Not a FairyTale
Author: Nacchan Sakura
I DO- not own Durarara!. Sadly.
.
.
.
Chap 10: Jester
.
.
.
Note(s): Based of Jester by Valshe / AU / HAPPY 10 CHAPTER! /o/ / Ceritanya agak panjang! Siapkan cemilan untuk menemani anda membaca 8D *plak*
.
.
.
Di sebuah negeri antah berantah,
Terdapat sebuah kerajaan yang selalu dihibur oleh seorang badut.
Tidak usah khawatir akan rasa bosan ataupun sedih,
Badut itu akan selalu menghibur siapapun.
Tak peduli harus sampai kapan ia tersenyum,
Tak peduli harus sampai kapan ia menjadi seorang badut,
Tak peduli seberapa sakitnya, ia harus tetap tersenyum dalam kesedihannya.
.
.
Suatu hari, seorang pangeran datang ke negeri itu.
Layaknya tamu lainnya yang datang berkunjung ke kerajaan negeri ini,
Sang badut harus menghiburnya.
Hari demi hari mereka lewati bersama,
Hari demi hari sang badut terus menghiburnya dan membuatnya senang.
Namun, ada yang berbeda.
Orang ini, berbeda.
Ia tak menganggap badut itu sebagai seorang penghibur belaka,
Ia menganggapnya sebagai teman.
Sang badut pun perlahan dan perlahan...
Ia jatuh cinta kepada sang pangeran.
Tetapi.
Hal itu sungguh mustahil. Bagaimanapun juga,
Cinta sang badut tak akan mungkin bisa terbalaskan.
Seorang pangeran dan seorang badut yang ditakdirkan untuk menghibur orang lain untuk seumur hidupnya,
Tak akan bisa menjadi pasangan yang abadi.
.
.
.
Dan.. cerita ini pun dimulai.
.
.
.
"Selamat datang di Myrrelian!" Seorang wanita—yang ternyata adalah sang ratu di kerajaan Myrrelian ini, menyambut ramah tamu mereka dari kerajaan Sapphire. Sang pangeran dari kerajaan Sapphire hanya tersenyum ramah.
"Kami sangat senang anda datang berkunjung, Shizuo-sama." Kini—sang raja yang berbicara. Membuat pangeran bernama Shizuo itu tersenyum sekali lagi.
"Aah, Celty, Shinra, kita ini kan memang teman dari dulu. Kenapa... dari tadi kalian bicara formal sekali?"
"Tidak tahu... aku hanya mengikuti naskah saja." Jawab Shinra, polos.
"Naskah apa..?"
"Lu-lupakan saja soal itu, Shizuo." Celty tersenyum. "Kau mau istirahat dulu? Atau makan dulu?
"Aku mau lihat tempat baru itu.. apa namanya, Jester Sanctuary..?"
"Oh, tempat itu.." Shinra membenarkan posisi kacamatanya sedikit. "Aku akan meminta Anri mengantarkanmu. Apa kau butuh hiburan sampai ingin datang kesana?"
"Tidak, aku hanya ingin tahu saja seperti apa tempatnya. Katanya disana baru ada satu Jester 'kan?"
"Iya. Karena memang jarang ada orang kerajaan yang membutuhkannya, jadi kami hanya menyimpan satu orang dulu.." Jawab Celty
"Ah, baiklah.. Bisa aku pergi sekarang?"
"Tentu. Aku akan panggil Anri sekarang."
'Seperti apa Jester Sanctuary itu?' Pikir Shizuo. Ia merasa sangat penasaran semenjak mendengar bahwa kerajaan milik temannya ini kini memiliki tempat baru yang bisa dibilang, cukup unik.
Disana akan ada seorang badut yang akan menghiburmu, siang dan malam, bahkan jika kau ingin ia menghiburmu untuk seumur hidupnya, ia akan melakukannya.
Shizuo hanya ingin tahu, seperti apa badut yang melakukan pekerjaan melelahkan seperti itu.
.
.
.
"Selamat datang di Jester Sanctuary." Seorang lelaki berambut pendek menyambut kedatangan Shizuo. "Perkenalkan, saya Mikado Ryugamine. Saya bertugaskan mengawal tempat ini. Apa anda ada keperluan disini?"
Shizuo memutar bola matanya dan sedikit menggaruk pelan rambutnya yang tidak gatal.
"A-aah, aku hanya ingin bertemu dengan Jester yang ada disini. Apa dia sedang ada di tempat?"
"Oh, iya. Tentu saja ia ada disini, kami tak pernah membiarkannya keluar."
"Egh? Kalian terus-terusan menguncinya di dalam tempat ini?"
Mikado mengangguk pelan. "Ia satu-satunya Jester di negeri ini. Kalau kami kehilangan dia, maka negeri kami akan sulit mendapatkan seorang Jester lagi. Karena kebanyakan orang tidak ada yang mau mengambil pekerjaan sebagai Jester.."
'Tempat apa ini? Bahkan ini lebih parah daripada penjara..' Ucap Shizuo dalam hati
"Aku mengerti. Boleh aku masuk?"
"Silahkan" Mikado tersenyum dan membuka pintu gerbang besar yang terbuat dari kayu itu.
Shizuo melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan—bukan, tempat bernama Jester Sanctuary itu. Ia terkagum melihat betapa bedanya isi dari Jester Sanctuary dengan apa yang sudah ia bayangkan.
Di Jester Sanctuary ini, seperti terdapat kota terpencil, yang terpisah dari kerajaan. Tempat ini dipenuhi padang rumput yang berbunga, dan juga sungai yang berisikan air jernih. Juga ada sebuah bangunan di tengah kolam besar—berbentuk seperti panggung yang dikelilingi puing-puing pilar yang sudah hancur.
Shizuo berjalan menuju panggung itu, dan disana ia menemukan—sosok Jester yang menjadi satu-satunya di kerajaan ini.
Ya, Jester—atau badut yang ia lihat juga berbeda dengan yang selama ini ia bayangkan. Ia berbeda dengan badut yang memakai topeng dan bola besar di bajunya agar terlihat gendut.
Ia hanya seperti—lelaki pada umumnya. Rambutnya berwarna hitam, matanya berwarna merah yang lembut, dan posturnya cukup tinggi. Di wajahnya terdapat corak yang biasa orang temukan pada wajah badut, dan kostumnya pun—biasa saja. Mungkin bisa dibilang, kostumnya mengikuti mode. Tidak seperti badut pada umumnya.
Jester itu menyadari keberadaan Shizuo dan menoleh ke arahnya. Dan di saat mata mereka bertemu, waktu yang singkat itu terasa seperti terhenti sesaat.
Jester itu tersenyum lebar dan menghampiri Shizuo. Ia membawa sebuah flute di tangannya. Shizuo hanya terdiam sampai Jester itu telah berada tepat di depannya dan berlutut di hadapannya.
"Perkenalkan, tuan. Nama saya Izaya. Saya Jester yang hanya ada di kerajaan Myrrelian." Izaya mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis
"A-ahh, tidak usah formal begitu. Kau kelihatannya seumur denganku, bukan?" Shizuo merasa salah tingkah melihat lelaki yang begitu sopan seperti ini. "Namaku Shizuo. Panggil saja Shizuo."
"Shizuo-sama, dari kerajaan Sapphire bukan? Hamba sudah tahu."
"Oh.. Yoroshiku, kalau begitu."
Izaya pun kembali berdiri dan tersenyum tipis. "Apakah anda butuh hiburan sehingga datang kesini?"
Untuk sesaat, semburat merah tipis muncul di wajah Shizuo. Namun, dengan cepat lelaki itu mengusir rona merah yang ada di wajahnya. Aneh, melihat lelaki ini tersenyum, dan juga sikapnya yang sopan, membuat Shizuo merasa.. terpana.
"A-ah, tidak, aku hanya penasaran seperti apa Jester Sanctuary itu. Lalu aku ingin melihat kau.. Jester satu-satunya di Myrrelian."
Izaya sedikit terkejut mendengar kata-kata Shizuo. "Sungguh sebuah kesenangan bagi saya.. untuk mengetahui bahwa anda kesini, hanya karena untuk melihat saya." Izaya membungkuk sedikit, memberikan pertanda bahwa ia sedang memberi hormat pada Shizuo.
"A-ah, ini bukan apa-apa.." Shizuo lagi-lagi salah tingkah. "Dan.. kumohon, berhenti bersikap terlalu... sopan."
"Ah, tapi—"
"Ya, ya, aku tahu kau harus menghormati siapapun tamu kehormatan yang datang kesini. Tapi, anggap saja aku pengecualian, ya?"
"Jika saya boleh bertanya, kenapa?"
Shizuo hanya tersenyum hangat.
"Karena aku ingin menjadi temanmu"
.
.
.
"Izaya, biasanya, apa saja yang kau lakukan untuk menghibur orang?"
Semenjak Shizuo mengucapkan bahwa ia ingin menjadi teman Izaya, hubungan mereka menjadi dekat. Izaya hanya tersenyum setelah mendengar kata-kata Shizuo, dan mengatakan bahwa ini pertama kalinya ia mendapatkan teman.
Ini adalah hari kedua Shizuo menetap di Myrrelian. Shizuo kembali mengunjungi Jester Sanctuary untuk menemui Izaya, Jester satu-satunya di kerajaan ini, dan juga temannya.
Kini, Izaya dan Shizuo sedang duduk bersama di lantai panggung yang berbentuk seperti puing-puing bangunan hancur. Mereka berbicara bersama, menceritakan banyak hal, dan juga belajar mengenal satu sama lain lebih jauh. Mereka sudah benar-benar seperti teman sekarang.
"Aku biasanya memainkan musik, atau melakukan pentas boneka marionette. Terkadang aku juga menyanyi dan menari, atau melakukan sedikit pertunjukkan sulap. Namun kalau tamu yang datang memintaku untuk melakukan hal lain sesuai keinginan mereka, aku juga akan melakukannya."
Shizuo mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban Izaya.
"Euh.. 'hal lain' yang kau maksud itu, misalnya, apa?"
Izaya terdiam. Lalu ia tertawa pahit.
"Ahaha. Kalau aku ceritakan, nanti Shizu-chan akan benci padaku loh"
"Memangnya aku peduli? Aku tak akan membencimu, jadi ceritakan saja. Kita ini teman, 'kan?"
Izaya terdiam. Ia mengambil nafas panjang, dan kemudian membuangnya ke udara hampa.
"Misalkan.. jika ada seorang putri yang ingin agar aku.. melakukan.. 'sesuatu' terhadapnya. Atau.. seorang lelaki yang.. me—"
"Cukup." Shizuo dengan segera menghentikan kata-kata Izaya dengan satu jari telunjuknya. "Aku mengerti, jadi.. tidak usah diteruskan."
Izaya tertawa kecil. "Itu sisi negatifnya. Kalau hal lainnya, misalkan ada anak kecil yang ingin aku jadi kakak mereka untuk sehari, atau ada tamu yang ingin agar aku mengajarinya berdansa, aku pasti akan melayani mereka. Tidak buruk, 'kan?"
Shizuo memandang Izaya dengan tatapan yang tak meyakinkan. Semenjak tadi, ia memang selalu melihat Izaya tersenyum dan tertawa, namun semuanya berkesan palsu dan memaksakan.
Ia tahu, Izaya pasti sebenarnya tak mau melakukan semua ini.
"Ah, benar. Shizu-chan, karena sudah menjadi tamu kesini, Shizu-chan juga harus memintaku untuk melakukan sesuatu. Karena kalau tidak, Ratu nanti akan marah kepadaku.."
"Egh? Aku sudah memintamu untuk jadi temanku, bukan?"
"E-eh? Jadi.. itu tadi sungguhan?"
"Bodoh, kau pikir aku bercanda?"
"Ahaha!" Izaya tertawa lagi. "Baiklah kalau begitu. Ayo kita lakukan banyak hal yang biasanya teman lakukan."
Sekarang, giliran Shizuo terdiam. 'Yang biasa teman lakukan? Maksudnya, yang seperti apa?' pikir Shizuo. Matanya sesekali menatap Izaya yang masih tersenyum palsu dan otaknya kembali berpikir. Yang biasa teman lakukan..
Shizuo memeluk Izaya.
Tindakan itu sangat tidak diduga oleh Izaya. Bahkan saking terkejutnya, Izaya sampai lupa untuk terus memasang senyumnya. Shizuo hanya mendekapnya erat, dan membelai kepala Izaya dengan lembut.
"Shizu-chan, ap—"
"Ini." Shizuo memotong kata-kata Izaya. "Adalah yang teman lakukan jika temannya sedang sedih."
Izaya terdiam. "Tapi, aku tidak sedih.."
"Jangan berbohong. Kalau kau tidak sedih, mungkin sedari tadi kau tersenyum dari dalam hatimu. Tak akan ada senyum palsu di wajahmu."
Hening.
Izaya terdiam dan Shizuo masih mendekapnya. Mereka diselimuti oleh keheningan yang cukup lama. Tubuh Izaya sedikit bergetar dan ia membalas pelukan Shizuo. Memegang erat lengan baju milik lelaki berambut blonde itu sampai kusut, dan Izaya mulai menangis.
Shizuo tidak mengatakan apapun, ia hanya memeluk Izaya, dan terdiam. Membiarkan sang Jester menangis di dalam pelukannya, membiarkan sang Jester menjadi dirinya sendiri untuk saat ini saja.
"Tak perlu tertawa.. tak perlu tersenyum.. tak perlu melakukan itu semua jika hanya demi orang lain.. tertawa dan tersenyumlah untuk dirimu sendiri." Bisik Shizuo lembut.
"Aku—" Izaya berusaha berbicara di tengah siak tangisnya. "Sudah lupa—bagaimana caranya tersenyum dan tertawa untuk diriku sendiri."
Shizuo tersenyum. "Kalau begitu, aku akan mengajarkanmu, bagaimana cara tersenyum."
"Kau akan.. mengajariku?"
"Benar." Shizuo melepaskan pelukannya dan berdiri, seraya mengulurkan tangannya. "Selama ini, kau terus menghibur orang lain, membuat mereka tersenyum dan tertawa. Kini, biarkan aku yang akan menghiburmu, dan membuatmu tersenyum dan juga tertawa."
Tak ada hal lain yang bisa kulakukan,
Aku mempercayai bahwa apa yang aku lakukan ini benar.
Terus menari, terus menyanyi,
Terus buat mereka tersenyum dan senang.
Walau itu semua harus membuatku meninggalkan rasa sakit di hati.
"Terima kasih.." gumam Izaya. "Terima kasih.. Shizu-chan."
.
.
.
Hari demi hari berlalu.
Sang pangeran dan sang Jester kini semakin dekat, layaknya sepasang magnet yang tak bisa dipisahkan.
Sang pangeran mengerti akan semua rasa sakit yang Jester itu derita.
Dan sang Jester mengerti sebesar apa rasa peduli sang pangeran terhadapnya.
Namun,
Sebuah perasaan yang tabu itu muncul.
Jester tak akan mungkin menjadi pasangan untuk seorang pangeran,
Pangeran tak akan mungkin menjadi pasangan untuk seorang Jester.
Lalu, bagaimana kisah ini akan berlanjut?
.
.
.
Shizuo menatap refleksi wajahnya di cermin. Wajahnya sungguh, sungguh kacau. Rambutnya berantakan, matanya merah karena tidak tidur semalaman. Seluruhnya, kacau.
Alasannya?
"AAGHHH! Aku—apa aku harus menemui Izaya hari ini? Setelah kemarin aku.. tidak sadar.. mencium..nya..?"
-Baiklah, sedikit flashback-
Sudah satu bulan Shizuo menetap di Myrrelian. Dan tentu saja, Shizuo masih rajin mengunjungi Izaya sang Jester setiap harinya.
Hari ini, Shizuo membawa dua buah buku gambar, dua buah pensil, dan juga alat pewarna. Shizuo mengajak Izaya untuk menggambar sesuatu bersama.
"Ah—aku tak tahu kau bisa menggambar atau tidak.. tapi kupikir, menggambar bersamamu mungkin menyenangkan. Aku biasa melukis di kerajaanku—jadi.."
Izaya tersenyum, rona tipis di wajahnya terlihat. "Aku bisa menggambar. Anak kecil yang datang kesini biasanya selalu menggambar bersamaku."
"Ah, souka.." Shizuo mengalihkan wajahnya, tak mau rona wajahnya terlihat oleh Izaya. "Kalau begitu, ayo kita menggambar."
"Ng! Aku mau menggambar bunga felicia yang baru saja mekar disana. Shizu-chan mau menggambar apa?"
Shizuo terdiam. 'Aku sih, inginnya menggambar sosokmu..' Shizuo ingin mengatakan hal itu, namun ia mengurungkan niatnya. "Aku juga akan menggambar bunga."
"Kalau begitu ayo kita kesana!"
Izaya menarik lengan Shizuo dan membawanya ke ladang bunga kecil yang ada di dalam Jester Sanctuary. Izaya duduk di dekat bunga Felicia yang akan ia gambar dan mulai menyiapkan buku gambar dan pensilnya.
Shizuo pun melakukan hal yang sama. Ia duduk tepat di hadapan Izaya yang sedang menggambar di buku gambarnya. Shizuo menyiapkan buku gambar miliknya dan bersiap menggoreskan pensil hitamnya di atas kertas yang putih.
Namun, matanya tidak terpaku pada bunga Felicia yang seharusnya ia gambar.
Matanya terpaku pada sosok Izaya yang sedang tersenyum sambil melukis bunga Felicia itu.
Dan tanpa disadari,
Shizuo menggoreskan pensil itu, membuat garis demi garis, dan membentuknya menjadi—
Sosok Izaya yang sedang tersenyum.
'...AKU INI MENGGAMBAR APAAN, SIH!' Shizuo berteriak di dalam hatinya, dan mengambil penghapus yang ia bawa. Ia memegang penghapus itu dekat dengan gambarnya dan /berniat/ akan menggoreskan penghapus itu di atas gambarnya.
Namun, ia merasa tak bisa menghapus gambar itu. Gambar yang ia buat dari dalam hatinya, gambar dari sosok seseorang yang sangat ia sayangi dan cintai.
Tunggu—cinta? Pikir Shizuo.
'Apa aku.. menyukai Izaya? Tanpa aku sadari?' tanya Shizuo dalam hati
"...Shizu-chan? Ada apa?"
"A—HWAAA!" Shizuo reflek berteriak karena terkejut dari lamunannya. Siapa yang tidak terkejut kalau sedang melamun tentang orang yang disukainya, lalu secara tiba-tiba, orang itu ada di hadapannya?
"Kenapa terkejut begitu?" Izaya tertawa. "Aku ingin lihat gambarmu, dong!"
"Eh—tidak boleh! Ga-gambarku gagal, jadi.. mau aku gambar ulang saja."
"Eh? Begitu, ya.." Izaya menghela nafas. "Kalau begitu, ayo kita kembali ke ruang utama. Mikado-kun sepertinya sudah menyiapkan makan siang."
"Ba-baiklah.."
Izaya mengulurkan tangannya, membantu Shizuo agar bisa berdiri dengan mudah. Shizuo menerima uluran tangan itu seperti biasa, namun—
Tiba-tiba, pikirannya akan perasaan 'cinta' tadi tiba-tiba muncul. Tepat saat Shizuo menyentuh tangannya.
"Eh—UWAA!"
BRUK!
"Shizu-chan~~! Kau ini kenapa, sih.." Izaya meraba kepalanya yang terbentur pelan. Ia terjatuh dengan indahnya setelah Shizuo secara tiba-tiba menarik tangannya, membuat Izaya terjatuh.
"A-aah, ..aku—" Shizuo berniat meminta maaf, sampai ia sadar akan posisi mereka sekarang yang—aneh.
Shizuo kini berada di atas Izaya. Kedua tangannya tersimpan di atas tanah, di samping bahu Izaya, menopang tubuhnya agar tidak terjatuh dan menimpa sang Jester. Sementara Izaya, berada di bawah Shizuo, sedang mengelus kepalanya sendiri yang kesakitan karena terjatuh.
Jarak mereka sekarang sangat, sangat dekat.
Wajah Shizuo langsung mendidih. Warna wajahnya dan gurita rebus mungkin tak ada bedanya sekarang.
'Apa yang aku lakukan, sih! Aku harus cepat-cepat menyingkir dan meminta maaf—' Shizuo lalu menatap wajah Izaya. Wajahnya yang manis, kulitnya yang putih pucat, dan juga parasnya yang selalu memasang senyum.
'Apa sebaiknya—
-Aku terus berlari dan menyembunyikan perasaan ini saja?'
"Shizu-chan..?"
Izaya terdiam. Matanya menatap mata Shizuo yang kini menatapnya lurus dan tajam. Ekspressinya begitu serius, dan ia tidak mengucapkan sepatah katapun.
Wajahnya perlahan semakin mendekat, mendekat, dan mendekat-
Chu
Dan beberapa detik kemudian, yang dirasakan Izaya hanyalah bibir Shizuo yang lembut, menempel di bibirnya. Ia tak diberi waktu untuk berpikir, ia hanya diberi waktu untuk merasakan seperti apa rasanya ciuman dari sang pangeran layaknya buku dongeng putri salju.
-Namun ciuman itu tak berlangsung lama, Shizuo tersadar dari tingkahnya yang kacau dan tiba-tiba menjauh dan berdiri dari posisinya.
"A—" Shizuo salah tingkah. "Aku—"
"Shizu-chan..." Izaya masih duduk di atas rerumputan, menatap Shizuo yang menundukkan kepalanya. "Itu tadi.."
"MAAFKAN AKU!" Shizuo pun berlari keluar dari Jester Sanctuary, meninggalkan Izaya yang kebingungan.
Kenapa ia menciumnya?
.
.
.
-End of Flashback~-
"KUSO KUSO KUSOOO! Sekarang... sekarang aku harus bagaimana..."
Sebuah ketukan pintu terdengar, membuat Shizuo berhenti mengacak-acak rambutnya. Ia pun berkata, "Masuk saja.", agar siapapun yang mengetuk pintu itu bisa masuk ke dalam ruangannya.
"Shizuo, ini aku.." Sosok Shinra yang tersenyum tipis memasuki ruangan Shizuo
"Oh, ternyata kau, Shinra.." Shizuo membuang nafas lega. "Ada apa? Ada yang perlu dibicarakan denganku?"
"Hm—iya." Shinra memasuki ruangan Shizuo dan duduk di salah satu sofa yang ada. "Ini tentang—Jester itu."
'Tentang Izaya?' "Aah, kenapa dengan Izaya?"
"Sebetulnya.. kemarin.. tidak, selama ini.. aku dan Celty.. mengetahui dan melihat.. semuanya yang kalian lakukan."
Mata Shizuo membelalak. Wajahnya memerah mengingat hari kemarin. "BERARTI KAU—"
"Te-tenang dulu, tenang dulu!" Shinra menenangkan Shizuo agar tidak mengamuk. "Aku hanya ingin bertanya, Shizuo.. apa kau menyukai Izaya?"
"...Hah? itu—itu.."
"...Di Jester Sanctuary, kami memasang banyak kamera. Maka dari itu kami tahu gerak-gerik dan semua yang Jester itu ucapkan dan lakukan, saat ia sendiri ataupun saat ia bersama seorang tamu."
Shizuo mengangkat satu alisnya. 'Itu berarti, Shinra juga tahu akan hal lain yang Izaya lakukan dengan tamunya.. termasuk hal hal "itu" juga?'
"DAN KAU—MEMBIARKAN IZAYA MELAKUKAN HAL-HAL 'ITU' YANG TAMUNYA MINTA?" Shizuo mencengkeram kerah dari pakaian Shinra
"AKU JUGA INGIN MENGHENTIKANNYA! Namun Izaya—ini kemauan Izaya sendiri. Dan kalau itu adalah apa yang tamu di kerajaan ini inginkan.. kami harus memberikannya.."
"...Aku akan membawa Izaya pergi."
"Shi—Shizuo?"
"AKU AKAN MEMBAWANYA PERGI!" teriak Shizuo. "Ia—ia lebih pantas tinggal di tempat yang damai, dimana ia bisa tersenyum dengan tulus. Ia tak pantas berada di sini."
"JANGAN! Shizuo, kau tidak tahu—Izaya menyukaimu!"
Shizuo terdiam.
"Apa maksudmu..?"
"Aku sudah bilang, bukan? Di sekeliling tempat itu, banyak kamera. Dan kamera itu selalu aktif 24 jam. Aku selalu mengawasi Izaya di malam hari. Dan yang aku lihat untuk sebulan ini adalah- sosok Izaya yang selalu tersenyum, sambil menggumamkan namamu, dan berbicara sendiri tentang apa yang akan kalian lakukan besok. Namun tadi malam—setelah kau menciumnya, Izaya.. Izaya menangis."
Gasp. Izaya menangis? Dan itu semua karena Shizuo menciumnya?
"Izaya menggumam, 'Shizu-chan tak boleh menyukaiku.. kita tak akan mungkin bisa bersama..' terus menerus. Dan yang terakhir ia katakan adalah, 'Aku.. aku menyukai Shizu-chan.' "
Shizuo mengepalkan kedua tangannya. "Lalu kenapa? Bukankah itu berarti kami memiliki perasaan yang sama? Kenapa ia menangis? Kenapa aku tak boleh membawanya pergi?"
"Kau tidak mengerti, Shizuo." Shinra menutup kedua bola matanya. "Sebenarnya.. setiap Jester yang sudah bersumpah akan menjadi Jester sampai akhir hidupnya, tak akan bisa bebas. Mereka tak bisa keluar dari Jester Sanctuary.. selamanya."
"...Kenapa..?"
"Karena jika mereka keluar.." sebuah jeda. "Mereka akan mati.. termakan oleh sumpah mereka sendiri."
Shizuo melepaskan tangannya yang mencengkeram pakaian Shinra, dan berlari dari ruangannya.
"IZAAYAAAA!"
.
.
.
Izaya termenung di dekat sebuah danau kecil yang indah. Izaya menatap pantulan wajahnya di atas air yang jernih itu, dan melihat bola matanya.
Kosong.
"Semenjak dulu, pandanganku selalu kosong. Tak tahu apa yang aku pandang, tak tahu apa yang akan aku lihat selanjutnya. Dan tak mau tahu akan apa yang bisa kulihat saat ini.."
Namun, saat Shizuo datang,
Matanya kini terisi oleh sosoknya.
Sosok Shizuo yang tersenyum, tertawa, dan memperlakukannya sebagai teman.. atau mungkin, lebih dari seorang teman.
Dan perasaan tabu itupun muncul.
Perasaan 'suka'.
"Aku tak boleh menyukainya.. seorang Jester tak boleh menyukai tamu nya lebih dari yang diharuskan.."
Izaya kembali termenung. Ia masih menatap pantulan wajahnya di atas air. Menatapnya sampai detik demi detik berlalu.
Matanya mengedip untuk sesaat, lalu ia kembali menatap pantulan wajahnya di air itu.
Dan ia melihat..
Ada sosok lain yang terpantul di atas air itu.
"Shizu-chan..?"
Shizuo tak mengatakan apapun, hanya memeluk Izaya dari belakang, mendekapnya erat.
"Bodoh.. kalau kau menyukaiku, kenapa kau tidak mengatakannya.."
"..Kenapa?" Izaya tertawa hampa. "Karena.. mengatakannya hanya membuatku merasa sakit."
"Karena kau tidak bisa bersamaku?"
Kurasa,
Aku hanya tak bisa jujur pada perasaanku sendiri.
"Takut.." gumam Izaya. "Aku takut.. kehilangan Shizu-chan.. untuk selamanya.. maka dari itu.. aku tidak bisa mengatakannya.."
"Kau tidak akan kehilangan diriku." Shizuo mengecup dahi Izaya. "Aku akan selalu ada di sampingmu.."
"Itu mustahil, aku tak akan bisa meninggalkan tempat ini."
"Lalu kenapa? Kalau kau tak bisa meninggalkan tempat ini, maka akulah yang akan tetap berada di sini.."
Izaya menatap Shizuo. "..Maksudmu apa?"
"Izaya.. bagaimana kau melakukan sumpah untuk menjadi Jester seumur hidupmu?"
"Aku.. hanya bersumpah.. dan tanda bintang ini muncul di bawah mataku.. itu saja.."
"Kalau begitu.."
Shizuo melepaskan pelukannya dan berjalan sedikit menjauh. Ia tersenyum dan mengatakan kata-kata itu dengan lepas,
"Aku, bersumpah akan menjadi Jester seumuh hidupku, bersama dengan Izaya Orihara, orang yang paling aku cintai di dunia ini!"
Izaya terkejut. "Shizu-chan! Jangan—"
Shizuo menutupi wajahnya dengan satu telapak tangannya. Izaya berlari menghampiri Shizuo dan memegang pundaknya.
"SHIZU-CHAN! Tarik kata-kata itu, selagi masih sempat!"
"Bodoh.. kau ini bicara apa?" Shizuo menunjukkan wajahnya yang ditutupi oleh telapak tangannya perlahan. "Mulai sekarang.."
Sebuah tanda tetesan air terlukis di bawah mata Shizuo. Ia tersenyum tulus.
"Dengan ini, kita akan selalu bersama selamanya.."
Izaya menangis. Tangisan ini, adalah tangisan bahagianya yang pertama.
Ia memeluk sosok Shizuo yang masih tersenyum, dibalas oleh Shizuo yang mendekap erat tubuhnya.
Sang Jester tak bisa membuang statusnya,
Maka dari itu, sang pangeran mengorbankan statusnya sebagai seorang pangeran demi sang Jester.
Namun itu semua—
Setidaknya membuat cerita ini berakhir dengan bahagia.
"Kita.. akan menjadi Jester bersama, selamanya."
.
.
.
~o-ma-ke~
*Jester = Badut penghibur di istana
*Semua cerita di atas teorinya ngasal alias hasil pemikiran liar(?) saya sendiri, mohon jangan ditanggapi dengan serius(?) =..=
*SELAMAT CHAPTER KE 10! *tebar confetti* 90 chapter lagi sampai fanfic ini tamat..
*Cerita di lagu Jester aslinya agak beda sama fanfic ini. Bagi yang mau tau cerita aslinya, silahkan cek di youtube dan search "Jester PV Valshe"
*Sampai jumpa di chapter depan~! Rikues dari salah seorang reviewer akan saya penuhi ;D
