My Lovely Kid

Naruto © Masashi Kisimoto

Rated : K-T

Genre: Family & Romance

Warning: Terinspirasi dari sebuah komik tapi saya lupa *plak* dan beberapa fic semacam ini dan oke banyak Typo.

Chapter 10

"Apa itu Iruka-san?" Yamato sudah tidak tahan ingin melihat dua bocah jadi-jadian itu dihukum. Dengan begitu dia bisa mencuri banyak foto-foto lucu yang bisa dijadikan kenang-kenangan. Sudah bukan rahasia umum untuk orang yang mengetahui rahasia ini, mereka banyak mengambil foto keduanya secara diam-diam untuk koleksi. Terlalu disayangkan melewatkan kesempatan bisa melihat Sasuke dan Naruto menjelma menjadi bocah lucu dan menggemaskan walaupun kadang berisik, menyebalkan dan nakal.

Semoga saja mereka tidak akan di bakar Sasuke jika ketahuan.

"Aku akan memanggil Sakura-san dan Hinata-san." Tutur Iruka dengan kalem.

"Jangan panggil Oka-chan/Kaa-chan!" Sergah Sasuke dan Naruto bersamaan.

.

.

.

Iruka menggeleng pelan sambil tersenyum melihat kepanikan dua bocah dihadapannya.

"Kalian berani berbuat maka harus berani bertanggung jawab. Ini baru hari pertama masuk akademi lagi dan kalian sudah membuat masalah. Itukah calon seorang ninja?" Omel Iruka penuh penekanan pada keduanya. Kakashi dan Yamato tidak tahan untuk menekuk bibirnya untuk membuat senyuman.

Naruto dan Sasuke makin turut moodnya saat menyadari dua orang yang jadi penyebab mereka di hukum menampakkan wajah bahagia.

"Bagus sekali, sepertinya paman satu ini bahagia kita dihukum." Umpat Naruto kesal diiringi mengembungnya pipi sang bocah. Sasuke mengangguk setuju.

"Paman Kakashi memang kejam apalagi Paman Yamato semangat sekali mengetahui kita dihukum." Sasuke ikut mengomentari umpatan Naruto sambil melayangkan pandangan kesal pada keduanya. Percuma, setajam apapun mata Sasuke sekarang tidak akan menciutkan nyali seseorang.

"Jangan menyalahkan orang lain! Sekarang kalian duduk, selesai jam ini kalian temui sensei di ruang guru." Sela Iruka agar Naruto dan Sasuke tidak mencari masalah lagi. Kedua bocah itu kemudian saling melirik lalu berjalan dengan ekspresi kesal menuju bangku kosong paling belakang, tepatnya di belakang meja Sumaru. Keheningan kemudian berganti dengan keriuhan saat Iruka keluar dari kelas bersama Kakashi dan Yamato.

Anak-anak sontak bergosip sambil melirik dua bocah yang baru saja datang. Keduanya jadi buah bibir di kelas , disana ada yang menatap tajam secara terang-terangan dan ada yang sembunyi-sembunyi , tentunya percuma karena dua bocah itu sadar betul apa yang terjadi.

"Naruto? Sasuke?" Panggil Sumaru pelan dengan posisi duduk yang sudah terbalik, dia bahkan mengabaikan teman sebangkunya yang sok cuek namun berusaha mencuri dengar. Sumaru pandangi lekat-lekat dua bocah menyusahkan yang sekarang menampakkan ekspresi kesal.

"Apa?" Tanya keduanya bersamaan dengan nada merajuk. Sumaru berjengit ngeri ketika kedunya terlihat begitu marah. Wajah boleh imut tapi aura tetap tidak bisa menipu.

Glekk

Sumaru menelan ludah melihat rajukan keduanya. Naruto makin terlihat suram saat kepala kecilnya menempel ke meja.

"Huwaaaa! Apakah hari ini akan lebih buruk? Kaa-chan dipanggil yang benar saja." Air mata Naruto sudah mengalir bak anime saat mengangkat wajah kecilnya. Masalah ingatan saja belum selesai kini dia harus mendapat masalah Hinata akan dipanggil. Apa yang harus dia katakan nanti.

"Ini semua salahmu Teme." Tuduh Naruto sambil memberikan deathglare panas pada Uchiha yang kini terlihat lebih tenang.

Si dalang masalah malah nyengir lebar saat deathglare imut milik Naruto tertuju padanya.

"He he he gomen, maaf kita jadi terkena masalah deh."

Toeng!

Polos sekali Sasuke ini, tidak hanya Naruto yang heran bahkan kepala Sumaru sudah lemas mendadak mendengar jawaban Sasuke.

"Kalian berdua itu apa-apaan?" Sumaru sudah naik pitam gara-gara merasa dimainkan oleh keduanya, tadi ia dibuat takut dan sekarang harus dibuat takjub akan jawaban tanpa beban milik Sasuke.

Keduanya melongo bersamaan.

"Apa kau sedang marah-marah Sumaru? Kulihat wajahmu memerah. Apa kami punya salah denganmu?" Tanya Naruto runtut yang makin membuat Sumaru naik darah.

"Tentu saja Baka! Pastinya aku akan ikut kena omelan Hinata-san dan Sakura-san gara-gara ulah kalian." Teman disebelah Sumaru ikut berjengit mendengar bocah ini marah-marah.

Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut dua bocah berambut pirang dan dark blue kecuali sebuah cengiran lebar yang menunjukkan deretan gigi putih mereka masing-masing.

"Aku turut berduka cita Sumaru-kun." Kata Sasuke sambil menepuk-nepuk kepala Sumaru seenak jidatnya.

"He he aku juga turut prihatin." Wajah Naruto tak kalah innocentnya dengan wajah Sasuke.

Bug! Bug!

Sumaru sangat merasa puas ketika dua kepala beda warna terjungkal dari kursi masing-masing akibat jitakan mautnya. "Percuma bicara pada orang baka!"

"Sumaru kejam!" Gumam Naruto yang diamini oleh Sasuke. Sumaru sangat mirip dengan Sakura jika marah-marah dan hal itu yang membuat mereka terkadang bisa patuh pada dia.

Jam pelajaran di hari pertama dari semester baru telah berakhir. Sebagai dua siswa yang bermasalah mereka kemudian menemui Iruka di akhir pelajaran sesuai permintaan dari sang sensei. Sumaru berdiri bosan setengah mati menunggu di depan ruang tunggu. Apa yang dilakukannya lagi disini kalau tidak menunggui adik jadi-jadiannya menghadap sensei Iruka, kalau tidak dipaksa keduanya tentu dia sudah kabur dari tadi.

Setelah cukup lama menunggu kira-kira hampir satu jam pintu ruang guru terbuka. Sesuai dugaan, yang muncul dari balik pintu adalah dua bocah yang masing-masing di tangan kanannya membawa amplop putih.

"Bagaimana?" Tanya Sumaru penasaran.

Naruto membentangkan surat sambil cemberut. "Kaa-chan dipanggil besok."

Sumaru kemudian mengambil surat dari tangan Naruto lalu membaca baik-baik isi surat. "Pasti kalian akan dimarahi nanti."

"Huuuh! Dobe kau masih lebih beruntung bibi Hinata bukan tipe pemarah. Aku bahkan tidak berani membayangkan jika Oka-chan tahu hal ini." Kata Sasuke yang kini sudah tertunduk lesu. Membayangkan Sakura marah seperti melihat monster di tv yang selama ini membuat Sasuke takut tidur sendiri. Sumaru dan Naruto sontak merasa iba dengan nasib Sasuke.

Naruto tahu betul sifat Sakura seperti apa bila marah, sama seramnya dengan Hokage jika marah dapat menghancurkan bangunan.

"Sudahlah sebaiknya kalian berterus terang saja kenapa kalian tadi kabur. Oh ya ngomong-ngomong soal kabur dari kelas, kenapa kalian kabur? Dan sejak kapan kalian sudah bisa memakai shunshin?" Akhirnya Sumaru bisa bertanya langsung untuk memenuhi hasrat ingin tahunya. Dengan mata penuh selidik dia pelototi dua wajah yang sudah berubah kikuk.

Sumaru menyedekapkan dua tangan untuk menunggu jawaban dua anak manja dihadapannya.

"Eng itu kami-." Naruto melirik Sasuke yang sudah menyilangkan tangan di belakang kepala Sumaru.

"Habisnya aku kesal dengan Koyuki, aku kan sudah capek-capek bangun pagi untuk bisa duduk di depan bersama Naruto tapi kenapa dia seenaknya sendiri. Aku juga capek anak-anak lain selalu membela Koyuki dan selalu memandang remeh kami. Daripada ribut lebih baik kabur saja dari kelas. Iya kan dobe." Jawaban Sasuke sungguh membuat Naruto melongo karena apa yang dikatakan Sasuke adalah sebuah curhatan yang dijadikan pembenaran alasan kabur.

Sifat alamiah anak-anak adalah tidak suka bila mereka dibanding-bandingkan. Apa yang Sasuke rasakan sama dengan yang Naruto rasakan yaitu jengkel apabila dijadikan bahan perbandingan. Mereka berdua selalu disebut anak manja oleh teman-temannya dan di depan mata mereka ada anak lain yang selalu dibanggakan. Jengkel dan kesal karena mereka dianggap anak yang tidak pantas jadi ninja.

"Iya, kami hanya pergi bermain kok. Tadi kami bermain kelereng tapi gara-gara ada Paman Kakashi dan Paman Yamato jadinya kami tertangkap basah." Ucap Naruto untuk memperkuat argument Sasuke. Tidak semudah itu untuk meyakinkan Sumaru, nyatanya bocah itu tidak sepenuhnya percaya alasan Naruto dan Sasuke terbukti dia masih saja memandangi keduanya dengan tatapan curiga.

"Eng, Sumaru suratnya aku ambil aja ya! He he takut ketahuan Kaa-chan. Eh astaga! Kaa-chan pasti sudah menunggu lama, pasti akan curiga." Ujar Naruto panik sambil menyeret Sumaru untuk pergi. Jangan ditanya bagaimana reaksi Sasuke, wajah sudah pucat pasi saat jalan menuju pintu akademi.

Dua wajah menampakkan ekspresi seratus delapan puluh derajat satu sama lain saat melihat dua orang yang pastinya sudah menunggu sangat lama. Wajah bahagia jelas terpancar dari Sasuke saat tahu yang menjemputnya adalah Kizashi dan wajah lesu tentu milik Naruto yang bingung akan memberi alasan apa.

"Kaa-chan sudah menunggu lama?" Tanya Naruto pada Hinata begitu di dekat wanita bersurai indigo. Si anak sangat merasa bersalah saat akan merepotkan Hinata lagi.

"Tidak juga, apa urusan dengan Iruka sensei sudah selesai?" Tanya Hinata balik pada Naruto yang kini sudah kikuk karena Hinata sudah tahu.

Pastinya wanita ini telah bertanya pada teman-teman Naruto yang sudah pulang lebih dahulu. Melihat senyum Hinata yang mengembang sedikit membuat Naruto lega karena wanita ini terlihat tidak marah.

"He he he begitulah. Kuharap Kaa-chan tidak marah." Kata Naruto sambil melirik Sasuke yang secara ajaib berani memberikan surat dari Iruka pada kakek angkatnya. Dilihat dari ekspresi Kizashi yang biasa-biasa saja dapat disimpulkan Kizashi tidak mempermasalahkan Sasuke dipanggil.

"Tidak. Eng, Sumaru, Kizashi-san maaf kami harus pergi sekarang. Kami ada urusan dengan Hokage jadi untuk kesempatan ini kami tidak bisa pulang bersama kalian. Tidak apa-apa kan?" Tanya Hinata dengan sopan pada Kizashi.

"Tentu saja, nah Sasuke, Sumaru ayo kita pulang." Ajak Kizashi pada keduanya. Kebetulan rumah Sumaru searah dengan Sasuke sehingga selalu pulang bersama. Sejak Sumaru masuk akademi dia memang minta untuk pulang sendiri tanpa bodyguard untuk bisa lebih mandiri.

"Baik, ayo kakek." Tanggap Sasuke dengan semangat bahkan sudah menyeret tangan Kizashi dan Sumaru meninggalkan Hinata dan Naruto.

Untuk beberapa saat suasana jadi canggung lagi gara-gara mereka hanya berdua. Naruto menatap Hinata yang mematung canggung.

Tangan kanannya dia ulurkan pada sang gadis tanda minta digandeng.

"Tidak menggandengku Kaa-chan?" Naruto mencoba mencairkan suasana agar Hinata bisa bersikap normal layaknya hari-hari kemarin. Iris lavender Hinata sejenak memancarkan keraguan sampai pada akhirnya dia genggam juga tangan mungil itu untuk berjalan bersama ke tempat Hokage.

Sesampainya di ruang Hokage Naruto tidak terkejut jika ada Sakura disana. Pantas si gadis pink tidak menjemput Sasuke hari ini. Dia hirup nafas dalam-dalam saat sampai di depan Tsunade yang menatapnya serius. Naruto jujur gugup dan bercampur takut gara-gara merasakan kewibawaan aura sang Hokage.

"Eng, Baa-chan tolong jangan memandangiku seperti itu. Baa-chan membuatku takut." Ujar Naruto sambil mendekap Hinata gemetaran. Mental Naruto nyatanya masih belum kuat untuk menerima perubahan yang mendadak. Anak kecil normal mungkin akan menangis bila mendapat tatapan serius dari orang setingkat kage.

Paras cantik Tsunade kemudian melunak, segera dia tinggalkan meja kerjanya untuk menghampiri Naruto. Wanita pirang itu lalu jongkok untuk menyetarakan tingginya dengan Naruto. Sosok kecil itu mulai kurang nyaman saat Tsunade mulai mencubiti pipi tembemnya.

"Aww, sakit Baa-chan!" Erang Naruto reflek. Hokage tersenyum tulus.

"Apa ini benar kau Naruto?" Tanyanya sambil mengacak rambut pirang kecilnya. Sosok kecil Naruto tak dipungkiri menggemaskan siapapun tak terkecuali Hokage sendiri.

Naruto berkacak pinggang dihadapan Tsunade. "Memangnya dari dulu Naru kemana? Ini memang aku Baa-chan." Bahu Tsunade kemudian bergetar saat mendengar suara Naruto yang tidak bisa lepas dari nada milik anak-anak.

"Kau sungguh tahu siapa dirimu? Tapi kenapa sifatmu masih mirip anak-anak?" Tanya Tsunade sambil berjalan kembali ke tempat duduknya. Wanita cantik itu sudah bisa dipastikan pusing gara-gara melihat sifat Naruto. Seingatnya orang amnesia begitu ingatannya kembali maka sifat aslinya akan kembali.

Naruto menggeleng tidak tahu.

"Sepertinya aku tahu apa yang terjadi pada Naruto dan Sasuke, perkembangan mereka dimulai dari awal lagi." Gadis bersurai merah jambu itu kemudian memberikan sebuah buku yang sedari tadi dia pegang. Sedari tadi dia belum mampu berkomentar sejak Naruto dan Hinata datang. Mengetahui ingatan Naruto telah kembali sangat membuatnya risau memikirkan Sasuke.

Dia takut Sasuke tidak menerima kehadirannya, Sakura takut Sasuke menjadi yang dulu. Si gadis berani memberi pengecualian untuk membenarkan dugaannya pada Sasuke karena Sakura tahu pemuda raven adalah sang Uchiha yang masih penuh misteri, bisa saja dalam hati Sasuke masih ada kegelapan jika ingatannya kembali.

"Psikologi Perkembangan?" Tsunade heran saat Sakura memberikan buku itu.

"Mungkin tidak ada kaitannya dengan jurus yang membuat keduanya mengecil tapi teori-teori di dalam bisa menjelaskan mengapa mereka bersikap seperti itu. Dalam buku itu dijelaskan perkembangan manusia pada umumnya, satu hal saja yang dapat kujelaskan perkembangan Naruto dan Sasuke sesuai dengan penjelmaan tubuhnya. Tubuh Naruto dan Sasuke sekarang sekitar usia delapan tahun jadi aku tidak heran jika mereka memiliki karakteristik anak-anak karena saat kehilangan ingatan mereka memulai perkembangannya dimulai dari masa emas yaitu sekitar tiga sampai empat tahun. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai sifat karena hal itu bisa diubah melalui pembiasaan." Tutur Sakura dengan nada penuh keyakinan. Irish viridian Sakura kemudian menatap Naruto hangat seolah mengatakan selamat datang.

"Eng Jadi?" Naruto jadi semakin bingung untuk bersikap. Sementara dia masih dilanda kebingungan tiba- tiba Hinata melempar sebuah kunai tepat ke dahan.

Jleb.

"Ada yang menguping!" Desis Hinata waspada diikuti Sakura. Tidak perlu menunggu lama nyatanya dahan yang terkena kunai langsung patah dan menimpa si penguping.

"Huwaaaaaaa! Brug!" Teriak penguping yang kini sudah jatuh dengan posisi tidak elit. Semua orang yang ada di ruang itu menganga ketika melihat siapa yang kini nyengir lebar ketika ketahuan menguping.

"Ne, aku ketahuan juga." Ujarnya sambil memegangi kepala kecilnya yang kejatuhan dahan pohon.

.

.

.

"Jadi apa Sasu akan dihukum?" Si penguping kecil itu rupanya adalah Uchiha Sasuke yang mencuri dengar dari pohon. Anak itu kabur dari Kizashi dan menguping pembicaraan di ruang Hokage. Begitu ketahuan tak ayal dua bocah jadi-jadian banyak dicerca berbagai pertanyaan.

Sekali lagi mata onixnya mengintip wajah sangar Hokage dari balik poni rambut dengan tatapan takut-takut.

"Sudah berapa kali kubilang kalian berdua santai saja, aku tidak mau di cap sebagai sumber tangisan anak-anak." Omel Tsunade pada keduanya.

Tsunade baru sadar ternyata sulit berbicara serius pada anak-anak , dua bocah berwajah menggemaskan dengan mata kekanakan diperlakukan bak Shinobi dewasa dan hasilnya adalah perasaan takut yang keluar. Mungkin Tsunade perlu menunggu moment tertentu agar mereka bisa nyambung.

"Baa-chan sendiri yang menakuti kami. Aku juga tidak mau seperti ini tapi mau bagaimana lagi." Hinata makin erat menggengam tangan Naruto agar menenangkannya.

Tsunade menghela nafas panjang."Baiklah, pembicaraan hari ini kucukupkan. Aku akan mencari cara agar volume cakra kalian cepat memadai hingga kalian bisa kembali ke wujud semula. Urusan selebihnya kuserahkan pada kalian Haruno Sakura dan Hyuuga Hinata."

Maka berakhirlah hari yang menegangkan bagi mereka berempat. Bagi Hinata dan Naruto meski diliputi kecanggungan tapi mereka berdua setidaknya bisa menyesuaikan diri satu sama lain. Bagi Sakura dan Sasuke bisa jadi moment ini akan mulai membuka luka lama yang pahit. Keduanya belum tahu hubungan mereka ke depan nanti.

Jika dulu Sasuke adalah sosok yang sangat tertutup namun sangat dicintai Sakura maka sekarang gadis beriris emerald itu bingung harus mulai dari mana setelah mengetahui kenyataan.

"Apa maksudnya dia menyembunyikan ini dariku?" Sakura sama sekali tidak bisa menyelami sosok Sasuke yang sekarang.

"Oka-chan kenapa melamun?" Pertanyaan itu menarik Sakura kembali kealam nyata saat bocah itu menarik-narik baju Sakura seperti kebiasaannya. Sang gadis melamun di depan ruang Hokage.

"Berhentilah berpura-pura Uchiha, kau tidak mungkinkan lepas dari sifat aslimu begitu saja. Seingatku Uchiha Sasuke saat umur delapan tahun tidak semanja ini." Ujar Sakura ketus kemudian melenggang pergi meninggalkan Sasuke di lorong. Dia marah pada Sasuke yang tidak berterus terang sejak awal dan malah bersikap kekanakan. Sakura tidak yakin jika asumsinya berlaku juga pada Sasuke karena bocah raven itu tergolong cerdas sejak kecil.

"Oka-chan." Lirih Sasuke sedih menatap punggung Sakura yang semakin menjauh. Karena Sakura sudah meninggalkannya maka Sasuke terpaksa pulang sendiri ke rumah. Memikirkan Sakura, jauh membuat emosinya menguat hingga sepanjang jalan terus melamun. Sesampainya di depan rumah dia beranikan diri untuk masuk ke rumah yang selama ini ditinggali.

Begitu masuk, disana dia sudah disambut oleh Kizashi yang sudah menunggunya di meja makan.

"Kau pulang terlambat Sasuke ini sudah hampir makan malam loh. Cepat mandi dulu, lalu makan sama kakek kuyakin kau punya banyak cerita hari ini." Perintah Kizashi sambil meminta tas kecil Sasuke yang masih bertengger di punggungnya.

Sasuke mengangguk dan segera menuruti perintah Kizashi. Makan malam keluarga Haruno tidak seramai biasanya karena Sakura sejak pulang belum keluar dari kamar. Selesai makan malam Sasuke menceritakan semua masalahnya pada Kizashi dan Mebuki yang anehnya malah tertawa saat mendengar cerita Sasuke.

"Sakura hanya belum memahami posisimu Sasuke-kun. Kalau dilihat dari latar belakangmu memang sulit mempercayai kau bisa bersikap seperti ini." Ujar Mebuki sambil menyiapkan seporsi piring.

"Ini, kau bawakan untuk Sakura." Mebuki mengulurkan sepiring nasi beserta lauk pada Sasuke .

"Kalau Oka-chan masih marah bagaimana?" Tanya Sasuke sangsi, dia ragu Sakura mau bertemu dengannya. Kizashi tertawa renyah.

"Kau ini laki-laki Sasuke, ayolah jangan memalukan nama kelurgamu gara-gara tidak bisa menaklukan seorang gadis. Kudengar dulu kau banyak dikejar para gadis." Ujar Kizashi enteng tidak lupa menepuk-nepuk kepala sang bocah yang kini sudah manyun.

"Nanti kalau ada piring melayang, Sasu minta bantuan ya kek." Meski ragu anak berambut dark blue itu membawa piring besar itu untuk Sakura. Dengan hati-hati dia membuka kamar Sakura yang tidak dikunci.

"Oka-chan, Sasu bawa makan malam untuk Oka-chan." Ujarnya sambil memasuki kamar Sakura yang gelap. Meski gelap Sasuke masih bisa melihat ke dalam kamar karena sinar bulan yang hari ini sedang purnama menyusup terang ke kamar Sakura.

Gadis bersiluet merah jambu tak bergeming dengan kedatangan Sasuke. Dia mengenakan baju tidur pink dengan gambar kelinci putih di piama tidurnya.

"Oka-chan ini makan malamnya , ayo dimakan." Tangan kecil Sasuke menyodorkan piring dari Mebuki namun sang gadis hanya menatap dingin Sasuke lalu beralih lagi memandang bulan dari jendela. Ingin rasanya Sasuke menangis saat Sakura mengabaikannya. Dia kemudian memilih mundur dan meletakkan piring itu di meja dekat tempat tidur Sakura.

Mata hitamnya memandang sedih Sakura yang mengacuhkannya. Sejenak dia terduduk di tempat tidur Sakura, perhatiannya teralih melihat foto tim 7 yang terpajang manis di dekat tempat tidur.

"Oka-chan masih punya foto ini? Sayang foto milik Sasu sudah hilang. Oka-chan punya duplikatnya tidak? Kalau punya boleh Sasu minta?" Lagi ocehan Sasuke tidak ditanggapi Sakura. Perasaan pemuda ini makin sedih layaknya anak-anak normal saat diabaikan. Lima belas menit sudah Sasuke diacuhkan di dalam kamar.

"Oka-chan ayo menoleh, Sasu ingin menunjukkan jurus baru. Aku ingin Oka-chan tepuk tangan untukku." Pinta Sasuke dengan nada memohon.

Sakura mengerlingkan matanya. Dia tidak mungkin terkejut jika Sasuke memperlihatkan Chidhori atau jurus apapun terserahlah, dia tidak akan mungkin terkejut dan dia tidak peduli.

"Ayolah Oka-chan lihat Sasu sebentar saja!" Sulit dipercaya Sakura bisa mengabaikan bocah yang sudah sedari tadi memelas minta perhatian. Namun sekeras apapun hatinya akhirnya luluh juga dengan rengekan Sasuke yang menurut Sakura palsu tapi tetap meluluhkan hati.

Kepalanya dia tolehkan untuk melihat apa yang akan diperbuat sang bocah. Iris viridiannya terkejut saat tidak menemukan sosok kecil di belakangnya.

"Sasuke?" Panggilnya namun tidak ada jawaban.

"Sasuke kau dimana?" Dia mulai panik ketika bocah kecil itu tiba-tiba menghilang. Gadis ini mulai bingung saat pandangannya tidak menemukan sosok kecil itu.

Grep.

Iris Sakura membulat saat tiba-tiba tubuhnya dipeluk pelan dari belakang oleh seseorang. Tangan kekar seseorang memeluknya lembut, tanpa disadari pundaknya telah menjadi sandaran dari seseorang.

"Sa-su-ke-kun?" Panggilnya tidak percaya pada sosok dibelakang. Putri tunggal Haruno berpaling cepat pada sosok pemuda kekar yang wajahnya terlihat lebih dewasa. Sosok itu adalah sosok Sasuke remaja. Reflek dia melepas pelukan itu untuk mengamati baik-baik sosok di depannya.

Paras tampan dengan mata black onix dingin menatapnya sendu. Sekali lihat Sakura juga tahu siapa sosok di depan.

"Jurus penyamaran?" Tanya Sakura kesal. Sosok penyamaran Sasuke tersenyum dan mendekat kearah Sakura dengan pandangan intens. Gadis ini mulai tak nyaman ketika pemuda ini semakin dekat, dia membelalak tidak percaya saat mata hitamnya berubah menjadi sharingan. Terlambat untuk bergerak detik berikutnya Sakura sudah pingsan dan jatuh kepelukan Sasuke.

Sakura merasakan pening hebat pada kepalanya saat kesadarannya mulai datang. "Uchiha sialan," Begitulah pikiran Sakura saat kesadarannya mulai pulih.

"Aku minta maaf atas semua kesalahanku." Kata Sasuke begitu mata indah Sakura terbuka. Gadis ini panik saat menyadari terbangun di atap rumahnya bersama Sasuke. Dipangkuan sang pemuda ada nampan yang berisi makan malam Sakura dan segelas susu. Sasuke masih memakai jurus penyamaran untuk menyerupai sosoknya yang dulu.

"Apa-apan kau Sasuke?" Katanya marah, gadis ini berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh ke bawah.

"Mengajak melihat bintang dan bulan." Ucapnya tanpa beban.

Sakura membuang muka dan lebih memilih melihat kedepan. "Kenapa memakai jurus penyamaran?" Tanyanya dengan acuh.

"Tubuh Sasu terlalu kecil untuk gendong Oka-chan ke atap."

Pemuda itu lalu memberikan nampan berisi makanan yang kali ini terpaksa diterima Sakura.

"Eng Sasu ingin bicara baik-baik dengan Oka-chan. Tapi satu hal yang perlu Oka-chan ketahui apa yang terjadi dengan Naruto juga terjadi dengan Sasu. Jika Oka-chan berpikir Sasu berpura-pura itu salah dan maksud Sasu menyembunyikan hal ini karena takut Oka-chan akan shock bila tidak diberitahu pada saat yang tepat. Mungkin memang sulit dipercaya tapi untuk sementara inilah Sasuke yang Oka-chan kenal." Jelas pemuda itu diakhiri cengiran kekanakan meski menggunakan tubuh dewasa.

Sakura tidak mampu berkata-kata kecuali merundukkan kepala untuk menyembunyikkan air mata. Piringnya sudah disampirkan ke samping. Merasa iba, Sasuke memberikan sebuah pelukan hangat untuk Sakura.

"Aku akan tetap sayang Sakura baik sebagai Oka-chan maupun sebagai seseorang yang berarti untuk Sasu." Sebuah dekapan hangat memang sangat pantas didapat Sakura setelah sekian lama memperjuangkan cintanya. Dia telah begitu lama mencari obat untuk hatinya yang hanya bisa disembuhkan oleh Sasuke.

Lama mereka dalam posisi seperti itu akhirnya Sakura tidur dalam dekapan Sasuke. Malam itu bulan dan bintanglah yang menjadi saksi akan awal yang baru dari mereka berdua.

.

.

Byur!

Segelas air kecil tersiram ke wajah cantik Sakura. Lagi, tidak perlu menuduh dia sudah tahu siapa yang biasa melakukan hal ini padanya.

"SASUKE sudah berapa kali Oka-chan bilang jangan membangunkanku dengan cara seperti itu!" Wajah horor Sakura terpampang jelas pada sosok kecil yang tengah gemetaran memegang gelas kecil. Salahkan saja Mebuki yang kebiasaan menyiram Sakura bila anak gadisnya bangun kesiangan.

Ingat! Masa anak-anak perlu human modeling yang bisa dijadikan panutan. Bisa dilihat perbedaannya bukan? Sasuke yang diasuh Sakura dan Naruto yang diasuh Hinata. Lingkungan juga berperan penting dalam mengembangkan kepribadian anak-anak selain gen. Menurut teori konvergensi kepribadian manusia dipengaruhi lingkungan dan gen. Usia anak-anak adalah masa suka meniru jadi bagi yang punya adik kecil perhatikan baik-baik tingkah laku kalian agar tidak menjadi contoh yang buruk.

"Kyaaaaaaaaaaaaaa! Kakek! Oka-chan sudah bangun, sudah Sasu bilang jangan suruh Sasu." Teriak Sasuke seperti kebiasaannya lalu kabur dari kamar Sakura. Gadis ini nampaknya harus bersabar lebih lama lagi untuk melihat Sasuke yang dewasa. Dia hela nafas panjang ketika teringat mendapat panggilan dari Iruka gara-gara Sasuke. Namun begitu, wajah cantiknya bisa tersenyum lagi karena hari-harinya akan lebih berwarna dengan sosok Sasuke yang sekarang.

Hubungan dua pasangan itu cukup aneh kadang bisa romantis tapi kadang bisa layaknya ibu dan anak. Perlahan Sasuke dan Naruto juga mulai membiasakan diri untuk mengurangi memanggil dengan kata Oka-chan dan Kaa-chan pada keduanya. Latihan-latihan ringan juga mulai diberikan untuk mengembalikan kekuatan tentu disesuaikan dengan kapasitas cakra.

.

.

.

Hari ini mereka menjalankan hukuman untuk hari ke 15. Naruto mendorong kursi untuk menghapus papan tulis dan hal itu masih bisa membuat Sumaru yang menunggui mereka berdua tertawa. Kemalangan nampaknya belum mau lenyap dari kedua bocah bermasalah karena mereka dihukum menggantikan piket siang selama sebulan.

"Mentang-mentang kami pendek, selalu jadi bahan tertawaan." Curhat Naruto pada sisa orang di kelas yaitu Sasuke dan Sumaru.

"Sumaru kan cuma bisanya tertawa. Eh, ngomong-ngomong apa kalian dapat undangan pesta ulang tahun Koyuki?" Tanya Sasuke sambil menyapu yang sapunya lebih tinggi dari tubuhnya. Topik hari ini adalah undangan untuk ulang tahun Koyuki dan Sasuke secara malang tidak menerima undangan.

"Tidak." Jawab Naruto.

"Dapat." Jawab Sumaru.

"Aku juga tidak dapat, dobe. Enak yang dapat undangan bisa jalan-jalan ke Yukigakure. Dasar orang kaya hanya ulang tahun saja sudah dirayakan besar-besaran." Kata Sasuke masih dalam posisi menyapu kelas.

"Asal kau tahu saja selain artis dia itu juga keturunan bangsawan jadi wajar dirayakan besar-besaran." Ucap Sumaru malas sambil menunjukkan kartu undangan yang dibuat secara mewah dan di dalamnya juga sudah ada tiket kapal ke Yukigakure.

"Toh aku tidak akan datang kalau kalian tidak undang." Ucapnya santai. Betapa senangnya mereka berdua mengetahui Sumaru begitu peduli pada mereka. Tidak salah Sumaru menjadi sahabat mereka meski kadang menyebalkan.

Begitu selesai piket mereka segera pulang, seperti hari-hari biasa mereka sudah di jemput Hinata dan Sakura.

"Hei jagoan bagaimana hukumannya?" Sapa Sakura riang pada keduanya. Tidak perlu dijawab wajah Naruto dan Sasuke langsung tertekuk.

"Bersemangatlah, karena tinggal setengah Naruto-kun , Sasuke-kun. Lihat! Kalian dapat undangan pesta ulang tahun dari Koyuki."

"Benarkah?" Naruto sangsi mereka diundang.

"Itu benar, kami berdua bersama Sai, Kapten Yamato dan Guru Kakashi dapat misi juga kesana untuk mengawal kapal dari Konoha. Jadi kami akan mendampingi kalian." Sakura merangkul Hinata untuk menunjukkan kebahagiaan. Isi otak Sakura sekarang hanya misi berduaan dengan Sasuke karena mumpung sang pemuda belum balik ke sifat asal.

"Tidak asik bersama Paman Kakashi dan Paman Yamato." Batin Naruto malas.

"Sensei pembawa masalah!" Sasuke masih sebal dengan keduanya gara-gara mereka kena hukuman.

"Dikerjain asik nih!" Begitulah kira-kira pikiran nista Sasuke dan Naruto.

Bersambung

Than to

Black market, Mushi kara-chan, kirei- neko, tsunayoshi yuzuru, fajar jabrik, , a first letter, Mr Xavier, , KirikaNoKarin, Yumi Murakami, niixz valerie 5, akbar123, UzumakiKito, ypratama17, missingnin68, huddexxx69, Akira no Rinnegan, hime-chan1301, TheBrownEyes'129, hanazawa kay, aftu-kun, GazzelE VR, Kumada Chiyu, .7, Shin 41, Aikha Aizawa, yuan, Nagasaki, Manguni, Randou Amane, koga-san, HyuNami NaruNata, Uchiha Sakura, monkey D nico, hanafransiska08, fazrulz21, hinata lover, Lhylia Kiryu, Akiko Rin, Subarashii Shinju, Drak Yagami, Karizta-chan, Shizura-Chan, GraceAnnesh, sonedinda2, Elgha-Shi no GoBesuto, TobiAkatsukiID, Sasusaku's fans, Namikazeuzumaki, naruhiluna, Mangekyooo JumawanBluez, Nabila Chan BTL, Hikaru-Ryuu Hitachiin, , ujhethejamers, , Tsurugi De Lelouch, Bluexa, NaruGankster, Ocean Rays, iya baka-san, roy23, Vin'DieseL No Giza, Yuki no Ame, Nitya-chan, namikaze yondaime, Uchiha Sei, Uchiha Sei, Kamikaze, Arum Junnie, Kagawa, UchiHaruno, UchiHaruno, Reds, Nhl, Me, Ricchi, Me, Namiuzu, karina, Audhitaputri, zhouellhyenhouerwhey, raziodark, AsmaraWidy, andrijoe23, Osaka the Japan, Vermthy, Kyuubi no Baka, kushina namikaze, kyuubi no baka, Namikaze arhtur, YMD, Chimunk 9, , karina, Ayu-chan, nandaliciouss, Red devils-san, Red devils, oni, khoirunnisa740, Nn, zhaErza, Yamamoto Hikaru, akasuna no ei-chan, Manguni, Joice, anisa, UchiHarunoKid, aeon zealot lucifer, Yukihana Nokawa, amanda-wacha chan, marina, eureka eklesius dan All Guest, yang udah mampir baca juga.

Apa bila ada kesalahan kurang lebihnya mohon maaf.

Terimakasih kritik dan Sarannya.

Berminat Review?