Wow, enggak kerasa udah chapter sepuluh, DeathCheater update kilat! Dan kedepannya, DeathCheater bakal terus ngelanjutin cerita ini.

Disclaimer: I don't have Naruto and Naruto belongs to Masashi Kishimoto


Sekarang adalah H-4 menuju perang. Dua hari berat dijalani Hokage penuh dengan keringat dan tensi. Tapi disamping itu, sang Hokage masih merasakan penat besar dikepalanya. Sepertinya hal sesuatu mengenai istrinya tidak berjalan lancar.

"Kau apa?!" sang Hokage menatap istrinya tidak percaya. Tidak percaya istrinya akan menyatakan hal semacam itu.

"Iya, Aborsi" istrinya tidak tahu bahwa ia telah menunggu selama ini untuk kehadiran anak, penerusnya.

Sepertinya Naruto agak sedikit emosi menghadapi istrinya ini tapi ia coba untuk mengendalikan emosinya semenjak ia sedang berbicara tepat dihadapannya. "Apa yang ada pikiranmu?!"

"Kau" simpel ia katakan, kemudian ia lanjutkan, "kau yang ku pikirkan"

Naruto menunjuk dirinya sendiri. "Diriku?!" dan Sakura mengangguk sedih.

Air mata itu terus mengalir keluar dari kedua kelenjar air mata perempuan itu. Ia merasakan kesedihan sangat mendalam, padahal ini adalah pilihannya dia. "Aku minta maaf Naruto"

"Tidak"

"Huh" ia mengelap air matanya dan melihat kearah Naruto.

"Tidak akan aku maafkan"

"Naruto?"

"Kau, Sakura" Naruto masih marah tapi tidak menunjukkan kemarahannya pada Sakura. "Tidak akan ku maafkan kalau kau membunuh anakku"

Naruto mulai serius, ia tidak main-main. Meski itu istrinya, kalau memang itu adalah sebuah ancaman kepada anaknya yang masih belum lahir, maka ia akan melakukan segalanya.

"Semua ini demi kau, Naruto!" kata Sakura diantara isakan tangisnya. Air asin itu makin mengalir deras sesaat ia sebut nama suaminya. "Demi-"

"Demi apa?! Demi aku? Demi kau? Demi kita?!" ia berteriak dengan keras. Ia tidak pernah terlihat semarah ini sebelumnya. "Lalu bagaimana dengan dia?!" dia agak menurunkan nadanya sedikit. Intonasinya masih terdengar sama seperti sebelumnya, "apa kau memikirkan dia?!"

"Iya! Aku memikirkannya!" teriak istrinya balik dan masih menangis sejadi-jadinya.

"Lalu apa?! Aborsi? Heh!" dengusnya.

"Jangan mendengus! Aku serius!" meskipun ia coba berteriak balik, tetap ia terisak.

"Tch"

"Naruto, kau adalah alasan aku ingin aborsi"

"Tolong jangan katakan omong kosong"

"Ini bukan omong kosong! Kau tidak tahu seberapa takutnya diriku kehilangan dirimu! A-aku akan menjadi kelemahanmu!" katanya. "Apa kau tidak mengerti?! Aku takut menjadi sasaran kelemahanmu.. Aku.. Takut.. Kau akan menyerahkan dirimu begitu saja hanya karena aku dan dia.. Hanya takut.." dia mencoba me-manage debit air mata yang keluar tapi tidak bisa. Tapi haruskah dia mengorbankan dia demi Naruto?

"Sakura.." ucap Naruto pelan.

"Jika anak ini membuatku kehilanganmu, maka.. Maka.. Maka, lebih baik anak ini kita tunda du-lu" walaupun dia berkata serti itu, tapi sepertinya dia agak ragu mengatakannya.

Bibir Naruto membentuk senyuman kecil. Istrinya yang sedang menangis tertunduk tidak mendengar suara Naruto sedikitpun. "Minashi.. Kau tahu Sakura, dia pasti akan memiliki mata hijaumu"

"Huh?" Sakura menghentikan tangisannya sejenak dan melihat kearah suaminya.

"Yah, dan mungkin juga akan memiliki jidat yang lumayan lebar" lanjut Naruto mendinginkan suasana, tapi suasana tidak meleleh sedikitpun. "Tapi dia pasti akan memiliki rambut jabrik berwarna kuning atau lebih ke oranye"

"Hmm" dia menggumam sedih.

"Bayangkan saja, Sakura, diriku tanpa kumis kucing, dengan mata hijau seperti zamrud dan rambut jabrik berwarna oranye" Naruto tertawa kecil membayangkannya begitu juga Sakura. "Dan jangan lupa sifatku yang ceroboh itu akan ada dalam dirinya. Tapi mengingat sifatmu yang penuh dengan pertimbangan, aku rasa sifatmu itu akan lebih baik jika diturunkan kepadanya"

Suasana sudah semakin lepas. Mereka duduk bersama, tertawa membicarakan anak mereka kelak nanti.

"Sepertinya kau begitu yakin kalau anak kita itu laki-laki" lanjut Sakura.

"Aku dari dulu menginginkan anak lelaki. Aku senang bila punya teman ngobrol laki-laki"

"Oh"

"Hei, Sakura.." katanya berbisik pelan.

Sakura menengok kearahnya dan mengumam, "Hmm?"

"Kalau saja.. Kalau saja aku gugur.. Aku bisa percayakan kau kepada Minashi" Naruto mengusap rahim Sakura. Ia merasakan detakan jantung didalamnya.

"Bicara apa kau Naruto?!"

"Oh, ini kan hanya kalau saja. Minashi akan membawa semangat api, kehendakku, dan kepercayaanku" katanya sambil terus mengusap rahimnya. "Karena aku percaya padanya" Sakura melihat suaminya yang terlihat sangat senang. Ia tak mungkin merusak senyumnya yang begitu indah itu. "Dan aku mau kau, Sakura, menjaga kepercayaan itu.. Pastikan bahwa aku tidak salah memberi kepercayaan.." dia menahan sedikit apa yang akan dikatakannya. Dia mengambil tatapan dalam kepada istrinya. Dalam ke dalam mata hijaunya. "Karena aku.. Mencintai kalian.. Sakura dan Minashi"

Sakura merasa tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Kenapa?! Kenapa aku bisa bersikap bodoh seperti ini?! Kenapa aku sempat memikirkan untuk aborsi?! Katanya sejenak dalam pikirannya. Tiba-tiba air mata kembali mengalir dari kedua matanya.

"Ah? Sakura?" ia bingung. Kenapa dia menangis lagi? Apa si baka ini mengatakan sesuatu yang salah lagi?

"Bodoh.." katanya pelan.

"Ekh?" siapa yang dimaksud bodoh? "Sakura?"

"Aku memang bodoh.."

"Sakura.. Kenapa?"

"Kenapa aku bisa berpikir sempit seperti itu?" ucapnya terisak. Bahkan Naruto terkaget mendengar ucapan istrinya. Dia mengaku bodoh. Biasanya Naruto yang ia sebut bodoh, tapi kini, untuk pertama kalinya, dia berkata bodoh kepada dirinya sendiri.

Naruto sedikit tersenyum mendengar istrinya. "Sudah, tidak apa.." dia merangkul istrinya dengan hangat. "Aku berjanji Sakura, aku tidak akan kalah! Meski itu Orochimaru!" ia memberi Sakura pose "Mr. Nice Guy" khasnya Lee. "Aku akan membuatnya untuk melangkahi mayatku sebelum mengambil kau dan Minashi dari diriku! Ingat itu!"

Sakura mengusap air matanya dan meraih tangan Naruto dan melepasnya. Tidak disangka, ia memeluknya dengan penuh perasaan sedih atau bisa dibilang patetik. "Naruto, terimakasih" Naruto matanya melebar. Ia pernah ia rasakan. Rasanya persis seperti saat Nagato menginvasi Konoha. Tak ada pilihan lain selain membalas pelukan itu. Ia memeluknya, dan menyentuh rambut pink yang tergerai indah itu tepat di punggungnya.

"Sakura, aku yang seharusnya berterimakasih" katanya sambil memejamkan mata. "Kau tahu, mungkin aku tidak akan senang kalau istriku bukan kau" Sakura agak terbelalak sedikit dan melepaskan tawa kecil akibatnya. "Kau menerimaku setelah selama ini.. Itu adalah hal terindah yang aku rasakan.. Dan memiliki anak darimu.. Bahkan lebih indah.. Aku juga tidak mau kehilangan kau dan Minashi.." pelukannya agak mengendor sedikit. Dan perlahan mulai lepas. Wajah Sakura masih terbelalak sedangkan Naruto memegang kedua pundak Sakura dan mengambil nafas dalam. "Oleh karena itu.. Aku tidak akan menyerah!"

Sakura sedikit menyeringai. Bukan, itu bukan seringaian. "Baka.."

"Apa katamu, Sakura?" dia tidak mendengar apa yang dikatakan istrinya. Suara terlalu kecil dan terlalu lembut untuk didengar.

"Aku bilang, Baka"

"Ekh?"

"Kau selalu membuatku senang dengan membuat janji.. Naruto, kau itu benar-benar idiot!" Naruto agak melas mendengarnya. Tapi ia senang, sebagian dari diri istrinya telah kembali. "Tapi, Naruto, aku ingin kau menepati janjimu yang ini"

Naruto melihat raut istrinya yang khawatir. Kahawatir kalau saja, janjinya ingkar. "Sakura, lihat aku" Sakura melihat Naruto dengan bingung. Ia melihat wajah Naruto yang penuh dengan sinar diwajahnya, seperti tidak memegang beban apa pun. "Apa aku pernah ingkar janji?"

Sakura mengingat-ingatnya. Ia mengingat janji yang pernah ia katakan.

"Tenang saja Sakura! Aku akan membawa Sasuke kembali! Ini adalah janji seumur hidup!" ia ingat janji itu. Saat mereka masih Genin. Meskipun kemajuannya perlahan, tapi ia membuktikan bahwa ia akan menariknya kembali ke desa. Dan itu terwujud sekitar sepuluh tahun lalu.

"Iya" ia memberinya tampang kesal tapi tersenyum

"Yang mana?" kagetnya.

"Kau janji akan memberitahu arti nama Minashi setelah pulang, katamu.." Sakura mengedipkan matanya. Agak menggodanya sedikit.

Naruto agak sedikit tenang. "Oh ayolah Naruto, kau terlalu serius" ia terus membuat Naruto merasa sedikit empet.

"Heh Sakura, karena kau daritadi bersikap seperti itu, aku jadi agak sedikit kaget" ia mengelak.

"Hehe, aku bisa melihat kau sedikit kaget, tapi apa sebenarnya arti nama itu, Naruto?"

"Jadi kau benar-benar ingin mengetahuinya?" ia bisa melihat istrinya mengangguk antusias ingin mendengar suami menjelaskan. "Minashi itu sebenarnya aku ambil dari penggalan nama ayah dan ibuku. Mina dari Minato dan Shi dari Kushina"

"Tapi dimana filosofinya?"

"Minashi itu asal kau tahu, artinya diakui.."

"Diakui?"

"Iya, aku ingin anakku kelak diakui sebagai anak-anak sebagaimana umumnya. Dan kau tahukan bagaimana masa kecilku? Selalu dibilang anak iblis. Itu membuatku selalu merasa tidak diakui dan direndahkan. Hanya teman-teman, kakek Hokage, guru, pertapa genit dan nenek Tsunade yang bersikap baik kepadaku. Dan bukan karena artinya diakui, aku mau anak kita diakui sebagai anak Hokage, aku hanya ingin dia mendapatkan perlakuan sama seperti yang lainnya"

"Satu hal Naruto, pasti ia akan dijelek-jelekkan akibat memiliki jidat super lebar" tambah istrinya sambil tertawa.

"Mungkin juga, tapi dia itu laki-laki" reaksi Naruto juga luarbiasa. Dia tertawa lebar.

"Yah aku rasa dia juga akan menjadi dead-last saat dia di akademi nanti"

"Hei!"

"Oh, iya aku lupa, kau kan sekarang adalah tuan Naruto, tuan Hokage, Rokudaime Hokage, pahlawan lima desa" dia menyebutkan semua gelarnya meski belum semuanya.

"Itu belum semua!"

"Hmm, Sage dari gunung Myouboku, Ninja yang paling norak, paling bawel, dan penuh kejutan, lalu apa? Oh ya, anak yang sudah diramalkan, penyelamat dunia ini, sebagainya dan sebagainya"

"Nah, anak kita pasti akan bangga dengan gelar ayahnya yang begitu banyak serta ibunya, si Tsunade nomor dua, Kunoichi paling cantik yang pernah ada, dan Ninja medis yang paling handal!"

"Aku rasa itu bukan gelar, tapi itu adalah semacam gombalan"

"Ow Sakura, kenapa tidak merah mukamu?"

Dan seketika keadaan kembali senyap, "Naruto.." sekali lagi ia memanggil suaminya dengan nada lembut, selembut yang ia bisa ucapkan.

"Hm?" Naruto menolehkan wajahnya ke love of his life-nya.

"Aku memikirkan kata-katamu tadi.." ia menahan sedikit bibirnya yang akan berbicara lebihbjauh sebentar, "..tentang bagaimana jika kau gugur" Sakura menundukkan kepalanya dan rambut pink yang panjang itu menututpi sebagian wajahnya.

"Ha?"

"A-a-ku takut tidak dapat menjalaninya sendirian" Sakura mengepalkan kedua tangannya dan menaruhnya didadanya. Ketakutan jelas tergambar di wajahnya.

"Sakura"

"Tidak Naruto, aku benar-benar takut.." ketakutannya kini berubah menjadi tangisan. "Aku benar-benar takut.. Aku takut.. Aku" sebelum sempat ia selesaikan kata-katanya, kepalanya dipegang Naruto. Dan kedua kepala itu beradu. Dahi bertemu dahi, hidung bertemu hidung, dan mata bertemu mata.

"Ini adalah jarak yang terdekat yang bisa kuraih saat bersamamu, kau tahu itu?" Sakura sejenak menghentikan emosi untuk menangis dan melihat dalam-dalam mata biru yang sudah membuatnya jatuh cinta berkali-kali kepadanya.

"Apa yang harus aku perbuat agar kau tidak pergi lagi?" tanya istrinya. Kantung mata terlihat nyata terbentuk dikelopak bawah matanya. Tapi disamping itu, pertanyaannya terdengar sangat serius sekali saat ia mengatakannya.

"Sakura.."

"Aku sudah muak Naruto!" teriaknya pelan dan mulai kembali menangis lagi, "lima tahun.. Lima tahun, Naruto!" lanjutnya. "Sepuluh tahun yang lalu kau pergi meninggalkan desa. Kau bilang kau hanya dalam misi tingkat C. Tapi kau bohong! Kau mencari kekuatan.. Kau mencari kesempurnaan!" ia kembali melanjutkannya dengan teriak tapi masih ia tidak menyentak. "Aku sudah cukup dengan lima tahun menunggumu.. Dan aku.. Aku pikir aku tidak akan sanggup jika harus menunggumu lagi untuk seumur hidup.."

"Sakura.."

"Ayolah Naruto.. Aku mohon kali ini.. Aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai lagi!"

"Sakura.."

"Dan kalau memang kau harus pergi, maka bawa aku"

"Sakura.."

"Tolong Naruto, kalau harus ada harga yang harus dibayar untuk selalu bersamamu maka aku akan membayarnya, meski itu dengan nyawa" untuk kesekian kalinya, Sakura terus membombardir Naruto dengan berbagai statement.

"Sakura, tolong dengarkan aku sekali saja.." Sakura terus dan semakin tenggelam dalam kesedihannya. "Aku tahu, aku tahu bagaimana beratnya perasaanmu. Tapi aku Hokage. Tugas Hokage adalah melindungi rakyatnya"

"Aku tahu itu, Naruto. Tak bisakah kau hanya menyuruh bawahanmu saja?"

Naruto tersenyum dengan matanya yang tertutup. "Itu adalah tindakan tidak bertanggung jawab, Sakura.."

"Tapi setidaknya kau juga menjalankan fungsi Hokage, kan?!"

"Itu benar Sakura. Tapi kau ingat satu ajaran guru Kakashi dulu? "Orang yang melawan aturan adalah sampah, tapi orang yang mengabaikan mereka lebih rendah dari sampah" kau ingat Sakura?" kata Naruto mengingatkan. Tentu dia ingat, begitu juga Sasuke, pasti dia juga ingat.

"Tapi-" sebelum sempat ia berargumen, Naruto memotongnya.

"Tapi setelah aku pikir-pikir, sepertinya harus ada sedikit pembenaran disitu. Aku akan menambahnya menjadi, "Orang yang melawan aturan adalah sampah, tapi orang yang mengabaikan orang yang disayangi, dicintainya, dan dikasihinya jauh lebih rendah dan lebih hina dari sampah!""

Mata Sakura terbuka lebar. Ia melihat pencerahan dalam diri suaminya. Naruto memang penuh kejutan. Segala kejadian selalu ia hadapi dengan kepala dingin dan hati yang lapang.

"Dan alasan diriku untuk meninggalkan desa selama lima tahun adalah untuk membuktikan bahwa aku dapat melindungi orang yang aku sayangi, orang yang aku cintai, dan orang yang aku kasihi.." kembali Naruto membuat Sakura terkejut sebelum ia menambahkan sesuatu pada kalimatnya.

"Dan orang itu adalah kau, Haruno Sakura"

Mata Sakura makin terbuka lebar dan mata zamrud itu menunjukkan warna hijaunya kembali. Lalu Naruto kembali berbicara, "Sejak dulu aku selalu berpikir. "Bagaimana aku bisa melindungi orang yang aku cintai kalau aku sendiri tidak bisa lebih kuat lagi?" pikiran seperti itu selalu terngiang dikepalaku, kau tahu itu?" ia kemudian melepaskan tatapannya kembali ke arah langit petang yang bisa dibilang.. Merah. "Lalu aku bertemu kau, Sasuke, teman-teman, guru Iruka dan guru Kakashi" Naruto mengucapkannya dalam nada yang agak lumayan sedih. "Dan puncaknya adalah ketika aku menyelamatkanmu dan Sasuke dari buasnya Ichibi, Shukaku"

"Ah?"

"Saat itu aku hampir kehabisan akal untuk melawan Gaara, tapi entah kenapa aku bisa melakukannya dan menyelamatkan nyawa kalian berdua" lanjutnya sambil tersenyum dan tertawa kecil. "Tapi saat aku dan teman-teman mencoba menarik Sasuke kembali ke Konoha dan gagal.. Saat itu aku merasa lemah.. Aku merasa aku tidak bisa melindungi orang yang aku kasihi"

"Naruto, sudahlah kita berjanji untuk tidak membahas ini lagi"

"Tidak apa Sakura" Naruto tidak menampilkan ekspresi yang berarti selain senyuman yang tiada henti ke arah langit merah. "Dan ketika itu aku memilih mengembara bersama pertapa genit itu. Berlatih dan berlatih menuju diriku yang semakin kuat" kemudian ia mengalihkan tatapannya dari langit kembali ke istrinya. Ia masih melihat tetesan air mata yang mengering di pipinya. "Buktinya, aku bisa mengalahkan Pain, Akatsuki, Obito, dan Madara serta tentu saja Juubi. Lalu aku berhasil membawa Sasuke brengsek itu kembali ke desa ini" Sakura tidak tertawa mendengarnya dan masih termenung melihat wajah Naruto yang bersinar penuh dengan ekspresi yang tidak mudah untuk ditebak. "Yah, meskipun hasilnya nyata, tapi aku sadar. Aku sadar masih ada satu mimpi yang masih belum terwujud" Naruto memperlihatkan foxy grin-nya, "menjadi seorang Hokage!"

Naruto kau ini.. Tapi ini memang Naruto yang aku kenal.. Naruto yang masih seperti dulu.. Naruto yang masih dan yang akan selalu.. Pikirannya terpotong sejenak setelah Naruto melanjutkan ceramahnya.

"Bukan berarti aku ini anakYondaime dan seorang pahlawan di perang dunia Shinobi keempat, aku bisa dengan mudah mengambil titel dan melepasnya sebagai Rokudaime Hokage, Hokage Oranye Konoha" dia mengangkat kembali kepalanya tinggi-tinggi. "Aku juga harus membuktikan bahwa aku adalah orang yang tepat untuk membawa tanggung jawab besar seperti itu! Jadi inilah titik balik bagiku. Ini adalah saat dimana tanggung jawabku dipertanyakan"

Yah benar.. Naruto ini adalah yang masih dan yang akan selalu.. Aku cinta pikir Sakura sambil tersenyum dan menitihkan beberapa tetesan air mata bahagia.

"Jadi Sakura" Naruto berdiri dan berjalan menjauh dari Sakura hingga ia berdiri disatu tempat ditengah halaman. Cahaya petang yang begitu merah menyinari dirinya dari depan, sehingga bajunya yang setengah oranye terlihat lebih terang dari biasa. "Aku ingin kau mengerti" katanya sambil tersenyum hangat dan matanya sedikit menutup.

"Baka" Sakura mencoba berdiri dari posisinya yang sudah duduk terlalu lama. Terlalu lama menangis dan terlalu lama mendengar. "Hanya ingat satu hal lagi, Naruto" Sakura berdiri dan mengatakan sesuatu, "aku ingin kau benar-benar menepati janjimu tadi"

Naruto merentangkan tangannya selebar-lebarnya bersiap dan seolah berkata, "kemarilah" dan kemudian tanpa menunggu waktu lama. Sakura sambil tersenyum berlari ke arah Naruto dan Naruto yang sudah bersiap menangkapnya dalam dekapan hangat. Lalu ia angkat istrinya setinggi mungkin dengan gendongannya.

Sakura menurunkan kepalanya dan Naruto meninggikan kepalanya. Dekapan mereka terkunci bersama ciuman antar bibir mereka. Kebahagiaan mereka saat ini tidak bisa digambarkan dengan kata-kata atau gambar mau pun deskripsi.

"Sakura, aku akan berjuang sekuat tenaga untuk menepati janji itu" jawab Naruto setelah melepas ciumannya. "Tapi aku juga kau berjanji satu hal kepadaku"

"Hm?"

"Aku mau kau, apa pun yang terjadi, selalu menerima keadaan apa pun itu. Mau kah kau berjanji?" ia melihat Sakura kembali menurunkan kepalanya. Sekali lagi ia membuat Sakura melakukan hal yang sulit. Dan Sakura terlihat sangat memikirkannya.

"Naruto" oh Tuhan, aku tidak tahu apa yang aku katakan ini adalah benar atau salah "Aku" tapi satu hal dariku, yang kuminta, "Akan" jaga dia selama aku tidak ada, jaga dia selama aku tidak ada disisinya, dan jaga dia selama aku tidak berada disekelilingnya. "Berjanji.." pikir Naruto dan kata Sakura. "Aku berjanji akan menerimanya" Sakura agak tersedih mengatakannya.

"Apa kau serius?"

Sakura melihat Naruto dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu harus bilang, "aku serius" atau "aku tidak serius" karenanya.

"Aku" Sakura menarik napas dalam-dalam dan merubah emosi sedihnya dengan senyuman, meskipun senyumannya tidak asli. Dan anehnya dia sambil menangis. "Aku serius, Naruto"

Naruto mendengarnya langsung membalikkan tubuhnya dari Sakura. Sinar yang menyinarinya kini membuatnya terlihat seperti siluet. "Kau tahu Sakura, kau tidak perlu menjawabnya sekarang"

"Ah? Naruto? Apa aku berkata sesuatu yang menyakiti hatimu?"

"Tidak.. Tapi aku senang.. Dengan ini aku bisa percayakan penuh Minashi kepadamu, Sakura" Naruto menundukkan kepalanya hingga dagunya menyentuh dadanya dan tangannya mengepal seiring air matanya mengalir melewati kumis kucing yang mulai memudar.

Dep

Sakura memeluknya dari belakang. Perut Naruto dibekap Sakura dan kepalanya menyentuh bagian punggung dari sang Hokage.

"Maaf, tapi aku sangat mencintaimu" katanya sederhana.

Naruto berbalik dan menjawab balik, "aku tahu itu, dan aku selalu tahu kau akan mencintaiku dan.. Anak kita"

Duak!

"Sakit! Hey! Apa itu barusan?!" Naruto merasakan kepalanya tertimpa sesuatu yang bergaya enam puluh Newton.

"Ayolah, tuan Hokage. Kau tidak mau melewatkan makan malam, kan?"

"Hehe, kau tahu saja Sakura.. Jadi apa malam ini? Ramen? Oh oh aku tahu, Yakiniku atau-"

"Semua yang kau katakan itu sesuatu yang jelas tidak akan aku masak untukmu saat ini. Sekarang kau butuh.. SAYURAN!"

"Uwaa! Sayuran?! Aku harus kabur dari sini dan mengungsi ke Ichiraku!"

"Kau pikir kau bisa kabur semudah itu, tuan Hokage?!"


Sementara itu jauh diluar negara api, seseorang sedang menyeringai.

"Keh, kau pikir kau bisa menyembunyikan semua kekuatanmu, Naruto?" ia mengambil buku tentang para ninja dan ia membuka informasi tentang Naruto.

"Namikaze Uzumaki Naruto. Level, Kage. Tipe Transformasi Chakra, api, air, angin, tanah, dan petir" hmm, lima elemen? Berarti dia memegang kekuatan itu, ya? Kukuku menarik.. "Sage dari Gunung Myouboku, Jinchuuriki dari Kyuubi no Yoko" itu membuatnya hampir tidak tertembus. Tapi tidak ada yang tidak mungkin bagiku.

Orochimaru berdiri ditengah hutan menutup matanya dan merentangkan tangannya. Ia menyiapkan kuda-kudanya dan "Shinra Tensei"

Krek

Pohon mulai bergerak. Aneh..

Blar

Pohon disekitar Orochimaru mulai bergerak menjauhi dirinya.

"Kehehehe" Orochimaru berdiri diantara kayu yang copot dari batangnya. Lalu ia buka matanya, terlihat matanya berubah keunguan dari sebelumnya. Dan membentuk semacam cincin dari luar hingga kedalam kornea. Dan pupilnya kecil terlihat seperti titik. Itu adalah, "kekuatan Rinnegan ada ditanganku, dan aku akan semakin kuat dengan kekuatan lainnya" ia menjulurkan lidahnya dan menjilat bibirnya sendiri.

Dan sesaat kemudian ia melanjutkan tawaan maniaknya.

Perang semakin dekat, Orochimaru punya Rinnegan?! Apakah Naruto benar-benar oke dengan Sakura? Dan apa kekuatan yang Naruto sembunyikan? Selanjutnya di chapter sebelas!


Cut! Chapter sepuluh selesai! Gimana? Cheesy? Ga jelas? Well sebenernya chapter sepuluh udah selesai dari dua minggu lalu tapi, DeathCheater pengen tahan biar pada penasaran. Hehe. Anyway, DeathCheater lagi ngerjain chapter lima belas. Berdoalah kalo ada yang mau update kilat karena DeathCheater lagi libur dua belas hari nih! Bwehe, and, DeathCheater baru publish cerita baru. Kali ini NarutoxKurotsuchi. Cek di profil atau cari aja "Setengah dan Setengah" abis DeathCheater udah mulai bosen sama NaruSaku atau NaruHina, be sure to read that story, okay? Dan jangan lupa review! DeathCheater butuh respon kalian atas chapter ini! Karena, Orochimaru bakalan super over power, begitu juga Naruto. Jadi nanti bakalan ada pertempuran epik diakhir fic ini.

Akhir kata maafkan kalo masih banyak salah kata karena masih fic pertama dan maafkan juga fic ini yang tidak sempurna karena sempurna hanya milik Tuhan dan Andra and The Backbone.

Im out!