Ch. 10: Trust

"ISHIDAAAAA!" teriak Masamune dari kejauhan. Ia melesat dari satu petak energi ke petak lain di udara, menyebabkan percikan kilat di setiap langkahnya. Kojuurou dan Yukimura melompat dari satu atap ke atap lain dengan cepat, berusaha untuk tidak tertinggal oleh tuannya yang kelampau cepat. Daemon yang dijuluki kepala pelayan itu tahu bahwa Masamune tengah terbakar emosi setelah Ishida berusaha untuk membunuh Ieyasu akibat kesalahpahaman. Tetapi, jika tuannya sudah semarah ini... ia-pun tak yakin sanggup meredakannya.

Ieyasu menggertakkan giginya, memerintahkan Tadakatsu untuk terbang lebih cepat. Ia khawatir betul terhadapkondisi kedua sahabatnya serta si daemon yang tengah dikejar. Apalagi sekarang, ada lebih banyak yang harus dicemaskannya. Mereka telah keluar dari area Kastil Osaka, dan berada di tengah kota. Bila Masamune tidak bisa mengontrol kemarahannya, ia takut betul kalau Masamune akan lebih memilih untuk bertarung di tengah daerah kermaian.

"Kojuurou, Narukami! Sanada, Ouhouraku!"

Sayang, perintah tetap saja absolut. Kojuurou menembakkan petir dari ujung pedangnya ke arah Mitsunari. Sayang, daemon itu memanglah sangat cepat sehingga dengan mudah menghindari serangannya. Mitsunari mendarat di atas atap, membuatnya menjadi sasaran empuk Ouhouraku Yukimura. Ia menebaskan oodachi-nya ke atas, melepaskan sebuah gelombang kegelapan ke arah lawannya. Yukimura berhasil menghindar sebelum menjadi sasaran amuk Zanmetsu, berakhir gagal melakukan Ouhouraku dan mempelebar jarak antara ketiganya dengan Mitsunari.

"Shit! Jangan biarkan dia lolos!"

Kojuurou kembali melancarkan Narukami secara bertubi-tubi, namun, semuanya meleset. Sebuah firasat buruk yang menyangkut tuannya menyambarnya ketika ia hendak melancarkan serangan lain. Ia segera berbalik, menghantam seorang dari kelompok asing yang juga sama-sama mengejar Mitsunari dengan sarung katana-nya. Pria itu jatuh, tubuhnya tertangkap oleh Tadakatsu sebelum mencapai permukaan keras genteng besi. Motochika memanggil Yanagare, memerintahkannya untuk ikut membantu Kojuurou dan Yukimura menghajar para pengejar yang anehnya, tidak menyerang balik kedua daemon tersebut. Malah, mereka yang berhasil lolos tetap meneruskan pengejaran.

Ketiga onmyouji tidak mengerti apa yang ada di dalam benak para pengejar itu selain misi mereka hanyalah untuk membunuh Mitsunari. Mereka saling menatap satu sama lain, menyampaikan isyarat melalui kontak mata. Masamune mendecih.

"Kojuurou, Sanada, misi kita sekarang adalah untuk menyelamatkan Ishida."

"...Mengerti, Masamune-sama."

"Baik, Masamune-dono!"

Kojuurou mendarat, mengaktifkan mode Mudzuki Gokusatsu-nya dan kembali mengejar. Chousou Yanagare berpijak pada jangkarnya, melesat meninggalkan tuannya.

"Dokuganryuu, Motochika... kalian tidak merasa ada sesuatu yang janggal?"

Pertanyaan Ieyasu memancing atensi keduanya.

"Hell yes! Ada sesuatu yang aneh di sini! Kita tidak kenal siapa mereka, dan mereka sekarang seakan menjadi 'bantuan-yang-tidak-diharapkan'! Dan apa yang terpenting? Mereka memiliki kemampuan bertarung seperti tentara baru lolos pendaftaran dengan senjata api itu! The only good thing mengenai mereka itu hanya sepasang kakinya yang kuat mengejar sampai sejauh ini! Kenapa mereka tidak memanggil daemon saja?!"

"Mereka bukan Onmyouji, Ryuu no onii-san."

Masamune memincingkan mata.

"Kau tidak bisa merasakan aura mereka karena emosimu, eh?" Motochika menggeleng lelah. "Mereka sama sekali tidak memiliki aura Onmyouji."

"What?"

"Ya, apa yang dikatakan Motochika itu benar, Dokuganryuu," Ieyasu mengurut dagu. "Tetapi, apa urusan mereka dengan Mitsunari? Aku yakin mereka bukanlah orang-orang yang berniat membalas dendam..."

"Baiklah, ini semakin tidak logis, Ieyasu. Don't joke around."

"Aku serius, Dokuganryuu. Ini semua memang janggal. Orang-orang ini seharusnya tidak bisa berlari berkilometer jauhnya kecuali mereka adalah pelari marathon. Seperti... mereka dipaksa untuk melewati limit."

"Kau membuat semuanya mengarah pada mind-controlled."

Ieyasu mengangguk. "Sepertinya... Jikapun mereka dikontrol... oleh siapa? Saikoushidou atau siapapun dari Onmyouroku tidak mungkin melakukannya."

"The question is yet left unanswered... Mungkinkah Ashikaga Yoshiteru?"

"Itu tidak mungkin, Dokuganryuu," suara Keiji terdengar, entah dari mana asalnya. "Kita memang belum tahu siapa dia sebenarnya tetapi, aku berani bertaruh ia orang baik-baik."

"Keiji?" Ieyasu celingak-celinguk mencari keberadaan temannya.

Masamune memasang telinga, merongoh keluar smartphone-nya dari kantung jeans, terkejut mengetahui bahwa entah bagaimana telpon telah tersambung selama belasan menit. Sepertinya tanpa sengaja tertekan tombol speed dial ke kontak Keiji. Ia langsung memutus telpon, merutuki nasibnya.

Mitsunari menebas setiap pengejar yang mendekat, tidak peduli bahwa mereka adalah manusia biasa. Bilah oodachi-nya sudah penuh oleh darah merah, begitupula beberapa bagian pakaiannya yang sudah dinodai oleh cipratan darah. Bau menyengat yang keluar dari korban-korban memenuhi udara dan tubuh-tubuh yang telah kehilangan beberapa anggota tubuhnya terkapar di sekitarnya, begitu membuat jijik setiap pasang mata yang menyaksikannya.

Semuanya ngeri terhadap apa yang telah dilakukan oleh si daemon bermarga Ishida. Mitsunari berbalik, menatap tajam para Onmyouji.

"Mitsunari! Hentikan semua ini!" seru Ieyasu.

"KAU menyuruhku untuk menghentikan semua ini?!" Mitsunari mengacungkan pangkal gagang pedangnya. "Aku tahu kalian semua ingin membunuhku!"

"Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak tahu siapa mereka!"

"Aku tidak bisa percaya lagi padamu, tidak setelah semua ini, keparat!" ia menghilang, mendadak muncul di hadapan Ieyasu. Pedang telah ditariknya keluar, tinggal dipertemukan dengan batang leher Ieyasu dan semuanya akan berakhir.

"TANG!"

Sepasang mata dingin miliknya semakin tajam. Lagi-lagi, interupsi dari Kojuurou menggagalkannya. Adu pedang antar keduanya kembali terjadi, semakin gencar dengan setiap adu jurus yang dilakukan. Suara denting antar bilah menggema keras dalam keheningan malam, percikan api akibat gesekan antar permukaan besi terlihat terang dalam kegelapan. Yukimura ikut terjun ke dalam pertarungan, perlahan keduanya berhasil mengungguli Mitsunari.

"Yanagare! Bantu si Kepala Pelayan dan Sanada!"

Yanagare langsung terjun serta dalam pertarungan, semakin meramaikan adu jurus antara kilat, kegelapan dan api.

"TRANG!" "TANG!" "TRANG!"

Ieyasu tidak bisa berbuah apa-apa selain menyaksikan keempatnya bertarung sengit di hadapannya, bak penonton yang duduk di bangku saja, hanya diminta untuk menikmati pertunjukkan.

Yukimura melompat ke udara, menyatukan sepasang tombaknya dan terjun ke bawah dengan kepal tangan kanan yang diselimuti oleh api merah kekuningan.

"KOEN!"

Suara ledakan memecah keheningan malam, ledakan itu sendiri mengirimkan gempa kecil hingga radius ratusan meter. Asap yang mengepul berangsur hilang, memperlihatkan Yukimura yang sendirian di tengah arena pertarungan. Mengetahui serangan itu gagal, Masamune bisa memprediksi apa yang akan dilakukan lawannya. Ia bergegas menuju Yukimura tepat ketika Mitsunari muncul di belakang daemon itu, siap memutuskan lehernya dalam satu tebasan kilat.

Yukimura menoleh ke belakang, membelalak menemukan Mitsunari sudah siap mengayunkan oodachi-nya. Waktu terasa begitu lambat menuju kematiannya yang telah di depan mata. Yukimura memejamkan mata, berharap bisa selamat dari maut.

Ledakan kuat kembali terjadi disertai kilat biru yang menyambar asal ledakan, angin kencang menghempas segala yang disekelilingnya, pohon-pohon membungkuk dan meliuk seakan berusaha bertahan dari sekaligus melawan terpaan. Tiga bilah katana bertemu dengan oodachi milik Mitsunari.

"Oh... rupanya ia berhasil mendapatkan spirit weapon," gumam seorang pria yang berdiri di atas atap sebuah sekolah terdekat. "Ada baiknya kita segera menghentikan pertarungan mereka," ia menoleh pada gadis berambut coklat tua dan berpakaian gaun yang dilapisi bulu burung berwarna kuning kejinggaan, "Phoenix."

"TRANG!"

Tiga katana dari aura biru di tangan kiri diayunkan, membentur keras oodachi.

"TRANG!"

Lalu digantikan oleh tiga katana di tangan kanan yang menghantamnya tanpa belas kasihan. Tidak ada satupun yang paham apa yang telah terjadi, bahkan Kojuurou sendiri yang telah melayani Masamune selama bertahun-tahun lamanya.

Date Masamune tengah bertarung dengan Ishida Mitsunari menggunakan tiga pasang katana yang entah didapatnya darimana.

"Ishida! Tahukah kau bahwa yang kau bunuh itu hanyalah manusia biasa?!"

"TRANG!"

Mitsunari tidak membalas, sibuk menangkis setiap serangan ganas sang Dokuganryuu. Meski lawannya dapat bergerak dengan sangat cepat, Masamune sanggup menangkisnya.

"JAWAB, DAMN IT!"

"TRANG!" "TRANG!"

Daemon yang ditanyanya masih tidak memberikan satu balasanpun. Ia melompat mundur, menyarungkan kembali oodachi-nya, menyiapkan kuda-kuda. Sepasang matanya menatap tajam Masamune. Sebenarnya, ia cukup terkejut bagaimana pemuda itu bisa mendapatkan tiga pasang katana dan terlebih lagi, bisa membentuk chi menjadi senjata. Jarang sekali ada yang bisa memadatkan chi menjadi senjata -dari kelas expert-pun, hanya segelintir kecil yang bisa melakukan teknik tingkat tinggi ini.

Kilat-kilat sesekali memercik di sekeliling Masamune. Ia berjalan, selangkah demi selangkah mendekati Mitsunari. Ia berlari, menyilangkan keenam katana-nya bagai tiga pasang cakar naga.

Sebelum pedang-pedang itu berhasil mendekati mangsanya, seorang gadis berambut coklat tua muncul di hadapannya. Ia menyentuh lembut dahi kedua petarung, memancarkan cahaya dan kehangatan yang lembut lalu menghilang beberapa detik kemudian. Masamune dan Mitsunari sama-sama ambruk ke posisi merangkak. Tubuh masing-masing terasa lemas, tetapi, pernapasan dan sistem lainnya sama sekali tidak terganggu.

"Dokuganryuu!" semuanya langsung mendekati Masamune.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Motochika sembari memapah kawannya.

"Yeah... Siapa... perempuan itu...? Daemon... huh?"

Motochika mengangkat bahu. "Tidak tahu. Tetapi, sepertinya bukan daemon biasa."

"Lepaskan! Aku tidak butuh bantuanmu!"

"Kau sudah terluka seperti ini jadi, jangan melawan, Mitsunari!"

"Ieyasu!"

"Shut up, Ishida!"

Semuanya diam.

"...Masamune-sama, kita kedatangan tamu."

Mereka menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Kojuurou, mendapati Saikoushidou diserta beberapa puluh Onmyouji berjalan mendekat.

"Kerja bagus, Tokugawa, Date, Chousoukabe," ucapnya. "Cepat segel Ishida!" perintahnya pada para Onmyouji. Beberapa dari mereka langsung menembakkan mantera pengikat tanpa peringatan, menjerat tiga sekawan beserta daemon-nya. Mitsunari hendak menggunakan kesempatan ini untuk lari, jika saja para Onmyouji tidak mengelilinginya.

"Saikoushidou! Hentikan! Jangan segel dia!" Ieyasu memberontak, berusaha lepas dari jeratan tali kekuningan yang menjeratnya.

Para Onmyouji melemparkan kertas-kertas segel ke udara, mulut masing-masing mulai membaca mantera. Kertas segel menyala terang, rantai-rantai kuning keluar, langsung menjerat Mitsunari yang tidak sempat melarikan diri.

"Bawa dia ke kurungan bawah tanah!"

"Saikoushidou! Kumohon, pertimbangkan kembali keputusanmu!"

"Kau sudah lihat sendiri, Tokugawa. Ishida Mitsunari telah membunuh banyak orang."

"Tetapi, merekalah yang telah menyerang-"

"Membunuh tetaplah membunuh!" tegasnya. "Aku tidak menerima negosiasi apapun! Tindakan kriminal tetaplah harus diadili!"

"Lepaskan, keparat!" Mitsunari berusaha sebisa mungkin untuk lepas. Karena perlawanannya, mereka tidak bisa memindahkan daemon tersebut.

"Kenmei."

Daemon yang dipanggil namanya maju, menekan keras sisi kanan leher Mitsunari, membuat pemuda itu kehilangan kesadaran. Selanjutnya, digiring Mitsunari pergi dari lokasi kejadian, dan nampaknya, Saikoushidou tidak menginginkan interupsi lebih sehingga tali segel itu tidak dihilangkannya.

"Shit!" rutuk Masamune. Pergerakannya serba terbatas, ia hanya bisa diam merebah, atau berguling. Ia lebih memilih opsi ke-2 dan berguling mendekati Kojuurou. Syukur daemon itu masih belum menyarungkan kembali katana-nya dan itu menjadi satu-satunya harapan mereka sekarang.

Tetapi, usaha Dokuganryuu gagal. Tali tersebut ternyata tidak bisa diputuskan. Mantera harus dilawan dengan mantera, sialnya, tidak ada satu orang dari mereka yang mengetahui manteranya.

"Danna!"

Sebuah siluet hitam melompat turun dari pohon, sosoknya baru terlihat jelas ketika ia berjongkok di sisi Yukimura. Dari model pakaian serta senjatanya, bisa ditebak ia adalah seorang ninja. Semua orang, khususnya Masamune heran dengan kehadiran si orang asing.

"Sasuke! Syukurlah kau datang! Tolong lepaskan tali segel ini!"

Ninja bernama lengkap Sarutobi Sasuke itu membacakan mantera, melepaskan mereka dari tali segel yang membelunggu.

"Akhirnya!" Motochika melemaskan otot pundaknya. "Terima kasih, shinobi."

Sasuke mengangguk sebagai balasan.

"Terima kasih banyak, Sasuke! Tetapi, bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?" tanya Yukimura.

"Instingku mengatakan bahwa kau akan muncul di Osaka," ia mengangkat bahunya. "Dan ternyata menjadi kenyataan."

"Oi, oi!" Masamune duduk bersila, menyandarkan rahangnya pada telapak tangan kiri. "Explain yourself."

"...Apa? Maaf, aku tidak mengerti bahasamu."

"Siapa kau dan apa hubunganmu dengan Sanada?"

"Ah... Maaf aku tidak memperkenalkan diriku lebih awal!" nadanya terkesan seperti ia sedang bercanda. "Aku adalah Sarutobi Sasuke. Aku adalah shinobi-nya Sanada no danna."

"Wow, wow, Sanada," Masamune melirik Yukimura. "Ternyata kau punya gang yang tidak buruk," ia kembali memerhatikan Sasuke. "That means kau adalah daemon-ku juga."

"Aaaa... Soal itu," Sasuke tersenyum, menggaruk pipi kirinya dengan jari telunjuk, "maaf, tetapi danna-ku hanya Sanada no danna seorang."

"Tetapi danna-mu itu adalah daemon-ku, so, technically, kau juga daemon-ku."

"Tidak, tidak, tidak, terima kasih atas penawaranmu yang sungguh murah hati itu, Dokuganryuu no danna."

...

"...Onmyouji," gadis yang telah menghentikan pertarungan antara Masamune dengan Ishida itu menoleh, "apakah kau yakin dengan keputusanmu?"

Yoshiteru mengangguk pasti. "Tidak ada salahnya bukan kembali mengunjungi 'rumah'-ku dahulu?" seulas senyum ramah mengembang di wajahnya. "Lagipula, aku yakin kau juga ingin bertemu dengan mereka." Gadis itu mendengus. "Tetapi, kedatangan kita... tidak boleh diketahui oleh siapapun selain oleh lima sekawan itu..."

Ia bangkit, memandang bulan purnama yang bersinar terang dalam kegelapan. "Mari kita ke Onmyouroku sekarang, Phoenix."

To Be Continued...


Ayyyyy! Another chapter berhasil dibuat! LOL! Dan yeah, karena prequel telah dipublish, berarti kalian sudah tahu siapa gadis itu! Yep! Dia adalah Cao Yin, si daemon Phoenix itu! Buat designnya, bisa dilihat di IG saya (Kaien-Aerknard).

Sekedar sharing sedikit soal Cao Yin... Dia itu senjatanya pedang yang bagian ujungnya (kira-kira seperempat dari total panjang bilah besi pedang) bisa terlepas dan ada tali tipis yang menghubungkan antara ujung yang lepas dengan ujung dari yang tidak lepas. Terus, ada sistem reel begitu jadi bisa ditarik kembali atau kalau ujung itu nancap di sesuatu yang sulit digerakan (seperti pohon besar), malah yang megang pedangnya yang ditarik www. Senjata secondary-nya itu tombak. Elemennya api.

Kalau di-jepang-kan, Cao Yin memanggil Yoshiteru dengan 'Onmyouji yo', jadi kalau di-indonesia-kan itu jadi 'Onmyouji' saja.

1. Hananami: Kalau ada ide *lalu tersedu-sedu* Tapi sekali ga ada ide bisa hiatusnya lama *tekor* #gagalpahamsamadiriini IYA YESSSS YUKI MUNCUL JUGA WWWWW *tepok" Yuki*. Wwww begitukah? Mungkin karena sifat yang satu ini emang udah nempel sama sosok seorang pemimpin (well, secara pangkat). Sankyu for the review!

2. Szakazaki: Kalau di SW sih tbh kurang demen siapa" gitu. Ga gimana lengket sama tuh game klo saya wwww. LOLOLOL IeMitsu itu pairing yang perang mulu tiap hari (biasa, peperangan rumah tangga #plak). Sankyu for the review!

Sip! Sankyu for the reviews and stay tuned, readers!