HEALER

(^_^)

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

And Other

.

ChanBaek (GS)

Romance


Happy Reading :)


"haahh" Baekhyun menghempaskan tubuhnya di ranjang tepat di sebelah tubuh suaminya yang sedang memejamkan mata.

Chanyeol yang merasakan pergarakan di ranjangnya segera membuka mata dan menoleh kesamping.

"hari ini melelahkan?" Chanyeol mengubah posisinya menjadi miring menghadap Baekhyun yang juga tengah tersenyum kearahnya.

"eem.. tapi aku bahagia, aku bahagia melihat Luhan sebahagia tadi" Baekhyun memejamkan matanya menikmati elusan lembut yang diberikan Chanyeol pada pipinya.

"sayang.."

"hum?" Baekhyun kembali membuka matanya untuk melihat wajah Chanyeol.

"kemarin aku mengajukan cuti kerja"

"huh?" Baekhyun mengeryit bingung dengan perkataan Chanyeol, kenapa suaminya itu mendadak mengambil cuti? Padahal dia terbilang baru beberapa minggu bekerja di Rumah Sakit milik keluarga Chanyeol itu.

"aku merencanakan sesuatu.. coba bukalah laci itu"

Baekhyun segera membalikkan badannya untuk kemudian membuka laci yang berada tepat di samping ranjang mereka.

"ini apa oppa?" Baekhyun semakin dibuat bingung dengan dua lembar tiket penerbangan yang ada di tangannya.

"itu tiket pesawat.." astaga Chanyeol! kau pikir istrimu itu gadis bodoh sehingga tidak tau jika itu tiket pesawat?.

"aku tau oppa, tapi.." Baekhyun kembali menatap tiket itu. "Jepang?" lanjutnya.

"pengajuan cutiku disetujui, tetapi hanya tiga hari.. jadi aku tidak bisa membawamu ke tempat yang lebih jauh dari Jepang"

"tunggu.. maksud oppa kita akan ke Jepang?" Chanyeol meraih tangan Baekhyun kemudian membawa gadisnya itu ke dalam dekapannya.

"honeymoon..?"

"honeymoon?" Bukannya menjawab Baekhyun malah membelalakkan matanya dan melempar pertanyaan yang sama dengan pertanyaan suaminya itu.

"kau tidak menyukainya?"

Baekhyun menggeleng.. "bukan.. tapi aku sedikit bingung, jadi maksud oppa kita akan pergi ke Jepang untuk honeymoon?"

Chanyeol hanya mengangguk dan tersenyum untuk kemudian laki-laki itu memajukan wajahnya hendak mencium Baekhyun, namun kegiatannya itu harus terhenti karena Baekhyun menahan bibir Chanyeol dengan telapak tanganyya.

"apa lagi sayaaang?" Chanyeol merengek protes.

"aku masih belum mengerti oppaaa.." ddan sepertinya sepasang suami istri itu sedang berlomba untuk saling merengek.

"bagian mana yang tidak kau mengerti hum?"

"semuanyaa.."

"tentang apa sayaaang"

"honeymoon? Jepang?" Baekhyun sungguh masih belum mengerti dengan maksud suaminya itu, mereka sudah menikah selama tiga Tahun lebih.. dan Chanyeol sekarang menyebut honeymoon?.

"hah.." Chanyeol menghela nafas pelan, tangannya kembali mengelus lembut pipi halus Baekhyun. "kita akan segera berangkat ke Jepang besok sore setelah aku pulang kerja, dan kita akan honeymoon, jadi bagian mana yang belum kau mengerti? Hum?"

"kita kan sudah menikah selama tiga tahun oppa.. bukankah itu sudah telat untuk di katakan honeymoon?"

Chanyeol tau istrinya tidak bermaksud, tetapi entah mengapa hatinya sedikit tertohok mendengar pertanyaan Baekhyun sesaat lalu..

Baekhyun menyadari perubahan raut wajah suaminya itu, dengan segera tangannya bergerak untuk menangkup wajah suaminya.

"tidak oppa.. jangan salah paham, aku bukannya tidak menyukainya, aku sangat senang bisa ke Jepang bersama oppa"

Chanyeol seketika mengulas senyum dan menarik tubuh istrinya untuk tenggelam dalam dekapannya. Betapa polosnya seorang Byun Baekhyun jika sudah seperti ini.

"aku tidak berfikir seperti itu sayang.. aku hanya merasa bersalah karena dulu tidak memperlakukanmu dengan baik saat kita menikah, aku tau ini sangat terlambat untuk di katakan honeymoon, tetapi aku benar-benar menginginkannya.." Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya.

"aku ingin menebus waktu yang telah aku sia-siakan dulu"

Dalam diam gadis yang kini tengah menenggelamkan wajahnya pada dada bidang yang telah menjadi tempat ternyaman untuknya itu memejamkan matanya beriringan dengan liquid bening yang lolos dari sudut matanya.

"terimakasih oppa, terimakasih untuk semua ini.."

Chanyeol melepas pelukannya untuk kemudian menangkup kembali wajah cantik istrinya, dapat lelaki itu lihat, ada air mata pada pipi sang istri.

"anii.. oppa yang harus berterimakasih padamu, terimakasih untuk kesabaranmu selama ini, terimakasih karena telah mencintai laki-laki bodoh sepertiku dengan sangat tulus.. terimakasih untuk tetap menungguku sekian lama, terimakasih, terimakasih Byun Baekhyun"

Dalam hitungan detik dua bibir itu tengah saling menyatu, mennyalurkan cinta yang begitu besar yang mereka miliki. Disaksikan dengan cahaya bulan yang terlihat jelas dari jendela kamar itu.

...

Hari ini Chanyeol masih bekerja seperti biasa, namun dia sudah meminta izin pada Donghae untuk pulang lebih awal karena harus menyiapkan keberangkatannya dan Baekhyun ke Jepang.

Chanyeol sengaja mengambil penerbangan malam ini karena dia hanya di beri waktu cuti tiga hari sehingga tiga harinya benar-benar bisa di maksimalkan untuk quality time bersama istrinya.

"Tao-ya.. kau disini?" Chanyeol menepuk pundang Tao dari belakang, ini adalah departemen bedah syaraf dan Tao tidak biasanya ke tempat itu karena dia berada di bawah departemen bedah umum.

"eem aku mencari Minseok eonni, tapi sepertinya dia masih berkeliling untuk memeriksa pasien"

"tunggulah di ruanganku, kau seperti bocah tersesat"

Tao hanya mengangguk kemudian mengikuti Chanyeol dari belakang.

Setelah memasuki ruang kerja Chanyeol Tao mengambil duduk di depan meja kerja sahabatnya itu, pikirannya masih melayang pada satu hal yang terus mengganggunya.

"memangnya kau ada urusan apa dengan dengan Minseok noona?"

"ee eehh?" Tao terkejut dan seketika tersadar dari lamunannya.

"eerr.. itu.. emm itu oppa." Chanyeol menaikan satu alisnya melihat sikap sahabatnya itu.

"kau ini kenapa Tao-ya.."

"aahh. Aniyo.. aku, ee aku hanya ingin curhat hehe, iyaah curhat" Chanyeol semakin di buat curiga dengan sikap Tao, sahabatnya itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

"kau sudah mengatakan padanya jika kau menunggu disini?"

Tao hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Chanyeol. Gadis bermata panda itu benar-benar bingung harus bagaimana, dia tiba-tiba merasakan kegugupan yang luar biasa saat berhadapan dengan Chanyeol saat ini.

Selang beberapa waktu pintu ruangan Chanyeol terketuk untuk kemudian Minseok muncul disana.

"ooh eonni.." Tao segera bangkit untuk menghampiri Minseok, sungguh berada di dekat Chanyeol saat ini tidak baik untuk kinerja jantungnya. Sejujurnya Tao tidak ingin terlibat pembicaraan dengan Chanyeol karena dia takut keceplosan akan sesuatu.

"kau menunggu lama? ayo.. kita bicara di luar"

Chanyeol menatap heran pada kedua perempuan yang tak lain adalah sahabatnya dan juga noonanya itu. mereka berdua sama-sama aneh, tidak seperti biasanya.

...

"aku sudah bicara pada orang tua angkatnya eonni.." Tao memandang Minseok dengan wajah tegangnya, sungguh dia cukup tertekan dengan semua ini, terlebih dia harus memendamnya sendiri dengan Minseok.

"orang tua angkat? Maksudmu?" Minseok masih belum mengerti dengan maksud Tao.

"orang yang menemukannya dan merawatnya selama ini"

"bagaimana bisa kita baru mengetahui semuanya setelah sekian lamanya Tao-ya.. aku benar-benar tidak tau harus bagaimana" Minseok sendiri juga frustasi memikirkan tindakan apa yang harus dia ambil.

"apa yang dikatakan orang tua angkatnya padamu? Lalu kenapa mereka tidak menghubungi pihak polisi atau maskapai waktu itu Tao-ya? Dan bagaimana mereka bisa menemukan dia?"

"tenang dulu eonni.. aku tidak bisa bercerita jika kau memotong terus"

Minseok mengangguk untuk kemudian fokus pada Tao.

"mereka adalah kepala nelayan di daerah pesisir selatan, ayah angkat Hyejin eonni lah yang pertama menemukannya.. dia membawa Hyejin eonni pulang dan ternyata istrinya yang saat itu tengah mengalami depresi terlihat tertarik dengan Hyejin eonni.. dokter sudah mengatakan jika kala itu kemungkinannya sangat kecil untuk Hyejin eonni bisa bertahan"

Tao membuang nafasnya kasar sebelum melanjutkan ceritanya.

"dokter sudah menyerah dan tidak memasang alat penopang kehidupan pada Hyejin eonni karena itu tidak akan membantu banyak, organ dalamnya benar-benar rusak parah eonni"

"lalu?" Minseok masih terfokus pada cerita Tao.

"yang menyebabkan istri atau ibu angkat Hyejin eonni depresi adalah karena mereka telah kehilangan putrinya saat putrinya kecil dulu, di Laut."

Tao diam sejenak.. "tuan Jung akhirnya memutuskan untuk mengusahakan kesembuhan Hyejin eonni meski kemungkinannya kecil dan mengankatnya menjadi anak karena istrinya mulai memiliki harapan saat melihat Hyejin eonni, dia menganggap Hyejin eonni itu adalah anaknya yang dulu hilang, yah dan sampai sekarang masih seperti itu"

"jadi itu yang membuat mereka memaksakan kesembuhan Hyejin?" Minseok benar-benar tidak menyangka jika ceritanya akan serumit ini.

"nde.. mereka.. rumah sakit tempat Hyejin eonni di rawat sebelumnya berusaha menyembuhkannya dengan obat-obatan dan setelah sekian lama meskipun keadaannya sedikit membaik tetapi kini ginjalnya yang tidak kuat eonni.."

Tao kembali terdiam untuk memijit pelan pelipisnya.

"keadaannya semakin memburuk eonni.. itulah kenapa kami belum bisa melaksanakan oprasi pencangkokan ginjal itu.. dan benar eonni, sepertinya Hyejin akan sulit untuk bertahan, sekalipun oprasi itu berhasil tidak akan mengubah apapun dan.. dan resusitasi itu hanya akan membuatnya semakin menderita, dia sudah bergantung pada alat itu selama tujuh tahun lebih eonni"

Satu cairan bening menetes dari pelupuk mata Tao, Hyejin juga adalah sahabatnya.. berkat Hyejin dulu dia tidak menjadi perempuan satu-satunya di geng mereka itu.

"aku tidak tega eonni.. badannya sangat kurus, kita akan tambah menyiksanya jika seperti ini.."

Minseok memeluk Tao, sejujurnya dia juga sangat terpukul dengan keadaan Hyejin saat ini, dulu saat Hyejin dan Chanyeol masih berpacaran Minseok sangat menyayangi gadis itu.

Hyejin adalah seorang gadis yang kuat, kelainan jantung yang dia derita sejak kecil tidak menyulutkan semangat hidup gadis itu, itulah yang membuat Minseok kagum dengan sosok cantik itu.

"eonni.. aku rasa kita harus memberi tahu Chanyeol oppa"

"Andwae.." Minseok reflek melepaskan pelukan Tao dan segera menggeleng kasar.

"eonni, tapi.."

"Ani.. aku tidak akan membiarkan itu terjadi" Minseok menyela dengan suara tegasnya.

"kau tau Tao-ya? Setelah tujuh tahun lamanya aku seperti tidak melihat adikku, aku kehilangan adikku yang ceria.. setelah semua itu dan kini dia telah kembali melihat Chanyeolku yang dulu aku tidak akan membiarkan itu semua hancur"

Minseok membuang nafasnya kasar.

"dan kau juga sangat tau bagaimana menderitanya Baekhyun selama ini.."

"aku tau eonni.. aku sangat tau, dan sama seperti eonni.. aku juga tidak ingin menghancurkan kebahagiaan mereka." Keduanya kini sudah sama-sama menangis, tanpa menyadari seseorang tengah mendekat ke arah mereka.

"coba eonni bayangkan, bagaimana jika Chanyeol oppa kembali terlambat mengetahuinya? Setelah kita Hyejin eonni benar-benar tidak ada? Aku yakin Chanyeol oppa sangat mencintai Baekhyun eonni, aku sangat yakin itu eonni.."

"Tao benar chagia" Tao dan Minseok seketika mendongakkan kepalanya dan mendapati Jongdae sudah ada di depan mereka.

"Chanyeol pasti akan mengambil tindakan yang benar dan tidak akan menyakiti Baekhyun.. akan sangat menyakitkan untuknya jika dia tidak tau tentang ini dan terlambat mengetahuinya"

Minseok menatap Jongdae dan Tao secara bergantian, dia benar-benar binggung saat ini. Disisi lain dia membenarkan apa yang dikatakan Tao dan Jongdae, tetapi disisi lain dia takut jika Chanyeol tidak bisa menerima kenyataan dan menderita lagi, apalagi jika mengingat Baekhyun, Minseok takut jika ini akan berdampak buruk pada hubungan Chanyeol dan Baekhyun.

"kita beritahu Chanyeol setelah dia kembali dari Jepang" pada akhirnya Minseok menyetujui itu. "tapi aku akan menjadi orang yang berdiri paling depan untuk melindungi Baekhyun, aku tidak akan membiarkan adikku itu menderita lagi.."

...

Baekhyun dan Chanyeol tiba di jepang tepat pada pukul 21.30 JST. Keduanya telah sampai di sebuah hotel mewah yang terletak di pusat Kota Tokyo.

"Belum tidur?" Chanyeol yang baru keluar dari kamar mandi masih dengan rambut basah menghampiri Baekhyun yang sudah berbaring namun belum memejamkan matanya.

"aku menunggu oppa.." Baekhyun duduk untuk memeluk Chanyeol dari belakang.

"sini.. biar aku bantu" Baekhyun mengambil alih handuk dari tangan Chanyeol dan mulai menggosok rambut setengah basah suaminya.

"malam ini kau harus tidur nyenyak karena besok kita akan mulai mengelilingi jepang" Baekhyun terkekeh pelan mendengarnya.

"araseo.. tapi oppa, eem oppa mengetahui jalanan Jepang?"

"tentu saja.. kau hanya perlu percaya padaku dan aku akan mengajakmu jalan-jalan dan kupastikan istriku ini bahagia dengan liburan kita" Chanyeol membalikkan badannya untuk kemudian mencuri kecupan kecil pada bibir manis sang istri.

"ada tempat khusus yang ingin kau kunjungi disini?"

"ummmm" Baekhyun menampilakan wajah sok berfikir sembari mengetuk-ketukkan jari telunjuk di pelipisnya.

"apa? Katakan" Chanyeol menyangga dagunya dengan kedua tangannya, matanya fokus memperhatikan wajah cantik istrinya.

"Biei.."

"Biei? Hokkaido? Kau ingin kesana?"

"tapi jika waktunya tidak cukup tak apa oppa, kita bisa berjalan-jalan di daerah Tokyo dan Osaka saja"

"tidak tidak.. kita bisa kesana Lusa, bagaimana?"

"Jinjjayo?" Baekhyun seketika menampilkan wajah sumringahnya.

"anything for you babe.."

Cuupp.. Chanyeol mebeo, baru kali ini istrinya mencium Chanyeol terlebih dahulu, karena biasanya Chanyeol lah yang memulai.

"kau.." Cup.. Chanyeol kembali merapatkan bibirnya..

"B..." Cup.. lagi-lagi Baekhyun mengecup bibirnya saat Chanyeol membuka suara.

Oh lihatlah laki-laki tinggi itu, bahkan bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum..

"Saranghaeo Oppa.." Baekhyun memberikan senyuman yang sangat manis sambil menatap lembut wajah laki-laki yang sangat dicintainya itu.

"Nado.. nado saranghae" dengan lembut Chanyeol memajukan wajahnya dan menyatukan bibirnya dengan bibir tipir Baekhyun, melumatnya sangat pelan.

"tidurlah.. ini sudah malam" Chanyeol menuntun Baekhyun untuk terlentang kemudian membawa tubuh mungil istrinya ke dalam pelukannya.

...

"bagaimana Tao-ya?" Minseok terengah-engah karena dia berlari dengan kencang sesaat setelah Tao mengirimkan pesan padanya. Jongdae yang menyusul di belakang Minseok juga tengah mengatur nafasnya.

"hikss.. eonni.." Tao menubruk tubuh Minseok dan tangisnya pecah disana.

"tenanglah.." Minseok, walaupun sejujurnya dirinya sendiri juga sedang kacau dan tidak tenang tetapi dia berusaha menguatkan Tao. "bagaimana keadaannya?"

"kita harus segera memberi tau Chanyeol oppa eonni, sepertinya waktu kita tidak banyak"

Minseok memejamkan matanya untuk berusaha meredam emosinya.

"dia sempat pergi beberapa saat tadi, tetapi dia kembali.. entah kenapa aku bisa berfikir seperti ini eonni, tapi kurasa Hyejin eonni juga sedang menunggu Chanyeol oppa.."

Minseok mendudukkan dirinya di kursi tunggu tepat di depan ruang rawat Hyejin. Memijit kepalanya yang kini berdenyut memikirkan keadaan yang saat ini terjadi.

"tujuh tahun eonni, tujuh tahun dia bertahan dengan keadaannya yang bahkan tidak bisa di katakan dia hidup, kita harus segera memberitahu Chanyeol oppa".

"dia akan tiba di Seoul Lusa, kita bisa memberi tahunya saat dia masuk kerja" Jongdae menyahuti, tangannya terulur menepuk-nepuk punggung Minseok.

"bagaimana dengan ibu angkatnya Tao-ya?"

"tuan Jung sedang berusaha berbicara dengan istrinya eonni, aku sudah menjelaskan semuanya padanya, dia bisa mengerti dan sejujurnya dia juga kasihan dengan keadaan Hyejin eonni, tetapi dia juga mengkhawatirkan keadaan istrinya jika mereka harus kehilangan anak untuk kedua kalinya".

Minseok hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

...

Suasana yang berbeda terlihat di sebuah kamar Hotel mewah yang berada di pusat kota itu. Suara desahan sahut menyahut dari kedua bibir anak manusia yang tengah mengejar kenikmatan masing-masing.

Kedua tubuh berbeda ukuran itu sudah basah dengan peluh masing-masing, bahkan keberadaan air conditioner juga tidak membantu untuk mendinginkan ruangan yang cukup luas itu.

"aahhh.." terlihat tubuh mungil milik sang gadis sudah naik turun mengikuti pergerakan lelakinya di bawah.

"oppaahh.. aaah.. ahhh" Baekhyun terus meracau dalam pergerakannya di atas badan Chanyeol. Kepalanya mendongak keatas dengan bibir sedikit terbuka.

Chanyeol yang merasakan lubang Baekhyun semakin mengetat dengan segera membalikkan keadaan, dia tidak akan membiarkan Baekhyun mencapai puncaknya sendiri.

Kini dia kembali mengambil alih, diangkatnya kaki Baekhyun untuk kemudian dia sandarkan pada pundaknya.

Tubuh bagian bawahnya terus memompa dengan kecepatan yang semakin membabi buta.

Sial.. istrinya begitu ketat, dia tidak bisa berhenti.

"aaakh..ahh..aaahh" Baekhyun terus mendesah beriringan dengan pergerakan Chanyeol yang semakin cepat. Kepalanya naik turun hingga berkali-kali membentur kepala tempat tidur karena pergerakan Chanyeol yang semakin cepat.

"oohh oppaahh.." Chanyeol semakin gila saat mendengar desahan Baekhyun di bawahnya.

"disanahh.." Chanyeol mempercepat lagi pergerakannya saat mengenai titik pusat Baekhyun, dapat dia rasakan cengkraman pada kejantanannya semakin erat, entah milinya yang semakin membesar atau milik Baekhyun yang semakin menyempit.

Satu hentakan keras menjadi saksi pertumpahan cairannya di dalam tubuh Baekhyun.

"aaagggrrhh" Baik Chanyeol dan Baekhyun berteriak seiringan dengan pencapaian mereka.

Seketika tubuh laki-laki tampan itu limbung, Chanyeol merebahkan tubuhnya di atas tubuh mungil Baekhyun. Mengecupi pipi mulus milik sang istri sembari mengatur kembali nafasnya.

"lelah? Hum?" Chanyeol mengusap keringat yang menetes dari pelipis Baekhyun.

Baekhyun hanya tersenyum menanggapinya, tubuh gadis itu benar-benar lemas.. mereka seharian berkeliling Kota Tokyo, mengunjungi tempat-tempat indah yang ada di Kota itu dan setibanya di Hotel mereka kembali menghabiskan tenaga mereka untuk melewati kegiatan panas itu.

Chanyeol menggeser tubuhnya untuk terlentang di sebelah Baekhyun, menarik tubuh istrinya untuk tenggelam dalam dekapannya.

"tidurlah.. besok pagi-pagi kita harus segera menuju Hokkaido.. "

Lagi-lagi Baekhyun tidak menjawab, dia terlalu lelah untuk sekedar mengeluarkan suara. Hanya usapan lembut di punggung Chanyeol yang menjadi jawabannya.

...

"wooaahh.." Baekhyun, gadis cantik itu tidak berhenti mengungkapkan kekaguamannya pada hamparan bunga berwarna warni yang ada di hadapannya.

"menyukainya?" Baekhyun menoleh dan mendapatkan satu kecupan lembut di pipinya dari Chanyeol yang ini tengah memeluknya dari belakang.

"sangaaat.. ini sungguh indah oppa.." Baekhyun kembali mengalihkan atensinya pada bunga-bunga yang ada di hadapannya.

Sejauh meta memandang hanya warna-warni bunga-bunga cantik yang ia dapati. Ini benar-benar indah untuk gadis cantik itu.

"meskipun setelah tiga tahun menikah kita baru bisa honeymoon aku tidak menyesalinya oppa, karena ini lebih dari impianku.."

Baekhyun kembali menolehkan kepalanya untuk melihat wajah suaminya.

"maafkan aku baru bisa membawamu kesini sekarang sayang.."

"heeii.. Gwenchanayo oppa, Nan Haengbokhae, nomu haengbokhae" Baekhyun tersenyum sembari mengelus wajah suaminya itu.

Dan kedua anak adam itu kembali menyatukan bibirnya, di tengah hamparan bunga berwarna-warni Biei keduanya saling menyalurkan cinta mereka yang begitu besar, saling melumat dan saling tersenyum dalam ciuman manis itu.

...

"Chanyeol.." Chanyeol segera menoleh saat dia mendengar suara yang memanggil namanya, itu Minseok.

"ada apa lagi noona? aku benar-benar sedang lelah" Chanyeol menatap malas pada kakak sepupunya itu. Bukan apa-apa hanya saja dia baru selesai melakukan dua oprasi berturut-turut dan kebiasaan Minseok saat memanggilnya hanyalah untuk membicarakan hal-hal tidak penting.

"aku ingin membicarakan sesuatu"

"apa lagi kali ini? terakhir kau bilang ingin membicarakan sesuatu padaku dan aku mengikutimu, aku berakhir menjadi supirmu" Chanyeol memutar bola matanya malas.

"aku sedang serius Chan.." Chanyeol sedikit mengeryit melihat perubahan raut muka Minseok yang mendadak serius.

"Ya..! kita akan kemana?" Chanyeol melemparkan protes pada Minseok yang kini sudah menggandeng tangannya dan menyeretnya untuk berjalan mengikuti sepupunya itu.

"untuk apa kita kemari noona? hayolah.. jangan bermain-main" Chanyeol kembali melemparkan protesnya saat Minseok membawanya ke unit perawatan departemen bedah umum.

"uuh? Kalian juga disini?" Chanyeol sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya, Jongdae dan Tao juga ada disana, dan Tao sepertinya habis menangis.

"Chan..duduklah.."

Chanyeol semakin mengeryit tidak mengerti akan suasana yang ada saat ini.

"sebenarnya apa yang ingin noona katakan sampai mengumpulkan kami disini?" Chanyeol kembali mendesak Minseok untuk segera mengatakan maksud sepupunya itu.

"ada yang perlu kami biritahukan padamu Chan.." Jongdae memutuskan untuk membuka suaranya ketika dia lihan Minseok dan Tao sama-sama terdiam menunduk.

"sebenarnya ada apa Jongdae-a? Dan apa yang terjadi pada dua wanita ini? kenapa mereka sekarang malah membisu?"

"berjanjilah untuk tetap tenang setelah ini"

"yaa..! bisakah kalian langsung pada intinya? Sebenarnya apa yang ingin kalian tunjukkan padaku?"

Jongdae, Minseok dan Tao saling memandang satu sama lain.

"huuh.." Minseok membuang nafasnya sedikit keras untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya.

"ikut aku.." Minseok kembali meraih tangan Chanyeol untuk kemudian menuntun adiknya itu mendekat ke arah pintu ruang ICU.

"berjanjilah pada noona bahwa kau akan tetap tenang dan berfikir jernih setelah ini Chanyeol" Chanyeol semakin penasaran dengan hal yang ingin di tunjukkan Minseok padanya.

"sebenarnya ada apa noona?"

"hanya berjanjilah..!" Minseok sidikit meninggikan suaranya.

"baiklah, aku berjanji.. sekarang cepat katakan apa yang terjadi"

Sekali lagi minseok mengambil nafas dalam kemudian menghebuskannya kencang, diraihnya gagang pintu ruangan ICU itu.

Perlahan tapi pasti, kini Chanyeol dan Minseok sudah memasuki ruangan itu.

Dapat Chanyeol lihat dari jarak yang cukup sulit untuk melihat secara jelas wajah seseorang yang sedang terbaring lemah di ranjang itu.

Chanyeol seketika di buat bingung dengan dirinya sendiri, entah mengapa secara tiba-tiba jantungnya berdetak sangat cepat saat atensinya ia fokuskan pada tubuh kurus yang terbaring beberapa meter di hadapannya itu.

Belum terlihat jelas memang wajah dari gadis itu, namun Chanyeol merasa seperti sangat mengenal tubuh itu, dan wajah samar-samar itu.

Perlahan Chanyeol melangkah maju, kakinya sungguh terasa kaku.. detak jantungnya semakin kencang dan nafasnya terburu.

Tepat disamping tubuh ringkih yang kini terbaring lemah dengan berbagai alat penopang kehidupan melekat pada di tubuh kurus itu, Chanyeol berdiri dengan kaku, kepalanya berdenyut hebat, kakinya lemas seperti telah kehilangan tulang dan persendian, nafasnya tercekat dan..

"CHANYEOL..!" Jongdae dan Tao segera memasuki ruangan ketika mendengar teriakan Minseok.

.

.

.

TBC

.

.

.

Hayoooh Chanyeol kenapa tuh?

taraaaaa... sesuai yang aku bilang yaah aku akan up malem ini

sebenernya udah lewat sih, sekarang udah jam dua lebih udah masuk hari minggu ya berarti, tapi gapapa yaa anggap aja ini masih malem belum pagi hehehe

.

always yaa aku ucapin makasih banyak sama kalian yang udah berbaik hati memberikan like, follow, dan review kalian..

dan untuk yang masih diem-dieman semoga secepatnya memberikan kebaikan hatinya untuk meninggalkan jejak di cerita ini hehe

.

khusus chapter ini aku minta maaf kalau ceritanya agak gimana gitu..

gimana apanya Vi? elaah entah gue juga ga paham..

yang jelas aku akui aku agak kesulitan di chapter ini..

udah aah yaa.. sedikit aja cuap-cuapnya hehe

aku mau nerusin bersenyum-senyum ria ngebayangin si Icing yang pulang hari ini...

Bang Toyiibkuuu akhirnya kau jual juga kambingmu dan kembali pulang bang.. (plaakk.. apaan receh banget si Vi mah emang)

wkwkwk

daaaaannn selalu yaaa jangan lupa

Review juseyowwww