Disclaimer: KHR belongs to Amano Akira, Varia New Member (Selena dan Xenon) belongs to Eltrish. And don't forget that Xanxus and Squalo belongs to each other! (Fufufu, who can deny this fact?)
Warning: OOC, typo, cussing words, cerita amburadul, cacat, maksa, GJ, dan karya dari seorang penulis amatiran.
Fic ini juga merupakan fic dalam rangka meramaikan fandom KHR dengan pairing XS bersama Arisu-san!
Enjoy the story! ;)
"Moma..." panggil Selena manja. Ia berdiri di sebelah kursi dimana Squalo duduk sambil memasang senyum termanis di wajahnya. Squalo melirik sekilas pada bocah kecil itu sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada baris demi baris kalimat yang tersusun rapih pada lembaran kertas koran di tangannya.
Huh, kalau bocah sialan ini sudah memasang wajah begini pasti sedang ada maunya... batin Squalo.
"Moma, nantyi mayam bacakan celita sebeyum tidul ya?" pinta Selena masih sambil tersenyum semanis mungkin. Matanya yang bulat dengan warna semerah ruby yang sama dengan Xanxus itu menatap Squalo penuh harap. Adik kembarnya yang sedari tadi juga berdiri di sebelah kursi Squalo pun ikut memohon dalam bisu. Matanya yang bulat berbinar penuh harap.
Squalo mengeluarkan suara "cih" pelan sebelum menutup koran dan bangun dari tempat duduknya. Ia buru-buru melangkahkan kakinya pergi dan keluar dari ruang keluarga markas Varia. Selena dan Xenon pun buru-buru mengejarnya.
"Moma... moma!" panggil Selena dari belakang. Squalo tidak menoleh. Ia pura-pura tidak dengar dan malah mempercepat tempo berjalannya.
"Voi! Moma!" panggil Xenon mulai ikut buka mulut. Ia berlari lalu menarik lengan baju Squalo. "Moma..."
Squalo menghentikan langkahnya dan sekali lagi mengeluarkan suara "cih" pelan. Ia menarik lengan bajunya yang dipegang oleh Xenon dan menatap bocah miniatur mini bosnya itu dengan tatapan tajam. "Apa?" tanyanya dengan suara tak ramah.
"Bacakan...cerita." pinta Xenon sungguh-sungguh. Selena yang baru saja menyusul pun ikut menatap Squalo dalam-dalam.
"Aku sudah berulang kali membacakan cerita, dan kalian tahu apa?! Aku sudah muak membacakan cerita yang sama berulang-ulang terus! Kalau kalian ingin dibacakan cerita, minta saja bos brengsek itu yang membacakan cerita!"
"Popa sedang pelgi..." ujar Selena memelas. "Tadyi Selenya lihat ke kamalnya tapi popa tidak ada."
"Kalau begitu minta saja Bel yang bercerita! Seharian ini kalian main bersamanya kan!?"
Selena dan Xenon sama-sama merengut. Alis mereka bertaut seakan kebereratan. Squalo menatap keduanya heran. Kenapa bocah-bocah ini mau bermain bersama Bel tapi tidak mau dibacakan cerita olehnya? batin Squalo bingung.
"Kalau paman Bel yang celita seyam!" seru Selena setengah protes.
Ah, akhirnya pertanyaan dalam benak Squalo terjawab. Tentu saja kedua bocah yang ternyata penakut ini tidak mau dibacakan cerita oleh maniak film horor. Bukannya mendapat mimpi indah setelah dibacakan cerita, bisa-bisa mereka malah mimpi buruk atau kemungkinan terburuknya tidak bisa tidur karena ketakutan.
"Katanya kalau malam tempat inyi belhantu!" tambah Selena semakin menggebu-gebu.
"Voi! Berhantu! Seram!" timpal Xenon tak kalah heboh.
Squalo menepuk kepalanya sendiri sambil menghela nafas panjang. Benar-benar deh, ia tidak habis pikir pada kedua bocah ini. Mereka punya kemampuan bertarung yang hebat tapi takut pada hantu?
"VOI! Sudah berapa harus kukatakan pada kalian kalau tidak ada yang namanya hantu di dunia ini! Kalian mengerti!? Tidak ada!" seru Squalo setengah membentak hingga membuat kedua bocah itu terperanjat kaget. "Satu lagi! Aku tidak mau membacakan kalian cerita! Kalau kalian sebegitu inginnya dibacakan cerita sebelum tidur, tunggu saja sampai bos brengsek itu pulang dan minta padanya untuk membacakan cerita!"
"Ta-Tapi Moma!" Selena baru saja mau protes begitu Squalo membalikkan badannya dan hendak pergi, namun sang second command itu memandangnya tajam. Putri kecil Varia itu pun tidak jadi melancarkan aksi protes. Takut dimarahi.
Squalo mendesis tajam sebelum melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kedua bocah itu di koridor sendirian.
Tik... tik... tik... tik...
Suara jarum jam yang berdenting dengan jelas di kamar Squalo semakin menegaskan seberapa sunyi suasana kamarnya. Second sword emperor yang sedang berbaring di atas kasur itu melirikkan matanya ke arah jam dinding yang terpasang di sudut kamarnya.
Jam 9... biasanya jam segini bocah-bocah itu belum tidur... tapi kenapa aku tidak mendengar suara berisik mereka dari tadi? batin Squalo heran. Benar, rasanya ia tidak mendengar suara Selena dan Xenon semenjak ia masuk ke dalam kamarnya, padahal biasanya kan kedua bocah itu luar biasa ribut dan tidak pernah bisa tenang.
Mengikuti rasa penasarannya, Squalo pun beranjak bangun dan turun dari tempat tidrunya. Ia melangkahkan kakinya keluar.
Lebih baik aku coba periksa ke kamar mereka... batin Squalo sembari berlalu.
Ketika Squalo melangkahkan kakinya melintasi koridor menuju kamar Selena dan Xenon, ia berpapasan dengan Bel. Anggota Varia itu nyengir lebar memandanginya sambil tertawa "shishishi."-nya seperti biasa.
Alis Squalo langsung berkerut begitu mendengarnya. "Voi! Hentikan tawamu itu!"
"Shishishi, mana putri dan pangeran kecil Squaly?" tanya Bel begitu melihat sosok Squalo yang hanya sendirian tanpa kedua bocah yang biasanya selalu menempel padanya seperti bayangan.
"Mana kutahu!" seru Squalo galak. Ia pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Bel sendiri.
"Ah, sayang sekali, padahal aku ingin mengajak Selena dan Xenon nonton film horor, shishishi." gumam Bel pelan sambil melengos pergi dengan sebuah dvd horor di tangannya.
Squalo membuka pintu kamar Selena dan Xenon. Tidak ada tanda-tanda keberadaan kedua bocah itu. Bahkan lampu di kamar mereka tidak menyala. Sudah jelas mereka tidak mungkin ada, keduanya kan takut gelap.
Second-in-command Varia itu kembali menutup pintu kamar bocah-bocah itu.
Kemana sebenarnya mereka? batin Squalo tak habis pikir. Ketika itu, Lussuria yang kebetulan melintas pun menyapanya.
"Hei, Squ. Apa yang kau lakukan?" sapa Lussuria ramah. Ia pun menghampiri Squalo.
"Voi! Kau lihat kedua bocah itu tidak?!" tanya Squalo tak sabar. Seperti biasa, suara Squalo yang luar biasa 'indah' itu berhasil membuat Lussuria harus mengamankan telinganya kalau tidak mau tuli mendadak.
"Maksudmu Selena-chan dan Xenon? Ah, mereka ada di kamar bos." jawab Lussuria sambil masih menutup telinganya dengan kedua tangan lantaran takut kalau tiba-tiba Squalo mengeluarkan suara 'indahnya' lagi.
"Di kamar bos?" tanya Squalo dengan alis terangkat heran. "Bukannya bos brengsek itu sedang pergi?"
"Memang, tapi mereka berdua bilang mau menunggu bos di kamarnya. Kalau tak salah mereka bilang minta dibacakan cerita?" jawab Lussuria sambil memasang pose berpikir.
Begitu tahu dimana keberadaan kedua bocah itu, Squalo langsung melesat pergi meninggalkan Lussuria sendiri. Sebenarnya dari belakang Lussuria masih berkata sesuatu, tapi Squalo sudah tidak lagi menghiraukan. Ia segera bergegas menuju kamar Xanxus.
Ketika membuka pintu, ia menemukan sosok Selena dan Xenon yang sedang berbaring dengan nyaman di atas kasur Xanxus. Keduanya langsung terlihat berseri waktu melihat kedatangan Squalo dan buru-buru berlari menghampirinya. "Momaaaaa!" seru keduanya sambil melompat memeluk Squalo. Kewalahan menangkap keduanya, Squalo pun jatuh membentur lantai.
"VOOOOIII! BOCAH-BOCAH SIALAN! TIDAK BISA YA BERHENTI MEMELUKKU SEPERTI INI SETIAP KALI AKU DATANG?!" geram Squalo sembari melotot. Namun kedua bocah pelaku utama kasus terjatuhnya sang second command Varia itu bukannya takut malah tersenyum memandangi Squalo.
"Moma, popa manya?" tanya Selena sambil celingukan mencari sosok Xanxus yang tak ada di belakang Squalo.
"Bos brengsek itu belum pulang." jawab Squalo sambil beranjak bangun. Ia membersihkan debu yang menempel pada bajunya saat ia terjatuh tadi kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar pimpinan Varia itu.
Matanya melebar begitu melihat kekacauan yang ada di kamar Xanxus. Bantal tergeletak di lantai, coklat berbentuk tapak tangan yang mengecap di atas seprai, lampu meja jatuh terbalik, dan susu yang tumpah ke atas lantai. Ah, ditambah lagi bekas jejak kaki kucing peliharaan Xenon yang mengecap di beberapa sudut tembok kamar.
"Kalau bos brengsek itu melihat kamarnya terlah berubah menjadi kapal pecah begini dia pasti akan membunuhku." gumam Squalo ngeri.
Tidak ingin pikirannya itu jadi kenyataan, Squalo buru-buru membereskan seisi kamar pimpinan Varia itu. Butuh waktu yang cukup lama dan kesabaran ekstra karena ia masih harus menghadapi kedua bocah yang rewel minta dibacakan cerita. Beberapa saat sudah berlalu dan akhirnya semuanya selesai. Lelah setelah membereskan semua kekacauan itu, Squalo pun berbaring di atas kasur Xanxus. Selena dan Xenon pun melompat ke atas kasur dan berbaring di samping second command Varia itu.
"Moma, bacakan celita!" pinta Selena sambil tersenyum lebar.
"Voi! Cerita! Cerita!"
"Kalian ini... aku sudah berbaik hati membereskan semua kekacauan yang kalian buat dan sekarang bukannya malah berterima kasih tapi kalian malah memintaku untuk membacakan cerita?!" tanya Squalo sambil melotot.
"Ah, moma... celita..." paksa Selena sambil memanyunkan bibirnya.
"Tidak mau! Aku muak membacakan cerita yang sama berulang-ulang!" tolak Squalo tegas.
Selena terdiam beberapa saat sebelum senyuman di wajahnya semakin melebar. "Kalau begitu bacakan celita yang bayu saja!" usul Selena bersemangat.
"Voi! Cerita baru! Cerita baru!"
"VOOOI! Cerita baru bagaimana?! Aku tidak punya buku cerita baru untuk dibacakan!"
"Kalau begitu moma mengayang celita saja!"
"HAH?!"
"Mengarang cerita! Mengarang cerita!"
"Aku mengarang cerita untuk kalian? Maaf-maaf saja ya, tapi jawabannya jelas TIDAK!"
Selena dan Xenon sama-sama memasang wajah memelas bagai anak anjing yang tengah dibuang di hari hujan. Serangan mematikan 1 Selena dan Xenon : Puppy eyes attack!
Squalo mendesis. "VOI! Percuma saja memasang tampang memelas begitu, sudah tidak mempan lagi padaku!" dusta Squalo. Sebenarnya jauh di dalam hati kecilnya ia tahu kalau ia tidak sanggup melawan serangan mematikan ini.
Keduanya masih terdiam dan memasang wajah memelas.
1 menit berlalu...
3 menit berlalu...
5 menit berlalu...
"Baiklah, aku akan bercerita." ujar Squalo akhirnya mengalah. Selena dan Xenon sama-sama bersorak sorai sementara second command Varia itumenghela nafas panjang. Ampun deh, ia benar-benar tak habis pikir kenapa ia bisa dibuat tak berkutik oleh kedua bocah ini. Kalau sampai orang-orang di luar sana tahu kalau seorang Superbia Squalo dipecundangi oleh dua bocah kecil, hancurlah harga dirinya.
"Tapi satu cerita saja ya!" ujar Squalo tegas. Ia tidak akan sudi kalau disuruh mengarang dua cerita untuk mengantarkan kedua bocah ini tidur.
"Iya!" sahut keduanya setuju. Sebentar kemudian mereka berdua memandangi Squalo seakan menunggu dimulainya cerita.
Squalo terdiam sambil mengaruk kepalanya yang tak gatal. Voi! Aku harus cerita apa pada mereka? cerita tentang pertarungan memperebutkan cincin Vongola? Atau cerita tentang Varia? Atau...
"Ayo moma, celita!" ujar Selena mulai tak sabar.
"Voi! Sabar sedikit! Aku sedang berusaha berfikir!" bentak Squalo mulai emosi. Ia pun menopangkan dagunya. Mengarang cerita itu terlalu merepotkan untuknya, jadi ia memutuskan untuk bercerita tentang pengalaman hidupnya saja. Tapi... pengalaman hidup yang mana yang harus ia ceritakan pada kedua bocah ini?
"Moma... ayo celita!" ujar Selena kembali tak sabar.
"Voi! Berisik! Ini juga aku sudah mau mulai cerita!" protes Squalo. Begitu mendengar pernyataan Squalo barusan, kedua bocah itu langsung memasang wajah antusias dan menunggu dimulainya cerita. Squalo berdeham pelan dan memulai ceritanya.
"Baiklah, pada suatu hari... hiduplah seorang laki-laki yang mahir menggunakan pedang. Sejak kecil ia sudah belajar bagaimana cara bertarung." jelas Squalo pada awal ceritanya.
"Siapa nama laki-laki itu moma?" tanya Selena.
"Squ-" Squalo berhenti. Tidak, aku terlalu bodoh kalau sampai membiarkan mereka tahu laki-laki ini adalah aku. batin Squalo. Ia pun berdeham pelan. "Anggap saja namanya adalah Squ."
Selena dan Xenon mengangguk-anggukkan kepalanya dan Squalo pun kembali melanjutkan ceritanya.
"Squ tidak pernah takut akan apa pun, bahkan kematian. Ia hanya mendedikasikan hidupnya untuk bertarung, bertarung dan bertarung. dan Hidup tanpa bertarung itu sama saja mati untuknya."
Selena dan Xenon masih menyimak dengan seksama cerita Squalo. Second sword emperor itu kembali melanjutkan ceritanya. "Lalu hingga suatu hari ia bertemu dengan seseorang. Ia belum pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya, namun entah kenapa, saat pertama melihatnya Squ merasa kalau orang itu adalah alasan kenapa ia lahir di dunia ini. Squ pun memutuskan untuk menjadi mengikuti orang itu seumur hidupnya. Lalu..."
"Lalu mereka menikah dan hidup bahagia selamanya?" tebak Selena sambil tersenyum polos. Layaknya seorang anak kecil normal, Selena pun sangat menyukai cerita pangeran dan putri yang selalu berakhir dengan 'hidup bahagia selamanya'
Squalo melotot dengan garang. "Mereka tidak menikah dan tidak hidup bahagia! Mereka berdua sama-sama laki-laki tahu!"
"Jadi akhirnya bagaimana?" tanya Selena penasaran.
Wajah Squalo berubah masam. Rasanya ia sudah tidak niat melanjutkan ceritanya lantaran intrupsi dari Selena tadi. "Akhirnya Squ merasa bodoh karena sudah menjadi pengikut orang itu! Pada suatu malam ia pun membunuh orang itu dengan meracuni makanannya lalu membuang mayatnya ke laut! Selesai! Nah, sekarang waktunya kalian berdua untuk tidur, bocah-bocah sial!"
"Eh? Tapi Selenya masih mau mendengarkan celita." ujar Selena sambil memanyunkan bibirnya. Sungguh, Squalo selalu merasa kesal kalau melihat Selena melakukan itu.
"Voi! Cerita lagi! Lagi!"
"Tidak! Kalian berdua sudah janji kalau 1 cerita saja... sekarang ayo tidur!" bentak Squalo galak.
Selena dan Xenon saling bertatapan kemudian tersenyum memandangi Squalo. Sang second command Varia itu pun melotot pada keduanya. "Apa lagi hah!? Percuma saja protes karena aku-"
Belum selesai Squalo bicara, kedua bocah itu sudah melompat ke arah tubuhnya dan menggelitikinya tanpa belas kasihan. "VOOOOIII! APA-APAAN INI?! APA YANG KALIAN LAKUKAN!? LE-LEPASKAN!" Teriak Squalo sambil berontak dan menahan tawa.
"Kalau moma mayu membacakan satu celita lagi, akan kami yepas."
"Voi! Satu cerita!"
"Bocah... kurang ajar! Beraninya kalian!" Squalo pun berhasil melepaskan diri dari keduanya dan balik menggelitiki, namun sayangnya pangeran dan putri kecil Varia itu dapat melepaskan diri dengan mudah. "Jangan lari kalian!" serunya. Selena dan Xenon pun berusaha menghindari Squalo. Setelah pertarungan panjang, akhirnya mereka bertiga kelelahan dan terlelap di kamar Xanxus.
Suara langkah kaki yang berat terdengar semakin mendekat. Sesaat setelahnya pintu kamar Xanxus terbuka dan seseorang masuk ke dalam. Orang itu tidak lain adalah sang pemilik kamar yang baru saja pulang, Xanxus. Langkahnya terhenti begitu matanya menemukan sosok Squalo, Selena dan Xenon yang tertidur dengan pulas di atas kasurnya. Alis Xanxus berkerut tipis.
Belum saja Xanxus mengusir rain guardiannya itu dari tempat tidurnya, mendadak ia melihat sosok Selena yang terbangun sambil mengucek-ngucek matanya. "Ngh... popa?"
Xanxus pun mengurungkan niatnya dan melangkahkan kakinya menghampiri Selena. Ia menatap bocah kecil yang masih setengah tidur di hadapannya itu. "Bisa jelaskan kenapa kalian bertiga ada di kamarku?" tanya pimpinan Varia itu terdengar sedikit kesal. Wajahnya yang biasanya selalu tenang di depan Selena pun sedikit banyak berubah masam.
"Tadyi moma menceritakan kami celita... teyus kami main geyitik-geyitikan, teyus... teyus... hoaaam." Selena pun menguap lebar tanda ia masih mengantuk.
"Tidurlah lagi." ujar Xanxus singkat sambil membalikkan tubuhnya dan berniat pergi. Namun, tangan mungil Selena menahannya. Pimpinan Varia itu kembali menoleh. "Apa?"
"Popa mau kemanya?"
"Tidur di ruang tamu." jawab Xanxus singkat.
"Kenapa nggak tidul disini saja bersyama Selenya?"
Alis Xanxus terangkat jengkel. Satu tempat tidur untuk 4 orang? Jangan bercanda, biasanya ia tidur di kasur itu sendiri. Mana sudi ia berbagi tempat tidur dengan orang lain, apalagi dengan Squalo. Lebih baik ia tidur di ruang tamu saja.
"Tidak." tolak Xanxus. Ia mengelus pelan kepala Selena. "Kembalilah tidur."
Selena masih belum melepaskan tangannya. "Selenya mau tidul bersyama popa..." ungkap Selena manja. Ia pun menarik tangan Xanxus supaya pimpinan Varia itu ikut tidur bersamanya. "Tidul disinyi saja."
Xanxus terdiam sejenak memandangi mata Selena yang bulat. Bocah ini jelas sudah mengantuk, namun Xanxus yakin Selena bisa berubah keras kepala dan ngotot tidak akan tidur kalau ia tidak tidur disini menemaninya.
"Ini terakhir kalinya aku mendengarkan permintaanmu." ujar Xanxus dengan wajah terpaksa. Selena pun tersenyum lalu menepuk-nepuk kasur di sebelahnya, diantaranya dan Squalo. Dengan wajah masam, Xanxus pun berbaring di sebelah Squalo, namun memunggungi rain guardiannya itu dan menghadap ke arah Selena.
"Tidurlah." ujar Xanxus untuk kesekian kalinya. Kali ini Selena pun menurut dan kembali memejamkan matanya.
Xanxus sendiri tidak bisa tidur. Sungguh tidak nyaman rasanya tidur berdesak-desakan begini. Ingin rasanya ia mendorong Squalo jatuh. Xanxus pun beranjak bangun; benar-benar berniat mendorong Squalo, namun ia kembali mengurungkan niatnya begitu melihat Squalo yang tertidur dengan pulas sambil memeluk Xenon tak sadar. Mungkin ia salah membedakan Xenon dengan guling.
Xanxus memandangi Squalo sejenak. "Ini pertama dan terakhir kalinya kau tidur di kamarku, sampah brengsek." ujar Xanxus dengan wajah jengkel. Ia pun kembali membaringkan tubuhnya dan perlahan tenggelam dalam alam tidurnya.
Thanks for reading!
Review (critics and comments) would be appreciated!
See you next time~
