Previous Chapter: Kyuhyun menyatakan perasaannya pada Sungmin, dan akirnya mereka pun jadian.
"Ne, datang saja ke kampusku. Aku akan menunggumu," ujar Sungmin pada seseorang yang sedang menghubungi ponselnya. Sungmin mengakhiri percakapan ponselnya.
"Bisa kau jelaskan padaku, siapa yang baru menghubungimu?" tanya Kim Kibum, menggantung makanan yang hendak disuapnya.
Sungmin, orang yang ditanya malah senyum-senyum sambil mengangkat bahunya. Lalu meminum hingga setengah minumannya.
Kibum menyuapkan makanannya lalu matanya memincing memperhatikan Sungmin yang sekarang sedang memperhatikan ponselnya sambil tersenyum. "Ada yang kau rahasiakan, eoh?" tanya Kibum semakin penasaran. "Belakangan ini kau terlihat berbeda. Cara berpakaianmu, riasan wajahmu, dan kau lebih ceria."
Sungmin menganggukkan kepalanya, senyum masih belum lepas dari bibirnya.
"Apa namja itu? Namja yang waktu itu memintamu berdandan cantik dan mencium keningmu. Apa benar dia?"
Sungmin mengangguk lagi. Senyumnya sudah berubah menjadi tawa kecil.
Kibum bergidik ngeri melihat tingkah sahabatnya yang seperti sedang kerasukan. "Mudah sekali kau berpaling dari Heecul oppa," Kibum kali ini mempoutkan bibirnya. Ia masih tidak terima bahwa yang sebenarnya dicampakkan dalam hubungan Sungmin-Heecul adalah pangeran idolanya.
"Namanya Kyuhyun. Dia sangat berbeda dengan pangeran kodokmu itu," senyum Sungmin memudar karena pembicaraan mereka mulai menyerempet pada mantan namjachingu-nya yang sudah membuatnya malu di depan banyak orang.
Kibum mengelap mulutnya dengan tisu setelah memastikan tidak ada yang tersisa dari makan siangnya kali ini. "Berbeda? Apanya yang berbeda?"
"Dia itu…" Sungmin mengisyaratkan agar Kibum mendekat ke arahnya. "Masih siswa kelas sepuluh senior high-school," ujar Sungmin sambil berbisik.
"Mwo? Masih sekolah? Jadi kekasihmu sekarang berondong?" Kibum yang kaget refleks sedikit berteriak. Beberapa orang yang mendengar suara Kibum menengok ke arahnya. Sungmin sendiri sudah memelototi Kim Kibum. "Ups, mian. Aku keceplosan," Kibum nyengir dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"JADI KAU BERSELINGKUH DENGAN NAMJA YANG USIANYA LEBIH MUDA DARIMU?!" Suara menggelegar itu terdengar ke seluruh penjuru kantin kampus yang sedang penuh karena sekarang memang jam makan siang.
Sungmin dan Kibum menoleh bersamaan.
Sungmin tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Tidak hanya Sungmin yang mendengar teriakan itu, tapi juga semua pengunjung kantin sudah mendengarnya. Sungmin lebih tidak percaya dengan siapa yang sekarang berdiri di dekatnya dan Kibum.
Heecul.
"Sebaiknya kita pergi dari sini," ajak Sungmin bersiap dengan tasnya.
"Waeyo? Kenapa melarikan diri? Semua sudah tahu kalau kau memutuskan hubungan kita karena kau berselingkuh dengan namja yang lebih muda darimu. Iya kan?!" Heecul masih bekoar-koar dengan volume suara yang sengaja dibesar-besarkan agar terdengar oleh orang-orang di sekitar mereka.
"Kalian semua dengar, Lee Sungmin, mahasiswi teladan yang selalu mendapat nilai terbaik di kampus ini ternyata penyuka namja yang usianya lebih muda. Alias BERONDONG!" Heecul tertawa keras. Sementara wajah Sungmin sudah sangat merah. Lebih dari malu, Sungmin sudang menahan amarahnya.
BRAKKK.
Hening. Mereka menoleh karena suara gebrakan pada meja yang tiba-tiba dilakukan Kibum.
"YAA! Memangnya kenapa kalau Minnie lebih memilih namja yang usianya lebih muda darinya?!" teriak Kibum tidak kalah kencang. Kim Kibum akhirnya bisa melihat dengan mata kepala sendiri bahwa pangerannya yang selama ini diidolakannya tidak sebaik yang ada dipikirannya.
"Asal kau tahu, Lee Sungmin tidak pernah berselingkuh. Harusnya kau sadar bahwa sikapmu selama ini tidak baik padanya. Lagipula namja itu jauh lebih baik darimu. Tidak seperti kau. Pangeran kodok berbulu domba! Aku bersyukur Sungmin memutuskan hubungan kalian. Kita pergi dari sini, kajja, Minnie."
Sungmin baru saja akan mengikuti langkah Kibum, sampai ia tersadar akan sesuatu dan kembali berbalik arah menghadap Heecul. Sungmin tersenyum pada Heecul. "Ini untukmu, Tuan Kim…"
BYUR.
Sungmin menumpahkan sisa minuman berwarna oranyenya tepat di wajah Heecul. "Kita satu sama sekarang. Lebih baik segera bersihkan dirimu, dan kita lupakan semua yang terjadi di antara kita. Aku sudah memaafkanmu, dan mianhe," ujar Sungmin sebelum ia benar-benar meninggalkan Heecul yang masih terkaget-kaget bersama seluruh pengunjung kantin yang sama kagetnya.
"Jinjja? Kau serius?" tanya Kyuhyun saat dirinya dan Sungmin sedang berada di sebuah kedai teh.
Selama hampir dua minggu mereka jadian, selama itu pula masa ujian Kyuhyun. Setiap selesai ujian, Kyuhyun akan bertemu Sungmin untuk belajar mata pelajaran yang akan diujiankan esok harinya. Entah di perpustakaan, di taman, atau di kedai teh seperti hari ini.
Sungmin menganggukkan kepalanya. "Sahabatku, Kim Kibum, meneriakinya tepat di wajahnya," Sungmin sedang menceritakan kejadian yang dialaminya saat di kantin siang tadi. "Lalu sebelum kami pergi, aku menyiramnya dengan sisa jus jeruk yang ada di gelasku."
Dahi Kyuhyun terlihat mengerut. Tangannya yang sedang menggenggam pensil pun mengeras. "Padahal sudah kuperingatkan agar tidak mengganggumu lagi. Apa perlu aku memberinya pelajaran lagi?"
"Kurasa dia sudah cukup kapok," Sungmin menggenggam tangan Kyuhyun, ketegangan jelas jauh berkurang. "Lagipula, Kyunnie, kau seharusnya konsentrasi saja pada pelajaranmu!" Sungmin membawa genggaman tangan Kyuhyun pada kertas soal yang sedang dikerjakan Kyuhyun. "Ini!"
"Arraseo, Minnie," Kyuhyun menggaruk rambutnya yang tidak gatal dan kembali mengerjakan soal-soal sejarah yang memang akan diujiankan besok.
Setengah jam kemudian Kyuhyun baru menyelesaikan soal-soal sejarahnya. Baru saja ia akan meminta koreksi jawaban dari guru sekaligus kekasihnya, saat kepala Sungmin terkulai di bahunya.
Sungmin tertidur. Wajahnya tenang dan damai.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan. Pasti Sungmin bosan menungguinya mengerjakan soal-soal. Kyuhyun terdiam, ia membiarkan Sungmin tertidur di bahunya. Hingga hampir satu jam berlalu, saat langit yang tadinya biru mulai menggelap. Saat itulah otot-otot Kyuhyun mulai kaku dan kram.
Sungmin dan Kyuhyun sedang berjalan beriringan. Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain.
"Kenapa kau tidak membangunkan aku saja? Kita jadi pulang larut begini kan?" tanya Sungmin.
Sungmin cukup terkejut saat bangun tidur tadi. Dilihatnya pengunjung kedai yang lebih jauh lebih ramai dari saat ia mulai merasa mengantuk tadi. Sudah jam pulang kerja, pantas saja banyak orang berseragam kantor di sekitarnya. Sungmin lebih terkejut lagi saat menyadari kepalanya bersandar di bahu Kyuhyun yang sedang meringis seperti menahan sakit. Rupanya sudah lebih dari satu jam Sungmin tertidur di bahu Kyuhyun sampai-sampai Kyuhyun kram.
"Kau saja yang tidur terlalu nyenyak," Kyuhyun masih melemaskan bahunya yang masih sedikit kaku.
"Benarkah?"
Kyuhyun mengiyakan. "Tidurmu bahkan sampai mendengkur. Dan ini, liurmu sampai membasahi bajuku," lanjut Kyuhyun.
"Yaa!" Sungmin melepaskan genggamannya. "Mana mungkin aku tidur seperti itu."
"Aku bercanda, Minnie. Jangan marah lagi, ne?" Kyuhyun menarik lagi tangan Sungmin ke dalam genggamannya. Seakan tidak mau terpisah terlalu lama.
"Menyebalkan sekali."
"Cemberut lah terus. Kau semakin cantik kalau sedang cemberut seperti itu," Kyuhyun malah menggoda Sungmin. Pipi Sungmin jadi memerah karena ulah Kyuhyun.
"Cih. Kau malah menggodaku sekarang," Sungmin berusaha bersikap tenang meskipun detak jantungnya bekerja cepat.
Sungmin dan Kyuhyun sampai di depan gedung flat Sungmin. Menandakan waktunya mereka untuk berpisah. Mereka berdiri berhadapan, kedua tangan mereka bertautan seolah menentang waktu agar berhenti saat itu juga.
"Dengar chagiya, lain kali kau jangan mendengar ucapan mantan namjachingu-mu itu atau orang lain. Hanya cukup dengarkan aku. Aku mencintaimu, tidak peduli berapa pun usiamu atau usiaku. Aku akan membuktikan kalau aku bersungguh-sungguh dan tidak sedang main-main. Arraseo?"
Sungmin menganggukkan kepalanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan terus mempercayai Kyuhyun, selamanya.
"Oh iya, besok adalah hari terakhir ujianku. Aku ingin kau menungguku sepulang kau kuliah di halte dekat perpustakaan. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Ke mana?"
"Kau akan tahu besok. Sekarang masuklah, kau bisa kedinginan kalau terus di luar," pinta Kyuhyun.
"Ne, hubungi aku kalau kau sudah sampai rumahmu dengan selamat."
"Kyunnie, sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Sungmin entah sudah yang ke berapa kalinya sepanjang perjalanan yang entah ke mana ini. Sementara Kyuhyun masih belum menjawabnya.
"Aku akan mentraktirmu. Tentu saja karena kau sudah membantuku menyelesaikan ujianku," ujar Kyuhyun masih berteka-teki.
"Kalau hanya ingin mentraktir, kenapa kau tidak bilang kita akan ke mana," Sungmin sungguh penasaran.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bilang hanya ingin mentraktirmu. Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang."
"Nugu?" Sungmin mulai resah.
"Yeoja yang sama cantiknya denganmu," jawab Kyuhyun santai.
"Yaa! Kau mau mengenalkan aku pada pacar barumu, eoh?" Sungmin menghentakkan tangan Kyuhyun yang dari tadi menggenggamnya.
"Ani, chagiya babo."
"Lalu siapa? Murid pindahan yang cantik seperti di cerita televisi, begitu?" tebak Sungmin asal.
"Tentu saja bukan. Kita akan ke restoran keluargaku. Aku hanya ingin mengenalkanmu pada umma."
"Ooh..." Sungmin lega mendengarnya. "Ternyata um... MWO? Umma-mu?" Sungmin baru dengan jelas mencerna kata-kata Kyuhyun.
Sungmin menghentikan langkahnya. Wajahnya terlihat seperti orang yang baru saja dipecat dari pekerjaan.
"Wae? Kenapa kau kaget begitu?"
"Yaa! Kenapa tidak bilang dulu sebelumnya? Ottokhae?" Sungmin mulai menyentuh tengkuknya.
Kyuhyun sendiri heran melihat Sungmin yang tiba-tiba panik. "Memang kenapa?"
"Yaa pabbo! Aku belum siap. Bagaimana sekarang penampilanku? Bagaimana kalau umma-mu tidak suka padaku. Bagaimana kalau... kalau... Waeyo?" Sungmin bahkan tidak berani melanjutkan bayangan-bayangan buruk yang mungkin terjadi.
"Apa yang kau khawatirkan? Umma-ku bukan monster," Kyuhyun mencoba menghibur dengan candaan. Tapi candaan itu malah membuat kepanikan Sungmin menjadi kekesalan.
"Apa menurutmu ini tidak terlalu cepat?"
Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya. "Terlalu cepat? Menurutku ini terlalu lama. Seharusnya aku mengenalkanmu di hari kita jadian. Hanya saja aku harus menyelesaikan ujianku dulu," pendapat Kyuhyun malah menambah kepanikan Sungmin.
"Kyunnie, bagaimana kalau besok saja?" tanya Sungmin sambil mengedip-ngedipkan mata besarnya. "Setidaknya biarkan aku memantaskan diri dengan pakaianku," Sungmin mencoba merayu Kyuhyun.
Kyuhyun menggeleng. "Sayangnya kita sudah sampai," Kyuhyun menunjuk ke belakang Sungmin dengan dagunya.
Sungmin membesarkan matanya sebelum akhirnya mengerjapkannya berkali-kali. Perlahan ia membalik badannya.
"Nah Lee Sungmin, selamat datang di restoran keluarga Cho. Kajja," Kyuhyun menarik tangan Sungmin memasuki restoran yang khusus menjual masakan Korea cepat saji itu.
"Ta... tapi Kyu," ucap Sungmin yang teracuhkan.
TBC
Cerita ini akhirnya aku lanjutkan. Terima kasih untuk readers yang sudah memberikan saran. :)
