Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M

Genre : Tragedy, hurt/comfort, fantasy

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

Selamat membaca!

Golden Cage

Chapter 10 : Kerajaan Ame

By : Fuyutsuki Hikari

Siang itu, suara derap kuda terdengar bergemuruh membelah Ibu Kota Kerajaan Ame. Penduduk setempat segera menghentikan kegiatannya saat melihat bendera yang dibawa oleh beberapa prajurit berkuda yang melintas. Mereka membungkuk, menundukkan kepala dalam, mengerti akan arti dari simbol bendera yang berkibar tertiup angin; lambang dari Putra Langit- Kaisar Kerajaan Ame.

Tiga puluh menit kemudian, rombongan itu pun tiba di ambang pintu istana kekaisaran bertembok tinggi berwarna merah. Prajurit penjaga segera membuka pintu ganda yang merupakan gerbang istana, dua buah patung batu berbentuk Kirin mengapit di sisi kiri dan kanan pintu ganda tersebut.

"Yang Mulia Kaisar tiba!" teriak salah satu prajurit istana mengabarkan kedatangan Putra Langit. Satu batalion prajurit segera berjajar rapi di sepanjang jalan masuk menuju istana. Mereka segera berlutut, menghaturkan hormat saat kereta kuda yang ditumpangi Fugaku berderak melewati gerbang istana.

Mendengar kabar mengenai kepulangan kaisar, Itachi segera memerintahkan beberapa pegawai pemerintahan, kasim, serta dayang untuk menyambut kedatangan ayahnya itu. Itachi sedikit kaget saat mendapati sedikit kekacauan dalam rombongan yang membawa ayahnya. Ia tersentak saat melihat dua orang prajurit membawa seseorang yang terbaring di atas blankar. Dan ia lebih kaget saat melihat empat ekor serigala meloncat turun dari atas kereta kuda dan berlari mengikuti langkah dua orang prajurit pembawa blankar.

"Itachi memberi hormat pada Ayahanda Kaisar!" ujarnya saat Fugaku berjalan penuh keagungan ke arahnya.

Kaisar Ame itu hanya melambaikan tangan, memerintahkan Itachi dan semua orang yang menyambutnya untuk berdiri. "Bagaimana keadaan Permaisuri?" tanyanya dengan ekspresi serius dan cemas. Ia terus berjalan saat mengatakannya, sementara Itachi, Sasuke dan Sai mengikutinya dari belakang.

"Tadi malam Ibunda Permaisuri sudah siuman," jawab Itachi penuh kelegaan. "Tabib istana mengatakan jika kesehatan Ibunda sudah berangsur membaik. Beliau sudah melewati masa kritisnya."

"Begitu?" sahut Fugaku, terdengar menghela napas lega. Pria itu lalu menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, lalu berbalik, matanya mencari Shikaku. "Shikaku?!" panggilnya kemudian.

Shikaku bergerak, berjalan ke depan kaisar lalu membungkuk dan menjawab penuh hormat. "Hamba, Yang Mulia."

"Aku menugaskanmu untuk mengobati Kitsune, segera laporkan perkembangannya kepadaku!"

"Hamba segera melaksanakan titah," jawab Shikaku, membungkuk dalam sebelum berjalan mundur dan berbalik menuju Paviliun Kirin, tempat yang sudah ditunjuk oleh Fugaku untuk merawat gadis remaja itu.

"Dan kau Hiashi?!" panggilnya kemudian, membuat Hiashi merangsak ke depan.

"Hamba, Yang Mulia."

"Pastikan semua kebutuhan untuk pengobatan Kitsune terpenuhi!" titahnya mutlak.

Hiashi mengangkat kedua tangannya, pai-pai, dan menjawab penuh hormat. "Hamba menerima titah, Yang Mulia."

Fugaku mengangguk, sebelum akhirnya kembali berjalan menuju kediaman permaisuri.

.

.

.

Hati Fugaku sangat lega saat melihat permaisurinya yang walau masih terlihat sangat pucat kini sudah mampu mendudukkan diri sembari menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Wanita itu terlihat kaget saat mendengar seruan lantang seorang kasim yang memberitakan kedatangan Fugaku ke kediamannya saat ini.

"Yang Mulia..." Mikoto berusaha bangun, untuk menyambut kedatangan Fugaku, namun dengan cepat Fugaku menahannya untuk tetap duduk di atas ranjang.

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan suara lemah lembut. Melihat guratan lelah di wajah permaisurinya membuat hatinya merasa bersalah. Ia tahu, dia sudah berperilaku tidak adil terhadap istrinya ini, dan dia berjanji untuk memperbaikinya. "Kau harus istirahat," tambahnya seraya menarik selimut hingga sebatas perut Mikoto.

Mikoto tersenyum lembut, terharu dan merasa beruntung mendapat perhatian berlimpah dari suaminya saat ini. "Maaf, hamba tidak menyambut Anda dengan sepantasnya," ujarnya tulus. "Dan karena hamba juga perjalanan Anda terganggu."

"Coba lihat Ibu kalian!" keluh Fugaku dengan gelengan kepala pelan. "Dia masih memikirkanku dalam kondisi seperti ini." Fugaku menghela napas panjang, lalu melirik ke arah tabib yang berdiri di sisinya. "Apa kau sudah mengetahui penyakit Permaisuri?" tanyanya pada tabib.

"Lapor, Yang Mulia." Tabib itu membungkuk dalam. "Permaisuri kurang istirahat, terlalu banyak pikiran hingga menguras emosinya. Hal itu berdampak besar pada kesehatannya, hingga akhirnya Permaisuri tidak sadarkan diri."

"Apa yang kau pikirkan, Permaisuri?" tanya Fugaku, membuat Mikoto terdiam. "Katakan padaku!" perintahnya, dengan suara lembut. "Baiklah jika kau tidak mau menjawab. Sekarang, aku sendiri yang akan merawatmu. Mana ramuan obatnya?" tanyanya pada tabib.

Melihat interaksi orangtuanya, baik Itachi, maupun Sasuke sama-sama bersyukur di dalam hati. Melihat ibunya bahagia karena perhatian kecil yang ditunjukkan oleh ayah mereka, turut membuat keduanya gembira. Merasa menjadi pengganggu, keduanya pun memilih untuk undur diri, meninggalkan kedua orang tua mereka, memberi keduanya waktu untuk bersama.

.

.

.

Sasuke baru saja hendak berbelok menuju kediamannya saat melihat seorang kasim berlari kencang menuju ke arahnya. Kasim itu segera membungkuk untuk memberi hormat saat berpapasan dengannya. "Kenapa kau berlarian seperti itu?" tanya Sasuke dengan aura menakutkan.

Kasim bertubuh pendek itu menelan air liurnya, jantungnya berdetak kencang, napasnya semakin memburu, nyalinya ciut saat mendapat tatapan tajam dari Sasuke. "Lapor, Pangeran Keempat," ujarnya dengan napas keras. "Hamba diperintahkan oleh Tabib Nara untuk mencari penjinak hewan."

Satu alis Sasuke terangkat mendengarnya. "Apa maksudmu?"

"Lapor, Pangeran Keempat. Serigala-serigala milik Nona yang terluka itu tidak mau pergi dari sisi Nona itu. Mereka menyalak setiap kali tabib hendak mendekati Nona," lapornya dalam satu tarikan napas.

"Kalau begitu cepatlah pergi! Sementara aku akan melihat apa aku bisa membantu di sana," tukas Sasuke, yang segera memutar arah menuju Paviliun Kirin.

"Pangeran Keempat tiba!" seru penjaga gerbang Paviliun Kirin saat Sasuke melangkah masuk. Shikaku yang mendengarnya segera keluar dari dalam kamar untuk menyambut kedatangannya. Sasuke melambaikan tangan ke arah Shikaku yang hendak memberikan salam. "Aku mendapat laporan jika serigala-serigala itu tidak mau meninggalkan nonanya." Katanya, tanpa basa-basi.

"Benar, Pangeran Keempat." Jawab Shikaku terdengar menyesal. "Serigala-serigala itu membuat hamba sulit mendekati Nona Kitsune. Padahal kita harus segera mencabut pisau itu dari dada Nona Kitsune."

Tanpa banyak bicara, Sasuke melangkah menuju kamar Naruto. Benar saja, dua ekor serigala meringkuk di kaki gadis remaja itu, sementara dua ekor sisanya dengan posisi siaga berdiri galak di bawah ranjang.

"Apa yang kalian lakukan?!" bentak Sasuke pada keempat serigala itu. "Sikap kalian hanya akan memperburuk kondisi Nona kalian," tambahnya. "Ijinkan mereka merawatnya," Sasuke menunjuk ke arah para tabib yang berdiri berjajar di sampingnya. "Dan kalian, ikut denganku sekarang juga!" perintahnya mutlak.

Sejenak keempat serigala itu terdiam, seolah mengerti maksud perkataan Sasuke, dengan patuh keempatnya berjalan mengikuti pria itu keluar dari dalam kamar. "Kerjakan tugasmu dengan baik!" perintahnya yang kini ditujukan pada Shikaku.

Shikaku membungkuk dalam, memberi hormat sebelum akhirnya memberikan perintah-perintah tegas pada tiga orang tabib lain yang bersamanya untuk mengobati Naruto.

.

.

.

Sore harinya, Fugaku ditemani oleh Hiashi datang ke Paviliun Kirin untuk melihat kondisi Naruto. "Bagaimana keadaannya?" tanya Fugaku pada Shikaku yang terlihat sibuk menusukkan jarum-jarum akupuntur pada titik-titik tertentu di tubuh Naruto.

Shikaku berlutut, menekuk salah satu kakinya untuk memberi hormat. "Lapor, Yang Mulia, pendarahannya sudah berhasil dihentikan. Lukanya pun sudah selesai diobati."

"Kapan dia akan siuman?" tanya Fugaku dengan kernyitan dalam.

Shikaku masih menundukkan kepala dan kembali menjawab, "hanya tinggal menunggu waktu hingga dia siuman."

Fugaku menghampiri tempat tidur Naruto. Gadis itu masih demam. Sesekali, Naruto juga mengigau. Igauannya terkadang terdengar jelas, hingga Fugaku sedikit tercengang saat mendengarnya untuk pertama kali.

"Jangan! Jangan cambuk Ibunda! Mohon Ayahanda berbaik hati," igau Naruto dalam ketidaksadarannya.

"Dia terus mengigau hal yang sama," lapor Shikaku, masih dengan kepala menunduk.

"Mengigau hal yang sama?" beo Fugaku pelan. Dia melap dahi Naruto yang berkeringat dengan ujung pakaian sutranya. "Apa yang sebenarnya kau alami selama ini?" tanyanya setengah berbisik.

Ruangan itu kembali senyap untuk sejenak, sebelum Shikaku kembali bicara dengan nada satu oktaf lebih rendah. "Maaf, Yang Mulia. Hamba ingin melaporkan hal lain mengenai Nona Kitsune," ujarnya, membuat kedua alis Fugaku bertaut.

Mengerti maksud dari Shikaku, Hiashi segera memerintahkan dayang-dayang yang berada di dalam kamar itu untuk keluar, memerintahkan dua orang prajurit untuk berjaga di depan pintu, sebelum akhirnya ia menutup pintu tersebut dengan perlahan.

"Apa yang ingin kau laporkan?" tanya Fugaku.

Shikaku mengambil selembar kertas yang disembunyikan dibalik lengan pakaiannya, lalu menyerahkannya kepada Fugaku.

"Apa ini?" tanya Fugaku saat melihat sebuah simbol yang digambar menggunakan tinta berwarna hitam dan terlukis di atas kertas buram di tangannya. "Simbol apa ini?" tanyanya lagi, sembari menyerahkan kertas itu pada Hiashi.

"Lapor, Yang Mulia. Nona Kitsune memiliki simbol tersebut di bahu sebelah kanannya." Jawabnya.

"Tanda lahir?"

"Awalnya hamba berpikir seperti itu," jawab Shikaku. "Namun sepertinya simbol itu bukan tanda lahir biasa."

"Apa maksudmu?" tanya Fugaku lagi.

Sejenak Shikaku terdiam, memilih ucapannya dengan hati-hati. "Lingkaran yang mengelilingi tanda lahirnya, terlihat janggal."

Fugaku semakin menekuk wajahnya, bingung. "Maksudmu?"

"Lingkaran yang mengelilinginya berwarna merah-keemasan." Jawab Shikaku. "Jujur saja, hamba baru pertama kali melihat simbol seindah itu."

"Perlihatkan padaku!" titah Fugaku mutlak.

Dibantu oleh Hiashi, Shikaku menyibak pakaian yang dikenakan oleh Naruto untuk memperlihatkan simbol yang terdapat di bahu kanan remaja itu. Baik Fugaku maupun Hiashi terlihat sama terkejutnya.

"Simbol apa itu?" tanya Fugaku dengan kernyitan dalam, tanpa bisa menutupi nada terkejutnya. Fugaku menoleh ke arah Hiashi dan bertanya, "apa kau tahu arti simbol itu, Hiashi?"

Hiashi terdiam, memasang pose berpikir. "Hamba pernah melihat tanda lahir yang menyerupainya di dalam buku klan-klan besar, namun hamba harus mempelajarinya lebih lanjut. Jika benar dugaan hamba, Nona Kitsune merupakan keturunan dari salah satu klan besar, Yang Mulia."

"Segera selidiki, dan laporkan hasil penyelidikkanmu padaku!"

"Hamba menerima titah, Yang Mulia." Jawab Hiashi penuh hormat.

"Dan ingat," seru Fugaku tiba-tiba. "Hal ini harus menjadi rahasia. Perintahkan semua orang yang sudah melihat simbol ini untuk menutup mulut mereka. Jika hal ini tersebar luas, aku tidak akan segan-segan memancung kepala mereka yang tidak bisa menjaga lidah!"

.

.

.

Sementara itu, di Istana Konoha, Kurama duduk di samping tempat tidur ayahnya. Tatapannya tertuju pada wajah Minato yang kini tertidur pulas. Kondisi kesehatan ayahnya semakin memburuk setiap harinya, wajahnya semakin tirus, rambut pirangnya terlihat kusam. Minato terlihat jauh lebih tua dari usianya yang sebenarnya. Hal ini tentu saja membuat Kurama was-was sekaligus takut secara bersamaan.

Tapi, yang membuatnya tidak habis pikir, para tabib istana seolah kehilangan keahlian mereka untuk menyembuhkan penyakit sang Kaisar. Hingga akhirnya desas-desus pun berkembang semakin hebat di dalam istana, desas-desus yang mengatakan jika Kaisar mereka telah diguna-guna menggunakan ilmu hitam.

Pada awalnya Kurama tidak terlalu ambil peduli akan desas-desus tersebut. Namun lambat laun, batinnya bergejolak. Jika para tabib tidak dapat menemukan penyakit di tubuh kaisar, maka hal terakhir yang patut dicurigai adalah ilmu hitam.

Kurama tidak tahu siapa yang harus dicurigainya. Setiap orang di dalam istana ini memiliki motif, kepentingan pribadi yang bisa menjadikan mereka sebagai tersangka. Ia tentu saja tidak menunjukkan kecurigaannya itu secara terang-terangan. Dengan lihai dia bersandiwara, mengatakan jika penyebab Minato sakit adalah karena penyakit rindu yang teramat sangat terhadap Kushina dan Naruto.

Dia tidak mau jika si pelaku merasa terancam. Oleh karena itu dengan lihai dia terus mengatakan kebohongan perihal penyakit ayahnya, menekan para tabib untuk mengatakan hal yang sama, sementara dibalik itu dia meminta Kakashi mencari pelaku.

Malam sudah semakin larut saat Kakashi datang melapor ke hadapannya. "Berita apa yang kau bawa?" tanyanya dari kursi kerjanya. Ruang kerja Minato minim cahaya saat ini, hanya ada nyala api dari beberapa lilin yang menjadi penerang di dalam ruangan itu.

"Kami menemukan ini terkubur tepat di depan gerbang Paviliun Kaisar," jawab Kakashi. Pria itu meletakkan sebuah boneka kain kumal yang terlihat menakutkan bertulis nama kaisar dengan jimat-jimat menempel di sekeliling boneka tersebut. "Hamba juga memerintahkan untuk menggali di depan kediaman Anda, Pangeran, secepatnya kita akan mendapatkan laporan."

Kurama menggenggam erat boneka terkutuk itu, dengan mata berkilat marah dia menatap boneka di tangannya. "Kau sudah mendapat siapa pelakunya?"

"Kami berhasil menangkapnya," jawab Kakashi, membuat Kurama gemertuk menahan marah terhadap si pelaku. "Sayangnya dia bunuh diri, sesaat setelah tertangkap."

"Sial!" maki Kurama kesal.

"Pelaku mengenakan pakaian prajurit Konoha, tapi hamba tidak mengenalinya. Hamba putuskan untuk mengikutinya secara diam-diam saat dia berjalan berkeliling Paviliun Kaisar, dan hasilnya tidak mengecewakan. Pria itu terlihat menggali sesuatu. Dan hamba menemukan boneka itu di dalam lubang yang sedang dia gali dan menemukan jimat-jimat kutukan di balik pakaiannya. Sepertinya dia ditugaskan untuk memasukkan jimat-jimat tambahan ke dalam lubang tersebut."

"Jika dilihat dari kondisi boneka ini, kurasa boneka ini sudah dikubur cukup lama di dalam lubang itu," kata Kurama. Dia memasukkan boneka itu ke dalam periuk kecil yang terbuat dari kuningan, lalu ia pun membakar boneka tersebut di dalamnya.

"Apa penjahat itu berasal dari istana?"

"Saya sudah menyelidikinya, pria itu bukan berasal dari istana. Dari simbol yang dimilikinya, saya yakin jika penjahat itu berasal dari suku penyihir hitam yang selama ini kita kira sudah musnah.

"Seseorang menggunakan jasanya untuk mengguna-gunai Ayahanda Kaisar," gigi Kurama gemertuk keras saat mengatakannya. "Otak dibalik kejahatan ini pasti akan mengatur rencana baru. Dan entah kenapa hati kecilku mengatakan jika dia sangat dekat, Kakashi. Hati kecilku mengatakan jika aku mengenalnya dengan sangat baik."

.

.

.

Dua hari berlalu setelahnya.

Siang ini, Fugaku sengaja memerintahkan Hiashi untuk datang menghadap ke ruang kerja pribadinya. "Bagaimana, perdana menteri, apa kau sudah bisa menemukan arti dari simbol di bahu Kitsune?"

"Lapor, Yang Mulia," jawab Hiashi tenang. "Simbol yang terdapat pada bahu Nona Kitsune menyerupai tanda lahir keluarga Uzumaki." Sejenak ia terdiam, sebelum akhirnya kembali bicara dengan nada tidak yakin. "Namun hamba kurang yakin mengenai lingkaran merah keemasan yang melingkarinya."

"Apa yang membuatmu tidak yakin?" tanya Fugaku dengan kening berkerut.

"Lingkaran merah keemasan yang mengelilingi tanda lahirnya, seperti simbol perlindungan milik feniks."

Fugaku mengernyit. "Feniks tidak pernah terlihat lagi dalam ratusan tahun belakangan ini," ujarnya dengan nada suara berat. Pria itu terdiam sejenak, memasang pose berpikir lalu kembali bicara. "Apa menurutmu gadis itu berada dalam perlindungan feniks?"

Hiashi menunduk dalam. "Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak bisa menjawab pertanyaan Anda. Hamba sendiri merasa tidak yakin, jawaban yang hamba berikan mungkin terdengar tidak masuk akal."

"Katakan!"

"Sebenarnya, selama perjalanan, saya terus memperhatikannya. Caranya bersikap, berbicara, jelas mengatakan jika dia bukan orang biasa. Dia memang berusaha menyembunyikannya, namun sesuatu yang sudah mendarah daging tentu akan sulit untuk disembunyikan," jelas Hiashi dengan hati-hati. "Hamba yakin jika gadis ini masih keturunan Uzumaki. Hamba tidak bisa menebak apa yang terjadi padanya hingga dia bisa mendapat tanda dari feniks."

"Aku tidak pernah mendengar keturunan Uzumaki memiliki bola mata berwarna safir."

"Ada, Yang Mulia," sahut Hiashi membuat Fugaku menoleh dan menatapnya lekat. "Putri Naruto, dia keturunan Uzumaki dengan bola mata berwarna safir."

Fugaku berbalik, untuk menatap Naruto. "Bukankah Putri Naruto memiliki warna rambut pirang seperti Kaisar Minato?"

"Benar," sahut Hiashi. "Namun sihir feniks bisa menyembunyikannya dengan baik."

"Jika pemikiranmu itu benar," ujar Fugaku masih menatap wajah Naruto yang terlelap tidur. "Gadis yang menyelamatkanku merupakan putri dari wilayah yang tidak bisa kita taklukkan?"

Hiashi terdiam.

"Apa yang harus aku lakukan, Hiashi?"

"Maaf jika hamba lancang, Yang Mulia," kata Hiashi penuh hormat. "Sebaiknya kita menahannya di sini."

"Maksudmu?" tanya Fugaku dengan sebelah alis terangkat.

"Hanya orang-orang terpilih saja yang bisa bertemu dengan feniks. Sejak dulu, para Kaisar terdahulu mempercayai feniks sebagai pelindung kerajaan. Ini pertanda baik. Gadis ini seperti membawa keberuntungan bersamanya."

"Jadi, menurutmu aku harus berpura-pura tidak tahu mengenai identitas aslinya?" Fugaku menghela napas pendek, memberi sejenak jeda sebelum kembali bicara. "Kalau begitu, aku harus memikirkan cara untuk tetap menahannya di sini. Bukan begitu?"

"Hamba pikir juga begitu," jawab Hiashi tenang. "Yang Mulia, Anda harus mengikatnya di sini, di sisi Paduka," tambahnya, sementara Fugaku terdiam lama, menimang-nimang usulan dari perdana menterinya.

.

.

.

Alangkah terkejut dan senangnya Mikoto saat melihat kelopak mata Naruto mulai bergerak lambat, pagi ini. Dengan segera dia memerintahkan dayang pribadinya untuk memanggil tabib istana.

Permaisuri Ame itu segera menyingkir saat Shikaku datang. Dia mempersilahkan Shikaku untuk memeriksa kondisi gadis remaja yang sudah menyelamatkan nyawa suaminya.

Mikoto seolah melayang saat Fugaku terus mendatangi kediamannya hampir tiap malam selama satu minggu ini. Wanita itu senang bukam kepalang karena suaminya memilih untuk menghabiskan malam di pavilunnya. Mikoto merasa dirinya kembali berharga, dan layak menyandang gelar sebagai Permaisuri Ame.

Fugaku dengan detail menceritakan pengalamannya selama berada di Gurun Suna. Pria itu sangat bersyukur karena langit mengirimkan penolong untuk dia dan rombongannya. Fugaku mengatakan ketidakyakinanya bisa kembali dengan selamat jika Naruto tidak datang untuk menyelamatkan mereka.

"Aku berencana menjadikannya sebagai dayang istana," ujar Fugaku di suatu malam. Lagi-lagi Mikoto dibuat terkejut, entah kapan terakhir kali suaminya itu mengatakan mengenai keinginan dan rencana-rencana yang ada di kepalanya. Hal itu membuat Mikoto merasa kembali dihargai oleh suaminya. "Tapi aku juga merencanakan hal lain untuk anak itu," tambah Fugaku dengan ekspresi serius.

Mikoto tersenyum kecil, mendengarkan dengan baik sementara tangannya dengan anggun menuang teh ke dalam cangkir keramik untuk suaminya.

"Aku berhutang nyawa padanya, Mikoto. Dan dia berhak mendapatkan penghargaan besar."

Mikoto tersenyum saat mengingatnya. Gadis asing ini membuat Fugaku kembali kepadanya. Mikoto tahu jika hal ini tidak ada kaitannya, namun batinnya terus mengatakan jika perilaku suaminya itu disebabkan oleh keberadaan gadis asing ini di dalam istana.

Matanya kemudian kembali tertuju pada Shikaku yang tengah memeriksa kondisi Naruto dengan serius. "Sepertinya dia sudah mulai sadar," ujar Mikoto.

Shikaku melepaskan pergelangan tangan kanan Naruto setelah selesai memeriksa denyut nadinya. "Lapor, Permaisuri. Denyut nadi Nona Kitsune sudah berangsur normal. Hamba rasa sebentar lagi dia akan siuman."

"Syukurlah," seru Mikato penuh rasa syukur. Dia berjalan mendekati ranjang saat Shikaku dengan cekatan meracik berbagai macam tanaman obat-obatan, memasaknya di atas tungku dan membuatnya menjadi seperti sup cair berwarna hitam pekat.

"Biar aku saja yang membantunya minum obat," tukas Mikoto menawarkan diri saat Shikaku memerintahkan dua orang dayang untuk meminumkan obat buatannya pada Naruto. Tanpa banyak bicara, Shikaku menyerahkan mangkuk berisi sup obat ke tangan Mikoto.

Dengan telaten wanita itu meminumkan sup obat ke dalam mulut Naruto, dan memastikan jika Naruto menelan semua obat hingga habis.

.

.

.

Naruto mengalami mimpi yang sangat aneh. Dalam tidurnya dia bisa mencium wangi semerbak dupa yang biasa Dayang Chiyo nyalakan untuknya. Samar-samar dia bisa melihat orang-orang mengelilinginya. Dia juga bisa merasakan saat tubuhnya disuntikan jarum-jarum akupuntur.

Samar-samar juga dia mendengar suara merdu seorang wanita yang meminumkannya obat juga sup yang terasa sama pahit di lidahnya. "Sampai kapan kau akan tidur?" suara merdu wanita itu membuai pendengarannya. Suara yang membuatnya teringat pada ibunya.

Kelopak mata Naruto kembali bergerak. Sedikit demi sedikit ia membuka kelopak matanya, mencoba membiasakan diri dengan cahaya yang mengelilinginya.

"Kau sudah sadar?"

Suara merdu itu kembali di dengarnya. Dewa, dimana dia sekarang? Apa aku berada di surga? Ataukah aku berada di khayangan? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya.

Naruto mengernyit saat tatapannya bersirobok dengan Mikoto. Ia mengamati penampilan wanita yang kini sibuk memanggil tabib. Wanita itu sangat cantik walau terlihat pucat. Ia berdiri dengan punggung tegak, sementara sorot matanya terlihat lembut namun berkesan agung. Wanita itu memakai perhiasan-perhiasan mahal yang melingkar di leher, serta pergelangan tangannya. Pakaian yang dikenakannya pun sangat mewah. Wanita itu berusia sekitar empat puluh tahunan, tebak Naruto di dalam hati.

Jadi aku belum mati? Batin Naruto saat Shikaku memeriksa denyut nadinya. Dia hanya berbaring pasrah, mendengarkan penuturan tabib pada Mikoto.

"Segera laporkan hal ini pada Yang Mulia!" titah Mikoto. Naruto bisa menangkap nada senang dalam suara wanita itu saat mengatakannya.

Naruto ingin sekali bangun dari atas ranjang, namun kepalanya kembali berdenyut sakit, pandangannya menghitam dan ia pun kembali tak sadarkan diri.

.

.

.

Setelah hampir dua minggu terbaring di atas ranjang, kesehatan Naruto pun berangsur-angsur pulih.

Pagi ini, para dayang membantunya untuk berhias. Mereka membantunya memakai sepotong gaun kerajaan yang dipesan khusus oleh Mikoto. Wajahnya dibedaki, bibirnya diberi pewarna, dan pipinya diberi perona. Rambut hitam panjangnya disisir lalu disanggul dengan gaya rumit, sebuah tusuk konde giok disematkan di atas sanggulnya, dan sepasang anting mutiara dipakai untuk mempercantik telinganya.

Para dayang tersenyum, memuji kecantikan tamu paviliun mereka, sementara Naruto hanya diam, menatap pantulan dirinya di cermin.

"Nona, Anda cantik sekali," puji salah satu dayang yang tersisa, setelah ketiga dayang lainnya pamit, undur diri. Dayang itu kini sibuk menyemprotkan minyak wangi pada Naruto. "Anda terlihat seperti seorang Putri," tambahnya dengan senyum terkembang.

Aku memang seorang Putri, jawab Naruto di dalam hati. Wanita itu menundukkan kepala, menatap kedua telapak tangannya yang terlihat kasar. Namun apa pantas jika seorang Putri memiliki telapak tangan sekasar ini? tanyanya di dalam hati.

Naruto mengerjapkan mata, menatap bayangan dayang di cermin lalu berkata pelan, "dimana serigala-serigala milikku?" tanyanya.

Dayang itu menjawab penuh hormat, "serigala-serigala milik Anda berada di Paviliun Suzaku."

"Paviliun Suzaku?" beonya sembari memutar tubuhnya dengan gerakan anggun.

Dayang itu mengangguk kecil. "Benar. Sejak Anda dibawa ke paviliun ini, serigala-serigala itu terus duduk, seperti menunggu Anda untuk bangun. Kami yang berada di sini sangat takut karena mereka menyalak tiap kali ada yang mendekati Anda. Beruntung Pangeran Keempat datang dan bisa membawa keempat serigala itu bersamanya." Jelas dayang dengan panjang lebar.

Naruto berdiri, ujung gaun kerajaannya yang berwarna hijau lembut gemerisik saat ia berjalan pelan menuju jendela. Ia mendorong jendela kayu besar di depannya, membukanya lebar, membuat udara segar masuk ke dalam kamar. "Siapa nama Pangeran Keempat?" tanyanya, tanpa mengalihkan pandangannya.

Dayang itu melotot, lalu berjalan medekat ke arah Naruto dengan suara langkah keras akibat hak kayu pada sepatunya. "Anda tidak tahu nama Pangeran Keempat kami?" ia balik bertanya dengan ekspresi tak percaya.

Naruto menoleh pelan kearahnya dan menggeleng pelan.

"Nama Pangeran Keempat; Uchiha Sasuke." Jawabnya setengah berbisik. Dia ketakutan saat mengucapkan nama itu, takut jika ketidaksopanannya didengar oleh dayang yang lain. Bisa-bisa kepalanya dipacung. Dayang itu menundukkan kepala, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, lalu berkata penuh hormat.

Ah, jadi pria muda dengan ekspresi datar itu merupakan Pangeran Keempat dari Kekaisaran Ame, katanya di dalam hati.

"Apa ada hal lain yang bisa saya bantu, Nona?"

Naruto tersenyum, "tidak ada. Terima kasih untuk bantuanmu. Sekarang aku hanya ingin jalan-jalan keluar sebentar," tukasnya kemudian.

"Anda tidak bisa pergi jalan-jalan seorang diri," sahut dayang itu cepat. "Istana ini sangat luas, Anda bisa tersesat. Mohon ijinkan hamba untuk menemani Anda, Nona."

"Aku tidak akan pergi jauh," sahut Naruto masih dengan senyum yang membuatnya terlihat semakin cantik. "Aku akan kembali sesegera mungkin," tambahnya cepat.

Dayang itu terlihat gelisah mendengar permintaan Naruto. Ketakutan mencengkram dadanya, dia tidak mungkin menolak keinginan Nona asing ini, namun dia juga sangat takut karena Kaisar dengan tegas menitipkan Nona asing ini pada para dayang di Paviliun Kirin. Bagaimana ini? Pekiknya di dalam hati.

"Jangan takut!" ujar Naruto, menenangkan. Tanpa menoleh ke belakang, gadis remaja itu pun melangkah pergi, keluar dari Paviliun Kirin untuk menghirup udara segar.

.

.

.

Karena kesehatan Permaisuri Mikoto sudah lama membaik, Sasuke dan Itachi terlihat tidak sesibuk seperti dua minggu yang lalu. Biasanya setelah membantu menyelesaikan pekerjaan administrasi kerajaan, belajar sastra, berlatih ilmu beladiri, siang harinya mereka akan menghabiskan waktu lebih lama berada di Paviliun Permaisuri. Namun siang ini keduanya memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di salah saru taman istana yang berada dekat dengan Paviliun Kirin berada.

Itachi menoleh ke belakang, melihat ke arah tembok tinggi yang menjadi pagar Paviliun Kirin. "Apa kau sudah melihat keadaan gadis asing itu?" tanyanya setengah berbisik, sementara para kasim dan dayang yang mengikuti keduanya berjalan pelan dengan wajah menunduk di belakang keduanya.

Sasuke menoleh sekilas kearah Itachi dan menjawab datar. "Aku tidak memiliki kewajiban untuk menemuinya. Lagipula," Sasuke menghentikan langkahnya, mengibaskan tangan pada kasim, memerintahkan mereka untuk berhenti mengikutinya dan menunggunya di tempat ini. "Lagipula, bisa menjadi skandal jika aku menemuinya seorang diri jika tidak ada alasan kuat. Terakhir kali aku datang hanya untuk mengambil serigala-serigala miliknya." Ujarnya, setelah merasa aman jika ucapannya tidak akan terdengar oleh para kasim dan dayang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.

"Kau bisa mengajakku serta," balas Itachi tenang.

Sasuke tersenyum sinis, dan menjawab dingin, "jika itu yang terjadi, maka skandal yang dihasilkan akan jauh lebih besar."

Itachi tertawa renyah mendengarnya, lalu menyahut sembari menepuk bahu Sasuke pelan. "Tidak ada salahnya membuat skandal, kan? Hidup kita terlalu membosankan saat ini."

"Dan membuat Ibunda Permaisuri cemas?" sahut Sasuke dengan ekspresi datar andalannya.

Itachi berdeham pelan, berdecak dan menggumam, "kenapa kau selalu menganggap serius ucapanku? Aku hanya bercanda."

Keduanya kembali berjalan pelan dalam diam, hingga akhirnya Itachi kembali buka suara. "Kudengar, Ibunda Permaisuri ikut andil merawat gadis asing itu. Siapa namanya?"

"Kitsune," jawab Sasuke masih dengan ekspresi datar.

Itachi mengangguk, "ya. Kitsune. Nama yang aneh untuk seorang wanita," katanya dengan kernyitan dalam. "Ngomong-ngomong, bukankah aneh jika Ibunda harus turun tangan dalam hal ini? Setelah kesehatannya membaik dan mendengar mengenai gadis asing itu, setiap pagi, Ibunda sengaja datang ke Paviliun Kirin untuk merawat Kitsune. Aku mendapat laporan dari kasim, Ibunda sendirilah yang membantu Kitsune minum obat, terkadang beliau pula yang menyuapinya makan. Apa menurutmu itu wajar?"

Sasuke terdiam, ekspresinya terlihat datar, namun otaknya mencerna semua informasi yang disampaikan oleh Itachi. Benar. Ini sangat aneh dan diluar kebiasaan.

"Apa menurutmu Ayahanda Kaisar akan menjadikannya selir baru?" tanya Itachi dengan dengusan meremehkan. "Kenapa?" tanyanya lagi saat Sasuke mendelik ke arahnya. "Kudengar gadis asing itu sangat cantik, dan apa kau lupa, Ayahanda Kaisar berhutang nyawa padanya."

"Itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menikahi rakyat jelata itu!" jawab Sasuke dengan gigi gemertuk. "Umur Kitsune bahkan lebih muda dariku."

"Dan menurutmu itu bisa menghentikan keinginan Yang Mulia?" Itachi tertawa hambar setelahnya, namun kedua tangannya terkepal erat. Ibunya sudah sangat sabar, berbagi suami dengan begitu banyak wanita, jika kali ini beliau harus berbagi lagi, Itachi tidak tahu siapa yang harus dibencinya; gadis asing itu, ketidakberuntungan ibunya, atau takdir yang tidak bersahabat. "Ada apa?" tanyanya, sementara matanya mengikuti arah pandangan Sasuke. Itachi menekuk dahinya, tidak jauh dari tempat mereka berdiri, seorang gadis remaja berpakaian kerajaan berjalan anggun menuju taman istana. "Apa itu dia?" tanyanya penuh penekanan.

Sasuke mengangguk pelan, matanya menatap tajam Naruto yang kini duduk di atas sebuah kursi batu di pinggir kolam teratai. "Bagaimana kalau kita memberinya salam?" usul Itachi, terdengar mencemooh.

Sasuke baru saja hendak menolak, namun sedikit terlambat karena Itachi sudah berjalan dengan langkah panjang-panjang menuju tempat gadis remaja itu duduk.

"Beruntung sekali aku bisa bertemu denganmu di sini!" tukas Itachi dengan nada ramah dipaksakan. "Perkenalkan, aku; Uchiha Itachi- Putra Mahkota Kekaisaran Ame." Perlahan Naruto menoleh ke arahnya, dahinya ditekuk, tidak ada balasan senyum dari bibir merahnya saat Itachi mengulas senyum yang terlihat menawan. "Berani sekali kau tidak berdiri dan memberi hormat kepada kami!" tambahnya terdengar tajam.

Naruto tersenyum lembut, namun senyum itu bukan ditujukan untuk kedua pria muda yang berdiri di hadapannya. Ia tersenyum untuk dirinya sendiri, menertawakan takdir yang membawa dirinya kembali masuk ke dalam lingkungan istana.

Dalam diam, Sasuke memperhatikan gadis asing yang baru dikenalnya selama dua minggu. Dengan gaun kerajaan, perhiasan serta riasan wajah, gadis asing itu terlihat seperti seorang putri, pikirnya. Sekarang ia sangat yakin, ayahnya tengah merencanakan sesuatu untuk gadis asing ini, dan entah kenapa, pemikiran Itachi tadi membuatnya sedikit terganggu.

Gadis remaja itu mendelik tajam. "Aku hanya rakyat jelata yang tidak tahu aturan istana," ujarnya kalem. "Apa aku harus bersujud di depan kalian sebagai penghormatan?" sindirnya dengan nada halus.

Itachi menaikkan sebelah alisnya, di dalam hati ia bertepuk tangan atas keberanian gadis asing yang berani menatap matanya secara langsung. Itachi terperangah, saat menatap langsung kedua bola mata milik Naruto. Gadis asing di depannya itu memiliki warna bola mata yang memesona. Bola mata itu seolah menyedotnya dirinya, membuat kemarahan di dalam hatinya sedikit meredup.

"Kau pasti senang, mulai sekarang, hidupmu akan berlimpah emas, perak serta pakaian dengan kualitas terbaik," ujar Sasuke tiba-tiba, membuyarkan lamunan singkat Itachi. Nada suaranya terdengar tajam saat mengatakannya. Mengenyampingkan tata krama istana, dia mendudukkan diri di atas kursi batu di sebelah kanan Naruto, sementara Itachi mengikutinya beberapa detik kemudian.

"Yang Mulia akan terus menghadiahimu emas permata, kau pasti sangat senang," sahut Itachi, mendukung ucapan Sasuke.

"Calon selir baru Kekaisaran Ame," sindir Sasuke tajam.

"Apa?" bentak Naruto yang dengan gerakan cepat menyambar kerah pakaian kerajaan yang dikenakan oleh Sasuke. Di tempat duduknya, Itachi mengerjapkan mata, terlalu takjub akan apa yang baru saja terjadi. "Kau mau aku memotong lidahmu?" desis Naruto dengan tatapan mengancam.

Ucapan Naruto sukses membuat Itachi tergelak, pria itu bahkan harus menutup mulutnya agar tawanya berhenti saat Naruto meliriknya tajam. Itachi berdeham, menghentikan tawanya dan kembali memasang ekspresi serius. "Berani sekali kau mengancam Pangeran dari Ame. Kau sudah siap kehilangan kepala rupanya?"

Naruto menyipitkan mata dan menjawab dengan dagu terangkat. "Sikap kalian sangat pongah. Kalian ingin merasakan tajamnya pedangku rupanya?"

"Hunusan pedangmu tidak akan mengenai kami jika kepalamu sudah terlepas dari badanmu," ejek Sasuke datar. "Seharusnya kau tahu diri, kau pikir kau sedang bicara dengan siapa? Sudah mulai tinggi hati rupanya. Pikiranmu pasti melayang, terlalu senang karena berandai menjadi selir- kaisar."

"Kalian jangan main-main!" desis Naruto, mulai tidak nyaman. Menjadi selir tidak pernah ada di dalam khayalannya, terlebih menjadi selir seorang kaisar yang memiliki usia sama dengan ayahmu. Tidak. Ini mungkin hanya mimpi buruk dan akan berakhir setelah dia bangun nanti.

Sasuke menepis cengkraman tangan Naruto dari kerah pakaiannya.

"Aku hanya menginginkan kebebasanku," ujar Naruto terdengar putus asa. Keinginanya itu mengagetkan kedua pangeran yang duduk di sisi kiri dan kanannya. Remaja wanita itu memejamkan mata, mencoba mengingat bau gurun yang kini sangat dirindukannya. "Aku ingin kembali ke gurun. Hanya itu yang kuinginkan."

"Yang benar saja!" dengus Sasuke tajam.

Itachi menimpalinya dengan tawa renyah. Benar kata Sasuke. Yang benar saja. Rakyat jelata selalu memimpikan untuk bisa masuk ke dalam lingkungan istana, sementara gadis asing ini menginginkan kembali ke gurun? Naif!

"Aku tidak meminta kalian untuk percaya," balas Naruto tenang. "Berada di dalam sangkar emas ini bukan keinginanku. Bukan tujuanku." Tambahnya dengan tatapan menerawang jauh. "Suatu perintah remeh di tempat ini bisa menjadi keputusan mutlak yang paling mengerikan," tambahnya parau, membuat kedua pria muda di sampingnya menoleh ke arahnya. "Aku tidak bisa hidup di tempat yang membuatku takut setiap detiknya." Naruto menghela napas panjang, memberi jeda, lalu kembali bicara. "Perhatian Paduka, sekecil apapun itu merupakan suatu berkah sekaligus kutukan."

Ketiganya terdiam lama setelahnya. Lalu Sasuke berdiri, berjalan lebih dekat ke pinggir kolam. Diletakkannya kedua tangannya di belakang punggung, sebelum akhirnya dia membuka suara. "Jangan melakukan hal yang bodoh jika kau menginginkan kebebasanmu kembali, pikirkanlah dengan kepala dingin. Jika Ayahanda mengangkatmu menjadi selir, jangan pernah berpikir untuk melarikan diri. Hidupmu akan jauh lebih menderita jika kau nekat melakukannya. Ayahanda akan memburumu hingga waktu yang tidak bisa kau bayangkan."

Baik Sasuke dan Itachi tidak tahu mengapa kemarahan mereka pada gadis asing ini mendadak hilang. Ada perasaan aneh yang timbul diantara keduanya. Itachi merasa simpati, sementara Sasuke merasakan keinginan untuk melindungi. Aneh. Benar-benar aneh.

Tepat pada saat Naruto hendak membalas ucapan Sasuke, seorang kasim datang dengan langkah tergopoh-gopoh menuju ke arah ketiganya. "Hamba menghadap Pangeran Pertama dan Pangeran Keempat!" serunya, seraya berkowtow.

"Bangun!" perintah Itachi tegas. "Berita apa yang kau bawa?"

"Lapor, Pangeran Pertama, Yang Mulia Kaisar memerintahkan Anda, Pangeran Keempat serta Nona Kitsune untuk menghadap ke balairung istana. Para pejabat penting, Pangeran Kedua serta Pangeran Ketiga sudah berkumpul di sana saat ini. Yang Mulia Kaisar bahkan mengundang Permaisuri untuk bergabung."

"Aku juga harus datang?" pekik Naruto pelan. Entah kenapa hal ini membuatnya cemas dan gelisah. "Mungkin ada kesalahan. Rasanya tidak mungkin jika aku diminta menghadap ke balairung istana."

"Maaf, Nona!" jawab kasim itu dengan wajah menunduk. "Perintah Yang Mulia sangat jelas, Anda diperintahkan untuk menghadap sekarang juga."

"Apa lagi yang kita tunggu?" ujar Itachi tenang. "Kita hanya diminta untuk menghadap. Kenapa kau harus cemas?" tanyanya pada Naruto. "Kau bersikap seolah-olah akan dihadapkan pada alat pancung.

Mudah bagi Itachi untuk mengatakannya. Namun bagi Naruto, panggilan ini terasa jauh lebih mengerikan. Dia yakin, sangat yakin, apapun keputusan Kaisar hari ini, akan mengubah masa depannya menjadi lebih baik, atau sebaliknya.

.

.

.

Naruto terus berjalan di belakang Itachi dan Sasuke dengan keanggunan yang mencengangkan. Dia sendiri sama sekali tidak menyangka jika tata krama istana yang pernah dipelajarinya dulu ternyata masih melekat di otaknya dengan baik.

Setelah berjalan selama lima belas menit, mereka pun tiba di ambang pintu istana kekaisaran yang berwarna merah. Segala sesuatu di tempat itu memberikan kesan kekuatan, keagungan dan kekuasan. Naruto menundukkan kepala saat mereka memasuki balai yang tak berdinding. Ruangan itu disangga oleh enam buah pilar kokoh yang terbuat dari batu berwarna biru.

Itachi dan Sasuke segera memberi hormat dan segera menempati tempat mereka setelah diperintahkan oleh kaisar.

Dengan gerakan anggun dan penuh penghormatan, Naruto berjalan ke tengah ruangan. "Hamba memberi hormat pada Yang Mulia," katanya sambil membungkuk hormat.

Di singgasananya, Fugaku duduk dengan punggung tegak. Mata tajamnya mengamati setiap gerakan tubuh gadis remaja yang telah menyelamatkan nyawanya. Di sebelah kanannya, Mikoto duduk dengan pakaian kebesarannya, ekspresinya terlihat senang namun penuh misteri.

"Kitsune?!" panggil Fugaku dengan suara berat, membuat orang-orang yang berada di dalam ruangan itu semakin menundukkan kepala.

Naruto melipat kedua tangannya di atas lantai, lalu meletakkan keningnya di atas punggung tangannya. "Hamba, Yang Mulia," jawabnya dengan suara lembut.

Sikapnya jelas mengagetkan para pejabat dan pangeran yang berada di tempat itu. Bagaimana mungkin seorang rakyat jelata memiliki sikap santun seperti yang ditunjukkan oleh Naruto saat ini. Dalam hati mereka mulai bertanya-tanya, siapa gadis asing ini sebenarnya?

"Angkat kepalamu!" titah Fugaku.

"Hamba tidak berani, Yang Mulia. Hamba sungguh tidak pantas untuk menatap wajah Yang Mulia."

"Apa kau takut padaku?" tanya Sang Kaisar.

Sesaat Naruto terdiam. Dia harus memberikan jawaban dengan hati-hati. Takut terhadap kaisar sama artinya mengatakan jika kaisar seorang penguasa yang bertangan besi. Menjawab tidak takut terhadap kaisar, sama artinya dengan tidak mengakui kekuasaan kaisar.

"Maaf atas kelancangan hamba, Yang Mulia." Naruto memulai jawabannya dengan suara merdu. "Yang Mulia, Anda adalah Kaisar yang adil. Dibawah kepemimpinan Anda, negeri makmur, rakyat cukup sandang, pangan. Negeri ini jauh dari bencana, langit pastilah sangat menyayangi Anda. Apalah arti hambamu ini, bagaimana bisa hamba menatap wajah Anda, Yang Mulia?" katanya, panjang lebar. "Beribu maaf, Yang Mulia. Karena ketidakmampuan hamba, hamba tidak mengenali sosok agung Anda saat pertama kali bertemu. Hamba pantas mati."

Jawaban Naruto membuat ruangan itu sunyi senyap.

Fugaku tersenyum tipis mendengar jawaban itu. "Dengarkan titahku!" ujarnya kemudian. Suaranya menggema, membuat orang-orang disekitarnya seketika berlutut. "Mulai saat ini, Kitsune, anak rakyat jelata dari Gurun Suna, aku angkat menjadi dayang pribadiku."

Hati Naruto mencelos saat mendengar titah tersebut. Menolak sama dengan mati. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang?

"Karena pengorbanan dirinya, aku masih bisa bernapas hingga detik ini," tambah Fugaku tenang. "Oleh karena itu, aku menganugerahinya gelar bangsawan. Mulai detik ini, aku menamaimu Naruto." Pria itu sejenak terdiam, tersenyum tipis saat melihat tubuh Naruto bergetar saat ia mengatakannya. "Kitsune adalah nama saat kau menjadi gadis gurun. Dan di sini, di istana milikku ini, kau akan dipanggil dengan nama baru; Naruto." Fugaku sengaja memakai nama itu untuk memancing reaksi Naruto. Dia perlu meyakinkan dirinya sendiri mengenai identitas gadis remaja yang telah menyelamatkannya. "Apa kau tidak menyukai anugrah yang kuberikan padamu?" tanya Fugaku penuh penekanan.

"Terima kasih, Yang Mulia." Jawab Naruto dengan suara bergetar. Kenapa takdir kembali mempermainkannya? Kenapa dia harus kembali terkurung di dalam istana?

Fugaku mengangguk senang, sementara Mikoto ikut tersenyum bahagia untuk Naruto. "Permaisuri Mikoto sendiri yang akan mengajarimu tata krama istana. Dia akan mengajarimu membaca, menulis, dan kemampuan yang harus dimiliki seorang putri."

"Mohon ampun, Yang Mulia!" seru seorang pejabat istana yang merasa jika anugrah yang diberikan pada Naruto sudah melewati batas. "Dayang Naruto bukan seorang putri, mengapa dia harus mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan keputrian?"

"Karena dia akan menjadi menantuku," jawab Fugaku mutlak, membuat tubuh Naruto membeku seketika. Keputusan Fugaku ini membuat dirinya berada dalam masalah besar. Dia yakin, banyak orang di istana ini tidak menyukai keputusan akhir Sang Kaisar terhadapnya. "Saat usiamu kurasa cukup, aku akan menikahkanmu secara resmi dengan salah satu putraku."

Seorang pejabat lain yang memiliki tubuh agak gemuk segera maju, lalu membungkuk dalam. Pria itu memiliki tubuh pendek membuat jubah pakaian dinasnya menyapu lantai giok di bawahnya. "Mohon ampun, Yang Mulia." Serunya dengan nada terdengar ketakutan. Salah bicara sedikit saja bisa membuat kepalanya terpisah dari badan. "Beribu maaf, Yang Mulia, Dayang Naruto berasal dari kalangan rakyat jelata, bagaimana bisa dia menikah dengan salah satu pangeran?"

Wajah Fugaku mengeras mendengarnya. Dia menggebrak tangan kursi tahtanya yang terbuat dari giok, membuat para pejabat serta pangeran yang berada di tempat itu bersujud, memohon ampun. "Siapa yang berani menanyakan latar belakang gadis yang berjasa menyelamatkan nyawaku?" raungnya marah. "Baik. Kalau kalian tidak puas, sekarang aku akan membuat kalian semakin tidak puas. Saat Naruto berusia dua puluh tahun, aku akan menikahkannya dengan Pangeran Keempat. Naruto akan menjadi istri sah Pangeran Keempat. Itu menjadi keputusanku!"

"Mohon Yang Mulia mencabut titah!" seru pejabat-pejabat itu dengan suara memohon. Menikahkan seorang pangeran dengan rakyat jelata jelas melanggar aturan istana. Mereka bisa menerima jika Naruto yang saat ini menjadi dayang berstatus sebagai selir, namun menjadi istri sah? Hal itu harus ditolak dengan keras.

"Mohon ampun, Yang Mulia," seru pejabat lainnya. "Bukankah lebih baik jika Dayang Naruto dijadikan selir? Kedudukan itu lebih pantas daripada menjadi istri sah Pangeran Keempat."

"Siapa yang berani mempertanyakan titahku ini?" teriaknya membuat bulu kuduk meremang, ketakutan. Fugaku sangat marah. Benar-benar marah. Ingin rasanya dia mengatakan jati diri Naruto yang sebenarnya, namun hal itu ditekannya dalam-dalam. "Pangeran Keempat, apa kau juga menolak titahku ini?!" raung Fugaku dengan wajah memerah, marah.

Sasuke segera maju, berdiri untuk kemudian berlutut di samping Naruto yang masih menundukkan kepala dalam. "Hamba menerima titah, Ayahanda Kaisar. Terima kasih untuk anugrah yang Ayahanda berikan." Ucapnya sebelum bersujud sebanyak tiga kali untuk mengucapkan rasa terima kasih. Sasuke segera memberi Naruto kode, setengah hati Naruto pun melakukan apa yang diminta oleh Sasuke, dengan suara pelan dia menghaturkan terima kasih atas anugrah yang diberikan padanya, lalu bersujud sebanyak tiga kali.

Fugaku tertawa senang saat Naruto melakukannya. Kemarahannya yang meledak-ledak tadi menguap hilang seketika.

Para pejabat dan pangeran yang hadir di ruangan itu mencatat di dalam hati; gadis asing ini sudah berhasil merebut perhatian dan hati kaisar. Para pejabat yang tidak suka mulai memikirkan cara untuk menendang Naruto secepatnya dari dalam istana. Mereka harus membuat kaisar tidak menyukainya. Sementara pejabat yang memiliki kepentingan lain, memikirkan cara untuk mendekati Naruto untuk memuluskan langkah politiknya.

.

.

.

Siang itu, di luar istana, angin bertiup lembut, awan berarak, burung bernyanyi merdu, seolah menyambut lembaran baru kehidupan Naruto dibalik tembok tinggi Istana Ame.

.

.

.

TBC

Hai... untuk yang suka neror, nih saya udah update kelanjutannya yah.

Beberapa pertanyaan pembaca dichap sebelumnya sudah saya jawab dichap ini. ^^

Mengenai sampai berapa chapter fic ini, saya belum tahu secara pasti, karena ingin menjaga alurnya agar tidak terlalu terburu-buru.

Dan teruntuk; Senju Tsuri, kamu jengkel nungguin update fic ini? Saya juga kesel ngadapin pembaca seperti kamu yang tahunya hanya menuntut! #KibasRambut

Makasih untuk dukungannya! Semoga kalian menikmati chap ini seperti saya menikmati saat mengetik dan memeriksanya ulang. Sampai jumpa dichap selanjutnya, Teman-teman! (:

#WeDoCareAboutSFN