.

Halo pembaca Réamhaisnéis, aku kembali dengan updatean ff ini.

Warning utama, ini akan terasa panjang dibandingkan chapter sebelumnya. Warning selanjutnya, too much content disini. Warning lainnya, kenapa aku meletakkan ini di awal karena kuberpikir beberapa dari kalian tak membaca a/n ku di akhir.

Jadi…

Mo ghrá, memiliki arti cintaku. Jadi itu sebuah panggilan dan tidak menentukan untuk lelaki atau wanita. Lalu mate Hoseok sudah kejelaskan wanita di paragraf akhir chapter sebelumnya ya. Tapi melihat respon kalian yang menggila karena kubuat itu adalah idol, kujadikan OC. Serem aku lihat kalian yang bilang, "Aku ya kak, istrinya Hoshiki?" kan aku serem jadinya. Wkwkwk.

Chapter ini dibaca pelan-pelan ya, agar maksudnya mengerti dan tersampaikan ke kalian.

Terus, bisakah tidak hanya sekedar menyuruh update dengan kata-kata next, lanjut, yg cepet ya, fast update… kalian mau besok aku ngetroll dan nulis "Ini sudah lanjut. TBC. Sekian." Wkwkwk.

NAH! SILAHKAN MENIKMATI SAJIAN TERBARU YA!

.

..

Terbang tinggi ku meraihnya.

Melangkah jauh ku mengejarnya.

Tak ada pilihan lain.

Meski kakiku sakit.

Meski sayapku meleleh.

Tak ada pilihan lain.

.

..

..

Réamhaisnéis

(oracle/prophecy/ramalan)

A TAEKOOK's fanfiction.

AlphaDominantAbsolutePureBlood Taehyung x OmegaPureBlood Jungkook.

AlphaDominantPureBlood Hankyung x BetaPureBlood Heechul.

AlphaHalfBloodGuardian Jimin x BetaPureBlood Yoongi.

AlphaDominantPureBlood Namjoon x OmegaPureBlood Seokjin.

BetaPureBlood Hoseok x BetaMoonChild Nara.

Another cast? You can find it in the whole story.

Vampire life, Alpha Beta Omega Universe, MPreg.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Di kegelapan, berpasang-pasang mata menyala dan menatap nyalang lawan bicara mereka. Menggeram saat menerima kabar yang tak sesuai keinginannya. Mendengus kesal saat bawahan bodohnya hanya bisa membawa berita sampah tak berarti. Bawahannya hanya bisa menunduk tak berani menatap pemimpin mereka dan meringkuk memohon ampun.

"Jadi kau bilang, tak ada satupun pergerakan yang dilakukan oleh klan itu? Dan kalian masih tak bisa menembus barrier yang melingkupi lingkungan istana kosong maupun tempat tinggal mereka sekarang?"

Mendapat anggukan sebagai jawaban, pemimpin itu memandang algojonya memerintahkan pemusnahan si penyampai berita tanpa belas kasih.

Erangan meminta ampun menjadi suara terakhir dari penyampai berita sebelum kepalanya terpisah dari tubuhnya dan api melenyapkan tubuhnya menjadi abu.

Sementara itu satu sosok beta menawan yang berdiri di samping sang pemimpin memalingkan wajahnya muak melihat kekejian Ayahandanya yang sekali lagi memusnahkan begitu saja bawahannya yang tak dapat menyenangkannya.

"Putriku." Panggil sang pemimpin pada beta cantik itu.

"Ya Ayahanda." Beta cantik bersurai perak itu menjawab dengan takzim panggilan ayahnya. Menampakkan wajah secantik rembulan pada sosok pemimpin keji itu.

"Apa benar kau tak berhasil menembus masuk kota itu?" tanyanya.

"Ya, ananda tak bisa memasuki kota itu ayahanda." Balasnya.

Sang pemimpin terdiam, memikirkan selentingan rumor yang pernah terdengar olehnya dan mencocokkannya dengan fakta yang dipaparkan putrinya. Hingga sebuah kesimpulan berhasil didapatkannya.

"Kita tahu pasti di mana Raja Hankyung dan keluarganya serta rakyatnya menetap, dan kita masih tak bisa menembus barrier perlindungan yang dipasang oleh keturunan Naofa itu. Lalu kita tak menemukan keberadaan Kim Namjoon beserta keluarganya, di manapun! Ada kemungkinan mereka telah tiba di kota itu, kota yang didesas-desuskan memiliki perlindungan tertinggi dari niat jahat bangsa vampire yang diberikan oleh pencipta klan Rialóir. Kita harus mencari secepatnya untuk menembus tanah perlindungan itu." Ucap sang pemimpin.

Lalu salah satu vampire yang terlihat cukup berumur berdiri keluar dari bayang dan berbicara pada pemimpinnya. "Tuanku, aku pernah mendengar kabar… tanah perlindungan itu dibentuk oleh Raja Yunho dan Permaisuri Jaejoong yang memiliki kekuatan langka yang tak pernah dimiliki oleh vampire manapun." Vampire tua itu menunduk mendapatkan tatapan tak percaya oleh pemimpin mereka.

"Dari mana kau mendapatkan kabar itu?" Tanya sang pemimpin penuh kecurigaan.

"Pemimpin pemberontakkan yang menimpa klan Rialóir saat Putra Mahkota mereka berusia dua tahun mengatakan ini padaku. Menurut mereka ini adalah rahasia kerajaan dan hanya keturunan Raja Yunho dan Permaisuri Jaejoong saja yang mengetahuinya."

Pemimpin mereka masih menandangi vampire tua itu dengan tatapannya kejinya yang tak terbaca. "Lalu? Katakan apa maksudmu!" perintahnya yang tak menyukai informasi yang berbelit-belit ini.

"Menurut kabar yang beredar, Putra Mahkota klan Rialóir yang sekarang mewarisi kekuatan itu setelah sepuluh generasi terlewati. Namun, sampai sekarang Putra Mahkota belum menemukan pasangan hidupnya, pasangan hidupnya yang mewarisi kekuatan Permaisuri Jaejoong. Dan agar kita bisa melemahkan kekuatan tanah perlindungan, kita seharusnya menyerang pewarisnya sebelum mereka bersatu, Tuanku. Karena kekuatan tanah perlindungan itu sejalan dengan penyatuan pewarisnya."

"Jadi maksudmu aku harus memusnahkan Putra Mahkota klan Rialóir untuk menembus tanah perlindungan agar aku bisa memusnahkan Kim Namjoon beserta putranya yang akan merebut tahta yang sudah susah payah kurebut ini darinya, setelah aku membuatnya menjadi vampire pelarian klan ini? Klan Scrios si Pemusnah ini? Yang benar saja!" geram sang pemimpin yang tak lain adalah Raja klan Scrios saat ini.

"Tuanku… tapi ini satu-satunya cara agar anda bisa menembus tanah perlindungan untuk memusnahkan Kim Namjoon dan keluarganya, ini satu-satunya cara agar tahta anda aman."

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Balai pertemuan itu kini hanya menyisakan sang Raja dan putrinya yang setia mendampinginya. Sang putri menatap ayahnya yang masih berusaha menenangkan emosinya. "Father…" panggil sang putri.

Sang Raja mengalihkan pandangannya pada putri satu-satunya itu, "Ya sayangku?" tanyanya yang melihat gerak-gerik putrinya seakan ingin memberitahukan sesuatu.

Putrinya maju dan mendekat padanya dan menunjukkan lengannya. "Sudah saatnya aku mencari mateku, Father." Sang putri menunjukkan lengan putih mulusnya yang tertutup selama ini dan memperlihatkan tanda bulan sabit yang menyala terang.

"Oh astaga, sudah seterang ini? Apa putriku sudah pernah bertemu dengan calon matenya?" Tanya sang Raja yang entah bagaimana tak terlihat keji sedikitpun di hadapan putrinya.

Sang putri menggeleng dan memandang ayahnya penuh permohonan, "Sama seperti Mother yang telah tiada dulu saat ia berkelana mencarimu, mencari matenya, izinkan aku mencari dan pergi menemui mateku, Father."

Sang Raja mengacak rambutnya gusar, "Bagaimana bisa aku membiarkan satu-satunya keluargaku pergi berkelana? Kau ingin menyiksa Fathermu ini?" sang Raja mengelus tanda bulan sabit milik anaknya yang menandakan bahwa anaknya termasuk keturunan dewi bulan sama seperti ibundanya dulu.

"Tapi ini takdirku, Father. Aku harus mencari mateku dan memahami kehidupan seiring dengan perjalananku, sama seperti Mother, nantinya aku akan menjadi milik mateku. Sama seperti Mother yang menjadi milikmu dan pergi dari keluarganya."

Sang Raja terdiam, memikirkan segalanya. Memikirkan garis takdir yang dibawa keturunan dewi bulan yang harus mencari matenya dan mengembangkan kemampuan dirinya seiring dengan perjalanannya. Memikirkan takdir anaknya yang nanti kehidupannya adalah milik matenya sama seperti istrinya dulu membuatnya tak kuasa.

Lalu sang Raja tersenyum dan memandang putrinya, "Beri Fathermu ini waktu seminggu untuk menikmati waktu Father dan Daughternya bersamamu sebelum melepas kepergianmu. Naraku, Nara kecilku yang memenuhi takdirnya untuk bertemu matenya. Naraku, putriku dari mendiang istriku yang kucintai."

Nara, sang putri tersenyum dan memeluk sang Raja. Di dalam senyum yang menyimpan banyak makna itu tersimpan sebuah maaf karena dengan perjalanannya ini ia akan menyebrang dan jatuh ke pelukan matenya, putra dari Kim Namjoon yang ingin dimusnahkan oleh ayahnya ini. Ya, Nara… mate Kim Hoseok yang akhirnya akan menyerah dan jatuh pada takdirnya.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Setahun kemudian, Nara datang kehadapan matenya. Ya, butuh waktu setahun agar Nara bisa menghindari kemungkinan bahwa ayahnya mungkin saja mengutus vampire lain untuk mengawalnya secara diam-diam. Di bulan pertama perjalanannya, gadis bersurai perak itu mendapati dua vampire penjaga yang diam-diam mengawasinya atas suruhan ayahnya.

Gadis bersurai perak itu terpaksa memusnahkan salah satunya sebagi peringatan untuk ayahnya agar tidak mengirmkan pengawal lagi, terlebih pengawal yang terlalu mematuhi perintah ayahnya agar tetap mengawasi putrinya ini dari jauh.

Setelahnya, mungkin ayahnya menerima dengan baik peringatannya dan mulai menjauhkan pengawal utusannya dari jalan sang putri. Karena… saat keturunan dewi bulan memulai perjalanannya untuk menemui matenya, itu berarti ia akan memutuskan tautan kekeluargaannya dan mengabdi dengan segenap jiwanya pada matenya.

Ini… ini yang menjadi alasan utama mengapa Nara mencoba mengelak terus menerus terhadap Hoseok. Ia adalah putri dari vampire yang melengserkan tahta yang bahkan belum pernah dipegang oleh Kim Namjoon. Dan ia adalah putri dari vampire yang merasa tahtanya akan terancam oleh keberadaan putra sulung Kim Namjoon. Serta, ia harus meyakinkan ayahnya untuk melepasnya mengikuti takdir yang digariskan dewi bulan terhadapnya dengan sungguh-sungguh. Dan ia harus melakukan itu semua secara halus tanpa ayahnya ketahui jika putrinya ini nantinya akan berdiri berhadapan dengan ayahnya di pertempuran terakhir.

"Maafkan putrimu ini yang tak menceritakan keseluruhan penglihatan yang dewi bulan berikan padaku, Father." Ucapnya di malam-malam ketika ia memandangi bulan sendirian dari kamarnya.

Kini, ia berdiri di depan rumah milik Kim Namjoon tak mencoba mengetuk pintu rumah itu karena ia telah mendengar langkah kaki yang bergerak ringan menghampirinya.

"Mo ghrá." Panggil Hoseok saat mendapati Nara yang datang kepadanya.

"Aku datang, kekasihku." Ucapnya, membuat Hoseok tersenyum cerah secerah mentari dan membawa Nara masuk ke dalam pelukannya.

"Bisa kalian jelaskan apa maksud ini semua, Hoseok? Nara?"

Pelukan sepasang kekasih yang seharusnya sudah bersatu sejak lama itu terlepas mendengar nada dingin yang diumbar oleh Namjoon.

"Yang Mulia…" sapa Nara pada Namjoon yang membuat Namjoon terkekeh sinis.

"Apa maumu? Yang Mulia? Katakan itu pada ayahmu." Namjoon memandang sinis gadis bersurai perak di hadapannya.

Hoseok berdiri di depan Nara dan memandangi Namjoon dengan maklum, "Appa, bisakah kita masuk ke dalam dan menjelaskan segalanya di dalam?"

Jadi… di sinilah mereka sekarang. Namjoon duduk dengan angkuhnya di sebuah sofa didampingi oleh Seokjin. Sementara di ruang keluarga itu juga terdapat Heegun dan Seongim yang sedang bertamu, Namjoon melarang Heegun pergi karena menurutnya sosok yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya ini harus mengetahui ini semua. Jadi Heegun tinggal di sana duduk di sofa lainnya sembari mengelus perut istrinya yang saat ini sedang berisi. Sedangkan Jungkook duduk di sebuah sofa yang menghadap taman indah hasil tangan Ibundanya melihat kakaknya duduk menghadap ayahnya sembari menggenggam lengan gadis bersurai perak yang cantik sekali menurut Jungkook.

"Appa, Nara adalah mateku. Pertama kali aku mengetahuinya adalah saat Jungkook terlahir, malam setelah Jungkook terlahir aku mendapatkan penglihatan itu. Sosoknya masuk ke penglihatanku, maka dari itu saat itu aku mencarinya karena sesungguhnya ia berada dekat sekali denganku saat itu." Hoseok memandangi Namjoon yang masih saja belum menurunkan hawa intimidasinya. "Appa juga tahu pasti bahwa ia adalah keturunan dewi bulan yang diberkahi penglihatan masa depan yang sama sepertiku. Malam ketika kami bertemu, kami sudah sadar bahwa kami adalah pasangan hidup yang takkan bisa terpisahkan oleh apapun."

Semuanya terdiam, tak ada yang berani menyela sebelum Namjoon mulai berbicara. Namun, gadis bersurai perak itu melangkah mendekati Namjoon tanpa takut dan memperlihatkan tandanya.

"Yang Mulia, kau sangat mengerti arti dari ini." Nara menunggu Namjoon melihat tanda bulan sabitnya dan melanjutkan. "Kau adalah sahabat mendiang ibuku, kau mengerti arti sinar ini Yang Mulia. Dan kau mengerti takdir kami, takdir keturunan dewi bulan yang harus memutuskan ikatan keluarga kami ketika tanda ini menyala. Kami harus mencari pasangan hidup kami dan mengabdi kepadanya. Dan tanda ini sudah bersinar hampir dua puluh tahun lamanya, seperti usia putra bungsumu."

Fakta ini yang selama ini membuat Namjoon membenci mengungkapkan jati dirinya kepada keluarganya. Fakta bahwa, sahabatnya sendiri lah sosok yang melengserkan tahta kerajaannya dan membuatnya menjadi pelarian seperti sekarang ini.

"Namjoonie?" Seokjin mengusap lengan Namjoon. "Jangan kau lupakan fakta jika ia bisa memasuki tanah perlindungan ini, sayang. Itu menandakan jika ia tak memiliki kejahatan sedikitpun di dirinya." Ingat Seokjin lagi pada Namjoon.

"Appa…" Jungkook beranjak dari duduknya. "Ada yang ingin kutunjukkan padamu…" Jungkook melangkah mendekat pada Nara dan menggenggam lengan gadis bersurai perak itu. Sepintas, jika tak diperhatikan maka keluarganya tak bisa melihat percikan cahaya biru yang terjadi saat Jungkook menyentuh lengan Nara.

Jungkook membuka matanya yang terpejam dam memandang Nara dengan senyuman kelincinya. "Appa… aku bisa mengetahui siapa yang akan berada pihakku di masa depan, hanya dengan menyentuh sekilas seperti ini. Halmi Jae memberitahukan kekuatan ini padaku. Meski tidak seperti kekuatan Halbae Uno yang dengan sekali sentuh maka ia akan mengetahui baik masa depan maupun masa lalu subjek yang disentuhnya." Jungkook yang berbicara pada appanya itu kembali memalingkan pandangannya pada Nara, "Nuna, aku menerima dirimu menjadi pasangan kakakku. Maaf ya nuna harus menjadi pasangan kakakku yang aneh ini…"

Ucapan Jungkook membuat suasana tegang di sana perlahan mencair. Seokjin yang melihat itu pun memandang Namjoon penuh binar. "Sayang, bagaimana bisa kau seperti ini? Kau ingin putra sulung kita merana karena tak bisa bersatu dengan kekasih seumur hidupnya yang cantik ini."

Namjoon masih terdiam, pikirannya berkelana mengingat sahabatnya yang musnah saat pemberontakkan itu terjadi. Bagaimana sahabatnya yang bersurai perak itu menjadi sahabat terbaiknya yang mengerti dirinya lebih baik bahkan dari dirinya sendiri. Tentu takdir keturunan dewi bulan itu ia sangat mengetahui. Karena sahabatnya, Mirra, gadis manusia yang terpaksa menghilangkan kemanusiaannya agar menjadi makhluk immortal sepeti dirinya saat ia tahu jika pasangan hidupnya adalah seorang vampire. Dan takdir yang sama itu kembali pada putrinya, tanda yang sama yang selalu dilihat oleh Namjoon dulu semasa Mirra masih berada di dunia itu pun tersemat pada putrinya yang kini ditakdirkan menjadi kekasih abadi putranya.

"Tapi aku…"

"Tidak Yang Mulia." Potong Nara cepat. "Apa yang terjadi pada mendiang ibuku, bukan kesalahanmu. Ibuku yang meminta padamu, aku mengerti itu semua. Meski tidak dengan ayahku." Ucap Nara.

Namjoon kembali memandangi tangannya, tangan yang dulu sempat ia gunakanya untuk memisahkan kepala Mirra dan tangan yang sama yang mengantarkan api pada tubuh terpisah Mirra.

Kata-kata itu bahkan masih terngiang di benak Namjoon, kata-kata terakhir yang diucapkan sahabatnya yang musnah di tangannya. "Kalau ada yang harus memusnahkan diriku, maka aku menyerahkan diriku padamu. Kumohon maafkan diriku yang mengabdi pada suamiku, suami yang menyebabkan pertempuran ini."

Namjoon terkesiap saat kedua tangannya disentuh oleh tangan pucat anak sahabatnya. "Apa yang terjadi pada ibuku bukan kesalahanmu Yang Mulia. Saat itu ibuku yang mengabdikan dirinya pada ayahku menyadari jika dirinya telah berpijak di jalan yang salah dengan mendukung suaminya. Kau justru membantu dirinya terbebas dari cekikan itu Yang Mulia. Kau membebaskannya. Kau menyelamatkan ibuku."

Namjoon terdiam menatap gadis yang begitu mirip dengan sahabatnya itu dan perlahan tersenyum sembari menepuk pelan tangan yang menangkupi tangannya. "Maafkan aku… maaf karena rasa bersalahku membuatku buta dan tak melihat kenyataan yang seharusnya bisa kulihat. Dan terima kasih sudah membebaskanku dari rasa bersalah, terima kasih juga karena kau bersedia menjadi pendamping putraku. Selamat datang di keluarga ini, nak." Ucap Namjoon yang membuat semuanya tersenyum lega terlebih lagi Hoseok.

"Ah." Pekikan pelan Seongim membuat semuanya berpaling. "Heegun, sekarang aku jadi ingin disentuh oleh calonnya Hoseok. Aku ingin nantinya anak kita secantik dirinya."

Nara tersenyum kecil dan memandang Hoseok sebelum mendapat persetujuan dari Hoseok untuk melangkah dan menghampiri Seongim. "Anda sangat cantik, Putri Seongim." Ucap Nara membuat Seongim menggeleng.

"Panggil aku Aunty, kau adalah keluarga kami sekarang sayang." Seongim menyentuh pipi pucat Nara.

Sementara itu Namjoon kini berpaling pada putra bungsunya, memandang omega yang seminggu lagi akan memasuki usia kedewasaannya ini. "Jadi, Kookie kekuatan seperti apa saja yang diwarisi Halmi Jae mu itu?" Tanya Namjoon yang masih takjub dengan kemampuan putra bungsunya.

Karena di setiap sesi latihan mereka dulu, sang putra tak pernah benar-benar menggunakan kekuatan dari Permaisuri Jaejoong. Ia hanya menggunakan kekuatan bawaan yang diturunkan oleh Namjoon dan Seokjin.

"Ra. Ha. Si. A." ucap Jungkook dengan nakalnya dan berlari memeluk kakaknya.

"Ih, sana jauh-jauh, tadi sudah mengatai hyungmu ini aneh." Sedangkan Hoseok menolak adiknya yang selalu saja berlindung dibaliknya.

"Hyung!" rajuk Jungkook menimbulkan tawa pada keluarga itu.

Nara memandangi keluarga barunya, tempat ia mengabdikan hidupnya saat ini. 'Ya benar, saat ini merekalah keluargaku. Aku harus berusaha menyelamatkan keluargaku.'

"A-aunty…" panggilnya ragu pada Seongim. "Aunty adalah adik dari Raja Hankyung, aku benar?" tanyanya dan mendapat anggukan dari Seongim. "Bisakah Aunty menghubungi Raja Hankyung agar Putra Mahkotanya segera memasuki tanah perlindungan ini?"

"Maksudmu nak?" Tanya Seongim, dan Nara menceritakan segalanya… menceritakan rencana ayahnya, memberitahukan semuanya hingga detail terkecil yang diketahuinya. "Sial. Bagaimana mungkin pengkhianat itu menceritakan rahasia kerajaan sembarangan seperti itu." Gerutu Seongim setelah mendengar itu semua. Seongim lama memandangi Seokjin setelah mendengar itu. "Jika ada yang patut menghubungi kakakku ataupun keluarganya, bukankah sudah saatnya kau menghubungi kakakmu itu, Pangeran Seokjin? Sudah waktunya kau menghubungi kakakmu dan bertemu kembali dengan kakakmu, lagipula ini menyangkut Putra Mahkota yang tak lain adalah calon pasangan hidup putramu. Sudah saatnya kau menghubungi Permaisuri Heechul dan kembali menyatukan hubungan kakak-adik yang terpisah itu 'kan?"

Nara tercekat mendengar ucapan Seongim, sungguh ia tak tahu jika pasangan hidup ayah matenya adalah adik dari Permaisuri klan terkuat. Terlebih lagi kata-kata jika Putra Mahkota klan terkuat adalah calon pasangan hidup putranya? Putra bungsu Yang Mulia Namjoon? Kim Jungkook?

Sekarang semuanya menatap Seokjin dan meyakinkan Seokjin untuk menghubungi kakaknya. Membuat Seokjin yang gantian didera dilema. Ia masih belum sanggup untuk bertemu dengan kakaknya, meski saat ini ia adalah ibu dari dua putra yang mengagumkan… jujur alasan terbesar ia tak ingin bertemu dengan kakaknya adalah ia takut mendapati amukan kakaknya. Biar bagaimanapun, hanya kakaknya itulah sosok panutannya dan ia pernah mengecewakan kakaknya dengan keluar dari istana mereka. Seokjin bisa apa? Di hadapan Heechul, kakaknya, Seokjin hanyalah adik kecil kesayangan kakaknya yang menyegani, menghormati dan menyayangi kakaknya maka dari itu ia takut mendapat amukan kakaknya.

"Terakhir kali aku bertemu dengan Putra Mahkota, ia menyampaikan jika ibunya masih menunggu dan mencari adik kesayangannya." Ucap Seongim yang membuat rasa gamang Seokjin perlahan terangkat.

"Baiklah.." ujar Seokjin kemudian.

Seongim memberikan ponselnya dengan senang hati pada Seokjin yang akhirnya mau berdamai dengan rasa gamangnya.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Heechul saat itu sedang duduk bersandar dengan nyaman di dada bidang suaminya, duduk di hadapan suaminya dan didekap erat oleh Hankyung dari belakang sembari menikmati kudapan darah segar mereka. Dan panggilan masuk dari nomor tak dikenalnya itu membuat Heechul mengernyit.

"Hello…" sapa Heechul pada si pemanggil, dan jawaban yang diberikan oleh si pemanggil membuat Heechul menggenggam erat lengan suaminya.

'Heenim, ini aku…'

Heechul mencoba menenangkan dirinya dan menjawab si pemanggil, suara yang amat dirindukannya meski ratusan tahun berlalu ia takkan bisa melupakan suara ini, suara adik kesayangannya. "Seokjinie?" tanyanya.

Mendengar ucapan istrinya, Hankyung semakin mengeratkan pelukan mereka menyalurkan kekuatan untuk istrinya.

'Ya Heenim, ini Seokjiniemu…'

Kalau bisa… Heechul ingin menangis meraung, karena rasa rindu terhadap adiknya itu membuncah begitu kuat.

Mereka berdua melepaskan rindu mereka. Seokjin di seberang sana yang berdiri dengan ponselnya memandangi jalanan yang terhampar dari jendela kamarnya sembari menikmati suara kakaknya yang ia rindukan.

Perlahan, Namjoon masuk ke kamar mereka dan memeluk Seokjin dari belakang, turut memberi kekuatan untuk istrinya.

"Heenim, maafkan aku…" ucap Seokjin.

'Anniya, kau tak bersalah. Oh astaga, aku begitu merindukanmu.'

Namjoon memberi remasan pelan di pinggul Seokjin seakan mengingatkan Seokjin tujuan lainnya mengapa ia menelepon kakaknya.

Dan Seokjin menceritakan apa yang baru saja terjadi di rumahnya dengan rinci, karena kalau tidak, kakak keras kepalanya takkan mau menerima ini semua dengan begitu saja.

'Maksudmu, mereka mengincar Taehyungku dan juga putra bungsumu? Kau bilang tanah perlindungan itu di Seoul? Tunggu dulu…' suara Heechul terdengar sedikit menjauh dan Seokjin mendengar Heechul berujar pada sosok lainnya, Hankyung, suaminya. 'Hannie, katakan padaku… minggu lalu Taehyungie berpamitan pada kita akan kemana? Seoul bukan?' itu yang Seokjin dengar sebelum Heechul memekik padanya. 'Seokjinie! Putraku saat ini sudah berada di Seoul, meski aku tak tahu alasannya.'

"Bisakah kau menghubunginya dan mengatakan padanya untuk tidak keluar dari Seoul? Keselamatannya berarti keselamatan putraku juga Heenim, karena mereka ditakdirkan untuk bersama."

'Aku mengerti…'

Lalu Seokjin mendengar suara Hankyung yang berkata ia akan memanggil Yoongi. Dan memang, di tempatnya, Hankyung berteleportasi ke kamar Pangeran Sulung yang untungnya belum terlelap dan terkejut melihat appanya yang sudah berada di dalam kamarnya.

"Appa?" ini Jimin yang bertanya tak mengerti akan alasan mertuanya bertindak seperti ini.

"Maafkan aku menerobos masuk kamar kalian, saat ini keadaan Taehyung harus dipastikan. Bisakah kau ikut appa ke kamar appa dan umma akan menjelaskannya, nak."

Yoongi menatap appanya dan Jimin meminta persetujuan dari matenya. Jimin mengangguk, "Pergilah hyung, aku akan tinggal untuk menjaga Hwanie." Ucap Jimin sembari memandang putra kecil mereka, omega kecil mereka yang baru berusia setahun.

Setelah mendapatkan izinnya, Yoongi pergi dengan appanya untuk menemui eommanya. Saat ia tiba, Heechul menghentikan obrolannya sebentar.

"Sayang, bisa kau panggil Taehyung? Tanyakan keberadaannya, dan jika ia memang di Seoul, katakan padanya bahwa ia tak boleh melangkah sedikitpun keluar dari Seoul. Bisa?"

Yoongi mengangguk dan mulai memanggil adiknya. 'Bocah.'

'Ah! Hyung! Berhenti memanggilku bocah!'

Dan Taehyung selalu merespon panggilan Yoongi di kepalanya lebih cepat dibandingkan ponsel canggih miliknya.

'Saat ini kau berada di Seoul?' dan Yoongi seperti biasanya, tak mengindahkan protes adiknya itu.

'Aku 'kan pamit pada appa memang ke Seoul, hyung. Kenapa?'

'Dan kau masih di Seoul?'

'Iya, aku akan di Seoul setidaknya hingga bulan depan.'

'Tetap di Seoul, jangan langkahkan kakimu keluar dari Seoul. Itu perintah umma. Aku tak mengerti apa yang terjadi, tapi turuti saja.'

"Katakan padanya, jika ia melangkah keluar dari Seoul… kehidupan matenya akan terancam." Tambah Heechul begitu melihat kernyitan tak suka di wajah Yoongi dan dapat dipastikan Taehyung merengek tak suka karena aturan dan perintah Yoongi. Dan Yoongi menyampaikan ucapan Heechul langsung pada Taehyung. "Tambahkan padanya, dalam semingu klan kita akan berpindah ke Seoul secara bergilir. Suruh adikmu tetap di Seoul, apapun yang terjadi."

Dan Yoongi kembali menyampaikan seperti apa yang ibunya inginkan.

"Yoongiku sudah memastikan Taehyung takkan melangkah keluar dari Seoul. Aku akan bersiap, sampai jumpa Seokjinie. Sampaikan salamku dan Hankyung pada Namjoon dan Seongim."

Jadi Heechul menceritakan segalanya pada suami dan putra sulungnya. Hankyung mengangguk setuju akan inisiatif Heechul untuk kembali memindahkan kerajaan mereka dan kali ini tujuannya adalah tanah perlindungan, Seoul. Jadi malam itu Hankyung memulai rapat dadakan dengan anggota klannya, menyampaikan masalah ini pada anggota klannya yang kembali disetujui mengenai perpindahan ini oleh anggota klan mereka.

"Lalu bagaimana dengan tempat tinggal?"

"Benar, bagaimana dengan tempat tinggal? Dalam seminggu bagaimana mungkin ada tempat yang menerima kepindahan satu klan kita ini Yang Mulia."

Pertanyaan itu mengudara setelahnya, membuat Jimin yang ikut serta di dalam rapat itu mulai bersuara.

"Yang Mulia, sebenarnya alasan Putra Mahkota sudah berada di Seoul adalah untuk meninjau proyek milik kami. Aku dan Putra Mahkota membangun sebuah gedung apartemen di Seoul, yang bahkan bisa menampung lebih dari satu klan ini, Yang Mulia." Sampai Jimin membuat Hankyung cukup terkejut dengan inisatif putra dan menantunya ini.

"Dan bagaimana dengan pembangunannya?" Tanya Hankyung. "Apakah sudah layak huni, dan aman untuk kita semua?"

"Sudah, Yang Mulia. Pembangunannya sudah selesai hingga tahap akhir. Setiap bagian apartemen sudah layak huni." Lapor Jimin.

"Baik kalau begitu, tak ada masalah dengan tempat tinggal. Saat ini keberangkatan yang menjadi masalah. Dengan pergi secara bergilir, keamanan saat di luar barrier perlindungan menantuku akan sangat riskan. Maka dari itu, beberapa penjaga akan kutugaskan bergiliran untuk mengawal keberangkatan kita seperti dahulu."

Hankyung menatap satu persatu anggota klannya sebelum kembali melanjutkan.

"Satu hal yang dapat kupastikan ke kalian adalah, keamanan kita akan terjaga di tanah perlindungan. Namun… kita tak boleh lengah, karena sepertinya kita akan kembali menghadapi sebuah pertempuran besar dengan klan kuat. Dan yang paling kuinginkan hanyalah keselamatan anggota klanku."

Seluruh anggota klan yang hadir dalam rapat itu tersenyum mendengar ucapan Raja mereka. Raja yang tak dapat dipungkiri merupakan Raja terbaik yang mereka miliki.

"Tenang saja Yang Mulia, lagipula kami butuh melemaskan otot-otot kami. Sudah lama kami tidak bertarung, memburu hewan-hewan buas itu bukan bertarung namanya." Kelakar salah satu anggota klan dan membuat suasana setidaknya menjadi sedikit lebih mencair dan menghilangkan ketegangan yang mencekik.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Taehyung di Seoul untuk mengurus hunian yang sedang mereka bangun? Benar sih, tapi itu bukan alasan utama seorang Kim Taehyung berada disana. Kim Taehyung berada di Seoul karena… omeganya.

Jika ia tak salah hitung, seharusnya tahun ini usia kedewasaan omeganya sudah harus ia dapatkan. Namun, nyatanya masih belum. Karena omeganya masih berbau sama, masih berbau manis layaknya anak kecil. Taehyung belum merasakan aroma memabukkan yang biasanya dimiliki omega dewasa.

Maka dari itu Taehyung hanya bisa mengamati dari jauh kegiatan omeganya, bertingkah seperti stalker dan mengamati kehidupan omeganya.

'Dia manis.' Gumam Taehyung di dalam pikirannya sore itu kala melihat sosok omeganya yang masih setia berjalan-jalan di pusat kota sekedar untuk memotret, ya sekian hari menjadi penguntit omeganya sendiri membuat Taehyung mengetahui hobi omeganya.

'Astaga, bagaimana bisa sosoknya menjadi begitu nyata.' Kali ini Taehyung berujar di pagi hari saat melihat omeganya tersenyum puas akan hasil tangkapan kameranya.

Tapi kini Taehyung jadi bertanya-tanya… sudah dua hari omeganya tak terlihat mengelilingi kota seperti biasa. Taehyung bertanya-tanya apa yan terjadi pada omeganya. Aturan untuk tak mendekati omega yang belum dewasa dan kenyataan jika keamanan omeganya akan terancam jika ia mendekatinya saat ini membuat Taehyung gusar karena tak bisa mengetahui keadaan omeganya.

Dan sialnya, Taehyung masih belum tahu nama omeganya.

Sial kuadrat.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Ada alasan mengapa Jungkook tak keluar rumah selama dua hari ini. Tak bisa melakukan kegiatan kesukaannya selama dua hari ini. Ulang tahunnya. Yang berarti proses kedewasaannya.

Malam di saat usianya memasuki usia kedewasaan, tubuh Jungkook didera rasa sakit. Ia mengerang di atas kasurnya. Menggelepar merasakan seluruh tubuhnya remuk. Meringkuk layaknya janin kala perlahan rasa sakit itu mereda. Dan merengek pilu kala ibundanya masuk untuk kemudian memeluknya dan berbisik, "Selamat ulang tahun dan menjadi dewasa sayang. Ayo ikut umma, ada sebuah ritual yang harus dilakukan oleh omega keturunan klan kita di malam kedewasaannya."

Dan Jungkook dituntun oleh Seokjin ke kolam renang di belakang rumah mereka yang tertutup dinding tinggi. Kolam renang yang dilingkupi atap-atap indah berhiaskan dedaunan hijau menutupi sinar rembulan yang ingin menyapa genangan di dalam kolam.

Seokjin membuka baju Jungkook, membuat Jungkook mencoba menghentikan gerakan tangan ibundanya.

"Takkan ada yang melihat. Appa dan hyungmu serta Uncle Heegun sedang berjaga di sekeliling kolam dari balik pagar. Kakak iparmu dan Aunty Seongim sedang menyiapkan kudapan kita di dalam sana. Hanya ada Jungkookie dan umma."

Mendengar ucapan Seokjin membuat Jungkook diam saja kala Seokjin meloloskan piyamanya yang basah akan keringat itu.

Seokjin menarik tangan putranya dan meminta putranya untuk berendam di dalam kolam, kolam yang telah dipenuhi genangan darah.

"Aithris mé iomainn. One óimige níos isteach sa aois aibíochta. Glacadh leis. Agus a thabhairt go léir na beannachtaí don óimige nua." Ucap Seokjin memanjatkan pujian dan doanya untuk leluhur mereka saat Jungkook mulai melangkahkan kakinya ke dalam genangan darah.

Saat seluruh badan Jungkook terendam dan dengan perlahan ia memasukkan kepalanya hingga seluruh tubuhnya menghilang di dalam kolam darah.

Kolam darah itu bersinar terang untuk sesaat. Seakan menerima omega baru yang beranjak dewasa dan memberkati omega itu dengan berkahnya.

Jungkook perlahan muncul ke permukaan. Rambut sehitam jelaganya berganti menjadi surai brunet yang indah. Paras wajah yang semakin menawan itu terpatri dan terbingkai sempurna. Sepasang alis yang bagai lengkungan pelangi mulai membayang. Sepasang mata yang masih terpejam, menyembunyikan manik tajamnya. Hidung indah yang berdiri angkuh di tengah-tengah wajah rupawannya. Sepasang pipi yang merona karena sepuhan darah. Dan kurva indah yang akan membuat siapapun gila untuk melumatnya.

Tubuh Jungkook yang meluruhkan darah itu semakin terlihat menggoda, kulit pucatnya yang terlihat indah bersamaan dengan darah yang membaluri tubuhnya.

Dan saat sepasang mata indah itu terbuka, keindahan malam terpeta di dalamnya dan berkali-kali lipat lebih indah.

Seokjin menghampiri putranya, membawanya duduk di sebuah kursi untuk membasuh tubuh anaknya dengan air yang bertaburkan kelopak mawar di dalamnya.

"Bagaimana perasaanmu sayang?" Tanya Seokjin saat ia telah selesai membasuh tubuh Jungkook dan memakaikan gaun mandi padanya.

"Aneh umma, rasa sakit tadi sudah tak ada. Lalu… tubuhku… penglihatanku… semua terasa lebih kuat?" gumam Jungkook yang masih mencoba beradaptasi dengan kondisi tubuhnya.

Seokjin membingkai wajah putranya, "Kau… omega terindah yang pernah umma lihat. Bagaikan kelopak mawar ini, kau terlihat ranum dan indah. Bagaikan tetesan madu, kau terlihat manis. Keindahan berada pada dirimu sayang." Ucap Seokjin dan diakhiri dengan kecupan di kening putranya.

Kemudian Seokjin menuntun putra bungsunya ke dalam kamarnya dan memasangkan pakaian terbaik, hadiah dari Hoseok untuk ulang tahun adiknya. Sebuah kemeja dari sutra terbaik berwarna hitam yang membalut tubuh dewasa Jungkook dengan sempurna. Dan juga celana sutra berwarna hitam itu membalut dengan sempurna tubuh Jungkook. Menjadikan aura bangsawan Jungkook memancar dengan sempurna.

Seokjin sempat meninggalkan Jungkook berpakaian untuk kembali menjemput anaknya dengan pakaian yang tak kalah menawannya dan berwarna sama. Ia sempat memeriksa perkerjaan suaminya dan kolam renang serta halaman belakangnya sudah bersih kembali seperti semula.

Seokjin mengajak Jungkook keluar dari kamarnya dan turun ke lantai pertama. Jungkook melihat semua vampire jantan di rumahnya berbalut kemeja hitam yang menawan. Serta kakak iparnya dan Auntynya yang mengenakan gaun malam yang indah.

Jungkook melihat bagaimana kakaknya melingkari pinggang istrinya dengan penuh rasa, ya… mereka 'kan baru menikah tiga hari yang lalu. Saat ini pasangan itu sedang berada dalam masa-masa romansa mereka. Jungkook juga melihat Uncle Heegun yang menjaga Auntynya yang sedang hamil itu dengan penuh cinta. Lalu Jungkook mengalihkan pandangannya pada Namjoon yang menghampirinya.

"Selamat ulang tahun dan beranjak dewasa bayi omegaku yang cantik." Ucap Namjoon dan memberikan sebuah kecupan di kening Jungkook.

Bergantian, seluruh keluarganya menyelamati Jungkook. Jungkook tersenyum gembira mendapatkan ucapan selamat dan juga hadiah-hadiah yang berasal dari keluarganya.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

'Kenapa kau bocah? Tak senang kami datang?'

Yoongi berbicara pada Taehyung di dalam kepala mereka saat rombongan terakhir yang berarti rombongan keluarga inti kerajaan tiba di Seoul malam itu. Adiknya terlihat tak bersemangat sama sekali, meskipun adiknya bermain dengan riang dengan Hwan, putra pertamanya dengan Jimin.

'Hyung, apa yang terjadi pada omegaku ya? Sudah tiga hari aku tak melihatnya…' keluh Taehyung berbicara pada kakaknya.

'Oh kemarin umma berbicara dengan Pangeran Seokjin, mereka bilang omegamu merayakan hari kedewasaannya tanggal satu kemarin.'

Kedua mata Taehyung membulat tak percaya mendengar itu semua.

'Besok pagi ikut saja, kami mau ke rumah paman Namjoon. Tadinya umma ingin pergi sekarang juga, tapi mengingat banyak yang harus kita urus malam ini jadinya ya besok pagi kita pergi ke sana.'

Dan Taehyung melayangkan kecupan bertubi-tubi pada Hwan yang menerima itu semua dengan kekehan geli sementara tidak dengan Jimin yang baru masuk ke kamar mereka dan melihat kelakuan bar-bar Taehyung langsung memukul menyeret Taehyung menjauh dari putranya.

"Ish! Apa-apaan sih? Apa salahnya aku mengecup pipi keponakanku sendiri." Protes Taehyung.

"Kau terlihat ingin memakan anakku Tae!" balas Jimin kesal.

"Kalau kalian masih berisik, keluar sana!"

Ini sih Yoongi, dan kalau Yoongi sudah seperti itu… siapa yang bisa melawan?

Jadi Taehyung memutuskan keluar dari kamar kakaknya, sementara Jimin memutuskan untuk ikut berbaring di depan Yoongi dan mengapit putra mereka di tengah-tengah.

"Hwan sangat cantik." Ucap Jimin dan memainkan lengan putranya.

"Hwan adalah kebahagiaan yang sudah lama kita nantikan." Yoongi tersenyum melihat putra pertamanya yang memang sudah lama ia nantikan.

Jimin tersenyum mendengarnya dan mengelus pipi Yoongi, "Kalian adalah kebahagiaan hidupku."

Disaksikan putranya yang membuka matanya dengan lebar, Jimin mengecup beta rupawannya. Kim Yoongi hanya milik Park Jimin seorang dan juga kini milik Park Hwan yang menepuk-nepuk pipi kedua orang tuanya dengan girang.

"Iya, iya… Yoongi Mama milik Hwanie juga. Dan Hwanie milik Mama dan Papa." Ucap Jimin pada putranya yang tersenyum menggemaskan.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Paginya, mereka bertamu ke rumah asri milik Namjoon. Heechul yang berjalan paling depan bersamaan dengan Taehyung. Heechul ingin segera bertemu dengan adiknya, sementara Taehyung ingin bertemu dengan matenya.

Dan saat pintu rumah itu dibuka oleh Namjoon, Heechul berharap adiknya lah yang menyambutnya. "Namjoon," sapanya.

"Yang Mulia, silahkan masuk."

Keluarga Hankyung masuk ke dalam rumah asri itu. Seluruh keluarga akhirnya bersatu. Heegun dan Seongim juga berada di sana. Hoseok yang sedang duduk berdampingan dengan Nara juga ada di sana. Dan Seokjin, yang berdiri canggung di ruang keluarga juga ada di sana.

Namun mata elang Taehyung tak menemukan keberadaan matenya.

Dan Heechul segera menghampiri adiknya, memeluk erat adiknya yang berdiri canggung mendapatkan pelukan erat itu.

"Bodoh! Adik bodoh! Bodoh! Bagaimana bisa kau pergi meninggalkanku! Dasar bodoh! Bodoh!"

Semuanya tersenyum di sana, meski hanya kata-kata seperti itu, mereka dapat merasakan bahwa Permaisuri itu sangat merindukan adiknya yang mulai membalas pelukan kakaknya.

"Maafkan aku, Heenim." Ucap Seokjin.

"Kau harus mendapatkan hukumanmu, aku akan menempelimu terus!" ucap Heechul dengan egoisnya dan membuat semuanya terkekeh.

Lalu perkenalan singkat itu terjadi, Heechul mengenalkan putra-putranya dan juga menantunya serta cucu pertamanya. Yang langsung saja menjadi kesayangan di sana, terutama oleh Seongim yang sedang mengandung.

"Oh astaga, Yoongi… putramu semanis dirimu!" pekik Seongim melihat Hwan yang berada dalam pelukan Nara.

"Kita bertemu lagi, Putra Mahkota." Hoseok menyapa dan menjabat tangan Taehyung dengan senyumannya yang biasa dan membuat Taehyung mengernyit.

"Sekarang matamu tidak sekosong saat pertama kali kita berjumpa, eh? Pewaris setengah kekuatan suci sang ramalan?"

Sudahkah ada yang mengatakan? Jika hanya dengan sentuhan biasa saja, Taehyung bisa mengetahui masa lalu, dan keberpihakan vampire lain padanya?

"Paman Namjoon, calon mateku? Di mana?"

"Sebelum itu, Putra Mahkota…" Namjoon memandang Taehyung dengan aura alphanya yang menguar kuat. Dan Taehyung hanya terkekeh melihat itu. "Kau tahu tanggung jawabmu saat kau mengikat omegamu? Putra bungsuku?"

Taehyung masih tersenyum dan saat senyumannya menghilang, sepasang manik heterokrom berwarna merah dan biru itu terpoles. Taehyung kini menyeringai. "Takkan ada yang bisa memisahkan aku dengan omegaku. Omegaku adalah hidupku dan hidupku adalah miliknya. Seincipun takkan kubiarkan siapapun menyakitinya. Jadi katakan, di mana omegaku?"

Hawa di sana benar-benar memberat saat Taehyung menunjukkan mata aslinya. Jimin berusaha menguarkan kenyamanan untuk Seongim yang sedang mengandung dan juga putranya agar mereka tak terbebani dengan aura ini selama Taehyung masih mengaktifkan kekuatannya. Kekuatan lain bangsa Naofa, selain perlindungan dan segel tak tertembusnya… bangsa Naofa memiliki aura lembut yang menenangkan subjek yang diinginkannya.

Namjoon mengalah, saat masih berusia dua tahun saja ia sudah merasa terintimidasi dengan kekuatan bocah bersurai merah di hadapannya dan kini ia benar-benar terintimidasi oleh Taehyung yang sudah berbalutkan kedewasaannya.

"Ia tadi pagi pamit pergi memotret ke…"

Dan belum selesai Namjoon berbicara, Taehyung sudah berlari pergi.

"Bocah itu mengatakan terima kasih atas restumu, paman." Ucapan Yoongi memecah keheningan yang ditimbulkan oleh Kim Taehyung.

"Ah? Ah! Kalian masih sering berbicara di dalam kepala kalian, Pangeran Yoongi." Namjoon mengingat keistimewaan kedua keponakannya itu.

"Masih Paman! Dan membuatku iri terus!"

Ini sih, Jimin yang memang selalu iri kalau Yoongi dan Taehyung sedang bertelepati seperti tadi.

Semuanya terkekeh geli dan bercengkrama melepas rindu dua keluarga yang terpisah serta berkenalan lebih dalam lagi sesama saudara. Dan saat perbincangan itu menjadi serius adalah kala mereka membahas apa yang akan mereka lakukan ke depannya.

Mereka membiarkan saja Kim Taehyung menemui matenya.

..

..taekook..

..taekook..

..

..taekook..

..taekook..

..

Taehyung berdiri di sana, di balik pohon menatapi omeganya yang terlihat begitu menawan di usia kedewasaannya. Dan… aroma memabukkan yang membuat Taehyung menggila itu menyeruak begitu saja hingga membuat Taehyung hilang akal.

Omeganya, sedang terduduk bersandar pada pohon rindang mengamati hasil tangkapan kameranya. Namun sayang keindahan itu itu rusak kala dua pria tambun yang kelihatan mabuk menghampirinya.

Menggoda omeganya, melecehkan omeganya dan berniat menyentuh omeganya.

Sayang seribu sayang…

Seinchipun tak ada kulitnya yang tersentuh oleh pria tambun itu.

Karena omeganya… mengendalikan tubuh dua pria tambun itu dengan rasa sakit yang tak tertahankan dan membuat kedua manusia itu menghela nafas terakhir mereka saat itu juga.

"Aku benar-benar membenci manusia-manusia seperti kalian." Gerutu omeganya dan berjalan dengan santainya melalui kedua bangkai itu begitu saja.

Saat melewati pohon tempat Taehyung bersembunyi, Taehyung langsung menarik lengan omega itu dan membawanya ke satu tempat. Tempat kesukaan omeganya kala mengambil gambar, lorong yang dibentuk oleh kumpulan bunga wisteria violet yang indah.

"Kau, vampire?"

Dan omega itu langsung masuk dalam mode waspada. Kecepatan langkah kaki itu bukanlah langkah kaki manusia, serta tak adanya bau yang tercium dari sosok di depannya membuat omega itu waspada.

"Lama tak berjumpa, omegaku." Taehyung berbalik menghadap Jungkook dengan kedua manik heterokrom yang menyala terang, membuat manik indah berwarna biru milik Jungkook turut aktif.

"Kau, alphaku…" gumam Jungkook penuh puja saat mengingat wajah vampire tampan di hadapannya yang dulu bertempur dengan santainya namun terlihat begitu kuat.

"Ya ini aku, aku datang untuk menjemputmu."

Taehyung mendekat, membingkai pipi Jungkook ke dalam telapak tangan besarnya. Merasakan lembutnya pipi milik omeganya. Menatap omeganya penuh damba dan puja. Memajukan wajahnya untuk mereguk kesucian bibir merah delima yang mengguggah kupu-kupu jingga bertebaran di sekeliling mereka. Dan pada akhirnya kedua bibir yang ditakdirkan untuk saling melengkapi itu bertautan. Memagut erat. Menyampaikan rindu. Menyampaikan cinta mereka. Menyampaikan asa tak terbendung.

Romantis?

Iya…

Sebelum Taehyung menggeram merasakan sakit di sekujur tubuhnya, dan membuat pagutan itu terlepas. Taehyung memegang perutnya yang paling merasakan sakit. Dan memandang omeganya yang tersenyum nakal.

"Dasar omega nakal, kau perlu kuhukum." Dan Jungkook masih saja tersenyum. "Kau memang minta kulumat."

"Lumat saja! Aku suka kok, alpha." Ucap Jungkook yang membuat Taehyung menggila.

Taehyung mendorong tubuh Jungkook bersandar pada dinding terowongan wisteria yang terbuat dari jalinan kawat itu dengan beringas. Meraup bibir penuh dosa milik omeganya yang menawarkan kenikmatan dunia.

Melepaskan pagutan itu, Taehyung menyentuh bibir Jungkook yang terbuka. "Katakan padaku, siapa namamu… omega?"

Jungkook membuka kelopak matanya dan memandang Taehyung penuh rasa. "Jungkook, aku Jungkook. Dan kau alpha?"

Taehyung menyatukan kening mereka, "Aku Taehyung. Kim Taehyung, alphamu."

Jungkook tersenyum, "Ya, Kim Taehyung. Aku Kim Jungkook, omegamu."

Mereka kembali melanjutkan pagutan mereka setelahnya, tak mempedulikan apapun. Yang mereka pedulikan hanyalah, akhirnya mereka bisa saling bertemu dan merajut kasih mereka kedepannya. Taehyung dan Jungkook. Alpha dan omega yang telah tertakdirkan untuk bersama.

..

..taekook..

..taekook..

..

END!

..

..taekook..

..taekook..

..

..

..

Kidding.

..

..

..

..taekook..

..taekook..

..

TBC

..

..taekook..

..taekook..

..

Arti apa yang diucapkan Seokjin saat proses ritual.

"Puji-pujian ku lantunkan. Satu lagi omega memasuki usia kedewasaannya. Terima ia. Dan berikan seluruh berkah untuk omega baru ini."

Psst, yang mau temenan di IG, akun IG ku azmyaira. Sertakan akun kalian di kolom review biar ku follback yha.