Pemuda itu meronta, mencoba berkelit dari cengkeraman pria di depannya.

"Aku mau pulang, Dokter Jung!" teriaknya dengan kesal. Kyuhyun mencoba menendang kaki Yunho, namun pria itu berhasil menghindar.

Yunho menghela napas kesal melihat sifat keras kepala yang Kyuhyun miliki. "Kau bilang mau mengganti sapu tanganku 'kan? Kau hanya perlu mengikuti kemana aku pergi, Kyuhyun-ssi." Ucapnya mencoba bersabar.

"Jika kau mau membawaku ke pskiater, jangan harap bisa melakukannya!"

"Sekali saja menurutlah padaku, Kyuhyun-ssi. Kau tidak menurutiku saat di rumah sakit tempo hari."

"Bukan urusanku!"

"Kau pasienku, Kyuhyun-ssi. Sudah sepantasnya aku memperhatikan kesehatan pasienku. Terutama kau yang tidak menuruti anjuranku untuk pergi ke pskiater."

Kyuhyun menggigit lengan Yunho saat pria itu sibuk berbicara. Alhasil, Yunho mendesis sakit dan cengkeraman pada tangan Kyuhyun terlepas.

Memacu langkahnya menjauhi Yunho, Kyuhyun terus berlari.

"Kyuhyun-ssi!"

Merasa jengah karena sifat keras kepala pemuda itu, Yunho berlari mengejarnya. Kaki panjang Yunho dengan mudah menyamai langkah Kyuhyun. Yunho menarik mantel panjang Kyuhyun lalu menjegal kaki pemuda itu. Kyuhyun tersungkur di tanah.

"Apa yang kau lakukan?!" sembur Kyuhyun seraya mendesis kecil. Kyuhyun berniat kembali berlari, namun Yunho kembali menariknya untuk tetap di tempat. "Kau melebihi batasanmu sebagai dokter! Apa maumu sebenarnya?"

Kali ini Kyuhyun menatap Yunho dengan marah. Kyuhyun tidak mengenal Yunho sebelumnya, tapi mengapa pria itu bersikeras menyuruhnya berobat ke pskiater. Kyuhyun tidak sudi, tak akan!

"Karena kau pasienku." Jawab Yunho yang merendehkan tubuhnya agar sejajar dengan Kyuhyun yang terduduk di tanah.

Kyuhyun berdecih. "Sejak aku meninggalkan rumah sakit waktu itu, sejak itulah aku bukan pasienmu."

"Kau harus mengobati gangguan psikosomatismu, Kyuhyun-ssi."

"Aku tidak gila! Minggir, aku mau pulang!"

"Kyuhyun-ssi―"

"Jangan memaksaku untuk memukulmu, Dokter Jung! Aku tidak akan datang ke tempat semacam itu!"

Entah mendapat kekuatan dari mana Kyuhyun sanggup mendorong tubuh Yunho hingga terhempas ke samping. Dengan segera Kyuhyun beranjak untuk kemudian melangkah menjauhi Yunho yang masih tertinggal di belakang.

"Namaku Jung Yunho." Teriak Yunho. Pria itu berdiri lalu mengikuti langkah Kyuhyun yang berjalan semeter di depannya. Kyuhyun tak menanggapi, hanya terus berjalan dengan langkah cepat.

"Kakak perempuanku bernama Jung Mira."

Kyuhyun rasa telinganya salah dengar.

Tidak mungkin.

"Jung Mira adalah nama kakakku sebelum menikah."

Jangan teruskan!

"Namanya sekarang adalah Cho Mira."

"Sebenarnya, dulu aku bermarga Jung. Tapi, beberapa tahun lalu seorang pria bermarga Cho meminangku."

Kyuhyun mengepalkan buku-buku jarinya hingga memutih. Kenapa Tuhan sangat suka memberinya kejutan? Kyuhyun bahkan tidak menginginkan kejutan semacam ini. Kejutan semacam ini―tidak lebih baik dari mimpi buruk yang telah terjadi di hidupnya. Sungguh, Kyuhyun hanya ingin hidup dengan tenang setelah satu-satunya dunia miliknya pergi.

"Kau Cho Kyuhyun putra dari Tuan Cho 'kan?"

Secara mendadak, kaki Kyuhyun berhenti melangkah. Memutar tubuhnya lalu menatap Yunho dengan tatapan datarnya. Yunho terkesiap saat tidak mendapati wajah marah Kyuhyun beberapa saat lalu.

"Seseorang tidak menginginkan aku untuk memanggilnya dengan sebutan ayah. Sejak hari ini, aku bukanlah Cho Kyuhyun! Cho Kyuhyun sudah mati!"

.

.

.

Alright

.

9

.

[it's okay as long as you're happy]

.

.

.

now playing: Kyuhyun – Goodbye for Now

.

.

.

Beberapa minggu berlalu sejak kejadian di taman bermain. Tuan Cho mendapati istrinya lebih sedikit bicara padanya. Pria itu menjadi khawatir tetang banyak hal. Tentang kesehatan istrinya, tentang Taemin, dan tentang Kyuhyun.

Tuan Cho tidak bisa menghubungi ataupun menemui Kyuhyun lagi sejak hari itu. Ia dilanda pekerjaan yang menggunung di perusahaan. Belum lagi istrinya yang belum mau bicara banyak membuat Tuan Cho tidak berani pergi lama-lama dari rumah selain bekerja.

"Mau kubuatkan jus?" tawar Tuan Cho di suatu pagi saat akhir pekan. Saat hamil Taemin dulu, Mira sangat suka jus. Mungkin saja kebiasaan itu masih bertahan sampai sekarang. "Mira-ya, kau mau sesuatu?" tanya pria itu lagi.

Mira tengah duduk di beranda rumah sembari membaca sebuah buku. Wanita itu tampak fokus dengan kegiatannya, tanpa menghiraukan suaminya yang menunggu jawaban. Buku di tangan Mira ditutup dengan paksa oleh Tuan Cho. Mira menatap kesal pada Tuan Cho yang kini mengambil tempat disampingnya.

"Aku tidak mau!" ucap Mira.

Tuan Cho merangkul bahu Mira, namun wanita itu menolaknya. Mira mejauhkan tubuhnya dari Tuan Cho.

Pria itu menghela napas. "Kenapa kau mendiamkanku?" tanya Tuan Cho pada akhirnya. Mira melengos, namun Tuan Cho menahan tubuh Mira agar tetap berhadapan dengannya. "Kau marah padaku?"

"Aku tidak marah."

Tuan Cho menghela napas lagi. "Kau menjadi lebih pendiam beberapa hari ini. Kau merasa tidak sehat?"

Mira mendadak menubruk tubuh Tuan Cho dengan pelukan. Tuan Cho terbingung karena mendapat pelukan yang tiba-tiba.

"Jangan menemuinya lagi," ucap Mira pelan.

"Kau bilang apa?" Tuan Cho bertanya karena tidak mendengar jelas ucapan Mira.

"Jangan menemui Kyuhyun lagi. Anak kita yang menginginkannya."

...

"Kenapa, Kyuhyunie? Kau tidak belajar hari ini?"

Kyuhyun menoleh ke segala arah. Mungkin saja telinganya salah dengar.

"Kyuhyunie..."

Kyuhyun akhirnya terbelalak. "I-ibu?" ucapnya tidak yakin.

"Ibu disini." Sosok itu tersenyum pada Kyuhyun.

Kyuhyun tanpa sadar mengerjapkan kedua matanya untuk memastikan jika sosok didepannya adalah nyata. Ia mencubit pipinya dan akhirnya mengaduh. "Ini―nyata?" Pemuda itu nampaknya belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dilihatanya.

Terdengar suara tawa kecil. Kyuhyun menatap sosok ibunya. Dalam sepersekian detik raut kagetnya berubah drastis. Ada gurat rindu dalam wajah pemuda itu. Kyuhyun tidak menyadari ada sebulir tetesan bening jatuh dari sudut matanya.

"Kenapa menangis, Kyuhyunie?" Sosok sang ibu perlahan mendekat. Satu tangannya terangkat untuk mengusap tetesan airmata Kyuhyun. "Jangan menangis."

Kyuhyun menggeleng dengan cepat. Ia menyandarkan wajahnya pada sentuhan tangan sang ibu. Dingin. Tangan ibunya terasa dingin. Kyuhyun bisa merasakannya. "Aku hanya merindukan ibu." Ucapnya dengan lirih. "Kyuhyun rindu ibu..."

Tubuh dingin itu melingkupi tubuh Kyuhyun dengan pelukan. Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. Sosok ibunya benar-benar nyata. Kyuhyun mengeratkan tangannya pada tubuh ibunya. Menenggelamkan wajahnya pada bahu kecil ibunya yang lebih pendek dari tubuh Kyuhyun.

"Ibu juga rindu Kyuhyunie. Apa hari ini berat?"

Pertanyaan sama yang selalu ibunya tanyakan pada Kyuhyun. Kyuhyun tidak tahu pasti apakah sosok yang datang sebelumnya adalah sosok yang sama dengan sosok yang memeluknya saat ini. Namun, mengingat pertanyaan yang sama yang ditanyakan sosok itu, Kyuhyun yakin sosok ini adalah sosok yang sama dengan yang datang di mimpinya.

"Wanita itu―tidak punya perasaan, ibu." Kyuhyun memulai ceritanya, layaknya seorang anak kecil yang memulai sesi cerita sebelum tidur. "Ibu masih lebih baik dibanding wanita tidak berperasaan sepertinya. Kenapa ayah dengan bodoh memilih wanita itu? Wanita itu bahkan melarangku menemui ayah, menjelekkan soal ibu, bahkan mengancamku. Apa wanita seperti itu adalah wanita yang sanggup membuat ayah meninggalkan ibu? Aku tidak percaya."

Kyuhyun menatap sosok sang ibu. Wanita itu―hanya tersenyum. "Apa ibu sebaik itu?"

Kyuhyun mengangguk. "Tidak ada yang bisa menggantikan ibu."

Sosok itu tersenyum. Senyum tulus yang terlihat tidak menanggung beban sama sekali. "Tuhan tahu apa yang terjadi. Kau―hanya perlu bersyukur, Kyuhyunie."

"Apa yang perlu ku syukuri dari semua musibah yang menimpaku, ibu? Ayah pergi, ibu juga pergi meninggalkanku. Dan lagi―aku sakit. Apa yang harus ku syukuri, ibu? Tolong katakan, apa itu?"

Sosok ibunya merenggangkan pelukan, kemudian memaksa Kyuhyun untuk melihat matanya.

"Apa kau tidak mau bersyukur dengan kehadiran paman Lee dan Donghae hyungmu yang selalu membantu? Begitu juga Changmin yang mencoba mengerti tentangmu selama ini. Apa kau tidak ingin bersyukur dengan kehadiran mereka, Kyuhyunie?"

"Tapi, ibu..."

"Dimana Cho Kyuhyun yang selalu bersyukur dengan apa yang dimilikinya? Ibu tidak pernah mengajarimu mengeluh, Kyuhyunie..."

"Ini terlalu berat, ibu. Aku tidak sanggup. Aku tidak ingin menjadi Cho Kyuhyun lagi. Nama Cho Kyuhyun selalu mengingatkanku pada ayah. Aku tidak suka, ibu. Meski ibu bilang aku adalah Cho Kyuhyun, aku tidak bisa."

Sosok itu menatap iba pada putranya yang nampak tertekan. Kedua mata Kyuhyun menyiratkan lelah dan sedih disaat yang bersamaan.

"Ibu mengerti, Kyuhyunie. Lepaskan jika memang itu keinginanmu. Maafkan ibu..."

Kyuhyun memeluk ibunya lagi dengan lebih erat. Membiarkan gelenyar rasa nyaman hinggap dihatinya untuk sesaat. "Ibu tidak akan pergi 'kan?" tanya Kyuhyun.

"Ibu ada disini, menemani Kyuhyunie."

Kyuhyun menggeleng dalam pelukan ibunya. "Kemarin ibu juga bilang begitu, tapi nyatanya ibu pergi. Aku mau ikut ibu, bersama ibu lebih nyaman."

"Tempatmu disini, Kyuhyunie. Bukan bersama ibu."

Saat Kyuhyun mengeratkan pelukannya, ia tidak merasakan apapun. Kyuhyun menyadari tangannya memeluk tubuhnya sendiri.

"Jadilah kuat, Kyuhyunie. Ibu menyayangimu."

Sosok sang ibu mengelus pipi Kyuhyun. Wanita itu tersenyum. Lalu perlahan sosoknya melayang dan menjauh. Kyuhyun mengulurkan tangannya untuk meraih sosok ibunya. Namun, tangan Kyuhyun hanya meraih udara kosong. "Ibu..."

"Kyuhyunie! Hei, kau kenapa?"

Donghae tiba-tiba saja muncul didepan Kyuhyun.

"Ibu..." Kyuhyun mencari ke sekeliling ruangan, berusaha mencari sosok ibunya yang tadi sempat ditemuinya.

"Apa yang kau cari?" Donghae mengerutkan kening melihat Kyuhyun yang seperti orang kebingungan. "Kau menangis, Kyuhyunie? Kenapa?" ucapnya begitu menyadari pipi Kyuhyun basah oleh airmata.

Kyuhyun menyentuh pipinya. Dan benar saja, Kyuhyun merasakan airmata membasahi pipinya.

Aku juga menyayangimu, ibu.

...

Tiga bulan kemudian

"Uwoooo, namamu ada di urutan pertama, Kyuhyun-ah!"

Kyuhyun mengikuti arah telunjuk Changmin. "Oh," komentarnya.

"Hah? Hanya oh saja?!" Changmin geleng-geleng kepala. Tak mau menanggapi Kyuhyun yang akhir-akhir ini sedikit pendiam dalam segala hal, Changmin memusatkan perhatian pada deretan nama yang terpampang di papan pengumuman.

Ketika mendapati namanya berada di urutan ke tujuh, Changmin berteriak dengan keras. "AKU LULUS! AAAAAAAAA JAE HYUUUUNGGG! AKU LULUS!"

Kyuhyun hanya bisa mengusap kupingnya yang mendadak berdengung. Ia segera menarik Changmin untuk menjauh dari papan pengumuman yang dipenuhi siswa yang melihat nilai ujian akhir.

"Aku lulus, Kyuhyun-ah! Aku lulus! Wooooooooo."

"Berisik!"

Banyak yang terjadi selama tiga bulan terakhir. Sejak Kyuhyun tidak hadir di kelas tambahan hari itu, Changmin sedikit mengurangi kadar ke-kepoannya. Tak ada lagi pembahasan soal kartu nama pskiater, ataupun sebangsanya. Well, kehidupan sekolah antara Kyuhyun dan Changmin kembali seperti biasa. Tidak ada yang kurang atau berlebihan.

"Kau terlalu biasa menanggapi kelulusan kita, Kyuhyun-ah."

Yang dikatakan Changmin adalah fakta. Kyuhyun yang mendapat peringkat satu hanya ber'oh' saja. Padahal Changmin yang menempati peringkat tujuh serasa ingin berteriak pada dunia, berkoar-koar di setiap sudut kota tentang kelulusannya.

"Memang harus bagaimana? Haruskah aku berenang menyeberangi Sungai Han?"

Oh, ternyata Kyuhyun lebih ekstrim dibanding apa yang ingin Changmin lakukan.

"Kau cari mati?!"

Kyuhyun mengangkat bahunya, "Siapa tahu bisa bertemu ibu," ucapnya asal.

Changmin mengatupkan mulutnya. Pembicaraan sensitif semacam ini selalu Changmin hindari selama tiga bulan terakhir. Entah mengapa Kyuhyun memulainya.

"Tidak lucu!" komentar Changmin.

Kyuhyun tertawa kecil. "Aku bukan pelawak, tidak heran jika tidak lucu." Mengabaikan Changmin, Kyuhyun berjalan menuju kelas.

"Bagaimana dengan kuliahmu?" Changmin membelokkan pembicaraan. Keduanya memasuki kelas yang sepi―siswa lain sibuk dengan euforia kelulusan.

"Belum tahu. Kau? Jadi masuk Universitas Seoul?"

Duduk di kursi yang bersebelahan. Kyuhyun memainkan ponsel sedangkan Changmin menopang dagu di atas bangku.

"Dengan nilaiku yang lumayan bagus―aku yakin bisa masuk ke sana." Changmin tersenyum lebar. "Kau tidak berniat masuk ke sana juga, Kyuhyun-ah?" tanya Changmin.

"Tidak minat."

"Nilaimu lebih bagus dariku. Peluang kau diterima di Universitas Seoul lebih besar dibanding aku. Kenapa tidak mencobanya?"

Kyuhyun menurunkan ponselnya lalu memasang senyum miring di depan Changmin. "Aku mengurangi satu peluang agar kau bisa masuk kesana." Lalu kembali bermain dengan ponselnya.

"Ha?!"

Loading

Loading

Load

"Ya, Kyuhyun-ah! Maksudmu aku tidak bisa masuk kesana selama kau juga mendaftar kesana?! Hei, kau meremehkanku! Kau―"

Belum selesai Changmin berceloteh, Kyuhyun mengangkat ponselnya dengan tangan kanan. Kamera depan diaktifkan. Kyuhyun sedikit mendekatkan tubuhnya dengan Changmin. "Senyum, Changmin-ah. Katakan kimchi..." Changmin menoleh ke arah kamera dan memasang senyum lebarnya.

Ckrek

"Sekali lagi. Pasang muka jelek."

Ckrek

"Lagi. Pose kita yang sama."

"Begini?"

"Okey!"

Ckrek

"Sudah cukup. Hasilnya bagus."

Kyuhyun tersenyum melihat hasil jepretannya. Memang terkesan bukan Kyuhyun sekali karena pada dasarnya Kyuhyun jarang memotret dirinya sendiri. Tapi hari ini, Kyuhyun ingin melakukannya.

Senyum yang Changmin pasang selama kamera aktif kini lenyap. Changmin menatap Kyuhyun dengan kesal. Celotehnya yang sempat tertunda harus dilanjutkan, jika tidak―

"E?" Changmin berkedip beberapa kali. Kaget dengan apa yang tengah Kyuhyun lakukan padanya. "Kyuhyun-ah..."

"Aku rasa akan merindukanmu, Changmin-ah." Kyuhyun melepas pelukan pada tubuh Changmin. Sedikit menepuk dengan keras kepala Changmin yang terbengong agar kembali ke dunia nyata.

Changmin mengaduh. "Kenapa memukulku? Sakit tahu!" keluhnya.

"Sebagai ucapan perpisahan pada status siswa SMA. Kau bengong, jadi kupukul saja."

"Mwo? Apa hubungannya?!"

...

"Aku berangkat dulu."

Setelah mencium kening dan perut Mira yang mulai membuncit, Tuan Cho bergegas masuk ke mobil.

"Hati-hati di jalan."

Mobil Tuan Cho menghilang dibalik pagar. Mira membalikkan badan untuk masuk kembali ke rumah saat mendengar langkah kaki mendekat. Wanita itu berpikir mungkin saja suaminya melupakan sesuatu di rumah.

"Kau melupakan sesua―"

Kalimat Mira terhenti begitu melihat sosok tersebut. Bukan suaminya. Sosok itu memang hampir mirip dengan suaminya. Sorot matanya, bentuk wajahnya, postur tubuhnya, dan bentuk hidungnya sembilan puluh persen sama dengan milik suaminya. Namun sosok itu terlihat lebih muda. Sosok itu adalah Kyuhyun.

"Apa yang kau lakukan di rumahku?" Mira bertanya tanpa mempersilahkan tamunya untuk masuk.

Kyuhyun berdiri beberapa langkah dari teras rumah. Pemuda itu menatap lurus pada wanita yang menatapnya tajam. Meski Mira menatapnya dengan tatapan tajam yang cenderung mengarah pada benci, namun Kyuhyun bisa melihat kilat gentar dalam tatapan mata Mira.

"Berkunjung ke rumah ayahku." Balasnya singkat.

Mira mengepalkan jemarinya mendengar jawaban Kyuhyun. "Kau tidak diterima di rumah ini. Pergilah dari sini!"

Kyuhyun tertawa kecil karena pengusiran Mira. Kedua kakinya melangkah lebih dekat pada wanita itu.

"Ayah bahkan memohon agar aku ikut dengannya. Siapa bilang aku tidak diterima di rumah ini?"

Tanpa sadar Mira melangkah mundur seiring dengan langkah Kyuhyun yang mendekatinya.

"Aku adalah nyonya rumah disini! Tidak ada yang bisa masuk ke rumah ini tanpa persetujuanku!"

Pandangan Kyuhyun turun pada perut Mira. Pemuda itu tersenyum miring melihatnya.

"Kali ini tidur dengan siapa lagi? Ayahku―" mendekat, "―atau pria beristri yang lain?" ucapnya dengan nada mengintimidasi.

"Jaga bicaramu! Aku hanya tidur dengan suamiku!" ucapnya sembari memeluk perutnya dengan kedua tangan. Alarm tanda bahaya berdering di kepala wanita itu.

"Ayahku masih menjadi suami ibuku saat kau tidur dengannya."

Mira mengeraskan rahangnya. Wanita itu merasa sikap Kyuhyun berubah drastis dibanding terakhir kali mereka berbicara. Kyuhyun kembali menantangnya kali ini―dengan lebih kuat. Kata-kata Kyuhyun lebih menusuk dibanding sebelumnya. Pemuda itu bahkan tidak memakai bahasa formal saat berbicara dengannya.

"Bukan urusanmu!"

"Bukan urusanku? Tsk! Kau lupa kalau aku adalah anak dari wanita yang kau rebut kebahagiannya, Nyonya Cho."

Kyuhyun tidak perduli dengan tata krama saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Yang Kyuhyun inginkan adalah membalas apa yang telah wanita itu lakukan padanya―dan pada ibunya.

Wanita ini harus mendapat balasan yang setimpal!

Hati Kyuhyun meneriakkan kalimat itu. Harus, harus, dan harus! Kyuhyun mungkin bisa mendorong wanita itu dengan keras sehingga wanita itu keguguran. Bukankah itu terdengar menyenangkan untuk menjadi balasannya?

"Kau takut padaku, Nyonya Cho?" tanya Kyuhyun saat melihat tubuh Mira gemetaran. Kyuhyun yakin ia juga melihat wajah Mira berubah pucat.

"Diam. Pergi dari sini!" Mira melangkah mundur.

Kyuhyun tak menghiraukan kalimat Mira dan terus melangkah. Ia sudah cukup melakukan hal gila dengan pergi ke Busan pada pagi buta tanpa memiliki alasan yang jelas. Jangan tanya Kyuhyun tentang bagaimana ia tahu alamat rumah ayahnya di Busan. Dan setelah sampai disini, Kyuhyun tidak ingin melakukan hal yang sia-sia.

Jarak antara Kyuhyun dan Mira hanya tinggal tiga langkah. Merasa terancam, Mira melangkah mundur dengan cepat. Wanita itu tidak mengingat adanya undakan kecil antara pintu masuk dan teras rumahnya. Saat kembali melangkah mundur, Mira tersandung undakan kecil tersebut. Karena kaget, tubuh Mira terjatuh dengan keras di lantai rumah dengan posisi miring. Mira mengerang kesakitan.

"Argh..." ringisnya sembari memegangi perutnya yang nyeri.

Kyuhyun tertegun melihatnya. Mira terjatuh bukan karenanya, namun karena kecerobohan Mira sendiri yang tidak berhati-hati saat melangkah. Awalnya Kyuhyun hanya diam melihatnya. Tapi saat melihat raut kesakitan wanita itu, Kyuhyun mulai mengiba.

"To-tolong..."

Dia pantas mendapatkannya! Kau harus membiarkannya, Kyuhyun!

Mengurungkan niatnya untuk membantu Mira, Kyuhyun mengambil langkah mundur. "Ya, kau pantas mendapatkannya, Nyonya Cho!"

Mira memohon lewat tatapan matanya pada Kyuhyun. Wanita itu memeluk perutnya yang terasa sakit. "Sa-sakit..."

Kyuhyun hanya memandang Mira yang memohon bantuan. Tidak berselang lama, Kyuhyun melihat bercak kemerahan di lantai. Kedua matanya terbelalak.

Apa kau tega membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada bayi tidak bersalah itu? Sebesar apapun penderitaan yang wanita itu bawa untuk kehidupanmu, jangan biarkan dirimu menjadi seseorang yang kehilangan hati nurani, Kyuhyun. Kau harus menolongnya!

Sisi lain dalam hati Kyuhyun mengatakan hal itu.

Biarkan dia menderita!

Kau harus menolongnya, Kyuhyun!

Jangan menolongnya!

Tolonglah dia!

Kyuhyun memejamkan matanya. Dua sisi dalam hatinya seolah sedang berperang dan hal itu membuat Kyuhyun kebingungan.

Apa yang harus Kyuhyun lakukan sekarang?

Apakah ia harus menggunakan emosinya?

Ataukah ia harus menggunakan hati nuraninya?

...

Tuan Cho menidurkan Taemin dengan hati-hati, tidak ingin putra kecilnya terbangun. Setelah merapikan selimut dan mencium kening Taemin, tuan Cho melangkah keluar dari kamar. Sepasang kakinya melangkah menuju kamar yang berhadapan dengan kamar yang kini ditempati Taemin.

Pintu dibuka dengan perlahan. Tuan Cho melangkah masuk dalam ruangan yang hanya disinari cahaya redup dari lampu tidur. Pria itu mengambil tempat di pinggir tempat tidur―dimana istrinya tengah berbaring memunggunginya.

"Kau sudah tidur?" tanya tuan Cho sembari mengelus kepala istrinya pelan. Tidak ada respon dari wanita itu. Tuan Cho menghela napas. "Aku tidak tahu apa yang terjadi. Bagaimana kau bisa terjatuh dan tentang siapa yang membawamu ke rumah sakit." Mengecup puncak kepala istrinya dari belakang. "Kuharap kau lebih berhati-hati lagi."

Pria itu tidak tahu dengan jelas apa yang terjadi pada istrinya. Pagi tadi saat ia baru memarkirkan mobilnya di kantor, Taemin tiba-tiba menelpon. Putranya itu menelpon sembari menangis.

Ibu sakit. Ibu berdarah. Ayah harus datang ke rumah sakit dekat rumah sekarang.

Sebaris kalimat itu membuat Tuan Cho tak perlu berpikir panjang. Ia langsung memacu mobilnya menuju rumah sakit. Sampai di rumah sakit, Tuan Cho mendapati Taemin sedang duduk di kursi tunggu dengan seorang suster disampingnya.

"Aku ada di ruang tamu jika kau butuh sesuatu."

Langkah kaki terdengar memelan seiring pintu kamar yang tertutup. Tidak berselang lama, wanita yang sejak tadi berpura tidur itu membuka matanya. Dibanding rasa takut karena hampir kehilangan bayinya, Mira lebih terlihat seperti sedang menyesali sesuatu hal.

Wanita itu ingat dengan jelas bagaimana kejadian pagi tadi.

Kyuhyun mengerang. Pemuda itu akhirnya berlari keluar dari gerbang rumah. Mira ingin mencegahnya. Namun yang bisa dilakukannya hanya meringis kesakitan. Wanita meneriakkan nama putranya, Taemin yang mungkin masih bergelung dalam selimut.

Kesadaran Mira mulai terkikis. Ia samar-samar mengingat bagaimana tubuhnya terasa ringan. Dan sosok yang tengah mengangkat tubuhnya itu tidak akan Mira lupakan.

"Tunggu sebentar, ahjussi. Aku harus memanggil seseorang lagi di dalam rumah."

Supir taksi itu mengangguk pelan. "Jangan terlalu lama, nak. Wanita ini sepertinya butuh penanganan dari dokter." Ucapnya disambut anggukkan oleh Kyuhyun.

Kyuhyun masuk ke dalam rumah. Persetan dengan tata krama! Yang perlu Kyuhyun lakukan adalah mencari keberadaan Taemin. Kyuhyun yakin bocah kecil itu masih berada dalam rumah. Setelah memasuki beberapa kamar, Kyuhyun akhirnya menemukan sosok Taemin tengah duduk terkantuk-kantuk di tempat tidur.

Tanpa banyak bicara, Kyuhyun mengangkat tubuh Taemin dan menggendongnya keluar rumah.

"Eeee... Taemin mau dibawa kemana?" tanya bocah kecil itu sembari mengerjapkan matanya. Bibirnya mengerucut kesal. "Siapa sih ini?"

Kyuhyun tak menanggapi ucapan Taemin. Pandangannya menelusuri ruang tamu yang dilewatinya. Saat melihat sebuah ponsel teronggok di meja, Kyuhyun dengan cepat mengambilnya. Ia tidak lupa menutup pintu rumah lalu masuk dalam taksi. Kyuhyun mendudukkan Taemin di pangkuannya.

"Taemin mau dibawa kemana?"

"Tae, ibumu sakit. Kau harus menelpon ayahmu sekarang." Kyuhyun melirik wanita yang terbaring di kursi belakang.

Setelah mendengar suara yang terdengar familiar itu, Taemin akhirnya membuka matanya dengan lebar. Bocah itu mendongak untuk melihat orang yang tengah memangkunya.

"Kyuhyun hyung? Kok disini?"

"Ibumu sakit." Kyuhyun menolehkan kepalanya ke belakang. Taemin mengikuti arah pandang Kyuhyun. Bocah itu harus sedikit memiringkan tubuhnya.

"Ibu!" teriaknya sembari meronta dari pangkuan Kyuhyun. Bocah itu mulai menangis. Sebisa mungkin Kyuhyun menahan pergerakan Taemin. Dipeluknya tubuh Taemin agar tenang. "Ibu... hiks... ibu kenapa, Kyuhyun hyung?" isaknya.

Kyuhyun menepuk punggung Taemin. "Ibu Tae baik-baik saja. Ibumu akan sembuh setelah diobati dokter." Ucapnya dengan nada menenangkan sembari mengelus airmata di pipi Taemin. "Sekarang, Tae harus menelpon ayah untuk datang ke rumah sakit."

Menekan ponsel yang didapatnya di ruang tamu, Kyuhyun kemudian mengangsurkannya pada Taemin. Beruntung ponsel tersebut tidak dipasang sandi. "Tae bilang pada ayah kalau ibu sakit. Tapi Tae harus ingat, jangan katakan pada ayah kalau Kyuhyun hyung yang membawa ibumu ke rumah sakit."

Taemin mengangguk dengan patuh.

...

Donghae menutup pintu rumah. Ia menelusuri keadaan rumah yang sepi. Ya, apa yang Donghae harapkan dari rumah Kyuhyun sekarang? Tanpa sadar pemuda itu menghela napas.

"Kyuhyunie..." panggilnya sembari melangkah melewati ruang tamu. Sedikit mengernyitkan dahi. "Dia bilang sudah di rumah. Kemana anak itu?" ucapnya kemudian meletakkan bungkusan yang dibawanya keatas meja.

Donghae mencari Kyuhyun di kamar, namun pemuda itu tidak menemukan sepupunya itu. Diambilnya lagi bungkusan yang sempat diletakkan di meja. Kemudian Donghae membawanya ke dapur.

"Ternyata kau disini? Aku mencarimu sejak tadi."

Sepupu yang dicari Donghae sejak tadi ternyata tengah duduk di kursi makan. "Kukira kau bermain dengan Changmin hari ini. Dia menanyakanmu." Donghae mengeluarkan makanan dalam bungkusan yang dibawanya. Meletakkannya di meja lalu Donghae mengambil dua piring kosong.

"Kau habis darimana, Kyuhyunie? Berangkat pagi-pagi lalu pulang menjelang sore."

Donghae selesai dengan makanan yang telah tertata rapi di meja makan. Ia mengernyit karena Kyuhyun tidak menyahut.

"Kyuhyunie..." Ternyata Kyuhyun sibuk melamun.

Tubuh Kyuhyun terlonjak kecil begitu Donghae menyentuh bahunya. Ia nampak kebingungan dengan tatapan Donghae. "Apa?" tanyanya.

Donghae menghela napas, "Makanlah. Bibi Bong membuatkannya untukmu." Ucapnya kemudian mengulurkan piring kosong pada Kyuhyun.

Tanpa berkomentar, Kyuhyun menerima piring dari Donghae kemudian mengisinya dengan nasi serta lauk pauk. "Selamat makan," kata Kyuhyun sebelum memakan makanannya dalam diam.

...

Musim dingin berlalu kemudian datang musim semi. Setelah musim semi yang ceria berlalu, maka musim panas akan datang. Di penghujung musim semi yang mulai memanas ini adalah waktu paling tepat untuk berlibur, berkunjung ke pantai, ataupun sekedar keluar mencari sinar matahari yang hangat.

"Sudah semua?"

Pemuda yang baru menutup pintu kamar itu mengangguk pada pemuda yang lain. Mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah untuk yang terakhir kali sebelum benar-benar pergi. "Kurasa sudah," jawabnya.

"Pesawatmu akan terbang satu jam lagi. Lebih baik kita segera berangkat."

Seorang pria di ambang pintu rumah bersuara. Kedua pemuda itu saling berpandangan kemudian mengangguk. Pemuda yang lebih tua berjalan lebih dulu kemudian diikuti pemuda yang lebih muda dengan menyeret koper hitamnya.

Seiring dengan langkah kakinya keluar dari pintu rumah, bersamaan dengan itulah ia mengharap bebannya terlepas. Seiring dengan langkah kakinya keluar dari pintu rumah, bersamaan dengan itulah ia melepas mimpi buruknya. Seiring dengan langkah kakinya keluar dari pintu rumah, bersamaan dengan itulah ia menanggalkan nama belakang yang selama ini dijaganya.

"Bagaimana?" tanya pria yang duduk di samping kursi kemudi.

Pemuda yang tengah mengamati paspor di tangannya itu tersenyum kecil. "Tidak buruk. Kurasa lebih baik memakainya." Kemudian menyimpan paspor dalam ransel kecilnya.

Mobil mulai melaju, membelah jalanan yang dihiasi guguran cherry blossom yang memukau. Pemuda itu tersenyum kecil dari balik kaca jendela mobil. Di penghujung musim semi, mungkin hari ini terakhir kalinya ia bisa melihat keindahan itu.

"Yakin tidak mau berpamitan dengannya?"

Dibalik kursi kemudinya, pemuda yang tengah menyetir itu melirik pemuda yang lebih muda lewat kaca. Ada gurat sedih di wajah itu.

"Tidak perlu. Kurasa."

Kedua orang yang duduk di kursi depan saling berpandangan. Tak ada yang bisa membelokkan keinginan pemuda itu.

...

"Ssaem, apa anda melihat Kyuhyun-ah?"

Guru yang menjabat sebagai wali kelas Changmin itu menaikkan alisnya kemudian memandang pemuda yang memakai toga itu dengan heran. "Kau tidak tahu, Changmin?" tanyanya.

Kini Changmin yang menatap wali kelasnya dengan heran. "Maksud, ssaem? Apa yang tidak ku tahu?"

"Kyuhyun menghubungiku beberapa hari yang lalu. Dia bilang tidak bisa mengikuti upacara kelulusan karena akan mengejar beasiswanya di luar negeri."

"Mwo?! Lu-luar negeri?!"

Guru pria itu mengangguk. "Iya, Kyuhyun bilang begitu."

Tubuh Changmin melemas setelah mendengar kalimat itu. Ia duduk bersimpuh di lantai. Wali kelasnya dilanda kepanikan karena Changmin terkulai begitu saja.

"Hei, Changmin, kau baik-baik saja?" tanya wali kelasnya. Khawatir.

"Kyu-Kyuhyun-ah pergi? Ke-kenapa? Dia tidak bilang apa-apa padaku?"

"Aku rasa akan merindukanmu, Changmin-ah."

...

..

.

.

.

TBC

.

.

.

..

...

Aku gak tahu mau nulis catatan apa disini.

Yang jelas, aku cuma mau bilang, aku rindu Kyuhyun.

Rindu, rindu, dan rindu.

Ulji marara, tteolliji marara

Doenoemyeo neoreul gidarida

Setiap dengerin part ini, rasa rindu itu nambah bertumpuk.

Kyuhyun bilang jangan nangis, tapi justru airmata turun dengan begitu mudah.

Kyuhyun-ah... dari sekian tahun aku suka sama kamu, hari ini titik paling puncak dimana aku merindukanmu.

Aku rindu, sungguh.

Meski begitu, aku akan terus menunggu selama 22 bulan lagi untukmu.

July 26, 2017

With Love,

Jung Je Ah