You are My Destiny

.

.

Park Min Rin

.

.

Genre: Romance, Drama, Hurt

.

.

Rate: T

.

Lenght: Chaptered

.

.

Disclaimer: KyuMin milik Tuhan. Kyuhyun milik Sungmin dan Sungmin milik Kyuhyun, mereka saling memilki dan Sungjin murni milik saya *ditabokJongjin* Tapi yang pasti FF abal ini milik saya seutuhnya. :D

.

.

Warning: YAOI, Typo(s), Incest KyuMin! DON'T LIKE DON'T READ! NO BASH! NO PLAGIAT!

.

.

.

enJOY~

CHAPTER 10

.

~(*o*)~

.

This fict is dedicated..

To the world biggest shipper..

The JOYers..

Gebrakan gusar terdengar keras dari sebuah kamar yang berada di lantai dua sebuah rumah mewah. Seorang pria dengan julukan 'big head' terlihat melempar kesal tas sekolah ke arah lantai. Satu pria lain yang berada dalam ruangan terlihat menolehkan kepala setelah menutup laptopnya dengan tenang.

"Kau datang lagi hyung?"

Pria yang dipanggil hyung melirik sosok yang melontarkan pertanyaan. Terlihat sangat tenang, walaupun ketenangan yang terlihat di sana bukanlah ketenangan yang wajar. Terlalu tenang hingga dihiperbolis bisa meledakkan apapun jika saatnya tiba.

"Jangan datang ke sini lagi."

Pria yang masih bersandar di pintu terlihat mendongakkan kepalanya, menempelkan tubuh sepenuhnya ke daun pintu sebelum merosot perlahan hingga terduduk di marmer yang dingin. "Oh sial! Sampai kapan mereka akan berlaku seperti petugas bandara," umpatnya sambil mengacak rambut dengan frustasi.

Masih membekas dengan jelas bagaimana para pekerja mansion Cho mengawasi setiap gerak-geriknya jika pria ini datang untuk berkunjung. Saat pertama memasuki gerbang mereka akan memeriksa tas dan mengecek pakaiannya. Setelah lolos dari tes konyol yang sangat menyebalkan itu, beberapa orang akan mengawasi saat ia melangkah ke arah sebuah kamar. Sekali saja ia bertindak mencurigakan, nyonya besar di rumah mewah ini tak segan-segan mendampratnya, bahkan mengancam bantuan biaya sekolahnya.

"Ya Cho Kyuhyun, apa kau tak senang melihatku di sini?"

"Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak senang melihatmu."

"Lalu? Kenapa kau mengatakan padaku untuk jangan datang lagi?"

Kyuhyun hanya berdiri dari posisinya, berjalan ke arah jendela kemudian berdiri di sana. "Aku sering mengamati bagaimana mereka memperlakukanmu seperti teroris yang pantas untuk dicurigai. Pasti rasanya sangat menyebalkan."

"Bagaimana dengan dikurung dalam rumah sendiri? Apa kau pikir itu tidak menyebalkan?"

Untuk beberapa saat tidak terdengar apapun. Kyuhyun masih berdiri di posisinya, menatap bagaimana lalu lalang mobil dan orang-orang tengah sibuk di halaman rumahnya. Sementara Yesung tampak merutuki ucapannya beberapa saat yang lalu.

"Keluarkan aku dari sini! Kalian tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Buka pintunya! Eomma buka pintunya!"

Tentu saja menyebalkan. Yesung ingat betul bagaimana Kyuhyun berteriak marah seperti orang gila ketika beberapa pekerjanya atas perintah Heechul tiba-tiba mengurung Kyuhyun tepat saat bungsu Cho itu baru saja tiba di kamarnya pasca dipulangkan secara mendadak dari rumah sakit.

Tak ada yang bisa Yesung lakukan selain menatap iba ke arah pintu kamar Kyuhyun, ia bahkan tak peduli dengan apa yang Heechul katakan padanya saat itu. Sedikit dari sekian panjang kalimat Heechul yang diingatnya. "Aku tahu kau menyayangi putraku, Yesung-ah. Tapi jangan berpikir untuk mendukung hubungan tidak normal mereka. Kau mengerti!"

Inilah yang menjadi alasan mengapa ia harus mendapat pemeriksaan khusus saat memasuki mansion Cho. Heechul berpikir Yesung bisa saja menjadi perantara komunikasi antara kedua putranya.

Helaan napas terdengar. "Kadang aku merasa sendiri di dalam sini adalah hal yang cukup baik, aku bisa menghabiskan waktuku dengan tidur, tidur, dan tidur," ucap Kyuhyun sambil mengamati kesibukan beberapa orang dengan bunga-bunga yang sepertinya akan digunakan sebagai ornamen pesta.

Sedetik kemudian matanya terpejam. Sudah dua hari ia dikurung di kamarnya dan dua hari pula yang tersisa untuk seluruh kesibukan yang terjadi di bawah sana. "Dua hari," gumamnya.

"Kyuhyun-ah, aku bisa mengusahakan agar kau keluar dari ruangan terkutuk ini dengan segera."

Kyuhyun tersenyum kecil mendengar penuturan Yesung, pria yang pernah ia anggap akan merebut perhatian Sungmin darinya justru menjadi pria yang berada di pihaknya sampai saat ini. "Tidak perlu hyung, eomma pasti membiarkanku keluar saat pesta nanti. Dia tak akan mau berurusan dengan para tamu karena mendengar kegaduhan yang kulakukan jika ia tak mengizinkanku untuk mengikuti pesta."

Mencerna ucapan Kyuhyun beberapa saat, Yesung tampak membulatkan matanya kemudian. "Jadi kau berpikir untuk membuat keributan jika Heechul ajjuma tetap mengurungmu sampai pesta nanti?" tanyanya. Kyuhyun hanya menganggukkan kepala kemudian bergumam pelan.

"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Yesung sambil mengusap telinganya. Sosok yang ditanya terlihat menolehkan kepalanya kemudian melukiskan satu senyum manis. "Tidak," sahutnya singkat. Setengah tak yakin, Yesung hanya menganggukkan kepalanya saat Kyuhyun kembali menatap kesibukan di luar rumahnya. "Aku rasa dia mengatakan sesuatu," gumam Yesung kembali mengusap telinganya.

Kyuhyun melirikkan ekor matanya ke arah Yesung, satu senyum samar terlukis saat pemuda Cho itu mendengar gumaman teman baiknya. 'Telinga yang bagus, Kim Jongwoon.'

.

~(*o*)~

.

Berbeda jauh dengan Kyuhyun yang diperlakukan bagai burung dalam sangkar bukan emas, Sungmin terlihat melangkah bebas di setiap sudut rumahnya tanpa pengawasan Heechul asal Zhoumi berada di sekitar Sungmin. Putra sulung keluarga Cho itu tak terlihat baik dari hari ke hari, garis hitam di bawah matanya menandakan jika pemuda manis itu tak memiliki waktu malam yang bagus beberapa hari terakhir.

"Biar aku yang meminta maid menyiapkan makanan untukmu," ucap Zhoumi menahan calon tunangannya yang bergerak ke arah dapur.

Dengan gerakan halus Sungmin menarik tangannya kemudian bicara tanpa berniat menolehkan kepalanya pada Zhoumi. "Aku ke sini untuk meminta mereka menyiapkan makanan untukmu, bukan untukku. Jika kau tak ingin makan, sebaiknya kau pulang. Aku lelah dan ingin pergi tidur."

Zhoumi hanya menatap belakang kepala Sungmin sambil menahan desahan kerasnya, seperti inilah sikap Sungmin padanya akhir-akhir ini. Buruk dan mungkin akan semakin memburuk, Zhoumi berani bertaruh akan hal itu. "Baiklah, ayo ke kamarmu," tukas Zhoumi akhirnya.

Tanpa bantahan, protes, dan hal-hal sejenis penolakan, Sungmin memutar tubuhnya, berniat melangkah saat Zhoumi kembali menahan pergerakannya. Kali ini pemuda tinggi itu bergerak merangkul bahu Sungmin. "Aku tidak bermaksud kurang ajar, hanya saja wajahmu terlihat sangat pucat. Aku akan membantumu ke kamar."

Saat Sungmin bergerak untuk mengenyahkan lengan Zhoumi, suara Heechul terdengar dari belakang tubuhnya. "Kalian baru saja kembali?" dengan gugup Zhoumi buru-buru menurunkan lengannya sementara Sungmin terlihat memejamkan mata sebelum menoleh ke arah ibunya. "Bagaimana? Apa kali ini sudah pas?" tanya Heechul lagi.

Melihat Sungmin tak berniat menjawab, Zhoumi langsung mengambil inisiatif. "Ne. Terimakasih sudah membantu kami, eommeonim," mendengar tawa renyah dan tatapan ibunya, membuat Sungmin berusaha sangat keras untuk menarik sudut bibir. "Tidak, aku hanya memilihkan tuksedo yang kurasa cocok untuk kalian berdua, jika benar-benar pas berarti itu bonus. Ah, aku akan meminta maid untuk menyiapkan makanan untuk kalian."

"Tidak perlu eommeonim. Kami sudah makan di luar sebelum ke mari."

Dalam hati Sungmin bersyukur karena Zhoumi beralih menjadi juru bicara di saat yang tepat. Entah pergi ke mana seluruh keangkuhan putra tunggal Choi itu, akhir-akhir ini Zhoumi bicara lebih sopan dan bertingkah jauh lebih manusiawi dibanding sebelumnya.

"Oh, baiklah. Mungkin kalian ingin melihat beberapa persiapan?" tanya Heechul sambil membuka lengan seolah menunjukkan kesibukan yang terjadi di rumahnya. "Tidak eomma. Aku lelah," sahut Sungmin cepat. Tanpa mempedulikan raut terkejut ibunya, Sungmin berlalu. Zhoumi buru-buru membungkukkan tubuhnya kemudian bergerak menyusul Sungmin.

Tepat saat pemuda Choi itu tiba di depan pintu kamar Sungmin, sang pemilik kamar justru bergerak cepat membanting pintu. Mengangkat lengannya, Zhoumi berpikir untuk mengetuk pintu kamar Sungmin. Namun, saat mendengar pukulan yang cukup keras di pintu Zhoumi membiarkan lengannya tergantung di udara dengan tatapan tak lepas dari pintu.

Sejenak Zhoumi meneguk ludah sebelum bergerak perlahan menurunkan lengannya. Tatapannya masih tak lepas dari pintu kamar Sungmin seolah benda itu transparan dan memperlihatkan sosok Sungmin yang mungkin tengah meringkuk dalam kesedihan mendalam di balik sana. "Sungmin-ah," panggilnya kemudian. Untuk beberapa saat kalimat 'Ayo batalkan pertunangan kita' melintas di dalam kepala Zhoumi. Namun, setan egoisnya kembali muncul saat mengingat waktu dua hari tidaklah lama dan tidak sebanding dengan rasa malu yang akan ditanggung keluarganya jika ia berpikir konyol untuk membatalkan pesta pertunangan yang sudah disiapkan semewah ini. "Aku pergi sekarang," akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.

Sementara itu, di balik pintu kamar tampak Sungmin tengah bersandar penuh pada daun pintu. Kepalan tangannya sekali lagi membentur pintu hingga menimbulkan bunyi pukulan di sana. Perlahan tubuh yang semakin kurus dari ke hari itu merosot, membiarkan dinginnya lantai menemani rasa sakitnya.

Tak peduli jika matanya benar-benar membutuhkan pertolongan untuk terlihat lebih baik, Sungmin kembali meneteskan air mata yang tak akan berhenti untuk beberapa menit ke depan. Lusa adalah neraka pertama sepanjang hidupnya, waktu yang biasanya berlalu dengan sangat lambat entah kenapa terasa sangat cepat akhir-akhir ini. Sangat cepat dan sebanding dengan tekanan yang didapatnya.

Waktu yang ia pikir akan menjadi babak baru membahagiakan dalam hidupnya justru berakhir menjadi senjata makan tuan untuknya. Semua kata yang ia katakan langsung menjadi mimpi buruk saat Heechul mengutarakan alasan perjodohannya dengan Zhoumi.

.

FLASHBACK

"Aku serius. Selama aku masih bernapas, jangan sekalipun kau berpikir untuk merebut Cho Sungmin dariku. Sampai mati sekalipun, aku tak akan melepaskannya untuk siapapun."

"MWO?"

Walaupun secara tiba-tiba dunianya terasa berputar seratus delapan puluh derajat, Sungmin berusaha sekuat tenaga untuk tetap berdiri dengan kedua kakinya, mengabaikan gemetar yang melanda seluruh tubuhnya. Nada tercekik yang terdengar dari ibunya membuat Sungmin menatap Heechul dan mendapati ibunya tengah menatap ia dan Kyuhyun dengan pandangan tak percaya.

Begitu banyak kata yang terlukis di sana, mulut yang sudah terbuka tak cukup membantu Heechul untuk menyuarakan rasa terkejutnya. Hingga akhirnya yang terdengar hanyalah tawa pelan Heechul dengan gestur tubuh yang mengisyaratkan rasa tak mengerti akan situasi yang terjadi.

"Eomma, aku ingin bicara berdua dengan.." ucapan Kyuhyun terhenti tepat saat Heechul mengangkat tangannya. Giginya bermeletuk menunjukkan kemarahan saat tatapannya tertuju pada sang putra bungsu. "Kau. Diam!" suruhnya. Kyuhyun yang tak ingin kalah berniat menyuarakan pendapatnya namun jeritan marah Heechul langsung menghentikan semuanya. "Kau diam dan tutup mulutmu, Cho Kyuhyun! Aku yang akan bicara dengan Sungmin!"

Hankyung hanya bisa berdiri diam saat Heechul bergerak setengah menyeret Sungmin untuk menjauh dari ruang perawatan Kyuhyun. "Eomma!" teriak Kyuhyun berusaha menghentikan ibunya, usaha yang sia-sia karena pemuda Cho itu tak mendengar sahutan apapun dari Heechul maupun dari Sungmin.

Kemarahan yang selama ini Zhoumi tahan langsung meluap saat tatapannya bertemu pandang dengan Kyuhyun. "Kau puas? Sudah merasa menang karena berhasil menggali kuburanmu sendiri?"

"Tutup mulutmu, Choi Zhoumi!" bentak Yesung tak terima.

Mengabaikan Yesung, Zhoumi justru bergerak dengan marah menghampiri Kyuhyun. Tatapan tajamnya menunjukkan betapa marahnya pemuda Choi itu pada si bungsu Cho. "Kau pikir dengan kau mengatakan semuanya aku akan berubah pikiran? Akan ada keberuntungan yang jatuh dari langit hingga kau berpikir dunia akan mendukung hubungan menjijikkan kalian? Dengar Cho Kyuhyun," gertak Zhoumi sambil menudingkan telunjuknya. "Anak kecil seperti dirimu tahu apa soal cinta? Kau pikir cinta tololmu itu bisa membuat hidup Sungmin jauh lebih baik? Kau pikir kekacauan sialan yang selama ini kau perbuat akan selesai dengan kau mengatakan semuanya?"

"Aku. Tidak. Membutuhkan. Omong kosongmu."

Tawa sinis mengalun dari mulut Zhoumi saat mendengar geraman Kyuhyun. "Baiklah, kau lihat setelah ini. Kau atau aku yang mengatakan omong kosong. Dasar brengsek," maki Zhoumi sebelum berlalu dengan langkah cepat.

Kyuhyun hanya bisa mengepalkan tangannya, otot-otot wajahnya yang terlihat menegang semakin terlihat jelas saat urat-urat kemarahan tergambar di mata kemerahannya.

"Maaf Kyuhyun-ah, appa tidak bisa melakukan apapun," suara Hankyung tiba-tiba terdengar. Kyuhyun dan Yesung terkejut bukan main saat menyadari kepala keluarga Cho itu masih berada dalam ruangan yang sama dan mengatakan sesuatu yang tidak Kyuhyun duga.

"Appa?"

Hankyung hanya menganggukkan kepalanya, tak berniat mengusap lelehan air mata di pipinya. Rasa marah yang menguasai Kyuhyun sontak menguap, berganti menjadi rasa haru saat melihat sang ayah menangis untuk dirinya. Seumur hidupnya, ini adalah kali pertama Kyuhyun melihat Hankyung dalam kondisi seperti ini. "Memang mengecewakan.." suara gemetar Hankyung terdengar membuat Kyuhyun buru-buru menundukkan kepala dan mengatur jalan pernapasannya. "Tapi appa hanya memiliki kalian berdua."

Yesung hanya berdiri diam di posisinya, merapatkan bibirnya saat melihat bahu Kyuhyun perlahan bergetar, desah napas yang terdengar putus-putus menjelaskan jika pemuda Cho itu tengah menangis dalam diamnya. "Maaf appa. Maafkan aku."


Segala sesuatu pasti memiliki konsekuensi dan Sungmin menyadari hal itu. Walaupun tindakannya terlalu tiba-tiba tapi Sungmin sudah menyiapkan diri untuk semua kemungkinan yang akan terjadi setelah ini.

"Sungmin dengarkan eomma," ucap Heechul sambil memegang kedua bahu putranya. "Tidak, untuk kali ini saja eomma yang harus mendengarku," sanggah Sungmin secepat mungkin. Heechul terlihat memejamkan matanya, terlihat jelas jika satu-satunya wanita dalam keluarga Cho itu berusaha menahan segala emosinya. "Tidak, eomma tidak akan mendengarkan apapun."

"Kenapa? Apa eomma malu dengan semuanya? Malu karena aku menjalin hubungan dengan adikku sendiri?"

"Sungmin, hentikan!" bentakan terdengar seiring dengan bunyi tamparan yang tak bisa dikatakan pelan. Tangan dua sosok yang tengah berhadapan itu tampak gemetar untuk dua hal yang berbeda. Sungmin terlihat mengangkat tangan gemetarnya untuk mengusap pipinya yang terasa panas sementara Heechul tampak mengamati tangan gemetarnya yang memerah dengan pandangan tak percaya. Sesaat kemudian tatapannya beralih pada wajah putra sulungnya. "Sungmin-ah.." panggil Heechul berusaha mendekati Sungmin, putranya justru menunjukkan reaksi sebaliknya dengan memundurkan tubuh.

"Aku mengerti," ujar Sungmin tanpa mengangkat kepalanya.

Heechul perlahan mengepalkan tangannya, perasaan bersalah langsung memenuhi rongga dadanya. Namun, ia sadar akan situasi. Tidak banyak waktu yang ia miliki untuk meluruskan semuanya. Jika bukan sekarang, ia tak yakin memiliki waktu yang sama dilain kesempatan.

"Sungmin-ah, eomma tidak peduli apa hubunganmu dengan Kyuhyun. Eomma rasa Kyuhyun bicara seperti itu hanya karena ia sempat hilang ingatan dan-"

"Tidak, dia mengatakan semuanya dengan benar! Kenapa eomma tidak bisa menerima itu?"

"Jangan gila Sungmin. Tidak ada orang tua yang bisa menerima hubungan seperti itu!" kemarahan kembali menguasai Heechul. "Jika aku keluar dari keluarga Cho apa eomma akan menyetujui hubungan kami?"

"Cho Sungmin itu tidak akan terjadi, sampai kapanpun eomma tidak akan menyetujui hubungan seperti itu! Berhenti mengatakan omong kosong."

"Aku tidak mengatakan omong kosong eomma, dengarkan aku sekali saja," pinta Sungmin berusaha meraih lengan ibunya tapi Heechul bergerak cepat membelakangi tubuh Sungmin. Wanita Cho itu terlihat menghembuskan napas berat dari mulutnya, tangan cantiknya terlihat menekan kuat dadanya seolah berusaha menekan segala rasa sakit di sana. "Kau yang harus mendengarkan eomma."

Hening beberapa saat, hanya semilir angin yang terdengar di telinga. Sungmin berdiri diam mengamati punggung ibunya sambil berpikir kenapa ibunya sangat sulit memahami semuanya.

"Kau dan Kyuhyun ingin kuliah di London bukan? Kau ingin menjadi seniman dan Kyuhyun bercita-cita menjadi dokter. Tidakkah kalian mengingat itu?" suara Heechul memecah keheningan. Sungmin tentu mengingat hal itu. "Eomma dan appa sudah menyiapkan semuanya untuk kalian. Semua yang terbaik untuk kau dan Kyuhyun," cicit Heechul.

Semuanya yang Kyuhyun dan Sungmin dapatkan dari Hankyung dan Heechul adalah yang terbaik, Sungmin mengakui hal itu. Namun, untuk kali ini Sungmin tak berpikir perjodohannya dengan Zhoumi adalah yang terbaik.

"Eomma dan appa bekerja sangat keras untuk hidup keluarga kita, Sungmin-ah. Tapi ada saat-saat di mana usaha keras kami hanya menghasilkan tetesan keringat dan hanya Zhoumi yang bisa membantu kita saat ini."

Mulut Sungmin terbuka saat menyadari arah pembicaraan ibunya. "Apa eomma berusaha menjualku hidupku demi harta?" Heechul langsung memutar tubuhnya dan bergerak menggenggam kedua tangan putranya, tatapan sendunya memperlihatkan dengan jelas bagaimana terpukulnya wanita Cho itu akan situasi yang terjadi. "Tidak nak, ini bukan hanya sekadar harta, kau tahu.."

"Tidak, aku tidak tahu dan tidak ingin tahu," sergah Sungmin dengan cepat. "Aku tidak ingin menjadi seniman, tidak ingin kuliah di London, Kyuhyun juga tidak ingin menjadi dokter. Jadi, appa dan eomma tidak perlu melakukan apapun untuk itu."

"Sungmin-ah jangan bicara seperti itu. Eomma minta maaf karena semua yang terjadi saat ini adalah kesalahan eomma dan appa sebagai orang tua, kami terlalu sibuk dan tidak memiliki banyak waktu untuk memperhatikan kalian berdua. Jadi.." tatapan memohon Heechul membuat Sungmin berusaha sekuat mungkin untuk tetap melancarkan pemberontakannya. "Eomma tidak akan menyalahkan kau ataupun Kyuhyun karena kalian melakukan semua ini. Eomma mengerti kalian bersikap seperti itu karena kalian terbiasa hidup berdua.."

"Tidak! Aku mencintai Kyuhyun bukan karena aku terbiasa hidup berdua dengannya, aku hidup bersama butler Ahn dan semua maid di rumah tapi aku tidak mencintai mereka seperti aku mencintai Kyuhyun, eomma! Tidakkah eomma mengerti hal itu?"

Heechul menghentakkan lengan Sungmin dari pegangannya. "Tidak eomma tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti. Kyuhyun itu adik kandungmu dan tidak ada hubungan seperti ini, Cho Sungmin. Eomma yakin kau hanya membuat lelucon agar eomma dan appa berpikir untuk membatalkan perjodohanmu dengan Zhoumi."

Tak terdengar tanggapan apapun dari Sungmin, pemuda manis itu hanya terdiam menatap ibunya yang tampak sangat kacau. "Demi Tuhan! Zhoumi berada di sana saat kau dan Kyuhyun..."

"Dia tahu semua sejak awal."

Mulut Heechul langsung terbuka lebar, matanya refleks mengikuti saat mendengar penuturan putranya. "A-apa?" cicitnya tak percaya. Sungmin mengentalkan tatapan keras kepalanya kemudian menjawab dengan tenang. "Zhoumi tahu semuanya sejak awal, dia tahu jika aku menjalin hubungan dengan Kyuhyun. Aku tidak mengerti kenapa ia justru diam seperti orang tak tahu apapun."

"Dan itu sudah menjadi cukup bukti jika Zhoumi benar-benar menyukaimu Sungmin-ah. Dengar nak, saat ini hanya Choi Zhoumi yang bisa membantu kita. Kau tahu appamu membangun semuanya dari nol dan kau dengan teganya menghancurkan semua ini hanya karena menuruti egomu."

Ratusan paku terasa menusuk seluruh tubuh Sungmin, membuat genangan darah terbentuk di bawah kakinya.

Ego?

Sungmin bisa mengingat dengan baik jika seumur hidupnya, tak pernah sekalipun pria manis itu membantah kedua orang tuanya dan saat ia berpikir untuk menyuarakan apa yang menyangkut perasaannya, Heechul sebagai sosok ibu yang harusnya mendengar keluh kesahnya justru menganggap perasaannya tak lebih dari sebuah egoisme remaja yang akan menghilang seiring berjalannya waktu. "Jadi menurut eomma aku egois?"

"Ya, jika kau berpikir untuk menghancurkan apa yang sudah appamu bangun dengan susah payah," jawab Heechul dengan tegas. Tatapan menuntutnya tak luntur sedikitpun walaupun air mata mengalir di pipinya.

'Jadi aku tak pernah memiliki hak untuk mengeluhkan rasa sakitku?' batin Sungmin sambil menundukkan kepalanya, membiarkan tetesan air matanya berjatuhan, membasahi tanah berumput di bawahnya.

"Kau harus tahu nak.. semua yang appa dan eomma lakukan seumur hidup adalah untuk kebaikan kalian, semua yang terbaik untuk kalian. Jika ini balasanmu dan Kyuhyun, itu sama halnya dengan kalian menginginkan eomma mati!"

Heechul menatap sendu pucuk kepala putranya, rasa tak tega jelas memenuhi relung hatinya, namun Heechul enggan menunjukkan semua itu. Posisinya benar-benar sulit, ia mencintai kedua putranya namun itu tidak berarti Heechul harus mendukung semua yang menjadi keinginan Kyuhyun dan Sungmin. Orang tua mana yang berpikir untuk menyetujui sesuatu yang salah dengan putranya dan Heechul rasa ia harus meluruskan ketidaknormalan yang terjadi saat ini.

Sungmin masih setia menundukkan kepalanya, memejamkan mata dengan perasaan hancur. Heechul tidak akan mendengarkannya, jadi sebanyak apapun kata-kata yang ia lontarkan, semuanya hanya akan menjadi omong kosong tak berharga. Hidupnya memang ditakdirkan untuk menjadi anak baik, anak yang harus dan selalu mendengarkan kata-kata orang tua tanpa harus bersusah payah menyuarakan keinginannya.

Walaupun tubuhnya sudah dibalut ratusan luka, tak ada ruang sedikitpun untuk mengeluhkan hal itu. Hidupnya seperti ditakdirkan untuk menghuni neraka dunia. "Baiklah," ucap Sungmin akhirnya. "Semua keputusan aku serahkan pada eomma, aku hanya akan menjadi anak baik asal eomma tidak meninggalkan aku dan Kyuhyun."

Tertegun. Heechul hanya terdiam, menatap putranya yang kini menatapnya dengan senyum tipis di bibirnya. "Eomma jangan bicara seperti itu, aku dan Kyuhyun tidak akan membiarkan eomma meninggalkan kami, biar bagaimanapun kami hanya memiliki appa dan eomma," kali ini senyum lebar menghiasi wajah manis putra sulung Cho itu.

Heechul merapatkan tangannya di dada, menahan nyeri yang semakin menusuk di dalam sana. "Aku harus menjenguk Kyuhyun, eomma jangan khawatir, mulai sekarang Zhoumi yang akan menemaniku," untaian kalimat dengan nada khas seorang Cho Sungmin kembali terdengar. Heechul tak menganggukkan kepala atau mengatakan sesuatu untuk mengiyakan putranya, namun ia membiarkan Sungmin berlalu meninggalkannya.

Satu sosok tinggi yang sejak tadi mengamati percakapan ibu dan anak itu tampak bergerak dari posisi berdiri diamnya. Perlahan sosok bermarga Choi itu menyandarkan tubuhnya di dinding, membiarkan tetesan air matanya mengalir di pipi.

Dari posisinya, ia bisa melihat jelas bagaimana Sungmin berusaha sangat kuat untuk tetap berjalan dengan normal walau seluruh tubuhnya terlihat gemetar menahan isak tangis. "Sungmin-ah," sebut Zhoumi saat Sungmin berjalan ke arahnya. Tak lagi mempedulikan kemungkinan yang terjadi selanjutnya, pria tinggi itu berjalan cepat ke arah Sungmin kemudian merengkuh sosok rapuh itu dalam satu pelukan erat. "Maafkan aku, sungguh aku minta maaf."

Tak ada jawaban apapun dari Sungmin, luka dalam yang kembali ditorehkan ibunya membuat Sungmin mungkin akan memuntahkan banyak darah jika ia mengeluarkan suaranya. Yang bisa dilakukannya saat ini adalah menenggelamkan wajahnya di bahu Zhoumi dan menangis tersedu-sedu di sana.

FLASHBACK END

.

"Tuan muda," ketukan pintu terdengar seiring dengan panggilan halus dari luar kamar. Sosok yang masih meringkuk di balik pintu tampak membuka matanya perlahan, keremangan ruangan adalah hal yang pertama kali tertangkap indera pengelihatannya.

Sambil bangun dari posisinya, Sungmin meraih ke dalam saku celananya, mengambil ponselnya untuk melihat jam. Angka sembilan tertera di sana menunjukkan jam diikuti angka lain yang menunjukkan menit. Sedikit sakit yang Sungmin rasakan di punggungnya seolah menjelaskan jika pemuda manis itu tertidur cukup lama di balik pintu.

"Tuan muda Sungmin," suara itu kembali terdengar. Sungmin mendesah pelan dengan tatapan masih tertuju pada ponselnya. Ada beberapa panggilan dan pesan yang ia terima, sudah jelas itu dari Zhoumi.

Hm, jangan mengharap nama Kyuhyun akan ada di antara riwayat telepon atapun pesan. Kyuhyun benar-benar sedang dikurung, tidak ada telepon, pesan, internet atau apapun untuknya. Hanya sebuah laptop yang sengaja Heechul biarkan berada di sana dan benda-benda portable karena ia tahu Kyuhyun sangat menyukai game.

Walaupun kamar mereka berjarak tak lebih dari 50 meter tapi Heechul benar-benar tahu cara membuat mereka terasa sangat jauh. Mereka benar-benar kehilangan kontak bahkan saat Sungmin memohon pada dua orang pria yang ditugaskan untuk berjaga di depan pintu kamar Kyuhyun, yang ia dapatkan adalah penolakan dan usiran secara fisik yang memang Heechul berlakukan jika Sungmin memaksa.

Hubungan mereka benar-benar buruk sejak Kyuhyun dipulangkan dari rumah sakit dan berakhir dengan dikurung di kamarnya sendiri. Yesung juga tak pernah menunjukkan batang hidungnya—kecuali di sekolah. Itupun hanya sekadar bertatapan karena sejak hubungan Kyuhyun dan Sungmin terbongkar, Heechul benar-benar mengawasi dengan ketat bagaimana perilaku kedua putranya. Kyuhyun yang masih dikabarkan sedang dalam perawatan pihak rumah sakit tidak diizinkan pergi sekolah sementara Sungmin tetap diharuskan pergi sekolah dengan syarat Zhoumi harus berada di sekitarnya dan inilah yang menyebabkan Yesung juga menjadi sosok yang harus dijauhkan dari Sungmin. Mereka tidak lagi duduk di bangku yang sama dan tak pernah mengobrol sedikitpun.

"Kyuhyun-ah," panggil Sungmin sambil mengusap layar ponsel yang menampakkan potretnya bersama Kyuhyun. "Sedang apa kau sekarang? Apa kau tidak merindukanku?" perlahan Sungmin mendekatkan wajahnya ke layar ponselnya kemudian menempatkan bibirnya tepat di atas potret Kyuhyun.

Genangan air bening kembali menghiasi matanya saat menit terasa berlalu dengan cepat hingga berhasil mengubah angka sembilan menjadi sepuluh. Waktu berlalu dengan cepat. Dua jam lagi hari yang baru akan segera dimulai. "Satu hari lagi, Kyuhyunnie."

.

~(*o*)~

.

Gelapnya langit malam tak membuat sosok jangkung dengan kulit pucat itu tak berhenti dari kegiatannya, Kyuhyun masih duduk tenang di meja belajarnya ditemani sebuah laptop yang selalu menjadi teman setianya beberapa hari terakhir. Sambil mengamati gambar dan percakapan yang tertera di sana, Kyuhyun terlihat mengetikkan beberapa kata sebelum menekan tombol enter untuk mengirim balasan.

Keheningan di dalam dan di luar ruangan membuat suara ketukan keyboard terdengar sangat jelas. Untuk beberapa saat Kyuhyun berpikir untuk mengurangi frekuensi kecepatan mengetiknya, tapi saat dirasa hal itu tak akan menimbulkan kecurigaan, si bungsu Cho itu terus tenggelam dalam kegiatannya.

Setelah hampir satu menit menunggu, sebuah gambar tampak muncul di layar laptop. Pria kelahiran Februari itu mengarahkan kursor ke arah gambar yang baru saja diterimanya, mengamati untuk beberapa saat sebelum menganggukkan kepala dengan samar. Tepat setelah Kyuhyun mengirim balasannya, bunyi kunci diputar membuat pria tampan itu bergegas menekan close untuk semua layar yang dibukanya kemudian menutup laptopnya dengan sedikit bantingan.

Pada detik terakhir, dengan gerakan sedikit terburu Kyuhyun menarik lepas sebuah benda dari laptopnya, menyimpan benda tersebut di dalam saku celana kemudian setengah melompat untuk membaringkan tubuhnya di atas kasur.

KLEK!

Pintu terbuka tepat saat Kyuhyun sudah berbaring dengan mata terpejam di atas kasurnya. Sesosok perempuan yang berdiri di ambang pintu tampak menutup perlahan pintu di belakangnya sebelum berjalan pelan untuk mendekati Kyuhyun. Sejenak pandangannya mengedar ke seluruh ruangan dan terhenti pada meja kecil di sebelah ranjang, nampan yang masih penuh dengan makanan menunjukkan jika Kyuhyun kembali tidak menyentuh makanannya.

Dengan gerakan pelan wanita bermarga Cho itu merundukkan tubuhnya, menempatkan satu ciuman hangat di kening putranya. "Maafkan eomma, Kyuhyun-ah."

Berusaha untuk tak mengepalkan tangannya, Kyuhyun justru memilih untuk berpura mengernyit terganggu. Menyadari Kyuhyun mungkin akan terbangun—dari tidur pura-puranya—Heechul bergegas meninggalkan kamar Kyuhyun dengan setengah berlari. Jika ia berada di sana saat Kyuhyun membuka mata tidak menutup kemungkinan jika dirinya sendiri yang membuat kekacauan. Heechul tahu betul siapa dirinya, walaupun sikapnya sedikit kasar pada Kyuhyun, ia tak pernah bisa menolak segala sesuatu yang diinginkan Kyuhyun. Jadi, sebelum ia kalah dan membuat kekonyolan dengan mempermalukan diri sendiri, satu-satunya wanita dalam keluarga Cho itu memilih tidak berhadapan langsung dengan Kyuhyun untuk saat ini.

Bunyi yang kembali terdengar dari pintu membuat Kyuhyun membuka mata, tubuhnya yang telentang dan menguarkan aura mengerikan semakin terasa mengerikan saat dua mata tajamnya menatap lurus langit-langit kamarnya seolah bisa memusnahkan apapun yang berada di sana.

Lengan pucatnya terangkat saat benda yang ia sembunyikan di dalam kantong celana seolah menggantung dari tangannya. Satu sudut bibirnya refleks tertarik saat pandangan Kyuhyun tertuju pada gantungan berbentu kura-kura dengan warna pink. Mengingat pemiliki awal benda sedikit aneh itu membuat senyum Kyuhyun terlukis lebih lebar. Ia mengingat betul bagaimana Sungmin dengan jengkel mencari-cari benda yang berhasil dicuri Yesung itu. Namun, untuk saat ini bukan gantungan kunci yang menjadi topik utama munculnya seringai Kyuhyun di awal tadi.

Pria Cho itu menatap benda yang berada dalam genggamannya kemudian bergumam. "Terimakasih Yesung hyung," sama seperti yang Yesung lakukan yaitu mengambil barang milik Sungmin tanpa sepengetahuan pemiliknya, pemuda Cho itu juga mengambil sesuatu yang mungkin saat ini sedang dicari-cari Yesung.

Benda kecil yang berarti sangat besar untuk kehidupan manusia. Benda yang menghubungkan manusia dengan internet itu berfungsi dengan baik saat ini. Kyuhyun kembali tersenyum, menyimpan benda itu ke dalam saku celananya kemudian mulai memejamkan mata. "Satu hari lagi," gumamnya pelan.

.

~(*o*)~

.

Satu hari yang melelahkan telah berlalu dengan kesibukan tak terkendali. Dekorasi ruangan dan segala persiapan untuk pesta pertunangan putra sulung keluarga Cho dengan satu-satunya putra keluarga Choi telah selesai dan tinggal menghitung jam untuk pesta besar malam nanti. Yesung berdiri di undakan teratas tangga, menatap lalu lalang para maid yang menyiapkan gelas di meja-meja tamu. Dua tangannya yang tersembunyi di balik saku celananya mengepal dengan keras walau ekspresi wajahnya tak menunjukkan emosi sedikitpun.

Sedetik kemudian tatapannya tertuju pada Choi Siwon dan Cho Hankyung yang tengah bercakap-cakap sambil mengamati kesibukan di lantai bawah. Entah apa yang mereka bicarakan, pria bermata sipit itu tentu tak mendengar apapun dari tempatnya. Di sisi lain ia melihat Choi Kibum dan Cho Heechul tengah duduk santai sambil tertawa mengobrolkan sesuatu. "Benar-benar seperti inikah akhirnya?" gumam Yesung pada dirinya sendiri.

Tepat saat Yesung berniat memutar tubuh untuk mengunjungi Kyuhyun, sosok Sungmin yang berjalan gontai menaiki tangga menarik perhatiannya. Jujur ia merindukan saat-saat mereka berdua dan bercerita banyak hal tentang Kyuhyun.

Entah Sungmin yang sengaja menulikan telinganya atau memang pemuda manis itu tak mendengar tapi yang pasti panggilan yang dilakukan Heechul tak mendapatkan respon sedikitpun. Pemuda manis itu terus menaiki tangga tak mempedulikan apapun yang terjadi di sekitarnya. Bahkan jika Yesung tak memanggil namanya, mungkin Sungmin tidak sadar jika pria yang sudah ia anggap sebagai kakak kandung itu sudah berdiri di sana menunggunya.

"Hyung?" Yesung hanya membalas dengan senyumnya. "Sudah lama di sini?" tanya Sungmin dengan ekspresi lebih cerah dari sebelumnya. Yesung kembali hanya menganggukkan kepala dengan senyum lebar yang terlukis di bibirnya. Ia tahu betul suaranya akan terdengar sangat berantakan jika ia bicara dengan Sungmin. Perasaan tersiksa terlukis jelas di wajah manis Sungmin, mata yang mendapat julukan magical eyes itu seolah kehilangan daya tariknya, hanya jutaan rasa sakit yang tergambar di sana dan hal itu jelas menyengat hati Yesung.

Cho Sungmin yang manis telah menghilang.

"Kau terlihat lebih kurus. Jaga kesehatanmu," pesan Yesung sambil mengacak-acak rambut Sungmin sebelum beranjak meninggalkan Sungmin yang tengah menatap sendu punggung Yesung. "Yesung hyung," panggilnya kemudian. Beberapa orang yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik kedua pemuda itu mulai menghentikan aktivitas masing-masing. "Apa Kyuhyun makan dengan baik?" tanya Sungmin saat Yesung menolehkan kepalanya.

Yesung berusaha melukiskan senyumnya namun gemeletuk gigi seolah menahan bibirnya untuk tetap mengatup dalam satu garis lurus. Melihat Yesung yang justru sibuk menahan air matanya, Sungmin mengangguk pelan. "Aku tidak bisa menelan makananku karena aku tahu Kyuhyun tidak makan dengan baik."

"Ya, pergi ke kamarmu. Ppalliwa," suruh Yesung sambil mengusir Sungmin main-main. Senyum konyol yang terlukis di wajahnya tak membuat genangan air matanya berhasil ditutupi. Setengah tersandung Sungmin bergerak menjauh, berjalan cepat menuju kamarnya. Ia tahu betul jika Yesung menyuruhnya menangis di dalam kamar, bukan di depan semua orang yang tengah mengamati mereka.

Tanpa mereka sadari, satu pria yang semula menjadi perhatian Yesung terlihat memutar bola matanya. Pria dengan julukan konglomerat nomor satu Korea Selatan itu mendecih pelan saat melihat interaksi Sungmin dan Yesung. Walaupun telinganya berusaha mendengarkan Hankyung, namun pikirannya tetap tertuju pada hal-hal yang menurutnya mengganggu.

'Jadi mereka benar-benar ingin bermain denganku,' batin Siwon sambil menaikkan satu sudut bibirnya dengan samar. Tatapannya kemudian tertuju pada dekorasi ruangan. "Pesta ini akan menjadi pesta yang sangat mewah," ucap Siwon membuat Hankyung yang semula bicara langsung berhenti dan menatap penuh tanya pada Siwon.

"Aku hanya tidak percaya mereka berhasil menyulap ruangan menjadi semenakjubkan ini," ucap Siwon mengklarifikasi kalimatnya. Hankyung melukiskan senyum kecil. "Istrimu yang mengatur semuanya, seleranya sangat bagus," pujinya. Siwon mengurai tawa pelan. "Ya, dia memang menomorsatukan Zhoumi, apapun yang terbaik untuk Zhoumi, dan Sungmin sepertinya.. yang terbaik juga untuk Zhoumi."

Kembali hanya senyum yang mampu Hankyung lukiskan. Siwon tidak bodoh, mata-matanya jelas sudah melaporkan kejadian di rumah sakit yang berhubungan dengan terbongkarnya hubungan Kyuhyun dan Sungmin. Hankyung dan Heechul jelas sudah tahu ketidaknormalan putranya, tapi mereka berusaha menutupi semua itu dengan menggunakan Zhoumi.

'Mereka memanfaatkan kebaikan putraku.'

Pemikiran seperti itulah yang melintas pertama kali di kepala Siwon.

Siapapun yang berusaha bermain api dengannya harus bersiap terbakar di saat yang tepat. Seperti yang tengah Siwon persiapkan. Jika keluarga Cho masih bersikap tidak tahu malu, bersiap saja memilih dibakar atau membakar diri. Dipermalukan atau mempermalukan diri.

.

~(*o*)~

.

Malam terburuk sepanjang hidup Kyuhyun dan Sungmin telah tiba. Sesuai dugaannya, Heechul muncul di pintu kamar Kyuhyun beberapa jam yang lalu dan meminta seseorang untuk menyiapkan putra bungsunya yang terlihat sangat berantakan. Tidak ada bantahan yang terdengar, Kyuhyun hanya menuruti apapun yang diperintahkan ibunya. Pergi ke kamar mandi, mengenakan pakaian yang sudah disiapkan, dan bersedia mendapatkan sedikit riasan untuk menyegarkan wajah masamnya.

Jadilah ia di sini. Berdiri di antara ratusan tamu yang mulai memenuhi rumahnya. Untuk malam ini Kyuhyun merasa lebih bebas, Heechul melonggarkan penjagaan untuknya dan lebih fokus mengetatkan pengawasan untuk pesta malam ini. Yesung dengan setelan yang tak kalah mewah dari Kyuhyun terlihat berada di sampingnya, bergerak mengikuti kemanapun Kyuhyun bergerak.

"Aku harus ke toilet hyung," ucap Kyuhyun saat melihat Yesung masih membuntutinya seperti anak ayam. Pria bermata sipit itu hanya menganggukkan kepala kemudian mengambil jarak dengan Kyuhyun sebelum berlalu ke sebuah meja. Kyuhyun hanya menatap Yesung sejenak kemudian menatap jam tangannya. "Sudah waktunya," gumam Kyuhyun kemudian benar-benar berlalu ke toilet.

Seorang pria dalam setelah pelayan terlihat mengamati Kyuhyun, setelah menawarkan minuman dalam nampannya, pria yang sedikit mencurigakan itu bergerak dengan waspada, menyusul Kyuhyun ke dalam toilet.

Melihat Kyuhyun berdiri di sekitar pintu toilet, sosok itu menaikkan alis. "Cho Kyuhyun," sebut Kyuhyun sendiri. Sosok itu mengangguk samar kemudian mengisyaratkan Kyuhyun untuk mengikutinya ke dalam ruangan yang lebih sepi. Tidak jelas apa yang mereka bicarakan karena terlalu banyak kode-kode yang mereka gunakan.

Saat kedua pria itu nyaris keluar ruangan, Kyuhyun menyodorkan sebuah kartu. "Pin-nya 0137, kau bisa mengambil semuanya," pria pelayan itu hanya menganggukkan kepala dengan senyum lebar di wajahnya kemudian berlalu meninggalkan Kyuhyun yang melirikkan ekor matanya ke setiap sudut yang menurutnya mencurigakan.

"Sudah selesai?" senggolan kecil yang Kyuhyun rasakan di bahunya membuat pemuda Cho itu menoleh ke sampingnya dengan terkejut. "Sudah," sahutnya ambigu. Yesung hanya menganggukkan kepala kemudian menyesap minumannya. "Kudengar Zhoumi sudah datang."

Kyuhyun hanya menganggukkan kepala. "Benarkah? Kupikir dia tidak akan datang," ucap Kyuhyun dengan nada bercanda. Pemuda Cho itu meraih gelas Yesung kemudian meneguk isinya dalam satu kali tegukan. "Aku pergi ke kamar sebentar hyung."

Yesung hanya menatap gelas yang disodorkan Kyuhyun kemudian mengangguk singkat. "Jika kau tidak bisa, jangan kembali ke sini," ucap Yesung. Kyuhyun berdecih pelan "Kau bercanda," ucapnya dengan santai sebelum berlalu.


Tak jauh dengan kesibukan di luar sana, situasi di kamar Sungmin juga tampak sibuk walaupun hanya dua orang yang berada di dalam ruangan. Desahan yang tertahan sejak tadi mulai terdengar saat kesekian kalinya Sungmin mengalirkan liquid bening yang jelas merusak tampilannya. Sosok yang ditugaskan untuk menyiapkan Sungmin hanya bisa memejamkan mata. Entah sudah berapa kali ia mengompres mata Sungmin dan membubuhkan banyak polesan untuk menutupi lingkar hitam di bawah mata cantik itu.

"Sungmin-ssi, saya harus bagaimana? Pestanya sebentar lagi dimulai," akhirnya perias berwajah manis menyuarakan penyerahannya.

Senggukan yang sejak tadi Sungmin tahan mulai terdengar bersahutan setelah mendengar suara halus sosok yang berada satu ruangan dengannya. Merasa tak tega, pria manis itu bergerak menepuk pelan bahu Sungmin untuk sedikit menenangkan. "Sungmin-ssi, jangan menangis di hari bahagia Anda."

Hanya itu yang bisa diucapkan, pria yang ditugaskan merias Sungmin jelas tidak mengerti akan situasi yang terjadi. Ia sungguh bingung dan tahu harus melakukan apa. "Bagaimana kalau saya panggilkan Zhoumi-ssi atau nyonya Cho?"

"Jangan, kumohon jangan," sergah Sungmin dengan cepat. Bahkan tangannya bergerak menahan gerakan pria di hadapannya. Perias yang mulai frustasi itu kembali mendesah kemudian menegakkan tubuhnya. "Baiklah, saya harus pergi sebentar untuk mengambil minuman sekaligus menyampaikan jika Anda membutuhkan persiapan lebih. Selagi saya pergi, mohon tenangkan hati Anda," tutur perias itu kemudian meninggalkan Sungmin yang perlahan menambah volume tangisnya. Suasana meriah di bawah sana sudah pasti menelan lagu kesedihan Sungmin.

Yesung yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu kamar Sungmin hanya bisa berdiri diam, menatap iba ke arah adiknya yang tengah menangis tersedu-sedu seorang diri.

"Tinggalkan kami berdua hyung," bisik seseorang di belakang tubuhnya. Tersentak dari posisinya, Yesung menoleh dan menatap Kyuhyun sejenak, menepuk bahu Kyuhyun pelan kemudian menjauh dari ruangan yang rasa-rasanya menjelma sebagai rumah duka meningat Sungmin dan Kyuhyun mungkin tak akan berhenti menangis untuk beberapa waktu ke depan.

Kyuhyun masih berdiri di posisinya, menatap miris kekasih manisnya yang tengah duduk memunggunginya dengan tubuh bergetar karena tangis. Perlahan Kyuhyun melangkahkan kakinya, menghampiri Sungmin yang sudah terbatuk-batuk. Rintihan pelan terdengar saat Kyuhyun semakin dekat dengan tubuh Sungmin.

Sakit.

Pasti itu yang dirasakan dua pria ini. Satu pihak dipaksa meninggalkan sedangkan pihak yang lain harus ditinggalkan.

"Hei," Sungmin tersentak mendengar suara bass itu, tangisnya refleks mengeras saat merasakan lengan Kyuhyun di sekeliling tubuhnya. "Jangan menangis sayang, ini hari bahagiamu," Sungmin langsung menggeleng cepat. Bagaimana bisa Kyuhyun mengatakan itu padahal Sungmin mendengar jelas getar suara Kyuhyun saat mengucapkan kalimat itu.

"Hei lihatlah," seru Kyuhyun sambil menunjuk cermin besar yang ada di hadapan mereka. Sungmin mengikuti arah yang ditunjuk Kyuhyun dan menangkap pantulan tubuhnya tengah di peluk Kyuhyun, sangat romantis jika mereka melakukan ini tanpa bayang-bayang rasa sakit di detik berikutnya.

"Kita seperti pasangan yang akan menikah."

Miris. Air mata Kyuhyun langsung meleleh saat ia menyadari betapa menyedihkan kata-kata yang ia ucapkan. Tapi Kyuhyun tidak berbohong, mereka memang terlihat serasi dengan tuksedo yang sama-sama berwarna putih. "Ming, kau harus tertawa. Bukankah kita terlihat serasi?"

Apa Kyuhyun hanya menghiburnya? Atau kekasih tampannya itu mulai gila?

"Kyuhyunnie," hanya itu yang berhasil keluar dari bibir Sungmin. "Sayang dengarkan aku. Berhenti menangis dan tertawalah. Kita akan menikah malam ini."

Berdiri dari poisisnya, Sungmin bergerak dengan marah saat melepaskan pelukan Kyuhyun dari tubuhnya. "Bagaimana bisa kau mengatakan kita akan menikah sementara Zhoumi sudah menungguku di bawah sana!"

Kyuhyun terdiam, matanya yang sudah dipenuhi dengan genangan air menatap sendu pada Sungmin. "Kau punya pilihan untuk menolak Ming, kenapa kau tidak melakukan itu dari awal?" tanya Kyuhyun dengan nada kesakitan. "Kau takut menyakiti eomma yang jelas-jelas sudah mengorbankan hidupku dan hidupmu hanya karena harta?" terka Kyuhyun tepat sasaran.

Sungmin tak menjawab apapun, berondongan pertanyaan yang Kyuhyun berikan ia benarkan dalam hati. "Batalkan semua ini," tukas Kyuhyun membuat Sungmin sontak melebarkan matanya. "Batalkan Sungmin-ah, kumohon," pinta Kyuhyun sambil menggenggam erat jemari Sungmin.

"Tidak semudah itu, Kyu.." cicit Sungmin sambil menggelengkan kepalanya.

Kyuhyun tercekat, tak percaya jika Sungmin secara tak langsung menolaknya. "Kau bilang tidak semudah itu?" geram Kyuhyun. Menyadari Kyuhyun tengah marah, Sungmin hanya berani menganggukkan kepalanya. "Lalu bagaimana bisa kau menghancurkanku semudah ini, Cho Sungmin!" teriakan marah Kyuhyun langsung membuat Sungmin menutup kedua telinganya. Kyuhyun tak pernah semarah ini padanya.

Paham jika Sungmin tengah ketakutan, Kyuhyun mengerang penuh sesal kemudian membawa tubuh rapuh itu ke dalam rengkuhannya. "Maaf, maafkan aku," sesal Kyuhyun sambil mencium rambut Sungmin. "Maaf. Kumohon jangan lanjutkan ini."

Sungmin kembali menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tak bisa melakukan ini. Menghancurkan nama keluarganya.

Berlawanan arah pemikiran dengan Sungmin, Kyuhyun terlihat menarik napas dalam saat memahami penolakan Sungmin. "Kau mencintaiku, Ming?" kepala Sungmin bergerak mengiyakan dengan gerakan berulang. "Sangat," sahutnya kemudian.

Kyuhyun tersenyum kemudian kembali mencium rambut halus kekasihnya. "Aku juga mencintaimu. Sangat!" mendengar kalimat Kyuhyun membuat Sungmin semakin mengeratkan pelukannya. "Kau tau Ming? Kau adalah aku dan aku adalah kau.." Kyuhyun membuat jarak di antara tubuh mereka untuk menatap wajah manis kekasihnya. Telapak tangan hangatnya bergerak menangkup pipi bulat Sungmin kemudian mengusapnya dengan pelan.

Satu tangannya menunjuk dada Sungmin. "Di dalam sini.. selamanya hanya ada Cho Kyuhyun," beralih menunjuk dadanya sendiri, Kyuhyun kembali berucap. "Dan di sini.."

"Selalu ada aku, Sungminmu.." lanjut Sungmin dengan di sela senggukannya. "Sekalipun Zhoumi berhasil mengikat tubuhku, selamanya hanya kau yang memiliki hatiku."

Kyuhyun menempelkan keningnya dengan kening Sungmin, mencium ringan ujung hidung kekasihnya saat Sungmin tak kunjung berhenti menangis. "Seandainya boleh memilih, aku tidak ingin hidup seperti ini Kyuhyun-ah.."

Senyum penuh makna terlukis di bibir tebal Kyuhyun. "Seperti yang selalu kukatakan. Aku tidak akan menyerahkan kau untuk siapapun. Percayalah padaku, kita bisa memilih Cho Sungmin," ujar Kyuhyun lalu menghapus jarak di antara mereka. Sebelah tangannya bergerak merogoh saku jasnya, meraih sebuah benda dan mendekatkannya ke tubuh Sungmin sebelum menggerakkannya.

Foxy eyes Sungmin terpejam saat hembusan napas Kyuhyun terasa hangat di bibirnya. "Kau takdirku, Cho Sungmin.." sentakan kecil terasa jelas dari tubuh Sungmin, pemuda manis itu mengeratkan pejaman matanya saat Kyuhyun meraup bibirnya.

"Kyu.." Sungmin hanya bisa menggumamkan nama Kyuhyun, usahanya untuk membalas ciuman Kyuhyun terasa sia-sia saat sang adik tak sedikitpun memberi kesempatan. Tubuh Sungmin kembali tersentak membuat Kyuhyun setengah tak rela memisahkan tubuh mereka. "Kita bisa memilih sayang, percaya padaku.." ujar Kyuhyun sambil mengusap wajah Sungmin yang memucat, mata kekasihnya masih terpejam walau desah napasnya mulai memberat.

Sungmin hanya bisa mengangguk lemah, perlahan membuka mata saat tangannya bergerak menyentuh dadanya sendiri. Tuksedo putih itu tak lagi sepenuhnya putih.

Kyuhyun menurunkan tangan gemetarnya, memperlihatkan senjata bermerk FN-57.

.

~(*o*)~

.

Zhoumi berdiri dengan gelisah di posisinya. Kepalanya yang sejak tadi tak berhenti menengok ke arah lantai dua menjelaskan jika pemuda tinggi itu menunggu kehadiran Sungmin. Siwon dan Kibum yang berada di sebelahnya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Zhoumi—lebih tepatnya hanya Kibum yang tersenyum karena Siwon tak sepenuhnya tersenyum.

Hankyung hanya menatap Zhoumi sementara Heechul berusaha tersenyum senatural mungkin walau sejujurnya ia juga tengah gelisah.

"Tidak sabaran sekali, Sungmin masih bersiap," goda Kibum sambil mengerling ke arah putranya. Zhoumi tak tertarik untuk tersenyum. Pria tampan itu justru semakin gelisah dalam posisinya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Sungmin, Zhoumi berpikir dengan sangat keras tentang apakah perjodohan ini harus tetap dilanjutkan atau tidak. Bagaimanapun Sungmin tak bisa melakukan apapun, seberapa keras sosok manis itu memberontak, tetap ia yang menentukan keputusan.

"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Siwon. Kibum tersenyum mendengar pertanyaan suaminya pada Zhoumi. "Putra kita sedang gugup, seperti tidak pernah berada di posisinya saja," tukas Kibum namun hal itu tak bisa membuat Zhoumi lebih baik.

Sungmin berubah sangat buruk sejak ia muncul sebagai calon tunangannya. Tidak ada senyum, tidak ada tawa, tidak ada tatapan hangat, hanya ada tangis dan kesedihan setiap Sungmin berada di sekitarnya. Rasanya istilah cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu tidak akan berhasil untuk dia dan Sungmin mengingat Zhoumi sudah berusaha untuk mendapatkan hati Sungmin, namun hanya Kyuhyun yang menempati hati pemuda manis itu.

"Appa," panggil Zhoumi. Siwon yang sepertinya menunggu saat-saat ini hanya bisa tersenyum. "Katakan saja," suruhnya. Zhoumi meneguk ludah, mengeratkan kepalan tangannya kemudian melemparkan kotak cincin pertunganan yang ia ambil dari saku jasnya. "Aku tidak bisa!" teriak Zhoumi dengan keras.

Heechul dan Kibum membulatkan mata bersamaan sementara Hankyung masih dengan tatapan tenangnya. Hanya Siwon seoranglah yang tengah menganggukkan kepala kemudian menepuk pelan bahu putranya. Mengabaikan keterkejutan para tamu, Siwon berucap. "Bagus, kau sudah mengambil tindakan yang sangat bagus."

"Yeobo-ya!" teriak Kibum marah.

Tangan Siwon terangkat, mengisyaratkan Kibum untuk diam. "Putra kita sudah melakukan yang terbaik," puji Siwon pada Zhoumi. "Kita tidak bisa membiarkan putra kita memiliki tunangan yang mencintai adiknya sendiri."

"A-apa?"

Hankyung sontak memejamkan mata saat mengerti arah pembicaraan Siwon, sementara Heechul langsung meneguk ludah sebanyak mungkin untuk mengurangi pucat di wajahnya. Riuh suara para tamu mulai terdengar menanyakan keributan yang mungkin terjadi antara dua pihak keluarga. "Aku membatalkan ini karena aku mencintai Sungmin, tidak peduli Sungmin mencintai siapapun, yang terpenting bagiku adalah melihatnya bahagia," tegas Zhoumi saat menyadari arah pemikiran Siwon. Ayahnya pasti berpikir Zhoumi membatalkan pertungangan karena Zhoumi membenci Sungmin yang tetap berhubungan dengan Kyuhyun.

.

~(*o*)~

.

Dua tangan Sungmin yang semula menekan sakit di dadanya kini bergerak meraih wajah tampan kekasihnya. Hal itu langsung membuat wajah putih Kyuhyun berlumur dengan darah Sungmin.

Yesung yang tadinya hendak menyusul Kyuhyun terdiam kaku di ambang pintu, menatap datar kejadian tragis di depannya.

"Aku.." Sungmin berusaha bicara di sela-sela engahan napasnya. "Ingin bersamamu.."

Kyuhyun menganggukkan kepalanya, membuat air matanya berjatuhan. Dengan gerakan terburu, Cho bungsu itu menyibukkan diri dengan pistolnya kemudian menyerahkan senjata api itu ke tangan Sungmin. "Ayo pergi bersama," ucap Kyuhyun sambil mengarahkan tangan Sungmin yang tengah memegang pistol menuju dada sebelah kirinya.

Satu senyum manis terlukis di bibir Sungmin walau hal itu justru membuat luapan darah keluar dari mulutnya. "Dasar bodoh," gumamnya. Kyuhyun tak dapat mengeluarkan suaranya. Tak peduli darah yang mungkin memenuhi mulut Sungmin, Kyuhyun kembali menautkan bibirnya dengan bibir Sungmin.

Walaupun gemetar, Kyuhyun merasakan dengan jelas jika Sungmin berusaha sangat keras untuk menyelesaikan semuanya. Saat sentakan kuat Kyuhyun rasakan di tubuhnya, ia tahu Sungmin sudah berhasil.

Kyuhyun tersenyum, merasakan seluruh syaraf tubuhnya mulai berantakan dan meneriakkan kesakitan tak terkira. Inikah yang Sungmin rasakan saat Kyuhyun menyarangkan timah panas di dadanya? Perasaan menyesal kembali menguasai Kyuhyun, tegannya ia menyakiti Sungmin seperti ini.

"Maaf.. sudah menyakitimu," ucap Kyuhyun dengan napas terengah. Sungmin hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya sebelum membawa tubuh Kyuhyun ambruk ke lantai karena tak kuat menahan berat tubuh mereka. "Gwaenchana.." sahut Sungmin berjuang melawan rasa sakitnya.

Langkah Yesung terayun pelan ke arah tubuh dua adiknya yang terkapar tak berdaya, kepala keduanya terlihat berdekatan hingga mereka bisa menatap satu sama lain. Perlahan Yesung membungkukkan tubuhnya. "Hei Kyuhyun-ah!" panggilnya dengan suara gemetar. "Dari mana kau mendapatkan senjata sekeren itu? Apa dari pelayan yang kau temui tadi?" tanya Yesung sambil menunjuk sebuah pistol yang tergeletak di tak jauh dari tubuh Sungmin.

Kyuhyun berusaha melukiskan senyumnya saat melihat Yesung berusaha bicara padahal wajahnya sudah dipenuhi dengan aliran air mata. "Kenapa aku tidak mendengar suara tembakan? Apa kau menggunakan peredam seperti di film-film pembunuhan yang sering kita tonton bertiga?" terdengar sangat konyol namun Yesung tetap melanjutkan kalimatnya. "Sungmin-ah, kenapa kau tidak berteriak kesakitan seperti korban tertembak? Dasar tidak asik!" kali ini Yesung beralih mengacak-acak rambut Sungmin.

Tak ada jawaban apapun karena Sungmin juga berjuang sekuat mungkin untuk tetap membuka matanya. Walaupun berusaha untuk tak memperlihatkan kekacauannya Yesung tak bisa menutupi rasa marahnya akan situasi yang terjadi. "Kalian bodoh! Bagaimana bisa kalian pergi meninggalkanku seorang diri? Hei maknae nakal! Cepat bangun dan tembak aku! Ya!"

Yesung bergerak tak sabaran, meraih jemari Kyuhyun dan Sungmin kemudian menyatukan keduanya. "Kalau ingin menikah harus bertautan tangan seperti ini! Dasar kalian tidak romantis!" nada konyol Yesung kembali terdengar di sela tangisnya. "Hei, walaupun aku bukan pastur. Aku resmikan kalian berdua sebagai pasangan suami istri."

"Jangan menangis, Sungmin-ah. Pengantin tidak boleh menangis," ucap Yesung sambil mengusap lelehan air mata Sungmin.

"Hyung-ah.."

"Ne?" sahut Yesung sambil menatap Sungmin. Tidak terdengar jelas suara Sungmin namun Yesung bisa melihat jika bibir Sungmin bergerak mengatakan 'gomawo'.

"Gomawo hyung-ah.." suara lemah Kyuhyun terdengar mewakili. Yesung menganggukkan kepalanya kemudian mencium bergantian kening dua adiknya. "Kalian harus bahagia, sekalipun ini satu-satunya jalan."

Untuk beberapa saat hanya isak tangis Yesung yang terdengar memenuhi ruangan. Kepala pemuda Kim masih setia tertunduk, mengamati detik-detik terakhir sebelum Kyuhyun dan Sungmin benar-benar memejamkan mata.

Sambil mengusap air matanya, Yesung beranjak, hendak memberitahu Heechul namun langkahnya terhenti saat ia melihat perias Sungmin berdiri dengan wajah dipenuhi air mata, tubuh pria manis itu terlihat membeku akan keterkejutan.

"Apa kau berada di sana sejak awal?" pertanyaan yang Yesung ajukan membuat sosok itu menggerakkan bola matanya. Beralih menatap Yesung.

Dengan langkah santai, Yesung menghampiri sosok itu kemudian meraih sebuah dompet dari genggaman pria itu. Mengamati kartu tanda penduduk yang berada di sana kemudian kembali menatap sosok di depannya. "Ah, Ryeowook-ssi.. bukankah itu kisah cinta yang manis?" ungkap Yesung kemudian berlalu dengan santai.

Ryeowook hanya bisa melemas, tubuhya seolah diloloskan dari tulangnya. Setelah mendengarkan penuturan Yesung, pertanyaan 'Mengapa mereka saling membunuh?' langsung terjawab.

Tragis. Dia tahu bahwa keluarga Cho memiliki satu putra lagi, bernama Cho Kyuhyun dan ia benar-benar tak menyangka jika pria yang terkapar di sebelah Sungminlah sosok yang bernama Cho Kyuhyun.

'Cinta terlarang,' batinnya sambil berusaha meraih apapun untuk berpegangan. Dia tak bergeming sedikitpun sekalipun orang-orang mulai berdatangan memenuhi kamar Sungmin.

Raungan histeris langsung meledak saat Heechul dan Zhoumi tiba di sana.

"Kyuhyun-ah! Kenapa begini?" jeritan Heechul terdengar. "Maafkan eomma!"

"Sungmin-ah! Sungmin-ah!" Zhoumi berteriak keras sambil memeluk kuat tubuh Sungmin. "Sungmin-ah bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Aku sudah membatalkan perjodohan itu jadi bangunlah dan tetap hidup untukku," racau Zhoumi sambil mengguncang kuat tubuh dalam rengkuhannya. "Sungmin kumohon.. Sungmin!"

Kibum hanya bisa menatap ngeri ke arah tubuh Kyuhyun dan Sungmin yang bersimbah darah. Sementara Siwon terlihat mengerjabkan matanya berulang kali, semarah apapun ia, sebenci apapun ia pada keluarga Cho, tidak sekalipun terlintas dalam pikirannya untuk melihat situasi seperti ini. "Ya Tuhan, bagaimana bisa?" gumamnya tak percaya.

Hankyung hanya bisa terdiam, menatap tubuh Sungmin yang masih berada dalam rengkuhan Zhoumi kemudian beralih menatap tubuh dalam rengkuhan Heechul. Putra bungsu kebanggaannya. Nasi sudah menjadi bubur, jeritan pilu Heechul tidak akan mengembalikan putra mereka. 'Kyuhyun-ah,' sebut Hankyung dalam hati. Air matanya mengalir saat kenangan tentang putra keras kepalanya berputar-putar di dalam pikirannya.

'Appa aku ingin itu!'

'Appa kenapa harus pergi lagi?'

'Appa ayo main bersama Kyuhyunnie.'

Selanjutnya kenangan tentang Sungmin kecil yang sangat penurut dan sangat menyayangi Kyuhyun ikut mengisi pikirannya.

'Appa aku sudah menemani Kyuhyunnie bermain.'

'Appa aku sudah menemani Kyuhyunnie belajar.'

'Appa dan eomma tenang saja, biar aku yang menemani Kyuhyunnie.'

"Kyuhyunnie, Sungminnie.." gumam Hankyung kemudian jatuh bersimpuh. Terisak-isak sambil menggenggam kedua tangan putranya. "Waktu yang akan mempertemukan kalian kembali," lirih Hankyung namun Yesung yang berdiri di sebelahnya jelas mendengar hal itu. Hanya senyum yang terlukis di wajahnya walau dalam hatinya ia mengamini apa yang diucapkan Hankyung.

Lemparkanlah seorang yang bahagia dalam bercinta ke dalam laut lepas, pasti ia akan kembali dengan membawa seekor ikan. Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke dalam gudang roti, pasti ia akan mati kelaparan.

Yesung menganggukkan kepala saat kata-kata itu melintas di kepalanya. Kyuhyun dan Sungmin hidup dengan baik saat rasa bahagia yang kecil mengisi hari-hari mereka, ke manapun mereka pergi dan di manapun mereka berada, hanya senyum dan rona kebahagiaan yang tampak di sana. Namun, saat setitik kebahagiaan yang mereka miliki diusik dengan segumpal kesedihan, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Berada di antara ribuan manusia yang tengah melukiskan senyum dan tawa bahagia tidak akan membuat himpitan rasa sakit memudar, yang terasa hanya penderitaan dan duka mendalam.

Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar, dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping hati lagi pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah cinta..

Mereka terlahir dengan memiliki hal yang sama. Memiliki kaki, tangan, telinga, mata, dan sekeping hati.

Kyuhyun mencari sekeping hatinya yang lain menemukan Sungmin sebagai pemilikinya. Demikian pula dengan Sungmin, sekeping hatinya yang lain dimiliki oleh Kyuhyun. 'Tuhan.. apakah itu cinta?'

"Ya, jika bukan mereka tidak akan menemukan satu sama lain," gumaman pelan Yesung atas pertanyaan hatinya membuat pemuda Kim itu memejamkan mata, merasakan gelak tawa Kyuhyun dan Sungmin di dalam kepalanya. "Sampai jumpa.. dongsaeng-ah."

Dalam cinta, tidak ada istilah berakhir. Perasaan itu akan terus tumbuh, berkembang, dan mekar dengan warna yang indah pada saat yang tepat. Mungkin sosok Kyuhyun dan Sungmin telah pergi, namun kisah pencarian sekeping hati mereka berdua yang saling menemukan tidak akan pernah hilang ditelan waktu.

'Kyuhyun-ah..'

'Hm?'

'Apa kau percaya reinkarnasi?'

'Jika untuk kembali menemukan Sungminku, aku percaya.'

'Baiklah, ayo bertemu lagi dan berjuang bersamaku.'

'Dengan senang hati.'

This is end for story, but and for Kyuhyun Sungmin..

FIN


YOSH! Perjuangan saya TT_TT #elap ingus

Jumpa lagi teman-teman :D Terimakasih sudah meninggalkan jejak di chapter sebelumnya, jangan lupa tinggalkan jejak lagi ya untuk chapter ini *edisi plagiat Sungmin style*

OKE! OKE! OKE! Kotak review tiba-tiba banting stir #plak Habis fokus kesal sama Zhou, langsung terpecah belah. Ada yang kesal sama Heechul, sama Siwon, sama keluarga Choi, sama yang nulis juga ada T_T

Tenang.. tenang.. Saya mengerti teman-teman kesal karena kesesakan(?) di FF ini, jadi tolong bantu saya geser Shindong(?) oppa dari FF ini || GAK ADA SHINDONG KELEUUUSSS! *digebukin Shinfriends* || Ah jinjja? O.O *Kyuhyun amnesia mode on* Gak ada Shindong oppa kok nyesek(?) ya FFnya? O.o *digencet Dongie oppa*

Hahahaha, sudahlah! Maklumi ketidaknormalan saya rasanya gak bakal bisa sembuh ini -_-

Baiklah, sekarang masuk ke sesi balas review. Hmm, untuk chapter ini tidak berdasar polling request tertinggi. Hasilnya.. untuk Sungmin 6, untuk Heechul 6, Yesung 3, Kyuhyun 3, Siwon 2, Hankyung 2, Dokter(?) 1, Sungjin(?) 1, Sandeul(?) 1, Ddangkoma(?) 1, dan uri Kyumin 1 request.

Persaingan(?) untuk request cukup menegangkan(?) dan karena ini chapter akhir.. jadi saya putuskan yang balas review semua cast termasuk saya, biar adil! Bagus kan, castdeul? || Allcast: Aniyo *tampang datar*

Ahahahahaha! Abaikan hal-hal yang terjadi di belakang, yang terpenting sekarang kalian semua harus balas review *eye smile* *bagi skrip review*

R: Kyuhyuuuunnn! Keren banget kamuuuuhhh! Sumpah!

Kyuhyun: Apa aku harus mengucapkan terimakasih karena kau sudah memujiku? #tampangsengak

R: TBC! Yang nulis tau banget! Asdfghjkl!

PMR: Muehehehehe, habis saya bingung mau nempatin TBC di mana(?), jadi saya tempatin di tempat yang strategis(?) -_-

R: Zhoumi jutek, Yesung GJ, Kyuhyun galak. Adem ya kalau Sungmin yang balas review #lirikKyuhyun

Kyuhyun: YA! Kenapa kau harus melirikku? Belum pernah berhadapan dengan jariku? *bikin gerakan nyongkel mata* Dan dengar.. berhenti memuji Sungminku, hanya aku yang boleh memujinya, arra?

R: KyuMin bunuh diri aja.

Kyuhyun: Great idea baby-ya! *peluk yang kasih usul*

Sungmin: Usulan yang memang Minrin-ssi siapkan untuk ending. Terimakasih sudah review, jangan lupa review lagi *eyesmile*

R: Kenapa FF yang sekarang lama update? Apa karena sebelumnya banyak yang bilang kecepetan jadi yang sekarang dilambatin?

PMR: Gak ada alasan untuk memperlambat update-an chingu-ya. Saya punya kesibukan yang gak bisa ditinggalkan, kemarin juga sempat sakit, pas sudah mendingan langsung saya sempatkan buat mengetik. Jadi, saya sudah mengusahakan update sesuai kemampuan saya. Maaf ya jika tidak sesuai harapan #hug

R: Gimana reaksi Hankyung dan Heechul :O

Hankyung: Aku terkejut, tapi tetap mendukung mereka. Bukankah kalian senang jika aku menjadi ayah yang baik? #laugh

Heechul: Tidak, aku tidak terkejut. Jelas-jelas aku sudah membaca skrip sebelumnya *ngikir kuku*

R: HeroYesung aku padamuuuu!

Yesung: Hmmm, aku senang kalian masih mendukungku sampai sejauh ini. Tapi maaf, aku bukan pemeran utama. Tapi.. walaupun bukan pemeran utama, aku masih hidup *senyum konyol*

R: Like father like son. Siwooonnn! Zhoumiiii! Argghhh! Kibum juga!

Zhoumi: Aku salut kalian masih jengkel kepadaku sampai saat ini. Biar bagaimanapun komentar pedas kalian menjelaskan bahwa kemampuan beraktingku sangat bagus :D

Siwon: Ya Tuhan maafkan sikapku yang sudah membuat kalian jengkel. Demi Tuhan aku hanya menjalankan peranku #sungkem

Kibum: Memang apa yang kulakukan? #natap datar

R: Masih berharap KyuMin bukan adek-kakak T_T

Kyuhyun: YA! Kau sudah lihat endingnya bukan? Apakah kau masih berharap seperti itu?

Sungmin: Dalam cerita ini kami memang mendapat peran sebagai kakak beradik. Maaf jika tidak memuaskan. Terimakasih dan jangan lupa review lagi.

R: Gak ngarep happy ending, tapi jangan pisahkan KyuMin.

PMR: Errrr- itu endingnya sesuai harapan gak chingu? KyuMinnya gak pisah loh *wink*

R: Karakter tiap cast, sumpah keren banget!

Castdeul: Aaaaaahhhh jangan terlalu memuji, tapi kami memang bekerja keras untuk FF ini. Terimakasih ya :D :D :D

R: Semoga yang nulis FF ini gak stress buat lanjutin FF ini! Semangaaattt!

PMR: Nyahahaha, terimakasih supportnya chingu :D Iya stress berat nulis FF ini, mana mesti pusing gara-gara kebanyakan nangis *mandi es batu*

R: Kyuhyun semangat! Semangat! SEMANGAT! SEMANGAT! Rebut Sungmin!

Kyuhyun: *rolling eyes* Jika urusan Sungmin sepertinya kalian semangat sekali mendukungku. Hmm, baguslah. Tapi jangan berharap pelukan dariku, arra?

R: Mau gak mau baca next chap. Takuuuttt!

PMR: Yah, yah, yah.. nanti gak tau endingnya loh *terus?* #plak

R: Kasihan orang tua KyuMin.

Heechul: ORANG TUA yang mana maksudmu? #natapsinis Aku masih muda(?) dan cantik(?) Jangan sampai aku yang kau maksud ORANG TUA!

R: Tema incest! Tapi genre komplit banget! Drama, Romance, Family, Brothhership, Hurt, Littlefluffy, takut Angst TT_TT

PMR: Itu angst bukan endingnya? Kayaknya bukan deh *dikeroyok*

R: Nama FB?

PMR: Nama FB saya Dhienhie Fujoyerelf. Di bio ada kok chingu, cek aja :D

Oke terimakasih untuk semua yang mengikuti FF ini. Dari awal saya memang menargetkan FF ini tidak lebih dari 10 chapter. Jadi, seperti inilah ending yang bisa saya berikan. Semoga suka walaupun mungkin mengecewakan. Gak papa, memang seperti ini ending yang saya siapkan sejak awal. Tidak happy ending tapi Kyuhyun maupun Sungmin tidak dimiliki siapapun :D

Sekali lagi terimakasih, untuk teman-teman pembaca, reviewer, juga teman-teman yang sudah follow dan fav FF ini. Terimakasih juga untuk siders yang tidak saya tahu keberadaannya :D Terimakasih untuk semua yang sudah mengikuti You are My Destiny.

Maaf untuk Typo(s)!

Sampai jumpa di lain kesempatan. KyuMin is REAL! Saranghae~~~

13ELIEVE IN 7OVE


RCL please~

Gomawo udah baca \(*o*)/