BTS Kim Seokjin (Jin) | BTS Kim Taehyung (V) | NCT Lee Taeyong (Taeyong)
BTS Jung Hoseok (Hoseok) | BTS Jeon Jungkook (Jungkook)
BTS Min Yoongi (Yoongi) | BTS Kim Namjoon (Namjoon)
NCT Kim Doyoung!GS (Doyoung) | NCT Youngho Seo (Kim Johnny)
© all chara(s) belong to their agency
T = True Love
Because T aims for True Love
Target 9: New Office, New Life
[Dua ratus? Yang benar aja, Jin?! Aku bisa digiling eomma..!], erang Namjoon.
"Ya, terus, gila aja kamu. Masa aku disuruh nyalamin 2000 orang? Memangnya kamu mau tangan aku lepas?"
[Ya nggak akan sampai lepas juga, kan, Jin..]
Aku tidak meladeni ucapan adikku lagi, hening beberapa saat hingga akhirnya Namjoon menyerah.
[Oke, deh. Lima ratus gimana?]
Kupikir.
"Nggak. Dua ratus atau aku nggak usah nikah aja sekalian!"
Sebelum mendengar protes Namjoon selanjutnya, aku lebih dulu mematikan telepon. Terserah, lah. Biar saja Namjoon yang pusing meladeni eomma nanti. Sekarang aku harus fokus dulu sama hal yang lebih penting daripada rencana pernikahanku yang masih jauh itu. Ya, aku mau melamar pekerjaan.
TVN, stasiun televisi yang 100x lebih besar dari pada tempatku bekerja dulu, serius menginginkanku menjadi pegawai baru di kantor mereka. Aku belum tahu akan dapat posisi apa, karena sekarang aku akan diwawancara terlebih dahulu. Aku belum pernah datang ke TVN sebelumnya. Tapi, setahuku TVN adalah televisi kekinian yang selalu membahas musik, fashion, kuliner, traveling, dan segala hal yang up-to-date lainnya.
Saat memasuki gedung TVN, aku disambut oleh gedung mewah yang seru banget. Maksudku seru adalah, lihat saja warna-warna interior gedung ini. Aku yang biasa pakai baju monokrom sebenarnya agak sakit mata, tapi tidak apa-apa, penyegaran.
Ada seorang wanita menggunakan rok bodycon 7/8 dengan stiletto keluaran Chanel terbaru menghampiriku. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Edith. Dia mengatakan kalau Mr. Sandeul, orang yang mau mewawancaraiku, sudah menungguku. Lalu, Miss Edith yang setelannya kece badai ini mengantarku ke ruangan si tuan Sandeul. Oh, iya, Edith itu sekertarisnya Mr. Sandeul.
Selagi berjalan menuju ruangan Mr. Sandeul, aku memperhatikan style pegawai lainnya. Ternyata celana resmi dan kemeja pilihanku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan mereka semua. Padahal tadinya aku berpikir kalau menggunakan kemeja Gucci terlalu berlebihan, apalagi untuk wawancara. Tapi, lihat saja setelan sekertarisnya Mr. Sandeul sekarang. Aku jadi berpikir kira-kira akan nampak seperti apa rupanya atasannya Edith ini.
Kupikir Edith akan mengantarku hingga ke dalam ruangan Mr. Sandeul, tapi ternyata dia berhenti di mejanya dan memberitahuku untuk langsung masuk saja. Aku berbohong kalau aku tidak gugup. Sudah lama aku tidak melakukan wawancara kerja, dan aku sangat menginginkan pekerjaan ini. Wish me luck!
Ketika aku mau mengetuk pintu ruangan Mr. Sandeul, eh, pintunya sudah terbuka sendiri. Di sana ada seorang laki-laki tampan dengan pakaian biasa saja. Tadinya kupikir Mr. Sandeul itu lelaki super necis yang rambutnya mengkilap dan pakai suit keluaran Dolce & Gabbana yang terbaru. Tapi, cowok yang ada di hadapanku sekarang ini cuma pakai celana chino, T-shirt, kemeja dan sepatu sneakers. Aku jadi bertanya-tanya, apa benar orang ini Mr. Sandeul?
"Eh, Jin. Yuk, masuk. Aku lagi nanggung, nih."
?
Aku bingung, kaget, dan nge-blank. Ini orang kenapa, ya? Udah sok akrab banget, terus omongannya nggak jelas.
"Em.. Mr. Sandeul?"
"Ya? Kenapa Jin? Eh, kamu keberatan nggak nunggu sebentar, aku lagi ngeberesin file dari tahun 2004 sampai tahun ini. Pas kamu dateng, aku lagi stuck di tahun 2008, capek banget sumpah."
"Eh? Sini, biar saja bantu, Mr.."
Aku baru ngeh kalau tadi Mr. Sandeul membukakan pintu sambil menenteng beberapa file yang kelihatannya cukup berat. Aku pun mengambil beberapa dari tangannya, lalu menaruhnya di meja dekat sofa di ruangannya.
"Duh, makasih, ya, Jin. Aku tadi fokus banget ngeberesin file, jadinya nggak kerasa sekarang udah waktunya aku ngewawancara kamu."
"Ah, tidak apa-apa, Mr.", aku pun terdiam melihat file-file yang berserakan di lantai dan meja di ruangannya. "Bagaimana kalau kita membereskan file-file ini terlebih dahulu, Mr.?"
"Serius, kamu, Jin?", suara Mr. Sandeul terdengar kaget dan tidak percaya pada ucapanku barusan.
"Iya, Mr. Saya serius. Pasti Mr. tidak akan nyaman kalau ruangannya berantakan begini. Saya juga kalau meja kerja berantakan suka jadi tidak konsentrasi bekerja, hehe."
Lalu, begitulah waktu bergulir. Tidak terasa sudah dua jam kami berdua beres-beres file kantor TVN yang entah isinya apaan. Aku dan Mr. Sandeul tergeletak kelelahan di sofa, tapi kami puas melihat lemari di ruangan ini jadi terlihat rapi dan file-nya pun sudah terurut dengan benar.
"Minum apa, Jin?", tawar Mr. Sandeul.
"Kalau ada long island ice tea, pasti segar, ya, Mr.?", kataku bercanda sambil terkekeh.
"Heh, memangnya aku cowok apaan."
Duh. Kenapa, nih? Jangan-jangan aku dianggap tidak sopan karena belum apa-apa malah minta minuman beralkohol. Aku kan cuma bercanda..
"Itukan minuman favoritku.", tambah Mr. Sandeul, membuatku merasa sangat lega.
Setelah itu, Mr. Sandeul berjalan ke sudut ruangan yang ternyata ada semacam mini bar di sana. Wah, kalau aku diterima kerja di sini, aku pasti tiap hari main ke ruangan Mr. Sandeul. Kuperhatikan Mr. Sandeul meracik minuman kami berdua dengan lihai, berarti dia tidak bercanda ketika mengatakan kalau long island ice tea merupakan minuman favoritnya.
"Nih.", kata Mr. Sandeul sambil menyodorkan minuman padaku. "Jadi, tujuh juta?"
Hampir saja aku tersedak. "A-apa, Mr.?"
"Tujuh juta. Gaji kamu kerja di sini jadi creative director."
C-creative director..? Aku yang dulu cuma produser biasa, ditawari jadi creative director, di stasiun televisi raksasa Korea?! Lalu, tujuh juta?! Ya, ampun, itu bahkan lebih dari dua kali lipat gajiku di KBS TV dulu!
"Serius, Mr.?! Maksud saya, kita kan belum wawancara, belum apa-apa.."
Mr. Sandeul menyesap long island icea tea-nya seakan-akan ucapannya tadi adalah hal sepele. "Coba kamu pikir, deh, Jin. Memangnya jam sembilan pagi merupakan waktu yang tepat untuk ngeberesin file?"
Aku terdiam sebentar lalu menggeleng.
"Jawabannya adalah: no. Ini cara aku untuk mengetahui kualias orang yang akan aku rekrut untuk kerja di sini."
Aku terpana. Ini orang ajaib banget.
"Jadi?"
"Jadi, aku bisa menyimpulkan kalau kamu orangnya organized, suka menolong, stabil, visioner, dan.. suka long island ice tea!"
Aku terkekeh. "Wow..!"
"Ya, wow!", sesaat Mr. Sandeul terlihat semangat. Tapi, lalu mendadak wajahnya menjadi sendu. Dia bangkit dari sofa dan berjalan ke arah mejanya. Dari lacinya kulihat dia mengambil kotak rokok, lalu mengambilnya sebatang. Tidak memedulikan ruangannya yang ber-AC, dengan cueknya Mr. Sandeul mulai merokok.
"Memang, tempat ini kelihatannya elegan dan trendi banget dari luar.. Tapi, buat loading kerjanya, nol besar! Orang-orangnya nggak ada yang kompeten. Capek aku, Jin."
Mr. Sandeul terus mengomel sambil berjalan ke sofa lagi. "Rokok?"
"Thanks.", kataku sambil mengambil sebatang.
"You're smoker?!", serunya girang. "Oke, 8 juta."
"E-excuse me, Mr..?"
"Kamu suka long island ice tea dan perokok, aku suka. Jadi, 8 juta. Deal?"
Kalau aku orang normal, mungkin aku akan berpikir kalau Mr. Sandeul gila. Tapi, karena aku mengerti jalan pikirannya, aku berpikir kalau aku dan Mr. Sandeul akan menjadi sahabat baik mulai dari sekarang.
Setelah sedikit chit-chat gila dengan Mr. Sandeul, yang kekeuh ingin kupanggil dengan namanya saja, si stiletto Chanel menghampiriku lagi. "Jadi, tanda tangan kontraknya hari Senin, ya, Mr. Jin?"
"Ya, makasih, Edith. Dan, panggil aku Jin aja, please."
Si stiletto tersenyum dan mengangguk, lalu meninggalkanku. Aku juga mulai melangkah buat keluar dari gedung warna-warni ini. Walaupun kupikir kalau warna interiornya dibuat dari perpaduan warna pastel maka akan menjadi lebih baik, tapi tetap saja aku dibuat senyum-senyum sendiri karenanya. Tiga hari lagi, aku akan mulai kerja di tempat ini. KYAAAA! Seneng banget! Kira-kira akan ada kejutan apa lagi, ya, nanti?
"Well.. well.. Masih pagi begini, aku udah dapet kejutan."
Suara itu. Aku tahu suara itu. Aku berbalik, dan di sana ada dia.
Dia, yang terakhir kali kutemui di Jeju.
Dia, yang memberikanku hadiah termanis sepanjang ulang tahunku.
Dia, si pemilik boxy smile yang aku rindukan.
Dia, V.
TBC
orul2's spot:
ya ampun terbengkalai banget kan ff-ff gue wkwkwkwkwk. anyway aku mulai mencoba rutin nulis lagi nih. dari ff ini dulu aja kali ya. ntar kalau ini udah kelar aku lanjutin ff-ff yang lain yang udah debuan haha. masih adakah yang setia membaca ff ini (dan ff ku yang lain)? :'D
