Icchy mau ngucapin Spesial Thanks Buat kalian semua yang mereview cerita Icchy~! *tonett tonettt*

ruki ruu mikan head

bintang

F. Fukushima

Radit RedDevil'z

Raven Ichi

Arashi A.M.N.O.S

Pyon

mautauaja

Kurosaki Miyuki

Mitsuki Ota

chessayoshioka

Shirayuki Umi

Luna 'ruru' Kuchiki

nenk rukiakate

cece kurosaki

ArthuriaMariePendragon

flavia

Voidy

Natsume Yuka

Rukiberry si Silent Reader

Hoshikawa Mey

yui rie rie

Miyu Aoba

Zanpaku-nee

ika chan

d3rin

kokota

Ichikawa Hikaru

kazushi kudo hatake

Kurosaki violet

Wi3nter

Loonatic Aqueous

gieyoungkyu

Twingwing RuRaKe

Botol Pasir

Kyucchi

Sagara Ryuuki

MiRae Naomi Kurosaki

Rie Masahito

HISAGIsoul

dobelianaru

chy karin

haruno gemini-chan

Purple and Blue

Chie Na OrangeL

Nonana

siapasajaboleh

Dae Uchiha

vita Xc Tari

Nakamura Chiaki

q lupa nama q

IchiKuran

arumru-tyasoang

Hinazuka Airin

Chappy Ruki Oguri

Gracia De Mouis Lucheta

Mega hime

The Last Third *serius yah, Icchy baca komen ini ngakak, berasa Rukia yg lgi review =))

Black Sun 15

Deadly Love Brides

hadneiw

Xiah Julli

anzuka16

Yowarul

dilivia takumi

n KAMU yg membaca cerita ini~ :D

Icchy ucapkan terima kasih yg sebesar2nya bagi yg berkenan mereview, memberikan semangat, maupun hanya sekedar nulis update kilat... Yahhh, Icchy sangat menghargainya~ :D *nunduk*


Bleach = Kubo Tite

The Last Third = Searaki Icchy La La La

From now on I Love You = Lee Seung Gi *Bener deh, Icchy merasa lagu ini sangat cocok untuk Ichigo themes di Fic ini =))

Rate = M 4 safe

Genre = Drama, Hurt/Comfort, Romance, Family, FriendShip, dll

WARNING! Typo(s), OOC, Geje, ngawur, stress, ngancurin image, pairing bukan hanya IchiRuki dan bla bla bla lainnya~


WARNING! endingnya super duper sangat geje, dan cmn ada selingan lime ga bermutu.. maklum inilah hasil tulisan saya saat dilanda WB parah...

Well, enjoy my last story n jangan lupa tinggalkan review (Baca : protes dari kalian) karena sudah bikin ending seperti dibawah ini... Doumo~ :D


.

Last end

.

Karakura Town…

Tak terasa sudah 24 bulan berlalu sejak Rukia memutuskan untuk berpisah dengan Ichigo. Kurosaki residence masih tetap sama sejak terakhir kali Ichigo menapakkan kakinya setiap hari, dan hari ini adalah hari kesekian kalinya dia tiba. Setiap hari dirinya disibukkan oleh tumpukkan berkas dokumen yang menggunung di sisi meja ruangan kantornya. Tidak ada waktu untuk menunda karena kalau tidak dengan setia Renji mengeluarkan aura kematiannya untuk terus menahan Ichigo agar tidak kabur dari kewajibannya.

"Jangan lupa menghadiri pesta nanti malam, Ichigo. Tsukishima-san sudah berpesan kepadaku supaya kau hadir malam ini."

Renji masih setia menjalankan tugasnya. Dan Ichigo masih setia mengeluh ketika mendapat tugas yang dirasanya tidak penting. Pergi ke pesta apa tidur diranjang yang empuk? Tentu saja Ichigo lebih memilih pilihan yang kedua!

"Kenapa kau tidak bilang saja aku ada urusan atau apapun, Renji. Kau tahu sendiri aku paling benci kalau disuruh menghadiri suatu pesta ramai begitu," keluh Ichigo.

"Sepertinya kau lupa bagaimana sifat Tsukishima Shukuro. Kau tahu sendiri kan pikirannya selicik Ichimaru dan juga pandai mencari alasan seperti dirimu?"

Ichigo mendesah pelan. "Jangan samakan aku dengan dia!"

"Sudahlah, daripada kau mengeluh terus kepadaku lebih baik istirahat saja sekarang untuk nanti malam. Jangan sampai terlalu lelah seperti minggu kemarin," jelas Renji mengingatkan.

"Aku tahu!" sahut Ichigo yang sudah membenamkan wajahnya ke bantal putih yang empuk. Lebih baik tidur dan mengumpulkan kembali tenaga yang terbuang. Membiarkan Renji yang mendesah panjang karena kelakuannya.

.

Beberapa menit setelah jejak Renji menghilang dari kamar Ichigo. Pria itu ternyata belum memejamkan matanya. Tubuhnya memang lelah namun matanya tidak mau menuruti keinginannya. Ichigo kembali membalikkan tubuhnya, atap putih masih terus dia perhatikan.

"Sudah 2 tahun yah…"

Bibirnya mulai mengumandangkan sesuatu yang tak terasa cepat berlalu. Selama itu pula banyak perubahan yang terjadi begitu dratis pada kehidupannya. Akhir-akhir ini banyak yang mengganggu pikiran Ichigo saat sedang konsentrasi dalam pekerjaannya. Tenaganya juga cepat terkuras gara-gara memikirkan hal tersebut.

Diraihnya ponsel hitamnya yang ditaruh disamping meja ranjang. Ichigo mulai menekan dial seseorang.

"Ya?" angkat suara diseberang.

"Hey, Nell. Hisashiburi da naa…" sapa Ichigo seperti biasa.

"Ichigo?" reaksi Nell begitu diluar dugaan. "Bagaimana kabarmu? Terakhir kali kita bertemu saat itu aku sudah tidak bisa menghubungi nomormu. Kau ganti nomor?" tanyannya masih kaget.

"Begitulah…" jawab Ichigo seadanya.

"Bagaimana kabarmu sekarang, Ichigo?" tanya Nell lagi. Rasanya sudah lama mereka tidak mengobrol seperti sekarang.

"Seperti biasa," jawab Ichigo, masih singkat.

"Sepertinya kau menelponku karena sesuatu, yah?" tebak Nell tepat sasaran.

Beginilah Ichigo. Jika dia sedang dilanda kebingungan tidak ada cara lain selain mencari tempat pelarian seperti berbicara dengan Nell atau hanya sekedar membaringkan tubuh bidangnya ke atas ranjang.

Ichigo masih diam. Dia tidak menyangkal tebakan Nell, memang Ichigo mencarinya karena ingin memastikan sesuatu.

"Nell…" Ichigo berhenti sejenak. Sedikit tidak enak jika dia menanyakan hal ini kepada Nell. Tapi, kalau tidak ditanyakan Ichigo selamanya pasti tidak akan mengerti.

Akhirnya dengan keyakinan mantap, Ichigo mulai melanjutkan kata-katanya.

"Kau masih mencintaiku, Nell?"

Hening menyelimuti percakapan mereka. Di seberang sana Nell bingung ingin berkomentar apa.

"Sejak kapan kau penasaran dengan hal itu, Ichigo?" Nell tertawa pelan. "Ini pertama kalinya kau menanyakan hal itu setelah 10 tahun kau pacaran denganku," sambungnya masih tertawa.

Ichigo mengacak rambut orangenya. "Aku hanya ingin tahu saja. Kenapa kau bisa betah dengan diriku yang seperti ini," ucapnya.

"Apa kau bertanya hal yang sama kepada Riruka?"

"Aku hanya bertanya kepadamu. Aku tidak tahu keberadaannya sejak aku memutuskan kalian."

Nell mendesah singkat. "Terang saja, kau memutuskan kami berdua tepat setelah Rukia meminta putus darimu."

Ichigo mendengus singkat. Memang benar apa yang dikatakan Nell, Ichigo memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Nell dan Riruka tepat setelah Rukia berpisah dengannya. Setelah itu, Ichigo merasa dia harus mengakhiri semuanya, mengakhiri satu hal yang dia rasa tidak membuat dirinya yakin dengan keputusannya selama ini.

Apa yang mendasari Ichigo untuk mempunyai banyak pacar?

Cinta? Tidak ada.

Nafsu? Tidak juga.

Uang? Untuk apa?

Ichigo memang sayang terhadap Nell dan Riruka, tapi itu bukan atas dasar cinta. Kalau begitu, untuk apa dia terus menjalin hubungan dengan kedua wanita itu? Hal itu yang mendasari Ichigo akhirnya untuk bertindak seperti sekarang ini. Selama 2 tahun dia memutuskan untuk hidup sendiri, tanpa kehadiran cinta atau apapun karena ingin memastikan sesuatu.

"Nell, apa kau sakit hati saat melihatku menyentuh wanita lain?" tanya Ichigo lagi.

Nell kembali terdiam.

"Apa yang kau rasakan saat melihatku mesra dengan Riruka atau wanita lainnya?"

"Ichigo," panggil Nell akhirnya. "Lebih baik kau cari Rukia."

Ichigo mengerutkan keningnya heran. Menunggu Nell menjelaskan lebih detail.

"Aku mengerti kenapa akhir-akhir ini kau selalu tidak bersemangat seperti sekarang. Temuilah Rukia dan pastikan apa yang kau rasakan didalam dirimu. Karena yang bisa menjawab pertanyaanmu itu, hanyalah Rukia. Setelah semuanya sudah kau lakukan, kabari aku."

Tuuuttt! Tuuuttt! Nell langsung mengakhiri panggilan. Meninggalkan Ichigo yang masih mematung.

xXxXx


.

Cermin kamar mandi yang memantulkan tubuh bidang tanpa terbalut satu kain terlihat begitu indah. Serpihan air yang masih menempel di sisi tubuh Ichigo seakan baru selesai menjalankan tugasnya dari membersihkan diri. Rambut jabrik orange yang turun berkat siraman air tersebut membuat sang pemilik terlihat begitu berbeda.

Sang hazel yang selalu menatap sendu itu memang terlihat seperti biasanya. Tapi entah kenapa ada saja yang kurang menurut Ichigo.

Apa itu?

"Sial! Kenapa aku jadi kepikiran karena 'dia', sih?"

Ichigo hanya bisa menggerutu. Tidak ada yang bisa dijadikan tempat pelampiasan untuknya. Dia masih memikirkan saran dari Nell tempo lalu.

"Temuilah Rukia, yang bisa menjawab pertanyaanmu itu hanyalah Rukia…"

"Benarkah itu, Nell?" tanya Ichigo kepada dirinya didalam pantulan kaca.

"Aku tidak ingin setia dengan orang yang tidak setia kepadaku…"

Pandangan sendu yang tadi terpantul di kedua amber coklat itu kini seakan menyala karena ucapan Rukia terakhir kali. Kenapa hanya satu ucapan singkat dari wanita mungil itu mampu membuat perasaan tidak tenang.

"Gawat, ternyata aku memang harus menemuinya..."

Tapi dimana?

"Cih!" Ichigo langsung membuka paksa pintu kamar mandi dan langsung meraih ponsel flip hitamnya dan langsung menekan dial Renji.

Dengan cepat Renji langsung mengangkat panggilan Ichigo. "Ada apa? Tumben sekali kau menelponku selarut ini."

"Renji, cepat kau cari kabar tentang keberadaan Rukia. Aku ingin menemui Kuchiki Byakuya hari ini."

Renji yang masih setengah tidur hanya bisa menguap malas. "Kau ini! Selalu saja mendadak!" protesnya sedikit kesal, bisa-bisanya Ichigo membangunkannya saat semua sudah terlelap.

"Aku tidak peduli! Aku ingin menemui Kuchiki Byakuya sekarang!" seru Ichigo tidak mau kalah. "Sekarang masih jam 11 dan seharusnya aku masih bisa menemuinya!"

"Untuk tanya tentang dimana Rukia sekarang, kan?" Renji menggaruk telinganya yang pengang karena teriakan keras Ichigo. "Terakhir kali yang kudengar dari Inoue Orihime dan Matsumoto Rangiku, Rukia kini berada di Amerika. Kalau memang kau mau menemuinya, aku bisa memesan tiket jadwal paling pagi untukmu," jelas Renji yang sepertinya tahu rencana Ichigo selanjutnya.

Ichigo terbelalak tidak percaya, kenapa sampai Renji bisa tahu secepat itu?

"Renji, sejak kapan kau mencari keberadaan Rukia?"

"Sejak aku melihatmu berubah seperti sekarang, jeruk," Renji diam sejenak. "Aku tahu kau mulai berubah sejak berpisah dengan Rukia. Jujur saja, aku senang akhirnya kau mulai untuk menjalani kehidupan baru tanpa wanita manapun. Dan aku tahu kau seperti dirimu sendiri saat bersama dengan Rukia meskipun kau tidak sadar dengan itu."

Tanpa menunggu balasan dari Ichigo, Renji tersenyum lalu kembali melanjutkan ucapannya.

"Aku tahu kau kesepian saat Rukia pergi. Aku hanya bisa bilang ikuti saran dari Nell-san biar kau tahu tentang perasaanmu sendiri," katanya lagi.

"Ya…" hanya satu kata yang sanggup Ichigo ucapkan. "Sankyuu, Renji…"

Renji mendengus pelan, "Nah! Kalau kau sudah mengerti, jangan berikan aku pekerjaan malam ini!"

Tuuutttt! Tuuuttt! Sekali lagi hanya terdengar nada panggilan terputus di telinga kanan Ichigo. Pria orange ini lagi-lagi hanya bisa merenung.

'Ya! Temui Rukia, dengan begitu aku akan mengerti maksud dari kata-katanya saat itu!'

Tanpa ada keraguan, Ichigo mulai memikirkan cara bagaimana jika nanti dia bertemu dengan Rukia. Apa yang akan dia katakan saat mereka bertemu kembali setelah 2 tahun lamanya. Mungkinkah baik Rukia maupun Ichigo saat bertemu kembali akan terasa canggung ataukah Rukia sudah melupakan tentang perasaannya terhadap pria tersebut…

xXxXx


.

Back then, I don't know about love

Staying by the side of someone

I'm both unfamiliar and scared

In this kind of thing

.

Kita akan menyorot salah satu bangunan megah yang berdiri tegap diantara beberapa gedung yang tak kalah tingginya di salah satu perkotaan New York. Ratusan orang-orang yang berlalu lalang terlihat begitu terburu-buru. Kota yang terkenal tidak pernah mengenal lelah inilah tempat Ichigo menapakkan kakinya sekarang.

Ya, setelah akhirnya berhasil meyakinkan Renji bahwa dirinya akan segera pulang setelah bertemu dengan Rukia disinilah Ichigo berdiri disalah satu sudut tiang lampu merah yang masih bekerja untuk menemani hari-hari aktivitas seluruh masyarakat disana.

Misi yang harus dijalankan sekarang adalah : Mencari Rukia!

Pertanyaannya! Bagaimana caranya mencari Rukia di kota besar seperti New York?

Malas ambil pusing, Ichigo langsung menghubungi seseorang dengan ponsel yang baru saja dia beli setelah sampai.

"Hello~ Urahara office here. May I help you?" tanya seorang resepsionis menyapa hangat Ichigo dengan bahasa inggris.

Oh iya, Ichigo lupa kalau saat ini dia bukan ada di Jepang. Akhirnya dengan terpaksa dia membalasnya dengan bahasa asing. "I'd like to speak with Mr. Urahara, please?"

"Sure, who's speaking?" tanya wanita tersebut.

"Ichigo Kurosaki."

"Ohhh, Mr. Kurosaki. I will get you connected right away."

"Thanks," dan Ichigo menunggu panggilannya terhubung langsung dengan salah satu partner kerja sekaligus sahabat dekat Ayahnya yang menurutnya sedikit authis, Urahara Kisuke.

"Hello, Urahara here~!" seru suara yang sudah lama tidak Ichigo dengar.

"Hisashiburi da naa, Kisuke-san," sapa Ichigo singkat.

"Oyaa? Hisashiburissu nee~ Ichigo-kun!" balas Urahara begitu riang. "Ada yang bisa kubantu? Kau menghubungiku karena butuh sesuatu, kan?" tembaknya langsung.

Ichigo tertawa pelan. "Kau memang pandai menebak, Kisuke-san. Aku memang butuh bantuanmu untuk mencari orang disini. Bisakah kau mencarikan seorang wanita bernama Kuchiki Rukia untukku?" tanya Ichigo to the point.

"Rukia-chan?" tanya Urahara memastikan.

"Rukia-chan?" Ichigo heran dengan pertanyaan Urahara. "Kau kenal dengan Rukia, Kisuke-san?" tanyanya tidak percaya.

"Hmmm… seingatku ada wanita mungil yang baru-baru ini diterima sebagai OB disini. Tapi aku tidak tahu dia adalah orang yang kau cari apa bukan. Ya, kesini saja untuk memastikan sendiri sebelum dia pulang."

Ichigo langsung melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. "Jam berapa dia selesai kerja?"

"Jam 5 sore."

Ichigo melihat jarum jam menunjukkan pukul 16:45, berarti 15 menit lagi selesai?

"Aku langsung kesana sekarang, Kisuke-san. Pastikan dia belum pulang!"

Ichigo sampai lupa dia sedang berbicara dengan orang diatasnya. Saat pikirannya mulai fokus dengan sesuatu, dia seakan tidak peduli dengan keadaan sekitar. Dengan cepat disambarnya taksi kosong terdekat untuk menuju gedung milik Urahara.

Butuh 15 menit untuk sampai kesana. Masih sempatkah Ichigo bertemu? Dia sangat berharap Urahara tidak salah orang. Dia sangat berharap orang yang Urahara sebutkan adalah Rukia yang sama didalam ingatannya.

.

Akhirnya

.

Betapa kecewanya Ichigo saat Urahara berkata bahwa gadis yang dia cari ternyata sudah pulang lebih awal.

"Sumimasen nee, sepertinya dia meminta izin pulang lebih awal," kata Urahara dengan penampilannya yang tidak layak disebut pimpinan.

Ichigo masih mengatur nafas karena berlari mengejar waktu tadi. "Tidak apa-apa, Kisuke-san. Aku bisa kemari lagi nanti…" walau mencoba untuk tersenyum, suara Ichigo terdengar begitu kecewa.

"Sampai kapan kau tinggal disini? Kau belum kabari keluargamu?"

Ichigo menggeleng. "Tidak, aku hanya sebentar disini. Mungkin nanti aku akan menghubungi mereka." Badannya mulai berbalik arah. "Aku permisi dulu, Kisuke-san."

xXxXx


.

Sinar rembulan terasa berbeda saat Ichigo melihatnya dari jendela kamarnya. Angin malam terasa begitu menusuk malam ini, mungkin juga karena sudah mulai masuk musim dingin. Lampu kota yang mulai menyala terlihat mengiringi langkah pelan Ichigo.

"Haaahhh…" uap dingin yang keluar dari desahannya seakan menandakan bahwa saat ini dia tengah berpikir apa yang sedang dia lakukan sekarang.

Hanya karena ingin bertemu dengan Rukia membuatnya sampai rela melakukan hal seperti ini. Seharusnya Ichigo bisa menyuruh bawahannya untuk mencari dimana keberadaan Rukia dan membawa gadis itu untuk menemuinya sekarang juga.

Bisa. Tapi, kalau pakai cara itu, Ichigo tidak akan mengerti bagaimana rasanya puas setelah hasil kerja kerasnya sendiri.

Langkah kakinya mengantar dirinya menuju sebuah taman yang ditengahnya terdapat kolam air yang mengeluarkan keindahan air yang menari dibawah sinar rembulan. Ichigo dikelilingi oleh banyak pasangan yang tengah asyik saling menghangatkan diri. Kalau begini, dia terlihat seperti orang bodoh.

"Untuk apa aku berada disini diantara para orang-orang yang pacaran, sih? Menyebalkan!"

Betapa kagetnya Ichigo ketika mendengar suara cempreng seorang wanita yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Saat ingin melihat siapa wanita yang asyik berteriak tanpa peduli dengan orang sekitar, disanalah dia kembali terkejut.

"Rukia…"

Wanita yang dipanggil Rukia oleh Ichigo pun kaget karena merasa dipanggil, dia pun kembali terpana menatap sosok pria yang sudah lama dia lupakan. "Ichigo?"

.

Only now, I understand love

Those days which I always push you away

I said that it wasn't love between us

Thanks for the trust you have given me

Looking back now, there are lots of memories

I really didn't know that was actually love

"Ichigo?"

Debaran jantung Ichigo seakan tersengat listrik. Degupannya mendadak berdetak begitu kencang saat melihat rupa Rukia. Rambut hitamnya terlihat sedikit memanjang dari pertama kali mereka bertemu. Violet yang memantul indah karena sinar rembulan dan juga tubuh mungil yang tidak berubah.

Ini Rukia yang dulu! Rukia yang dulu pernah menjadi pacarnya, yang selalu berusaha untuk melunasi semua hutang-hutang Ayahnya. Ya, inilah Rukia.

Betapa bahagianya hati Ichigo saat mengetahui Rukia belum lupa tentang dirinya. Ekspresi kaget yang dia keluarkan malah membuat Ichigo tenang.

"Yoo…" sapanya dengan sorot mata penuh kerinduan.

"Ichigo, kenapa kau bisa ada disini?" Rukia masih sibuk berkaget ria.

"Ngg… aku ingin bertemu denganmu," ucapnya malu-malu.

Kalau dipikir-pikir, bodoh sekali Ichigo malah jujur dengan Rukia. Bukannya hal itu malah membuat mereka semakin canggung, yah?

"Ingin bertemu denganku harus pakai waktu 2 tahun kemudian?" entah sindiran atau hanya bercanda, Rukia tertawa karena tingkah Ichigo yang menurutnya aneh.

"Jangan tertawa. Aku sedang serius, tahu," bantah Ichigo mencoba menutupi rasa malunya.

"Hahaha… oke," Rukia mencoba untuk serius walaupun masih sulit untuk menahan ketawanya. "Kau ingin bertemu denganku karena apa?" tanyanya kembali.

"Aku hanya ingin memastikan perasaanku sendiri," kata Ichigo masih jujur.

.

Rukia mengusap pelan hidung mungilnya yang terasa dingin. Sepertinya pertemuannya dengan Ichigo kali ini akan terasa begitu berbeda. Aneh karena tidak butuh waktu 2 jam kini mereka berada di dalam sebuah kamar hotel yang memang sengaja Ichigo pesan untuk dirinya selama berada di New York.

Rukia mengusap kepalanya sendiri, kenapa tidak ada perubahan saat bertemu dengan Ichigo yang sekarang? Kenapa dia tetap memperlakukan Ichigo sama seperti dulu?

"Aneh…" gumamnya mengatai dirinya sendiri.

"Kebiasaanmu berbicara sendiri itu tidak pernah hilang yah, Rukia."

Ichigo datang sambil membawa dua gelas berisikan anggur merah kesukaan Rukia. Membuat wanita mungil itu salah tingkah dengan mengerutkan keningnya.

"Habisnya aku sudah lama tidak bertemu denganmu, makanya terasa agak aneh."

Ichigo tertawa pelan. "Justru aku kaget dengan reaksimu yang biasa saja padahal kalau mengingat kejadian dulu mungkin saja kau sudah tidak mau bertemu denganku," katanya.

Rukia meneguk wine merah pemberian Ichigo. "Aku kan tidak bilang tidak ingin bertemu denganmu lagi."

Ichigo hanya sibuk memperhatikan tingkah Rukia yang sama sekali tidak terlihat canggung. Santai duduk didekat jendela sambil menikmati pemandangan malam bersama dengan segelas anggur merah. Benar-benar pemandangan yang enak dilihat di sang amber milik Ichigo.

.

"Naa, Rukia…"

Ichigo kembali mencuri perhatian Rukia. Sang violet hanya menunggu Ichigo kembali mengucapkan kata-kata tanpa perlu bertanya kembali.

"Kau tidak menjalin hubungan dengan seseorang?" lagi-lagi, pertanyaan yang selalu menjurus itu selalu terlontar dari bibir tipisnya. Ah, kenapa disaat gugup yang keluar dari mulut Ichigo itu langsung dari hatinya, sih?

Rukia kembali terpana menatap Ichigo. Sejak kapan pria tampan didepannya ini penasaran dengan kehidupan pribadinya?

"Kau ingin tahu?" pancing Rukia mulai iseng. "Aku sedang dekat dengan seseorang-" mulutnya kembali mengatup. Goyangan pelan di gelas berwarna merah disela jari tangannya seakan mewakili betapa shocknya wajah Ichigo saat mendengar kata Rukia.

Rukia semakin tersenyum usil karena sukses mengerjai pria tua didepannya. "Kenapa wajahmu shock begitu, Ichigo? Jangan-jangan kau cemburu, yah?" tunding Rukia langsung.

"Kalau kau masih jadi pacarku, mungkin aku akan cemburu," jawab Ichigo alasan.

Rukia tertawa pelan, dipalingkan kembali mukanya menatap gelapnya langit malam. Pikirannya menerawang jauh, tanpa sadar dirinya bergumam.

"Aku akan senang kalau hal itu terjadi, Ichigo…"

Sekali lagi, tindakan Rukia yang seperti inilah yang justru kurang dipahami oleh Ichigo. Hal ini sama persis seperti yang dia lakukan dua tahun lalu, saat Rukia sedang membetulkan dasi milik Ichigo.

"Seandainya kau melakukan ini hanya kepadaku…"

Ah, akhirnya Ichigo sedikit mengerti kenapa Rukia bersikap seperti ini…

"Rukia," panggil Ichigo sedikit lagi.

"Hm?" Rukia kembali memalingkan mukanya menatap Ichigo.

Ichigo belum melanjutkan ucapannya. Yang pasti kedua amber sendu itu menatap lekat sang violet yang masih menunggunya. Dengan sekali tegukan Ichigo menghabiskan anggur miliknya, setelah itu dengan cepat kakinya mulai menghampiri tempat Rukia. Menghampirinya supaya mempersempit jarak diantara mereka. Saat Rukia terpaksa mendongak karena jarak mereka semakin mendekat, Ichigo menarik tangan Rukia dan mendirikannya.

"Ichigo?" Rukia sedikit heran karena tingkah tiba-tiba dari Ichigo.

Yang dipanggil masih tidak merespon. Genggaman tangannya terasa semakin erat. Dan Rukia semakin merasakan sakit. "Ichigo?" Rukia masih mencoba memanggil Ichigo.

Ichigo hanya tersenyum. Senyuman yang tidak dapat Rukia mengerti seakan tersirat begitu nyaman. Seketika tubuh mungilnya mendarat tepat dalam pelukan Ichigo. Ya, pria itu memeluk dirinya begitu erat.

"Ichi-"

"Kau masih mencintaiku, Rukia?"

Hening…

Baik Ichigo maupun Rukia, mereka diam seribu bahasa.

Rukia melepaskan paksa pelukan yang mendekap erat tubuhnya. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang mungkin tersirat kesedihan yang dalam karena Ichigo kembali menyinggung tentang perasaannya.

"Walaupun aku masih mencintaimu, kau tidak akan bisa hanya mencintaiku."

Ichigo tersentak! Mungkin apa yang dikatakan Rukia benar. Tapi, kalau sekarang hatinya tidak mungkin salah memilih.

"Bisa!" Ichigo menunduk, berusaha untuk mencoba meyakinkan Rukia. "Sekarang aku mengerti tentang apa yang kau rasakan. Dan aku masih perlu banyak belajar darimu…"

Rukia terkekeh pelan. "Memangnya apa yang kau pelajari darimu, hey paman jeruk?"

Ichigo menaikkan sebelah aslinya. "Paman jeruk?"

"Kita ini beda 10 tahun. Saat ini aku 22, sekarang kau pasti sudah 32. Dasar, wajahmu memang menipu. Hahaha!" Rukia malah menertawai raut wajah Ichigo yang sweatdrops.

Yang bisa pria itu lakukan adalah mengacak rambutnya seacak mungkin. Ohh, jadi ini wajah asli dari Kuchiki Rukia?

"Kau boleh menertawaiku, Rukia. Aku memang masih dalam hal ini. Tapi, aku sangat ingin mencoba hal ini hanya denganmu," kata-katanya terdengar sangat sungguh-sungguh.

Hal itu malah membuat Rukia tidak kuasa menahan tawanya.

"Maaf, tapi aku memang ingin tertawa," Rukia masih berusaha menahan tawanya yang mulai memaksa keluar. "Tapi aku masih mencintaimu, Ichigo. Aku sendiri heran kenapa bisa suka dengan pria tua sepertimu, salahkan dirimu sendiri yang tampan!" ujarnya sambil tersenyum.

Ichigo berpikir sejenak. "Kenapa aku merasa kau sepertinya tahu dengan kedatanganku yah, Rukia? Reaksimu sama sekali tidak kaget ataupun terkejut. Kau seakan-akan tahu apa maksudku," jelasnya.

Rukia mendesah pelan. "Tentu saja aku tahu, Nell-san menemuiku 3 hari sebelum kau datang. Dia bilang kau akan datang mencariku dan menyatakan cinta kepadaku. Ternyata ini toh maksudnya. Aku kira awalnya hanya bercanda."

Apa? Nell sudah kemari duluan sebelum dirinya? 3 hari yang lalu… hari yang tepat saat Ichigo menelpon Nell dihari itu.

Oh tidak! Dengan ini Kurosaki Ichigo kalah telak!

Ichigo hanya bisa menutup mukanya. "Aku merasa seperti orang bodoh…" keluhnya pelan.

Rukia masih terkikik namun tangannya mulai melingkar manja dan kembali mendekatkan dirinya.

"Heee… jangan bilang kau menyesal dengan keputusanmu. Kau tahu kan aku tidak mau diduakan apalagi ditigakan?" ucapnya menyindir kondisi Ichigo yang dulu.

"Kali ini tidak akan."

Lumatan pelan memacu mereka berusaha untuk selalu memimpin. Pelukan erat seakan memacu hasrat mereka untuk semakin melakukan lebih. Yah, rasanya sudah lama mereka tidak saling mendekap seperti ini. Saat sengatan rangsangan menyatukan kedua tubuh mereka, disitu pula mereka merasakan cinta yang saling mengalir. Kali ini, terasa begitu nyata.

Ichigo baru merasakan pertama kalinya dia begitu menikmati bercinta dengan seseorang yang tepat. Saat jemarinya mulai menyentuh kulit mulus milik Rukia, dia semakin ingin menjaga agar kulit tersebut tidak ternoda oleh tangan selain miliknya. Mungkin inilah yang dinamakan bersatu atas dasar cinta, semua terasa begitu memabukkan.

Dan ketika suara desahan Rukia terasa kian memuncak, saat itu pula sudah membuktinya bahwa dirinya maupun wanita mungilnya pun sama-sama menantikan hal ini terjadi.

xXxXx


.

From now onward, I will depend our love

Even if it's simple-minded

Even if I will like a fool

Because I'm the guy who only see you

You must be tired of this incomplete love

Althought it's a bit late, will you give me a chance?

.

Mentari pagi menyusup masuk dari balik tirai jendela kamar hotel Ichigo yang berada dilantai 10. Lembaran baru dimulai dengan dering ponsel Ichigo yang mulai berbunyi. Dengan berat Ichigo mengangkat panggilan itu.

"Ya?" tanya Ichigo dengan suara baru bangunnya.

"ICHIGO! CEPAT PULANG KAU KE KARAKURA SEKARANG JUGA! KURANG AJAR KAU PERGI TANPA MENYELESAIKAN SEMUA TUGAS-TUGASMU!"

Oh yeah, tidak ada yang lebih buruk dari mendengarkan suara babon ala Abarai Renji. Dengarkan sekali setelah itu ucapkan selamat tinggal kepada telingamu.

"BERISIK KAU BABON!" seru Ichigo tidak kalah kerasnya. "Kau bisa membangunkan Rukia dengan suara nyaringmu!"

"Kau sudah bertemu Rukia?" tanya Renji kemudian.

Ichigo melirik seorang wanita yang tengah tertidur pulas disebelah tangan kirinya. Wanita mungil yang akhirnya berhasil dia dapatkan luar-dalam.

"Sudah dan saat ini dia sedang tidur, makanya hubungi aku nanti saja!" Ichigo bermaksud mengakhiri panggilan namun Renji berhasil mencegahnya.

"Tunggu dulu, jeruk! Kau harus pulang hari ini atau aku akan kesana mencarimu! Cepat selesaikan dulu tugas-tugasmu dan apa kau lupa hari ini harusnya kau bertemu dengan Tsukishima-san?"

Keberentungan mulai tidak memihak kepada Ichigo. Akhirnya mau tidak mau dia harus pulang hari ini.

"Aku akan pulang secepatnya. Suruh Tsukishima menemuiku nanti malam," ucap Ichigo lemas.

"Awas kalau kau tidak pulang!" Renji sudah memberikan ancaman dan biasanya manjur.

"Berisik!"

Kali ini Ichigo berhasil mematikan panggilan sebelum Renji mengakhirinya. Tapi sayang, Rukia akhirnya terbangun karena suara bising yang sedaritadi mulai memasuki dunia mimpinya.

"Ngg…" Rukia masih berusaha merenggangkan otot tubuhnya yang lelah karena hasil dari kegiatannya semalam. Matanya masih belum mau terbuka sempurna, rasanya begitu lekat.

"Hey," sapa Ichigo singkat sambil mengecup dahi Rukia. "Aku membangunkanmu?"

"Siapapun yang mendengar teriakan sekencang itu pasti akan terbangun," kata Rukia sambil mengusap matanya yang masih terkatup.

Ichigo tertawa. "Rukia, aku harus pulang ke Karakura pagi ini."

Rukia mulai bangkit setelah membungkus tubuhnya dengan selimut yang sedaritadi menutupi tubuhnya dengan tubuh Ichigo.

"Kau ini mandi sendiri apa berdua?"

Rukia selalu tertawa jika ucapannya berupa ajakan nakal yang sanggup memancing Ichigo. Dan yang dipancing pun hanya bisa menyeringai lebar.

"Tentu saja pilihan yang kedua, kan?"

Dan mereka pun kembali menikmati guyuran air pancuran sambil kembali mengulang kejadian kemarin malam sekali lagi.

.

Finally…

.

Ichigo dan Rukia kini sudah berada di depan loby hotel. Saat ini mereka menunggu kedatangan taksi yang sudah dipesan sebelumnya. Ichigo harus pulang ke Karakura secepat mungkin atau kalau tidak Renji pasti akan kembali memberikan teror setiap menit.

"Ichigo," panggil Rukia ketika menyadari ada yang kurang dari pakaian Ichigo. "Kau masih belum bisa memakai dasi dengan baik dan benar?"

Diraihnya dasi berwarna merah tua dan mulai membenarkannya. Pandangannya begitu fokus menatap dasi didepannya. Bibirnya tertawa pelan.

"Dasar, umur semakin tua tapi masih saja belum bisa pakai dasi…" ejek Rukia tertawa geli.

Yang bisa Ichigo lakukan hanyalah tersenyum sambil mengacak pelan rambut Rukia. Kalau sudah begini, mana rela Ichigo meninggalkan Rukia sendiri disini?

"Rukia, ikutlah pulang bersamaku," ajak Ichigo.

"Tidak mau!" Rukia menolak tegas. "Aku masih ada kontrak pekerjaan. Lagipula, aku belum punya cukup uang untuk pulang," jelasnya lagi.

"Kau tidak perlu memikirkan hal itu."

"Justru karena kau bilang begitu makanya aku tidak mau, jeruk!" ucap Rukia lebih jelas. "Aku tidak butuh uangmu sekarang, aku masih bisa cari uang sendiri disini. Tapi—" Rukia berhenti bicara sejenak.

Kedua bola mata berwarna violet itu berputar ke segala arah seperti mencari satu titik.

"—aku butuh tempat tinggal. Apartemenku disini benar-benar tidak layak untuk ditinggali. Murah sih, tapi…"

Benar! Saat Ichigo bertemu Rukia kemarin malam, saat itu Rukia tengah dilanda stress berat karena dia harus mencari tempat tinggal yang baru karena bermasalah dengan pemilik apartemen yang memang senang melakukan tindakan pelecehan seksual. Daripada terlibat masalah lebih jauh lagi, lebih baik Rukia angkat kaki dan mencari tempat tinggal yang lebih layak dengan tarif yang lebih murah.

Ichigo bengong. Bisa-bisanya wanita mungilnya ini tidak mempunyai tempat tinggal tapi masih ngotot untuk tetap berada disini? Haahhh… kalau sudah begini, dipaksa pulang pun yang ada malah Ichigo kalah debat. Jadi lebih baik adalah meminta tolong Urahara Kisuke untuk menyewakan tempat tinggal untuk Rukia selama berada di New York.

"Aku akan menghubungi Kisuke-san untuk mencarikan apartemen baru untukmu," ucap Ichigo santai.

Dahi Rukia mengerinyit heran. "Kenapa kau bisa tahu nama atasanku?"

"Karena dia adalah salah satu partner kerja perusahaan Kurosaki sekaligus sahabat Ayahku. Dan lagi, kemarin aku sempat mencarimu di sana tapi kau sudah pulang," Ichigo menjelaskan kejadian kemarin.

Rukia hanya manggut-manggut saja. Ah! Sudah saatnya bagi Ichigo untuk berangkat.

"Sampaikan salamku untuk semuanya, yah~" Rukia tersenyum sambil melambaikan tangannya. Padahal Ichigo belum juga masuk kedalam mobil.

Kaki terasa berat karena harus merelakan pergi tanpa Rukia. Hal terakhir yang Ichigo lakukan adalah memeluk erat Rukia dan mengecup hangat bibir mungilnya.

"Aku menunggumu," bisiknya mesra tepat ditelinga Rukia. "Jangan sampai membuatku lama menunggu, Rukia. Kalau tidak saat aku kembali lagi akan kupastikan kau kuseret pulang bersamaku."

Rukia hanya bisa tersipu liar lalu tertawa. "Haha, ancamanmu sama saja seperti Renji."

Ichigo akhirnya membuka pintu dan mulai memasuki taksi. Sebelum pergi, dirinya sempat berpesan kepada Rukia. "Kalau butuh sesuatu, segera kabari aku bagaimana caranya. Dan juga… cepat beli alat komunikasi apa saja supaya bisa kuhubungi," ucapannya terdengar seperti perintah.

Rukia hanya bisa menjawabnya dengan senyuman cerianya. Dan saat mobil taksi mulai melaju, perlahan asapnya terlihat semakin menjauh. Rukia menghela nafas singkat. Dipandanginya awan yang mengambang begitu tenang. Baguslah, hari ini cuaca sedang berpihak kepadanya.

Dirinya memutuskan untuk jalan-jalan singkat sebelum akhirnya berangkat kerja. Tidak ada hal khusus yang terjadi setelah Ichigo pergi. Tapi yang pasti, langkah Rukia terlihat seperti sedang menari. Ya, akhirnya penantiannya selama ini terbayar sudah dengan pengakuan singkat dari Kurosaki Ichigo.

"Ah, iya! Aku lupa tanya kepadanya," Rukia teringat sesuatu yang penting. Seharusnya dia menanyakan hal itu kepada Ichigo tadi.

Dipandanginya kembali langit yang masih menampakkan warna biru lautnya. Bibir mulai menyuarakan hatinya seakan bertanya kepada sang pencipta.

"Hmmm… ngomong-ngomong Icchy, saat ini hubunganku dengan Ichigo apa?"

Apa yah...? Gomennasai, authornya saja bingung bagaimana menjelaskannya... ikzzzz...

Nah, bagaimana menurut kalian, readers? Silakan menilai menurut pengamatan anda sendiri~ :D

.

I Love You... Words from the bottom of my heart

I Love You... Words that I would like to say again a thousand time

Until now I haven't give you anything

So I want to give you more now

Words which I would like to tell

Only to you...

.

O.W.A.R.I


~ Icchy (punishment) corner ~

IchiRuki : *ngasah golok*

Icchy : T_T *pasrah*

Rukia : Ngomong oeee! *ngacungin Shirayuki mode horror*

Se-selamat siang semuanya... *nunduk* pertama2nya Icchy mengucapkan "Selamat menjalankan Ibadah Puasa bagi yg menjalankan~ :D Semoga amal ibadah kita diterima oleh Tuhan YME~ *Amin!* Dan Maafkan Searaki Icchy jika menurut kalian saya ada salah *bungkuk bareng IchiRuki pake baju ala lebaran*"

Okay! Back to Fic! Icchy mau minta maaf lagi karena membuat ending ceritanya ini sangat sangat sangat SANGAT geje... T_T *pundung*

WB semakin bertambah parah, dan Icchy memang perlu hiatus dalam waktu (mungkin) lama... yah, well, sebenarnya sih dari awal cerita ini dibuat jg Icchy memang mau buat ending yg menggantung. Apa cerita ini jg endingnya menggantung? kyknya maksa sih yah... wahahahaha *ketawa nista*

Ohh yah, sangat disarankan baca cerita ini dengan lagu diatas punya Lee Seung Gii *I'm a big fans~* serius deh, cocok banget buat gambarin suasana Ichigo diFic ini *mimisan*

Yah, well (lagi) kyknya cukup sekian celotehan ga jelas dari saya...

Cuma satu (baca : 10!) yg bisa Icchy simpulkan dari cerita ini :

1. Ichigo terpaksa balik ke Karakura gara2 Renji udah neror.

2. Rukia tetep kekeuh ga mau balik gara2 dia belum punya uang (ga mau dibayarin)

3. Mereka belum jadian *PLak! Plak!*Tapi mereka udah nyatain perasaan masing2

4. Setelah 2 tahun berlalu, usaha kedai ramen Byakuya laku keras =))

5. Rukia orangnya ga terlalu mikirin tentang masalah cinta atau apalah, makanya pas ketemu lagi dia kyk biasa aja kan? *iyalah! dia kan udah dikasih tau Nell duluan

6. Nell dan Riruka putus setelah Rukia putus dengan Ichigo. Yang mutusin Ichigo lho~ setelah itu kabar keduanya ga ada kabar

7. Orihime dan Rangiku jg ga ada kabar. Tapi nanti Rukia plng ke Karakura karena denger kabar Orihime mau merrid

8. Sebenarnya cerita ini ada sekuelnya, tapi kyknya Icchy lihat tanggapan dari kalian dlu

9. Dengan ini 'The Last Third' : T.A.M.A.T~ *niup terompet*

10. Last words, tinggalkan semua keluh kesah kalian karena Searaki Icchy dengan kurang ajarnya bikin cerita dengan ending tidak bermutu seperti diatas

Sekian~ REVIEW ONEGAISHIMASU~! :D