Chapter 10

Main Cast : EUNHAE dkk

Warnings : BL/Yaoi/BoyxBoy,typo bertebaran dan cerita yang absurd

Ketika aku tersadar hari sudah pagi, aku tetap saja memikirkan mu
Aku tidak tahu apakah aku akan melakukan sesuatu dengan benar hari ini
Aku akan mencoba sebisaku.

.

Untuk kesekian kalinya dia membenci datangnya pagi, yang memberikan begitu banyak rasa luka padanya. Dia ingin matanya terpejam, merasakan sebuah keheningan dan kedamaian meskipun untuk sementara. Sungguh merasa bosan rasanya hanya berputar di lingkaran yang berulang-ulang. Kita tidak pernah tau bagaimana datangnya hari esok, tak tertebak oleh mimpi dan tak bisa terbaca oleh apapun. Tapi satu yang dia tau, hari esoknya pasti akan lebih kelam dari hari ini. melewati hari yang melelahkan sendirian, kadang dia membenci hidup ini yang membuat perasaannya tidak baik-baik saja. Membenci setiap jengkal jejak kakinya. Tapi dia sadar, hidup tidak akan berhenti untuknya ataupun untuk Hyuk Jae, mereka akan selalu bertemu dalam keadaan seperti ini, menghadapi masalah seperti ini dan juga akan terluka seperti ini. akankah dia baik-baik saja?

Runtuhan dedauan bergururan ketika dia kembali mengayuh sepedanya di pagi hari, satu persatu rumah disusurinya begitu saja tanpa sapaan seperti biasanya. Bohong sekali jika hatinya tak kacau sekarang, bahkan kejadian tempo lalu tidak membuatnya separah ini, Donghae masih bisa tersenyum atau berpura-pura baik-baik saja kala itu. Donghae tak bisa lagi untuk menyembunyikannya, apalagi membohongi dirinya. Saat dia menyadari sesuatu, bahwa Hyuk Jae tidak akan menjadi miliknya seumur hidupnya. Dia sungguh tak bergairah untuk melakukan apapun hari ini, bekerja di kedai Yesung atau dimana-mana, tapi hari libur telah didapatnya kemarin dan sebagai pegawai professional dia harus bekerja hari ini.

Donghae tak pernah menyangka jika hidupnya hancur hanya gara-gara cinta,bahkan penjara sekian kali tidak sampai membuatnya sehancur ini. Yesung menyuruhnya untuk pulang hari ini karena melihat Donghae tampak tak sehat, dia bahkan memecahkan 10 piring sekaligus yang berada dinampan tadi siang, bukan hanya itu dia lupa membawakan pesanan pelanggan dan salah mengantarkan pesanannya, yang paling parah adalah dia lupa cara untuk tersenyum. Donghae enggan pulang, sendirian hanya membuatnya semakin menderita, dia perlu teman untuk bercerita. Tapi siapa? Sungmin bukanlah pilihan terbaik karena dia akan terang-terangan bertemu Hyuk Jae sedangkan Siwon, dia sedang ditugaskan di klinik kecil di desa-desa. Donghae merasa benar-benar sendirian sekarang. Direbahkannya kepalanya dilantai yang dingin berharap isi didalamnya juga ikut mendingin.

Tunggu…

Donghae memejamkan matanya begitu dalam, meresapi tiap hembusan nafasnya, mendengar setia detak jantung dan denyut nadi yang masih hidup didalam sana. Dia masih hidup, nadinya jantungnya semuanya masih hidup bahkan Hyuk Jae didalamnya masih sangat hidup dihatinya. Sangat bohong bila dia bilang memebenci pria itu, dia marah kecewa dan terluka. Namun dia tak akan mampu untuk benar-benar membencinya. Donghae tak mau menyesali apapun sekarang, yang perlu dia lakukan sekarang adalah menata kembali kehidupannya yang tampak absurd belakangan ini. sudah di katakannya tiap waktu bahwa dia tidak akan pernah menyesal pernah mencintai Hyuk Jae, pria yang mengenalkannya betapa sakitnya patah hati, tapi dia berpikir bahwa itu juga kebahagiaan.

Donghae tidak tau kenapa dia begitu mudah percaya pada orang yang bahkan baru ditemuinya sekali, dan langsung mengadu bahwa dirinya hamil anak Hyuk Jae. Dia hanya terlalu kaget dan kecewa saat itu, hingga otaknya tak mau bekerja dengan baik. Memusuhi dan menjauhi Hyuk Jae lagi, sangat tidak dewasa menurutnya. Mereka adalah dua laki-laki dewasa yang seharusnya bisa menemukan jalan keluar bersama, bukannya malah bertindak bodoh seperti yang dilakukannya barusan. Ya, ini kesalahannya maka besok dia akan menemui pria itu untuk membicarakannya. Otaknya terlalu lelah untuk berpikir, Donghae akhirnya tertidur dilantai dengan bayang-bayang Hyuk Jae yang menyertainya.

.

Hyuk Jae membawa dua gelas kopi hangat ditangannya, menghampiri kekasihnya yang tengah duduk seperti memikirkan sesuatu, Donghae tampak tak baik akhir-akhir ini. Hyuk Jae duduk disebelahnya memberikan satu gelas pada pria itu.

" ada apa, kau tampak tak baik?" pria itu mengangguk. " aku memang tak baik-baik saja" dia menyesap pelan kopi yang diberikan Hyuk Jae.

"ada apa, katakan padaku?"

"apa kau pernah punya hubungan dengan seorang perempuan 5 bulan yang lalu?" Hyuk Jae membeku, dia menoleh kearah Donghae yang kini tengah menatapnya, sorot matanya seperti mengisyaratkan katakan dengan jujur, Hyuk Jae menghela nafasnya. "iya, tapi itu hanya masa lalu Donghae tidak usah mengingatnya." Donghae tersenyum terluka.

"ya, aku harap aku tak pernah mengingatnya, kalau saja perbuatanmu tak pernah mengingatkan perempuan itu padamu" Hyuk Jae meletakan kopinya, dia menarik bahu Donghae untuk menatapnya. "maksudmu?" alisnya mengernyit bingung .

"kau pernah tidur dengannya?" Hyuk Jae membeku lagi, dia begitu kaget dengan pertanyaan ini. "Donghae, kita hanya teman. Dia menyukaiku tapi aku tidak bisa menyukainya" jelas Hyuk Jae membuat pria disebelahnya tersenyum miring.

"kau pernah tidur dengannya, JAWAB AKU BRENGSEK!" Donghae hampir kehilangan kendalinya jika saja Hyuk Jae tak menunduk dan menggenggam tangannya.

"iya." jawabnya lirih seperti tak ada tenaga lagi untuk berkata-kata, tapi Donghae masih mampu mendengarnya, dia lemas seketika ini lebih sakit dari yang dibayangkannya.

"nikahi dia!" Hyuk Jae menggeleng dia menggenggam jemari Donghae sangat erat, "saat itu aku dipesta dan dalam keadaan mabuk. Aku sungguh tidak tau" jelasnya yang malah membuat mata Dongahe semakin merah dan marah.

"kalau begitu kau harus tau sekarang, dia sedang mengandung anakmu!" Hyuk Jae diam, dia terlalu kaget dan tidak tau bahwa perbuatannya mendapatkan hasil buruk untuk mereka berdua, dan perbuatannya membuat namanya akan terukir selamanya, Hyuk Jae kembali menggeleng penuh penekanan. Dia mendekat, sangat dekat dengan Donghae menggenggam tangannya begitu erat seperti mengungkapkan ketakutannya lewat kedua tangan itu, Donghae menepis tangan itu tapi Hyuk Jae menggenggamnya makin erat. Tangan Hyuk Jae seperti duri untuknya, semakin dia menggenggam semakin sakit rasanya, tidak di fisiknya namun hatinya. Hyuk Jae terus menunduk, bahkan seorang polisi yang katanya gagah berani penuh ketegasan bisa dipermainkan oleh perasaannya, Donghae bisa melihatnya. Hyuk Jae, pria itu ketakutan dia tak mengucapkan sepatah katapun, tapi Donghae punya inisiatif sendiri ,ini seperti dorongan dalam jiwanya. Direngkuhnya tubuh itu, begitu erat dan dalam, bahkan Hyuk Jae memeluknya begitu erat seakan tak mau lagi kehilangan Donghae. Donghae menepuk pelan punggung pria itu, walaupun air matanya telah berada diujung dan siap menetes, bisa dirasakannya pundak Hyuk Jae berguncang dia menangis, namun belaian lembut Donghae dikepalanya membuatnya jauh lebih tenang dan nyaman.

"Donghae aku sungguh mencintaimu, aku berani bersumpah, itu sebuah kecelakaan!" lirihnya di telinga Donghae. Pria itu mengangguk mengerti, pelukan ini membuatnya merasa nyaman tapi secepatnya dia harus melepaskan pria dalam dekapannya untuk bertanggung jawab terhadap perbuatannya.

"tapi kau harus tetap menikahinya, dia mengandung anakmu!" Hyuk Jae menjambak rambutnya.

"kita baru saja kembali Donghae!" Hyuk Jae berkata dengan sedikit emosi pada pria disebelahnya yang seakan begitu memaksa.

"kita pasti akan bersama lagi, jika tuhan mengijinkan. Sebagai seorang laki-laki aku bisa mengurus hidupku sendiri, tapi dia membutuhkanmu dan mengandung anakmu. Jadi bertanggung jawablah!" Hyuk Jae merenung, Donghae benar tapi hatinya juga benar, kemudian apa yang harus dia lakukan sekarang, menikahi wanita itu atau memilih bersama Donghae. Hyuk Jae mengusak rambutnya begitu frustasi.

"mari kita akhiri. bebanmu akan berkurang satu setelah ini." Donghae mengangkat dagu Hyuk Jae mencium bibirnya sekilas. "sampai jumpa lagi di pernikahanmu, aku akan datang meski tak kau undang" Donghae bangkit meninggalkan Hyuk Jae yang masih duduk disana. Dunia ini memang penuh dengan betapa indahnya kebohongan itu, dia terlalu sok tegar di hadapan Hyuk Jae namun pada akhirnya dia akan menggulingkan dirinya dilantai dan memukul kepalanya, memaki bahwa hanya dia yang bodoh. Dia tidak boleh hancur sekarang, karena hidup masih panjang untuk di jalani.

.

Donghae meletakkan susu dan koran di depan rumah sepasang suami istri yang pernah memberikannya sekantung penuh buah peach kering, kali ini nenek itu memanggilnya lagi, dia berjalan membungkuk menghampiri Donghae.

"hai Donghae, bawa ini untuk di rumahmu" Donghae mengernyit kenapa nenek ini tau namanya sedangkan dia bahkan tak pernah memperkenalkan dirinya.

"ambil ini anak muda, ini semua untukmu" nenek itu memeberikan kantung berisi buah lemon, lagi lagi Donghae menggeleng.

"bagaimana denganmu?"

"aku masih punya banyak dirumah" kemudian dengan tangan bergetar dia masuk kedalam rumah sambil terkekeh.

"nek, kau tau namaku?" nenek itu menoleh memastikan Donghae masih disana.

"tentu saja, orang gila yang datang kerumahku sering menceritakannya" Donghae bingung tapi diurungkannya niatnya untuk bertanya ketika suami nenek itu memanggilnya dari kursi goyang.

Dikayuhnya sepeda tua itu sampai ke tempatnya, di rumah ini dia meletakan sisa koran ataupun susu dan mengembalikan sepeda untuknya bekerja. Bosnya mengernyit bingung ketika Donghae membawa satu koran sekotak susu yang masih tersisa, karena biasanya pria itu akan membawanya dengan pas dan habis tak tersisa.

"kenapa tersisa, biasanya habis?" Donghae menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tersenyum canggung.

"orangnya tidak menginginkan susu dan koran hari ini" sautnya yang hanya dijawab oleh anggukan kepala oleh bosnya.

Sepulangnya dari mengantar susu, Donghae langsung menuju ke kedai Yesung. Pria itu tengah sibuk bercanda dengan anaknya, dan Ryeowook tengah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, Donghae datang sejam lebih awal hingga membuat Yesung heran, Ryeowook menawarinya untuk sarapan bersama sambil dia berbincang dengan Yesung. Sedangkan Hyunwoon turun dari pangkuan ayahnya membawa sekantung lemon yang diberikan Donghae tadi menyusul Ryeowook yang ada didapur, laki-laki kecil itu kembali dengan membawakan minuman untuk Donghae membuat pria dewasa itu terkikik karena sangat diperhatikan.

"Ahjussi, itu rasanya manis sekali sudah kutambahkan gula tadi" katanya memberikan segelas air lemon untuk Donghae, pria itu mengangguk kemudian meminumnya satu tegukan. Wajahnya berubah ekspresi. Air itu rasanya sangat asam bahkan menjadi pahit dilidahnya. Hyunwoon tertawa terbahak-bahak melihatnya. "maaf ahjussi aku berbohong!" Donghae menarik anak kecil itu dipangkuannya, kemudian menggelitikinya tanpa henti membuat Hyunwoon tak hentinya tertawa. Ryewook datang membawa sarapan pagi ini.

"besok tanggal 15 kan?" Yesung mengangguk sambil mengambil sarapannya.

"besok bukannya ulang tahunmu Donghae?" Yesung mengangguk lagi, kali ini memakan sarapannya.

"jangan katakan itu, aku malu jadi semakin tua" kata Donghae terkekeh.

"ayo kita rayakan!" seru Yesung sambil mengguncangkan tubuh Donghae.

"jangan bilang kau akan mengadakan selca show bersama Jongjin" Donghae menjauhkan tubuhnya untuk antisipasi terhadap hyung disampingnya ini. Yesung tertawa sampai mengagetkan Hyunwoon yang sedang mengambil makanannya.

"aku akan hadir diacara spesial besok" pria itu menepuk-nepuk pundak Donghae dengan tangan kecilnya sambil terus tertawa.

.

Donghae baru saja keluar dari kedai itu, dia memijit tengkuknya pelan, rasanya sangat melelahkan. Tapi kabar baiknya adalah, Yesung memberikannya liburan spesial untuk Dongahe karena besok dirinya berulang tahun. Donghae bisa tersenyum karena waktunya hanya akan dihabiskan untuk tidur, dan tenang saja pria itu telah mendownload banyak game di ponselnya sehingga tak akan merasa kesepian lagi besok. Baru saja beberapa menit dia tersenyum seorang perempuan menghampirinya, dia perempuan calon istri Hyuk Jae,dia tampak lebih bersinar daripada sebelumnya. Dia tersenyum menghampiri Donghae kemudian menggenggam tangan pria itu.

"aku minta maaf telah menghancurkan hubunganmu, dan aku sangat berterima kasih karena kau telah melepaskannya" Donghae memaksakan diri untuk tersenyum.

"kau sudah berbicara pada Hyuk Jae?" perempuan itu mengangguk sambil terus tersenyum, dia memeluk Donghae begitu hangat. "Lee Donghae, besok di gereja tua dekat toko bunga jam 9 pagi. Aku dan Hyuk Jae sangat menunggumu" perempuan itu melepaskan pelukannya kemudian berpamit pada Donghae yang masih membeku disana, ponsel di sakunya bergetar namun dia masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Secepat itukah, baiklah Donghae rasa lebih cepat akan lebih baik maka sakit yang di deritanya akan lebih cepat berakhir. Donghae berjalan seorang diri ditemani hembusan angin malam yang membuat bulu kuduknya berdiri karena dingin, malam yang akan mengakhiri semua kisah cinta antara Donghae dan Hyuk Jae, dan malam yang akan sangat menegangkan untuk Hyuk Jae dan calon istrinya. Donghae berdoa, semoga angin dapat membawa perasaan sakitnya pergi, semoga angin dapat mendengar suara hatinya yang pilu sehingga dia tak harus melewati hari yang melelahkan sendirian. Andaikan angin dapat menyadarkannya bahwa sebenarnya Lee Hyuk Jae tak pernah ada. Yang ada hanyalah seorang polisi yang dapat menangkapnya dan selalu menggagalkan misinya.

Donghae akhirnya membuka pesan diponselnya, Hyuk Jae mengirimnya beberapa menit setelah perempuan itu menemuinya.

Semoga kau bahagia

Aku mencintaimu…

Donghae tersenyum . "selamat, aku sangat terluka" dihempaskannya ponsel itu di kasurnya sedangkan dia duduk dilantai dan menyandarkan punggung pada tempat tidur dibelakangnya. Jiwanya mati malam ini, lelaki itu menangis lagi kali ini lebih dari sekedar isakan. Dia tak mau dikatakan sebagai laki-laki cengeng. Tapi malam ini sangat spesial, besok Hyuk Jae akan menikah dan itu bukan dengannya, maka dari itu dia perlu menangis malam ini sepuasnya untuk melegakan hatinya. Baru kemarin malam rasanya dia menemani Donghae tidur di tempat tidur yang sama, namun besok bukan Donghae lagi yang akan menemaninya dari tidur hingga tidur lagi, ini terlalu buruk untuknya. Karma bahkan lebih sakit dari sebelumnya, apa karmanya belum juga cukup untuk membayar hutangnya pada Tuhan dan Hyuk Jae.

.

Donghae melihat pantulan dirinya di cermin, kemeja putih dan jas hitam sederhana membalut tubuhnya, celana hitam dan sepasang sepatu hitam yang juga tergolong cukup sederhana melengkapinya. Bukannya dia tak memiliki jas dengan setelan mahal, tentunya untuk pencuri sepertinya dulu pasti memiliki banyak pakaian dengan harga yang fantastis. Tapi, dia hanya ingin tampil senatural mungkin di hari bahagia Hyuk Jae ini. Donghae tak punya cukup waktu untuk memikirkan pakaian apa yang harus dikenakannya. Donghae baru saja keluar dari pintu apartemennya, sedangkan hujan masih mengguyur bumi di pagi hari seperti ini, percikan-percikannya sedikit membasahi baju yang dikenakan Donghae, sementara dia berpikir Donghae mengecek isi dompetnya, akan sangat pemborosan jika menggunakan taksi dengan jarak yang tidak terlalu jauh itu.

Donghae berlindung dibawah payung yang digunakannya untuk menuju gereja, setelah beberapa menit turun dari bis, dia mampir sebentar ketoko bunga untuk memberikan beberapa tangkai pada pasangan baru itu, semua bunga tampak cantik dimatanya . tapi bunga ini terlihat spesial diantara yang cantik. Donghae membeli beberapa tangkai bunga tulip dengan harapan Hyuk Jae bisa berbahagia dengan perempuan itu yang sampai saat ini belum dia ketahui namanya.

Gereja itu tampak sepi dari luar, ini pesta dadakan dan mungkin Hyuk Jae tak mengundang banyak orang. Ketika dia membuka pintu terdengar deritan dari engselnya yang sudah tua, semua mata menatapnya, hanya ada segelintir orang. Sepasang suami istri yang memberikannya buah lemon kemarin ada disana, bisa dilihatnya Yesung dan Ryeowook tersenyum lembut padanya di bangku tengah, kemudian Kibum dan Kyuhyun di bangku paling depan dan… Siwon. Hyuk Jae juga mengundang Siwon untuk hadir disini, Donghae mendudukan dirinya disebelah Siwon. Pria dengan sebutan kuda itu, mengelus punggung Donghae pelan sambil tersenyum. Kyuhyun menuju belakang panggung untuk memberitahu Hyuk Jae bahwa tamu yang ditunggu-tunggu telah datang, sekembalinya pria itu. Hyuk Jae datang bersama seorang perempuan digandengannya yang melingkarkan tangan di siku Hyuk Jae, perempuan itu benar-benar tampak sederhana bahkan dia tak menggunakan gaun pernikahan hanya sebuah long dress longgar dan memperlihatkan perutnya yang sedikit membesar. Donghae menelan ludahnya, mencoba tersenyum.

Perempuan itu menghampiri Donghae dan meninggalkan Hyuk Jae diatas panggung sendirian, ketika perempuan itu ada dihadapannya, Donghae memberikan bunga tulip itu padanya.

"terima kasih Donghae" dia menggandeng tangan Donghae untuk mengikutinya, kening pria itu mengkerut bingung namun dia tetap mengikuti perempuan itu, Donghae dibawa keatas panggung dan bertatapan langsung dengan Hyuk Jae, dia menghindari tatapan itu. Perempuan itu menyerahkan tangan Donghae pada Hyuk Jae yang langsung digenggam oleh pria dengan senyum gusi itu, Donghae melotot dia ingin melepaskan genggaman yang tak masuk akal menurutnya ini, namun ketika dia hendak memanggil perempuan itu, dia sudah lebih dulu turun dan duduk disamping Kibum dan Kyuhyun. Donghae menatap Hyuk Jae dengan pandangan bertanya, tapi Hyuk Jae malah mengecup bibirnya singkat.

"selamat ulang tahun, Donghae" ucapnya membuat Donghae melotot dengan perlakuan pria itu. Donghae merasa direndahkan didepan banyak orang, bahkan calon istri Hyuk Jae, dia menampar pria itu kuat membuat para penonton sedikit memekik. Hyuk Jae meringis merasakan pipinya yang panas.

"apa yang kau lakukan brengsek!" Donghae mencengkram kerah kemeja Hyuk Jae, tidak dipedulikannya jika kemeja itu akan rusak nantinya, Hyuk Jae mengeluarkan cincin disaku celananya.

"maukah kau menikah denganku?" semua penonton bersorak tidak terkecuali sepasang kakek nenek disana.

"apa maksudmu?!" Hyuk Jae menunjuk perempuan yang ada di samping Kibum, Donghae mengikuti arah telunjuk Hyuk Jae yang memperlihatkan seorang perempuan yang sedang tersenyum padanya dan Hyuk Jae sambil menaikan kedua ibu jari tangannya.

"dia kakak Kibum dan bukan aku yang menghamilinya Donghae, tentu saja suaminya!" Hyuk Jae menurunkan tangan Donghae yang masih mencengkram kerahnya.

"apa?" Tanya Donghae masih tak mengerti.

"dia mengerjaimu Donghae-ssi, untuk hari spesialmu ini" jawab yeoja itu, "yak monyet, jangan suruh lagi aku mengerjainya! Melihat wajahnya aku jadi tidak tega waktu itu!" serunya membuat Hyuk Jae terkikik. Donghae masih diam disana dengan nyawa yang bahkan dia ragu masih ada, perkataan perempuan itu masih belum bisa dicernannya dengan baik.

"arraso, Hyorin noona" saut Hyuk Jae dengan sisa tawanya, kemudian pria itu menghadap Donghae dengan tatapan serius, matanya seakan dapat menembus isi kepala kekasihnya itu.

"Donghae, aku mint maaf. Ini semua sudah dirancang untuk hari ini. hari ulang tahunmu dan juga hari lamaranku" kata Hyuk Jae mencoba meraih jemari Donghae yang sempat terlepas, ditatapnya pria itu dengan penuh kesungguhan, bahasa mata Hyuk Jae seakan dapat mengartikan betapa pria itu menginginkan Donghae untuk menjadi miliknya. Donghae menghempaskan tangan itu.

"kau tidak tau berapa banyak hal sulit yang kudapatkan!" Hyuk Jae tertegun mendapatkan respon negative dari Donghae.

"dan kau mau tau, seberapa besar aku menginginkanmu?" Hyuk Jae kembali menggenggam tangan Donghae kemudian menuntun pria itu untuk menghampiri beberapa orang yang duduk di kursi dan menonton mereka sejak tadi.

"aku ingin kau mendengarnya dari orang lain, karena jika aku yang memberitahumu. Kau tidak akan percaya" Hyuk Jae membawanya menghampiri Yesung dan Ryeowook disana, seperti sudah berkode pada mereka berdua. Ryewook berdiri tersenyum lembut kearah Donghae.

"Donghae, dia bahkan rela menyamar menjadi seorang Yeoja dan berada diantara kumpulan wanita yang menggodamu waktu itu" kekeh Ryeowook membuat wajah Hyuk Jae sangat memerah. "menikahlah dengannya" tutup Ryeowook kemudian. Donghae menatap Hyuk Jae tak percaya yang hanya dijawab oleh anggukan dengan wajah Jae menarik tangan Donghae menuju sepasang suami istri lansia itu, sang nenek menggenggam tangan Donghae.

" anakku dan ayahnya berteman dekat, dia sudah seperti cucuku sendiri nak. Dia sering memberikan kami buah peach dan lemon, dengan tujuan agar kami mau memperhatikanmu ketika mengantar koran dan susu di rumah kami, lalu memberi tahunya bagaimana keadaanmu, selagi dia bekerja" nenek itu menunjuk Hyuk Jae . "karena buah peach dan lemonnya terlalu banyak jadi kuberikan saja padamu" kekehnya kemudian. Hyuk Jae kemudian memutarkan sebuah video tentang usahanya selama ini, mulai didepan kedai menunggu Donghae menjadi seorang perempuan atau merekam Donghae yang baru pulang bekerja dengan wajah lelah. Itu adalah pengintaiannya selama ini dan Donghae harus tau seberapa dia menginginkan pria itu.

"kau ingat, tteokpokie yang kau berikan kemudian dibuangnya waktu itu, dia tidak membuangnya Donghae dia mengambilnya lagi dan memakannya." Kata Kibum, bocah itu membuat Hyuk Jae malu, dia hampir saja melempar sepatunya jika tidak lupa Donghae masih disana.

"aku tidak mau usahaku sia-sia sekarang, jadi?" Donghae hampir menangis karenannya matanya telah berkaca-kaca namun tidak bisa dipungkiri, kebahagian dan kelegaan berada di hatinya. Dia memeluk Hyuk Jae begitu erat sangat erat.

"kau laki-laki paling jahat, bahkan dari pencuri sekalipun. Kau tidak tau berapa sakit yang harus aku rasakan!" katanya memukul pelan punggung Hyuk Jae.

"maaf Donghae, aku hanya takut. Jika kita mendapatkannya dengan mudah maka semakin mudah juga hal itu pergi, jadi aku harap kita bisa selamanya sekarang. Apa kau mau?" Hyuk Jae mengelus lembut kepala Donghae.

"bodoh! Tentu saja aku mau!" Hyuk Jae tersenyum, namun kemudian dia melepaskan pelukan itu membiarkan Donghae kebingungan. Hyuk berteriak didalam gereja itu bahwa Donghae menerima lamarannya membuat orang-orang yang hadir bersorak gembira, tak terkecuali Siwon yang kini telah duduk bersama Kyuhyun, Kibum dan Hyorin. Perempuan itu juga minta maaf karena telah mengerjai Donghae, dan Ryeowook yang selalu berbohong jika Hyuk Jae tak pernah datang ke kedai lagi. gereja itu menjadi sangat ramai. Siwon memeluknya dengan hangat.

"oh yatuhan, aku harus bertemu hyung! Dia harus tahu" kata Donghae menepuk keningnya.

"dia sudah tau Donghae, Hyuk Jae melamarmu duluan lewat Sungmin" itu Kyuhyun, dia kini tengah bersama Kibum yang membantu Hyorin yang tengah hamil untuk duduk. Donghae menoleh kearah Hyuk Jae tak percaya dengan apa yang dikatakan Kyuhyun.

"sudahlah, temui dia besok" Hyuk Jae memasangkan cincin di jari Donghae kemudian tersenyum menunjukan barisan gigi dan gusinya.

Mereka semua membubarkan diri dihari yang mulai terik, setelah mengucapkan selamat pada Donghae dan Hyuk Jae ataupun memaksa mereka agar secepatnya untuk menikah

.

Beberapa tahun kemudian…

Kyuhyun dipanggil Leeteuk untuk menemui pria itu di ruangannya, pria itu memberikan map biru dan menyuruh Kyuhyun untuk mendata isinya. Bagian depannya tertulis nama Lee Sungmin. Ini map yang sama dengan beberapa tahun lalu. Kyuhyun membukanya dan mempelajari isinya.

" waktu itu kau pimpinan misi ini jadi kau yang mencatat data lengkapnya, aku baru mendapatkannya setelah sekian lama" pria dihadapannya mengangguk sambil terus membaca detailnya, bagaimanapun Sungmin yang telah dikenalnya beberapa tahun ini membuat Kyuhyun penasaran dengan asal-usul pria itu. Pria mungil itu begitu misterius.

Rahang Kyuhyun mengeras matanya berhenti pada satu baris kalimat, dia begitu kaget dan membeku dan Leeteuk tau apa yang membuat Kyuhyun seperti itu, Kyuhyun memandang Leeteuk dengan tidak percaya, dia menunjuk kalimat itu. Leeteuk mengangguk penuh makna.

"bagaimana bisa?" desisnya pelan.

"aku mengeceknya di panti asuhan, dia dan Donghae tinggal dan diadopsi oleh Hankyung" Kyuhyun belum puas dengan jawaban Leeteuk, dia memandangi Leeteuk menuntun penjelasan dari pria itu. Bibirnya bergetar, bahkan untuk berbicara saja susah, alis Leeteuk mengkerut tidak tega melihat Kyuhyun seperti itu.

"Kyu, tenangkan dirimu dulu" jelas polisi itu, Kyuhyun menggeleng dia terus menuntut agar Leeteuk menjelaskannya secara detail dan rinci. Kyuhyun sungguh ingin tau.

"Sungmin kehilangan adik dan ayahnya, saat itu umurnya 10 tahun. Ketika dia dibawa ke panti asuhan dan didata. Dia sangat ingat nama ayah dan ibunya juga adiknya, tapi Hankyung datang untuk mengadopsi anak itu. Merubah marganya, dan menyembunyikan data asli tersebut" Kyuhyun mencengkram tangannya sendiri menahan gejolak didalam jiwanya yang sudah berontak.

"kemana ayah dan adiknya?" pandangannya kosong namun dia sangat ingin mendengarkan kata Leeteuk selanjutnya.

"ayahnya terlilit hutang pada rentenir dan diburu saat itu, dia sibuk melindungi adiknya dan menyuruh Sungmin untuk terus mengikutinya dari kejaran rentrnir itu. Tapi di tengah kota yang sangat padat Sungmin kehilangan keduanya, ayahnya menitipkan adiknya pada seorang teman polisinya untuk mencari Sungmin. Tapi dia mati tertangkap oleh para rentenir itu" Kali ini Kyuhyun menunduk, bajunya yang biasanya rapi tampak kusut karena diremasnya.

"jadi…" gumam Kyuhyun

"dia Hyungmu kyu, temui dia" ucap Leeteuk sangat lembut, takut-takut akan melukai Kyuhyun lebih dalam. "aku memberikanmu kebebasan untuk bicara padanya, hanya hari ini. berikan surat ini pada Kibum" Leeteuk menyodorkan surat tugas Kyuhyun untuk mengajak Sungmin bicara, Kyuhyun mengangguk dan tak hentinya berucap terima kasih pada Leeteuk.

Jadi begini cara Tuhan mempertemukan dia dengan Hyungnya, gereja tua itu yang mempertemukannya ,lagu itu yang membawanya kedalam dekapan Sungmin lagi. alasan Sungmin tau lagu masa kecil mereka, alasan dia dengan mudah menyerahkan diri dan masih berbagai alasan yang muncul dikepalanya, dia tak akan tahu bagaiamana cara dia menghadapi ini semua di hadapan Sungmin nanti.

Kyuhyun kini telah duduk di ruang interogasi hanya berdua dengan Sungmin. Mereka berdua hanya saling terdiam satu sama lain, hingga Kyuhyun mengeluarkan map tersebut.

"jadi apa kau belum mau jujur padaku?" Kyuhyun menatap Sungmin sekilas, dia benar-benar ingin menyelesaikan semua masalah ini, membiarkan Hyungnya menjadi pencuri bahkan musuh seorang polisi adalah kegagalan untuknya. "Cho Sungmin".

Sungmin tergagap "aku, Lee.. Sungmin" katanya sedikit ragu karena ekspresi Kyuhyun seperti sudah tau semuanya, Sungmin hanya mampu menghela nafasnya. Akhirnya hari ini akan terungkap dan ini datang lebih cepat dari yang dibayangkannya. Kyuhyun mendekati Sungmin dia berlutut didepan kursi Hyung kandungnya itu, Kyuhyun menyandarkan kepalanya tepat dipaha Sungmin. Air matanya telah mengalir meskipun tidak terisak namun Sungmin tau Kyuhyun sedang menangis.

"maafkan aku hyung, aku bahkan tidak mengenalimu saat kita pertama bertemu" Sungmin tersentuh hatinya, dibelainya lembut kepala itu, yang dulu sering di pujinya karena berhasil mendapatkan nilai matematika yang bagus.

"aku pernah berjanji padamu, akan membeli rumah untuk kita tinggal bersama appa. Tapi sekarang tinggal kita berdua, kau harus tinggal bersamaku hyung! Aku sudah bisa memebeli rumah sendiri" suara Kyuhyun terdengar bergetar. "pokoknya setelah kau bebas nanti, akan kubawa kau kerumahku. Tak usah bekerja biar aku saja, aku tak ingin melihatmu sebagai pencuri lagi" Sungmin memeluk adiknya begitu dalam seperti mengisyaratkan bahwa dia sangat merindukan adiknya itu. Adik kesayangannya seorang Cho Kyuhyun yang tumbuh sebagai polisi tampan, dia harus berterimakasih pada ayah Hyuk Jae karena telah menjaga Kyuhyun hingga seperti ini dan juga dia harus berterima kasih pada Hyuk Jae karena telah memberikan kebahagian pada adiknya yang lain.

.

.

.

" Donghae, apa kau sudah hamil? Kenapa perutmu berbunyi seperti itu?!" Hyuk Jae tengah menyandarkan kepalanya di paha Donghae dan tak sengaja mencuri dengar suara perut pria itu.

"bodoh! Mana bisa aku hamil?!" protes Donghae yang langsung mendorong keras kepala Hyuk Jae dari pahanya.

"tidak, pokoknya kita harus buat sekarang agar kau hamil, atau mungkin aku yang kurang berusaha" Donghae memutar matanya jengah, kenapa bisa dia mencintai lelaki seperti ini.

"kurang berusaha bagaimana, setiap hari kau sudah melakukannya hingga bokongku sakit!" Hyuk Jae terdiam berpikir. "lalu kenapa kau belum hamil? Kapan masa suburmu? Aku akan berusaha lebih di hari itu" Donghae memukul kepala Hyuk Jae gemas. "laki-laki mana bisa hamil bodoh!" serunya.

"ada, mereka memiliki kelebihan" kata Hyuk Jae.

"ya, tapi aku tak punya! Aku sudah periksa" tegas Donghae

"lihat otot-ototku ini" Donghae menunjukan ototnya pada Hyuk Jae "bahkan punyamu kalah" membandingkannya dengan otot Hyuk Jae.

"aku tau, tapi sepertinya aku lebih hebat darimu" Hyuk Jae menepuk dadanya "aku berhasil menusukmu setiap hari, ototmu tak berguna dibidang itu!" Hyuk Jae tersenyum meremehkan membuat Donghae geram, dia menarik baju Hyuk Jae membuat pria itu sedikit ketakutan.

"oke biarkan malam ini aku yang menusukmu, biar kau tau bagaimana sakitnya?!" geram Donghae.

"maksudmu, bagaimana nikmatnya tusukanku? Kau tak akan lebih hebat dariku!"

"yak kau pikir sate ditusuk-tusuk! Pergi sana aku akan ke pesta Shindong hyung dan istrinya sendirian!" Donghae masuk kedalam kamar mandi dengan membanting pintunya, sedangkan Hyuk Jae sibuk terkekeh mengamati tingkah laku suaminya itu yang masih saja kekanakan.

Kadang dia masih tak percaya ketika mengamati foto pernikahannya yang terpasang di ruang tamu rumahnya, bahwa Donghae sudah menjadi miliknya seutuhnya dan dia tidak akan melepaskan pria itu dari kehidupannya. Sungguh, itu yang ada dipikirannya.

"Donghae-ya, ayo kita mandi bersama nanti kita bisa terlambat!" Hyuk Jae menggedor pintu kamar mandi yang dijawab dengan lemparan botol shampoo dari dalam.

.

.

.

Donghae dan Hyuk Jae baru saja datang, dan mereka telah mendapati ruangan besar itu telah padat oleh manusia, mereka agak kebingungan jika saja seorang pria tak melambai kearah mereka dengan semangat , itu Heechul dia langsung menghampiri Donghae dan Hyuk Jae lalu mengajak mereka untuk berbincang dengan yang lain. Shindong dan pasangannya telah duduk diatas panggung sambil tersenyum bahagia. Mereka dipertemukan lagi saat upacara pernikahan Hyuk Jae dan Donghae waktu itu, sehingga sekarang mereka semua menjadi lebih akrab. Yesung dan Ryeowook juga datang, sebagai sesama tahanan waktu itu Shindong dan Yesung berteman cukup dekat. Siwon menghampiri mereka tak lama kemudian semantara Kibum , Kyuhyun serta Sungmin ada disudut ruangan menikamati minuman yang telah disajikan.

"hyung!" panggil Donghae ketika melihat Sungmin yang tersenyum padanya. "yatuhan apa kau tak bisa lepas dari adikmu ini, aku juga adikmu hyung!" protes Donghae ketika melihat Kyuhyun berada di samping Sungmin.

"tidak, aku tidak mengijinkannya lepas dariku" Kyuhyun menggandeng Sungmin protektif membuat Donghae mengerucutkan bibirnya. "yak dia hyungku juga!" Donghae menarik tangan kanan Sungmin yang bebas. Sungmin terkekeh pelan karena diperebutkan oleh dua adik kecilnya.

"sudah-sudah kalian berdua adikku"

Mereka semakin merapat ketika acara pelemparan bunga dari sang pengantin akan dilaksanakan. Hyuk Jae sibuk mencari suaminya karena mereka sempat berpencar tadi, dan dia menemukannya ternyata benar, Donghae hampir berlari ke arah kerumunan orang disana jika saja Hyuk Jae tidak menarik lengannya.

"hei mau kemana sayangku, kau tidak akan mendapatkannya" goda Hyuk Jae mengeratkan pegangan tangannya. Sungmin dan Kyuhyun tertawa ketika ekspresi Donghae sedikit kecewa.

"kau sudah punya suami Donghae, biarkan saja Kyuhyun yang mengikutinya" Sungmin mendorong bahu Kyuhyun untuk ikut serta dalam acara itu, namun Kyuhyun menggeleng dia kembali kesamping Sungmin dengan manja.

"kau dulu yang menikah, baru aku" ucapnya. Hyuk Jae dan Donghae memutar bola matanya malas.

"jadi kenapa tidak kalian berdua yang mengikutinya?" Hyuk Jae mendorong kedua pria itu kedalam arena untuk ikut memperebutkan bunga tersebut, kemudian dia kembali menghampiri Donghae menggenggam tangannya erat.

"aku jadi ingat pernikahan kita" kata Hyuk Jae.

"aku mencintaimu" Donghae mengecup bibir Hyuk Jae sekilas kemudian mereka menyaksikan acara perebutan tersebut.

Kangin dan Heechul siap bersaing untuk meraih bunga tersebut, sedangkan Kyuhyun dan Sungmin hanya adem ayem dan tidak terlalu tertarik mendapatkannya. Ketika bunga itu dilempar dan melambung lumayan tinggi semua mata tertuju pada satu titik hingga…

Hap...

Bunga itu tertangkap oleh dua tangan dengan pemilik yang berbeda. Siwon dan Kibum saling memandang menyadari bahwa mereka menangkapnya berbarengan. Semua mata tertuju pada mereka berdua dengan tatapan iri. Saat kedua orang itu menyadarinya,mereka berdua sama-sama terkekeh.

"jadi kapan kita akan menikah?" ucap Siwon membuat Kibum tertawa kecil.

END

Terima kasih yang luar biasa untuk para readerdeul yang masih setia membaca ff ini. akhirnya bisa menyelesaikannya juga. Maaf dengan sangat kalau ff ini gak memuaskan ya… maklum masih newbie. Sampai ketemu di ff berikutnya chinggudeul ^^.