Chapter 10
.
.
.
Sudah satu bulan sejak pemaksaan Naruto untuk mengikuti olimpiade mewakili sekolahnya. Namun dengan berbagai cara akhirnya Naruto tidak terpilih menjadi perwakilan sekolah dan itu melegakan bagi Naruto.
Hanya saja Sasuke tak berhenti mengganggunya sejak saat itu. Ia selalu memaksa Naruto untuk menjadi kekasihnya. Dan tentu saja Naruto menolak.
Tidak hanya Sasuke, tetapi Siugetsu mantan dari kakak sepupunya juga terus mengejarnya. Seperti saat ini.
"Naru-chan aku mohon dengarkan aku dulu" Suigetsu terus mengejar Naruto yang memcoba menghindarinya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi senpai, apa yang aku lihat sudah cukup untuk membuktikan semuanya" Naruto sungguh jengah dengan kekeras kepalaan Suigetsu.
"Tentang benang merah itu? Yang benar saja Naru-chan, jika kau tak memberiku kesempatan benang itu tak akan pernah terikat di jari kita" Suigetsu kini berhasil menghentikan langkah Naruto dengan berdiri didepannya.
"Jika memang seperti itu cara kerjanya, maka dulu aku akan melihat sebuah benang rapuh yang mengikat jari milikmu dengan Karin-neesama" Naruto berucap sinis.
"Mungkin saja kau memang tak dapat melihatnya Naru-chan, aku mohon beri aku kesempatan maka aku akan membuktikan rasaku yang tulus ini" Naruto menatap tajam Suigetsu. Ia sedikit banyak tersinggung dengan ucapan Suigetsu.
"Kau meragukan kekuatanku?"
"Semua orang meragukannya sayang, tetapi aku tetap mencintaimu" Suigetsu terus berusaha merayu Naruto.
Naruto mencoba tidak peduli. Ia mengindahkan suatu rasa asing yang hinggap dihatinya. Entah mengapa dadanya serasa tercubit sakit. Ini adalah pertama kalinya Naruto rasakan.
"Beruntung Karin-neesama tak terikat denganmu" Naruto menatap Suigetsu tak senang.
"Ya aku sangat beruntung tak terikat dengan playboy sepertimu Suigetsu" Karin berdiri menyilangkan tangannya di belakang Suigetsu.
Suigetsu menatap terkejut Karin. Ia tak menyangka akan bertemu Karin. Padahal ia yakin sebelumnya Karin sedang sibuk dengan teman-temannya.
Terdiam sebentar membuat Suigetsu mendapatkan sebuah ide. Ia menyeringai lalu mengambil tangan Karin. Ia mengangkatnya sejajar dengan wajah Naruto.
"Jika begitu Naru-chan, bagaimana dengan Karin? Apakah dia sudah terikat benang merahnya?"
Wajah Karin memerah, bukan malu tetapi marah. Ia sangat marah pada Suigetsu. Mengapa ia begitu lancang menanyakan hal peribadi seperti itu. Yah walaupun Karin tak menyangkal bahwa ia juga penasaran.
"Tentu saja..."
"Sudah"
Karin dan Suigetsu terkejut. Karin sangat tidak menyangka telah terikat dengan seseorang. Sebelas dua belas dengan Karin, Suigetsu jelas penasaran kepada siapa benang itu terikat.
"Karin-neesama telah bertemu dan terikat dengan benang takdirnya bahkan sejak kalian masih menjalin hubungan"
"APA!" Suigetsu sangat terkejut. Pikiran-pikiran negatif tentang Karin yang berselingkuh berputar-putar dikepalanya.
"Jadi maksudmu dia berselingkuh dariku dulu, begitu!" Suigetsu kehilangan kontrol emosinya. Ia bahkan menunjuk wajah Karin dengan telunjuknya.
"Jangan berbicara sembarangan! Aku tidak pernah berselingkuh dengan siapapun! Kau pikir aku wanita seperti apa HAH!" Emosi Karin juga ikut terpancing.
Naruto bingung harus berbuat apa. Melihat Suigetsu dan Karin yang bertengkar membuat kepalanya sakit. Mereka bahkan telah dikerumuni oleh siswa-siswi yang penasaran akan pertengkaran sepasang mantan kekasih tersebut.
"Kau benar-benar wanita murahan Karin, beruntung aku memutuskanmu dulu"
Kedua bola mata Karin seakan ingin keluar mendengar perkataan Suigetsu. Dengan amarah yang memuncak ia berjalan kedepan Naruto menghalangi pandangan Suigetsu pada Naruto. Tangannya terkepal siap menghajar Suigetsu. Sedang Suigetsu hanya tersenyum meremehkan.
"Cukup dengan sikap kekanak-kanakan kalian!"
Semua yang disana terkejut dengan sebuah suara baritone yang terdengar tegas. Dibelakang Naruto kini berdiri seorang Uchiha Sasuke, mantan seito kaichou KHS. Ia berjalan pelan menghampiri dua orang yang sedang panas karena terbakar emosi.
"Kalian berdua ikut aku, kalian harus mendapatkan hukuman karena telah berbuat keributan di lingkungan sekolah juga memberi contoh yang tidak baik pada seluruh siswa disini!"
Sasuke akan berbalik ketika tangannya di pegang erat oleh Suigetsu. Sasuke dapat melihat tatapan tajam diarahkan pada Karin.
"Tunggu Sasuke, aku ingin bertanya satu kali lagi pada adik dari perempuan jalang ini"
Suigetsu secara tiba-tiba mencengkram tangan Naruto erat. Ia tak peduli dengan raut ketakutan yang Naruto perlihatkan.
"Katakan Naruto siapa ujung benang merah kakak jalangmu itu"
Naruto menggeleng kuat, ia bahkan menunduk menhindari tatapan Suigetsu.
"Katakan Naruto!"
Naruto tetap menggeleng. Naruto mulai berontak ingin melepaskan diri dari Suigetsu.
"KA.. TA.. KAN!"
Naruto menggeleng lagi, kini lebih lemah. Air mata mulai berjatuhan tak terbendung. Ia ketakutan.
"BERHENTI KAU SIALAN" Karin memisahkan Naruto dari Suigetsu. Ia memeluk Naruto yang terus terisak.
"Apa yang kau lakukan pada Naruto, Sui. Jangan bawa-bawa dia dalam masalahmu dan Karin!" Sasuke menarik Suigetsu menjauh.
"Kalian semua berhenti! Cukup sampai disitu"
.
.
.
Deidara berlari menuju ruang guru setelah ia mendengar adik dan sepupunya terlibat pertengkaran. Ia tak habis pikir bagaiamana mungkin mereka bisa terlibat. Terlebih Naruto, adik bungsunya itu terlalu tenang untuk terlibat.
Deidara terpaksa menunggu didepan ruang guru. Ia tak ingin memperkeruh suasana. Ia akan sabar menunggu dan meminta penjelasan pada kedua adiknya tersebut.
Ketika pintu digeser, Deidara segera mengangkat kepalanya dan hanya melihat Naruto yang menangis sesenggukan di pelukan Sasuke. Deidara tertegun, wajah sedih itu belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Naru apa yang terjadi?"
"Dia merasa bersalah karena menyebabkan pertengkaran antara Karin dan Suigetsu" bukan Naruto yang menjawab tetapi Sasuke.
"Kau akan menceritakannya nanti secara detail bukan Uchiha?"
"Hn"
"Baiklah kalau begitu aku akan mengantarkan Naruto menuju ruang kesehatan, dia perlu istirahat"
Sasuke mengangguk menyanggupi perkataan Deidara. Dengan sedikit tidak rela, ia melepaskan pelukannya pada Naruto.
Deidara memeluk erat Naruto sambil menuntunnya. Ia hapus setiap tetes air mata yang keluar. Ia elus pelan rambut adiknya tersebut. Ia salurkan semuanya yang ia punya agar Naruto merasa tenang.
"Sudah tenang Naru, sudah jangan menangis lagi"
Deidara membawa pelan Naruto menuju ruang kesehatan diiringi isak tangis Naruto. Tak sedikit siswi yang penasaran mendengar tangisan Naruto.
.
.
.
Tidak biasanya Kyuubi tidak bersama Naruto. Sejak kejadian malam itu, Kyuubi seakan menjauhi Naruto. Ia terlihat cenderung lebih dekat dengan sulung Namikaze.
Saat ini ia menemani Kurama yang sedang mempelajari sejarah keluarga Namikaze. Kyuubi memilih bermalas-malasan didekat kaki Kurama. Ia baru saja akan tertidur ketika dengan tiba-tiba tubuhnya terangkat dan didudukkan di meja.
"Aku masih tak mengerti Kyuubi-sama, disini tak ada penjelasan apapun"
"Lalu?" Kyuubi menatap malas Kurama.
"Aku hanya ingin tahu, mengapa harus adikku yang kau pilih? Bukan maksudku mempertanyakan keputusanmu Kyuubi-sama" Kurama terlihat salah tingkah. Ia sangat bingung bagaimana menjelaskan maksudnya. Dan ini adalah topik yang sedikit sensitif.
"Tak apa aku mengerti" Kyuubi menatap Kurama dengan tatapan serius.
"Apa kau tahu bagaimana ayahmu menjadi ketua clan saat ini?" Kurama mengangguk. Ia sangat tahu sekali bagaimana dulu ayahnya menjadi seorang ketua clan. Diaman ayahnya menjadi ketua clan di usianya yang baru menginjak 16 tahun.
"Maksudku cerita kehidupan ayahmu sebelum menjadi ketua clan" Kurama berpikir sebentar sebelum menggeleng lemah. Ia tahu masa lalu ketua clan Namikaze sangat taboo untuk diceritakan. Karenanya tak ada yang mengetahui selain orang-orang yang hidup di masanya. Termasuk kehidupan masa kecil ayahnya.
"Sebenarnya dulu ayahmu tak bisa mendengar sejak kecil" Kurama terkejut mendengar penuturan Kyuubi.
"Kau tahu mengapa?" Kurama menggeleng tak mampu mendapatkan jawaban yang menurutnya pas.
"Karena aku memilihnya untuk memimpin clan maka aku mengambil pendengarannya untuk sementara"
.
.
.
Kiba dan Shikamaru berjalan cepat melewati lorong-lorong sekolah. Terlihat raut Kiba yang begitu khawatir. Tangannya terkepal berayun seiring dengan langkahnya yang cepat.
Ketika pintu ruang kesehatan terlihat didepan mata. Kiba segera berlari dan menggeser cepat pintu itu. Nafasnya terengah karena terburu-buru. Matanya meneliti setiap sudut ruangan mencari sahabatnya. Dan disaat netranya melihat seonggok badan bersurai pirang, ia segera mendekati untuk memeluk sosok tersebut.
"Naru kau tidak apa-apa?" Suara Shikamaru mengagetkan Kiba.
"Kiba? Shikamaru?" Naruto memandang kedua sahabatnya lemah. Air mata yang sebelumnya telah mengering kini kembali mengalir di kedua pipi mulus Naruto.
"Naru" Kiba mengangkat lembut kepala Naruto sehingga menatap dirinya dan Shikamaru.
"Ada apa?"
"Kenapa disini sakit Kiba?" Naruto mencengkram dadanya keras. Bahkan seragamnya berubah kusut karenanya.
Kiba menatap Naruto sedih. Ia tidak tega melihat sahabatnya sesedih itu. Ia bahkan segera membawa Naruto kedalam pelukannya, mencoba menenangkan.
"Apakah kau ingin berbagi Naru?"
"SHIKA!" Kiba membentak Shikamaru.
"Aku tak tahu Shika, aku tak tahu... Hiks" Naruto masih terus menangis dalam pelukan Kiba.
"Ketika aku melihat Karin-neesama saling berteriak dengan Suigetsu senpai, dadaku sakit"
"Lalu? Mengapa kau menangis Naru?"
"Sudah cukup Shika, biarkan Naruto tenang dulu" Kiba mengeratkan pelukannya, ia merasa kapan saja akan ikut menangis.
.
.
.
Kurama masih terus teringat akan pembicaraannya dengan sang dewa rubah. Ia tak mengerti mengapa rubah tua itu harus mengambil jalan yang begitu rumit.
"Yah kau benar aku terlalu berbelit-belit, tapi begini caraku melindungi calon pemimpin clan selama ini"
Kurama memandang datar Kyuubi. Ia beralih menatap pigura foto yang ia letakkan apik di atas meja nakas. Ia pandangi wajah Naruto yang menatap kamera datar.
"Jadi Naruto telah bertemu dengan calon pendampingnya?" Kyuubi mengangguk.
"Tetapi ini aneh, tidak seperti ayah dan ibumu. Aku tak tahu siapa pasangan Naruto"
"Sepertinya kekuatanmu mulai melemah Kyuubi-sama" Kurama memandang datar Kyuubi.
"Tentu saja, aku tidak pernah benar-benar melindungi calon ketua clan secara langsung. Pengecualian untuk Naruto"
Kurama hanya mendengus mendengar pengakuan Kyuubi. Ia memilih melempar pandangannya pada apapun asal tidak memandang rubah tua sombong itu.
"Lagipula Naruto itu spesial" Kurama melirik sedikit penasaran "dia adalah reinkarnasi istriku juga nenek buyutmu"
TBC
