Do Kyungsoo, gadis yang benar benar diberkahi Tuhan dengan paras Cantik yang menggoda dan tubuh molek yang menggiurkan.

Berkah itu membuatnya menjadi pusat perhatian, populer dan selalu dicintai, khususnya dikalangan para pria. Dan dia sangat menyukai hal itu. Apa yang diinginkannya selalu didapatnya tanpa perlu terlalu banyak usaha. Inilah yang membuatnya menjadi sombong dan tak peduli perasaan orang. Karma datang menimpanya, membuatnya harus hidup dengan seorang laki-laki yang tak mencintainya. Kyungsoo pun mulai belajar bagaimana menerima, menghargai, menghormati dan mencintai orang lain.

" KARMA CIRCLE"

CAST:

Do Kyungsoo (GS)

Oh Sehun

Other Cast:

Byun Baekhyun (GS)

Park Chanyeol

Kim Jongin

dll...

Pairing : Hunsoo, Chanbaek

Rate: M

NOTE : This is REMAKE story from Wattpad by diana-w. if you want to read the original version, you can visit this link story/11661025-karma-circle


.

.

.

" KARMA CIRCLE "

Preview...

" Menjauhlah Oh Sehun." Kyungsoo melepaskan pelukan Sehun dan memperbaiki letak pakaiannya. Ia mengabaikan gerutuan Sehun dan beranjak untuk membuka pintu.

Matanya membesar saat melihat sosok cantik yang tidak asing bagi dirinya kini berdiri didepannya dengan wajah tersenyum.

"Luhan...!"

.

.


" Hai Kyungsoo..." sapa Luhan dengan senyum cerianya.

Kyungsoo hanya diam dan tidak menjawab. Tubuhnya seketika kaku mengingat kemesraan Sehun dan wanita didepannya ini saat ulang tahun Ibu Baekhyun.

' Bagaimana wanita ini bisa ada dimana-mana? ' Pikir Kyungsoo dalam hati.

" Luhan ? " ucap Sehun yang kini sudah berdiri di belakang Kyungsoo.

" Kenapa kau tidak bilang akan datang kemari, ayo masuk." lanjutnya sambil menggiring Luhan masuk dan mengajaknya duduk di sofa.

Kyungsoo menyipit memandang pantulan suaminya dan wanita berparas cantikk dan anggun yang duduk disampingnya, Luhan. Mereka berdua sedang asik bercengkrama dibelakangnya, seperti tidak menyadari bahwa Kyungsoo juga berada di rumah ini.

Kyungsoo mendengus untuk yang kesekian kalinya saat melihat tawa bahagia yang memuakkan dari Sehun ditambah dengan sentuhan-sentuhan yang dilayangkan wanita itu pada lengan suaminya membuat dengusan Kyungsoo semakin menjadi, untung saja hidungnya tidak mengeluarkan api, karena kalau sampai itu terjadi tidak akan ada lagi yang tersisa dari mereka.

Dalam hatinya Kyungsoo sibuk mengutuk dan mengeluarkan sumpah serapahnya yang paling kotor diantara yang kotor untuk menggambarkan kejengkelannya terhadap dua sejoli yang tidak tahu malu itu.

' Nerd ! Berani-beraninya kau didepan mataku ! '

.

.

.

" Kau yakin sudah sembuh ? " tanya Luhan sambil menyentuh dahinya, mencoba mengukur suhu tubuh Sehun.

Tanpa mereka sadari ada suara geraman kecil disudut ruangan. Geraman yang berasal dari dasar tenggorokan Kyungsoo. Kain yang Kyungsoo genggam pun tampak merenggang karena ia tarik sekuat tenaga.

" Hanya sedikit pusing, tapi selebihnya aku baik-baik saja." Jawab Sehun.

" Kenapa kau tidak pernah mengabari kami kalau kau sudah menikah ?" tanya Luhan dengan raut wajah kesalnya.

Mereka kini sudah pindah dari sofa dan duduk bersebelahan di depan mini bar, masih asik mengobrol sambil menikmati segelas ice tea yang dibuat Kyungsoo. Sedangkan Kyungsoo kini sedang sibuk menatap lemari kaca membelakangi mereka.

" Sengaja. Aku ingin memberikan kejutan untuk kalian." Ucap Sehun, matanya terus memandangi punggung Kyungsoo dengan senyum mengembang di wajahnya.

" Dan pestanya? Kau tidak mengadakan pesta ?" sengit Luhan.

Sehun menaikkan kedua bahunya. " Pesta hanya membuang-buang waktu saja, tanpa pesta kami juga sudah sah menjadi suami istri."

" Kau memang tidak pernah berubah, kasihan istrimu. Dia punya hak untuk memperkenalkan diri pada teman dan kolegamu." Ujar Luhan masih dengan raut wajah kesalnya.

" hei, jangan salahkan aku. Ini juga idenya Kyungsoo." Jawab Sehun dengan dagu terangkat menunjuk punggung istrinya yang benar-benar sibuk membersihkan lemari kaca dan tidak menoleh padanya sama sekali.

' Sejak kapan dia memiliki penyakit OCD* ?' Pikir Sehun saat melihat istrinya yang sibuk membersihkan noda di tempat yang sama terus menerus.

" Aku benar-benar tidak menyangka, kau Oh Sehun si 'anti komitmen' akhirnya memutuskan untuk menikah juga."

Luhan memutar kepalanya mengikuti arah pandang Sehun. " dan yang lebih mengejutkannya lagi, kau menikahi Kyungsoo 'The little grumple witch' bukankah kau menyebutnya begitu ?" tanya Luhan penasaran. Sedangkan Sehun lagi-lagi hanya mengangkat bahu sambil tersenyum.

" Jalan takdir adalah sebuah misteri." Ucapnya dengan senyum yang penuh arti.

Ya, permainan takdir yang Sehun jalani sekarang sungguh-sungguh membingungkan. Semalam dia masih sibuk dengan kegiatan bujangannya dan esoknya dia sudah memiliki istri dan bahkan bonus dengan calon bayi.

Semalam dia masih sibuk bertengkar dengan seorang wanita gila dan sekarang wanita gila itu menjadi istrinya. Wanita gila yang membangkitkan gairahnya.

Sehun menatap punggung kaku Kyungsoo yang hanya terbalut kemeja putih besar yang menjuntai menutupi hotpants denimnya. ' Oh, Tuhan ! Aku mengeras seperti batu...'

Sehun berusaha sekuat tenaga mengendalikan diri dihadapan Luhan. Dan dari dasar hatinya yang paling dalam, ia berharap temannya itu bisa segera pulang sehingga dia bisa menyalurkan hasratnya.

Sehun hanya terus tersenyum setiap Luhan berbicara kalimat demi kalimat. Pikirannya sendiri sudah sibuk memikirkan cara memberikan kepuasan pada dirinya dan istrinya. Kegiatan yang banyak menggunakan jilatan dan erangan.

.

.

.

Kyungsoo masuk kedalam kamar dan menguncinya setelah Luhan pamit pergi untuk mengurus beberapa urusan dan suaminya si Nerd Oh Sehun dengan kebaikan hatinya menawarkan dirinya untuk mengantar Luhan hingga di lobby apartemen, dan sama sekali tidak menyadari sedikitpun kejengkelan yang melanda seluruh tubuh Kyungsoo. Bahkan Sehun juga sama sekali tidak menjelaskan bagaimana perempuan itu bisa sampai berada di Madrid.

Merasa perlu membalas perlakuan Sehun, Kyungsoo pun berinisiatif untuk membiarkan Sehun tidur di sofa malam ini.

Kyungsoo sudah bersiap-siap masuk kedalam selimut saat terdengar bunyi kenop pintu yang diputar, kemudian disusul gedoran keras dari luar kamarnya.

"Kyungsoo, kenapa kau mengunci pintunya?" tanya Sehun dengan sedikit berteriak.

Kyungsoo hanya mendengus dan kembali berbaring diatas tempat tidur.

" Yak, Kyungsoo buka pintunya aku juga ingin tidur!" teriak Sehun dan lagi-lagi tidak ada tanggapan dari Kyungsoo.

"Kyungsoo aku serius buka pintunya!" teriak Sehun frustasi sambil terus menerus menggedor pintu kamar.

Suara gedoran di pintunya tiba-tiba berhenti dan berganti dengan nada dering dari ponsel Kyungsoo, dan nama 'idiot Sehun' pun terpampang dilayar ponselnya.

" Jawab panggilanku Kyungsoo!"

" Kyungsoo, kau kenapa?! Apa kau sakit?!" Teriak Sehun lagi namun dengan nada khawatir yang terdengar dari suaranya.

" Kumohon Kyungsoo, jawab panggilanku." Ucap Sehun.

Kyungsoo menggigit bibirnya saat mendengar suara Sehun yang bergetar dan terdengar begitu khawatir terhadapnya. Kyungsoo menggeser layar ponselnya dan menjawab panggilan Sehun.

" Kyungsoo! Kyungsoo apa yang terjadi?" Tanya Sehun setelah Kyungsoo mengangkat panggilan darinya.

" Malam ini aku ingin tidur sendiri." Jawab Kyungsoo dingin.

" Mwo? Jangan bercanda Do Kyungsoo.."

" Aku tidak sedang bercanda Oh Sehun. Selimut dan bantal sudah kusediakan di sofa untukmu." –klik

Kyungsoo langsung memutuskan panggilannya. Ia takut, jika Sehun semakin banyak diberi kesempatan bicara maka hatinya akan luluh sehingga Sehun akan menang.

" Kyungsoo jangan bercanda. Kenapa...kenapa kau... ciuman itu, sentuhan itu.. untuk apa!" Sehun tidak tahu harus berkata apa lagi. Sekejap wanita itu memberikannya kenikmatan, kemudian dengan cepat wanita itu meninggalkannya dengan hasrat yang menggantung begitu saja.

Ponsel Sehun bergetar, satu pesan masuk muncul dilayar ponselnya dan membuat kemarahan dan kekesalannya memuncak menuju ubun-ubunnya saat membaca pesan singkat dari Kyungsoo.

'jangan salahkan aku untuk tekanan seksual yang tidak bisa kau tahan, Nerd'

Sehun berjalan menjauh dari pintu kamar dengan mulut yang terus meracau menuju sofa. Takdir memang sebuah misteri, baru saja ia menginjak surga ternyata malah jatuh terjerembab ke lubang neraka. Permainan takdir yang membuatnya menikahi wanita keji seperti Do Kyungsoo.

.

.

.

Kyungsoo terbangun dari tidurnya dan begitu terkejut ketika melihat sepasang mata coklat terang sedang menatap matanya lekat penuh amarah.

" Apa maksudnya ini?" tanya Sehun.

Kyungsoo bergerak menjauh dari atas tubuh Sehun, pikirannya begitu kacau karena berusaha untuk memikirkan bagaimana dirinya bisa bangun dengan posisi tubuhnya yang berada diatas Sehun.

" Kau yang mengatakan ingin tidur sendiri malam ini dan mengusirku dari kamarku sendiri.." Sehun menekan ucapannya kata perkata membuat bulu kuduk Kyungsoo berdiri.

" Dan sekarang, kau malah tidur diatas tubuhku yang berbaring tidak nyaman diatas sofa, aku bahkan belum sembuh total.." Sehun berucap sambil mnekean pelipisnya, berpura-pura tampak sakit didepan Kyungsoo yang salah tingkah.

" Sebenarnya apa masalahmu?" tanya Sehun.

Kyungsoo menggigit bibirnya bingung. Dia sendiri bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.

" Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku bisa tidur diatas tuibuhmu. Aku hanya bermimpi kalau aku sedang berjalan menuju kasur yang empuk." Jawab Kyungsoo.

Sebelah alis Sehun naik, mulai menyelidik Kyungsoo yang sekarang sepertinya mulai merasa gerah. Kyungsoo yang bingung karena mendapat tatapan intimidasi dari Sehun pun mulai bergegas bangun ingin kembali kedalam kamar, tapi Sehun dengan cepat menahan pergelangan tangannya.

" Maksudmu kau mengigau, berjalan sambil tidur kearahku?"

Kyungsoo mengangguk.

" Bukankah itu tandanya alam bawah sadarmu mencariku atau lebih tepatnya Kiddo yang mencariku." Alis Sehun bergerak naik turun dengan senyum licik yang terpasang diwajahnya, membuat Kyungsoo mengernyit tidak suka.

Kyungsoo merasa aura intimidasi menguar dari tubuh Sehun dan tanpa sadar ia mulai memundurkan tubuhnya, dan Sehun dengan langkah lambat mulai melangkah maju mendekatinya. Sehun seperti seekor macan yang sedang melihat mangsanya dari kejauhan. Perlahan-lahan ia mulai berjalan mendekati mangsanya dengan penuh perhitungan.

Kyungsoo yang tersadar bergegas berlari menuju kamar, dan saat ia akan menutup pintunya tangan Sehun dengan cepat muncul untuk menahan pintu kamar agar tetap terbuka.

" Lepaskan tanganmu dari pintu Sehun." Geram Kyungsoo. Kyungsoo menyandarkan punggungnya dibalik pintu dan menekannya dengan sekuat tenaga untuk membuat pintu itu tertutup.

" Tidak ! kau yang harus menjauh dari pintu Kyung..!" ujar Sehun mencoba melawan Kyungsoo.

" Aku ingin kau keluar !" Teriak Kyungsoo dari balik pintu.

" Tidak untuk hari ini sayang, malam ini aku ingin tidur diatas tempat tidurku, didalam kamarku, dengan kiddo didekatku." Jawab Sehun cepat.

" Menyerahlah Kyung..." geram Sehun sambil terus mendorong pintu agar terbuka.

" Tidak akan !" teriak Kyungsoo tak mau kalah.

Kaki Kyungsoo terus terseret menjauh. Semakin dia berusaha agar pintu tertutup, maka semakin kuat pula Sehun menahannya agar pintu tetap terbuka.

" Aaaaa !" Kyungsoo berteriak saat ia mulai terhimpit diantara dinding dan pintu yang kini mulai terbuka lebar.

Sehun yang berhasil masuk tersenyum dengan penuh kemenangan dan menarik lengan Kyungsoo untuk menjauh dari pintu. Ia pun membanting pintunya hingga tertutup rapat, dan sebelum Kyungsoo sempat berkedip tubuhnya sudah dihempaskan diatas kasur.

Saat ia akan bangkit, tubuh besar Sehun sudah menghimpitnya. Kedua tangan Sehun membekap tubuh Kyungsoo hingga menempel ditubuh Sehun. Kyungsoo yang merasa terintimidasi dengan sikap Sehun berusaha melepaskan diri. Tangan dan kakinya terus bergerak untuk membuat Sehun menjauh dari tubuhnya.

Tapi sepertinya perlawanan Kyungsoo sia-sia. Karena semakin dia melawan, maka Sehun akan semakin melilit tubuh Kyungsoo dengan tubuhnya.

" Lepaskan aku, Nerd !" geram Kyungsoo. Sehun tak bergeming sama sekali mendengar geraman dari istrinya. Ia malah tersenyum menatap mata istrinya yang penuh amarah.

" Lepaskan aku atau aku akan berteriak dengan sekuat tenaga sampai seluruh penghuni apartement datang kesini." Bentak Kyungsoo tapi Sehun masih tetap tidak bergeming sama sekali.

" Kau menantangku Oh Sehun, oke aku akan berteriak... to- !"

Dengan gerakan cepat Sehun membekap mulut Kyungsoo denagn bibirnya, bahkan Kyungsoo tidak sempat menutup matanya karena gerakan Sehun yang tiba-tiba.

Kyungsoo ingin memberontak tetap hisapan dan gigitan Sehun pada bibir bawahnya membuat Kyungsoo mulai dikuasai gairah yang tadi sempat tertunda. Sehun dengan lembut merangsang Kyungsoo dengan kecupan-kecupannya yang membuat Kyungsoo melayang, kemudian menggigit bibir Kyungsoo.

Bahkan lidahnya mulai masuk kedalam mulut Kyungsoo, menjelajahi setiap sudut mulut istrinya. Lidahnya bergerak dan menggoda lidah Kyungsoo untuk turut andil dalam pergolakan hasrat yang kini mulai muncul diantara mereka. Seakan mengiyakan ajakan suaminya, lidah Kyungsoo bergerak mengait lidah Sehun. Ssaling membelai dan meresapi.

Kedua tangan Kyungsoo terkepal didada Sehun, sedangkan tangan Sehun bergerak kebelakang untuk mengusap-usap punggung Kyungsoo.

Hanya sebuah ciuman tapi hasrat dan gairah diantara mereka langsung muncul, bagaikan sebatang korek api yang jatuh kedalam tumpukan minyak yang hanya dalam sepersekian detik memunculkan kebakaran yang tidak dapat dipadamkan.

Kesadaran yang dimiliki Sehun perlahan-lahan mulai terbang dan melambung menuju langit ketujuh, tapi logikanya masih kuat bertahan.

Logikanya bkerja dengan cepat memikirkan akibat yang timbul apabila kegiatan ini terus dilanjutkan.

Kalau mereka berhubungan badan, maka hubungan nyaman yang mereka miliki sekarang ini akan rusak.

Saat anak mereka lahir, urusan perceraian akan menjadi sulit karena adanya persetubuhan didalamnya – apalagi kalau sampai dia yang ketagihan –

Perlu adanya perubahan kontrak dalam pernikahan mereka, yaitu mereka boleh melakukan persetubuhan tapi tidak melibatkan kesepakatan mereka yang lama.

Malam ini bukanlah malam yang tepat.

Sehun mencium Kyungsoo dengan kasar sebelum melepaskannya. Kyungsoo yang masih dikuasai gairah merasa linglung saat Sehun melepaskan ciuman mereka.

Sehun semakin erat membekap tubuh Kyungsoo. Dagunya bersandar dipuncak kepala Kyungsoo, otaknya berusaha memikirkan pasal-pasal dalam peraturan pajak untuk meredam nafsu gairahnya.

" Tidurlah.." ucap Sehun pelan. Kyungsoo yang masih tampak bingung mengikuti perintah Sehun karena dirinya memang sudah mengantuk.

Berada di dalam pelukan Sehun membuat tubuh dan pikirannya begitu rileks dan nyaman sehingga dengan cepat Kyungsoo jatuh ke alam mimpi.

" Tidurlah selagi kau bisa Kyung, karena saat kesepakatan baru ini kau disepakati kupastikan tidak ada waktu untuk tidur."

.

.

.

Sehun beberapa kali tersenyum sendiri saat melihat Kyungsoo yang begitu antusias mengelilingi kota madrid. Matanya dua kali lipat lebih besar dari biasanya saat melihat toko-toko makanan.

Yap, hari ini adalah hari senin yang begitu cerah. Sehun memutuskan untuk memanfaatkan ijin sakitnya untuk membawa istrinya berjalan-jalan. Sudah hampir tiga minggu mereka tinggal di madrid tapi Kyungsoo belum pernah sedikitpun menginjakkan kaki ke pusat kota madrid.

Walaupun Kyungsoo tampak seperti wanita yang berani dan kuat ternyata ia bisa jadi penakut juga. Tangannya tak pernah lepas menggandeng tangan Sehun, bukan dari permintaan Sehun tapi karena permintaannya sendiri.

' Aku takut kau tersesat' itu alasan yang Kyungsoo gunakan saat Sehun melirik tangan Kyungsoo yang sedang menggenggam tangannya dengan erat. Kyungsoo hanya membuang mukanya saat Sehun menatapnya intens.

Sehun tahu betul bahwa sebenarnya Kyungsoo takut berada dikerumunan orang asing. Saat beberapa orang menyenggolnya karena jalanan yang begitu ramai, ia semakin merapatkan tubuhnya ke Sehun.

Apakah Sehun mengeluh...?

Tentu saja tidak. Dia lebih dari menyukai sentuhan kulit seperti ini. Bahkan Sehun lebih memilih mengaitkan jari-jari mereka ketimbang hanya bergandengan tangan, dan dengan bangga memamerkan cincin pernikahan mereka kepada pria asing yang sibuk mengamati istrinya.

Sehun beberapa kali mendelik kesal pada pria yang mengomentari istrinya. Walaupun Kyungsoo tidak mengerti apa yang diucapkan, tapi ia mengerti. Mereka membicarakan tubuh istrinya yang sekarang semakin berisi dibagian yang memang sudah berisi sebelumnya.

Jangankan tangan pria lain, tangannya sendiri saja sudah gatal ingin meremas tubuh istrinya. Setiap hawa nafsunya muncul, Sehun selalu berusaha berpikir mengenai hal lain seperti undang-undang, beberapa pasal dan isi kontrak baru yang sebentar lagi akan ditanda tangani oleh Kyungsoo.

" Sebentar lagi Sehunie huh..." bisik Sehun pada dirinya sendiri.

" Apa?" tanya Kyungsoo sambil menatap Sehun yang hanya dijawab gelengan kepala oleh suaminya.

" Hmmm... taman.. ya taman. Sebentar lagi kita sampai disana Kyung." Ujar Sehun kelabakan sambil menunjuk-nunjuk kearah taman yang kini sudah terlihat.

Kyungsoo menyipit menatap Sehun yang kini membuang muka dan siuk berlagak menjadi tour guide. Kyungsoo mengalihkan pandangannya saat melihat penjual ice cream di depan gerbang taman. Sehun yang tidak sadar terus saja berjalan dan kemudian langkahnya terhenti karena tarikan dari tangan Kyungsoo.

" Kenapa?" tanya Sehun heran saat melihat Kyungsoo terdiam. Tiba-tiba Kyungsoo merapatkan tubuhnya kearah Sehun, wajahnya terangkat menatap Sehun.

Sehun beberapa kali mengedipkan matanya saat melihat puppy eyes Kyungsoo. Jakunnya naik turun saat merasakan tubuh Kyungsoo yang semakin rapat ketubuhnya.

" Ap..apa?" tanya Sehun gugup.

" Ice cream, aku mau itu.." bisik Kyungsoo sembari menunjuk kearah sipenjual ice cream.

Sehun menghembuskan nafasnya.. " Kau ingin rasa apa?"

" Coklat.. ah...tidak...tidak.. Rasa Vanila saja." Ucap Kyungsoo. Sehun pun bergegas membeli ice cream pesanan Kyungsoo kemudian kembali pada Kyungsoo yang menunggunya.

" Ini.." Sehun menyodorkan ice cream vanila pada Kyungsoo yang mengernyit.

" Sebenarnya aku lebih suka rasa strawberry." Keluh Kyungsoo.

" Kau sendiri yang minta rasa Vanila kyung, lalu ini bagaimana?" tanya Sehun yang mulai kesal.

" Untukmu saja. Aku tidak mau." Jawab Kyungsoo acuh.

" Kau..."

" Sehunie... aku mau yang strawberry..." rengek Kyungsoo sambil kembali menggandeng lengan Sehun.

" Aku mau yang seperti itu Sehunie..." pinta Kyungsoo dengan suara manja sambil menunjuk seorang anak yang memegang ice cream strawberry.

Sehun hanya bisa membuang nafas dan kembali membeli ice cream sesuai permintaan istrinya. Setelah itu mereka kembali berjalan kedalam taman. Kyungsoo berlari kecil menuju kolam, sedangkan Sehun memilih untuk duduk dikursi taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari tepi kolam.

Tempt yang dipilihnya lumayan nyaman, pohon-pohon membuat taman itu menjadi rindang. Sehun duduk dan menghabiskan ice cream vanilanya sambil mengamati Kyungsoo yang bermain seperti anak kecil. Setelah puas bermain di tepi kolam, Kyungsoo berlari menuju Sehun sambil tertawa kecil.

" Ahh... madrid sungguh indah." Ucapnya sembari duduk disebelah Sehun dan tidak sadar saat ice creamnya mulai meleleh ditangannya.

" Kyungsoo, ice cream mu..." ujar Sehun. Kyungsoo hanya bengong menatap Sehun. Sambil berdecak, Sehun dengan cepat menjilat ice cream Kyungsoo yang akan semakin meleleh.

Kyungsoo terbelalak. Jantungnya berdegup kencang saat menatap tingkah Sehun. Lidahnya tanpa sengaja menyentuh pinggiran jari Kyungsoo hingga membuat tubuhnya panas dingin.

" Jangan sampai meleleh lagi." Ucap Sehun dan kembali menegakkan tubuhnya. Ia tidak menyadari pipi Kyungsoo yang sudah bersemu merah.

Mata Kyungsoo terus menatap bibir Sehun yang sibuk menghabiskan ice cream vanilanya. Entah kenapa gairah mulai menguasainya dan tanpa ia sadari, Kyungsoo mulai menjilat bibirnya sendiri.

" Apa rasa vanila enak Sehunie?" tanya Kyungsoo.

" Hmmm… lumayan manis." Jawab Sehun

" Kau mau coba?" Tanya nya lagi saat melihat Kyungsoo menggigit bibirnya.

Kyungsoo mengangguk.

" Tolong pegang ini Sehunie…" pinta Kyungsoo sambil menyodorkan ice creamnya untuk Sehun pegang. Sehun mengambilnya kemudian menyodorkan ice cream vanillanya pada Kyungsoo.

" Aku lebih memilih yang ini."

Kini Sehun yang terkejut saat kedua tangan Kyungsoo menangkup pipinya kemudian menciumnya. Lidah Kyungsoo mengelus bibir Sehun kemudian masuk merasai lidahnya. Sehun hanya bisa terdiam saat ciuman Kyungsoo semakin intens. Dia ingin membalas ciuman Kyungsoo, menahan tubuh Kyungsoo dan meneguk bibirnya habis-habisan, tapi kedua tangannya kini sibuk menjauhkan dua ice cream yang hampir meleleh dari tubuh Kyungsoo.

Kyungsoo menggigit bibir bawah Sehun saat mengakhiri ciumannya. " Hmmm… vanilla, rasanya manis." Ucap Kyungsoo sambil menjilat bibirnya sendiri, dan itu membuat gairah Sehun semakin berkobar.

" Aku sudah tidak mau ice cream itu lagi Sehunie…"

" Apa?"

" Kau yang habiskan semuanya. Jangan dibuang." Sahut Kyungsoo.

Gairah Sehun seketika menghilang berganti dengan kekesalan. Dia akhirnya menghabiskan dua ice cream sambil berdecak kesal, sedangkan Kyungsoo hanya terkikik melihat ekspresi Sehun.

.

.

.

Sehun kembali menghembuskan nafas untuk kesekian kalinya. Kyungsoo kini tertidur disampingnya, kepalanya bersandar di bahu kanan Sehun sedangkan kedua tangannya memeluk erat lengan Sehun.

Sehun bukan mengeluh karena Kyungsoo tertidur di bangku taman dan menjadikannya sebagai sandaran selama setengah jam. Yang dikeluhkannya adalah gairahnya yang belum tersalurkan.

Kyungsoo terus menggoda imannya sedari tadi. Menciumnya, menjilat bekas ice cream dijarinya, merapatkan tubuhnya dan kini lengan Sehun berada di payudaranya. Kulit Sehun bisa merasakan kekenyalan dan mulai membayangkan hal-hal yang tidak pantas.

Tingkah Kyungsoo membuatnya semakin frustasi. Dia hanya berharap logikanya tidak kabur saat melawan keseksian Kyungsoo sebelum mereka sampai dirumah. Setelah Kyungsoo menandatangani kontrak pernikahan mereka yang baru….

Dia akan melakukan ini dan itu….

Kemudian Kyungsoo akan seperti ini dan itu…..

Astaga….

Sehun terkikik dengan pemikiran cabulnya sendiri hingga gerakannya membuat Kyungsoo terbangun dari tidurnya dan mulai menggosok matanya.

" Maaf membangunkanmu Kyung…"

" Kenapa kau berkeringat?" Tanya Kyungsoo.

" Pipimu juga memerah, apa kau demam lagi?" Kyungsoo menyandarkan tangannya di pipi Sehun dan mulai merasakan suhu badan Sehun.

Sehun menggenggam tangan Kyungsoo kemudian mengecup tangannya. " Aku baik-baik saja, sebaiknya kita pulang sekarang."

" Tapi aku lapar Hunah."

" Kalau begitu kita makan, dan setelah itu kita pulang."

" Kenapa terburu-buru? Hari masih panjang." Ujar Kyungsoo.

Sehun dengan cepat memutar otaknya mencari alas an. " Hmmm, aku rasa cuacanya sedang tidak baik untuk Kiddo." Jawab Sehun asal.

" Bukankah cuacanya cerah? Dan tempat ini begitu nyaman." Kyungsoo tersenyum memandang pemandangan taman kota.

Sehun kembali memutar otaknya mencari alasan. " Iya, tapi menurut ramalan cuaca yang baru saja aku baca, hari ini akan turun hujan. Aku tidak ingin kita pulang dalam keadaan basah sayang." Bujuk Sehun.

Kyungsoo memikirkan perkataan Sehun sejenak. " Baiklah kita pulang." Jawab Kyungsoo yang disambut Sehun dengan cengiran puas.

.

.

.

Jarum panjang pada jam dinding mereka seakan berjalan dengan lambat. Keheningan diantara mereka membuat Sehun bahkan sulit mengambil nafas. Matanya berkali-kali mencuri pandang kea rah Kyungsoo yang sedang terdiam didepannya. Mata wanita itu sedang sibuk membaca dokumen, sedangkan mulutnya berkomat-kamit tanpa mengeluarkan suara mencoba untuk memahami kata perkata.

Jakun Sehun kembali naik turun melihat gaun tidur Kyungsoo yang begitu tipis. Kedua kakinya menyilang memperlihatkan paha mulusnya.

Kyungsoo menaruh kembali dokumen itu keatas meja yang berada diantara mereka, matanya kini menatap Sehun yang sedang menyandarkan punggungnya di sofa berlagak acuh tak acuh.

" Bolehkah aku meluruskan beberapa hal dalam dokumen ini? Karena ada beberapa point yang tidak aku mengerti."

" Silahkan." Jawab Sehun.

Kyungsoo menaikkan alisnya melihat tingkah arogan Sehun.

" Pertama, kau menyatakan pernikahan ini berlangsung selama kedua belah pihak menginginkannya."

Sehun mengangguk. " Kita akan bercerai saat aku atau kau memutuskan untuk berpisah. Dan perpisahan akan berlangsung secara baik-baik."

" Oke.." jawab Kyungsoo.

" Kedua, semua kebutuhan anak adalah urusan kepala keluarga, baik saat masih menikah ataupun sudah bercerai."

" Yap, itu tidak akan pernah berubah."

" Ketiga… " Kyungsoo menggantungkan kalimatnya dan kembali menatap Sehun. Sehun yang mendapat tatapan intens dari istrinya berusaha untuk tidak gelisah. " Dalam pernikahan kita diperbolehkan saling memanfaatkan selama kedua belah pihak setuju." Lanjut Kyungsoo.

" Yap…" jawab Sehun sambil menunduk menatap kedua tangannya yang tiba-tiba terlihat lebih menarik.

" Aku sama sekali tidak mengerti point yang ini. Memanfaatkan yang seperti apa sebenarnya?" Tanya Kyungsoo curiga.

" Ehm.. seperti saat kau membutuhkan sesuatu dariku, dan aku setuju memberikannya dengan syarat ini tidak akan menjadi masalah saat kita bercerai nanti. Begitu juga padaku, saat aku membutuhkan kau…"

" Apa persisnya yang kau butuhkan dariku?" suara Kyungsoo mengalun, tubuhnya dengan santai menyandar pada sofa dan dengan sengaja menggerakkan kakinya, kemudian tangannya menyilang didepan dadanya. Sehun bisa melihat dengan jelas payudara Kyungsoo dibalik gaun tipisnya.

" Sesuatu…hmm… kesenangan contohnya…" jawab Sehun dengan nada yang terputus-putus.

" Kesenangan…?"

" Yah, kau tahu kita… saling memberikan kesenangan, dimana bukan hanya aku yang puas tapi kau juga…"

" Ah.. aku mengerti sekarang." Kyungsoo tersenyum kepada Sehun dan membuat Sehun sedikit lega.

" Mari kita berhubungan sex."

Sehun terkejut dengan ajakan Kyungsoo. Ia tak menyangka ternyata proposal yang diajukannya dapat diterima dengan begitu mudah.

" Apa yang membuatmu berpikir aku akan mengatakan hal itu?" suara riang Kyungsoo dengan cepat berubah menjadi menyeramkan.

" Aku tidak akan pernah mau tidur atau berhubungan badan denganmu selama kau masih menawariku hal-hal konyol seperti ini." Kyungsoo mengambil dokumen itu dan langsung merobeknya didepan wajah Sehun.

" Apa yang kau lakukan?" Teriak Sehun sambil mengumpulkan serpihan-serpihan kertas yang berceceran didepannya.

" Aku melakukan hal yang sepatutnya aku lakukan. Aku bukanlah wanita bodoh seperti yang kau anggap. Menanda tangani dokumen kemudian menyerahkan tubuhku dengan sukarela."

" Hey, aku tidak pernah menganggapmu seperti itu."

" Tapi yang barusaja kau lakukan membuktikan kau memang berpikir seperti itu tentangku! Kalau kau menginginkanku, perjuangkan diriku, hargai aku sebagai wanita brengsek !" Kyungsoo mendorong tubuh Sehun yang mencoba mendekatinya.

" Itu yang kulakukan Kyung. Aku menghargaimu sebagai wanita. Kalau tidak, aku tidak akan mungkin menawarimu kontrak ini. Kalau aku tidak memperjuangkanmu mungkin sekarang aku sudah merobek gaun tipis yang kau pakai, mencium bibirmu hingga bengkak, dan menikmati seluruh tubuhmu sampai aku puas tanpa mempedulikan kau bersedia atau tidak ! paham !?" Sehun menghentakkan lengan Kyungsoo, kemudian memungut kembali serpihan kertas yang masih berserakan.

Kyungsoo berusaha menahan air matanya dan berlari menuju kamar tidurnya meninggalkan Sehun yang masih dikuasai amarah.

Sehun mengerang saat mendengar pintu kamarnya dibanting dengan keras, dan mengumpat berkali-kali pada kertas yang berceceran…

.

.

.

TBC


ASTAGA... sudah berapa lama saya mentelantarkan ff ini?

maaf beribu maaf ya chingu, sy memang lagi sok sibuk sekali hihi, tapi makasih banyak buat yang masih mau baca dan meninggalkan komentar kalian di kolom review, dan men-klik tombol fav untuk ff ini makasih bgt..

terutama buat justmind yang marathon baca dan kasih ff ini di setiap chapternya, dan buat Lovedudu1201, orangbijak16, jksoo1226, zhangminseokkie, just young min, exolina, fitri22exo,nanachaan,chansekyuu, kim gongju, mdsdohksoo, chicsooie, papiyeol61, erikaalni, dyodhe12, defti785, dll yang gak bisa sy sebutkan satu persatu... terima kasih masih mau baca ff ini danmasih nunggu kelanjutannya.

sy baru bisa ngepost segini ya gaes karena waktu yang tidak memungkinkan, ini juga tanpa diedit loh jadi mohon di skip aja jika ada typo yang bertebaran di ff ini..

happy reading...