Oke, sebagai balasan karena saya ngeupdate lama, saya update cha. 10 (tapi kalo masih lama juga, maaf...). Sekali lagi, terima kasih yang sudah mereview, favorite, alert, dan silent readers di luar sana, juga orang yang dah ngasih saya cendol *kok nama saya ga ijo-ijo ya?*

Disclaimer: Hetalia-yang-sekarang-namanya-dah-diganti-jadi-Hetalia-World-Series milik Hidekaz Himaruya


"Baiklah, ana~" kata Thailand, mulai membuka rapat. "Kita semua disini hadir untuk menghadiri pertunangan antara dua sejoli--oh, maaf, salah acara--kita semua disini hadir untuk mengadakan rapat untuk yang kesekian kalinya tentang global warming." Thailand mengambil kertas-kertas yang ada di depannya dan mulai membacanya. "Ekspor beras meningkat 10% dibanding triwulan pertama--oh, salah berkas..." Thailand tanpa rasa berdosa mencari kertas yang benar sementara orang-orang disitu sweatdrop.

"Pemberontakan Kaus Merah... pemberontakan Kaus Merah... pemberontakan Kaus Merah... ah, ini dia," kata Thailand santai, lalu mulai membacanya. "Seperti yang kalian ketahui, global warming mulai memburuk akhir-akhir ini. Dan kalau tidak salah, ada sebongkah es yang lepas--aku tidak tahu apa dari utara atau selatan--sebesar Luxembourg..."

"Wow, bentuknya orang gitu?" celetuk Cambodia polos.

"Ini secara geografis, Cambodia," kata Thailand kalem. "Kalau kau melihat peta dunia--pastikan penerbitnya bukan America--kau akan melihat letak Luxembourg, di dekat Belgium dan Netherlands." (note: kata 'di dekat' adalah bentuk halus dari kata 'digencet'.)

"Berarti lumayan besar, ya?" kata Australia. "Akhir-akhir ini di rumah New Zealand juga ada es yang tiba-tiba muncul."

New Zealand mengangguk. "Memang sih, itu sudah lama... tapi aku belum sempat mengutarakannya saat Copenhagen Summit..."

"Intinya: es berkurang sementara air meningkat," kata Thailand, menyimpulkan dengan pintarnya. "Sisi positifnya: tidak akan ada kekeringan di dunia. Sisi negatifnya: karena seluruh dunia ditutupi air."

"Err... tunggu sebentar," kata Singapore, mengangkat tangannya pelan. "Bukannya kita disini untuk membahas tentang bagaimana caranya menanggulangi global warming?"

Sejenak semua terdiam. "Oh ya, cara menanggulanginya," kata Thailand polos. "Tunggu sebentar, aku ada berkas bagaimana cara menanggulanginya..."

"Aah, mungkin artikel ini akan membantu~" kata Thailand. Dia membacanya sebentar. "Disini diberitakan bahwa Facebook, Google, Yahoo dan lain-lain menimbulkan global warming..."

"Lalu?" kata Singapore yang kodratnya orang tidak sabaran (author: -dihajar Singapore-).

"... maka dari itu kita harus berhenti menggunakan internet."

...

Vietnam berdeham. "Solusi lain?"

"Suruh Iran dan North Korea menghentikan proyek nuklir," celetuk Cambodia, tumben pinter. "Nuklir juga ambil peran dalam pemanasan global, kan?"

"Masalahnya, America dan Russia saja masih belum bisa membujuk mereka berdua," kata Vietnam, menghela nafas. "Sebenarnya aku pikir Russia tuh agak setengah hati melaksanakan hal itu... dia juga ngirim rudal teknologi terbaru ke China..."

"Buat nyerang America kali, ya?" kata Malaysia. "Mereka lagi tensi-tensinya, tuh."

"Eeh...? China akan menyerang America?" tanya Philippines agak histeris.

"Enggak, Phil, itu cuma spekulasi," kata Indonesia, berusaha menenangkan saudaranya yang naksir berat ama America itu (ya iyalah, America yang ngasih dia kemerdekaan).

"Oke, oke, sebentar..." kata Australia, menginterupsi 'diskusi keluarga'. "Ini tentang global warming atau nuklir?"

Mereka semua terdiam, lalu Thailand berdeham. "Kau benar, Australia," katanya sambil tersenyum seperti biasa. "Kita sudahi OOT itu dan lanjut ke topik utama... bagaimana cara menanggulangi global warming? Seperti yang sudah kubilang tadi, lebih baik kita tidak usah memakai internet..."

"Aku menolak," ujar Malaysia, Singapore dan Indonesia bersamaan. Malaysia dan Indonesia saling menatap.

"Jangan meniru kata-kataku!"

"Dah dibilang, dasar tukang tiru!"

"Jangan mengikutiku terus!!"

Mereka berdua menggembungkan pipi seperti anak kecil dan langsung menghindari tatapan satu sama lain.

Singapore menghela nafas. "Oke, pokoknya kami bertiga tidak setuju atas idemu itu," katanya, menyesali diri kenapa harus duduk di antara kedua kakaknya yang imbisil itu (author: -dihajar Malaysia+Indonesia-). "Seperti yang kalian tahu, internet itu bagian dari hidup kami bertiga. Dan juga, memang kalian bisa bertahan tanpa Google? Yahoo? Sorta' things like that?"

Thailand berpikir sebentar. "Bisa," katanya simpel. "Kan masih ada koran. Kalau mau ngobrol dengan orang lain tinggal surat-menyurat atau berkunjung ke negara itu sambil naik gajahku. Kan sekalian field trip."

"Itu ide yang bagus," kata Australia, mendukung pendapat Thailand. "Tapi masalahnya bagaimana kalau negaranya... kau tahu, agak terisolasi. Seperti Bermuda. Surat-menyurat pasti membutuhkan waktu yang lama, ya kan?"

"Telepon," kata Thailand singkat.

"Pokoknya," kata Indonesia, "aku tidak mau kalau kita tidak diperbolehkan memakai internet, titik."

Mereka semua terdiam, sampai Singapore mengangkat tangannya pelan.

"Ya, Singapore?"

"Err... tadi Thailand kan bilang sekalian field trip..." Singapore menunduk. "Ngomong-ngomong, boleh ga kita field trip keliling Bangkok?"


-dihajar dan dibakar massa gara-gara ficnya kependekan- es tut mir leid, readers sekalian T_T sumpah saya ga ide apa-apa buat nulis ini, tapi saya juga pengen update... -headbang- dan saya melanggar janji saya di chapter sebelumnya... sayaemanggabisamegangjanji oTL mungkin chapter ini pendek gara-gara saya ga banyak menemukan fakta yang menarik yang bisa dimasukkan kesini... darndarndarndarn...

Oh ya, kalimat yang ditebalkan itu artinya Indonesia dan Malaysia ngomong barengan. Aah~ Melayu incest~ how I love Melayu incest~ -taboked-

Dan, seperti yang udah saya bilang, fic ini mungkin bakal jadi semi-hiatus. Semi. Ga tentu update-nya. Bisa cepet bisa lama. Bisa juga ga di-update selama 1 bulan ato lebih (kek fic saya yang crossover itu .)

Mohon jangan ngebata saya (_ _) saya nubitol...


Tambahan:

Indonesia, Malaysia: Berhenti mengikutiku!

Sudah kubilang berhenti mengikutiku!

Kenapa kau tidak diam?!

Sudah kubilang diam dan jangan tiru aku terus!!

Siapa juga yang menirumu?!

Indonesia: kau yang meniruku, dasar adik aneh!

Malaysia: kau mengikuti kata-kataku, dasar kakak bodoh!

Indonesia: itu kau!

Malaysia: kau!

Indonesia: kau!

Singapore: Thailand, boleh pinjem gajahmu sebentar?

Thailand: buat apa, ana?

Singapore: menindih kakak-kakakku yang bodoh itu sampai gepeng


(ini lanjutan yang kemarin ;D)

Indonesia: p-pembangunan kembali Soviet Union...?

Russia: da~ soalnya tadi Singapore bilang kau tertarik untuk berkunjung ke rumahku dan membicarakan sesuatu...

Indonesia: err... Russia... sesuatu itu... sebenarnya...

Russia: da?

Indonesia: ... aku hanya mau tahu resep pirozhki-mu...