Chapter 10
Main Cast :
Chanyeol: Raja dari kerajaan Viering
Baekhyun: Putri satu satunya dari bangsawan Earl of Hielfinberg
Grand Duke / Duke of Krievickie / Jungsoo: Penasehat Raja, ayah kandung dari Luhan & Sehun
Luhan & Sehun
Jongin / Duke of Binkley: Sepupu dari Chanyeol, putra mahkota Viering
Kyungsoo / Duchess of Binkley
Earl of Hielfinberg / Kyuhyun
*Duke/Duchess itu adalah tingkatan dari pemimpin bangsawan, Earl/Count juga bangsawan tetapi lebih rendah dari Duke/Duchess.
.
.
.
"Kurasa ini sudah saatnya," Sehun berkata ketika melihat Uskup Agung Viering naik ke mimbar misa.
Luhan melihat sekeliling. "Mengapa Earl belum datang?"
"Earl of Hielfinberg tidak akan pernah datang," Sehun meletakkan tangan di punggung Luhan. "Kau tahu itu."
"Tetapi Baekhyun…."
"Justru karena Baekhyun datang, ia semakin tidak mungkin datang. Earl masih tidak bisa melupakan peristiwa itu."
Luhan mengangguk mengerti.
Earl tentunya tidak ingin peristiwa yang sama terulang lagi, bukan? Ia tentu tidak ingin mengantarkan kepergian orang yang dicintainya untuk selama-lamanya. Namun ia juga tidak dapat mencegah kepergian Baekhyun.
Misa berlangsung dengan lancar. Uskup Agung melakukan ritual tahunannya di Tognozzi tanpa halangan berarti.
Namun, Chanyeol tidak muncul dalam pidato tahunannya.
Sebagai gantinya, Duke of Krievickie berdiri di mimbar menghadap semua orang yang berkumpul untuk ikut mengenang peristiwa Red Invitation.
"Saya berada di sini untuk mewakili Yang Mulia Paduka Raja Chanyeol," kata sang Grand Duke membuka pidato.
"Lihatlah, dia sama sekali tidak memandangmu sebagai Putra Mahkota," bisik Kyungsoo ketika Jungsoo memulai pidatonya.
"Jungsoo lebih mampu memberi pidato mendadak daripada aku." Kyungsoo sama sekali tidak senang mendengar jawaban itu. Mengapa Jongin bisa sedemikian bodohnya?
Segera, setelah pidato Grand Duke usai, para undangan bergerak memasuki kapal. Para awak kapal pun langsung mempersiapkan pelayaran.
Bersamaan dengan itu, menebarkan bunga yang telah dipersiapkan sejak pagi ditebarkan ke laut – untuk para korban Red Invitation dan untuk mengucapkan selamat jalan pada mereka.
Luhan bergegas menghampiri ayahnya.
"Mengapa Paduka Raja tidak muncul?" seseorang bertanya pada Jungsoo.
"Beberapa saat lalu aku melihatnya bersama Paduka Ratu."
"Beliau sedang menemani Paduka Ratu," jawab Grand Duke.
"Apa yang terjadi pada Paduka Ratu? Apakah beliau baik-baik saja?" ia terus mengejar Jungsoo.
"Jangan khawatir. Paduka Ratu hanya tidak enak badan. Sekarang Paduka Raja menemaninya," jawab Grand Duke Jungsoo diplomatis.
"Syukurlah kalau beliau baik-baik saja," kata yang lain.
"Mungkin beliau kelelahan," Grand Duke mencoba memberikan alas an yang masuk akal. "Mungkin ia tidak terbiasa dengan jadwal kegiatan istana yang padat."
"Mungkin juga."
Luhan termenung.
Jungsoo melihat wajah cemas gadis itu. "Jangan khawatir," katanya, "Paduka Raja ada bersamanya."
Luhan pun mempercayai itu.
"Aku akan melihat keadaan mereka," kata Grand Duke meninggalkan kedua putra-putrinya.
Mata Luhan tidak lepas dari ayahnya yang menaiki tangga menuju kabin istimewa keluarga Raja.
"Baekhyun akan baik-baik saja," Sehun meyakinkan kakaknya.
Luhan melihat Sehun dan mengangguk. Ia percaya Baekhyun akan baik-baik saja.
"Mereka pasti sedang bersandiwara agar semua orang percaya pada omong kosong mereka."
Luhan langsung menoleh.
Kyungsoo berjalan dengan angkuh di sisi Jongin. Ia terus mengomel ketika Jongin membawanya menuju ke dalam kabin mereka. Matanya memandang sinis orang-orang yang dilaluinya.
"Mengapa ia ada di sini?" gumam Luhan.
"Apa boleh buat. Sekarang ia adalah seorang Duchess," Sehun memberi jawaban yang sudah diketahui semua orang.
Luhan termenung. Para undangan di kapal ini adalah keluarga para korban Red Invitation dan itu termasuk Jongin. Selain itu sekarang Kyungsoo adalah Duchess of Binkley.
"Kuharap Baekhyun tidak mencari masalah."
Sehun tertawa. "Aku yakin Baekhyun pasti mencari perhitungan dengan mereka."
Luhan memelototi Sehun. Ia tidak suka mendengar komentar itu tetapi ia juga percaya Baekhyun akan melakukannya.
Baekhyun sudah membenci Kyungsoo sejak detik pertama ia diharuskan menikah dengan Chanyeol.
Baekhyun sudah ingin membuat perhitungan dengan pasangan itu semenjak ia menjadi calon mempelai Chanyeol.
"Hari ini mereka juga menyiapkan banyak makanan lezat. Apa kau tidak mau bergabung?"
Sehun mengajak Luhan bergabung dengan para undangan yang sudah menikmati acara yang disiapkan untuk mereka.
Meja-meja telah tertata rapi di Ruang Pesta perut kapal pesiar megah itu. Hidangan lezat terus disajikan tanpa henti. Para pemain musik melantunkan lagu-lagu lembut mengiring para pasangan yang berdansa di tengah ruangan.
Semua ini disiapkan untuk menghibur para undangan selama empat jam mendatang sebelum mereka mencapai Corogeanu.
.
.
.
Chanyeol duduk di sisi tempat tidur, memperhatikan Baekhyun yang sudah tidur tenang di bawah pengaruh obat tidur.
Seseorang mengetuk pintu dengan perlahan.
Chanyeol berdiri membuka pintu.
Jungsoo melihat ke dalam dengan hati-hati.
"Ia sudah tenang," kata Chanyeol perlahan. "Sekarang ia tidur."
Grand Duke tampak lega. Dengan hati-hati ia melangkah masuk. Ia tidak mau langkah kakinya membangunkan Baekhyun.
"Bagaimana keadaan di luar?"
"Semua telah saya tangani sesuai keinginan Anda."
"Bagus," Chanyeol tersenyum puas.
Jungsoo menatap Baekhyun yang tengah tidur nyenyak. "Paduka," ia berkata ragu-ragu, "Saya rasa ini terlalu banyak untuk Paduka Ratu. Anda tahu… ia…"
"Aku tahu," Chanyeol melanjutkan, "Ia adalah satu-satunya orang yang selamat dalam kecelakaan itu. Ia adalah orang yang dicari-cari untuk mengorek kejadian kelam itu. Dia adalah orang yang kaulindungi walau taruhannya adalah kepercayaan rakyat Viering padamu."
Grand Duke terperangah.
"Kurasa aku tidak pernah melupakan gadis kecil yang menatap kosong laut dan menjerit pilu pada hari itu. Tangisannya yang keras membuat semua orang pilu," Chanyeol menatap Baekhyun.
"Gadis kecil itu adalah Baekhyun. Aku tahu di hari pertama kami bertemu."
Grand Duke kehabisan kata-katanya.
"Ia harus mengatasi ketakutannya, Jungsoo. Ia tidak dapat terus melarikan diri dari kenyataan pahit itu. Aku telah mengatasi rasa pedih itu. Ia pun harus bisa bangkit dari peristiwa itu."
Chanyeol menepuk pundak Jungsoo. "Jangan khawatir. Aku tidak akan membuatnya kian terpuruk. Aku tidak akan memaksanya."
Grand Duke melihat kesungguhan di wajah Chanyeol. Tanpa Chanyeol meyakinkannyapun, Grand Duke percaya pada Chanyeol.
Ia percaya Chanyeol tidak pernah ingin mencelakakan Baekhyun.
Grand Duke mengangguk.
"Kuserahkan semua kejadian di luar sana padamu," kata Chanyeol, "Untuk sementara ini, aku rasa aku tidak dapat meninggalkan Baekhyun seorang diri."
Sekali lagi Grand Duke mengangguk. "Saya mengerti," ia tersenyum, "Serahkan semuanya pada saya."
"Aku tahu aku bisa mengandalkanmu," Chanyeol tersenyum puas.
Sepeninggal Grand Duke, Chanyeol menuju sisi Baekhyun. Ia memperhatikan lekat-lekat wajah yang tidur tenang itu.
'Mungkin aku terlalu memaksamu,' pikirnya.
Bagi kebanyakan orang Red Invitation hanyalah sebuah peristiwa bencana alam biasa. Namun bagi sebagian orang Red Invitation adalah bencana alam luar biasa.
Bencana itu membawa perubahan besar bagi hidup Chanyeol dan kebanyakan bangsawan Viering.
Dalam satu hari Viering kehilangan banyak bangsawannya termasuk Raja dan Ratu. Tidak satu orang pun selamat dalam bencana itu. Setidaknya itulah yang semula dianggap semua orang dan dipercayai sebagian orang hingga detik ini.
Setelah seminggu pencarian yang tidak membuahkan hasil, Duke of Krievickie yang kala itu sudah menjadi Grand Duke kepercayaan Raja Alvaro, mengambil tindakan.
Ia menghentikan pencarian, mengumumkan berita meninggalnya Raja dan Ratu Kerajaan Viering beserta para bangsawan yang menjadi tamu dalam kapal pesiar itu, serta mengumumkan pengambilalihan posisi Raja Viering oleh dirinya hingga Chanyeol cukup umur untuk naik tahta.
Sempat terjadi banyak spekulasi dalam masa-masa berkabung itu.
Orang-orang mulai mempertanyakan mengapa sang Grand Duke tidak ikut dalam pesta yang akan diadakan di Corogeanu itu?
Mengapa sang Grand Duke yang tidak pernah meninggalkan sisi Raja Alvaro absen dalam peristiwa yang mengguncang Viering itu? Mengapa tidak seorang pun menghentikan Raja pada hari itu?
Awan mendung mengiringi kepergian Red Invitation, nama sang kapal pesiar maut itu.
Angin sudah berhembus kencang di detik-detik terakhir sebelum Red Invitation meninggalkan Tognozzi. Ombak juga sudah menunjukkan keganasannya. Para pelaut juga merasakan adanya badai yang mendekat.
Namun mengapa tidak ada yang menghentikan Raja?
Chanyeol juga sempat menjadi seorang dari mereka yang mencurigai Duke of Schewicvic.
Ia yakin Jungsoo telah memanipulasi ayahnya untuk tetap melanjutkan pelayarannya ke Corogeanu walau cuaca mulai memburuk.
Jungsoo pasti memanfaatkan cuaca buruk itu untuk mendapatkan tahta Viering.
Selama ini tidak ada badai yang melalui selat antara daratan utama Viering dan Corogeanu yang berada beberapa mil di sisi barat Viering.
Namun itu tidak berarti tidak akan pernah ada badai yang memotong selat itu!
Hari itu para pelaut memang masih melakukan aktivitas mereka walau mereka tahu badai terakhir musim panas berada di sekitar mereka.
Kapal besar kecil masih berhilir mudik di Tognozzi ketika Red Invitation berlayar. Namun tidak ada yang menyeberang ke Corogeanu!
Chanyeol tidak dapat menerima kenyataan orang tuanya meninggal dalam bencana itu. Ia menyalahkan Jungsoo.
Ia tidak percaya Jungsoo tidak mengetahui keberadaan bahaya yang menghadang itu. Dan yang membuatnya semakin kesal adalah Jungsoo tetap bergeming walau semakin hari semakin banyak orang yang mencurigainya.
Kemudian muncullah kabar itu. Ada seorang korban selamat!
Chanyeol mendengar berita adanya seorang pelaut yang menemukan seorang gadis kecil terapung-apung di atas sebuah kayu di tengah laut.
Banyak pihak berlomba-lomba memastikan siapa gadis kecil itu. Banyak yang berharap gadis kecil itu adalah keluarga mereka yang hari itu ikut orang tuanya ke Corogeanu.
Bagi Chanyeol, gadis itu adalah kunci untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hari itu. Mengapa Grand Duke yang pergi ke Tognozzi, akhirnya pulang tanpa ikut berlayar di Red Invitation?
Jungsoo tetap terlihat tenang walau berita itu semakin lantang. Ia sama sekali tidak memerintahkan pencarian gadis kecil itu. Ia juga tidak berusaha mencari tahu siapa gadis kecil itu.
Malahan ia memberi nasehat, "Itu hanya omong kosong. Jangan mempercayai kabar burung yang tidak mempunyai bukti."
Chanyeol tidak mempercayai penjelasan Jungsoo itu. Dan ketika tidak seorang pun berhasil menemukan jejak gadis itu, ia semakin mempercayai keterlibatan Jungsoo.
Tidak seorang pun berhasil menemukan pelaut yang menemukan gadis itu. Juga tidak seorang pun memastikan kebenaran berita itu. Orangorang pun mulai meragukan berita itu.
Namun Chanyeol percaya, korban selamat itu benar-benar ada dan Jungsoo telah melakukan sesuatu sebelum seorang pun mendengar kabar itu.
Jungsoo pasti telah menghabisi gadis itu beserta pelaut yang menemukannya sebelum seorangpun menemukan mereka. Chanyeol percaya!
Chanyeol terus mempercayai hal itu hingga misa berkabung yang diadakan di Tognozzi untuk mengiringi kepergian para korban Red Invitation.
Dalam misa itu, perhatian semua orang tertuju pada seorang gadis kecil yang meraung-raung di pelukan Earl of Hielfinberg.
Gadis kecil itu memberontak dengan liarnya, membuat semua hadirin merasa pilu.
Countess of Hielfinberg adalah satu di antara korban Red Invitation.
Chanyeol melihat Jungsoo menghampiri Earl beserta putra putrinya kemudian Earl menyerahkan gadis kecil itu pada Luhan.
Luhan dan Sehun membawa gadis kecil itu pergi sehingga misa bisa berlanjut dengan tenang.
Dalam misa itu, Chanyeol sempat mendengar beberapa orang membicarakan Earl of Hielfinberg dan putri kecilnya.
"Mengapa gadis itu ada di sini?" ia mendengar seorang wanita berbicara pada wanita yang lain, "Bukankah ia ikut Countess Virgie? Aku melihat Countess Virgie membawanya masuk ke dalam Red Invitation."
"Mungkin Countess Virgie meminta Grand Duke membawanya pulang," kata wanita satunya, "Bukankah Grand Duke akhirnya pulang sebelum Red Invitation berlayar?"
Chanyeol bertanya-tanya. Mungkinkah itu yang terjadi di hari itu sehingga gadis itu selamat? Ataukah gadis itu benar-benar sang korban selamat yang sempat menjadi bahan pemberitaan itu?
Kemudian sorenya Jungsoo menemuinya.
"Maafkan saya," mata Jungsoo berkaca-kaca saat itu, "Seharusnya saya ikut menjadi korban di hari naas itu. Saya sering menyesali diri saya sendiri. Mengapa hari itu saya menuruti keinginan Paduka Raja Alvaro untuk kembali ke Fyzool?"
Chanyeol kaget mendengar penjelasan yang tidak pernah didengarnya dari mulut Jungsoo semenjak berita naas itu.
"Saya menduga Paduka Raja sudah mempunyai firasat ia akan pergi sehingga ia memaksa saya kembali ke Fyzool. Saya telah berjanji pada Paduka Raja untuk membesarkan dan mendidik Anda menjadi seorang Raja Viering yang bijaksana. Hari ini saya bersumpah kepada Anda juga kepada para korban Red Invitation, saya akan mengabdikan diri pada Anda hingga Anda naik tahta."
Hari itu Chanyeol langsung mempercayai apa yang didengarnya. Ia percaya peristiwa itu adalah murni kecelakaan yang tidak bisa dicegah siapa pun.
Hari ini Chanyeol memahami mengapa Jungsoo tidak pernah melakukan pengejaran pada sang korban selamat yang digosipkan itu.
Mengapa ia terus mengingkari berita yang jelas-jelas nyata itu.
Akan terlalu kejam bila mereka memaksakan pengejaran pada seorang gadis kecil yang tidak tahu apa-apa itu, pada gadis kecil yang mengalami trauma yang tidak dapat dilupakannya seumur hidupnya.
Chanyeol tersenyum melihat wajah manis yang tenang itu.
Kalau saat itu ia bertindak gegabah, saat ini Jungsoo tidak akan ada di sisinya. Dan entah apa jadinya dirinya saat ini.
Mungkinkah ia menjadi seperti Jongin yang lemah ataukah ia menjadi seorang Raja yang penuh dendam? Ia juga mungkin telah menghancurkan hidup Earl of Hielfinberg dan gadis ini.
Semua mungkin saja…
.
.
.
Baekhyun memperhatikan sekelilingnya.
"Kau sudah bangun?" Chanyeol bertanya lembut.
Mata Baekhyun beralih ke pemuda yang duduk di sampingnya itu.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tangannya merapikan rambut di sekeliling wajah Baekhyun.
"D-Di mana ini?" tanya Baekhyun panik.
Chanyeol hanya tersenyum.
Baekhyun pucat pasi. Tangannya menggenggam erat selimut tipis yang menutupi tubuhnya.
Chanyeol duduk di sisi Baekhyun. "Tidak ada yang perlu kautakuti," ia meraih tubuh Baekhyun.
Baekhyun mencengkeram baju Chanyeol. Wajahnya terus memutih. Tubuhnya bergetar hebat.
"Kau pasti telah melalui masa-masa yang sulit," bisik Chanyeol di telinga Baekhyun. Tangannya bergerak membelai rambut gadis itu.
"Aku ingin pulang," pinta Baekhyun.
"Tak lama lagi semuanya akan usai. Corogeanu sudah dekat."
"Aku masih harus pulang ke Schewicvic," gerutu Baekhyun tidak sependapat.
Chanyeol termenung. Tidak adakah yang bisa dilakukannya untuk mengalihkan perhatian gadis ini?
"Ini adalah kesempatan langka," Chanyeol berdiri, "Mengapa kau tidak melihat pemandangan luar?"
Baekhyun mencengkeram baju Chanyeol semakin erat.
Chanyeol mau tidak mau duduk kembali. "Kau tidak bisa terus begini."
"Aku mau pulang," Baekhyun mengulangi.
Chanyeol mendesah. Trauma berhasil membuat Baekhyun menjadi seorang gadis manja yang penakut.
"Aku menyesal sekarang aku tidak bisa menuruti keinginanmu."
Baekhyun juga tahu sekarang terlalu terlambat untuk kembali ke Fyzool.
Sekarang sudah amat terlambat untuk menarik kembali keputusannya menerima tantangan Chanyeol.
Sekarang sudah terlambat untuk menghentikan harga dirinya yang terusik oleh ejekan Chanyeol.
Chanyeol menyandarkan punggungnya di atas tumpukan bantal tanpa melepaskan Baekhyun. "Katakan apa yang harus kita lakukan untuk menghabiskan waktu?"
Baekhyun mengangkat kepalanya melihat Chanyeol.
"Kita masih punya waktu yang panjang sebelum tiba di Corogeanu."
Baekhyun tertegun. Chanyeol membiarkannya setengah berbaring di atas tubuhnya. Sementara itu tangannya merangkul punggungnya erat-erat.
Chanyeol tidak pernah memperlakukannya dengan lembut seperti ini. Chanyeol yang biasanya pasti sudah mengejek dirinya dan terus menghinanya.
Baekhyun membaringkan badan di atas tubuh Chanyeol. Ia tidak ingin pergi dari kenyamanan ini.
Ia tidak ingin melepaskan diri dari kehangatan ini.
Ia ingin terus berada di tempat yang menenangkan ini.
Rasa tenang, aman dan nyaman membuat mata Baekhyun berat.
.
.
.
"Di mana matamu!"
Semua kegiatan di Ruang Pesta langsung terhenti. Pasangan yang sedang berdansa mematung. Tangan para pemain musik terhenti di udara.
Kata kata orang yang sedang mengobrol tertahan dalam kesunyian.
Semua mata langsung menuju Kyungsoo yang bertolak pinggang. Matanya mengadili seorang wanita yang kurang lebih seusia dengannya.
"Apa kau tidak tahu siapa aku!?" Kyungsoo membusungkan dada.
"Beraninya kau menabrakku!"
Wanita bangsawan itu kesal. Nampak jelas sekali ia tidak suka cara Kyungsoo merendahkannya.
"Ada apa, Kyungsoo?" Jongin bertanya.
"Tidak ada apa-apa," Kyungsoo membalikkan badannya dengan angkuh, "Hanya seorang tidak tahu diri menabrakku."
Sehun mengalihkan pandangannya. "Lagi-lagi ia membuat ulah," katanya.
"Selama Jongin ada di sisinya, tidak ada yang berani melawan Kyungsoo,"
Luhan sependapat.
"Aku ingin tahu," gumam Sehun, "Apa yang akan dilakukan Baekhyun kalau ia ada di sini."
Luhan tersenyum geli. "Ia pasti akan melabrak Kyungsoo."
"Saat itu aku ingin melihat wajah Kyungsoo," Sehun juga tersenyum geli.
"Sayangnya," Luhan kembali cemas, "Kita tidak tahu bagaimana keadaan Baekhyun saat ini. Ini sudah berlangsung tiga jam semenjak kita meninggalkan Tognozzi. Paduka juga tidak muncul. Aku benar-benar cemas."
Luhan melihat ayahnya melintasi kerumunan di Hall.
"Papa," Luhan mencegat Grand Duke, "Apa tidak ada kabar? Ini sudah lebih dari setengah perjalanan. Tidak lama lagi kita akan tiba di Corogeanu."
"Jangan khawatir," Jungsoo menenangkan, "Paduka Raja ada di sisinya."
"Bahkan Paduka Raja pun tidak meninggalkan sisi Baekhyun, apakah itu tidak berarti keadaan Baekhyun benar-benar gawat!" sergah Luhan. "Paduka tidak pernah meninggalkan tamu-tamunya seperti ini."
Grand Duke tidak dapat membantah. Ini pertama kalinya Chanyeol meninggalkan tamu-tamunya.
Pertama kalinya pula ia meninggalkan perjamuan tanpa menyambut para tamunya terlebih dahulu.
"Aku rasa bukan itu alasan Chanyeol tidak meninggalkan Baekhyun."
"Sehun!" suara sang Grand Duke meninggi.
"Maksudku Paduka," Sehun langsung membenarkan.
"Ia bukan tipe orang yang mengambil tindakan untuk mengubah arah gosip," kata Luhan pula.
Ini juga benar. Chanyeol tidak pernah ambil pusing oleh gosip-gosip yang beredar seputarnya. Ia tidak mungkin sengaja terus berada di sisi Baekhyun untuk membuat gosip baru.
Semenjak mendengar dari Grand Duke bahwa Paduka Raja Chanyeol tidak dapat meninggalkan Paduka Ratu Baekhyun yang sedang tidak enak badan, para tamu mulai berspekulasi. Sebelumnya terdengar santer pernikahan mereka yang selalu diwarnai pertikaian hebat. Sebelumnya lagi juga tersiar kabar Baekhyun kabur ke Mangstone. Pernikahan keduanya sudah menjadi gosip rahasia selama beberapa bulan terakhir ini.
Tidak ada yang mempercayai pernikahan ini akan berlangsung lama. Tidak ada yang mempercayai pula keduanya benar-benar saling mencintai seperti yang pernah mereka umumkan.
Dan hari ini…
"Luhan benar. Ia bukanlah tipe orang seperti ini," Sehun sependapat. "Ia bukan orang yang dengan mudah menyerahkan tugasnya pada orang lain. Kecuali ia benar-benar mendapat halangan besar, ia tidak akan menyerahkan tugasnya pada Papa."
Grand Duke pun sependapat. Walaupun ia adalah tangan kanan Raja terdahulu dan penasehat Raja yang sekarang, Chanyeol lebih suka melakukan sendiri tugas-tugasnya.
"Bisakah Papa melihat keadaan Baekhyun?" pinta Luhan. "Aku benar-benar cemas."
"Baiklah," Grand Duke sependapat, "Aku akan melihat keadaan Baekhyun."
Grand Duke langsung melangkahkan kaki ke kabin khusus keluarga kerajaan.
Luhan menarik tangan Sehun.
"Bukankah Papa sudah setuju akan melihat keadaan Baekhyun?" protes Sehun.
Luhan tidak menjawab. Ia terus menarik Sehun mengikuti ayah mereka.
Sehun memperhatikan sorot cemas di mata kakaknya. "Aku kalah darimu," gumamnya.
.
.
.
Suara ketukan di pintu membuka mata Chanyeol yang terpejam.
"Seseorang perlu membuka pintu."
Baekhyun pun membuka matanya. Ia melihat Chanyeol yang setengah mengantuk.
Ketukan di pintu kembali terdengar.
Baekhyun melihat pintu.
"Kalau kau tidak mau membuka pintu berarti aku yang harus pergi."
Baekhyun mencengkeram baju Chanyeol dan menggelengkan kepalanya.
"Aku akan segera kembali," Chanyeol melepaskan cengkeraman Baekhyun.
Baekhyun terkejut. Tiba-tiba saja ia merasa kesepian.
Chanyeol membuka pintu. "Ada apa, Jungsoo?" tanyanya melihat orang di depan pintu.
"Saya datang untuk melihat keadaan."
Baekhyun merasakan angin laut yang menerobos pintu. Ia mendengar suara yang menderu bagaikan panggilan kematian itu.
Ia dapat mencium bau yang membekukan darahnya. Ia teringat angin ribut yang menerbangkan apapun, ombak besar yang menggapai langit, sinar-sinar di langit kelam yang menyilaukan serta jeritan halilintar yang memekikkan telinga.
Chanyeol menyadari perubahan Baekhyun.
"Masuklah ke dalam," katanya memerintah dan ia menutup pintu rapat rapat.
Jungsoo melihat Baekhyun yang meringkuk di atas tempat tidur dengan tubuh bergetar heba. Lalu ia melihat Chanyeol.
"Ia sudah bangun," Chanyeol memberitahu.
Jungsoo turut cemas melihat wajah pucat gadis itu. Ia berharap ia dapat melakukan sesuatu untuknya.
"Katakan bagaimana perkembangan keadaan di luar," Chanyeol mengalihkan perhatian Jungsoo, "Apa yang mereka katakan? Apa ada yang mencariku?"
"Tidak ada, Paduka Raja. Saya telah memberitahu alasan Anda tidak bias berada bersama mereka. Mereka mengkhawatirkan keadaan Paduka Ratu namun saya telah meyakinkan mereka Paduka Ratu baik-baik saja."
Semua orang percaya pada penjelasan Jungsoo kecuali Luhan. Sang kakak angkat dan ibu asuh Baekhyun itu tidak dapat berhenti menemaskan Baekhyun.
Tidak akan ada yang dapat menghentikan kecemasan putrinya itu kecuali ia melihat sendiri Baekhyun.
Ketika Chanyeol berada di sisi Baekhyun, apakah yang dapat dilakukan Luhan?
Chanyeol sudah lebih dari cukup untuk menjaga Baekhyun. Itulah yang dikatakan Sehun pada Luhan.
Namun Luhan menahan dirinya bukan karena itu. Melainkan karena ia tidak ingin menganggu mereka.
Sebagai orang yang bertanggung jawab mewakili Chanyeol, Jungsoo memutuskan untuk memeriksa sendiri keadaan Baekhyun.
Ia ingin tahu apakah Paduka Rajanya bisa menghadiri pesta yang ia adakan untuk para tamunya itu.
Sekarang ketika melihat Baekhyun yang meringkuk di atas tempat tidur, Jungsoo percaya kali ini Chanyeol tidak dapat menjadi tuan rumah yang baik untuk alasan yang baik.
"Semua orang mulai membicarakannya, Paduka," lapor the Grand Duke,
"Semua membicarakan betapa besarnya cinta Anda pada Paduka Ratu hingga tidak sanggup meninggalkannya walau hanya sedetik."
"MENARIK!"
Suara keras pemuda itu memanggil kembali Baekhyun dari bayangan masa lalunya yang kelam.
"Kau dengar itu, Baekhyun?" Chanyeol menoleh pada Baekhyun, "Kau telah membuat gosip-gosip itu berubah haluan."
Baekhyun kesal mendengar nada mengejek yang tersembunyi dalam suara geli itu. Pemuda ini benar-benar tahu bagaimana mempermainkannya.
Sesaat lalu bersikap manis padanya dan sekarang mengejeknya kembali.
Baekhyun meraih bantal dan melemparkannya pada Chanyeol.
Chanyeol menghindar dengan sigap. Tangannya menangkap bantal itu sebelum ia mendarat di wajah Grand Duke Jungsoo yang termangu.
"Lihatlah!" Chanyeol menyalahkan, "Kau telah melukai Jungsoo."
Baekhyun langsung meloncat dari tempat tidur. "Kau tidak apa-apa, Jungsoo?" tanyanya cemas, "Aku tidak membuatmu terluka, bukan?"
Grand Duke Jungsoo kebingungan.
Chanyeol tersenyum geli melihat Baekhyun yang tidak mau meninggalkan tempat tidur, berdiri di depan Jungsoo.
Tiba-tiba saja Baekhyun menyadari permainan Chanyeol.
"KAU!" geram Baekhyun kesal.
"Setidaknya kau telah membuat kemajuan," senyum nakal di wajah Chanyeol kian lebar.
"Rasanya aku ingin memberi pelajaran padamu," Baekhyun mendekati Chanyeol dengan kemarahan terpendam.
"Apakah itu yang ingin kaulakukan setelah meninggalkan sarangmu?" selidik Chanyeol.
Baekhyun tidak mempedulikan gurauan itu. Ia merebut bantal di tangan Chanyeol.
"Hei!" Chanyeol melindungi dirinya sendiri dari serangan Baekhyun.
Grand Duke melihat keduanya kembali hanyut dalam keasyikan mereka sendiri dan ia meninggalkan mereka dengan diam-diam.
"Tidak seorang pun yang bertingkah sepertimu setelah meninggalkan sarangnya," komentar Chanyeol sambil terus menangkap serangan Baekhyun.
"Kau yang memulainya!" kata Baekhyun kesal.
"Sudah cukup permainan hari ini," katanya sambil mengambil alih bantal di tangan Baekhyun.
Sebuah ombak besar menerjang kapal.
Baekhyun terkejut. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Chanyeol segera memeluk Baekhyun sebelum ia terjatuh. Saat itulah Chanyeol menyadari getaran hebat tubuh Baekhyun.
"Sial," gerutu Chanyeol.
Kaki Baekhyun kehilangan tenaganya dan ia bergelantung lemas di tangan Chanyeol.
Chanyeol mendudukkan Baekhyun di lantai kabin dan duduk di sisinya sambil memeluknya erat-erat.
"Tidak apa-apa," bisiknya, "Tidak ada apa-apa. Itu hanyalah ombak biasa."
Jari jemari Baekhyun mencengkeram kemeja Chanyeol erat-erat.
"Tidak akan terjadi apa-apa," Chanyeol meyakinkan, "Aku ada di sini. Aku tidak akan meninggallkanmu."
Baekhyun mendekapkan diri kian erat pada Chanyeol.
Otak Chanyeol berputar cepat mencari topik yang dapat mengalihkan perhatian Baekhyun.
"Kau membuat kemajuan besar," gurau Chanyeol, "Kau merubah haluan gosip-gosip itu. Aku tidak akan heran kalau tak lama lagi mereka menyebutmu pelacur kelas atas."
Telinga Baekhyun memerah mendengar ledekan itu. "Siapa yang pelacur!?"
Baekhyun naik pitam. Mata biru beningnya menantang Chanyeol. "Katakan itu lagi maka aku akan… aku akan…"
"Aku apa?" Chanyeol tersenyum simpul.
"Aku… aku…," Baekhyun tidak tahu apa yang akan dilakukannya.
"Menunjukkan padaku bahwa kau benar-benar seorang yang ahli dalam hal ini?"
"KAU!" Baekhyun geram, "K-kau…" Baekhyun begitu marah hingga ia kehabisan kata-kata.
Chanyeol tertawa geli melihat muka Baekhyun yang memerah karena amarahnya yang memuncak itu.
Baekhyun sungguh tidak cocok dengan ekspresi murkanya itu. Wajahnya terlalu cantik, terlalu kekanak-kanakan.
Mata beningnya yang lembut tampak begitu aneh dengan sorot tajamnya.
"Apa yang kautertawakan!?" bibir mungil itu mencibir kesal.
"Ini," Chanyeol menyentuh bibir Baekhyun.
Sentuhan lembut Chanyeol mendinginkan api amarah Baekhyun dan membuat dadanya berdebar kencang.
"Kau sungguh tampak begitu menggelikan dengan ekspresi kemarahanmu itu. Kau sungguh tidak cocok untuk marah," bisik Chanyeol sambil mendekatkan wajah.
Baekhyun pasrah. Ia membiarkan tangan Chanyeol menjelajahi wajahnya. Ia membiarkan Chanyeol mengangkat dagunya. Baekhyun menutup matanya. Ia sudah benar-benar luluh oleh cara Chanyeol menyentuhnya.
Chanyeol pun tanpa ragu-ragu mendekatkan bibirnya.
Seseorang mengetuk pintu.
"Sial!" Baekhyun mendengar Chanyeol menggerutu. "Siapa yang berani merusak suasana ini!?"
Seketika itu Baekhyun sadar dari pengaruh biusan Chanyeol dan ia menjauhkan diri.
"Belum, sayangku," Chanyeol menarik Baekhyun kembali ke pelukannya, "Aku belum selesai."
Sebelum Baekhyun sempat menyadari kekagetannya sendiri, Chanyeol mendaratkan ciuman lembut di atas bibirnya dan ia berdiri untuk membuka pintu.
Baekhyun terperanjat. Kejadian ini sangat cepat. Terlalu cepat untuknya. Ia tidak siap untuk itu. Ciuman pertamanya melayang begitu saja tanpa ia sadari.
Entah mengapa, Baekhyun tidak kecewa. Dadanya terus berdegup kencang. Ia tidak dapat mempercayai ini.
Chanyeol, si pemuda yang lebih suka mengejeknya daripada memujinya, telah menciumnya!
"Saya datang untuk memeriksa keadaan," kata seorang awak kapal,
"Apakah Anda baik-baik saja, Paduka?"
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Guncangan barusan disebabkan oleh gelombang besar."
"Kuharap badai tidak datang."
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Paduka. Kapten mengatakan tidak akan ada badai. Gelombang barusan murni gelombang biasa."
"Untunglah," Chanyeol lega. "Masih berapa lamakah sebelum kita mendarat?"
"Kurang lebih setengah jam lagi, Paduka."
Chanyeol melirik Baekhyun yang masih duduk di lantai. Gadis itu sedikitpun tidak bergerak. Matanya menerawang kosong seperti tubuh tidak berjiwa.
Lalu ia berkata, "Kau bisa pergi sekarang."
Pria itu langsung mengundurkan diri.
Chanyeol duduk di depan Baekhyun. "Kau sudah lebih baik?" tangannya merangkum wajah Baekhyun.
Wajah Baekhyun langsung memerah. Wajah Chanyeol yang begitu dekat itu mau tidak mau membuatnya teringat ciuman singkat Chanyeol beberapa saat lalu.
"Melihat wajahmu yang seperti ini," Chanyeol menggoda, "Kau sudah jauh lebih baik."
Baekhyun kesal. Lagi-lagi ia membiarkan dirinya dipermainkan Chanyeol!
Chanyeol tersenyum melihatnya. Tiba-tiba ia berdiri sementara tangannya menarik tubuh Baekhyun.
Tubuh Baekhyun yang tidak siap langsung limbung.
Chanyeol memeluk gadis itu dengan lembut. Tangan kanan Chanyeol memegang pipi yang memucat itu sementara tangan kirinya memeluk pinggang Baekhyun, menahan gadis itu.
"Kau tahu, kau bisa membiusku dengan wajahmu yang tanpa dosa itu,"
Chanyeol tersenyum penuh kasih.
Wajah Baekhyun merona.
"Kau sungguh membuatku tidak berdaya," sekali lagi Chanyeol mendaratkan ciumannya di bibir Baekhyun.
Baekhyun tidak pernah tahu sebuah ciuman bisa terasa menakjubkan seperti ini. Baekhyun tidak dapat menggambarkan perasaan ini.
Ia tidak dapat mengutarakannya. Ia merasa luluh tidak berdaya sekaligus terbuai.
Tubuhnya bergetar hebat ketika Chanyeol melepaskan bibirnya. Bibirnya membuka – haus akan kenikmatan yang baru dikenalkan Chanyeol padanya.
Matanya menatap Chanyeol penuh kerinduan.
Tangan Chanyeol menyandarkan kepala Baekhyun di pundaknya.
Baekhyun menggenggam erat kemeja Chanyeol dan menyembunyikan wajahnya di dada Chanyeol. Ia terlalu malu untuk melihat wajah pemuda itu.
"Sekarang," katanya memecah kesunyian di antara mereka, "Apa yang harus kita lakukan denganmu?"
"Denganku?"
"Pertama-tama aku perlu memulangkanmu ke sarangmu."
Lagi-lagi Chanyeol mengagetkan Baekhyun. Sebelum Baekhyun menyadarinya, Chanyeol mengangkat Baekhyun dan membaringkan gadis itu di atas tempat tidur.
TBC –c-
Gimana? Gimana? Mereka udah ciuman kan, hahaha xD
