Hello? Butler!

Cast: Jeon Jungkook, Kim Taehyung and Others

Romance And Friendship

Rated T

Yaoi, Typo, Alur ga jelas

By: Park Chan Gyu

Cast milik Tuhan, Agensi dan orang tua mereka

Hanya cerita dari seorang butler yang bekerja di kediaman keluarga Kim yang terkenal kekejamannya.

Warning : mengandung unsur pembullyan, kekerasan dan perkataan tak pantas.

.

.

*Happy Reading*

.

.

.

.

Sehari sebelum Taehyung diculik, salah seorang yang menyamar menjadi salah satu bagian orang-orang dikelompok Jongin itu memberitahu rencana penangkapan Taehyung. Dia mengatakan kalau kelompok Jongin masih mengintai pemuda itu dan mencari cela untuk menangkap sekaligus memusnahkannya.

Saat itu juga, penjagaan pada Taehyung diperketat tanpa sepengetahuan si empu dan butlernya. Namjoon lah yang menggerakkan seorang mata-mata untuk masuk kelingkup Jongin. Karna ia tau, pemuda yang merupakan sepupunya itu sangat terobsesi pada bloodhair.

Mereka selalu siap kalau Jongin beserta orang-orangnya menemukan Taehyung. Namun, mereka tidak tau kapan itu dilakukan. Ketika orang kepercayaan Namjoon memberitahu segala yang didengarnya pada pemuda itu, mereka membuat rencana. Tiba-tiba segala perkiraan yang telah dibuat sematang mungkin, hancur. Disebabkan, Jongin yang memilih mengikuti Taehyung ketika anak itu lengah dan tanpa penjagaan ketat seperti biasanya.

Siapapun tak ada yang mengira kalau Jongin akan terjun langsung mengikuti Taehyung bersama kawanannya. Saat itu, orang-orang yang biasa menjaga Taehyung dari jauh tengah ikut berunding dikediaman Namjoon. Juga Jungkook yang disibukkan membantu Leeteuk.

Mereka kecolongan dan berubah panik setelah mendapati kabar dari mata-mata yang mengatakan Jongin dan orang-orangnya berada disekeliling Taehyung untuk mengambil dan membasminya. Segera, kelompok Namjoon bergegas menuju lokasi yang diberitahukan mata-mata itu menggunakan mobil dan melaju secepat yang bisa. Dalam perjalanan, Jimin menghubungi Jungkook untuk menyuruh ke lokasi yang diberitahukan.

Jangan tanya Jimin mendapat nomor Jungkook darimana, ia biasa mencuri ponsel Taehyung diam-diam untuk memeriksanya saat mereka bersama. Sedangkan Namjoon menghubungi kakak sepupu yang merupakan kakak kandung Taehyung.

Kesialan sedikit menimpa mereka karna sesampainya ditempat kejadian, Taehyung sudah digeret secara paksa ke dalam mobil dan dibawa ke tempat yang mereka sudah ketahui dari sang mata-mata. Tapi merekapun beruntung karna Jongin dan kawan-kawannya belum pergi dari sana. Segera saja kelompok yang dikepalai Namjoon berlari dan menghajar orang-orang kakak sepupunya tanpa ampun.

Kegaduhan terjadi, kedua kelompok saling bentrok. Saat ada kesempatan, Jongin mencoba untuk kabur karna peluang menangnya sangat tipis dilihat dari beberapa orangnya yang sudah tergeletak tak berdaya diatas aspal panas. Namun dihalangi oleh Jungkook yang sedaritadi memperhatikan Jongin layaknya mangsa yang sudah diintainya sejak lama dan hanya tinggal menunggu waktu untuk melahapnya habis.

Keduanya bertarung hebat, orang-orang di kelompok Namjoon terdiam kala melihat pertarungan antara Jongin dan Jungkook. Bahkan Jimin menelan ludahnya ngeri memandang Jungkook yang tanpa ampun membalas pukulan maupun tendangan yang dilayangkan oleh Jongin.

Sedangkan Taeri, wanita itu sudah mengendarai mobil dengan kecepatan penuh setelah menghajar dua orang lelaki bertubuh kekar yang menghalangi jalannya. Ia mengumpat dalam hati, orang-orang itu membuat dirinya kehilangan mobil yang membawa sang adik.

- Hello? Butler! -

Dan disinilah Taehyung berada. Dikamarnya sendiri ditemani sang kakak yang telah berganti pakaian. Pemuda bersurai light brown itu terus memeluk tubuh kakaknya seolah tak ingin melepaskanya, ia juga terus menangis.

Taeri mengusap punggung penuh kelembutan. Sesekali membisikkan kata-kata menenangkan, tapi bukannya membaik, Taehyung semakin mengeraskan tangisannya ditambah sesegukan yang mengiris hati siapapun yang mendengarnya.

"Tae, ada yang sakit?" Tanya Taeri sudah yang ke-lima kali, namun ia tak mendapatkan jawaban apapun selain tangisan yang keluar dari bibir tebal itu.

Cklek!

Pintu kamar terbuka, Taeri mengalihkan pandangannya ke pintu. Disana ada Jungkook yang memasuki kamar dan kembali menutup pintu, menghampiri adik kakak itu. Saat Jungkook berdiri dibelakang Taeri, wanita cantik itu memilih melepaskan pelukannya pada sang adik. Taehyung mengencangkan tangisannya saat dirasa dekapan hangat sang kakak terlepas.

"Jung.. hiks.. Kook." Pemuda Kim itu akhirnya membuka mulut meski air mata terus mengalir. Ia memeluk pinggang Jungkook seerat mungkin dan membenamkan wajahnya diperut berotot milik Jungkook. Taehyung memeluk Jungkook dalam keadaan pemuda tampan itu berdiri didepannya.

Taeri terkejut, dirinya tadi mencoba mengajak Taehyung berbicara tapi anak itu enggan membalas. Dan ketika Jungkook datang tanpa berbicara, adiknya memanggil butlernya. Wanita itu mendengus separuh kesal, tapi juga lega.

"Aku disini, jangan takut." Ucap Jungkook lembut sembari mengusap rambut belakang tuannya.

"Jongin.. akan memenggal kepalaku." Lirih Taehyung disela tangisannya yang sedikit mereda.

"Tidak ada yang akan memenggal kepalamu, Tae."

"T-tapi.. hiks.. aku takut, mereka akan membunuhku, Kook." Jungkook sedikit membungkuk guna mengusap punggung Taehyung untuk menenangkan tuannya yang masih dalam keadaan syok berat.

"Aku disini, aku akan melindungimu dengan tubuhku. Jangan menangis lagi, semua akan baik-baik saja." Dan kalimat itu berhasil membuat Taehyung sepenuhnya menghentikan tangisannya yang tersisa hanya segukan pelan dari belah bibir itu.

Pelukan itu merenggang, Jungkook mengambil kesempatan untuk mengangkat dagu tuannya dan menghapus jejak-jejak air mata yang tersisa diwajah manis milik sang tuan menggunakan ibu jarinya. Mata kucingnya terpejam menikmati usapan lembut yang berasal dari jemari butlernya.

"Giliran dengan Jungkook saja langsung diam." Sindir Taeri yang masih berada diruangan itu.

Kedua orang yang baru menyadari Taeri yang masih satu ruangan dengan mereka terkejut dan menjauh dari tubuh masing-masing dengan rona menjalar dikedua pipi mereka.

Wanita bersurai panjang itu terkekeh dan memilih keluar kamar adiknya. Ia juga merasa lega melihat adiknya lebih baik saat bersama Jungkook. 'Kim Taehyung sudah mulai bergantung pada seseorang.' Batin Taeri dan bibir tipis itu tersenyum. Dirinya akan membiarkan sang adik bersama sang butler.

.

"Akh!" Pekik seorang wanita tak mampu menahan rasa perih dipergelangan tangannya yang tengah diobati.

"Anda tidak pernah berkelahi, tapi memaksakan diri." Ucap sosok pria berumur yang kini tengah membalut luka dipergelangan wanita itu dengan perban.

"Ash, pelan-pelan Ahjussi." Geram Taeri menahan sakit saat butler setia keluarganya dengan sengaja menekan luka yang sudah diperban tersebut saat mempererat balutan perban dengan plester.

Leeteuk menghela napas setelah selesai mengobati nona mudanya. Wanita itu juga sudah pergi karna mendapat panggilan dari rumah sakit, tempatnya bekerja.

Seingatnya, Kim Taeri tak pernah berkelahi, dia selalu menghindar setiap kali dipancing. Wanita dingin itu memang menguasai beberapa seni beladiri seperti sang adik karna keduanya dilatih langsung oleh sang ayah saat masih kecil.

Demi sang adik, Taeri membiarkan dirinya menghajar habis orang-orang yang menghalangi dirinya dan menyakiti sang adik.

...

Yakin kalau Taehyung sudah bisa mengendalikan emosinya, Jungkook mencoba melepaskan pelukan dari tuannya. Dirinya berniat kembali kekamar untuk beristirahat tapi gerakannya tertahan, sesuatu menarik ujung kaos yang dikenakannya.

"Jangan pergi." Lirih Taehyung menatap netra kelam itu dengan tatapan memohon.

"Temani aku." Tambahnya semakin membuat Jungkook tak tega untuk meninggalkan pemuda ini sendirian.

"Baiklah, aku akan disini." Jawab Jungkook dan pemuda Kim itu segera membaringkan tubuhnya diatas ranjangnya dan memberi ruang untuk butlernya.

Mereka berdua berbaring diatas ranjang milik Taehyung dan saling berhadapan. Diam-diam Jungkook memandangi wajah tuannya yang kini menunduk entah sudah tidur atau belum. Pemuda itu menghela napas dan entah dorongan darimana ia mendekap tubuh kurus itu, memberi kehangatan dari suhu tubuhnya. Dia hanya ingin sang tuan merasa aman dan tidur dengan nyenyak.

Tanpa disadari Jungkook, rupanya pemuda dalam dekapannya belum terlelap. Pemuda yang kini memejamkan mata akan kenyamanan yang tubuhnya dapatkan dari pelukan sang butler itu masih memikirkan banyak hal dikepala kecilnya. Terlalu lelah berpikir, Taehyungpun memilih untuk tidur. Menyusul Jungkook yang sudah tertidur pulas sejak pemuda itu memeluk Taehyung.

#..#

Keesokan harinya, Taehyung terbangun dalam keadaan hanya sendirian dikamarnya. Dengan cepat tubuh kurus itu terduduk dan kakinya menapak ke lantai dingin lalu berjalan menuju pintu. Tangannya sudah meraih kenop pintu dan membukanya, berniat mencari Jungkook yang pasti sedang melakukan sesuatu diluar sana.

Mata kucingnya melebar kala melihat kira-kira 4 orang berkumpul didepan pintunya dan orang-orang itu menyapa Taehyung yang masih dalam mode 'blank Tae'nya. Niatan mencari Jungkook gagal karna orang-orang terdekatnya memaksa untuk masuk kekamar dan menduduki bangku yang tersedia dikamar tersebut.

"Jadi kalian sudah tau?" Ke-empat kepala itu mengangguk sebagai jawaban. Kepala Taehyung menunduk, dia duduk di sofa single sedangkan ke-empat orang didepannya duduk di kedua sofa yang terpisah diantara meja, menatap pemuda Kim dengan intens. Dirinya merasa seperti diintimidasi, padahal itu hanya perasaan saja.

"Namjoon hyung lebih dulu menyadarinya." Jawab Jimin dengan mulut penuh camilan yang dibawa oleh Seokjin untuk menjenguk Taehyung. Sebuah telapak tangan menepuk mulut yang sibuk mengunyah itu membuat Jimin nyaris tersedak dan cepat menelan makanan yang tengah dikunyahnya.

"Telan dulu." Tegur Yoongi melirik tajam ke sang tuannya yang memasang wajah tanpa dosa. Ingin rasanya Yoongi memukul wajah itu kalau tidak ingat mereka ada dimana sekarang.

Kepala pemuda Kim itu sedikit menegak untuk melirik orang-orang didepannya dan kembali menunduk.

"Kenapa.. kalian tidak pergi?" Cicit Taehyung mencoba menahan rasa sakit yang menjalar dijantungnya.

"Untuk apa?" Tanya Namjoon penuh ketenangan, kepala Taehyung menegak dengan raut wajah terkejut mendengar lontaran pertanyaan tersebut. Ia menggelengkan kepalanya, tidak tau harus menjawab apa.

"Tenang saja, kau sudah aman. Anak itu dalam keadaan sekarat." Ucap Jimin setelah menenggak soda yang juga dibeli oleh Seokjin.

"Sekarat?" Ketiga kepala -minus Seokjin- mengangguk dan melemparkan senyum pada Taehyung yang masih mempertahankan wajah terkejutnya.

"Bagaimana bisa?"

"Kau tidak akan percaya, tapi sungguh, Jongin sekarang ada dirumah sakit." Jelas Yoongi yang diberitahukan tuannya sebelum mereka kemari.

"Kalian serius?"

"Tentu saja, aku sendiri yang mengoperasinya." Semua kepala menoleh kearah pintu yang terbuka dan mendapati seorang wanita memasuki kamar tersebut.

"Noona yang membedah tubuh Jongin?" Tanya Taehyung masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Sungguhkah monster bernama Jongin itu dalam keadaan sekarat? Siapakah orang yang mampu membuat seorang Kim Jongin diambang kematian?

"Kau harus tau, Tae. Jongin sekarat karna Jungkook." Ucap Jimin seolah bisa membaca pikiran sahabat baiknya. Tubuh itu tersentak, begitu terkejut mendengar perkataan Jimin mengenai Jungkook yang telah membuat seorang Jongin sekarat.

...

Di halaman belakang kediaman Kim -Soo Hyun-, terdapat seseorang yang tengah menatap dalam diam kobaran api yang menyembul dari sebuah tong ukuran besar. Pemuda itu mengeratkan kepalan tangannya dan sorot matanya kembali tajam dan dingin sesaat dirinya menutup mata sejenak.

Didalam tong sampah yang sudah dipenuhi api berwarna merah kebiruan itu berisikan barang-barang bukti milik 'bloodhair'. Bahkan ada beberapa barang yang masih ada bercak darah. Semua barang bukti itu dikumpulkan tanpa sepengetahuan sang pemilik dan yang mengumpulkan adalah Taeri, karna dia yang paling tau letak barang-barang milik adiknya berada.

Jungkook membakar semuanya demi kebaikan Taehyung dan juga mendapat suruhan dari Taeri. Mereka tidak ingin Taehyung kembali kedalam dunia gelap yang mengerikan itu. Menjadi sosok 'bloodhair' tidaklah menyenangkan, banyak yang diam-diam menaruh perhatian dan mengincarnya.

#H? B!#

"Jungkook!" Panggil seseorang yang sedari tadi hanya diam setelah mendengar beberapa pengakuan dari orang-orang terdekatnya yang masih berada diruangan itu.

Jungkook yang baru saja memasuki kamar milik sang tuan untuk melihat keadaan pemuda manis itu terdiam, tak menyangka kalau ada tamu sang tuan. Ia meragu, walau ada Yoongi dan Seokjin didepannya tengah tersenyum ramah dan melambaikan tangan menyuruh dirinya mendekat. Disana ada Namjoon dan Jimin yang entah mengapa membuat langkahnya terhenti. Untuk Jimin, dia mungkin baik-baik saja, tapi Namjoon? Dia masih sedikit sungkan.

"Kau darimana saja?" Tanya Taehyung sembari memasang wajah merajuk. Tidak tahukah sedaritadi dirinya menunggu Jungkook bahkan nyaris mencarinya kalau tidak ada kakak sepupu dan teman baiknya beserta butler mereka bertamu dikamarnya?

"Ah.. aku dari halaman belakang." Jawab Jungkook mencoba menghilangkan rasa gugupnya.

Ke-empat pasang mata yang sedari tadi diam itu semakin diam. Terlebih Namjoon dan Jimin yang sedikit terkejut melihat interaksi antara Taehyung dan Jungkook yang nampak akrab, seperti tidak ada perbedaan antara tuan dan butler.

Setahu mereka, Taehyung itu sulit dekat dengan orang lain.

Seokjin yang jengah dengan keheningan yang melanda mereka memilih untuk mencairkan suasana menggunakan lelucon. Sayangnya, lelucon dari Seokjin sama sekali tidak lucu dan semua yang disana malah menertawakan Yoongi yang berani mencibir leluconan Seokjin, membuat lelaki tertua diantara ke-enam orang itu balas mencibir.

Ruangan itu kembali ramai dengan perdebatan tidak penting antara Yoongi dan Seokjin, sesekali Jimin yang hobi bercanda itu menimpali dan berakhir dipukul oleh kedua butler tersebut. Taehyung terus tertawa dan sesekali bertepuk tangan, Jungkook yang diam-diam memperhatikan tuannya tersebut dan tersenyum setelah memastikan jikalau sang tuan sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.

-...-

Hari-hari terus berlanjut tanpa bisa dihentikan. Sudah sekitar enam bulan berlalu semenjak kejadian yang dialami Kim Taehyung itu. Tak ada lagi seorang bloodhair yang berkeliaran dimalam hari untuk mencari mangsa, pun tak ada lagi orang yang tergeletak dalam keadaan berlumur darah dan tak sadarkan diri dipinggir jalan.

Semua berjalan normal, aktifitas seorang Kim Taeri mulai stabil dan tak harus berlari-lari mengejar waktu dan menyelamatkan satu nyawa yang diakibatkan oleh seorang bloodhair. Begitu pula sang adik yang nampak lebih baik dan layaknya remaja lain. Pemuda itu lebih sibuk bermain dan bercengkrama oleh sang butler yang tidak lain Jeon Jungkook.

Disekolah pun, ada yang berbeda dari Kim Taehyung. Dia tak lagi tertidur dikelas maupun ditempat lain, tapi dia masih saja malas belajar dan menggerutu akan materi pelajaran yang jarang masuk dikepalanya. Jimin, sang sahabat karibnya itu tak habis pikir, Taehyung memiliki butler yang cerdas dan selalu sabar mengajari pemuda itu, tapi kenapa Taehyung tetap malas belajar dan terus mengeluh ini itu?

Kalau Jimin jadi Taehyung, sekuat tenaga dia akan fokus belajar, walau dia sama saja dengan Taehyung. Sama-sama bodohnya dan hanya pintar di seni bela diri saja.

"Kau serius mau masuk Hanyang?" Tanya Jimin mencoba meyakini dirinya yang tak salah dengan akan jawaban sang sahabat masalah universitas yang ingin di masukinya.

Pemuda tan itu mengangguk sembari mengerjakan deretan soal uji coba ujian masuk universitas. Sesekali menggaruk pelipisnya yang tidak gatal tanda dia agak bingung dengan soal yang tertera dikertas tersebut. Jimin mendengus, sedikit tidak percaya kalau sahabat satunya ini dengan percaya diri akan masuki Hanyang University. Hei, tak semudah itu masuk universitas terbaik di Seoul.

"Hei Jim, jawaban nomor 27 apa?" Tanya Taehyung menunjuk soal yang menyulitkannya. Mata sipit milik pemuda Park itu melirik, membaca soal yang ditunjukan Taehyung padanya.

"Astaga, kau masih saja bodoh bahasa inggris." Sindir Jimin, temannya ini memang paling lemah dibahasa inggris dan matematika.

"Sudah, bantu saja. Aku benci bahasa inggris." Balas Taehyung sedikit mengerucutkan bibirnya tak terima. Jimin kalau sudah berbicara, suka tidak bisa diatur.

Akhirnya Jimin mengajari beberapa yang Taehyung tidak mengerti. Ngomong-ngomong mereka sedang berada diruangan milik Jimin dan tengah belajar bersama untuk persiapan ujian masuk universitas. Kalau kalian bertanya tentang Jeonghan yang tidak terlihat, pemuda berwajah cantik itu memilih belajar sendiri karna universitas yang ingin dicapainya cukup sulit dan berat. Berbeda dengan Jimin dan Taehyung yang memilih universitas terbaik di Korea tapi masih belajar dengan soal-soal standar dan menjawabnya asal-asalan.

Keduanya terus belajar bersama sampai mereka tertidur dengan buku soal menjadi bantal. Terlalu lelah mengerjakan soal-soal dibuku tebal yang diberikan pihak sekolah untuk murid-murid dikelas akhir. Padahal mereka baru mengerjakan 40 soal, itupun seharian baru selesai dan tidak tau jawabannya benar atau salah.

Yoongi memasuki ruangan tuannya dengan nampan dikedua tangannya. Kepalanya menggeleng kala melihat kedua orang yang lebih muda darinya sibuk menyelami alam mimpi. Jemarinya menaruh 2 cangkir teh hijau hangat dan sepiring kue kering diatas meja yang masih lega. Mata sipit itu hanya melirik Jimin dan Taehyumg tanpa ada niatan membangunkan salah satunya, tak tega saat melihat guratan lelah dari wajah keduanya. Toh, besok hari libur. Biasanya Taehyung akan menginap dirumah sang tuan untuk kembali belajar, walau akhirnya mereka memilih bermain games dikamar Jimin dan berakhir tertidur bersama.

...

"Jungkook? Kau sedang belajar?" Panggil seseorang setelah berhasil membuat pintu jingga itu. Menampakkan tubuh berbalut piyama dan sebelah tangan memeluk beberapa buku dan tempat pensil.

Jungkook yang tengah membaca buku catatannya menolehkan kepala dan melemparkan senyuman pada pemuda yang masih berdiri didekat pintu.

"Kemarilah, ada yang sulit bagimu?" Tangannya mengibas, menyuruh tuannya untuk berjalan mendekat dan benar saja, Taehyung langsung berjalan ke meja belajar Jungkook.

"Kau sudah menyelesaikan soal yang kemarin?" Tanyaa Jungkook penuh perhatiian saat Taehyung menaruh tumpukan buku yang dibawanya diatas meja dan menduduki kursi kosong yang juga tersedia disana. Sebuah kursi yang dibawa Taehyung sendiri semenjak dirinya memilih untuk belajar dikamar Jungkook.

Kepala si surai light brown itu mengangguk dan menggeleng setelahnya. Jungkook hanya mampu terkekeh, tuannya ini terlampau manis dan membuatnya gemas sendiri.

"Baiklah, mari kita selesaikan." Ujar Jungkook mengambil alih buku yang dibawa Taehyung dan membukanya.

Keduanya pun belajar bersama, Jungkook yang telaten mengajari sang tuan dan Taehyung yang mencoba untuk fokus pada penjelasan Jungkook walau sesekali mencuri pandang ke arah pemuda berwajah tampan tersebut. Ingatkan Taehyung kalau didepannya ini adalah butlernya sendiri.

Jungkook mendengus pelan saat mengetahui kalau orang yang tengah diajarinya kini telah tertidur pulas dengan lengannya sendiri sebagai bantal. Tangannya bergerak membereskan beberapa buku yang berserakan dan menaruhnya dibawah meja.

"Tae, bangun." Panggil Jungkook sembari menepuk pelan pipi kurus tersebut, namun yang didapatnya adalah erangan halus dari sang empu.

"Tae, ayo pindah ke tempat tidur." Ujar Jungkook berusaha membangunkan Taehyung yang semakin menyamankan kepalanya dilengannya sendiri.

"Nghh- sebentar.." Pemuda Jeon itu menggeleng, memilih diam dan memperhatikan tuannya yang teramat manis dan polos jika tengah tertidur.

Wajah Taehyung yang sedang tertidur menjadi favorit Jungkook bahkan saat pertama kali sang tuan mengajaknya tidur bersama.

Sejak kejadian itu, Jungkook dan Taehyung akan tidur bersama disetiap malam. Taehyung yang lebih sering tertidur dikamar Jungkook setelah belajar bersama, sedangkan Jungkook akan tidur dikamar Taehyung ketika pemuda berambut mangkuk itu mengajaknya nonton film bersama. Intinya, mereka semakin dekat dan bagaikan amplop dan perangko yang sulit terpisahkan. Lebih tepatnya, Taehyung yang sering mengikuti Jungkook atau pemuda itu memaksa Jungkook untuk menemaninya bepergian.

Terlepas dari lamunannya, Jungkook memilih untuk menggendong tubuh Taehyung ala bridal style dan membawanya ke kasur empuk miliknya. Tubuh kurus itu menggeliat pelan guna mencari posisi nyamannya setelah dibaringkan diatas kasur oleh Jungkook.

Jungkook sudah berbaring disamping Taehyung, kembali mengamati wajah manis itu dan tertidur setelah membisikkan kata selamat malam pada sang tuan yang kini dalam posisi memunggunginya.

-...-

Hari ini hari libur, dimana semua orang tengah menikmati liburan mereka dengan berbagai macam cara. Tapi tidak dengan Taehyung yang memasang wajah memberenggut karna sejak pagi tadi, butlernya tidak menampakkan batang hidungnya.

Bibir tebalnya sudah beratus kali mengucapkan banyak kata-kata dari yang halus sampai kasar. Semua penghuni rumah hanya diam memperhatikan sang tuan muda yang nampak tengah merajuk. Seperti sedang menunggu seseorang lain yang tidak pasti.

"Tuan muda kenapa?" Bisik salah satu maid pada Kyungsoo yang sibuk meracik makanan. Bahu lelaki pemilik bibir berbentuk hati itu terangkat, "Aku tidak tau." Jawab Kyungsoo seadanya.

"Paling juga sedang menunggu Jungkook." Ucap Sejeong saat memasuki area dapur.

Semua yang didapur hanya mengangguk paham dan sesekali meliriki tuan muda mereka yang duduk dengan gusar di sofa ruang tamu.

"Yak! Jeon Jungkook!" Seru Taehyung sesaat mata kucingnya melihat Jungkook memasuki rumah.

"Ada apa?" Tanya Jungkook santai, seolah tak memahami Taehyung yang sudah menunggunya sejak pagi tadi dan sudah memasang wajah kesal.

"Darimana saja?!" Bukannya menjawab, Taehyung balik bertanya dengan nada kesal yang tak tertahankan.

"Membantu nona Taeri membawakan barang-barang ke rumah sakit." Jawab Jungkook memilih untuk berjalan kedapur karna dirinya sangat haus setelah membantu Taeri mengangkat beberapa barang berat saat dirumah sakit.

Taehyung mendelikkan matanya dan mengikuti arah Jungkook yang berjalan ke dapur.

"Memangnya di rumah sakit tidak ada siapapun untuk menolong noona-ku apa?!"

Jungkook yang sudah membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral itu terhenti. Ia menolehkan kepalanya ketika merasakan ada banyak tatapan yang tertuju padanya. Matanya mengerjap tak paham lalu tanpa peduli menenggak air mineral sampai separuh botol.

"Jungkook!"

"Aku mendengarmu, Tae." Jungkook membalas setelah berhasil menghilangkan dahaganya. Tungkai berisinya yang berbalut jeans itu melangkah keluar dapur dan berjalan ke tempat Taehyung berada dan diabaikannya akibat rasa haus yang perlu dihilangkan.

Dilihatnya Taehyung sudah bersedekap dada dan memasang wajah kesal yang begitu kentara. Senyuman tipis terpantri di belah bibir tipis milik Jungkook.

"Tae.."

"Aku kesal padamu." Sahut Taehyung sangat cepat. Pemuda berambut cepak dan berponi itu nyaris terkekeh tapi ditahannya sekuat tenaga. Tak ingin membuat sang tuan semakin kesal padanya.

"Kau mau pergi? Ke sungai han misalnya?" Tawar Jungkook berdiri disamping sofa, bisa melihat bagaimana kepala itu berpaling.

"Tidak mau." Tolak Taehyung tidak membuat Jungkook kehilangan akal.

"Hm.. bagaimana kalau ke lotte world?" Dan ajakan itu berhasil mengalihkan atensi seorang Kim Taehyung. Matanya mengerjap polos dan penuh minat ketika mendengar tempat yang sudah jarang dikunjunginya.

"Ke lotte world? Kau serius?" Taehyung balik bertanya dan matanya berbinar saat mendapati kepala butlernya mengangguk.

"Ayo ke lotte!" Seru Taehyung penuh semangat, seolah tak ada perasaan kesal yang menjalari dirinya karna Jungkook.

"Tae." Tangan itu menahan lengan Taehyung yang sudah loncat dari sofa saking semangatnya.

"Kau tak akan pergi dengan-" Jungkook memberi jeda dan memandang pakaian yang dikenakan Taehyung.

"-pakaian itu kan?"

"Eoh?" Mata Taehyung mengerjap dan mengikuti arah pandangan Jungkook. Taehyung tersenyum lebar saat menyadari kebodohannya. Ia masih memakai piyama dengan motif kepala macam berwarna oranye terang menyamai warna matanya yang indah.

"Tunggu aku!" Teriak Taehyung setelah genggaman Jungkook padanya terlepas, pemuda berkulit tan itu berlari secepat yang ia bisa. Jungkook nyaris berlari menghampiri pemuda yang dengan cerobohnya hampir terpeleset dan terjatuh dari anak tangga saking cepatnya menaiki anak tangga.

...

Taehyung memandang takjub isi lotte world setelah berhasil melewati antrian cukup panjang bersama Jungkook. Keduanya berjalan beriringan, Taehyung yang memang tidak bisa diam itu berlari saat melihat ada sebuah wahana yang menarik perhatiannya.

"Tae!" Panggil Jungkook berlari menghampiri Taehyung yang sudah mengantri untuk menaiki wahana komedi putar. Beruntung Taehyung memakai hoodie berwarna abu-abu bercorak macan, jadi mudah menemukannya.

"Kook, aku mau main itu." Tunjuk Taehyung penuh semangat. Jungkook mengangguk pelan, mengiyakan permintaan tuannya.

.

Seharian penuh dihabiskan oleh Taehyung dan Jungkook di dalam lotte world. Keduanya begitu menikmati semua wahana yang mereka mainkan, lebih tepatnya Taehyung yang sangat menikmatinya karna Jungkook hanya mengikuti apa yang Taehyung inginkan.

Ditempat ini, Jungkook bisa melihat bagaimana seorang Kim Taehyung yang dulu sempat menjadi bloodhair ini nampak seperti anak balita. Tidak bisa diam dan berlari kesana kemari tanpa berpikir untuk beristirahat sejenak. Jungkook sampai kewalahan menghadapi tingkah Taehyung. Terkadang merengek dan mengeluarkan jurusnya yang tak mungkin bisa ditolak oleh Jungkook saat pemuda itu melarang Taehyung menaiki wahana ekstrim. Hhh, mungkin mengajak pemuda Kim ke lotte world bukan ide yang baik.

Setelah mengambil foto bersama salah satu tokoh disney, Jungkook membawa Taehyung ke kedai eskrim untuk membeli eskrim dan beristirahat sejenak. Keduanya makan eskrim di kedai tersebut ditemani celotehan berisik namun menyenangkan dari bibir Taehyung.

Jungkook begitu menikmati saat dimana dia bisa melihat rona bahagia terpancar dari wajah Taehyung. Meski dirinya harus membuang banyak uang untuk hari ini, itu bukan masalah asal dirinya bisa melihat wajah itu terus mengeluarkan senyum dan tawa bahagia.

Semua wahana sudah dijelajahi dan Taehyung sepertinya masih menyimpan banyak energi ditubuhnya. Karna sekarang meski hari sudah malam, Taehyung masih bisa berlarian dan memandangi sekitar yang banyak lampu-lampu cantik menyala indah ketika malam tiba.

Ada rona merah menjalari pipi Taehyung saat sebuah genggaman ditelapak tangan kanannya yang terasa tiba-tiba. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati seseorang yang membawanya kemarilah yang menggenggamnya begitu erat.

"Jangan berlarian terus, kau tidak lelah?" Tanya Jungkook tak menolehkan kepalanya dan terus berjalan. Taehyung mengerjapkan matanya. Pemuda itu menyadarinya, Jungkook pasti sangat lelah, dilihat dari caranya mengatur nafas dan wajahnya sedikit memucat akibat terus berlarian mengejar dirinya yang tidak bisa diam.

"Maaf." Lirih Taehyung menundukkan kepalanya. Kepala Jungkook menoleh dan tangan bebasnya mengusap rambut sehalus sutra itu penuh perhatian.

"Aku tidak ingin kau berakhir sakit nanti." Ujar Jungkook, Taehyung menegakkan kepalanya dan menatap mata hitam Jungkook. Dan Taehyung sangat menyesal sudah menegakkan kepalanya karna matanya tak bisa lepas dari mata setajam elang dan sedingin es yang selalu mampu membuatnya terjebak dalam pesona pemuda itu. Kalau hari masih siang, dapat dipastikan pipinya yang sudah memerah terpapar sinar matahari akan semakin memerah bagai tomat. Untungnya, hari sudah gelap sehingga Taehyung tak perlu menutup wajah yang memerah karna malu akan perlakuan Jungkook dan juga tatapan pemuda itu.

Keduanya memilih berjalan keluar lotte world saat dirasa sudah sepi pengunjung.

"Aw.." Rintih Taehyung ketika merasakan nyeri pada betisnya, sepertinya efek dari berlarian tadi baru terasa sekarang. Disaat keduanya berjalan beriringan menuju sungai han setelah turun dari bus dan mereka masih bergenggaman tangan. Tempat yang ingin Taehyung kunjungi untuk menghabiskan malam liburannya.

"Kakimu sakit?" Tanya Jungkook sedikit membungkuk, memastikan kalau kaki Taehyung baik-baik saja. Taehyung hanya mengangguk dan mendesis, tapi itu tak terlihat oleh Jungkook.

"Sakit, Kook." Taehyung semakin merintih kala jemari Jungkook menggenggam salah satu betisnya dan menekannya. Jungkook menghela napas dan melepaskan genggaman tangan Taehyung. Pemuda Kim itu mengedipkan matanya tak paham melihat punggung Jungkook saat pemuda itu berjongkok didepannya.

"Ayo naik, kita pulang saja." Suruh Jungkook menepuk pelan bahunya, meminta Taehyung naik ke punggungnya dan membiarkan dirinya menggendong sang tuan.

"Tapi, aku mau ke sungai han." Sisi keras kepala Taehyung sudah kembali, kalau begini akan sulit membujuknya.

"Ya sudah, naik saja dulu."

"Nanti kau tidak membawaku ke sungai han."

"Astaga, kau dan kepala mangkukmu itu. Cepat naik ke punggungku dan aku akan membawamu kemanapun kau mau." Perintah Jungkook memaksa, Taehyung dibuat takut dan akhirnya menuruti perintah Jungkook untuk menaiki punggung kokoh itu walau agak ragu.

Jungkook berjalan dengan menggendong Taehyung dipunggungnya. Dia berjalan dalam diam dan Taehyung pun memilih untuk diam sehingga suasana menjadi hening dan canggung.

Taehyung sudah berniat memecahkan keheningan itu kalau saja dirinya tak menyadari kalau ini adalah salahnya. Jadilah ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan memilih kembali diam.

Taehyung membenci keheningan, itu bisa membuatnya merasa mengantuk. Seperti saat ini, diiringi malam yang tak terlalu dingin dan angin berhembus membuatnya menyamankan diri dan mengeratkan rangkulan tangannya pada leher jenjang milik Jungkook. Tanpa disadarinya, kepalanya sudah bersandar pada pundak kokoh itu dan matanya terpejam. Rasa kantuk mengalahkannya untuk tetap terjaga.

Jungkook yang sedaritadi hanya terdiam dan tetap berjalan, menyadari kalau sang tuan sudah tertidur dalam gendongannya. Bibir tipis itu tersenyum tipis, ada sedikit rasa perih terpancar pada sorot mata elang itu dan mendengus geli menyadari kebodohannya.

Kakinya berbalik arah, memilih untuk pulang kerumah dan membiarkan Taehyung tidur nyenyak dikasur nyamannya.

...

Keesokan harinya Taehyung terbangun dikamarnya sendiri. Sama sekali tidak ingat kapan ia sudah berada dikamarnya dalam keadaan hoodie yang sudah ditanggalkan dan tersisa kaos polos dan celana denim berwarna putih melekat ditubuhnya. Kakinya melompat dari ranjang dan berlari keluar kamar, mencari seseorang yang sudah membawanya pulang.

"Jungkook." Panggil Taehyung berlari menuruni tangga setelah melihat seorang pemuda yang identik berpakaian serba hitam itu sedang menggeret sebuah koper berukuran besar.

"Eoh, koper itu untuk apa?" Tanya Taehyung berjalan menuruni tangga dimana Jungkook sedang mengangkat koper besar menaiki tangga.

Jungkook terdiam tanpa berniat menjawab lebih dulu, terlalu bingung harus menjawab apa.

"Kook?" Panggil Taehyung yang tak langsung mendapatkan jawaban dari butlernya. Dia terus mengikuti Jungkook yang menaiki tangga menuju kamarnya.

"Ada beberapa barang yang harus di kemas." Jawab Jungkook seadanya, dia tak mungkin menjawab yang sebenarnya pada sang tuan.

"Kau akan pergi?" Kali ini Taehyung menahan tangan Jungkook saat pemuda bergigi kelinci itu akan menggeret koper tersebut sesaat sampai diatas lantai 2.

Jungkook menghela napas, dilepaskannya genggaman tangan Taehyung pada lengannya dan menatap sejenak mata kucing yang selalu membuatnya tersesat dalam sesaat.

"Aku tidak akan pergi." Jawab Jungkook buru-buru mengambil langkah lebar memasuki kamar dan menutup pintu kamar berikut kopernya. Dia tidak ingin menoleh dan melihat raut wajah Taehyung, Jungkook tidak ingin goyah karna wajah manis itu. Tidak atau dia akan kehilangan kesempatan.

Malam ini, Jungkook duduk terdiam dikursi dan menopangkan kedua sikunya diatas meja belajar. Digenggamannya terdapat paspor, visa juga tiket pesawat yang sudah tersedia sejak lusa lalu. Sebelum dirinya mengajak Taehyung pergi ke lotte world. Matanya memandangi dokumen penting tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan. Banyak emosi menyatu disana. Beberapa kali terdengar hembusan nafas dari belah bibir tipisnya, menandakan betapa beratnya ia menghadapi polemik yang terjadi pada dirinya sendiri.

Tak jauh berbeda dengan yang dialami Jungkook. Seseorang tengah termenung didepan jendela yang beberapa bulan lalu selalu terbuka saat malam tiba. Wajahnya melesu tak semangat memikirkan hal-hal yang mungkin terjadi tanpa ia minta. Seperti Jungkook yang akan meninggalkannya? Entahlah, Taehyung tiba-tiba memiliki firasat mengenai itu. Terlihat jelas dari gelagat pemuda itu ketika ditanyai olehnya tentang koper besar yang dibawanya. Padahal, Taehyung sudah nyaman akan adanya Jungkook disampingnya, terlampau nyaman sampai takut ditinggalkan oleh pemuda tersebut.

Memikirkannya membuat Taehyung sulit untuk menutup mata barang beberapa menit sampai akhirnya dia tak bisa tertidur dan memilih memandangi pemandangan luar jendelanya yang gelap.

.

Pagi pun tiba, keberanian dalam diri pemuda yang masih bergelung selimut diatas ranjangnya langsung luntur dan seketika takut untuk bangun. Belum bisa menerima kenyataan apabila Jungkook akan pergi. Ia tetap mengubur dirinya dibawah selimut tebal, bahkan saat Leeteuk mengetuk pintu dan berteriak, mengatakan sarapan sudah siap. Taehyung tak bergeming. Sampai sebuah suara bising dari roda-roda yang berputar sesuai porosnya dan ada sedikit bantingan dari roda-roda yang mengenai anak tangga, membuat kedua tangan kurus itu menyibakkan selimut.

Dengan langkah pelan, Taehyung menguatkan dirinya untuk keluar kamar dan melihat keluar kamar. Langkahnya terhenti dipagar besi tangga ketika mendapati seseorang yang selalu ada untuknya tengah bercengkrama dengan sang kakak. Pemuda itu memakai pakaian santai dan sepatu serta ransel yang diberikan Taehyung saat hari ke-dua ia tinggal dirumah ini. Telapak tangannya menggenggam kuat gagang besi tersebut saat matanya melihat sebuah koper besar yang kemarin Jungkook bawa, berada disampingnya.

Taehyung segera memasuki kamarnya dan membanting pintu tak peduli kalau pintu itu akan rusak akibat dirinya. Ia tak peduli. Hatinya terlanjur sakit dan butuh pelampiasan. Kepalanya ditenggelamkan kedalam bantal empuk miliknya, membiarkan air mata membasahi bantalnya. Untuk kedua kalinya, dirinya menangisi orang lain.

Suara bantingan yang berasal dari pintu berwarna putih tulang itu mengalihkan perhatian Jungkook yang tengah berbincang bersama Taeri. Sorot matanya menyendu memandangi pintu tersebut. Sebuah tepukan dibahunya membuat kepalanya menoleh dan mendapati Taeri tersenyum tipis.

"Biarkan dia, aku akan mengatasi adikku." Ucap Taeri menenangkan.

"Tapi noona.."

"Percuma kau mengajaknya bicara. Lebih baik kau berangkat sekarang. Kau bisa ketinggalan penerbangan." Balas Taeri cepat-cepat. Jungkook hanya bisa menghela napas dan menundukkan kepala.

Setelah berpamitan dengan para penghuni rumah -kecuali Taehyung-, Jungkook berjalan keluar rumah tersebut dan menuju sebuah mobil bmw berwarna putih yang akan membawanya ke bandara. Dalam hati, ia masih berat untuk pergi. Tapi semua ini demi masa depan yang telah dijanjikan tuan Soohyun padanya. Jadi, sekuat tenaga Jungkook berusaha mencapai impiannya dan membenahi masa depannya yang sempat dipikirnya akan sama suramnya dengan kehidupan lampau.

.

.

Taeri hanya terdiam sesaat setelah membuka pintu putih itu dan ingin mengajak bicara sang adik yang pasti sedang sedih ditinggalkan sang butler. Namun, alih-alih menemukan sang adik yang mungkin sedang bergelung bersama selimut, yang didapatinya adalah jendela kamar yang terbuka dan tak ada si pemilik kamar, selain keadaan ranjangnya yang berantakan. Sang adik kabur kembali tanpa sepengetahuannya, tapi entah mengapa Taeri merasa tenang dan membiarkannya, karena sang adik tak mungkin melakukan sesuatu yang ekstrim seperti yang lalu.

-...-

Jungkook sudah menarik gagang kopernya dan mengeratkan genggamannya pada paspor yang diselipkan visa dan tiket pesawat ditangannya. Dirinya sudah siap untuk perjalanan jauh dan panjang ini. Sampai sebuah suara panggilan menghentikan langkahnya, ia mengambil ponsel yang disimpannya diransel dan akan mengangkatnya kalau saja nama kontak dilayar ponselnya tak menghentikan jarinya untuk menggeser tombol hijau. Sekuat tenaga Jungkook menggeser tombol hijau dan menaruh ponsel pemberian Taehyung ke telinga kirinya.

"Ha-lo." Susah payah Jungkook mengeluarkan suaranya yang tiba-tiba terasa menghilang.

"Berbaliklah." Suara parau itu, Jungkook tak bisa menahannya. Bayangan Taehyung tengah terisak dan air mata terus mengalir dipipi kurusnya tanpa henti membuat Jungkook ingin merengkuh tubuh kurus itu dan menenangkannya.

Dengan cepat, tubuh itu berbalik dan mendapati seseorang yang sangat ingin dipeluknya berada tak jauh dari tempatnya.

Taehyung disana, masih memakai piyama favorit yang begitu pas dan lucu bila pemuda itu yang memakainya. Bernapas secara tak beraturan seolah baru saja mengikuti maraton, walau kenyataannya dia memang berlari mengejar waktu penerbangan yang akan membawa Jungkook entah kemana. Tangannya menjauhi ponsel yang sempat menempel ditelinganya dan mematikan panggilannya pada nomor milik Jungkook.

Tungkai kurusnya melangkah besar menuju tempat Jungkook berdiri. Jungkook hanya bisa diam, menatap tak percaya kalau tuannya akan jauh-jauh ke bandara untuk menemuinya. Walau ia tak tau apa yang ada dipikiran pemuda manis tersebut.

Jungkook hanya bisa diam ketika Taehyung sudah berada dihadapannya dan membiarkan kepalan tangan itu memukuli dadanya. Disetiap pukulan itu tak jarang Taehyung mengeluarkan air matanya dan terisak.

"Kau akan pergi?" Tanya Taehyung disela-sela tangisannya yang belum mereda, hanya pukulannya saja yang ia hentikan.

"Ya.." Lirih Jungkook.

"Kau akan.. hiks.. kuliah diluar negri?"

"Ya."

Taehyung menggigit bibirnya dan membiarkan kepalanya bersandar pada pundak kokoh milik Jungkook. Ia tak lagi bisa membendung air matanya yang terus keluar tanpa henti.

"Jahat." Cicit Taehyung dengan suara parau. Tak tega dan tak bisa membiarkan pemuda ringkih itu terus menangis, lengan berotot itu merengkuh tubuh sang tuan. Memberikan kehangatan sejenak sebelum mereka berpisah untuk waktu yang lama.

"Maaf." Lirih Jungkook mengusap punggung bergetar tersebut penuh sayang.

Mereka terdiam sejenak, saling menikmati moment ini. Sejenak, Taehyung merasa tenang dan bisa mengendalikan emosi yang menggerogoti relung hatinya.

"Berapa lama kau pergi?" Taehyung membuka suara setelah beberapa menit berdiam diri, menikmati usapan telapak tangan Jungkook pada punggungnya.

"Sampai aku mendapat gelar sarjana." Jawab Jungkook melepaskan pelukannya pada Taehyung. Onyxnya bertemu dengan mata oranye itu dan ibu jarinya mengusap pipi favoritnya yang dibasahi oleh air mata.

Taehyung menundukkan kepalanya, mencoba menutupi rona merah yang keluar akibat perlakuan lembut yang Jungkook lakukan pipinya.

"Kau tega, Kook."

"Aku sudah bekerja keras untuk masuk Hanyang. Tapi kau memilih universitas diluar negri." Gerutu Taehyung masih sesegukan akibat tangisan yang baru saja reda beberapa menit lalu.

"Tunggu aku, aku akan kembali secepatnya." Ucap Jungkook penuh harap walau seharusnya ia tak boleh berharap. Dirinya dan Taehyung hanya sebatas tuan dan butler. Apa yang kau harapkan dari hubungan ini? Berharap Taehyung akan menunggumu? Astaga, Jungkook mulai berkhayal.

Tapi respon yang didapatnya sungguh tak diduganya sebelumnya, meski ada perasaan senang menggelitik hatinya yang dulunya kosong itu.

Taehyung mengangguk penuh keyakinan dan memasang wajah yang lebih baik dari tadi. Setidaknya tak ada lagi kesedihan diwajah manis itu.

"Cepatlah kembali dan temui aku." Ucap Taehyung dengan manisnya menunjukkan senyuman kotak yang mampu membuat Jungkook selalu terjatuh dalam pesona itu.

Keduanya saling melempar senyum setelah menyadari betapa konyolnya mereka. Namun, sebuah suara dari sound speaker menggelegar memenuhi bandara, suara itu memberitahukan kalau penerbangan menuju Jepang akan segera berangkat.

Jungkook sudah akan bersiap membalikkan tubuhnya dan menggenggam gagang koper, tapi ia menahan diri dan mengambil sebuah gelang berbahan alumunium dengan beberapa ukiran melengkung disetiap sisi dikantung jaketnya. Tangannya menarik paksa lengan Taehyung dan memasangkan gelang tersebut pada pergelangan tangan Taehyung.

"Ini pemberian ibuku sebelum dia meninggal." Gumam Jungkoo setelah berhasil memasangkan gelang itu, menepuk gelang tersebut dan tersenyum.

"Aku akan kembali secepatnya, dan mengambil milikku." Ucap Jungkook membuat janji lisan. Taehyung yang sejak tadi memilih diam dan membiarkan Jungkook memasangkan gelang di tangannya, kini tersenyum dan mengangguk.

"Cepatlah kembali." Balas Taehyung masih mempertahankan senyumannya.

Disaat itu, Jungkook membalikkan tubuhnya dan menarik koper menuju antrian orang-orang yang memiliki tujuan yang sama dengannya. Sesekali ia menolehkan kepala dan melambaikan tangan. Taehyung yang tetap tak mengalihkan atensinya pada punggung pemuda itu balas melambaikan tangan dan tersenyum lebar.

Membiarkan Jungkook pergi jauh dan memberikannya janji untuk cepat kembali, sudah cukup bagi Taehyung. Setidaknya ia akan memfokuskan diri pada ujian kelulusan dan ujian masuk universitas.

Hembusan napas itu menjadi tanda bahwa Jeon Jungkook, butler yang begitu disayanginya telah menghilang dari pandangannya.

-..-

Didalam pesawat, Jungkook tak henti-hentinya memikirkan saat dirinya berada diruangan milik tuang besar dan berbincang singkat bersama beliau.

"Kau ingin bersama Taehyung selamanya?" Jungkook tersentak mendengar pertanyaan yang diajukan oleh sang tuan besar padanya.

"Ah, mana mungkin saya bisa bersanding dengan tuan muda." Jawab Jungkook merendah.

"Kau bisa melakukannya."

"Ya, tuan?"

"Kau hanya perlu masuk universitas yang aku rekomendasikan padamu. Jika kau mampu masuk salah satu universitas terbaik di Jepang. Kau bisa memiliki Taehyung-ku." Jelas Soohyun menyerahkan sekitar lima lembar kertas pada Jungkook dan langsung diterima pemuda itu.

"Anda.. serius, tuan?" Jungkook menatap ragu ke arah Soohyun yang memasang raut dingin di wajah tegasnya. Soohyun menganggukkan kepala.

"Kerjakan itu, kirim padaku kalau kau sudah yakin dengan jawabanmu."

Dan Jungkookpun langsung keluar ruangan menuju kamarnya. Terdiam sejenak lalu menyelesaikan deretan soal yang beruntung dipahaminya berkat otak cerdas yang dianugerahkan Tuhan padanya.

Kemudian, Jungkook mengalihkan padangannya keluar jendela pesawat yang berada disampingnya tepat.

Kembali mengingat dimana, lusa lalu sang nona mendatangi kamarnya dan menyerahkan beberapa dokumen padanya.

"Ini dari ayahku, lusa kau akan pergi ke Jepang." Ujar Taeri menyerahkan dokumen kelengkapan untuk pergi ke luar negri. Jungkook menatap tak percaya pada dokumen yang ada dimeja belajarnya.

"Kau diterima di Osaka University. Jadi, kau harus mengikuti beberapa tes untuk klasifikasi." Jelas Taeri saat menyadari kalau Jungkook tak paham apapun akan apa yang dikatakannya.

"Lalu.. bagaimana ujianku?" Tanya Jungkook menatap mata mahoni yang setajam elang itu.

"Kau ujian online. Pihak sana yang akan mengawasi ujianmu." Jawab Taeri dan memilih keluar kamar setelah memberikan dokumen dan menjelaskan tentang diterimanya Jungkook di universitas yang ada di Jepang.

Jungkook terdiam, lalu teringat akan sesuatu. Ia mengambil ponselnya yang tersimpan dikantung jaket, menekan tombol on dan memandangi layar ponselnya.

Terdapat foto seorang Taehyung tengah berpose manis bersama tokoh disney. Jungkook tersenyum melihatnya, foto itu menjadi wallpaper sejak kemarin dan beruntungnya dia menggunakan ponselnya untuk mengambil gambar Taehyung. Baru beberapa jam, Jungkook sudah merindukan tingkah aneh dan lucu Taehyung. Hhh, empat tahun berpisah, pasti bukan hal yang mudah bagi Jungkook..

.

Kim Taehyung dan Jeon Jungkook mungkin hanya sekedar tuan dan butler. Tapi interaksi yang mereka lakukan nampak begitu jelas kalau satu sama lain saling memendam rasa yang sama.

Sejak awal keduanya sudah memiliki ketertarikan satu sama lain dilihat dari gelagat masing-masing. Siapapun tau kalau mereka saling jatuh cinta, saling mengumbar rasa meski tak terlalu nyata.

Meskipun tak ada pengakuan cinta diantara mulut mereka, namun bahasa tubuh tak bisa di bohongi.

Jeon Jungkook dan Kim Taehyung, kedua anak adam yang saling jatuh cinta setelah mengalami masa-masa sulit dan kelam di masa lalu. Dan saling menerima satu sama lain tanpa mengeluh sedikitpun.

.

.

.

.

FIN

A/N: ARGGGHHHH APA INI APA?! aku pusing man teman 😟 gatau ah, tadinya mau aku tbc-in tpi gatau mau mutus dimana. yaudah sekalian aja di endingin. hueee selesai juga ff ini dengan akhir yg.. aku aja mabok bacanya /woe. mau minta maaf ada bnyk typo ya, aku ngetik di hp huhu, dan ih sebel pas liat yg harusnya ada pembates malah gatau hhh. bete.

BIG THANKS, buat para readers yg setia baca ff amberegul ini. tanpa kalian ga akan bisa tamat karna aku tuh pesimis 😭 maaf gabisa nyebutin satu persatu, aku sayang kalian pake banget. yg udah nyempetin review, ah cinta kalian .