Apa yang terjadi selama 4 musim yang kita lalui bersama akan menjadi kenangan dan pelajaran yang berharga.
Bagimu.
Untuk kita berdua.
Kau menetapkan hal yang berbeda di dalam hatimu. Begitu pula diriku. Kita tidak bisa lagi menjalani hidup setiap hari dan bertingkah seolah hari-hari itu tidak pernah ada. Seolah-olah Kise Ryouta dan Kira Izumi tidak pernah menjalin hubungan kosong yang mengingatnya saja bisa membuat salah satu pihak di antara keduanya menderita.
Aku tahu bahwa aku sudah sangat kehilangan.
Dan kau, Izumi, pun tahu bahwa kau sudah terlalu banyak memberi.
Kebodohanku, keanaifanku adalah apa yang dipersalahkan untuk semua masalah ini.
Murid-murid di sekolah mulai menyadari perubahan yang terjadi. Mereka saling berbisik, saling membagi rahasia dengan kikikan geli dan rasa lega yang begitu jelas terlihat di wajah mereka. Aku sampai harus membuang muka, tidak mampu bersuka ria dengan apa yang mereka sukai. Entah sejak kapan, aku hanya bisa tersenyum nanar dengan kegetiran nampak di garis bibirku.
Tidak ada yang patut disenangkan dari perubahan ini.
Dan kau, Izumi, berjalan melewatiku seolah aku tidak pernah berdiri di sisi jalan,
memandangmu dengan perasaan yang begitu dalam,
yang dimana aku membiarkan semua orang melihatnya.
Melihat hasil dari perubahan di antara hubungan kita berdua.
.
.
Permulaan yang Baru
Rozen91
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
.
.
"Izumi," aku memanggil namamu, "kau tidak mau bicara padaku lagi?"
Aku memejamkan kedua mataku. Apa yang kau katakan, baka? Sudah jelas dia tidak mau berurusan denganmu lagi...
Hembusan angin terdengar sangat keras memenuhi indra pendengaranku. Kau sangat pendiam. Kau tidak menanggapiku. Menghentikan lagkah untuk menandakan kau melihatku pun tidak. Di koridor itu, kau berjalan dengan tatapan lurus ke depan, mengabaikan pertanyaanku. Mengabaikanku.
Aku sudah sangat melukai perasaanmu.
Dengan semua rasa sakit yang kusebabkan untuk kita berdua pun, tak ada yang kudapatkan. Dan inilah racun yang berhasil kuramu dari seluruh kebodohanku. Sikap dinginmu menjadi berkali-kali lipat lebih menyakitkan daripada sebelumnya.
"Izumi."
Di hari itu juga, ketika aku menghampiri bangku di taman belakang sekolah yang selalu menjadi tempat dimana kau menyendiri dengan buku di tanganmu, kau tidak bergeming biarpun mendengarku. Angin menggoyangkan ujung kemeja putih seragam musim panasku. Rasanya sejuk mengingat suhu udara dan teriknya sinar matahari kini membuatku berkeringat. Kurasakan peluh meluncur di sisi wajahku.
"Kau tidak mendengarku?"
Dan kau sama sekali tidak bergeming.
Hari itu banyak hal yang membuatku kelelahan. Bayangan rimbunan dedaunan pohon yang menaungi tempatmu duduk itu terlihat sangat mengundang. Aku bertaruh banyak untuk menghampirimu. Dan aku juga akan bertaruh banyak untuk bisa duduk di sampingmu tanpa kau bersikap seperti burung merpati liar yang akan langsung terbang begitu dikagetkan. Sungguh, Izumi, aku tak ingin mengganggumu, tapi hari sangat panas dan melelahkan.
Hari itu sangat panas dan melelahkan.
Akan tetapi, dirimu yang tetap duduk biarpun tahu kalau aku duduk di sampingmu itu, entah kenapa menggerakkan bibirku untuk membentuk senyum lega yang untuk pertama kalinya
sejak musim semi yang lalu
dengan tulus terulas tanpa kebohongan.
"Terima kasih."
Toleransi yang sedikit kau longgarkan untukku itu
terasa menenangkan.
Nyanyian serangga musim panas memberi nuansa untuk keheningan yang kadang kusadari ada bersamamu. Begitu tenang. Nyaman. Aku menekuk kepalaku ke belakang, menengadahkan wajah ke langit biru yang terang. Mungkin itu sinar matahari yang terlalu terik dan menyengat. Aku menaruh lengan di atas mataku. Terlalu terang.
Aku tersadar.
Terlalu terang.
"Kau tahu," mulaiku membuka suara, "aku tidak selalu melihatnya...di dalam dirimu."
Aku akan membuka rahasia.
Aku akan mengatakan kebimbanganku.
Harapan-harapan konyol.
"Kalau kau mengingatnya lagi... kau pasti bisa menyadarinya."
Kau mungkin mengingatnya untuk memberikanmu pelajaran dan disiplin.
Kau mungkin tidak akan melupakannya.
"Kau mungkin tidak percaya ini, tapi," aku menoleh, memandangmu dengan manik emas yang bersinar dalam kejujuran.
"Aku juga selalu melihatmu."
Memandangmu.
Memperhatikanmu.
Di bawah langit biru yang begitu terang dan mempesona, kau berdiri di ujung jangkaun penglihatanku. Iris kelabumu menatapku dalam diam. Dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengalihkan mata ke arahmu. Mengalihkan mata dari langit biru yang merupakan poros dari dunia seorang Kise Ryouta.
Memandangmu.
Memperhatikanmu.
Kau mengalihkanku.
"Apakah aku punya kesempatan..."
Sorot mataku tidak goyah.
Sikapmu pun tidak.
"Izumi, agar kau memaafkanku?"
Angin membelai helaian rambut pirangku. Poni hitam yang lurus membingkai wajahmu bergerak teratur. Kedua matamu lurus terpatri pada kata-kata yang tercetak di dalam halaman buku di tanganmu.
Aku akan tergugah kalau kau begini terus. Perasaan yang menguar di udara sangat kental dan terasa menyesakkan. Dirimu tetap diam seolah di sini, di tempat ini, hanya ada dirimu dan kesendirian. Begitu banyak perasaan yang menguap seperti asap yang membumbung tinggi ke langit. Dan aku bisa memejamkan dan melihatmu dalam kehampaan yang telah kupicu di dalam kehidupanmu. Aku bisa saja tergugah tanpa mampu mengontrol emosiku.
Aku kembali menyandarkan punggung di badan bangku. Kedua tanganku saling bersilang menutupi bagian atas wajahku. Entah bagaimana lagi aku harus membujukmu untuk membalas satu kata saja padaku.
"Kurokocchi," aku menelan ludah, "aku sudah tidak punya perasaan apapun lagi padanya."
Itukah yang ingin kau dengar?
Atau aku sudah terlalu jauh mengasumsikan semuanya?
"Kau berbohong, Kise-san."
Sontak kedua bola mataku bergulir ke arahmu. Kau tidak merubah posisi. Tidak merubah sikap. Dan aku nyaris berpikir bahwa angin sedang menjahiliku. Tapi, kau kembali berbicara. Dengan suara yang lama kurindukan untuk ku dengar. Irama yang familiar. Nada dingin yang tidak berubah.
"Perasaan seperti itu tidak mungkin hilang dengan cepat."
Mungkin kau benar.
"Kise-san juga keras kepala. Apakah perasaan seperti itu bisa hilang dari hatimu?"
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Gigiku saling bergesek.
Geram.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Keheningan jatuh seperti selimut tebal dari langit. Kau kembali melanjutkan aktifitasmu, meninggalkan diriku bergelung di dalam pikiranku sendiri. Terjebak oleh pertanyaanmu yang begitu membingungkan.
Kau sangat kejam.
"Izumi..."
Kedua tanganku turun, jatuh di kedua lututku. Iris emasku bergerak melirikmu. Kau tidak menatapku. Tapi, waktu itu, kau menutup bukumu. Kedua matamu lurus ke depan. Dan kau kembali berbicara.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Kise-san."
Ah.
Tetap saja, Izumi...
Kau terlalu baik.
"Aku sudah mempermainkan perasaanmu."
Wajahmu tidak berpaling. "Kau tidak tahu perasaanku, Kise-san."
Kedua mataku terpejam.
"Aku sudah memanfaatkan kepercayaanmu padaku."
Kedua matamu tidak berkedip, "Kau juga tidak tahu apa-apa tentang hal itu."
Tangannku kuletakkan di atas badan kursi, nyaris menyentuh pundakmu. Kugerakkan badanku hingga sedikit menghadapmu. Sementara itu, sedikit kumiringkan kepalaku. Memandangmu.
"Kau benar, " ucapku dengan senyum kecil, "aku tidak tahu apa-apa tentangmu."
Kau terdiam. Dan dengan perlahan, kau menolehkan wajah dan melihatku dari ujung matamu.
Senyumku melebar. Aku tidak bisa menahannya. Perasaan senang ini membawaku ke dalam derasnya perasaan yang seolah baru saja menabrakku dengan kecepatan yang luar biasa.
Akhirnya kau menatapku. Melihatku.
Punggungku lantas menjauh dari badan kursi. Tanganku kulayangkan ke depanmu.
"Kalau begitu, Izumi, ayo mulai dari awal lagi."
Kuulurkan tangan itu ke arahmu dan kedua matamu tidak beranjak dari iris emas yang menatapmu hangat ini.
Senyum khas yang hanya menggambarkan kesenanganku saat bermain bola basket kini terulas di bibirku.
"Perkenalkan," kataku, "namaku Kise Ryouta."
Ekspresi wajahmu tidak memperlihatkan tanda-tanda. Tapi, waktu itu, kau menaikkan dagumu.
Dan sekilas,
aku melihat senyum tipis di bibirmu. Yang membuatku terpaku, tertegun untuk beberapa waktu yang lama. Hingga kau berkata,
"aku tahu."
Semilir angin berhembus pelan dari belakang tubuhku. Membelai rambut pirangku dan juntaian helaian berwarna hitam di punggungmu. Kau memang tidak membalas uluran tanganku. Namun, aku tahu, Izumi, dari sedikit tanggapan yang kau berikan padaku,
kau telah memberikan celah padaku.
Aku tidak bisa menahan senyum bahagia di wajahku.
"Salam kenal, Izumi."
Kau hanya menatap sejenak sebelum kembali memberi perhatian pada bukumu. Tapi, kau menjawab, "salam kenal, Kise-san."
Aku sangat senang. Cengiran yang nampak di wajahku saat itu mungkin sudah membuatku terlihat seperti orang tolol. Tapi, aku tidak peduli. Perasaan yang meledak-ledak di hatiku tak bisa kutahan. Aku sangat senang, Izumi.
Hari itu kita berdua duduk di bangku taman yang sama, di pisahkan oleh jarak yang dimana kita berdua duduk di ujung yang berbeda. Angin musim panas kadan menggoyangkan dahan-dahan pohon yang melindungi kita berdua dari teriknya sinar matahari. Kau membaca, semenatara aku memandang langit biru dan berpikir bahwa langit hari itu akan mengingatkanku pada hal yang berbeda. Bukan lagi tentang Kurokocchi. Tapi tentang hari ini.
Tentang hari ini. Yang dipenuhi oleh nyanyian serangga-serangga musim panas yang saling bersahutan. Angin yang mengantar kesejukan. Sinar matahari yang cerah. Bayangan pohon yang rindang.
Hari ketika aku membuka permulaan yang baru.
Untukku.
Untuk kita berdua.
_tamat_
Alhamdulillah! ! Setelah sekian lama menunggu, akhirnya author menerbangkan chap terakhir, yang sekaligus juga menandakan berakhirnya periode fic perdana author di fandom 'Basket punya si Kuroko.' #plak!
Selamat buat Kise yang udah berhasil membuka hidup baru yang lebih berarti. Nanti syukurannya jangan lupa undang author, yaaa! ?
Kise : Enak aja!
Yoshaaa! ! SPECIAL thanks to:
guest, Ayanoshida, Kaito Akahime, Guest, guest-sama, Hitomi Matsu, .9, stillewolfie, Niechan Seicchi, Juvia Hanaka, Yukina, Shirokurin, ShiroiAn, dan Cho .. :D
Saya senang sekali mendapat review dari para pembaca di atas. Terima kasih karena sudah mengikuti perjalanan Kise dan Izumi hingga ke chapter terakhir ini. Mohon maaf, ya, saya jarang merespon review para pembaca sekalian, terutama beberapa reviewer tertentu yang sering mampir #maaf, yaaa!... #hahaha #tampar
Yosh! ! Thanks for reading! !
—Rozen91
_Another Laurant in the mist
