Dalam dunia yang sudah rusak ini...
Keadilan dan kebenaran hanyalah sebuah omong kosong...
Tes...
Tes...Tes...
[Aku Uzumaki Naruto...!]
Sekilas kata "Naruto" terdengar aneh. Hal yang terlintas pertama kali adalah potongan narutomaki dengan bentuk pusaran ditengah yang biasanya ada diramen. Tapi?! Itu tak terlalu buruk
Sejak awal, aku hidup dikeluarga yang sempurna. Mempunyai kedua orangtua dan kakak yang sangat menyayangiku. Semua itu membuatku tumbuh menjadi pemuda yang ceria, hiperaktif, dan ramah.
Yah...?! Sejak awal...
Hidupku awalnya baik-baik saja, sampai sebuah kejadian yang tidak pernah aku bayangkan menimpa keluargaku. Jika saja hal itu tak terjadi. Aku tidak akan melihat air mata Kaachan, melihat raut sedih Naruko, dan mungkin saja Touchan masih hidup sekarang.
Sudahlah..! Menangis tak merubah semua yang terjadi, Marah tak menyelesaikan semua ini , dan Tersenyum tak dapat mengembalikan hal yang kini telah pergi.
Lantas..?! Apa yang sekarang harus aku lakukan...
.
.
Aku menatap malas dunia ini. Ego yang besar dan rasa tidak puas yang tinggi dengan mudah mencabut nyawa serta mengalirkan darah. Mereka semua tetap teguh dengan pendapat mereka dan seolah-seolah merekalah yang paling benar.
Aku menyadari bahwa sebagian besar penguasa diatas muka bumi ini ternyata hanya berkutat pada kenikmatan selangkangan, perut, dan leher yang mereka perbuat atas dasar kemanusiaan.
Dunia ini hanya seperti panggung sandiwara yang menyajikan banyak hal, suka senang-senang dan terlelap dalam lamunan panjang. Sementara itu beberapa dari mereka terlelap penuh kesedihan.
Tapi...?! Apa yang bisa dilakukan anak kecil sepertiku ini...
Aku hanya orang biasa dengan beberapa kekurangan yang ada. Tanganku terlalu kecil untuk melawan mereka semua. tekadku terlalu lemah untuk melindungi orang-orang yang kusayangi. Bahkan aku terlalu pengecut untuk menerima semua ini.
Aku tidak bisa berbuat banyak tentang banyaknya hal buruk dan berbagai masalah yang kualami. Aku sangat takut jika tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, bukan itu yang kutakutkan saat ini.
Yang kutakutkan saat ini adalah...?!
MELIHAT ORANG YANG KUSAYANGI TERBUNUH DIDEPAN MATAKU...!
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
My Story [MH9F6AL]
Disclaimer
Naruto dan High School DxD beserta karakter dan ceritanya milik penciptanya masing-masing.
Warn : Gaje, Typo, OOC, Ecchi, Rated T,
.
.
Pertama-tama sebelum membaca chap kali ini author ingin berbicara satu hal pada reader sekalian. Tolong luangkan waktu sedikit saja untuk membaca hal ini, saya tidak meminta waktu lebih untuk kalian semua.
.
.
Author ingin berkata...
Kalian boleh saja menghina author, fict ini, semua hal yang berkaitan tentang itu. Tapi satu hal untuk kalian semua, jangan bawa-bawa orang tua, ibu, ayah, dan semua hal tentang status pribadi author. Kalian pasti punya orang tua dirumah, so bagaimana jika mereka dihina. Pasti marah bukan, begitu juga dengan author...
.
.
Oke itu aja yang ingin author katakan, so kembali ke cerita. Kelihatannya salah satu reader bertanya kapan flashback ini selesai. Sebenarnya masih ada 2 chap lagi untuk arc flashback ini. Tapi saya lihat, reader sekalian sudah bosan dengan flashback berkepanjangan ini. So, untuk kalian semua chapter kali ini adalah chap akhir dari flashback arc masa lalu. Dan mungkin ini merupakan chap dengan word terpanjang dari chap-chap sebelumnya
Oke sebelum membaca cerita...
Biasakan meninggalkan jejak berupa review, follow, dan favorite yah
~ Ready Go... ~
.
.
.
"Kau tidak apa-apa...?!" tanya Naruto.
Gadis itu menatap uluran tangan Naruto dan membalasnya dengan cepat. Naruto yang melihat itu tersenyum hangat. Sepertinya ia sudah melakukan hal yang baik pada pagi hari ini.
"Hmm...! Aku tidak apa-apa, terima kasih..." jawab gadis itu
"Syukurlah...?! Namaku Naruto..."
Iris hitam milik gadis itu menatap takjub mata biru Naruto. Sekilas, sebuah rona merah muncul dikedua pipi miliknya. Sedangkan Naruto, remaja pirang itu hanya menatap polos.
"A-Aku...?!"
"Uchiha Sasuke..."
.
.
.
"Pffttt Sa-Sasuke...?! Hahaha, kau itu perempuan. Namamu terdengar laki-laki..." ucap Naruto
Remaja pirang itu tertawa pelan tak memperdulikan gadis itu yang tengah menatapnya kesal. Sasuke, gadis yang lebih pendek dari Naruto itu dengan cepat menginjak kaki Naruto yang terbalut sepatu.
[NYUTTT...]
"I-Ittai...?! Kenapa kau menginjakku, Teme..."
Naruto meringis kesakitan saat gadis itu menginjak kakinya. Sedangkan Sasuke, gadis dengan surai hitam panjangnya kembali mendadak kesal mendengar ejekan remaja pirang itu.
"Urusai...! Kau yang mulai duluan, Dobe..."
Dobe...?! Naruto menggeram kesal. Seenaknya saja gadis kecil ini memanggilnya bodoh. Kalau tau tadi, remaja pirang itu tidak akan menolong gadis dingin ini.
"Grrr...! Beraninya ka...~"
"NARUTOOO...!"
Belum sempat ingin menjitak kepala Sasuke. Remaja pirang itu dikagetkan sebuah suara dari arah belakangnya. What...?! Naruko...! Terlihat kakaknya Naruto nampak mengerikan dengan rambut merah panjangnya yang berkibar-kibar.
"Oh Shitt..! Itu Nee-chan..." gumam Naruto
"Neechan...?! Jadi itu kakakmu..." ucap Sasuke menunjuk Naruko bak monster ekor sembilan dengan rambut berkibar-kibar seperti ekor rubah. Sedangkan Naruto, remaja itu terlihat membuat sebuah kuda-kuda.
"Hoy...?! Kuda-kuda macam ap..~"
WUSHHH...
Perkataan Sasuke terhenti saat melihat tangan Naruto dengan cepat menggaet tangannya. Dengan kecepatan penuh mereka berdua pergi meninggalkan Naruko ditempat.
"JANGAN PERGI KAU ADIK NAKAL...!" teriak Naruko
Gadis surai merah itu nampak berlari mengejar Naruto dan juga Sasuke. Naruto yang melihat itu kembali berpikir. Remaja pirang itu tidak ingin tertangkap Naruko yang dalam mode habanero sekarang.
"Hoy Dobe...! Lepaskan aku..." ucap Sasuke memberontak. Gadis dengan iris hitam itu terlihat melepaskan pegangan Naruto. Sementara Naruto, ia terlihat kaget dengan aksi Sasuke.
"Cih...?! Tidak ada pilihan lain..." gumam Naruto
Remaja pirang itu menatap seksama Sasuke. Sasuke yang ditatap Naruto mencoba menjaga jarak. Sementara Naruko, ia terlihat semakin mendekat kearah mereka berdua.
"A-Ada apa...?!" tanya Sasuke gugup
Iris hitamnya bertemu pandang dengan iris biru milik Naruto. Remaja pirang itu terlihat mendekatinya dan membisikan sesuatu ditelinganya. Sasuke mendadak memerah saat Naruto melakukan itu. Lalu kemudian...
[GREBBB...]
"Eeeh...?!" pikir Sasuke.
Gadis itu mendadak terdiam saat Naruto dengan cepat menggendong tubuhnya. Sedangkan Naruko, kakak dari Naruto itu kesal bukan main melihat adiknya melakukan itu dengan gadis lain selain dirinya.
"Maafkan Teme...?! Tidak ada cara lain..."
[Jurus Seribu Langkah...]
SRINGG...
Bagaikan sebuah kilat. Naruto melesat cepat dengan Sasuke digendongannya. Naruko yang melihat itu mendadak merah. Gadis itu bukan sedang menahan malu. Ia sangat marah sekarang.
"NARUTOO...! AWASS SAJA JIKA KAU PULANGG..." teriak Naruko penuh kemarahan.
.
.
.
"Hosh...Hosh...?! Kukira aku akan mati..." pikir Naruto
Remaja pirang itu terlihat mengatur nafasnya sehabis berlari menghindari kejaran Naruko. Naruto melihat sebuah kursi tak jauh darinya. Tanpa ragu, remaja pirang itu duduk disana.
"Ekhem...?! Bisa kau turunkan aku, Dobe...!" ucap Sasuke yang masih dalam gendongan Naruto bak putri yang sedang digendong pangeran. Gadis uchiha itu nampak memerah padam saat mengingat bagaimana ia digendong Naruto tadi.
"Ehhh...?! Gomen Teme..." ucap Naruto
Remaja pirang itu nampak menurunkan Sasuke dari gendongannya. Entah kenapa, Sasuke agak tidak rela lepas dari gendongan Naruto. Egonya terlalu tinggi untuk mengucapkan itu semua.
"Hn..?! Jadi sekarang apa...?!" tanya Sasuke
Naruto yang mendengar pertanyaan Sasuke kini sedang berpikir keras. Bagaikan seorang einstein remaja pirang itu terlihat menempelkan telunjuk kanannya didahi. Setelah beberapa detik berpikir keras...
"Aku...~"
Sasuke menatap seksama Naruto
"Tidak tahu...?! Hehehe..."
BUAKHH...
"I-Ittai...! T-Teme..."
Naruto menatap tajam Sasuke. Seenaknya saja gadis ini memukul keras kepalanya. Grrr...?! Lama-lama gadis ini hampir mirip seperti Naruko. Remaja pirang itu terlihat kesal sekarang.
"Urusai..?! Berhentilah bercanda, Dobe..." ucap Sasuke
Gadis itu nampak kesal. Tapi dalam hatinya ia terlihat senang juga. Entah kapan ia ingat menunjukan emosinya seperti ini didepan orang lain. Naruto, pemuda itu mampu membuatnya seperti ini.
"Oke...?! Aku minta maaf..." ucap Naruto nyengir gaje.
Sasuke terlihat masih diam menahan kesal. Remaja pirang itu kemudian menatap sekitarnya. Terlihat sebuah wahana bermain berada tak jauh darisana. Naruto tersenyum pelan, sepertinya ia tahu bagaimana membuat Sasuke kembali senang.
"Hoy..! Teme..."
"Hn..
"Jangan gitu dong..."
"Hn...
Sasuke masih kukuh dengan sifat diamnya. Naruto yang melihat itu tidak tinggal diam. Remaja pirang itu dengan cepat memegang wajah Sasuke dan dengan sukses membuat gadis bermarga uchiha itu kembali memerah.
"Teme cantik...?! Bagaimana kalau kita kesana..." ucap Naruto menggoda Sasuke
BLUSHHH...
PLAAKKK...
"I-Ittai..."
Lagi-lagi Naruto meringis kesakitan saat Sasuke dengan kejamnya menampar pipi pemuda uzumaki itu. Sepertinya gadis itu tipe tsundere pikir Naruto mengelus pelan pipinya
"U-Urusai...!" ucap Sasuke berjalan pergi.
"H-Hoy, kau mau kemana Teme..."
Sasuke menghentikan langkahnya. Dengan gerakan patah-patah tubuhnya berbalik dan menatap Naruto dengan tajam. Remaja pirang itu terlihat pucat saat melihat aura suram keluar dari tubuh Sasuke.
"Grrr...?! Bukannya kau bilang ingin kesana" tunjuk Sasuke kearah wahana bermain membuat Naruto mengangguk cepat. Gadis dengan surai hitam itu berjalan kearah wahana diikuti Naruto dibelakangnya.
.
.
.
[Wahana Bermain : Amagi Briliant Park]
Naruto dan Sasuke kini telah memasuki area wahana. Raut kesal Sasuke kini berganti menjadi raut takjub seperti melihat sesuatu yang sangat bagus. Sedangkan Naruto, remaja pirang itu merutuki idenya yang membawa Sasuke kesini.
"Hah..?! Sepertinya lain kali saja aku membeli kaset game terbaru" batin Naruto
"Do-Dobe...?!" ucap Sasuke menatap Naruto. Gadis uchiha itu terlihat merona.
"Ada apa Teme..." tanya Naruto
Remaja pirang itu dapat melihat perubahan Sasuke yang awalnya kesal kini mendadak menjadi malu-malu. Sekilas, ia dapat melihat iris hitam milik gadis itu melirik kearah tangan kirinya.
"Bi-Bisakah kita bergandengan tangan...! A-Aku takut keramaian..." ucap Sasuke
Gadis itu terlihat gemetar. Sepertinya ia tidak pernah bertemu dengan orang banyak. Naruto yang melihat itu langsung saja memegang tangan kanan Sasuke. Membuat rona merah dipipi gadis itu semakin bertambah.
"Baiklah...! Kurasa tidak apa-apa" ucap Naruto
GREBB...
"I-tt...~"
"A-Ada apa Dobe...?!" tanya Sasuke
Naruto terlihat menutup mulut dengan tangan kanannya. Remaja pirang itu tidak menyangka kalau genggaman Sasuke sangat kuat. Gadis ini...?! Apa dia seorang monster pikir Naruto.
"Ti-Tidak apa-apa...?! Hehehe..." jawab Naruto dengan tawa yang dibuat-buat.
Sasuke menatap Naruto dengan curiga. Mungkinkah...?! Remaja pirang ini tidak mau bergandengan dengannya. Sementara Naruto, ia dapat menebak apa yang dipikirkan Sasuke saat ini.
"Jadi wahana apa yang ingin kau mainkan dulu Teme...?!" tanya Naruto membuat pikiran Sasuke menjadi buyar. Gadis itu kini melihat-lihat wahana apa yang akan dia pilih sekarang. Ketemu...?! Iris hitamnya tertuju kesebuah tempat yang terlihat menarik.
"Dobe...?! Aku ingin kesana..." tunjuk Sasuke dengan antusias.
Remaja pirang itu mengikuti arah telunjuk Sasuke dan entah kenapa mendadak pucat pasi. Pasalnya yang ditunjuk Sasuke sekarang adalah hal yang ditakutkannya sejak kecil.
"Te-Teme...?! A-Aku rasa wahana itu tidak bagus. Kita cari yang lain saja yah..." bujuk Naruto.
Sasuke yang melihat itu kemudian menyeringai. Sebuah kesimpulan yang ia dapat dari otak cerdasnya. Ternyata remaja pirang ini takut sekali dengan hal-hal yang berbau horror.
"Tidak..! Aku akan tetap pergi kesana dan kau harus ikut, Dobe..." ucap Sasuke menarik Naruto kearah rumah hantu disana. Beberapa kali, remaja pirang itu terlihat memberontak. Tapi sepertinya sekeras apapun usahanya masih kalah dengan tenaga Sasuke.
"TIDAKKK LAGI..." Teriak Naruto
.
.
.
"Te-Teme...?! Kurasa ini tidak bagus" ucap Naruto yang terlihat memegang lengan kanan Sasuke yang sukses membuat gadis itu memerah lagi.
Kedua remaja itu terlihat telah masuk kedalam rumah hantu. Hal pertama yang mereka lihat adalah sebuah lorong gelap dimana terdapat beberapa aksesoris yang nampak menyeramkan.
"U-Urusai, Dobe...?! Jika kau takut, Pe-Pegang saja tanganku..." ucap Sasuke terbata-bata.
Gadis bermarga uchiha itu terlihat malu. Tapi meskipun begitu, seulas senyum terpatri dibibir miliknya saat merasakan tangan Naruto memegang lengannya dengan erat.
Hihihi...
"Te-Teme...!" ucap Naruto takut.
Remaja pirang itu terlihat mendekatkan tubuhnya kearah Sasuke. Gadis bersurai hitam itu lagi-lagi tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Suasana ini...?! Ia berharap tidak akan hilang.
Suara-suara aneh mulai terdengar jelas. Sasuke dan Naruto hampir sampai dipenghujung lorong. Sekilas, Naruto dapat merasakan rasa lega saat melihat pintu keluar. Sedangkan Sasuke, ia sepertinya tidak terima.
WHOAAA...
"TEMEEE...?! Lindungi aku..." ucap Naruto.
Tanpa sadar, remaja pirang itu memeluk tubuh Sasuke. Gadis bermarga uchiha itu terkejut bukan melihat hantu yang mengejutkannya dengan Naruto. Jujur saja ia tidak takut dengan itu.
Yang membuatnya terkejut sekarang adalah Naruto yang dengan gemetar memeluk tubuhnya dengan erat. Sebuah rasa hangat tiba-tiba menjalar diseluruh tubuhnya. Entah kenapa, ia kembali tersenyum manis.
"Dobe...?! Aku akan melindungimu, ayo keluar darisini..."
.
.
.
[Sementara itu dikediaman Namikaze...]
"Minato...?! Aku sedikit khawatir dengan Naruto..." ucap Kushina kepada Minato.
Suaminya itu terlihat santai dengan baju kaos miliknya. Dihari minggu ini ia sangat bebas sekarang. Tak ada lagi pekerjaan kantor yang akan membuatnya pusing.
"Sudahlah...?! Tidak terjadi apa-apa kok..." ucap Minato menyeruput kopinya sambil mengganti channel tv yang ada didepannya. Sementara Kushina, perempuan bersurai merah itu terlihat kembali kedapur.
.
.
.
"Kokabiel...?! Apa kau yakin dengan ini..." tanya sosok bersurai merah
"Tentu saja...! Aku ingin melihat keluarga Namikaze terbunuh..."
Dua sosok terlihat berada tak jauh dari kediaman Namikaze. Perlahan, sosok bersurai merah itu berjalan kearah depan. Melayang...?! Sosok tersebut nampak melayang sekarang. Kedua tangannya ia rentangkan. Lalu...
[Shinra Tensei...]
BLARRR...
Semuanya nampak hancur. Bagaikan sebuah gelombang yang menyapu pantai. Kediaman Namikaze kini telah musnah. Kokabiel yang melihat itu tertawa senang. Akhirnya rencananya berhasil
.
.
.
"Cih...?! Awas jika kau kembali, Baka-Otouto..." ucap Naruko kesal
Remaja perempuan itu terlihat kembali kerumahnya. Namun belum beberapa langkah, pandangannya mendadak terkejut. Disetiap penjuru tempat yang ia lihat kini hanya tersisa retakan dan runtuhan saja.
Air matanya mendadak keluar. Satu hal yang pasti ada dalam pikirannya sekarang. Ayah dan Ibu...?! Bagaimana keadaan mereka sekarang. Dengan cepat, Naruko berlari kearah depan.
"KAACHAANN...?! TOUCHANNN..." Teriak Naruko.
"Sepertinya masih ada yang tersisa...! Kau tau harus berbuat apa..." ucap Kokabiel yang sudah ada disamping laki-laki berambut merah itu. Sosok itu mengangguk mengerti.
"Hmm..."
Dengan cepat sosok itu melesat kearah Naruko. Perlahan, sebuah besi hitam keluar dari tangannya. Naruko yang melihat itu hanya bisa terdiam. Beberapa centi lagi besi hitam itu...
CRASHHH...
"Na-Nani...?!" ucap sosok itu.
"To-Touchan..." ucap Naruko
Kakak dari Naruto itu terbelalak saat melihat Minato dengan cepat menjadikan tubuhnya sebagai tameng hidup bagi anaknya. Sementara Kushina, perempuan itu terlihat berada disamping Naruko sekarang.
.
.
.
DEG...
"Teme...?! Sepertinya aku harus kembali..." ucap Naruto.
Sasuke mendadak bingung saat melihat Naruto gelisah. Apa remaja pirang itu masih trauma dengan rumah hantu tadi. Terlihat gelagat Naruto terkesan panik.
"Ada apa Dobe...?!"
"Entahlah...! Tapi aku harus kembali sekarang..."
"Tunggu Do...~"
Naruto telah pergi duluan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan remaja pirang itu. Aneh...?! Gadis uchiha itu dapat merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi dalam waktu dekat ini.
.
.
.
"Kenapa ini...?! Ada apa dengan perasaan ini..." ucap Naruto panik
Langkah kakinya terus berjalan cepat. Perasaannya sekarang gelisah, entah kenapa sesuatu yang buruk tengah terjadi sekarang. Remaja pirang itu terlihat terus berlari. Hanya satu tujuannya sekarang. Pulang kerumah.
Sedikit lagi...?!
DEG...
[Naruto, mengapa kau diam saja...?!]
Mata birunya memandang keseluruh penjuru tempat. Hanya retakan dan runtuhan yang dapat dilihat oleh mata. Perlahan, kedua kakinya bergetar dengan hebat hingga tak sadar sudah bersentuhan dengan tanah.
Manik biru yang biasanya menatap hangat dunia itu, kini tergantikan dengan tatapan sendu dengan beberapa tetes air mata yang terjatuh. Tubuhnya dengan pelan menghampiri sosok ibunya dan Naruko yang terlihat memegang sesuatu yang membuat keadaannya seperti ini.
[Mengapa kau tidak bisa berbuat sesuatu...?!]
Suara itu lagi?! Dimana datangnya?! Pemuda pirang itu nampak tak mendengar lebih tepatnya seolah tak mendengarnya. Dengan langkah kaki pelan, ia melangkah diiringi tetes demi tetes liquid yang mengalir dipipi.
Menangis..?! Meskipun begitu, Naruto tetap menatap datar kedepan. Pandangannya bertemu dengan iris biru Naruko. Gadis berambut merah itu menatap sendu adiknya. Sedangkan Kushina, masih bertahan dengan posisi memangku suaminya
"N-Naru...?!"
Panggil Naruko yang terlihat seperti sebuah lirihan kecil. Ia menatap pemuda yang lebih muda dua tahun darinya. Lalu menatap seksama ayahnya Namikaze Minato yang sedang berada dipangkuan ibunya.
Kakak dari Naruto itu dapat melihat jelas perut Minato yang terus mengeluarkan cairan merah. Sebuah cahaya hijau perlahan keluar dari kedua tangan ibunya.
"Ku-Kushina...?! Ohok..."
Darah segar kembali keluar dari mulut Minato. Kushina yang melihat itu menatap khawatir suaminya. Cahaya hijau yang berada dikedua tangannya kini telah menghilang.
"Su-sudah berhenti! T-Tak ada gunanya..."
Minato paham dengan situasinya sekarang. Sekeras apapun Kushina mencoba menyembuhkannya. Hal itu sia-sia, luka yang diterimanya sangatlah parah.
Perlahan Minato mencoba bangkit dari pangkuan Kushina. Iris matanya menatap teduh Naruto yang ada didepannya. Minato mengangkat tangan kanannya yang berlumuran darah. Lalu, dengan pelan memegang pipi kanan Naruto.
"Na-Naruto...?!"
Diam! Hanya itu yang bisa dilakukan Naruto. Tak ada satu kata pun yang dapat dikatakannya saat ini. Tapi meskipun begitu, dalam hatinya ia menjerit kuat dengan segala kesedihan yang ada.
"T-Tolong jaga Kaachan dan Neechanmu..."
Minato melakukan sebuah handseal tangan yang rumit. Perlahan, tangan kanannya memegang dada Naruto. Sebuah cahaya putih mulai memasuki tubuh Naruto.
"Ughh...?! Kuserahkan kekuatan ini padamu"
"Kuharap kau dapat menguasainya"
"S-Sayonara...?! N-Naruto..."
Perlahan, tubuh Minato berangsur-angsur jatuh. Tangan yang semula berada diwajah anaknya kini terkulai tak berdaya. Naruto memandang nanar pemandangan didepannya.
Tak terkecuali Kushina dan Naruko. Mereka yang melihat kematian Minato menangis tersedu-sedu. Air mata mengalir deras tak dapat menahan semua kesedihan ini.
DEG...
"To...Tou...-
"TOU-CHANNNNN...
"ARGGHHH...
Naruto POV...
[Apa kau akan diam saja...?! Naruto...]
DEG...
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Perlahan, semuanya mendadak putih. Hal pertama yang aku lihat adalah sebuah sosok memakai topeng berwarna putih dengan garis hitam lurus dilubang kiri topeng miliknya.
[Ayahmu?! Namikaze Minato dibunuh oleh para gagak sialan itu...]
Sosok bertopeng itu berjalan kearahku. Iris biruku menatap kosong sosok didepan yang sedikit lebih tinggi beberapa centi dariku. Sosok itu menyodorkan tangan kanannya. Aku menatap dengan penuh tanda tanya.
[Apa kau mau membunuh mereka...?!"
"Tentu saja..."
Tanpa sadar , aku menyetujui perkataan dari sosok yang baru kutemui ini. Perlahan, entah kenapa tanganku dengan reflek menjabat tangan kanan miliknya. Lalu, setelah itu aku mulai menciptakan mereka berdua.
Taka...(Child Alter...)
Sebuah kepribadian yang kuciptakan. Ia memiliki rambut yang sama sepertiku. Yang membedakan aku dengannya hanyalah mata kanannya yang berwarna hitam. Ia memiliki kepribadian childish namun dibalik itu semua, ia adalah seorang sadistic.
Menma...(Persecator Alter...)
Kepribadian keduaku, Menma. Sama dengan Taka, ia juga mempunyai rambut pirang sepertiku. Hanya saja, kedua matanya nampak menyeramkan dengan retakan disekitar pipinya. ia mempunyai kepribadian menyakiti orang lain tanpa sadar dan jangan lupakan sabit yang selalu dibawahnya.
"Yo! Leader...Apa yang bisa kulakukan" ucap Taka
"Naruto...?! Aku tak sabar ingin menebas sesuatu" sambung Menma
Naruto menatap mereka berdua. Sosok bertopeng tadi terlihat berada disampingnya. Ia menatap Naruto dengan seksama lebih tepatnya iris biru Naruto yang terlihat sendu.
[Heh...! Mata yang menyimpan begitu banyak kebencian...]
[Kita lihat bagaimana kau menyelesaikan ini...?!]
[Uzumaki Naruto]
.
.
.
[Dua hari setelah kematian Minato...]
Sesuatu yang tak nampak terkadang lebih menyakitkan dari luka fisik. Sudah saatnya aku melihat kenyataan bahwa dunia tak sebaik yang dikira. Cukup sudah...?! Aku lelah dengan semua ini...! Selanjutnya terserah kalian. Jika saatnya tiba jangan tanya kenapa aku berubah...?!
Naruto menatap nisan didepannya dengan sendu. Disebelahnya berdiri dua sosok dengan hoodie hitam miliknya dan satu sosok lagi sedang memegang sabit hitam layaknya seorang shinigami.
Pemuda pirang itu meletakkan bunga lili putih yang dibawahnya didepan makam milik ayahnya Namikaze Minato. Sedangkan kedua sosok itu nampak diam memperhatikan dengan seksama.
"Yo Leader...! Apa yang sekarang kita lakukan...?!" ucap Taka
Sosok berhoodie itu nampak bertanya kepada Naruto. iris hitam dari mata kanannya menatap seksama manik biru itu. Ia dapat melihat kesedihan yang teramat dalam dari mata Naruto.
"Aku tak tahu, Taka...?!" ucap Naruto
Naruto memandang mereka berdua, Taka dan Menma. Kepribadian yang ia ciptakan beberapa waktu lalu. Pada dasarnya mereka bukanlah Manusia. Tubuh mereka hanyalah hologram yang diciptakan otaknya.
"Hoy..! Menma, jangan diam saja. Apa kau punya ide...?!"
"Tidak..! Tapi, tanganku ingin sekali menebas sesuatu..."
"Cih menebas..! Apa hanya itu yang ada diotakmu Baka-Shinigami..."
[SRINGG...]
"Jaga mulutmu...!" ucap Menma dingin
Sosok bak shinigami itu dengan cepat menghunuskan sabitnya kearah Taka. Meskipun mereka adalah kepribadian yang diciptakan Naruto. Tetapi mereka berdua tidak pernah akrab sama sekali. Bagaikan sebuah api dan air, mereka saling bertentangan.
"Heh...?! Percuma, kau tak bisa membunuhku Menma..." ucap Taka.
Menma menatap Taka dengan dingin. Ia sadar mereka berdua hanyalah kepribadian yang diciptakan Naruto. Biarpun mereka saling membunuh tak akan berhasil mengingat mereka hanyalah sebuah hologram.
"Cih...?!"
Menma menarik kembali sabitnya. Ia tak ingin berdebat dengan Taka lebih lama lagi. Hal itu sangat merepotkan baginya. Sedangkan Taka, sosok berhoodie itu terlihat tersenyum menikmati pertengkaran ini.
"Ano saa, Leader...?! Sepertinya aku ada sebuah ide..." ucap Taka childish. Kepribadian Naruto itu terlihat mengacungkan tangan kanannya seolah ingin memberitahu Naruto.
Remaja pirang itu terlihat menatap seksama Taka. Iris birunya bertemu pandang dengan iris berbeda warna itu. Tak ada satu katapun terucap dari mulut Naruto. ia hanya menatap Taka seolah berkata cepat beritahu aku.
"Bagaimana kalau kita membalas dendam...?!"
"Heh...?! Aku setuju denganmu Taka..."
Naruto terlihat menimbang apa yang diucapkan Taka. Hmm...?! Balas dendam yah. Sepertinya akan menarik. Kenapa ia tak terpikirkan sejak tadi. Baiklah sudah diputuskan...?!"
.
.
.
[Markas besar kediaman Kokabiel]
Sinar bulan menyinari sebuah tempat yang berada didalam hutan. Dengan seksama, kita dapat melihat ratusan pasukan malaikat jatuh disana. Seringai lebar terliat menatap kumpulan gagak itu dengan iris mata yang berbeda warna.
"Heh...?! Jadi ini tempatnya"
Perlahan, sosok bersurai pirang itu berjalan maju kedepan. Salah satu malaikat jatuh disana menyadari keberadaannya. Ia dapat melihat sosok itu mendekat dengan seringai yang mengerikan.
"Si-Siapa kau...?!"
Malaikat jatuh itu nampak membuat sebuah tombak cahaya dan melemparkannya kearah sosok tersebut. Tombak cahaya itu melesat tepat kearah tubuhnya. Tapi, hal yang membuat malaikat jatuh itu terkejut adalah...
"Ti-Tidak mungkin...?! Ohok..."
Bagaikan sebuah ilusi. Tombak cahaya yang jelas-jelas menusuk kearah pemilik seringai itu, kini telah berada tepat ditubuh malaikat jatuh tadi. Perlahan, darah segar keluar dari perut sang datenshi.
"Namaku, Taka...! Yoroshiku nhe..."
Beberapa malaikat jatuh yang melihat temannya terbunuh tak tinggal diam. Mereka dengan cepat melesat kearah Taka dan mengelilingi sosok yang telah membunuh temannya tadi.
"Apa yang kau lakukan...! Bangsat..."
Salah satu dari mereka terlihat berbicara kepada Taka. Malaikat jatuh yang terlihat merupakan seorang leader disana maju dan membuat puluhan tombak cahaya.
Melihat leadernya maju. Semua pasukan malaikat jatuh itu terlihat mengikuti pemimpinnya. Puluhan bahkan ratusan tombak cahaya tercipta dari ketiadaan.
"Hahaha...?! Biar kuberitahu...~"
"Cukup basa-basinya, bangsat...! Semuanya, serang..."
Taka memandang datar ratusan tombak cahaya yang ada didepannya. Perlahan, liquid merah mengalir dari mata kanannya. Bagaikan sebuah gerak lambat, tombak cahaya itu melesat.
"Kalian tak pernah belajar dari kesalahan..."
[Blood Rainer...]
CRASSHHH...
Para malaikat jatuh melihat puluhan tombak itu menancap tepat disosok pirang itu. Beberapa dari mereka terlihat tertawa puas melihat keadaan Taka. Tapi, sepertinya mereka harus menarik semua itu.
"Arrghhh...?! Ohokk..."
Semuanya terlihat mengerikan. Para malaikat jatuh itu bergantian mati dengan liquid merah yang terus keluar dari mulut mereka. Bagaikan sebuah lautan darah yang diterangi cahaya bulan.
.
.
.
"Kokabiel-sama...! Gawat ini gawat..." ucap salah satu bawahan Kokabiel yang berhasil lolos dari serangan Taka. Sementara Kokabiel, ia terlihat tenang dengan dua orang disampingnya.
"Sasuke...?! Kau tahu harus berbuat apa..." ucap Kokabiel
Gadis dengan topeng serigala itu nampak mengangguk mengerti. Sementara satu sosok lagi. Laki-laki dengan surai merah itu nampak mempunyai iris mata seperti sebuah pola riak air.
"Haik...?! Master..." ucap gadis itu menghilang pergi.
Kokabiel perlahan berjalan kearah bawahannya itu. Malaikat jatuh itu terlihat takut saat Kokabiel membuat sebuah tombak cahaya kearahnya. Sedangkan Kokabiel, ia terlihat santai. Lalu...
JLEBB...
"Arrghhh...?!"
"Kau sudah tak berguna lagi...?! Lebih baik mati daripada menyusahkanku saja..." ucap Kokabiel. Ia terlihat tenang saat membunuh bawahannya itu. Sedangkan sosok dengan surai merah, ia terlihat datar menatap itu semua.
.
.
.
Back to Taka...
[Kau terlalu berlebihan...?! Taka...]
Sebuah suara terdengar. Teknik yang dikeluarkan Taka itu seperti jurus pemusnah masal. Dengan menggabungkan kenyataan dan sebuah ilusi ia mampu membuat itu semua.
"Heh...! Ini belum seberapa dibandingkan kau, Baka-gami..."
"Cih, terserahmu saja..."
Taka kemudian berjalan pelan kearah pintu masuk markas. Ia dapat merasakan semilir angin menerpa surai pirang miliknya. Mengambil alih tubuh Naruto ternyata tidak buruk juga.
"Nhe Menma...?!Apa tidak apa-apa Naruto berada didunia limbo sekarang..."
[Entahlah...! Aku juga tidak tahu...]
Menurut bahasa. Limbo adalah tempat orang mati dimana mereka tidak diterima surga maupun neraka. Disana mereka diuji apakah mereka pantas untuk masuk kedalam surga.
Tapi disini, limbo adalah sebuah kondisi dimana seseorang sedang bermimpi dan mereka sadar tengah melakukan itu. Hanya saja disaat mereka bangun. Mereka tidak akan ingat apa yang sudah terjadi.
[Katon : Gokakyu no Jutsu]
Sepertinya Taka harus menghentikan percakapannya antara Menma. Bola api raksasa nampak melesat kearahnya dengan kecepatan tinggi. Taka yang melihat itu tidak tinggal diam.
[Void D Maker...]
Taka merentangkan tangan kanannya kedepan. Perlahan, sebuah lubang hitam tercipta dari ketiadaan. Bola api raksasa itu dengan cepat terhisap kedalam dan hilang hingga tak bersisa.
Belum sampai disitu saja. Ribuan shuriken nampak melesat kearahnya. Taka tidak bisa melihat siapa yang menyerangnya. Sebuah kesimpulan yang ia dapat sekarang. Lawannya adalah seorang ninja.
"Cih...! Merepotkan sekali..."
[Taka...! Biar aku yang melawannya...]
"Heh, baiklah...?! Jangan kalah saja yah..."
Tepat beberapa centi lagi shuriken itu mengenai tubuh Taka. Sosok yang menjadi pelaku serangan itu menyeringai puas saat melihatnya. Ia tidak tahu persis siapa lawannya. Yang pasti sekarang...?! Lawannya mungkin sudah mati.
BLARRR...
Ledakan tercipta dari tempat Taka. Sosok bertopeng serigala itu nampak memandang serius sumber ledakan itu. Beberapa asap yang mengepul membuat sosok itu tidak bisa melihat apa yang terjadi.
"Grrr...Raurrr...!"
Erangan keras terdengar diseluruh penjuru hutan. Perlahan, asap yang menghalangi kini telah hilang menampilkan wujud Taka yang telah diambil alih Menma.
"I-Itu...?! Tidak mungkin, Dobe..." ucap Sasuke sosok bertopeng serigala itu. Ia tidak menyangka musuh yang akan dia lawan adalah sahabatnya sendiri.
Menma menatap lapar Sasuke yang berada didepannya. Matanya terlihat mengerikan dengan retakan dipipinya. Sebuah sabit tiba-tiba muncul dari ketiadaan.
SRAK...SRAKK...
Menma nampak memegang sabit itu. Ia berjalan pelan kearah Sasuke dengan sabit yang ia gesekan dengan tanah. Sementara Sasuke, gadis itu menatap waspada. Sosok yang ada didepannya ini tidak seperti Naruto yang ia kenal.
"Bunuh...! Bunuh...!"
SRINGG...
Sasuke mendadak gelisah. Pasalnya sekarang, sosok yang menjadi musuhnya itu menghilang dengan cepat. Iris hitam dibalik topeng itu perlahan menjadi merah dengan tiga tomoe didalamnya.
"Dimana dia...?!"
"Mencariku nona...!"
DEG...
DUAGG...
Menma menendang tubuh Sasuke dari belakang. Gadis bermarga uchiha itu terlihat terpental akibat tendangan Menma. Tidak sampai disitu, remaja pirang itu terlihat kembali melesat kearah Sasuke.
"Gawat, kalau begini bisa celaka...?! Sepertinya tidak ada cara lain..." ucap Sasuke.
Perempuan itu dapat melihat remaja yang pernah menolongnya itu melesat cepat kearahnya. Sebenarnya ia tidak ingin melakukan ini. Naruto adalah satu-satunya sahabat yang ia miliki.
[Sharingan : Kasegui no Jutsu...]
SYUUTT...
Iris merah itu bertemu pandang dengan iris hitam Naruto yang terlihat mengerikan. Perlahan, tubuh remaja pirang itu tergeletak tak berdaya saat melihat mata Sasuke.
"Baiklah kita lihat...?! Apa yang terjadi pada dirimu, Dobe..." ucap Sasuke mendekati Naruto. Dengan kekuatan matanya, ia mampu masuk kedalam ingatan seseorang yang akan menjadi targetnya.
Gadis dengan marga uchiha itu perlahan meletakkan tangannya dikepala Naruto. Kedua matanya tertutup untuk memusatkan kekuatannya kearah matanya. Lalu dengan gerakan cepat, ia membuka matanya.
[Entori...]
.
.
.
"Di-Dimana ini...?!" ucap Sasuke.
Matanya menatap keseluruh penjuru tempat. Hanya warna putih yang bisa dia lihat. Perlahan, langkah kakinya berjalan kearah depan. Gadis dengan surai hitam itu dapat melihat seseorang yang duduk disebuah kursi.
"Na-Naruto...?! Apa itu kau..."
Sasuke berlari kearah sosok pirang yang berada disana. Benar...?! Dugaannya tepat sekali. Naruto terlihat tak sadarkan diri dengan rantai yang mengikat tubuhnya.
"H-Hoy Dobe...! Bangunlah..." ucap Sasuke
Tangan mungilnya menggoyangkan tubuh remaja pirang itu. Tapi, seberapa keras pun ia melakukannya. Hasilnya sia-sia, pemuda itu tak kunjung bangun.
"Na-Nande...?!" ucap Sasuke
[Tidak kusangka kau bisa masuk kesini...?!]
Sebuah suara yang terkesan berat terdengar dipendengaran Sasuke. Tubuhnya bergerak kearah asal suara yang berada dibelakangnya. Gadis itu dapat melihat sosok bertopeng tengah berdiri disana.
"Si-Siapa kau...?!" ucap Sasuke menatap waspada.
[Aku Clay, dan kau tak seharusnya berada disini...?! Gadis kecil...]
"Cih...?! Apa yang telah kau perbuat kepada Naruto...! Sialan..."
Sosok bertopeng itu perlahan berjalan kearah Sasuke. Gadis bermarga uchiha itu mulai memasang kuda-kuda bertempur melihat Clay mendekat. Tapi, hal yang tak terduga terjadi.
[Heh...?! Untuk seukuran gadis kecil sepertimu kau perhatian juga yah. Tapi kuingatkan satu hal, kau tak akan bisa menyelamatkan Naruto...]
DEG...
Pandangan Sasuke mendadak kabur dan hal terakhir yang bisa ia ingat adalah sosok bertopeng itu memukul lehernya dengan pelan. Gadis dengan surai hitam itu terlihat menghilang darisana.
.
.
.
"Roarrrr...?!"
Erangan keras terdengar. Sasuke yang telah keluar dari ingatan Naruto menatap ngeri sosok yang sangat dekat didepannya. Remaja perempuan itu dapat melihat perubahan Naruto bak seorang monster.
Naruto, remaja pirang itu terlihat berbeda. Kulitnya berubah gelap dengan sebuah simbol mirip seperti stigma didahinya. Tidak hanya itu saja, sebuah topeng tercipta dari ketiadaan dan menutupi separuh wajahnya.
"A-Apa yang terjadi...?!"
Sasuke mendadak takut. Gadis uchiha itu terlihat melompat mundur kebelakang. Sharingan miliknya menatap waspada Naruto. Remaja pirang itu bukan lagi Naruto yang ia kenal.
[Kita bertemu lagi...?! Gadis kecil...]
DEG...
"Ka-Kau...?!" ucap Sasuke terkejut.
Naruto yang telah dikuasai Clay itu bergerak cepat kearah Sasuke. Remaja pirang itu nampak membuat sebuah cincin hitam dengan diameter sebesar bola basket.
[Matilah kau...?!]
BLARRR...
Cincin hitam itu dengan tepat mengenai Sasuke. Asap mengepul dengan pekat. Setelah beberapa detik kemudian, kita dapat melihat sosok Sasuke yang terlindungi sebuah raksasa yang memegang pedang.
Susanoo...
Susanoo adalah sebuah teknik yang menciptakan makhluk spiritual. Terlihat jelas roh raksasa itu melindungi tubuh Sasuke dari serangan Naruto tadi. Bersamaan dengan teknik itu, mata sasuke terlihat berbeda sekarang. Tiga tomoe miliknya terlihat menyatu dengan desain merah dan latar belakang hitam. Topeng yang ia miliki kini telah dilepaskannya.
"Hampir saja...?!" pikir Sasuke
Gadis bermarga uchiha itu nampak kelelahan saat menggunakan teknik tadi. Saat ini pikirannya terlihat kacau antara harus menyelesaikan perintah kokabiel atau harus membunuh sahabatnya.
"Naruto...?! Aku pasti akan menyelamatkanmu. Peduli setan dengan perintah master, kau satu-satunya sahabat yang kumiliki..." ucap Sasuke
Gadis itu nampak melesat kearah Naruto. Susanoo miliknya terlihat telah hilang. Mata merahnya menatap tajam remaja pirang itu. Perlahan, liquid merah keluar dari mata kanannya.
Amaterasu...
[Arghhh...?! Sialan...]
Api hitam terlihat muncul dan membakar tubuh Naruto. Api yang berasal dari neraka yang tak pernah padam itu melahap habis tubuh Naruto. Remaja pirang itu terlihat kesakitan.
.
.
.
Tes...Tes...Tes...
"Ughh...?! Dimana aku..." ucap Naruto
Remaja pirang itu menatap tempat putih dengan iris birunya. Ia mencoba menggerakan tubuhnya. Naruto terkejut saat melihat rantai besi mengikatnya. Remaja pirang itu nampak berusaha melepaskan rantai besi itu.
PRANGG...
Akhirnya...?! Dengan usaha yang ia miliki. Remaja pirang itu dapat melepaskan dirinya. Tapi, ia juga tersadar kenapa dirinya bisa memutuskan rantai yang terbuat dari besi itu.
"Tempat apa ini...?!"
Naruto berjalan pelan mengelilingi tempat putih itu. Ia hanya ingat bahwa dirinya sedang berada di pemakaman lebih tepatnya nisan ayahnya. Remaja pirang itu nampak bingung dengan semua yang terjadi.
SRINGG...
Sebuah layar besar nampak muncul didepan Naruto. Iris birunya menangkap sebuah pemandangan yang mengejutkan. Ia dapat melihat jelas bahwa Sasuke sedang bertarung dengan seseorang.
[Naruto...?! Akhirnya kau bangun...]
"Clay, apa yang terjadi...?!" ucap Naruto
Sosok bertopeng itu nampak berjalan kearah remaja pirang itu. Naruto menatap seksama Clay, Sosok yang belum lama ini ia temui.
[Sasuke...?! Gadis kecil itu sedang kesulitan sekarang. Ia sedang bertarung dengan seseorang monster...]
"Mo-Monster...?! Itu berbahaya. Aku harus menolongnya..." ucap Naruto panik.
Remaja pirang itu terlihat khawatir sekarang. Pasalnya Sasuke adalah sahabatnya. Ia tidak ingin gadis itu terluka. Apalagi mendengar ucapan Clay bahwa Sasuke sedang bertarung dengan seorang monster.
[Apa kau yakin ingin menolongnya...?! Naruto...]
"Tentu saja, Clay..."
Sosok bertopeng itu terlihat menyeringai dibalik topengnya. Sepertinya memanipulasi Naruto lebih mudah dari yang dia bayangkan. Betapa bodohnya pemuda yang ada didepannya ini.
[Hehehe...?! Baiklah kalau begitu...]
Clay nampak memeluk tubuh Naruto. Remaja pirang itu terlihat terhanyut dengan itu semua. Iris birunya nampak terlihat kosong sekarang. Bersamaan dengan itu juga. Semuanya nampak memudar.
.
.
.
BLARRR...
[Beritahu aku...?! Bagaimana cara kerjanya]
Ledakan terjadi lagi. Api hitam yang membakar tubuh Naruto kini padam seketika. Tubuh remaja pirang itu terlihat hangus dengan luka bakar yang didapatnya.
Dengan langkah pelan. Ia berjalan kearah Sasuke yang terlihat terkejut melihatnya. Pandangan Naruto terlihat kosong diiringi kedua pupil matanya menghitam dan menyatu bak jurang tanpa batas.
Lambang stigma yang awalnya hanya didahi. Kini terlihat melebar ketangan, perut, hingga sampai kemata kaki. Tidak sampai disitu saja, topeng yang mulanya menutupi sebagian wajah, kini terlihat menutupi semua ekspresi Naruto.
[Siapa yang ada dalam diriku...?! Mengapa dunia ini hancur...]
"Na-Naruto...?! Kumohon sadarlah..." lirih Sasuke
Gadis uchiha itu menatap sedih Naruto. Liquid bening terlihat membasahi pipinya. Air mata bercampur darah terlihat melambangkan kesedihan Sasuke saat ini. Sudah cukup dengan semua ini...
[Aku tertawa tanpa tahu penyebabnya...]
"Haha...?! Haha...?! Hahaha..."
Suara tawa yang terlihat terbata-bata keluar dari mulut remaja pirang itu. Gadis bersurai hitam itu tahu bahwa yang dia lihat ini bukanlah Naruto. Seseorang yang bernama Clay itulah yang harus disalahkan.
"Do-Dobe..! Maafkan aku..." ucap Sasuke
Ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa sekarang. Ia salah satu bawahan Kokabiel dan ia sangat tahu betul bahwa yang membuat Naruto begini adalah kesalahannya.
Terlepas dari semua itu. Sasuke paham harus melakukan apa. Yah..?! Ia akan mengorbankan nyawanya sekarang. Gadis itu akan menyelamatkan Naruto sahabat pirangnya.
[Seseorang siapa saja...! Tolong aku...]
Sasuke berlari cepat kearah Naruto. Gadis itu tidak peduli dengan nyawanya sekarang. Yang ia pikirkan adalah bagaimana cara untuk menyadarkan Naruto saat ini.
Naruto menatap kosong Sasuke yang berlari kearahnya. Tangan kanannya terlihat menghitam. Iris hitam itu terlihat bertemu pandang dengan mata Sasuke yang meneteskan air mata.
[Kumohon...?! Tak ada yang bisa kuubah]
CRASHHH...
"Ohokk...!"
Sasuke memuntahkan darah segar dari mulutnya. Remaja pirang itu tanpa pikir panjang menusuk perut gadis itu dengan tangan kanannya. Tapi Sasuke, ia tidak terlihat marah dengan itu semua. Seulas senyum ia paksakan dibibir mungilnya.
"Do-Dobe, Ohok...?! Ku-Kumohon sadarlah..." ucap Sasuke menahan sakit.
Iris hitam milik Naruto bertemu pandang dengan mata Sharingan Sasuke. Gadis itu terlihat memegang pipi Naruto. Sementara Naruto, remaja pirang itu terlihat tak bereaksi apapun. Sasuke menatap sendu, kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi.
CUP...
Sasuke mencium pelan bibir Naruto, ciuman tulus tanpa ada rasa nafsu didalamnya. Gadis itu mencoba mengingat kenangan manis bersama remaja pirang itu. Meskipun hanya beberapa, tapi itu sudah cukup untuknya.
"Na-Naruto...?! A-Arigatou atas semua yang kau berikan. Ber-Berkatmu hidupku menjadi bermakna sekarang...! Aishiteru mo Naruto-kun..." ucap Sasuke melepaskan ciumannya.
Iris matanya kembali berubah kebentuk yang rumit. Darah segar nampak keluar dikedua mata milik Sasuke. Gadis itu memusatkan kekuatannya untuk menekan kekuatan Naruto sekarang.
"Ugghh...?! Kuserahkan Sharingan ini, Naruto-kun..." ucap Sasuke memuntahkan darah. Perlahan kedua mata hitam Naruto berubah menjadi merah dengan tiga tomoe didalamnya. Tapi, tidak berlangsung lama kedua tomoe itu nampak menghilang.
"Ohokk...! Ma-Masih belum cukup..." pikir Sasuke melihat itu.
Gadis uchiha itu mengerahkan seluruh kekuatan yang tersisa ditubuhnya. Meskipun dia akan mati, paling tidak kekuatan matanya itu dapat menekan kekuatan Naruto.
SRINGGG...
Mata Naruto mengeluarkan darah. Terlihat iris hitamnya kini tergantikan dengan warna merah tanpa tomoe hasil dari sharingan Sasuke. Tapi walaupun begitu, pupil remaja pirang itu masih berwarna hitam pekat.
"A-Aku rasa ini sudah cukup...! Kumohon, sadarlah Naruto-kun..." ucap Sasuke dengan cepat membenturkan kepalanya ke Naruto.
DUAKKK...
.
.
.
"I-Ittai...?! Apa yang terjadi..." ucap Naruto.
Kedua mata yang awalnya berwarna merah dengan latar belakang hitam itu kini tergantikan dengan iris biru cerah. Sasuke yang melihat itu tersenyum senang. Syukurlah...?! Naruto sudah sadar...
"Do-Dobe...?! Ma-Matamu sungguh indah..." ucap lirih Sasuke
Naruto memandang terkejut gadis uchiha itu. Noda darah dari matanya perlahan menyatu dengan air mata yang keluar dari iris biru miliknya. Tangan yang semula ada diperut Sasuke, perlahan ia cabut.
"Sa-Sa-Sasuke...?! Mu-Mungkinkah aku...?!" ucap Naruto gemetaran
Remaja pirang itu membuat kesimpulan dengan cepat. Kesimpulan yang membuatnya tersadar dengan semua yang terjadi. Sasuke terbunuh karenanya...?! Dia adalah seorang monster.
"Ti-Tidak...?! Ini, Ohok..., bukan salahmu..." ucap Sasuke terbata-bata. Nafasnya kini sudah diujung tenggorokan. Ia tidak kuat lagi bicara. Sebelum ia mati, gadis uchiha itu ingin mengungkapkan sesuatu kepada Naruto.
"A-A-Aishiteru Na-Naru...~"
Naruto menatap Sasuke dengan wajah yang amat frustasi. Tidak cukupkah ayahnya saja yang terbunuh. Kenapa harus sahabatnya juga. Sudah kuduga...?!
Dunia memang kejam...
To Be Continued...
A/N : Gimana Minna! Untuk chap kali ini, jujur aku rasa alurnya terlalu cepat. Tapi tidak ada cara lain. Karena jika tidak dipercepat kemungkinan kalian akan bosan dengan flashback berkepanjangan ini. Untuk chap selanjutnya sudah kembali di waktu Naruto sekarang. Jadi ini merupakan flashback terakhir dari arc masa lalu. So, Tetap feedback dan review fict ini yah.
#Salam Naru
