik dimana rasanya jadi tidak nyaman dan membuat gelisah.
Sungmin juga merasa tidak nyaman dan gelisah.
Dia berhasil menjaga pembawaannya tetap kelihatan tenang, tapi jauh di dalam, ia kacau balau, pikirannya kesana kemari dan suaranya terjepit.
Meski begitu, Kyuhyun melanjutkan.
"Tapi kupikir kau sebenarnya sudah tahu jawaban apa yang benar," katanya.
Dan ketika Sungmin tidak merespon, Kyuhyun menambahkan.
"Kau hanya menolak mengatakannya."
Dengan pernyataan itu, jantung Sungmin berdebar kencang.
Jelas bahwa Kyuhyun tahu apa yang sedang Sungmin pikirkan.
Dia tahu kalau Sungmin ragu-ragu mengatakan 'kau jatuh cinta padaku, bukan pada tunanganmu.'
Kyuhyun juga tahu alasan Sungmin tidak boleh mengatakan hal semacam itu pada pasiennya.
Sebuah alasan yang menyakitkan, tapi tidak terelakkan.
Menyakitkan, tapi itulah kenyataannya.
"Aku tidak menyalahkanmu." Kyuhyun melanjutkan dalam bisikan tajam. "Selama kau tidak menolak hal itu memang ada di kepalamu."
Sungmin menutup matanya.
Dengan kata-kata Kyuhyun yang penuh perhatian, jantung Sungmin bereaksi dengan cara yang tidak diinginkan Sungmin.
Dan dia tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.
Menyadari kesulitan yang Sungmin hadapi saat ini, Kyuhyun merapatkan giginya.
Dia tidak bermaksud memaksa Sungmin masuk ke dalam posisi yang sulit. Yang ia inginkan hanyalah melihan senyum Sungmin.
Apa itu terlalu sulit?
Meski begitu, dia berhasil mengganti topik.
"Ceritakan tentang temanmu yang bekerja di panti asuhan." Dia bicara seolah tak ada hal yang ia cemaskan, mencoba mengabaikan desiran sakit samar di hatinya.
"Emm," Sungmin memulai dengan perlahan, juga mencoba mengabaikan respon jantungnya. "Dia satu tahun di bawahku, dan sudah cukup lama bekerja sebagai sukarelawan. Ayahnya pendeta di gereja yang menjalankan panti asuhan itu, jadi sedikit banyak dia yang mengurus bagian administrasinya. Dia orang yang benar-benar baik, aku yakin kau akan menyukainya."
"Kedengarannya lumayan," balas Kyuhyun setuju.
Setelah berkendara selama beberapa menit, mobil Kyuhyun akhirnya memasuki area pekarangan di depan sebuah bangunan berbata, dengan taman bermain kecil bersalju di sampingnya, tempat dimana sejumlah anak-anak melompat kegirangan dan bermain petak umpet.
Pemandangan panti asuhan itu nyatanya lebih hidup dan lebih riang. Melampaui apa yang sempat Sungmin dan Kyuhyun bayangkan sebelum ini. Dan untungnya, hal itu berhasil membantu mencairkan atmosfir di antara keduanya.
"Kita sampai." Sungmin berseru dengan senyum lembut, melepas sabuk pengamannya.
Mereka berdua melangkah keluar dari mobil, membawa kotak kue yang mereka siapkan untuk anak-anak panti. Segera setelah menjejakkan kaki mereka di pintu masuk bangunan panti asuhan, terdengar sambutan riang dari laki-laki yang luar biasa tampan, yang nyaris berlari tergopoh-gopoh ke arah pintu hanya untuk menyambut tamunya dan memeluk Sungmin erat-erat.
"Kau datang, Min!" Laki-laki itu memekik. "Aku sangat senang melihatmu!"
"Senang melihatmu juga, Siwon." Sungmin balik membalas dengan salam yang sama menyenangkannya, lengkap dengan senyum lebar di wajahnya. "Apa kabar?"
"Aku hebat, bagaimana denganmu?" Siwon melepaskan Sungmin dari pelukan kelewat eratnya, yang mungkin bisa meremukkan tulang, dan kemudian beralih menyentuh pipi Sungmin. "Hei, kelihatannya kau kurusan. Apa semuanya baik-baik saja?"
"Tentu, semuanya baik-baik saja." Senyum Sungmin makin lebar.
Dia kemudian memberi isyarat ke arah Kyuhyun.
"Ini Kyuhyun, yang kuceritakan waktu itu," katanya memperkenalkan. "Kyuhyun, ini Siwon."
"Senang bertemu denganmu." Siwon mengulurkan tangannya untuk sebuah jabat tangan yang tegas, yang diterima Kyuhyun dengan sepatutnya.
"Aku juga." Kyuhyun berkata, agak terhibur dengan aksi hyper teman Sungmin yang satu ini.
"Well, apa lagi yang kalian tunggu, masuk, masuk!" Siwon menuntun keduanya ke dalam panti. "Kita minum teh dan ngobrol dulu sebelum kuajak berkeliling. Oke?"
Mereka bertiga berjalan melewati koridor untuk menuju ruang santai.
Ruangan itu luas dan penuh dengan lampu, lebih memberikan kesan sebuah hotel daripada sebuah panti asuhan.
"Silahkan duduk." Siwon menawarkan, langsung menuju dapur kecil di samping ruang santai untuk menyiapkan air panas. "Kalian mau apa? Ada teh, kopi, cokelat panas, jus."
"Aku cokelat panas," Sungmin mengayun jawabannya.
"Seperti biasa." Siwon tertawa, mengeluarkan tiga mug dan beralih ke Kyuhyun. "Dan kau, temanku?"
"Kopi rasanya cukup." Kyhyun menjawab.
"Cuma ada yang instan, tidak masalah?"
Jawabannya adalah tidak.
Kyuhyun tidak pernah suka makanan instan, terlebih kopi instan.
Satu-satunya kopi yang akan dia minum adalah espresso hitam, langsung dari bijinya.
"Aku teh saja kalau begitu," katanya.
Siwon mengangkat alisnya. "Aku tahu itu. Kau memang sulit, seperti yang kuduga."
"Seperti yang kauduga?" Sungmin bertanya. "Apa maksudmu? Kau berbicara seakan kau sudah tahu dia."
"Well, kau lihat wajahnya di koran akhir-akhir ini, kan?" Siwon berujar. "Lengkap dengan semua topik pernikahan itu. Seperti… berapa harga cincin kawinnya, seberapa mahal gaun pernikahan untuk pengantin wanitanya, dan seberapa penting pernikahan ini jika dinilai dari segi ekonomi kedua pengusaha top negeri ini. Dan bla bla bla. Dia sudah hampir seperti selebriti."
Kyuhyun menyatukan alisnya tapi tidak mengatakan apa-apa.
Karena memang benar kalau media, khususnya koran bisnis, sama-sama sibuk bersaing demi melaporkan berita terkait pernikahan Kyuhyun dan Jessica. Pernikahan yang menjadi simbol bergabungnya dua perusahaan paling sukses dan kontroversial di negeri ini. Tidak heran setiap kamera kalut mengulas setiap detil 'pasangan bahagia' yang sekarang sedang panas.
Kyuhyun selalu memandang remeh perhatian semacam ini dari masyarakat. Ia tidak pernah memintanya. Tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang diperlukan.
"Saat itulah aku melihatmu untuk pertama kali, dan saat itu juga aku pikir kau mungkin sedikit banyak golongan orang garis keras," ujar Siwon pada Kyuhyun, sama sekali tidak memikirkan apakah pilihan katanya sopan atau tidak.
Menarik rasanya, menemukan seseorang, selain Sungmin dan Heechul, yang memilih untuk bicara dengan sangat jujur dan apa adanya, tanpa repot mempertimbangkan kemungkinan adanya frasa lain yang maknanya tidak sekuat yang mereka ucapkan.
Sungmin benar. Ternyata mungkin bertemu dengan orang yang benar-benar berbeda begitu ia mau keluar dari kotak tempatnya hidup, dan panti asuhan ini adalah tempat yang bagus untuk memulai semuanya.
"Tapi sekali lagi, menjadi CEO sekaligus senior partner dari perusahaan seperti SJ Ltd, kau pasti mau tidak mau jadi sedikit begitu." Siwon mengangkat bahunya, membawa minumannya ke meja tempat Sungmin dan Kyuhyun duduk. "Silahkan."
"Ngomong-ngomong, kami membawa kue untuk anak-anak." Sungmin meletakkan kotak kuenya di meja.
"Wow, terima kasih." Siwon tersenyum lebar. "Lihat, sudah kukatakan padamu, kau pasti akan langsung jadi sukarelawan hebat sejak awal. Coba kutanya pada kalian berdua. Pernah melakukan pekerjaan sukarelawan dimanapun sebelum ini?"
Sungmin menjawab 'ya' dan Kyuhyun menjawab 'tidak'.
"Nah, tidak perlu khawatir." Siwon berkata pada Kyuhyun. "Tapi, terpaksa harus kukatakan padamu, ini bukan pekerjaan yang mudah. Mereka bukanlah anak-anak biasa yang kau lihat di sekitarmu. Maksudku, mereka semua anak-anak Tuhan, tapi mereka kurang beruntung, kau tahu. Mereka yatim piatu. Ditambah lagi, mereka disabel. Dan itulah kenapa mereka lebih membutuhkan kepedulian kita, lebih dari anak-anak lain."
"Itulah kenapa kami disini." Sungmin tersenyum berseri-seri dengan manisnya. "Aku mau langsung ke tahap itu. Jadi, kenapa tidak langsung beritahu apa yang harus kami lakukan?"
"Oke, pertama-tama," Siwon menunjuk wajah Sungmin yang masih tersenyum. "Berhenti tersenyum seperti itu, kau tahu aku tidak bisa menolak senyummu yang seperti itu."
Sungmin tertawa, memukul tangan Siwon menjauh dari wajahnya dengan bercanda.
Tapi, Siwon tidak langsung mundur, dia meraih dan mencubit pipi Sungmin.
"Kau benar-benar kurusan, tapi masih sangat imut," katanya. "Sulit dipercaya kalau kau lebih tua dariku, kadang-kadang."
Saat itulah Kyuhyun turun tangan.
Dia memegang tangan Siwon dan dengan halus mendorongnya menjauhi pipi Sungmin.
"Kupikir kau seharusnya memberitahu apa yang harus kami lakukan?" kata Kyuhyun agak ketus.
Mata Siwon melebar beberapa detik karena interupsi Kyuhyun, tapi kemudian melebarkan cengiran di wajahnya.
"Oh, aku tahu apa yang terjadi disini." Dia tertawa kecil, mundur perlahan.
'Yah, tidak heran,' pikir Siwon. 'Siapa sih yang bisa menolak Min?'
Tertawa sendiri, dia berdiri dan berjalan ke arah lemari di sudut ruang santai.
"Baiklah," katanya, mengeluarkan suatu yang tampak seperti pakaian berwarna merah dari lemari. "Kita akan langsung mulai, seperti yang kau bilang. Kalian harus pakai ini kalau tidak mau mengotori pakaian kalian. Setelah itu akan kuberitahu apa yang harus kalian lakukan."
Dia melempar dua pakaian merah itu ke meja.
Yang mengejutkan Kyuhyun adalah pakaian merah itu ternyata celemek.
Sungmin sudah mengambil salah satunya dengan ekspresi bersemangat.
"Bersiap, guys." Siwon berseru pada mereka, juga memakai celemeknya. "Kalian akan menjadi Mummy dan Daddy untuk anak-anak hari ini."
"Kau pasti bercanda." Kyuhyun bergumam, menatap jengkel ke arah celemek merah di meja yang ada di hadapannya.
"Yah, aku tahu kau tidak akan mau memakai itu." Siwon merespon. "Tenang saja, ini bukan sebuah keharusan yang absolut atau semacamnya, jadi kau tidak harus mengenakannya, tapi aku tidak menjamin kalau kemejamu bisa keluar dari tempat ini dengan keadaan tak tersentuh sama sekali."
Sungmin melepas syalnya dan bangun dari bangku untuk mengenakan celemeknya.
Setelah terkagum-kagum karena ukurannya yang ternyata sangat pas dengan badannya, dia mengambilkan celemek yang satu lagi untuk Kyuhyun.
"Tidak mau." Kyuhyun menggelengkan kepalanya ketika Sungmin menyodorkan celemek itu kepadanya.
"Ayolah, ini pasti menyenangkan." Sungmin tertawa kecil.
"Aku gagal menemukan apapun yang menyenangkan dari benda ini. Aku akan melakukannya dengan caraku."
"Tapi kalau kita akan jadi Mummy dan Daddy, akan lebih baik kalau kita pakai sesuatu yang mirip satu sama lain."
"Tidak, kita tidak harus melakukannya."
"Oh, ayolah." Sungmin tersenyum dengan sangat menyilaukan. "Lakukanlah untukku, Kyuhyun."
'Ya Tuhan.' Kyuhyun berpikir, hatinya mencelos.
Siwon benar.
Senyum Sungmin benar-benar tidak bisa ditolak.
Dengan senyum itu, Kyuhyun tahu dia pasti akan kalah kalau beradu agumen dengan Sungmin.
Kyuhyun tahu saat ini dia justru sedang mencari masalah.
Tapi, sial, pemuda manis itu ingin Kyuhyun melakukan itu semua untukknya.
.
.
.
To Be Continued
I REALLY AM SORRY FOR THE DELAY. Sebagai permohonan maaf saya panjangin chapter ini jadi 9000an words *wink*
Pengakuan: chapter ini berat banget buat diselesaiin. Karena…saya punya kehidupan di luar kapal ini sebagai penerjemah lepas, freelance bookkeeper, guru privat (dan 2 minggu ini lagi musim UN buat murid saya yang kebanyakan kelas 9 dan 6), dan penghuni kapal lain yang sudah saya diami setahun terakhir ini hehe. Sebenernya saya lumayan against ide penulis nulis personal issues disini karena no one gonna bats an eye lol xD tapi yah, sebagai precaution aja sih :) ga lagi-lagi kok saya ngomongin beginian di a/n, suer. Dan…sebagai precaution lain, saya ga akan janjiin kapan apdet chapter 11 karena takut ada kejadian ga terduga lain. Tapi saya tetep nyoba commit dan konsisten sama apdetnya, semoga masih ada yang mau :'D
Oh, satu lagi, chapter ini dipublish tanpa beta, jadi pasti banyak kesalahan, saya udah kebelet mau ngapdet banget soalnya begitu selesai ngedit xD
Beribu-ribu terima kasih buat dukungan, kesabaran dan… 'sindirannya' juga (lol xD sukses bikin saya parno buka kotak review) sekali lagi saya sumpah super duper minta maaf.
