OUTRAGED
…
Bahkan jika terus dihapus, darah masihlah lebih kental daripada air.
…
Ketika seorang datang melewati pintu, tak ada yang tahu, siapa yang lebih terkejut diantara mereka berempat.
Akashi yang tengah mendekap, Kagami yang menatap, Kei yang kini sedang dalam dekap, atau.. Tetsuya yang tengah melihat.
Bisa dilihat dengan jelas bagaimana aquamarine itu tengah kalut saat melihat pemandangan yang membuatnya takut. Takut jika anak semata wayangnya direbut.
"Kei!" Tetsuya panik saat melihat ayah dan anak itu dekat. Dia takut, Kei akan dibawa pergi, akan dibawa darinya.
"Ibu,"
Tetsuya maju, menarik Kei sambil menatap nyalang mantan suaminya, "Jangan pernah dekati Kei!"
"Ibu-" Ucap Kei dengan nada yang Akashi tahu, anaknya sedang takut.
"Apapun.. apapun yang dia katakan, jangan percaya!"
"Tapi ayah-"
"Dia bukan ayahmu!"
"Jangan bentak, Kei."
"Jangan bertingkah layaknya seorang ayah!" Emosi Tetsuya tersulut. Hatinya masih teringat kala Akashi menuduhnya selingkuh, dan yang lebih parah tak mau mengakui anaknya. Lalu sekarang sok-sokan menjadi pahlawan didepan Kei? Yang benar saja!
"Ibu, Kei-"
"Kei!"
Kei tersentak, baru kali ini ibunya membentak. Baru kali ini ibunya berteriak. Dan Kei tak bisa. Dia menangis, sejenius apapun, dia masih anak-anak.
"Huweee..." Air mata mengalir deras. Semua yang Kei tahan keluar. Rasanya sakit sekali meski tak semua dia paham.
Dia tahu ayah kandungnya, dia tahu masalah orangtuanya. Dia tahu semua, tapi pikiran Kei tak mau menerima, "Hiks.. huwe.." Nadanya tersendat, hatinya sakit, Kei ingin berteriak.
Hati Kei terasa sesak. Dia tak tahu kenapa, tapi Kei tidak suka. Rasanya seperti mimpi buruk saat dia tidur. Kei tidak mau, Kei ingin rasa sesaknya hilang. Seperti air matanya yang kini mengalir deras, berharap air mata itu ikut menghapus rasa tidak nyaman.
"Kei," Ayahnya mendekat, menunduk menangkup pipinya.
"Maafkan, ibu." Lalu ibunya mendekap bahunya, nada bicara khawatir mengiringi usapan.
Apa harus dengan dia berteriak dan menangis agar orangtuanya bisa mendekat dan berhenti berdebat?
...
Disclamer :
Kuroko No Basuke by Fujimaki Tadatoshi
Original story by Gigi
Warning :
T
Akakuro
OC Kei
Shounen ai
Male pregnant
Family Hurt Romance
Out of character
…
"Kei,"
Plak!
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Kei menepis tangan kedua orangtuanya. Kaki mungilnya berlari meninggalkan sekumpulan orangtua yang kini memanggil namanya.
"Kei!"
Tapi Kei tidak mau berhenti. Kakinya sakit, tapi hatinya juga lebih sakit. Dia ingin mengadu, menangis karena rasa sakitnya tak seperti saat dirinya jatuh dari sepeda. Sakitnya didalam sana. Dan Kei tak bisa menjangkaunya.
"Kei!"
Dibelakang, dia melihat ayahnya mengejar. Tapi karena tubuh Kei kecil, dia lebih gesit berlari ditengah kerumunan orang yang lalu lalang.
...
Akashi rasanya ingin membelah jalan untuk mengejar putra semata wayang yang entah kenapa gesit mewarisi ibunya. Sebenarnya bukan dia kalah cepat. Ayolah, Kei bahkan baru berumur 4, namun karena keramaian jalan akibat aktivitas yang sedang padat, membuat Akashi jauh terlambat.
"Kei!" Suaranya lantang membelah keramaian, namun kaki mungil itu tak juga berhenti. Mata heterokromnya melirik kebelakang dan melihat Tetsuya terengah. Mungkin, bukan karena kecapaian, tapi karena adegan tadi memang menguras tenaga.
"Salahmu!" Pukulan didadanya karena Tetsuya membuat Akashi kembali tersadar untuk mengejar sang putra.
"Aku akan mendapatkannya, Tetsuya. Tenang saja."
"Jika saja kau tidak menemui Kei, jika saja-"
Suara itu tersendat. Ya, apa yang diucap Tetsuya benar. Jika saja dia tak salah perhitungan, anaknya tak mungkin menghindar.
"Maaf." Tapi Akashi yakin, 1000 kali kata itu terucap, tak akan membuat semuanya kembali normal, "Kau tunggu disini, aku akan mengejar Kei-"
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG JIKA ANAKKU TAK TAHU DIMANA SEKARANG!" Raung Tetsuya.
"Percaya pada Kei! Dia cerdas! Anakku anak yang cerdas!"
Akashi kembali mengejar. Ya, Kei anaknya. Mau bagaimanapun, darah lebih kental daripada air. Jadi pasti ikatan mereka tidak main-main. Tak akan lekang meski terpotong takdir.
...
Kaki-kaki penuh lemak bayi itu masih terus berjalan. Dia yakin, ayahnya sudah jauh ketinggalan. Pipinya memerah karena menangis sepanjang jalan. Namun, dia sudah menentukan, tempat yang akan dia jadikan tujuan.
Sebuah rumah sakit tempat papanya berada.
Dengan langkah yang tak bisa dibilang pelan, Kei langsung menuju ruang dimana tempat papanya bekerja. Tak memedulikan para suster yang menyapa, dirinya mendobrak masuk pintu ruangan.
"Sudah aku bilang, suster-" Ucapan pria bersurai hijau itu berhenti begitu mendapati sesosok mungil kini masuk ruang kerja, "Kei?"
"Papa," Air matanya semakin deras, ingusnya juga semakin banyak keluar, "Papa!"
"Kei," Dekapan langsung menaungi tubuh mungil Kei, "Kenapa? Dengan siapa kesini?"
"Huweeee.." Tapi Kei belum bisa menjawab. Yang dia lakukan adalah menggenggam erat jas dokter dan menangis hebat.
"Kei, tenang." Kei digendong, dan dipeluk sambil berayun pelan.
"Huweee- Hiks," Kei masih menangis. Dia belum mau bicara meski papanya sudah memeluknya sambil mencium keningnya.
Midorima sendiri, nama dokter muda itu, juga masih belum paham, kenapa anaknya datang dengan tangisan begini. Apalagi, setelah beberapa saat ditunggu, tidak ada seseorang yang masuk menyusul menemui.
"Kei,"
Duh, sungguh selama dia kenal Kei, anaknya ini tak pernah menangis sampai seperti ini. Hal apa yang membuat Kei sampai begini?
Apa Tetsuya memarahinya?
Ya, Tetsuya memang sering memarahi Kei, tapi Midorima tahu bahwa mereka langsung akur begitu saja.
Lalu apa?
Apa Kei bertemu ayah kandungnya?
Dia tahu Kei sudah bertemu ayahnya lewat Tetsuya, tapi Kei baik-baik saja. Lalu apa?
"Kei," Kening itu dielus, "Papa tak akan tahu kenapa kau begini jika kau terus menangis, sayang."
"..." Tak ada jawaban, namun masih ada isakan-isakan yang meluncur keluar.
Midorima menekan tombol telepon, "Tolong bawakan vanilla milkshake ke ruanganku."
"Kei mau vanilla milkshake kan?"
Mata besar penuh air mata menatap mata berwarna emerald. Sungguh, sebenarnya wajah Kei sekarang sangat menggemaskan, tapi Midorima harus tahan.
"Vanilla milkshake?"
Midorima mengangguk, "Papa beliin jumbo."
"Mau." Ingus disedot, "Kei mau."
"Bagus." Midorima membawa Kei duduk di pangkuan, "Sekarang mau cerita ke papa?"
Jemari mungil mengucek-ucek ujung kaosnya sendiri, seakan bingung mau mengungkap cerita.
"Kei, Kei bisa cerita apapun ke papa. Nanti papa bantu."
"Ung," Kei menyamankan posisi pada dekapan dada bidang, "Ibu dan ayah tengkal."
"Hah? Tengkal? Maksud Kei bertengkar?"
"Ung. Ibu malah telus bentak Kei. Kei janjian sama ayah. Ayah celita. Kei dipeluk telus ibu datang."
"Maksudnya, Kei ketemu sama ayah Kei?"
Angguk-angguk.
"Terus ayah Kei cerita?"
Angguk-angguk.
"Ibu Kei datang, terus marah?"
"Ung. Telus Kei dimalahi, nggak boleh sama ayah. Kei lali kesini."
Secara garis besar, Midorima paham.
Kemungkinan besar, Kei bertemu dengan ayahnya tanpa sepengetahuan Tetsuya. Lalu Tetsuya memergokinya, dan marah besar. Ya, mengingat luka yang dialami Tetsuya menganga lebar, sudah jelas bagaimana ekspresinya sekarang.
"Tapi ibu dan ayah Kei tahu Kei kesini?"
"Enggak. Ayah ngejal, tapi Kei nggak belenti."
Midorima menghela nafas, "Sebelum papa bantuin, Kei harus paham. Jangan kesini sendiri. Bahaya."
"Kei kan pintal."
"Iya, pintar. Tapi kan Kei masih kecil. Biar papa yang jemput kalau Kei mau kesini."
"Ung. Gomen."
"Kei, ibumu sudah melarang kau bertemu ayahmu, kenapa kau langgar?"
"Kei.. mau ketemu ayah. Ayah seling duduk didepan TK Kei. Kei mau tahu. Telus ketemu. Ibu dan ayah tengkal. Kei takut." Lalu isakan kembali terdengar, "Kei mau baikan."
Pelukan dipererat. Yah, keegoisan kedua orangtua pasti akan punya dampak buruk bagi anak.
To be continue.
AN :
Guest abis itu saya yang baper liat mereka pisahan :') Guest saya jugaa :') Guest, RedBlueKun21, SoraTsuki Maaf yaa udah menunggu^^ Kuro enggak. Plotnya udah saya susun. Dan enggak ada perubahan. Kei tetap punya Papa dan seterusnya. Jadi mau reader komen bagaimana, nggak ada perubahan dari susunan plot yang udah saya susun dari Juli 2017 B) L Maaf yaa, udah saya susun ceritanya^^ Mayuzumi Tetsuya Ya gimana ya, pas dibikin OS katanya nggak mau OS mulu :') mattchachin Terimakasiih, maaf ya udah nunggu :) CBX denger nggak ya? Hehe Anime fic fans, kjhwang Maaf ya udah nunggu :)
Yang pakai akun udah saya bales lewat PM^^
Astaga, update terakhir April kemarin? 2018 beneran deh saya nggak seproduktif 2017 :(
Ya, semoga di 2019, bisa lebih baik^^
So, Happy Birthday Tetsuya!
Langgeng terus sama Babang Sei :*
Terimakasih sudah membaca!
Sign,
Gigi.
PS : Udah tahu siapa Papa Kei, kan? Tapi saya nggak tipo loh dulu pas bilang rambut Papa Kei warna kuning^^
