At the unknown road, Hongdae, 17.50 KST
Baekhyun sungguh tidak mempercayai apa yang terjadi hari ini.
Demi semesta alam, Ia hanya keluar sebentar dari apartemen Chanyeol untuk membeli ramen instan di mini market yang tepat bersebelahan dengan gedung , namun apa yang didapatnya?
Ya, luka lebam di sudut bibir serta terjebak di sebuah mobil Jeep hitam keluaran Merchedes Benz seri terbaru yang hampir mirip seperti milik Chanyeol yang terparkir di basement rumah induk—Ia melihatnya ketika berkunjung minggu kemarin—oh dan bau apa ini? Baekhyun mengernyit jijik ketika mencium bau pengharum mobil yang lebih mirip bau minyak urang-aring atau sejenis itu.
Ewh, selera penculiknya kali ini benar-benar buruk.
Mengabaikan bau mobil yang terasa menusuk hidung, Baekhyun melirik ke kanan dengan tajam, ke arah satu laki-laki tinggi yang tadi berhasil mengalahkannya dalam sebuah adu jotos kecil di gang sempit yang memisahkan mini market dengan gedung apartemen sang ketua geng.
Oh, bicara soal pacar gangsternya yang tampaknya belum menunjukkan batang hidung, pria berambut merah yang begitu disayangi Baekhyun hingga ubun-ubun itu rupanya tengah terlibat dalam pertempuran memperebutkan wilayah distrik sebelas yang habis di diskusikannya dengan dua ketua geng lainnya di Excelar tempo hari.
Baekhyun pernah beberapa kali terjebak dalam situasi seperti ini, Ia juga tahu kalau komplotan penculiknya kali ini adalah orang yang sudah menembakkan peluru ke kaca jendela apartemennya beberapa hari yang lalu. Tapi yang membuat Baekhyun kesal bukan karena Chanyeol yang terlambat datang kali ini tapi karena Ia kalah adu pukul dengan satu orang anggota komplotan.
Pada kenyataannya Baekhyun sudah lolos setelah menghajar sekelompok pria botak berbadan besar, bos geng mereka salah besar ketika menganggap bahwa enam orang berbadan besar akan dengan mudah membawa seorang anak SMA tahun kedua bertubuh mungil yang jemarinya bahkan mampu mengalahkan lentiknya jari selebriti sekelas Yoona Im atau Song Hye Kyo.
Bos geng dari pria-pria botak kekar itu terlalu meremehkan Byun Baekhyun.
Enam orang tumbang di bawah kaki Baekhyun sore itu, nafas anak itu terengah sambil memungut kantong belanjaan yang berisi ramen instan, beberapa jelly rasa strawberry, dan marsmellow yang sekiranya bisa menemaninya belajar materi esok hari sambil menunggu si rambut merah penguasa hatinya pulang.
Benar-benar sialan saat dari samping laki-laki ini datang dan mengacaukan kemenangannya, hatinya sakit ketika melihat isi kantong belanjaannya berhamburan di jalanan setelah Ia ditendang dengan begitu keras dari arah kanan. Baekhyun tersungkur namun tak lama Ia bangkit lagi dengan mata nanar menatap makanannya berserakan di jalan.
Matanya menajam saat mengalihkan pandangan ke arah si berengsek yang sudah berani membuatnya gagal menikmati kudapan favoritnya.
"Aku akan mengadukanmu pada Chanyeollie, tapi sebelum itu, aku akan merontokkan gigimu terlebih dahulu agar seumur hidup kau tak akan mampu mengunyah, meski itu cuma seonggok marsmellow empuk! Keparat!" Ia berteriak kemudian memberikan bogemnya hingga si musuh terpental ke arah gang sempit.
Benar, Baekhyun tidak ingkar janji. Anak itu betulan merontokkan beberapa gigi pria tadi, namun Ia juga mendapat balasan pukulan dan tendangan yang melukai beberapa bagian tubuh dan wajahnya.
Hingga bala bantuan yang sayangnya berasal dari musuh datang menangkap Baekhyun yang sudah tidak bertenaga lagi untuk melawan, namun sampai detik dimana anak itu di dorong kasar ke dalam mobil Jeep, mata tajamnya tak lepas menatap penuh ancaman pada pria yang telah Ia rontokkan giginya.
Baekhyun tersadar dari ingatannya beberapa saat yang lalu ketika mobil itu berhenti di sebuah lampu merah.
"Sekali penyusup ya tetap saja penyusup, sekali pecundang ya tetap saja pecundang." Baekhyun berucap sadis sembari memainkan borgol yang mencengkeram pergelangan tangannya, "Katanya sudah menjadi teman Jongdae-ssi, bilang kalau cuma Hwa Dokgo pemberhentian terakhir setelah dicampakkan oleh ketua geng sekolahmu yang kemarin bersekutu dengan mafia itu. Sekarang malah membantu kelompok gangster lain untuk menculikku? Sungguh plin plan sekali ya, Chunji-sunbae ?" Baekhyun menggeleng dengan wajah datar.
Membuat pria itu—oh ternyata itu Chunji Lee, mantan anggota Niel dari In-Su—merasa ditampar secara imajiner karena ucapan pedas Baekhyun yang diucapkan anak itu dengan nada santai.
"Tidak ingat saat Chanyeollie sudah menolongmu untuk menemukan sekolah baru dan kehidupan normal untukmu setelah geng mu kalah dalam pertempuran besar itu? Dasar tidak tahu diri, masih beruntung cuma gigi mu yang kurontokkan, tunggu hingga Chanyeollie datang dan akan kuminta Dia untuk menenggelamkanmu di teluk Tokyo." Kata-kata Baekhyun meluncur seiring dengan suara gemerincing borgol yang dimainkan anak itu.
Lee Chunji tersentak, mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobil di sampingnya, tak mau sedikitpun melihat laki-laki kecil yang ada di sampingnya.
"Bagaimanapun juga kau sudah tertangkap dan bos geng ku yang baru sudah memastikan kalau Park Chanyeol tidak akan bisa menemukanmu." Lee Chunji berujar tanpa melihat ke arah Baekhyun sama sekali, "akan lebih baik jika kau diam saja dan menurutlah."
Baekhyun mendengus geli, salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum separuh yang tampak begitu sarkas.
"Baiklah, tunggu hingga kau turun dari mobil ini dan aku akan menginjak punggungmu, Chunji-sunbae."
Chunji Lee menelan ludah berat, laki-laki di sampingnya ini memang mungil tapi ancamannya tidak ingkar dan pukulannya bukan cuma bualan.
Beberapa rencana pelarian mendadak muncul di kepala mantan anggota In-Su itu.
Kemudian mobil itu akhirnya tiba di sebuah mansion besar dengan interior klasik yang menawan dan gelap. Halamannya luas, ditumbuhi pohon dan semak yang terpangkas rapi, di sebelah kiri ada pondasi beratap, berhias sulur-sulur tanaman rambat yang menaungi jejeran mobil-mobil mentereng yang mengingatkan Baekhyun pada basement rumah induk keluarga Park. Oh, hanya saja koleksi mobilnya tidak sebanyak milik keluarga Chanyeol.
Saat Baekhyun mengalihkan matanya ke kanan, disana terlihat sebuah bangunan tinggi yang mirip dengan salah satu bagian kastil di dalam kisah Rapunzel.
Ya, Baekhyun ingat sekarang, itu adalah bagian kastil tempat dimana Rapunzel dikurung oleh sang ibu palsu yang ternyata adalah seorang penyihir jahat.
Apa dia harus mengulurkan rambut ke bawah supaya Chanyeol bisa memanjat dan menyelamatkannya?
Baekhyun menggeleng ngeri saat tersadar dari lamunan gilanya tentang Rapunzel.
Dan, What the hell, sejak kapan Ia jadi punya rambut super panjang?
Mobil berhenti dan detik ketika Chunji Lee membuka pintu Jeep adalah detik dimana Ia tersungkur ke tanah dan Baekhyun berdiri di atasnya dengan raut santai, seolah Ia sedang menginjak rumput di lapangan sekolah.
Satu hentakan kaki dengan suara raungan kesakitan Chunji Lee,
"Ini untuk perbuatan penculikan sialanmu!"
Dua hentakan lagi dan satu tendangan di pinggang Chunji Lee sebelum Baekhyun diseret oleh beberapa pengawal.
"Dan itu karena kau sudah menghamburkan jelly strawberry ku, dasar sialan!"
E) (O
Baekhyun sudah kembali tenang.
Sungguh, perubahan sikapnya yang begitu drastis ini membuat anak buah penculiknya kali ini merinding.
Saat di halaman tadi anak ini begitu bar-bar saat menginjak punggung dan menendang pinggang Chunji Lee hingga terdengar suara derak tulang yang retak dari laki-laki pengkhianat itu kemudian berteriak murka dengan wajah penuh amarah.
Namun saat ini Baekhyun cuma diam dengan mata lurus ke depan, enggan melirik sekelilingnya. Air muka begitu datar, tak memperlihatkan emosi apapun hingga sulit untuk menerka apa yang kini dipikirkan anak itu.
Sampai rombongan berjas abu pudar yang membawa Baekhyun itu melewati tangga batu melingkar yang membuat imajinasi Baekhyun tentang kastil Rapunzel itu terasa nyata sekarang.
Diam-diam Baekhyun melirik sekelilingnya, ada lampu-lampu berwarna kuning redup berjejer di sepanjang dinding tangga itu, dilingkup oleh sebuah tempat lampu dari besi berbentuk segitiga, dindingnya terbuat dari batu bata yang tampak kusam, dan bau tempat ini lagi-lagi memperkuat cap buruk yang Baekhyun sematkan karena bukan hanya aroma minyak urang-aring, campuran minyak urut kini turut serta membuat Baekhyun ingin muntah.
Sekali lagi, penculiknya kali ini sungguh memiliki selera yang buruk.
Sebuah pintu ganda dari kayu terlihat di ujung tangga, semakin dekat Baekhyun pada ujung tangga, semakin terlihat pula betapa kusam pintu besar itu juga engsel pintu yang berkarat.
Apakah ini akan jadi kisah Rapunzel versi psikopat?—lagi-lagi Baekhyun bicara pada diri sendiri.
Suara berderit pintu ganda membuat Baekhyun mengernyit tidak suka, kemudian ketika Ia didorong kasar ke dalam ruangan, mendadak Baekhyun membalasnya dengan tendangan keras pada salah satu pengawal hingga tersungkur kemudian menendang satu yang lain hingga jatuh terguling di anak tangga.
Beberapa anak buah yang lain masih terkejut dengan pemandangan tadi, hingga tak bergerak dari tempat mereka berdiri.
Lagipula, siapa yang akan percaya jika anak kecil berambut hitam lembut dengan mata bulan sabit menggemaskan ini sudah menendang dua anak buah profesional yang bekerja untuk organisasi mafia?
"Urusan kalian untuk membawaku kesini sudah selesai kan? Kenapa tidak pergi? Sungguh muak melihat tampang bodoh kalian di depan pintu." Baekhyun berucap dengan sorot benci yang kentara.
Satu anak buah berambut hijau pucat maju ke depan dengan geram, bermaksud untuk memukul Baekhyun setelah kata-kata sarkas keluar dari bibir anak itu.
"Hentikan! Bos Rei menginginkan Dia dalam keadaan tanpa cela!" salah satu anak buah lain berseru dari barisan, memperingatkan temannya.
Orang itu berhenti, tatapannya tajam menusuk ke arah Baekhyun yang sudah tentu dibalas dengan tatapan tak kalah tajam oleh lelaki kecil itu.
"Kita akan bertemu lagi dan aku akan menghajarmu bocah!" pria rambut hijau pucat itu berkata sambil berjalan mundur, kembali ke barisan pria-pria berjas abu pudar yang aneh.
Sebelum pintu tertutup Baekhyun memberi senyum mengejek, "aku yang akan duluan mencabuti rambut hijau jelekmu itu hingga botak, dasar pecundang." Ucapnya santai.
Pria itu kembali murka dan akan kembali memasuki ruangan jika bukan karena teman setimnya menarik mundur si rambut hijau pucat hingga pintu besar itu berderit keras dan terkunci rapat.
Baekhyun menghembuskan nafas kasar, "hah sialan! Ya ampun sudah berapa kali aku mengumpat hari ini?" Ia memandang benci pada borgol yang mengikat kedua tangannya.
"Ini semua gara-gara Lee Chunji! Seandainya aku bisa mengalahkannya dan lari ! Sial!" Baekhyun menendangi seperangkat kursi dan meja yang ada di ruangan itu hingga terlempar kesana-kemari, melampiaskan kekesalannya.
Baekhyun menarik nafasnya yang berat karena amarah, mencoba menenangkan diri.
"Kata Chanyeollie, jika tidak ada ketenangan maka tidak akan ada kemenangan." anak itu berulang kali menarik dan menghembuskan nafas hingga amarahnya turun.
Baekhyun mengamati sekeliling ruangan, selain kursi-meja yang sudah Ia porak porandakan tadi, ada sebuah tempat tidur dengan seprai abu-abu pudar, ugh Baekhyun jadi teringat dengan warna jas yang dikenakan anak buah organisasi ini.
Sungguh selera yang buruk, jangan-jangan kain seprai dan kain jas yang dipakai para anak buah sialan tadi sama?—Baekhyun mengernyit sebal dengan mata yang menjelajah ke sekeliling ruangan, mencoba mencari hal konyol apa lagi yang bos organisasi ini terapkan.
Ada satu jendela berukuran cukup besar, namun ada teralis besi yang menutupi dan sepertinya Baekhyun harus melupakan harapannya untuk kabur lewat jendela. Oh, lagipula ini di atas menara ngomong-ngomong, Baekhyun masih waras untuk tidak melompat dari jendela seperti yang biasa dilakukannya ketika di sekolah.
Gedung kelas dua tidak setinggi ini, by the way.
Mata Baekhyun beralih pada sebuah lemari kayu kecil dengan vas keramik putih diatasnya, berisi serangkaian bunga mawar yang sepertinya baru di taruh disana, dilihat dari kelopak-kelopaknya yang masih segar dan berair.
Anak itu berjalan dan mencoba membuka lemari kecil itu, agak sulit karena borgol besinya, namun dengan sedikit usaha akhirnya terbuka.
Kosong.
Sialan.
Baekhyun mengumpat dalam hati, tidak ada apapun di ruangan itu yang bisa digunakannya untuk membobol pintu ganda besar berkarat itu.
"Aduh bagaimana ini Chanyeollie, aku merindukanmu." Bibirnya melengkung ke bawah dengan begitu lucu, namun otaknya tak berhenti berpikir untuk menyusun rencana melarikan diri.
E) (O
Chanyeol berdiri angkuh dengan nafas terengah di tengah tumpukan manusia sekarat setelah pertempuran antar geng.
Huh, ini bukan lagi tawuran pelajar, ini perang antar geng mafia.
Jongin Kim dan Sehun Oh berada di titik lokasi yang berbeda dari Chanyeol, dua ketua lain ada di sudut Utara dan Selatan dari distrik sebelas yang kini masih terasa mencekam meski pertempuran telah berakhir.
Chanyeol membuka kain penutup di wajahnya, memandang datar pemandangan di sekelilingnya.
Distrik sebelas telah menjadi miliknya.
"Katakan pada Jongin dan Sehun aku pergi duluan, anak buahku yang akan mengurus sisanya." Chanyeol berucap pada Johnny yang di balas anggukan oleh pria itu.
"Terimakasih atas kerja kerasmu ketua Park." Ujar Johnny, membuat Chanyeol menghentikan langkah untuk menepuk bahunya.
"Kau juga John, tapi ini masih belum seberapa jika dibandingkan dengan masalah organisasi yang sebenarnya."
"Pulang dan beristirahatlah, katakan itu juga pada Jongdae." Chanyeol berucap dengan seringai tipis.
Johnny kembali mengangguk, mengiringi kepergian Chanyeol dengan motor sportnya pulang ke apartemen. Entah kenapa Ia seperti mencium aroma strawberry begitu tajam di hidungnya, sungguh melankolis jika Ia berkata bahwa ini karena dirinya merindukan Baekhyun.
Chanyeol tersenyum.
Ia akan mencium bibir anak itu saat sampai di apartemen nanti.
Namun ketika pria berambut merah api itu mendapati Yuta tengah berdiri di depan apartemennya dengan wajah babak belur yang keruh dan terlihat tengah mencoba menelepon seseorang, Chanyeol tahu ada yang tidak beres.
"Aku mencoba menghubungimu dari tadi, aku di Selatan bersama ketua Dong-Hyul saat mendapat kabar bahwa Baekhyun sepertinya sudah diculik." Yuta terengah saat Chanyeol sudah berdiri di hadapannya, "maafkan aku ketua."
"Siapa yang melakukannya?" suara serak si rambut merah api terdengar begitu merajam pendengaran.
"Jejak Baekhyun-ssi yang kutemukan cuma ini." Yuta menyerahkan kemasan merah muda berisi marsmellow, "pegawai mini market di samping apartemen itu bilang Ia melihat ada pertarungan tidak seimbang di samping mini market, tapi Ia tak berani melerai karena pria-pria yang terlibat berbadan besar dengan jas abu-abu pudar. Sudah dikonfirmasi bahwa yang bertarung melawan pria-pria besar itu Baekhyun-ssi."
"Jas abu-abu pudar..." gumam Chanyeol.
"Dan Merchedes Benz hitam keluaran baru yang membawa Baekhyun-ssi, saat ini aku sudah mengerahkan school fighter kita dari Hwa Dokgo untuk mencari Baekhyun-ssi. Setidaknya jejak mobil itu." Yuta berucap dan Ia bersyukur Chanyeol tidak mengamuk kali ini.
"Tidak Yuta. Tarik semua pasukan dari Hwa Dokgo, ini juga bukan lagi urusan pertempuran sekolah." Chanyeol menggenggam erat bungkus marsmellow di tangannya, "ini urusan organisasi, jangan sampai ada Hwa Dokgo yang terlibat. Kau juga, jika masih sayang nyawa, lebih baik pulang."
Kedua pria itu tetap berdiri tegap di tempatnya masing-masing.
"Kau tahu aku akan ikut seleksi penerimaan anggota baru di organisasi mu jika sudah lulus nanti, aku akan mengikutimu ketua Park. Jadi izinkan aku untuk ikut mencari Baekhyun-ssi, terlepas dari aku adalah anggotamu, Dia juga teman sekelasku." Yuta berujar dengan tatapan serius di kedua matanya.
Chanyeol menatap tajam Yuta, mencari kesungguhan atas kata-katanya untuk bergabung dengan organisasi Takaguchi saat waktunya tiba nanti.
"Baiklah jika itu keputusanmu, sekarang tarik semua orang Hwa Dokgo dan akan kukerahkan pasukan dari Takaguchi." Chanyeol berkomando sambil bergegas kembali ke motornya setelah melempar kunci mobil ke arah Yuta, "mobilku ada di basement gedung ini, pergilah ke perempatan dekat sekolah dan kau akan menemukan orangku disana. Bawa serta dia untuk mencari Baekhyun."
Sementara Yuta mulai berlari ke arah basement, suara motor Chanyeol meraung keras dan melesat membelah jalanan Seoul petang itu.
Tatapan mata pria merah api itu berkilat berbahaya, penuh dendam, dan keposesifan yang tak terbendung.
Membayangkan Baekhyun disentuh atau disakiti oleh kelompok bajingan yang telah berani menculik miliknya , sungguh membuatnya muak.
Chanyeol bersumpah demi namanya sebagai ketua gangster paling ditakuti di kota itu bahwa Dia akan menghancurkan penculik Baekhyun kali ini hingga hangus tak tersisa.
TO BE CONTINUED
A/N :
Halo, bertemu lagi di update-an super ngaret kali ini.
eum, sebelumnya terimakasih sudah meninggalkan jejak di kotak review, percayalah itu benar-benar membahagiakan wkwk
Chapter kali ini sebenarnya mau ku jadikan satu bagian tapi kupikir kepanjangan dan takut akan kacau jadi kubagi jadi dua sajalah.
btw, kenapa yang berangkat wajib militer duluan itu malah yang tampangnya cimit imut semua? kemarin Minseok sekarang Kyungsoo. (ketawa sambil nangis)
Intinya, semangat ya wajib militernya buat duo cimit kesayangan ! dan semangat buat enam pangeran lain yang mau konser Exploration! Juga buat Yixing honey di China, semangat ya! Fighting!
Semangat juga buat kalian semua reader yang sudah mampir untuk membaca cerita gaje yang masih banyak kurangnya ini.
With Love, Chika.
