Aku sakit dua minggu ini, harus periksa darah terus dan lain lain lain lain…. Jadi aku nggak bisa sama sekali buka facebook maupun fanfiction, walaupun masih bisa nge-roleplay pakai hape mamaku…. (ketawa nggak jelas) Udah gitu yang ada di 'JIkan' ada beberapa nggak ada di sini, jadi maaf!

Aku harap semuanya baik-baik saja ya! Maaf sekali karena update-nya ngaret, kemungkinan next chapter juga akan ngaret lagi -_-''' Aku akan sangat menghargainya bila ada yang mau ngereview cerita nggak jelas yang kubuat ini. Terima kasih :3 cuap-cuap

Dear, dear, dear,

Fairy Tail bukan punyaku, punya bang Hiro Mashima. Kalau punyaku, kubikin Juvia kebunuh dengan tragis sekali. Oke, no comment soal itu ya? Itu kan kalau, berandai-andai boleh lho ._. (tertawa innocent nggak jelas)

Ini balasan review, dan silahkan tumpahkan review anda lagi *bows *

Anonymousgirl88: Heheh… kebanyakan orang mikir kalau Mirajane mengira Lucy adalah Michelle, walaupun mirip-mirip jawabannya tapi bukan ^^; Mirajane itu pinter gitu, pasti dia tahu kalau dia tidak bisa menyimpulkan sesuatu tanpa fakta :D Quotesnya Sherlock Holmes, 'Jangan menyesuaikan fakta kepada teori, tetapi teori kepada fakta." ß aku buat dengan beberapa modifikasi, hehe… Review lagi ya

Akemi Yui: Bukannya kalau ada banyak clue jadi gampang nebaknya XD Memang aku belum masukin banyak clue, tapi seiring cerita berjalan akan jadi makin rumit :3 Dan nggak ada Lucy Ashley di ceritaku lho ;) ~ *wink*

Moka Heartfilia: Benarkah? Padahal di chapter sebelumnya (saya juga lupa chapter berapa -_-) Mirajane bilang dia akan melindungi Lucy Heartfilia dengan hidupnya, lho! Artinya kan Mirajane sayang banget sama Lucy :3~ Dan masalah Lisanna itu salah satu faktor penting kenapa Mirajane setia banget sama Lucy, itu clue! ;3

Yura 1: Om-Om? Itu hanya kata Lyon, lho! Aslinya dia itu om-om tahu deh. Hanya Tuhan dan Author yang tahu (?) Dan juga Ur :3 Sayang banget aku hanya nge-reveal dikit tentang Mirajane ._.; Hountou ni gomenasai, ne Yura-san? Dan scene Gray-Lucy? TADA! Pemohonan anda telah terkabulkan di chapter ini ;3 Silahkan cek! Buat anda terkabulkan (?) ßapaan dah Sama dong -_- aku nggak suka Mystwalker. Pairing di Earthland bukan berarti juga exist di Edolas, kan? Iya-kan!? (maksa banget nih author =,=;) Eh maaf Yura-san nggak jawab di chapter yang lalu. Soalnya berhubung Yura-san reviewnya pas mau update chapter dan belum sempet kutulis balesannya ya…. Akhirnya di chapter selanjutnya aja deh balasannya -_-' Mau bagaimana lagi? Ini nasib seorang Aria-chi yang terjebak dalam nostalgia(?) (Heran itu lagu terkenal banget ya, bagus juga nggak /plak/dikeroyok rame-rame/ ngelindur nih author)

Yura 2: Bagaaaaaiiimanaaa ya? (author pengen dijitak) Aiiih, terima kasih 3 Aku nggak buat begitu banyak clue sayangnya ya =_='' Terima kasih juga untuk ucapan selamat ulang tahunnya! Hanya anda yang mengucapkan lho :') /eaaalebaiapasih

Guest: Aku speechless nih mau ngomong apa O_O'' Terima kasih ya sudah meninggalkan review anda. Tolong review lagi di chapter depan bows

Mako-chan: Itu aku nggak bisa jawab lho o3o Mako-chan bisa lihat sendiri nanti kalau ceritanya sudah selesai ihey~ *nari-nari kagak jelas * Terus makasih banget tentang cowok gay itu TT^TT Hatiku rapuh, tapi bagaimana lagi. *psst * Tapi paling nggak aku dapet pelukan dari dia lah, yang terakhir kali :'( Sakit woi! /nggak ada yang nanya/ Gara-gara dia, aku writer's block lebih dari dua hari, terus dua hari penuh muterin lagu 'Wedding Dress' by Tae Yang karena dia emang udah nikah. Tapi karena dia cowok jadi harus diganti jadi 'Wedding Tux.' Author nyanyi nggak jelas keliling kampung(?) sama lagu itu. 'See you in your wedding tux, it's not me next to you. It should be me, whooah it should be me.' /Maaf curhatan author gaje ini jadi menghalangi balasan review. bows lagi

Bjatihowo: Iya lah nggak kaget, soalnya kan emang kukasih tau Mirajane ada demon sidenya -,-'' dan kubilang juga bakal kasih tau tentang Mirajane di chapter ini :O Ini satu kenapa nggak pernah ninggalin komentar manis-manis ya -_-'' Selain itu aku buat ini kan kea masih berdasarkan canon gitu O_O''

Himiki-chan: Nggak juga :D Jawabannya sampa kayak yang aku kasih tahu untuk anon girl. UN ya? Kelas 6 dong? Yeaaay~ Senangnya bisa menemani Himiki-chan belajar~ *huggles * /apaan dah n ih author/ /sok kenal sok dekat/ Oke lupakan deh. Akhirnya… JENG JENG! Lihat dong :O

Arigatou buat semua yang udah review! Aria sayang kalian semua! *hug all of the reviewers * Sebenarnya aku pengen nonaktifkan anon reviewers nih ;'( bagaimana pendapat readers semua? Perlukah? /eh/eh/eh/eh

Satu lagi! Enjoy reading and review!


Lucy terkejut sekali mendengarnya dari Mirajane. Apalagi ada pistol yang ditodongkan lalu mengangkat tangannya, seakan dia menyerah. Mirajane menyipitkan matanya dengan penuh perhitungan. Suasana terasa canggung untuk beberapa detik. Kemudian Lucy secara tidak sadar meneteskan air mata.

"KAU TELAH MEMBUNUH LISANNA." Desis Mirajane. Tapi melihat ekspresi Lucy yang tidak berubah, Mirajane berdehem.

Mirajane lalu menurunkan pistolnya. Dia masih menatap Lucy dengan tajam. Lucy yang gemetar mengepalkan tangannya dan tidak bisa bergerak. Dia terjatuh ke lantai, rambutnya menutupi wajahnya. Mirajane lalu membantu Lucy bangun.

"Maaf," gumam Mirajane kemudian menepuk punggung Lucy dengan hati-hati. "Aku hanya ingin mengecek, kautahu." Imbuhnya lagi lalu menaruh pistolnya di meja terdekat. Tidak lupa perempuan cantik ini menghela napas berat.

Perempuan di samping Mirajane itu menggaruk rambut pirangnya dengan bingung. "Maksudnya apa, Mira-san?"

Mirajane menggeleng dengan cepat. Dia mengangkat tangannya sambil melambaikannya. "Tidak ada apa-apa. Maaf. Lucy, kau tidak tahu pekerjaanku itu apa, ya?" Mirajane menutup mulutnya sambil tertawa kecil. Wanita yang mencerminkan kelembutan hati di luar, tapi mempunyai racun di dalam.

Gadis itu tersenyum lemah. "Aku tidak tahu. Sama sekali tidak tahu." Dia berucap dengan lemah. Mirajane kemudian menggandeng tangan perempuan itu untuk mengajaknya ke sebuah ruangan. Di ruangan itu, ada layar televisi tercanggih di mana-mana. Pistol tingkat tinggi, pistol berburu, gergaji dengan teknologi maksimum juga terpapar di sana.

"Aku agen Amerika, FBI. Salam kenal," Mirajane menundukkan wajahnya. "Tugasku di Jepang adalah mencari pelaku teroris yang membahayakan di sini. Dengan kata lain—"

Lucy menyambung, "Yakuza, bukan? Mafia Jepang!" Dia nyengir antusias karena berhasil menebak pernyataan yang diucapkan Mirajane.

Mirajane menyipitkan matanya dengan curiga. "Benar. Yakuza, kelompok yang paling besar. Namun, identitas kami tentunya dirahasiakan," dia berdehem sejenak. "Ada agen lain, tapi aku tidak bisa memberitahukannya padamu."

Perempuan itu mengangguk mengerti. "Hee… dan kenapa Mira-san memberitahu hal ini padaku?" Melihat ekspresi Mirajane, Lucy buru-buru menambahkan, "Maksudku, bukannya aku tidak berterima kasih karena Mira-san sudah memberitahukannya padaku. Tapi… ini kan rahasia! Agen intelijen terkemuka seperti itu—"

Agen yang tengah berdiri di depan Lucy itu melipat tangannya. "Aku diperbolehkan memberitahu dua orang sepanjang misiku ini. Dua orang itu akan harus memenuhi syarat, dapat menjaga kerahasiaan dan orang terdekatku. Orang yang satunya adalah Master Makarov."

"Ja-Jadi…" Lucy menunjuk dirinya sendiri. "Mira-san memberitahu aku? Untuk hal sepenting itu?"

Mirajane tertawa kecil. "Tidak apa-apa, kan? Lucy, kau juga bisa membantuku."

"Se-Seperti?" Lucy bertanya takut-takut.

"Memasak," Mirajane tersenyum keibuan. Lucy lalu menghela napas lega. Dia mengangguk antusias, kemudian segera mengikuti Mirajane ke dapur.

"Aku akan memasak hash brown. Ayo Lucy!" Mirajane lalu menyalakan lampu dapur.

Tanpa basa-basi, Mirajane langsung mendatangi rak oven putih kecil. Dia menyalakan ovennya dan menekan tombol 220 c.

"Ambil hash brown-nya, Lucy!" Perintah Mirajane. Lucy dengan sigap langsung mengambil hash brown yang sudah disediakan Mirajane di meja tidak jauh darinya. Rasanya Lucy sudah tahu apa yang harus ia lakukan. Perempuan itu mengambil oven dish dari lemari, lalu menaruh hash brown di oven dish itu.

Mirajane membuka lemari lain yang cukup tinggi. Ia lalu mengambil kaleng spageti dan membukanya dengan alat khusus. Setelah berhasil membukanya, Mirajane menuangkan isinya di atas hash brown itu.

Lucy mulai mengerti. Ketika iris biru Mirajane mengerling ke arah kulkas, Lucy langsung membuka kulkas dan mengambil empat butir telur. Tidak lupa ia mengambil mangkuk dan memecahkan telur di mangkuk itu. Perempuan itu menuang isi mangkuk itu ke atas hash brown.

Wanita berambut putih itu memarut keju dengan senyum terukir di wajahnya. Dia menaburkan keju itu di atas hash brown yang berwarna keemasan. Setelah itu ia segera memasukannya ke dalam oven.

"Selesai juga!" Mirajane mengelap peluhnya. "Sekarang, kita tinggal menunggu saja hasil hash brown-nya."

Lucy mengangguk. "Wah, aku dapat mencobanya di rumah untuk makan malam. Terima kasih, Mira-san!"

"No problem," Mirajane mengangguk sambil membereskan peralatan memasaknya. Lucy kemudian mengajak Mirajane untuk duduk di sofa. Walaupun tersirat sedikit ketakutan, tapi Lucy tetap saja nekat mengajak Mirajane duduk dekat dengannya.

Dia mengangguk dengan serius. "Mira-san, sebenarnya, apakah ada seseorang yang mirip denganku?"

"Eh—?" Mirajane kaget ketika ditanyai seperti itu oleh Lucy. Lucy menghela napas dengan frustasi.

"Habisnya, Gray itu aneh sekali denganku. Aku tidak habis pikir." Perempuan itu menggelengkan kepalanya dengan ekspresi pasrah. "Apa sih, yang dipikirkan lelaki itu?"

Seulas senyum terbentuk di bibir Mira. "Kau ingin tahu, Lucy?" Mirajane bertanya. Lucy hanya bisa menjawab dengan anggukan.

"Yosh! Kalau begitu, ayo!" Seru Mirajane lalu berjalan dengan cepat ke dapur. Ternyata hash brown-nya sudah siap. Dengan cekatan Mirajane mematikan oven lalu membuka lemari untuk mengambil sarung tangan khusus. Dia mengeluarkan loyang dari oven.

Harum dari hash brown itu menyebar ke seluruh dapur. Lucy yang baru masuk ke dapur berdecak kagum karena makanan itu merangsangnya untuk segera makan.

Bukannya segera menaruhnya di piring, tapi Mirajane mengambil aluminium foil dan mengambil jepitan untuk memindahkan hash brown ke atasnya. Lucy mengernyitkan dahinya, bingung akan tingkah Mirajane. Lalu Mirajane mengambil kotak kecil dan menaruhnya ke dalamnya.

"Mi-Mira-san…?"

Mirajane tidak peduli, dia lalu menyambar tangan Lucy lalu mematikan seluruh lampu. Segera saja perempuan itu memakai jaket panjang berwarna cokelat moka. Setelah itu dia mengambil kunci dan mengunci rumahnya sendiri. Mereka telah berada di jalanan dan menuju halte bus yang tidak terlalu jauh. Beruntung sekali, bus berwarna merah terlihat dari kejauhan. Mirajane merogoh saku jaketnya dan dia menggenggam uang 200 yen. [1]

"Stage berapa nak?" Tanya kondektur bus itu.

"Hm, satu," jawab Mirajane yakin kemudian duduk di salah satu bangkunya. Lucy yang kebingungan hanya bisa menelan ludah.

"Tu-Tunggu Mira-san! Apa-apaan ini?!" Lucy panik. Wajar saja, dia takut Mirajane melakukan apa-apa kepadanya.

Mirajane menjawab, "Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal yang tidak kauinginkan." Mirajane menenangkan Lucy. Tapi tetap saja Lucy tidak tenang! Bagaimana dia bisa duduk tanpa khawatir, sedangkan dia tidak tahu tujuannya ke mana? Mirajane menekan tombol dan bus itu berhenti di halte tidak jauh dari situ.

"Sampai." Supir Bus itu mengatakannya dengan nada membosankan. Mirajane menunduk dan keluar dari bus merah itu. Lucy rasanya familiar dengan tempat ini… Wanita di samping Lucy itu membunyikan bel sebuah rumah. Seseorang membuka pintunya. Dia memakai setelan jas dan kemeja yang begitu biasa.

"Mira-sama? Silahkan masuk." Dia menunduk dengan hormat. Mirajane tersenyum sedikit lalu menarik Lucy untuk masuk. Di dalam, seseorang sangat terkejut dengan kedatangan Mirajane.

"Mira?" Gray—pemuda itu—kaget. "Apa yang kaulakukan di sini? Kenapa? Lucy!?" Gray tambah terkejut lagi ketika perempuan berambut pirang yang ditarik Mirajane masuk. Wajah Lucy langsung memerah malu melihat Gray yang memakai kemeja—ditambah, kancingnya terbuka semuanya sehingga mengekspos dada lelaki itu.

Lucy membuka mulutnya. "I-Itu… aku tidak bermaksud apa-apa, aku bersumpah, Mira-san menarikku begitu saja!"

"Gray, aku dan Lucy boleh makan malam di sini, kan?" Mirajane tersenyum misterius. Gray hanya bisa melongo. "Aku ingin makan malam denganmu." Gray hanya menggelengkan kepalanya dengan pasrah sebelum mempersilahkan mereka.

"Apa itu?" Gray menunjuk kotak yang dibawa Mirajane. Mirajane mengerjapkan matanya, tiba-tiba ingat sesuatu.

"Oh, Lucy tadi membuat makanan untukmu." Mirajane mengatakannya dengan tawa. Dia juga melambaikan tangannya dengan lembut, seperti ingin menggoda mereka.

Wajah Lucy tambah memerah. "Eeeh? Mira-san juga membantuku!" Dia mencoba menepis perkataan Mirajane. Tentu saja dia benar-benar malu, apalagi Mirajane mengatakannya di depan Gray begitu saja. Perempuan itu langsung bisa merasakan wajahnya panas.

Mirajane masih saja tertawa. "Ara, Ara…"

"Caprico, tolong segera sediakan makananku." Gray menyatakan dengan jelas apa yang dia inginkan pada Caprico yang berdiri tidak jauh darinya.

Caprico—yang terlihat sudah tua meskipun sigap itu membungkukkan badannya dengan hormat. Dia masih saja memakai kemeja hitam yang agak lusuh dan terlihat lama kalau diperhatikan baik-baik. Sepertinya sudah dirawat dengan perawatan tertinggi dan eksklusif, jadi sudah seperti jas biasa yang sering digunakan banyak orang-orang. Rambutnya yang putih disisir rapi ke belakang agar tidak menghalangi pandangannya. Dia memakai kacamata biru sehingga orang tidak bisa melihat langsung ke dalam matanya.

"Kita," koreksi Mira lalu melihat ke arah Gray dengan pandangan mematikan. Sayangnya Lucy sama sekali tidak menyadari pandangan Mirajane ini. Gray menelan ludah lalu melambaikan tangannya. Dia tahu bahwa Mira ingin makan di rumahnya saat ini, entah karena apa alasannya. Dia tidak tahu dan percayalah, dia tidak mau tahu apa alasannya.

"Ma-Maksudku, kita, tentu saja!" Seru Gray dengan gugup. Caprico membungkukan badannya lagi dengan hormat. Tidak lebih dari semenit, Caprico kembali dengan senampan makanan lezat. Tidak lain tidak bukan, pasta dengan daging terempuk. Piring-piringnya terlihat mahal dengan ukiran yang sangat manis.

Gray mengangguk pada Caprico sambil menggumamkan terima kasih. Lucy terkagum-kagum. Dia lalu dengan salah tingkah mengambil sendok dan garpu. Tidak lama kemudian dia mulai berlagak seperti dia seorang putri, sedangkan Mirajane menahan tawanya.

Lucy mengangkat alisnya. "Ada apa, Mira-san? Apa ada sesuatu yang salah?" Dia bertanya dengan lambat. Sepertinya dia takut sekali membuat kesalahan.

Akhirnya tawa Mirajane lepas juga. Dia tawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya dengan erat. "Ampuun, Lucy! Kau tidak perlu seperti itu di depan Gray! Gray itu hanya manusia biasa, tidak lebih!" Seru Mirajane, menunjuk Gray dengan jari telunjuknya. Gray menyipitkan matanya pada Mirajane. Lelaki itu kesal karena perempuan itu bertindak seenaknya saja hari ini.

Lucy menggigit bibirnya. "Ma-Maaf kalau begitu! Aku tidak bermaksud—sama sekali tidak—untuk bersikap seperti ini…" Dia terlihat panik.

Pemuda yang duduk di samping Lucy itu berdehem. "Tidak apa-apa, Lucy. Aku errr… tidak masalah dengan itu. Tapi bersikap biasa saja. Aku ini bukan orang penting." Lelaki itu menarik ujung bibirnya dengan sederhana.

Perempuan itu mengangguk dengan malu. "Maaf kalau begitu!" Lucy melanjutkan, "Sebaiknya aku pergi….ke toilet! Ya, ke toilet!" Seru perempuan itu lalu segera berdiri dan pergi.

Seorang gadis muda berambut biru menyipitkan matanya pada Lucy. "Untuk apa kau ke sini, kau perempuan jalang?" Desisnya berbahaya pada Lucy.

Lucy terkejut tentu saja, belum ada perempuan yang memanggilnya begitu. Dia mencengkram erat bajunya, kemudian dia menggigit bibirnya. Tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut gadis berambut pirang itu. Semuanya tertahan di tenggorokan.

"Kau mendekati tuan Gray, ditambah, apakah benar kau mencintainya?" Orang itu mengatakannya dengan menyebalkan.

Spontan saja Lucy lalu menunjuk perempuan itu dengan jari telunjuknya. "Dengar ya, nona…" pandangannya langsung melihat nama kecil di baju maidnya. "….Juvia. Aku tidak ada urusan sama sekali dengan Gray. Kau sendiri yang terlalu nekat untuk mendekati Gray! Aku tidak peduli dengan urusanmu, dan kaupanggil aku jalang!? Hey, lihat dirimu sendiri! Pergi dari pandanganku! Kau tidak berhak berkata begitu pada tamu tuanmu sendiri, kau mengerti!" Lucy hampir saja menjerit kecil tapi dia menahannya. Dia tidak ingin Gray mendengarnya, itu terlalu memalukan.

Sedangkan di meja makan, iris mata Mirajane menangkap iris mata biru gelap Gray. Mereka saling menatap dan Mirajane mencengkram erat garpunya.

"Gray, kau mencintai orang bernama Lucy ini?" Mira menghela napas berat. "Mungkin saja, kau bukan jatuh cinta padanya, tapi pada orang lain."

Gray membuka mulutnya, "Aku hanya mencintainya, bukan orang lain. Hanya dia. Hanya Lucy. Aku akan mencintainya, sampai kapan pun."

Perempuan itu kemudian datang. Rambut pirangnya bergerak sedikit ketika dia duduk kembali ke tempat duduknya yang sempat kosong tadi.

Lucy mengalihkan pandangannya dari wajah Gray ke makanan lezat itu. Dia melihat hash brown yang tadi ia buat dengan Mirajane. Pelan-pelan, perempuan itu mengambil hash brown untuk mengetahui rasanya. Tapi Gray lebih dulu mengambilnya. Iris mata Lucy melebar. Dia ketakutan. Bagaimana kalau rasanya tidak enak dan Gray jadi tidak suka padanya? Ini tidak bisa dibiarkan!

"Jangan!" Lucy berdiri dan hendak mengambil kembali hash brown itu. Tapi dia berdiri tidak seimbang jadi menimpa tubuh Gray. Mereka terjatuh dari kursi. Mirajane yang melihat bersiul seolah tidak melihat mereka, bangkit dari kursinya dan pergi dari ruang makan.

Lucy bisa merasakan wajahnya panas. Kenapa dia bertindak begitu sembrononya hingga dia harus terjebak dalam posisi ini?

"Maaf, Gray!" ucap Lucy yang rambutnya dipenuhi spageti. Baju Gray juga kotor karena kecerobohan Lucy tadi.

Gray membalas, "Tidak apa-apa. Yang penting kau baik-baik saja."

Perempuan itu mengangguk dengan malu.

"Kalau begitu, ikut aku." Gray lalu berdiri setelah Lucy menyingkir dari tubuhnya. Mereka berdua melangkah. Gray yang memimpin di depan, menuju kamar yang belum pernah Lucy lihat sebelumnya. Mereka masuk. Gray segera saja ke suatu sudut di kamar itu. Walk-in-closet[2] yang benar-benar keren. Lucy berdecak kagum lagi melihat kamar Gray yang begitu besar. Tunggu dulu… kamar Gray!? Warna merah menjalar lagi di wajahnya.

Gray lalu melempar baju kepada Lucy. Lucy menangkapnya dengan cepat. Dia segera melihat kamar mandi yang tidak begitu jauh. Gadis itu langsung masuk ke kamar mandi yang keren itu. Bahkan ada penghangat ruangan[3] dan juga TV besar di dalam kamar mandi itu! Bath tub-nya juga benar-benar keren. Lucy mengangguk dengan kagum lagi.

Perempuan itu melepas seluruh bajunya, lalu mandi ditemani dengan aroma yang sangat menyejukkan. Dia berendam dengan air panas. Pikirannya melayang, membentuk ingat-ingatan.

"Kau tidak ingat?"

"Rasanya, aku pernah bertemu denganmu entah di mana."

"Benar-benar… tidak ingat?"

"Baiklah kalau begitu. Aku… Gray."

Lucy tersadar lagi. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia… tertidur? Segera saja dia keluar dari bath tub lalu mengeringkan tubuhnya. Secara otomatis, hawa panas lalu menyerbu tubuh Lucy. Tadinya Lucy bergidik, tapi sensasi itu betul-betul menyenangkan. Setelah selesai, Lucy melihat baju yang diserahkan Gray. Bahkan ada pakaian dalam! Wajah Lucy memerah lagi. Dia segera memakai baju itu dengan cepat kemudian keluar dari kamar mandi, ketika dilihatnya Gray sedang duduk di tepi ranjangnya.

"Gray? Ada apa?" Lucy bertanya hati-hati.

Gray menoleh ke arahnya. Tampak tersirat kekesalan di wajahnya.

"Apa aku menggunakan kamar mandi terlalu lama? Maaf, tadi aku sepertinya melamun—"

"Kau tidak akan senang mendengarnya, Lucy." Gray menyela Lucy sebelum perempuan itu sempat berbicara.

"Eh?"

"Mirajane tadi mengunci kita berdua di dalam sini. Kita terjebak. Mirajane pasti mengancam Caprico agar mengambil kunci cadangannya. Habislah sudah."

Sekujur tubuh Lucy membeku.


[1] (Lagi-lagi) di New Zealand, Stage 1 itu $1. Tadi kan Mirajane bilang stage 1, jadi $1. Aku buat aja satunya itu 100 Yen.

Akhirnya aku menambahkan Graylu moments setelah baku tembak di cerita kagak jelas -_-''

Bagian hash brown resep masakannya kuambil dari kelas memasak Mrs. Taylor yang galak banget. Untung kelompok memasakku baik-baik, kecuali si Pounamu yang bisanya ngejek-ngejek orang doang. /kenapa jadi curhat nih anak/

Oh ya, ada yang punya account role play? Kalau punya review atau PM kalau malu ya! /nyengir/

Oke deh~ Aku udah nggak tahu mau bilang apa lagi, yang penting review aku nggak mau tahu!