Cost Catch Love
[Holiday]
Vocaloid © Yamaha Corporation
CN Scarlet
[Friendship, Humor, Romance]
.
.
.
.
.
Hatsune Miku Point of View
.
.
.
"Masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah.."
Itu tergantung bagaimana kau menilainya
-Mikuo Hatsune-
::
Keributan di malam minggu terjadi dalam Gakkupou House untuk pertama kalinya, Meiko Sakine menyeret Kamui Gakupo dari restoran Vocaloid. Seluruh penghuni rumah bersiap dalam waktu setengah jam untuk berlibur besok. Kamui terus menggerutu kenapa harus besok, awalnya, dia terus mengeluhkan acara televisi Icha-Icha Paradisse yang selalu ditunggunya itu tapi begitu mendengar kata 'pantai' pria itu langsung cenghar.
Meiko membagi tugas padaku, Lily, Mikuo dan Kaito, agar mencharter beberapa kursi JR Keishin Tohoku atau JR Yamanote Line terakhir dari stasiun Tokyo sebelum penuh sesak sementara mereka bersiap atau di perjalanan. Untunglah Kamui punya cara. Dia, Meiko, Luka, Rin dan Len Kagamine beserta seluruh barang bawaan bisa sampai di sana tepat sebelum kereta kedua dari terakhir benar-benar berangkat dengan menumpang mobil sayuran milik restoran Vocaloid.
"Len-kun hati-hati di jalaaaan!" Kaai Yuki, anak pemilik restoran yang akrab dengan para supir dan senang jalan-jalan bersama mobil sayuran itu melambai-lambai dari balik tumpukan wortel.
Cowok bermarga Kagamine yang turun belakangan itu melambai canggung pada pantat mobil sayuran yang kini pergi meninggalkan stasiun Tokyo. Kami lalu bergegas menuju salah satu Keinshin Tohoku, yang mana, Lily melambai dari pintu. Barang-barang tentu dipercayakan kepada para laki-laki setelah diabsen ulang olehku dan Kamui, lalu dilempar ke bawah kursi.
Kereta ini melaju menuju stasiun Shinbashi lalu ke Yurikamome Monorel, kami turun di stasiun Daiba pukul 9 malam. Len dan Rin Kagamine sudah lima watt matanya, bertumpu pada kedua sisi lengan Kaito. Aku tersenyum melihatnya. Pria berambut azure itu terlihat seperti ayah dengan dua anak.
"Maaf tuan dan nyonya Gakupo, tapi hotel kami sudah sangat penuh malam ini." kata seorang reseptionis wanita di meja depan lobby hotel Odaiba begitu kami semua sampai. Kamui dan Meiko yang paling tua, memimpin barisan penghuni Gakkupou House disangka sepasang suami istri olehnya.
"Nona manis, kami semua adalah tamu undangan pemerintah untuk berlibur tiga hari di sini. Bukankah di tiket ini disebutkan kalau kami semua menginap di hotel Odaiba ini?" Kamui mengatakan itu dengan nada biasa, wajah sok tenang, sambil memamerkan sehelai tiket couple.
Nona reseptionis itu juga tersenyum ramah. Jelas aku merasakan laser-laser kekesalan yang memicu pertengkaran dalam alam bawah sadar mereka, kira-kira seperti itulah suasana mencekam di sini jika aku jabarkan. "Tapi tuan_"
"Maafkan aku nona, tapi bisa kau datangkan langsung manajer hotel ini? kami sangat kelelahan dan aku tidak percaya betapa tidak konsistennya pelayanan di sini sehingga kami semua yang sudah memesan hotel dari jauh hari harus kecewa malam ini."
Aku maju mengambil alih tempat diantara Kamui dan nona reseptionis yang memandang aneh padaku, berusaha bersikap tenang. Seluruh rombongan Gakkupou House, kecuali Mikuo, menatap ragu padaku. Terutama saat mendengar aku mengatakan " nona, panggilkan manajermu atau kau akan dipecat karena telah mengusir pemesan kamar suite dengan view terbaik Odaiba hotel malam ini." pada reseptionis cantik itu.
"Maaf, tapi dengan siapa saya berbicara?"
"Iroha, Mrs. Nekomura Iroha."
Keadaan hotel langsung berubah seratus delapan puluh derajat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau hebat Miku, bagaimana caranya kau tahu kalau Iroha Nekomura juga akan menginap di sini?"
Mikuo dan Kamui begitu cerewet begitu kami memasuki wilayah VVIV hotel, sedangkan Rin dan Len sudah ribut begitu melihat ranjang king size besar bertabur kelopak mawar di dalam. Keduanya langsung loncat dan tidur di sana. Meiko dan Luka menyusul kemudian, sedangkan aku harus meladeni lima orang penasaran sambil membereskan barang-barangku.
"Iya loh, Iroha-san kan pemenang kontes kucing se-Jepang itu?" Lily yang paling tertarik, terus memutar pertanyaan yang sama.
"Dan lagi, kau sampai tahu kamar hotel juga jadwalnya. Bagaimana bisa?"
"Apa yang kau lakukan sampai bisa begini?"
"Hei gadis daun bawang, bagaimana bisa kau bisa memblokir hotel..."
"...pssst!" aku menginterupsi pertanyaan yang hendak dilontarkan Taito, sembari mengeluarkan sebuah benda lipat warna pink dari tasku. "Tadaa!..." ucapku riang.
"Ya ampun, itu kan punyaku! Bagaimana bisa kau membawanya?"
Megurine Luka jelas kaget melihat laptop pink miliknya, yang pernah kupakai untuk merentas CCTV Gakkupou House tempo hari, kini ada di tanganku. Kelima orang penasaran bertambah menjadi enam. "Gomenne senpai, aku punya firasat akan membutuhkan benda ini, jadi kubawa saja. Lagipula Luka-senpai juga ikut, hehe..." kataku tanpa rasa bersalah.
"Mattaku.." Mikuo melemparkan diri ke atas kasur, aku tahu dia pasti akan bilang..
"Sudah kuduga dia meretas database hotel. Ck, dasar adik bodoh!"
"Simpan kecemasanmu itu Mikuo-nii, aku sudah memastikan kalau Iroha-san tidak akan datang hari ini ke Odaiba. Jadwalnya diubah. Asistennya akan menelpon pembatalan reservasi besok lusa, dan kita sudah tidak ada di sini hari itu. Aku sudah memastikan semuanya akan aman sampai kita kembali ke barat Tokyo." Jelasku sembari menyimpan kembali laptop Luka ke tempat semula, lalu melegang menuju toilet untuk memenuhi panggilan alam.
Sekilas, aku bisa mendengar mereka membicarakanku di belakang.
"Mikuo-san, adikmu penuh kejutan!"
Dan aku hanya bisa terkekeh mendengar pendapat Kaito Shion diantara seluruh pembicaraan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi hari di pantai Odaiba, matahari begitu terik menembus kaca besar yang menampilkan pemandangan lautan Jepang. Kami semua tidur nyenyak berjejer seperti ikan makerel dalam kaleng di kulkas Kamui. Tak bebas bergerak, tentu badanku kebas semalaman tidur dalam posisi yang sama. Entah bagaimana posisiku, juga yang lainnya, aku terlalu lelah sampai tidak merasakan panggilan alam tadi malam tapi yang pasti, sensasi tidur hangat-hangat sesuatu seperti ini, sensasi yang... terlalu...
"Umhh... hentikan itu Len, h... krr..."
Dè jàvu.
"MIKUO KICKKKK!..."
BUAGH!
"Kyaaa..."
Begitu bangun aku langsung sadar berada di atas karpet tebal di seberang ranjang dengan Kaito yang tidak jauh beda. Kalau aku merasakan kaget yang luar binasa, Kaito Shion merasakan sakit di pinggul dan punggungnya juga. Ya, kami rupanya tidur berpelukan (lagi) semalam dan tadi Mikuo Hatsune menendang pantat pemuda berambut azure itu sampai kami bersalto ke seberang.
"ANIKI!.." jeritku tak terima, dia berkacak pinggang sambil menatap laser Kaito yang sedang melakukan adaptasi paginya. Dua alasanku. Pertama, kaget. Shock. Reuwas. Kedua, yah... it's, shamefull, don't say!
Aku masih betah tau!
Dasar. Aniki. Jahaaaaaad.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hoi!"
"Dapat!"
"Oper Taito-kun!"
"Strike!"
Meiko, Luka, Len, Rin dan Taito sedang bermain volley di pinggir pantai. Ini memang hari minggu tapi bukan hari libur panjang jadi keadaan pantai Odaiba lumayan sepi ukuran tempat wisata terkenal se-Asia. Aku jalan-jalan saja menikmati hangatnya mentari pagi dengan memakai bikini biru polkadot yang dibelikan aniki di balik cardigan tipis warna putih. Aneh memang, tapi aku tetap tidak percaya diri dengan ukuran.
"Whooaaa..."
Langkahku terhenti pada sebuah tempat dimana berjejer teropong-teropong bintang di teras kayu yang condong ke laut, dimana, seorang Kamui Gakupo menggunakan salah satunya. Rambut ungu pak tua itu panjang diikat pita merah rapi di puncak, lalu berkibar tertiup angin. Memakai kemeja tipis gambar bunga sepatu dan kolor senada, sambil bergoyang-goyang mesum, menyapu pantai Odaiba dengan teropong bintang. Sambil bilang "oppai-oppai-oppai!"
"Kamui-jii!" teriakku tepat dalam jarak setengah meter ke kupingnya, Kamui langsung memutar teropongnya ke arahku dan aku langsung bersedekap. Tinggal dalam Gakkupou House beberapa minggu sudah cukup membuatku paham kebiasaan orang mesum sejenisnya.
"Whoa, Miku-chan!" akhirnya dia mendongkak, melihatku dengan mata normal non-teropong, tapi tatapannya itu tetap mesum. Ck! Masih bersedekap, aku hendak mengatakan sesuatu tapi dia keburu bilang "mencari Kaito? Tuh dia sedang mengantri eskrim khas Odaiba di sebelah sana, sebentar lagi juga kemari. Tunggu saja di sini!"
Sambil dipelototi olehmu? Idih, ogah!
"Kamui-jii, aku mencari Mikuo. Mikuo Hatsune, kakakku yang setinggi ini dan punya rambut jabrig sewarna rambutku, kau lihat tidak dia dimana?" tanyaku secara mendetail. Dia malah tertawa.
"Aku kenal Mikuo kok, dia tadi pergi bersama Lily ke toilet. Sepertinya hendak melakukan... hei, Miku!"
Aku tahu hal kotor apa yang akan dia katakan selanjutnya, jadi aku mengantisipasi hal itu dengan segera pergi sejauh mungkin dari Kamui. Melalui kedai eskrim tersohor, dimana Kaito Shion berkolor yang, duh, seksi! Sedang mengantri di urutan kedua, lalu berbelok menuju hotel. Kamui sepertinya kembali pada kegiatan mesumnya di tempat itu. Dia tidak mengikutiku.
Tapi saat melewati taman yang benar-benar sepi, seseorang menarikku!
Rambutnya berwarna orange seperti jeruk dengan beberapa helai yang diwarnai merah darah, lalu seorang lagi laki-laki aneh dengan kacamata. Keduanya sama-sama mempunyai mata berkilat seperti punya Kamui, mesum. Aku hendak berteriak, tapi laki-laki berkepala orange itu membekap mulutku dengan saputangan.
Aku langsung berpura-pura pingsan. Mereka menarikku menuju toilet dibalik kedai eskrim yang sangat sepi. Aku berusaha tidak bernafas, dari suhu saputangan kain handuk itu yang lembab, ada banyak obat bius di sana. Jantungku langsung memacu adrenalin ketika kedua kakiku terdorong kuat memasuki tempat lembab itu, aku sangat takut.
BRUUKKK...
Tubuhku terhempas di pojok ruangan, dimana aku bisa melihat pintu keluar yang tidak tertutup sempurna dari balik bulu mata. Kemungkinan sangat tidak menguntungkan bagiku jika gegabah sekarang, siapa tahu diantara mereka ada yang membawa senjata.
BREEEETT...
Salah satu dari mereka merobek paksa cardiganku.
"Klik!"
Sial, itu suara kamera.
"Hahaha, dobe... kita dapat gadis yang sangat cantik!"
"Kerja bagus Teme!"
Sepatu kuning, milik si kacamata itu menendang pelan pinggangku. Membuatku terlentang di lantai yang dingin dan basah.
"Huh, sayang sekali dadanya tidak sesuai harapan!"
Brengsek! Sudah menculikku seenaknya, mengejekku pula. Aku bersumpah akan melakukan apapun untuk membuat kedua orang sableng ini membusuk di dasar neraka dunia. Oh Tuhan, tolonglah aku.
"Hei kalian..."
Yokatta!
Seseorang masuk ke dalam toilet ini di waktu yang tepat. Aku langsung bangun dan menemukan Kaito bersama eskrim tiga tumpuknya, berkacak pinggang. Dia melirik kamera yang ada di tangan si kacamata, kedua pria itu, lalu kearahku, dan kembali mendeathglare kedua orang itu.
"Miku... hei, kalian kau apakan dia?" bentaknya lagi.
"Hei bocah. Lalu apa urusanmu heh, dia pacarku tentu saja kami akan bersenang-senang di sini, apa masalahmu heh?" si kacamata songong itu, eskrim tiga tumpuk langsung mendarat di wajahnya sebelum dia mengoceh lagi.
"APA YANG KAU LAKUKAN, BOCAH?!"
"BRENGSEK, DIA PACARKU!"
Perkelahian dimulai. Aku menahan diri untuk tidak terbawa perasaan senang saat Kaito teriak tadi. Kamera jahanam itu tergeletak begitu saja dengan semberononya di hadapanku, aku langsung memanfaatkan keadaan sebaik-baiknya untuk merampas memory kamera itu, sementara pemuda berambut azure itu membereskan mereka semua.
"Kau... tidak.. kenapa-napa.. kan?" tanya Kaito sembari terengah-engah. Dua orang itu sudah terkapar, aku mengikatnya dengan wastapel lalu kuletakkan kamera tanpa memory itu di atas pucuk kepala keduanya.
"Terimakasih yah, Kaito.."kataku, kami berjalan keluar dari tempat itu menuju bagian depan bangunan untuk meminjam telepon, menghubungi polisi. Sedangkan Kaito hendak membeli eskrim pengganti yang tadi. Kami berjalan sampai dibawah rimbunan pohon kelapa, dia menyentuh pundakku.
"Hei Miku, apa kau tidak punya rasa takut?"
Aku menoleh heran kearahnya, "memang kenapa?"
"Ck!" dia melahap eskrimnya dengan cepat, seolah memakan permen kapas, lalu membentak "kau itu diculik, nyaris diperkosa dan mereka nyaris membuat video telanjangmu tadi. Bodoh!" Kaito tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya, "... bahkan kau tidak melawan, tidak berteriak, atau melakukan apapun selain pura-pura pingsan!"
"Yah, aku sangat takut tadi.." aku membalas pelukannya, "mereka bersenjata. Mereka membiusku dengan cairan bius yang sangat banyak, aku bahkan tidak bisa bernafas. Aku berfikir sangat keras untuk melarikan diri, namun aku terlalu lemah..."aku terisak, Kaito Shion membelai kepalaku pelan.
"Setelah ini berjanjilah, kau tidak akan pergi kemanapun tanpaku!"
Rombongan polisi datang membuat keributan terjadi di belakang kedai eskrim Odaiba. Dan rombongan Gakkupou House dengan pimpinan Kamui menyerbu kami berdua. Pagi sampai siang ini Mikuo Hatsune tak berhenti bertanya pada Kaito Shion pasal acara peluk-pelukanku tadi. Poor Kaito.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari kedua di pantai Odaiba, Kaito menyeretku ikut ke kedai eskrim lalu terus mengekori kemana aku pergi. Melihat kami nampak selalu berdua sejak keluar kamar membuat Mikuo keppo, si kembar Kagamine menjadi penguntit, dan Lily seperti papparazzy. Kamui-ji i selalu muncul dan berdeham dimanapun, bersama Meiko Sakine. Mereka tak melepaskan kami seharian.
Hanya Taito Shion dan Megurine Luka yang benar-benar menikmati hari berduaan saja. Mereka membuatku ekstra menahan diri agar tidak berteriak iri pada hamparan laut Jepang, bahwa aku juga ingin berduaan dengan Kaito di pantai Odaiba. Dia sendiri yang bilang, selama memakai tiket pasangan itu, aku tidak boleh membiarkannya sendiri seperti jomblo-jomblo yang dibicarakan aniki tempo hari.
"Yosh, imouto!" wajah Mikuo menghalangi pandanganku dari pria azure yang diseret Ren, Meiko, Rin, Lily dan Kamui untuk diceburkan ke perairan dangkal. "Aku sudah membelikanmu dua bikini lucu, kenapa kau masih memakai baju kumal itu sih?"
"Aku memakainya kok!" sanggahku tak terima. Memang apa salahnya, pakaian yang kupakai memang T-shirt super longgar tipis dengan sablon kampanye konser band di punggung, bukannya baju ini juga darinya?
"Kalau begitu lepas baju longgar itu!" dia menarik kaosku, dan aku masih bersih keras mempertahankannya. Kamui terkutuk. Beraninya pria berambut ungu itu menularkan penyakit hentai-nya pada Mikuo-nii!
Kami main tarik ulur sampai aniki memenangkan T-shirt itu, dan aku langung berbikini. Warnanya pink dengan motif bunga-bunga kuning, ada renda di sekitar dada dan juga pinggang, membuat area 'sana' terlihat agak menonjol dari yang seharusnya. Len Kagamine berteriak heboh dari segerombolan orang yang tertawa di sebelah sana.
"Whoaaa, Kaito, kau mimisan!"
.
.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
TBC
A/N: Hoi, makasih banget sama yang udah favfav, follfoll, readread, dan reviewreview CCL dari awal sampai episode ini. nyaohoho...
Aku sangat senang baca pendapat kalian tentang ini semua, walau, aku sendiri sering senyam-senyum gaje baca fic ini dari awal. Hontou nii, gomenne udah buat kalian kesel karena fic menyebalkan ini keseringan updet. Iya loh, baru kemarin banget aku updet dan sekarang udah nongol lagi, nggak kurang kerjaan gimana ya diriku? #ampyunbeib!
Maaf banget ya, sebenarnya aku pernah mengikuti faham bales review di story, tapi aku keki sendiri begitu baca ulang di situs dan ternyata bagian author note jadi kepanjangan. Bukan bermaksud songong, tapi jujur, aku sendiri suka sebbel sendirian kalau mau ganti chap setelah story, yang di scrool kebanyakan. Maklum, baca lewat handphone lama.
Aku sendiri nggak tau ini fic tamatnya kapan. Aku selalu fansgulingan setiap nulis di setiap chapternya, dan itu merupakan kesenangan sendiri untukku pribadi. Kuakui mungkin untuk chapter ini idenya supppeeeerrr pasaran banget banget berad bengatss... yups yups yups, tapi tanpa adegan diatas, kebawahnya nggak bakalan seru menurutku. Sabar ya minna-san...
Ditunggu ya RnR nya!
Kalian yang bias di fandom ini nggak pada sombong 'kan?
.
.
.
.
CN Scarlet
