BUTTERFLY
.
.
Pt. 10
.
.
Cast : Jung Hoseok, Kim Taehyung
Other Cast : Other Member of BTS
"Ada kalanya yang berlari akan lelah dan berhenti". - Min Yoongi
.
.
Pt.10
Butterfly
.
.
Mata tajam itu terbuka. Perlahan dan menyusuri setiap apa yang masuk di penglihatannya. Taehyung masih ditempat yang sama sebelum ia pingsan namun posisinya saat ini jauh lebih nyaman diantara pelukan tangan kekar disampingnya.
"Sudah bangun hm?". Senyum Hoseok merekah dengan lebar melihat pujaan hatinya membuka matanya.
Tak ada tanggapan apapun kecuali tatapan datar Taehyung yang masih memproses apa yang ingin diingatnya.
Yang membingungkan adalah mengapa ia harus datang ke kamar inap Hoseok tengah malam dan Taehyung rasa saat ini masih beberapa jam berlalu. Bahkan suasana tempat itu masih sama. Gelap, dingin dan menyakitkan.
Taehyung mencerna apa yang tengah melandanya. Rasa tak bisa menerima Hoseok, rasa membutuhkan Jin dan rasa tertekan atas permintaan ayahnya membuatnya teringat bahwa sebetulnya ia telah lelah. Tak bisakan ia normal kembali seperti dulu.
"Kenapa aku?". Pertanyaan yang diucapkan Taehyung membuat Hoseok sedikit berfikir untuk menemukan jawaban yang pas. Hoseok terlalu pusinh menjelaskan panjang lebar dan tentu saja Hoseok juga tak mengerti mengapa Taehyung mendatanginya tengah malam dengan sangat tiba-tiba. Hoseok bahkan mengira Taehyung adalah hantu atau perampok mungkin.
Lebih menggelikan lagi jika di rumah sakit ada perampokan. Sangat tak mungkin.
"Tak terjadi apapun kecuali kau pingsan tepat dipelukanku. Apa terjadi sesuatu?". Tanya Hoseok sembari menatap wajah Taehyung dalam keremangan.
Hoseok meneliti setiap jengkal wajah Taehyung. Benar-benar mahakarya yang indah. Pahatan tegas di rahang dan hidung seolah menyihir Hoseok untuk semakin mengaguminya. Namun wajah itu tetap sama sepanjang hari. Datar tanpa menunjukkan emosi apapun.
Ingin rasanya Hoseok menelusup kedalam pikiran Taehyung agar tahu apa yang sedang pemuda itu pikirkan.
Hoseok mengeratkan pelukannya. Taehyung tak menolak namun juga tak menerima. Segalanya terasa seperti ada sekat tak nyata yang membuat mereka berdua tak bisa menyatu.
Taehyung seakan membatasi diri antara dirinya yang indah dan terbang jauh dengan Hoseok yang ingin menangkapnya dan terus mengejar.
"Atau kau sakit? Pementasan tinggal dua hari lagi. Apa kau sudah siap? Kurasa Jimin dan Jungkook sudah menggantikan posisiku. Aku bisa tenang". Hoseok tersenyum mengingat kedua temannya yang aktif itu mampu menggantikan posisinya, mengkoordinir para penari latar di pementasan drama musikal mendatang.
Taehyung tak terfikir sampai kesana. Namun ia teringat satu hal.
"Ada yang kau curigai?". Tanya Taehyung. Hoseok mengerutkan keningnya. Ia sedang memproses kemana arah bicara Taehyung.
Jika maksud Taehyung tentang insiden tali terbangnya yang putus tentu saja Hoseok mencurigai beberapa orang.
Namun kita tak bisa menuduh orang secara random tanpa bukti jelas.
Hoseok hanya bisa menggelengkan kepala.
Urusan itu bisa ia cari orangnya setelah kekuar dari rumah sakit. Saat ini ia ingin fokus kepada namja di pelukannya.
Jika ini adalah suatu tipuan hati maka Hoseok lebih memilih memeluk lebih lama. Lebih lama atau lebih singkat memeluk Taehyung toh sama saja hatinya akan tetap terluka.
Taehyung seakan memberinya harapan, namum apa yang Hoseok dapat selama ini selalu diluar ekspetasinya.
"Kurasa Jin hyung mempunyai akses bebas di ruang CCTV dan...mmpp!". Ucapan Taehyung berhenti.
Bukan terhenti namun dihentikan oleh sebuah bibir tebal yang saat ini tengah menempel sempurna di Bibir Taehyung.
Hoseok ingin bukan nama lain yang disebut Taehyung. Namun hanya namanya. Tak masalah jika itu nama Jimin, Yoongi atau Namjoon, Asalkan bukan nama namja itu.
Bibir Hoseok semakin menekan dan melumat bibir tipis Taehyung. Menghisap bibir bawah dan atas secara bergantian.
Taehyung seperti biasa, tak menolak namun juga tak menerimanya. Sekalipun menerimanya namun itu hanya menerimanya saja tanpa ada tambahan bahwa Taehyung membalas perasaan Hoseok.
Taehyung belum bisa menerimanya. Taehyung saat ini masih berada di dua persimpangan. Mengikuti kemauan Ayahnya untuk menjadi aktor di Jepang dan penuh tuntutan atau berada di pelukan Hoseok selamanya. Taehyung bahkan tahu jika ayahnya sangat mencintai ayah Hoseok.
Taehyung tidak ingin egois dan tak bisa memungkiri jika persimpangan itu memiliki resiko. Namun Taehyung memilih diam. Diam diujung jalan sembari mengikuti kemana arus akan mengantarkannya.
Ciuman itu semakim dalam, bibir dingin keduanya mulai menghangat. Mata keduanya tertutup menikmati kehangatan ciuman itu sebelum fajar.
Namun seakan semuanya terasa tak seimbang. Taehyung masih dengan perasaan datarnya dan Hoseok dengan ambisi ingin memiliki namja tak berekspresi itu.
Lumatan itu semakin dalam dan dalam.
Hoseok mampu menahan dirinya untuk tak melakukan hal yang lebih jauh untuk Taehyung.
Ia sangat mengerti bahwa membuat kupu-kupu mendekat harus ada sebuah umpan. Hoseok masih memikirkanya.
.
.
.
Ruang dance pagi itu sangat sepi. Kegiatan Dance akan mulai aktif sore hingga malam. Ruangan itu saat ini menjadi ruang untuk pertemuan rahasia antara Jin, Yoongi dan Jimin.
Jimin bahkan masih menutup matanya lantaran masih terlalu pagi untuk datang di kampus. Kuliah paginya masih dua jam lagi. Ia tak mungkin tak ikut pertemuan ini. Jin yang meminta langsung mereka berdua untuk datang pagi-pagi buta untuk membahas insiden di ruang teater beberapa hari yang lalu. Jin selaku ketua klub merasa harus turun tangan untuk mencari tau penyebab anak buahnya cidera. Ia tak bisa tinggal diam jika didalam klubnya ada persaingan tak sehat atau bahkan seseorang yang sengaja mencelakai temannya. Apa lagi Jin dan Hoseok sudah mengenal lumayan dekat karena Hoseok adalah Koreografer tim mereka. Jika salah satu tim ada yang terluka maka Jin tak bisa diam saja.
Yoongi meletakkan tangan di dagu dan berpose seakan ia detektif. Jimin hampir saja tertewa melihatnya. Namun ia tak bisa melakukannya lantaran Jin dan Yoongi tengah membahas hal serius.
"Aku memang tak tau apa motifnya. Kurasa kau harus mengijinkanku untuk mencurigai pamanmu Yoongi-ya. Aku mempunyai ini". Jin berkata dengan sangat serius dan sekaligus mengacungkan sebuah flashdish hitam.
"Itu rekaman CCTV? Oh daebak kau terbaik hyung". Jimin berkata dengan semangat. Acungan jempol terpampang dihadapan Jin.
Jin memutar kedua matanya malas. Ia terkadang merasa bahwa Jimin tak bisa berada di situasi serius. Ia terlihat ceria dalam situasi apapun. Pikirannya melayang pada sosok Taehyung yang dalam situasi apapun akan menampilkan satu ekspresi saja. Flat face.
Hah...
Yoongi menghela nafasnya. Ada sedikit rasa lelah dihatinya saat mengingat siapa yang akan dia tuduh sebagai pelaku insiden itu. Kepalanya dipenuhi oleh fakta bahwa paman yang ia kenal hebat selama ini, justru memiliki niat buruk terhadap temannya sendiri. Meskipun Yoongi tak dekat dengan Taehyung, namun secara tak kasat mata ia mempunyai ikatan teman karena seringnya ia berkerjasama dalam suatu pementasan teater dengan Taehyung.
"Apa yang ingin kau katakan Yoong-ya? Kau bisa katakan. Kita memang sedang membahasnya". Jin memperhatikan Yoongi yang sedari tadi terlihat berfikir keras.
Jin tahu jika paman Yoongi adalah pelaku dibalik semua ini. Namun apa motifnya masih menjadi pertanyaan bagi mereka.
"Aku tak menemukan informasi apapun mengapa paman Park melakukan itu. Tapi ini semua pasti berhubungan dengan ayah Taehyung". Jelas Yoongi. Ia berusaha mengaitkan perkenalan yang ia lihat antara ayah Taehyung dengan pamaannya. Yoongi menduga jika kedua memiliki hubungan. Tapi Yoongi tak ingin segera mempercayai kebetulan ini.
Kebetulan paman dan ayah temannya saling mengenal.
"Jadi kau berfikir jika semua ini ditujukan untuk Taehyung namun berakhir dengan Hoseok yang terluka?". Simpul Jimin. Jimin mulai bisa mencerna suasana serius ini. Aura cerianya menjadi lebih manly.
Jin mengerutkan keningnya. Ada sesuatu tentang Taehyung yang ia tak mengerti. Rasa penasarannnya mulai muncul dan menyeruak.
"Maksudmu Kim Jaejoong? Ayah Taehyung yang menjadi aktor di Jepang?". Tanya Jin untuk sekedar memastikan ia tak salah cerna tentang apa yang ia fikirkan.
Oke sekarang begini rangkaiannya.
Jaejoong adalah aktor yang sedang naik daun di Jepang, lalu Park Yoochun adalah mantan aktor terkenal yang mungkin saja suatu ketika mendapat job bersama dengan ayah Taehyung dan otomatis mereka akan saling mengenal.
Jin memang pernah mendengar Taehyung membicarakan hal ini namun ntah bahagaimana saat itu Jin tengah tak fokus.
"saat ini kita membutuhkan Taehyung". Ucap Yoongi perlahan.
"Ponselnya tak aktif sejak semalam. ia tak pernah begini sebelumnya". Ucap Jin sedikit khawatir. Ia menarik ponselnya dari dalam saku celanaanya dan mengecek apakah ada pesannya yang dibalas Taehyung, namun ternyata nihil. ponsel Taehyung masih tak aktif.
"Aku tak berusaha menutupi kesalahan pamanku atau bagaimana, tapi aku sedikit tertekan". Yoongi meenunduk. cepat atau lambat pamannya pamannya akan dalam masalah besar.
Jimin menatap Yoongi. luka hatinya menjadi bertambah saat hyung tercintanya terpuruk.
Jimin mendekat pada sosok mungil Yoongi. mendekapnya dari samping untuk memberikannya kekuatan. Ia ingin berkata bahwa dia ada disana namun tak bisa. Ia terlalu kaku jika ada orang lain melihatnya.
Lain lagi dengan Jin. Ia mengingat kembali dimana ia disiksa habis-habisan oleh Namjoon yang tengah dibakar cemburu.
Tepat disaat ini Jin tahu jika Taehyung belum meninggalkan apartemennya. Jin yakin jika Taehyung pasti mendengar semuanya.
"Yoongi kurasa aku harus segera pergi. nanti siang kita atur jadwal pertemuan ulang kita. dan Jimin kau selesaikan geladi bersih untuk hari ini dengan Jungkook di bagian tari dan musik. Nanti malam akan ku cek kembali". Titah Jin seraya menyerahkan flashdish hitam ke tangan Yoongi.
"Simpan itu". Ucap Jin.
"Baik Hyung. kau akan kemana?". Tanya Jin saat dirasa Jin sedikit terburu-buru.
"Menemui Taehyung. kurasa aku tau dia ada dimana". Jin mengambil tasnya daan segera melesat pergi.
Jimin memandang Flashdish rekaman CCTV ditangan Yoongi.
"Jin hyung... aku terkadang merasa kasihan padanya". Ucap Jimin lirih.
Yoongi memasukkan flashdishnya kedalam tas dan balik bertanya.
"apa yang ingin kau katakan?".
"Ia mengejar sesuatu namun yang dikejar semakin jauh". Mata Jimin menerawang jauh di langit yang terrlihat dari jendela ruangan itu.
"Taehyung ya?". Tebak Yoongi
Jimin mengangguk. Tangannya membelai perlahan rambut belakang Yoongi.
"Kita akan tahu bagaimana akhir ceritanya". Ucap Yoongi. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Jimin dan menatap lurus ke mata Jimin.
"Ada kalanya yang berlari akan lelah dan berhenti". Lanjut Yoongi. Selanjutnya bibir merah mudanya sudah bertumbukan dengaan bibir Jimin.
Sesaat Jimin merasa kaget namun ia segera bertindak dan memperdalam ciuman mereka. Melepaskan perasaan cinta mereka di hari itu.
.
.
Pt.10
.
.
Himchan tahu apa yang akan ia lakukan hari ini. Ia mengambil banyak resiko untuk hal itu. Tapi ia sudah membulatkan tekatnya.
Disinilah ia sekarang. Berdiri didepan kediaman teman kakaknya. Park Yoochun.
Jari lentiknya menekan bel rumah itu. Dan tak perlu menebak siapa yang akan membukakan pintunya.
Sosok itu. Sosok yang pernah meembuat karier hyungnya hampir saja hancur. Sosok yang sepertinya akan menjadi musuh barunya.
Himchan merasakan sensasi suram disekitarnya. Ia merasa tidak tepat waktu datang kesana.
"Kim Himchan? Wah aku mendapat kunjungan dari seseorang yang sangat cantik di siang terik". Jemari Yoochun mencolek dagu Himchan.
"Ya! Tak sopan hyung". Himchan segera menepis tangan Yoochun.
Yoochun tertawa menikmati wajah kesal Himchan. Persis sekali dengan reaksi yang Jaejoong berikan saat Yoochun melakukan hal yang sama.
"Ada apa kemari? Kau membawa hyungmu yang cantik tidak?". Kepala Yoochun menegok keluar pagar siapa tahu Himchan membawa Jaejoong yang ia rindukan.
"Jangan bercanda. Aku yang datang untuk memperingatkanmu Hyung".
"Kau datang sambil marah-marah. Tak ingin masuk dahulu?". Yoochun masih melanjutkan acara menggoda Himchan.
"Diamlah sebentar! Ini Soal Taehyung. aku sudah tahu semuanya. kau berencana mencelakai Taehyung bukan? Kuperingatkan kau hyung. Jika kau berurusan dengan hyungku jangan sekali-kali melibatkan Taehyung didalamnya. Apalagi teman-temannya yang tak tahu apa-apa. Jaejoong hyung tak akan tinggal diam". Himchan menekan amarahnya. sejak awal ia saangat ingin menonjok wajah antagonis Yoochun.
"Itu saja yang mau ku sampaikan. aku pergi". Himchan lantas berbalik dan pergi. Namun langkahnya terpaksa berhenti saat Yoochun mencekal lengan kanannya dengan kuat.
"Akh!". Teriak kesakitan Himchan. Cengkraman Yoochun dilengan kurusnya sangat kuat.
"Lepaskan aku! Sakit!". Himchan mencoba melepaskan tangan Yoochun dilengannya. Apa daya Yoochun memang lebih kekar dari pada Himchan.
"Apa kau disuruh oleh Jaejoong? Katakan padanya seharusnya ia tahu resikonya saat ia berusaha menghindariku. Apapun yang bisa membuatnya kembali padaku akan ku gunakan meskipun itu dengan ancaman atau bahkan membuat ia kehilangan segalanya". Ucap Yoochun dengan pelan tepat ditelinga kanan Himchan.
Himchan mulai bergetar. Ucapan Yoochun sangat menakutkan baginya. Ia merasa akan tamat hari ini. apapun yang ia lakukan hari ini membuatnya menyesal karena tak ia pikirkan ulang.
"Aku juga bisa membuatmu hancur jika kau ikut campur dalam urusanku. Tak terkecuali Yunho dan anaknya yang sekarang terbaring di rumah sakit". Lanjut Yoochun.
kaki Himchan terasa lemas seketika. Jadi Yoochun tahu siapa Hoseok. Himchan ingin segera pergi dari tempat itu.
"Kumohon lepaskan aku hyung". Himchan tak ingin mendengar ancaman-ancaman lagi. Saat Yoochun melepaskan cengkraman dilengannya, saat itu pula Himchan berlari keluar dari teras rumah Yoochun dan melesatkan mobilnya jauh dari rumah iblis.
Yoochun tertawa melihatnya.
"Ia belum tahu jika tumbuhan juga ada yang memakan serangga yang hinggap diatasnya". Ucap Yoochun dan ia segera mmasuk kerumahnya.
.
.
.
Jin menyusuri koridor rumah sakit dimana Hoseok dirawat.
Jika Feelingnya tepat maka ia akan segera bertemu Taehyung. Jin memang merasa malam itu Taehyung tak pulang ke apartemennya. Namun ia akan memilih mennemui Hoseok.
Jin tahu jika Taehyung saat ini menahan diri untuk tak mengakui bahwa ia sebetulnya mulai menerima keberadaan Hoseok. Namun Taehyung belum menyadarinya.
Jin sadar akan hal itu saat Taehyung khawatir dan Taehyung selalu membicarakan Hoseok sepanjang waktu meskipun tak panjang lebar. Jin tahu itu berarti Taehyung menyadari perasaan Hoseok.
Langkak kaki lebarnya melangkah di koridor sepi kamar Hoseok. Matanya mencari nomor kamar inap Hoseok. Setelah ia merasa menemukannya tangannya perlahan membuka pintu kamar itu.
Jin tak ingin mmembuat kaget yang ada didalam ruangan itu, bisa saja kan saat itu Hoseok tengah tertidur atau tengah diperiksa dokter. Jadi Jin berencana umtuk menyapa secara pelan saja.
Terkadang kenyataan selalu berbeda dengan ekspektasi kita.
Jin memang tak memiliki perasaan menggebu seperti Hoseok. Namun ia memiliki rasa cemburu juga.
Jin merasakan keadaan berbalik saat ini. Ia yang dibuat kanget oleh apa yang ia lihat saat ini.
memang tak parah sepertinya. namun pemandangan dihadapannya sedikit mengoyak hatinya.
Taehyung tengah bercumbu mesra dengan Hoseok. Jin tak mengerti bagian mana yang bisa ia sebut mesra karena secara jelas Taehyung tak berekspresi apapun ditengah ciumannya dengan Hoseok. Namun dimata Jin itu sangat mesra dan penuh perasaan.
Tak pernah Jin sekalipun melihat Taehyung seperti itu. Namun Jin bisa melihat jika Taehyung mulai tersentuh hatinya.
Jin memutuskan untuk menutup pintu itu. Pintu yang sama seperti hatinya.
Jin menyadari jika saat ini ia hanyalah orang lain bagi Taehyung. Jin pun saat itu pula kembali menelusuri dimana letak hatinya.
Siapa yang memiliki hatinya? Siapa yang bisa meluluhkan hatinya? Jin mencari jawabannya. Dan detik itu juga ia bisa mendeskripsikan arti cemburu Namjoon tadi malam.
Jin menyandarkan punggungnya di tembok dingin bangsal itu. Matanya terpejam. Pikirannya melayang pada sosok Namjoon yang ia tak pernah sadari.
Niatnya mencari Taehyung untuk membicarakan tentang insiden itu menjadi sirna. Jin berfikir mungkin ia akan sedikit menunda penyelidikan dan menunggu Hoseok sembuh.
Opera itu akan dimulai dua hari lagi dan ia perlu konsentrasi disana. Jin melangkahkkan kakinya dengan perlahan. Ia menyadari sesuatu yang tak bertujuan selama ini
Jin berlari ke parkiran dan segera mengemudikan mobilnya menjauh dari rumah sakit itu.
Disaat seperti ini ia membutuhkan Namjoon. Namjoon yang terbaik dalam segalanya namun baru saat ini Jin sadari.
Terkadang apa yang terlalu indah yang kita lihat akan semakin membutakan mata kita akan hal indah lainnya.
Biarlah Jin merasakan sakitnya untuk saat ini. Seelanjutnya semuanya akan kembali baik-baik saja.
.
.
.
Pt. 10
Tbc
.
.
.
Nb : Maaf banget baru update. Aku tahu kalian ingin tahu lanjutannya bukan? Aku sedikit lupa oleh alur ceritanya. maaf jika di part ini sedikit tak menyambung atau kurang greget. Aku janji part selanjutnya lebih heboh. Terima kasih review kalian dr tahun 2016.
Aku janji ini akan segera diselesaikan.
.
Happy Reading.
