Dan bibir yang terkatup itu kembali terbuka, menggumamkan satu nama yang memang membuatnya sakau hanya karena tak terasa eksistensinya.

Sebuah nama yang menjadi heroin dan malaikatnya dalam waktu yang bersamaan:

Len Kagamine.

.

.

.

.

.

.

Inilah aku dan segala takdir yang kubawa di pundakku

Sesekali berhenti berpijak dan mengkhayal sedang terbang diangkasa

Tuhan, aku tak meminta beban yang ringan

Tapi kumohon, kuatkan langkahku

Aku sudah lelah mengeluh dan bertanya mengapa

Untuk itu

Jika aku telah merasa lelah, yakinkan aku senyum-Mu menanti diujung sana

Chef vs Singer

Disclaimer: Vocaloid isn't mine

Typo(s), berantakan, abal, gaje

THIS CHAPTER LOTS OF FLASHBACK.

.

.

.

.

.

Deringan dari sebuah ponsel putih terdengar begitu saja. Sedangkan pemuda yang menjadi pemilik dari benda itu sama sekali tidak merubah posisinya untuk menjawab panggilan telepon tersebut. Kedua lengannya bahkan semakin mengerat memeluk guling yang sudah ada dalam dekapannya sejak tadi. Jejak air mata yang belum mengering pun kembali basah oleh tetesan-tetesan yang baru.

Pandangan nanar kedua bola matanya terus menatap bulan yang tampak setengah. Sendiri di bentangan gelap sana, tanpa ada titik-titik lainnya yang seringkali disebut bintang. Tampaknya, kali ini bukan hanya pemuda itu yang merasa kesepian.

'Ada apa denganku?' tanyanya dalam hati.

Ya, ada apa dengannya? Makhluk dingin yang sudah tidak peduli lagi pada yang namanya kehidupan sosial itu mendadak kalut hanya karena seorang gadis. Sudah berapa kali dia menghipnotis pikirannya sendiri untuk tenang dan kembali acuh, tapi tetap saja di tengah jalan pikirannya akan kembali terpecah dengan fokus utama kembali pada gadis itu.

'Rin, kau kenapa? Kenapa aku merasa kau sedang membutuhkan seseorang?'

Len menghembuskan napas berat, dadanya perlahan sesak. Entahlah, mungkin karena memang benar ada sesuatu yang terjadi pada Rin. Dan jangan tanya mengapa Len bisa merasakannya, dia sendiri pun tak tahu jawabnya.

Mencoba mengabaikan, kedua kelopak mata itu terpejam. Berusaha tidur dan melupakan segala emosi aneh yang kini tengah dirasanya. Hanya saja, dia lupa, sang pikiran tidak mudah untuk dialihkan.

'JANGAN PERGI, BODOH! JANGAN MEMBUATKU TAKUT!'

Rekaman suara Rin yang berteriak frustasi begitu Len menghampirinya setelah badai kala itu. Di pantai kemarin.

'Aku takut hiks.. kau pergi… huhu…'

Len menggerakkan kepalanya sedikit, matanya terpejam kuat berusaha mengenyahkan suara-suara yang kini terdengar jelas melalui pikirannya.

'Kau kemana saja? Hiks… aku…. Aku takut Len kenapa-napa.'

Kini dia menengkurapkan badannya. Menenggelamkan wajah pada kasur dengan bantal yang digunakan untuk menutupi kepalanya.

'Hiks… jangan seperti itu lagi… hiks…'

"AAAARRGGGHH….!" Len menjerit frustasi. Dihempaskannya selimut yang menutupi tubuhnya, kemudian beranjak ke dapur untuk mengambil segelas air.

Pemuda itu meneguk habis air yang ada dalam gelas berukuran besar. Setelahnya dia hanya terdiam sambil menyenderkan bahu pada dinding berwarna krem ruangan itu. pandangannya kembali melihat bulan melalui jendela apartemennya.

Hhhhhh…. Mengapa sesaknya kian berat?

Len yakin, bahkan sangat yakin kalau Rin saat ini sedang membutuhkan seseorang. Tapi…. Siapa? Siapa yang Rin butuhkan sekarang? Ayahnya? Len tidak ingat Rin masih memiliki Ayah. Ibunya? Ayolah, yang Len tahu Rin selama ini tinggal sendiri. Kekasihnya? Jangan gila, siapa juga yang ingin menjadi kekasih gadis secerewet itu?

Lalu… siapa?

'Kau tahu, Len. Aku seringkali berdoa pada Tuhan untuk mengirimkanku seorang malaikat.'

'Permintaan bodoh.'

'Hmm, mungkin iya bagimu, tapi tidak bagi Tuhan. Karena Dia sudah mengirimkan malaikat itu untukku.'

'…..'

'Seseorang, yang berjanji menjagaku selama aku tidur. Karena sebenarnya, ketakutanku selama ini adalah mimpi buruk dan sendirian.'

Len mendengus menahan geli mengingat perbincangannya dengan Rin beberapa waktu lalu, saat mereka sedang berada di penginapan dan mereka sama-sama tidak bisa tidur.

Ya, Len tahu sekarang. Rin sedang butuh malaikatnya. Seseorang yang berjanji menjaganya saat tertidur. Seseorang yang akan menemaninya sepanjang gadis itu bermimpi buruk.

Len jadi teringat jika Rin memang seringkali menangis dan meracau tak jelas saat tertidur. Awalnya, dia merasa terganggu dan cukup panik melihat seorang gadis menangis dalam tidurnya. Hei, itu merupakan hal aneh bagi pemuda yang memiliki tingkat kepekaan yang mengkhawatirkan seperti Len, jadi wajar saja dia panik.

Dan seingat Len, saat melihat Rin seperti itu dia ingin sekali melindunginya. Ingin mengatakan pada Rin bahwa tak ada yang perlu ditakutkan selama tertidur. Bahwa ada dia yang akan menemaninya dan menjaganya. Bahwa dia akan selalu ada di sana nanti ketika Rin terbangun. Bahwa…

Tunggu…

'Seseorang, yang berjanji menjagaku selama aku tidur. Karena sebenarnya, ketakutanku selama ini adalah mimpi buruk dan sendirian.'

Menjaganya saat tertidur dan akan selalu ada di sana saat Rin terbangun…

'Len.. aku takut.'

'Tak perlu kau takutkan apapun. Lihat, semuanya baik-baik saja. Tidurlah lagi, aku akan menjagamu.'

'Tidak mau, nanti dia datang lagi.'

'Aku menjagamu. Percayalah.'

Len tersentak ketika mengingat ucapannya pada Rin waktu itu. Dia berjanji akan menjaga Rin, dia berjanji pada Rin bahwa semuanya baik-baik saja.

'Kau tahu, Len. Aku seringkali berdoa pada Tuhan untuk mengirimkanku seorang malaikat.'

Rin sedang butuh malaikatnya sekarang. Dan malaikatnya adalah….

"Aku?"

Butuh sekian detik bagi Len untuk memercayai bahwa memang dirinyalah yang sekarang sedang Rin butuhkan. Malaikat Rin Kagamine adalah dirinya.

Dan tanpa membuang waktu lagi, Len mencari kunci mobil miliknya yang tadi dia lemparkan asal. Dengan cepat pemuda itu beranjak meninggalkan apartemennya, fokus menuju satu tujuan yang masih belum bisa dipastikannya untuk saat ini.

"Ck, tapi aku harus kemana?"

Len mengemudikan mobilnya pelan sambil mengingat-ingat kemungkinan-kemungkinan tempat yang dikunjungi Rin saat ini.

Tadi sore dia sudah sempat memeriksa rumah Rin, untunglah dia masih ingat jalannya walau baru pertama kali ke sana saat mengantar Rin mengambil beberapa pakaian untuk tinggal di apartemennya waktu itu. Dan sialnya, Rin tidak ada di sana.

Kembali pemuda itu memutar otaknya. Rasa lelah yang tadi dirasanya mendadak menguap entah kemana. Membayangkan Rin sedang sendirian membuat dirinya ingin segera berjumpa dengan gadis itu. Memeluknya, tanpa mau peduli lagi dengan reaksi dari Rin nanti. Yang dia tahu, dia sedang ingin menenangkan…. dan ditenangkan.

"Oke Len, sekarang tenang dan coba berpikir jernih. Hmm… kalau aku jadi Rin, yang menghabiskan banyak waktunya untuk bekerja, maka tempat kedua yang aku tuju selain rumah adalah…."

Len menarik kedua sudut bibirnya ke atas, kelihatannya dia cukup berharap jika memang tempat itulah yang kini sedang menyembunyikan Rin darinya.

Dan ya, tanpa perlu menunggu lama lagi, Len kini sudah berjalan pasti menuju restoran – yang untungnya masih buka di tengah malam seperti ini – tempat Rin bekerja.

Ting

Suara dentingan otomatis yang akan berbunyi ketika pintu dibuka pun terdengar di sela-sela kesibukan yang ada di restoran ini, dan Len yang baru melangkahkan kaki kanannya masuk sudah harus disambut dengan lengkingan suka cita dari penggemarnya yang juga merupakan pegawai Petrichor.

"Selamat daAAAAAAAAAAAA….. Len-kun!"

Len hanya pasrah ketika lengan kanannya ditarik oleh seorang gadis yang sudah tidak asing lagi dimatanya mengingat mereka sudah pernah bertemu dua kali. Dan, untung saja Len ke sini karena ada perlu, jika tidak maka sudah sedaritadi dia menghempaskan kedua tangan mungil yang mencengkram lengannya kuat itu.

"Len-kun ingin makan apa? Ah, biar kupilihkan menu terba-"

"Ahem… mmm… sumimasen Akita-san." kata Len memotong perkataan pelayan itu setelah sebelumnya melirik name tag di pakaian yang dikenakannya.

"U-um y-ya Len-kun? Ah, kau boleh memanggilku Neru, ngomong-ngomong."

"Aa. Neru-san, begini… aku sebenarnya ingin menanyakan satu hal padamu."

Mata Neru seketika berbinar. Len datang ke sini khusus untuk menemuinya? Dan bertanya sesuatu kepada dirinya? Diantara sekian banyak orang yang rela melakukan apa saja demi berbicara langsung dengan Len – termasuk dirinya – dan kini tanpa perlu berbuat apa-apa sang idola sendiri sudah datang menemuinya? Oke, mungkin hal ini akan dia tulis di buku diarynya. Hm, it's so old school, Neru.

Dan, kini pikiran Neru sibuk memikirkan kemungkinan pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Len. Apakah itu pertanyaan pribadi seperti tipe pria yang disukai oleh Neru? Oh, maka dengan cepat Neru akan menjawab bahwa itu pastinya Len. Atau pertanyaan yang langsung menjurus ke suatu hal yang ekstrim seperti…..

Apakah kau mau menikah denganku?

'KYAAAAAAA…. Tentu aku mauuuuuu….!' Inner Neru pun berteriak dengan sadisnya dalam diri gadis itu.

"Neru-san, apakah kau…"

Neru mengangguk bersemangat menunggu kalimat selanjutnya yang entah kenapa tergantung di lidah Len begitu melihat Neru bersemu merah dan matanya berkilat senang.

"…. tahu keberadaan Rin?"

Siiiiinggggg…..

Neru membeku sesaat. Matanya berkedip cepat sambil berusaha tetap menjaga ekspresinya agar tidak seperti orang idiot.

"A-apa?" kata Neru, masih memproses pertanyaan Len dalam kepalanya.

Len menggaruk tengkuknya, rasanya dia salah menanyakan Rin kepada gadis ini, "Rin. Apakah kira-kira kau tahu dimana dia sekarang? Dia pergi sejak tadi siang dan sampai saat ini dia belum kembali ke apartemenku. Sebagai rekan kerjanya, mungkin kau tahu dimana dia."

Neru terdiam mendengar penjelasan dari Len. Apalagi saat akhirnya dia tahu kemana Rin selama beberapa hari ini tidak datang bekerja. Ternyata Rin bersama dengan Len, bahkan tinggal satu atap bersama pemuda tersebut. Sejenak, Neru merasa iri terhadap gadis itu – entah sudah yang ke berapa kalinya dia iri. Bahkan sangat iri.

"Maaf jika aku mengganggu waktu kerjamu untuk kepentingan pribadiku. Tapi aku benar-benar bingung kemana lagi aku harus mencarinya. Dan kupikir, kau lebih dari sekedar teman kerjanya. Alasan mengapa aku menemuimu adalah karena aku percaya padamu, sebagaimana Rin sangat percaya terhadapmu. Jadi ya, mungkin kau lebih tahu banyak tentang Rin dari siapapun yang ada di sini." kata Len begitu melihat Neru menundukkan wajahnya.

'Rin? Percaya padaku?'

"Bagaimana kau bisa menyimpulkan jika dia percaya padaku? Bahkan, aku dan kau baru bertemu dua kali sebelum saat ini. Apakah dia dengan wajah malaikatnya itu bicara langsung padamu jika dia memercayaiku? Hmm…. dan kau percaya saja begitu dia berkata seperti itu?" Neru berusaha tenang, tapi Len tahu, ada kesinisan dalam nada bicaranya kali ini.

Len menghela napas sejenak. Hhhhh….. sepertinya tidak semudah yang dia bayangkan.

"Tidak, dia tidak pernah berkata padaku jika dia memercayaimu."

Neru terkekeh pelan, "Hm, lalu?"

"Dia berkata pada Tuhan jika dia memercayaimu – bahkan menyayangimu."

Kedua mata gadis itu sedikit melebar. Apa maksudnya?

Len berdeham kecil sambil menyenderkan diri ke dinding, "Dia berdoa, meminta pada Tuhan untuk selalu menjagamu. Untuk selalu memercayai dirinya menjadi temanmu, untuk selalu memercayaimu sebagai temannya. Dia meminta pada Tuhan agar kau tidak merasakan hal yang sama dengan dirinya. Dia meminta kepada Tuhan untukmu, melebihi apa yang dia minta untuk dirinya sendiri."

'Kami-sama, Tuhanku yang baik. Aku ingin meminta lagi padaMu malam ini. Masih seperti malam-malam yang sebelumnya. Aku ingin Kau menjaga sahabat kecilku yang jauh di sana, menjaga Luka-nee, Kaito-nii, menjaga Neru. Percayakan aku untuk bisa menjadi sahabat yang baik untuk mereka, dan percayakan mereka untuk menjadi sahabatku. Neru, kumohon agar dia tidak merasakan kesendirian yang kurasa. Jaga gadis itu Tuhan. Amin.'

Neru tersentak begitu mendengar penuturan Len. Bahunya sedikit bergetar dan dia menggigit bibir bawahnya untuk sedikitnya membuatnya lebih bisa menahan air mata.

"Aku mendengarnya berdoa seperti itu setiap malam, sebelum dia tidur. Aku selalu mendengar dia menyebut nama orang-orang yang penting baginya. Dan namamu, tak pernah absen dari bibirnya…. walau untuk satu waktu sekalipun."

Dan dua tetes air mata pun lolos dari kedua binar matanya, sebegitu pentingnya-kah dirinya untuk Rin?

'Hai, namaku Rin Kagamine. Namamu?'

'A-akita N-neru.'

'Aa, Neru-chan. Selamat datang di Petrichor. Semoga kau betah di sini ya. dan jangan sungkan untuk bertanya mengenai apapun kepadaku dan yang lainnya.'

'A-arigatou Rin-senpai.'

'Ne.. panggil aku Rin. Aku tidak lebih baik darimu, kawan. Kita sama-sama berjuang memberikan yang terbaik ya di sini! Ganbarimashoo!"

Kilasan saat pertama kali dia bertemu dengan Rin. Dia ingat, diantara beberapa pelayan lama yang menganggap diri mereka lebih tinggi dari Neru, Rin-lah orang yang pertama yang menyambutnya. Padahal Rin adalah ketua chef. Memakaikan pita merah yang menjadi seragam di restoran ini di kepalanya. Mengaitkan jari kelingking masing-masing sambil berusaha untuk memberikan yang terbaik di restoran ini.

"Kupikir kau menganggap Rin sama pentingnya. Tapi ternyata aku salah ya. Ternyata kau tidak memahami Rin sebaik dia memahamimu. Maaf mengganggumu." ujar Len sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana panjang yang ia kenakan, kemudian beranjak pergi.

'Neru! Kau selalu saja membawa bedak ke dapurku! Kau tahu jika butiran-butiran bedak itu berterbangan ke masakanku, kau akan kupanggang hidup-hidup.'

.

'Ada apa Neru? Kau takut sendirian ya? Mau kutemani?'

.

'Menangislah. Hanya ada aku di sini jika kau malu jika orang lain melihatmu. Aku akan menutup mataku jika memang kau juga malu terhadapku.'

.

'Neru, cepat sembuh ya. Hihihi… kau tahu? Aku membolos kerja hari ini, dan sssttt…. Jangan bilang Luka-nee ya. Aku ingin merawatmu saja hari ini, lagipula di restoran ada Kaito-nii. Hei, kau belum minum obat ya? Astaga, bahkan bubur yang kubuatkan semalam tidak kau sentuh sama sekali. Baik, kali ini aku ada di sini dan kau tak bisa semena-mena lagi menyiksa tubuhmu, bodoh.'

.

"Tunggu!" Neru berjalan cepat mengejar Len yang baru membuka pintu mobilnya. Tidak, kali ini dia sadar. Rin, dia menganggap gadis itu sama pentingnya, sepenting Len menganggap keberadaan Rin baginya.

Len menoleh ke arah Neru yang sedang mengusap kasar wajahnya dari air mata yang ada di pipinya, tidak peduli dengan riasan yang dia pertahankan selama berjam-jam tersebut.

"Aku rasa aku tahu dimana Rin."

"Apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Len heran.

Neru tersenyum lembut, "Ketulusan gadis itu untuk menyayangiku. Itu yang merubahku."

Dan sejurus kemudian, senyum yang sama pun turut tercetak di wajah rupawan milik Len, untuk satu alasan yang sama. Rin Kagamine.

.

.

.

.

Len mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi keluar dari perbatasan kota. Suasana lengang jalanan membuatnya lebih leluasa untuk berkendara secepat yang ia mau. Konsentrasinya sama sekali tidak terpecah lagi, dia benar-benar fokus pada apa yang sedang dia tuju kini.

'Kau tahu dimana Rin, Neru?'

'Ya. Sebelumnya aku ingin tahu satu hal. Apakah saat terakhir kali kau dengannya dia tampak kacau?'

'Hm, ya bisa dikatakan begitu.'

'Tidak salah lagi. Kurasa dia pergi ke rumahnya.'

Len memelankan laju kendaraannya. Jalanan cukup basah setelah tersiram air dari langit, ditambah lagi jalan yang naik turun memaksanya untuk lebih berhati-hati. Dia sedikit membuka kaca mobilnya, merasakan udara dini hari di tempat itu. Dingin. Seperti halnya udara pegunungan pada umumnya.

'Tidak. Aku sudah ke sana tadi, begitu juga manajerku. Tapi dia tidak ada di sana.'

'Bukan. Bukan rumah yang ada di kota ini yang kumaksud.'

'Hm? Maksudmu?'

'Rin pernah bercerita padaku jika dia mempunyai rumah di luar kota ini. Rumah milik orang tuanya, tempatnya menghabiskan masa kecilnya sebelum akhirnya datang ke sini. Umm.. sebentar, kurasa aku masih menyimpan kertasnya di lokerku.'

Pukul 02.16, masih terlalu dini untuk orang-orang beraktifitas bukan? Ya, dan Len cukup senang dengan fakta bahwa sekitarnya sepi. Hanya ada satu dua kendaraan yang sesekali juga melintas di jalan sempit yang hanya bisa dilalui dua mobil ini. Dan dilihat dari plat nomor kendaraan mereka, mereka juga sama seperti Len – berasal dari kota lain.

'Ini alamatnya. Kuharap dia memang berada di sana. Dan… apakah kau ingin pergi sekarang juga?'

'Ya. Aku ingin cepat menemuinya, lagipula aku tidak memiliki banyak waktu.'

'Baiklah. Ini kubawakan kau beberapa makanan, aku yakin kau belum makan melihat penampilanmu yang berantakan.'

'Ah, ya terimakasih.'

'Ya, hati-hati. Sampaikan salamku pada Rin. Bilang padanya aku akan menjitaknya begitu dia masuk kerja karena membuatku sebegini rindunya pada si bodoh itu.'

Keempat roda mobil itu berhenti di depan sebuah rumah besar. Len mengamati sejenak alamat yang tadi Neru berikan dan melihat lagi ke rumah tersebut. Dan ya, memang benar ini alamat yang diberikan oleh Neru. Tanpa pikir panjang, Len pun memasukkan mobilnya pada halaman luas rumah itu.

Setelah menyalakan alarm pada mobil kesayangannya, pemuda itu berjalan menuju pintu. Sambil mengetatkan jaket yang dikenakannya, dia mengamati lagi rumah yang kemungkinan besar adalah rumah Rin dulu – mungkin sekarang juga.

Rumah ini masih terlihat megah. Walau cat dindingnya mulai memudar dan ada sekumpulan debu yang menutupi permukaannya. Akan tetapi, halamannya sangat rapi. Ada taman yang bunganya membentuk suatu formasi yang indah. Ditambah lagi beberapa patung dewa Yunani yang menghiasi taman tersebut.

Len mencoba membuka pintu eboni di hadapannya. Hm, seperti yang sudah dia duga. Tidak dikunci. Dan itu melegakannya karena bisa saja Rin tidak mau membukakan pintu untuknya jika pintu itu dikunci.

Perlahan, Len memasuki rumah itu. Gelap dan hanya diterangi satu lampu di lorong kanannya. Di rumah yang bagai istana seperti ini, tentu saja hal itu membuat dirinya sedikit bergidik ngeri.

Langkah demi langkah Len mencoba menelusuri rumah tersebut dan mencari keberadaan Rin. Kaki-kakinya menaiki tangga dengan hati-hati. Dia menggunakan cahaya dari ponselnya sebagai satu-satunya alat penerangan yang bisa membantunya kini.

Pandangannya kemudian menyapu jejeran ruangan yang ada di lantai dua. Mencari petunjuk tentang ruangan mana yang sekarang sedang ditempati Rin. Dan sedetik kemudian Len tersenyum kecil begitu melihat sedikit cahaya di sebuah ruangan melalui celah bawah pintu.

Pelan sekali Len menyeret langkahnya, berusaha tidak membuat suara sekecil apapun itu. Dia tidak ingin Rin lari lagi darinya begitu tahu dia ada di sini. Tidak. Tidak untuk jarak mereka yang sudah sedekat ini.

Len membuka pintu ruangan itu. Melihat sekeliling ruangan yang ternyata kamar tersebut sambil memicingkan matanya. Sinar yang ternyata berasal dari sebatang lilin yang ada di pojok ruangan tak mampu membantu banyak baginya untuk melihat ke setiap sudut ruang besar itu.

Dan ketika dia mendapati seseorang yang sedang membelakanginya sambil menghadap jendela, kaki-kakinya bergerak sendiri untuk menarik orang tersebut.

"APA YANG KAU LAKUKAN BODOH?!" Len berteriak kencang sambil memegangi tangan kanan orang tersebut.

"LEPASKAN BENDA ITU SEKARANG!" teriak Len lagi.

Orang yang ada dalam dekapannya meronta sekuat yang dia bisa. Sesekali isakannya terdengar sambil memukul-mukul Len lemah.

Prang

Pecahan kaca yang ternoda bercak darah pun jatuh ke lantai. Membuat bunyi dentingan begitu benda itu menyentuh dinginnya lantai marmer. Bersamaan dengan itu, Len membalik tubuh orang tersebut dan mendekapnya erat. Sangat erat.

"Ssshhh… jangan…. jangan menyerah semudah itu."

Len menggigit bibir bawahnya. Menahan emosinya yang juga bisa ikut jatuh melihat tubuh kecil itu menjadi kacau hanya dalam hitungan jam.

"R-rei… R-rei…"

Kedua iris Len melebar. Terkejut? Pasti. Tapi dia tidak ingin ikut hilang kendali. Setidaknya, biarkan dia kuat untuk kali ini.

"Ssshhh…. Sudah. Tenangkan dirimu dulu. Kau sangat berantakan, kau tahu?"

"Hiks… R-rei… hiks…"

Len sedikit mengurai pelukannya, "Lihat aku."

"Hiks… R-rei…"

"Lihat aku!"

"Huhuhu… R-rei…"

"LIHAT AKU!"

Perlahan, kepala itu mendongak. Melihat seseorang yang lebih tinggi darinya tersebut.

"Tatap baik-baik wajahku."

Manik biru itu mengamati tiap inci dari wajah rupawan pemuda tersebut. Mulai dari matanya, hidungnya, bibirnya.

"Sebut namaku."

Dan keseluruhan wajah pemuda itu membuat pandangan kosongnya kembali terisi. Kembali menginjak bumi dan menyentuh realita.

"UH! LEN! HUHUHU… LEEEENNN!"

Len menghela napas lega begitu Rin meneriakkan namanya, memeluknya erat sambil terus memanggil dia seorang.

"Ya. Ini aku. Teruslah begitu… sebut namaku."

"Len… hiks… aku… takut…"

"Aku tahu. Itu kenapa aku ada di sini sekarang."

Len mengusap lembut rambut Rin. seperti tujuannya semula, dia ingin menenangkan Rin. Dia ingin ada di sana saat Rin butuh dia. Dia ingin menjaga Rin. Dia ingin dibagi sakitnya oleh Rin. Dia ingin menjaga Rin.

Karena dia adalah malaikatnya. Malaikat bagi dan hanya untuk Rin Kagamine.

.

.

.

.

"Ini kamar kedua orang tuaku. Dulu, aku selalu berada di sini sepanjang waktu. Nyaman sekali rasanya berada di sini. Rasanya seperti pelukan hangat seorang ibu. Menenangkan." kata Rin sambil tersenyum kecil, dan dibalas dengan senyum lembut dari Len.

Mereka masih berada di ruangan tersebut. Duduk berhadap-hadapan di atas karpet berbulu lembut yang ada di tengah ruangan. Dengan segelas ocha hangat di tangan masing-masing, mereka membicarakan banyak hal sejak satu jam yang lalu.

Rin sudah tenang. Emosinya bahkan sudah stabil, walau sesekali dia melamunkan suatu hal jika Len sedang tidak berbicara. Oleh karena itu Len menanyakan tentang rumah ini pada Rin.

"Kau tahu piano hitam di samping tempat tidur? Itu adalah piano pertama yang kumainkan. Awalnya aku sedang merajuk pada Kaa-san karena dia selalu sibuk dan tidak ada waktu untuk mengajariku bermain piano, jadilah aku menekan-nekan asal tuts-tuts tersebut, dan hasilnya cukup bagus untuk anak berumur enam tahun sepertiku. Mulai saat itu aku belajar piano sendiri, tanpa pernah diajari siapapun."

Len tidak berkomentar. Dia terlalu sibuk mengamati wajah Rin yang tersenyum kecil mengingat kenangannya dahulu.

"Dan kau tahu, Len. Saat Kaa-san berulang tahun, aku memainkannya sebuah lagu yang kuciptakan sendiri. Dia sangat terkejut karena ya selama ini aku tidak memberitahunya kalau aku sering memainkan pianonya tanpa ijin. Aku senang. Setidaknya aku bisa memberikannya sesuatu sebelum akhirnya dia pergi." Rin menundukkan kepalanya. Selalu sesak rasanya mengingat kepergian Kaa-sannya.

"Hmm… mungkin dia tidak pergi. Dia hanya menghilang dan tidak bisa kau lihat. Itu saja."

Rin menatap Len, "Maksudmu?"

"Pada nyatanya kau sekarang masih bisa menceritakan tentang Kaa-sanmu padaku. Itu artinya dia tidak pergi. Dia hanya tak terlihat."

"…."

Len menutup matanya sejenak, menarik napas, kemudian melanjutkan… "Karena dia masih hidup dalam pikiranmu. Orang baru bisa dikatakan pergi jika sudah tidak ada lagi yang mengingatnya… jika kenangan tentangnya, sudah mati bersama orang-orang yang biasa mengenangnya."

'Selama kau masih mengingatku, maka aku akan terus hidup. Karena orang yang sudah pergi, hanya bisa hidup melalui kenangan, Len-kun.'

Len tersenyum simpul mengingat perkataan seseorang beberapa tahun lalu. Orang yang keberadaannya sudah dinyatakan hilang dari dunia, tapi tidak dari hati dan pikirannya.

"Ya, mungkin kau benar. Seringkali dengan mengingat Kaa-san aku merasa sedang berbincang dengannya. Dan.. aku tak akan membiarkan dia pergi. Tidak lagi."

Len mengacak pelan rambut Rin, "Sebaiknya begitu."

Rin tertawa kecil, kemudian menegak lagi ocha miliknya, "Kaa-sanku, namanya Lily Kagamine. Wanita lembut dan anggun yang selalu menyayangiku. Mengalirkan banyak cinta untukku, dan untuk banyak orang yang mengenalnya."

Deg!

Jantung Len serasa ditikam pedang seketika. Tuhan, apalagi sekarang?

"Aku dan Kaa-san sangatlah dekat. Ya mengingat kami hanya hidup berdua setelah ayah kandungku meninggal ketika aku masih bayi, jadi aku sama sekali tidak mempunyai gambaran apapun tentang ayahku. Meskipun begitu, ibu sering bercerita tentang ayah, dan menurutku ayahku adalah ayah yang hebat. Aku menyayanginya sama seperti aku menyayangi ibuku."

Pendengaran Len sudah samar. Dia tidak bisa lagi mendengar dengan jelas apa yang Rin bicarakan. Pikirannya sekarang penuh oleh beberapa potongan dari masa lalunya.

'Pergi saja kau lelaki sialan! Nikahi perempuan itu! tinggalkan aku dan anakku! Jangan pernah kembali!'

.

'Len-kun, mulai saat ini kita tinggal di sini ya.'

'Tou-chan tidak ikut?'

'Tidak, sayang. Hanya kita saja. Kita akan bersenang-senang berdua! Bagaimana?'

'Ya! umm… tapi Tou-chan sudah janji mau ajalin aku macak, Kaa-chan…'

.

'APA? MAU MENGAMBIL ANAKKU, EH? POTONG KEDUA TANGANKU! PATAHKAN KEDUA KAKIKU, DULU, BAJINGAN!'

PLAK!

'PERGI SAJA DENGAN PIANIS ITU! AKU TIDAK PEDULI, ASAL JANGAN GANGGU ANAKKU!'

.

'Tou-chan?'

'Ya, sayang?'

'Kita mau kemana?'

'Umm.. Bagaimana kalau kita ke Amerika?'

'Uh? Amelika itu dimana?'

'Kau tahu patung Liberty?'

'Ah ya! Tapi Kaa-chan mana?'

.

'Kau lihat wanita yang bermain piano itu, Len?'

'Umm.. ya.'

'Dia Lily, Kaa-chan barumu.'

.

Rin mengibaskan tangannya tepat di wajah Len, dan seketika Len mengerjapkan kedua matanya.

"Hm, Len? Kau sakit? Wajahmu pucat."

Len terdiam sambil menatap Rin yang sedang balik menatapnya khawatir. Dan tanpa membuang waktu lagi, Len segera bangkit dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Rin sendiri dengan ratusan tanya yang ada di kepalanya.

"KUSO! REI BRENGSEEEEKKKKK!" jerit Len ketika sudah berada di halaman rumah Rin.

Prang

NIIT NIIIT NIIIT

Alarm mobil yang menyala begitu Len melempar batu pada kaca mobil membuat Rin tersentak. Dia segera turun untuk menghampiri Len. Dia yakin, ada yang tidak beres di sini.

"LEN!" teriak Rin begitu melihat Len akan memasuki mobilnya.

Len menoleh ke arah Rin sekilas, lalu tanpa sepatah kata pun dia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya entah kemana. Meninggalkan jejak serpihan kaca mobil yang tadi berhamburan, bersama Rin yang merasa retak seperti layaknya kaca tersebut.

Tatapan Len tadi… mengapa begitu dingin?

Ada apa dengannya?

Salahku apa?

Len, kau…

… kenapa?

.

.

.

.

.

.

(A/N): Oke, aku tahu aku tahu kalian pasti bilang… "CHAPTER APAAN INI? NGEBINGUNGIN, BAKAUTHOR!"

Yah, aku mau kasih beberapa flashback disini soalnya kalo dijabarin di cerita bakal panjaaaaannngggg dan kalian tahu sendiri aku sekarang kalo update molor T_T

Gak kok aku gamau nunda-nunda update, serius. Tapi real life itu tuntutannya banyak dan aku lagi kecanduan baca manga (inget umur woooyyyy), ye gapapa kali.

Nah nah, yang bisa bikin aku semangat update itu siapa? Oh kalian, kawan *peluk satu2*, aku ini orangnya males, kalo gak dipaksa abis2an gak bakal cepet ngerjain sesuatu, hehehe.

Gimana chap ini? Makin ngebosenin? Alurnya makin gak jelas? Konfliknya nambah lagi dan bikin males baca? Yayaya, kasih semua pendapat kalian. Aku dengan senang hati bakal nerima semuanya.

Maaf untuk keterlambatan update.

Makasih buat kalian yang mau nunggu fic ini, yang udah baca, review dan sebagainya, kalian mau aku peluk gak sini? (ENGGAAAKKKK…)

Dan yak, akhir kata. Apa ya? yah biasa sih, review ya… :p

Awrite, guys. Banyak omong ya aku? Iyasih emang.

Yaudah, tunggu chapter depan ya aku bakal kembali lagi setelah pesan-pe.. #digetok

Jaa ne, mmmmwwaaaaahhhhhh!