Nearly-Weds (Pernikahan yang tertunda) Kyumin Version.
.
Aku bukan tipe orang yang suka naik kuda, aku di besarkan di tengah kota. Sepanjang usiaku aku hanya pernah menaiki kuda dua kali.
Saat kami menaiki pelana di bantu para instruktur kami, makhluk yang di pasangkan dengannku- yang ironisnya bernama Tiny- begitu besar sehingga sulit dipercaya ada manusia yang bisa naiki di atasnya. Mungkin rasanya seperti menaiki dinosaurus yang lebih kecil.
"Tiny lembut dengan para pemula," ujar instrukturku, seorang wanita berambut merah bernama Cindy. "Bahkan bagi mereka yang dari sananya tidak...atletis."
Cindy sudah menghabiskan setengah jam terakhir melontarkan komentar- komentar menyindir seperti ini padaku dan bermain mata pada Kyuhyun. Hal itu mulai membuatku jengkel.
"Aku bukan pemula," kataku padanya. "Aku pernah belajar."
"Oh, maaf." Cindy terkekeh. "Cuma tadi waktu kau memakai topimu terbalik, kukira..."
Aku mendengus defensif. "Begitulah cara kami memakainya di Korea."
"Terserahlah."
"Tapi," lanjutku, mengabaikannya, "seperti kata orang, di mana bumi di pijak...disitu langit dijunjung"
Aku menarik topiku menghadap arah yang benar kali ini, dari sudut mata, melihat Kyuhyun tersenyum padaku.
Aku mengawasi Kyuhyun saat ia mengecek pelana kudanya dengan percaya diri, lalu melompat ke punggung kuda dengan percaya diri, kemudian dengan percaya diri membawa kuda itu berderap keliling lapangan. Jelas Kyuhyun sangat terampil dengan kuda.
Aku tidak tahu harus berpikir apa. Di satu sisi, keterampilanya sangat menonjolkan ketidakmampuanku. Di sisi lain, ia tampak luar biasa seksi di atas kuda itu.
Aku bukan penggemar film koboi, tetapi melihat Kyuhyun hari ini membuatku sadar di mana kemungkinan letak daya tariknya. Dengan paha kuatnya mengapit sisi tubuh kuda dan lengan baju yang di gulung ke atas lengannya, ia memancarkan kesan keatletisan yang kasar dan sigap. Dan itu sangat mengganggu konsentrasiku.
"Kau sudah siap?" Kyuhyun tersenyum penuh semangat.
"Umm...hampir!" Aku tersenyum gemetar. "Apa kau sering berkuda sewaktu kecil?"
"Tentu." Ia mengangkat bahu. "Tapi, hei, Min, jangan khawatir. Instrukturmu akan selalu mendampingimu. Aku diberitahu kalau mereka mengawasi para pemula dengan sangat baik."
"Aku bukan pemula!" kataku bersikeras, sambil menjejakan kakiku di sanggurdi dan berusaha mengayunkan kakiku melewati punggung kuda. Setelah lima kali mencoba, aku tampak seperti anak anjing yang kakinya tak sampai melompati pagar karena terserang rematik. Yang lebih parah lagi, Kyuhyun melompat turun dari kudanya dan berusaha membantu dengan memegang bokongku dan mendorong seluruh tubuhku hingga berhasil duduk di punggung Tiny.
"Aku bertanya- tanya apakah tidak lebih baik aku menunggang yang seperti itu," ujarku sambil menunjuk tunggangan Lauren.
"Kau ingin naik kuda poni yang di tunggangi anak umur enam tahun ?" tanya Cindy.
"Tidak perlu yang persis seperti itu" aku berang.
"Kau akan baik- baik saja," kata Cindy sambil menepuk- nepuk Tiny, membuat kuda itu bergidik dan aku mencengkram bagian depan pelana dengan begitu kencang sehingga buku- buku jariku memutih. "Tiny raksasa yang lembut."
Kami berangkat menyusuri rute kami melintasi daerah pedesaan, dengan Kyuhyun yang memimpin jalan. Henry dan Lauren mengikuti dari belakang, sementara instruktur mereka berjalan di sebelah mereka dan memegang tali kekang. Lalu ada aku dan Cindy yang terang- terangan memarahiku karena tidak mencegah Tiny memakan daun- daunan.
"Oh, itu tidak akan mencelakakannya," kataku padanya.
"Daun- daun itu beracun." Tukasnya padaku.
"Daerah pedesaan indah, ya?" ujar Kyuhyun saat kudanya melambatkan langkah untuk menyejajariku.
"Oh, iya." Kataku sambil merapikan posisi dudukku di atas punggung Tiny. "Dan tidak ada cara lain untuk menikmatinya selain ini."
"Aku senang kau sudah agak santai," ujar Kyuhyun. "Anak –anak sangat menikmatinya. Aku pasti merasa tidak enak jika kau merasa tidak nyaman."
"Aku?" seruku. "Aku? Hah! Tidak nyaman? Itu lucukan, Tiny?"
Untuk menunjukan betapa nyaman dan percaya dirinya aku, aku berusaha menepuk leher Tiny. Tetapi, saat membungkuk dan menepuk, aku kehilangan keseimbangan.
Sebenarnya, itu tak cukup untuk melukiskan bagaimana spektakulernya aku terjatuh kesamping, kehilangan tempat pijakan di kaki kananku yang membuatku tergantung di pelana sebelah kiri, setengah merosot dari pelana dan membuatku mencengkram surai Tiny kuat- kuat.
"Aaaah!" teriakku
Tentu saja Tiny tidak akan menyukai seseorang sinting dengan berat lebih dari 50 kilogram menggapai- gapai di atasnya. Dan bukannya berdiri tenang namun berlari.
"Aah!" tatapku, Instrukturku berteriak dengan sia- sia saat Tiny berlari semakin jauh dan bokongku semakin rendah di sisi tubuhnya.
Aku tak bisa berkonsentrasi pada apapun lagi selain hanya bisa mendengar gemuruh kaki Tiny menapaki jalan. Tubuhku semakin dilambung- lambungkan saat aku berusaha mencengkram dengan kuat untuk bertahan di atas kuda.
Yang ternyata aku tak cukup kuat.
Saat aku merasakan diriku meluncur semakin jauh di punggung Tiny, makin lama makin dekat dengan tanah, aku mencemaskan nyawaku. Jari –jariku terlepas dari surai dan aku tahu itulah akhirnya: Aku akan mati.
Tetapi, mendadak aku menyadari sesuatu yang terjadi di sisiku. Seseorang berkuda di sampingku. Seseorang mencengkram tali kekang Tiny.
"whoooaa!"
Ajaibnya, Tiny memelankan langkah. Lebih ajaiblagi, kuda itu akhirnya berhenti.
Aku melepas cengkraman dan mendarat di genangan air. Aku memejamkan mata, di liputi rasa syok dan rasa lega.
Saat aku membuka mata lagi. Kyuhyun sedang berluutut di sebelahku.
"Dengan siapa kau belajar berkuda ?" tanyanya, "Clint Easwood ?"
.
.
.
Seumur hidupku aku tidak pernah sebabak belur ini. Aku berbaring di bak mandi air panar, setengah koma. Semua ini akibat perjalanan tenang melintasi daerah pedesaan di punggung Tiny, si "raksasa lembut".
Aku menjangkau sabun dan mengerang saat rasa sakit menusuk sisi tubuhku. Sejujurnya, bukan Cuma sakitnya yang luar biasa mengangguku. Yang lebih parah, meskipun aku telanjang bulat, aku tampak seolah- olah memakai jubah warna warni. Apalagi kalau bukan warna merah- biru- memar di sepanjang tubuhku hingga kaki.
Aku memejamkan mata dan pikiranku melayang- layang. Aku membayangkan Donghae merawat luka- lukaku. Ia sejak dulu mahir melakukannya.
Beberapa bulan setelah kami bertemu, aku jatuh dari tangga di sebuah klub malam, dan selain menggendongku di punggungnya sambil menunggu taksi di pinggir jalan raya, ia juga membawaku kerumahnya. Ketika aku berbaring di sofa ruang tamu rumahnya, ia datang dengan membawa kotak P3K terlengkap yang pernah kulihat dan merendam lecet dikakiku dengan larutan antiseptik. Aku tidak tahu seberapa membantunya itu secara medis, tetapi itu membuatku merasa ebih baik.
Aku akan melakukan apa saja demi di temani olehnya sekarang. Meskipun kurasa ia pasti perlu labih dari satu botol antiseptik kali ini.
"Min, apa kau perlu bantuan?" teriakan Kyuhyun menembus pintu kamar mandi.
"Tidak!" aku berseru ngeri, sambil bersusah payah keluar dari bak mandi dan menggapai jubah mandiku.
"Tidak! Tidak! Aku baik-baik saja, sungguh. Aku akan keluar sebentar lagi!"
Saat aku mendengar Kyuhyun berjalan menjauh, aku menatap muram cermin. Aku mungkin sudah bersih dari lumpur yang menutupi dari kepala sampai kaki, tetapi wajahku tergores- gores begitu parah sehingga aku tampak baru saja bergulat dengan semak- semak.
Aku menyelinap kekamar tidurku, dan memakai celana longgar bersih, kaus usang, dan mantel bertudungku yang nyaman dan kedodoran-mantel yang kusukai.
Meskipun ibuku bersikeras itu jenis mantel yang biasa di pakai seseorang saat merampok toko minuman keras.
Aku berjalan melewati ruang tamu dan menuju beranda, tempat Kyuhyun sedang berusaha memenangkan kembali cokelat batang yang di rebut oleh Lauren darinya. Henry sedang menyelesaikan gambar yang rupanya di buatnya dengan kakaknya saat aku sdang mandi.
"Hei, gambar yang bagus," kataku padanya. "Apa itu?"
"Itu Minnie," sahutnya bangga. "Minnie dan kuda."
Keterampilan artistik Henry bersifat abstrak. Tetapi aku bisa menafsirkannya cukup mengerti bahwa mereka telah menggambar seekor kuda dengan sesuatu tampak seperti seonggok besar sisa makanan kemarin di sebelahnya. Rupanya itu adalah aku.
"Kau tidak terkesan dengan keahlianku menunggang kuda, kalau begitu?" tanyaku sambil mengacak- acak rambutnya.
"Kau seharusnya tidak jatuh, Minnie,"ujarnya padaku, tangan kecil Henry menangkup pipiku. Meniup- niup luka lecet disana. "Ini pasti sakitkan, Minnie." Ujarnya lalu kembali menitup lecet- lecet di pipiku.
"Bagaimana perasaanmu ?" tanya Kyuhyun. "kau tampak jauh lebih baik setelah mandi."
"Oh, aku baik- baik saja." Jawabku. "aku benar- benar merasa seperti badut, tapi, hei,aku sudah terbiasa."
"Hampir memikat." Kyuhyun menyeringai, "Tidak benar- benar memikat, tapi hampir."
Ucapan Kyuhyun membuatku malu setengah hidup.
Pasti ada yang aneh dengan udara di tempat ini, karena pada jam tidur, keajaiban semalam terjadi lagi malam ini, anak- anak dengan gembira pergi ketempat tidur tanpa banyak alasan.
"Apa kau menyogok mereka atau semacamnya ?" tanyaku pada Kyuhyun.
"Seharian terpapar udara segar," ujarnya. "Ditambah fakta bahwa cokelatnya sudah ludes."
"Kau mau makan malam apa ?" tanya ku. "Ini giliranku, kau kan sudah memasak semalam."
"Hei, jangan repot- repot. Kau santai saja."
"Serius?"
"Serius, duduklah. Aku akan membawamu wine. Aku membeli sebotol wine yang bagus tadi."
Kyuhyun pergi kedapur sementara aku membolak balik kolesi CD Gerald Raven. Tidak banyak lagu lawas, tetapi aku menemukan CD Best of Billy Joel dan melompati beberapa lagu pertama sampai aku menemukan lagu She's Always A Woman To Me. Lagu ini membuat bulu kudukku meremang- meskipun lagu ini paling tidak sudah tigapuluh tahun tidak muncul di playlist radio populer.
Aku keluar ke beranda dan menghirup udara pedesaan. Tidak lama kemudian, Kyuhyun muncul dengan segelas wine merah seukuran mangkuk sup.
"Aku suka lagu ini." Katanya.
"Aku juga." Ujarku. "itu definisi paling sempurna tentang bisa betapa gilanya cinta itu, iya kan ?"
Kyuhyun tertawa. "Aku mungkin tidak memakai kata 'gila', tapi kau benar. Si pria mencintai kekasihnya bukan hanya terlepas dari kekurangan- kekurangannya saja, tetapi justru karena kekurangan-kekurangan itu. Hanya pemimpi sejati yang bisa melakukanya. Aku bisa memahami perasaan itu."
Aku mengangkat alis. "Kau tidak terlalu tampak seperti pemimpi, Kyuhyun."
"Oh, ya? Ah, mungkin karena kau tidak mengenalku dengan baik."
Lalu sesuatu terlintas di benakku. Bagaimana mungkin, terlepas dari memar- memarku, kehilangan harga diri, dan lain- lainnya...aku merasa- anehnya- bahagia?
"Kenapa kau tersenyum ?" tanyaku saat melihat segaris senyum di bibir Kyuhyun.
"Oh, tidak apa-apa...aku Cuma berpikir, kau tahu..."
"Apa?"
"Aku senang berada di sini."
Ia tersenyum lagi. Kali ini, senyumnya lebih lebar dan penuh seperti yang dulu jarang tampak di wajah tampannya.
"Aku senang kau ada di sini." Ujarnya lagi. Kali ini membuatku hampir mati rasa.
.
.
.
TBC
Hallo, kita jumpa lagi. Ada yang kangen saya ? –krik-krik-krik-
Sorry chapter ini pendek sekali dan typo, saya berusaha sekali mencari waktu yang pas di luar kegiatan kuliah dan aktivitas luar saya yang full semingguan buat lanjutin ff-ffku yang ngegantung kayak kalong. Chapternya dicicil dikit- dikit gak papa yaaa...hehehe
Selamat membaca.
RnR?
