MEANT TO BE

baekaeriachu presents

Starring :

-Byun Baekhyun

-Park Chanyeol

-Other

SUMMARY :

Baekhyun percaya kalau dia adalah seorang Alpha, bahkan ia tidak peduli perkataan orang tua beserta teman-temannya kalau dia sebenarnya seorang Omega. Tetapi kepercayaan itu lenyap setelah bertemu Park Chanyeol.


Chapter 9; Trouble's are Coming


Chanyeol mengacak rambut blondenya, dia pusing. Sangat pusing sebab berkas dari Ayahnya tidak pernah habis bahkan sampai minggu kedua dia diperusahaan.

Ya, setelah orang tua Chanyeol mengatur tanggal pertunangannya bersama Baekhyun, Ayah Park mengajak Chanyeol ke perusahaannya dan mengumumkan kepada seluruh pegawai kalau anak tunggalnya akan menggantikan si Park tua untuk sementara. Park Muda benar-benar kaget, tidak memiliki persiapan apapun bahkan dia tidak pernah tahu bagaimana sistem kerja perusahaan. Dirinya sempat protes tetapi ancaman sang Ayah membuat dirinya terdiam dan dengan lapang dada menggantikan Tuan Park diperusahaan. Tidak mungkin ia akan mengorbankan studio Band nya ditutup hanya karena masalah perusahaan.

Selama berhari-hari Chanyeol kerja lembur bagai kuda diperusahaan, mengurus berkas berisi tentang pembangunan Mall di Busan. Beruntunglah dia, ada Mirae Noona -sekretaris Ayahnya- yang dengan sabar membantu Chanyeol melewati hari-hari buruknya.

Chanyeol membuka kunci handphonenya dan masuk ke aplikasi Instagram. Maklumin saja, karena tidak bisa keluar dan menghabiskan waktu diluar, hanya membuka sosial media saja yang bisa melepaskan kejenuhan dirinya.

Ia meng-scroll instagram yang berisi berita politik, foto orang berlibur, ataupun selfie. Tiba-tiba jari jempolnya berhenti mengscroll, sebuah video berdurasikan kurang dari satu menit menampilkan seorang laki-laki bermata sipit dan memiliki bibir tipis yang merah -mungkin efek-, ia mengangga pipi kirinya menggunakan kepalan tangan kirinya dan menunjukkan wajah bosannya sampai ekspresi kaget karena mendengar suara bersin seseorang.

"sial kenapa ini lucu sekali" Chanyeol kembali mengulang video tersebut, ia meneliti ekspresi wajah yang dikeluarkan pemuda itu. Berkali-kali Chanyeol putar video itu, entah kenapa ia tersenyum melihat tampang kaget si laki-laki yang akan menjadi tunangannya dua minggu lagi.

ah ya, laki-laki itu Byun Baekhyun. Chanyeol bingung kenapa bisa ada Baekhyun di Instagramnya. Mungkin ia memfollow Omega gila itu saat tidak sadar.

"whoaa, ada apa dengan senyumanmu sekarang? seperti orang kasmaran" Chanyeol sigap meletakkan handphonenya di meja lalu menatap sekretaris Ayahnya, Mirae Noona -panggilan chanyeol untuk si sekretaris-

"kenapa langsung dimatikan? ada apa?" Mirae meletakkan gelas berisi kopi hitam pesanan calon CEO Phoenix Enterprise. Chanyeol menggelengkan kepalanya, malu untuk bilang kalau ia baru saja melihat video instagram Baekhyun. Mirae sudah tahu kalau Chanyeol terpaksa bertunangan jadi akan menjadi canggung nantinya kalau ia jujur.

Mirae menyeringat menggoda, "yak! kau memang laki-laki penuh rahasia, baiklah kita lupakan saja. Bagaimana perkembangan pembangunan mall? Sudah ada titik terang?" perempuan tersebut duduk dikursi depan meja Chanyeol. Melirik keadaan meja kerja si Park Muda yang amburadul.

"entahlah noona, aku bingung bagaimana mengatasi penduduk yang demo. Perlakuan mereka menghambat pembangunan" Chanyeol memijat keningnya. Pupuslah pemikiran tentang Baekhyun dan digantikan oleh beban perusahaan.

Ayahnya memang kejam sekali meninggalkan Chanyeol mengurus perusahaan besar sementara si paruh baya Park itu bersenang-senang di Fiji. Oh, sungguh Ayah panutan.

"haruskah kita panggil polisi saja untuk berjaga? Menurutku bernegosiasi sudah tidak ada jalan keluar." Chanyeol menganggutkan kepalanya setuju, tak salah kalau Mirae menjadi sekretaris Ayahnya selama sepuluh tahun.

Chanyeol mengambil gelasnya dan menyesap rasa pahit nan adiktif yang dikeluarkan oleh kopi hitam. Minuman yang selalu menemaninya dikala lembur. Ia mengeluarkan desahan lega karena rasa yang dikeluarkan oleh kopi tersebut.

Mirae menatap Chanyeol lamat, banyak perubahann yang terjadi kepada laki-laki didepannya. Dahulu, ketika Mirae masih menjadi pegawai magang, dirinyalah yang bertugas menjaga Chanyeol kecil saat Sang Ayah sedang rapat dewan, biasanya anak kecil itu dititipkan diperusahaan jika Nyonya Park sedang keluar negeri untuk urusan bisnis. Dulu juga tinggi Chanyeol tidak lebih dari perut Mirae, namun sekarang malah Mirae berukuran sedada Chanyeol. Waktu memang berdenting sangat cepat tanpa perempuan itu sadari.

"eoh noona? kenapa melihatku terus, kau menyukaiku ya~" Chanyeol memang wajah menggodanya ke arah sang Noona, dibalas delikkan tajam.

"cih, ketampananmu sangat jauh dari junghyunku" untuk memberitahu saja, Junghyun adalah suami Mirae.

Chanyeol mencibir, "iya iya noona benar" ia terdiam sebentar, "noona...bagaimana rasanya...me..nikah?" laki-laki berstatus Alpha bertanya ragu.

Mirae terkekeh kecil mendengar perkataan Chanyeol, "menyenangkan jika kau menikah atas dasar cinta" jawab si perempuan.

"jika kau melakukannya dengan cinta maka setiap detik yang kau lalui dengan pasanganmu akan sangat berarti. Percayalah kepadaku, kau akan merasakannya nanti" sambung Mirae seraya tersenyum.

"bagaimana kalau-"

Sebelum Chanyeol menyelesaikan pertanyaannya yang kedua, suara dering handphone-nya menyapa telinga laki-laki Alpha itu.

"angkatlah dulu, mungkin saja itu penting" Chanyeol melihat nama panggilan diteleponnya.

Unknown Number is Calling

"eh, tidak ada namanya, apa harus kuangkat?" Laki-laki bermarga Park menatap sekretaris Ayahnya. Perempuan itu mengangguk, menandakan Chanyeol harus mengangkat panggilan teleponnya.

Chanyeol menggeser ikon telpon berwarna hijau lalu menempelkan handphonenya ditelinga kanan.

"selamat siang, ada apa?" Chanyeol bertanya sopan.

"apakah ini park chanyeol?"

"ya, saya park chanyeol, ada yang bisa aku bantu?" Chanyeol mengernyit, suara orang itu terdengar familiar untuknya.

"aku membutuhkan bantuanmu" orang ditelepon itu memohon.

"umm ya?"

"aku ingin kau DATANG KE RUMAHKU SEKARANG JUGA YOU ASSHOLE BASTARD LITTLE PIECE OF-" Chanyeol reflek mematikan panggilannya. Didengar dari teriakkannya sudah dipastikan menelponnya adalah orang yang tadi Chanyeol lihat di Instagramnya. Siapa lagi kalau bukan Byun Baekhyun si Omega gila -menurut Chanyeol-.

"a-aku harus pergi Noona, bisakah kau gantikan aku untuk sementara?" Chanyeol menyimpun berkas-berkasnya menjadi satu tumpuk. Ia mengambil kunci mobil didalam laci meja kerja Ayahnya.

"ba-baiklah, semangat yeol-ah!" Mirae penasaran kenapa wajah Chanyeol berubah menjadi cemas setelah mengangkat panggilan. Namun, rasa penasaran harus dia pendam karena pasti Chanyeol memiliki hal yang lebih penting sekarang dan ia sebagai kepercayaan Ayah Chanyeol, CEO Park Enterprise akan bersedia menggantikan sementara anak CEO-nya untuk menyelesaikan masalah.

Chanyeol memakai jas maroon-nya, "aku pergi Noona, jaga baik-baik kantor Ayah" lalu ia keluar dari ruangan menuju lift yang akan mengantarnya ke lobby parkiran.

Ia hanya berdoa kalau ia tidak berbuat masalah lagi dengan si Omega mungil yang akan menjadi tunangannya.

•••

tiga-puluh menit perjalanan Chanyeol tempuh dari kantor menuju rumah Baekhyun, ia memakirkan mobilnya di depan garasi rumah minimalis dan keluar dari mobil.

Ia mengetuk pintu beberapa kali lalu pintu terbuka menampakkan seorang wanita berpakaian formal. "selamat datang tuan park, tuan muda baekhyun menunggu anda di teras belakang" si pelayan memberi informasi dimana Baekhyun berada. Chanyeol masuk ke dalam rumah lalu berjalan menuju tempat yang diberitahu oleh pelayan tadi.

Laki-laki jangkung melihat punggung orang yang menunggunya duduk di kursi kayu panjang, ia menghampiri orang tersebut dan langsung duduk disebelah.

"hai" sapa Chanyeol.

Baekhyun melirik ke Chanyeol sebentar lalu kembali berubah menatap ke depannya. "kau terlambat"

"bukannya kau tidak menetapkan jam berapa aku harus datang?"

"aku sudah menetapkan tetapi kau mematikan panggilanku duluan, itu salahmu" jawab Baekhyun datar, masih tidak menatap orang disebelahnya.

Chanyeol mendengus, "ya ya aku salah" dia bukan bermaksud ingin mengalah kepada Baekhyun, tetapi ia hanya menerapkan seorang Alpha sejati akan selalu menghormati Omeganya.

"jadi ada perlu apa? kalau membahas tentang pertu-"

"aku tidak mau membahas pertunangan itu, aku hanya ingin memberikan ini" Baekhyun mengambil sebuah kotak kecil yang ada disebelah kirinya, menyerahkan benda itu ke Chanyeol.

Chanyeol mengambil hadiah dari Baekhyun sambil melongo, "tumben sekali...apakah ini surat pembatalan pertunangan?" dia mengguncang kotak hadiah itu dan terdengar bunyi menabrak-nabrak disana. Didalam sana pastilah benda.

"aku buka ya." Baekhyun mengangguk, "terserah kau saja"

Chanyeol membuka pita yang merekat dan membuka perlahan tutup kotak kecil tersebut.

Sebuah test-pack dengan dua garis lalu sepucuk kartu ucapan selamat untuknya.

"the fuck?! siapa yang hamil?" Chanyeol yang terkejut bertanya kepada laki-laki Omega didepannya.

Baekhyun mengetuk-ngetukkan dagunya, berpikir, "kira-kira siapa yang hamil?" omega itu menanyai balik.

Chanyeol terbengong sembari menatap test-pack yang ada ditangannya, banyak pertanyaan muncul dibenaknya, siapa yang hamil? kenapa hadiahnya diberikan kepada Chanyeol? apakah-

Laki-laki berstatus Alpha membulatkan matanya yang sudah bulat, menatap Baekhyun kemudian menatap test-pack, ia melakukan hal itu berulang kali dan menyadari jawabannya sudah berada didepan.

Baekhyun-lah yang hamil.

"kau...hamil?" Terdapat intonasi ragu disuara yang Chanyeol keluarkan.

Baekhyun menyeringai, "selamat menjadi Ayah kalau begitu"

"THE FUCK BAEK?! WHAT THE FUCK! KAU BERCANDA BUKAN?" Chanyeol menyentak kedua bahu Baekhyun, mencari kebohongan dikedua mata coklat si laki-laki Omega.

"apakah aku daritadi tertawa, park? ini salahmu sialan" akhirnya Baekhyun mengeluarkan satu umpatan kepada si pelaku. Chanyeol mengacak rambutnya frustasi, "masalah satu belum selesai dan kau kembali menambahkannya"

Baekhyun seketika berdiri berkacak pinggang, raut marahnya tercipta. "apa kau bilang! salahku? hey, bukankah kau yang memerkosaku. Tidak ingat kejadian yang lalu huh? haruskan aku menamparmu seratus kali agar kau ingat, dasar alpha brengsek" unek-unek si bermata sipit akhirnya keluar, ia tidak terima kalau semua kejadian yang menimpa Chanyeol dengannya adalah murni dari kesalahan Baekhyun.

Mungkin laki-laki itu berpikir kalau Baekhyun bercinta dengan dirinya sendiri sampai-sampai sebuah janin tercipta diperut sang Omega.

"jadi ini tidak bercanda? ini serius?" Chanyeol kembali memastikan.

Baekhyun menggertak giginya, "jika kau tidak ingin bertanggung jawab janin ini akan aku gugurkan saja" omega itu marah. Sangat marah, dilihat dari wajahnya yang merah juga intonasi suara semakin meninggi.

"oke, aku akan bertanggung jawab. jangan gugurkan kandunganmu, kita akan merawatnya bersama-sama" Chanyeol kembali pasrah, hidupnya sekarang sama seperti peribahasa,

sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Ia sekarang memasrahkan hidupnya kepada Tuhan dan Baekhyun.

"bagus kalau begitu, ayo kita umumkan kepada orang tua kita" dari wajah Baekhyun yang memerah marah malah berubah menjadi ceria, intonasinya pun kembali seperti biasa. Laki-laki mungil itu berjalan meninggalkan Chanyeol menuju ke dalam rumahnya. Tak menunggu lama, Chanyeol mengikutinya dari belakang dalam diam.

•••

Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam, terdapat dua keluarga yang berada diruang tamu, sesuai dengan permintaan Baekhyun tadi siang untuk mengumumkan kehamilannya dengan orangtua Chanyeol serta Baekhyun.

Baekhyun berdiri dari sofa, "umm...Ayah Ibu dan Tuan Park juga Nyonya Park. ada yang ingin aku umumkan kepada kalian" yang dipanggil mengalihkan atensi mereka kepada si laki-laki Omega. Menatapnya bingung juga penuh penasaran.

Chanyeol? Daritadi dia hanya diam menyimak, tidak berkeinginan untuk bergabung mengobrol. Bahkan sekarang Baekhyun sebentar lagi akan membuat pengumuman penting. Entah bagaimana nasib Chanyeol setelah Ayah dan Ibu Baekhyun tahu ia tidak sengaja membobol putra satu-satunya mereka.

"aku...ummm..aku...-" Baekhyun mulai gugup.

"kenapa gugup? ayo beritahu kami baekkie, Ibu penasaran" Ucap Ibu Byun tidak sabaran.

"aku hamil"

Suasana hening, empat orang paruh baya yang menatap Baekhyun mengedipkan mata mereka berkali-kali, berpikir kalau mereka mungkin di alam mimpi.

"bi-bisakah kau ulangi perkataan itu sekali lagi sayang?" Ibu Park meminta sopan.

"aku hamil, ia berumur satu minggu lebih dua hari" Kembali Baekhyun umumkan diikuti senyuman manis, seakan ia bilang kalau ia baru saja membeli satu kotak besar cheesecake stroberi.

Ayah Byun geram, ia mencengkeram kerah Chanyeol. Matanya memerah marah, "kau apakan putraku hah?! kalian bertunangan bukan berarti kau sudah bisa membobolnya!" teriak laki-laki paruh baya itu.

Chanyeol diam, ia tidak akan memberikan ucapan pembelaan untuk dirinya. Semua ini memang salahnya. Oh, lebih tepatnya Alpha yang ada didalam dirinya.

Ayah Park memisahkan kepala keluarga Byun dari anaknya. Berusaha menjadi pihak netral walaupun kecewa membucah dalam dirinya. "tidak baik menyelesaikan dengan amarah-" Tuan Park menatap sang Anak, "kau sudah tahu konsekuensi yang kau dapatkan bukan?"

Chanyeol mengangguk.

"bagus, kita membatalkan pertunangan ini" Baekhyun dan Chanyeol menatap kaget laki-laki paruh baya bermarga Park.

"kenap-"

"dua minggu lagi mereka akan menikah, ini adalah keputusanku" Pernyataan kembali Tuan Park keluarkan sebelum istrinya menyelesaikan ucapannya.

"aku setuju" Tuan Byun mengikuti keputusan sahabatnya, Nyonya Park dan Byun mengikuti keputusan suaminya.

Baekhyun kembali tersenyum, "jadi aku akan menikah dengan Chanyeol?" laki-laki Omega itu bertanya.

"ya kau akan menikah dengannya"

"yeay! menikah dengan Chanyeol" tiba-tiba Baekhyun memeluk Chanyeol yang berada didepannya. Ia memeluk laki-laki jangkung itu erat dan menghirup aroma yang dikeluarkan calon suaminya.

Chanyeol melongo dipelukan Baekhyun, kelakuan Byun kembali berubah seratus-delapan-puluh derajat. Ia bingung harus membalas pelukannya atau tidak.

Ia memilih diam saja.

"ah~ lucunya anakku senang akan pernikahannya" Ucapan gemas Nyonya Byun mendapat senggolan keras dari laki-laki yang berstatus suaminya. Berdeham keras, masih menatap putra satu-satunya mereka.

"aku juga ingin membuat keputusan" Tuan Byun bersuara. Baekhyun yang masih memeluk Chanyeol menatap Sang Ayah.

"aku ingin...mereka berdua tidak bertemu sampai hari pernikahan tiba" Raut wajah Baekhyun berubah menjadi masam.

"tidak! aku tak mau, aku ingin bersama Chanyeolku terus. Ayah~~jangan seperti ini" Putra satu-satunya keluarga Byun itu merengek dengan mata berkaca-kaca. Mengeratkan pelukannya, tidak ingin melepaskan laki-laki dipelukannya.

Mau tahu reaksi Chanyeol? Ia biasa saja, tidak bertemu Baekhyun tidak akan memberi efek apapun dalam hidupnya.

"apa kau ingin berpisah denganku Chanyeol? tidak kan? iya kan? iya?" Baekhyun menatap Chanyeol dengan puppy eyesnya.

Dan Chanyeol adalah makhluk Tuhan yang lemah akan sesuatu menggemaskan, termasuk hal yang dilakukan laki-laki didepannya.

"ah-um...ya" Baekhyun memekik senang akan jawaban Chanyeol. ia mendelik ke arah Ayahnya, "ayah lihat bukan, chanyeol tidak ingin berpisah denganku"

Tuan Byun menggaruk lehernya yang tidak gatal, Baekhyun baru saja mendelik kearahnya dan itu baru pertama kalinya. Mungkinkah fase kehamilan? atau pengaruh Chanyeol? ah, entahlah, mungkin ia harus mengalah untuk sang Anak.

"ck, baiklah kalau itu maumu. Ayah akan menurutinya"

"yey! aku mencintaimu" Baekhyun beralih dari Chanyeol menuju sang Ayah, memeluk pria paruh baya itu erat sembari mencium pipinya. Hal yang sudah jarang Baekhyun lakukan sejak menganggap dirinya dewasa.

"oh ya Tuhan, anakku kembali menjadi menggemaskan. Ayo cium Ibu" Baekhyun beralih lagi ke Ibunya, mendapat hujan ciuman dari perempuan yang berjasa untuk membawanya ke bumi.

Tuan dan Nyonya Park tersenyum melihat interaksi keluarga Byun.

"aku pikir aku dan istriku harus kembali sekarang" Tuan Park bersuara. Ia dan Istrinya bangkit dari sofa, diikuti oleh Chanyeol.

"aku ingin chanyeol menginap disini" baekhyun memohon, ia menatap Chanyeol kembali tetapi laki-laki itu mengalihkan pandangannya.

"aku tidak bisa, ada urusan mendadak dikantor. Lain kali saja ya?" tolak Chanyeol halus, ia memang memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum Ayahnya mengamuk dahulu.

Baekhyun cemberut, "ya terserah" jawabnya singkat.

Chanyeol tahu laki-laki itu bad mood, tapi apa yang harus dirinya lakukan? Diam lebih baik.

"tidak apa Chan, menginaplah disini. Baekhyun sedang hamil dan kau harus menuruti permintaan orang yang hamil agar anakmu tidak berliuran" Ayah Park menyuruh sang Anak untuk menginap.

Chanyeol menatap Ayahnya, "pekerjaan kantor bagaimana"

"biarlah aku yang mengurus, sampai jumpa besok" Tuan Park menepuk pundak Anaknya.

"Chanyeol menginap?" Tanya Baekhyun, dijawab anggukan Chanyeol.

"hore~Chanyeol menginap" Baekhyun bertepuk tangan senang, kelakuannya sekarang lebih mirip anak umur lima tahun.

Maklumi saja, orang hamil memang sifatnya akan berbeda dari asli.

•••

Baru tiga jam ia memutuskan untuk menginap dirumah Baekhyun, sekarang ia menyesali keputusannya. Bagaimana tidak, kalau Baekhyun sekarang manja sekali kepadanya dan tidak mau lepas sedetik pun darinya.

Chanyeol ingin segera matahari terbit tiba agar ia bisa keluar dari rumah ini. Menghindari Baekhyun.

Seperti sekarang, ia harus membacakan Baekhyun dongeng 'Putri Salju dan Tujuh Kurcaci' supaya Omega itu tertidur. Memang permintaannya sederhana, tetapi laki-laki Omega itu meminta berulang kali saat Chanyeol telah habis membacakan ending dongengnya.

Tolong Chanyeol! Ia butuh air minum karena tenggorokkannya sudah tidak mampu mengeluarkan suara lagi.

"dan akhirnya putri salju bersama pangerannya hidup bahagia selamanya" Chanyeol menoleh ke samping kanan, laki-laki itu sudah memejamkan matanya.

Chanyeol melambaikan tangan tepat diwajah Baekhyun dan tidak ada reaksi. Laki-laki itu sudah terlelap.

Ia mendesah lega, meletakkan buku dongeng dinakas, lalu berdiri perlahan dari ranjang -ia takut membangunkan Baekhyun- dan keluar dari kamar menuju dapur. Tenggorokannya dehidrasi.

Chanyeol meneguk segelas air putih sampai habis tak tersisa, ia mendesah lega merasakan tenggorokkannya tidak sesakit tadi.

"belum tidur?" Chanyeol tersentak kaget mendengar suara dari belakangnya.

Itu Ayah Byun.

"ah ya, saya haus jadi ke dapur untuk minum" Jawabnya canggung.

"Baekhyun sudah tidur?" Chanyeol mengangguk, "ia baru saja tidur setelah saya bacakan dongeng yang ketujuh kalinya"

Ayah Baekhyun terkekeh, "maklumin saja kelakuannya, ia sedang hamil. Percayalah, menghadapi orang hamil itu susah dan senang" ia mulai memberikan petuah kepada calon menantunya.

"susah karena ngidam yang tidak masuk akan dan senang karena kau menikmati prosesnya sebelum menjadi ayah seutuhnya. Buatlah Baekhyun seperti orang hamil yang sangat bahagia didunia"

"saya akan melakukannya" Chanyeol berkata dengan penuh penekanan.

"aku pegang janjimu. Tidurlah, sudah larut." Chanyeol membungkuk hormat sebelum meninggalkan calon mertuanya didapur.

Ia kembali ke kamar dan menemukan Baekhyun yang terduduk sembari mengusap mata sayunya dengan punggung tangan.

"aku kira kau pergi" ucap Baekhyun serak.

"tidak, ini sudah malam sekali aku tidak bisa pulang" Chanyeol duduk disamping Baekhyun. "kenapa bangun?" ia bertanya.

"aku menginginkan tteoboki teman paman guan" Chanyeol membeku, ia benar-benar harus menghadapi masa idam ibu hamil sekarang juga?

ia harus membeli obat tidur mulai saat ini.

TBC


Special Thanks to,

byunsuci25, khakikira, park chan2, timsehunnie, ByunB04, 6104forever, Kiyoshikey, khaleesi7kingdoms, milkybaek, fatihah kim, Kikipanzer, Qeen'simprintee, baekinibottom, restikadena90, Narin.s, Nurfadillah, ssuhoshnet, Chanyeoltidakmesum, Baekhill, akagamishimura27, SHINeexo, Guest


A.N.

yaps, Chanyeol akan menghadapi Baekhyun yang hamil~~ apakah aku harus buat konflik untuk menambah rasa pedas diantara manis-manis ini? hehehehe. Jangan lupa REVIEW supaya aku semangat ngelanjutin ceritanya~.