Lalalalala~! Saya kembali! sudah lama saya gak mampir ke sini~ udah berapa bulan nih?

Maapin kalo update baru sekarang. Dunia nyata emang gak bisa dibohongi hanya dengan mengerjapkan mata sekalipun. Jadi ya, gini nih hasilnya.. :l

Okeh, langsung aja tanpa ngeribetin curhatan saya~ RnR!

Disclaimer: Kingdom Hearts milik Tetsuya Nomura seorang. Saya hanya orang tidak bertanggung jawab yang meminjam karakter dan nama-nama lainnya untuk fanfiksi saya. Bisa dibilang, saya egois. *plak*

Warning: Diberi banyak sekali bumbu seperti: warning, gaje, OOC, OC, typo, gak mutu, gak nyambung, dan garing.

Truth Or Dare!

Game 6 : Pilih Dia atau Aku?! Dia atau Aku?! - Part 3

Zexion POV

Ini hari minggu. Hari paling damai yang pernah aku dapatkan. Aku bersyukur dari 7 hari yang diberikan, aku diberi tanggal merah. Tapi aku masih bingung. Kenapa tanggal libur selalu diberi warna merah? Apakah mereka selalu malu? Atau demam? Entahlah. Karena yang ada dipikiranku saat ini bukan itu. Melainkan permainan Truth or Dare kemarin yang tertuju padaku dengan Truth yang seharusnya menjadi rahasia besarku.

Di kamar. Di sinilah aku sekarang. Dengan meja belajar yang penuh dengan buku-buku pelajaran dan komik, namun tetap tertata rapi. Selain itu lemari pakaian yang pintunya sekarang terbuka. Ya, karena aku lupa menutupnya. Jendela kemar dengan tirainya, yang lembut selembut kulit Olette dan berkibar ditiup angin seatraktif Tifa, yang kini terbuka dan membiarkan sinar mentari hangat nan cerah masuk ke dalam kamarku. Sinar yang menyambutku itu... seperti sambutan yang selelu kudapatkan dari Aqua.

"Zexion~! Selamat pagi! Ayo kita turun ke bawah! Sarapan sudah siap! Kau tidak akan membiarkan hidupmu mati kelaparan karena mentigakan hati, 'kan? Jadi, ayo cepat keluar dan nikmati sarapan yang dibuat Axel! Enak lho! Aku saja sampai habis 5 piring! Ayo, cepat buka pintunya Zexio—," suara berisik Olette terdengar dari balik pintu kamarku yang tertutup. Dan, tunggu dulu. Suara Olette?

Akupun segera bangun dari kasurku yang kutindihi, dari selimut yang masih ingin memelukku erat, dari bantal yang masih ingin ditemani, dan dari guling yang masih ingin dipacari. Aku melangakahkan kakiku denga cepat menuju pintu dan membukanya. Berharap suara yang teralur di telingaku itu benar-benar Olette.

"Iya, iya. Lagi on the way ini," jawabku dengan bahasa gaul. Mungkin.

"Hwaaa?" Olette menatapku dengan heran.

"O-Olette? A-apa yang kaulakukan di depan pintu—lebih tepatnya—di asrama TWTNW?" tanyaku keheranan dan kegukgukan. Eh, maksudku kegugupan. Ya, karena itu memang benar Olette.

"Sudah, sudah. Jangan pedulikan masalah seperti itu! Cukup turun ke bawah dan habiskan sarapanmu," katanya tanpa satupun jawaban yang dapat menjawab pertanyaanku tadi. Aku hanya membalas dengan mengangguk dan bergegas menuju tangga yang akan menuju ke bawah. Tetapi tangan Olette meraih bahuku. Alhasil, aku berhenti berjalan ke tujuan.

"Sebelumnya," Olette mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Tangan kirinya melingkar di leherku sedangkan tangan kanannya melingkar di pingganggku. Aku yakin wajahku benar-benar merah padam sekarang. "Pelukan selamat pagi harus diberikan setiap pagi hari, 'kan?" ucapnya sambil memelukku erat.

Aku yang ragu-ragu, akhirnya juga membalas pelukannya.

Erat.

Lebih erat.

Lebih erat lagi.

Tiba-tiba Olette melepas pelukanku dan wajahnya berubah menjadi Marluxia. Hah?! Apa?! Marluxia?

"Bangun bodoh!" katanya sambil menamparku.

-Hell, yeah. And so, this is the real world :D-

Aku bangun dan mendapati diriku sedang memeluk Marluxia. Ya, memeluknya. Sontak aku langsung melepas pelukannya.

"A-a-a-a-a-a-a-ap-ap-ap-apa yang kaulakukan di kamarku, HAH?!" tanyaku sambil menjauh beberapa langkah darinya.

"Bangunin kamyu. Tapi tiba-tiba aja kamuh malah meluk-meluk aku," jawab Marluxia dengan gayanya yang sok imut. Ehhmm, ada kantong plastik?

"BAGUS! Sekarang aku sudah bangun. Jadi, sekarang kamu boleh—," aku meraih buku yang ada di dekat kasurku. "PERGI DARI KAMARKU!" dan melemparkannya ke arah Marluxia. Alhasil, dia kabur dengan gaya terong yang dicabein.

Oke, jadi soal aku memeluk Olette tadi itu hanya mimpi? Dasar Ugya-san menyebalkan.

-Mari kita skip sampai di meja makan TWTNW-

Sehabis mencuci muka dan menggosok gigi di kamar mandi, aku langsung ke ruang makan untuk menyantap sarapanku. Di ruang makan hanya ada Marluxia dan Axel. Ya, maklumlah. Ini kan hari minggu. Pasti banyak yang sedang pergi kesana kemari tanpa tujuan yang jelas.

"Pagi-pagi begini yang hanya tinggal kalian berdua saja?" tanyaku mengingat ini masih jam setengah 7. Aku tertawa karena telat menyadari kalau-kalau ini masih terlalu pagi. Tapi dalam hati.

"Yah, semua pada pergi sama urusannya masing-masing. Ntar gue juga mau pergi. Ke toko buku. Cari hadiah buat ulang tahun adik gue," jawab Axel.

"Aku sih jaga aja dirumah, ea~? Sapa tahu ada maling lewat depan rumah tapi gak masuk ke asrama," jawab Marluxia. Ngapain dijaga kalau malingnya cuma lewat?!

"Oh, gitu. Sebentar lagi aku juga mau pergi," kataku sambil duduk di meja makan lalu menyantap roti tawar panggang isi sayur dan daging yang dibuat Axel.

"Tumben lu mau pergi. Mau kencan ya? Pasti sama, sapa itu gebetan lu yang baru?" tanya Axel sambil menggodaku.

"Waa! Aqua! Atau, atau Tifa! Atau jangan-jangan Olette!" tebak si Marluxia dengan lanntang cabe-cabeannya. Eh, maksudku dengan lantang terong dicabeinnya.

"Cukup!" bentakku sambil agak membanting roti isi yang dibuat Axel yang baru kumakan separuhnya. "Kalian ini! Aku mau keluar untuk memikirkan jawaban Truth yang kalian beri tahu! Aku kan harus memberi jawabannya besok sepulang sekolah!" jawabku dengan nada agak marah.

"Baru kali ini gue liat Zexion serius soal cinta," bisik Axel ke Marluxia.

"Iya, ya. Aku juga baru liat kalo dia ternyata suka pake kaos Demin. Keliatan seksi lho," bisik Marluxia yang seketika membuat aku merinding. Aku tidak tahu bagaimana mengatakan ekspresi Axel yang baru saja dibisikki Marluxia, terutama pada kalimat terakhir. Tapi, yang pasti mukanya seperti menahan hajat orang lain.

Akupun segera menghabiskan sarapanku secepat mungkin supaya lebih cepat juga aku pergi dan lebih cepat juga aku menghilangkan mualku melihat dua pasangan yang menyebalkan ini. Setelah roti isi habis, aku menenggak juga segelas susu yang baru saja disiapkan Axel. Dengan cepat, aku langsung menyerahkan bekas piring dan gelas yang baru saja kupakai kepada Axel dan berjalan menuju ke kamarku.

Di kamar aku segera mengganti kolor celanaku dengan celana jeans Luwes dan tetap memakai kaos Demin. Tak lupa aku memakai rompi biru dan juga arloji putih yang baru 2 bulan lalu kubeli. Selain itu aku juga membawa dompet yang berisi beberapa lembar uang kertas dan ponselku. Selesai bersiap-siap aku langsung turun ke bawah menuju ke pintu keluar.

"Aku pergi dulu! Mungkin aku akan pulang sore!" teriakku saat selesai memakai sepatu kets coklatku dan mulai membuka pintu.

"Semoga beruntung, Zexy!"

"Jangan sampe lo salah pilih."

Kata mereka berdua dari belakangku. Aku pun menoleh ke mereka. Kulihat mereka tersenyum. Aku diam sejenak dan membalasnya dengan senyum pendek juga lalu mengangguk.

"Kyaaa!" kudengar teriakan Marluxia sesaat aku berjalan keluar.

"Jangan meluk-meluk gue manusia bejat!" kukira aku tahu itu suara siapa.

Aku berjalan menuju ke utara. Sebenarnya aku mau kemanapun, aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti, aku tidak bisa memikirkan jawaban truth di asrama yang sekarang, maksudku, nantinya hanya akan dihuni Marluxia. Yah, mengingat nanti Axel juga akan pergi.

Pasti kalian bertanya-tanya kenapa aku sangat ingin memberi jawaban, 'kan? Padahal sebelumnya aku sangat menolak permainan ini. Aku juga tidak tahu. Tapi mungkin karena hukuman yang akan ku dapat jika aku tidak menjawabnya dengan benar. Yah, hukumannya adalah. Fotoku akan dipamerkan. Foto paling narsis yang pernah aku lakukan dulu dengan pose alay yang dimiliki orang-orang yang suka menghadiri acara-acara musik di televisi.

Akhirnya aku hanya berjalan terus tanpa tujuan. Kupikir aku akan ke halte bus saja. Sambil memikirkan tujuan kepergianku.

Sesampainya di halte bis, aku duduk di tempat duduk yang disediakan. Aku duduk disebelah seorang cewek yang memakai topi musim panas. Padahal cuaca hari ini berawan.

"Ze-Zexion?" seseorang memanggilku. Rasanya aku pernah dengar suara ini. Aku menolehkan kepalaku ke samping, tepatnya ke arah cewek bertopi musim panas itu.

"Wa-awawaaah!? O-Olette?" aku kaget. Bagaimana mungkin—dia—padahal—tadi—aku—. Tenangkan dirimu dulu Zexion. Ambil nafas, buang dari mata. "A-apa yang kaulakukan disini, Olette?"

"Oh? Ah! Aku mau ke rumah nenek. Aku disuruh Ibuku mengantarkan buah-buahan ini," jawabnya dengan senyumnya yang moe. Aduh. Hentikan keimutanmu itu Olette. Nanti aku bisa mimisan segalon.

"Oh, begitu," tapi, tunggu dulu. Kenapa aku jadi keinget lagu dangdut yang kereta malam itu ya?

"Dan entah kenapa aku jadi pengen jogetin jogetnya Chaser yang 'Jug-ijak-ijuk-ijak-ijuk' itu," you don't say, Olette!?

"Oiya, kamu sendiri mau kemana?" tanya Olette padaku. Baru kali ini dia bertanya padaku. Aww. Tampar aku Olette. Tolong pastikan ini bukan mimpi seperti tadi pagi.

"A-aku?" aku bingung harus menjawab apa. Kalau jawab tanpa tujuan, nanti dia malah mengajakku ke rumah neneknya. Aku harus cari alasan lain. "Aku-aku. Ehm. Aku. Mau ke. Ke perpustakaan kota. Ya! Perpustakaan kota!" jawabku asal. Ya, setidaknya itulah kebiasaanku.

"Wah, seperti biasanya, ya? Masih ingin mengejar peringkat terbaik untuk tahun ini?" responnya sambil terkekeh. Aku pun juga malah jadi tertawa kecil. Tidak lama setelah kami saling tertawa, sebuah bis berhenti di hadapan kami.

"Baiklah, ini bisku. Sampai ketemu besok Zexion!" katanya sambil melambaikan tangannya ke arahku.

"Ya! Hati-hati, Olette!" balasku padanya.

Yah, akhirnya aku sendiri lagi. Sekarang aku akan kemana?

Kulihat ada tiga ibu-ibu yang sedang ngerumpi. Yang satu memakai konde sambil membawa kipas, yang satunya agak kurus dan berkacamata, yang terakhir tubuhnya gendut. Mereka duduk menunggu bis sama sepertiku. Sepertinya mereka mau ke pasar. Tertebak karena mereka membawa tas yang biasa dibawa ibu-ibu ke pasar. Dan kayaknya, mereka lagi ngerumpiin aku dan Olette tadi.

"Tuh, jeng, anak jaman sekarang kalo pacaran bisa dimana aja ya? Bahkan di halte bis sekalipun," kata yang berkonde. Pacaran? Sesaat wajahku memerah. Bu konde bisa aja nih. Kataku dalam hati.

"Kira-kira mereka udah ngelakuin apa aja, ya, jeng? Ya, tahulah anak muda jaman sekarang kayak apa? Ya gak?" kata ibu yang berkacamata. Hah? Maksudnya ngelakuin? Maksudnya anak muda jaman sekarang?

"Mungkin udah blender mangga, makan mie ayam, sama goreng sapi hidup-hidup, jeng!" kata ibu yang gendut. Jadi, itu yang anak muda suka lakuin jaman sekarang?

"Heh?! Elu mau ngelawak apa? Maksud dia ngelakuin itu kayak ciuman atau grepe-grepe gitulah!" kata ibu yang kondean. Hah? Ini maksudnya apa? Pacaran aja belum, ibu-ibunya udah mikir sejauh itu?

"Ya, gitu deh, jeng. Efek dari internet! Kalo gak diawasin, anak kita juga bisa terpengaruh hal-hal kayak begituan tuh, jeng!" kata ibu yang berkacamata. Aku hanya bisa diam.

Kebetulan ada bis datang. Karena tidak ingin melanjutkan mendengar pembicaraan ibu-ibu yang kayaknya bejat itu, aku langsung berdiri dan menaiki bis yang datang itu. Semoga aku gak ketemu lagi sama itu ibu-ibu bejat.

Tiba-tiba ponselku bergetar, aku pun meraih ponsel yang berada di saku celana jeansku. Sebuah pesan dari Aqua. Sesaat aku terdiam. 3 detik berikutnya, mataku membelalak, atau bisa dibilang melotot, atau mungkin melebar, yah apalah itu.

Akupun membuka pesan darinya.

-Bersambung dengan PHP-nya-

Halo~! Lama gak ketemu yah di fanfik ini! Karena beberapa alasan yang seharusnya sudah kusampaikan, aku sampai harus nunda fanfik ini berbulan-bulan lamanya. Sebenanya udah lama ada niat update kok. Cuman gak ada waktu aja. *iya, gak ada waktu, soalnya tiap kali buka laptop malah menggok ke game dan gak jadi ke fanfiknya* *plak*

Yah, maklum. Cuman pas libur aja nih bisa update. Hehe. *masih mau bohong authornya* *ditonjok* Tapi, tahun depan kayaknya udah super sibuk aja lho. Bahkan tiap hari bisa pulang sore terus. Gila ya persiapan UN tuh? T-T'

dan berikut adalah beberapa reviewer kita dari chapter yang lalu! Nyahaa~~

Eqa Skylight, hore! Eqa kaget! *malah ngapain* jadi penasaran kayak gimana Anda kaget. Hahahak. Ini udah lanjut. :3

Hikari Kengo, Bang Kengo selamat datang kembali~ :3 Wah? Ketahuan juga ya kalo pendek? ._. maaf waktu iu ngebet pengen update tapi laptop malah ngedrop. Jadinya, ya itu hasilnya. T_T Ini udah update dan semoga gak pendek-pendek banget. Authornya aja bingung mau dijodohin sama siapa sebenernya. *digeplak* XD Tapi, yang pasti, ada deh.

Itulah reviewer kita! Terima kasih juga untuk para silent reader yang sudah membaca fanfik ini! Semoga kalian semua panjang umur, deh! Jadi bisa baca fanficku terus. Hehe.

Dan ngomong-ngomong ternyata udah chapter 10 aja yah? Gak nyangka. Hahahak. Harapannya sih, fanfic ini bisa sampe tamat setamat-tamatnya. *amin~*

Oh! author juga minta maaf atas segala typo, gaje, garing *yang kayaknya juga udah mau hilang aja humornya *plak* jangan sampe deh*, gak mutu, penjelasan bikin pusing, OOC yang nyebelin, OC yang bikin muntah padahal gak ditampilin di chapter ini *authornya mewek*, gak nyambung, chapter yang kelihatan pendek dan masih banyak lagi kekurangan lainnya. Mohon dimaafkan, ea~ *shrimp eyes *karena puppy eyes udah mainstream**

Well, happy reviewing! The flamer? You will get some Bengbeng from me! Muehehehe!