10
PATHETIC
.
Can you forgive me?
.
.
.
.
itu Jungkook.
Aku mencoba menutup pintu tetapi dia menahannya, bahkan berhasil masuk dan membuatku mundur. Jungkook menutup pintu di baliknya dan menatapku. Aku terdiam, tidak bisa bergerak. Kutundukkan wajahku dan kugigit bibir bawahku.
Hening masih menguasai suasana. Ia tetap diam. Dulu diamnya dia terkesan misterius dan membuatku sangat tertarik padanya, sekarang diamnya dia membuatku takut.
Seperti terintimidasi.
"Aku hanya melakukan apa yang kau lakukan."
Aku mengangkat wajahku ketika ia bicara.
Tapi ia kembali diam dan itu membuatku takut. Kugigit lagi bibir bawahku, untuk menghentikan seluruh tubuhku yang bergetar hebat.
Tanpa kusadari aku mulai menangis. Dan tanpa kusangka juga, Jungkook menangkup pipiku lalu mencium bibirku. Aku mengutuk diriku untuk membalas ciumannya tetapi aku sangat merindukannya. Aku membalas ciumannya seakan terhipnotis sampai ia berkata di sela-sela ciuman,
"Ini yang kau mau bukan?"
dan menyentuh selangkanganku.
Aku menarik tubuh menjauh, melepaskan ciuman lalu menampar pipinya.
"Jangan anggap aku murahan!"
Aku berlari menuju kamar namun Jungkook berhasil menghentikanku. Dia mendorong tubuhku kasar terhadap dinding di samping pintu kamar dan memenjarakanku.
"Bukankah ini yang kau mau? Ingin aku menyetubuhimu selama kau milik Yoon-gi?! Karena apa? Kau tidak puas? Kau butuh lebih?!"
Aku menamparnya lagi dan aku yakin lebih keras daripada sebelumnya.
"Kenapa kau sebrengsek itu?!" aku menjerit dalam tangis. Menjerit sekuat tenaga.
Dia melecehkanku. Dia merendahkanku.
"Kau yang membuatku seperti ini! Yang membuatku menghianati Yoon-gi! Dan kenapa sekarang kau menuntut sesuatu dariku sementara dari awal aku melihatmu hanya memanfaatkanku sebagai boneka seks! KENAPA?!"
Aku menjerit di depan wajahnya dan ternyata hal itu semakin membuat air mukanya mengeras.
"Mengapa kau mau melakukan seks dengan seseorang padahal kau milik orang lain?"
Dia bertanya dengan nada yang sangat menusukku.
Aku terdiam. Dia benar. Aku yang membuka jalan baginya. Aku yang mempersilahkan dia untuk masuk ke dalam hubungan ini.
"L-lupakan yang pertama… kau tahu bahwa k-kita mabuk…"
"Lalu mengapa kamu membiarkan itu berlanjut? Mengapa kau memberikan tatapan itu padaku?"
Aku lagi-lagi tidak menjawab.
Dan Jungkook menarik rahangku, mencengkramnya dengan jarinya. Lalu menatap mataku tajam.
"Karena kau jatuh padaku."
Aku menggeleng. "Tidak…"
Jungkook mendecih sambil menghempaskan tangannya dari wajahku. "You're so pathetic, Lisa."
"SHUT UP JUNGKOOK!" Amarahku naik hingga ke ubun-ubun. "Kau yang membuatku seperti ini! Aku sudah merusak persahabatan kalian, dan disaat aku akan memperbaikinya, kau menghancurkannya!"
"Aku tidak menghancurkannya." Jungkook tersenyum sedikit sinis. "Aku sudah tanya padamu dan kau memberikan jawaban."
"Aku tidak menjawab apapun."
"Hatimu untuk Yoon-gi."
Deg!
Lagi-lagi dia mematikanku. Aku terdiam, dengan berlinang airmata.
Jungkook bicara lagi. "Sekarang, disini, aku yang dicampakan. Asal kau tahu, aku berani merusak persahabatan demi ka—"
"Shut up! Kau seharusnya tahu bahwa kau tidak boleh merusak persahabatan!"
"DAN KAU SEHARUSNYA TAHU BAHWA KAU TIDAK BOLEH MEMBERI HARAPAN!"
Jungkook berteriak di depan wajahku. Matanya memerah karena amarah. Dan mataku membulat karena kalimatnya.
Detik selanjutnya, pintu depan terbuka. Aku melihat Yoon-gi datang bersama orang lain dan aku segera meloloskan diri dari Jungkook, masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Sepertinya Yoon-gi melihatku menangis, karena ia segera mengetuk, mencoba mendorong pintu dan bertanya apa yang terjadi padaku.
Aku hanya menangis tanpa suara. Berharap semua rasa sakit ini berhenti.
-:o+o:-
Satu jam kemudian kuputuskan untuk keluar dari kamar, tentu setelah aku mandi untuk menenangkan pikiranku. Yoon-gi duduk disana, cemas. Dia bersama satu temannya, dan tidak ada Jungkook disana.
"Apa yang terjadi, Sayang?" dia menghampiriku dan bertanya dengan lembut.
Aku menggeleng. "Dimana Jungkook?"
"Dia ada urusan mendadak." jawabnya. "Ada apa?"
Aku tersenyum, mencoba meyakinkan dia bahwa aku baik-baik saja. Karena jika tidak, Yoon-gi akan menahanku. Aku segera pamit dan pergi dari apartemen. Sementara Yoon-gi kesulitan untuk mencegahku karena tamunya.
Aku mencoba mencari Jungkook dengan berjalan kaki. Maksudku, aku terus menghubunginya tetapi ia tidak menjawab panggilanku. Mungkin sudah duapuluh panggilan yang kulakukan, namun belum ada satupun yang ia jawab.
Kuusap wajahku frustasi. Aku perlu menemuinya. Aku perlu menyelesaikannya. Kuputar otakku bagaimana cara menemukan Jungkook, dan kemudian terngiang sebuah nama.
Kim Jennie.
Segera aku berlari menuju rumahnya. Aku tahu ini lumayan jauh tanpa kendaraan tetapi aku harus cepat menemukannya.
Dan menghabiskan berapa menit—aku tidak tahu—aku sampai di depan halaman rumahnya dengan napas terengah dan wajahku yang merah. Di halaman bisa kulihat motor Jungkook terparkir disana. Aku segera berlari menuju pintu dan membukanya kasar.
Dan mendapati keduanya tengah berciuman di sofa.
Mereka terlihat terkejut dengan kehadiranku.
Airmataku jatuh.
"Jungkook, I'm so sorry! Aku sudah tahu! Aku sudah mengerti! Jungkook please!"
Aku menjerit, sekeras yang hatiku jeritkan. Cinta atau bukan, persetan. Aku ingin dia menjadi milikku. Hanya milikku.
Aku tahu Jennie akan terkejut mendengarnya, tapi aku tidak peduli lagi.
"Please, Jungkook. Buat ini berhenti…" aku menangis terisak. "Aku tidak bisa melihatmu dengan siapapun. Jungkook, maafkan aku…"
Jungkook berjalan ke arahku. Aku terus menatapnya sambil menangis. Tapi ia melewati tubuhku dan pergi keluar menaiki motornya.
Kucoba untuk meredakan tangisku. Kulihat Jennie menangis.
"L-Lisa, mengapa kau lakukan itu padaku?"
Aku menutup wajahku dan meminta maaf. Mencoba berhenti menangis namun semakin menjadi. "I'm sorry, Jennie. I'm so sorry. I can't stand it. I really love him… hiks, I want him. Just him."
Kudengar isakan Jennie. Lalu dia berteriak padaku, "pergi dari rumahku! Pergi!"
Aku membawa tubuhku keluar dari rumah Jennie. Aku kelelahan, batin dan fisik. Kuusap wajahku dan segera berjalan pergi saat mendengar pintu dibanting dari belakang tubuhku.
Dan sekarang aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku menaiki taksi, menuju apartemenku kembali. Dan sampai di lobi aku meminta satpam—yang memang tahu aku tinggal disana—untuk membayarkan ongkosnya karena aku tidak bawa dompet. Dan melihatku dengan kondisi berantakan itu tentu saja satpam itu membantuku.
Aku menaiki elevator sampai lantaiku. Lalu menyusuri koridor untuk menuju tempatku. Namun saat kupegang kenop pintu, itu terkunci.
Aku menahan tangisku, tidak tahu harus kemana. Kucoba menghubungi Yoon-gi tetapi ia tidak mengangkatnya. Aku tidak tahu arah. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku berjalan menuju elevator kembali dan turun menuju lobi. Satpam itu melihatku iba, tapi aku mengabaikannya dan keluar dari apartemen. Baru beberapa langkah dari pintu masuk, sebuah motor menghadang jalanku.
"Naik."
Dia memakai helm tapi aku tahu siapa dia.
"Cepat naik."
Aku mencoba mengabaikan Taehyung.
"Kau harus ikut."
Aku menggeleng dengan mata yang sembab.
"Kau tidak pernah tahu bagaimana parahnya Jungkook jika menginginkan sesuatu."
Aku tersentak dan menatapnya. "A-apa maksudmu?"
"Jungkook meminta Yoon-gi datang ke tempat kami berkumpul. Bisa kau tebak apa yang akan terjadi."
Ya Tuhan.
Dengan segera aku menaiki motor Taehyung. Dia memboncengku, membawaku dengan segera menuju tempat itu.
Tidak membutuhkan waktu lama kami sampai. Sebuah rumah sederhana di sebuah komplek tempat mereka mengejar mimpi bersama.
Taehyung segera mengajakku masuk dan bisa kulihat Seokjin berusaha melerai Yoon-gi dan Jungkook, yang penuh lebam.
"Aku menyetubuhi gadismu berulang kali dan kini gadismu mengatakan bahwa dia jatuh cinta padaku, haha!"
"I'll kill you! Bastard!"
Taehyung segera menahan tubuh Yoon-gi sedangkan Seokjin menahan Jungkook.
"Stop it!" aku menjerit berusaha untuk melerai. Tapi Jungkook menyeringai padaku dan Yoon-gi menatapku dengan tatapan kecewa. "Berhenti! Kumohon!"
Yoon-gi menghempaskan tubuh Taehyung menjauh. Lalu dia mengusap mulutnya yang berlumuran darah—terlihat dari gusi dan beberapa bagian giginya—dengan punggung tangannya.
"Jika kau lekaki, rebut dia di depanku! Bukan dibelakangku!"
Jungkook tertawa. Mendorong tubuh Seokjin menjauh darinya. "Lucu melihatmu menyalahkan Taehyung."
"Dan pengecut sepertimu hanya bersembunyi di baliknya."
"SHUT UP, JUNGKOOK!" aku mencoba menghentikannya. Mereka menggila. Lalu kutatap Yoon-gi. "Yoon-gi, I'm so sorry… I-I'm sorry…."
Yoon-gi menatapku dengan tatapan kecewa dan berharap. "Tell me that isn't true, Lisa."
Dan hal itu membuat tangisanku semakin deras. Aku menggeleng sambil menggumamkan maaf.
"Lisa…"
"I'm s-so sorry… hiks…"
Yoon-gi membulatkan matanya dan tenggelam dalam amarah. "FUCK!" dia mengusap wajahnya kasar, mencari sesuatu untuk pelampiasan tetapi ia masih mencoba menahannya sekuat mungkin. Dia menghampiriku. Taehyung hampir menahannya tapi tidak berhasil. Yoon-gi berdiri di hadapanku, meremas bahuku keras dan membuatku meringis dalam tangis.
"Sejak. Kapan."
Pertanyaannya begitu menusukku. Aku ketakutan. Tubuhku bergetar. Aku dalam pertarungan emosi. Aku tidak menjawabnya dan hal itu membuat remasannya pada bahuku semakin kuat.
"Katakan padaku Lisa."
"M-maafkan aku…"
"KATAKAN PADAKU!"
Dia berteriak di depan wajahku dan itu membuatku melontarkan jawaban. "Sehari sebelum kau memperkenalkannya di café!"
Yoon-gi terdiam. Aku yakin Seokjin maupun Taehyung juga tidak menyangka hal ini. Aku meminta maaf kembali dalam tangisanku.
"Jadi itu artinya…"
"M-maafkan aku Yoon-gi. Kami bersetubuh tanpa kau tahu… di studio… di pantai… b-bahkan saat kau tidur… m-maafkan ak—"
Yoon-gi mendorong tubuhku sampai aku terjatuh. Aku menangis melihatnya pergi meninggalkan tempat ini. Jungkook juga segera meninggalkan tempat ini dan Taehyung menyusulnya untuk memastikan mereka tidak melanjutkan perkelahian diluar.
Seokjin melirikku, bisa kupastikan itu. Lalu dia pergi sebelum meninggalkanku sebuah kalimat,
"Kau tidak akan mendapatkan salah satu dari mereka. Kau baru saja menghancurkannya."
-:o+o:-
Kunci apartemenku kutinggal di kamar. Sementara Yoon-gi mengunci apartemenku dengan kunci cadangan miliknya saat pergi menemui Jungkook. Jadi bisa kupastikan aku tidak bisa pulang karena aku yakin Yoon-gi tidak akan ada disana. Lagipula tempat ini terlalu jauh dan aku tidak tahu bagaimana caranya untuk kembali. Sehingga yang kulakukan sejak aku tidak bisa menemukan Yoon-gi, Jungkook, Taehyung bahkan Seokjin di halaman depan adalah berjalan menyusuri jalanan sambil menangis.
Aku hancur. Aku hancur karena kesalahan yang kuperbuat sendiri. Jika aku tidak memberinya jalan lebih jauh, mungkin tidak akan seperti ini. Walau sebenarnya keadaan yang membawaku sampai ke titik ini.
Aku tidak memintanya datang ke apartemen Yoon-gi malam itu. Aku tidak memintanya bergabung dengan BILLION. Aku tidak memintanya untuk mengantarku pulang. Aku bahkan tidak memintanya untuk mengejarku.
Tapi semua itu terjadi begitu saja. Begitu cepat bahkan aku sudah tidak bisa menghitung seberapa banyak kami berhianat. Aku menghianati kekasihku, sedangkan Jungkook menghianati sahabatnya.
Tak bisa kubayangkan sesakit apa Yoon-gi sekarang.
Semua dalam rasa sakit. Aku tidak tahu bahwa ternyata Jungkook mengharapkan sesuatu yang lebih jauh denganku. Dan dia sakit dengan kenyataan bahwa aku adalah kekasih sahabatnya dan dia telah jatuh untukku. Sementara Yoon-gi, sakit yang ia rasakan bukan main. Jika aku menjadi Yoon-gi, mungkin aku memilih untuk mati saja.
Dan aku sekarang? Dengan keadaanku yang terikat dengan sahabat kekasihku dan juga melihat kekasihku hancur sudah cukup membunuhku sekarang. Rasanya aku ingin melarikan diri. Tanpa harus melihat salah satu dari mereka tersakiti.
Mungkin itu memang jawabannya.
Dan mungkin Seokjin benar.
Aku melihat sebuah taman yang sepi disana. Aku sudah lelah untuk berjalan, jadi kuputuskan untuk diam di taman dan duduk di salah satu bangku.
Merenung. Tidak bisa berhenti memikirkan semuanya sekarang.
Langit sudah berubah menjadi oranye. Aku menatap layar smartphone-ku yang sebentar lagi akan kehabisan daya. Aku tidak membawa apapun selain masalah di bahuku. Tidak akan ada seseorang yang mencariku. Aku yakin. Jadi aku hanya menarik napas dan mengusap mataku yang sembab.
Aku tidak bisa membawa waktu mundur. Jika bisa, aku berharap tidak pernah bertemu keduanya. Bahkan aku berharap agar aku tetap di Thailand. Jadi semua sakit ini tidak akan pernah tercipta.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Sebuah suara membuatku melirik seseorang yang sudah berdiri di hadapanku. Mataku langsung bergetar melihatnya. Aku tidak sanggup. Aku butuh seseorang. Kupeluk tubuhnya segera dan tangisku pecah seketika."
Rose terkejut. Dia mengusap kepalaku perlahan dan membiarkan aku menangis sampai diriku tenang. Setelahnya, Rose mengambil tempat untuk duduk disampingku.
"Lisa, apa yang terjadi?"
"A-aku kehilangan semuanya, Rose…" aku terbatuk saat aku memaksakan bicara dengan suaraku yang serak. "Aku kehilangan semua… b-bahkan sahabatku…"
Rose memandangku khawatir. Dia meraih rambut yang jatuh di depan bibirku lalu menyelipkannya di balik telinga. "Kau tidak kehilanganku, Lisa. Apa yang terjadi padamu?"
Aku hampir kehilangan Rose saat itu. Disaat Jennie mengatakan apa yang terjadi padaku dan Jungkook. Bisa kurasakan perubahan dari Rose. Padahal orang yang lebih dekat dariku melebihi Jennie adalah Rose, dan aku rasa aku mematahkan kepercayaannya.
Aku tahu ini akan membuatnya membenciku, tapi aku ingin mengakhiri semuanya.
"Aku berselingkuh dengan Jungkook…"
Rose terlihat mengulum bibir bawahnya. Mencoba menatapku walau aku berusaha menjauhi matanya.
"Aku sudah tahu." Ujar Rose perlahan. "Dan aku marah padamu."
Sikapku yang kentara mungkin salah satu penyebabnya selain apa yang Jennie katakan.
"Dan saat Jungkook mencium Jennie dihadapanmu, semua tampak jelas. Sangat jelas untukku."
Aku mencoba untuk tidak menangis lagi walaupun aku gagal.
"Yoon-gi sudah sangat sempurna untukmu. Mengapa tidak kau coba menjaga hatimu agar tidak berpaling darinya?"
Bibirku kelu. Aku tidak menjawab, hanya menangis.
"Aku sangat marah dan kecewa padamu, Lalisa." Rose menghembuskan napasnya. "Tapi semuanya sudah terjadi. Aku yakin sekarang hanya penyesalan yang kau rasakan, karena kau baru saja kehilangan semuanya."
"Semua, Rose! Semua!" aku sesenggukkan sambil bicara. "Aku kehilangan Jennie, Jungkook bahkan Yoon-gi! Aku kehilangan semua karena perselingkuhan ini. Aku kehilangan teman-teman baik Yoon-gi. A-aku juga kehilangan kau… m-maafkan aku, Rose… aku memang brengsek…"
Rose menarik napas dan membuangnya lagi namun lebih rendah. Dia menepuk kepalaku perlahan.
"Aku juga pernah berada diantara dua pilihan… dan kehilangan keduanya memang sangat menyiksaku, apalagi ketika kau masih berada disekitarnya namun bertingkah seperti dia tak ada…"
Aku melirik Rose karena tidak mengerti dengan apa yang dilaluinya. Ia tidak pernah menceritakan hal ini padaku.
"Dan sekarang yang bisa kulakukan hanya menjalani hidupku. Salahku karena membiarkan keduanya masuk ke dalam hidupku secara bersamaan, sehingga ini semua hanya akan berakhir menyakitkan."
Rose melihatku lalu menarik segaris senyuman.
"Aku memiliki penyesalan, namun itu semua yang harus kuterima. Mungkin nafsuku mengingikan keduanya untuk menjadi milikku, tetapi hal itu tidaklah mungkin. Sehingga aku memilih untuk tidak bersama salah satu dari mereka, dan beruntung, orang yang masih berada disekitarku juga memiliki pemikiran yang sama. Lebih baik tidak bersama denganku daripada menyakiti hati temannya."
Aku mengulum bibir bawahku yang kering sambil mencerna seluruh kalimatnya. "A-apa kau alasan… Hanbin keluar dari BILLION?" dan bertanya dengan sangat hati-hati.
Rose seolah tidak terkejut karena ia tahu aku pasti bisa menebaknya, karena Jimin adalah teman baikku.
"Dan menganggap Jimin seperti angin adalah hal tersulit yang harus kulakukan setiap hari di kelas."
Rose diam beberapa detik sebelum melanjutkan.
"Walau aku tahu perasaanku lebih besar terhadap Jimin, tetapi Jimin menghormati temannya. Perkelahian waktu itu yang membuat Hanbin memutuskan untuk keluar. Itu sebabnya Jimin berhenti untuk mengejarku, dan aku pun begitu. Sehingga tidak ada pihak yang tersakiti. Cukup kami masing-masing yang menelan semua pahitnya."
Kemudian Rose menatapku dengan tatapannya yang melembut.
"Oleh karena itu, jangan membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupmu ketika kau sudah memiliki satu orang yang kau inginkan. Karena pada akhirnya kau tidak akan mendapatkan keduanya. Kau hanya akan kehilangan keduanya tanpa pamit."
Aku menutup wajahku saat airmataku turun lagi tanpa terkendali. Sedangkan Rose segera merengkuh tubuhku, dan memelukku. Membuatku merasa nyaman. Membuatku merasa tidak sendiri detik ini.
"Maafkan a-aku, Rose… tolong… j-jangan biarkan aku kehilanganmu juga… huks…"
Rose menggeleng dalam pelukan, bisa kurasakan itu. Walau aku tahu dia pasti kecewa dengan semua yang kuperbuat. Tapi Rose masih disini, merengkuhku.
"Tenangkan dirimu, dan selesaikan semuanya sekarang juga."
Aku mengeratkan pelukanku padanya.
"Kau harus mempertanggungjawabakan semuanya. Jangan pernah lari. Aku ada untukmu."
-:o+o:-
Yang mendukung LizKook raise your hands!
Yang mendukung YoonLisa raise your hands!
Tamat? Mau tamat?
Ga seru dong kalau konfliknya cuma segitu :(
Yang ingin tahu apa yang terjadi di chap 11, jangan lupa untuk review because I need to know what do you think about this chapter~
Thank you for all your support and I love you so much
PS: Hari ini adalah hari dimana aku tepat menjadi penulis ff dengan nama Yuri Masochist untuk 7 tahun lamanya. Dua tahun sebelumnya aku memakai nama Han Youngra :3 horrayyy
...
Line : yurimasochist
FB : Yuri Mamasochist
Twitter : littlerape
Wattpad : Yuri Masochist
