Levi benar-benar datang malam itu, untuk menghangatkan diri saja katanya. Namun, perempuan Asia itu masih ragu untuk minum setelah pria itu datang, takut merepotkan juga katanya. Radio malam itu memutar lagu-lagu random saja selama para penyiar sedang off-air. Keduanya mendengarkan saja lagu-lagu yang menjadi soundtrack dari kecanggungan mereka.

Mikasa hanya membahas sedikit tentang rencana untuk kembali menulis novelnya itu. Levi mendengarkan dan sesekali merespon. Ia bilang bahwa, "Aku telah membaca bukumu dan buku itu masih berada di rak buku miliknya sampai saat ini."

Mikasa berterima kasih dengan datar. Lalu, ia berkata bahwa dengan royalti dari novel yang ditulisnya sewaktu semester pertengahan itu, ia dapat membeli apartemen yang ditinggalinya sekarang dan melengkapi perlengkapannya yang lain-lain.

"Bukankah itu bagus?" balas Levi yang baru saja meneguk habis secangkir kecil alkohol yang baru ia tuang untuk pertama kalinya.

Mikasa lalu berkata bahwa menjadi editor juga merupakan mimpinya. Namun, antara kinerja dan salary tidak begitu sesuai, walau ia bekerja di perusahaan majalah nomor 2 tingkat nasional. Tanpa koneksi kuat, takkan ada pengaruh.

"Tapi, novelis adalah pekerjaan setengah menganggur," ujar Levi datar. "Tidak apa?"

"Aku juga memikirkan hal itu," jawab Mikasa yang juga datar. "Katakanlah aku bisa menulis di waktu luang. Tapi, terkadang aku butuh suasana baru agar mendapatkan ide."

"Yah, kau masih muda dan banyak peluang," lanjut Levi.

Mikasa terdiam. Kemudian, ia mulai menuangkan alkohol ke dalam cangkir kecilnya dan meminumnya. Ia merasakan panas di seluruh kerongkongannya.

"Novel macam apa yang akan kau tulis?"

"Entahlah," jawab Mikasa. "Cerita yang bagus terkadang datang dari pengalaman. Mungkin aku akan menulis tentang Eren lagi."

"Novel yang waktu itu juga tentangnya?"

"Katakanlah seperti itu."

Lalu, keheningan menyeruak ruangan ketika keduanya sama-sama terdiam dan lagu telah berada di titik paling akhir bagian outro.

"Kau masih memikirkan tentangnya?" tanya Levi lagi, lebih dingin.

"Hmmm," balas Mikasa singkat. "Setelah hampir lima bulan, aku malah merasa lebih aneh."

"Kau merasa masih terikat dengannya," ungkap Levi. "Lupakanlah."

"Aku tahu dan aku merasa harus melupakannya." Mikasa memegangi keningnya sembari bersandar pada sofa tanpa pertahanan.

"Butuh waktu?" tanya Levi. "Sekarang sudah hampir lima bulan."

Mikasa terdiam sejenak. "Boleh aku bertanya sesuatu?"

.

.

.

Shingeki no Kyojin karya Isayama Hajime

Maafkan atas kesalahan yang telah saya buat dalam penulisan naskah fanfiction ini

Mind to RnR?

.

.

.

Levi baru saja meneguk secangkir alkohol lagi ketika ia mendengar pertanyaan Mikasa. Kemudian, instrumen musik mulai terdengar dari radio. Awalnya Levi tidak bisa menebak lagu apa yang tengah diputar tersebut.

"Apa?" tanyanya pada Mikasa yang sudah terduduk kaku di sofa seberang.

Mikasa bertanya dengan ragu, "Apa yang kau lakukan ketika kehilangan Isabel Magnolia?"

"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Levi datar. Kemudian, intro lagu terdengar semakin jelas. Lagu 'Barricades' sedang diputar. Nice.

"Huh?"

"Namun, seseorang menarikku keluar dari belenggu."

Mikasa semakin bingung mendengar perkataan Levi. Maksudnya, 'siapa'? Ia tidak pernah mendengar orang lain selain Isabel Magnolia.

'Wouldn't it be nice to take a walk on some pure white sand.' Lirik yang dinyanyikan mulai terdengar. 'Gaze at the horizon, without living in a fear.'

Levi menatap ke sudut yang lain. "Tapi orang itu malah meninggalkanku lagi."

'And taste the ocean spray and realize we'd been living as slaves.'

Mikasa meneguk air liurnya saja, ia baru saja meneguk alkohol secangkir sampai habis sebelum Levi menyelesaikan kalimatnya yang terakhir. Ditatapnya Levi yang menatap ke arah lain dengan tatapannya yang tajam.

Levi berkata, "Untuk melupakannya, cukup bunuh saja ingatannya."

'You know you had to kill her, kill her.' Keduanya terdiam, membiarkan lagu yang katakanlah tiba-tiba saja cocok dengan suasana hati Levi itu berlanjut. 'Oh my dirty hands it never fades.'

'And if we get out, get out.'

'I'll think about the price of our soul.'

'We've got to learn to live free, live free.'

'We'll live a life without a barricades.'

"Lalu?" tanya Mikasa yang memecahkan keheningan dialog.

Levi mengubah posisi kakinya. Kemudian, ia menuangkan kembali alkohol dalam cangkir kecilnya. "Kau akan terbiasa."

Mikasa menatap cangkir kecilnya yang kini berada di tangannya. Kata-kata 'membunuh ingatan' mungkin terdengar cukup sadis. Namun, mungkin ia harus melakukannya. Lagipula, kata-kata Levi tentang 'ia akan selalu ada untuknya' dapat sedikit dibuktikan pada malam ini. Pria itu ada untuk menemaninya minum dan berbagi pengalaman. Mikasa kembali teringat akan kata-kata 'sense of love'.

"Tapi, apa itu akan berdampak pada sense of love yang waktu itu kau bicarakan?"

Tubuh Levi mulai menghangat karena pengaruh alkohol. "Kau masih mengingat hal itu?"

"Itu janjiku padamu," balas Mikasa cepat. "Tidak mungkin aku lupa."

Levi terdiam. Ia melirik jam dinding. "Hari sudah berganti. Pikirkanlah tentang apa yang akan kau lakukan dan pikirkan matang-matang tentang pekerjaanmu."

"Kenapa aku harus-"

"Kau harus. Karena hal seperti ini harus dipikirkan secara matang," potong Levi. "Atau mungkin kau hanya mengganti pekerjaanmu dengan pekerjaan yang dibayar tinggi."

Mikasa terdiam. Namun, ketika ia melihat Levi berdiri dari duduknya, ia segera bertanya, "Sudah mau pulang?"

Levi menatap Mikasa, langkahnya terhenti. "Aku harus. Ini sudah lewat tengah malam dan aku hanya berdua denganmu."

"Lalu, kenapa?" Mikasa sudah begitu percaya pada Levi, padahal. Namun, ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya menjadi seperti ini.

"Kita takkan tahu apa yang akan terjadi," ujar Levi, masih tahu diri dan tahu tempat. Dilihatnya wajah Mikasa dengan semburat kemerahan, semakin lama semakin tampak. "Dan juga, kau mabuk."

"Hei, aku punya toleransi terhadap alko-"

"Tidak," potong Levi. "Kau tidak punya."

Kemudian, ia memalingkan tatapannya ke arah lain sembari menghela nafas. Ia tidak menyangka ada orang yang masih sempat-sempatnya berbohong untuk melindungi harga diri- katakanlah, ketika setengah mabuk. Ia tidak melihat Mikasa yang menatapnya dengan tatapan 'aku tidak mau kau pergi dulu'. Orang yang mabuk bisa saja membeberkan emosi yang ia pendam. Levi tidak mau mengetahui itu sekarang, belum mau. Lalu, ia bersandar pada bagian belakang sofa, membelakangi perempuan itu.

"Aku ingin cepat-cepat keluar dari semua ini," ujar Mikasa tiba-tiba.

"Apanya?" tanya Levi sembari menoleh.

"Aku ingin cepat-cepat keluar dari semua ini," ulang Mikasa.

"Aku tahu," ujar Levi yang kemudian berbalik dan bertumpu pada sandaran sofa. "Tapi, kau mau keluar dari apa?"

"Semua," jawab Mikasa. Ia menyentuh ujung cangkirnya dan menggerakkan jarinya mengelilingi permukaan yang membentuk lingkaran itu.

Levi diam saja. Mental perempuan galau yang tengah duduk di seberangnya itu mungkin sedang masa lemah-lemahnya. Ia menebak saja, pasti Mikasa dulunya adalah tipe 'aku bisa semuanya kalau ada dia'.

"Think again," ujar Levi setengah bergumam.

"Huh?" tanya Mikasa yang tidak mendengar, ia tengah menatap Levi langsung menyorot pada kedua bola matanya. Ia tidak pernah begitu.

"Tidak ada," balas Levi yang kemudian berbalik lagi, kembali bersandar pada belakang sofa. Dapat didengarnya denting yang dihasilkan oleh gesekan antara bibir cangkir dan botol ketika Mikasa menuangkan alkohol sekali lagi.

Dalam ruangan yang tiada lagi percakapan itu, Levi maupun Mikasa dapat mendengar pergantian lagu. Lagu yang berbahasa Korea itu muncul begitu saja. Levi belum tahu lagu itu, but Mikasa does.

'Ttokbaro bwa what's the situation? (Lihatlah secara langsung, bagaimana situasinya?)'

Mikasa ingat, lagu ini sering diputar di kafeteria kantor ketika jam makan siang akhir-akhir ini. Levi mengernyit dalam diam, namun mencoba meresapi saja.

'Danghwanghan neoui siseon neomeo (Di ujung pandangan bingungmu)."

'Kkeutnae muneojineun seongbyeok (Adalah dinding kastil yang runtuh)."

'Chacheum balkaoneun saebyeok yeah uh (Malam perlahan sirna, yeah uh)."

Terlalu seperti kiasan. Namun, keduanya suka dengan pemilihan katanya. Mikasa menghentikan aktifitasnya kemudian.

'Kkeuteopsi ieojigo isseo (Terus berlanjut tanpa henti).'

'Mudin kalnal kkeute jallanaeji moshae (Tak bisa memotongnya dengan pisau tumpul kita).'

'Gyesok banbokdoeneun munje yeah (Masalah terus berulang, yeah).'

'Micheo pulji moshan sukje (Tugas yang belum bisa kita selesaikan).'

Levi mulai tertarik dan kembali duduk, walau hanya duduk di bagian samping kursi yang biasanya digunakan untuk orang-orang menaruh tangannya. Masalah memang terus berulang dan akhirnya menjadi tugas yang belum dapat diselesaikan. Sucks.

"Kau suka lagu ini?" tanya Mikasa.

Levi menjawab, "Tidak akan tahu sebelum aku mendengarnya sampai habis."

"Lagu-lagu memang bisa terdengar begitu indah," ujar Mikasa kemudian. "Dulu aku jarang mendengarkan musik. Tidak ada musik dalam sejarah hidupku."

Levi tak membalas. Ia berpikir bahwa Mikasa akan bersikap tidak tahu malu ketika ia bicara banyak tentang dirinya saat mabuk. Lalu, lagu mulai memasuki bagian reff.

'Kkaego budijchyeoya hae (Kau harus menerobosnya).'

'Uril bol su issdorok (Agar kau bisa melihat kita).'

'Keuge sorichyeoya hae (Kau harus berteriak keras).'

'Meolli beonjyeogadorok (Agar bisa terdengar dari jauh).'

'Yeorin biccdeuri beonjyeoga (Ketika cahaya mulai menyebar).'

'Gin eodumeul da moranaen sungan (Dan mengusir kegelapan).'

'Dasi kkaeeonaya hae (Kau harus bangun).'

'Saerowojin achime (Di pagi yang baru).'

Dan, ketika itulah Mikasa merasa begitu tersentak. Dia harus bangun. Bayang-bayang Eren mungkin hanyalah sebuah mimpi indah yang membuatnya terbuai dari kenyataan. Mimpi yang datang dari kerinduan, sungguh merepotkan. Namun, disaat yang sama, katakanlah Levi tengah merasakan perasaan yang sama.

Levi telah memikirkan hal ini- bahwa ia mungkin mengemban belenggu selama hampir delapan tahun. Dia mulai membangun ulang isi pikirannya, menyusun kerangka dari pemecahan akar masalah yang waktu itu, tentang hal bodoh yang disebut 'sense of love'. Hal bodoh itu, mungkin saja tidak dibuang. Namun, ada kemungkinan bahwa benda itu ketakutan setelah mengalami berbagai hal dan kemudian tidak ingin beranjak keluar dari barricades yang terbuat dari bongkahan es.

"Mikasa," panggil Levi. "Kau maupun aku memang masih harus memikirkan ini dan itu sekali lagi."

.

.

.

To Be Continued

Ah... Susah bener nyelesain chapter kali ini :v sampe ditagihin temen.

Well, itu lagu yang kedua itu lagunya EXO - The Eve, yang baru itu loh...

Yah, untuk chapter selanjutnya ditunggu aja yah :'v saya sendiri tidak dapat memastikan apa dalam seminggu bisa menulis lebih dari satu chapter baru. Do'akan saja.

See ya next chapter~