Hari-hari mereka berdua cenderung monoton. Setiap pagi Seijūrō akan mengantar Tetsuya ke TK Teikō dan setelahnya ia pun akan berangkat ke kantornya.
Hari ini, kebetulan pergantian kelas terjadi dengan cepat. Karena tidak ada jadwal mengajar lagi, Tetsuya memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi halaman TK Teikō dan memutuskan untuk duduk di bawah pohon besar tempat dimana ia biasa menunggu Aomine untuk menjemput Satsuki.
Hingga sebuah lantunan suara yang menyebut namanya mengganggu indera pendengaran. Tetsuya pun menoleh ke arah sumber suara.
"Tetsu?"
Million Stars
Helai biru langitnya ikut bergoyang seirama ketika menoleh kearah sumber suara yang tertangkap di indera pendengarannya. Biner sewarna biru langit menangkap sosok bertubuh tegap dengan pakaian dinas berwarna hitam dan juga lencana di dada kiri yang tengah berjalan ke arahnya.
"Kau tidak mengajar?" Aomine menghempaskan dirinya untuk duduk di samping Tetsuya tepat di atas kursi hitam berbahan kayu jati itu.
"Jadwal mengajarku sudah selesai, Aomine-kun. Selanjutnya aku mungkin akan berjaga dikelas penitipan anak sore nanti."
Dan dijawab dengan dehaman malas Aomine. Tetsuya menautkan kedua alisnya dan kembali melontarkan sebuah pertanyaan kepada pria berkulit tan di sampingnya yang tengah menatap langit di atas mereka dengan pandangan sendu.
"Apa yang kau lakukan disini, Aomine-kun? Tidak pergi bekerja?"
"Hah—tugasku sudah selesai, hari ini hanya patroli saja dan aku sudah menyelesaikannya." Aomine menghela nafas lelah.
Mereka berdua duduk berdampingan dikursi tepat dibawah pohon besar itu. Tanpa obrolan, hanya saling diam. Hingga akhirnya Aomine menghela nafasnya panjang lalu mulai berkata,
"Kau tau, Tetsu? Aku merasa menyesal telah menikahi Satsuki.."
Ucapan yang baru saja Aomine utarakan membuat tubuh Tetsuya terserang tremor mendadak dan dengan cepat netra birunya menatap Aomine yang tengah memejamkan mata dengan ekspresi lelah.
"?! A-apa yang baru saja kau katakan, Aomine-kun?!" Tetsuya sedikit menaikkan nada bicaranya dengan ekspresi semi terkejut.
"Aku menyesal.. aku tidak bisa mencintainya sepenuh hatiku.. hatiku terbagi dua, Tetsu.."
Tetsuya mendengarkan Aomine yang masih berbicara dan tidak berniat menyelanya sama sekali, lelaki berhelai biru langit itu tetap terdiam.
"Separuh hatiku mencintai Satsuki, separuh nya lagi.. aku mencintainya.."
"Bahkan Satsuki tahu kalau aku tidak benar-benar mencintainya. Mau bagaimana pun ia adalah teman kecilku. Aku dan Satsuki sudah dijodohkan sejak kami dilahirkan."
"Tapi dia menerimanya, ia menikah denganku. Saat di altar, ia menatapku dengan senyum bahagianya. Walaupun dirinya sendiri tahu, aku tidak sepenuhnya.. mencintai dirinya.."
"Aku sungguh brengsek. Aku merasa telah menyakiti, Satsuki.. aku telah—"
Segaris senyum terbit di wajah manis Tetsuya. Ia tersenyum penuh kehangatan saat menatap Aomine yang tidak balik menatapnya.
"Tidak, Aomine-kun. Kau bukanlah pria seperti itu, bukan kah di dalam sudut hatimu kau mulai mencintainya sepenuh hati?"
"Hilangkanlah rasa sesalmu itu, Aomine-kun. Walaupun Momoi-san telah tiada, aku yakin. Ia pasti selalu mencurahkan cintanya dari atas sana untuk mu dan juga gadis kecil kalian."
Aomine terdiam. Ia sadar, dirinya memang tidak sepenuhnya salah mencintai pemuda berhati malaikat disampingnya. Mungkin apa yang dikatakan Tetsuya tentang dirinya sudah benar.
"...terima kasih. Tetsu."
Tetsuya tersenyum. "Jangan sungkan jika ingin bercerita kepadaku, Aomine-kun."
"Kalau begitu aku akan kembali ke kantor. Sepertinya jam pulang Satsuki masih lama."
Biner dark blue milik Aomine melirik jam tangannya yang menunjukkan angka pukul sebelas siang. Tak menunggu lama, ia pun segera berdiri dan menepuk celananya pelan.
"Ha'i, Aomine-kun. Hati-hati."
"Sampai nanti, Tetsu."
Aomine berjalan menuju gerbang TK Teikō. Jarak kantor kepolisian tempatnya bekerja memang tidak terlalu jauh. Ia hanya perlu berjalan kaki atau berlari saja. Di sepanjang jalan sesekali warga desa menyapa pria dim yang bertugas mengayomi dan melindungi masyarakat itu. Namun, ia hanya acuh. Pikirannya kacau. Ia teringat apa yang dikatakannya tadi pada Tetsu.
Aku memang tidak sepenuhnya mencintai Satsuki, kau tahu?
Kenapa?
Karena separuh hatiku tertaut denganmu Tetsu.
Ya, kaulah pemilik separuh hatiku, selain Satsuki.
Kau tidak tahu bagaimana rasanya memendam perasaan ini selama 9 tahun atau mungkin lebih? Sosok mu yang saat itu tiba-tiba menghilang dan muncul saja tiba-tiba di TK Teikō dan mengajar sebagai guru disana.
Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat itu, Tetsu. Aku ingin memelukmu, erat.. tak ingin melepasmu lagi.. memilikimu.
Tapi, semua itu sirna ketika kedua mataku melihat sebuah cincin emas melingkar di jari manismu. Kau sudah menikah rupanya..
Aku terlambat.
Lagi.
Bahkan aku tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan yang membuncah ini. Semuanya terasa sulit. Kenapa selalu seperti ini? Mungkin ini yang terbaik.. ne?
Satsuki?
.
.
Terimakasih karena selalu mencintaiku Satsuki.
Mulai sekarang aku akan mencurahkan seluruh cintaku untuk anak kita. Melupakan Tetsu mungkin bukan hal yang mudah, namun aku akan berusaha. Mulai saat ini, aku akan memandangnya sebagai teman.
Ya, hanya teman.
.
.
「Just be friends, all we gotta do Just be friends.」
「 It's time to say good bye, Just be friends」
「All we gotta do, Just be friends, Just be friends, Just be friends」
「Megurine Luka - Just be Friends」
.
.
Rakuzan Corporation Cabang Tokyo.
Suara ketukan sebanyak dua kali terdengar dari balik pintu kayu berbahan mahoni dan membuat Seijūrō yang tengah fokus mengerjakan pekerjaan kantornya yang menumpuk terganggu. Netra beda warnanya menatap pintu itu tajam dan berujar pelan mempersilakan seseorang dibalik pintu itu untuk memasuki ruangan.
Lantas, terbukalah pintu berwarna cokelat tua dengan motif kayu alami dan memperlihatkan lelaki bersurai hitam sebahu yang membawa setumpuk berkas ditangannya.
"Sei-chan, ada permintaan kerja sama dari Gold Inc."
Tanpa basa-basi Mibuchi Reo, sang sekretaris langsung mengatakan tujuan dirinya datang ke ruangan Seijūrō dan langsung dibalas dengan tatapan tajam oleh lelaki yang menjabat sebagai atasannya itu. Sementara yang ditatap pun sedikit bergidik dan mencoba menetralkan intonasi suaranya agar tidak terdengar bergetar.
"Y-ya, Sei-chan. Kau mau menerimanya? Kau tahu 'kan desas-desus kalau perusahaan itu memiliki bisnis bawah tanah dan seringkali menyewa para mafia dari Korea Utara dan Italia?"
Seijūrō terdiam, ia sibuk membaca berkas yang dibawa Reo padanya. Hingga biner heteronya beralih menatap lekat lelaki bersurai hitam itu dan langsung dijawab dengan jengitan kaget oleh empunya.
"M-mereka meminta agar Gold Inc. ikut mensponsori rumah sakit daerah Hosu yang akan dibangun oleh Rakuzan Corp. bersama dengan Midorima Hospital."
"Kalau aku menolak?" Sepasang iris merah-emas itu terlihat berkilat dan kedua tangannya terlipat di depan dada. Sungguh pose yang cukup angkuh jika Reo boleh mengkritik.
"M-mereka tidak menerima penolakan, Sei-chan." Reo terbata, entah kenapa setelah dirinya mengucapkan kalau Gold Inc. tidak menerima penolakan kerja sama kerja Rakuzan Corp. Seijūrō terlihat agak seram dimatanya.
"Hoo.. menarik. Akan kuterima tantangannya." Seijūrō terkekeh pelan, sungguh Reo merasa jika dirinya akan mati begitu sepasang onyxnya mencoba mengalihkan pandangan dari atasannya. Karena, Seijūrō benci diremehkan dan ia tidak menyukai jika ada bawahannya yang berani mengalihkan pandangan dari dirinya. Ia adalah pusat dari perusahaan ini dan ia absolut.
"Kau yakin, Sei-chan?" Reo menatap Seijūrō khawatir. Mau bagaimanapun, Seijūrō adalah teman semasa kuliahnya dan ia sudah berteman cukup lama dengan Seijūrō. Namun, ia masih belum bisa menebak isi kepala Seijūrō hingga saat ini.
"Tentu saja. Kau meremehkanku, Reo?"
Bagaikan seekor elang. Seijūrō menatap Reo dengan tatapan membunuhnya. Lelaki bermanik onyx itu menggelengkan kepalanya kaku seraya mengibaskan kedua tangan didepan wajah.
"Ini seperti deklarasi perang eh?" Seijūrō memejamkan kelopak matanya. Mencoba memikirkan kembali keputusan yang telah diambilnya. Dengan tenang seraya menutup kedua matanya, Seijūrō menyodorkan berkas itu kearah Reo dan langsung disambut olehnya.
Biner emasnya terbuka menatap Reo yang tergugup membereskan berkas yang ada di meja kerjanya. Bulir keringat mengalir melalui pelipis lelaki yang dulu memiliki gelar raja tidak bermahkota selama kuliahnya. Padahal, ruangan Seijūrō dilengkapi dengan air conditioner, namun entah mengapa Reo merasa kepanasan. Tentu saja, siapa yang tidak kepanasan jika bos mu menatap dirimu dengan pandangan membunuh.
"Kalau begitu, aku permisi. Sei-chan." Setelah mengambil beberapa berkas yang berhasil Seijūrō selesaikan, Reo pun undur diri dari ruang kerja atasannya itu.
Seijūrō hanya terdiam dan membiarkan lelaki itu perlahan menjauhi meja kerjanya dan menutup pintu ruangannya. Pikirannya menerawang, ia berpikir ada apa gerangan sebuah komplotan mafia berkedok perusahaan mengajak Rakuzan Corp. bekerja sama?
Mendadak aura ruang kerjanya menjadi lebih berat. Lantas sepasang biner emas yang jarang muncul ke permukaan akhir-akhir ini pun menampakkan eksistensinya. Terbukti dengan kesadaran Seijūrō yang digantikan oleh sisi lainnya yang disebut oleh Tetsuya dengan nama Akashi. Sisi lainya yang penuh dengan keotoriteran dan arogansi.
Gelak tawa yang sungguh bukan Seijūrō sekali bergema di ruangan itu. "Kenapa harus takut? Perusahaanku juga memiliki sokongan dari yakuza Kirisaki-gumi. Organisasi yakuza terbesar di Jepang bahkan dunia. Haha— mafia seperti Gold Inc. hanya seperti ulat kecil yang menggeliat di bawah kakiku."
Akashi Seijūrō menyeringai senang. Kejadian yang menarik akan segera terjadi dan ia akan menjadi salah satu dari pemainnya.
.
.
Gold Inc. Los Angeles.
"Allen, kau sudah mengatur permintaanku untuk mengatur kerja sama dengan Rakuzan Corp. ?"
Sekretaris yang merangkap sebagai pesuruhnya pun mengangguk takut-takut, mengiyakan pertanyaan tuannya. Dengan angkuh, Nash mengangkat dagunya dan menendang tulang kering sebelah kanan Allen dengan tidak berperi kemanusiaan. Iris toscanya menatap lelaki berpotongan under-cut itu dengan sorot membunuh.
"Kalau begitu, keluar dari ruanganku sekarang."
"Y-yes, sir." Tidak ada waktu untuk memikirkan nasib kaki yang ditendang bosnya, dengan tertatih Allen keluar dari ruangan Nash yang tidak memiliki rasa kasihan sedikit pun kepada manusia yang ada di tingkat bawah dalam sistem kastanya.
"Tunggu aku, Tetsuya. Aku akan mengambilmu dari Akashi sebentar lagi. Bersabarlah." Nash tertawa kecil, mengusap bingkai foto dengan wajah dirinya dan Tetsuya yang tengah tersenyum menghadap kamera.
.
.
Biner merah jambu Satsuki membola antusias begitu melihat Tetsuya sudah menunggu di depan kelas penitipan anak. Kaki-kaki kecilnya berlari ke arah Tetsuya dengan tergesa.
"Satsuki-chan? sudah selesai membereskan barang bawaanmu?"
Lelaki bersurai biru langit itu menepuk kepala Satsuki lembut dan dijawab dengan anggukan antusias si gadis navy blue disana.
"Baiklah kalau begitu, ayo menunggu di taman hingga Papamu datang menjemput."
Satsuki dengan inisiatifnya sendiri menautkan tangan mungilnya dengan telapak tangan Tetsuya yang hangat dan besar. Agar langkahku selalu sama dengan Tetsu-nii-san, dan tidak tertinggal, pikirnya
Setelah sampai disana, Tetsuya lebih dahulu duduk dibangku hitam itu dan menepuk bagian kosong di sebelahnya berniat membiarkan Satsuki duduk di sampingnya.
"Um! Tapi, Satsuki ingin duduk dipangkuan Tetsu-nii-san."
Tetsuya ber-huh ria. Kedua alisnya bertaut bingung.
"Ne? dame desu ka?" dengan tatapan ala kucing terbuang, Satsuki pun menggoda Tetsuya agar pemuda manis itu mengizinkan Satsuki duduk di pangkuannya.
Tetsuya berpikir jika Satsuki benar-benar duplikat dari Momoi. Bahkan kitty eyes andalannya pun sungguh sama. Akhirnya Tetsuya memilih untuk menyerah dan membiarkan Satsuki untu duduk di pangkuannya sambil menunggu Aomine datang menjemput gadis kecil itu.
Tetsuya mengangkat tubuh Satsuki dan mendudukkannya di pangkuan. Sesekali mengelus surai navy bluenya.
"Hihihi~"
Satsuki mulai berceloteh tentang apapun yang barusan dialaminya, sesekali tertawa senang. Tetsuya hanya mendengarkan saja, ia tidak berniat menyela celotehan gadis kecil yang cerewet itu. Hingga sebuah dering ponsel menginterupsi kegiatan celotehan Satsuki.
"Tetsu-nii-san? Ponselmu berbunyi 'lho."
Gadis kecil itu menunjuk kearah tas selempang Tetsuya yang berjarak tidak jauh dari dirinya.
"Huh? Ah, iya benar."
Mengambil ponsel yang disimpan didalam tasnya, netra biru langitnya memandang screen ponsel itu dan menampilkan nama yang tidak asing.
Incoming call : Aomine-kun
Dengan segera ia menekan tombol hijau di layar ponselnya, lalu menempelkan benda kotak itu ke telinganya.
"Ha'i, Moshi-moshi? Aomine-kun?"
"OH! TETSU?! WARUI, AKU TIDAK BISA MENJEMPUT SATSUKI HARI INI, BISAKAH KAU MEMBAWANYA PULANG BERSAMAMU? NANTI MALAM AKU AKAN MENJEMPUTNYA!"
Aomine berbicara dengan keras, di tempatnya terdengar luar biasa ribut dan dengan refleks Tetsuya segera menjauhkan benda yang disebut ponsel itu dari telinganya. Ia berpikir bahwa mungkin saja ia akan tuli mendadak jika mendengarkan suara Aomine yang luar biasa lantang itu.
"A-ano.. memangnya apa yang terjadi Aomine-kun?" Tetsuya mengerenyitkan dahinya dan sedikit mendekatkan jarak speaker ponselnya.
"Aku sedang melakukan investigasi di distrik Shibuya yang tadi sore terjadi kebakaran. Jadi, aku tidak bisa menjemput Satsuki tepat waktu. Maaf merepotkanmu, Tetsu."
"Tak apa. Aomine-kun. Aku akan membawa Satsuki kerumah dan nanti aku akan mengirimkan alamatnya. Jika kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu, kau bisa menjemput Satsuki-chan di rumah."
" kasih, Tetsu. Maaf merepotkanmu."
Sambungan telepon itu terputus dengan sepihak. Tetsuya kembali memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya. Satsuki menatap Tetsuya dengan bingung.
"Tetsu-nii-san, apakah yang tadi menelepon adalah Papa?"
"Ya, Satsuki-chan. Hari ini Papamu tidak bisa menjemputmu, ada pekerjaan yang tidak bisa ditundanya. Jadi, Satsuki-chan pulang bersama Tetsu-nii ya? Kita kerumah Tetsu-nii."
Satsuki mengangguk pelan, wajahnya agak murung.
"Daijoubu, Satsuki-chan. Papamu akan menjemput begitu pekerjaannya selesai."
"Hontou?"
Tetsuya mengangguk dan mengiyakan Satsuki sembari tersenyum hangat.
"Baiklah! ayo kerumah Tetsu-nii-san~" ujarnya semangat.
.
.
Mereka berdua berjalan menuju kearah gerbang TK Teiko. Setelah sampai disana, mendadak langkah Tetsuya terhenti. Ia merasa déja vù dengan kejadian ini.
"Sei-kun?"
Yang dipanggil pun menoleh dan mendapati Tetsuya menatap heran kearah dirinya dan membuat segaris senyum kecil terulas di wajah tampannya.
"Err.. sedang apa kau disini, Sei-kun?"
"Menjempumu kurasa?"
Mendengar Seijūrō berkata seperti itu membuat kedua alis Tetsuya bertaut heran lalu melanjutkan perkataannya,
"Dengan pakaian seperti itu?"
Tetsuya menatap Seijuro dari atas sampai bawah. Ia mengenakan pakaian kasual yang sangat jarang diperlihatkannya. Kecuali dirumah tentu saja.
"Aku baru saja sampai dirumah beberapa jam yang lalu. Karena terlalu membosankan, jadi aku berpikir untuk menjemputmu dengan berjalan kaki. Lagi pula jarak mansion kita dengan TK Teikō tidak terlalu jauh."
Tetsuya mengangguk pelan dan memilih mengiyakan pertanyaan Seijūrō. Hingga sebuah suara seorang gadis kecil menginterupsi keduanya.
"Oji-san siapa?" Gadis itu mendongak dengan netra sewarna buah momo yang menatap Seijūrō lekat.
"Namaku Akashi Seijūrō, nona kecil. Aku adalah Suami dari Tetsuya." Seijūrō menyeringai kecil melihat anak gadis di hadapannya yang tiba-tiba saja menampilkan raut wajah bingung.
"Um.. Suami? jadi Tetsu-nii-san sudah menikah?"
Pipi Tetsuya mendadak merona karena pengakuan Seijūrō yang mendadak di depan Satsuki. Si surai scarlet pun tersenyum melihat Tetsuya yang tersipu karenanya.
"Begitulah, Satsuki-chan." Tetsuya tersenyum kecil dan membenarkan perkataan Seijūrō.
"Nande? Padahal nanti saat Satsu dewasa, Tetsu-nii-san akan menikah dengan Satsu." Tiba-tiba saja gadis bermahkotakan biru gelap itu masuk ke dalam mode merajuk. Ternyata nii-sannya sudah ada yang punya :(
"Kau tidak bisa merebutnya dariku, gadis kecil. Karena dia milikku." Seijūrō menatap gadis mungil beriris merah jambu itu dengan tatapan menantang.
"Tidak! Satsu akan merebut Tetsu-nii-san saat Satsu sudah dewasa nanti! Humph!" Dengan berani, Satsuki mengangkat dagu dan berkacak pinggang di depan Seijūrō yang masih memasang seringaian mengejek di wajahnya.
"Hoho.. kau punya keberanian juga, bocah."
"Satsu bukan bocah! Oji-san menyebalkan!"
"Sei-kun, hentikan pertengkaran konyol ini, Satsuki-chan hanya anak-anak. Aku yakin ia tidak serius dengan ucapannya." Tetsuya tertawa garing dan mendadak facepalm karena melihat adegan konyol yang dipersembahkan oleh Suaminya sendiri. Jujur saja ia tidak menyangka jika Seijūrō dapat menjadi diluar karakternya seperti ini.
Akhirnya, Seijūrō berdeham pelan dan menatap penuh tanda tanya kearah Tetsuya.
"Jadi, kenapa gadis ini belum pulang? Kau masih ingin menunggu orang tuanya datang menjemput?" Sepasang alisnya terlihat bertautan.
"Tidak, Sei-kun, bukan begitu. Etto.. bolehkah aku meminta sesuatu?"
"Katakanlah Tetsuya."
"B-bolehkah aku membawa Satsuki kerumah? M-maksudku, aku ingin menjaganya sebentar hingga Aomine-kun selesai dengan pekerjaannya. Saat ini ia tengah menginvestigasi distrik Shibuya karena terjadi kebakaran disana."
"Hm—" Netra heterokrom milik Seijūrō mengamati Satsuki yang tengah menatapnya sebal dan membuatnya menyeringai kecil.
"Hei bocah. Kau yakin ingin ke rumah Oji-san yang telah merebut nii-san mu itu?" Seijūrō menyeringai lebar seraya menatap kearah gadis mungil yang tengah memainkan kedua jarinya, ia gugup rupanya.
"T-tentu saja! Satsu mau." gadis kecil itu berteriak tertahan dengan pipi yang merona malu.
"hoo— dame!" tandas pria bersurai scarlet itu final dan membuat Tetsuya menatap terkejut kearahnya.
"S-Sei-kun?" Dengan isyarat, Seijūrō tersenyum kecil kearah Tetsuya dan bibirnya bergerak bisu.
Daijoubu. Aku tidak akan membuatnya menangis.
"N-nande? N-ne.. Ijinkan Satsu ne, Oji-san? Satsu janji tidak akan merebut Tetsu nii-san dari Oji-san!" Dengan cepat Satsuki berbicara dan sedikit terisak.
"... benarkah?"
"Um! Tentu saja Oji-san! Oji-san dapat memegang janji Satsu! Satsu tidak akan pernah mengingkari janji!" Gadis bersurai navy blue itu mengacungkan kedua jempol tangannya berharap jika Seijūrō akan mengizinkan dirinya pergi ke rumah Tetsuya-nii-sannya yang juga rumah Seijūrō.
"Baiklah—
"Waaai~ Main kerumah Tetsu-nii—"
—tapi ada syaratnya." Seijūrō tersenyum mengejek dan seketika Satsuki mulai mempoutkan bibirnya imut.
"Eehh? Oji-san hidoi."
"Kalau kau tidak mau menurut, Oji-san tidak akan mengijinkannya 'lho." Dan lagi, Tetsuya dibuat ingin menepuk dahinya sendiri melihat kelakuan Seijūrō yang lagi-lagi berada di luar karakternya.
"Mou! Baiklah, apa syaratnya Oji-san? Kalau Oji-san meminta uang, Satsu tidak punya uang :("
"Aku tidak akan meminta uang padamu, bocah." Seijūrō tertawa melihat Satsuki yang terlihat merogoh kantung bajunya dan tidak menemukan uang sepeserpun dari sana.
"Berjanjilah satu hal pada oji-san, ne?"
Satsuki masih menatap Seijūrō yang kini tersenyum kearahnya dan menunggu lelaki itu meneruskan bicaranya.
"Jaga Tetsuya saat ia mengajar disini, jangan biarkan lelaki lain mendekatinya. Mengerti?"
Dengan semangat Satsuki mengangguk seraya meletakkan tangan kanannya diatas kepala.
"Baiklah, ayo kita pulang ke rumah Tetsu-nii-sanmu."
"Waaa~ Sei-oji-san ternyata orang yang baik! Jadilah teman Satsu juga, Sei-oji-san!"
"Tentu saja gadis kecil." Tangannya menepuk surai navy blue Satsuki pelan dan disambut dengan senyum senang di wajah gadis kecil itu.
"Nah, ayo pulang Tetsuya." Ajaknya kepada Tetsuya yang masih menatap keduanya dengan tatapan tidak percaya.
"Eh? Ah.. um. Ha'i Sei-kun."
Mereka bertiga berjalan bersama dengan Satsuki yang berada ditengah-tengah keduannya dan masing masing tangan gadis kecil itu menggamit telapak kedua pemuda yang berstatus suami istri itu. Sungguh terlihat seperti keluarga yang bahagia.
Manik birunya mencuri-curi pandang kearah Seijūrō yang terlihat asyik bercanda dengan Satsuki dan jujur di lubuk hatinya yang paling dalam, ia senang melihat senyum Seijūrō yang terlihat sungguh bahagia.
Apakah mungkin, Sei-kun mulai menerima dirinya?
Kalau begitu, syukurlah.
Seijūrō akan terlihat lebih baik dengan senyum bahagia di wajahnya.
つづく
a/n: well.. maafkan Ao kalo chap ini sedikit panjang :" nyaris jebol 3k.. pasti ngebosenin :( yup, di chapter ini ternyata ketahuan kan, siapa yang nelpon Aomine :D Gimana? ehehe /apanya
Yesh.. dan abang Nash muncul juga di fic ini~ /guling-gulingbanzay
Semoga chap ini tidak mengecewakan :)
Last, mind to review?
